Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

MATA KULIAH MKPP GEOMEKANIKA

SEMESTER GANJIL 2010/2011

Oleh Kelompok 5:

Vicco Oryzavica Vebriyatna 140710070053

Rifki Asrul Sani 140710070075

Hastomo 140710070081

Iskandar 140710070083

M. Suwongso Sadewo 140710070101

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

Jatinangor

2010

Page | 1
BAB 1

PENDAHULUAN

Kondisi tanah dan batuan merupakan faktor yang cukup penting dalam perencanaan
suatu lahan atau wilayah, dimana kedua hal tersebut akan menjadi sebuah penentu mengenai
sistem tata guna lahan dan juga rencana konstruksi bangunan yang akan dibuat. Dalam hal
ini, Geomekanika yang merupakan salah satu dari cabang ilmu Geoteknik memiliki andil
yang cukup besar dalam pemecahan masalah ataupun memberikan sebuah gambaran awal
mengenai kondisi batuan suatu wilayah. Batuan merupakan bagian yang tak terpisahkan
dalam kehidupan manusia, baik dalam hal pertanian, pembangunan, serta cabang ilmu terkait
termasuk di dalamnya adalah geologi itu sendiri yang mempelajari batuan beserta material
penyusunnya. Geomekanika yang dalam hal ini akan lebih spesifik mempelajari kualitas
batuan dari sistem RMRnya akan menentukan tata guna wilayah yang hendak dilakukan
rekayasa pembangunan, dalam hal ini membantu ahli Teknik Sipil dalam penggunaan
wilayah serta material yang akan digunakan sebagai bahan bangunan.

Kuliah lapangan kali ini dilakukan di daerah Citatah, Kecamatan Padalarang,


Kabupaten Bandung Barat. Wilayah atau areal yang kami teliti sebagian besar terdiri dari
satuan batugamping, dari mulai terumbu hingga klastik, geomorfologi wilayah merupakan
dataran tinggi hingga perbukitan curam dan landai yang tersusun atas batugamping dan juga
batulempung yang mengisi bagian terendah dari perbukitan. Dengan kondisi lapangan yang
demikian, masyarakat sekitar pun memanfaatkan Sumber Daya “batu kapur” yang dikenal
sebagai batugamping sebagai komoditas ekonomi dan juga bahan baku atau material
bangunan sehingga cukup banyak pabrik pengolahan batugamping yang dikerjakan oleh
masyarakat sekitar.

Page | 2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. RQD (Rock Quality Designation)

Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (Mekanika Batuan), dikenal istilah RQD
rock quality designation yaitu suatu penandaan atau penilaian kualitas batuan berdasarkan
kerapatan kekar. RQD penting untuk digunakan dalam pembobotan massa batuan (Rock
Mass Rating, RMR) dan pembobotan massa lereng (Slope Mass Rating, SMR). Perhitungan
RQD biasa didapat dari perhitungan langsung dari singkapan batuan yang mengalami
retakan-retakan (baik lapisan batuan maupun kekar atau sesar) berdasarkan rumus Hudson
(1979, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996):
RQD = 100 (0.1 λ + 1) e- 0.1 λ
λ adalah rasio antara jumlah kekar dengan panjang scan-line (kekar/meter). Makin besar nilai
RQD, maka frekuensi retakannya kecil. Frekuensi retakannya makin banyak, nilai RQD
makin kecil.
Dalam penilaian massa batuan (Rock Mass Rating, RMR), prosentase RQD diberikan
penilaian berikut di tabel dibawah ini:
RQD (%) Nilai
90 – 100 20
75 – 90 17
50 – 75 13
25 – 50 8
< 25 3

Jika frekuensi retakan = 20 kekar/meter, maka RQD = 40,60 %


Jika frekuensi retakan = 11 kekar/meter, maka RQD = 69,90 %
Jika frekuensi retakan = 5 kekar/meter, maka RQD = 90,9 %
Jika frekuensi retakan = 2 kekar/meter, maka RQD = 98,2 %

Page | 3
2.2. Klasifikasi Geomekanik
Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (a.l. Mekanika Batuan, Geomekanika dll.)
diperlukan klasifikasi geomekanik. Tujuan klasifikasi geomekanik ini adalah sebagai alat
komunikasi para ahli dalam permasalahan geomekanika selain untuk memperkirakan sifat-
sifat dari massa batuan, dan juga merencanakan atau menilai kemantapan terowongan
maupun lereng.
Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1973, 1976, 1984, dalam Setiawan 1990) didasarkan
pada hasil penelitian 49 terowongan di Eropa dan Afrika. Klasifikasi ini menilai beberapa
parameter yang kemudian diberi bobot (rating) dan digunakan dalam perencanaan
terowongan.
Rock Mass Rating (RMR) adalah pembobotan massa batuan. Sistem pembobotan dapat
dilihat pada Tabel klasifikasi geomekanik (Tabel A, B, C, dan D/Tabel Bineawski).
Pembobotan adalah jumlah dari nilai bobot parameter pada Tabel A dan B. Pada tabel C
jumlah nilai tersebut dimasukkan ke dalam kelompok yang sesuai dengan pembobotan
masing-masing.
Pada Tabel C, nomer kelas dan pemerian dapat diberikan. Pada Tabel D makna dan
kegunaan tiap-tiap nomer kelas disampaikan di sini. Berdasarkan nilai RMR, jangkauan atap
(span) apat direncanakan, serta keleluasaan waktu yang tersedia agar terowongan tidak runtuh
dapat diperkirakan.
Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1973, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996),
juga dipakai dalam memperkirakan kestabilan suatu pengupasan lereng massa batuan. Sama
halnya dengan penilaian terowongan, penilaian kestabilan lereng juga menggunakan data
hasil observasi lapangan dan data laboratorium sehingga dalam pembobotan dapat dilihat
nilai RMR. Massa batuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Sangat buruk Nilai RMR 0 - 20
Buruk Nilai RMR 21 - 40
Sedang Nilai RMR 41 - 60
Baik Nilai RMR 61 - 80
Sangat Baik Nilai RMR 81 - 100

Slope Mass Rating (SMR), adalah penerapan nilai RMR untuk memperkirakan sudut
kemiringan lereng pengupasan. Romano (1990, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996)
mengaitkan nilai RMR dengan faktor penyesuaian dari orientasi kekar tehadap orientasi
lereng serta sistem pengupasan lereng dalam bentung angka rating (pembobotan), yaitu:

Page | 4
F1 mencerminkan paralelisme antara arah kekar dan arah lereng
F2 memperlihatkan kemiringan kekar
F3 memperlihatkan hubungan kemiringan kekar dengan kemiringan lereng
F4 merupakan penyesuaian untuk metoda pengupasan.

Romano (1990) memberikan nilai SMR dari keempat faktor tersebut sbb.:
SMR = RMR - ( F1 x F2 x F3 ) + F4
Laubscher (1975, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) membahas hubungan RMR dan
SMR sebagai berikut :
Sudut lereng yang disarankan Untuk nilai RMR
(pembobotan massa lereng, SMR) (pembobotan massa batuan) sebesar:
75o 81 - 100
65 o 61 - 80
55 o 41 - 60
45 o 21 - 40
35 o 00 - 20

Hall (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) memberikannilai SMR, sbb.:
SMR = 0,65 RMR +25

Orr (1992, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) membahas hubungan sbb.:
SMR = 35 ln RMR – 71

Tabel Rating of adjustment factor for method of excavation

Method of Excavation Adjustment Factor

 Natural Slope  F4 = + 15
 Presplitting  F4 = + 10
 Smooth Blasting  F4 = + 8
 Normal Blasting  F4 = 0
 Deficient Blasting  F4 = - 8
 Mechanical Excavation  F4 = 0

Page | 5
Tabel Pembobotan Massa Batuan (Rock Mass Rating) Berdasarkan Klasifikasi
Geomekanika (Bineawski, 1984)

Page | 6
BAB 3
METODE PENELITIAN

1. Aspek Penelitian

Objek penelitian dalam kuliah lapangan kali ini adalah:

1. Gerakan tanah, yakni jenis longsoran yang terjadi di lapangan serta bentukan atau
hasil yang diakibatkan karenanya.
2. Litologi batuan penyusun areal penelitian atau kuliah lapangan.
3. Struktur geologi yang berkembang, yang dalam hal ini adalah kekar yang terbentuk
pada litologi batuan untuk memperoleh data kekuatan batuan serta kualitas massa
batuan di Laboratorium.
4. Horizon tanah hasil pelapukan batuan.

2. Alat-alat yang digunakan


2.1. Peralatan Lapangan

Alat-alat yang digunakan selama kuliah lapangan kali ini antara lain:

1. Kompas geologi, digunakan untuk mengukur arah jurus dan kemiringan batuan,

orientasi kekar serta untuk mengukur slope (kemiringan lereng).

2. Palu geologi, digunakan untuk mengambil sampel batuan.

3. GPS (Global Positioning System), sebagai alat bantu dalam menentukan posisi areal

kuliah lapangan.

4. Pita ukur 50 m, untuk mengukur jarak lintasan.

5. Kamera, untuk mengambil gambar litologi batuan, kemiringan lereng dan horizon

tanah sebagai tampilan dalam laporan.

6. Kantong sampel, sebagai tempat contoh batuan.

Page | 7
7. Alat-alat tulis, seperti buku lapangan, ballpoint, pensil, penghapus, penggaris, busur

derajat, spidol permanen.

8. Alat-alat lain yang mendukung seperti tas dan pakaian lapangan dan lain-lain.

2.2. Peralatan Laboratorium

Beberapa peralatan yang digunakan dalam tahap pekerjaan laboratorium adalah :

1. Hand Auger jenis Point Load, digunakan untuk mengukur kekuatan batuan.

2. Alat ukur yakni jangka sorong, untuk mengukur orientasi sampel batuan.

3. Alat tulis lainnya yang mendukung, seperti buku, ballpoint, pensil, penghapus dan
lain sebagainya.

2.3. Tahapan Penelitian


Kuliah lapangan kali ini secara garis besar terbagi dalam lima tahapan yakni:

1. Tahap persiapan, berupa pengecekan alat, survey lapangan, transportasi serta


perizinan dengan pihak terkait.
2. Tahap pekerjaan lapangan, yakni pengambilan sampel dan data di lapangan.
3. Tahap penelitian laboratorium, berupa pengukuran kuat tekan sampel batuan yang
dibawa dari lapangan.
4. Tahap analisis data, berupa rekapan data lapangan serta hasil dari pengukuran kuat
tekan batuan di Laboratorium.
5. Tahap penyusunan laporan.

Page | 8
BAB 4
HASIL PENELITIAN

1. Stasiun 1
Pada stasiun pertama kami memperoleh data singkapan batuan sedimen,
dengan litologi batupasir yang sudah terlapukkan dan terkekarkan. Deskripsi batuan,
warna segar coklat tua, warna lapuk coklat kehitaman, berbutir sedang sampai kasar,
terpilah buruk, permeabilitas sedang, kekerasan keras sampai sangat keras, karbonatan,
terdapat struktur kekar dan terlapukkan.

A [Spheroidal Weathering] B [Struktur Kekar]

Gambar 1. Litologi batupasir yang terlapukkan dan terkekarkan, pada gambar A litologi batuan
mengalami pelapukan yang disebut Spheroidal Weathering (Pelapukan Mengulit Bawang) dan
gambar B tampak adanya struktur kekar pada batuan.

Selama dalam proses pelapukan, diantaranya batuan akan mengalami gejala


pengelupasan (exfoliation) atau membentuk lempengan (sheeting). Pengelupasan terjadi
akibat pengikisan pada permukaan sehingga batuan kehilangan beban (tekanan) pada
bagian atasnya, maka timbul gaya ke arah luar. Pada awalnya gaya tersebut membentuk
rekah-rekah kecil yang kemudian berangsur mengelupas seperti kulit bawang. Gejala
pelapukan ini disebut spheroidal weathering atau pelapukan membola/mengulit bawang.
Bentuk pengelupasa yang terdapat pada litologi batupasir kali ini disebabkan karena
adanya pengayaan mineral lempung yang terdapat diantara setiap lapisan yang
mengelupas. Dan beberapa puluh meter ke arah barat dari litologi stasiun pertama kali

Page | 9
ini, terdapat litologi batulempung yang kontak dengan batugamping yang membentuk
bukit di areal penelitian dari kuliah lapangan kali ini.

Gambar 2. Singkapan batulempung menyerpih serta terkekarkan yang terdapat


di lokasi kuliah lapangan.

2. Stasiun 2
Stasiun selanjutnya merupakan pengamatan dari lokasi yang mengalami
gerakan tanah yang dalam hal ini longsoran. Dengan pengamatan pada tempat dimana
terjadi gerakan tanah berupa longoran jenis rotasional, dimana longsoran jenis ini
merupakan gerakan massa tanah hasil pelapukan batuan atau lereng yang tersusun atas
tanah dan batuan pada bidang gelincir yang relatif cekung.

(A) (B)
Gambar 3. (A) Illustrasi gerakan tanah atau longsoran jenis rotasional, dimana kenampakan di lapangan
ditandai dengan pohon atau tanaman yang rebah ke arah dinding atau bidang longsoran.(B) Keadaan
lapangan yang mengalami gerakan tanah, ditandai dengan adanya dinding yang dibuat warga serta
pohon yang menjadi miring dari keadaan semula.

Page | 10
3. Stasiun 3
Pada stasiun kali ini kami memperoleh data singkapan batugamping yang besar, yang

merupakan tempat yang dulunya digunakan sebagai tambang namun kini tidak lagi

digunakan. Singkapan batugamping ini mengalami gaya atau terkekarkan, hal ini terlihat dari

kenampakan litologi batuan di lapangan. Deskripsi litologi batuan secara umum (jarak

lintasan pengamatan 10 meter), batugamping terumbu, warna segar putih kehitaman, warna

lapuk abu-abu gelap, tingkat kekompakkan keras hingga sedang, masif. grain -> skeletal

grain [organisme; alga (common), koral (rare)] : non-skleletal grain [lumpur karbonat dan

kalsit], tekstur wackstone-packstone.

Gambar 4. Litologi singkapan stasiun 3 yang merupakan batugamping yang terkekarkan .

Karakteristik geomekanik massa batuan diperoleh berdasarkan nilai bobot dari setiap

parameter yang terdapat di dalam klasifikasi geomekanik sistem RMR (Rock Mass Rating).

Dari nilai RMR tersebut kita dapat menghitung nilai SMR (Slope Mass Rating) berdasarkan

Laubscher (1975, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996), Hall (1985, dalam

Djakamihardja & Soebowo, 1996), Orr (1992, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996)

sehingga diketahui sudut kemiringan lereng yang disarankan supaya tidak terjadi longsor.

Page | 11
3.1. Klasifikasi Geomekanik Sistem Rock Mass Rating (RMR)

Pengamatan dan pengukuran berdasarkan klasifikasi geomekanik system RMR terdiri

dari lima parameter, yaitu kekuatan batuan, Rock Quality Designation (RQD), jarak bidang

diskontinuitas, kondisi diskontinuitas, kondisi airtanah.

1. Kekuatan batuan

Pengukuran kekuatan batuan di lakukan di laboratorium dengan menggunakan alat

yakni Hand Auger tipe Point Load.

Tabel 1. Data pengukuran kekuatan batuan di lereng tambang batugamping Citatah


No
Panjang Lebar Tinggi Kekuatan Batuan
Lintasa Bobot
Sampel (cm) Sampel (cm) Sampel (cm) (MPa)
n
1 6,58 5,4 5,2 2,45 7
2 10,1 4,5 6,2 2,45 7
3 5,63 4,4 3,19 7,35 12
4 13,1 8,5 6 8,33 12
5 14,05 5,2 4,02 4,41 12
6 8 6,1 5,5 4,9 12
7 10 7,51 5,5 4,9 12
8 13,5 10,15 4,9 11,27 15
9 12,3 5,98 4,5 6,86 12
10 14,7 4,82 4,4 6,37 12

2. Rock Quality Designation (RQD)

Pengukuran RQD dilakukan dengan menggunakan rumus RQD=100 (0.1 λ + 1) e-0.1 λ,

dimana λ adalah jumlah kekar per satuan meter.

Adapun data hasil pengukuran RQD yang diperoleh di lapangan antara lain sebagai

berikut:

Tabel 2. Data pengukuran RQD di lereng tambang batugamping Citatah

No
Limtasan λ RQD (%) Bobot
1 4 93,8 % 20
2 5 90,97 % 20
3 3 96,31 % 20
4 2 98,25% 20
5 0 100% 20
6 0 100% 20
7 1 99,53% 20
8 1 99,53% 20
9 1 99,53% 20
10 1 99,53% 20

Page | 12
3. Jarak Diskontinuitas

Pengukuran jarak diskontinuitas dilakukan dengan cara mengukur jarak tegak lurus

antara dua bidang diskontinuitas yang terdekat. Berikut adalah hasil pengukuran jarak

diskontinuitas di setiap lintasan.

Tabel 3. Data pengukuran jarak diskontinuitas di lereng tambang batugamping Citatah


No Jarak Diskontinuitas
Bobot
Lintasan (cm)
1 3 - 52 10
2 15 - 30 10
3 20 - 31 10
4 35 - 40 10
5 No spacing 20
6 No spacing 20
7 50 10
8 30 10
9 17 8
10 45 10

4. Kondisi Diskontinuitas

Pengamatan dan pengukuran kondisi diskontinuitas meliputi kemenerusan bidang

diskontinuitas (persistence), lebar rekahan dati bidang diskontinuitas (aperture), kekerasan

permukaan bidang diskontinuitas (roughness), material pengisi rekahan (infilling), dan

tingkat pelapukan dari permukaan bidang diskontinuitas (weathered).

Berikut ini merupakan hasil pengamatan dan pengukuran tiap parameter kondisi

diskontinuitas di setiap lintasan penelitian.

Tabel 4. Data pengamatan dan pengukuran kondisi diskontinuitas


di lereng tambang batugamping Citatah
Bobot
Kondisi Diskontinuitas
Total
No Persistence Aperture Roughness Infiling Weathered
Lintasa Bobo Bobo Bobo Bobo
n Bobot
Panjang t Lebar t t t
rata- Tingkat Lebar Tingkat
(m) rata- (cm) rata- rata- rata-
rata
rata rata rata rata
Very Moderatel
1 6-8 2 10 - 12 0 6 None 6 3 17
rough y
Very Moderatel
2 10-12 1 12 - 14 0 6 None 6 3 16
rough y
3 7-9 2 8 - 10 0 Rough 5 None 6 Highly 1 14

Page | 13
4 6-9 2 6 -7 0 Rough 5 None 6 Highly 1 14
Slickensi Moderatel
5 - 6 None 6 0 None 6 3 21
ded y
Slickensi Moderatel
6 - 6 None 6 0 None 6 3 21
ded y
Soft Moderatel
7 9-11 1 5–6 0 Rough 5 2 3 11
filling<5mm y
Soft Moderatel
8 7-10 2 8 - 10 0 Rough 5 2 3 12
filling<5mm y
Soft Moderatel
9 8-11 1 18 - 20 0 Rough 5 2 3 11
filling<5mm y
Soft Moderatel
10 9-11 1 12 - 15 0 Rough 5 2 3 11
filling<5mm y

5. Kondisi Air Tanah

Pengamatan terhadap kondisi airtanah dilakukan secara umum pada setiap lintasan.

Penentuan kondisi air tanah dilakukan dengan cara mengamati dan bila memungkinkan

meraba permukaan bidang diskontinuitas setiap set kekar.

Adapun hasil pengamatan kondisi airtanah di setiap lintasan antara lain sebagai

berikut.

Tabel 5. Data pengamatan kondisi airtanah di lereng tambang batugamping Citatah


No
Kondisi Airtanah Bobot
Lintasan
1 lembab 10
2 lembab 10
3 lembab 10
4 lembab 10
5 kering 15
6 kering 15
7 kering 15
8 lembab 10
9 kering 15
10 kering 15

Setelah kita memperoleh data dari tiap parameter, selanjutnya kita bisa menentukan

nilai RMR dengan cara menjumlahkan nilai dari masing-masing parameter sehingga

diketahui kondisi massa batuan dari lereng tambang citatah.

Tabel 6. Kelas massa batuan berdasarkan klasifikasi geomekanik system RMR


di lereng tambang batugamping Citatah
Kelas Tipe
No Parameter RMR
Massa Batuan Massa Batuan
Lintasan
Is RQD Jd Kd Ka
1 7 20 10 17 10 64 II Baik

Page | 14
2 7 20 10 16 10 63 II Baik
3 12 20 10 14 10 66 II Baik
4 12 20 10 14 10 66 II Baik
5 12 20 20 21 15 88 I Sangat Baik
6 12 20 20 21 15 88 I Sangat Baik
7 12 20 10 11 15 68 II Baik
8 15 20 10 12 10 67 II Baik
9 12 20 8 11 15 66 II Baik
10 12 20 10 11 15 68 II Baik
Keterangan:
Is : Kekuatan batuan
RQD : Rock Quality Designation
Jd : Jarak bidang diskontinuitas
Kd : Kondisi bidang diskontinuitas
Ka : Kondisi air tanah

3.2. Klasifikasi Geomekanik Slope Mass Rating (SMR)

Slope Mass Rating (SMR) adalah penerapan nilai RMR untuk memperkirakan sudut

kemiringan lereng.

1. Menurut Laubscher (1975, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996)

Laubsher (1975, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) membahas hubungan RMR

dan SMR sebagai berikut:

Untuk Nilai RMR Sudut Lereng yang disarankan


81 – 100 75o
61 – 80 65o
41 – 60 55o
21 – 40 45o
0 – 20 35o
Adapun nilai SMR dati setiap lintasan menurut Laubsher (1975) sebagai berikut:

Tabel 7.Nilai SMR tiap lintasan di lereng tambang batugamping Citatah menurut Laubsher (1975)
No Nilai
Nilai SMR
Lintasan RMR
1 64 65o
2 63 65o
3 66 65o
4 66 65o
5 88 75o
6 88 75o
7 68 65o

Page | 15
8 67 65o
9 66 65o
10 68 65o
Rata-rata 70,4 65o

Maka menurut Laubsher, sudut lereng yang disarankan sebesar 65o.

2. Menurut Hall (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996)

Hall (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) memberikan nilai SMR

bedasarkan rumus SMR = 0,65 RMR + 25.

Adapun nilai SMR tiap lintasan berdasarkan rumus Hall sebagai berikut.

Tabel 8.Nilai SMR tiap lintasan di lereng tambang batugamping Citatah menurut

Hall (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996)

No Nilai Nilai
Lintasan RMR SMR
1 64 66,6o
2 63 65,95o
3 66 67,9o
4 66 67,9o
5 88 82,2o
6 88 82,2o
7 68 69,2o
8 67 68,55o
9 66 67,9o
10 68 69,2o
Rata-rata 70,4 70,76o

Maka menurut Hall, sudut lereng yang disarankan sebesar 70,76o.

3. Menurut Orr (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996)

Orr (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) memberikan nilai SMR

berdasarkan rumus SMR = 35 ln RMR – 71

Adapun nilai SMR tiap lintasan berdasarkan rumus Orr sebagai berikut.

Page | 16
Tabel 9.Nilai SMR tiap lintasan di lereng tambang batugamping Citatah menurut

Orr (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996)

No Nilai Nilai
Lintasan RMR SMR
1 64 74,56o
2 63 74o
3 66 75,63o
4 66 75,63o
5 88 85,7o
6 88 85,7o
7 68 76,68o
8 67 76,16o
9 66 75,63o
10 68 76,68o
Rata-rata 70,4 77,64o

Maka menurut Orr, sudut lereng yang disarankan sebesar 77,64o.

4. Stasiun 4
Stasiun terakhir atau stasiun 4 merupakan stasiun ‘Horizon Tanah’, dimana kami
memperoleh data mengenai tanah hasil lapukan batugamping yang merupakan sumbernya.
Terbagi dalam empat zona, yakni Moderately Weathered Zone (MWZ), Strongly Weathered
Zone (SWZ), Completely Weathered Zone (CWZ) dan Top Soil. Untuk klasifikasi tanah
sendiri kami menggunakan klasifikasi tanah USCS (Unfied Soil Classification System), dan
horizon tanah masuk dalam klasifikasi tanah berbutir kasar dan berbutir halus, dimana
komposisi butiran sebesar ukuran butir pasir lebih dominan untuk tanah berbutir kasar dan
komposisi lanau atau lempung yang dominan untuk tanah berbutir halus.
Deskripsi :

Horizon A (Top Soil), tipe tanah pasir, kandungan pasir > 50% ; F200 < 5% , warna coklat
kemerahan, kandungan organik tidak ada, kandungan air kering, karakterisitik drainase tidak
ada, plastisitas buruk, struktur homogenous, consistency firm, derajat kekompakan tidak ada,
symbol USCS SW, ketebalan 12 cm.

Horizon A (Completely Weathered Zone), tipe tanah pasir, kandungan pasir > 50% ; F200 >
12% an PI > 7%, warna coklat kemerahan, kandungan organik tidak ada, kandungan air agak

Page | 17
lembab, karakterisitik drainase tidak ada, plastisitas buruk, struktur homogenous, consistency
firm, derajat kekompakan tidak ada, symbol USCS SC, ketebalan 72 cm.

Horizon B (Strongly Weathered Zone), tipe tanah clay, kandungan clay 35% - 55%, warna
coklat kemerahan, kandungan organik tidak ada, kandungan air agak lembab, karakterisitik
drainase tidak ada, plastisitas sedang, struktur homogenous, consistency firm, derajat
kekompakan tidak ada, symbol USCS CL, ketebalan 89 cm.

Horizon C (Moderately Weathered Zone), tipe tanah clay, kandungan clay < 50%, warna
coklat kemerahan, kandungan organik tidak ada, kandungan air agak lembab, karakterisitik
drainase tidak ada, plastisitas sedang, struktur homogenous, consistency firm, derajat
kekompakan tidak ada, symbol USCS CL, ketebalan 105 cm.

A
B
C

(A) (B)
Gambar 5. (A) Kenampakan profil atau horizon tanah stasiun 4 yang merupakan hasil lapukan batugamping.
(B) Horizon C atau Stongly Weathered Zone, dimana terdapat pecahan batugamping yang merupakan
sourcerock atau batuan sumber.

Page | 18
BAB 4
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari kuliah lapangan kali ini antara lain:

1. Stasiun 1 merupakan lokasi dimana terdapat singkapan batupasir yang mengalami


pelapukan, yang dalam hal ini adalah pelapukan mengulit bawang yang diakibatkan
adanya pengayaan dari mineral lempung serta air yang masuk melalui celah atau rongga
dalam batuan. Hal tersebut memberikan kesan bahwa batupasir tersebut nampak seperti
konglomerat.
2. Tipe longsoran yang berkembang dilokasi penelitian atau kuliah lapangan kali ini adalah
rotasional, dimana material penyusun lereng yang berupa tanah menjadikan bidang
gelincir menjadi lebih dalam. Hal ini ditandai dengan posisi pohon yang rebah mendekati
dinding lereng atau bidang gelincir.
3. Nilai RMR dari litologi batugamping dominan pada kelas II, atau dengan kualitas yang
baik. Kemudian untuk SMR ; Menurut Laubsher, sudut lereng yang disarankan sebesar
65o. Menurut Hall, sudut lereng yang disarankan sebesar 70,76o. Menurut Orr, sudut
lereng yang disarankan sebesar 77,64o.
4. Untuk horizon tanah hasil lapukan batugamping terdiri dari empat zona, yakni Top Soil,
Completely Weathered Zone, Strongly Weathered Zone dan Moderately Weathered
Zone.

Page | 19

Anda mungkin juga menyukai