Anda di halaman 1dari 20

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

6 LANGKAH CARA MENCUCI TANGAN


DI RUANG MELATI PTSW BUDI MULIA 3
MARGAGUNA CCILANDAK

DISUSUN OLEH :

Kelompok V :

1. Resly Septianty L. / 18170000104


2. Nuraini / 18170000105
3. Sulkorni / 18170000106
4. Dina Febrina / 18170000107
5. Nur Asmiati / 18170000090
6. Noviler lagoa / 18170000099

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INDONESIA MAJU (STIKIM)
JAKARTA, 2018
A. Topik
6 langkah cara mencuci tangan

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) dengan
kegiatan mencuci tangan diharapkan peserta dapat menerapkan 6 langkah
cara mencuci tangan.
2. Tujuan khusus
a. Lansia dapat meningkatkan pengetahuan cara mecuci tangan yang
baik dan benar
b. Lansia dapat mencuci tangan yang bersih dan benar secara mandiri
c. Mencegah penularan penyakit antar lansia

C. Landasan Teori
1. Konsep Dasar Lansia
Gerontik adalah ilmu yang mempelajari, membahas, meneliti
segala bidang masalah Lanjut Usia, bukan saja mengenai kesehatan
namun juga menyangkut sosial kesejahteraan, pemukiman, lingkungan
hidup, pendidikan, perundang-undangan.
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian
dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh
setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan
baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai
fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan
fisik sebagian dari proses penuaan normal, seperti rambut yang mulai
memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca
indera, serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi
integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan
kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan
dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut
kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara
bijak. Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan
dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup.
Usia tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan.
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya
kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa
perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia
mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan
melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan
kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia
lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu
telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan
mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi.
Wisma melati adalah salah satu wisma yang terdapat di Panti Sosial
Tresna Werda Bina Mulya III. Lansia yang berada di ruang melati pada
umumnya adalah lansia pasangan yang memiliki hubungan pertemanan
dan masih bisa melakukan aktivitas dan memenuhi kebutuhannya secara
mandiri. Dalam kesehariannya, lansia menghabiskan waktu dengan
pasangan atau teman sekamar dan bersosialisasi antar lansia di wisma
tersebut.
Dari aspek kesehatan masyarakat, khususnya pola penyebaran
penyakit menular, cukup banyak penyakit yang dapat dicegah melalui
kebiasaan atau perilaku higienes dengan cuci tangan pakai sabun, seperti
misal penyakit diare, typhus, cacingan, dll. Seperti halnya perilaku buang
air besar sembarangan, perilaku cuci tangan, terlebih cuci tangan pakai
sabun merupakan masih merupakan sasaran penting dalam promosi
kesehatan, khususnya terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini
disebabkasn perilaku tersebut masih sangat rendah. Maka dari itu
diperlukan suatu tindakan untuk mencegah penularan penyakit khususnya
pada lansia, yaitu dengan cara melakukan terapi aktivitas kelompok
(TAK) mengenai pola hidup bersih dan sehat.
2. Konsep Dasar TAK 6 langkah cara mencuci tangan
a. Definisi
Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan
membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air
ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi
bersih, sebagai bagian dari ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan
lainnya.
Perilaku mencuci tangan berbeda dengan perilaku cuci
tangan yang merujuk pada kata kiasan. Mencuci tangan baru dikenal
pada akhir abad ke 19 dengan tujuan menjadi sehat saat perilaku dan
pelayanan jasa sanitasi menjadi penyebab penurunan tajam angka
kematian dari penyakit menular yang terdapat pada negara-negara
kaya (maju). Perilaku ini diperkenalkan bersamaan dengan ini isolasi
dan pemberlakuan teknik membuang kotoran yang aman dan
penyediaan air bersih dalam jumlah yang mencukupi.

b. Manfaat Mencuci Tangan ( Pengaruh Positif Cuci Tangan)


Pentingnya mencuci tangan untuk menjaga kesehatan dan
terhindar dari penyakit. Sebaiknya mengajarkan kebiasaan baik
mencuci tangan kepada anak yang masih kecil, karena salah satu
penyakit pembunuh anak nomor 1 di Indonesia adalah diare, yang
dapat dicegah dengan mengajarkan anak untuk mencuci tangan.
Karena seperti yang kita ketahui, sepanjang hari kita akan banyak
melakukan kontak langsung dengan orang-orang, permukaan benda
yang terkontaminasi, makanan, bahkan binatang dan kotoran
binatang . Hal itu tentunya akan menyebabkan menumpuknya bibit
penyakit pada tangan khususnya telapak tangan. Maka dari itu juga
kita tidak mencuci tangan cukup sering, maka kita dapat tertular
berbagai penyakit lewat sentuhan ( misalnya : tanpa sadar kita
menyantuh mata, hudung,mulut dengan telapak tangan. Hal itu
tentunya akan mengakibatkan kuman-kuman dan bakteri-bakteri
yang melekat pada telapak tangan akan berpindah ke mata, mulut
atau hidung dan tentunya akan menimbulkan berbagai macam
penyakit. Tanpa kita sadari , kita juga dapat menyebarkan penyakit
ke orang lain lewat sentuhan langsung atau lewat media permukaan
benda yang mereka sentuh.

c. Macam-macam Cara Mencuci Tangan


1) Mencuci tangan dengan air
Praktek mencuci tangan yang dianjurkan pada umumnya
adalah dilakukan dibawah air yang mengalir, karena air dalam
keadaan diam dan digunakan untuk mencuci tangan yang kotor
bisa menjadi tempat sup kuman karena berkumpulnya kotoran
yang mungkin mengandung kuman penyakit di satu tempat dan
menempel lagi saat tangan diangkat dari wadah mencuci tangan
tersebut.

2) Mencuci tangan dengan air panas


Walaupun ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa
mencuci tangan dengan air panas lebih efektif untuk
membersihkan tangan, namun pendapat ini tidak disertai dengan
pembuktian ilmiah. Temperatur dimana manusia dapat menahan
panas air tidak efektif untuk membunuh kuman. Beberapa
pendapat lain menyatakan bahwa air panas dapat membersihkan
kotoran, minyak, ataupun zat-zat kimia, namun pendapat
populer ini sebenarnya tidak terbukti, air panas tidak membunuh
mikro organisme. Temperatur yang nyaman untuk mencuci
tangan adalah sekitar 45 derajat celsius, dan temperatur ini tidak
cukup panas untuk membunuh mikro organisme apapun. Namun
temperatur yang jauh lebih panas (umumnya sekitar 100 derajat
celsius) memang dapat membunuh kuman. Tidak efektifnya
temperatur air untuk membunuh kuman juga dinyatakan dalam
prosedur standar mencuci tangan untuk operasi medis dimana
air keran dibiarkan mengalir deras hingga 2 galon per menit dan
kederasan air inilah yang membersihkan kuman, sementara
tinggi rendahnya temperaturnya tidak signifikan.

3) Mencuci tangan dengan sabun


Mencuci tangan dengan sabun adalah praktik mencuci
tangan yang paling umum dilakukan setelah mencuci tangan
dengan air saja. Walaupun perilaku mencuci tangan dengan
sabun diperkenalkan pada abad 19 dengan tujuan untuk
memutus mata rantai kuman, namun pada praktiknya perilaku
ini dilakukan karena banyak hal di antaranya, meningkatkan
status sosial, tangan dirasakan menjadi wangi, dan sebagai
ungkapan rasa sayang pada anak.

4) Mencuci tangan dengan cairan


Pada akhir tahun 1990an dan awal abad ke 21,
diperkenalkan cairan alkohol untuk mencuci tangan (juga
dikenal sebagai cairan pencuci tangan, antiseptik, atau sanitasi
tangan) dan menjadi populer. Banyak dari cairan ini berasal dari
kandungan alkohol atau etanol yang dicampurkan bersama
dengan kandungan pengental seperti karbomer, gliserin, dan
menjadikannya serupa jelly, cairan, atau busa untuk
memudahkan penggunaan dan menghindari perasaan kering
karena penggunaan alkohol. Cairan ini mulai populer digunakan
karena penggunaannya yang mudah, praktis karena tidak
membutuhkan air dan sabun.
Sesuai perkembangan zaman, dikembangkan juga cairan
pembersih tangan non alkohol. Namun apabila tangan benar-
benar dalam keadaan kotor, baik oleh tanah, darah, ataupun
lainnya, maka penggunaan air dan sabun untuk mencuci tangan
lebih disarankan karena cairan pencuci tangan baik yang
berbahan dasar alkohol maupun non alkohol walaupun efektif
membunuh kuman cairan ini tidak membersihkan tangan,
ataupun membersihkan material organik lainnya.
Dalam perdebatan yang mana perilaku yang lebih efektif
di antara menggunakan cairan pembersih tangan atau mencuci
tangan dengan sabun, Wallace Kelly, Infection Control
R.N. (Paramedik untuk Pengendalian Infeksi) berpendapat
bahwa keduanya efektif dalam membersihkan bakteria-bakteria
tertentu. Namun cairan pembersih tangan berbahan dasar
alkohol tidak efektif dalam membunuh bakteria yang lain seperti
e-coli dan salmonela. Karena alkohol tidak menghancurkan
spora-spora namun dengan mencuci tangan dengan sabun spora-
spora tersebut terbasuh dari tangan. Menurutnya metode terbaik
adalah menentukan saat keadaan tidak memungkinkan untuk
mengakses air dan sabun, maka cairan pencuci tangan jauh lebih
baik daripada tidak menggunakan apapun.
Cairan pembunuh kuman yang berbahan dasar alkohol
tidak efektif untuk mematikan materi organik, dan virus-virus
tertentu seperti norovirus, spora-spora bakteria tertentu, dan
protozoa tertentu. Untuk membersihkan mikro organisme -
mikro organisme tersebut tetap disarankan menggunakan sabun
dan air.

5) 6 LANGKAH CUCI TANGAN MENURUT STANDART


WHO
Prinsip dari 6 langkah cuci tangan antara lain :
a) Dilakukan dengan menggosokkan tangan menggunakan
cairan antiseptik (handrub) atau dengan air mengalir dan
sabun antiseptik (handwash). Rumah sakit akan
menyediakan kedua ini di sekitar ruangan pelayanan pasien
secara merata.
b) Handrub dilakukan selama 20-30 detik
sedangkan handwash 40-60 detik.
c) 5 kali melakukan handrub sebaiknya diselingi 1 kali
handwash.
Enam langkah cuci tangan yang benar menurut WHO
yaitu :
a) Tuang cairan handrub pada telapak tangan kemudian usap
dan gosok kedua telapak tangan secara lembut dengan arah
memutar.

b) Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara


bergantian

c) Gosok sela-sela jari tangan hingga bersih


d) Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan posisi saling
mengunci

e) Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian

f) Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok


perlahan
Atau pada poster yang lebih ringkas pada gambar berikut
ini :

D. Susunan acara
N TAHAP WAKTU KEGIATAN KEGIATAN
O PENYULUHAN PESERTA
1 Pembukaan 10 Menit  Salam perkenalan  Menjawab salam
 Menjelaskan tujuan dari  Mendengarkan
pertemuan
 Menjelaskan tata cara  Mendengarkan
kegiatan TAK
 Kontrak waktu  Mendengarkan
2 Inti acara 30 Menit  Observasi jalannya  Menyimak
kegiatan (memperagakan
cara cuci tangan yang
baik dan benar)

 Melakukan penilaian  Melakukan cuci


terhadap peserta tangan
(mengarahkan lansia
untuk mau ikut
melakukan cuci tangan
yang baik dan benar)
 Mengevaluasi lansia
dalam melakukan cuci
tangan yang baik dan
benar
3 Penutup 5 Menit  Memberikan pernyataan  Memperhatikan
lisan jalannya acara
keseluruhan
 Memberikan salam  Menjawab salam
penutup

E. Tempat
Wisma melati di Panti Sosial Tresna Werda (PSTW) Bina Mulya III

F. Waktu
1. Hari/Tanggal : Selasa, 06 November 2018
2. Jam : 10.00 – 10.45 WIB

G. Sasaran
1. Kriteria klien
a. Lansia di wisma melati
b. Lansia yang tidak mengalami gangguan motorik berat (masih
mampu memenuhi ADL secara mandiri)
c. Lansia yang mudah diajak berinterasi
d. Lansia yang tidak mengalami gangguan pendengaran
e. Lansia yang tidak mengalami gangguan psikis
2. Jumlah
Jumlah lansia sebanyak 14 orang

H. Pengorganisasian
1. Leader : Dina Febrina
Tugas :
a. Membuka acara dan memperkenalkan diri dan anggota tim terapi 
b. Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
c. Menetapkan dan menjelaskan aturan permainan
d. Memotivasi peserta TAK untuk menjawab pertanyaan dan
memperaktekkan cara mencuci tangan. 
2. Co- Leader : Sulkorni
Tugas :
a. Menyampaikan informasi tentang proses TAK pada leader dan
fasilitator
b. Mengingatkan leader jika permainan menyimpang
c. Mengingatkan lamanya waktu pelaksanaan (30 menit) 
d. Bersama leader saling bekerja sama.
3. Fasilitator : Nur Asmiati, Noviler Lagoa
Tugas :
a. Memotivasi peserta yang kurang aktif.
b. Menjadi contoh anggota kelompok selama kegiatan.
4. Observer : Resly Septianty L., Nuraini
Tugas :
a. Mengamati proses kegiatan 
b. Menilai jalannya TAK.
c. Menyimpulkan hasil kegiatan

I. Setting Tempat
M

Keterangan :
: Leader

: Co – leader

: Observer

: Fasilitator

: Klien

J. Metode
Para perserta dijelaskan pentingnya mencuci tangan dan cara mencuci
tangan yang baik dan benar. Masing-masing peserta akan dinilai oleh
fasilitator yaitu keaktifan, pemahaman, sosialisasi, dan kebersihan.

K. Media
1. TV LED
2. Video

L. Tata Tertib
1. Penanganan klien yang tidak efektif saat TAK, fasilitator memastikan
agar klien berperan aktif dalam TAK.
2. Penanganan untuk klien yang meninggalkan permainan tanpa pamit : 
a. Ingatkan klien akan aturan permainan bahwa barang siapa yang akan
meninggalkan ruang TAK harus pamit terlebih dahulu pada
perawat. 
b. Jika klien tetap saja pergi jangan paksakan klien untuk mengikuti
TAK tapi setelah TAK selesai temui klien dan tanyakan mengapa
tadi ia meninggalkan TAK.

M. Proses Evaluasi
1. Waktu
2. Kehadiran
3. Topik diskusi
4. Isu, ide dan pendapat anggota
5. Strategin leader
6. Rencana strategi berikutnya
7. Prediksi respon anggota pertemuan berikutnya.
8. Alat bantu yang digunakan 
9. Bentuk formasi kelompok

N. Implementasi
1. Langkah kegiatan
a. Orientasi
1) Bina hubungan salimg percaya dengan prinsip komunikasi
terapeutik
2) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non-verbal
3) Memperkenalkan nama perawat
4) Menanyakan nama dan panggilan semua anggota
b. Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan masalah yang dirasakan
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan megenal perawatan diri yang akan
dilakukan
2) Menjelaskan aturan bermain
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus
meminta izin kepada perawat, lama kegiatan 45 menit
b) Klien dipersilahkan untuk ke kamar kecil sebelum kegiatan
dimulai
c) Setiap klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai
akhir
2. Fase kerja
a. Mengidentifikasi kemampuan klien dalam melakukan kebersihan
diri, salah satunya mencuci tangan
b. Menjelaskan pentingnya mencuci tangan, selanjutnya klien yang
memegang bola diminta untuk menjelaskan kembali pentingnya
mencuci tangan
c. Memperagakan 6 langkah mencuci tangan yang benar, selanjutnya
seperti langkah b klien yang memegang boladiminta untuk
mengulang memperagakan cara mencuci tangan 6 langkah yang
benar.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
1) Perawat meaanyakan perasaan klien setelah megikuti TAK
2) Memberikan reinforment positif terhadap perilaku klien yang
positif

Formulir evaluasi (Peserta) sebagai berikut.


Stimulasi Mencuci Tangan 6 Langkah

Nama Klien
Aspek yang
No
dinilai

1. Menjelaskan
pentingnya
mencuci
tangan yang
baik dan
benar
2. Menyebutkan
6 langkah
mencuci
tangan yang
benar
3 Memperagak
an cara
mencuci
tangan yang
baik dn benar

Petunjuk :
a. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
b. Untuk setiap klien beri penilaian atas kemampuan menyebutkan kegiatan
harian yang biasa dilakukan memperagakan salah satu kegiatan, menyusun
jadwal kegiatan harian dan menyebutkan dua cara mencegah halusinasi. Beri
tanda √  jika klien mampu dan berikan tanda (-) jika klien tidak mampu
Formulir evaluasi (Fasilitator) sebagai berikut.
Stimulasi Mencuci Tangan 6 Langkah

N TAHAP PELAKSANAAN DILAKUKAN TIDAK


O DILAKUKAN
1 Salam perkenalan
2 Menjelaskan tujuan dari
pertemuan
3 Menjelaskan tata cara kegiatan
TAK

4 Kontrak waktu

5 Observasi jalannya kegiatan


(memperagakan cara cuci tangan
yang baik dan benar)
6 Melakukan penilaian terhadap
peserta (mengarahkan lansia
untuk mau ikut melakukan cuci
tangan yang baik dan benar)

7 Mengevaluasi lansia dalam


melakukan cuci tangan yang baik
dan benar

8 Memberikan pernyataan lisan


jalannya acara keseluruhan
9 Memberikan salam penutup

Petunjuk : beri tanda (√ ) jika fasilitator melakukan sesuai dengan tahap
pelaksanaan dan berikan tanda (-) jika fasilitator tidak melakukan sesuai tahap
pelaksanaan
DAFTAR HADIR PESERTA
NO NAMA PESERTA KETERANGAN PARAF
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2011). Konsep Dasar Keperawatan Gerontik. Diakses pada tanggal 23


Oktober 2012 dari http://ebookbrowse.com/konsep-dasar-keperawatan-
gerontik-doc-d189511678
Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC

Nugroho, Wahjudi SKM. (1995). Perawatan Lanjut Usia. Jakarta : EGC


Potter & Perry. (2005). Fundamental of Nursing. Jakarta : EGC

Samsun, Ahmad. (2011). Keperawatan Gerontik. Diakses pada tanggal 22


Oktober 2012 dari http://id.scribd.com/doc/57506594/Makalah-
Keperawatan-Gerontik-i
Sri, Nina. (2010). Keperawatan Dasar. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2012
dari http://cheezabluesecret.multiply.com/journal
http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/06/pengertian-mencuci-tangan.html

http://adelinecalonperawat.blogspot.com/2009/03/sap-penyuluhan-cuci-
tangan.html

http://www.infeksi.com.Pusat Informasi Penyakit Infeksi, Andy Baex, 6


Februari 2007