Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

Ektropion merupakan kelainan posisi kelopak mata dimana tepi kelopak mata membeber
atau mengarah keluar sehingga bagian dalam kelopak mata atau konjungtiva tarsal berhubungan
langsung dengan dunia luar.[1]

Ektropion pada palpebra bagian bawah adalah kondisi yang sangat umum pada orang tua.
Frekuensi meningkat terus seiring dengan bertambahn ya usia. Kondisi ini bisa ringan atau berat
b erat
dan mungkin melibatkan seluruh atau sebagian dari kelopak mata. Didefinisikan sebagai eversi
kelopak mata jauh dari bola
b ola mata, kondisi ini diklasifikasikan menurut ciri anatomiknya sebagai
involusional, sikatrikial, tarsal, kongenital, atau neurogenik / paralytik. Pendekatan bedah
diarahkan ke faktor etiologi yang mendasarinya.[2]

Prevalensi ektropion palpebra bagian bawah pada pasien usia lanjut di Brasil
diperkirakan 2,9%. Di negara maju, ektropion
ekt ropion involusi (senile) yang terkait usia lebih sering
terjadi. Di Afrika sub-Sahara, ektropion sikatrikal lebih sering terjadi dibandingkan ektropion
trauma. Ektropion dapat mempengaruhi pasien dari d ari segala usia tetapi paling sering terlihat pada
orang dewasa yang lebih tua. Ektropion lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan pada
wanita, yang mungkin terkait dengan pria umumnya memiliki piring tarsal yang lebih besar
daripada wanita. Morbiditas primer dari ektropion itu sendiri berhubungan dengan paparan
kornea / konjungtiva. Robek juga dapat menyebabkan keluhan pasien yang signifikan. Ektropion
sangat mempengaruhi penampilan pasien.[2,3]

Pada ektropion akan memberikan keluhan epifora, mata merah, dan meradang. Akibat
ektropion tidak jarang terjadi lagoftalmus sehingga akan te rjadi konjungtivitis dan keratitis.
Keluhan tearing (epifora) mungkin merupakan indikasi yang paling umum untuk koreksi bedah,
tetapi iritasi okular dan kosmetik juga sering dijumpai dan mungkin merupakan indikasi untuk
 pembedahan.[2,3]

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Palpebra

Palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata serta mengeluarkan sekresi


kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea. Palpebra merupakan alat menutup
mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar, dan pengeringan
 bola mata. Palpebra mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian
 belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.[1]

Palpebra (kelopak mata) superior dan inferior adalah modikfikasi lipatan ku lit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Palpebra superior berakhir pada alis mata
dan inferior menyatu dengan pipi. Kelopak mata terdiri atas lima bidang jaringan yang utama.
Dari superficial kedalam terdapat lapisan kulit, otot rangka (orbicularis oculi), jaringan areolar,
 jaringan fibrosa (lempeng tarsus), dan lapisan membrane mukosa (konjungtiva palpebralis).[4]

Gambar 1. struktur luar mata[4]

2.1.1 Struktur Palpebra [4]


a. Lapisan Kulit
kulit palpebra berbeda dengan kulit di kebanyakan bagian lain tubuh karena tipis,
longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut serta tanpa lemak subkutan.

 b. Musculus Orbicularis Oculi


fungsi musculus orbicularis oculi adalah menutup palpebra. Serat-serat ototnya
mengelilingi fissure palpebrae secara konsentris dan menyebar dalam jarak pendek
mengelilingi tepi orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang
terdapat didalam palpebra di kenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum orbitale
adalah bagian praseptal. Segmen di luar palpebra disebut bagian orbita. Orbicularis oculi
dipersarafi oleh nervus facialis.

c. Jaringan Areolar

2
 jaringan areolar submuskular yang terdapat dibawah musculus orbicularis oculi
 berhubungan dengan lapisan subaponeurotik kulit kepala.

d. Tarsus
struktur penyokong palpebra yang utama adalah lapisan jaringan fibrosa padat yang
 bersama sedikit jaringan elastic disebut lempeng tarsus. Sudut lateral dan medial serta
 juluran tarsus tertambat pada tepi orbita dengan adanya ligamaen palpebrae lateralis dan
medialis. Lempeng tarsus superior dan inferior juga tertambat pada tepi at as dan bawah
orbita oleh fasia yang dan padat. Fasia tipis ini membentuk septum orbitale.

e. Konjuntiva Palpebrae
 bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membrane mukosa, konjungtiva palpebrae,
yang melekat erat pada tarsus. Insisi bedah memalui garis kelabu tepian palpebrae
membelah palpebra menjadi lamella anterior kulit dan musculus orbicularis oculi serta
lamella posterior lempeng tarsal dan konjungtiva palpebrae

2.1.2 Tepian Palpebra [4]


Panjang tepian bebas palpebra adalah 25-30mm dan lebarnya 2mm. tepian ini dipisahkan
oleh garis kelabu (sambungan mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior.

a. Tepian Anterior
1. Bulu mata - bulu mata muncul dari tepian palpebra dan tersusun tidak teratur. Bulu
mata atas lebih panjang dan lebih banyak daripada bulu mata bawah serta
melengkung ke atas; bulu mata bawah melengkung ke bawah.
2. Glandula Zeis –  struktur ini merupakan modifikasi kelenjar sebasea kecil, yang
 bermuara kedalam folikel rambut pada dasar bulu mata
3. Glandula Moll –  struktur ini merupakan modifikasi kelenjar yang bermuara
membentuk satu barisan dekat bulu mata.
 b. Tepian Posterior
Tepian palpebra posterior berkontak dengan bola mata dan sepanjang tepian ini terdapat
muara-muara kecil kelenjar sebasea yang telah di modifikasi (glandula meibom atau
tarsal).
c. Punctum lakrimal
Pada ujung medial tepian posterior palpebra terdapat penonjolan kecil dengan lubang
kecil di pusat yang terlihat pada palpebra superior dan inferior. Punctum ini berfungsi
menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulusnya ke saccus lacrimalis.

2.1.3 Fissura Palpebra [4]


Fissure palpebra adalah ruangan berbentuk elips diantara kedua palpebra yang terbuk.
Fissure ini berakhir di kantus medialis dan lateralis. Kantus lateralis kira-kira 0,5cm dari tepi
lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Kantus medialis lebih elips dari kantus lateralis dan
mengeliling lacus lakrimalis.

3
Gambar 2. potongan sagital palpebra[4]

2.1.4 Retraktor Palpebra [4]


Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra, yang dibentuk oleh kompleks
muskulofasial, dengan komponen otot rangka dan polos, yang dikenal sebagai kompleks levator
di palpebra superior dan fasia kapsulopalpebra di palpebra inferior. Di palpebra superior bagian
otot rangkanya adalah levator palpebrae superioris, dan otot polosnya adalah musculus Müller
(tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utamanya adalah musculus rectus inferior dan
otot polosnya musculus tarsalis inferior.Komponen otot polos retraktor palpebrae dipersarafi
oleh saraf simpatis sedangkan levator dan musculus rectus inferior dipersarafi oleh nervus
oculomotorius.

Gambar 3. pembuluh darah dan saraf struktur ekstraokular [4]

2.1.5 Persarafan Sensoris [4]


Persarafan sensoris palpebra berasal dari divisi pertama dan kedua nervus trigeminus (N.
V). Nervus lacrimalis, subpraorbitalis, supratrochlearis, infratrochlearis, dan n asalia eksterna
adalah cabang divis oftalika nervus kranial kelima (nervus trigeminus). Nervus infraorbitalis,

4
zygomaticofacialis, dan zygomaticotemporalis merupakan cabang-caban g divisi maksilaris
(kedua) nervus trigeminus.Serabut otot muskulus orbikularis okuli pada kedua palpebra
dipersarafi cabang zigomatikum dari nervus fasialis sedangkan muskulus le vator palpebra dan
 beberapa muskulus ekstraokuli dipersarafi oleh nervus okulomotoris. Otot polos pada palpebra
dan okuler diaktivasi oleh saraf simpatis. Oleh sebab itu, sekresi adrenalin akibat rangsangan
simpatis dapat menyebabkan kontraksi otot polos tersebut.

2.1.6 Pembuluh Darah Dan Limfe [4]


Pasokan darah palpebra datang dari arteria lacrimalis dan ophthalmica melalui cabang-
cabang palpebra lateral dan medialnya. Drainase vena dari palpebra mengalir ke dalam vena
ophthalmica dan vena-vena yang membawa darah dari dahi dan temporal.Pembuluh limfe
segmen lateral palpebra berjalan ke dalam kelenjar getah bening preaurikular dan parotis.
Pembuluh limfe dari sisi medial palpebra mengalirkan isinya ke dalam kelenjar getah bening
submandibular .

2.2 Definisi

Ektropion merupakan kelainan posisi kelopak mata dimana tepi kelopak mata membeber
atau mengarah keluar sehingga bagian dalam kelopak mata atau konjungtiva tarsal berhubungan
langsung dengan dunia luar [1].

Ektropion dapat disebabkan kelainan congenital, paralitik, spasme, atonik, senile,


mekanik, dan sikatriks. Pada ektropion senile terjadi akibat relaksasi atau kelumpuhan kelopak
mata bawah. Ektropion akan memberikan keluhan epifora, mata merah, dan meradang. Akibat
ektropion tidak jarang terjadi lagoftalmus sehingga akan te rjadi konjungtivitis dan keratitis.
Pengobatan ektropion adalah dengan bedah plastic.[1,3]

2.3 Etiologi dan Klasifikasi

Ektropion adalah kondisi yang sangat umum pada orang tua. Hal ini lebih sering
ditemukan pada pria dibandingkan pada wanita, yang mungkin terkait dengan pria umumnya
memiliki piring tarsal yang lebih besar daripada wanita.[2]

Ektropion paling sering diamati sebagai perubahan involusional yang terkait dengan
kelemahan horizontal kelopak mata yang terlibat. Ektropion dapat diklasifikasikan ke dalam
 beberapa tipe berikut, yang diurutkan dalam frekuensi yang menurun: involusional (senile),
 paralitik (neurogenik), sikatrikal, mekanik, dan kongenital.[5]

Tipe dari ektropion:

2.3.1 Ektropion Kongenital

Ektropion kongenital merupakan keadaan yang jarang ditemukan, namun biasanya sering
terkait pada Down syndrome dan Bleharophimosis syndrome atau iktiosis. Ektropion kongenital

5
ini dapat terjadi pada kedua kelopak mata atas dan bawah. Insufisiensi vertical lamella anterior
kelopak mata dan Chlamydia trachomatis merupakan penyebab ektropion congenital. [5,6,7]

Gambar 4. ektropion congenital[6]

2.3.2 Ektropion Sikatrik

Ektropion sikatrik jarang terjadi , diakibatkan oleh adan ya skar atau kontraktur pada kulit
dan jaringan di bawahnya sehingga menyebabkan tertariknya kelopak mata dan dapat mengenai
satu atau kedua kelopak mata. Penyebab yang paling sering terbentuknya jaringan parut pada
kulit adalah akibat terbakar api, bahan kimia, luka akibat trauma, ulkus, kerusakan kulit aktinik
kronis,rosasea, kronik konjungtivitis atau blepharitis, dan herpes zoster.[5,6,8]

Gambar 5. ektropion sikatrik palpebra atas akibat luka bakar [8]

2.3.3 Ektropion Involusional (Senile)

Ektropion Involusional adalah jenis ektropion yang paling sering terjadi dan paling
umum dijumpai pada usia lanjut dan hanya mengenai kelopak bagian bawah, dapat terjadi
 bilateral. Jenis ini diakibatkan kelemahan jaringan kelopak dan lemahnya tonus otot
orbikulari.[5,6,7,8,9]

6
BAB III

KESIMPULAN

1. Ektropion merupakan kelainan posisi kelopak mata dimana tepi kelopak mata membeber
atau mengarah keluar sehingga bagian dalam kelopak mata atau konjungtiva tarsal
 berhubungan langsung dengan dunia luar.

2. Ektropion paling sering diamati sebagai perubahan involusional yang terkait dengan
kelemahan horizontal kelopak mata yang terlibat. Ektropion dapat diklasifikasikan ke
dalam beberapa tipe berikut, yang diurutkan dalam frekuensi yang menurun: involusional
(senile), paralitik (neurogenik), sikatrikal, mekanik, dan kongenital

3. Ektropion akan memberikan keluhan epifora, mata merah (injeksi konjungtiva) dan
meradang. Akibat ektropion tidak jarang terjadi lagoftalmus sehingga ak an terjadi
konjungtivitis dan keratitis.

4. Ektropion terbagi dalam 3 derajat keparahan:


 mild - ketika hanya punctum yang mengarah keluar.
 moderate - ketika konjungtiva palpebra terlihat karena margin palpebra mengarah
keluar.
 severe - ketika forniks palpebra bawah terpapar dunia luar.

5. Ektropion dapat diadiagnosa dengan anamnesa dan pemeriksaan mata, seperti riwayat
kelainan kelopak mata, riwayat trauma atau operasi mata sebelumnya, dan riwayat
 penyakit sebelumnya. Pemeriksaan mata spesifik yang dapat dilakukan pada kasus
ektropion antara lain pemeriksaan kelopak mata secara horizontal dan vertikal, kekuatan
tendon canthus pada kelopak mata, tonus otot orbikularis serta adanya perubahan kulit
sekitar kelopak mata.

6. Penatalaksanaan awal adalah untuk melindungi kornea. Akan tetapi, ketika kornea yang
terpapar menunjukkan tanda keratopati yang signifikan, dianjurkan untuk dilakukan
tindakan pembedahan segera. Paparan terus menerus akibat kelopak yang mengarah
keluar dapat menyebabkan mata kering dan penebalan konjungtiva serta ulserasi kornea.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidarta. Yulianti, Sri Rahayu. 2015. Ilmu Penyakit Mata, Ed. 5. Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Bashour, Mounir. 2017. Ectropion Lower Eyelid Reconstruction. In:
https://emedicine.medscape.com/article/877155-overview#showall (Accessed: 27 Mei
2018)
3. Ing, Edsel. 2016. Ectropion. In:https://emedicine.medscape.com/article/1212398-
overview#showall (Accessed: 27 Mei 2018)
4. Riordan-Eva, Paul et al. Anatomy & Embryology Of The Eye: in Vaughan & Asbury’s
General Ophtalmology. Ed. 18. London : McGraw Hill Company. 2011:11-8.
5. John, Thomas. Ektropion; in Mata & Kedaruratan Mata. Jakarta: EGC. 2014: 100-102.
6. Lubis, Rodiah Rahmawaty. Makalah Ectropion. 2014. Medan: Departemen Ilmu
Kesehatan Mata USU.
In:http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/52272/ectropion.pdf?sequence
=2 Accessed: 27 Mei 2018.
7. Crick, Ronald Pitts. Khaw, Peng Tee. Ectropion; in Textbook Of Clinical Ophtalmology.
Ed. 3. UK: World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd. 2003:448-49.
8.  Nema, HV. Nema, Nitin. Ectropion; in Textbook of Ophtalmology. Ed. 5. India: Jaypee
Brothers Medical Publisher Ltd. 2008: 395-96.
9. Jogi, Renu. Ectropion; in Basic Ohtalmology. Ed. 4. India: PT Jawahar Lal Nehru
Memorial Medical Collage. 2009:412-13.
10. Kanski J.J. Eyelids; in Clinical Opthalmology. Ed. 8. Australia; Butterworth Heinemann
Elsevier, Philadelphia. 2018: 45-50.

17