Anda di halaman 1dari 13

[

Year]
Studi Literatur Aplikasi Arsitektur
Tradisional Dalam Desain Bangunan
Kontemporer

Rumah Kudus

OLEH:
LAILI DWI ANNISA
1207112119

Dosen Pembimbing: Wahyu Hidayat ST, MURP

Teknik Arsitektur
Universitas Riau
A. Arsitektur tradisional Rumah Kudus
Rumah tradisional Kudus merupakan kesatuan beberapa bangunan yang berfungsi
untuk tempat tinggal dan melakukan kegiatan sehari-hari di rumah. Pola tata bangunan terdiri
dari bangunan utama, yakni: Dalem atau rumah induk, Jogosatru di sebelah depan serta
pawon di samping Dalem. Di tengah tapak atau di depan bangunan utama terdapat halaman
terbuka (pelataran), sedangkan di seberangnya terdapat kamar mandi dan sumur (Pekiwan)
serta Sisir. Regol terletak disisi samping halaman. Rumah Adat Kudus merupakan salah satu
rumah tradisional yang terjadi akibat endapan suatu evolusi kebudayaan manusia, dan
terbentuk karena perkembangan daya cipta masyarakat pendukungnya. Menurut kajian
historis-arkeologis, Rumah Adat Kudus ditemukan pada tahun 1500an M dan dibangun
dengan bahan baku 95% berupa kayu jati (Tectona grandis) berkualitas tinggi dengan
teknologi pemasangan sistem “knock-down” (bongkar pasang tanpa paku). Proses akulturasi
arsitektur tradisional asli Kudus memakan waktu yang cukup panjang, mengingat banyaknya
kebudayaan asing (Hindu, Cina, Eropa, dan Persia / Islam) yang masuk ke kawasan Kudus
dengan waktu yang cukup panjang.

KEISTIMEWAAN RUMAH KUDUS :

Rumah Adat Kudus, dengan atapnya yang berbentuk “Joglo Pencu”, memiliki kekhasan
(keunikan) dibandingkan rumah-rumah adat yang lain di Indonesia. Rumah Adat Kudus tidak
hanya terletak pada keindahan arsitekturnya yang didominasi dengan seni ukir kualitas tinggi,
tetapi juga pada kelengkapan komponen-komponen pembentuknya yang memiliki makna
filosofis berbeda-beda.

• Seni ukir Rumah Adat Kudus merupakan seni ukir 4 (empat) dimensi dengan
bentuk ukiran dan motif ragam hiasnya merupakan gaya perpaduan seni ukir Hindu, Persia
(Islam); Cina, dan Eropa, dengan tetap ada nuansa ragam hias asli Indonesia. Keunikan
Rumah Adat Kudus yang juga cukup menarik untuk dicermati adalah kandungan nilai-nilai
filosofis yang direfleksikan rumah adat ini.Bentuk ukiran dan motif ragam hias ukiran,
misalnya : pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce); motif ular
naga, buah nanas (sarang lebah); motif burung phoenix, dan lain-lain.
• Tata ruang rumah adat, misalnya :jogo satru / ruang tamu dengan soko geder-nya /
tiang tunggal sebagai simbol bahwa Allah SWT itu Tunggal/Esa dan penghuni rumah harus
senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya. Tata letak rumah adat, misalnya arah hadap
rumah harus ke selatan, dengan maksud agar pemilik rumah tidak memangku G. Muria (yang
terletak di sebelah utara) sehingga tidak memperberat kehidupan sehari-hari.

• Gedhongan senthong/ruang keluarga yang ditopang empat buah soko guru/tiang


penyangga. Keempat tiang tersebut adalah simbol yang memberi petunjuk bagi penghuni
rumah supaya mampu menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan empat
sifat manusia: amarah (dorongan untuk melakukan kemaksiatan), lawwamah (dorongan
mengkoreksi diri sendiri), shofiyah (kelembutan hati), mutmainnah (dorongan untuk berbuat
kebajikan).

• Pawon/dapur di bagian paling belakang bangunan rumah.


• Pakiwan (kamar mandi) sebagai simbol agar manusia selalu membersihkan diri
baik fisik maupun ruhani. Tanaman di sekeliling pakiwan, misalnya :

1. pohon belimbing, yang melambangkan 5 rukun Islam.


2. pandan wangi, sebagai simbol rejeki yang harum / halal dan baik.
3. bunga melati, yang melambangkan keharuman, perilaku baik dan berbudi
luhur, serta kesucian abadi

•· Tatacara perawatan yang dilakukan Rumah Adat Kudus juga merupakan


kekhasan tersendiri yang mungkin tidak bisa dijumpai di tempat-tempat lain.
Jenis bahan dasar yang digunakan untuk merawat Rumah Adat Kudus adalah ramuan yang
diperoleh berdasarkan pengalaman empiris yang diwariskan secara turun-temurun, yaitu
ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh).
Dengan mengoleskannya secara berulang-ulang, ramuan ini terbukti efektif mampu
mengawetkan kayu jati, sebagai bahan permukaan kayu menjadi lebih bersih dan mengkilap.

KAJIAN ARSITEKTUR TRADISIONAL KUDUS DALAM PERUBAHAN


KEBUDAYAAN

Mengkaji perkembangan arsitektur dalam perubahan kebudayaan dengan studi kasus Kudus
kulon akan merujuk pada interpretasi terhadap sejarah kebudayaan masyarakat Kudus
dikaitkan dengan perkembangan arsitektur, khususnya rumah tradisionalnya. Apa yang
diungkapkan berikut adalah satu interpretasi atau pendapat yang sifatnya masih terbuka untuk
didiskusikan lebih lanjut. Tujuan yang lebih utama adalah untuk memberikan gambaran
bahwa perubahan pada kebudayaan akan tercermin pada perubahan arsitektur, mengingat
arsitektur merupakan artefak dari kebudayaan.

1. Periode sebelum Islam, sampai akhir abad 15

Kondisi geografis Kudus pada saat itu terletak di dataran lembah dengan gunung Muria
di sisi utara dan daerah rawa-rawa di sisi selatan. Daerah ini diperkirakan merupakan sisa-sisa
kanal atau selat yang pernah memisahkan pulau Muria dengan pulau Jawa. Kemungkinan
telah terdapat permukiman kecil disebut Tajug yang dihuni masyarakat penganut agama
Hindu ditepi sungai Gelis dengan matapencaharian sebagai petani (Wikantari, 1994).
Disamping agama Hindu, kepercayaan asli setempat (dinamisme dan animisme) masih
dipegang.
Kelompok permukiman penganut hindu terdiri dari rumah-rumah penduduk dan
kemungkinan terdapat asrama (mandala) serta tempat ibadah (kuil). Rumah-rumah
kemungkinan berbentuk kampung atau limasan dengan material bambu atau kayu. Konstruksi
rumah berbentuk panggung untuk mengatasi kondisi alam berawa-rawa. Atap bangunan
menggunakan rumbia, yang merupakan bahan bangunan yang mudah didapatkan di
sekitarnya. Bangunan peribadatan dibangun dengan menggunakan bahan yang lebih awet,
teknik membangun yang lebih rumit serta ornamentasi pada bangunan yang
merepresentasikan kemuliaan dan keabadian. Material utama menggunakan batu bata (tanah
liat yang dibakar) yang disusun berlapis tanpa pengikat semen.
2. Periode Pengembangan Agama Islam, Awal – Pertengahan Abad 16

Sebelum kedatangan Ja’far Shodiq telah datang terlebih dahulu The Ling Sing, penyiar
agama Islam dari Yunan (China) yang selain menyebarkan agama Islam juga mengajarkan
ketrampilan mengukir atau menyungging pada masyarakat. Ja’far Shodiq datang kemudian
dengan pengikut-pengikutnya ke Kudus untuk menyebarkan agama Islam, mengembangkan
permukiman baru serta mulai memperkenalkan ketrampilan berdagang. Penyebaran agama
Islam dilakukan secara persuasif serta menghormati keyakinan yang sudah ada lebih dahulu.
Ja’far Shodiq membangun masjid Al Manaar, membagi-bagikan tanah pada pengikutnya dan
mendirikan kota. Pengaruh Cina serta Timur Tengah masuk dalam kebudayaan masyarakat,
disamping Hindu dan Jawa. Demikian juga struktur masyarakat berkembang dengan tatanan
yang lebih kompleks.

Masjid yang awalnya kecil kemungkinan dibangun di bekas tempat peribadatan Hindu,
atau dengan mempergunakan pengetahuan membangun tempat ibadah Hindu yang
disesuaikan untuk Masjid. Diversifikasi bentuk bangunan bangunan mulai di kenal untuk
merepresentasikan fungsi atau penghuninya. Atap bangunan peribadatan berbentuk tajuk,
bangunan untuk petinggi atau penguasa berbentuk limas dan Kampung untuk masyarakat
umum. Penggunaan material kayu jati untuk bangunan penting. Ukiran atau ornamentasi
mulai dikenal sebagai elemen penghias bangunan penting. Rumah biasa mungkin tetap
menggunakan bahan bambu serta beratap kampung dari bahan rumbia. Pusat Kota berupa
pelataran terbuka diletakkan berebelahan dengan sungai. Pelataran ini sekaligus digunakan
sebagai pasar. Di sisi barat terdapat Masjid yang menghadap pelataran tersebut. Di sisi
selatan masjid terdapat Pendopo yang diperkirakan merupakan bangsal istama, kemungkinan
lain istana atau rumah Sunan Kudus terdapat di sisi utara kawasan dengan masjid pribadinya,
Langgar Dalem. Dengan membagi-bagikan tanah disekitarnya pada pengikutnya, Sunan
Kudus sudah meletakkan dasar-dasar tata kota Kudus.

3. Periode Kekuasaan Mataram Islam, Awal Abad 17 – Akhir Abad 18

Dengan jatuhnya kekuasaan Demak ke Pajang dan kemudian Mataram, kekuasaan kerajaan
bandar berpindah ke selatan, ke kerajaan agraris yang veodal, saat itu Kudus berkembang
menjadi pemasok beras dan palawija dari pedalaman ke bandar Demak, Jepara serta tempat-
tempat lain. Perdagangan keliling lambat laun menjadi mata pencaharian penting masyarakat
Kudus dan memberikan peningkatan sosial ekonomi pada masyarakat, menjadi kelopok
masyarakat yang makmur dan mandiri.

Orientasi masyarakat Kudus waktu itu banyak ditujukan ke Nagarigung sebagai ibukota
kerajaan. Kemampuan ekonomi hasil perdagangan diwujudkan dengan pembangunan rumah-
rumah dari bahan yang lebih baik, kayu jati. Bentuk Joglo yang menjadi lambang
kebangsawanan menjadi bentuk yang disukai untuk menaikkan derajat sosial. Tata ruang
rumah mengalami penyederhanaan dengan hanya meliputi Dalem serta pawon. Tata ruang
rumah yang ringkas ini kemungkinan ada hubungannya dengan perkembangan peduduk kota
yang mulai padat, terutama di sekitar pusat Kawasan (Masjid Menara). Arah selatan yang
menjadi orientasi rumah tetap dipatuhi, sehingga menimbulkan pola rumah berderet pada
kapling-kapling yang mulai ramai.

4. Periode Kekuasaan Kolonial Belanda, Abad 18

Pada masa kekuasaan kolonial belanda, Kudus dijadikan wilayah pemerintahan setingkat
kabupaten dan pejabat-pejabat pemerintah lansung diangkat oleh Belanda. Hubungan dengan
Nagarigung menjadi terputus dan penguasa-penguasa Kudus menjadi semacam raja. Belanda
memindahkan pusat kota ke sebelah Barat kali Gelis dan kota lama dibiarkan tetap dalam
kondisi tradisionalnya. Perdagangan keliling semakin ditekuni masyarakat kota lama Kudus.
Demikian pula dengan kehidupan keagamaannya. Menguatnya perekonomian masyarakat
menummbuhkan tuntutan aktualisasi diri pada masyarakat Kudus. Sayang tuntutan tersebut
tidak mendapat respon yang positif. Pergesekan dengan pemerintah Belanda, masyarakat
Jawa sendiri serta orang China mulai sering terjadi. Ikatan diantara masyarakat semakin kuat
karena karakteristik kelompok masyarakat tersebut.

Pengaruh kolonial Belanda dan eropa tercermin pada penggunaan elemen-elemen non kayu
yang mulai mewarnai rumah Kudus. Unsur keamanan mulai diperhatikan masyarakat dengan
membangun pagar-pagar halaman. Ketertutupan terhadap masyarakat luar serta ikatan
kelompok yang berkembang diwujudkan dengan adanya dinding-dinding pembatas.
Masyarakat mengembangkan kehidupannya dibalik tembok pembatas. Bentuk rumah
berkembang menyesuaikan tradisi masyarakat. Emperan rumah mulai ditutup dan diperbesar
untk menerima tamu.

5. Periode Kejayaan Sosial Ekonomi, Abad 19 – Awal Abad 20

Menjelang akhir abad 19 kota Kudus mengalami peningkatan kemakmuran berkat


melimpahnya hasil pertanian daerah sekitarnya, terutarna. beras, polowijo dan gula jawa.
Hasil panen ini menjadi mata dagangan penting bagi pedagang pedagang Kudus. Aktivitas
perdagangan mengharuskan mereka menjelajah sampai di tempat tempat yang jauh (biasa
disebut belayar) yang memakan waktu berminggu minggu sampai berbulan¬-bulan. Setelah
berkeliling dan sukses mereka kemudian kembali (berlabuh) atau menetap di suatu kota.
Sementara para suami berlayar, kaurn wanita Kudus melakukan kegiatan kerajinan rumah
tangga atau berdagang kecil kecilan. Hasil kerajinan rumah tangga berupa batik, bordir dan
tenun ikut menjadi mata dagangan dari suami suami mereka.

Pada paruh pertama abad 20 Kudus menjadi terkenal karena pabrik rokok kreteknya. Industri
yang semula merupakan kerajinan rumah tangga berkernbang menjadi industri besar 13).
Kemajuan perdagangan dan industri pribumi menarik kalangan masyarakat Cina untuk
beramai ramai ikut terjun dalam industri rokok. Persaingan ini mernicu pertentangan antar
etnis yang sengit dan berlarut larut 14). Perkembangan ini lebih dipertajam ketika industri
rokok berkembang (akhir abad 19 awal abad 20). Perkembangan ini menyebabkan
kepercayaan diri yang besar dari masyarakat Kudus berkembang. Mereka membangun strata
sosial sendiri menjadi kaum borjuis. Tuntutan aktualisasi diri menjadi semakin kuat melawan
perlakuan masyarakat luar yang dianggap kurang menghargai.

Jalan jalan kereta api di dibangun untuk mengantisipasi perkembangan industri gula
dan produksi beras. Daerah Kudus kulon berkembang menjadi daerah permukiman saudagar
saudagar hasil bumi yang kaya dari hasil perdagangan. Rumah-rumah besar dibangun dengan
bentuk Joglo yang dimodifikasi. Brunjung atau bagian atas dari atap Joglo dibuat lebih tinggi,
dikenal sebagai Joglo Pencu. Ornamentasi semakin rumit dan halus serta menghiasi hampir
seluruh permukaan dinding rumah, terutama ruang Jogosatru dan Gedongan. Elemen-elemen
khusus yang hanya di temui di Rumah tradisional Kudus memperkuat karakter rumah.
Musholla-musholla mulai banyak didirikan untuk mendekatkan dengan rumah. Sumur dan
kamar mandi mungkin sudah dibuat di depan rumah sejak awalnya. Untuk mempermudah
kegiatan ibadah yang perlu bersuci sebelum ke masjid atau musholla. Bangsal didirikan di
depan rumah untuk menampung barang dagangan atau untuk tempat kerja produksi Rokok.
Gudang gudang dan pabrik rokok banyak didirikan di Kudus kulon.
6. Periode Surutnya Kejayaan Sosial Ekonomi, Awal Abad 20 – Tahun 1970an

Perkembangan perekonomian surut ketika kondisi politik dan perekonomian tidak stabil
(awal abad 20 1970). Banyak perusahaan yang bangkrut dan gudang gudang terbengkalai.
Industri Rokok yang pernah mengantarkan sosial ekonomi ke puncak kejayaan beralih ke
tangan orang-orang China yang mengembangkannya menjadi Industri raksasa dengan
dukungan pemerintah. Bagi masyarakat Kudus sendiri industri rokok tidak pernah bangkit
kembali. Hanya beberapa keluarga keturunan pengusaha rokok besar yang masih meneruskan
usahanya dalam skala kecil. Surutnya perekonomian membawa dampak pada kehidupan
masyarakat, namun tidak pernah menghilangkan semangat perdagangan dan usaha mandiri
masyarakat.

Rumah-rumah Kudus mulai menjadi obyek yang bermasalah. Kondisi sosial ekonomi
masyarakat saat itu tidak lagi mampu mendukung keberadaan rumah-rumah tradisional
Kudus. Demikian juga dengan ketersediaan material kayu jati yang semakin langka. Elemen-
elemen bangunan yang rusak mulai diganti dengan elemen yang lebih murah dan awet.
Jumlah penghuni yang berkembang juga mulai merubah fungsi-fungsi awal dari ruangan
yang ada. Namun secara keseluruhan bangunan tidak mengalami perubahan. Bangunan
bangunan baru yang didirikan tidak lagi menerapkan bangunan tradisional karena alasan
kepraktisan serta biaya.

7. Masyarakat Kudus Kulon Saat Sekarang

Akhirnya ketika keadaan lebih stabil penataan perkembangan kota mulai dilakukan Kudus
berkembang menjadi kota industri kecil. Perluasan kota mengarah ke selatan dan timur,
sementara kota lama tidak mengalami banyak perubahan. Pada sisi kehidupan sosial
masyarakat. Kegiatan industri rokok sudah mulai di tinggalkan. Beberapa industri kecil
rumahan seperti jamu sempat berkembang sebentar diantara masyarakat. Industri yang terus
bertahan adalah industri Konfeksi. Pada tahun-tahun terakhir mulai bermunculan industri
kerajinan ukir untuk perabot serta elemen bangunan, walaupun jumlahnya tidak terlalu
banyak dan letaknya tersebar di wilayah Kota Kudus (Wikantari, 2001) dan yang sampai
sekarang terus berkembang dengan pesat adalah industri bordir.

Ketika masa kemakmuran berlalu, banyak rumah rumah dan fasilitas-fasilitas perekonomian
yang kemudian terbengkalai. Perselisihan yang terjadi diantara keluarga keturunan pemilik
rumah, kesulitan ekonomi serta rumitnya perawatan rumah seringkali berakhir dengan
dijualnya rumah rumah tersebut. Di sisi lain keunikan dan kemewahan rumah Kudus sangat
menarik minat orang-orang di luar Kudus, bahkan luar negeri untuk memilikinya. Akibatnya
dari tahun ke tahun jumlah rumah tradisional terus berkurang. Tahun 2003 Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah telah melakukan inventarisasi dan hanya
menemukan 33 rumah adat kudus dan 68 rumah diseluruh kota Kudus.

Berkurangnya rumah tradisional Kudus juga disebabkan karena sifat kayu yang tidak tahan
terhadap cuaca dan waktu dibandingkan dengan material batu atau beton. Kecuali yang selalu
dirawat dengan seksama, rumah-rumah tradisional yang sudah lewat seratus tahun sudah
mulai lapuk dan rusak. Dalam perkembangannya kemudian rumah rumah di daerah ini
banyak mengalami perubahan perubahan baik dalam hal penggunaan bahan bangunan
maupun dalam corak arsitektur bangunannya. Ada yang hanya berubah sedikit pada elemen-
elemen bangunannya, berubah satu unit bangunan yang hilang dan digantikan bangunan baru
atau yang berubah sama sekali, walaupun ada pula yang masih tetap berusaha untuk tetap
mempertahankannya.

Perkembangan kebudayaan masyarakat Kudus serta bentukan rumah tinggalnya secara


(kebudayaan lokal, Hindu, Islam, Cina, Kolonial, Eropa) mewarnai kebudayaan Kudus
sampai saat ini. Perkembangan dari masa kemasa tersebut tercermin pada perkembangan
artefaknya, yakni rumah traisional Kudus. Dari gambaran morfologi rumah tradsional Kudus
dalam perkembangan kesejarahannya dapat dilihat bagaimana rumah tradisional sampai pada
bentuk seperti sekarang. Sebagaimana dikatakan Rapoport, Oliver, Nash, Tjahjono, bahwa
suatu kebudayaan yang bentuknya tercermin dalam arsitektur akan selalu berubah atau
berkembang. Selama nilai nilai yang dipatuhi masih dianggap berguna serta cocok dalam
menghadapi tantang kehidupan, maka nilai-nilai tersebut masih akan lestari atau lentur
berubah dengan tetap mempertahankan karakteristik intinya.

DENAH

Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu, yakni pintu utama di tengah dan pintu
kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut
memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk keluarga besar,
sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan.
Pada ruang bagian dalam yang disebut gedongan dijadikan sebagai mihrab, tempat Imam
memimpin salat yang dikaitkan dengan makna simbolis sebagai tempat yang disucikan,
sakral, dan dikeramatkan. Gedongan juga merangkap sebagai tempat tidur utama yang
dihormati dan pada waktuwaktu tertentu dijadikan sebagai ruang tidur pengantin bagi anak-
anaknya.

Ruang depan yang disebut jaga satru disediakan untuk umat dan terbagi menjadi dua bagian,
sebelah kiri untuk jamaah wanita dan sebelah kanan untuk jamaah pria. Masih pada ruang
jaga satru di depan pintu masuk terdapat satu tiang di tengah ruang yang disebut tiang
keseimbangan atau soko geder, selain sebagai simbol kepemilikan rumah, tiang tersebut juga
berfungsi sebagai pertanda atau tonggak untuk mengingatkan pada penghuni tentang keesaan
Tuhan.Begitu juga di ruang dalam terdapat empat tiang utama yang disebut soko guru
melambangkan empat hakikat kesempurnaan hidup dan juga ditafsirkan sebagi hakikat dari
sifatmanusia.

SISTEM PENGHAWAAN RUMAH JOGLO

Penghawaan pada rumah joglo ini dirancang dengan menyesuaikan dengan lingkungan
sekitar. rumah joglo, yang biasanya mempunyai bentuk atap yang bertingkat-tingkat, semakin
ke tengah, jarak antara lantai dengan atap yang semakin tinggi dirancang bukan tanpa
maksud, tetapi tiap-tiap ketinggian atap tersebut menjadi suatu hubungan tahap-tahap dalam
pergerakan manusia menuju ke rumah joglo dengan udara yang dirasakan oleh manusia itu
sendiri. Saat manusia berada pada rumah joglo paling pinggir, sebagai perbatasan antara
ruang luar dengan ruang dalam, manusia masih merasakan hawa udara dari luar, namun saat
manusia bergerak semakin ke tengah, udara yang dirasakan semakin sejuk, hal ini
dikarenakan volume ruang di bawah atap, semakin ke tengah semakin besar. Seperti teori
yang ada pada fisika bangunan
Efek volume sebenarnya memanfaatkan prinsip bahwa volume udara yang lebih besar akan
menjadi panas lebih lama apabila dibandingkan dengan volume udara yang kecil.

Penghawaan Rumah Joglo...

Saat manusia kembali ingin keluar, udara yang terasa kembali mengalami perubahan, dari
udara sejuk menuju udara yang terasa diluar ruangan. Dapat dilihat kalau penghawaan pada
rumah joglo, memperhatikan penyesuaian tubuh manusia pada cuaca disekitarnya.
B. Aplikasi arsitektur rumah kudus dalam desain bangunan kontemporer
Seni bangunan yang ada di Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai corak campuran
antara seni bangunan asli dengan pengaruh seni bangunan luar, atau campuran antara luar
dengan luar atau asli luar. Paduan unsur seni bangunan yang satu dengan yang lain ini
terutama terlihat pada konstruksi bangunannya, atau pada bentuk atapnya. Dari bagian yang
mudah terlihat ini, misalnya pada atap, orang dapat mengenalnya dengan mudah bahwa
bangunan itu unsur seninya perpaduan. Jenis bangunan yang termasuk arsitektur modern ini
dapat berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah ibadah, gedung sekolah, gedung pertemuan,
rumah makan, dan lain sebagainya.

Anda mungkin juga menyukai