Anda di halaman 1dari 22

KONSEP TEORI KEPERAWATAN JIWA

DENGAN PERILAKU KEKERASAN


A. PENGERTIAN
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau
mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut
(Jenny, Purba, Mahnum, & Daulay, 2008).
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain
(Yosep, 2007).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang
dapat membahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, disertai
amuk dan gaduh gelisah yang tak terkontrol (Farida & Yudi, 2011).
Resiko perilaku kekerasan atau agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan
merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol
(Yosep, 2007). Resiko mencederai diri yaitu suatu kegiatan yang dapat menimbulkan
kematian baik secara langsung maupun tidak langsung yang sebenarnya dapat dicegah
(Depkes, 2007).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku kekerasan yaitu
ungkapan perasaan marah yang mengakibatkan hilangnya kontrol diri dimana individu
bisa berperilaku menyerang atau melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan
diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

B. PENYEBAB
Menurut Direja (2011) faktor-faktor yang menyebabkan perilaku kekerasan pada
pasien gangguan jiwa antara lain
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor psikologis
1) Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami
hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi perilaku
kekerasan.
2) Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil yang
tidak menyenangkan.
3) Rasa frustasi.
4) Adanya kekerasan dalam rumah, keluarga, atau lingkungan.
5) Teori psikoanalitik, teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego
dan membuat konsep diri yang rendah. Agresi dan kekerasan dapat
memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri
serta memberikan arti dalam kehidupannya. Teori lainnya berasumsi
bahwa perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan pengungkapan
secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan rendahnya harga
diri pelaku tindak kekerasan.
6) Teori pembelajaran, perilaku kekerasan merupakan perilaku yang
dipelajari, individu yang memiliki pengaruh biologik dipengaruhi oleh
contoh peran eksternal dibandingkan anak-anak tanpa faktor predisposisi
biologik.
b. Faktor sosial budaya
Seseorang akan berespons terhadap peningkatan emosionalnya secara
agresif sesuai dengan respons yang dipelajarinya. Sesuai dengan teori menurut
Bandura bahwa agresif tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Faktor
ini dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering
mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan terjadi. Budaya
juga dapat mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat membantu
mendefinisikan ekspresi marah yang dapat diterima dan yang tidak dapat
diterima.
Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku
kekerasan sebagai cara penyelesaiannya masalah perilaku kekerasan
merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan.
c. Faktor biologis
Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya stimulus elektris ringan
pada hipotalamus (pada sistem limbik) ternyata menimbulkan perilaku agresif,
dimana jika terjadi kerusakan fungsi limbik (untuk emosi dan perilaku), lobus
frontal (untuk pemikiran rasional), dan lobus temporal (untuk interpretasi
indra penciuman dan memori) akan menimbulkan mata terbuka lebar, pupil
berdilatasi, dan hendak menyerang objek yang ada di sekitarnya.
Selain itu berdasarkan teori biologik, ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan, yaitu sebagai berikut
a) Pengaruh neurofisiologik, beragam komponen sistem neurologis
mempunyai implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls
agresif. Sistem limbik sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya
perilaku bermusuhan dan respon agresif.
b) Pengaruh biokimia, menurut Goldstein dalam Townsend (1996)
menyatakan bahwa berbagai neurotransmitter (epinefrin, norepinefrin,
dopamine, asetilkolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi
dan menghambat impuls agresif. Peningkatan hormon androgen dan
norepinefrin serta penurunan serotonin dan GABA (6 dan 7) pada cairan
serebrospinal merupakan faktor predisposisi penting yang menyebabkan
timbulnya perilaku agresif pada seseorang.
c) Pengaruh genetik, menurut penelitian perilaku agresif sangat erat
kaitannya dengan genetik termasuk genetik tipe kariotipe XYY, yang
umumnya dimiliki oleh penghuni penjara tindak kriminal (narapidana)
d) Gangguan otak, sindrom otak organik berhubungan dengan berbagai
gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbik dan lobus
temporal) trauma otak, apenyakit ensefalitis, epilepsi (epilepsi lobus
temporal) terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak
kekerasan.
2. Faktor Presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam, baik berupa
injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Beberapa faktor pencetus
perilaku kekerasan adalah sebagai berikut.
a. Klien
Kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang penuh
dengan agresif, dan masa lalu yang tidak menyenangkan.
b. Interaksi
Penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik, merasa
terancam baik internal dari permasalahan diri klien sendiri maupun eksternal
dari lingkungan.
c. Lingkungan
Panas, padat, dan bising.
Menurut Shives (1998) dalam Fitria (2009), hal-hal yang dapat menimbulkan
perilaku kekerasan atau penganiayaan antara lain sebagai berikut.
a. Kesulitan kondisi sosial ekonomi.
b. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu.
c. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuannya
dalam menempatkan diri sebagai orang yang dewasa.
d. Pelaku mungkin mempunyai riwayat antisosial seperti penyalahgunaan obat
dan alkohol serta tidak mampu mengontrol emosi pada saat menghadapi rasa
frustasi.
e. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan
tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.

C. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Direja (2011) tanda dan gejala yang terjadi pada perilaku
kekerasanterdiri dari :
1. Fisik
Mata melotot/pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah
memerah dan tegang, serta postur tubuh kaku.
2. Verbal
Mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada keras,
kasar, ketus.
3. Perilaku
Menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak lingkungan,
amuk/agresif.
4. Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam,
jengkel,tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan,
dan menuntut.
5. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, dan tidak jarang
mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme.
6. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral, dan
kreativitas terhambat.
7. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, dan sindiran.
8. Perhatian
Bolos, melarikan diri, dan melakukan penyimpangan seksual

D. PENATALAKSANAAN
Yang diberikan pada klien yang mengalami gangguan jiwa amuk ada 2 yaitu:

1. Medis

a. Nozinan, yaitu sebagai pengontrol prilaku psikososia.

b. Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan prilaku merusak diri.

c. Thrihexiphenidil, yaitu mengontro perilaku merusak diri dan menenangkan


hiperaktivitas.

d. ECT (Elektro Convulsive Therapy), yaitu menenangkan klien bila mengarah


pada keadaan amuk.

2. Penatalaksanaan keperawatan

a. Psikoterapeutik

b. Lingkungan terapieutik

c. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)

d. Pendidikan kesehatan
E. POHON MASALAH

Resiko Tinggi Mencederai, Orang Lain, dan Lingkungan

Perilaku Kekerasan PPS : Halusinasi

Regimen Terapeutik
Inefektif

Harga Diri Rendah Isolasi Sosial :


Kronis Menarik Diri

Koping Keluarga
Berduka Disfungsional
Tidak Efektif

Gambar 2.2 Pohon Masalah Perilaku Kekerasan

\ Sumber : (Fitria, 2010)

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Meskipun pemeriksaan diagnostic merupakan pemeriksaan penunjang, tetapi
peranannya penting dalam menjelaskan dan mengkuantifikasi disfungsi neurobiologis,
memilih pengobatan, dan memonitor respon klinis.

Menurut Doenges, pemeriksaan diagnostic dilakukan untuk penyakit fisik


yang dapat menyebabkan gejala reversible seperti kondisi defisiensi 'toksik, penyakit
neurologis, gangguan metabolik/endokrin. Serangkaian tes diagnostik yang dapat
dilakukan pada Skizofrenia Paranoid adalah sebagai berikut:

1. Computed Tomograph (CT) Scan


Hasil yang ditemukan pada pasien dengan Skizofrenia benupaab normalitas otak
seperti atrofilobus temporal, pembesaran ventrikel dengan rasioventrikel-otak
meningkat yang dapat dihubungkan dengan derajat gejala yang dapat dilihat.

2. MagnetieResorance Imaging (MRI)

MRI dapat member gambaran otak tiga dimensi, dapat memperlihatkan gambaran
yang lebih kecil dari lobus frontal rata-rata, atrofilobus temporal (terutama
hipokampus, girusparahipo kampus, dangirus temporal superior).

3. Positron Emission Tomography (PET)

Alat ini dapat mengukur aktivitas metabolic dari area spesifik otak dan dapat
menyatakan aktivitas metabolik yang rendah dari lobus frontal, terutama pada area
prefrontal dari korteks serebral,

4. Regional Cerebral Blood Flow (RCBF)

Alat yang dapat memetakan aliran darah dan menyatakan intensitas aktivitas pada
daerah otak yang bervariasi.

5. Brain Electrical Activity Mapping (BEAM)

Alat yang dapat menunjukkan respon gelombang otak terhadap ransangan yang
bervanasi disertai dengan adanya respons yang terhambat dan menurun, kadang-
kadang di lobus frontal dan sistemlimbik.

6. Addiction Severity Index (ASI)

ASI dapat menentukan masalah ketergantungan (ketergantungan zat), yang


mungkin dapat dikaitkan dengan penyakit mental, dan mengindikasikan area
pengobatan yang diperlukan.

7. Electroensephalogmam (EEG)

Dari pemeriksaan didapatkan hasil yang mungkin abnormal, menunjukkan ada


atau luasnya kerusakan organic pada otak
KONSEP ASUHAN KEPEARAWATAN JIWA
PADA KASUS PERILAKU KEKERASAN

A. PENGKAJIAN
Menurut Keliat (2014) data perilaku kekerasan dapat diperolah melalui observasi
atau wawancara tentang perilaku berikut ini:
a. Mukamerah dan tegang
b. Pandangan tajam
c. Mengarupkan rahang dengan kuat
d. Mengepalkan tangan
e. Jalan mondar-mandir
f. Bicara kasar
g. Suara tinggi, menjerit atau berteriak
h. Mengancam secara verbal atau fisik
i. Melempar atau memukul benda /orang lain
j. Merusak barang atau benda
k. Tidak mempunyai kemampuan untuk mencegah atau mengontrol perilaku
kekerasan.
Daftar Masalah
Menurut Keliat (2014) daftar masalah yang mungkin muncul pada perilaku
kekerasan yaitu :
a. Perilaku Kekerasan.
b. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
c. Perubahan persepsi sensori: halusinasi.
d. Harga diri rendah kronis.
e. Isolasi sosial.
f. Berduka disfungsional.
g. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif.
h. Koping keluarga inefektif.

B. DIAGNOSA KEPERAWTAN
Resiko menciderai diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan perilaku kekerasan.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
RESIKO MENCEDERAI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN BERHUBUNGAN
DENGAN PERILAKU KEKERASAN

Nama Klien :
Diagnosa Medis :
Ruang :
Nomoe CM :

Diagnosa Perencanaan Inrervensi Rasional


Tujuan Kriteria Evaluasi
Keperawatan
1 2 3 4 5
Resiko menciderai TUM
diri sendiri dan Klien dapat
orang lain melanjutkan
berhubungan hubungan peran
dengan perilaku sesuai dengan
kekerasan. tanggung jawab
TUK : Setelah 1 x
1. Klien interaksi 1.1.1 Beri  Hubungan
dapat 1.1. Klien mau salam/panggi saling percaya
membina membalas l nama klien merupakan
hubungan salam 1.1.2 Sebutkan landasan
saling 1.2. klien mau nama untama untuk
percaya menjabat perawat hubungan
tangan sambil jabat selanjutnya
1.3. Klien mau tangan
menyebutkan 1.1.3 Jelaskan
nama maksud
1.4. Klien mau hubungan
tersenyum interaksi
1.5. klien mau 1.1.4 Jelaskan
kontak mata tentang
1.6. klien kontrak yang
mengetahui akan dibuat
nama perawat 1.1.5 Beri rasa
1.7. menyediakan aman dan
waktu untuk sikap empati
kontrak 1.1.6 Lakukan
kontrak
singkat tapi
sering

Dx Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi


2. Klien dapat Setelah 2 kli interaksi 2.1.1 Beri  Beri
mengidentifi dengan perawat, kesempatan untuk kesempata
kasi diharapkan ; mengungkapkan n untuk
perubahan 2.1. Klien dapat perasannya mengungk
perilaku mengungkapkan 2.1.2 Bantu klien apkan
kekerasa perasaannya untuk perasaanny
2.2. Klien dapat mengungkapkan a, dapat
mengungkapkan penyebab membantu
penyebab perasaan jengkel /kesal mengurang
jengkel /kesal i stress dan
(dari diri sendiri, penyebab
dari perasaan
lingkunga/orang jengkel/kes
lain) al dapat
diketahui
3. Klien Setelah 2 kli interaksi 3.1.1 Anjurkan klien  Untuk
dapat dengan perawat, mengungkapkan mengetahu
mengidentifi diharapkan ; yang dialami i hal yang
kasikan 3.1. Klien dapat saat dialami
tanda-tanda mengungkapkan marah/jengkel dan
perilaku persaan saat 3.1.2 Observasi dirasakan
kekerasan marah / jengkel tanda perilaku saat
3.2. Klien dapat kekerasan pada jengkel
menyimpulkan klien  Untuk
tanda-tanda 3.2.1 Simpulkan mengetahu
jengkel/kesal yang bersama klien i tanda-
dialami tanda-tanda tanda klien
jengkel yang jengkel/kes
dialami klien al
 Menar
ik
kesimpula
n bersama
klien
bersama
klien
supaya
klien
mengetahu
i secara
garis besar
tanda-
tanda
marah/kesa
l
4. Klien Pada pertemuan ke 4.1.1 Anjurkan  Meng
dapat 3: klien untuk eksplorasi
mengidentifi 4.1. Kien dapat mengungkapkan perasaan
kasi mengungkapkan perilaku kekrasan klien
perilaku perilaku yang biasa terhadap
kekerasan kekerasan yang dilakukan klien perilaku
yang biasa biasa dilakukan 4.2.1 Bantu klien kekerasan
dilakukan 4.2. Klien dapat bermain peran an biasa
bermain peran sesuai denga dilakukan
dengan perilaku perilaku  Untuk
kekerasan yang kekerasan yang mengetahu
biasa dilakukan. biasa dilakukan i perilaku
4.3. Klien dapat 4.3.1 Bicarakan kekerasan
mengetahui cara dengan klien yang biasa
yang biasa dapat apakah dengan dilakukan
menyelsaikan cara yang klien dan dengan
maslah atau tidak. lakukan bantuan
masalahnya perawat
selesai? bias
membedak
an perilaku
konstruktif
dan
destriktif
 Dapat
membantu
klien
menemuka
n cara
dalam
menyelesai
kan
masalah
Dx Tujuan Kriteria Tindakan Rasionalisasi
Evaluasi
5. Kien Setelah 3 x 5.1.1 Bicarakan  Membantu
dapat interaksi akibat/kerugian dari cara klien untuk menilai
mengidentifi 5.1. Klien yang dilakukan klien perilaku kekerasan
kasi akibat dapat 5.1.2 Bersama klien yang dilakukannya
perilaku menjelask menyimpulkan akibat  Dengan
kekerasan an akibat cara yang digunakan oleh mengetahui akibat
dari cara klien perilaku kekerasan
yang 5.1.3 Tanyakan pada diharapkan klien
digunakan klien apakah dia ingin dapat merubah
klien mempelajari cara baru perilaku deskruptif
yang sehat menjadi konstruktif
 Agar klien
dapat mempelajari
cara yang klien
konstruktif
6. Klien Setelah 4x 6.1.1 Tanyakan pada  Dengan
dapat interaksi klien apakah ia ingin mengidentifikasi
mengidentifi 6.1 Klien mempelajari cara baru cara yang
kasi cara dapat yang sehat konstruktif dalam
konstruksi melakukan 6.1.2 Berikan pujian bila merespon
dalam cara klien mengetahui cara lain terhadap
merespon berespon yang sehat kemarahan dapat
terhadap terhadap 6.1.3 Diskusikan dengan membantu klien
kemarahan kemarahan klien cara lain yang menemukan cara
secara sehat : yang baik untuk
konstruktif a. Secara fisik tarik mengurangi
nafas tarik nafas dalam kejengkelannya
jika sedang sehingga klien
kesal/memukul bantal tidak stress lagi
kasur atau olahraga atau  Reinforc
pekerjan yang ement
memerlukan tenaga positifsdapat
b. Secara verbal memotivasi klien
katakana bahwa anda dan meningkatkan
sedang kesal/jengkel (saya harga dirinya
kesal anda berkata seperti  Berdisk
itu, saya marah karena usi dengan klien
mama tidak memenuhi untuk memilih
keinginan saya) carayang lain
c. Secara social sesuai dengan
lakukan dalam kelompok kemampuan klien
cara-cara marah yang
sehat : latihan asumtif,
latihan manajemen,
perilaku kekerasan
d. Secara spritual
anjurkan klien
sembahyang,
berdoa/ibadah lain :
meminta kepada Tuhan
untuk diberi kesabaran.
Dx Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi
7. Klien dapat Setelah pertemuan 4 7.1.1 Bantu klien  Memberikan
mendemostrasik dengan perawat, memilih cara yang stimulasi
an cara klien dapat: paling tepat untuk kepada klien
mengontrol 7.1. mendemontra klien untuk menilai
kekerasan sikan cara respon perilaku
mengontrol 7.1.2 Bantu klien kekerasan
perilaku menngidentifikasi secara cepat
kekerasan manfaat cara yang
o Fisik tarik dipilih  Membantu
nafas dalam, klien dalam
olah raga, 7.1.3 Bantu klien membuat
menyiram untuk keputusan
tanaman menstimulasi cara terhadap cara
o Verbal : tersebut (role yang tepat
mengatakann play) dipilihnya
ya secara dengan melihat
langsung 7.1.4 Beri manfaat
dengan tidak reinforcementposi
menyakiti tif atau  Agar klien
o Spritual : keberhasilan klien mengetahui
Sembahyang, menstimulasi cara cara marah
berdoa, atau tersebut yang
ibadah klien konstruktif
7.1.5 Anjurkan
klien untuk  Pujian dapat
menggunakan meningkatkan
cara yang telah motivasi dan
dipelajari saat harga diri klien
jengkel atau
marah  Agar klien
dapat
melaksanakan
cara yang dapat
dipihnya jika ia
sedang kesal
/jengkel
Dx Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi
8. Klien SEtelah 2 kali 8.1.1 Identifikasi  Kemampua
mendapatkan interaksi kemampuan n keluarga
dukungan 8.1. Keluraga keluarga merawat dalam
keluarga dalam klien dapat : klien dari sikap apa mengidentifik
mengontrol o Menyebutk yangtelah dilakukan asi dan
perilaku an cara keluarga terhadap memungkinka
kekerasan merawat klien klien selama ini n keluarga
yang untuk
berperilaku 8.1.2 Jelaskan peran melakukan
kekerasan serta keluarga dalam penilaian
o Mengungka merawat klien. terhadap
pkan rasa puas perilaku
dalam merawat 8.1.3 Jelaskan cara- kekerasan
klien cara merawat klien :
 Terka : dengan  Meningkat
cara kan
mengnontrol pengetahuan
perilaku marah keluarga
secara tentang cara
konstruktif merawat klien
 Sikap tenang, sehingga
bicaratenagdan keluargaterlih
jelas at dalam
 Membantu klien perawatan
mengenal kllien
penyebab marah
 Agar
8.1.4 Bantu keluar keluarga dapat
mendemonstrasikan merawat klien
cara merawat klien dengan
perilaku
8.1.5 Bantu keluarga kekerasan
menngungkapkan
perasaannya setelah  Agar
melakukan keluarga dapat
demonstrasi mengetahui
cara merawat
klien melalui
demonstrasi
yang dilihat
keluarga
secara
langsung

 Mengekspl
orasi perasaan
keluarga
setelah
melakukan
demonstrasi
Dx Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi
9. Klien Setelah 5 kali 91.1 Jelaskan  Klien dan
dapat interaksi, klien obat-obat keluarga dapat
menggunakan dapat; yang mengetahui nama-
obat-obatan 9.1 Menyebutka dimunum nama obat yang
yang diminum n obat-obatan klien pada diminum oleh klien
dan yang diminum klien dan
kegunaannya dan kegunannya keluarga  Klien dan
(jenis, waktu, (jenis,waktu, keluarga dapat
dosis dan efek). 9.1.2 Diskusikan mengetahui
efek) manfaatminu kegunaan obat yang
9.2 Klien dapat m obatdan dikonsumsi klien
minum obat kerugian
sesuai program berhenti  Klien dan
pengobatan minum keluarga mengetahui
obattanpa prinsip benar agar
seijin dokter tidak terjadi
kesalahan dalam
9.2.1 Jelaskan mengkonsumsi obat
prinsip benar
minum obat,  Klien dapat
baca nomor memiliki kesadaran
yang tertera pentingnya minum
pada botol obatdan bersedia
obat, dosis minum obat dengan
obat, waktu kesadaran sendiri
dan cara
minum)  Mengetahui efek
samping sendiri
9.2.2 Ajarkan klien sedini mungkin
minta obat sehingga tindakan
dan minum dapat dilakukan
tepatwaktu sesegera mugkin
untuk menghidari
9.2.3 Anjurkan komplikasi
klien
melaporkan  Reinforcement
pada positifdapat
perawatatau memotivasi keluarga
dokter jika dan klien serta dapat
merasakan meningkatkan harga
efek yang diri
tidak
menyenangka
n

9.2.4 Beri pujian


jika klien
minum
obatdengan
benar

D. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelenjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada klien. Evaluasi dilaksanakan terus menerus pada respon klien terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi jadi dua yaitu:
Evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan.

Evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien.

Evaluasi dapat dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai


pola fikir.

S = respon subyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

O= respon obyektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

A= analisa ulang atas data subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan apakah masalah
masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah
yang ada.

P= perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.

Rencana tindak lanjut dapat berupa :

a. Rencana teruskan, jika masalah tidak berubah.


b. Rencana di modifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil
belum memuaskan.
c. Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan
masalah yang ada serta diagnosa lama dibatalkan. (Stuart dan Laria, 2005).
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, RI. 2007. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Magelang: RSJ Prof. Dr. Soeroyo
Magelang.

Direja, A. H. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

Dwi, A. S., & Prihantini, E. 2014. Keefektifan Penggunaan Restrain terhadap Penurunan
Perilaku Kekerasan pada Pasien Skizofrenia. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan , 138-139.

Farida, K., & Yudi, H. 2011. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Fitria, N. 2010. Prinsip Dasar dan aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta: Salemba Medika.

Jenny, M., Purba, S. E., Mahnum, L. N., & Daulay, W. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan: USU Press.

Keliat, D. B. 2014. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Undang-Undang No.18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa

Yosep, I. 2007. Keperawatan Jiwa (Cetakan 1). Bandung: PT Refika Aditama.