Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembukaan wilayah hutan adalah salah satu kegiatan pengelolaan hutan


yang menyediakan prasarana/infrastruktur untuk melancarkan kegiatan
pengelolaan hutan, sehingga dapat terwujud pengelolaan hutan lestari (elias,
2007). Pembukaan wilayah hutan mempunyai fungsi untuk mempermudah
penataan hutan; mempermudah pengangkutan pekerja, peralatan, dan bahan-bahan
keluar masuk hutan; mempermudah kegiatan pembinaan hutan; mempermudah
kegiatan pemanenan hutan, penebangan, penyaradan, pengumpulan, dan
pengangkutan, serta mempermudah kegiatan hutan lainnya. Konsep pembangunan
PWH adalah dalam perencanaan, pelaksanaan pembuatan dan pemeliharaan
prasarana PWH harus memperhatikan aspek teknis, ekonomis, dan ekologis secara
terpadu dalam 4 bidang, yaitu:
1. Perencanaan hutan,
2. Penataan areal hutan,
3. Pembukaan wilayah hutan, dan
4. Pemilihan sistem pemanenan kayu.
Perencanaan hutan adalah suatu bagian proses pengelolaan hutan untuk
memperoleh landasan kerja dan landasan hukum agar terwujud ketertiban dan
kepastian hukum dalam pemanfaatan hutan sehingga menunjang diperolehnya
manfaat hutan yang optimal, berfungsi serbaguna dan pendayagunaan secara
lestari. Operasi di bidang kehutanan adalah merupakan kegiatan yang sangat
kompleks, hal ini memerlukan perencanaan yang matang dan banyak keputusan
harus diambil sebelum kegiata n yang dimaksud dilaksanakan. Perencanaan
jangka panjang harus dikembangkan jauh sebelum kegiatan dimulai, pengetahuan
tentang hasil inventarisasi dari sumber hutannya, keadaan topografi, kondisi tanah
dan lain sebagainya. Perencanaan ini harus menggaris bawahi tentang lokasi dari
jaringan jalan hutan termasuk jalan cabang yang dipertimbangkan sesuai dengan

1
system logging yang akan diselenggarakan atau system lain yang
diterapkan pada pemungutan hasil hutan. Pembuatan jalan hutan hendaknya
ditinjau dari segi ekonomi dalam hubungannya dengan kesulitan tentang
kelerangan dan temporarinya penggunaan jalan ini. Utamanya, diluar persoalan,
dapat diberikan pelindung pada jalan ini dengan penutupan oleh aspal atau semen
yang sudah pasti memerlukan biaya sangat besar. Perencanaan pembuatan jalan
hutan tidak sama metodanya dengan pembuatan jalan umum yang terkadang
memakai metoda yang memerlukan biaya sangat tinggi, tetapi juga tidak sama
sekali mengesampingkan metoda itu. Jalan hutan memerlukan keahlian khusus
dan pengetahuan yang masak dari daerah yang bersangkutan dari seorang
rimbawan.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pembuatan trace jalan hutan adalah :
1. Mengetahui perencanaan pembuatan jalan yang efisien dan efektif sesuai
dengan ketentuan – ketentuan pembuatan jalan yang baik.
2. Melatih pembacaan peta kontur.
3. Melatih cara mengklasifikasikan wilayah hutan berdasarkan tingkat
kemiringan lereng.
4. Melatih dalam merencanakan jaringan jalan hutan.
5. Mengetahui cara memilih alternative pembukaan wilayah hutan yang
optimal.
6. Melatih menghitung volume dan biaya galian serta timbunan sesuai
dengan aligment yang telah direncanakan.
7. Mampu menghitung biaya pembuatan jaringan jalan hutan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemanenan Hasil Hutan


conway (1982) dalam Fadhli (2005) menjelaskan bahwa pemanenan kayu
merupakan serangkaian kegiatan yang dimaksudkan untuk memindahkan
kayu dari hutan ke tempat penggunaan atau pengolahan kayu. Kegiatan
pemanenan kayu dibedakan atas 4 (empat) komponen yaitu:

1. Penebangan, yaitu mempersiapkan kayu seperti menebang pohon serta


memotong kayu sesuai dengan ukuran batang untuk disarad.
2. Penyaradan, yaitu usaha untuk mengangkut kayu dari tempat penebangan
ketepi jalan angkutan.
3. Pengangkutan, yaitu usaha untuk mengangkut kayu dari hutan ketempat
penimbunan atau pengolahan kayu.
4. Penimbunan, yaitu usaha untuk menyimpan kayu dalam keadaan baik
sebelum digunakan atau dipasarkan, dalam keadaan ini termasuk
pemotongan ujungujung kayu yang pecah atau kurang rata sebelum
ditimbun.

B. Pengangkutan Hasil Hutan

Elias {1988) mengemukakan bahwa yang dimaksud


pengangkutan kayu di bidang kehutanan adalah D enoang kutan kayu
dari tempat penebangan sampai tempat tujuan akhir, baik pabrik
pengolahan kayu, tempat penimbunan kavu atau konsumen. Menurut Juta
pengangkutan hasil hutan meliputi penyaradan (minor transportation) dan
pengangkutan (major transpor- tation).
Penyaradan adalah proses pemindahan kayu dengan cara diseret diatas
tanah, baik sebagian maupun seluruhnya, atau tidak menyentuh tanah
dari tempat tebangan atau tunggak ke tempat pengumpulan kayu atau
TPN di tepi jalan angkutan. Cara ini dapat dilakukan dengan sistem mekanis

3
dengan mempergunakan traitor atau kabel dan system manual yang
mempergunakan tenaga hewan dan atau manusia
Pengangkutan adalah pemindahan kayu dari tempat pengumpulan
(TPN) ke tempat penimbunan kayu atau ke tempat tujuan, yang dimulai
pada saat kayu dimuat ke atas alat pengangkut truk, kereta api, lori, cikar
atau dikumpulkan dengan rakit dalam sungai, sampai muatan tersebut
dibongkar di tempat tujuan (Suparto, 1975)

C. Jalan Angkutan

Pembuatan jaringan jalan hutan baik di areal hutan tanaman maupun hutan


alam terkait erat dengan pembuatan jalan.Pembuatan jalan harus didasarkan
pada aspek-aspek ekonomis, aspek teknis dan aspek ekologis. Ditinjau dari
aspek ekonomis, maka besarnya biaya yang digunakan untuk membuat jalan
harus tidak melebihi nilai tegakan atau hutan yang akan dipanen. Ditinjau dari
aspek teknis, maka jalan hutan yang dibuat harus sesuai dengan standar jalan
yang ditetapkan, sehingga dapat dilalui atau digunakan seperti yang
diharapkan. Sedangkan ditinjau dari aspek  ekologi, jalan yang dibuat dalam
jaringan jalan harus sekecil atau sesedikit mungkin menimbulkan kerusakan
bagi lingkungan.
Jalan hutan sebagai penyusun utama jaringan jalan diklasifikasikan
menjadi 3 macam jalan, yaitu :
1.    Jalan Angkutan (haul road)
Jalan angkutan terdiri atas jalan utama, jalan cabang dan jalan
ranting membentuk suatu jaringan jalan angkutan yang digunakan untuk
mengangkut hasil hutan ke tempat pengolahannya atau ke log pond.
Jalan utama merupakan segmen jalan hutan yang berfungsi melayani lalu
lintas untuk memperlancar kegiatan pengelolaan hutan secara umum
(Elias, 2008).
Jalan cabang dan jalan ranting adalah jalan angkutan dengan
standar jalan yang lebih rendah daripada jalan utama.Jalan cabang
berfungsi sebagai penghubung antara jalan utama dengan jalan ranting,

4
sedangkan jalan ranting berfungsi menghubungkan areal tebangan dengan
jalan cabang.
2.    Jalan Sarad (skidding or forwarding trails)
Jalan sarad adalah jalan yang dilalui oleh traktor sarad untuk
menyarad kayu dari areal tebangan menuju ke tempat pengumpulan
(TPn). Jalan sarad biasanya tidak dipersiapkan terlebih dahulu.Jalan sarad
yang telah lama dipakai dan dilewati banyak traktor, dengan pemeliharaan
yang cukup bisa dijadikan sebagai jalan angkutan sementara
(Haryanto,1997).
3.      Jalan Masuk (acces road)
Jalan masuk merupakan semua jalan yang menuju lokasi hutan
dimana kegiatan pengelolaan hutan dilaksanakan. Jalan ini digunakan
untuk mengangkut tenaga kerja, material, pupuk dan perlengkapan-
perlengkapan lain yang dibutuhkan dalam kegiatan pengelolaan hutan.

D. Lapisan Pengerasan
Konstruksi perkerasan terdiri dari lapisan-lapisan yang diletakkan diatas
tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk
menerima beban dan menyebarnya ke lapisan di bawahnya. Beban lalu lintas
yang  bekerja di atas konstruksi perkerasan dapat dibedakan atas: 1. Muatan
kendaraan berupa gaya vertical 2. Gaya rem kendaraan berupa gaya
horizontal 3. Pukulan roda kendaraa berupa getaran-getaran. Karena sifat
penyebaran gaya maka muatan yang diterima oleh masing-masing lapisan
berbeda dan semakin ke bawah semakin kecil. Lapisan permukaan harus
mampu menerima seluruh jenis gaya yang bekerja, lapisan pondasi atas
menerima gaya vertical dan getaran, sedangkan tanah dasar dianggap hanya
menerima gaya vertical saja.

Permukaan tanah yang berfungsi sebagai badan jalan harus mampu


memikul beban lalu lintas dan berat perkerasan. Menurut departemen PU
et.al (1978), bahan perkerasan berguna untuk menyebarkan bahan lalu

5
lintas ke tanah di bawahnya dan melindungi jalan dari pengaruh air dan
cuaca. Menurut perhutani ( 1994 ) tahapan pekerjaan pengerasan terdiri
dari :
1. Pemasangan batu balas ( 17-20 cm ) sebagai lapisan dasar berikut
cocok dari batu pecah ( 5-7 cm )
2. Pemadatan pasangan batu balas berikut cocok dengan mesin gilas
3. Penghamparan pasir kasar atau sirtu kemudian dipadatkan dengan
mesin gilas.
E. Penampang Memanjang
Tinggi permukaan tanah yang telah dilalui oleh as jalan tidak selalu sama
dengan tinggi permukaan tanah asli, karena itu untuk mendapatkan tinggi
muka tanah sebagai as jalan perlu dibuat pendakian-pendakian yang lebih
lembut. Untuk itulah perlu dibuat garis perataan yang merupakan badan jalan
dimana as jalan nantinya akan melalui garis perataan tersebut. Hal ini
dimaksudkan agar pendakian-pendakian yang didapat dipenampang
memanjang dapat diminimalisir.
Dengan adanya garis perataan maka pada penampang memanjang akan
terlihat adanya galian dan timbunan yang merupakan selisih antara tinggi
tanah asli dengan perataan as jalan yang bearti permukaan garis perataan. Jika
permukaan tanah asli lebih tinggi dari garis perataan maka akan terdapat
galian, dan sebaliknya jika permukaan tanah asli lebih rendahdari garis
perataan maka akan dilakukan penimbunan tanah pada as jalan.

F. Penampang Melintang
Penampang melintang jalan adalah potongan melintang tegak lurus sumbu
jalan, yang memperlihatkan bagian –bagian jalan.Penampang melintang jalan
yang akan digunakan harus sesuai dengan klasifikasi jalan serta kebutuhan
lalu lintas yang bersangkutan,demikian pula lebar badan jalan, drainase dan
kebebasan pada jalan raya semua harus disesuaikan dengan peraturan yang
berlaku.

6
Agar dapat diperoleh perkiraan berapa besar volume pekerjaan tanah
(dalam menduga besarnya volume tanah yang akan digali dan ditimbun),
maka perlu dibuat penampang melintang jalan. Pekerjaan ini erat
hubungannya dengan pekerjaan sebelumnya.
Pada penampang melintang jalan dapat dilihat penampang memanjang
permukaan tanah asal yang akan dilewati dan garis perataan yang hendak
digunakan sebagai as jalan. Atas dasar penampang memenjang jalan, kita bisa
membuat penampang melintang tanah asal dan penampang melintang jalan.
Bagian-bagian jalan yang dapat dilihat pada penampang melitang jalan
antara lain :
1. Selokan (talud) yang terletak dikanan dan kiri jalan.
2. Bahu jalan / jalur lunak (Berm) yang berdampingan dengan selokan.
3. Jalur jalan yang dilewati kendaraan (badan jalan)
4. Penampang melintang tanah asal
5. Dengan gambaran bagian-bagian jalan pada penampang melintang tanah
asal maka akan terlihat besarnya galian dan timbunan yang akan
dikerjakan suatu titik profil.

G. Daftar Pekerjaan
Untuk dapat menduga secara keseluruhan besarnya galian dan timbunan
pada pekerjaan pembuatan trace jalan ini maka perlu dibuat daftar pekerjaan
tanah. Untuk mengisi daftar ini perlu dilakukan perhitungan terhadap luas
galian dan timbunan yang ada pada setiap titik profil berdasarkan penampang
melintang yaitu dengan membagi daerah tersebut menjadi beberapa bagian
yang dapat berbentuk segi tiga siku-siku, bujur sangkar, persegi panjang da
lainnya agar perhitungan dapat lebih mudah dan teliti. Pengunaan planimeter
dapat digunakan untuk mendapatkan nilai yang lebih akurat.

7
BAB III

BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Alat
- Penggaris
- Pensil
- Jangka
- Busur derajat
- Penghapus
- Kalkulator
2. Bahan
- Peta topografi skala 1: 2000
- Kertas milimeter block

.           B. Prosedur Praktikum

1. Pembuatan Trase Jalan dan Penentuan Titik Profil


- Membuat trase untuk menghubungkan titik A dan titik B, yang
terdapat pada Peta Topografi skala 1 : 2000 dengan langkah- langkah
sebagai berikut :
- Menentukan titik – titik profil pada trase jalan yang menghubungkan
titik A dan titik B, diberi nama dari A-1-2-3.....B
- Menentukan tinggi pada masing – masing titik profil, kemudian
menghitung beda tingginya
- Mengitung jarak antar titik profil dari titik profil A sampai titik profil
B, dengan mempertimbangkan beberapa ketentuan yaitu Jarak antar
titik profil pada jalan lurus maksimal 100 meter, dan pada daerah
belokan diletakan 3 titik profil masing – masing pada awal, tengah
dan akhir belokan. Untuk belokan diperhalus dengan menggunakan
jangka, serta ditentukan jari jari pada belokan.

8
Untuk daerah lurus jarak antar titik profil dihitung berdasarkan
panjang titik profil dilihat dari penggaris kemudian dihitung
berdasarkan perbandingan skala.

Sedangkan untuk daerah belokan jarak dihitung dengan rumus :


Jarak (J) = α x2pr
360°
Ket : α = Besar sudut pada belokan
p = 3,14
r = Jari – jari belokan
- Setelah jarak antar profil diketahui, selanjutnya menghitung heling
pada masing-masing titik profil. Penentuan helling harus sesuai
dengan syarat yang telah ditentukan baik untuk daerah lurus maupun
daerah belokan, yaitu:
 Untuk daerah datar max 5%
 Untuk daerah pegunungan sedang 6 – 7%
 Untuk daerah pegunungan berat 8 – 10%
 Untuk Belokan maksimal 5%
 Pada daerah belokan jari-jari minimal 50 m dan maksimal 80 m.
Pada belokan ini dibuat titik profil awal, titik tengah dan titik akhir
belokan
- Menghitung helling menggunakan rumus :
Helling = Beda Tinggi / Jarak antar titik profil x 100 %
- Membuat tabel bantu pembuatan trace, serta mengisinya dengan data
– data hasil perhitungan jarak antar profil, ketinggian titik profil
maupun % helling.

Nomor Ketinggian Jarak Beda Helling Keterangan


Profil Titik Profil Antar Tinggi (%)
(m dpl) Profil (m)
(m)
A
Dst
B

9
2. Pembuatan Penampang Memanjang
Membuat penampang memanjang dalam kertas mm blok, pembuatan
penampang memanjang berdasarkan pada trace dengan skala vertikal
1:200 dan horizontal 1:2000 dengan langkah-langkah sebagai berikut :

- Membuat dua buah garis sumbu x dan sumbu y


- Sumbu x untuk jarak antar titik profil, sedangkan sumbu y untuk
ketinggian masing-masing titik profil
- Membuat grafik untuk penampang memanjang jalan, jarak antar titik
profil disesuaikan dengan ketinggian masing-masing profil
- Setelah penampang memanjang jalan jadi, langkah selanjutnya adalah
membuat tabel untuk penampang melintang jalan

No. Titik profil Titik Profil A Sampai Titik Profil B

Jarak antar titik profil (m)


Jarak langsung (m)
Tinggi As tanah (m)
Tinggi As jalan (m)
Perbedaan galian(m) timbunan (m)
Helling mula-mula (%)
Helling garis perataan (m)

Untuk mengisi tabel penampang memanjang, hal yang harus diperhatikan


adalah :
 Menyesuaikan nomor titik profil dengan titik profil yang telah di buat
 Selanjutnya, menyesuaikan jarak antar titik profil yang merupakan
jarak antara dua titik profil yang berurutan, dengan skala horizontal
1 : 2000
 Menentukan jarak langsung, untuk mengetahui jarak dari perencanaan
yang dibuat berdasarkan data yang didapat dari tabel bantu.
 Menentukan tinggi tanah di As jalan yang merupakan ketinggian
tanah asal di dalam perencanaan jaringan jalan sebelum di lakukan
garis perataan.

10
 Perbedaan galian dan timbunan, didapat setelah dilakukan penarikan
garis perataan. Jika garis perataan berada diatas tanah asli berarti
terdapat timbunan dan sebaliknya
 Helling mula-mula, merupakan persentase perbandingan antara beda
tinggi di As tanah dari dua titik profil yang berurutan dengan jarak
dua titik profil yang bersangkutan
 Helling garis perataan, merupakan persentase perbandingan antara
beda tinggi tanah di As jalan dari dua titik profil yang berurutan
dengan jarak dua titik
 Jalan lurus atau belokan, digambarkan dengan kode berupa garis lurus
atau berbentuk busur

3. Pembuatan Penampang Melintang


- Menyiapkan kertas milimeter blok dan penggaris. Setiap kontur
dengan ukuran 1cm menandakan 1mm pada kertas mm blok
- Membuat bidang melintang trace pada peta, bidang ini akan
tergambar sesuai dengan garis lurus yang memotong tegak lurus trace
- Memindahkan keatas kertas grafik dengan skala 1:200 (vertikal dan
horisontal) badan melintang trace pada peta tersebut
- Menentukan terlebih dahulu tinggi tanah di as jalan dan tinggi as jalan
pada penggambaran diatas mm block
- Selanjutnya penampang melintang trace digambarkan pada
perpotongan tinggi tanah pada as jalan dengan bidang melintang trace
yang dipindahkan tersebut, dengan ketentuan sebagai berikut
 Lebar badan jalan 5 meter (2,5 cm dalam kertas mm block)
 Lebar berm dikiri dan kanan jalan masing-masing 1,5 m (0,75
cm didalam kertas mm block)
 Parit (selokan) dibuat selebar 0,25 m kiri dan kanan (0,125 cm
didalam kertas mm block)
 Dalam selokan 0,25 meter (0,125 cm dalam kertas mm block)
 Kemiringan talud 1:1 yang membentuk 45°

11
- Setelah jarak antara kontur sudah diketahui, selanjutnya memasukkan
data-data ke dalam tabel pembuatan penampang melintang

No. Titik Profil Titik profil A – Titik profil B

Jarak antar titik profil (m)

Jarak langsung (m)

Tinggi As tanah (m)

Tinggi As jalan (m)

4. Pembuatan Daftar Pekerjaan Tanah


- Menghitung luas bidang galian dan timbunan pada tiap-tiap profil
(bentuk segitiga, bujur sangkar, persegi panjang dll.)
- Menjumlahkan masing-masing luas bidang galian untuk mendapatkan
luas total pada satu profil.
- Mencari rata-rata bidang galian dan timbunan antara titik profil yang
berdekatan.
- Mengalikan rata-rata bidang galian dan timbunan dengan jarak titik
profil yang berdekatan untuk mendapatkan taksiran volume galian
dan timbunan.
 Volume galian : Jarak profil x luas rata-rata penampang galian
 Volume timbunan : Jarak profil x luas rata-rata penampang
timbunan
- Membuat tabel daftar pekerjaan tanah

Titik Jara Luas penampang Volume (m³)


Profi k melintang (m²) Luas penampang
l (m) rata-rata (m²)

Galian Timbunan Galia Timbunan Galia Timbunan


n n
A

12
dst
B
Total

5. Daftar Analisa biaya


Biaya galian dan timbuana dapat dihitung dengan cara :
- Biaya galian : Total volume galian x biaya galian/m3
- Biaya timbunan : Total volume timbunan x biaya timbunan/m3
Yang mana upah untuk :

Galian : Rp. 100.000,- /m3


Timbunan : Rp. 95.000,- /m3

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembuatan trace dan penentuan titik profil

Dalam pembuatan trace jalan, titik – titik profil diperlukan untuk


mempermudah pekerjaan pembuatan jalan. Pembuatan trase jalan dari titik A
ke titik B yang dibuat pada peta topografi dengan skala 1 : 2000, serta
penentuan titik profil sekaligus penentuan ketinggian dari masing – masing
titik profil diperoleh hasil dengan data sebagai berikut :

Tabel 1. Tinggi Titik Profil

Nomor Profil Tinggi titik profil (mdpl)

A 513

1 515

2 516

2a 515

2b 516

3 514

4 517

5 519

6 515

7 514

8 516

8a 517

9 515

14
10 517

10a 515

11 516

12 520

12a 515

13 517

14 515

B 518

Penentuan jarak antar masing – masing titik profil diperoleh dengan


membandingkan skala pada peta dengan skala di lapangan. Skala pada peta
topografi adalah 1:2000 yang mengartikan 1 cm di peta sama dengan 20 m
dilapangan. Untuk jarak antar titik profil pada area belokan diperoleh dengan
menggunakan rumus :

Jarak = α 2 .π .R ket : α = sudut pada belokan

360º π = 3,14

R = jari- jari belokan

Dari hasil pengukuran dengan menggunakan penggaris dipeta diperoleh jarak


antar masing-masing titik profil adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Jarak Antar Titik Profil

Nomor Profil Jarak Antar titik Profil (m dpl)

A-1 92

1-2 30

15
2-2a 20

2a-2b 8

2b-3 49

3-4 21

4-5 9

5-6 23

6-7 29,34

7-8 29,34

8-8a 12

8a-9 4

9-10 14

10-10a 8

10a-11 20

11-12 57

12-12a 49

12a-13 17

13-14 18

14-B 22

Penentuan jarak

 Jarak profil A-1


Pada peta 4,6 cm yang berarti 92 m dilapangan
 Jarak profil 1-2
Pada peta 1,5 cm yang berarti 30 m dilapangan

16
 Jarak profil 2-2a
Pada peta 1 cm yang berarti 20 m dilapangan
 Jarak profil 2a-2b
Pada peta 0,4 cm yang berarti 8 m dilapangan
 Jarak profil 2b-3
Pada peta 2,45 cm yang berarti 49 m dilapangan
 Jarak profil 3-4
Pada peta 1,05 cm yang berarti 21 m dilapangan
 Jarak profil 4-5
Pada peta 0,45 yang berarti 9 m dilapangan
 Jarak profil 5-6
Pada peta 1,15 cm yang berarti 23 m dilapangan
 Jarak profil 6-7
Jarak = 29º/360º × 2 × 3,14 × 58
= 29,34 m dilapangan yang berarti 1,47 cm pada peta
 Jarak profil 7-8
Jarak = 29º/360º × 2 × 3,14 × 58
= 29,34 m dilapangan yang berarti 1,47 cm pada peta
 Jarak profil 8-8a
Pada peta 0,6 cm yang berarti 12 m dilapangan
 Jarak profil 8a-9
Pada peta 0,2 cm yang berarti 4 m dilapangan
 Jarak profil 9-10
Pada peta 0,7 cm yang berarti 14 m dilapangan
 Jarak profil 10-10a
Pada peta 0,4 cm yang berarti 8 m dilapangan
 Jarak profil 10a-11
Pada peta 1 cm yang berarti 20 m dilapangan
 Jarak profil 11-12
Pada peta 2,85 cm yang berarti 57 m dilapangan
 Jarak profil 12-12a

17
Pada peta 2,45 cm yang berarti 49 m dilapangan
 Jarak profil 12a-13
Pada peta 0,85 yang berarti 17 m dilapangan
 Jarak profil 13-14
Pada peta 0,9 cm yang berarti 18 m dilapangan
 Jarak profil 14-B
Pada peta 1,1 cm yang berarti 22m dilapangan

Pada tahap pembuatan trace jalan juga ditentukan beda tinggi antar titik profil
untuk menentukan helling. Perhitungan helling diperoleh dengan rumus :

Helling = Beda Tinggi x 100%


Jarak

Perhuitungan Helling

Titik profil A-1 Titik profil 1-2

BT = 513-515 = 2 BT = 515-516 = 1

H = 2/92 × 100% = 2,17 % H = 1/30 × 100% = 3,33 %

Titik profil 2-2a Titik profil 2a-2b

BT = 516-515 = 1 BT = 515-516 = 1

18
H = 1/20× 100% = 5 % H = 1/8 × 100% = 12,50 %

Titik profil 2b-3 Titik profil 3-4

BT = 516-514 = 2 BT = 514-517 = 3

H = 2/49 × 100% = 4,08 % H = 3/21 × 100% = 14,28 %

Titik profil 4-5 Titik profil 5-6

BT = 517-519 = 2 BT = 519-515 = 4

H = 2/9 × 100% = 22,22 % H = 4/23 × 100% = 17,39 %

Titik profil 6-7 Titik profil 7-8

BT = 515-514 = 1 BT = 514-516 = 2

H = 1/29,34 × 100% = 3,40 % H = 2/29,34 × 100% = 6,81 %

Titi profil 8-8a Titik profil 8a-9

BT = 516-517 = 1 BT = 517-515 = 2

H = 1/12 × 100% = 8,33 % H = 2/4 × 100% = 50 %

Titik profil 9-10 Titik profil 10-10a

BT = 515-517 = 2 BT = 517-515 = 2

H = 2/14 × 100% = 14,28 % H = 2/8 × 100% = 25 %

Titik profil 10a-11 Titik profil 11-12

BT = 515-516 = 1 BT = 516-520 = 4

19
H = 1/20 × 100% = 5 % H = 4/57 × 100% = 7,02 %

Titik profil 12-12a Titik profil 12a-13

BT = 520-515 = 5 BT = 515-517 =2

H = 5/49 ×100% = 10,20 % H = 2/17 × 100% = 11,77 %

Titik profil 13-14 Titik profil 14-B

BT = 517-515 = 2 BT = 515-518 = 3

H = 2/18 × 100% = 11,11 % H = 3/22 × 100% = 13,64 %

Tabel 3. Daftar Pembuatan Trase

No. Ketinggian Jarak BT Helling Lurus/Belokan Keterangan


Profil Titik Profil (m) (m) (%)
(m dpl )
A 513
92 2 2,17 Lurus
1 515
30 1 3,33 Lurus
2 516
20 1 5 Lurus
2a 515
8 1 12,50 Lurus
2b 516
49 2 4,08 Lurus
3 514
21 3 14,28 Lurus
4 517
9 2 22,22 Lurus
5 519
23 4 17,39 Lurus

20
6 515
29,34 1 3,40 Belokan R = 58 m
α = 29º
7 514
29,34 2 6,81 Belokan R = 58 m
α = 29º
8 516
12 1 8,33 Lurus
8a 517
4 2 50 Lurus
9 515
14 2 14,28 Lurus
10 517
8 2 25 Lurus
10a 515
20 1 5 Lurus
11 516
57 4 7,02 Lurus
12 520
49 5 10,20 Lurus
12a 515
17 2 11,76 Lurus
13 517
18 2 11,11 Lurus
14 515
22 3 13,64 Lurus
B 518

B. Pembuatan Penampang Memanjang


Pembuatanpenampang memanjang dilalukan diatas milimeter blok dengan
skala 1 : 200 pada sumbu y dan skala 1 : 2000 pada sumbu x. Sumbu x untuk
jarak antar profil, sedangkan sumbu y adalah ketinggian masing – masing
profil.

 Jarak antar profil


A-1 = 92 m
1-2 = 30 m
2-2a = 20 m
2a -2b = 8 m
2b-3 = 49 m

21
3-4 = 21 m
4-5 = 9 m
5-6 = 23 m
6-7 = 29,34 m
7-8 = 29,34 m
8-8a = 12 m
8a-9 = 4 m
9-10 = 14 m
10-10a = 8 m
10a-11 = 20 m
11-12 = 57 m
12-12a = 49 m
12a-13 = 17 m
13-14 = 18 m
14-B = 22 m
 Jarak langsung
A-1 = 92 m
A-2 = 122 m
A-2a = 142 m
A-2b = 150 m
A-3 = 199 m
A-4 = 220 m
A-5 = 229 m
A-6 = 252 m
A-7 = 281,34 m
A-8 = 310,68 m
A-8a = 322,68 m
A-9 = 326,68 m
A-10 = 340,68 m
A-10a = 348,68 m
A-11 = 368,68 m

22
A-12 = 425,68 m
A-12a = 474,68 m
A-13 = 491,68 m
A-14 = 509,68 m
A-B = 531,68 m
Sehingga diperoleh jarak langsung antara titik A dan titik B sebesar 531,68
meter.

 Tinggi As Tanah
Ketinggian titik profil sebelum perataan ( tinggi titik profil sesungguhnya )
Nomor Profil Tinggi titik profil (mdpl)
A = 513 mdpl
1 = 515 mdpl
2 = 516 mdpl
2a = 515 mdpl
2b = 516 mdpl
3 = 514 mdpl
4 = 517 mdpl
5 = 519 mdpl
6 = 515 mdpl
7 = 514 mdpl
8 = 516 mdpl
8a = 517 mdpl
9 = 515 mdpl
10 = 517 mdpl
10a = 515 mdpl
11 = 516 mdpl
12 = 520 mdpl
12a =515 mdpl
13 = 517 mdpl
14 = 515 mdpl
B = 518 mdpl

 Tinggi As jalan
Tinggi As jalan diperoleh dari garis perataan pada penampang memanjang,
dengan data tinggi jalan setelah perataan adalah sebagai berikut :

Tabel 4. Tinggi As Jalan

23
Nomor Profil Tinggi As Jalan (mdpl)
A 516
1 516
2 516
2a 516
2b 516
3 516
4 516
5 516
6 516
7 516
8 516
8a 516
9 516
10 516
10a 516
11 516
12 517
12a 517
13 517
14 517
B 517

 Perbedaan Galian dan Timbunan


Perbedaan galian dan timbunan diperoleh dari selisih Tinggi As Tanah
dengan Tinggi As Jalan.

Tabel 5. Perbedaan Galian dan Timbunan

Nomor Titik Profil Perbedaan Galian – Timbunan (m)


A Timbunan = 513-516 = 3
1 Timbunan = 515-516 = 1
2 516-516 = 0
2a Timbunan = 515-516 = 1
2b 516-516 = 0
3 Timbunan = 514-516 = 2
4 Galian = 517-516 = 1
5 Galian = 519-516 = 3
6 Timbunan = 515-516 =1
7 Timbunan = 514-516 =2
8 516-516 = 0
8a Galian = 517-516 = 1

24
9 Timbunan = 515-516 = 1
10 Galian = 517-516 = 1
10a Timbunan = 515-516 = 1
11 516-516 = 0
12 Galian = 520-517 = 3
12a Timbunan = 515-517 = 2
13 517-517 = 0
14 Timbunan = 515-517 = 2
B Galian = 518-517 = 1

 Pelandaian Helling Perataan


Perhitungan Helling garis perataan menggunakan data tinggi as jalan
( setelah perataan ) dengan ditentukan terlebih dahulu beda tinggi antar
masing – masing titik profil. Kemudian membaginya dengan jarak antar
titik profil.

Helling garis perataan = Beda tinggi / Jarak x 100 %

Titik profil A-1 Titik profil 1-2

BT = 516-516 = 0 BT = 516-516 = 0

H = 0/92 × 100% = 0 % H = 0/30 × 100% = 0 %

Titik profil 2-2a Titik profil 2a-2b

BT = 516-516 = 0 BT = 516-516 = 0

H = 0/20× 100% = 0 % H = 0/8 × 100% = 0 %

Titik profil 2b-3 Titik profil 3-4

BT = 516-514 = 2 BT = 514-517 = 3

H = 0/49 × 100% = 0 % H = 0/21 × 100% = 0 %

25
Titik profil 4-5 Titik profil 5-6

BT = 516-516 = 0 BT = 516-516 = 0

H = 0/9 × 100% = 0 % H = 0/23 × 100% = 0 %

Titik profil 6-7 Titik profil 7-8

BT = 516-516 = 0 BT = 516-516 = 0

H = 0/29,34 × 100% = 0 % H = 0/29,34 × 100% = 0 %

Titi profil 8-8a Titik profil 8a-9

BT = 516-516 = 0 BT = 516-516 = 0

H = 0/12 × 100% = 0 % H = 0/4 × 100% = 0 %

Titik profil 9-10 Titik profil 10-10a

BT = 516-516 = 0 BT = 516-516 = 0

H = 0/14 × 100% = 0 % H = 0/8 × 100% = 0 %

Titik profil 10a-11 Titik profil 11-12

BT = 516-516 = 0 BT = 516-517 = 1

H = 0/20 × 100% = 0 % H = 1/57 × 100% = 1,75 %

Titik profil 12-12a Titik profil 12a-13

BT = 517-517 = 0 BT = 517-517 = 0

H = 0/49 ×100% = 0 % H = 0/17 × 100% = 0 %

26
Titik profil 13-14 Titik profil 14-B

BT = 517-517 = 0 BT = 517-517 =

H = 0/18 × 100% = 0 % H = 0/22 × 100% = 0 %

C. Pembuatan Penampang Melintang


Pembuatan penampang melintang dilakukan pada peta topografi dengan
skala 1 : 2000, penampang melintang berupa garis tegak lurus pada masing
masing – masing titik profil, yang kemudian garis tersebut digunakan sebagai
garis pembantu dalam pembuatan penampang melintang di milimeter blok.
Setiap 1 mm di peta mengartikan 1cm di milimeter blok. Perhitungan luas
penampang melintang adalah dengan menggunakan rumus bangun yang
diperoleh (segitiga, trapesium, jajar genjang, atau rumus bangun lainya)
tergantung bentuk bangun yang terdapat pada penampang melintang. Dari
hasil pembuatan penampang melintang diperoleh data sebagai berikut :

Gamba 1. Profil A

Galian : 0

27
Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 15 mm × 15 mm = 112,5 mm²

L2 (persegi panjang) : 30 mm × 15 mm = 450 mm²

L3 (persegi panjang) : 14 mm × 10 mm = 140 mm²

L4 (segitiga) : ½ × 12,5 mm × 12 mm = 75 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 12,5 mm × 1,5 mm = 9,375 mm²

L6 (segitiga) : ½ × 5mm × 1 mm = 2,5 mm²

Luas total timbunan : 789,375 mm × 1 m² = 31,575 m²

25 mm

Gambar 2. Profil 1

Galian : 0

Timbunan

28
L1 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

L2 (persegi panjang) : 30 mm × 5 mm = 150 mm²

L3 (persegi panjang) : 10 mm × 5 mm = 50 mm²

L4 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 15 mm × 2 mm = 15 mm²

L6 (segitiga) : ½ × 2 mm × 2 mm = 2 mm²

Luas total timbunan : 242 mm × 1 m² = 9,68 m²

25 mm

Gambar 3. Profil 2

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 5 mm × 1 mm = 2,5 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 1 mm × 1mm = 0,5 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 15 mm × 1 mm = 7,5 mm²

29
L4 (segitiga) : ½ × 1 mm × 1 mm = 0,5 mm²

Luas total timbunan : 11 mm × 1 m² = 0,44 m²

25 mm

Gambar 4. Profil 2a

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

L2 (persegi panjang) : 40 mm × 5 mm = 200 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

Luas total timbunan : 225 mm × 1 m² = 9 m²

30
25 mm

Gambar 5. Profil 2b

Galian

L6 (segitiga) : ½ × 21 mm × 2 mm = 21 mm²

L7 (segitiga) : ½ × 2 mm × 2 mm = 2 mm²

Luas 1 buah talud : 1 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm) = 0,78125 mm²

Luas total galian : 23,78125 mm × 1 m² = 0,95125 m²

25 mm

31
Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 2 mm × 2 mm = 2 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 16 mm × 2 mm = 16 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

L4 (persegi panjang) : 11 mm × 5 mm = 55 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 9,5 mm × 5 mm = 23,75 mm²

Luas total timbunan : 109,25 mm × 1 m² = 4,37 m²

25 mm

Gambar 6. Profil 3

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 6 mm × 6 mm = 18 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 6 mm × 3,5 mm = 10,5 mm²

L3 (persegi panjang) : 10 mm × 9 mm = 90 mm²

32
L4 (persegi panjang) : 30 mm× 10 mm = 300 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 10 mm × 10 mm = 50 mm²

L6 (segitiga) : ½ × 17 mm × 2 mm = 17 mm²

L7 (segitiga) : ½ × 3 mm × 2 mm = 3 mm²

L8 (segitiga) : ½ × 10 mm × 1 mm = 5 mm²

Luas total timbunan : 493,5 mm × 1 m² = 19,74 m²

25 mm

Gambar 7. Profil 4

Galian

L1 (segitiga) : ½ × 7 mm × 4 mm = 14 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 3 mm × 2,5 mm = 3,75 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 14 mm × 4 mm = 28 mm²

L4 (segitiga) : ½ × 10 mm × 9,5 mm = 47,5 mm²

33
L5 (persegi panjang) : 22 mm × 5 mm = 110 mm²

L6 (segitiga) : ½ × 17 mm × 5 mm = 42,5 mm²

L7 (segitiga) : ½ × 20 mm × 5 mm = 50 mm²

L8 (persegi panjang) : 5 mm × 4,5 mm = 22, 5 mm²

Luas 1 buah talud : 1 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 0,78125 mm²

Luas total galian : 319,03125 mm × 1 m² = 12,76125 m²

25 mm

Timbunan : 0

Gambar 8. Profil 5

Galian

L1 (segitiga) : ½ × 8,5 mm × 8 mm = 34 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 28 mm × 3 mm = 42 mm²

L3 (persegi panjang) : 31 mm × 5 mm = 155 mm²

L4 (segitiga) : ½ × 9,5 mm × 9,5 mm = 45,125 mm²

L5 (persegi panjang) : 42,5 mm × 10 mm = 425 mm²

34
L6 (segitiga) : ½ × 21 mm × 5 mm = 52,5 mm²

L7 (segitiga) : ½ × 8 mm × 7 mm = 28 mm²

L8 (segitiga) : ½ × 8 mm × 3 mm = 12 mm²

Luas 2 buah talud : 2 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm = 1,5625 mm²

Luas total galian : 795,1875 mm × 1 m² = 31,8075 m²

25 mm

Timbunan : 0

Gambar 9. Profil 6

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 1 mm × 1 mm = 0,5 mm²

L2 (persegi panjang) : 20 mm × 1 mm = 20 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 20 mm × 4 mm = 40 mm²

L4 (persegi panjang) : 20 mm × 5 mm = 100 mm²

35
L5 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

Luas total timbunan : 173 mm × 1 m² = 6,92 m²

25 mm

Gambar 10. Profil 7

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 10 mm × 10 mm = 50 mm²

L2 (persegi panjang) : 40 mm × 10 mm = 400 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 9 mm × 8,5 mm = 38,25 mm²

36
L4 (segitiga) : ½ × 8,5 mm × 1,5 mm = 6,375 mm²

Luas total timbunan : 494,625 mm × 1 m² = 19,785 m²

25 mm

Gambar 11. Profil 8

Galian

L3 (segitiga) : ½ × 21,5 mm × 3,5 mm = 37,627 mm²

L4 (segitiga) : ½ × 2,5 mm × 2,5 mm = 3,125 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 3,5 mm × 2,5 mm = 4,375 mm²

Luas 1 buah talud : 1 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 0,78125 mm²

Luas total galian : 45,90625 mm × 1 m² = 1,83625 m²

37
25 mm

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 20 mm × 5 mm = 50 mm²

Luas total timbunan : 62,5 mm × 1 m² = 2,5 m²

25 mm

Gambar 12. Profil 8a

Galian

L1 (segitiga) : ½ × 3,5 mm × 3,5 mm = 6,125 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 5 mm × 1,5 mm = 3,75 mm²

L2 (persegi panjang) : 3,5 mm × 1,5 mm = 5,25 mm²

38
L4 (persegi panjang) : 42 mm × 5 mm = 210 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

Luas 2 buah talud : 2 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 1,5625 mm²

Luas total galian : 239,1875 mm × 1 m² = 9,5675 m²

25 mm

Timbunan : 0

Gambar 13. Profil 9

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

L2 (persegi panjang) : 40 mm × 5 mm = 200 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

39
Luas total timbunan : 225 mm × 1 m² = 9 m²

25 mm

Gambar 14. Profil 10

Galian :

L1 (segitiga) : ½ × 4,5 mm × 4 mm = 9 mm²

L2 (persegi panjang) : 41 mm × 5 mm = 205 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 5 mm × 1 mm = 2,5 mm²

L4 (segitiga) : ½ × 4 mm × 3,5 mm = 7 mm²

40
L5 (persegi panjang) : 4 mm × 1,5 mm = 6 mm²

Luas 2 buah talud : 2 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 1,5625 mm²

Luas total galian : 231,0625 mm × 1 m² = 9,2425 m²

25 mm

Timbunan : 0

Gambar 15. Profil 10a

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

L2 (persegi panjang) : 40 mm × 5 mm = 200 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

Luas total timbunan : 225 mm × 1 m² = 9 m²

25 mm

41
Gambar 16. Profil 11

Galian

L1 (segitiga) : ½ × 3 mm × 2 mm = 3 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 2 mm × 2 mm = 2 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 21,5 mm × 3,5 mm = 37,625 mm²

Luas 2 buah talud : 2 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 1,5625 mm²

42
Luas total galian : 44,1875 mm × 1 m² = 1,7675 m²

25 mm

Timbunan : 0

Gambar 17. Profil 12

Galian

L1 (segitiga) : ½ × 6 mm × 2 mm = 6 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 6 mm × 5 mm = 15 mm²

L3 (persegi panjang) : 7 mm × 2,5 mm =17,5 mm²

43
L4 (persegi panjang) : 43 mm × 10 mm = 430 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 24 mm × 5 mm = 60 mm²

L6 (segitiga) : ½ × 3 mm × 2,5 mm = 3,75 mm²

L7 (segitiga) : ½ × 29 mm × 5 mm = 72,5 mm²

L8 (persegi panjang) : 21,5 mm × 5 mm = 107,5 mm²

L9 (segitiga) : ½ × 15,5 mm × 15 mm = 116,25 mm²

L10 (persegi panjang) : 8 mm × 5 mm = 40 mm²

L11 (segitiga) : ½ × 5 mm × 5 mm = 12,5 mm²

Luas 2 buah talud : 2 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 1,5625 mm²

Luas total galian : 882,5625 mm × 1 m² = 35,3025 m²

25 mm

Timbunan : 0

Gambar 18. Profil 12a

Galian : 0

Timbunan

44
L1 (segitiga) : ½ × 10 mm × 10 mm = 50 mm²

L2 (persegi panjang) : 40 mm × 10 mm = 400 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 10 mm × 9,5 mm = 47,5 mm²

Luas total timbunan : 497,5 mm × 1 m² = 19,9 m²

25 mm

Gambar 19. Profil 13

Galian

L1 (segitiga) : ½ × 3 mm × 2,5 mm = 3,75 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 2,5 mm × 2,5 mm = 3,125 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 21,5 mm × 3 mm = 32,25 mm²

Luas 1 buah talud : 1 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 0,78125 mm²

45
Luas total galian : 39,90625 mm × 1 m² = 1,59625 m²

25 mm

Timbunan

L4 (segitiga) : ½ × 20 mm × 5 mm = 50 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 4 mm × 4 mm = 8 mm²

L6 (segitiga) : ½ × 4,5 mm × 4 mm = 9 mm²

Luas total timbunan : 67 mm × 1 m² = 2,68 m²

25 mm

Gambar 20. Profil 14

Galian : 0

Timbunan

L1 (segitiga) : ½ × 1,5 mm × 1,5 mm = 1,125 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 13,5 mm × 3,5 mm = 23,625 mm²

L3 (persegi panjang) : 12 mm × 1,5 mm = 18 mm²

46
L4 (persegi panjang) : 8 mm × 5 mm = 40 mm²

L5 (segitiga) : ½ × 8 mm × 5 mm = 20 mm²

L6 (persegi panjang) : 20 mm × 10 mm = 200 mm²

L7 (segitiga) : ½ × 7,5 mm × 7,5 ,mm = 28,125 mm²

L8 (segitiga) : ½ × 7,5 mm × 2 mm = 7,5 mm²

Luas total timbunan : 338,375 mm × 1 m² = 13,535 m²

25 mm

Gambar 21. Profil B

Galian

L1 (segitiga) : ½ × 19 mm × 9 mm = 85,5 mm²

L2 (segitiga) : ½ × 10 mm × 9 mm = 45 mm²

L3 (segitiga) : ½ × 21,5 mm × 7,5 mm = 80,625 mm²

L4 (persegi panjang) : 42,5 mm × 5 mm = 212,5 mm²

47
L5 (segitiga) : ½ × 5,5 mm × 5 mm = 13,75 mm²

Luas 2 buah talud : 2 × ( ½ × 1,25 mm × 1,25 mm ) = 1,5625

Luas total galian : 438,9375 mm × 1 m² = 17,5575 m²

25 mm

Timbunan : 0

D. Daftar Pekerjaan Tanah


Daftar pekerjaan tanah dibuat berdasarkan perhitingan luas galian dan
timbunan. Berikut daftar pembantu daftar pekerjaan tanah

Tabel 6. Daftar Pekerjaan Tanah

Titik Jarak Luas Penampang Luas Penampang Rata- Volume


Profi (m) Melintang (m²) rata (m²) (m³)
l Galian Timbunan Galian Timbunan Galian Timbunan
A 0 31,575
92 0 20,6275 0 1.897,73
1 0 9,68
30 0 5,06 0 151,8
2 0 0,44
20 0 4,72 0 94,4
2a 0 9
8 0,475625 6,685 3,805 53,48
2b 0,95125 4,37
49 0,475625 12,055 23,305625 590,695
3 0 19,74
21 6,380625 9,87 133,99313 207,27
4 12,76125 0
9 22,28437 0 200,55938 0
5
5 31,8075 0
23 15,90375 3,46 365,78625 79,58
6 0 6,92

48
29,34 0 13,3525 0 391,76235
7 0 19,785
29,34 0,918125 11,1425 26,937788 326,92095
8 1,83625 2,5
12 5,701875 1,25 68,4225 15
8a 9,5675 0
4 4,78375 4,5 19,135 18
9 0 9
14 4,62125 4,5 64,6975 63
10 9,2425 0
8 4,62125 4,5 36,97 36
10a 0 9
20 0,88375 4,5 17,675 90
11 1,7675 0
57 18,535 0 1.056,495 0
12 35,3025 0
49 17,65125 9,95 864,91125 487,55
12a 0 19,9
17 0,798125 11,29 13,568125 191,93
13 1,59625 2,68
18 0,798125 8,1075 14,36625 145,935
14 0 13,535
22 8,77875 6,7675 193,1325 148,885
B 17,5575 0
Total 3103,7604 4989,9384

E. Analisis Biaya
Besarnya biaya yang telah ditentukan untuk kegiatan pekerjaan tanah per
meter kubik adalah :
Besar biaya galian per meter kubik = Rp. 100.000,-
Besar biaya timbunan per meter kubik = Rp. 95.000,-

Biaya galian = Total volume galian x biaya galian

= 3103,7604 x 100.000

= Rp 310.376.040

Biaya timbunan = Total volume timbunan x biaya timbunan

= 4989,9384 x 95.000

49
= Rp 474.044.148

Total Biaya Keseluruhan = Rp 310.376.040,- + Rp 474.044.148,-

= Rp 784.420.188,-

( Tujuh ratus delapan puluh empat juta, empat ratus dua puluh ribu seratus
delapan puluh delapan rupiah )

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari kegiatan perencanaan pembuatan trace jalan yang telah dilakukan


dapat disimpulkan :

 Jumlah titik profil sebanyak 21 titik, termasuk A dan B


 Panjang jarak langsung dari titi A ke B adalah sepanjang 531,68 m
 Semakin banyak atau besar galian dan timbunan, semakin besar pula
volume dan biaya pekerjaannya.

Biaya timbunan lebih tinggi yaitu senilai Rp 474.044.148,- dan sedangkan biaya
galian senilai Rp 310.376.040,- .

Jadi, total biaya keseluruhan yaitu senilai Rp 784.420.188,-

B. Saran
1. Sebisa mungkin menghindari jalur pegunungan.

50
2. Kegiatan pembuatan trace harus dilakukan secara teliti, agar dari peta
dan kenampakan asli dilapangan sesuai dengan apa yang direncanakan.
Ini sangat berpengaruh dalam biaya Pembukaan Wilayah Hutan.
3. Biaya yang dikeluarkan di usahakan seminim mungkin, namun dengan
tetap memperhatikan kualitas yang baik pula.

DAFTAR PUSTAKA

Elias, 2007. Modul 2. Pelatihan Pembukaan Wilayah Hutan, Fakultas Kehutanan,


Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Haryanto. 1997. Jalan Sarad.


academia.edu/6260386/Perencanaan_Pembuatan_Jalan_Hutan/ diakses pada
tanggal 4 November 2018 pukul 20.58 WIB

http://juliusthh07.blogspot.com/2010/02/pembuatan-trase-jalan.html

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/64646/Chapter%20II.pdf?
sequence=4&isAllowed=y

http://pgun.blogspot.com/2015/02/keteknikan-kehutanan-085750787992_3.html

http://www.academia.edu/6260386/Perencanaan_Pembuatan_Jalan_Hutan

http://alasnusantara.blogspot.com/2013/04/pembukaan-wilayah-hutan-di-luar-
jawa_30.html

Oka dan Suiji Kusumo, 1972, Pedoman Pembuatan Jalan Angkutan Hutan,
Proyek Asisten LPHH Perhutani: Jawa Timur.`

51
Prihatinigtyas, Wuri. 2016. Keteknikan Kehutanan. Fakultas Kehutanan
Universitas tanjungpura Pontianak: Pontianak

52