Anda di halaman 1dari 28

EKONOMI SYARIAH

TUGAS KELOMPOK

Ade Sahada (43216310003)

Putri Rizki Utami (43216310025)

Rendi Supriyatna (43216310035)

Program Studi Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2019

1
DAFTAR ISI

COVER...............................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................2
C. Tujuan...........................................................................................................2

BAB II LANDASAN/KAJIAN TEORI


A. Pengertian Ekonomi Syariah.......................................................................3
B. Karakteristik Ekonomi Syariah..................................................................4
C. Tujuan Ekonomi Syariah.............................................................................5
D. Manfaat Ekonomi Syariah...........................................................................7
E. Prinsip – Prinsip Ekonomi Syariah.............................................................8
F. Ciri – Ciri Ekonomi Syariah......................................................................10

BAB III METHODOLOGI


A. Metodologi...................................................................................................13
B. Kerangka Metodologi Ekonomi Islam......................................................13

BAB IV PEMBAHASAN
A. Regulasi terkait ekonomi syariah di Indonesia........................................16
B. Macam-macam Ekonomi Syariah.............................................................16
C. Penerapan Hukum Ekonomi Syariah.......................................................18
D. Penerapan Ekonomi Syariah.....................................................................20
E. Kelemahan/ Hambatan terhadap Ekonomi Syariah...............................22

BAB V PENUTUP...........................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................26

2
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Sistem ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang bebas, tetapi
kebebasannya ditunjukkan lebih banyak dalam bentuk kerjasama daripada dalam
bentuk kompetisi (persaingan). Karena kerjasama meupakan tema umum
dalamorganisasi sosial Islam. Individualisme dan kepedulian sosial begitu erat
terjalinsehingga bekerja demi kesejahteraan orang lain merupakan cara yang
palingmemberikan harapan bagi pengembangan daya guna seseorang dan dalam
rangkamendapatkan ridha Allah SWT. Jadi Islam mengajarkan kepada para
pemeluknyaagar memperhatikan bahwa perbuatan baik bagi masyarakat
merupakan ibadah kepada Allah dan menghimbau mereka untuk berbuat sebaik-
baiknya demi kebaikan orang lain.Ajaran ini bisa ditemukan di semua bagian Al-
Qur’an dan ditunjukkansecara nyata dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW
sendiri. Prinsip persaudaraan (ukhuwwah) sering sekali ditekankan dalam Al-
Qur’an maupunSunnah, sehingga karena itu banyak sahabat menganggap harta
pribadi merekasebagai hak milik bersama dengan saudara-saudara mereka dalam
Islam.Kesadaran dan rasa belas kasihan kepada sanak keluarga dalam keluarga
besar juga merupakan contoh orientasi sosial Islam yang lain, karena berbuat baik
(beramal salih) kepada sanak keluarga semacam itu tidak hanya dihimbau tetapi
juga diwajibkan dan diatur oleh hukum (Islam).
Kerukunan hidup dengan tetanggasangat sering ditekankan baik dalam Al-
Qur‘an maupun Sunnah; di sini kita jugamelihat penampilan kepedulian sosial
lain yang ditanamkan oleh Islam. Danakhirnya, kesadaran, kepedulian dan
kesiapan untuk melayani dan berkorban disaat diperlukan demi kebaikan
masyarakat keseluruhan amat sangat ditekankan.Ajaran-ajaran Islam pada
umumnya dan terutama ayat-ayat Al-Qur’an berulang-ulang menekankan nilai
kerjasama dan kerja kolektif. Kerjasama dengan tujuan beramal saleh merupakan
perintah Allah yang dinyatakan dalam Al-Qur’an. Baik dalam masalah-masalah
spiritual, urusan-urusan ekonomik atau kegiatan sosial. Nabi SAW menekankan

3
kerjasama diantara umat Muslim sebagai landasan masyarakat Islam dan
merupakan inti penampilannya.

2. Rumusan Masalah
a. Apa saja Regulasi terkait ekonomi syariah di Indonesia ?
b. Apa saja Macam-macam Ekonomi Syariah ?
c. Bagaimana Penerapan Hukum Ekonomi Syariah ?
d. Bagaimana Penerapan Ekonomi Syariah ?
e. Apa saja Hambatan terhadap Ekonomi Syariah ?

3. Tujuan
a. Untuk mengetahui Regulasi terkait ekonomi syariah di Indonesia.
b. Untuk mengahui Macam-macam Ekonomi Syariah.
c. Untuk menetahui Penerapan Hukum Ekonomi Syariah.
d. Untuk mengetahui Penerapan Ekonomi Syariah.
e. Untuk mengetahui Hambatan terhadap Ekonomi Syariah

4
BAB II

LANDASAN / KAJIAN TEORI

A. Pengertian Ekonomi Syariah


Ekonomi Syariah adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk
memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-
permasalahan ekonomi dengan cara-cara Islam, yaitu berdasarkan atas ajaran
agama Islam, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Ekonomi syariah mempunyai dua
hal pokok yang menjadi landasan hukum sistem ekonomi syariah yaitu Al Qur’an
dan Sunnah Rasulullah, hukum-hukum yang diambil dari kedua landasan pokok
tersebut secara konsep dan prinsip adalah tetap (tidak bisa berubah kapanpun dan
dimanapun).

Pengertian Ekonomi Syariah Menurut Para Ahli

a. Monzer Kahf
Menurut Monzer Kahf dalam bukunya The Islamic Economy memaparkan
bahwa ekonomi Islam adalah bagian dari ilmu ekonomi yang bersifat
interdisipliner dalam arti kajian ekonomi syariah tidak dapat berdiri sendiri,
tetapi perlu adanya penguasaan yang baik dan mendalam terhadap ilmu-ilmu
syariah dan ilmu-ilmu pendukungnya juga terhadap ilmu-ilmu yang berguna
sebagai tool of analysis seperti matematika, statistik, logika dan ushul fiqih
(Rianto dan Amalia, 2010:7).

b. A Mannan
M.A. Mannan berpendapat bahwa definisi ilmu ekonomi syariah sebagai
suatu ilmu pengetahuan sosial yang membahas tentang masalah-masalah
ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai islam (Mannan, 1992:15).

2. Muhammad Abdullah Al-Arabi

5
Muhammad Abdullah berpendapat bahwa definisi Ekonomi Syariah ialah
sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang kita sederhanakan dari Al
Qur’an dan As-sunnah, dan ialah bangunan perekonomian yang kita bangun di
atas landasan dasar-dasar tersebut sesuai dengan tiap lingkunganan dan waktu.

B. Karakteristik Ekonomi Syariah


1. Menggunakan Sistem Bagi Hasil
Salah satu prinsip ekonomi syariah merupakan pembagian kepemilikan
yang mengedepankan keadilan Artinya, keuntungan yang diperoleh dari
kegiatan ekonomi yang dibagi secara adil, contohnya pada perbankan
syariah terdapat bagian keuntungan untuk bank ataupun untuk nasabah.

2. Menggabungkan antara Nilai Spiritual dan Material


Ekonomi syariah hadir sebagai bentuk dalam membantu perekonomian
para nasabah untuk memperoleh keuntungan sesuai ajaran Islam.
Kekayaan yang diperoleh dari kegiatan ekonomi bisa digunakan untuk
zakat, infaq, dan shodaqah sesuai ajaran Islam.

3. Memberikan Kebebasan sesuai Ajaran Islam


Ekonomi syariah memberikan kebebasan kepada para pelaku ekonomi
untuk bekerja sesuai hak dan kewajiban mereka dalam menjalankan
perekonomian dan kegiatan yang diusahakan haruslah positif sesuai ajaran
yang berlaku dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan.

4. Mengakui Kepemilikan Multi Jenis


Artinya bahwa kepemilikan dana dan harta dalam perekonomian sejatinya
hanyalah semata-mata milik Allah. Sehingga dalam menjalankan
perekonomian sesuai dengan ajaran islam.

5. Terikat Akidah, Syariah, serta Moral

6
Semua aktivitas ekonomi didasarkan pada akidah, syariah dan moral untuk
menyeimbangkan perekonomian.

6. Menjaga Keseimbangan Rohani dan Jasmani


Tujuan perekonomian syariah bukan sekedar keuntungan fisik, namun
diarahkan untuk memperoleh keuntungan dan ketenangan batin di dalam
hidup.

7. Memberikan Ruang pada Negara dan Pemerintah


Perekonomian syariah memberikan ruang kepada pemerintah dan negara
untuk ikut campur tangan sebagai penengah jika terjadi suatu
permasalahan.

8. Melarang Praktik Riba


Salah satu bentuk riba adalah penambahan-penambahan pembayaran oleh
orang yang mempunyai harta kepada orang yang meminjam hartanya
karena pengunduran janji pembayaran oleh pinjaman dari waktu yang
sudah ditentukan. Dalam perekonomian syariah praktik riba adalah hal
yang dilarang oleh agama.

C. Tujuan Ekonomi Syariah


Ekonomi syariah mempunyai tujuan yang berbeda dengan ekonomi
konvensional, mungkin di konvensional tujuan penting merupakan
keuntungan secara pribadi. Namun, pada ekonomi syariah mempunyai
beberapa tujuan yang paling mulia dan baik untuk semua, yakni :
1. Menempatkan ibadah kepada Allah lebih dari segalanya.
Tujuan utama dari ekonomi syariah adalah mencari ridlo Allah tidak
semata-mata mencari keuntungan materi. Aktivitas ekonomi di dalamnya
dilakukan hanya semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada
Allah. Hal ini didasarkan pada ketentuan yang berbunyi bahwa di akhirat
nanti semua amal dan perbuatan manusia akan dipertanggung jwabakan.

7
Selain itu melakukan aktivitas perekonomian diniatkan ibadah akan
mendapatkan hasil yang lebih daripada hanya niat untuk mencari
harta.dengan diniatkan untuk ibadah maka kita akan mendapat dua hal
sekaligus, harta dan pahala.

2. Menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.


Tidak bisa dipungkiri bahwa kita melakukan kegiatan ekonomi karena
ingin mendapatkan sebuah kemakmuran hidup di dunia, dapat memenuhi
kebutuhan hiudp dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam ekonomi syariah,
kehidupan akhirat tidak boleh dilupakan, karena kehidupan sesungguhnya
adalah di akhirat nanti. Memang kita wajib bekerja dan mencari uang
untuk kebutuhan hidup, akan tetapi hal itu tidak boleh membuat kita lupa
akan akhirat justru harus menambah kepekaan dan ketaatan kita akan
allah. Perlu anda ketahui ada tiga tipe manusia di muka bumi ini, ada yang
mengutamakan dunianya saja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka
dan ibadah kepada Allah kurang diperhatikan, kalau dalam keadaan kaya
mereka akan senantiasa menambah dan menambahnya jika rugi mereka
baru ingat untuk beribadah. Yang kedua adalah orang yang taat beribadah
hanya mengabdikan dirinya pada Allah, mereka yakin rezeki dari Allah
jadi mereka hanya berdoa dan tidak bekerja. Hal ini juga dilarang karena
dalam islam tidak ada yang boleh berlebihan dalam hal apapun dan harus
bekerja dan berusaha untuk memperolehnya. Dan yang ketiga adalah
orang yang ingat ibadah dan selalu berusaha. Inilah golongan yang ingin
dicetak oleh ekonomi syariah yang dapat menyeimbangkan antara
kehidupan dunia dan akhiratnya.

3. Meraih kesuksesan perekonomian yang diperintahkan Allah.


Kegiatan ekonomi menurut pandangan islam adalah suatu aktivitas yang
dapat memberikan dampak baik kepada semua orang atau masyarakat. Di
harapkan dengan adanya ekonomi ini, kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat bisa dicapai dan dirasakan manfaatnya. Ekonomi syariah

8
menjunjung nilai sosial, dimana tidak ada perbedaan status semua orang
berhak mendapatkan dan merasakan sebuah kemakmuran dan bebeas
untuk berkreasi.

4. Menghindari kekacauan dan kerususuhan


Kita ketahui bahwa hampir semua negara yang mempunyai kuasa penuh
atas perekonomian adalah pemerintahan negara tersebut. Jadi harus
mengadakan pengawasan terhadap kinerja pemerintah agar tidak
seenaknya sendiri mengatur dan mengelola perekonomian yang ada.
Karena apabila pemerintahan suatu negara mementingkan dirinya sendiri
maka akan timbul kapitalisme didalamnya, hal ini akan menimbulkan
kehancuran dan kerusakan pada suatu negara. Untuk itu tujuan dari
ekonomi syariah adalah membentuk suatu pemerintahan yang dapat
mengatur perekonomian secara baik, benar dan adil. Agar semua
masyarakat dapat merasakan keadilan dan kesejahteraan dimanapun
mereka berada. Jangan diragukan lagi bahwa ekonomi syariah cocok untuk
siapa saja, dengan gabungan nilai-nilai islam sistem ekonomi ini menjadi
sempurrna dengan tujuan-tujuan luhur yang dimilikinya. Inilah yang
menjadi pembeda ekonomi syariah dengan ekonomi yang lainnya.
Walaupun tuntutan zaman yang semakin keras ekonomi syariah tetap pada
keteguhannya yaitu mempertahankan nilai-nilai islam yang ada di
dalamnya. Kekuatan dari ekonomi syariah adalah dasar hukum yang
digunakannya atau yang menjadi tumpuannya.

D. Manfaat Ekonomi Syariah

Apabila kita mengamalkan ekonomi syariah akan mendatangkan manfaat


yang besar bagi umat muslim dengan sendirinya, yaitu:
 Mewujudkan kepribadian seorang muslim yang kaffah, sehingga islam-
nya tidak lagi setengah-setengah. Bilamana ditemukan ada umat muslim
yang masih bergelut dan mengamalkan ekonomi konvensional,
menunjukkan bahwa keislamannya belum kaffah.

9
 Menerapkan dan mengamalkan ekonomi syariah melalui lembaga
keuangan islam, baik berupa bank, asuransi, pegadaian, maupun BMT
(Baitul Maal wat Tamwil) akan memperoleh keuntungan dunia dan
akhirat. Keuntungan di dunia didapatkan melalui bagi hasil yang
diperoleh, sedangkan keuntungan di akhirat adalah terbebas dari unsur riba
yang diharamkan oleh Allah.
 Praktik ekonomi berdasarkan syariat islam terdapat nilai ibadah, karena
sudah mengamalkan syariat Allah.
 Mengamalkan ekonomi syariah melewati lembaga keuangan syariah,
berarti mendukung kemajuan lembaga ekonomi umat Islam.
 Mengamalkan ekonomi syariah dengan membuka tabungan, simpanan
atau menjadi nasabah asuransi syariah berarti mendukung usaha
pemberdayaan ekonomi umat. Sebab dana yang terkumpul akan
digambungkan dan disalurkan melalui sektor perdagangan riil.
 Mengamalkan ekonomi syariah berarti ikut serta mendukung gerakan amar
ma’ruf nahi munkar. Sebab dana yang terkumpul pada lembaga keuangan
syariah hanya boleh diberikan kepada usaha-usaha dan proyek yang halal.

E. Prinsip – Prinsip Ekonomi Syariah

Prinsip-prinsip yang dimiliki oleh ekonomi syariah berbeda dengan prinsip-


prinsip agama lain, dalam ekonomi syariah semua orang tanpa terkecuali boleh
berusaha dan meraih apa yang diwujudkannya serta menikmati hasil usahanya dan
memberikan sebagaian kecil dari apa yang mereka dapat kepada orang lain dalam
bentuk harta, baik barang atau uang yang pastinya halal. Pada dasarnya dalam
agama islam perilaku dan tingkah laku mengarah pada pemenuhan kebutuhan
hidupnya baik yang bersifat materi ataupun non materi yang baik dan halal, serta
bagaimana mengatur sumber daya yang ada dengan baik dan bermanfaat bagi
semua. Berikut ini adalah prinsip-prinsip ekonomi syariah, antara lain :

10
 Ekonomi syariah menganggapi bahwa semua jenis sumber daya alam yang
ada merupakan pemberian dan ciptaan Allah SWT, sehingga perlu berhati-hati
dan bertanggung jawab dalam penggunaannya, tidak boleh berlebihan dan
seenaknya sendiri karena itu bukan hak kita.
 Dalam islam pendapatan yang didapatkan secara tidak sah atau kurang jelas
hukumnya tidak diakui, dan mengakui pendapatan atau kepemilikan pribadi
dengan batas-batas tertentu yang mempunyai kaitannya dengan kepentingan
orang banyak.
 Dalam kegiatan ekonomi syariah ini, bekerja merupakan kegiatan yang
menjadi penggerak utamanya. Dalam islam sudah diajarkan untuk tidak
bermalas-malasan untuk mencari rezeki, untuk itu bekerja sangat disarankan
oleh agama islam untuk memperoleh rezeki berupa harta atau matteri dengan
berbagai cara, akan tetapi ada batasan yang harus diikuti agar tidak salah
langkah.
 Kekayaan yang dimiliki oleh beberapa orang kaya, tidak boleh hanya diam di
tempat atau dibuat sendiri, akan tetapi harta tersebut diharuskan untuk selalu
mengalir di dibagi dengan tujuan dapat membantu orang-orang yang kurang
mampu dengan cara meningkatkan besaran produk nasional agar tercapai
suatu kesejahteraan.
 Tidak ada perbedaan hak yang didapat oleh semua orang, semua orang sama
punya hak untuk mendapatkan sesuatu yang baik. Islam telah menjamin
kepemilikan masyarakat dan penggunaannya yang telah direncanakan
sedemikian rupa hingga berguna untuk kepentingan orang banyak.
 Seorang muslim harus punya hati dan perasaan yang selalu taat dan patuh
pada Allah serta mempercayai semua yang sudah difirmankan oleh Allah
dalam Al-Quran, dengan harapan kita sebagai umat muslim bisa terdorong
untuk selalu berbuat yang benar dan menghindari sesuatu yang salah atau
tidak sejalan dengan hukum islam.
 Sebagai umat muslim kita diwajibkan untuk selalu membersihkan harta yang
kita dapat, karena kita tidak tahu apakah benar harta tersebut diberikan pada
kita atau itu titipan untuk orang yang lebih membutuhkan. Untuk itulah kita

11
diwajibkkan untuk berzakat, zakat merupakan salah satu jalan yang ahrus kita
laksanakan jika harta kita sudah mencapai batas ukur yang ditentukan (nasab).
 Semua kegiatan yang berkaitan dengan ekonomi dilarang mendandung unsur
riba, gharar, dzulum, dan unsur lainnya yang diharamkan menurut syara’
sedikitpun dalam berbagai bentuk seperti panjaman uang dan lain sebagainya.
Karena dalam islam diharamkan suatu kegiatan ekonomi yang terdapat
kedzaliman, tipu muslihat, dan hal-hal lain yang dilarang oleh Allah.
 Kegiatan muamalah yang terjadi didalamnya harus atas dasar suka sama suka,
tidak ada sedikitpun unsur paksaan antara beberapa pihak. Jadi mereka
melakukan muamalah atas kehendak dan hati nurani sendiri dan tanpa ada
paksaan.

F. Ciri – Ciri Ekonomi Syariah


1. Ekonomi syariah merupakan sistem islam yang bersifat universal

Ekonomi syariah bisa dibilang menjadi sebuah sistem islam, karena memang
ekonomi syariah mempunyai hubungan yang sempurna dan erat dengan ajaran
agama islam, baik secara akidahnya maupun syariat yang digunakannya.
Hubungan inilah yang menyebabkan ekonomi syariah menjadi pembeda dari
ekonomi yang lainnya. Lebih jelasnya kita akan memberikan penjelasan tentang
maksud dari ekonomi syariah menjadi sistem islam yang sempurna.

2. Kegiatan perekonomian dalam islam bersifat pengabdian

Dalam islam semua kegiatan tergantung niatnya ketika niatnya baik pasti akan
dapat baik dan sebaliknya jika niatnya salah maka dia akan memperolehnya
sesuatu yang jelek juga. Dalam islam semua kegiatan ekonomi diharapkan sebagai
wahana untuk mencari keridhoan Allah tidak terfokus kepada mencari materi dan
materi saja.

Dalam islam  diharapakan kita bekerja itu diniatkan beribadah bukan untuk
berlomba-lomba mencari uang saja, karena dengan niat untuk beribadah kita akan

12
mendapatkan dua hal sekaligus, yakni rezeki dan pahala. Berbeda bila kita bekerja
karena uang, yang kita dapat hanya capek dan uang saja.

3. Kegiatan ekonomi dalam islam memiliki sebuah cita-cita yang luhur

Perekonomian dalam islam tidak mencari materi semata, tidak berfokus pada
mencari uang. Akan tetapi semua kegiatan ekonomi dalam islam difokuskan
untuk berbagi dengan sesama, memakmurkan bumi dengan segala kegiatannya,
mencapai kehidupan yang layak dan benar sebagai tanda terimakasih kita kepada
Allah, dan sebagai tanda pengabdian kita sebagai umat islam dan khalifah di muka
bumi ini. Inilah cita-cita mulia yang dimiliki oleh kegiatan ekonomi dalam islam.

4. Pengawasan yang sebenar-benarnya dilakukan dan ditetapkan dalam


kegiatan ekonomi islam.

Kita tahu sendiri seiring berjalannya waktu agama sudah tidak mendapat
tempata tau perhatian lagi. Dalam kegiatan ekonomi contohnya pengawasan
hanya dikerjakan oleh pemerintah pihak yang netral. Ada juga yang lebih parah,
karena kekuasaan ekonomi dipegang dan dilaksanakan sesuai kehendak pihak
yang mempunyai modal dan kekuasaan, sehingga masih banyak terjadinya
korupsi.

Berbeda dengan ekonomi syariah, pemeriksaan lebih ketat dan benar-benar


terpercaya. Selain dari pihak yang berwajib sperti pemerintah dan badan
pengawas lain, ada juga pengawasan dari diri sendiri, dimana Allah selalu
mengawasi gerak-gerik kita dalam semua hal, dengan begini maka tidak ada pihak
yang akan melakukan penyelewengan.

5. Ekonomi syariah menciptakan suatu keseimbangan diantara kepentingan


individu dan kepentingan masyarakat.

13
Dalam ekonomi syariah tidak hanya mencari uang atau harta, akan tetapi lebih
tepatnya mencari jalan untuk menciptakan sebuah kemakmuran dan kesejahteraan
yang dapat dirasakan orang banyak. Dalam ekonomi syariah mempunyai acuan
bahwa harus selalu bersama, susah senang ditanggung bersama, dilatih untuk
selalu peka terhadap kondisi dan orang-orang sekitar kita yang membutuhkan.

Tidak seperti ekonomi konvensional yang lebih mementingkan diri sendiri, di


dalamnya tercipta sebuah persaingan, monopoli dan lainnya. Tentunya hal ini
sudah keluar dari sikap seorang khalifah Allah yang harus memakmuran dan
mensejahterahkan kehidupan dunia ini.

Hal inilah yang menyebabkan timbul sikap egois, dalam ekonomi syariah hal
ini sangat dihindari karena prinsip dari ekonomi syariah adalah kepentingan
umum lebih baik diutamakan daripada kepentingan pribadi, karena kepentingan
pribadi dapat kita selesaikan kapanpun itu, namun jika kepentingan umum harus
segera kita selesaikan.

14
BAB III
METHODOLOGI
A. METODOLOGI
Setiap ilmu ekonomi pasti didasari atas ideologi yang memberi acuan atau
landasan untuk mencapai suatu tujuan disatu pihak dan pihak lainnya serta
mempunyai prinsip-prinsip dilain pihak. Dalam ekonomi pun akan dibuat
kerangka-kerangkadimana suatu kelompok atau komunitas sosio-ekonomi bisa
memanfaatkan sumber-sumber alam dan manusiawi untuk kepentingan bersama.
Suatu sistem ekonomi islam seharusnya diformulasikan berdasarkan pandangan
ajaran-ajaran islam dan sumber hukum islam tentang kehidupan. Berbagai
aksioma dan prinsip dalam sistem tersebut seharusnya ditentukan secara pasti dan
jelas dalam prosesnya untuk menunjukan kemurniannya. Metodologi ekonomi
islam ini membahas alat-alat analisis. Literatur islam yang ada sekarang ada dua
macam metode yang digunakan, yakni :
a. Metode pertama adalah metode deduksi dan metode yang kedua adalah
metode pemikiran retrospektif. Metode pertama, dikembangkan oleh para ahli
hukum islam, fuqoha, dan sangat dikenal dikalangan mereka. Ia diaplikasikan
di ekonomi islam modern untuk menampilkan prinsip-prinsip sistem islam dan
kerangka hukumnya dengan berkonsultasi dengan sumber-sumber islam.
Yaitu, Alqur’an dan sunnah.
b. Metode kedua, digunakan oleh banyak penulis muslim kontemporer yang
merasakan tekanan kemiskinan dan keterbelakangan didunia islam dan
berusaha mencari berbagai pemecahan terhadap persoalan-persoalan ekonomi
umat muslim dengan kembali ke Al qur’an dan sunnah untuk mencari
dukungan atas pemecahan-pemecahan tersebut dan mengujinya dengan
memperhatikan petunjuk tuhan.

B. KERANGKA METODOLOGI EKONOMI ISLAM


a) Kebenaran dan kebaikan

15
Suatu teori melakukan perkiraan/ prediksi tentang suatu hal yang  jadi
pusat areanya. Dalam proses yang biasa disebut “Induks” para ilmuan
biasanya melakukan percobaan pengujian berkali-kali terhadap hipotesis,
yang di bantu statistika. Para ilmuan juga mengumpulkan data sebagai
presentasi dunia nyata. Namun dari pengujian ini hanya ada dua
kemungkinan hasil, yakni diterima (di anggap benar) / pun sebaliknya.
Pada kenyataanya hasil pengujian sepeti ini juga masih dimungkinkan
terjadi kekeliruan terhadap hasil akhirnya. Kekeliruan terhadap kesimpulan/
hasil akhir dalam ilmu statistika di sebut kekeliruan tipe pertama “tipe-
errror”. Yakni Kekeliruan yang terjadi sebagai akibat tertolaknya suatu
hipotesis yang benar, lalu diasumsikan terjadi dalam setiap pengujian.
Kekeliruan ini di akibatkan karena adanya kesalahan representasi yang
bersumber dari terbatasnya sample. Dengan melihat hal yang demikian
dapat dikatakan bahwa sesuatu yang dikatakan benar belum tentu benar
secara mutlak, begitu pun sebaliknya sesuatu yang dikatakan salah tidak
dapat dikatakan salah secara mutlak, karena suatu saat akan ada fakta baru
yang mengalahkan kesimpulan yang dianggap benar. Akibat hal telah
disinggung di atas menimbulkak dianggap benar jika n suatu divergensi
antara kebenaran disuatu pihak dan kebaikan dipihak lain. Suatu teori yang
diangap benar mungkin dianggap tidak baik menurut sudut pandang moral.
Sedangkan prinsip yang benar dari sudut pandang moral, akan diangap
tidak benar karena tidak didukung fakta yang empiris.
Dalam pandangan islam kebenaran dan kebaikan mutlak hannya
bersumber dari Allah, baik dalam bentuk ayat qauliyah maupun kauniyah.
Sebagian dari ayat qauniyah secara langsung dapat dipahami sebagai
kebenaran. Di sisi lain kebenaran juga bisa bersumber dari fenomena alam
semesta atau kauniyah. Ayat kauniyah sendiri berfungsi sebagai penguat
dari ayat qauniyah tersebut.

b) Metologi Ilmu Alam Versus Ilmu Sosial

16
Dalam ilmu alam, prilaku subyek didasarkan pada aturan-aturan yang
ada dalam tatanan jagat raya yang sudah tentu sifatnya.Dengan kata lain,
prilaku subyek tersebut dipengaruhi oleh hukun alam (sunatullah) atau
hukum Tuhan. Subyek tersebut mau tidak mau harus berprilaku
sesuai aturan-aturan yang telah ada dalam hukum Allah.
Jika diamati hukum atau aturan-aturan diatas adalah sebuah aturan-
aturan atau hukum yang konsisten dan dianggap teori yanga benar, dan
biasanya respon seseorang terhadap fenomena alam dipengaruhi Decision
rule atau prosedur yang dipergunakan untuk mengambil keputusan dan
mengolah informasi yang ada (sterman). Elemen-elemen decision rule
terbentuk dari, kumpulan pengalaman, kumpulan logika, dan rasio.

c) Objek Ekonomi Islam


Ekonomi islam merupakan menifestasi ajaran agama islam dalam hal
ekonomi, baik diawali dengan penentuan tujuan kegiatan ekonomi , sikap,
analisis, dan tanggapan dari fenomena sosial. Dalam tataran ekonomi islam
secara parsial akan didapati pada masyarakat islam dan nonislam.

17
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Regulasi terkait ekonomi syariah di Indonesia
Awal perkembangan ekonomi syariah di Indonesia ditandai dari berbagai
regulasi pemerintah yang dikaitkan dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah.
Adapun beberapa undang-undang atau peraturan hukum terkait implementasi
ekonomi syariah di Indonesia, seperti :
1. Di bidang perbankan, diberlakukannya UU Nomor 10 Tahun 1998 pengganti
UU No 7 Tahun 1992 dan UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
yang di dalamnya membuka peluang bisnis berupa Perbankan Syariah dan
Lembaga Keuangan Syariah nonbank.
2. Di bidang fiskal, diberlakukannya UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Zakat dan KMA Nomor 581 Tahun 1999 tentang Pengelolaan
Zakat yang dengan ini membuat seseorang yang telah membayar zakat sebesar
2,5 persen dapat mengurangi kewajiban pembayaran pajaknya.
3. Di bidang peradilan, diberlakukannya UU No. 3 Tahun 2006 tentang
Pengadilan Agama dengan kewenangan kompetensi yang bertambah untuk
menyelesaikan kasus-kasus yang terkait bisnis syariah (Dahlan, 2008 : 1).

B. Macam-macam Ekonomi Syariah

1. Investasi Syariah
Berdasarkan filosofi ini, instrumen dan teknik yang sesuai syariah sudah
ditingkatkan dan digunakan oleh unit keuangan Islam dan pelanggan untuk
kegiatan keuangan di seluruh dunia. Pusat keuangan Islam adalah konsep
bahwa uang itu sendiri tidak mempunyai nilai intrinsik , itu hanyalah sebuah
alat tukar. Dua komponen yang paling penting dari dunia keuangan Islam
perbankan layanan dan pasar sukuk  setara Islam dari pasar obligasi . Layanan
beda termasuk leasing, pasar ekuitas, dana investasi, asuransi (Takaful),
reasuransi (syahaful) dan keuangan mikro.

18
2. Jual Beli
Al-bay’ diambil kata dari bahasa arab yang menggambarkan proses jual
beli dalam islam. Definisi dari al-bay ini sendiri adalah menukar, mengganti
atau menjal yang berarti ada sebuah proses pembelian atau penukaran barang
satu dengan yang lainnya. Ini merupakan proses tukar-menukar harta dengan
berbagai jenis harta lain yang sama-sama berguna dalam pengertian dari fiqih
muamalah.
3. Musyarakah
Musyarakah adalah salah satu contoh ekonomi syariah yang sering kali
disandingkan dan dipanggil dengan nama lain yaitu syarikat, perseroan,
serikat dan syirkah. Ini adalah sebuah kerja sama antara dua pihak atau lebih
yang nantinya berupa pengumpulan modal dan memperoleh kesepakan
bersama serta menanggung resikonya secara bersama-sama. Jelasnya, semua
bentuk proses kerja sama ini akan ditanggung oleh kedua belah pihak tersebut
4. Mudharabah
Mudarabah adalah salah satu proses dalam ekonpmi syariah yang juga dikenal
dengan istilah qirad. Dimana makna dari mudarabah adalah sebuah kerja sama
antara sang pemilik dari modal dengan seseorang yang pandai berjual beli atau
berdagang. Dimana keuntungan akan dibagi bersama dan sang pemodal
memberikan modal dan pihak lainnya akan berdagang. Kerugian akan
sepenuhnya ditanggung pihak pertama sebagai pemodal dan pihak kedua
hanya perlu menjalankan usaha dengan modal yang sudah amanahkan.
5. Murabahah
Murabahah adalah salah satu jenis transaksi jual beli dimana barang akan tatap
dijual pada harga dasarnya, akan tetapi memberikan beebagai tambahan
keuntungan sesuai dengan kesepakan bersama. Ini merupakan salah satu
ketentuan prses jual beli yang sama-sama menguntungkan dimana penjual
mendapatkan harga yang dikehendaki dan pembeli mendapatkan keuntungan
tambahan dari barang yang dia beli.
6. Ijarah

19
Ijarah adalah istilah yang diperuntukan untu proses sewa menyewa, dimana
ijarah sendiri dapat diartikan sebagai imbalan, gaji maupun upah. Ijarah juga
merupakan sebuah transaksi dimana pemberian gaji atau upah didasari karena
meminjam barang-barang tertentu yang disewakan.
7. Musaqah
Musaqah adalah sebuah kerjasama yang terjalin antara sang pemilik kebun
dengan orang yang dipercayakan untuk mengatur atau mengelola kebun
tersebut. Ketentuan pembayaran dan pembagian upah tentunya sudah
ditentukan dan menjadi kesepakatan bersama.
8. Muzaraah
Muzaraah adalah kerja sama antara pekerja sawah dengan pemilik sawah.
Sebagaimana kerjasama pemilik kebun dan pengelolanya, kerja sama ini juga
didasari oleh kesepakatan bersama dimana tidak ada yng dirugikan dari kedua
belah pihak tersebut. Namun kerja sama ini dilandasi oleh bibit yang
disediakan oleh pekerja bukan pemilik sawah.
9. Mukhabarah
Mukhabarah merupakan jenis kerja sama yang sama dengan muzaraah dimana
adanya kerja sama antara pengelola sawah dan pemilik sawah. Hanya saja
perbedaannya adalah benih disediakan oleh pemilik sawah bukan oleh
pengelola sawah tersebut.
10. Mudharabah Mutaqah
Mudharabah Mutawah adalah jenis transaksi dan kerja sama dimana pengguna
dari modal transaksi bisa secara bebas menggunakan modal demi keuntungan
tanpa harus mengikuti beberapa persyaratan tertentu.
11. Mudharabah Muqayyadah
Mudarabah Muqayyadah ini sama seperti dengan kerja sama mudharabah
mutaqah, hanya saja pemilik modal menentukan beberapa ketentuan dan
syarat dalam penggunaan modal.

C. Penerapan Hukum Ekonomi Syariah

20
Dalam sejarahnya upaya penerapan hukum syari’ah atau hukum islam di
Indonesia sebenarnya sudah dilakukan semenjak masa perjuangan kemerdekaan
bangsa. Dimana kita ketahui sendiri memang motor perjuangan kemerdekaan kita
saat itu banyak didominasi oleh pejuang-pejuang muslim yang memegang teguh
prinsip-prinsip hukum syari’ah. Perjuangan tersebut memang tidak secara frontal
dilakukan, tapi lebih banyak kepada upaya-upaya politis yang berbasis pada
kelompok dan budaya. Sayangnya kemudian upaya-upaya tersebut terbentur
dengan kekuasaan politik pemerintah Hindia-Belanda pada masa penjajahannya
secara sistematis terus mengikis pemberlakuan hukum syari’ah di tanah-tanah
jajahannya. Hingga pada gilirannya kelembagaan-kelembagaan baik yang telah
ada maupun yang kemudian dibentuk baik itu lembaga peradilan, perserikatan,
dan lainnya pada masa itu mulai meninggalkan nilai-nilai hukum syari’ah dan
mulai terbiasa menerapkan aturan hukum yang dibentuk pemerintah Hindia-
Belanda yang saat itu disebut Burgerlijk Wetbook yang tentunya jauh dari nilai-
nilai syari’ah. Sehingga jelas saja kagiatan-kegiatan atau perkara-perkara
peradilan yang bersinggungan dengan syari’ah saat itu belum memiliki pedoman
yang sesuai dengan nurani masyarakat muslim kebanyakan.
Disadari atau tidak kondisi tersebut diatas tetap bergulir hingga kurun waktu
dewasa ini. Dalam prakteknya di lapangan, terlebih pada lembaga peradilan kita,
sebelum adanya amandemen UU No 7 tahun 1989, penegakkan hukum yang
berkaitan dengan urusan perniagaan ataupun kontrak bisnis di lembaga-lembaga
keungan syari’ah kita masih mengacu pada ketentuan KUH Perdata yang ternyata
merupakan hasil terjemahan dari Burgerlijk Wetbook peninggalan jajahan Hindia-
Belanda yang keberlakuannya sudah dikorkordansi sejak tahun 1854.. Sehingga
konsep perikatan dalam hukum-hukum syari’ah tidak lagi berfungsi dalam
praktek legal-formal hukum di masyarakat.
Menyadari akan hal tersebut, tentunya kita sebagai muslim patut
mempertanyakan kembali sejauh mana penerapan hukum syari’ah dalam setiap
aktivitas kehidupan kita, terlebih pada hal-hal yang terkait dengan aktivitas-
aktivitas yang bernafaskan ekonomi syari’ah yang telah jelas disebutkan bahwa
regulasi-regulasi formil yang menaungi hukumnya masih mengakar pada

21
penerapan KUH Perdata yang belum dapat dianggap syari’ah karena masih
bersumber pada Burgerlijk Wetbook hasil peninggalan penjajahan Hindia-
Belanda.
Sejalan dengan perkembangan pesat sistem ekonomi syari’ah dewasa ini
berbagai upaya-upaya sistematis dilakukan oleh pejuang-pejuang ekonomi
syari’ah pada level atas untuk kemudian memuluskan penerapan hukum ekonomi
syari’ah secara formal pada tatanan payung hukum yang lebih diakui pada tingkat
nasional. Tentunya upaya-upaya ini tidak lepas dari aspek politik hukum di
Indonesia. Proses legislasi hukum ekonomi syari’ah pun sudah sejak lama
dilakukan dan relatif belum menemui hambatan yang secara signifikan
mempengaruhi proses perjalanannya. Hanya saja kemudian upaya-upaya ini baru
sampai pada tahap perumusan Undang Undang yang mengatur aspek-aspek
ekonomi syari’ah secara terpisah, belum kepada pembentukkan instrument hukum
yang lebih nyata layaknya KUH Pidana maupun KUH Perdata yang lebih kuat.

D. Penerapan Ekonomi Syariah


Perkembangan sistem finansial syariah yang pesat boleh jadi mendapat
tambahan dorongan sebagai alternatif atas kapitalisme, dengan berlangsungnya
krisis perbankan dan kehancuran pasar kredit saat ini, demikian menurut pendapat
para akademisi Islam dan ulama. Dengan nilai 300 miliar dolar dan pertumbuhan
sebesar 15 persen per tahun, sistem ekonomi Islam itu melarang penarikan atau
pemberian bunga yang disebut riba. Sebagai gantinya, sistem finansial syariah
menerapkan pembagian keuntungan dan pemilikan bersama.
Kehancuran ekonomi global memperlihatkan perlunya dilakukan perombakan
radikal dan struktural dalam sistem finansial global. Sistem yang didasarkan pada
prinsip Islam menawarkan alternatif yang dapat mengurangi berbagai risiko.
Bank-bank Islam tak membeli kredit, tetapi mengelola aset nyata yang
memberikan perlindungan dari berbagai kesulitan yang kini dialami bank-bank
Eropa dan AS.
Dalam kehidupan ekonomi Islam, setiap transaksi perdagangan harus
dijauhkan dari unsur-unsur spekulatif, riba, gharar, majhul, dharar, mengandung

22
penipuan, dan yang sejenisnya. Unsur-unsur tersebut diatas, sebagian besarnya
tergolong aktifitas-aktifitas non real. Sebagian lainnya mengandung
ketidakjelasan pemilikan. Sisanya mengandung kemungkinan munculnya
perselisihan. Islam telah meletakkan transaksi antar dua pihak sebagai sesuatu
yang menguntungkan keduanya; memperoleh manfaat yang real dengan
memberikan kompensasi yang juga bersifat real. Transaksinya bersifat jelas,
transparan, dan bermanfaat. Karena itu, dalam transaksi perdagangan dan
keuangan, apapun bentuknya, aspek-aspek non real dicela dan dicampakkan.
Sedangkan sektor real memperoleh dorongan, perlindungan, dan pujian. Hal itu
tampak dalam instrumen- instumen ekonomi berikut:
a. Islam telah menjadikan standar mata uang berbasis pada sistem dua logam,
yaitu emas dan perak. Sejak masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik ibn
Marwan, mata uang Islam telah dicetak dan diterbitkan (tahun 77 H). Artinya,
nilai nominal yang tercantum pada mata uang benar-benar dijamin secara real
dengan zat uang tersebut.
b. Islam telah mengharamkan aktifitas riba, apapun jenisnya; melaknat/mencela
para pelakunya. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman
bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika
kalian orang-orang yang beriman” QS Al Baqarah 278. Berdasarkan hal ini,
transaksi riba yang tampak dalam sistem keuangan dan perbankan
konvensional (dengan adanya bunga bank), seluruhnya diharamkan secara
pasti; termasuk transaksi-transaksi derivative yang biasa terjadi di pasar-pasar
uang maupun pasar-pasar bursa. Penggelembungan harga saham maupun uang
adalah tindakan riba.
c. Transaksi spekulatif, kotor, dan menjijikkan, nyata-nyata diharamkan oleh
Allah SWT, sebagaimana firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya minum khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan
mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan
syaithan” (QS Al maidah 90).

23
d. Transaksi perdagangan maupun keuangan yang mengandung dharar/bahaya
(kemadaratan), baik bagi individu maupun bagi masyarakat, harus dihentikan
dan dibuang jauh-jauh.
e. Islam melarangAl- Ghasy, yaitu transaksi yang mengandung penipuan,
pengkhianatan, rekayasa, dan manipulasi.
f. Islam melarang transaksi perdagangan maupun keuangan yang belum
memenuhi syarat-syarat keuangan yang belum sempurnanya kepemilikan
seperti yang biasa dilakukan dalam future trading.
Seluruh jenis transaksi yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya ini
tergolong ke dalam transaksi-transaksi non real atau dzalim yang dapat
mengakibatkan dharar/bahaya bagi masyarakat dan negara, memunculkan high
cost dalam ekonomi, serta bermuara pada bencana dan kesengasaraan pada umat
manusia. Sifat-sifat tersebut melekat dalam sistem ekonomi kapitalis dengan
berbagai jenis transaksinya. Konsekuensi bagi negara dan masyarakat yang
menganut atau tunduk dan membebek pada sistem ekonomi kapitalis yang
dipaksakan oleh negara-negara Barat adalah kehancuran ekonomi dan
kesengsaraan hidup.

E. Kelemahan/ Hambatan terhadap Ekonomi Syariah


Seperti halnya sistem ekonomi besar lain, sosialis dan kapitalis yang memiliki
kelemahan, sistem ekonomi syariah juga dianggap memiliki kelemahan dalam
implementasinya. Kelemahan ini bukan perkara nilai yang terkandung di dalam
konsep ekonominya, tetapi lebih pada hambatan dalam implementasinya dalam
realitas masyarakat dunia.
Adapun hal-hal yang dianggap sebagai kelemahan dari implementasi sistem
ekonomi syariah secara global, meliputi :

 Lambatnya Perkembangan Literatur Ekonomi Islam


Literatur ekonomi Islam banyak berasal dari teks teks arab. Literatur yang
dijadikan sebagai rujukan ini tidak banyak mengalamai perkembangan dalam
beberapa tahun belakangan. Justru, ekonomi konvensional bermunculan dan

24
mempengaruhi pandangan masyarakat sehingga masyarakat umum masih
banyak terkekang dalam sistem ekonomi konvensional ini.

 Praktek Ekonomi Konvensional yang Lebih Populer


Tidak bisa dipungkiri praktek ekonomi konvensional memiliki popularitas
lebih dulu populer dan berkembang secara luas di masyarakat global.
Implementasi ekonomi konvensional telah merambah di seluruh aspek
kehidupan manusia secara global, baik dari produksi, distribusi sampai
konsumsi. Ini membuat sistem ekonomi syariah yang baru kesulitan untuk
menggantikan paham ekonomi konvensional.

 Pengetahuan Sejarah tentang Ekonomi Islam yang Minim


Pengetahuan di Eropa abad pertengahan banyak dipengaruhi oleh peradaban
Islam. Hanya saja dalam perkembangannya, sejarah masa transformasi abad
pertengahan ini tidak banyak dipelajari dan menyisakan informasi bahwa
perkembangan sejarah pengetahuan dimulai dari Eropa. Alhasil, sejarah
peradaban dan tokoh pemikir Eropa seperti Adam Smith, Robert Malthus,
David Ricardo, JM Keynes jadi lebih populer daripada tokoh Islam
pendahulunya seperti Ibnu Ubaid, Ibnu Tamiyah, Ibny Khaldu, Abu Yusuf
dan lainnya.

 Pendidikan Masyarakat Masih Mengedepankan Materialisme


Pemahaman masyarakat masih banyak yang mengedepankan nilai-nilai
metrealisme dan ini menghambat masuknya ide-ide ekonomi syariah yang
memiliki dasar berbeda. Seperti missal ketika membutuhkan uang, banyak
yang lebih suka mengajukan pinjaman ke rentenir atau jasa peminjaman
konvensional yang bersyarat mudah ketimbang di BMT yang memiliki syarat
rumit.

 Tidak Adanya Representasi Ideal Negara dengan Sistem Ekonomi Syariah

25
Pada era sekarang ini, terdapat beberapa Negara Islam di Timur Tengah yang
menerapkan ajaran Islam sebagai pedoman pemerintahannya. Hanya saja,
negara-negara ini masih belum mampu menjalankam sistem ekonomi syariah
secara profesional dan ideal. Hal ini membuat tingkat kesejahteraan negara-
negara tersebut tidak berkembang secara ideal sesuai gambaran umum pada
sistem ekonomi syariah. Tidak adanya representasi ideal ini membuat sistem
ini pun jadi kesulitan berkembang.

 Interpretasi yang kadang berbeda dari ajaran Islam


Ajaran-ajaran yang terkandung di dalam al Qur’an dan Hadis ternyata serng
menimbulkan interpretasi berbeda dalam praktiknya. Pengalaman empiris dan
pandangan politik terkadang dipahami dalam cara-cara yang berbeda.
Misalnya saja, dalam perkara riba yang ditafsirkan sebagai segala macam
bunga. Dalam hal bunga, ada yang berasumsi bahwa bunga tidak sepenuhnya
riba.

Sjafruddin Prawiranegara misalnya beranggapan bahwa bunga dengan suku


bunga rendah dan tidak mengandung unsur keterpaksaan tidak bisa disebut
riba, melainkan interest. Sedangkan pada laba perdagangan yang curang dan
mengandung unsur keterpaksaan seperti siasat penimbunan, ini justru bias
disebut riba juga.

26
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ekonomi islam atau ekonomi syariah saat ini sedang ramai di
perbincangkaan, bahkan sudah banyak masyarakat menginginkan
penerapannya pada perekonomian indonesia. Penerapan ekonomi islam sendiri
menurut saya merupakan perbaikan perekonomian Indonesia, dengan segala
prinsip-prinsip yang mengaturnya.
Seperti yang kita ketahui, jenis transaksi yang dilarang oleh Allah SWT
dan Rasul-Nya ini tergolong ke dalam transaksi-transaksi non real atau dzalim
yang dapat mengakibatkan dharar/bahaya bagi masyarakat dan negara,
memunculkan high cost dalam ekonomi, serta bermuara pada bencana dan
kesengasaraan pada umat manusia. Sifat-sifat tersebut melekat dalam sistem
ekonomi kapitalis dengan berbagai jenis transaksinya. Konsekuensi bagi
negara dan masyarakat yang menganut atau tunduk dan membebek pada
sistem ekonomi kapitalis yang dipaksakan oleh negara-negara Barat adalah
kehancuran ekonomi dan kesengsaraan hidup. Oleh karena itu, pemerintah
harus mempertimbangkan lagi keinginan masyarakat tentang penerapan
ekonomi syariah pada perekonomian Indonesia ini.
Salah satu solusi penting yang harus diperhatikan pemerintahan dalam
merecovery ekonomi Indonesia adalah penerapan ekonomi syari’ah. Ekonomi
syari’ah memiliki komitmen yang kuat pada pengentasan kemiskinan,
penegakan keadilan pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba, dan pelarangan
spekulasi mata uang sehingga menciptakan stabilitas perekonomian.
Ekonomi syari’ah yang menekankan keadilan, mengajarkan konsep yang
unggul dalam menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional.
Fakta ini telah diakui oleh banyak pakar ekonomi global, seperti Rodney
Shakespeare (United Kingdom), Volker Nienhaus (Jerman), dsb.

27
DAFTAR PUSTAKA

abdullah Abdul Husain Al – tariqi, ekonomi islam prinsip dasar dan tujuan,
magista insana press,2004, yogyakarta.
https://portal-ilmu.com/sistem-ekonomi-syariah/
https://thegeekhost.com/ekonomi-syariah/
Rahardjo, Dawam. 2017. Rancang Bangun Ekonomi Islam. Jakarta.
Rivai, Veithzal dan Andi Buchari. 2009. Islamic Economics Ekonomi Syariah
bukan OPSI, Tetapi SOLUSI!. Jakarta: Bumi Aksara.

28