Anda di halaman 1dari 12

PAPER

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray


FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

PAPER

Astigmatisme

Disusun oleh :
ARVIND A/L CHELVARAY
130100463

Supervisor :
Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, Sp.M(K), M.Ked(Opth)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih, berkat, dan
penyertaannya penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Astigmatisme”.
Penulisan makalah ini adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik
Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Mata, Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr.dr.Rodiah
Rahmawaty Lubis, Sp.M(K), M.Ked(Opth) selaku pembimbing yang telah memberikan
arahan dalam penyelesaian makalah ini. Dengan demikian diharapkan makalah ini dapat
memberikan kontribusi positif dalam sistem pelayanan kesehatan secara optimal.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan dalam penulisan
makalah selanjutnya.

Medan,
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................................2

2.1 Definisi…………………………………………………………………….2

2.2 Etiologi……………………………………………………………………. 2

2.3 Klasifikasi…………………………………………………………………..2

2.4 Gejala Klinis………………………………………………………………...3

2.5 Diagnosis……………………………………………………………………4

2.6 Terapi………………………………………………………………………..6

BAB 3 KESIMPULAN………………………………………………………….7

DAFTARPUSTAKA……………………………………………………………..8
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Koreksi Astigmatisme............................................................................3

Gambar 2 Kipas Astigmat.......................................................................................5


PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Astigmatisma biasanya bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir, dan biasanya
berjalan bersama dengan miopia dan hipermetropia dan tidak banyak terjadi perubahan
selama hidup. Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang
di dalam perkembangannya terjadi keadaan yang disebut astigmatism with the rule (astigmat
lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat
atau-jari- jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horisontal.1
Letak kelainan pada astigmatisma terdapat di dua tempat yaitu kelainan pada kornea
dan kelainan pada lensa. Pada kelainan kornea terdapat perubahan lengkung kornea dengan
atau tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter anterior- posterior bola mata. Kelainan
ini bisa merupakan kelainan kongenital atau didapat akibat kecelakaan, peradangan kornea
atau operasi.2
Secara garis besar terdapat 3 penatalaksanaan astigmatisma, yaitu dengan
menggunakan kacamata silinder, lensa kontak dan pembedahan. Teknik pembedahan
menggunakan metode LASIK, photorefractive keratotomy, dan radial keratotomy.1
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Astigmatisma adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar dengan garis pandang
oleh mata tanpa akomodasi dibiaskan tidak pada satu titik tetapi lebih dari satu titik.2

2.2 Etiologi
Etiologi kelainan astigmatisma adalah sebagai berikut: 3
1. Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea tidak teratur. Media refrakta
yang memiliki kesalahan pembiasan yang paling besar adalah kornea, yaitu
mencapai 80% s/d 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah lensa
kristalin. Kesalahan pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan lengkung
kornea dengan tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter antero-posterior bola
mata. Perubahan lengkung permukaan kornea ini terjadi karena kelainan kongenital,
kecelakaan, luka atau parut di kornea, peradangan kornea serta akibat pembedahan
kornea.
2. Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa. Semakin
bertambah umur seseorang, maka kekuatan akomodasi lensa kristalin juga semakin
berkurang dan lama kelamaan lensa kristalin akan mengalami kekeruhan yang dapat
menyebabkan
astigmatismus.
3. Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty
4. Trauma pada kornea
5. Tumor

2.3 Klasifikasi

Berdasarkan bentuknya, astigmatisme terbagi atas astigmatisme regular dan ireguler.


Pada astigmatisme reguler terdapat dua meridian utama yang saling tegak lurus yang
masing-masing memiliki daya bias terkuat dan terlemah. Astismatisme regular ini dapat
dikoreksi dengan lensa silinder. Jika meridian vertical memiliki daya bias terkuat, disebut
astigmatisme with the rule, lenih sering pada usia muda dan dikoreksi dengan silinder
minus dengan aksis 180º atau silinder plus dengan 90º. Jika meridian horizontal memiliki
daya bias terkuat disebut astigmatisme against the rule, lebih sering pada usia tua dan
dikoreksi dengan lensa silinder minus dengan axis 90º atau silinder plus dengan axis
180º. Pada astigmatisme irregular didapatkan titik focus yang tidak beraturan dengan
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

penyebab tersering adalah kelainan kornea ( dapat berupa sikatriks atau keratoconus) dan
dapat juga disebabkan kelainan pada lensa seperti katarak imatur. Kelainan ini tidak
dapat dikoreksi sepenuhnya dengan lensa silinder.4
Berdasarkan tipenya, astigmatisme terbagi ats astigmatisme hypermetropia simpleks
yaitu salah satu meridian utama emetropia dan meridian utama lainya hypermetropia;
astigmatisme miopia simpleks yaitu salah satu meridian utama emetropia dan meridian
utama lainya miopia; astigmatisme hypermetropia kompositus yaitu kedua meridian
utama hipermetropia dengan derajat yang berbeda; astigmatisme miopia kompositus
yaitu kedua meridian utama miopia dengan derajat yang berbeda; dan astigmatisme
mikstus, yaitu satu meridian utama hypermetropia dan meridian utama yang lain
myopia.4
Terdapat juga istilah astigmatisme oblik yaitu meridian utama lebih dari 20 derajat
dari meridian vertical atau horizontal. Misalnya pada 45º dan 135º.4

Gambar 1 E. Pada astigmatisme berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik. F.
Lensa silindris atau sferosilindris untuk mengoreksi astigmatisme

2.4 Gejala Klinis


Pada astigmatime yang ringan, keluhan yangserius timnul adalah mata Lelah
khususnya jika pasien melakukan satu pekerjaan terus menerus pada jarak yang tetap;
transient blurred vision pada jarak penglihatan dekat yang hilang dengan mengucek mata;
nyeri kepala di daerah frontal. Astigmatisme against the rule menimbulkan keluhan lebih
berat dan koreksi terhadap astigmat jenis ini lebih sukar untuk diterima oleh pasien.4

Pada astigmat yang berat dapat menimbulkan keluhan mata kabur; keluhan
asthenopia atau nyeri kepala jarang didapatkan tetapi dapat timbul setelah pemberian
koreksi astigmatisme yang tinggi; memiringkan kepala (tilting of the head), umumnya
pada astigmatisme oblik; memutar kepala (turning of the head) biasanya pada
astigmatisme yang tinggi; memincingkan mata seperti pada miopia dapat mendapatkan
efek pinhole, tetapi pada astigmat dilakukan saat melihat jauh dan dekat; dan penderita
astigmatisme sering mendekatkan bahan bacaan ke mata dengan tujuan mendapatkan
bayangan yang lebih besar meskipun kabur.4
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

2.5 Diagnosis
1. Pemeriksaan pin hole

Uji lubang kecil ini dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnya tajam
penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan pada media penglihatan,
atau kelainan retina lainnya. Bila ketajaman penglihatan bertambah setelah
dilakukan pin hole berarti pada pasien tersebut terdapat kelainan refraksi yang belum
dikoreksi baik. Bila ketajaman penglihatan berkurang berarti pada pasien terdapat
kekeruhan media penglihatan atau pun retina yang menggangu penglihatan.5

2. Uji refraksi

a. Subjektif

Optotipe dari Snellen & Trial lens

Metode yang digunakan adalah dengan Metoda ‘trial and error’ Jarak pemeriksaan 6
meter/ 5 meter/ 20 kaki. Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi mata
penderita, Mata diperiksa satu persatu dibiasakan mata kanan terlebih dahulu
Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata. Bila visus tidak 6/6
dikoreksi dengan lensa sferis positif, bila dengan lensa sferis positif tajam
penglihatan membaik atau mencapai 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien dikatakan
menderita hipermetropia, apabila dengan pemberian lensa sferis positif menambah
kabur penglihatan kemudian diganti dengan lensa sferis negatif memberikan tajam
penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien menderita miopia. Bila setelah
pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak tercapai tajam penglihatan maksimal
mungkin pasien mempunyai kelainan refraksi astigmat. Pada keadaan ini lakukan uji
pengaburan (fogging technique).6

b. Objektif

• Autorefraktometer

Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan


komputer. Penderita duduk di depan autorefractor, cahaya dihasilkan oleh alat dan
respon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa besar kelainan
refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan waktu
beberapa detik.
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

• Keratometri

Adalah pemeriksaan mata yang bertujuan untuk mengukur radius kelengkungan


kornea.11 Keratometer dipakai klinis secara luas dan sangat berharga namun
mempunyai keterbatasan.6

c. Uji pengaburan

Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya
dikaburkan dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada
kartu Snellen, misalnya dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta
melihat kisi-kisi juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling jelas
terlihat. Bila garis juring pada 90° yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan
sumbu lensa silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengan sumbu 180°. Perlahan-
lahan kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi
astigmat vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau semua
juring sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder ditentukan yang ditambahkan.
Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan-lahan ditaruh lensa
negatif sampai pasien melihat jelas.7

Gambar 2 Kipas Astigmat

d. Keratoskop

Keratoskop atau Placido disk digunakan untuk pemeriksaan astigmatisme.


Pemeriksa memerhatikan imej “ring” pada kornea pasien. Pada astigmatisme
regular, “ring” tersebut berbentuk oval. Pada astigmatisme irregular, imej tersebut
tidak terbentuk sempurna.8

e. Javal ophtalmometer

Boleh digunakan untuk mengukur kelengkungan sentral dari kornea, diaman akan
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

menentukan kekuatan refraktif dari kornea.8

2.6 Terapi
1. Koreksi lensa
Astigmatismus dapat dikoreksi kelainannya dengan bantuan lensa silinder. Karena
dengan koreksi lensa cylinder penderita astigmatismus akan dapat membiaskan
sinar sejajar tepat diretina, sehingga penglihatan akan bertambah jelas.
2. Orthokeratology
Orthokeratology adalah cara pencocokan dari beberapa seri lensa kontak, lebih dari
satu minggu atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar dan menurunkan
myopia. Kekakuan lensa kontak yang digunakan sesuai dengan standar. Pada
astigmatismus irregular dimana terjadi pemantulan dan pembiasan sinar yang tidak
teratur pada dataran permukaan depan kornea maka dapat dikoreksi dengan
memakai lensa kontak. Dengan memakai lensa kontak maka permukaan depan
kornea tertutup rata dan terisi oleh film air mata.
3. Bedah refraksi
Methode bedah refraksi yang digunakan terdiri dari:9
a. Radial keratotomy (RK)
Dimana pola jari-jari yang melingkar dan lemah diinsisi di parasentral. Bagian yang
lemah dan curam pada permukaan kornea dibuat rata. Jumlah hasil perubahan
tergantung pada ukuran zona optik, angka dan kedalaman dari insisi.
b. Photorefractive keratectomy (PRK)
Adalah prosedur dimana kekuatan kornea ditekan dengan ablasi laser pada pusat
kornea. Kornea yang keruh adalah keadaan yang biasa terjadi setelah
photorefractive keratectomy dan setelah beberapa bulan akan kembali jernih. Pasien
tanpa bantuan koreksi kadang-kadang menyatakan penglihatannya lebih baik pada
waktu sebelum operasi. kornea.
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

BAB III
KESIMPULAN

Astigmatisma adalah kelainan refraksi mata dimana didapatkan bermacam- macam


derajat refraksi pada berbagai macam meridian sehingga sinar sejajar yang datang pada
mata akan difokuskan pada berbagai macam fokus pula. Terdapat berbagai macam
astigmatisma, antara lain simple astigmatisma, mixed astigmatisma dan compound
astigmatisma.
Terdapat 2 etiologi, yaitu kelainan pada lensa dan kelainan pada kornea. Adapun gejala
klinis dari astigmatisme adalah penglihatan kabur atau terjadi distorsi. Pasien juga sering
mengeluhkan penglihatan mendua atau melihat objek berbayang-bayang. Sebahagian
juga mengeluhkan nyeri kepala dan nyeri pada mata.
Koreksi dengan lensa silinder akan memperbaiki visus pasien. Selain lensa terdapat
juga pilihan bedah yaitu dengan Radial keratotomy (RK) dan Photorefractive
keratectomy (PRK).

11
PAPER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA NAMA : Arvind Chelvaray
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS UNIVERSITAS NIM 130100463
SUMATERA UTARA

DAFTAR PUSTAKA

1. Olver J and Cassidy L, Basic Optics and Refraction. In Olver J and Cassidy
L, Ophtalmology at a Glance. New York: Blackwell Science, 2005; 22-23.
2. James B, Chew C and Bron A, Lecture Notes on Ophtalmology. New
York: Blackwell Publishing, 2003; 20-26.
3. Whitcher J P and Eva P R, Low Vision. In Whitcher J P and Eva P R,
Vaughan & Asbury’s General Ophtalmology. New York: Mc Graw Hill,
2007.
4. Budiano S. Buku ajar Ilmu Kesehatan Mata. Vol. 1. Surabaya: Airlangga
University Press; 2013; 9-11.
5. Ilyas S, Mailangkay H, Taim H, Saman R dan Simarmata M, 2003. Ilmu
Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan mahasiswa Kedokteran Edisi Ke-
2. Jakarta.
6. A. K. Khurana, Comprehensive Ophtalmology Fourth Edition: Optics and
Refraction, New Age International (P) limited Publishers, 12: 36-38, 2007.
7. Gerhard K. Lang, Ophthalmology A Short Textbook :Optics and Refractive
Errors, Thieme, p. 127-136, 2000.
8. Deborah, Pavan-Langston,Manual of Ocular Diagnosis and Therapy, 6th
Edition:Refractive Surgery, Lippincott Williams and Wilkins, 5:73-
100,2008.
9. Roque M., 2009. Astigmatism, PRK. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/1220845-overview#a0101

12