Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“GENETICALLY MODIFIED ORGANISM (GMO)”

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Ilmu Pangan dan Gizi dengan
Dosen Pengampu : Dr. Ir. H. Salamet Ginandjar, Mm.., M.Kom.

Disusun oleh :

Kelompok 1

Fitra Fajriah Ulfah 1157060028


Hana Fitriani 1157060032
Ibnu Khabibi Ahmad 1157060037

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami ucapkan kehadirat Allah Subhanawata’ala karena


dengan rahmat dan taufik hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Genetically Modified Organism ini dengan baik.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita untuk memperdalam materi-materi tentang Ilmu
Pangan dan Gizi. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya baik itu untuk mahasiswa maupun masyarakat
umumnya.Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan.

Bandung, 31 Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... 2


DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 5
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 5
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... 6
2.1 Pengertian Genetically Modified Organism (GMO) .................................... 6
2.2 Ruang lingkup dalam GMO ........................................................................ 7
2.3 Contoh hasil dari GMO............................................................................... 8
2.4 Manfaat dari modifikasi genetik ............................................................... 11
a. Tahan hama ......................................................................................... 11
b. Toleran terhadap herbisida ................................................................... 11
c. Tahan penyakit .................................................................................... 11
d. Toleran terhadap dingin ....................................................................... 11
e. Toleran kekeringan/salinitas ................................................................ 12
f. Nutrisi ................................................................................................. 12
g. Farmasi ................................................................................................ 12
h. Pengobatan tanaman ............................................................................ 12
2.5 Dampak negatif dan solusinya dari GMO ................................................. 13
2.6 Nomena .................................................................................................... 19
Q.S. Al-Isra ayat 70 .................................................................................... 19
Q.S. Al-Mujadilah ayat 11 .......................................................................... 19
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 20
3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 21
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini penggunaan GMO atau Genetically Modified Organism telah
meluas dikarenakan adanya beberapa kelebihan yang didapatkan pada produk ini.
GMO yang merupakan hasil rekayasa genetika, tidak dapat disangkal mempunyai
beberapa kelebihan. Beberapa produk pertanian yang merupakan GMO bisa tahan
terhadap hama, tahan terhadap berbagai penyakit, penggunaan pestisida yang
lebih sedikit, mempunyai penampilan yang menarik, mempunyai nutrisi yang
lebih banyak jika dibandingkan dengan produk yang asli, dan lain sebagainya.
Beberapa kelebihan dari GMO tersebut diklaim dapat mengatasi masalah populasi
dan pangan yang dihadapi oleh dunia. Faktanya hampir semua produk pangan
yang kita makan sehari-hari adalah produk GMO. Di Amerika Utara, lebih dari
80% dari makanan kita mengandung GMO. Termasuk di Indonesia Bisa jadi
GMO hadir saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Bahkan buat ngemil
dengan anak anak kita di rumah.
Rekayasa genetika merupakan salah bentuk kemajuan teknologi paling
mutakhir dalam dunia biologi molekuler. Oleh karena itu, rekayasa genetika
memegang peranan penting dalam merubah susunan genetika makhluk hidup
sesuai dengan keperluan manusia di masa ini. Penerapan rekayasa genetika juga
telah memasuki perangkat terpenting bagi makhluk hidup yakni gen sehingga
tumbuhan yang dihasilkan dari rekayasa genetika ini diharapkan memiliki sifat-
sifat yang unggul, yang berbeda dari tanaman aslinya.
Penggunaan rekayasa genetika memiliki potensi untuk menjadi problem
solving dari ancaman krisis pangan tersebut. Dengan segala kekurangannya
rekayasa genetik. Dalam makalah ini kami mencoba membahas mengenai
rekayasa genetika, tumbuhan hasil modifikasi genetik dan polemik yang
ditimbulkannya. Pembahasan ini merupakan peninjauan ulang terhadap berbagai
jurnal dan artikel terkait rekayasa genetika dan pengaruhnya.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan GMO ?
b. Apa saja ruang lingkup yang mencakup dalam GMO ?
c. Apa saja contoh hasil dari GMO pertanian ?
d. Apa saja manfaat dari GMO ?
e. Apa dampak negaif dan solusinya ?
f. Nomena apa yang terdapat untuk GMO pertanian ?

1.3 Tujuan
a. Untuk memahami apa pengertian dari GMO
b. Untuk mengetahui ruang lingkup dalam GMO
c. Untuk mengetaui apa saja contoh hasil dari GMO
d. Untuk mendapatkan apa saja manfaat dari GMO
e. Untuk mengetahui apa saja dampak negatif dari GMO
f. Untuk memahami nomena dari pengertian GMO
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Genetically Modified Organism (GMO)


Genetically modified organism adalah proses perubahan genetik dari suatu
organisme dengan teknik rekayasa genetik. GMO bisa memodifikasi berbagai
jenis pangan dan bisa juga untuk penelitian ilmiah non pangan. GMO bisa juga
disebut organisme hidup yang dimodifikasi (living modified organism). Tertuang
di protokol cartagena mengenai keamanan hayati (biosafety), yang mengatur
mengenai perdagangan internasional produk GMO. GMO adalah "setiap
organisme hidup yang memiliki kombinasi bahan genetik baru yang diperoleh
melalui penggunaan bioteknologi modern”.
GMO terdiri dari kata Genetically yang berarti secara genetis, kata tersebut
berasal dari bahasa Inggris yaitu genetic artinya kata sifat yang berhubungan
dengan azas-azas keturunan. Sedangkan menurut KBBI kata genetika adalah
cabang biologi yang menerangkan sifat turun-temurun atau ajaran tentang
pewarisan. Menurut Webster genetically adalah relating to or determined by the
origin, development, or casual antecedents of something. Kata kedua yaitu
modified yang artinya memodifikasi atau dimodifikasi dan dalam menurut KBBI
modifikasi yaitu pengubahan atau perubahan dan dalam Webster modified adalah
to make less extreme. Kata terakhir ada organisme yang artinya makhluk hidup
yang dilengkapi dengan alat dan menurut KBBI yaitu segala jenis makhluk hidup
(tumbuhan, hewan, dsb); susunan yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup
untuk suatu tujuan tertentu. Sedangkan menurut Webster organism adalah a
complex structure of interdependent and subordinate elements whose relations
and properies are largely determined by their function in the whole.
GMO sendiri adalah ilmu yang relative baru dikembangkan dan
menciptakan gen baru dari tanaman, hewan, bakteri dan gen virus yang tidak
terjadi di alam atau melalui metode persilangan tradisional. Adapun GMO ini bisa
diterapkan pada manusia yakni penelitian pada manusia menunjukkan bagaimana
rekayasa genetika (GM) makanan dapat meninggalkan bahan bahan tertentu di
dalam tubuh kita yang mungkin menyebabkan masalah jangka panjang. Gen yang
dimasukkan ke kedelai GMO misalnya, dapat mentransfer ke dalam DNA bakteri
yang hidup dalam diri kita, dan bahwa insektisida beracun yang dihasilkan oleh
jagung GMO ditemukan dalam darah ibu hamil dan janin mereka yang belum
lahir.
Intinya adalah dapat memindahkan gen-gen dari satu spesies mahluk hidup
ke spesies yang lain, ataupun memodifikasi gen-gen dalam satu spesies. Produk
transgenik mencakup obat-obatan (sebagai alat diagnosis dan obat seperti
misalnya insulin), tanaman yang tahan hama, penyakit dan herbisida, enzim untuk
pengolahan makanan (keju), bahan bakar dan pelarut (ethanol). Tanaman
transgenik untuk bahan pangan yang telah dikembangkan antara lain: beras,
kedelai, kentang, jagung, minyak lobak, tomat, bit gula dan labu (Putri, 2014).
Menurut Bakri, H.M. Nurchalis (1996), rekayasa genetika
adalah istilah dalam ilmu biologi yang artinya secara umum adalah
usaha manusia dalam ilmu biologi dengan cara memanipulasi
(rekayasa) sel, atau gen yang terdapat pada suatu organisme tertentu
dengan tujuan menghasilkan organisme jenis baru yang identik secara
genetika.

2.2 Ruang lingkup dalam GMO


GMO pertanian merupakan solusi bioteknologi dibidang pertanian, sejak
dari mempersiapkan bahan sampai dengan pengolahannya menjadi produk siap
olah maupun siap hidang. Hasil modifikasi genetika ini biasa dilakukan di
laboratorium sebelum diproduksi secara masal. Dengan batasan ini ada ruang
lingkup kegiatan dapat diklaim juga sebagai bidang GMO pertanian seperti halnya
produksi organik di lahan, pada tahap persiapan, penyimpanan, transportasi,
pelabelan dan pemasaran, serta kultur sel tanaman dalam rangka menghasilkan
bibit unggul tanaman.
2.3 Contoh hasil dari GMO
Teknik-teknik GMO pertanian telah dimanfaatkan terutama untuk
memberikan karakter baru pada berbagai jenis tanaman. Penekanan pemberian
karakter tersebut dapat dibagi kedalam beberapa tujuan utama yaitu peningkatan
hasil, kandungan nutrisi, kelestarian lingkungan, dan nilai tambah tanaman-
tanaman tertentu. Sebagai contoh, beberapa tanaman transgenik yang
dikembangkan adalah:

a. Peningkatan kandungan nutrisi : Pisang, cabe, raspberries, stroberi, ubi jalar


b. Peningkatan rasa : tomat dengan pelunakan lebih lama, cabe, buncis, kedelai
c. Peningkatan kualitas : pisang, cabe, stroberi dengan tingkat kesegaran dan
tekstur yang meningkat
d. Mengurangi allergen : polong-polongan dengan kandungan protein
allergenik yang lebih rendah
e. Kandungan bahan berkhasiat obat : tomat dengan kandungan lycopene yang
tinggi (antioksidan untuk mengurangi kanker), bawang dengan kandungan
allicin untuk menurunkan kolesterol, padi dengan kandungan vitamin A dan
besi untuk mengatasi anemia dan kebutaan
f. Tanaman untuk produksi vaksin dan obat-obatan seperti untuk mengobati
penyakit manusia
g. Tanaman dengan kandungan nutrisi yang lebih baik untuk pakan ternak, dan
lain-lain
Selain itu, pemanfaatan GMO pertanian seperti rekayasa genetika juga
dapat memudahkan petani dalam budidaya tanaman. Misalkan dalam
pengendalian gulma yaitu dengan menghasilkan tanaman yang memiliki
ketahanan terhadap jenis herbisida tertentu. Sebagai contoh adalah Roundup
Ready yang terdiri dari kedelai, canola dan jagung yang tahan terhadap herbisida
Roundup. Di dunia saat ini telah banyak dilepas berbagai tanaman transgenik.
Sebagai contoh, di Asia yaitu di China pada tahun 2006 saja, telah ada sekitar 30
spesies tanaman transgenik, antara lain padi, jagung, kapas, rapeseed, kentang,
kedelai, poplar, tomat (delay ripening dan ketahanan virus), petunia (warna
bunga), paprika (virus resistance), kapas (ketahanan hama) yang telah dilepas
untuk produksi.
Kemajuan dan penerapan GMO pertanian tidak terlepas dari tanaman
pangan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia termasuk kebutuhan nutrisi,
kemajuan GMO telah mewarnai trend produksi pangan dunia. Padi saat ini masih
merupakan tanaman pangan utama dunia. Dengan demikian prioritas utama untuk
teknik biologi molekuler dan transgenik saat ini masih diutamakan pada padi.
Selain karena merupakan tanaman pangan utama, padi memiliki genom dengan
ukuran sehingga dapat digunakan sebagai tanaman model utama. Selain padi
tanaman pangan yang telah banyak mendapat sentuhan GMO adalah kentang.
Adapun beberapa contoh dan paparannya adalah sebagai berikut.
Salah satu contoh hasil GMO adalah Golden Rice. Padi ini merupakan
hasil rekayasa genetika. Ide ini berangkat dari keprihatinan dijumpainya banyak
anak-anak, terutama di Asia dan Afrika, yang menderita kekurangan vitamin A.
Kekurangan vitamin A bisa menyebabkan kebutaan dan memperburuk penderita
diare, sakit pernafasan, dan cacar air. Lalu dipikirkan bagaimana memenuhi
asupan vitamin A secara praktis. Maka padi menjadi pilihan utama, karena
termasuk makanan pokok bagi hampir seluruh penduduk dunia.
 Cara Melakukan Golden Rice
Bagaimana rekayasa golden rice dilakukan, sehingga bijinya bisa
mengandung beta karoten dan berwarna oranye kekuningan? Beta karoten adalah
zat warna oranye kekuningan, seperti pada tanaman wortel. Ia terbentuk dari
bahan dasar (prekusor) geranyl geranyl diphosphate (GGDP).
Melalui jalur biosintesa, GGDP akan diubah menjadi phytoene, diteruskan
menjadi lycopene, dan selanjutnya diubah lagi menjadi beta karoten (β). Secara
alami, dalam biji padi sudah terdapat GGDP, tetapi tidak mampu membentuk beta
karoten. Perubahan dari GGDP menjadi phytoene dilaksanakan oleh enzim
phytoene synthase (PHY) yang disandi oleh gen phy. Selanjutnya, gen crtI
mengkode enzim phytoene desaturase yang bertanggung jawab untuk mengubah
phytoene menjadi lycopene. Ada satu enzim lagi yang diperlukan untuk mengubah
lycopene menjadi beta karoten, yaitu lycopene cyclase (LYC).
Melalui sejumlah proses, maka gen phy, crtl, dan lyc yang berasal dari
tanaman daffodil (bunga narsis/bakung) disisipkan ke tanaman padi sehingga padi
mampu memproduksi beta karoten berwarna oranye kekuningan, yang kemudian
disebut sebagai golden rice.
 Kandungan Golden Rice

Provitamin A berupa beta karoten. Beta karoten merupakan zat warna


oranye kekuningan, seperti pada tanaman wortel. Golden rice mengandung
betakarotena dan di dalam tubuh manusia betakarotena tersebut akan diubah
menjadi vitamin A.Vitamin A yang ada di dalam beras ini sanggup mengatasi
defisiensi atau kekurangan Vitamin A pada manusia. Golden rice juga
mempunyai kandungan karbohidrat layaknya beras pada umumnya, juga
mengandung zat besi (Fe).
 Manfaat Golden Rice
Manfaat dari pembuatan beras emas (golden rice) adalah mampu
menyediakan rekomendasi harian yang dianjurkan dari vitamin dalam 100-200
gram beras sehingga dengan mengkomsumsi beras emas (golden rice) ini dapat
menyediakan kebutuhan vitamin A dan karbohidrat yang diperlukan oleh tubuh.
Mengatasi kekurangan vitamin A karena mengandung beta karoten tinggi.
 Kerugian dari Golden Rice
Kekhawatiran terhadap golden rice dalam hal kesehatan antara lain karena
ada kekhawatiran zat penyebab alergi (alergen) berupa protein dapat ditransfer ke
bahan pangan, terjadi resistensi antibiotik karena penggunaan marker gene, dan
terjadi outcrossing, yaitu tercampurnya benih konvensional dengan benih hasil
rekayasa genetika yang mungkin secara tidak langsung menimbulkan dampak
terhadap keamanan pangan.
Terhadap lingkungan dan perdagangan, pangan hasil rekayasa genetika
(PRG) dikhawatirkan merusak keanekaragaman hayati, menimbulkan monopoli
perdagangan karena yang memproduksi PRG (dalam hal ini Golden Rice) secara
komersial adalah perusahaan multinasional, menimbulkan masalah paten yang
mengabaikan masyarakat pemilik organisme yang digunakan di dalam proses
rekayasa, serta pencemaran ekosistem karena merugikan serangga nontarget
misalnya.
2.4 Manfaat dari modifikasi genetik
Kebutuhan manusia akan ketersediaan bahan pangan akan meningkat dua
kali lipat pada 50 tahun mendatang. Hal ini memerlukan ketersediaan makanan
untk menghadapi tantangan di masa datang dan makanan hasil modifikasi genetik
diharapkan dapat memenuhi permasalahan ini dengan kelebihannya :

a. Tahan hama
Kerugian tanaman akibat serangan hama serangga merupakan hal yang
mengejutkan, kehancuran dihasilkan dengan kerugian keuangan bagi petani dan
mati kelaparan di negara-negara berkembang. Petani biasanya menggunakan
berton-ton pestisida kimia setiap tahunnya tetapi konsumen tidak ingin memakan
makanan yang telah terkena pestisida karena membahayakan kesehatan manusia
dan sisa di lahan yang menggunakan pestida dan pupuk dapat mencemari air dan
hal membahayakan bagi lingkungan. Munculnya makanan hasil modifikasi
genetik seperti jagung B.t., dapat membantu mengurangi penggunaan pestisida
kimia dan mengurangi pengeluaran akibat dijualnya hasil tanaman ke pasar.

b. Toleran terhadap herbisida


Pada beberapa hasil tanaman, hal yang kurang efisien dalam mencabut rumput
liar, maka para petani selalu menyemprotkan dengan jumlah banyak herbisida
yang berbeda-beda untuk memusnahkan keberadaan rumput liar, membutuhkan
waktu dan proses-proses yang mahal, bahwa dibutuhkan perlindungan sehingga
herbisida tidak membahayakan hasil tanaman atau lingkungan. Hasil tanaman
modifikasi genetik menjadi resisten pada satu jenis herbisida yang dapat
membantu melindungi lingkungan dari bahaya residu sejumlah herbisida.

c. Tahan penyakit
Banyak jenis-jenis virus, jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit
pada tanaman. Para ahli biologi tanaman bekerja menciptakan tanaman-tanaman
dengan rekayasa genetik tahan terhadap penyakit-penyakit ini.

d. Toleran terhadap dingin


Suhu dingin yang tidak diharapkan akan membunuh bibit yang sensitif. Suatu
gen anti beku dari ikan air dingin telah diintroduksikan ke dalam tanaman seperti
tembakau dan kentang. Dengan gen anti beku ini, tanaman ini mampu untuk
bertahan dalam temperature dingin yang pada kondisi normal dapat membunuh
bibit yang tidak dimodifikasi.

e. Toleran kekeringan/salinitas
Pertumbuhan populasi dunia dan kelebihan lahan adalah kebutuhan untuk
perumahan disamping produksi makanan, para petani akan butuh untuk menanam
hasil tanaman di lokasi sebelumnya belum digunakan pengolahan tanaman.
Pembuatan tanaman yang dapat bertahan selama periode panjang terhadap
kekeraingan atau kadar garam yang tinggi yang terkandung dalam tanah dan air
tanah akan membantu orang untuk menanam hasil tanaman di lahan yang kurang
bersahabat.

f. Nutrisi
Kekurangan nutrisi umumnya terjadi di negara-negara dunia ketiga dimana
perbaikan pada hasil tanaman seperti beras adalah bahan makanan utama bagi
kehidupan mereka. Walaupun demikian, beras tidak mengandung sejumlah besar
nutrisi yang dibutuhkan untuk mencegak malnutrisi. Jika beras dapat direkayasa
genetik untuk mengandung vitamin dan mineral tambahan maka kekurangan
nutsisi dapat dihindari.

g. Farmasi
Obat-obatan dan vaksin sering menimbulkan pengeluaran dan kadang kala
dibutuhkan konsisi penyimpanan khusus yang tidak tersedia di negara-negara
dunia ketiga. Para peneliti bekerja untuk mengembangkan vaksin yang dapat
dimakan pada tomat dan kentang. Vaksin ini akan lebih mudah untuk dikirim,
disimpan dan dikelola daripada vaksin suntik yang konvensional.

h. Pengobatan tanaman
Tidak semua tanaman modifikasi genetik tumbuh sebagai hasil tanaman atau
buah. Berlanjutnya polusi tanah dan air tanah menjadi masalah di seluruh bagian
di dunia. Tanaman seperti pohon poplar yang telah di rekayasa genetik untuk
dapat membersihkan polusi logam berat dari tanah yang telah terkontaminasi.
Potensi manfaat menguntungkan dari produk rekayasa genetika dengan
pemanfaatan rekayasa genetik dalam pembentukan pangan transgenik, dianggap
sebagai terobosan yang brilian dalam menghadapi kerawanan pangan di masa
depan yang dapat diprediksi dari gejala-gejala ketidaktentuan cuaca di beberapa
belahan dunia. Manfaat tersebut meliputi (WHO, 2002; Medline Plus, 2012; Putri,
2014; Web MD, 2014) :

 Zat gizi lebih banyak,


 Makanan memiliki rasa lebih enak,
 Lebih tahan penyakit, hama, virus, dan kekeringan (cuaca),
 Penurunan penggunaan pestisida untuk beberapa produk pertanian,
 Toleransi herbisida,
 Peningkatan pasokan makanan dengan mengurangi biaya dan umur
simpan lebih lama,
 Cepat tumbuh tanaman dan hewan,
 Makanan dengan sifat yang lebih diinginkan, seperti kentang yang
menyerap lebih sedikit lemak jika digoreng,
 Makanan obat yang dapat digunakan sebagai vaksin atau obat lain

2.5 Dampak negatif dan solusinya dari GMO


Pemanfaatan bioteknologi untuk meningkatkan produksi pertanian
menimbulkan kecemasan bagi sementara pihak tentang kesehatan, yang
menyangkut keselamatan umum, perlindungan lingkungan sampai resiko terhadap
kesehatan perorangan. Bioteknologi pertanian memberikan harapan terciptanya
suatu sistem pertanian yang berkelanjutan. Tetapi ada yang berpendapat bahwa
bioteknologi dapat mengakibatkan terciptanya gulma baru maupun hama dan
penyakit baru, memasukkan racun dalam makanan, merusak pendapatan petani,
mengganggu sistem pangan dunia, dan merusak keanekaragaman hayati.
Masalah utama dengan rekayasa genetika adalah bahwa proses
memasukkan gen ke dalam DNA dari tanaman pangan adalah acak; ilmuwan
tidak tahu di mana gen pergi. Hal ini dapat mengganggu fungsi gen lain dan
membuat protein baru yang belum pernah ada dalam penyediaan makanan dan
bisa membuat racun dan alergen dalam makanan.
Adapun pada perakteknya banyak ditemukan penggunanaan GMO produk
justru mengakibatkan dampak pencemaran lingkungan. Herbisida yang digunakan
dapat membahayakan burung, serangga, amfibi, ekosistem laut, dan organisme
tanah. Mereka mengurangi keanekaragaman hayati dan mencemari sumber air.
Misalnya di amaerika serikat Tanaman GM mengakibatkan habitat kupu kupu
monarch populasinya turun 50%.. Herbisida Roundup telah terbukti menyebabkan
cacat lahir pada amfibi, kematian embrio dan gangguan endokrin, dan kerusakan
organ pada hewan bahkan pada dosis yang sangat rendah. GM canola telah
ditemukan tumbuh liar di North Dakota dan California, mengancam untuk
mewariskan gen toleran herbisida pada gulma.
Potensi dampak merugikan juga terdapat dari pangan rekayasa genetika
seperti dapat merusak keanekaragaman hayati, misalnya dengan kebutuhan
terhadap penggunaan pestisida tertentu yang terkait dengan tanaman rekayasa
genetika yang sangat beracun bagi banyak spesies, dan dengan penggunaan gen
eksotis dan organisme ke dalam lingkungan yang dapat mengganggu komunitas
tumbuhan alami dan ekosistem lainnya. Berikut potensi dampak merugikan dari
rekayasa genetik meliputi (WHO, 2002; Medline Plus, 2012; Harvard, 2012; Web
MD, 2014) :

 Tanaman atau hewan yang dimodifikasi mungkin memiliki perubahan


genetik yang tak terduga dan berbahaya bagi kesehatan,
 Organisme yang dimodifikasi dapat kawin silang dengan organisme alami
tetapi dapat menyebabkan kepunahan organisme asli atau efek lingkungan
yang tak terduga lainnya,
 Tanaman mungkin kurang tahan terhadap beberapa hama dan lebih rentan
terhadap orang lain,
 Komponen tertentu dianggap dapat memberikan alergen dan racun ke
makanan,
 Kecenderungan untuk memprovokasi reaksi alergi (alergenisitas)
 Kontaminasi antara makanan yang dimodifikasi secara genetic modified
dan non-genetic modified,
 Resistensi antibiotik,
 Berkaitan dengan stabilitas gen yang disisipkan
 Mengubah kandungan zat gizi dari tanaman secara negatif (mengurangi),
 Penciptaan "super" gulma dan risiko lingkungan lainnya,

Pentingnya lingkungan dalam sistem pertanian sering dikaitkan dengan


konservasi sumber daya alam dan sumber daya hayati. Kekhawatiran dari
penerapan bioteknologi pertanian adalah potensi timbulnya organisme baru yang
dapat berkembang biak dengan tidak terkendali sehingga merusak keseimbangan
alam. Tanaman transgenik yang memiliki keunggulan sifat-sifat tertentu
dikhawatirkan menjadi “gulma super” yang berperilaku seperti gulma dan tidak
dapat dikendalikan. Selain menimbulkan dampak agroekosistem, produk pangan
transgenik dikhawatirkan membahayakan bagi kesehatan manusia. Salah satu
tanaman transgenik dapat menimbulkan alergi pada uji laboratorium, yaitu kedelai
transgenik yang mengandung methionine-rich protein dari Brazil.
Ada empat jenis resiko yang mungkin ditimbulkan oleh produk transgenik
yaitu : (1) Efek akibat gen asing yang diintroduksi ke dalam organisme
transgenik, (2) Efek yang tidak diharapkan dan tidak ditargetkan akibat
penyisipan gen secara random dan interaksi antara gen asing dan gen inang di
dalam organisme transgenik, (3) Efek yang dikaitkan dengan sifat konstruksi gen
artifisial yang disisipkan ke dalam organisme transgenik, dan (4) Efek dari aliran
gen, terutama penyebaran secara horizontal dan sekunder dari gen dan konstruksi
gen dari organisme transgenik ke spesies yang tidak berkerabat.
Resiko di atas menimbulkan potensi bahaya bagi lingkungan dan manusia
sebagai berikut: (1) Pemindahan DNA transgenik secara horisontal ke
mikroorganisme tanah, yang dapat mempengaruhi ekologi tanah, (2) Kerusakan
organisme tanah akibat toksin dari transgenik yang bersifat pestisida, (3)
Gangguan ekologis akibat transfer transgen kepada kerabat liar tanaman, (4)
Kerusakan pada serangga yang menguntungkan akibat transgenik bersifat
pestisida, (5) Timbulnya virus baru, (6) Meningkatnya resistensi terhadap
antibiotik, termasuk dan terutama pada manusia yang memakan produk
transgenik, dan (7) Meningkatnya kecenderungan allergen, sifat toksik atau
menurunnya nilai gizi pada pangan transgenik.
Keamanan pangan merupakan jaminan bahwa suatu pangan tidak akan
menyebabkan bahaya bagi konsumen, apabila pangan tersebut disiapkan/dimasak
dan atau dikonsumsi sesuai dengan petunjuk dan penggunaan makanan tersebut.
Untuk produksi bahan pangan, jasad hidup yang digunakan haruslah jasad hidup
kelompok GRAS (Generally Recognizes as Safe), yaitu kelompok jasad hidup
yang dianggap aman digunakan sebagai sumber bahan pangan.
Dalam rangka pengendalian pangan, parameter obyektif sangat diperlukan
dalam pembuatan keputusan. Hal itu adalah kebutuhan terhadap kualitas pangan
dan standard keamanan, pedoman dan rekomendasi. Perdagangan pada pangan
organik dan hasil pertumbuhan pada sektor ini dibatasi oleh ketidakadaan
peraturan yang harmonis diantara partner-partner dagang yang potensial. Pada
tahun 1991, masyarakat Eropa mengadopsi peraturan tentang produksi organik
hasil pertanian. Pada tahun 1999, CODEX Alimentarius Commission (CAC)
membuat pedoman untuk produksi, pemrosesan, pelabelan dan pemasaran
makanan-makanan yang diproduksi secara organik. Peraturan-peraturan ini
mengatur prinsip-prinsip produksi organik di lahan, pada tahap persiapan,
penyimpanan, transportasi, pelabelan dan pemasaran. Hal ini tidak secara
langsung mencakup hewan ternak tetapi pada proses pengembangan peraturan
untuk produksi hewan ternak secara organik. Adopsi dari pedoman internasional
merupakan langkah yang penting dalam penyediaan pendekatan yang terpadu
untuk mengatur subsektor makanan organik dan fasilitas bagi perdagangan
makanan organik. Pemahanam umum tentang pengertian dari organik seperti
halnya yang ada pada pedoman internasional yang diketahui memberikan ukuran
yang penting terhadap gerakan pemberdayaan perlindungan konsumen melawan
praktek-praktek kecurangan.
Pengertian pertanian organik awalnya berkembang dari konsep pertanian
akrap lingkungan yang di perkenalkan oleh Mokichi Okada pada tahun 1935,
yang kemudian dikanal dengan konsep Kyusei Nature Farming (KNF). Konsep ini
memiliki lima prinsip, yaitu : (1) Menghasilkan makanan yang aman dan bergizi;
(2) Menguntungkan baik secara ekonomi maupun spiritual; (3) Mudah
dipraktekkan dan mampu langgeng; (4) Menghormati alam dan menjaga
kelestarian lingkungan; dan (5) Menghasilkan makanan yang cukup untuk
manusia dengan populasi yang semakin meningkat.
Pertanian organik merupakan metode pertanian yang tidak menggunakan
pupuk sintetis dan pestisida. Gambaran ini tidak menyebutkan esensi dari bentuk
pertanian, tetapi pengelolaan pertanian seperti pemupukan tanah dan pengendalian
masalah hama penyakit. Meskipun banyak teknik tunggal yang digunakan pada
pertanian organik digunakan dalam kisaran luas sistem pengelolaan pertanian,
yang membedakan pertanian organik adalah titik tekan dari pengelolaannya. Pada
sistem organik titik tekannya adalah pemeliharaan dan pengembangan secara
menyeluruh pada kesehatan tanah-mikroba-tanaman-hewan (holistic approach)
pada pertanian individual, yang berpengaruh terhadap hasil saat ini dan di masa
mendatang. Penekanan pada pertanian organik adalah pada penggunaan input
(termasuk pengetahuan) dengan cara yang mendorong proses biologis dalam
penyediaan unsur hara tersedia dan ketahanan terhadap serangan organisme
pengganggu tanaman. Pengeloaan secara langsung diarahkan pada pencegahan
masalah, dengan menstimulasi proses-proses yang mendukung dalam penyediaan
hara dan pengendalian hama penyakit.
Departmen Pertanian Amerika Serikat (1980), menegaskan konsep
pertanian organik adalah sebagai berikut: sistem produksi yang menghindari
penggunaan pupuk sintetis, pertisida, hormon pertumbuhan, dan bahan aditif
sintetik makanan ternak. Untuk hasil yang maksimum, sistem pertanian organik
mengandalkan rotasi tanaman, sisa-sisa tanaman, pupuk kandang, legume, pupuk
hijau, sampah-sampah organik, budidaya mekanis, batuan mineral, dan aspek-
aspek pengendalian hama penyakit biologis untuk memelihara produktivitas tanah
untuk menyediakan hara tanaman dan untuk mengendalikan serangga, gulma dan
organisme pengganggu tanaman lainnya.
Menurut CAC (1999), pertanian organik adalah keseluruhan sistem
pengelolaan produksi yang mendorong dan mengembangkan kesehatan
agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologis dan aktivitas biologis
tanah. Hal itu menekankan penggunaan praktek-praktek pengelolaan yang
mengutamakan penggunaan input off-farm yang memperhitungkan kondisi
regional sistem yang disesuaikan secara lokal. Hal ini merupakan penyempurnaan
dengan menggunakan jika memungkinkan agronomik, biologis, dan metode
mekanis yang bertentangan dengan penggunaan bahan-bahan sintetik untuk
memenuhi fungsi-fungsi spesifik dalam sistem.
Sistem pertanian organik berpijak pada kesuburan tanah sebagai kunci
keberhasilan produksi dengan memperhatikan kemampuan alami dari tanah,
tanaman, dan hewan untuk menghasilkan kualitas yang baik bagi hasil pertanian
maupun lingkungan. Ada tiga kunci yang harus ada pada sistem pertanian
organik, yaitu : (1) merupakan suatu sistem pertanian menyeluruh; (2) membatasi
bahan aatau input noorganik; dan (3) menjaga kelestariaan dan kelangsungan
agroekosistem. Prinsip pertanian organik adalah bersahabat dan selaras dengan
lingkungan.
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII menyatakan bahwa
pangan rekayasa genetik dapat diterima dengan prinsip kehati-hatian, selektif, dan
memerhatikan bio-etika sepanjang tidak membahayakan kesehatan dan
lingkungan. Begitu juga biofortifikasi pangan melalui budidaya tanaman untuk
meningkatkan kandungan dan mutu gizi pangan.
WNPG VIII juga merekomendasikan untuk mengembangkan produk
rekayasa lokal berdasarkan keragaman hayati lokal dengan tidak membahayakan
kesehatan dan keragaman hayati, serta tidak menimbulkan ketergantungan
ekonomi pada negara lain. Rekomendasi lain WNPG VIII adalah pelabelan
produk makanan yang berbahan pangan transgenik. Pelabelan itu sendiri bukan
untuk menyatakan keamanan produk itu, tetapi lebih sebagai informasi kepada
masyarakat agar dapat menentukan pilihan.
Indonesia sudah mengatur pangan hasil rekayasa genetika melalui
Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Pasal 13 undang-
undang tersebut menyebutkan bahwa:
1. Setiap orang yang memproduksi pangan atau menggunakan bahan baku,
bahan tambahan pangan, dan atau bahan baku lain dalam kegiatan atau
proses produksi pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika
wajib terlebih dahulu memeriksakan keamanan pangan bagi kesehatan
manusia sebelum diedarkan;
2. Pemerintah menetapkan persyaratan dan prinsip penelitian,
pengembangan, dan pemanfaatan metode rekayasa genetika dalam
kegiatan atau proses produksi pangan, serta menetapkan persyaratan bagi
pengujian pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika

2.6 Nomena

Q.S. Al-Isra ayat 70

”Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut
mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan
Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan
kelebihan yang sempurna.”

Q.S. Al-Mujadilah ayat 11

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah


kelapangan di dalam majelis-majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu", maka
berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah dipaparkan pada bagian pembahasan, dapat
disimpulkan bahwa
 Pangan transgenik atau GMO (genetically modified organism) adalah
penganan yang bahan dasarnya berasal dari organisme hasil rekayasa
genetika
 Ada beberapa aplikasi GMO, yaitu pada pertanian, perkebunan, keshatan,
lingkungan dan industry
 Tujuan dari Rekayasa ini adalah untuk menciptakan kegiatan pertanian
yang berkelanjutan, memberikan hasil yang lebih tinggi untuk memberi
makan populasi tumbuh di dunia, mengurangi penggunaan pestisida,
membantu memenuhi tantangan perubahan iklim, memberikan makanan
yang lebih bergizi, dan membuat pertanian lebih mudah dan lebih
menguntungkan.
 GMO memiliki dampak positif dan negatif didalamnya.
 Di dalam GMO terdapat syarat pengkajian dan syarat pengiriman GMO
(Genetically Modified Organism) pada produk pangan dan Lembaga
Penguji.
 GMO memiliki Pengaruh Terhadap Nilai Gizi Pangan.
Contoh bahan pangan transgenic
1. Keripik kentang Mister Potato, produksi PT. Pasific Food Indonesia.
No Depkes BPOM RI ML 255501031081.
2. Keripik kentang Pringles, diimpor oleh PT. Procter & Gamble Home
Products Indonesia. No. Depkes BPOM RI ML 362204007321.
3. Tepung jagung Honig Maizena, diimpor oleh Fa. Usahana. No Depkes
ML 328002001014.
DAFTAR PUSTAKA

Q.S. Al-Isra : 70 dalam Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah. Penerbit Pustaka Al-
Kautsar: Jakarta

Q.S. Al-Mujadilah : 11 dalam Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah. Penerbit


Pustaka Al-Kautsar: Jakarta

Hartiko, Hari. 2005. "Mengantisipasi Pangan Transgenik". Department of Food


Science and Technology. IPB : Bogor

Matsui, S., S. Miyazaki and K. Kasamo. 2012. "Genetically Modified Foods".


Presidents and Fellows of Harvard College. Published by the
Center for Health and the Global Environment. Harvard
University.

Medine Plus. 2012. "Genetically Engineered Foods". Melalui


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002432.html [30-
10-2017]

Putri, Rizka Andari. 2014. "Pangan Transgenik". DIII Gizi Malang, Politeknik

Kesehatan: Malang

WHO. 2002. “20 Questions on Genetically Modified (Gm) Foods and Food,
Genetically Modified”. Melalui:
http://www.who.int/foodsafety/publications/biotech/en/20questions
_en.pdf [30-10-2017]
Koswara. 2015. “Genetically Modified Organism”. Melalui
https://www.kompasiana.com/fishroe/genetically-modified-
organism-gmo [30-10-2017]

Suranto, S. 1999. “Krisis Pangan Dunia dan Prospek Pendekatan Biologi


Molekul Untuk Mengatasinya”. Hayati 6(2): 47 – 50

Moeljopawiro, S. 2002. “Bioetika Penelitian Pertanian”. Perlindungan Varietas


Tanaman: Jakarta