Anda di halaman 1dari 70

LAPORAN PENELITIAN

EFEKTIVITAS ACCEPTANCE COMMITMENT THERAPHY


(ACT) TERHADAP PENINGKATAN KEPATUHAN
PENATALAKSANAAN DIABETES MELLITUS TIPE 2

Oleh:
DIFRAN NOBEL BISTARA, S.Kep., Ns., M.Kep
RUSDIANINGSEH, M.Kep., Ns., Sp.Kep.Kom

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN


UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdullilah, puji syukur penulis panjatkan ke-Hadirat Allah SWT atas

rahmat, karunia, kekuatan dan petunjuk yang telah dilimpahkan kepada tim

pelaksana sehingga laporan penelitian dengan judul “Efektifitas Acceptance and

Commitment Therapy (ACT) Terhadap Peningkatan Kepatuhan Penatalaksanaan

Diabetes Mellitus Tipe 2” ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Laporan

penelitian ini disusun untuk memenuhi syarat dan tugas dosen yaitu sebagai Tri

Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam penulisan laporan penelitian ini, terdapat keterbatasan-keterbatasan

pada diri tim, maka sudah sewajarnya apabila dalam penyelesaian laporan

penelitian ini tim memperoleh bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada

kesempatan ini tim mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng.,selaku Rektor Universitas Nahdlatul

Ulama Surabaya atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada tim untuk

menyelesaikan kegiatan dan laporan penelitian.

2. Dr. Istas Pratomo, ST., MT., selaku Ketua LPPM Universitas Nahdlatul Ulama

Surabaya atas dukungan dan ijin yang diberikan sehingga kegiatan penelitian

berjalan dengan lancar.

3. Yanis Kartini, SKM., M.Kep., selaku Dekan Fakultas Keperawatan dan

Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya atas dukungannya dalam

menyelesaikan laporan penelitian.

4. Direktur RSI Surabaya A. Yani yang telah memberikan kesempatan kerjasama

dalam menjadi wadah tim kami melaksanakan kegiatan penelitian.


Kiranya kepada pihak-pihak yang tidak sempat disebut disini layak pula

disampaikan ucapan terima kasih. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan

ridha-Nya sesuai dengan amal dan perbuatannya dan semoga apa yang tersirat

dalam laporan penelitian ini dapat memperluas pengetahuan kita sekalian dan

bermanfaat bagi kemajuan keilmuan keperawatan. Akhirnya tim sampaikan mohon

maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, sekaligus mohon saran yang

membangun atas kekurangan dalam usulan penelitian ini.

Surabaya, Juli 2019

Tim Pelaksana
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ........................................................................................ vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 4
1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Kepatuhan Penderita Diabetes Mellitus ........................ 6
2.2 ACT pada Penderita DM Tipe 2 ................................................. 18
2.3 Konsep Diabetes Mellitus (DM) ................................................. 24
2.4 Kerangka Konseptual .................................................................. 34
2.5 Hipotesis ..................................................................................... 35
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian ....................................................................... 36
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... 36
3.3 Kerangka Penelitian .................................................................... 36
3.4 Populasi, Sampel, dan Sampling................................................. 37
3.5 Identifikasi Variabel ................................................................... 38
3.6 Definisi Operasional .................................................................. 38
3.7 Pengumpulan Data dan Analisa Data ........................................ 39
3.8 Etika Penelitian .......................................................................... 41
3.9 Keterbatasan................................................................................ 43
BAB IV ANALISA DAN HASIL
4.1 Hasil Penelitian .......................................................................... 44
4.2 Pembahasan ............................................................................... 50
BAB V HASIL DAN LUARAN YANG DIDCAPAI
5.1 Hasil ..................................................................................... 58
5.2 Luaran Yang Dicapai ................................................................. 58
BAB VI RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan ................................................................................ 61
7.2 Saran ...................................................................................... 61
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan Berat Badan Relatif (BBR)
Tabel 3.1 Rancangan penelitian pretest posttest with control group design
Tabel 3.2 Definisi Operasional Penelitian
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi karakteristik responden.
Tabel 4.2 Perubahan kepatuhan responden sebelum dan setelah diberikan
Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
Tabel 4.3 Nilai selisih kepatuhan responden sebelum dan setelah diberikan
Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
Tabel 4.4 Hasil analisis bivariat faktor risiko yang berhubungan dengan kepatuhan
Tabel 4.5 Hasil analisis regresi linear intervensi Acceptance and Commitment
Therapy (ACT) terhadap kepatuhan
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka konsep.
Gambar 3.1 Kerangka Penelitian.
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian


Lampiran 2. Surat Tugas
Lampiran 3. Surat Pernyataan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 4. Lembar Penjelasan Penelitian
Lampiran 5. Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian
Lampiran 6. Kuesioner Penelitian
Lampiran 7. Anggaran Biaya Penelitian
Lampiran 8. Jadwal Kegiatan Penelitian
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit menahun yang ditandai
dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Penderita DM harus
mematuhi aturan penatalaksanaan yang telah diprogramkan oleh tenaga kesehatan.
(Vugt et al, 2013). Prevalensi DM di propinsi jawa timur tahun 2016 sebanyak 431
ribu kasus. Kota Surabaya memiliki kasus DM tipe 2 terbanyak di Propinsi Jawa
Timur. Tahun 2016 di Kota Surabaya terdapat 34 ribu kasus DM tipe 2, angka
tersebut meningkat dari tahun 2013 yaitu sebanyak 18 ribu kasus DM tipe 2
(Dinkes Kota Surabaya, 2017).
Penatalaksanaan DM dapat digunakan untuk mengelola penyakit DM yang
sebenarnya tidak bisa disembuhkan dengan empat pilar yang harus dipatuhi oleh
penderita yang meliputi Diet, Olah raga yang teratur, pemberian pendidikan
kesehatan, dan minum obat. Terjadi stressor pada pasien ketika seumur hidupnya
diharuskan untuk mematuhi aturan penatalaksanaan DM (Purba, 2008). Kepatuhan
penderita terhadap pengelolaan penyakitnya menjadi salah satu indikator
keberhasilan suatu pengobatan. Kepatuhan pengobatan pada penderita DM tipe 2
juga harus diikuti dengan perbaikan kualitas pelayanan kesehatan, sikap dan
keterampilan petugasnya, serta pola hidup penderita beserta keluarganya.
Kesadaran dari penderita DM tipe 2 itu sendiri yang mampu menghasilkan
kepatuhan yang optimal dalam mengelola penyakit yang diderita sehingga dapat
mencegah kegagalan terapi. Dampak kegagalan terapi tersebut dapat menimbulkan
komplikasi yang sangat fatal (Kim et al, 2012).
Keberhasilan penatalaksanaan DM tipe 2 perlu ditingkatkan dengan
berusaha menerima dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi serta
membangun komitmen untuk menghadapi masalah. Tahapan komitmen ini
dijelaskan pada transition theory Meleis yaitu nursing therapeutic concept (Tomey
& Alligood, 2010). Kesehatan yang optimal merupakan penunjang kehidupan
penderita DM tipe 2 menjadi produktif.
Acceptance and Commitment Therapy (ACT) merupakan salah satu bentuk
Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang digunakan untuk meningkatkan
kemampuan menjalani perubahan yang dialami agar menjadi lebih baik (Hayes,
2010). Perubahan yang terjadi secara kognitif yaitu positive thinking, respon emosi
yang stabil, pemecahan masalah yang positif, dukungan sosial yang baik antar
individu dalam kelompok, penerimaan yang baik dan komitmen dalam menjalankan
tugas dengan baik (Eilenberg et al, 2013). Peneliti mencoba membuktikan ACT
sebagai salah satu upaya meningkatkan kepatuhan penderita DM tipe 2 yang
memunculkan perbaikan perilaku penderita dalam mengelola empat pilar DM
dengan pendekatan Transition Theory Meleis

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah “bagaimana Efektifitas Acceptance and Commitment Therapy Terhadap
Peningkatan Kepatuhan Penatalaksanaan penderita diabetes mellitus tipe 2 di RSI
Surabaya A.Yani?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis pengaruh Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
terhadap peningkatan kepatuhan penatalaksanaan DM tipe 2.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada penelitian ini untuk:

1. Mengidentifikasi karakteristik demografi penderita DM tipe 2 meliputi usia,


jenis kelamin, pendidikan, dan lama menderita DM tipe 2.
2. Menganalisis kepatuhan dalam penatalaksanaan DM tipe 2 sebelum dan setelah
intervensi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
3. Menganalisis kepatuhan dalam penatalaksanaan DM tipe 2 pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol setelah intervensi.
4. Menganalisis perbedaan kepatuhan dalam penatalaksanaan DM tipe 2 pada
kelompok kontrol dan kelompok intervensi.
5. Menganalisis variabel usia, jenis kelamin, pendidikan, lama menderita DM yang
berpengaruh terhadap kepatuhan penderita DM tipe 2.

1.4 Manfaat Penelitian


1.1.1 Manfaat Teoritis
Memberikan informasi mengenai pengaruh Acceptance and Commitment
Theraphy (ACT) dalam mengubah perilaku penderita DM khususnya dalam
penelitian ini adalah kepatuhan dalam penatalaksanaan DM tipe 2.
1.1.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Penderita DM tipe 2
Hasil penelitian ini dapat digunakan penderita DM tipe 2 sebagai sumber
pengetahuan dan wawasan dalam meningkatkan kepatuhan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Acceptance and Commitment Theraphy (ACT) dapat menambah khasanah ilmu
pengetahuan sebagai teknik alternatif dalam meningkatkan kepatuhan berobat
penderita DM tipe 2.
3. Bagi Perawat
Hasil penelitian sebagai acuan atau bahan kajian dalam merumuskan
perencanaan asuhan keperawatan sehingga dapat dilakukan tindakan
keperawatan yang sesuai dengan prioritas masalah dan kebutuhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kepatuhan Penderita Diabetes Mellitus (DM)


2.1.1 Definisi Kepatuhan Penderita DM Tipe 2
Kepatuhan (compliance atau adherence) dideskripsikan dengan sejauh mana
penderita DM tipe 2 mengikuti instruksi-instruksi atau saran medis (Hendrychova
et al, 2013; Sabate, 2001; Dusing et al, 2001). Kepatuhan berasal dari kata dasar
patuh, yang berarti disiplin dan taat. Menurut Garcia-Perez et al (2013) kepatuhan
adalah sejauh mana perilaku penderita DM tipe 2 sesuai dengan ketentuan yang
diberikan oleh profesional kesehatan (Syakira, 2009). Definisi kepatuhan
dikemukakan oleh berbagai para ahli, salah satu diantaranya yang dikemukakan
oleh Sirur et al (2009), kepatuhan atau compliance adalah perilaku penderita DM
tipe 2 mengikuti permintaan atau persetujuan tanpa protes terhadap anjuran dan
keyakinan yang diberikan motivator.
Kepatuhan penderita DM tipe 2 terkait dengan terapi obat merupakan
kesesuaian antara riwayat dosis yang sebenarnya dengan regimen terapi obat yang
diresepkan (Hunt et al, 2009). Berdasarkan beberapa definisi tersebut maka
kepatuhan penderita DM tipe 2 didefinisikan sebagai kecenderungan perilaku
penderita DM tipe 2 untuk melaksankan perintah yang disarankan oleh orang yang
berwenang yaitu dokter, perawat, dan petugas kesehatan yang lainnya. Kenyataan
yang terjadi disekitar kita bahwa banyaknya masalah kesehatan yang timbul akibat
rendahnya kepatuhan penderita DM tipe 2 yang menyangkut konsumsi obat-obatan
maupun kegiatan yang dianjurkan (Reach et al, 2011).
2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Penderita DM
Kepatuhan penderita DM tipe 2 merupakan fenomena multidimensi yang
ditentukan oleh tiga dimensi yang saling terkait yaitu karakteristik penyakit, aspek
psikososial, dan interaksi antara penderita dan petugas kesehatan (WHO, 2006).
Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan penyakit, bukan semata-mata menjadi
tanggung jawab penderita DM namun harus dilihat faktor-faktor lain yang
mempengaruhi perilaku penderita DM dalam mematuhi pengobatan mereka
(Strayer and Caple, 2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan penderita
DM tipe 2 diantaranya meliputi:
1) Karakteristik anjuran pengobatan yang terkait dengan karakteristik penyakit DM
tipe 2
Anjuran dari para petugas terkait dengan karakteristik penyakit DM tipe
2 yang diderita. Penerimaan anjuran pengobatan akan berbeda oleh setiap
pasien. Hal ini disebabkan kompleksnya latar belakang seperti: usia, orang yang
berusia lanjut cenderung mengikuti anjuran dokter, lebih memiliki tanggung
jawab, lebih tertib, lebih teliti, lebih bermoral dan lebih berbakti dari pada usia
muda (Glauber et al, 2014).
Karakteristik berikutnya jenis kelamin. Menurut penelitian Choudhry et
al (2009), faktor risiko tidak patuh berobat adalah dari jenis kelamin, laki-laki
kebanyakan lebih tidak patuh dibandingkan perempuan dalam berobat.
Selanjutnya faktor tingkat pendidikan, tingkat pendidikan formal merupakan
landasan penderita dalam berbuat sesuatu, membuat lebih mengerti dan
memahami sesuatu, atau menerima dan menolak sesuatu. Tingkat pendidikan
formal juga memungkinkan perbedaan pengetahuan dan pengambilan keputusan.
Karakteristik lain yang berhubungan dengan kepatuhan adalah durasi
penyakit yaitu lama menderita DM. menurut penelitian Shapiro (2008),
menyatakan bahwa semakin lama penderita mengalami penyakit DM tipe 2
maka semakin tinggi angka kejadian ketidakpatuhan. Hal itu dikarenakan
program pengobatan yang kompleks dan rumit sehingga dibutuhkan perubahan
gaya hidup pada penderita.
2) Aspek psikososial
Tingkat keseriusan suatu penyakit dan biaya yang harus dikeluarkan
untuk pengobatan akan mempengaruhi jiwa dan sikap penderita DM tipe 2
terhadap kepatuhan, tergantung pada sudut pandang penderita. Seseorang
merasakan bahwa penyakit DM tipe 2 termasuk penyakit yang serius dan usaha-
usaha pencegahan dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi maka hal ini
akan berpengaruh pada tingkat kepatuhannya (Safitri, 2013).
Sweileh et al (2014) mengemukakan bahwa penerimaan kondisi penyakit
serta manfaat dari acuan pengobatan merupakan dua faktor utama yang
mempengaruhi persepsi penderita DM. Selain itu, ketaatan pada aturan
pengobatan sering pula dipengaruhi oleh faktor-faktor kognitif dan emosional,
antara lain:
a) Intelegensi, sebagian besar penderita DM lupa tentang apa yang dikatakan
petugas kesehatan jika dibandingkan dengan informasi lain.
b) Isi pesan, terlalu banyak isi pesan, mempersulit penderita DM untuk
mengingat.
c) Keadaan psikis/mental, jika penderita DM berada dalam kecemasan sedang,
lebih mudah mengingat jika dibandingkan dengan penderita yang berada
pada kecemasan tingkat tinggi.
d) Dukungan sosial, penderita DM yang merasa menerima kenyamanan,
perhatian dan pertolongan dari orang-orang yang dibutuhkan seperti
keluarga, teman, dan organisasi tertentu yang menolong individu pada
penyakit khusus DM, kardiovaskuler, cenderung lebih patuh terhadap aturan
pengobatan daripada mereka yang kurang mendapat dukungan sosial
(Powell, 2008).
Apabila penderita DM sulit mematuhi aturan pengobatan maka salah satu
ketrampilan utama yang diharapkan dari petugas kesehatan adalah berusaha
memahami kondisi psikologis penderita dan tidak memberikan
sanksi/punishment kepada mereka (Safitri, 2013).
3) Interaksi antara penderita DM dan petugas kesehatan
Kepatuhan penderita DM untuk mengikuti aturan kesehatan tergantung
pada proses komunikasi antar penderita dengan petugas kesehatan. Pemberian
informasi kurang jelas disertai ketidakpuasan penderita terhadap pengobatan dari
praktisi akan mempengaruhi tingkat kepatuhan penderita DM (Bagner et al,
2007).
2.1.3 Metode untuk Meningkatkan Kepatuhan Penderita DM Tipe 2
Penderita DM tipe 2 sering salah mengerti dan lupa aturan-aturan
pengobatan yang dianjurkan, maka para praktisi atau petugas kesehatan harus
mempelajari teknik khusus untuk memberikan informasi yang jelas tentang
penyakit DM tipe 2 dan cara pengobatan kepada penderita (Choudhry et al, 2009).
Menurut Sirur et al (2009) dan Bagner et al (2007), mengemukakan metode
efektif untuk meningkatkan kepatuhan pada penderita DM tipe 2 adalah sebagai
berikut:
1) Instruksi berisi bahasa sederhana dan jelas pada penderita DM.
2) Gunakan pernyataan yang spesifik seperti “anda harus berjalan 1 km/hari dan
meningkat menjadi 2 km tiap hari pada minggu berikutnya” daripada
pernyataan “anda harus latihan setiap hari.”
3) Jelaskan kata kunci dalam informasi, sebagai contoh alasan yang mendasari
pentingnya kegiatan-kegiatan yang dianjurkan.
4) Memberikan kesempatan pada penderita DM mengulang instruksi dan
mengajukan pertanyaan dengan bahasa mereka sendiri.
5) Penyesuaian dengan aturan yaitu aktivitas yang dianjurkan sesuai dengan
kebiasaan dan ritual penderita, misal: minum obat sebelum makan.
6) Menyediakan alat pengingat (reminder) seperti jam dengan alarm, telepon,
surat yang dikirim ke rumah.
7) Self monitoring di mana penderita DM yang mencatat hal-hal penting pada
kertas warna mencolok, tulisan dengan ukuran besar pada kalender atau papan
tulis.
8) Jadwal dipilih sendiri oleh penderita sesuai dengan arahan dari petugas
kesehatan.
9) Penguatan (reinforcement), penghargaan yang diberikan oleh petugas
kesehatan.
10) Pengawasan yang ditingkatkan (increase supervision) dengan melibatkan
keluarga.
Keuntungan metode ini adalah penderita DM tipe 2 dapat lebih
berpartisipasi aktif terhadap apa yang telah dibuat dalam melakukan aturan-aturan
pengobatan yang dianjurkan dengan atau tanpa bantuan praktisi kesehatan (Cooper
et al, 2009).
2.2 Acceptance and Commitment Therapy (ACT) pada Penderita DM Tipe 2
2.2.1 Pengertian ACT pada penderita DM tipe 2
ACT adalah suatu terapi yang bertujuan untuk meningkatkan aspek
psikologi yang lebih fleksibel atau kemampuan untuk menjalani perubahan yang
terjadi saat ini dengan lebih baik (Hayes et al, 2010). ACT yang diaplikasikan pada
penderita DM tipe 2 yaitu penderita DM tipe 2 diajak untuk tidak menghindari
tujuan hidupnya, meskipun dalam upaya untuk mencapainya akan ditemukan
pengalaman yang tidak menyenangkan. Disimpulkan bahwa terapi ACT pada
penderita DM tipe 2 adalah suatu terapi yang menggunakan konsep penerimaan,
kesadaran, dan penggunaan nilai-nilai pribadi untuk menghadapi stresor internal
jangka panjang, yang dapat menolong penderita DM tipe 2 untuk dapat
mengidentifikasi pikiran dan perasaannya, kemudian menerima kondisi untuk
melakukan perubahan kesehatan baik fisik maupun psikologis yang terjadi,
kemudian berkomitment terhadap diri sendiri meskipun dalam perjuangannya harus
menemui pengalaman yang tidak menyenangkan (Eilenberg et al, 2013).
2.2.2 Tujuan ACT
Tujuan ACT adalah: 1) Membantu klien untuk dapat menggunakan
pengalaman langsung untuk mendapatkan respon yang lebih efektif untuk dapat
tetap bertahan dalam hidup. 2) Mampu mengontrol penderitaan yang dialaminya. 3)
Menyadari bahwa penerimaan dan kesadaran merupakan upaya alternatif untuk
tetap bertahan dalam kondisi yang dihadapinya. 4) Menyadari bahwa penerimaan
akan terbentuk oleh karena adanya pikiran dan apa yang diucapkan. 5) Menyadari
bahwa diri sendiri sebagai tempat penerimaan dan berkomitmen melakukan
tindakan yang akan dihadapi. 6) Memahami bahwa tujuan dari suatu perjalanan
hidup adalah memilih nilai dalam mencapai hidup yang lebih berharga (Eilenberg
et al, 2013; Sarandria, 2012).
2.2.3 Indikasi ACT
Terapi ACT dapat digunakan dalam menangani masalah: 1) Kecemasan
(Forman, 2007 dalam Hayes et al, 2010) dan beberapa peneliti lainnya. 2)
Menangani masalah penyakit kronik (McCracken, 2007 dalam Hayes et al, 2010)
dan beberapa peneliti lainnya. 3) Gangguan pola kebiasaan (Wood, 2006 dalam
Hayes et al, 2010) dan beberapa peneliti lainnya.
2.2.4 Prinsip dan Model ACT
ACT menggunakan proses penerimaan, kesadaran, komitmen dan proses
perubahan perilaku. Terdapat enam proses inti model ACT yang disebut dengan
model heksagonal, mengenai perubahan yang mempromosikan fleksibilitas
psikologis. Setiap proses inti menempati satu titik dalam model ini berbentuk
berlian, yaitu: 1) Penerimaan. 2) Defusion. 3) Self-as-konteks. 4) Kontak dengan
saat ini. 5) Nilai-nilai. 6) Tindakan berkomitmen.
Setiap salah satu proses inti merupakan keterampilan psikologis yang sehat,
bukan hanya alat untuk mencegah psikopatologi (Hayes et al, 2010). Pelaksanaan
ACT terdiri dari enam sesi sesuai dengan prinsip ACT yang telah dijelaskan
sebelumnya. Namun, berdasarkan penelitian Montgomery et al, (2011), tentang
ACT to prevent stress, self esteem, and promote health, teknik pelaksanaan ACT
dapat dilakukan dalam 4 sesi yang terdiri dari: enam prinsip ACT antara lain terdiri
dari acceptance, cognitif defusion, being present, self as a contex, values, and
committed action, choose direction, dan take action (Eilenberg et al, 2013; Heyes et
al, 2010; Montgomery et al, 2011).
1) Acceptance
Menerima pikiran dan perasaan meskipun terdapat hal yang tidak
diinginkan/tidak menyenangkan seperti rasa bersalah, rasa malu, rasa cemas dan
lainnya. Klien berusaha menerima apa yang mereka punya dan miliki dengan
maksud untuk mengakhiri penderitaan jangka panjang yang dialami tanpa merubah
atau membuang pikiran yang tidak dinginkan, tetapi dengan melakukan berbagai
cara latihan untuk mencapai kesadaran, klien belajar untuk dapat hidup dengan
menjadikan stresor sebagai bagian dari hidupnya (Eilenberg et al, 2013; Heyes et
al, 2010; Montgomery et al, 2011).
2) Cognitive defusion
Teknik untuk mengurangi penolakan terhadap pikiran atau pengalaman
yang tidak menyenangkan (Heyes et al, 2010).
3) Being present
Klien dibantu untuk mendapatkan pengalaman yang lebih terarah sehingga
perilaku yang ditunjukan menjadi lebih fleksibel dan kegiatan yang dilakukan
menjadi lebih konsisten sesuai dengan nilai yang dianutnya. Klien dibantu untuk
memilih arah hidup mereka dengan cara mengidentifikasi dan fokus pada apa yang
mereka inginkan dan nilai apa yang akan mereka pilih untuk hidup mereka
sehingga dapat mencapai tujuan hidup yang lebih berharga (Eilenberg et al, 2013;
Heyes et al, 2010; Montgomery et al, 2011).
4) Self as a contex
Klien melihat dirinya sebagai pribadi tanpa harus menghakimi dengan nilai
benar atau salah. Klien dibantu untuk lebih fokus pada dirinya dengan cara latihan
pikiran dan pengalaman (Eilenberg et al, 2013; Heyes et al, 2010).
5) Values
Klien dibantu untuk menetapkan nilai-nilai dan mampu mengambil
keputusan untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan tujuan hidupnya
(Eilenberg et al, 2013; Heyes et al, 2010).
6) Commited action
Klien berkomitmen secara verbal dan tindakan terhadap kegiatan yang akan
dipilih termasuk langkah yang diambil untuk mencapai tujuan hidup yang lebih
berharga (Eilenberg et al, 2013; Heyes et al, 2010; Montgomery et al, 2011).
2.2.5 Pedoman Pelaksanaan ACT
ACT dapat dilaksanakan dalam 6 sesi (Hayes et al, 2010). Namun, pada
pelaksanaanya yang telah dikembangkan oleh Montgomery et al, (2011) telah
memodifikasi menjadi 4 sesi dengan menggabungkan 2 prinsip dasar ACT yaitu
acceptance dan cognitive defution pada sesi 1. Present moment dan value pada sesi
2. Commited action tentang tindakan yang dilakukan pada pada sesi 3. Komitmen
untuk melakukan tindakan menjadi sesi 4. Berikut ini penjabaran dari masing-
masing sesi yang dapat diaplikasikan pada penderita DM tipe 2:
1) Sesi 1 yaitu mengidentifikasi kejadian, pikiran, dan perasaan yang muncul
serta dampak perilaku penderita DM tipe 2 akibat pikiran dan perasaan yang
muncul tersebut.
Tujuan sesi 1:
a) Klien mampu membina hubungan saling percaya dengan terapis.
b) Klien dapat mengidentifikasi kejadian buruk/tidak menyenangkan yang
dialami sampai saat ini berkaitan dengan penyakit DM.
c) Klien mampu mengidentifikasi pikiran yang muncul dari pengalaman tidak
menyenangkan tersebut akibat penyakit DM.
d) Klien mampu mengidentifikasi respon yang timbul dari penyakit DM yang
dideritanya.
e) Klien mampu mengidentifikasi upaya/perilaku yang muncul dari pikiran
dan perasaan yang ada terkait penyakit DM yang dideritanya.
2) Sesi 2 yaitu mengidentifikasi nilai/keyakinan berdasarkan pengalaman yang
dialami penderita DM tipe 2.
Tujuan sesi 2: Klien mampu menceritakan tentang upaya yang dilakukan
terkait dengan penyakit DM yang dideritanya berdasarkan pengalaman klien
baik yang konstruktif maupun destruktif.
3) Sesi 3 yaitu berlatih menerima penyakit DM yang dideritanya menggunakan
nilai/keyakinan yang dipilih penderita DM tipe 2.
Tujuan sesi 3:
a) Klien mampu memilih salah satu perilaku yang dilakukan akibat dari
pikiran dan perasaan yang timbul terkait kejadian yang tidak
menyenangkan akibat penyakit DM yang dideritanya.
b) Berlatih untuk mengatasi perilaku yang kurang baik yang sudah dipilih.
c) Memasukan latihan jasmani kedalam jadwal kegiatan harian klien.
4) Sesi 4 yaitu berkomitmen untuk mencegah komplikasi akibat penyakit DM
yang diderita.
Tujuan sesi 4:
a) Klien mampu mendiskusikan tentang apa yang akan dilakukan untuk
menghindari berulangnya perilaku buruk yang terjadi.
b) Klien mampu mengidentifikasi rencana yang akan dilakukan klien untuk
mempertahankan perilaku yang baik.
c) Klien mampu mengidentifikasi apa yang akan dilakukan oleh klien untuk
meningkatkan kemampuan berperilaku baik.
d) Menyebutkan keuntungan memanfaatkan pelayanan kesehatan.
e) Mampu menyebutkan akibat bila stres tidak ditangani segera.
f) Klien mampu menyebutkan manfaat pengobatan penyakit DM.
g) Klien mampu menyebutkan manfaat terapi modalitas lain untuk
kesembuhan penyakit DM yang dideritanya.

2.3 Konsep Diabetes Mellitus (DM)


2.3.1 Definisi diabetes mellitus (DM)
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik atau
komplikasi vaskuler jangka panjang yaitu mikroangiopati dan makroangiopati
(Naik et al, 2012; Hadisaputro, 2007; PERKENI, 2011).
2.3.2 Klasifikasi dan diagnosis diabetes mellitus (DM)
Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang sesuai dengan
anjuran klasifikasi DM American Diabetes Association (ADA) 2014. Klasifikasi
etiologi DM, menurut ADA 2014 adalah sebagai berikut: 1) Diabetes tipe I (Insulin
Dependent Diabetes Mellitus) yaitu destruksi sel beta, umumnya menjurus ke
defisiensi insulin absolute (autoimun dan idiopatik). 2) Diabetes tipe II (Non Insulin
Dependent Diabetes Mellitus) yaitu bervariasi mulai yang terutama dominan
resistensi insulin disertai defesiensi insulin relatif sampai yang terutama defek
sekresi insulin disertai resistensi insulin).
Diabetes tipe lain: defek genetik fungsi sel beta (Maturity-Onset Diabetes of
the Young (MODY) dan DNA mitokondria), defek genetik kerja insulin, penyakit
eksokrin pankreas (pancreatitis, tumor/ pankreatektomi, pankreatopati
fibrokalkulus), endokrinopati (akromegali, sindroma cushing, feokromositoma,
hipertiroidisme), karena obat/zat kimia (pentamidin; asam nikotinat,
glukokortikoid; hormon tiroid, tiazid, dilantin; interferon alfa dan lain-lain), infeksi:
rubella kongenital, sitomegalovirus, sebab imunologi yang jarang: antibodi insulin,
sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM: Sindrom Down, Sindrom
Klinefelter, Sindrom Turner dan lain-lain (Ewald & Hardt, 2013).
Kriteria Diagnostik DM menurut Seino et al (2010): 1) Gejala klasik DM
dengan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/ dl (11.1 mmol/L). Glukosa darah sewaktu
merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu
makan terakhir. Gejala klasik adalah: poliuria, polidipsia dan berat badan turun
tanpa sebab. 2) Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/ dl (7.0 mmol/L). Puasa
adalah pasien tak mendapat kalori sedikitnya 8 jam. 3) Kadar glukosa darah 2 jam
PP ≥ 200 mg/ dl (11,1 mmol/L) TTGO dilakukan dengan standar WHO,
menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang
dilarutkan ke dalam air.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka
dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT tergantung dari hasil yang
diperoleh: TGT: glukosa darah plasma 2 jam setelah beban antara 140-199 mg/dl
(7,8-11,0 mmol/L), dan GDPT: glukosa darah puasa antara 100-125 mg/dl(5,6-6,9
mmol/L) (Colberg et al, 2010).
2.3.3 Etiologi diabetes mellitus (DM)
Orang yang mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya DM adalah: 1) Usia
diatas 45 tahun, pada orang-orang yang sudah berumur diatas 45 tahun fungsi organ
tubuh semakin menurun, hal ini diakibatkan aktivitas sel beta pankreas untuk
menghasilkan insulin menjadi berkurang dan sensitifitas sel-sel jaringan menurun
sehingga tidak menerima insulin. 2) Obesitas atau kegemukan, pada orang obesitas
aktivitas jaringan lemak dan otot menurun sehingga dapat memicu terjadinya DM.
3) Pola makanyang serba instan saat ini sangat digemari oleh masyarakat perkotaan
(Donald et al, 2013).
Pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh dapat menjadi
penyebab DM, misalnya makanan gorengan yang mengandung gizi yang kurang. 4)
Riwayat DM pada keluarga, sekitar 15-20% penderita NIDDM (Non Insulin
Dependent Diabetes Mellitus) mempunyai riwayat keluarga DM, sedangakan
IDDM (Insulin Dependent Diabetes Meliitus) sebanyak 57% berasal dari keluarga
DM. 5) Kurang berolahraga atau beraktivitas, olah raga dapat dilakukuan 3-5 kali
seminggu, kurang berolahraga dapat menurunkan sensitifitas sel terhadap insulin
sehingga dapat mengakibatkan penumpukan lemak dalam tubuh (ADA, 2014;
Suryono, 2011).
2.3.4 Patofisiologi diabetes mellitus (DM)
DM terkait erat dengan proses pengaturan glukosa dalam darah. Hormon
insulin memiliki peran yang penting dalam pengaturan kadar glukosa darah
tersebut. Glukosa adalah suatu karbohidrat yang termasuk monosakarida atau
karbohidrat yang molekunya hanya terdiri atas beberapa atom karbon saja. Glukosa
di alam dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar
matahari dan klorofil dalam daun (Tfayli and Arslanian, 2009).
Glukosa setelah masuk ke dalam tubuh akan diserap melalui dinding usus
halus, kemudian dialirkan oleh darah menuju hati. Glukosa mengalami proses
sintesis menghasilkan gilkogen di dalam hati, oksidasi menjadi CO2 dan H2O, atau
dilepaskan untuk di bawah dengan aliran darah kebagian tubuh yang
memerlukannya. Zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang
rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi di dalam sel. Proses ini disebut
metabolisme. Proses metabolisme itu insulin memegang perang yang sangat
penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya dapat
digunakan sebagai bahan energi. Insulin ini adalah hormon yang dikeluarkan oleh
sel beta di pancreas (Donald et al, 2013).
Kadar insulin pada keadaan normal cukup dan sensitif, insulin akan
ditangkap oleh reseptor insulin yang ada pada permukaan sel otot, kemudian
membuka pintu masuk sel hingga glukosa dapat masuk sel untuk kemudian dibakar
menjadi energi atau tenaga sehingga kadar glukosa dalam darah normal. Pada DM
didapatkan jumlah insulin yang kurang atau pada keadaan kualitas insulinnya tidak
baik (resistensi insulin), meskipun insulin ada dan reseptor juga ada, tetapi karena
ada kelainan di dalam sel itu sendiri, pintu masuk sel tetap tidak dapat terbuka tetap
tertutup hingga glukosa tidak dapat masuk sel untuk dibakar (dimetabolisme).
Glukosa tetap berada di luar sel, hingga kadar glukosa dalam darah meningkat
(Abrahamson & Peters, 2012; Donald et al, 2013).
2.3.5 Gejala dan tanda diabetes mellitus (DM)
Gejala dan tanda DM dapat digolongkan menjadi gejala akut dan gejala
kronik. Permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi: banyak makan (poliphagia),
banyak minum (polidipsia), banyak kencing (poliuria). Keadaan tersebut tidak
segera diobati, akan timbul gejala: banyak minum, banyak kencing, nafsu makan
mulai berkurang/ berat badan turun dengan cepat (turun 5-10 kg dalam waktu 2-4
minggu), mudah lelah, bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan
penderita akan jatuh koma yang disebut dengan koma diabetik (Manaf, 2006).
Gejala Kronik DM yang sering dialami adalah sebagai berikut: kesemutan,
kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit, kram, capai,
mudah mengantuk, mata kabur, biasanya sering ganti kacamata, gatal di sekitar
kemaluan terutama wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual
menurun, bahkan impotensi, para ibu hamil sering mengalami keguguran atau
kematian janin dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg
(Gustaviani, 2006; Manaf, 2006).
2.3.6 Patogenesis diabetes mellitus (DM)
DM merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya kekurangan insulin
secara relatif maupun absolut. Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu:
1) Rusaknya sel-sel β pankreas karena pengaruh dari luar (virus, zat kimia tertentu,
dll). 2) Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas. 3)
Desensitas/kerusakan reseptor insulin (down regulation) di jaringan perifer (Vaag
& Lund, 2012). Apabila di dalam tubuh terjadi kekurangan insulin, maka dapat
mengakibatkan: menurunnya transport glukosa melalui membram sel, keadaan ini
mengakibatkan sel-sel kekurangan makanan sehingga meningkatkan metabolisme
lemak dalam tubuh. Manifestasi yang muncul adalah penderita DM selalu merasa
lapar atau nafsu makan meningkat ”poliphagia” (Hassan et al, 2013; Owens, 2013).
Menurunnya glikogenesis, dimana pembentukan glikogen dalam hati dan
otot terganggu. Meningkatnya pembentukan glikolisis dan glukoneogenesis, karena
proses ini disertai nafsu makan meningkat atau poliphagia sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya hiperglikemi. Kadar gula darah tinggi mengakibatkan
ginjal tidak mampu lagi mengabsorpsi dan glukosa keluar bersama urin, keadaan ini
yang disebut glukosuria. Manifestasi yang muncul yaitu penderita sering berkemih
atau poliuria dan selalu merasa haus atau polydipsia (Suzuki & Koga, 2014).
2.3.6 Faktor risiko diabetes mellitus (DM)
Faktor risiko terjadinya DM tipe 2 menurut ADA (2014) dengan modifikasi
terdiri: 1) Faktor risiko mayor: riwayat keluarga DM, obesitas, kurang aktivitas
fisik, ras/etnik, sebelumnya teridentifikasi sebagai IFG, hipertensi, tidak terkontrol
kolesterol dan HDL, riwayat DM pada kehamilan, sindroma polikistik ovarium. 2)
Faktor risiko lainnya: faktor nutrisi, konsumsi alkohol, kebiasaan mendengkur,
faktor stress, kebiasaan merokok, jenis kelamin, lama tidur, intake zat besi,
konsumsi kopi dan kafein, paritas (Yudha, 2005).
2.3.7 Penatalaksanaan diabetes mellitus (DM)
Tujuan pengelolaan DM yaitu menghilangkan gejala/keluhan dan
mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian darah sebagai
tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang adalah mencegah komplikasi,
mikroangiopati dan makroangiopati dengan tujuan menurunkan mortalitas dan
morbiditas (ADA, 2014; Donald et al, 2013; Suryono, 2011). Prinsip pengelolaan
DM, meliputi:
1) Penyuluhan
Tujuan penyuluhan yaitu meningkatkan pengetahuan diabetisi tentang
penyakit dan pengelolaannya dengan tujuan dapat merawat sendiri sehingga
mampu mempertahankan hidup dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Penyuluhan meliputi penyuluhan untuk pencegahan primer yang ditujukan untuk
kelompok risiko tinggi. Penyuluhan untuk pencegahan sekunder, ditujukan pada
diabetisi terutama pasien yang baru. Materi yang diberikan meliputi: pengertian,
gejala, penatalaksanaan, mengenal dan mencegah komplikasi akut dan kronik,
perawatan pemeliharaan kaki, dan lain-lain. Penyuluhan untuk pencegahan
tersier, ditujukan pada diabetisi lanjut, dan materi yang diberikan meliputi: cara
perawatan dan pencegahan komplikasi, upaya untuk rehabilitasi, dan lain-lain
(ADA, 2014; Tjokroprawiro, 2011).
2) Diet DM
Tujuan diet pada DM adalah mempertahankan atau mencapai berat badan
ideal, mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal, mencegah
komplikasi akut dan kronik serta meningkatkan kualitas hidup. Prinsip diet DM
hendaknya diikuti pedoman “3J”, yaitu: jumlah kalori yang dibutuhkan, jadwal
makanyang harus diikuti, dan jenis makanan yang harus diperhatikan
(Tjokroprawiro, 2011).
a) Jumlah kalori
Kebutuhan kalori dihitung berdasarkan klasifikasi gizi penderita dengan
menghitung presentasi Relative Body Weight (RBW) atau Berat Badan Relatif
(BBR) dengan rumus:
BBR = BB x 100%
TB-100
Keterangan:
BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (cm)
Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan Berat Badan Relatif (BBR)
No. Klasifikasi Status Gizi BBR
1. Undernutrition < 80%
2. Kurus (underweight) BBR < 90%
3. Normal (ideal) 4-100
4. Gemuk (overweight) >110%
5. Obesitas, bila BBR ≥ Obesitas
120% Ringan BBR 120-130%
Obesitas Sedang BBR 130-140%
Obesitas Berat > 140%
Obesitas Morbid > 200%
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain: jenis
kelamin, kebutuhan kalori pria sebesar 30 kal/kg BB dan wanita sebesar 25
kal/kg BB. Faktor berikutnya umur, diabetisi di atas 40 tahun kebutuhan
kalori dikurangi yaitu usia 40-59 tahun dikurangi 5%, usia 60-69 tahun
dikurangi 10%, dan lebih 70 tahun dikurang 20%. Aktifitas fisik, kebutuhan
kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik. Aktivitas ringan
ditambahkan 20%, aktivitas sedang ditambahkan30%, dan aktivitas berat
dapat ditambahkan 50%. Berat badan, bila kegemukan dikurangi 20-30%
tergantung tingkat kegemukan. Badan kurus ditambah 20-30% sesuai dengan
kebutuhan untuk meningkatkan BB. Penderita kondisi khusus, misal dengan
ulkus diabetika atau infeksi, dapat ditambahkan 10-20% (Donald et al, 2013;
PERKENI, 2011).
b) Jadwal makan
Menurut Tjokroprawiro (2011), pada dasarnya diet diabetes diberikan
dengan cara tiga kali makanan utama dan tiga kali makanan antara atau
kudapan (snack) dengan jarak atau interval tiga jam. Contoh: pukul 06.30
makan pagi, pukul 09.30 makan kecil atau buah, pukul 12.30 makan siang,
pukul 15.30 makan kecil atau buah, pukul 18.30 makan malam, pukul 21.30
makan kecil atau buah.
c) Jenis makanan
Komposisi makanan yang dianjurkan adalah makanan
dengankomposisi seimbang yaitu yang mengandung karbohidrat (45-60%),
protein (10-15%), lemak (20-25%), garam (≤ 3000 mg atau 6-7 gr perhari),
dan serat (± 25 g/hr).
Jenis buah-buahan yang dianjurkan adalah buah golongan B, misalnya
papaya, kedondong, pisang, apel, salak, tomat, dan semangka yang kurang
manis. Buah-buahan yang tidak dianjurkan golongan A, misalnya nangka,
sawo, mangga, jeruk, rambutan, anggur, dan durian. Buah golongan A ini
boleh dimakan asalkan dalam jumlah sedikit, jarang-jarang saja dan dimakan
sesudah sayur golongan B (taoge, terong). Sayur golongan A (wortel, nangka
muda) mengandung 6% karbohidrat dan pengunaannya harus diperhitungkan
kalorinya. Sayur golongan B hanya mengandung 3% karbohidrat sehingga
dapat digunakan agak bebas. Diet yang digunakan sebagai bagian dari
penatalaksanaan DM dikontrol berdasarkan kandungan energi, protein,
lemak, dan karbohidrat. Penetapan diet ditentukan oleh keadaan pasien, jenis
DM, dan program terapi keseluruhan (Suryono, 2011).
3) Latihan Fisik (Olah Raga).
Tujuan olah raga adalah untuk meningkatkan kepekaan insulin,
mencegah kegemukan, memperbaiki aliran darah, merangsang pembentukan
glikogen baru dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Prinsip latihan jasmani
yang baik menurut Ilyas (2011) adalah FITT, yaitu: frekuensi, jumlah olah
raga per minggu sebaiknya dilakukan secara teratur 5 kali per minggu.
Intensitas, ringan dan sedang yaitu 60-70 % MHR (Maximum Heart Rate).
Time, lamanya latihan kurang lebih 30 menit. Tipe olah raga, olah raga
endurans (aerobic) untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi seperti
jalan, jogging, berenang, dan bersepeda. Intensitas latihan dapat ditingkatkan
dengan menggunakan MHR (Maximum Heart Rate) yaitu: 220-umur. MHR
(Maximum Heart Rate) dapat ditentukan Target Heart Rate (THR). Intensitas
latihan yang diprogramkan bagi diabetes berusia 50 tahun sebesar 60-70%,
maka THR 60% x (220-50) = 102 kali/menit. THR 70% adalah 70% x (220-
50) = 119 kali/menit.
Hal yang perlu diperhatikan setiap kali melakukan olah raga adalah
tahap-tahap (urutan kegiatan) sebagai berikut: pemanasan (warm up), lama
pemanasan cukup 5-10 detik. Latihan inti (conditioning), pada tahap ini
denyut nadi diusahakan mencapai THR agar latihan benar-benar bermanfaat.
Bila THR tidak tercapai maka latihan tidak akan bermanfaat, bila melebihi
THR akan menimbulkan risiko yang tidak diinginkan. Pendinginan (cooling
down), lama pendinginan kurang lebih 5-10 menit, hingga denyut nadi
mendekati denyut nadi istirahat. Peregangan (stretching), melemaskan dan
melenturkan otot-otot yang masih teregang dan lebih elastis (Coldberg et al,
2010).
4) Pengobatan
Jika diabetisi telah menerapkan pengaturan makanan dan kegiatan
jasmani yang teratur namun pengendalian kadar gula darah belum tercapai
maka dipertimbangkan pemberian obat. Obat meliputi: obat antidiabetic oral
(OAD) atau obat hipoglikemi oral (OHO) dan insulin (Glauber et al, 2014).
Menurut Tjokroprawiro (2011) menyatakan jenis-jenis obat
antidiabetik oral, yaitu: insulin secretagogeus (pemicu sekresi insulin),
sulfonilurea yang mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh
sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien yang memiliki
berat badan normal dan kurang. Namun, masih boleh diberikan kepada pasien
dengan barat badan lebih. Contoh lain yaitu Glinid. Obat glinid merupakan
obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonylurea dengan penekanan pada
meningkatkan sekresi insulin fase pertama.
2.3.7 Komplikasi diabetes mellitus (DM)
Komplikasi pada DM dapat dibagi menjadi dua yaitu: komplikasi metabolik
akut dan kronik. Komplikasi metabolik akut, terdiri dari dua bentuk yaitu
hipoglikemia dan hiperglikemia. Hipoglikemi yaitu apabila kadar gula darah lebih
rendah dari 60 mg % dan gejala yang muncul yaitu palpitasi, takhicardi, mual
muntah, lemah, lapar dan dapat terjadi penurunan kesadaran sampai koma.
Hiperglikemi yaitu apabila kadar gula darah lebih dari 250 mg % dan gejala yang
muncul yaitupoliuri, polidipsi pernafasan kussmaul, mual muntah, penurunan
kesadaran sampai koma (ADA, 2014; Yunir, 2006).
Komplikasi metabolik kronik, pada dasarnya terjadi pada semua
pembuluhdarah di seluruh bagian tubuh (angiopati diabetik). Komplikasi kronik
DM yang sering terjadi adalah sebagai berikut: mikrovaskuler (ginjal dan mata),
makrovaskuler (penyakit jantung koroner, pembuluh darah kaki, pembuluh darah
otak), neuropati: mikro dan makrovaskuler, mudah timbul ulkus atau infeksi:
mikrovaskuler dan makrovaskuler (Donald et al, 2013; Waspadji, 2006).
2.3 Kerangka Konsep

Perilaku
terdahulu
berhubungan
dengan hidup Penderita DM tipe 2
sehat DM tipe 2

1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Pendidikan
Nursing Therapeutic
4. Lama Acceptance and Commitment Therapy
menderita Sesi 1: Acceptance and cognitive defusion
DM Identifikasi kejadian, pikiran, dan perasaan yang muncul
Sesi 2: Present moment and value
Identifikasi nilai berdasarkan pengalaman
Sesi 3: Committed action secara verbal
Berlatih menerima kejadian dengan nilai yang dipilih
Sesi 4: Melakukan komitmen dan mencegah distress yang timbul

Health promotion behavior

Perubahan sudut pandang penderita


DM tipe 2 yang lebih positif:
Kepatuhan penatalaksanaan DM

Keterangan:

: Diteliti
: Tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Konsep

2.4 Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah :
1. ACT dapat meningkatkan kepatuhan penderita DM dalam penatalaksanaan
DM tipe 2.
2. Jenis kelamin, usia, pendidikan, dan lama menderita DM berpengaruh
terhadap kepatuhan penderita DM tipe 2.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasy experiment
dengan desain penelitian pretest posttest with control group design. Penelitian ini
melibatkan dua kelompok subjek yaitu kelompok intervensi dan kelompok
kontrol.
Tabel 3.1 Rancangan penelitian pretest posttest with control group design
Subyek Pra Perlakuan Post
K-A O I O1-A
K-B O - O1-B
Time 1 Time 2 Time 3
(Kuntoro, 2011)
Keterangan:
K-A : Kelompok intervensi (kelompok yang mendapatkan
coaching support)
K-B : Kelompok kontrol (kelompok yang tidak mendapatkan
coaching support)
O : Pretest sebelum dilakukan coaching support
I : Intervensi coaching support (diberikan sebanyak empat
sesi, 2x pertemuan tiap minggu dan setiap pertemuan
selama 30-60 menit)
O1 (A+B) : Posttest setelah diberikan intervensi (kelompok intervensi
dan kelompok kontrol)

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian


3.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien DM tipe 2 yang
berobat di Rumah Sakit Islam A.Yani Surabaya pada Januari sampai Maret 2019
dengan rata-rata perbulan yaitu sebanyak 60 responden.
3.2.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian penderita DM tipe 2 yang
berobat di Rumah Sakit Islam A.Yani Surabaya pada Januari sampai Maret 2019
dengan rata-rata perbulan yaitu sebanyak 60 responden yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi penelitian.
a. Kriteria inklusi: penderita DM tipe 2 yang berusia 46-75 tahun, tidak terdapat
keterbatasan fisik, mental, ataupun keterbatasan kognitif yang mengganggu
penelitian, serta bisa membaca dan menulis.
b. Kriteria eksklusi: penderita yang tidak bersedia menjadi responden, dan
penderita DM tipe 2 yang memiliki komplikasi penyakit lain selain DM tipe 2,
misalnya hipertensi, gagal jantung, gagal ginjal, serta responden yang drop out
selama proses penelitian.
3.2.3 Besar sampel dan teknik sampling
Teknik sampling dalam penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel
secara acak yaitu simple random sampling. Sampel penelitian ini adalah penderita
DM tipe 2 yang berobat di Puskesmas Depok III Kabupaten Sleman Yogyakarta,
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian untuk mencapai jumlah sampel
yang ditetapkan maka dengan cara menulis pada secarik kertas nomor urut jumlah
populasi yang tersedia kemudian secara acak dilakukan pengambilan nomor yang
telah ditulis. Selanjutnya, sampel yang sudah terkumpul dibagi menjadi kelompok
intervensi dan kelompok kontrol dengan teknik purposive sampling. Caranya
dengan memilih sampel sesuai dengan yang dikehendaki peneliti. Perhitungan
sampel menggunakan estimasi besar sampel untuk penelitian yang bertujuan
menguji hipotesis beda 2 proporsi kelompok independen dengan rumus sebagai
berikut (Sastroasmoro & Ismael, 2008):
( ) 2
n 1= n 2= 2 ( )

Keterangan:
n : Besar sampel
Zα : Harga kurva normal tingkat kesalahan yang ditentukan
dalam penelitian pada CI 95 % (α= 0.05), maka Zα= 1,96
Zß : Bila α = 0.05 dengan kekuatan uji 80% maka Z ß= 0.842
s : Simpangan baku kedua kelompok (dari pustaka)
x1-x2 : Perbedaan klinis yang diinginkan (clinical judgment)
Penelitian yang dilakukan oleh Reach (2011) Obedience and Motivation as
Mechanisms for Adherence to Medication: a study inobese type 2 diabetic
patients, diketahui terjadi rata-rata peningkatan kepatuhan pada kedua kelompok
sebesar 1,53. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus diatas, maka:
Zα = 1,96; Zβ = 0,842; s = 2; x1-x2 = 1,53
( ) 2
n 1= n 2= 2 ( )

n 1 = n 2 = 2 (13,42) = 26,83 dibulatkan menjadi 27 responden


Berdasarkan hasil dari rumus diatas, besar sampel minimal adalah 27
responden untuk masing-masing kelompok. Untuk menghindari responden
mengundurkan diri selama penelitian, peneliti mengantisipasi berkurangnya
subyek penelitian dengan rumus (Sastroasmoro & Ismail, 2008):
n’ = n
1-f
Keterangan:
n’ = ukuran sampel setelah revisi
n = ukuran sampel asli
1-f = perkiraan proporsi drop out, yang diperkirakan 10% (f = 0,1)
Maka:
n’ = 27 = 30
1-0,1
Desain quasy experiment melibatkan dua kelompok sehingga pada
kelompok perlakuan terdapat 30 responden dan pada kelompok kontrol 30
responden. Total dari responden penelitian ini adalah 60 responden.

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Islam A.Yani Surabaya.
Pemilihan tempat penelitian dikarenakan subjek penelitian yang sangat sesuai
dengan target penelitian dan angka kesakitan yang cukup tinggi yang sudah
dialami penderita DM tipe 2 yang berobat di rumah sakit tersebut. Waktu
penelitian dilaksanakan pada 24 Mei sampai dengan 06 Juni 2019.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari:
1. Variabel independen dalam penelitian ini adalah coaching support.
2. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kepatuhan.

3.5 Definisi Operasional


Tabel 3.2 Definisi Operasional Penelitian
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Skala Hasil Ukur
Independen
(X):
Acceptance and Latihan penerimaan Program terapi terdiri - -
Commitment pada penderita DM dari empat sesi, yaitu:
Therapy (ACT) tipe 2 tentang kondisi 1. Sesi 1 yaitu
yang tidak identifikasi
menyenangkan kejadian, pikiran,
melalui kemampuan dan perasaan yang
dalam menentukan muncul
tindakan yang 2. Sesi 2 yang
terbaik, bermanfaat dilakukan
dan berkomitmen Identifikasi nilai
untuk melakukan apa berdasarkan
yang sudah dipilih. pengalaman
3. Sesi 3 yaitu
berlatih menerima
kejadian dengan
nilai yang dipilih
4. Sesi 4 yaitu
melakukan
komitmen dan
mencegah distress
yang timbul
ACT dilakukan empat
sesi, setiap minggu 1x
pertemuan, setiap
pertemuan selama 45
menit.
Dependen (Y):
Kepatuhan
Ketaatan penderita Kuesioner Interval Skor
DM tipe 2 dalam minimum 12
meminum obat, dan skor
mematuhi diet, maksimum
menjalankan olah adalah 48
raga, dan melakukan
pemeriksaan secara
teratur sesuai
instruksi petugas
kesehatan.
Variabel
Konfonding
1. Umur Cara berfikir Kuesioner Ordinal 1. 46-55 tahun
penderita DM tipe 2 2. 56-65 tahun
secara matang dalam 3. 66-75 tahun
menerima dan
mengelola informasi.
2. Jenis Identitas penderita Kuesioner Nominal 1. Laki-laki
Kelamin DM tipe 2 yang 2. Perempuan
mempengaruhi pola
pikir.
3. Pendidikan Pemahaman Kuesioner Ordinal 1. Tidak Sekolah
penderita DM tipe 2 2. SD
yang berkaitan 3. SMP
kemampuan 4. SMA
mengatasi 5. Diploma/S1/S
penyakitnya. 2
4. Lama Waktu yang dialami Kuesioner Nominal 1. < 6 tahun
menderita penderita DM tipe 2 2. ≥ 6 tahun
DM tipe 2 dalam menghadapi
penyakitnya.

3.6 Instrumen Penelitian


1. Kepatuhan
Instrumen untuk mengukur kepatuhan pada penderita DM menggunakan
kuesioner yang terdiri dari 12 pernyataan mengenai penatalaksanaan DM.
Skor kepatuhan ini adalah 4 = selalu melaksanakan, 3 = sering, 2 = kadang-
kadang, dan 1 = tidak pernah. Skala data interval. Skor minimal adalah 12,
dan skor maksimal adalah 48. Semakin rendah skor maka semakin rendah
kepatuhan dan semakin tinggi skor maka kepatuhan semakin baik.
2. Usia
Instrumen usia menggunakan kuesioner yang terdiri dari satu pertanyaan.
Jawaban diklasifikasikan berdasarkan pembagian tahapan masa dewasa
menurut WHO (2006): 1) 46-55 tahun (masa dewasa akhir); 2) 56-65 tahun
(masa dewasa lanjut); 3) 66-75 tahun (masa lansia).
3. Jenis kelamin
Instrumen ini menggunakan kuesioner yaitu terdiri dari satu pertanyaan
dengan dua pilihan jawaban, yaitu 1) Laki-laki dan 2) Perempuan.
4. Pendidikan
Instrumen ini menggunakan kuesioner yang terdiri dari satu pertanyaan
tentang latar belakang pendidikan terakhir yang sudah pernah ditempuh
secara formal oleh responden dengan pilihan jawaban: 1) Tidak Sekolah 2)
SD; 3) SMP; 4) SMA; 5) Diploma/S1/S2.
5. Lama menderita DM tipe 2
Instrumen ini menggunakan kuesioner yang terdiri dari satu pertanyaan
tentang waktu atau lamanya menderita penyakit DM tipe 2 dari mulai
terdiagnosis sampai dengan sekarang dengan pilihan jawaban, 1) <6 tahun;
2) ≥6 tahun.

3.7 Uji validitas dan reliabilitas


Instrumen penelitian yang digunakan sudah teruji validitas dan reliabilitas
pada penelitian sebelumnya. Peneliti terdahulu yaitu Damayanti (2011)
melakukan uji coba alat ukur dengan menyebar kuesioner kepada sejumlah
partisipan yang bukan subjek pada penelitian. Hasil uji validitas menggunakan uji
cronbach alpha dan uji reliabilitas menggunakan uji Pearson dengan bantuan
software statistik untuk kepatuhan dengan hasil nilai r = 0, 649 > r tabel = 0,576.
Jadi, instrumen reliabel dan nilai korelasi positif. Kuesioner kepatuhan valid.
3.8 Cara Pengumpulan Data
Tahap Persiapan

Menentukan populasi dan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi (N=60)

Simple random sampling

Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan perlakuan (n=30)

Purposive sampling

Kelompok kontrol Kelompok


(n=30) perlakuan (n=30)
Informed Concent

Tahap Pelaksanaan

Pre-tes kepatuhan pada kelompok kontrol dan perlakuan

Kelompok kontrol Kelompok perlakuan

Penyuluhan tentang DM Penyuluhan tentang DM


dan penatalaksanaannya dan penatalaksanaannya

Diberikan ACT
Empat sesi, selama empat minggu:
(1x pertemuan selama 45 menit)

Post-tes kepatuhan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan

Analisis dan uji Statistik menggunakan: Paired t-Test, Independet t-Test


Regresi Linear Berganda

Hasil: Hipotesis diterima apabila p< 0,05

Gambar 3.1 Kerangka Kerja Penelitian.


3.9 Pengolahan dan Metode Analisa Data
1. Pengolahan data
Pengolahan data yang dilakukan meliputi: memeriksa data (editing),
memberi kode (coding) dan menyusun data (tabulating). Proses editing
adalah memeriksa data yang telah terkumpul dari kuesioner, yang dilakukan
dengan memeriksa jumlah lembaran dan isian kuesioner serta melakukan
koreksi terhadap kelengkapan pengisian kuesioner. Jawaban yang tidak jelas
atau butir pertanyaan yang tidak diisi, responden diminta untuk
melengkapinya. Coding adalah pemberian kode dilakukan untuk
mempermudah pengolahan data. Contoh pemberian kode pada penelitian ini
adalah R untuk responden. Tahap tabulating disesuaikan dalam bentuk tabel
sesuai dengan variabel-variabel yang diukur.
2. Analisa data
a. Uji Normalitas
Uji Normalitas merupakan salah satu uji mendasar yang
dilakukan sebelum melakukan analisis data lebih lanjut atau lebih dalam,
data yang normal dijadikan landasan dalam beberapa uji statistik. Uji
normalitas berfungsi untuk melihat bahwa data sampel yang diambil atau
digunakan mengikuti atau mendekati distribusi normal (distribusi data
tersebut tidak menceng ke kiri atau ke kanan) dilihat dari hasil histogram.
Teknik yang digunakan untuk uji normalitas pada penelitian ini dengan
menggunakan Kolmogorov Smirnov karena jumlah responden >50
responden. Data terdistribusi normal (ρ-value > 0,05) maka analisa data
menggunakan uji statistik parametrik (Dependent sample T-test dan
Independent sample T-test).
b. Analisa univariat
Hasil pengambilan data dilakukan analisis deskriptif untuk
variabel karakteristik responden (umur, jenis kelamin, pendidikan, dan
lama menderita DM), variabel kepatuhan pada kelompok kontrol maupun
kelompok perlakuan dengan menghitung mean, modus, median dan
membuat distribusi frekuensi berdasarkan variabel.
c. Analisis bivariat
1) Perbedaan kepatuhan pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah
dianalisis dengan uji Paired sample T Test.
2) Perbedaan kepatuhan pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah
dianalisis dengan uji Paired sample T Test.
3) Perbedaan kepatuhan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan
dianalisis dengan uji Independent sample T Test. Hipotesis diterima
apabila p<0,05.
d. Analisa Multivariat
Perbedaan variabel yang berpengaruh terhadap kepatuhan
penderita DM tipe 2 dianalisis dengan uji Regresi Linier Berganda.
Hipotesis diterima apabila p<0,05.

3.10 Etika Penelitian


Penelitian ini tetap memperhatikan etika penelitian untuk menjaga
integritas peneliti dan melindungi subyek penelitian dari pelangaran hak asasi
manusia. Penilaian kelayakan etik dilakukan terhadap proposal penelitian ini.
Peneliti mengajukan permohonan keterangan kelayakan etik penelitian kepada
Komisi Etika Penelitian Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.
Prinsip etika dalam penelitian menurut Nursalam (2013) menjelaskan bahwa
pelaksanaan etika dalam penelitian ini mempertimbangkan tujuh petunjuk yang
meliputi:
1. Informed concent (lembar persetujuan)
Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada responden. Setelah
responden mengerti maksud dan tujuan penelitian, responden diberikan
informed concent baik kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan dan
meminta tanda tangan apabila mereka bersedia untuk diteliti.
2. Anonymity (tanpa nama)
Nama responden tidak dicantumkan dalam lembar pengumpulan data, hal ini
bertujuan menjaga kerahasiaan responden. Namun, untuk mengetahui
keikutsertaan responden, peneliti cukup menggunakan kode pada masing-
masing lembar pengumpulan data.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Informasi yang telah diperoleh dari responden akan dijamin kerahasiaannya
oleh peneliti. Peneliti hanya akan menyajikan informasi terutama dilaporkan
pada hasil riset.
4. Beneficiency (manfaat)
Manfaat coaching support dari hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat
dalam meningkatkan kepatuhan penderita DM tipe 2.
5. Non maleficiency (tidak merugikan)
Coaching support berpedoman pada prinsip minimum risk (rendah resiko)
sehingga secara minimal menimbulkan masalah pada responden.
6. Veracity (kejujuran)
Responden diminta menjawab pertanyaan dalam kuesioner dengan jujur dan
hasil yang didapatkan selama pengumpulan data merupakan hasil sesuai
kenyataan dan kejujuran.
7. Justice (keadilan)
Responden harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama, dan sesudah
keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi.
BAB IV
ANALISA DAN HASIL

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.2 Analisis Univariat

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi karakteristik responden (N=60)


Kelompok Kelompok ρ*
No. Karakteristik Kontrol (n=30) Perlakuan (n=30)
N % n %
1 Umur (tahun)
46-55 11 36,67 9 30 0,765**
56-65 12 40 12 40
66-75 7 23,33 9 30
2 Jenis Kelamin
Laki-laki 11 36,67 8 26,67 0,580*
Perempuan 19 63,33 22 73,33
3 Pendidikan Terakhir
Tidak Sekolah 2 6,67 2 6,67 1,000**
SD 7 23,33 8 26,67
SMP 7 23,33 8 26,67
SMA 10 33,33 9 30
Diploma/S1/S2 4 13,33 3 10
4 Lama DM
<6 Tahun 17 56,67 10 33,33 0,119*
≥6 Tahun 13 43,33 20 66,67

* p<0,05Based on uji PearsonChi-Square


** p<0,05Based on uji Chi-Square Fisher’s Exact Test

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik


responden yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, dan lama menderita
DM antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.
4.1.3 Analisis Bivariat
Tabel 4.2 Perubahan kepatuhan responden sebelum dan setelah diberikan
Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
Responden Kepatuhan 95% CI T ρ*
Sebelum Setelah
(Mean±SD) (Mean±SD)
Kelompok Kontrol 25,93±3,88 26,93±3,24 -1,37 ; - 5,58 0,00
0,63
Kelompok 25,93±3,43 30,73±2,83 -5,54 ; - 13,33 0,00
Perlakuan 4,07
*p<0,05Based onpaired t-test
Tabel 4.2 menjelaskan bahwa berdasarkan hasil uji statistic Paired t-Test
didapatkan nilai p = 0,00. Nilai p<0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat perubahan secara signifikan kepatuhansebelum dan setelah diberikan
intervensi.Hal ini dibuktikan dengan nilai rerata 95% CI pada dua kelompok tidak
melibatkan angka 0 maka hasilnya dikatakan bermakna. Pada kelompok perlakuan
terjadi peningkatan kepatuhan lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol
ditandai dengan nilai t hitung 13,33.
Tabel 4.3 Nilai selisih kepatuhan responden sebelum dan setelah
diberikanAcceptance and Commitment Therapy (ACT)
Kelompok Kelompok Mean 95% CI ρ*
Kepatuhan Kontrol Perlakuan Difference
(Mean±SD) (Mean±SD)
Nilai selisih 1,00±0,98 4,80±1,97 3,80 -4,61 ; -3,0 0,00
*p<0, 05 based on independent t-test
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata perubahan kepatuhan
sebelum dan setelah diberikan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) pada
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sebesar 3,80 point. Berdasarkan hasil
uji statistik independent sample t-Test didapatkan nilai p = 0,00. Nilai p <0,05
sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perubahan kepatuhan
antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan secara signifikan.
4.1.4 Analisis Multivariat Regresi linear berganda Kepatuhan

Tabel 4.4 Hasil analisis bivariat faktor risiko yang berhubungan dengan kepatuhan
Faktor risiko ρ*
Umur responden 0,666
Jenis kelamin 0,497
Pendidikan 0,027
Lama menderita DM 0,802
Intervensi Coaching Support 0,000
*p<0,25 Based on data primer 2015
Hasil analisis bivariat dari faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan menunjukkan bahwa terdapat dua variabel yang memiliki nilai p<0,25
yaitu pendidikan dan intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT).
Variabel tersebut akandipaparkan pada analisis regresi linear berganda untuk
variabel yang mempengaruhi kepatuhan, sehingga dapat dilanjutkan ke analisis
selanjutnya.
Tabel 4.5 Hasil analisis regresi linear intervensi Acceptance and Commitment
Therapy (ACT) terhadap kepatuhan
Faktor Risiko B Beta Sig
Constant 25,82 0,000
Intervensi coaching support 3,69 0,52 0,000
Pendidikan 0,79 0,25 0,021
*p<0,05Based on regresi linier
Tabel 4.5 menunjukkan nilai konstan untuk kepatuhan menunjukkan
terdapat perubahan kepatuhan tanpa ada kontribusi dari variabel lain adalah 25,82.
Hasil analisis regresi linear didapatkan intervensi Acceptance and Commitment
Therapy (ACT) merupakan faktor yang paling mempengaruhi peningkatan
kepatuhan. Persamaan regresi linear: Y= a+b1x1+b2x2:25,82 + 3,69(ACT) + 0,79
(Pendidikan), jika variabel (ACT) bernilai 0 maka kepatuhan sebesar 25,82. Setiap
penambahan 1 frekuensi intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
maka kepatuhan akan meningkat sebesar 3,69. Setiap penambahan 1 jenjang
pendidikan, maka kepatuhan akan meningkat sebesar 0,79.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Karakteristik Responden
Data karakteristik yang diperoleh dari responden pada kelompok kontrol
dan perlakuan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik umur, jenis
kelamin, pendidikan, dan lama menderita DM. Homogenitas dari karakteristik
responden antara kelompok kontrol dan perlakuan dapat disimpulkan dengan
akurat tanpa jenjang perbedaan yang bermakna.
Hasil pengukuran variabel karakteristik responden berdasarkan umur
terdapat pada rentang 56-65 tahun.Usia merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kepatuhan terkait dengan karakteristik penyakit DM. Secara fisik
pada usia lansia terjadi penurunan fungsi tubuh dan timbul permasalahan
degeneratif seperti menderita penyakit DM tipe 2. Orang yang berusia lanjut,
berkaitan dengan kepatuhan cenderung mengikuti anjuran petugas kesehatan,
lebih memiliki tanggung jawab, lebih tertib, dan lebih teliti dalam mengelola
penyakit DM tipe 2 yang diderita (Glauber et al, 2014).
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagian besar jenis
kelamin perempuan. Menurut penelitian Choudhryet al (2009), faktor risiko tidak
patuh berobat adalah dari jenis kelamin, perempuan kebanyakan lebih tidak patuh
dibandingkan laki-laki dalam mengontrol gula darah. Responden yang berjenis
kelamin perempuan cenderung untuk tidak patuh dalam mengikuti rejimen
pengobatan dikarenakan perempuan menganggap bahwa diet dan olah raga itu
tidak penting dalam mengontrol penyakit diabetes mellitus. Gaya hidup yang
serba instan, makan banyak dan kurang aktifitas fisik menjadi faktor rentannya
perempuan menderita diabetes mellitus (Korbel et al, 2007).
Karakteristik responden berdasarkan jenjang pendidikan terakhir sebagian
besar tamat SMA. Tingkat pendidikan formal merupakan landasan penderita
dalam berbuat sesuatu, membuat lebih mengerti dan memahami sesuatu, atau
menerima dan menolak sesuatu. Tingkat pendidikan formal juga memungkinkan
perbedaan pengetahuan dan pengambilan keputusan terkait kondisi kesehatannya.
Responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik memiliki peluang untuk
lebih patuh dibanding yang berpengetahuan kurang baik (Damayanti et al, 2011).
Penelitian Peters et al (2009) mengemukakan bahwa semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka dia akan cenderung berperilaku positif karena
pendidikan yang diperoleh dapat meletakkan dasar-dasar pengertian dalam diri
seseorang. Sementara itu Notoadmodjo (2012) mengemukakan bahwa
pengetahuan merupakan domain dari perilaku yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Begitu juga dengan pengetahuan yang dimiliki
oleh pasien DM tipe 2 mengenai manfaat terapi serta komplikasi yang mungkin
terjadi, sehingga diharapkan dapat membentuk perilaku yang positif salah satunya
berupa kepatuhan dalam melaksanakan empat pilar penatalaksanaan DM di
rumah.
Hasil pengukuran karakteristik responden berdasarkan lama menderita DM
sebagian besar ≥6 tahun.Menurut penelitian Shapiro (2008), menyatakan bahwa
semakin lama penderita mengalami penyakit DM tipe 2 maka semakin tinggi
angka kejadian ketidakpatuhan. Hal itu dikarenakan program pengobatan yang
kompleks dan rumit sehingga dibutuhkan perubahan gaya hidup pada penderita.
4.2.2 Pengaruh Acceptance and Commitment Therapy (ACT) terhadap
Peningkatan Kepatuhan Panatalaksanaan DM Tipe 2
Hasil pengukuran variabel kepatuhan pada penderita DM tipe 2 pada
kelompok perlakuan menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami
peningkatan kepatuhan setelah diberikan Acceptance and Commitment Therapy
(ACT). Hasil paired t-Test menunjukkan bahwa baik pada kelompok kontrol
maupun kelompok perlakuan sama-sama mengalami perubahan dengan nilai
p=0,00. Rata-rata mengalami peningkatan kepatuhan. Namun, pada kelompok
kontrol hanya terjadi peningkatan sebesar 5,58. Sementara, kelompok perlakuan
nilai t hitung lebih besar yaitu 13,33. Kelompok perlakuan mendapatkan
intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) selama 4 minggu yang
artinya ACT berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan penatalaksanaan DM
tipe 2.
Hasil analisa data dengan menggunakan independent sample t-Test
didapatkan nilai p=0,00. Nilai p<0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan perubahan kepatuhan penatalaksanaan DM tipe 2 antara kelompok
kontrol dengan kelompok perlakuan secara signifikan.
Responden sebelum diberikan ACT cenderung mengalami ketidakpatuhan.
Responden sebagian besar pada rentang usia 56-65 tahun. Menurut Glauber et al
(2014), orang yang berusia lanjut, berkaitan dengan kepatuhan cenderung
mengikuti anjuran petugas kesehatan, lebih memiliki tanggung jawab, lebih tertib,
dan lebih teliti dalam mengelola penyakit DM tipe 2 yang diderita. Namun,
terdapat faktor lain yang melatarbelakangi orang berusia lanjut tidak patuh dalam
mengelola penyakit DM yang dideritanya, diantaranya meliputi ketidakteraturan
kontrol dikarenakan penderita kadang lupa minum obat dan obat masih ada
sehingga waktu kontrol diundur oleh penderita. Alasan lain keterlambatan kontrol
dikarenakan tidak ada yang mengantar untuk periksa ke tempat pelayanan
kesehatan.
Peningkatan kepatuhan pada kelompok perlakuan banyak dialami
responden berjenis kelamin perempuan. Responden yang berjenis kelamin
perempuan cenderung untuk lebih patuh dalam mengikuti rejimen pengobatan
dikarenakan laki-laki melakukan aktivitas fisik di luar rumah lebih banyak
daripada perempuan sehingga mempunyai kecenderungan untuk tidak patuh dan
laki-laki juga mengkonsumsi lebih banyak kalori dengan komposisi diitnya tidak
tepat (Mohebi et al, 2013). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Espino et al (2011) yang mengemukakan bahwa laki-laki lebih bersifat aktif
dalam menjalankan berbagai aturan dibandingkan perempuan. Selain itu, laki-laki
biasanya mengkonsumsi segala sesuatu yang sudah disediakan keluarganya,
dimana keluarganya sudah menyiapkan diet yang sesuai untuknya.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kepatuhan banyak dialami oleh
responden yang mempunyai pendidikan sekolah menengah atas (SMA). Hal ini
sejalan dengan hasil penelitian Damayanti et al (2011) menyatakan responden
yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik memiliki peluang untuk lebih patuh
dibanding yang berpengetahuan kurang baik.
Faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan penatalaksanaan DM tipe 2
adalah lama menderita DM. Hasil penelitian didapatkan kepatuhan penderita DM
tipe 2 cenderung rendah pada responden dengan lama menderita DM ≥ 6 tahun.
Menurut penelitian Shapiro (2008), menyatakan bahwa semakin lama penderita
mengalami penyakit DM tipe 2 maka semakin tinggi angka kejadian
ketidakpatuhan. Hal itu dikarenakan program pengobatan yang kompleks dan
rumit sehingga dibutuhkan perubahan gaya hidup pada penderita.
Ketidakpatuhan yang dialami penderita DM tipe 2 dalam mengelola
penyakitnya dapat dicegah dengan pemberian edukasi terkait pilar
penatalaksanaan DM. Pilar penatalaksanaan DM meliputi perencanaan makan
atau pengelolaan diet, latihan jasmani, obat hiperglikemik dan pendidikan
kesehatan. Perencanaan makan atau pengelolaan diet merupakan hal yang paling
utama dalam penatalaksanaan DM. Pengelolaan diet yang baik harus memenuhi
3J yaitu jumlah, jenis, dan jadwal (Mansjoer, 2001).
Edukasi pasien merupakan salah satu pilar penting dalam pengelolaan DM
untuk mengoptimalkan terapi pengobatan. Jika edukasi dapat dijalankan secara
efektif dapat meningkatkan kepatuhan dan pengelolaan diri sendiri oleh pasien
terhadap penyakitnya (Cooper et al, 2009). Hasil dari edukasi tersebut dapat
meningkatkan pengetahuan dan merubah sikap namun tidak merubah persepsi
negatif tentang DM sehingga ketidakpatuhan dapat muncul sewaktu-waktu dan
dapat memperburuk kondisi penderita (Bagner et al, 2007).
Acceptance and Commitment Therapy (ACT) merupakan metode lanjutan
untuk membantu individu mengelola penyakit yang diderita terutama yang
bersifat kronis (Navicharern, 2012). Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
merupakan salah satu bentuk Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang cukup
efektif dalam meningkatkan aspek psikologis yang lebih fleksibel atau
kemampuan untuk menjalani perubahan yang dialami agar menjadi lebih baik
(Hayes, 2010). Perubahan yang terjadi secara kognitif yaitu positive thinking,
respon emosi yang stabil, pemecahan masalah yang positif, dukungan sosial yang
baik antar individu dalam kelompok, penerimaan yang baik dan komitmen dalam
menjalankan tugas dengan baik (Eilenberg et al, 2013). ACT merupakan salah
satu bentuk Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang cukup efektif dalam
meningkatkan aspek psikologis yang lebih fleksibel atau kemampuan untuk
menjalani perubahan yang dialami agar menjadi lebih baik (Hayes, 2010).
Perubahan yang terjadi secara kognitif yaitu positive thinking, respon emosi yang
stabil, pemecahan masalah yang positif, dukungan sosial yang baik antar individu
dalam kelompok, penerimaan yang baik dan komitmen dalam menjalankan tugas
dengan baik (Eilenberg et al, 2013).
Pemberian Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dapat
mempengaruhi perilaku penderita DM tipe 2 untuk melakukan pengelolaan
penyakit DM sesuai dengan hal-hal yang sudah disarankan oleh petugas kesehatan
(Browning et al, 2011). ACT merupakan salah satu bentuk Cognitive Behavior
Therapy (CBT) yang cukup efektif dalam meningkatkan aspek psikologis yang
lebih fleksibel atau kemampuan untuk menjalani perubahan yang dialami agar
menjadi lebih baik (Hayes, 2010). Tujuan dari ACT berfokus pada komitmen
dalam peningkatan kepatuhan penderita DM tipe 2 dengan melibatkan peran serta
keluarga.Pemberian ACT diawali dengan kontrak dengan keluarga untuk
menetapkan kesepakatan untuk berkomitmen mengubah sudut pandang yang
positif mengenai pengelolaan penyakit DM yang diderita melalui peningkatan
kepatuhan empat pilar penatalaksanaan DM (Vugt et al, 2013; Wolever et al,
2013).
Keberhasilan dari intervensi ACT tidak lepas dari peran aktif responden,
keluarga dan ketersediaan waktu.Peran peneliti sangat penting dalam
mengkoordinasi peserta dalam kelompok dan menjadi role model. Dukungan dan
motivasi tidak hanya dari diri namun dari lingkungan sekitar terutama dukungan
keluarga sangat membantu dalam proses peningkatan keluarga (Stacey et al,
2013).
4.2.3 Faktor yang paling Berpengaruh terhadap Peningkatan Kepatuhan
Penatalaksanaan DM Tipe 2
Penelitian ini akan menguraikan faktor yang lebih berpengaruh terhadap
peningkatan kepatuhan penatalaksanaan DM tipe 2. Berdasarkan hasil analisis
multivariat regresi linier menunjukkan intervensi dengan ACT merupakan salah
satu bentuk Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang cukup efektif dalam
meningkatkan aspek psikologis yang lebih fleksibel atau kemampuan untuk
menjalani perubahan yang dialami agar menjadi lebih baik (Hayes, 2010). ACT
merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan.
Ketidakpatuhan penderita DM tipe 2 dikarenakan ketidakteraturan kontrol,
penderita lupa minum obat dan obat masih ada sehingga waktu kontrol diundur
oleh penderita. Alasan lainketerlambatan kontrol dikarenakan tidak ada yang
mengantar untuk periksa ke tempat pelayanan kesehatan.
Keberhasilan penatalaksanaan DM tipe 2 perlu ditingkatkan dengan
melaksanakan perbaikan psikologis klien yang dapat memunculkan respon dan
koping adaptif klien dalam mengatasi perubahan kesehatan penderita DM tipe 2
dengan pendekatan Transition Theory Meleis (Tomey &Alligood, 2010).
Kesehatan yang optimal merupakan penunjang kehidupan penderita DM tipe 2
menjadi produktif.
Pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) guna
memfasilitasi pencapaian tujuan kesehatan. Pendekatan konseling kesehatan
dilakukan secara kontinu sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh penderita
sehingga penderita DM menjadi mandiri. Keuntungan metode ini adalah penderita
DM tipe 2 dapat lebih berpartisipasi aktif terhadap apa yang telah dibuat dalam
melakukan aturan-aturan pengobatan yang dianjurkan dengan atau tanpa bantuan
praktisi kesehatan (Cooperet al, 2009).
Pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) lebih
menekankan pada panduan penderita DM tipe 2 untuk berbicara tentang apa yang
paling mengganggu tentang kondisi yang mereka alami, apa yang paling ingin
mereka ubah, dukungan yang mereka dapat untuk terjadi perubahan, hambatan
atau kesulitan yang harus diminimalkan untuk memajukan perilaku sehat (Liddy
et al, 2014). Peran utama dari pelatih kesehatanbukan untuk mengajar, memberi
saran atau nasihat penderita tetapi pembinaan kesehatan berfokus pada isu-isu
khusus dan masalah yang unik untuk setiap penderita DM tipe 2 sesuai dengan
konteks kehidupan penderita (Vugt et al, 2013).
Faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan penderita DM dalam mengelola
penyakit DM tipe 2 yang diderita adalah tingkat pendidikan. Sebagian besar
penderita memiliki latar belakang pendidikan menengah atas (SMA). Tingkat
pendidikan formal merupakan landasan penderita dalam berbuat sesuatu,
membuat lebihmengerti dan memahami sesuatu, atau menerima dan menolak
sesuatu (Notoadmojo, 2012). Tingkat pendidikan formal juga memungkinkan
perbedaan pengetahuan dan pengambilan keputusan. Seseorang dengan
pendidikan baik, lebih matang terhadap proses perubahan pada dirinya, sehingga
lebih mudah menerima pengaruh luar yang positif, obyektif, dan terbuka terhadap
berbagai informasi termasuk informasi kesehatan (Damayanti et al, 2011).
Hal ini dapat diasumsikan bahwa pendidikan merupakan faktor penting
dalam memahami penyakit, dan pengelolaan penyakit DM. Penderita DM tipe 2
dengan pendidikan tinggi akan dapat mengembangkan mekanisme koping yang
konstruktif dalam menghadapi stresor karena pemahaman yang baik terhadap
suatu informasi (Peters et al, 2009). Penderita DM tipe 2 yang telah mendapatkan
intervensi ACTmembuat individu bersikap positif serta akan mengambil tindakan
yang tepat dan bermanfaat bagi dirinya sehingga kepatuhan meningkat (Liddy et
al, 2014).
Intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dapat mengubah
sudut pandang yang positif mengenai pengelolaan penyakit DM yang diderita
melalui peningkatan kepatuhan empat pilar penatalaksanaan DM (Thomet al,
2013). Intervensi ACT diawali dengan tahap pengkajian terhadap permasalahan
yang dialami penderita, dilanjutkan mendefinisikan tujuan yang berfokus pada
permasalahan perubahan fisik berupa ketidakstabilan kadar gula dalam
darah.Perubahan psikologis yang dialami penderita DM tipe 2 berupa
ketidakpatuhan dalam penatalaksanaan DM. Tahap berikutnya analisa situasi yang
terjadi, dan menetapkan berbagai pilihan, serta mencapai perubahan dengan
mengidentifikasi dan menentukan komitmen dalam melaksanakan tindakan.
Tahapan ini tercapai saat penderita DM tipe 2 memahami manfaat dari kepatuhan
pengelolaan penyakit DM tipe 2 (Stacey et al, 2013).
Pelaksanaan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) Menurut Hayes
et al (2010) terapi ACT adalah suatu terapi yang bertujuanuntuk meningkatkan
aspek psikologi yang lebih fleksibel atau kemampuan untuk menjalani perubahan
yang terjadi saat ini dengan lebih baik. Hal ini dapat diperoleh setelah seseorang
melaksanakan sesi pertama sampai sesi ketiga dalam ACT. Sesi pertama,
yaituidentifikasi kejadian, pikiran, dan perasaan yang muncul dan menghilangkan
pikiran negatif (acceptance & cognitive defusion). Penerimaan (acceptance)
bermakna menerima, sehingga penekanannya adalah bahwa seseorang harus
terlebih dulu mengerti mengenai keadaannya, setelah itu barulah ia mampu
menerima kondisinya dengan menghilangkan pikiran negatif (cognitive defusion).
Kepatuhan penderita DM untuk mengikuti aturan kesehatan tergantung pada
proses komunikasi antar penderita dengan petugas kesehatan. Pemberian
informasi kurang jelas disertai ketidakpuasan penderita terhadap pengobatan dari
praktisi akan mempengaruhi tingkat kepatuhan penderita DM (Bagner et al,
2007).Keuntungan intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) adalah
penderita DM tipe 2 dapat lebih berpartisipasi aktif terhadap apa yang telah dibuat
dalam melakukan aturan-aturan pengobatan yang dianjurkan dengan atau tanpa
bantuan praktisi kesehatan (Cooperet al, 2009).

4.3 Kekuatan dan Kelemahan Penelitian


4.3.1 Kekuatan Penelitian
Peneliti telah mengontrol variabel lain yaitu usia, jenis kelamin,
pendidikan, dan lama menderita DM yang berpengaruh terhadap peningkatan
kepatuhan.
4.3.2 Kelemahan Penelitian
1. Sampel dalam penelitian ini sedikit sehingga kemungkinan bias dapat terjadi
pada penelitian
2. Durasi penelitian ini juga pendek, hanya 4 minggu sehingga tingkat
kepatuhan responden dalam penelitian ini masih cenderung tinggi.
3. Penilaian kepatuhan penatalaksanaan DM tipe 2 dilakukan tidak melalui
observasi langsung perilaku responden, tetapi hanya menggunakan
kuesioner yang diisi oleh responden.
4. Keterbatasan pemahaman responden mempengaruhi hasil penelitian.
Perbedaan jenjang pendidikan mengakibatkan pemahaman tentang
informasi berbeda.
BAB V
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

5.1 Hasil
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti didapatkan
beberapa hasil diantaranya:
5.1.1 Hasil penelitian Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
mempengaruhi peningkatan kepatuhan penderita DM tipe 2 dalam
melakukan pengelolaan penyakit DM yang diderita. Hal ini ditunjukkan
dengan peningkatan skor kepatuhan pada kuesioner kepatuhan penderita
DM. Intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) mengubah
sudut pandang yang positif mengenai pengelolaan penyakit DM yang
diderita melalui peningkatan kepatuhan empat pilar penatalaksanaan DM
5.1.2 Responden secara suka rela mengikuti penelitian ini. Hal tersebut dapat
mendukung karena adanya rasa suka rela mengindikasi adanya motivasi
dari dalam individu sendiri untuk memperbaiki diri dalam mencapai tujuan
hidupnya agar lebih baik.
5.1.3 Model terapi kelompok dapat meningkatkan keberhasilan, karena dalam
dinamika kelompok seseorang akan bersikap lebih aktif, mudah untuk
sharing perasaan yang dialami, dan mudahnya mendapat dukungan sosial
maupun spiritual antar individu. Terapis juga mendapatkan pengalaman
baru saat dilakukan sharing dengan responden.

5.2 Luaran Yang Dicapai


Luaran yang dicapai oleh peneliti dari penelitian ini adalah publikasi di
Prosiding Internasional.
BAB VI
RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

Peneliti merencanakan untuk perencanaan penelitian tahun berikutnya


yaitu tentang: Penelitian mengenai Efektifitas Acceptance and Commitment
Therapy Terhadap Penurunan Stress pada Pasien Hemodialisa dengan desain
kualitatif. Hasil penelitian tersebut diharapkan bisa memberikan masukan kepada
tenaga kesehatan atau perawat untuk melakukan penatalaksanaan Pasien
Hemodialisa secara mendalam kepada pasien maupun keluarga pasien sehingga
pasien tidak mengalami stress menjalani hemodialisa.
Peneliti juga menginginkan adanya kerjasama dengan Penanggung Jawab
RS tentang penatalaksanaan DM, sehingga dapat menjadi salah satu tindakan yang
dilakukan oleh RS untuk menurunkan stress pasien hemodialisa.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
7.1.1 Acceptance and Commitment Therapy (ACT) mempengaruhi peningkatan
kepatuhan penderita DM tipe 2 dalam melakukan pengelolaan penyakit DM
yang diderita. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan skor kepatuhan pada
kuesioner kepatuhan penderita DM. Intervensi Acceptance and Commitment
Therapy (ACT) mengubah sudut pandang yang positif mengenai
pengelolaan penyakit DM yang diderita melalui peningkatan kepatuhan
empat pilar penatalaksanaan DM.
7.1.2 Intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) merupakan variabel
yang paling berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan setelah
dibandingkan dengan variabel usia, jenis kelamin, pendidikan, dan lama
menderita DM.
7.1.3 Pendidikan menjadi faktor kedua yang berpengaruh terhadap peningkatan
kepatuhan penatalaksanaan DM tipe 2
7.1.4 Keberhasilan dari intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
tidak lepas dari peran aktif responden, keluarga dan ketersediaan waktu.

7.2 Saran
7.2.1 Bagi Institusi
Perawat RSI A.Yani Surabaya dapat melaksanakan Acceptance and
Commitment Therapy (ACT) bagi penderita DM tipe 2 dalam rangka
mendukung program kesehatan masyarakat supaya penderita DM tipe 2
lebih berpartisipasi aktif terhadap apa yang telah dibuat dalam melakukan
aturan-aturan pengobatan yang dianjurkan dengan atau tanpa bantuan
praktisi kesehatan. Program Acceptance and Commitment Therapy (ACT)
lebih teratur dilaksanakan, sehingga dapat menyelesaikan masalah pasien
lebih singkat dan bisa dilakukan secara berkelanjutan.
7.2.2 Bagi Responden
Dapat menilai kemampuan diri sendiri untuk melaksanakan perilaku
promosi kesehatan yaitu berupa kepatuhan dalam pengelolaan penyakit DM
tipe 2 yang dideritanya
7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian selanjutnya perlu dikembangkan lagi alat ukur kepatuhan khusus
bagi penderita DM tipe 2 di Indonesia, dan perlu dikembangkan penelitian
mengenai efektifitas Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dengan
jumlah sampel yang lebih besar dan dalam jangka waktu evaluasi yang lebih
lama atau dilakukan evaluasi berkelanjutan setelah pemberian intervensi 2
minggu, serta dapat melakukan observasi langsung perilaku penderita.
Penelitian selanjutnya perlu melihat berbagai aspek yang belum dikaji
seperti variabel sosial ekonomi dan faktor psikologis penderita DM tipe 2.
DAFTAR PUSTAKA

ADA. (2014). Standards od Medical Care in Diabetes-2014. Journal of Diabetes


Care, Vol.35.http://professional.diabetes. org/admn/UserFiles/0%20-
%20Sea/Documents/January%20Supplement%20Combined Final.pdf

Bagner, D.M., & Williams, L.B. (2007).Type 1 Diabetes in Youth:The


Relationship Between Adherenceand Executive Functioning. Children’s
Healthcare, 36(2), 169–179. www.tandfonline.com

Browning, C., Chapman, A., Cowlishaw, S., Li, Z., Thomas, S.A., Yang, H., and
Zhang, T. (2011). The Happy Life Club™ study protocol: A cluster
randomised controlled trial of a type 2 diabetes health coach intervention.
BMC Public Health, 11:90. http://www.biomedcentral.com/1471-
2458/11/90

Choudhry, N.K., Shrank, W.H., Levin, R.L., Lee, J.L., Jan, S.A., Brookhart,
M.A., Solomon, D.H. (2009). Measuring Concurrent Adherence to
Multiple Related Medications.The American Journal of Managed Care;
15:7.www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19589013

Cooper, S., Hall, L., Penland, A., Krueger, A., May, J. (2009). Measuring
Medication Adherence.Population Health Management;
12:1.www.medscape.com/viewarticle/735837

Damayanti, S., Sitorus, R., Sabri, L. (2011).Hubungan Antara Spiritualitas dan


Efikasi Diri dengan Kepatuhan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di RS
Jogja.Tesis: Universitas Indonesia.

Dinas Kesehatan Sleman. (2015). Pola Penyakit Rawat Jalan Puskesmas. Daerah
Istimewa Yogyakarta

Eilenberg, T., Kronstrand, L., Fink, P., Frostholm. (2013). Acceptane and
Commitment Group Therapy for Health Anxiety-Result from Pilot Study.
Jou of Anxiety Disorders. 27: 461-468.www.researchgate.net

Espino, J.D., Cosiales, P.B., Martinez, M.S., Toledo, E., Salvado, J.S., Gonzalez,
M.A.M. (2011). Adherence to the Mediterranean Diet in Patient with Type
2 Diabetes Mellitus and HbA1c Level.Ann Nutr Metab; 58:74-78

Glauber, H.S., Rishe, N., and Karnieli, E. (2014).Introduction to Personalized


Medicine in Diabetes Mellitus.Rambam Maimonides Med J; Volume 5,
Issue 1, e0002. www.rmmj.org.il

Hayes, S.(2010). Acceptance and Commitment Therapy: In Cognitive Behavioral


Therapy in Clinical Practice. New York: The Guilford Press
International Diabetes Federation.(2010). Diabetes Atlas, Fifth
Edition.http://www.idf.org/diabetesatlas/5e/the-global-burden

Kim, M.Y., Suh, Sunghwang, Jin Sang Man, Kim S.W., Bae, Ji Cheol, Hur Kyu
Yeon, Kim, S.H., Rha, M.Y., Cho, Y.Y., Lee, M.S., Kim, K.W., Kim, J.H.
(2012). Education as Prescription for Patients with Type 2 Diabetes
Mellitus: Compliance and Efficacy in Clinical Practice.Diabetes Metab J
2012; 36: 452-459. http://www.ncbi.nlm.nih.

Korbel, C.D., Wiebe, D.J., Berg, C.A. (2007). Gender Differences in Adherence
toType 1 Diabetes Management AcrossAdolescence: The Mediating
Roleof Depression. Children’s Healthcare, 36(1), 83–98

Liddy Clare, Jhonston Sharon, Nash Kate, Ward Natalie, Irving Hannah. (2014).
Health Coaching in Primary Care: a Feasibility Model for Diabetes Care.
BMC Family Practice 2014, 15:60. http://www.biomedcentral.com/

Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran, Ed 3. Media Aesculapius,


Jakarta.

Mohebi, S., Sharifirad, G., Feizi, A., Botlani, S., Hozori, M., and Azadbakht, L.
(2013). Can health promotion model constructs predict nutritional
behavior among diabetic patients?.J Res Med Sci; 18(4): 346–359.

Navicharern, R. (2012). Diabetes Self-Management, Fasting Blood Sugar And


Quality Of Life Among Type 2 Diabetic Patients With Foot Ulcers. J Med
Assoc Thai; 95(5):746. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22435243

Notoadmojo, S. (2012).Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT.


Rineka Cipta

Peters, L.W.H., Kok, G., Dam, G.T.M.T., Buijs, G.J., and


Paulussen, T.G.W.M. (2009). Effective elements of school health
promotion across behavioral domains: a systematic review of reviews.
BMC Public Health, 9:182. http://www.biomedcentral.com/

Purba, C.I.(2008) Pengalaman Ketidakpatuhan Pasien Terhadap Penatalaksanaan


Diabetes Millitus (Studi Fenomenologidalam konteks asuhan keperawatan
di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta). Depok : Thesis

Shapiro, L. (2008). Adherence to treatment in diabetes: A journey towards health


promoting behavior. Journal of Diabetes Nursing Vol 12 No 7.
http://www.thejournalofdiabetesnursing.co.uk/

Stacey Dawn, Krywhorucko J., Belkora J., Davison B.J., Durand M.A., Eden K.,
Hoffman A.S., Koerner M., Legare F., Loiselle M.C., Ricard. (2013).
Coaching and Guidance with Patient Decision Aids: A Review of
Theoretical and Empirical Evidence. BMC Medical Informatics and
Decision Making 2013, 13(Suppl 2):S11. http://www.biomedcentral.com/

Thom, D.H., Ghorob, A., Hessler, D., Vore, D.D., Chen, E., Bodenheimer, T.A.
(2013). Impact of Peer Health Coaching on Glycemic Control in Low-
Income Patients WithDiabetes: A Randomized Controlled Trial. Ann Fam
Med;11:137-144.www.annfammed.org

Tomey, M., & Alligood.(2010). Nursing Theoriest and Their Work. 6th Ed. St
Louis: Mosby Elsevier, Inc

Vugt M.V., De Wit M., Hendriks S.H., Roelosfen Y., Bilo H.J., Snoek F.J.
(2013). Web-based Self Management with and without Coaching for Type
2 Diabetes Patients in Primary Care: Design of a Randomized Controlled
Trial. BMC Endocrine Disorders 2013, 13:53.
http://www.biomedcentral.com/

Wolever, R.Q., Simmons, L.A., Sforzo, G.A., Dill Diana. Kaye, Miranda,
Bechard, E.M., Southard, Elaine., Kennedy, Mary, Volsoo Justine. (2013).
A Systematic Review of the Literature on Health and Wellness Coaching:
Defining a Key Behavioral Intervention in Healthcare. Global Adv Health
Med.2013;2(4)38-57.
Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian
Lampiran 2. Surat Tugas
Lampiran 3. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 4. Lembar Penjelasan Penelitian
LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN

Judul Penelitian:
Pengaruh Acceptance and Commitment Therapy (ACT) terhadap Peningkatan
Kepatuhan Penatalaksanaan DM di RSI Surabaya A. Yani.
Peneliti:
Nama : Difran Nobel Bistara, S.Kep., Ns., M.Kep
NIDN : 0730108902
Alamat : Jl.Smea No.57 Wonokromo Surabaya
No. Tlp : 085658855776
adalah Dosen di Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Keperawatan dan
Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Saudara dimohon untuk
menjadi responden dalam penelitian ini. Partisipasi Saudara adalah sukarela, tanpa
ada paksaan. Saudara berhak untuk berpartisipasi atau mengajukan keberatan atas
penelitian ini kapanpun tanpa konsekuensi dan dampak negatif dan berhak untuk
dapat mengundurkan diri.
Sebelum saudara memutuskan berpartisipasi, saya akan menjelaskan
beberapa hal sebagai berikut :
1. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ACT terhadap
Peningkatan Kepatuhan Penatalaksanaan DM.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam Peningkatan
Kepatuhan Penatalaksanaan DM.
3. Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 60 responden dengan
pembagian 30 responden pada kelompok perlakuan dan 30 responden pada
kelompok kontrol. Penentuan responden harus memenuhi kriteria inklusi
yaitu Penderita DM tipe 2 dengan kadar gula darah acak >144 mg/dl atau
kadar gula darah puasa >126 mg/dl, tekanan darah sistole (120-139 mmHg)
dan tekanan darah diastole (80-89 mmHg), penderita DM tipe 2 yang berusia
46-75 tahun, dan bisa membaca dan menulis, dan juga kriteria eksklusi yaitu
penderita yang tidak bersedia menjadi responden, penderita DM tipe 2 dengan
komplikasi seperti hipertensi, gagal jantung, dan gagal ginjal.
4. Jika Saudara bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, maka peneliti akan
menyebarkan kuesioner sebagai data sebelum dilakukan intervensi.
Kemudian intervensi dilaksanakan selama empat sesi dalam empat minggu.
Minggu pertama ACT sesi 1 akan diberikan selama 1x45 menit, dan ACT sesi
2 diberikan selama 1x45 menit dihari yang berbeda, Minggu kedua ACT sesi
3 akan diberikan selama 1x45 menit dan ACT sesi 4 yang akan diberikan
selama 1x45 menit dihari yang berbeda. Tiap akhir tahap ACT, maka Saudara
dimohon untuk mengisi lembar kuisioner yang telah disediakan oleh peneliti,
sebagai data setelah intervensi.
5. Penelitian ini tidak memberikan reward dalam bentuk uang, tetapi
memberikan reward dalam bentuk cinderamata.
6. Identitas saudara akan peneliti rahasiakan kepada siapapun. Apabila saudara
tidak nyaman dalam penelitian ini, saudara dapat mengundurkan diri dari
penelitian ini.
7. Penelitian ini tidak menimbulkan komplikasi karena peneliti tidak melakukan
tindakan invasive. Apabila responden mengalami keluhan setelah diberikan
tindakan ACT maka peneliti akan merujuk pada pengobatan medis di rumah
sakit dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung oleh peneliti.
8. Segala pertanyaan dan klarifikasi terkait penelitian dapat melalui kontak
peneliti Difran Nobel Bistara (085658855776) email nobel@unusa.ac.id /
kontak KEPK (085607110598) email kepk@unusa.ac.id. Demikian atas
perhatian dan kesediaannya, saya sampaikan terimakasih.
9. Untuk itu saya mohon partisipasi saudara untuk mengisi kuisioner yang telah
saya persiapkan dengan sejujur-jujurnya.
10. Jika saudara sudah memahami dan bersedia ikut berpartisipasi dalam
penelitian ini, silakan saudara menandatangani lembar persetujuan menjadi
responden yang telah dilampirkan.
Untuk itu kami mohon partisipasi saudara untuk menjadi responden. Kami
akan menjamin kerahasiaan identitas saudara. Bila saudara berkenan menjadi
responden, silahkan menandatangani pada lembar yang telah disediakan.
Partisipasi saudara sangat kami harapkan dan kami ucapkan terimakasih.
Surabaya, 2019
Peneliti

(Difran Nobel Bistara, S.Kep., Ns., M.Kep)


Lampiran 5. Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini


Nama : ..............
Alamat : ..............
No Telepon / HP : ..............

Menyatakan bersedia ikut berpartisipasi dalam penelitian setelah mendapat


penjelasan dan mengetahui manfaat dari penelitian yang akan dilakukan oleh
Difran Nobel Bistara, Dosen Prodi D3 Keperawatan Fakultas Keperawatan dan
Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya yang berjudul: “Efektifitas
Acceptance And Commitment Therapy terhadap Peningkatan Kepatuhan
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2.”

Demikian pernyataan ini saya buat secara sadar, suka rela, dan tanpa paksaan dari
siapapun.

Surabaya, 2019
Peneliti Yang menyatakan

(Difran Nobel Bistara) ( )


Lampiran 6. Kuesioner Penelitian

KUESIONER PENELITIAN

Judul : Acceptance and Commitment Therapy terhadap peningkatan


Kepatuhan Penatalaksanaan DM Tipe 2
Peneliti : Difran Nobel Bistara
Tanggal :
Kode Responden :

Data Demografi
Berikan tanda (√) pada kotak yang sesuai pilihan anda.
1. Usia
46-55 tahun 56-65 tahun 66-75 tahun

2. Jenis kelamin
Laki-laki Perempuan

3. Pendidikan terakhir
Tidak SD SMP SMA
Sekolah

DI-III/S1/S2

4. Lama menderita DM tipe 2

< 6 Tahun ≥ 6 Tahun


Kuesioner Kepatuhan Penatalaksanaan DM Tipe 2

Petunjuk:

1. Daftar pernyataan di bawah ini adalah perilaku atau tindakan yang anda
lakukan dalam melakukan pengelolaan penyakit DM
2. Berikan tanda (√) pada kolom jawaban yang sesuai
3. Silahkan dibaca masing-masing pernyataan dengan cermat kemudian pilih
jawaban yang ada pada alternatif jawaban sebagai berikut:
a. Tidak Pernah
b. Kadang-kadang
c. Sering
d. Selalu
4. Biarkan kolom skor tetap kosong
No. Pernyataan Alternatif Jawaban Skor
Tidak Kadang- Sering Selalu
pernah kadang
1. Saya membatasi makanan
manis dalam 1 bulan terakhir
ini.
2. Saya mengikuti aturan makan
sesuai saran ahli gizi atau
dokter.
3. Saya menjaga berat badan
dalam rentang yang
disarankan
dokter/perawat/ahli gizi.
4. Saya melakukan olah raga
sesering mungkin seperti yang
disarankan oleh
dokter/perawat.
5. Saya hanya berolahraga atau
beraktivitas sesuai saran dari
dokter/perawat.
6. Lama waktu berolahraga saya
sesuai yang disarankan oleh
dokter/perawat.
7. Setiap hari saya minum obat
diabetes atau menyuntikkan
insulin dengan dosis tepat
sesuai resep dokter.
8. Saya meminum obat diabetes
atau menyuntik insulin sesuai
waktu yang ditentukan oleh
dokter/perawat
9 Saya menyesuaikan dosis
obat diabetes atau insulin,
hanya jika dokter menyuruh
saya.
10 Saya melakukan kontrol
secara teratur sesuai dengan
instruksi petugas kesehatan
11 Saya tetap kontrol meskipun
tidak merasakan keluhan
sakit
12 Saya memeriksa kaki sendiri
setiap hari
Sumber: The Diabetes Activities Questionnaire (TDAQ), Damayanti (2011)
Lampiran 7. Anggaran Biaya Penelitian
1. Anggaran Biaya Penelitian
Rincian anggaran biaya untuk pelaksanaan kegiatan penelitian adalah sebagai
berikut :
No Jenis Pengeluaran Satuan Jumlah Total Biaya (Rp)

1 Honorarium Ketua Peneliti 500.000 1 orang 500.000


2 Honorarium Anggota Peneliti 500.000 2 orang 1.000.000
3 Pengolah Data 100.000 1 orang 100.000
4 Penganalisis Data 100.000 1 orang 100.000
5 Bahan ATK 50.000 2 rim 100.000
6 Cetak Proposal 20.000 3 paket 60.000
7 Penjilidan Proposal 20.000 3 paket 60.000
8 Cetak Laporan 40.000 3 paket 120.000
9 Penjilidan Laporan 20.000 3 paket 60.000
10 Alat Gluko Cek 500.000 2 buah 1.000.000
11 Strip Gluko cek 100.000 5 buah 500.000
12 Lancet 25.000 2 buah 50.000
13 Alkohol swab 25.000 2 buah 50.000
14 Transportasi 100.000 3 orang 300.000
15 Konsumsi 20.000 50 box 1.000.000
TOTAL 5.000.000
Lampiran 8. Jadwal Kegiatan Penelitian
1. Jadwal Kegiatan Penelitian
Bulan Ke
No Jenis Kegiatan
1 2 3 4 5 6
1 Penyusunan proposal
2 Mengurus perijinan penelitian
3 Pengumpulan data
4 Tabulasi dan analisis data
5 Penyusunan laporan penelitian
6 Publikasi jurnal ilmiah