Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

EKONOMI ISLAM I

SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM KLASIK

OLEH :
FAHRUR ROZI
KUSNAN SUHARDI
RANTI PURNAMASARI
RESTU ANSHORY
RIO FAHRIYANTO
SUGI WARDANI
YUNITA INDRIYANI
ZOFIRATUL AULIYYAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmatdan
karunia-Nya sehingga makalah tentang Perdagangan Internasional dapat
terselesaikan dan diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

Terima kasih juga kami ucapka kepada teman teman yang telah membantu
kami, dalam menyusun makalah ini.

Makalah ini memang masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna menjadi lebih baik lagi.

Mataram, 07 November 2019

KELOMPOK 3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................

DAFTAR ISI..................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN..............................................................................................

A. Latar Belakang..................................................................................................
B. Rumusan Masalah............................................................................................
C. Tujuan Penelitian..............................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN...............................................................................................

A. Abu Yusuf..........................................................................................................
B. Abu Ubaid..........................................................................................................
C. Al – Ghazali.......................................................................................................
D. Ibnu Taimiyah...................................................................................................
E. Ibnu Khaldun.....................................................................................................
F. Ibnu Mawardhi..................................................................................................
G. Asy – Syatibi.....................................................................................................
H. Al – Syaibani.....................................................................................................
I. Yahya bin Umar................................................................................................

BAB III : PENUTUP......................................................................................................

A. Kesimpulan.......................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pemikiran ekonomi Islam adalah respons para pemikir muslim terhadap
tantangan-tantangan ekonomi pada masa mereka. Pemikiran ekonomi Islam
tersebut diilhami dan dipandu oleh ajaran Al-Quran dan Sunnah juga oleh
ijtihad (pemikiran) dan pengalaman empiris mereka. Pemikiran merupakan
sebuah proses kemanusiaan, namun ajaran Al-quran dan sunnah bukanlah
pemikiran manusia. Yang menjadi objek kajian dalam pemikiran ekonomi
Islam bukanlah ajaran Al-quran dan sunnah tentang ekonomi tetapi pemikiran
para ilmuwan Islam tentang ekonomi dalam sejarah atau bagaimana mereka
memahami ajaran Al-Quran dan Sunnah tentang ekonomi. Obyek pemikiran
ekonomi Islam juga mencakup bagaimana sejarah ekonomi Islam yang terjadi
dalam praktek historis.

Pemikiran Ekonomi Islam diawali sejak Muhammad SAW ditunjuk sebagai


seorang Rosul. Rosululoh SAW mengeluarkan sejumlah kebijkan yang
menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan,
selain masalah hukum (fiqih), politik (siyasah), juga masalah perniagaan atau
ekonomi (muamalah). Masalah-masalah ekonomi umat menjadi perhatian
Rosululloh SAW, karena masalah ekonomi merupakan pilar penyangga
keimanan yang harus diperhatikan. Selanjutnya, kebijakan-kebijakan
Rosululloh SAW menjadikan pedoman oleh para Khalifah sebagai
penggantinya dalam memutuskan masalah-masalah ekonomi. Al-Qur’an dan
Al-Hadist digunakan sebagai dasar teori ekonomi oleh para khalifah juga
digunakan oleh para pengikutnya dalam menata kehidupan ekonomi negara.

Setelah wafatnya nabi kepemimpinan dipegang oleh Khulafa al Rasyidin,


berbagai perkembangan, gagasan, dan pemikiran muncul pada masa itu. Hal
ini tercermin dari kebijakan-kebijakan yang berbeda antar Khalifah itu sendiri,
kebijakan-kebijakan itupun muncul sebagai akibat dari munculnya masalah-
masalah baru. Salah satunya pemenuhan kehidupan masyarakat di bidang
ekonomi sehingga masalah teknis untuk mengatasi masalah-masalah
perniagaan muncul pada waktu itu. Sejumlah aturan yang bersumberkan Al-
Qur’an dan Hadist Nabi hadir untuk memecahkan masalah ekonomi yang
ada. Masalah ekonomi menjadi bagian yang penting pada masa itu.

Setelah perkembangan pemikiran ekonomi islam pasca Rosululloh SAW dan


khulafaurrasyidin , muncul perkembangan pada abad pertengahan yang
dibagi menjadi 3 periode yang didasarkan atas nama tokoh ekonomi Islam
tersebut hidup. Yaitu Ekonomi Islam periode awal Islam sampai 1058 M.
Tokohnya antara lain : Zaid bin Ali (738), Abu Hanifa (798), Ibnu Farabi (950),
Ibnu Sina (1037), dll. Ekonomi Islam periode kedua (1058-1446M). Tokohnya
antara lain : Al-Ghazali (1111), Ibnu Taimiyah (1328), Ibnu Khaldun (1040),
Ibnu Rusyd (1198), dll. Dan Ekonomi Islam periode ketiga (1446-1931 M)
Tokohya antara lain : Jamaluddin Al-Afghani (1897), Muhammad Iqbal (1938),
Syekh Ahmaad Sirhindi (1524), dll.

Dengan demikian, kajian historis dalam pemikiran ekonomi islam adalah


bagaimana usaha manusia dalam menginterpretasi dan mengaplikasikan
ajaran Alquran pada waktu dan tempat tertentu dan bagaimana orang-orang
dahulu mencoba memahami dan mengamati kegiatan ekonomi juga
menganalisa kebijakan-kebijakan ekonomi yang terjadi pada masanya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Seperti apa pemikiran pemikiran tokoh tokoh islam pada masa ekonomi
islam klasik ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah ekonomi islam I
2. Untuk mengetahui seperti apa pemikiran pemikiran tokoh islam pada
masa ekonomi islam klasik
BAB II

PEMBAHASAN

A. Abu Yusuf (112-182 H/ 731-798 M)


Abu Yusuf adalah seorang hakim dan sahabat Abu Hanifah.Ia dikenal dengan
panggilan jabatanya (al-Qadli=hakim) Abu Yusuf Ya’qub Ibrahim dan dikenal
perhatianya atas keuangan umum serta perhatianya pada peran negara,
pekerjaan umum, dan perkembangan pertanian. Ia pun dikenal sebagai
penulis pertama buku perpajakan, yakni Kitab al-Kharaj. Karya ini berbeda
dengan karya Abu ‘Ubayd yang datang kemudian. Kitab ini, sebagaimana
dinyatakan dalam pengantarnya, ditulis atas permintaan dari penguasa pada
zamanya, yakni Khalifah Harun al-Rasyid, dengan tujuan untuk menghindari
kedzaliman yang menimpa rakyatnya serta mendatangkan kemaslahatan bagi
penguasa.

Oleh karena itu, buku ini mencakup pembahasan sekitar jibayat al-kharaj, al-
µusyur, al-shadaqat wa al-jawali (al-jizyah). Tulisan Abu Yusuf ini
mempertegas bahwa ilmu ekonomi adalah bagian tak terpisahkan dari seni
dan menejemen pemerintahan dalam rangka pelaksanaan amanat yang
dibebankan rakyat kepada pemerintah untuk mensejahterakan mereka.
Dengan kata lain, tema sentral pemikiran ekonominya menekankan pada
tanggung jawab penguasa untuk mensejahterakan rakyatnya. Ia adalah
peletak dasar prinsip-prinsip perpajakan yang dikemudian hari diambil´ oleh
para ahli ekonomi sebagai canons of taxation. Sedangkan pemikiran
kontroversialnya ada pada pandanganya yang menentang pengendalian
harga atau tas’ir , yakni penetapan harga oleh penguasa.

B. Abu Ubaid (150-224 H)


Abu Ubaid bernama lengkap Al-Qasim bin Sallam bin Miskin bin zaid Al-
Harawi Al-Azadi Al-Baghdadi. la lahir pada tahun 150 H di Kota Harrah
Khurasan, sebelah barat laut Afghanistan. Ayahnya keturunan Byzantium
yang menjadi maula suku Azad. Setelah memperolen ilmu yang memadai di
kota kelahirannya, pada usia 20 tahun Abu Ubaid pergi berkelana untuk
menuntut ilmu ke berbagai kota, seperti Kufah, basrah, dan Baghdad. llmu
ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu tata bahasa Arab, qira’at, tafsit, hadist dan
fiqh. Gubernur Thugur pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid,
Tsabit ibn Nasr ibn Malik pada tahun 192 H mengangkat Abu Ubaid sebagai
qadi (hakim) di Tarsus hingga tahun 210 H. Setelah itu, penulis kitab Al-
Amwal ini tinggal di Baghdad selama 10 tahun. Pada tahun 219 H, setelah
berhaji ia menetap di Mekah sampai wafat pada tahun 224 H
(Kallek 1998 dalam Karim, 2010).

Abu Ubaid terkenal sebagai ahli hadis dan ahli fiqih terkemuka pada masa
hidupnya. la tercatat pernah menjabat sebagai qadi di Tarsus yang
menangani berbagai kasus pertanahan dan perpajakan.

Hal yang menjadi fokus perhatian Abu Ubaid dalam kitabnya yang terkenal,
Al-Amwal berkaitan dengan standar etika politik suatu pemerintahan daripada
teknik
efisiensi pengelolaannya. Kitab A-Amwal dibagi dalam beberapa bagian dan
bab yang tidak proporsional isinya. Jika kita, telisik kitab Ak-Amwal
menekankan keadilan sebagai suatu prinsip utama dalam suatu
perekonomian. Pengimplementasian atas prinsip-prinsip keadilan akan
mampu membawa kesejahteraan ekonomi dan keselarasan sosial
masyarakat. Abu Ubaid menekankan pendekatan yang berimbang atas hak-
hak individu, publik, dan negara. Jika kepentingan individu berbenturan
dengan kepentingan publik, ia akan berpihak pada kepentingan publik.

Abu Ubaid mengajukan preposisi mengenai dikotomi badui-urban ketika


menyoroti alokasi pendapatan fai. la menegaskan kaum urban perkotaan.
(Kallek, 1998 dalam Karim, 2010)
1. ikut serta dalam keberlangsungan negara dengan berbagi kewajiban
administratif dari semua kaum Muslim
2. memelihara dan memperkuat pertahanan sipil melalui mobilisasi jiwa dan
harta mereka
3. menggalakkan pendidikan melalui proses belajar mengajar Al Qur’an dan
Sunnah serta penyebaran keunggulannya
4.memberikan kontribusi terhadap keselarasan sosial melalui pembelajaran
dan penerapan hudud
5. memberikan contoh universalisme Islam dengan shalat berjamaah.

Adapun kaum badui yang tidak memberikan kontribusi sebesar yang telah
dilakukan kaum urban, tidak dapat memperoleh manfaat pendapatan fai
sebanyak kaum urban. Dalam hal ini kaum badui tidak berhak menerima
tunjangan dan provisi dari negara. Mereka memiliki hak klaim sementara
terhadap penerimaan fai hanya pada saat terjadi tiga kondisi kritis, yakni
invasi musuh, kemarau panjang, dan kerusuhan sipil. Abu Ubaid memperluas
cakupan kaum badui dengan memasukkan golongan masyarakat
pegunungan dan pedesaan (Kallek, 1998 dalam Karim, 2010)

Kepemilikan pribadi dan kepemilikan publik diakui dalam pemikiran ekonomi


Abu Ubaid. Selain itu, Abu Ubaid mencetuskan pemberian tanah kepada
masyarakat untuk diolah dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.
Akan tetapi jika tanah tersebut dibiarkan menganggur selama tiga tahun
berturut-turut, akan didenda dan dialihkan kepemilikannya oleh penguasa
(Kallek, 1998 dalam Karim, 2010).

Kemudian, ia membagi kelompok masyarakat berdasarkan sosio-


ekonominya, yaitu (Kallek, 1998 dalam Karim, 2010):
1. kalangan kaya yang terkena kewajiban zakat
2. kalangan menengah yang tidak terkena kewajiban zakat, tetapi juga tidak
berhak menerima zakat
3 kalangan penerima zakat.

Berkaitan dengan fungsi uang dalam perekonomian, Abu Ubaid mengakui


fungsi uang hanya sebagal standar nilai pertukaran (standard of exchange)
dan media pertukaran medum of exchange).
Secara umum, pemikiran ekonomi yang diajukan oleh Abu Ubaid
adalah sebagai berikut.
1. Negara memiliki sumber pendapatan yang utama dari fai, khums, dan
shadaqah serta pendistribusian atas berbagai pendapatan Negara tersebut
kepada masyarakat.
2.Kepentingan individu apabila berbenturan dengan kepentingan publik,
kepentingan publik harus diutamakan.
3.Pendistribusian yang bertbeda atas kelompok badui dan urban, yaitu
kelompok urban mendapatkan hak yang lebih dibandingkan dengan badui
karena sumbangsihnya terhadap negara.
4. Menentang pendapat yang menyatakan bahwa pembagian harta zakat
harus dilakukan secara merata di antara delapan kelompok penerima zakat
dan cenderung menentukan suatu batas tertinggi terhadap bagian
perorangan.
5. Fungsi uang yang hanya sebagai sarana pertukaran (medium of exchange)
dan sarana penyimpan nilai (store of value)
6. Konsep timbangan dan ukuran dalam transaksi ekonomi.

C. Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)


Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Tusi Al-Ghazali lahir
di Thus, sebuah kota kecil di Khurasan, Iran pada tahun 450 H (1058 M).
Sejak muda Al-Ghazali sangat antusias dengan ilmu pengetahuan.

Menurut Al-Ghazali, kesejahteraan (maslahah) dari suatu masyarakat


bergantung pada pencarian dan pemeliharaan lima tujuan dasar, yakni
agama (al-dien), hidup atau jiwa (nafs), keluarga atau keturunan (nasl), harta
atau kekayaan (maal), dan intelektual atau akal (aql). Ia menitikberatkan
bahwa sesuai dengan tuntutan wahyu, tujuan utama kehidupan umat manusia
adalah untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat (Al-Ghazali dalam
Karim, 2010:318).

Al-Ghazali mendefinisikan aspek ekonomi dari fungsi kesejahteraan sosialnya


dalam kerangka sebuah hierarki utilitas individu dan sosial yang triparite,
yakni kebutuhan (darurat), kesenangan atau kenyamanan (daruriat),
kesenangan atau kenyamanan (hajat), dan kemewahan (tahsinat). Hierarki
tersebut merupakan sebuah klasifikasi peninggalan tradisi Aristotelian yang
disebut sebagai kebutuhan ordinal yang terdiri atas kebutuhan dasar
kebutuhan terhadap barang-barang eksternal, dan kebutuhan terhadap psikis
(Lowry, 1987 dalam Karim, 2010).

Al-Ghazali memandang perkembangan ekonomi sebagai bagian dari tugas-


tugas kewajiban sosial yang sudah ditetapkan allah SWT. Jika hal ini tidak
terpenuhi, kehidupan manusia akan runtuh dan kemanusiaan akan binasa.
Aktivitas ekonomi harus dilakukan secara efisien karena merupakan baguan
dari pemenuhan tugas keagamaan seseorang. Selanjutnya, ia
mengidentifikasi tiga alasan seseorang harus melakukan aktivitas ekonomi.
Pertama, untuk mencukupi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Kedua,
memberikan kesejahteraan bagi keluarganya. Ketiga, membantu orang lain
yang membutuhkan. (Ghazanfar dan Islahi, 1990 dalam Karim, 2010).

Pendapatan dan kekayaan seseorang menurut Al-Ghazali diperoleh dari tiga


sumber, yaitu pendapatan melalui tenaga individual, laba perdagangan,
pendapatan karena nasib baik. Contoh pendapatan karena nasib baik adalah
warisan atau menemukan harta terpendam. Selama memungkinkan,
kekayaan harus dilakukan secara sukarela, yang lebih dimotivasi oleh
kewajiban moral agama terhadap sesama manusia daripada melalui
kekuasaan negara. Al-Ghazali beralasan bahwa tanpa pembagian secara
sukarela akan muncul dua hal yang patut dipersalahkan, yakni boros dan
kikir. (Ghazanfar dan Islahi, 1990 dalam Karim, 2010).

Mengenai dengan teori permintaan dan penawaran, meskipun dalam


bahasanya tidak menggunakan istilah-istilah moderen. Al-Ghazali telah
berbicara tentang “harga yang berlaku” seperti yang ditentukan oleh praktik-
praktik pasar, sebuah konsep yang kemudian dikenal sebagai al-tsaman al-
adil (harga yang adil) dikalangan ilmuwan Muslim atau equilibrium price
(harga keseimbangan) dikalangan ilmuwan Barat kontemporer. Selain itu,
dibahas pula permasalahan harga dan laba secara bersamaan tanpa
membedakan antara biaya dan pendapatan. Al-Ghazali sangat kritis terhadap
perilaku yang melakukan penarikan laba secara berlebihan. Berkaitan dengan
hal ini, ia menyatakan bahwa laba normal seharusnya berkisar antara 5-10%
dari harga barang (Ghazanfar dan Islahi, 1990 dalam Karim, 2010).

Pasar menurut Al-Ghazali harus berfungsi berdasarkan etika dan moral para
pelakunya. Secara khusus ia memperingatkan larangan mengambil
keutungan dengan cara menimbun barang. Pelaku yang menimbun barang
untuk menarik keuntungan harus dikutuk. Pasar harus berjalan dengan bebas
dan bersih dari segala bentuk penipuan. Perilaku para pelaku pasar harus
mencrminkan kebajikan, yaitu memberikan suatu tambahan disamping
keutungan material bagi orang lain dalam bertransaksi (Ghazanfar dan Islahi,
1990 dalam Karim, 2010).

Al-Ghazali secara garis besar membagi aktivitas produksi dalam tiga


kelompok berikut (Karim, 2010).
1. Industri dasar, yaitu industri yang menjaga kelangsungan hidup manusia.
2. Aktivitas penyokong, yaitu aktivas yang bersufat tambahan bagi industri
dasar.
3. Aktiviitas komplementer yang berkaitan dengan industri dasar.

Al-Ghazali mempunyai wawasan yang sangat luas dan mendalam tentang


berbagai kesulitan yang timbul dari pertukaran barter pada satu sisi dan
signifikansi uang dalam kehidupan umat manusia pada sisi lain. Berbagai
pandangan Al-Ghazali mengenai permasalahan dalam barter dalam istilah
modern disebut sebagai :

1. kesulitan dalam menentukan nilai;


2. barang tidak dapat dibagi-bagi;
3. kesulitan menemukan permintaan yang sama.

Bagi Al-Ghazali, larangan riba yang sering dipandang sama dengan bunga
merupakan hal mutlak, terlepas dari alasan “dosa”, argumen lainnya yang
menentang riba adalah kemungkunan terjadinya eksploitasi ekonomi dan
ketidakadilan dalam transaksi. Selanjutnya Al-Ghazali menyatakan bahwa
menetapkan bunga atas utang piutang berarrti membelokkan uang dari fungsi
utamanya, yaitu mengukur kegunaan objek pertukaran. Oleh karena itu,
apabila jumlah uang yang diterima lebih banyak daripada jumlah uang yang
diberikan, akan terjadi perubahan standar nilai, perubahan ini terlarang.

D. Ibnu Taimiyyah (661-728 H/1263-1328 M)


Ibnu taimiyyah yang bernama lengkap Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim
lahir dikota Harran pada tanggal 22 Januari 1263 M (10 Rabiul awwal 661 H).
ia berasal dari keluarga yang berpendidikan tinggi. Ayah, paman dan
kakeknya merupakan ulama besar mazhab Hanbali dan penulis sejumlah
buku.

Berkat kecerdasan dan kejeniusannya, Ibnu Taimiyah yang masih berusia


sangat muda telah mampu menamatkan sejumlah mata pelajaran, seperti
tafsir, hadits, fiqih, matematika dan filsafat, serta menjadi yang terbaik
diantara teman-teman seperguruannya. Guru Ibnu Taimiyah berjumlah 200
orang, diantarannya adalah Syamsuddin Al-Maqdisi, Ahmad bin Abu Al-khoir,
Ibn Abi Al-Yusr, dan Al- Kamal bin Abdul Majd bin Asakir.

Kehidupan Ibnu Taimiyah tidak hanya terbatas pada dunia buku dan kata-
kata. Ketika kondisi menginginkannya, tanpa ragu-ragu ia turut serta dalam
dunia politik dan urusan public. Dengan kata lain, keistimewaan diri Ibnu
Taimiyah tidak hanya terbatas pada kepiawaiannya dalam menulis dan
berpidato, tetapi juga mencakup keberaniannya dalam berlaga dimedan
perang.

Penghormatan yang lebih besar yang diberikan masyarakat dan pemerintah


kepada Ibnu Taimiyah membuat sebagian orang merasa iri dan berusaha
untuk menjatuhkan dirinya. Sejarah mencatat bahwa sepanjang hidupnya,
Ibnu Taimiyah telah menjalani masa tahanan sebanyak empat kali akibat
fitnah yang dilontarkan para penentangnya.
Selama dalam tahanan Ibnu Taimiyah tidak pernah berhenti untuk menulis
dan mengajar. Bahkan, ketika penguasa mencabut haknya untuk menulis
dengan cara mengambil pena dan kertasnya, ia tetap menulis dengan
menggunakan batu arang. Ibnu Taimiyah meninggal dunia didalam tahanan
pada tanggal 26 September 1328 M (20 Dzul Qaidah 728 H) setelah
mengalami perlakuan yang sangat kasar selama lima bulan.

Pemikiran ekonomi Ibnu Taimiyah banyak diambil dari berbagai karya


tulisnya, antara lain Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam, as-Syar’iyyah fi Ishlah ar-
Ra’I wa ar-Ra’iyah dan al-Hisbah fi al-Islam.

1. Harga yang Adil


Konsep harga yang adil pada hakikatnya telah ada dan digunakan sejak
awal kehadiran Islam. Al-Quran sendiri sangat menekankan keadilan
dalam setiap aspek kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, adalah hal
yang wajar jika keadilan juga diwujudkan dalam aktivitas pasar, khususnya
harga. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah Saw. menggolongkan riba
sebagai penjualan yang terlalu mahal yang melebihi kepercayaan para
konsumen.

Istilah harga adil telah disebutkan dalam beberapa hadits nabi dalam
konteks kompensasi seorang pemilik, misalnya dalam kasus seorang
majikan yang membebaskan budaknya. Dalam hal ini, budak tersebut
menjadi manusia merdeka dan pemiliknya memperoleh sebuah
kompensasi dengan hara yang adil (qimah al-adl).

Secara umum, para fuqoha ini berfikir bahwa harga yang adil adalah
harga yang dibayar untuk objek yang serupa. Oleh karena itu, mereka
lebih mengenalnya sebagai harga yang setara (tsaman al-mitsl). Ibnu
Taimiyah tampaknya orang yang pertama kali menaruh perhatian khusus
terhadap permasalahan harga yang adil.
Konsep Ibnu Taimiyah mengenai kompensasi yang setara (‘iwadh al-mitsl)
tidak sama dengan harga yang adil (tsaman al-mitsl). Persoalan tentang
kompensas yang adil atau setara (‘iwadh al-mitsl) muncul ketika
mengupas persoalan kewajiban moral dan hukum.

2. Konsep Upah yang Adil


Pada abad pertengahan, konsep upah yang adil dimaksudkan sebagai
tingkat upah yang wajib diberikan kepada para pekerja sehingga mereka
dapat hidup secara layak ditengah-tengah masyarakat. Berkenaan dengan
hal ini, Ibnu Taimiyah mengacu pada tingkat harga yang berlaku dipasar
tenaga kerja (tas’ir fil a’mal) dan menggunakan istilah upah yang setara
(ujrah al-mitsl).

Seperti halnya harga, prinsip dasar yang menjadi objek observasi dalam
menentukan suatu tingkat upah adalah definisi menyeluruh tentang
kualitas dan kuantitas. Harga dan upah, ketika keduannya tidak pasti dan
tidak ditntukan atau tidak dispesifikasikan dan tidak diketahui jenisnya,
merupakan hal yang samar dan penuh dengan spekulasi.
3. Konsep Laba yang Adil
Ibnu taimiyah mengakui ide tentang keuntungan yang merupakan motivasi
para pedagang. Menurutnya, para pedagang berhak memperoleh
keuntungan melalui cara-cara yang dapat diterima secara umum (al-ribh al
ma’ruf) tanpa merusak kepentingan dirinya sendiri dan kepentingan para
pelanggannya.

Berdasarkan definisi harga yang adil, Ibnu Taimiyah mendefinisikan laba


yang adil sebagai laba normal yang secara umum diperoleh dari jenis
perdagangan tertentu, tanpa merugikan orang lain. Ia menentang
keuntungan yang tidak lazim, bersifat eksploitatif (gaban fahisy) dengan
memanfaatka ketidakpedulian masyarakat terhadap kondisi pasar yang
ada (mustarsil).

Tujuan utama dari harga yang adil dan berbagai permasalahan lain yang
terkait adalah untuk menegakan keadilan dalam bertransaksi pertukaran
dan berbagai hubungan lainya di antara anggota masyarakat.kedua
konsep ini juga dimaksudkan sebagai panduan bagi para penguasa untuk
melindungi masyarakat dari berbagai tindakan eksploitatif.dengan kata
lain,pada hakikatnya konsep ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat
dalam mempertemukan kewajiban moral dengan kewajiban finansial.

Dalam pandangan Ibnu Taimiyah,adil bagi para pedagang berarti


barang~barang dagangan mereka tidak dipaksa untuk dijual pada tingkat
harga yang dapat menghilang keuntungan normal mereka.

4. Mekanisme pasar
Ibnu Taimiyah memiliki sebuah pemahaman yang jelas tentang
bagaimana, dalam suatu pasar bebas, harga ditentukan oleh kekuatan
permintaan dan penawaran.

Ibnu Taimiyah menyebutkan dua sumber persedian, yakni produksi local


dan impor barang~barang yang diminta (mayukhlaq aw yujlab Min dzalik
al~mal al~matlub). Untuk menggambarkan permintaanterhadap suatu
barang tertentu,ia menggunakan istilah raghbah fial~syai yang berarti
hasrat terhadap sesuatu,yakni barang. Hasrat merupakan salah satu
factor terpenting dalam permintaan, factor lainya adalah pendapatan yang
tidak disebutkan oleh Ibnu Taimiyah perubahan dalam supply
digambarkanya sebagai kenaikan atau penurunan dalam persediaan
barang-barang, yang di sebabkan oleh dua factor,yakni produksi local dan
impor.

5. Regulasi harga
Setelah menguraikan secara panjang lebar tentang konsep harga yang
adil dan mekanisme pasar, Ibnu Taimiyah melanjutkan pembahasan
dengan pemaparan secara detail mengenai konsep kebijakan
pengendalian harga oleh pemerintah. seperti yang akan terlihat , tujuan
regulasi harga adalah untuk menegakan keadilan serta memenuhi
kebutuhan dasar masyarakat.
Ibnu Taimiyah membedakan dua jenis penetapan harga,yakni penetapan
harga yang tidak adil dan cacat hukum serta penetapan harga yang adil
dan sah menurut hukum. Penetapan harga yang tidak adil dan cacat
hukum adalah penetapan harga yang dilakukan pada saat kenaikan
harga-harga terjadi akibat persaingan pasar bebas, yakni kelangkaan
supply atau kenaikan demand.
1) Pasar yang tidak sempurna
Di samping dalam kondisi kekeringan dan perang, Ibnu Taimiyah
merekomendasikan kepada pemerintah agar melakukan kebijakan
penetapan harga pada saat ketidaksempurnaan melanda pasar.
Sebagai contoh, apabila para penjual (arbab al-sila`) menghentikan
penjualan barang-barang mereka kecuali pada harga yang lebih tinggi
dari pada harga normal (al-qimah al-ma`rufah) dan pada saat
bersamaan masyarakat membutuhkan barang-barang tersebut,
mereka akan diminta untuk menjual barang-barangnya pada tingkat
harga yang adil.

Contoh nyata dari pasar yang tidak sempurna adalah adanya


monopoli terhadap makanan dan barang-barang kebutuhan dasar
lainnya. Dalam kasus seperti ini, penguasa harus menetapkan harga
(qimah al-mitsl) terhadap transaksi jual beli mereka. Seorang
monopolis jangan dibiarkan secara bebas untuk menggunakan
kekuatannya karena akan menentukan harga semaunya yang dapat
menzalimi masyarakat.

2) Musyawarah untuk Mnetapkan Harga


Sebelum menerapkan kebijakan penetapan harga, terlebih dahulu
pemerintah harus melakukan musyawarah dengan masyarakat
terkait.

Secara jelas, ia memaparkan kerugian dan bahaya dari penetapan


harga yang sewenang-wenang yang tidak akan memperoleh
dukungan luas, seperti timbulnya pasar gelap atau manipulasi kualitas
tingkat barang yang dijual pada tingkat harga yang ditetapkan.
Berbagai bahaya ini dapat direduksi, bahkan dihilangkan, apabila
harga-harga ditetapkan melalui proses musyawarah dan dengan
menciptakan rasa tanggung jawab moral serta dedikasi terhadap
kepentingan publik.

Pemikiran Ibnu Taimiyah tentang regulasi harga ini juga berlaku


terhadap berbagai faktor produksi lainnya. Seperti yang telah
disinggung jasa mereka sementara masyarakat sangat
membutuhkannya atau terjadi ketidaksempurnaan dalam pasar
tenaga kerja, pemerintah harus menetapkan upah para tenaga kerja.
Tujuan penetapan harga ini adalah untuk melindungi para majikan
dan para pekerja dari aksi saling mengeksploitasi diantara mereka.

E. Ibnu Khaldun (732-808 H/ 1332-1406 M)


Ibnu Khaldun yang bernama lengkap Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin. Ibn
khaldun lahir di Tunisia pada awal ramadhan 732 H atau bertepatan dengan
1332M. keluarga Ibnu Khaldun yg berasal dari Hadramaut, Yaman, terkenal
sebagai keluarga yg berpengetahuan luas, berpangkat, dan menduduki
berbagai jabatan tinggi kenegaraan. Ibnu Khaldun mengawali pelajaran dari
ayahnya. Setelah itu, ia berguru kepada para ulama terkemuka untuk
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan (Boulakia, 1971 dalam Karim, 2010).

Pada masanya, dunia timur diperintah oleh seorang teknokrasi aristokratik


internasional yang menumbuh suburkan seni sains. Orang yang berasal dari
kelompok elite ini, baik karena keturunan maupun pendidikan. Pada tahun
1352 M, ketika masih berusia dua puluh tahun, ia sudah menjadi Master of
the seal dan memulai karir politiknya yang berlanjut hingga tahun 1375 M.
Pada tahun 1375 sampai 1378 M. ia menjalani pensiunnya di Gal’at Ibn
Salamah, sebuah puri di Provinsi Oran (Boulakia, 1971 dalam Karim, 2010).

Pada masa tersebut, ia menulis sejarah dunia dengan Muqadimmah sebagai


volume pertamanya. Pada tahun 1378 M, karena ingin mencari bahan dari
buku-buku di berbagai perpustakaan, Ibnu Khaldun mendapatkan izin dari
pemerintah Hafsid untuk kembali ke Tunisia. Ibnu Khaldun menetap di Tunisia
hingga tahun 1382 M, karena akan pergi ke Iskandariah untuk menjadi guru
besar ilmu hukum. Sisa hidupnya dihabiskan di Kairo hingga ia wafat pada
tanggal 17 Maret 1406 M (Boulakia, 1971 dalam Karim, 2010).

Karya terbesar Ibnu Khaldun adalah Al-Ibar (sejarah dunia). Karya ini terdiri
atas tiga buah buku yang terbagi ke dalam tujuh volume, yaitu Muqadimmah
(satu volume), Al-Ibar (empat volume), dan At-ta’rif bi Ibnu Khaldun (dua
volume). Dalam Muqadimmah yg merupakan volume pertama dari Al-Ibar,
setelah memuji sejarah, Ibnu Khaldun berusaha untuk menunjukkan bahwa
kesalahan-kesalahan sejarah terjadi ketika sang sejarawan mengabaikan
lingkungan sekitar. Ia berusaha mencari pengaruh lingkungan fisik, nonfisik,
sosial, institusional, dan ekonomis terhadap sejarah. Sekalipun demikian,
Ibnu Khaldun menguraikan dengan panjang lebar teori produksi, teori nilai,
teori distribusi, dan teori siklus-siklus yang semuanya bergabung menjadi
teori ekonomi umum yang koheren menjadi kerangka sejarahnya.

Menurut Ibnu Kholdun, produksi adalah aktivitas manusia yang


diorganisasikan secara sosial dan internasional. Faktor produsi yang paling
utama adalah tenaga kerja manusia. Manusia harus melakukan produksi
untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, dan produksi berasal dari tenaga
manusia. Melakukan produksi penting bagi manusia karena jika ingin hidup
dan mencari nafkah, manusia harus makan dan memproduksi makanannya.
Sekalipun demikian, manusia tidak dapat sendirian memproduksi cukup
makanan untuk hidupnya. Jika ingin bertahan, ia harus mengorganisasikan
tenaganya. Melalui modal atau keterampilan, operasi produksi paling
sederhana mensyaratkan kerja sama dari banyak individu dan latar belakang
teknis dari kesuluruhan peradaban. Organisasi sosial dari tenaga kerja ini
harus dilakukan melalui spesialisasi yang lebih tinggi dari pekerja. Dengan
spesialisasi dan pengulangan, orang menjadi terampil dan dapat berproduksi
lebih baik.

Selain itu, melalui spesialisasi dan kerja sama sosial, upaya manusia menjadi
berlipat ganda. Produksi agregat yang dihasilkan oleh manusia yang bekerja
secara bersama-sama lebih besar dibandingkan dengan jumlah total produksi
individu dan setiap orang yang bekerja sendiri-sendiri, dan lebih besar
dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan mereka untuk tetap bertahan
hidup. Ada surplus yang tersisa yang digunakan untuk diperdagangkan.

Ibnu Khaldun menguraikan suatu teori yang menunjukkan interaksi antara


permintaan dan penawaran. Permintaan menciptakan penawaran sendiri
yang menciptakan permintaan yang bertambah. Selanjutnya, ia
memperlihatkan proses perkembangan yang kumulatif disebabkan oleh
infrastruktur intelektual suatu Negara. Semakin berkembang suatu Negara,
semakin banyak modal intelektualnya dan organisasi infrastruktur
intelektualnya.

Ibnu Khaldun menguraikan pula teori ekonomi tentang pembangunan yang


berdasarkan interaksi permintaan dan penawaran, serta lebih jauh tentang
pemanfaatan dan pembentukan modal manusia. Landasan pemikiran dari
teori ini adalah pembagian internasional dan sosial yang berakibat pada
proses kumulatif yang menjadikan negeri-negeri yang kaya semakin kaya dan
menjadikan yang miskin lebih misin lagi.

Teori Ibnu Khaldun merupakan embrio suatu teori perdagangan


internasioanal, dengan analisis tentang syarat-syarat pertukaran antara
Negara-negara miskin, kecendrungan untuk mengekspor dan mengimpor
tentang pengaruh struktur ekonomi terhadap perkembangan, dan pentingnya
modal intelektual dalam proses pertumbuhan. Teori produksinya yang
berdasarkan tenaga kerja manusia, mengantarkan Ibnu Khaldun pada teori
tentang nilai, uang, dan harga.

Bagi Ibnu Khaldun, nilai suatu produk sama dengan jumlah tenaga kerja yang
dimilikinya. Demikian pula, kekayaan bangsa-bangsa tidak ditentukan oleh
uang yang dimiliki oleh bangsa tersebut, tetapi ditentukan oleh produksi
barang dan jasanya, dan oleh neraca pembayaran yang sehat. Keduanya
akan saling terkait satu sama yg lain. Neraca pembayaran yang sehat
merupakan konsekuensi alamiah dari tingkat produksi yang tinggi.
Ukuran ekonomis terhadap nilai barang dan jasa perlu bagi manusia apabila
ia ingin memperdagangkannya. Pengukuran nilai ini harus memiliki sejumlah
kualitas tertentu. Ukuran ini harus diterima oleh semua tender legal dan
penerbitannya harus bebas dari semua pengaruh objektif. Bagi Ibnu Khaldun,
dua logam, yaitu emas dan perak adalah ukuran nilai. Logam-logam tersebut
diterima secara alamiah sebagai uang karena nilainya tidak dipengaruhi oleh
fluktuasi subjektif. Oleh karena itu, Ibnu Khaldun mendukung penggunaan
emas dan perak sebagai standar moneter. Baginya pembuatan uang logam
hanyalah sebuah jaminan yang diberikan oleh penguasa bahwa sekeping
uang logam mengandung sejumlah kandungan emas dan perak tertentu.
Jumlak emas dan perak yang dikandung dalam sekeping koin tidak dapat
diubah pada saat koin tersebut sudah diterbitkan.

Bagi Ibnu Khaldun, harga adalah hasil dari hukum permintaan dan
penawaran. Pengecualian satu-satunya dari hukum ini adalah emas dan
perak yang merupakan standar moneter. Semua barang lainnya terkena
fluktuasi harga yang bergantung pada pasar. Apabila suatu barang langka
dan banyak diminta, harganya akan tinggi. Jika suatu barang berlimpah,
harganya akan rendah.

Bagi Ibnu Khaldun, produksi bergantung pada penawaran dan permintaan


terhadap produk. Akan tetapi, penawaran bergantung pada jumlah produsen
dan hasratnya untuk bekerja. Permintaan pun bergantung pada jumlah
pembeli dan hasratnya untuk membeli. Produsen adalah populasi aktif. Motif
untuk memproduksi adalah hasil dari motif psikologis dan finansial yang
ditentukan oleh permintaan yang tinggi dan distribusi yang menguntungkan
produsen, dan pedagang, dan karenanya pajak rendah serta laba dan gaji
yang tinggi. Pembeli adalah penduduk dan negara. Daya beli ditentukan oleh
pendapatan yang tinggi, yang berarti tingkat persediaan yang tinggi dan bagi
negara, jumlah pajak yang besar. Oleh karena itu, variabel penentu bagi
produksi adalah populasi serta pendapatan dan belanja negara, keuangan
publik. Akan tetapi, menurut Ibnu Khaldun, populasi dan keuangan publik
harus menaati hukum yang tidak dapat ditawar-tawar dan selalu berfluktuasi
karena populasi dan keuangan public akan menentukan siklus ekonomi.

Secara umum, pemikiran ekonomi yang diajukan oleh Ibnu Khaldun adalah
sebagai berikut:
1. Produksi adalah aktivitas manusia yang diorganisasikan secara sosial dan
internasional.
2. Organisasi sosial dari tenaga kerja ini harus dilakukan melalui spesialisasi
yang lebih tinggi dari pekerja.
3. Pembagian internasional dan sosial yang berakibat pada proses kumulatif
yang menjadikan negeri-negeri yang kaya semakin kaya dan menjadikan
yang miskin semakin miskin lagi.
4. Kekayaan bangsa-bangsa tidak ditentukan oleh jumlah uang yang dimiliki
bangsa tersebut, tetapi ditentukan oleh produksi barang dan jasanya, dan
oleh neraca pembayaran yang sehat.
5. Mendukung penggunaan emas dan perak sebagai standar moneter.
6. Variabel penentu bagi produksi adalah populasi serta pendapatan dan
belanja negara, serta keuangan publik.

F. Al-Mawardi (364-450 H/974-1058 M)


Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi Al-Basri Asysyafi’i
lahir di Kota Basrah pada tahun 364 H (974 M). Setelah mengawali
Pendidikannya dikota basrah selama dua tahun, ia mengelana ke berbagai
Negeri Islam untuk menuntut ilmu. Berkat keleluasaan Ilmunya, salah satu
tokoh besar mazhab syafi’i , ini dipercaya memangku jabatan qhadi (Hakim)
di berbagai Negeri seacara bergantian. Setelah kembali ke Kota Baghdad
untuk beberapa waktu, ia diangkat sebagai Hakim Agung pada masa
pemerintahan Khalifah Al-Qaim bin Amrillah Al-Abbasi. Meskipun telah
menjadi hakim, Al-Mawardi tetap aktif mengajar dan menulis. Al-Mawardi
wafat pada Bulan Rabiul Awwal tahun 450 H (1058 M) di Kota Baghdad pada
usia 86 tahun.
Pemikiran Ekonomi Al-Mawardi tersebar pada tiga karya tulis, yaitu Kitab
Adab Ad-Dunya wa Ad-Din, Al-Hawi, dan Al-Ahkam As-Sulthaniyyah. Dari
ketiga karya tulis tersebut, para peneliti Islam tampaknya sepakat
menyatakan bahwa Al-Ahkam As-Sultaniyyah merupakan kitab yang paling
komprehensif dalam mempresentasikan pokok-pokok pemikiran Al-Mawardi.
Sumbangan utama Al-Mawardi terletak pada pendapat mereka tentang
pembebanan pajak tambahan dan diperbolehkan peminjaman ke publik.

Teori keuangan public selalu berkaitan dengan peran Negara dalam


kehidupan ekonomi. Negara berperan untuk memenuhi kebutuhan kolektif
seluruh warga Negaranya. Al-Mawardi berpendapat bahwa Negara harus
menyediakan infrastruktur yang diperlukan bagi perkembangan ekonomi dan
kesejahtraan umum. Tugas-tugas Negara dalam rangka pemenuhan
kebutuhan setiap warga negara adalah sebagai berikut (karim, 2010):
1. Melindungi Agama
2. Menegakan Hukum dan Stabilitas
3. Memelihara Batas Ekonomi Islam
4. Menyediakan iklim ekonomi yang kondusif
5. Menyediakan administrasi publik, peradilan, dan pelaksanaan hukum
islam
6. Mengumpulkanpendapat dari berbagai sumber yang tersedia dan
menaikkannya dengan penerapan pajak baru jika situasi menuntutnya
7. Membelanjakan dana-dana baitul mal untuk berbagai tujuan yang telah
menjadi kewajibannya.

Sebagai trend pada masa klasik,malasah perpajakan juga tidak luput dari
perhatian Al-Mawardi. Menurutnya, penelaian atas karaj harus bervariasi
sesuai dengan factor-faktor yang menentukan kemampuan tanah dalam
membayar pajak, yaitu kesuburan tanah jenis tanaman, dan system irigasi.
Selain tiga paktor tersebut, Al-Mawardi juga mengungkapkan faktor yang lain,
yaitu jarak antara tanah yang menjadi objek kharaj dengan pasar. Berkaitan
dengan metode penetapan kharaj, Al-Mawardi Menyarankan untuk
menggunakan salah satu dari ketiga metode yang pernah diterapkan dalam
sejarah Islam yaitu (Karim, 2010)

1. Metode misahah, yaitu metode penetapan kharaj berdasarkan ukuran


tanah
2. Metode penetapan kharaj berdasarkan ukuran tanah yang ditanami saja
3. Metode musaqah, yaitu metode penetapan kharaj berdasarkan persentase
dari hasil produksi (propotional tax).

Menurut Karim, (2010), berkaitan dengan tanggug jawab baitul mal untuk
memenuhi kebutuhan publik, Al-Mawardi malakukan klasifikasi berbagai
tanggung jawab baitul mal kedalam dua hal berikut yaitu :

1. Tanggung jawab yang timbul dari berbagai harta benda yang disimpan di
baitul mal sebagai amanah didistribusikan kepada mereka yang berhak
2. Tanggung jawab yang timbul seiring dengan adanya pendapatan yang
menjadi asset kekayaan baitul mal itu sendiri

Al-Mawardi melakukan klasifikasi kategori tanggung jawab baitul mal yang


kedua ini menjadi dua hal. Pertama, tanggung jawab yang timbul sebagai
pengganti atas nilai yang diterima (badal). Kedua, tanggung jawab yang
muncul melalui bantuan dan kepentingan umum. Dengan demikian
pembelanjaan publik, seperti halnya perpajakan, merupakan alat yang efektif
untuk mengalihkan sumber-sumber ekonomi. Pernyataan tersebut juga
mengisyaaratkan bahwa pembelanjaan publik akan meningkatkan
pendapatan masyarakat secara keseluruhan. Selain menetapakan tanggung
jawab negara, uraian Al-Mawardi tersebut juga menunjukkan bahwa dasar
pembelanjaan publik dalam negara Islam adalah maslahah. Hal ini berarti
bahwa negara memiliki wewenang untuk membelanjakan harta baitul mal
selama berorientasi pada pemeliharaan maslahah dan kemajuannya (Azmi,
2002).

G. Asy-Syatibi (790 H/1388 M)


Asy-syatibi yang bernama lengkap Abu Ishaq Bin Musa Bin Muhammad Al-
Hakimi Al-Gharnati merupakan salah seorang cendekiawan Muslim yang
belum banyak mengetahui latar belakang kehidupannya. Ia berasal dari usku
Arab lakhmi. Nama Asy-Syatibi dinisbatkan ke daerah asal keluarganya
Syaitibah (Xatiba atau Jativa), yang terletak dikawasan Spanyol bagian timur.
Asy-syatibi dibesarkan dan memperoleh seluruh pendidikannya di Ibukota
Kerajaan Nashr, Granada, yang merupakan benteng terakhir umat Islam di
Spayol. Masa mudanya bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan
Muhammmad V Al-Ghani Billah pada masa keemasan Islam setempat karena
Granada menjadi pusat kegiatan ilmiah dengan berdirinya Universitas
Granada. Setelah memperoleh ilmu pengetahuan yang memadai , Asy-Syatibi
mengembangkan potensi keilmuannya dan mengajarkannya kepada para
generasi berikutnya. Ia juga mewarisi karya-karya ilmiah, seperti Syarh
Jalil’ala Al-Khulashah fi Al-Nahw dan Ushul Al-Nahw dalam bidang bahasa
arab serta Al-Muwafakat fi Ushul Asy-Syariah dan Al I’tisham dalam bidang
ushul fiqh. Asy-syatibi wafat pada tanggal 8 sya’ban 790h (Karim, 2010).

Asy-Syatibi memiliki beberapa pemikiran dibidang ekonomi, antara lain


berkaitan dengan objek kepemilikan, pajak, dan lain-lain. Pada dasarnya Asy-
Syatibi mengakui hak milik individu. Akan tetapi ia menolak kepemilikan
individu terhadap setiap sumber daya yang dapat menguasai ahajat hidup
orang banyak. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa tidak ada hak kepemilikan
yang dapat diklaim terhadap adanya pembangunan.

Dalam pandangan Asy-Syatibi, pemungutan pajak harus dilihat dari sudut


pandang maslahah (kepentingan umum). Oleh karena itu, pemerintah dapat
mengenakan pajak-pajak baru terhadap rakyatnya walaupun pajak tersebut
belum pernah dikenal dalam sejarah Islam.

H. Al-Syaibani (132-189 H/ 750-804 M)


Abu Abdillah Muhammad bin Al-Hasan bin Farqad Al-Syaibani lahir pada
tahun 132 H (750 M) di kota Wasith, ibukota Irak pada masa akhir
pemerintahan Bani Umawiyyah. Ayahnya berasal dari negeri Syaiban di
wilayah jazirah Arab. Bersama orang tuanya, Al-Syaibani pindah ke kota
Kufah yang ketika itu merupakan salah satu pusat kegiatan ilmiah.

Di kota tersebut, ia belajar fiqih, sastra, bahasa, dan hadis kepada para ulama
setempat, seperti Mus’ar bin Kadam, Sufyan Tsauri, Umar bin Dzar, dan Malik
bin Maghul. Dalam menuntut ilmu, Al-Syaibini tidak hanya berinteraksi
dengan para ulama ahl al-ra’yi, tetapi juga ulama ahl al-hadits. Ia juga pernah
bertemu dengan Al-Syafi’I ketika belajar al-Muwatta pada Malik bin Anas.

Hal tersebut memberikan nuansa baru dalam pemikiran fiqihnya. Al-Syaibani


menjadi lebih banyak mengetahui berbagai hadis yang luput dari perhatian
Abu Hanifah. Dari keluasan pendidikannya ini, ia mampu mengombinasikan
antara aliran ahl al-ra’yi di Irak dengan ahl al-hadits di Madinah. Setelah
memperoleh ilmu yang memadai, Al-Syaibani kembali ke Baghdad yang pada
saat itu telah berada dalam kekuasaan Daulah Bani Abbasiyah. Di tempat ini,
ia mempunyai peranan penting dalam majelis ulama dan kerap didatangi para
penuntut ilmu.

Dalam menuliskan pokok-pokok pemikiran fiqihnya, Al-Syaibani


menggunakan istihsan (kecenderungan seseorang pada sesuatu karena
menganggapnya lebih baik, dan ini bersifat lahiriah) sebagai metode
ijtihadnya (usaha yang sungguh-sungguh). Ia merupakan sosok ulama yang
sangat produktif. Kitab-kitabnya dapat diklasifikasikannya kedalam dua
golongan, yaitu:
1. Zhahir al-Riwayah, yaitu kitab yang ditulis berdasarkan pelajaran yang
diberikan Abu Hanifah, seperti al-Mabsut, al-Jami’ al-Kabir, al-jami’ al-
Shaghir, al-Siyar al-Kabir, al-Siyar al-Shaghir, dan al-Ziyadat.
Kesemuanya ini dihimpun Abi Al-Fadhl Muhammad ibn Muhammad ibn
Ahmad Al-Maruzi (w. 334 H/945 M) dalam satu kitab yang berjudul al-Kafi.
2. Al-Nawadir, yaitu kitab yang ditulis berdasarkan pandangannya sendiri,
seperti Amali Muhammad fi al-Faiqh, al-Ruqayyat, al-Makharij fi al-Hiyal,
al-Radd’ala Ahl Madinah, al-Ziyadah, al-Atsar, dan al-Kasb
Dalam mengungkapkan pemikiran ekonomi Al-Syaibani, para ekonomi
Muslim banyak merujuk pada kitab al-Kasb, sebuah kitab yang lahir sebagai
respon penulis terhadap sikap zuhud yang tumbuh dan berkembang pada
abad kedua hijriah. Secara keseluruhan, kitab ini mengemukakan kajian
mikroekonomi yang berkisar pada teori kasb (pendapatan)dan sumber-
sumbernya serta pedoman prilaku produksi dan konsumsi.

Al-Syaibani mendefinisikan al-kasb (kerja) sebagai mencari perolehan harta


melalui berbagai cara yang halal.dalam ilmu ekonomi, aktivitas demikian
termasuk dalam aktivitas produksi. Definisi ini mengindikasikan bahwa yang
dimaksud dengan aktivitas produksi dalam ekonomi islam berbeda dengan
aktivitas produksi dalam ekonomi konvensional. Dalam ekonomi islam, tidak
semua aktivitas yang menghasilkan barang atau jasa disebut sebagai
aktivitas produksi, karena aktivitas produksi, karena aktivitas produksi sangat
terkait erat dengan halal-haramnya suatu barang atau jasa dan cara
memperolehnya. Dengan kata lain, aktivitas menghasilkan barang dan jasa
yang halal saja yang dapat disebut sebagai aktivitas produksi.

Produksi suatu barang atau jasa, seperti dinyatakan dala ekonomi, dilakukan
karena barang atau jasa itu mempunyai utilitas (nilai-guna). Islam
memandang bahwa suatu barang atau jasa mempunyai nilai-guna jika
mengandung kemaslahatan (kegunaan). Seperti yang diungkapkan oleh Al-
Syaibi, kemaslahatan hanya dapat dicapai dengan memelihara lima unsure
pokok kehidupan, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Hal ini berarti
bahwa konsep maslahah merupakan konsep yang objektif terhadap perilaku
produsen karena ditentukan oleh tujuan (maqashid) syariah, yakni
memelihara kemaslahatan manusia didunia dan akhirat.

Dalam pandangan islam, aktivitas produksi merupakan bagian dari kewajiban


‘imaratul kaun, yakni menciptakan kemakmuran semesta untuk semua
makhluk. Berkenaan dengan hal tersebut, Al-Syaibani menegaskan bahwa
kerja yang merupakan unsure utama produksi mempunyai kedudukan yang
sangat penting dalam kehidupan karena menunjang pelaksanaan ibadah
kepada Allah Swt. Dan, karenanya hokum bekerja adalah wajib. Hal ini
didasarkan pada dalil-dalil berikut:

Firman Allah Swt.

“ Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan
carilah karunia Allah Swt dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung. (Al-Jumu’ah [62]:10)

Hadis Rasulullah Saw

“ Mencari pendapatan adalah wajib bagi setiap Muslim”

Amirul Mukminin Umar bin ibn Al-Khattab r.a.lebih mengutamakan derajat


kerja daripada jihad. Sayyidina Umar menyatakana, dirinya lenih menyukai
maninggal pada saat berusaha mencari sebagian karunia Allah Swt dimuka
bumi daripada terbunuh dimedan perang, karena Allah Swt mendahulukan
orang-orang yang mencari sebagian karunia-Nya daripada para mujahidin
melalui firman-Nya:

…Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia


Allah dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah…(Al-
Muzammil [73]:20)

Dari uraian diatas, tampak jelas bahwa orientasi bekerja dalam pandangan
Al-Syaibani adalah hidup untuk meraih keridaan Allah Swt. Di sisi lain, kerja
merupakan usaha untuk mengaktifkan roda perekonomian, termasuk proses
produksi, konsumsi, dan distribusi, yang berimplikasi secara makro
meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Dengan demikian, kerja
mempunyai peranan yang sangat penting dalam memenuhi hak Allah Swt,
hak hidup, hak keluarga, dan hak masyarakat.

Setelah membahas kasb, focus perhatian Al-Syaibani tertuju pada


permasalahan kaya dan fakir. Menurutnya, sekalipun banyak dalil yang
menunjukkan keutamaan sifat-sifat kaya, sifat-sifat fakir mempunyai
kedudukan yang lebih tinggi. Ia menyatakan bahwa apabila manusia telah
merasa cukup dari apa yang dibutuhkan kemudian bergegas pada kebajikan,
sehingga mencurahkan perhatian pada urusan akhiratnya, adalah labih baik
bagi mereka. Dalam konteks ini, sifat-sifat fakirdiartikannya sebagai kondisi
yang cukup (kifayah), bukan kondisi memints-mints (kafafah). Dengan
demikian, pada dasarnya, Al-Syaibani menyerukan agar manusia hidup
dalam kecukupan, baik untuk diri sendiri maupun keluarganya. Disisi lain, ia
berpendapat bahwa sifat-sifat kaya berpotensi membawa pemiliknya hidup
dalam kemewahan. Sekalipun begitu, ia tidak menentang gaya hidup yang
lebih dari cukup selama kelebihan tersebut hanya dipergunakan untuk
kebaikan.

Menurut Al-Syaibani, usaha-usaha perekonomian terbagi atas empat macam,


yaitu sewa-menyewa, perdagangan, pertanian dan perindustrian. Diantara
keempat usaha perekonomian tersebut, Al-Syaibani lebih mengutamakan
isaha pertanian daripada usaha yang lain. Menurutnya, pertanian
memproduksi berbagai kebutuhan dasar manusia yang sangat menunjang
dalam melaksanakan berbagai kewajibannya. Dari segi hokum, Al-Syaibani
membagi usaha-usaha perekonomian menjadi dua, yaitu fardu kifayah dan
fardu ‘ain. Berbagai usaha perekonomian dihukum fardu kifayah apabila telah
ada orang yang mengusahakannya atau menjalankannya, roda
perekonomian akan terus berjalan dan, jika tidak seorang pun yang
menjalankannya, tatanan roda perekonomian akan hancur berantakan yang
berdampak pada semakin banyaknya orang yang hidup dalam kesengsaraan.
Berbagai usaha perekonomian dihukum fardu ‘ain karena usaha-usaha
perekonomian itu mutlak dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dan kebutuhan orang yang ditanggungnya, kebutuhan
dirinya tidak akan terpenuhi, begitu pula orang yang ditanggungnya, sehingga
akan menimbulkan kebinasaan bagi dirinya dan tanggungannya.

Al-Syaibani mengatakan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan anak-anak


Adam sebagai suatu ciptaan yang tubuhnya tidak akan berdiri kecuali dengan
empat perkara, yaitu makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Para
ekonom yang lain mengatakan bahwa keempat hal ini tersebut tidak pernah
diusahakan untuk dipenuhi, ia akan masuk neraka karena manusia tidak akan
dapat hidup tanpa keempat hal tersebut.

Al-Syaibani menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya selalu


membutuhkan yang lain. Seseorang tidak akan menguasai pengetahuan
semua hal yang dibutuhkan sepanjang hidupnya dan kalaupun manusia
berusaha keras, usia akan membatasinya diri manusia. Dalam hal ini,
kemaslahatan hidup manusia sangat tergantung padanya. Oleh karena itu,
Allah Swt member kemudahan pada setiap orang untuk menguasai
pengetahuan salah satu diantaranya, sehingga manusia dapat bekerja sama
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Firman Allah Swt:

“Dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain
beberapa derajat”(Surah Al-Zukhruf [43]:32)

Lebih lanjut, Al-Syaibani menandaskan bahwa seorang yang fakir


membutuhkan orang kaya sedangkan yang kaya membutuhkan tenaga orang
miskin. Dari hasil tolong-menolong tersebut, manusia akan semakin mudah
dalam menjalankan aktivitas ibadah kepada-Nya. Dalam konteks demiakian,
Allah Swt. berfirman:
“ Dan saling menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan ketakwaan” (Al-
Maidah [5]:2)

Lebih jauh, Al-Syaibani menyatakan bahwa apabila seseorang bekerja


dengan niat melaksanskan ketatatan kepada-Nya atau membantu
saudaranya ubtuk melaksanakan ibadah kepada-Nya, pekerjaannya tersebut
niscaya akan diberi ganjaran sesuai dengan niatnya. Dengan demikian,
distribusi pekerjaan sepert diatas merupakan objek ekonomi yang mempunyai
dua aspek secara bersamaan, yaitu aspek religious dan aspek ekonomis.

I. YAHYA BIN UMAR (213 – 289 H)


Yahya bin Umar merupakan salah seorang fuqaha mazhab Maliki Ulama
yang bernama lengkap Abu Bakar Yahya bin Umar bin Yusuf Al-Kannani Al-
Andalusi lahir pada tahub 213 G dan dibesarkan di Kordova, Spanyol. Seperti
para cendekiawan Muslim terdahulu, ia singgah di Mesir dan berguru kepada
para pemuka sahabat Abdullah bin Wahab Al-Maliki dan Ibn Al-Qasim, seperti
Ibnu Al-Kirwan Ramh dan Abu Al-Zhahir bin Al-Sarh. Setelah itu, ia pindah ke
Hijậz dan berguru, diantaranya kepada IIbnu Mus’ab Az-Zuhri. Akhirnya,
Yahya bin Umar menetap di Qairuwan, Afrika, dan menyempurnakan
pendidikannya kepada seorang ahli ilmu farậid dan hisậb, Abu Zakaria Yahya
bin Sulaiman Al-Farisi.

Dalam perkembangan selanjutnya, ia menjadi pengajar di Jami’ Al-Qairuwan.


Pada masa hidupnya ini, terjadi konflik yang manajam antara fuqaha
Malikiyah dengan fuqaha Hanafiyah yang dipicu oleh persaingan
memperebutkan pengaruh dalam pemerintahannya. Yahya bin Umar terpaksa
pergi dari Qairuwan dan menetap di Sausah ketika Ibnu Abdun yang
berusaha menyingkirkan para ulama penentangnya, baik dengan cara
memenjarakan maupun membunuh, menjabat qậdu di negeri itu. Setelah Ibnu
Abdun turun dari jabatannya, Ibrahim bin Ahmad Al-Aglabi menawarkan
jabatan qậdi kepada Yahya bin Umar. Namun ia menolaknya dan memilih
tetap tinggal di Sausah serta mengajar di Jami’ Al-Sabt hingga akhir
hayatnya. Yahya bin Umar wafat pada tahun 289 H (901 M)

Kitab Ahkậm al-Sủq, merupakan kitab pertama di dunia islam yang


membahas tentang hisbah dan berbagai hukum pasar, satu penyajian materi
yang berbeda dari pembahasan-pembahasan fiqih pada umumnya. Pada saat
itu kota Qairuwan telah memiliki institusi pasar yang permanen sejak 155 H
dan para penguasanya mulai dari masa Yazid bin Hatim Al-muhibli hingga
sebelum masa Ja’far Al-Mansyur sangat memperhatikan intsitusi pasar. Pada
tahun 234 H, Kanun penguasa peradilan kota tersebut mengangkat hakim
yang khusus menangani masalah pasar. Dengan demikian masa Yahya bin
Umar kota Qoiruwan telah memiliki 2 keistimewaan yaitu :
1. Keberadaan institusi pasar mendapat perhatian khusus dan peraturan
yang memadai dari para penguasa.
2. Dalam lembaga peradilan, terdapat seorang hakim yang khusus
menangani masalah pasar.

Tentang kitab Ahkam al-Suq Yahya bin Umar menyebutkan bahwa penulisan


kitab ini dilatarbelakangi oleh 2 persoalan yaitu : pertama, hukum syara’
tentang perbedaan kesatuan timbangan dan takaran timbangan dalam satu
wilayah, kedua, hukum syara’ tentang harga gandum yang tidak terkendali
akibat pemberlakuan liberalisasi harga, sehingga dikhawatirkan dapat
menimbulkan kemudaratan bagi para konsumen.

Menurut Yahya bin Umar ketakwaan merupakan asas dalam perekonomian


islam sekaligus faktor utama yang membedakan antara ekonomi Islam
dengan ekonomi konvensional. Disamping Al-qur’an setiap muslim harus
berpegang teguh pada sunnah dan mengikuti perintah Rasulullah dan setiap
melakukan ekonomi. Fokus pemikiran Yahya bin Umar tertuju pada hukum-
hukum pasar yang terefleksikan dalam pembahasan tentang tas’ir (penetapan
harga). Menurut Yahya bin Umar menyatakan bahwa eksistensi harga
merupakan hal yang sangat penting dalam transaksi dan pengabaian
terhadapnya akan dapat menimbulkan kerusakan dalam masyarakat.
Berkaitan dengan hal ini Yahya bin Umar bahwa penetapan harga tidak boleh
dilakukan. Yahya bin Umar melarang penetapan harga jika kenaikan harga
yang terjadi adalah semata-mata interaksi penawaran dan permintaan yang
alami. Dalam hal demikian pemerintah tidak memiliki hak untuk melakukan
intervensi harga. Hal ini akan berbeda jika kenaikan harga karena ulah
manusia (human error). Pemerintah hanya berhak melakukan intervensi
harga ketika terjadi suatu aktivitas yang dapat membahayakan masyarakat
luas. Yahya bin Umar menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh melakukan
intervensi kecuali dalam 2 hal, yaitu :

1. Para pedagang tidak memperdagangkan barang tertentu yang sangat


dibutuhkan masyarakat dan dapat menimbulkan kemudharatan sehingga
dapat merusak mekanisme pasar. Dalam hal ini pemerintah dapat
mengeluarkan para pedagang dari pasar dan mengganti dengan yang lain
berdasarkan kemaslahatan dan kemanfaatan umum.
2. Para pedagang melakukan praktik siyasah al-ighraq (dumping) yang dapat
menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan dapat mengahancurkan
ekonomi pasar. Dalam hal ini pemerintah berhak memerintahkan
pedagang untuk menaikkan kembali harga yang sesuai harga yang
berlaku dipasar, apabila mereka menolak pemerintah berhak mengusir
pedagang tersebut.

Peryataan Yahya bin Umar jelas mengintimidasi bahwa hukum intervensi


pemerintah adalah haram. Pendapatnya yang melarang
praktek tas’ir menunjukkan bahwa Yahya bin Umar mendukung kebebasan
ekonomi dan juga kebebasan kepemilikan. Kebebasan ekonomi tersebut
bahwa harga ditentukan oleh kekuatan pasar yakni kekuatan penawaran dan
permintaan. Namun Yahya bin Umar menambahkan bahwa mekanisme harga
harus tunduk pada kaidah-kaidah. Kaidah-kaidah tersebut pemerintah berhak
untuk melakukan intervensi jika terjadi tindakan sewenang-wenang dalam
pasar, misal ihtikar dan dumping.
Menurut Dr. Rifa’at Al-Audi, pernyataan Yahya bin Umar yang melarang
adanya dumping bukan dimaksudkan harga-harga menjadi murah akan tetapi
untuk mencegah dampak negatifnya untuk mekanisme pasar dan kehidupan
masyarakat secara keseluruhan.

Tema utama yang diangkat pada kitab Al-Suq mengenai hukum pasar, pada


dasarnya konsep Yahya bin Umar lebih banyak terkait
dengan ihtikar dan siyasah al-ighrq. Dalam ilmu ekonomi kontemporer kedua
hal tersebut dikenal dengan istilah monopoloy’s rent-seeking dan dumping.

Islam secara tegas melarang ihtikar yakni mengambil keuntungan diatas


keuntungan normal dengan cara menjual sedikit barang untuk harga yang
lebih tinggi. Dalam hal ini Rasulullah menyatakan bahwa ihtikar adalah
perbuatan orang berdosa. Di zaman Rasulullah Saw, salah satu cara
melakukan ihtikar adalah dengan cara menimbun agar harga naik akibat
kelangkaan tersebut. Secara lebih spesifik mazhab Syafii dan Hanbali
mendifinisikan ihtikar sebagai :
“Menimbun barang yang telah dibeli pada saat harga bergejolak tinggi untuk
menjualnya dengan harga yang lebih tinggi pada saat dibutuhkan oleh
penduduk setempat atau lainnya.”

Abu Dzar Al-ghifari menyatakan bahwa hukum ihtikar tetap haram meskipun


zakat barang-barang tersebut telah ditunaikan. Para ulama
sepakat illat pengharaman ihtikar adalah karena dapat menimbulkan
kemudharatan bagi umat manuisa, ihtikar tidak hanya merusak mekanisme
pasar tapi juga akan menghentikan keuntungan serta menghambat proses
distribusi kekayaan. Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
aktivitas ekonomi akan dikatakan sebagai ihtikar jika memenuhi 2 syarat
yaitu :
1. Objek penimpunan merupakan barang-barang kebutukan masyarakat; 
2. Tujuan penimbunan adalah untuk mengambil keuntungan diatas
keuntungan normal.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemikiran ekonomi Islam adalah respons para pemikir muslim terhadap
tantangan-tantangan ekonomi pada masa mereka. Pemikiran ekonomi Islam
tersebut diilhami dan dipandu oleh ajaran Al-Quran dan Sunnah juga oleh
ijtihad (pemikiran) dan pengalaman empiris mereka.

Pemikiran Ekonomi Islam diawali sejak Muhammad SAW ditunjuk sebagai


seorang Rosul. Rosululoh SAW mengeluarkan sejumlah kebijkan yang
menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan,
selain masalah hukum (fiqih), politik (siyasah), juga masalah perniagaan atau
ekonomi (muamalah).

Sedangkan yang dimaksud dengan pemikiran ekonomi islam klasik adalah


pemikiran pemikirian para para tokoh islam setalah wafatnya rasululoh SAW
yang menjelaskan tentang alur alur ekonomi. Yang dibagi menjadi beberapa
tokoh diantaranya sebagai berikut :
1. Abu Yusuf
2. Abu Ubaid
3. Al – Ghazali
4. Ibnu Taimiyah
5. Ibnu Khaldun
6. Ibnu Mawardhi
7. Asy – Syatibi
8. Al – Syaibani
9. Yahya bin Umar

Dari tokoh – tokoh diatas, masing masing dari mereka memiliki pendapat dan
pemikiran tersendiri khususnya tentang dunia ekonomi dalam sudut pandang
islam, sehingga pemikiran pemikiran dari para tokoh tokoh klasik ini masih
digunakan dan masih relevan dengan kondisi saat ini.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azis Dahlan dkk (ed), Ensiklopedia Hukum Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru
Van Hoeve, 1997), Jilid 2 dan 5

Janidal, Hammad bin Abdurrahman al-, Manahij al-Bahitsin fi al-Iqtishad al-Islami,


Riyadh: Syirkah al-Ubaikan li al-Thaba’ah wa al-Nasyr, 1404 H, jilid 2

http://ahdi-popos.blogspot.com/2013/12/pemikiran-ekonomi-islam-ibnu-
taimiyyah.html, diakses pada 07 November 2019.

http://rudiirawantofeuh.blogspot.com/2014/01/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam-
klasik.html, diakses pada 07 November 2019.