Anda di halaman 1dari 2

TUGAS

FILSAFAT HUKUM
KELAS C
ALDO SERENA SANDRES (1706048942)
Historical and Anthropological Jurisprudence

Pada abad ke-18, ada 2 gerakan besar yang lahir sebagai reaksi terhadap pemikiran
hukum kodrat. Aliran pertama adalah positivism hukum, dan yang lainnya, adalah pemikiran
hukum yang berdasarkan mistisme dan perkembangan organis hubungan antar manusia. Aliran
terakhir di atas disebut Gerakan Romantis yang menolak pandangan rasionalistis di abad
tersebut. Awal mula hadirnya gerakan ini, dipelopori oleh filsuf-filsuf Jerman. Terutama Herder
dan Hegel. Gagasan romantis berkembang subur di sana. Herder menekankan bahwa ada hal
yang unik dari setiap periode sejarah, peradaban maupun bangsa. Setiap usaha untuk
menyeragamkan itu semua adalah usaha yang sia-sia dan menghasilkan sebuah kesamaan yang
cacat sifatnya. Sedangkan Hegel menyatakan bahwa negara adalah sama dengan alat untuk
melindungi kepentingan kemerdekaan individu dan kelompok. Gagasan Herder dan Hegel inilah
yang nantinya menjadi landasan filsafat hukum historis. Nantinya aliran ini juga dibahas dan
dikembangkan oleh beberapa tokoh yang akan dibahas berikutnya.

Tokoh yang pertama adalah F.K Von Savigny menolak aliran hukum kodrat. Baginya
sistem hukum merupakan suatu bagian dari kebudayaan masyarakat, hukum bukan suatu hasil
pengadilan atau hasil dari pembuat undang-undang, tetapi berkembang pada suatu respon
terhadap kekuatan impersonal yang dapat ditemukan pada semangat nasional masyarakat (people
national spirit). Savigny memiliki hipotesa yang menyatakan bahwa segala hukum sebenarnya
terbentuk dari budaya yang berkembang menjadi suatu kegiatan yuridiksi. Dalam aliran ini
Savigny mencari dan menghubungkan suatu studi yang murni dan serius terhadap arah
perkembangan hukum Romawi dan Jerman Kuno hingga sampai keberadaannya sekarang
sebagai dasar dari semangat orang-orang tertentu. Menurut pendapatnya, hal tersebut merupakan
dasar dan bentuk alami hukum, dan melihat skema-skema kodifikasi dengan sebuah rasa
kebencian, bahkan untuk memberlakukan suatu pengaturan dengan waktu penyusunan yang
lama, kecuali memang sudah mengakar dalam kesadaran masyarakat.

Berikutnya adalah Sir Henry Maine, ia merupakan penentang dari perasionalisasian aliran
hukum kodrat dan aliran utilitarian. Ia tidak secara spesifik memiliki kontribusi secara empiris,
sistematik, dan metode sejarah. terhadap filsafat hukum. Menurutnya, awal kondisi hukum adat
adalah tidak tertulis. Pendokumentasian adat istiadat ke dalam bentuk tertulis baru dimulai pada
saat Pengadilan di Westminter hall di Inggris dan nantinya dikenal sebagai hukum tertulis yang
biasa disebut dengan codes. S. Diamond dengan the differing of law-nya menyatakan bahwa kita
harus bisa membedakan the rule of law dengan adat istiadat. Hukum dan adat istiadat pada
prinsipnya adalah saling bertentangan dan tidak berkesinambungan. Sedangkan M. Gluckman
menyatakan bahwa dalam menilai manusia secara keseluruhan, maka perlu dilakukan investigasi
ke dalam sejarah panjang hubungan yang memiliki banyak bagian, dalam melakukannya
mungkin akan terbawa dalam lingkup pertimbangan tergantung asal usul dari sejarah tersebut.

Sedangkan Fuller menyatakan bahwa apabila kita dapat mengerti secara baik tentang adat
istiadat, maka kita dapat menerima kedudukan adat istiadat itu sebagai suatu bagian penting
dalam perkembangan kehidupan di dunia ini karena hukum internasional secara mendasar
merupakan adat istiadat dan beberapa negara yang berdiri pada saat ini masih diperintah
berdasarkan dengan hukum adat. Paul Bohannan sendiri menyatakan bahwa Norma adalah
aturan sedangkan adat istiadat merupakan tubuh dari norma-norma tersebut. Kita sering terjebak
pada pengertian hukum dan norma. Institusi hukum adalah institusi dimana masyarakatnya
memiliki suatu sistem penyelesaian permasalahan antara satu dengan yang lainnya dan
melakukan perlawanan atas pelanggaran hukum. Ada 2 aspek yang membedakan institusi hukum
dengan yang lainnya yakni institusi tersebut memiliki peraturan untuk dapat mengintervensi
institusi yang bukan hukum terhadap suatu permasalahan hukum, serta memiliki aturan dan
substansi hukum tersendiri.

SUMBER:

Buku ajar Filsafat Hukum. Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2018.

Antonius Cahyadi dan E. Fernando M. Manulang. Pengantar Ke Filsafat Hukum. Jakarta:


Kencana, 2015.