Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KASUS

DEMA TIFOID

DISUSUN OLEH :
dr. Jevanlia Karlina H

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

RUMAH SAKIT UMUM PETALA BUMI

PEKANBARU

2020
DEMAM TIFOID

dr. Jevanlia Karlina

Subjective

An. NN usia 8 tahun, datang dengan keluhan demam sejak 7 hari SMRS . Demam
dirasakan naik perlahan-lahan dan menetap serta lebih tinggi terutama pada malam hari. Demam
tidak disertai menggigil, tidak ada kejang. Pasien juga mengeluh nyeri pada ulu hati, mual-mual,
nafsu makan berkurang diikuti badan terasa lemah. Pasien tidak mengeluhkan adanya muntah,
diare, nyeri otot dan sendi. Gusi berdarah, mimisan, bintik-bintik merah pada kulit tidak
ada.sejak demam. Pasien juga mengeluhkan adanya batuk dan pilek. Pasien mengeluhkan batuk
pilek sejak 7 hari SMRS, kemudian pasien berobat ke klinik. Namun keluhan dirasakan belum
berkurang. Pasien tidak mengeluhkan adanya keluhan dalam buang air besar dan buang air kecil.
Karena dirasakan keluhan belum berkurang, pasien kemudian dibawa ke IGD RSUD Petala
Bumi Pekanbaru.

Riwayat penyakit dahulu:


• Tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya
• Riwayat asma (-)
• Riwayat DHF(-)

Riwayat penyakit keluarga:


• Riwayat keluhan yang sama (-)
• Riwayat DHF (-)

Riwayat sosial ekonomi dan kebiasaan:


• Pasien memiliki kebiasaan konsumsi jajanan di luar

Objective

Status generalis

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : kompos mentis, GCS E4M5V6

Tanda-tanda vital : TD :- HR : 130 x/menit

T : 39,8ᵒC RR : 22 x/menit

SpO2 : 99% BB : 29 kg, TB : 120cm

Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)

Pupil isokor, diameter 2 mm, reflex cahaya (+/+)

Mulut : Faring hiperemis (+), T2-T2, mukosa bibir kering, sianosis(-),


lidah kotor tepi hiperemis (+).

Leher : Tidak ada pembesaran KGB(-), JVP dalam batas normal.

Jantung : Bunyi jantung S1 dan S2 regular, murmur (-), gallop (-)

Paru : Simetris, suara nafas vesikular (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen : Datar, supel, BU normal, timpani, nyeri tekan epigastrium(+),


organomegali (-)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2 detik, edema (-/-)

Status Neurologis

Rangsang meningeal : tidak ditemukan

Nervus cranialis : dalam batas normal

Sistem motorik

Kanan Kiri
Ekstremitas atas 5 5
Ekstremitas bawah 5 5

Sistem sensorik : dalam batas normal

Otonom : inkontinensia uri et alvi tidak ada

Refleks fisiologis : (+/+)

Refleks patologis : (-/-)


Pemeriksaan penunjang

Darah rutin

Hb : 12,7 gr/dL Leukosit : 10.250/mm3

Ht : 35,7% Trombosit : 263.000/mm3

Pemeriksaan Widal Test :

S. Thypi O : 1/320

S. Thypi H : 1/320

Assessment

Diagnosis

An. NN usia 8 tahun, datang dengan keluhan demam sejak 7 hari SMRS . Demam
dirasakan naik perlahan-lahan dan menetap serta lebih tinggi terutama pada malam hari. Demam
tidak disertai menggigil, tidak ada kejang. Pasien juga mengeluh nyeri pada ulu hati, nafsu
makan berkurang diikuti badan terasa lemah. 4 hari SMRS, pasien tidak mengeluhkan adanya
mual-mual, muntah, diare, nyeri otot dan sendi. Gusi berdarah, mimisan, bintik-bintik merah
pada kulit tidak ada.sejak demam Pasien hanya mengeluhkan batuk dan pilek. Pasien
mengeluhkan batuk pilek sejak 7 SMRS, kemudian pasien berobat ke klinik. Namun keluhan
dirasakan belum berkurang. Pasien tidak mengeluhkan adanya keluhan dalam buang air besar
dan buang air kecil. Karena dirasakan keluhan belum berkurang, pasien kemudian dibawa ke
IGD RSUD Petala Bumi Pekanbaru.

Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.
typhi). Insidens penyakit ini sering dijumpai di negara-negara Asia dan dapat ditularkan melalui
makanan atau air yang terkontaminasi

Demam typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yang
memasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan. Sumber utama yang terinfeksi adalah
manusia yang selalu mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang
sakit atau sedang dalam masa penyembuhan. Pada masa penyembuhan, penderita masih
mengandung Samonella spp didalam kandung empedu atau didalam ginjal. Sebanyak 5 %
penderita demam typhoid kelak akan menjadi karier sementara, sedangkan 2 % lain akan
menjadi karier menahun.
Setelah 7-14 hari tanpa keluhan atau gejala, dapat muncul keluhan atau gejala yang
bervariasi mulai dari ringan dengan demam yang tidak tinggi, malaise dan batuk kering sampai
dengan gejala yang berat dengan demam yang berangsur makin tinggi setiap harinya, rasa tidak
nyaman diperut serta keluhan lainnya. Gejala yang biasa dijumpai adalah demam sore hari
dengan serangkaian keluhan klinis seperti: anoreksia, myalgia, nyeri abdomen dan konstipasi.
Dapat disertai dengan lidah kotor, nyeri tekan diperut, dan pembengkakkan pada stadium lanjut
dari hati atau limfa atau kedua-duanya.

Diagnosis dini demam tifoid dan pemberian terapi yang tepat bermanfaat untuk
mendapatkan hasil yang cepat dan optimal. Dalam menegakkan diagnosis juga diperlukan
pemeriksaan tambahan dari laboratorium. Sarana laboratorium untuk membantu menegakkan
demam tifoid secara garis besar digolongkan dalam tiga kelompok yaitu isolasi kuman penyebab
demam tifoid, S.thypi, melalui biakan kuman dari spesimen seperti darah, sumsum tulang, urin,
tinja, dan cairan duodenum, uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen S.thypi dan
menentukan adanya antigen spesifik dari S.thypi serta pemeriksaan pelacak DNA kuman S.thypi.
Uji aglutinasi pengenceran tabung (tes Widal) diambil dengan selang waktu 7-10 hari.
Interpretasinya sebagai berikut: Titer O yang tinggi atau meningkat (≥ 1:160) menandakan
adanya infeksi aktif. Titer H yang tinggi menunjukkan adanya ≥1:160 riwayat imunisasi atau
infeksi di masa lampau. Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi timbul pada beberapa
carrier. Pemeriksaan penunjang lain yang sering dilakukan dalam mendukung diagnosis demam
tifoid yaitu uji tubex. Uji ini merupakan semi kuantitatif kolometrik yang cepat dan mudah
dikerjakan. Uji ini berguna untuk mendeteksi antibody anti-S.typhi09 pada serum pasien, dengan
cara menghambat ikatan antara IgM anti 09 yang terkonjugasi pada partikel latex yang berwarna
dengan lipopolisakarida S.typhi yang terkonjugasi pada partikel magnetic latex. Gold standard
pada pemeriksaan demam tifoid adalah dengan biakan empedu.
Prinsip penatalaksanaan demam tifoid masih menganut trilogi penatalaksanaan yang
meliputi : istirahat dan perawatan, diet dan terapi simtomatik atau suportif, serta pemberian anti
mikroba. Istirahat dan perawatan tirah baring minimal sampai 7 hari bebas demam atau lebih
kurang selama 14 hari. Hal ini bertujuan untuk mencegah komplikasi perdarahan dan perforasi
usus dan akan membantu mempercepat masa penyembuhan. Diet pada pasien demam tifoid
dimulai dengan makanan lunak rendah serat (bubur saring), kemudian bubur kasar hingga nasi.
Terapi farmakologi yaitu obat-obatan yang sering digunakan ialah:
1. Kloramfenikol masih menjadi Drug of Choice pada pasien demam tifoid. Dosis yang
diberikan adalah 4 x 500 mg per hari oral atau intravena sampai 7 hari bebas demam. Dengan
pemberian kloramfenikol, rata-rata demam turun setelah hari ke-5.
2. Tiamfenikol dosis dan efektifitasnya sama dengan kloramfenikol yaitu 4 x 500 mg.
Komplikasi anemia pada pemberian tiamfenikol lebih jarang daripada kloramfenikol.
Demam turun rata-rata sealama 5-6 hari.
3. Kotrimoksazol (kombinasi trimetoprim dengan sulfametoksazol). Dosis untuk dewasa 2 x 2
tablet per hari, diberikan selama 2 minggu. 1 tablet mengandung 80 mg trimetoprim dan 400
mg sulfametoksazol.
4. Ampisilin dan amoksisilin, efektifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan kloramfenikol.
Indikasi mutlak penggunaannya adalah paseien demam tifoid dengan leucopenia. Dosisnya
berkisar 50-150 mg/KgBB/hari, diberikan sampai 7 hari bebas demam. Demam rata-rata
turun setelah 7-9 hari pemberian obat.
5. Sefalosporin generasi ketiga seperti septriakson dan sefotaksim. Dosis yang dianjurkan 3-4 gr
dalam 100 cc dekstrosa diberikan selama ½ jam per infus sekali sehari, diberikan selama 3-5
hari.
6. Fluoroquinolon seperti siproflosaksin (dosis 2x500 mg/hari selama 6 hari), oflosaksin (2x400
mg/hari selama 7 hari).
7. Terapi pada wanita hamil, kloramfenikol di trimester ketiga tidak dianjurkan karena
dikhawatirkan dapat terjadi partus premature, kematian intrauterine. Tiamfenikol tidak
dianjurkan pada trimester pertama karna bersifat tertogenik. Demikian juga obat golongan
fluorokuionolon maupun kotrimoksazo tidak boleh digunakan untuk mengobati demam
tifoid. Obat yang dianjurkan ialah ampisilin, amoksisilin dan seftriakson.

Planning

Diagnosis

Pasien didiagnosis demam tifoid berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.

Terapi
Pasien mendapatkan tatalaksana non farmakologis dan farmakologis. Non farmakologis
pasien dianjurkan untuk tirah baring dan diet makan lunak rendah serat. Sedangkan
farmakologis, pasien diberikan tatalaksana berupa , terapi terapi infus ringer laktat 26 tpm macro,
injeksi cefotaxim 2x 500 mg, injeksi Deksametasone 3x1/2 ampul, Flutamol caplet 3x½,
Antasida 3x1/2 tab, Oxoryl syr 3x1 cth, dan Ambroxol 3x1/3 tab.

Edukasi

Keluarga pasien diedukasi mengenai diagnosis, rencana penanganan pasien, rencana penanganan
pasien dan prognosis pasien.

Daftar pustaka

1. Juwono R.demam tifoid dalam :Soeparman editor. Ilmu penyakit dalam jilid 1. Eddisi ke
2.Jakarta Balai penerbit FKUI; 1984.P.32-38
2. Centers for disease control and prevention morbidity and mortality weekly report.
2008;83(6):49-60.
3. Ochiai RL, Acosta CJ, Aqtini M, et al. The use of typhoid vaccines in Asia: the DOMI
experience in infect Dis 2007; 45 (suppl 1):S34-S38.
4. Keputusan menteri kesehatan nomor 365/Menkes/SK/v/2006 tentang pedoman pengendalian
demam typhoid.
5. world health organization. Bulletin of the world health organization 2008;86 (5):321-46.