Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

EFEKTIVITAS EDUKASI KESEHATAN PERAWATAN DIARE TERHADAP


KEMAMPUAN IBU DALAM MERAWAT AREA PERIANAL ANAK BALITA
DENGAN DIARE
Helena Golang Nuhan 1

1
Program studi S1 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas MH. Thamrin
Alamat Korespondensi :
Program studi keperawatan, Fakultas Kesehatan, Universitas MH.Thamrin, Jln. Raya Pondok Gede No. 23-25 Kramat Jati Jakarta Timur 13550
Telp : 8096411 ext 1208

ABSTRAK
Penyakit diare penyebab utama kematian anak balita di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi efektifitas edukasi kesehatan perawatan diare terhadap kemampuan ibu dalam merawat area
perianal anak balita dengan diare. Desain penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan rancangan pre
test and post test with control group. Tehnik pengambilan sampel dengan consecutive sampling menggunakan
responden di RSUD. Budhi Asih Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh edukasi kesehatan perawatan
diare terhadap kemampuan ibu pengetahuan, sikap dan ketrampilan kelompok intervensi (p < 0,05)
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Ada hubungan yang bermakna antara karakteristik ibu pendidikan dan
pengetahuan dalam merawat anak balita dengan diare. Disarankan agar edukasi kesehatan dilakukan terus
menerus dan terstruktur untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam merawat anak balita diare dan
area perianal.

Kata Kunci : Edukasi Kesehatan, Diare, Kemampuan ibu, Pengetahuan, Sikap, Keterampilan.

Pendahuluan
Anak merupakan harapan bagi setiap keluarga, Akibat lanjut yang dapat terjadi pada anak
dan sebagai generasi penerus suatu keluarga, bangsa dan balita yang menderita diare adalah kekurangan cairan
negara. Artinya kehidupan anak saat ini menentukan (dehidrasi) yang menyebabkan shock hipovolemic,
kualitas generasi penerus keluarga dan bangsa dimasa kekurangan elektrolit hiiponatremia, hipokalemia
mendatang. Untuk itu kesehatan anak menjadi hal yang hipokalsemia, kurang gizi, gangguan dalam pertumbuhan
penting dan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari dan perkembangan anak, dan dapat menyebabkan
keluarga maupun pemerintah. World Health kematian. Anak usia dibawah lima tahun (balita)
Organization (WHO) memberikan perhatian khusus sangat rentan terhadap penyakit infeksi. Hal ini
pada negara yang sedang berkembang untuk disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor dari anak
memasukkan penyakit diare dan pneumonia dalam seperti daya tahan tubuh anak yang masih rendah, status
program kesehatan nasional karena penyebab utama gizi dan anak tidak mencuci tangan. Faktor lingkungan
kematian balita di negara yang sedang berkembang sarana air bersih yang kurang dan jamban keluarga yang
disebabkan oleh kedua penyakit itu (Tadda, 2010). tidak memenuhi syarat kesehatan serta faktor ibu antara
Oleh karena itu arah kebijakan pembangunan lain pengetahuan ibu yang kurang, perilaku dan hygiene
kesehatan di Indonesia tahun 2009 sampai dengan 2014 ibu yang kurang baik (Adisasmito, 2007).
adalah peningkatan akses dan kualitas pelayanan Berdasarkan hasil survey Sub Unit Diare
kesehatan dalam mempercepat target Millenium Departemen Kesehatan RI tahun 2000 sampai dengan
Develoment Goals (MDGs) dengan fokus kebijakan tahun 2010, menunjukkan kejadian penyakit diare
antara lain menurunkan angka kematian ibu, bayi dan mengalami peningkatan 36% yaitu 301 per 1000
anak serta pengendalian penyakit dan penyehatan penduduk meningkat menjadi 411 per 1000
lingkungan (Dirjen Bina Gizi dan KIA, 2012). penduduk. Menurut Hasil Survey Demografi
Penurunan angka kematian bayi dan anak serta Kesehatan Indonesia (SDKI) dan Riset Kesehatan
pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan Dasar (RisKesdas) tahun 2007,menyatakan bahwa
dapat menurunkan angka kesakitan bayi dan balita kejadian diare meningkat pada usia bayi dan balita
akibat penyakit infeksi maupun non infeksi. dan kejadian ini berhubungan erat dengan status
Diare adalah frekuensi buang air besar lebih ekonomi serta merupakan penyebab utama kematian
dari 3 kali sehari dengan konsistensi feses encer atau penyakit menular. 25,2 %, pneumonia 15,5%,
cair dapat bercampur lendir dan darah yang necrotizing entero colitis (NEC) 10,7%, dengan
menyebabkan kekurangan cairan dan kematian anak prevalensi diare klinis tertinggi di provinsi Nanggroe
(Ngastiyah, 2005). Aceh Darussalam (18,9%) dan terendah di provinsi DI
6
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

Yogjakarta (4,2%). Melihat hasil survey tersebut, DKI perawatan di area perianal l yang baik dan benar untuk
Jakarta termasuk didalam propinsi yang memiliki mencegah infeksi lebih lanjut, meningkatkan rasa
angka kejadian diare yang masih tinggi dibandingkan nyaman dengan meminimalkan nyeri akibat iritasi
dengan provinsi DI Yogjakarta yaitu 8%. jaringan kulit area perianal, serta peningkatan
Data statistik Dinas Kesehatan Provinsi DKI pengetahuan, sikap, dan ketrampilan ibu dalam hal
Jakarta tahun 2012, menunjukkan 3 (tiga) penyakit perawatan anak balita dengan diare.
infeksi yang banyak melanda penduduk DKI Jakarta Penelitian Shrifired, Kamran, Mirkarini dan
adalah diare, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan Farahani (2011) tentang efektifitas pendidikan
demam thypoid. Hal ini disebabkan karena sumber air menyusui ibu terhadap berat badan anak dengan
tanah di Jakarta tercemar limbah bakteri coliform dan menggunakan metode quasi eksperimen menunjukkan
koli tinja. Angka kejadian diare di DKI Jakarta tahun bahwa kelompok eksperimen secara signifikan lebih
2010 menunjukkan 18,470 kasus dengan 8.455 kasus baik dalam hal pengetahuan dan sikap dibandingkan
diare dengan dehidrasi dan 10,015 diare tanpa dehidrasi. dengan kelompok kontrol dan pemberian ASI eksklusif
Kejadian diare tahun 2011 terdapat 16.938 dengan secara signifikan lebih tinggi dibanding dengan
dehidrasi 6.652 kasus dan tanpa dehidrasi 10.286 kasus . kelompok kontrol. Penelitian ini merekomendasikan
Pada tahun 2012 terdapat 18.964 kasus dengan perlunya memproduksi paket pendidikan kesehatan
dehidrasi 6.754 dan tanpa dehidrasi 12.210 kasus untuk meningkatan pengetahuan dan sikap yang baik
(http//dinkes.dki.go.id.diundu tanggal 26/10/2013). terhadap masalah kesehatan. Penelitian yang dilakukan
Melihat data tersebut menunjukkan bahwa angka oleh Lesrari, Krisdiana dan Suwarni (2012) tentang
kejadian penyakit diare mengalami peningkatan dan hubungan pengetahuan dan perilaku ibu dalam
merupakan salah satu penyebab morbiditas anak balita pemberian makanan pengganti (MP) ASI dengan
di Jakarta. kejadian gastroenteritis pada anak usia 0-6 tahun,
Anak balita yang menderita diare dimana menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara
pengeluaran tinja lebih dari 3 kali sehari menyebabkan pengetahuan dan perilaku ibu dengan kejadian
kontak kulit yang lama dengan popok yang basah dan gastroenteritis yaitu 80% ibu kurang tahu/tidak tahu
adanya asam laktat dalam feses dapat mengakibatkan terhadap hubungan kejadian diare dengan pemberian
iritasi jaringan kulit disekitar anus, genitalia dan bokong makanan pengganti (MP) ASI serta 77% perilaku ibu
yang menyebabkan infeksi di area perianal (Wong, yang memberikan makanan tambahan sebelum 6 bulan.
2009). Iritasi pada area perianal bila tidak Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa
ditanggulangi dengan baik dapat menyebabkan infeksi pentingnya pemberian pendidikan/promosi kesehatan
sekunder oleh bakteri dan jamur seperti candida albicans tentang perawatan anak dengan diare merupakan salah
(Fermaline, 2003) yang dapat mempengaruhi satu intervensi keperawatan untuk meningkatkan
morbiditas, dan mempengaruhi lama rawat anak balita kemampuan pengetahuan, sikap dan keterampilan orang
yang dirawat dirumah sakit. tua dalam merawat anak dengan diare.
Iritasi jaringan kulit area perianal dapat Menurut Pender yang dikenal dengan Health
menimbulkan ketidaknyamanan pada anak seperti nyeri Promotion Model (HPM) mengembangkan promosi
yang mempengaruhi kesakitan anak, dan memerlukan kesehatan dalam hal peningkatan dan pencegahan
perawatan secara individual setiap anak. Iritasii jaringan terhadap penyakit dari pada pengobatan yang berfokus
kulit di area perianal dapat menimbulkan demam atau pada 3 (tiga) hal utama yaitu karakteristik dan
infeksi lanjut sehingga akan memperpanjang lama hari pengalaman individu, perilaku spesifik termasuk
rawat anak dengan diare. Iritasi area perianal dapat pengetahuan dan sikap serta perilaku yang diharapkan
disebabkan oleh dermatitis popok. Menurut penelitian (outcome) dari perilaku promosi kesehatan yakni
Marty (2009) teridentifikasi bahwa beberapa penyebab peningkatan derajat kesehatan yang optimal. Model
terjadinya dermatitis popok adalah overhidration, iritasi, promosi kesehatan ini menjelaskan perilaku promotion
gesekan, peningkatan PH kulit, diit, diare dan dan preventive untuk meningkatkan status kesehatan.
penggunaan antibiotika. Penelitian ini Salah satu strategi promosi kesehatan yang bisa
merekomendasikan perawatan bertujuan untuk digunakan adalah dengan memberikan edukasi
mengurangi dehidrasi dan melindungi kulit dari iritasi kesehatan.
oleh komponen feses.. Edukasi kesehatan adalah suatu usaha sadar
Gangguan integritas kulit di area perianal dan secara terus menerus dilakukan yang bertujuan
akibat diare pada anak balita dapat dicegah apabila ibu mengubah perilaku individu, kelompok masyarakat
pasien mempunyai pengetahuan, sikap dan keterampilan dari kehidupan tidak sehat menjadi sehat (sugihartono,
dalam merawat area perianal anak balita dengan diare. 2007). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di
Perawatan anak balita dengan diare adalah rehidrasi ruang anak RSUD Budhi Asih Jakarta, selama 1 tahun
cairan melalui oral maupun parenteral untuk mencegah terakhir (Januari sampai dengan Desember 2012)
syock hipovolemic, pemenuhan kebutuhan nutrisi untuk teridentifikasi ada 5 (lima) penyakit utama yang dirawat
proses pertumbuhan dan perkembangan anak, dan diruang anak RSUD Budhi Asih yaitu penyakit Diare,
7
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

Dengue Hemorrargic Fever (DHF), Tuberkulosis (TBC) Metode


paru, Thypoid. dan Broncho Pneumonia Wawancara Jenis penelitian yang digunakan adalah
yang dilakukan terhadap kepala ruangan dan perawat kuantittatif dengan desain quasi eksperimen.
ruangan anak RSUD Budhi Asih menunjukkan Pendekatan yang digunakan adalah pre test and post
bahwa di ruang rawat belum terstrukturnya program test control group design. Sebelum penelitian
pemberian edukasi kesehatan tentang perawatan dilakukan pre test pada kelompok intervensi dan
penyakit diare terhadap pasien anak yang dirawat. kelompok kontrol kemudian diberikan edukasi
Pemberian informasi kesehatan sudah dilakukan oleh kesehatan pada kelompok intervensi, setelah itu
perawat ruangan selama pasien dirawat dan apabila dilakukan post test. baik pada kelompok intervensi
pasien diperbolehkan pulang dari ruang rawat namun maupun kelompok kontrol. . Sesudah itu dilakukan
masih berbentuk lisan sehingga mudah dilupakan oleh perbandingan antara hasil pre test dan post test
keluarga ,tidak ada lembar balik/ leaflet yang tersedia kelompok intervensi maupun kelompok kontrol.
untuk memberikan edukasi kesehatan, anak balita yang Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang
menderita diare. Selain itu juga didapatkan bahwa anaknya dirawat di rumah sakit RSUD Budhi Asih
sebagian besar anak dengan diare mengalami gangguan dengan diare.
integritas kulit di sekitar area perianal. Mencermati Tehnik pengambilan sampel dengan pendekatan
angka kejadian diare yang setiap tahun mengalami consecutive sampling yaitu dengan cara memilih subyek
peningkatan dan merupakan penyebab utama kematian yang ditemui sesuai dengan kriteria inklusi sampai pada
balita (Rikesdas, 2007) serta sebagian besar anak jumlah sampel yang diinginkan (Dharma, 2011). dengan
balita yang dirawat di ruang anak RSUD Budhi Asih kriteria inklusif : Anak yang dirawat dengan diagnosa
mengalami gangguan integrritas kulit di area perianal medis diare , usia 0 -59 bulan, Ibu atau keluarga
maka peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan bersedia menjadi responden, Ibu atau keluarga
judul efektivitas edukasi kesehatan perawatan diare menunggu anaknya selama dirawat serta Ibu bisa
terhadap kemampuan ibu dalam merawat area perianal membaca dan menulis. Besarnya sampel dalam
anak balita dengan diare. penelitian ini ditentukan dengan menggunakan uji
Tujuan penelitian ini agar teriidentifikasi hipotesis beda mean 2 kelompok dengan rumus
efektivitas edukasi kesehatan perawatan diare terhadap sebagai berikut ( Dharma, 2011).
kemampuan (pengetahuan, sikap dan keterampilan) ibu
dalam merawat area perianal, yang kedua adalah n = 2σ² ( Z 1-α/2 + Z 1-β )²
teridentifikasi karakteristik responden (berdasarkan (ų1 - ų2)²
usia, tingkat pendidikan ibu, usia dan jenis kelamin
anak, pengalaman ibu merawat anak dengan diare dan Total sampel adalah 44 ibu yang mempunyai
merawat area perianal) dan terakhir teridentifikasi anak balita yang dirawat dengan diare yang terdiri
perbedaan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu dari kelompok intervensi 22 ibu dan kelompok
dalam melakukan perawatan area perianal anak balita kontrol 22 ibu yang mempunyai anak balita yang
pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol idalam dirawat dengan diare.
melakukan perawatan area perianal anak balita dengan Etika penelitian yang perlu diperhatikan adalah
diare. Manfaat penelitian untuk pelayanan kesehatan menghormati harkat dan martabat manusia, responden
dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan berhak mendapatkan informasi yang lengkap tentang
khususnya perawatan anak balita dengan diare, dan pelaksanaaan penelitian (informed concent) dan apabila
dapat menetapkan program pendidikan kesehatan, setuju ikut dalam penelitian maka responden
sebagai suatu kebijakan yang harus dilakukan khususnya menandatangani lembaran persetujuan untuk menjadi
pada keluarga dan anak dengan diare sehingga angka responden dari penelitian. Menghormati privasi dan
kesakitan dan kematian akibat diare menurun. Manfaat kerahasiaan subyek/responden.Menghormati keadilan
untuk perawat ruangan dalam memberikan perawatan dan inklusivitas serta memperhitungkan manfaat dan
diare kepada balita untuk mencegah terjadinya kerugian yang ditimbulkan terhadap responden.
gangguan integritas kulit di area perianal.
Manfaat yang lain untuk pasien dan keluarga Hasil
yaitu menambah pengetahuan, sikap dan keterampilan Karakteristik responden (usia ibu, usia anak,
keluarga tentang perawatan diare khususnya perawatan di jenis kelamin anak dan tingkat pendidikan ibu.
area perianal agar dapat mencegah terjadinya gangguan 1. Usia ibu
integritas kulit disekitar area perianal dan pencegahan Berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan bahwa rata-
terhadap berulangnya kejadian diare bagi anak., sehingga rata usia responden pada kelompok intervensi adalah
dapat menurunkankan angka kesakitan, kematian dan 27,14 dengan standar deviasi 4,098 Usia responden
lama rawat anak dengan diare. termuda 21 dan usia tertua 35. Rata – rata usia
responden pada kelompok kontrol 28,68 dengan
standar deviasi 5, 402 Usia responden termuda 19
8
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

dan usia responden yang tertua 42. perineal pada anak balita dengan diare.
Tabel 1. Tabel 4
Distribusi Usia Ibu di RSUD. Budhi Asih Distribusi Pendidikan, Pengalaman Merawat Anak
Variabel Mean SD Min - Max Diare, Mendapatkan Pendidikan Kesehatan dan
Pengalaman merawat Area Perianal
Intervensi 27,14 4,098 21 - 35
Di RSUD. Budhi Asih Jakarta
Kontrol 28,68 5,402 19 - 42 Kontrol
Intervensi
Variabel Total
(n=22) (n=22)
2. Usia anak balita.
Tabel 2. F % F % F %
Distribusi Usia (dalam bulan) Anak Balita Diare Pendidikan Ibu
Di RSUD. Budhi Asih Jakarta SLTP(rendah) 5 22.7 6 27.3 11 25
Variabel Mean SD Min - Max SLTA (sedang) 17 77.3 15 68.2 32 72.7
Usia Anak Tinggi 14.5
Intervensi 20,05 15,77 03 -56 Pengalaman Ibu merawat Diare
Kontrol 14,68 11,08 03 -50 Pengalaman 6 27.3 8 6 14 31.8
Tidak pengalaman 1 72.7 36 4 30 8.2
Hasil analisis tabel 2. menjelaskan bahwa Pendidikan Kesehatan
rata- rata usia anak balita pada kelompok intervensi
20 bulan dengan standar deviasi 15,77, usia termuda 3 12 54.5 4 18,2 16 36,4
Pernah
bulan dan usia terbesar 56 bulan. Usia balita pada
kelompok kontrol rata-rata 15 bulan dengan standar Tidak Pernah 10 45.5 18 81.8 28 63.6
deviasi 11,08, usia balita termuda 3 bulan dan tertua 50 Pengalaman Ibu merawat area perianal
bulan. Pengalaman 5 22.7 6 27.3 11 25
tidak pengalaman 17 77.3 16 72.7 33 75
3. Jenis kelamin anak balita
Tabel 3
5. Analisis perbedaan pengetahuan responden pre
Distribusi Jenis Kelamin Anak Balita
test dan post test kelompok intervensi dan kontrol.
Di RSUD. Budhi Asih
Tabel 5
Variabel Intervensi Kontrol Total
Hasil Analisis Perbedaan Pengetahuan Responden Pre
n=22 n=22 n=44 Test dan Post tes tKelompok Intervensi dan Kelompok
F % F % F % Kontrol Di RSUD. Budhi Asih Jakarta
Jenis Kelamin P-
Variabel Mean SD SE Selisih Mean
value
laki-laki 13 59 10 45 23 52
Pengetahuan
Perempuan 9 41 12 55 21 48
Intervensi
Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa Pre test 54,77 28,38 6,052 0 24,545
jenis kelamin anak balita yang menderita diare Post test 79,32 6,951 1,482
sebanyak 52 % berjenis kelamin laki – laki dan 48 % Kontrol
berjenis kelamin perempuan.
Pre test 44,32 28,96 6,175 0,01 17,5
4. Tingkat Pendidikan Ibu, Pengalaman Merawat Post test 61,82 6,994 1,491
Anak Diare, Mendapatkan Pendidikan Kesehatan
dan Pengalaman Merawat Area Perineal Anak Analisis Tabel 5. menjelaskan bahwa rata –
Balita Diare rata pengetahuan pre test kelompok intervensi adalah
Berdasarkan tabel 4 dapat dijelaskan bahwa 54,77 dengan standar deviasi 28,38 mengalami
tingkat pendidikan responden (ibu) sebagian besar peningkatan setelah diberikan pendidikan kesehatan
yaitu 72,7 % memiliki latar belakang pendidikan adalah 79,32 dengan standar deviasi 6,951. Hasil analisis
sekolah menegah atas (SLTA). Sebesar 68,2 % lebih lanjut menunjukkan nilai p 0,000 yang berarti
responden tidak memiliki pengalaman dalam merawat bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor rata –
anak balita dengan diare. Sebagian besar responden rata pengetahuan responden sebelum dan sesudah
63,6 % tidak pernah mendapatkan pendidikan diberikan pendidikan kesehatan. Rata-rata pengetahuan
kesehatan tentang perawatan diare dan sebesar 75 pre test kelompok kontrol adalah 44,32 dengan standar
% tidak mempunyai pengalaman dalam merawat area deviasi 28,96 mengalami peningkatan (p:0,007 < 0,005)
9
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

setelah diberikan booklet tentang perawatan diare dan antara hari pertama dan hari ketiga.
perineal anak balita dengan diare adalah 61,82 dengan Tabel 7
standar deviasi 6,994 menunjukkan ada peningkatan Hasil Analisis Observasi Keterampilan Responden
yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan booklet Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol terhadap
perawatan diare. Perawatan Area Perineal Balita Diare Di RSUD.
Budhi Asih Jakarta.
6. Analisis Perbedaan Sikap Responden Pre Test Min-
Variabel Mean SD SE P Value
dan Post test Kelompok Intervensi dan Kelompok Max
Kontrol. Ketrampilan
Tabel 6 Intervensi
Hasil analisis Perbedaan Sikap Responden Pre (n=22)
Test dan Post test Kelompok Intervensi Hari pertama 8.23 1.602 0.341 06-11 0.000
dan Kelompok Kontrol Hari Kedua 10.00 1.48 0.167 07-12
Di RSUD. Budhi Asih Jakarta Hari ketiga 11.00 0.82 0.174 09-12
P- Selisih
Variabel Mean SD SE Kontrol
value Mean
(n=22)
Pengetahuan
Hari pertama 6.5 1.66 0.353 04-10 0.213
Intervensi (n=22) Hari Kedua 6.59 1.79 0.358 04-10
Pre test 54.4 17.44 3.718 0.005 12.04 Hari ketiga 6.68 1.7 0.363 04-10
Post test 66.4 10.60 2.261
Kontrol Pembahasan
(n=22) Karakteristik responden dalam penelitian ini
Pre test 45.32 11.85 2.526 0.000 10.54 meliputi usia, tingkat pendidikan, pengalaman merawat
Post test 55.86 8.073 1.721 anak dengan diare, pernah mendapatkan pendidikan
kesehatan tentang diare dan pengalaman dalam
Pada Tabel 6. menunjukkan bahwa rata-rata skor merawat area perianal anak balita dengan diare.
sikap kelompok intervensi pre test adalah 54,41 Usia responden dalam penelitian kelompok intervensi
dengan standar deviasi 17,44 mengalami peningkatan dibawah 27 tahun adalah 63,6% dan usia diatas 27
sebesar nilai post test adalah 66,45 dan standar tahun 36,4%. Kelompok kontrol usia dibawah 27
deviasi 10,60 setelah diberikan pendidikan kesehatan tahun 41% dan usia diatas 27 tahun 59%. Menurut
dengan nilai p 0,005. Rata-rata skor sikap kelompok Wong (2009) usia orang tua yang paling ideal
kontrol pre test adalah 45,32 dengan standar deviasi (memuaskan) untuk membesarkan anak adalah antara
11,85 mengalami peningkatan setelah diberikan booklet 19 sampai 35 tahun dimana pada usia tersebut orang tua
perawatan diare dan perawatan perineal anak balita (ibu) dalam kondisi kesehatan yang optimum untuk
dengan diare adalah 55,86 dengan standar deviasi merawat anak. Pada rentang usia ini merupakan usia
8,073. (p : 0,000) dewasa muda (Notoatmodjo, 2009) ibu dalam keadaan
sehat dan produktif dan dapat mengurus semua
7. Analisis observasi ketrampilan responden kebutuhannya maupun keluarga dalam merawat anak.
kelompok intervensi dan kelompok kontrol Pada usia dewasa muda, mulai terjadi proses
terhadap perawatan area perianal balita diare. pembentukan keluarga baru dimana responden (ibu)
Pada tabel 7. menjelaskan bahwa rata-rata belum mempunyai pengalaman secara khusus dalam
keterampilan responden pada kelompok intervensi merawat anak diare sehingga pembentukan
mengalami peningkatan dari hari pertama sampai pengetahuan,sikap dan keterampilan dalam merawat
dengan hari ke tiga perawatan anak balita dengan diare. anak diare belum maksimal.
Terlihat dari hari pertama rata –rata keterampilan yang Usia anak balita yang mengalami diare dalam
dilakukan dengan benar 8,23 dan pada hari ketiga 11 penelitian ini rata-rata 14,68 sampai 20,05 bulan dan
keterampilan dapat dilakukan dengan baik dan benar jenis kelamin anak yang dirawat yakni 52 % laki-laki
dengan nilai p 0,000. Dapat disimpulkan bahwa ada dan 48% perempuan. Menurut penelitian Yilgwan
perbedaan yang signifikan keterampilan hari pertama (2012) rata-rata usia anak balita mengalami diare
dan hari ketiga. Hasil analisis kelompok kontrol adalah 6 -11 bulan berbeda dengan hasil temuan
didapatkan bahwa rata-rata keterampilan responden dalam penelitian ini yakni rata – rata usia anak yang
dihari pertama perawatan 6,50 dan pada hari ketiga mengalami diare 14 – 20 bulan. Bila dianalisis lebih
perawatan anak balita dengan diare adalah 6,68 atau 7 lanjut usia minimal anak terkena diare dalam
keterampilan yang dapat dilakukan dengan baik dengan penelitian ini adalah 3 bulan. Hal ini disebabkan
nilai p 0,213 tidak ada perbedaan yang signifikan karena terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan
yang dialami anak, dimana menurut Freud dalam
10
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

Wong (2009) terjadi fase oral yakni anak sering Hasil penelitian ini menjelaskan adanya
memasukan tangan atau mainan kedalam mulut sehingga peningkatan pada saat post test variabel kelompok
dapat terjadi infeksi, atau dapat disebabkan oleh karena intervensi setelah diberikan edukasi kesehatan serta
kekebalan pasif yang didapat anak dari ibunya mulai booklet perawatan diare dan demonstrasi cara perawatan
berkurang. Penyebab lain membuat anak mengalami area perianal anak balita dengan diare, dan kelompok
diare adalah paparan agen infeksius meningkat kontrol setelah diberikan booklet tentang perawatan
terhadap anak dan mulai diberikan makanan diare dan perawatan perianal pada anak balita dengan
pendamping ASI (Juffrie, 2011). Tingkat pendidikan diare. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
responden yang anaknya dirawat di RSUD Budhi yang dilakukan Riyantini (2010) tentang pengaruh
Asih dengan diare sebagian besar (72,7%) pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan, sikap dan
berpendidikan sekolah menengah atas sehingga keterampilan ibu serta kejadian bayi hiperbilirubin
pemberian pendidikan kesehatan maupun pemberian dengan menggunakan booklet didapatkan hasil ada
booklet perawatan diare pada anak tidak mengalami pengaruh yang bermakna terhadap pengetahuan, sikap
hambatan karena seluruh responden dapat membaca dan keterampilan ibu.
dan memahami dengan baik. Pengalaman responden Keterampilan merawat area perianal pada anak
dalam merawat anak balita yang menderita diare balita yang mengalami diare pada pre test hari
dalam penelitian ini menjelaskan bahwa 31,8% pertama, hari kedua dan hari ketiga yang merupakan
responden mempunyai pengalaman dalam merawat post test pada kelompok intervensi mengalami
anak dengan diare dan sebagian besar responden peningkatan secara signifikan (91,6%) setelah
yakni 68,2% tidak mempunyai pengalaman dalam diberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan
merawat anak balita dengan diare. Mayoritas diare dan demonstrasi perawatan area perianal pada
responden tidak mempunyai pengalaman (75%) dalam anak balita dengan diare dibandingkan dengan
merawat area perianal pada anak balita dengan diare kelompok kontrol yang hanya meningkat 1,8 %
dan 25% responden mempunyai pengalaman dalam setelah diberikan booklet perawatan diare dan
merawat anak balita dengan diare. Hasil penelitian ini perawatan area perianal pada anak balita dengan
menunjukkan bahwa rata-rata ibu masih berusia diare.
dewasa muda dan sebagian besar responden baru Implikasi hasil penelitian terhadap edukasi
mulai hidup berkeluarga sehingga kurang terpapar kesehatan keluarga adalah untuk meningkatkan
dengan keadaan anak yang mengalami diare. Tidak pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga dalam
berpengalamannya sebagian besar responden merawat anak balita dengan diare. Mayoritas keluarga
memungkinkan mereka untuk melakukan sesuai dalam penelitian ini (Ibu) tidak mempunyai
pengetahuan mereka, sehingga perlu diberikan pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam
pendidikan kesehatan yang merubah perilaku merawat anak dengan diare atau masalah kesehatan
responden dari tidak tahu tentang masalah kesehatan, yang lain, oleh karena itu edukasi kesehatan penting
menjadi tahu dan melaksanakan dengan baik dan dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan (terus
benar sehingga terbentuk pengalaman hidup dalam menerus) untukmeningkatkan kemampuan keluarga
merawat anak dengan diare. dalam merawat anak dengan diare. Implikasi hasil
Penelitian yang dilakukan Supono (2008) penelitian ini terhadap pelayanan keperawatan agar
menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara setiap perawat menyadari pentingnya edukasi
pengalaman kontak balita dengan diare dan persepsi kesehatan yang diberikan secara terstruktur, terus
ibu terhadap diare pada balita. Hasil penelitian ini menerus dan sesuai dengan kebutuhan pasien
menunjukkan 63,6% responden belum pernah sehingga dapat meningkatkan kemampuan keluarga
mendapatkan edukasi kesehatan dan 36,4% pernah dalam merawat anak dengan diare ataupun anak sakit
mendapatkan edukasi kesehatan. Belum terpaparnya dengan berbagai masalah kesehatan. Implikasi hasil
edukasi kesehatan tentang diare terhadap responden penelitian ini terhadap pembuat kebijakan agar dapat
karena tidak sesuai dengan kebutuhan responden, menyiapkan sarana dan fasilitas untuk menunjang
sehingga edukasi kesehatan dirasakan tidak penting. pelaksanaan proses pembelajaran keluarga dan pasien
Jika sesuai dengan kebutuhan responden maka edukasi terhadap berbagai masalah kesehatan di rumah sakit
kesehatan tersebut menjadi penting. Hasil penelitian khususnya penyakit diare.
ini menjelaskan kemampuan responden pada saat post
test kelompok intervensi mengalami peningkatan Kesimpulan
pengetahuan dan sikap secara signifikan dengan hasil Karakteristik responden pada penelitian ini
yang ditunjukkan yaitu pengetahuan nilai rata – rata meliputi usia kedua kelompok responden (Intervensi
79,32 dibandingkan dengan kelompok kontrol dan Kontrol) memiliki rata-rata 27,91 tahun dengan
dengan nilai rata-rata 61,82 dan variabel sikap tingkat pendidikan mayoritas pendidikan sekolah
kelompok intervensi rata-rata 66, 45 dan kelompok menengah atas. Responden kedua kelompok sebagian
kontrol 55, 86. besar belum memiliki pengalaman dalam merawat
11
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

anak dengan diare. 63,6% dari responden kedua sehingga lebih efektif dan efisien dalam
kelompok belum pernah mendapatkan edukasi pelaksanaanannya.
kesehatan tentang diare dan mayoritas responden 3. Bagi institusi pendidikan
tidak mempunyai pengalaman dalam merawat area Kurikullum institusi pendidikan yang dapat
perianal anak balita dengan diare. menyiapkan peserta didik yang kompeten dalam
Kemampuan responden pengetahuan, sikap dan melakukan edukasi kesehatan melalui latihan,
keterampilan sebelum diberikan pendidikan kesehatan persiapan media dan kemampuan dalam memberikan
baik kelmmpok intervensi maupun kelompok kontrol edukasi kesehatan.
tidak jauh berbeda karena belum terpapar dengan
edukasi kesehatan dan booklet perawatan anak balita Daftar Pustaka
diare. Adisastono,W.(2007)Faktorsikodiarepadabayi dan balita
Ada perbedaan yang signifikan kemampuan di Indonesia : systematic review penelitian akademik di
pengetahuan, sikap dan keterampilan responden (Ibu) bidang kesehatan masyarakat. Makara, kesehatan, vol 11
sesudah diberikan edukasi kesehatan diare dan booklet no. 1, Juni 2007 : 1 -10 di unduh tanggal 21 Oktober
perawatan diare pada kelompok intervensi 2013 jam 14.00 Wib dari http://lontar,ui.ac.id.
dibandingkan dengan kelompok kontrol
Adriana, D. (2011). Tumbuh Kembang dan terapi
Ada perbedaan yang signifikan kemampuan ibu
bermain pada anak. Jakarta : Salemba Medika.
(pengetahuan, sikap dan keterampilan) pada kelompok
intervensi dibandingkan dengan kelompok kcontrol Arikunto, S. (2006). Dasar-dasar evaluasi pendidikan.
dalam merawat area perianal pada anak balita Jakarta : Rineka Cipta
dengan diare. Betz L.C dan Sowden L.A. (2002). Keperawatan
Ada hubungan yang bermakna antara karakteristik Pediatri. Ed 3. Jakarta : EGC
ibu usia dengan pengetahuan responden pada
kelompok intervensi dan pendidikan ibu dengan Bockowski, S. (2004). Diaper rash care and managemen.
pengetahuan ibu kelompok intervensi dan kelompok Journal Nursing Pediatric. Diundu Tanggal 21 Oktober
kontrol. 2013 jam 15.00 wib http//search, proquest.com
Dahlan,Sopiyudin,M. (2010). Langkah-langkah membuat
Saran proposal penelitian bidang kedokteran dan kesehatan.
1. Bagi keluarga dan masyarakat Jakarta : Sagung seto
Agar setiap keluarga dan masyarakat memahami
dengan baik pentingnya upaya pencegahan penyakit Depkes RI. (2010). Profil kesehatan Indonesia 2009.
dari pada mengobati penyakit dengan cara hidup Jakarta : Depkes. RJ. Depkes RI. (2008). Manajemen
sehat, lingkungan bersih dan nyaman, pemberian ASI Terpadu Balita Sakit. Jakarta : Dep.Kes.RI
secara eksklusif dan mencuci tangan dengan Dharma, Kelana K. ( 2011 ). Metodologi penelitian
menggunakan sabun, makan makanan bergizi. Hal ini keperawatan. Jakarta : Trans Info Media
dapat dilakukan melalui paparan media masa baik
televisi, radio maupun majalah sehingga kelurga dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta (2012). Penyakit
masyarakat tahu tentang perawatan dan pencegahan Diare di Jakarta MasihTinggi. Diundu tanggal 26
penyakit diare. Bagi keluarga yang mempunyai anak Oktober 2013, jam 14.30 wib dari dinkesdkijakarta.com
dirawat di rumah sakit karena diare sebaiknya pulang Fayas, et.al. ( 2007). Management of diarrhea in under
dari rumah sakit jika telah diperbolehkan pulang oleh fives at home and health facilitie Kashmir. Di unduh
dokter, sehingga dapat sembuh dengan baik. tanggal 20 Oktober 2013pkl 20.00 wib
2. Bagi institusi pelayanan.
Rumah sakit sebagai pemegang kebijakkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2005). Buku
sebaiknya menyiapkan saran dan fasilitas yang Kuliah llmu Kesehatan Anak. Buku I. Jakarta : Bagian
memadai dalam proses pembelajaran untuk edukasi llmu Kesehatan Anak FKUI
kesehatan seperti ruang untuk edukasi kesehatan atau Hariandja, M. (2007) Manajemen sumber daya manusia.
terapy bermain, menyiapkan leaflet maupun booklet, Jakarta : Grasindo Hastono, S.P. (2007). Analisis data
tentang semua masalah kesehatan yang dapat kesehatan. Jakarta : Fakultas Kesehatan Masyarakat.
digunakan perawat dalam memberikan edukasi
kesehatan kepada pasien dan dapat dibaca oleh Heather, M. (2012). Getting to the botton of nappy rash:
keluarga pasien sehingga dapat meningkatkan The Journal of The Health Visitor Association. 85 (2) 37-
pengetahuan keluarga tentang berbagai masalah 42.
kesehatan khususnya diare. Pemberian edukasi Heimall, LM, Storey Beth, Stellar, Judith J, and Finn
kesehatan yang berkaitan dengan keterampilan O.K. (2012). Beginning at the botton evidence based care
merawat pasien anak sebaiknya dikelompokkan of diaper dermatitis. American journal of maternal child
menurut tingkat perkembangannya (bayi, batita, balita)
12
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

nursing Vol. 37, number 1, pages 10-16 Jawa barat. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. I (2).
120-128
Hidayat,A.A. (2005). Pengantar ilmu keperawatan anak I.
Jakarta : Salemba Medika Nelson dkk. (2000). Ilmu Kesehatan Anak. Ed. 15.
Jakarta : EGC
Hossein, M, Nadrian, H, Rahaei, Z. (2009). The effects
of education on formula and bottle feeding behaviors. Ngatiyah (2005). PerawatanAnakSakit. Ed 2. Jakarta :
Yazd : Journal of nursing mothers bassed on model. EGC
Ijaz, S.M, Afzal M. and Ahraf S ( 2012). Controlled Trial Notoatmodjo. Soekidjo. Prof.Dr.( 2007 ). Promosi
of Hypo Osmolar versus WHO ORS: Solution in kesehatan dan ilmuperilaku. Jakarta : Rineka Cipta.
Children with acute watery diarrhea. Departemen of
Nursalam, Susilaningrum, Utami. (2005). Asuhan
Pediatric Mayo Hospital University Lahore. Di undu
keperawatan bayi dan anak. Jakarta : Salemba medika
tanggal 21 Oktober 2013 jam15.15Darihttp
//proquest.Nursing.Com. Pumamasari, E. R.W. (2012). Pengaruh pendidikan
kesehatan pada orangtua terhadap Pengetahuan dan
Julfrie, M. (2011). Gastroenterologi hepatologi. Jilid 1.
kepatuhan kunjungan ulang balita dengan pneumonia di
Jakarta : IDAI.
Puskesmas kecamatan Pasar Minggu. Tesis : FIK UI
Kholdi, et.al. (2012). A study of grouth failure and its (tidak dipublikasikan).
related factors in children from 0 to 2 years in Teheran.
Riantini,Y. (2010). Pengaruh pendidikan kesehatan
Iran. University of medical sciences Teheran The
terhadap pengetahuan, sikap dan Keterampilan ibu serta
Turkish Journal Pediatrics. January - february 33-44
kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di
Kompyang, NL. (2011). Efektifitas pendidikan kesehatan RSAB Harapan Kita. Tesis : FIK UI (tidak
keluarga terhadap peningkatan kemampuan ibu dalam dipublikasikan).
merawat anak diare di RSUP Sanglah dan RSUD
Rudolph. A.M, Hoffman.J.I.E, Rudolph C.D (2006).
Wangayah Denpasar. Tesis FIK.UI (tidak dipublikasikan)
Buku Ajar Pediatri. Vol 1 Ed .20. Jakarta : EGC
Langermo, D, Hanson, D, Hunter, S., Thomson, P.
Rudolph. A.M, Hoffman.J.I.E, Rudolph C.D (2006).
(2011). Advance in skin & wound care. The journal for
Buku Ajar Pediatri. Vol 1 Ed .20. Jakarta : EGC
prevention and Healing. Vol 24 number 3, pages 126-
140. Salzrman, Warren, Lioyd.S, Otupiri, Hale. (2012).
Limitations of health education barriers to oral
Lestari, Krisdiana, Suwarni. (2012). Hubungan
rehydration use among Ghana mothers. University of
pengetahuan dan perilaku ibu tentang pemberian MP.ASI
Utah. Departemen of infections disease
dengan kejadian gastroenteritis pada anak usia 0-6 tahun
di RS. Dr. R. Soeprapto Cepu. Jurnal Keperawatan Shah,D. et.al. ( 2009). Promoting appropriate
Indonesia. Vol 1, No 2 Juli 2012. management diarrhea.: a systematic review of literature
for advocacy and action UNICEF. Departement of
Lia Dewi,V. (2010). A$uhan Neonatus Bayi dan Anak
pediatrics university of New Delhi, diundu tanggal 15
Balita. Jakarta : Salemba Medika
Oktober 2013.
Lukacik,M, Ronald, T and Aranda, J. (2007). A meta
Shrifirad, G , Kamran, A Mirkarim, S.R and Faraham, A
analysis of the effects and zinc in the Treatment of a cut
(2012). Effectiveness of breast feeding education on the
and persisten diarrhea American Journal of Pediatrics
weight of child and self efficacy of mothers. Journal
121 ~ 126
health education. Iran Department of health Isfahan
Markum.A.H. (1991/ Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : University
FKUI
Soetjiningsih (2005). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta :
Marty C, Visscher . (2009). Recent advances in diapper EGC
dermatitis, etiology and treatment. Cincinati.USA.
Suddaby E.G., Barrnet,S and Facteau L. (2005). Skin
Journalpediatric health.issue I, pages 81-98
Breakdowns in Acute Care Pediatrics Journal nursing
Mohamed. S.A. & Wafa, A.M. (2011). The effects of an Pediatric. Di undu tanggal 5 Oktober 2013 jam 14.00
educational program nurse Knowledge and practice wib dari http:// issue.com.
related to hepatitis C virus : A pretest and posttest Quasi
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kombinasi.
eksperimental design. Australian Journal of basic &
Bandung : Alfabeta
apllide science 5 (11) 564-570
Sugiono (2007). Metode Penelitian Ktujntitatiffdan
Mulyana A. Nugraha P, & Adi S. (2008). Faktor-faktor
Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
ibu balita yang berhubungan dengan kepatuhan follow up
penderita pneumonia balita di puskesmas Cisage ciamis,
13
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6 (1); Januari 2014

Sujaeweni, V.M., Endaryanto P. (2012). Statistik untuk


penelitian. Jogjakarta : Graha Ilmu
Supartini, Y. (2004). Konsep dasar Keperawatan Anak.
Jakarta : EGC
Supono, J. (2008). Faktor prediksi persepsi ibu tentang
diare pada balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2 (4).
179 - 185.
Suraatmaja (2007). Gastroenterologi Anak. Jakarta :
Sagung Seto
Suriadi , Yulianni Rita. ( 2006 ). Asuhan Keperawatan
pada Anak. Jakarta : Penebar Swadaya
Tomey. Ann M, Alligood. Martha R. ( 2004). Nursing
Theorist and Their Work. 6.ed. Post Mosby
Winlar, W. (2002). Faktor-faktor yang mempengaruhi
kejadian diare pada anak usia 0-2 tahun di kelurahan
turangga. Diundu tanggal 13 Oktober 2013, pkl 19.30.
wib.http//litbang.depkes.go.id.2002.
Wulandari, J.P. (2009). Hubungan antara faktor
lingkungan dan factor sosiodemografi Dengan kejadian
diare pada balita di desa blimbing, kecamatan sambirejo
Sragen. Di unduh tgl 12 Oktober 2013 pk 18.30 dari
hpht//sprints.ums.ac.id.
Wong, Donna L (2004). Pedoman klinis keperawatan
pediatric. Ed 4. Jakarta : EGC
Wong, Donna L, Hockenberry M, Wilson D,
Winkelstein, M.L. & Schwartz P. (2009). Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik vol 2. Jakarta : EGC
Xue, Y. (2010). Perineal care clinician information.
Adelaide : Joanna Briggs Institute. Diundu tanggal 5
Oktober 2013 jam15.00 dari hpht://search,
proquest.com.
Yilgwan, Christopher. Okolo S. (2012). Prevalence of
diarrhea disease and risk factor . Jos university teaching
hospital Nigeria. Journal of african medicine

14