Anda di halaman 1dari 13

Psikologi Konseling

Tentang
Barriers To Actualizing Relationship
(Hambatan-Hambatan dalam Mewujudkan Hubungan)

Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Prayitno, MSc.Ed
Dr.Yeni Karneli, M.Pd., Kons

Kelompok 1:
Desep Pria Pandri 1915006
Desry Syahputra 19151044

PROGRAM PASCASARJANA BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
1440 H/ 2019 M
BAB II PEMBAHASAN
Barriers To Actualizing Relationship
(Hambatan-Hambatan dalam Mewujudkan Hubungan)

A. Transference (Pemindahan)
1. Konsep Dasar
Istilah transference berasal dari Sigmund Freud. Transference adalah pelimpahan
perasaan-perasaan dan harapan-harapan tertentu dari klien terhadap konselor.
Transference menurut Winkel & Sri Hastuti (2004) adalah pelimpahan perasaan-
perasaan dan harapan-harapan tertentu dari klien terhadap konselor. Secara umum
istilah ini mengacu kepada perasaan apapun yang dinyatakan atau dirasakan klien
(cinta, benci, marah, ketergantungan) terhadap konselor, baik berupa reaksi rasional
terhadap kepribadian konselor ataupun proyeksi terhadap tingkah laku awal dan sikap-
sikap konselor selanjutnya. Istilah ini mengacu pada perasaan yang diungkapkan oleh
klien terhadap konselor, apakah reaksi rasional terhadap kepribadian terapis atau
proyeksi sikap dan stereotip sebelumnya.
2. Penyebab Terjadinya Transference
Penyebab terjadinya transference adalah konselor mampu memahami klien lebih
dari klien memahami diri mereka sendiri dan dikarenakan konselor mampu bersifat
ramah dan secara emosional bersifat hangat.
a. Rogers (1951) menyatakan bahwa perasaan-perasaan yang dipindahkan berkembang
apabila klien merasa bahwa konselor memahaminya lebih baik dari pada mereka
memahami diri mereka sendiri.
b. Karena konselor biasanya bersifat ramah dan secara emosional bersifat hangat.
3. Jenis Transference
a. Transference Positif (proyeksi perasaan bersifat kasih sayang, cinta,
ketergantungan)
b. Transference Negatif (proyeksi rasa permusuhan dan penyerangan)
4. Sumber Perpindahan Perasaan
a. Perpindahan perasaan berasal dari pengalaman-pengalaman masa lalu klien yang
mengalami kegagalan dalam perkembangan yang diistilahkan Gestalt dengan situasi
yang tak terselesaikan. Klien datang dengan membawa berbagai alat manipulasi
lingkungan, tetapi cenderung kurang memiliki dukungan dari diri sendiri, yang
merupakan suatu kualitas penting untuk bertahan.
b. Klien merasa takut akan penolakan dan ketidakpercayaan, hal ini merupakan bentuk
perlawanan. Sehingga ia memanipulasi konselornya dengan memakai topeng seolah-
olah dia adalah orang yang baik.
5. Transferensi Sebagai "Kekurangan" Tampilan Gestalt
Sebagian besar dari kita pernah mengalami pengalaman kontak pertama yang
dialami secara nyata dan bermakna. Namun, di lain waktu, ada sedikit, jika ada,
hubungan berarti dengan yang lain. Freud percaya bahwa dalam kontak yang
berkepanjangan, seperti hubungan terapeutik ada banyak respons emosional yang
dirasakan klien dalam hubungan dengan orang lain, seperti orang tua.
Refleksi tentang transferensi membuat percaya bahwa hubungan tersebut tidak
dapat dicatat hanya dari riwayat hubungan klien. Misalnya, kita tidak bisa melihat
permusuhan yang pernah dilakukan terhadap orangtua sebagai pertanggungjawaban
permusuhan di sini dan saat ini. Jadi, bukan seperti apa klien itu, tapi kliennya tidak
terlibat. Perls dalam istilah gestalt, menyebut "situasi thec yang belum selesai" (1973).
Permusuhan seseorang dapat dilihat sebagai manipulasi situasi sekarang sehingga
terhindar dari kontak. Dengan kata lain, ini adalah fantasi klien terhadap dukungan
yang diharapkan, fantasi yang berasal dari kekurangannya, dan bukan apa yang telah
terlupakan, yang merupakan inti dari transferensi. Dengan demikian, latar belakang
keberadaan tentang bagaimana mereka menjadi seperti apa adanya.
Kesadaran, kontak, dan present adalah kata kunci untuk menggambarkan "berada
di dalam keadaan sekarang". "Jadi, transferensi dapat belajar mengubah kekurangan ini
melalui kesadaran dan hidup secara otentik di masa kini. Bugental (1965) menegaskan
gagasan bahwa keaslian adalah kualitas utama. Menjadi tugas konselor untuk
membantu klien menyadari bahwa hambatan mereka untuk berubah adalah pertahanan
mereka untuk menjadi orang asli.
6. Implikasi dalam Konseling dan Psikoterapi
Karena konselor sangat bergantung pada hubungan saling percaya dan
penerimaan untuk sukses, transferensi yang kuat terutama tipe negatif atau bermusuhan,
cenderung mengganggu keefektifan konseling. Psikoterapis di sisi lain, tidak selalu
memandang transferensi sebagai gangguan namun justru menggunakan perasaan tipe
transferensi untuk membantu klien mengenali apa yang mereka coba lakukan dengan
hubungan dengan terapis - misalnya, bagaimana mereka mencoba memanipulasi terapis.
Permintaan klien membantu terapis untuk memahami jenis orang yang ingin atau
diinginkan klien. Oleh karena itu, hubungan transferensi memberikan petunjuk berharga
untuk interpretasi selanjutnya kepada klien mengenai bagaimana mekanisme hubungan
interpersonalnya berfungsi.
7. Fungsi Pemeriksaan, Pengobatan dan Pemindahan Perasaan
bagi Konselor
a. Transference membantu membangun hubungan dengan memberi kesempatan
kepada klien untuk mengekspresikan perasaan yang menyimpang.
b. Untuk mempromosikan atau meningkatkan rasa percaya diri klien.
c. Membuat klien menjadi sadar tentang pentingnya dan asal dari perasaan ini pada
kehidupan mereka di masa sekarang melalui interpretasi mengenai perasaan tersebut.
Secara umum ada beberapa saran dalam menggunakan transference perasaan,
antara lain:
a. Teknik pokok yang digunakan adalah penerimaan sederhana.
b. Konselor dapat memberikan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan dengan
memandang bentuk-bentuk kegelisahan yang dimanipulasi oleh klien.
c. Perasaan transference seperti yang terungkap dalam pernyataan klien dapat
direfleksikan.
d. Konselor dapat menafsirkan perasaan-perasaan transference secara langsung.
e. Menurut May, konselor harus memfokuskan pada perasaan-perasaan yang sedang
terjadi pada klien saat ini, dari pada memfokuskan pada kenapa perasaan-perasaan
itu terjadi.
f. Pada umumnya perhatian yang tertuju pada transference menyebabkan klien beraksi
dengan pola “penolakan”.
g. Metode umum mengenai transference adalah dengan memandang sebagai suatu
bentuk proyeksi.
h. Menafsirkan perasaan-perasaan transference sebagai ungkapan dari adanya
defisiensi.
i. Mengarahkan klien.
8. Tipe-tipe Transference Perasaan
a. Otoritas perasaan yang ambivalen, perasaan-perasaan campur aduk antara
ketergantungan atau menolak terhadap konselor.
b. Jenis perasaan transferensi yang melibatkan ketergantungan.
c. Sikap transferensi umum ketiga adalah kasih sayang.
9. Permasalahan-permasalahan Transference dalam Kelompok
Masalah transferensi diperparah dalam terapi kelompok. Setiap anggota
kelompok menganggap konselor salah karena distorsi transferensi seputar isu-isu seperti
ketergantungan dan otonomi.
Menurut Yalom (1975) ada dua pendekatan utama untuk resolusi transferensi
dalam terapi kelompok, validasi konsensual dan transparansi terapis. Konselor,
misalnya, dapat mendorong anggota kelompok untuk memvalidasi kesan konselornya
dengan anggota kelompok lainnya.
Teknik kedua adalah mengakui kesalahan secara terbuka. Konselor berbagi
perasaan dan mengakui atau membantah motif atau perasaan yang dikaitkan dengannya.
Konselor bisa mengatakan, saya pikir Anda menyentuh tempat di mana saya tidak
sepenuhnya membebaskan diri saya. Mungkin Anda bisa membantu saya melihat apa
yang salah di sini. Contoh lain mungkin, di sini kita semua mencoba menghadapi
kenyataan .... Saya adalah salah satu dari Anda dalam pencarian yang sama. Konselor
mungkin juga memberi tahu anggota kelompok saat komentar mereka sesuai dengan
pengalaman internal mereka. Contohnya adalah saya belum pernah mendengar Anda
menantang saya seperti itu sebelumnya. Ini menakutkan, tapi juga sangat menyegarkan.
Jadi pemimpin kelompok perlu model transparansi diri mereka sendiri, namun
mengatasi perasaan transferensi kelompok secara langsung.
10. Kesimpulan dari Transferensi
Pada bagian ini, transferences digambarkan sebagai bagian proses konseling yang
tidak biasa dimana klien memproyeksikan diri kepada konselor mengenai sikap dan
perasaan yang tidak terselesaikan dari hubungan sebelumnya. Intensitas transferensi
melihat fungsi dari tipe klien yang terlibat, penetapan, lama konseling, tingkat
keterlibatan emosional, kepribadian konselor dan teknik konselor. Meskipun ungkapan
dan kerja melalui perasaan transferensi memiliki nilai terapeutik, namun perasaan intens
atau hubungan yang terlibat yang menciptakan masalah konseling. Namun, untuk
konseling intensif, pengembangan dan pengerjaan transferensi dianggap sebagai bagian
penting dari hubungan jangka panjang.
Resolusi atau mengatasi perasaan transferensi dilakukan jika konselor
mempertahankan sikap penerimaan dan pemahaman, jika dia menerapkan teknik
refleksi, tanya jawab dan interpretasi dengan tepat dan jika dia bersedia membagikan
beberapa reaksi perasaannya sendiri Untuk transferensi klien Bagaimanapun,
transferensi adalah kondisi normal setiap hubungan.
B. Countertransference (Pemindahan Balik)
1. Konsep Dasar
Pemindahan balik mengacu kepada reaksi emosional dan proyeksi dari konselor
kepada klien dalam konseling dan psikoterapi. Wennicot (1949) menyatakan
pemindahan balik kilen dan konselor berdasarkan pada obyektivitas anti sosial yang
akan menjadi halangan bagi manusia sebagai alat dari kontinuitas. Fromm Reidimen
(1950) menegaskan, pemindahan balik adalah reaksi konselor terhadap pemindahan
perasaan klien, sedangkan menurut Alexander dan Frace (1946) merupakan semua
sikap konselor terhadap klien. Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditegaskan bahwa
pemindahan balik adalah kesadaran perilaku di bawah sadar dari konselor terhadap
sikap dan perilaku klien.
Klien merupakan orang yang berharga dalam kehidupan konselor karena
keinginannya yang kuat untuk sukses dalam konseling. Kesuksesan konseling sangat
dipengaruhi oleh bagaimana sikap dan perasaan konselor terhadap klien. Tidak ada
konselor yang bebas dari perasaan ini kecuali mempunyai kesadaran yang tinggi pada
perilakunya. Respon konselor terhadap klien juga dipengaruhi oleh perasaannya sendiri.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pemindahan balik ini menjadikan klien sesuai
dengan keinginan konselor yang menghasilkan efek positif dan negatif.
Pada efek negatif menurut Hudley dan Strupp (1976) diantaranya:
a. Salah menilai atau mengacaukan
b. Kurang paham data klien
c. Menggunakan teknik yang salah dan kesulitan komunikasi
d. Kasalahan etika seperti proses konseling yang terlalu lama.
2. Sumber Pemindahan Balik Perasaan
Keinginan konselor merupakan sumber dari perilaku pemindahan balik. Ada tiga
kelemahan konselor, yaitu:
a. Tidak mampu menyelesaikan masalah pribadi (konselor meningkatkan
kesadarannya).
b. Tekanan situasi, proses konseling dari awal, proses dan pertemuan-pertemuan
selanjutnya banyak hal yang ditemui konselor dari klien, sementara konselor
beranggapan konseling harus sukses, hal ini bisa mengakibatkan kelelahan, perasaan
frustrasi dan kehilangan motivasi, bahkan bisa mengarah kekeputusasaan konselor
dalam konseling. Dalam hal ini konselor membutuhkan pembaharuan dan dukungan
rekan kerja atau kerjasama sesama konselor (Castilo:1980).
c. Komunikasi perasaan. Komunikasi perasaan klien kepada konselor karena
perubahan emosi yang berlebihan dan berubah menjadi simpatik dan akhirnya
mengganggu proses konseling terutama sikap konselor pada klien. Seperti halnya
permasalahan masa lalu konselor yang masih membekas dalam hidupnya.
Adapun alasan konselor untuk membatasi nilai proyeksi dalam menghadapi klien
adalah:
a. Konselor kemungkinan sukses (menetapkan penilaian benar/salah atau tepat/tidak
tepat).
b. Konselor kemungkinan gagal (hubungan terapi bagus tapi memberikan pemantauan
negatif yang tidak diinginkan klien, karenanya konselor harus menyadari
kepribadian dan keyakinan klien).
3. Mempertahankan Identitas Individu
Gottsegan (1979) mengungkapkan bentuk dari pemindahan balik sebagai
pertahanan identitas individu yang semestinya tidak terjadi dalam terapi. Contohnya:
a. Kebutuhan terhadap data klien yag memerlukan respon berbeda.
b. Menyalahkan klien sewaktu hal itu tidak benar.
c. Melakukan terapi dengan gaya sendiri.

4. Tanda-tanda Perasaan Pemindahan Balik


Berikut hal-hal yang ditujukan kepada konselor, yang dapat dipercaya untuk
menguji diri mereka sendiri. Hal ini akan membantu membedakan perasaan terapeutik
yang positif dari penolakan rasa cemas atau defensif terhadap klien.
1) Bersikap mengantuk, atau tidak mendengarkan atau memperhatikan, tidak
mendengar pesan klien dengan jelas.
2) Menyangkal adanya kecemasan dan pemikiran, "Saya merasa baik tentang topik ini
dan seharusnya merasa kesal. Tapi saya tidak. "(Jika tidak ada kecemasan saat ini,
mengapa konselor bahkan memikirkannya?)
3) Menemukan kesulitan untuk menggeser posisi atau mengalami sendiri
"kencangkan".
4) Menjadi simpatik daripada empati atau menjadi terlalu emosional dalam
menghadapi masalah klien.
5) Memilih materi tertentu untuk mencerminkan atau menafsirkan dan bertanya-tanya
setelah itu mengapa materi ini dan bukan materi lain dipilih.
6) Secara konsisten mencerminkan atau menafsirkan terlalu cepat atau tidak benar
(dan hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan pada basis resistensi klien saja).
7) Meremehkan atau kehilangan kedalaman perasaan klien secara konsisten.
8) Merasakan ketidaksukaan yang tidak beralasan atau ketertarikan untuk klien.
Marah pada klien "tidak menghargai".
9) Tidak dapat mengidentifikasi dengan klien. Misalnya, saat klien merasa kesal,
konselor tidak merasakan respons emosional.
10) Mengidentifikasikan diri dengan klien, karena menjadi sangat simpatik saat klien
menyebutkan penganiayaan.
11) Menemukan kecenderungan untuk berdebat dengan klien, bersikap defensif, atau
rentan terhadap kritik klien.
12) Merasa bahwa ini adalah klien "terbaik" atau "terburuk"
13) Terlalu memikirkan tanggapan yang akan dibuat.
14) Biasanya terlambat memulai wawancara atau lebih dari satu jam dengan klien
tertentu.
15) Mencoba untuk mendapatkan beberapa pengaruh kuat dari klien dengan membuat
pernyataan dramatis.
16) Terlalu peduli tentang sifat rahasia pekerjaan dengan klien.
17) Merasakan paksaan untuk melakukan sesuatu yang aktif; Oleh karena itu, membuat
dampak yang terlalu kuat dengan interpretasi dan saran "tembak".
18) Bermimpi tentang klien.
19) Menjadi terlalu "sibuk" untuk melihat klien atau mengeluhkan "tugas
administratif".
20) Bekerja terlalu keras dengan klien sampai titik kelelahan, lalu mengeluh karena
terlalu banyak bekerja.

5. Resolusi Perasaan Countertransfenrence (Pemindahan Balik) Sumber Perasaan


Ada beberapa contoh pertanyaan sebagai arahan untuk mengkritisi diri konselor
sebagai sumber perasaan, yaitu:
a. Mengapa saya membuat respon ini pada pertanyaan anak itu?
b. Apa usaha saya untuk menyampaikan pada klien?
c. Apa benar saya ingin tahu?
d. Mengapa saya merasa terdorong untuk memberi nasehat?
e. Mengapa itu membuat saya kesal sewaktu janji batal?
f. Apa saya menggunakan klien untuk kebutuhan saya atau sebaliknya?
Konselor harus menerima kenyataan bahwa mereka memiliki beragam perasaan
tentang klien dan mereka akan sedikit berubah oleh pengalaman konseling. Konselor
juga harus sadar bahwa mereka memiliki kecemasan yang datang dari rasa tidak aman
dalam peran konseling dan ekspresi kecemasan klien.
Konselor harus mengontrol kecemasan klien dengan memberikan nasehat karena
kebutuhan klien akan keterangan jiwa, pengontrolan konselor akan keinginan atau
kekhawatirannya melalui pengetahuannya akan lebih bagus digunakan, sebagaimana
beberapa hal berikut ini:
a. Supervisor/Kerabat Kerja
Ada masa dalam kehidupan profesional konselor akan menghadapi
kepribadian/sikap klien yang membuat mereka deefentif/di luar kemampuannya.
Sebagai jalan keluarnya adalah diskusi profesional dengan supervisor atau kerabat
kerja.
b. Diskusi dengan Klien
Tidak ada bukti objektif menunjukkan bahwa bijaksana untuk berdiskusi
pemindahan balik dengan klien.
c. Perkembangan Konselor
Konselor dapat menggunakan keadaannya dalam proses terapi untuk
meningkatkan perkembangannya dengan menggabungkan intelektual dan
kebiasaannya dengan klien.
d. Kelompok Konseling/Terapi
Teknik lain untuk menanggulangi pemindahan balik adalah klien membahas
masalahnya dalam terapi kelompok.
e. Analisis Model dan Video Tape
Sumber lain dari kesadaran pemindahan balik adalah menggunakan audio dan
video, tape rekaman. Aspek pemindahan balik akan mengurangi bahaya intervensi
proyeksi konselor dalam kerja terapi.
C. Resistensi
1. Konsep Dasar
Freud menggambarkan resistensi sebagai perlawanan tanpa disadari terhadap
usaha mengubah hal yang tidak disadari menjadi hal yang disadari serta mobilisasi
fungsi-fungsi penindasan (represif) dan perlindungan (protektif) ego.
Menurut Pearl dari sudut pandang Gestalt bahwa semua resistensi
menggambarkan penolakan klien untuk menjadi diri sendiri (self-sportive). Karenanya
ia harus dihadapkan keuntungan yang diperoleh dari resistensi. Bagaimanapun, tujuan
konseling bukan hanya untuk mengungkap apa rahasia klien, tetapi juga untuk
mengunngkap bagaimana klien menyembunyikan rahasianya itu.
Ada dua level resistensi, yaitu:
a. Resistensi level 1

Ki: sepertinya saya tidak bisa menjadi salesman yang sukses, saya tidak bisa berbaur
dengan orang lain.
Ko: kalau begitu anda bisa menyampingkan hal itu. Pernahkah anda
mempertimbangkan beberapa jenis pekerjaan lain yang sekiranya anda bisa
melakukannya?
b. Resistensi level 2

Ki: saya sepertinya tidak bisa bergaul dengan supervisor saya


Ko: karena hal ini sepertinya sebuah hambatan bagi anda, mari kita temukan
beberapa cara/teknik agar kita dapat bergaul dengan orang lain.
2. Manfaat dari penolakan pertahanan
a. Mengatasi stress dan strategi yang tepat untuk situasi-situasi tertentu.
b. Membantu untuk melalui masa sulit.
Richard Lazarus (1979) mengemukakan bahwa kita harus menilai kembali
pemikiran bahwa menghadapi fakta atau pengujian realitas adalah salah satu cara utama
menghindarkan resistensi, selanjutnya melakukan usaha-usaha penanggulangan.
3. Sumber-sumber Resistensi
Resistensi terbagi 3, yaitu:
a. Resistensi Internal
Kecenderungan klien yang cemas untuk mengundurkan diri dari usaha
meneliti atau mengubah tingkah laku yang biasanya cukup menyulitkan. Resistensi
ini menggambarkan kekhawatiran pertumbuhan, atau ketidakmauan untuk mandiri.
b. Resistensi Eksternal
1) Akibat teknik yang digunakan kurang tepat.
2) Kurangnya persiapan yang semestinya.
c. Resistensi Campuran
1) Kelelahan
2) Penyakit
3) Defisiensi (kelelahan mental)
4) Hambatan bahasa asing
5) Psikosis.
4. Fungsi Positif Resistensi
a. Memberikan indikasi (petunjuk) kemajuan wawancara secara umum dan menjadi
landasan bagi perumusan diagnosa dan prognosa.
b. Petunjuk mengenai struktur defensif klien yang ditimbulkannya, atau sebagai
informasi bagi konselor bahwa klien mau meneliti perasaan-perasaan saat itu.
5. Manifestasi dan Klasifikasi Resistensi
Bugental (1952) mengemukakan lima tingkatan intensitas gejaka resistensi, yaitu:
a. Ketertinggalan/lamban dalam memberikan tanggapan karena klien sulit memahami
dan sering meminta penjelasan dari konselor.
b. Kelembaban, tidak peduli, tidak memperhatikan petunjuk konselor dan tidak
bersemangat.
c. Resistensi tentatif, tidak mau melanjutkan konseling dengan menunjukkan sikap
mendebat, menunjukkan rasa benci, cemas, dan rasa bersalah.
d. Resistensi sejati, lebih terbuka dan langsung seperti memberikan jawaban yang
samar, tetap diam, menampilkan sikap permusuhan, mempertanyakan kemampuan
konselor atau menggunakan kata-kata yang kasar.
e. Sampai penolakan, seperti mengakhiri wawancara dengan permintaan langsung,
mengucapkan kata-kata yang bernada membenci konselor, atau tidak mau berbicara
dengan sopan.
Berikut menurut Sherman (1945) membuat skala lima poin yang serupa, satuan-
satuan wawancara dapat dinilai kadar resistensinya:
a. Penolakan (resistif). Menolak pandangan konselor atau cara mengatur wawancara
dengan cara yang agak kasar, menolak membicarakan permasalahan yang
sebenarnya atau berusaha menutup wawancara.
b. Agak resistif. Menolak pandangan konselor atau sarannya, tetapi dengan cara yang
sopan, tidak berbicara dengan bebas atau memperlihatkan kecenderungan
menentang konselor.
c. Apatis (acuh). Tidak punya inisiatif, tetapi menerima saran-saran, biasanya dengan
cara yang tidak pasti.
d. Konselor dan klien bekerja sama cukup baik, komunikasi yang cukup bebas, rasa
saling menghormati sangat jelas.
e. Konselor dan klien bekerja sama pada masalah-masalah yang sebenarnya, berbicara
dengan sangat bebas, rasa saling menghormati sangat jelas.

6. Teknik-teknik Menangani Resistensi


Tujuan utama dari penggunaan teknik-teknik (teknik yang tepat) ini adalah untuk
menjaga agar klien tetap mengikuti konseling dan untuk mencegah hilangnya
kepercayaan klien pada konselor.
Langkah pertama yang dilakukan konselor dalam menangani resistensi adalah
menyadari kemungkinan penyebab eksternal di dalam dirinya dan pengaruh kadar
pengarahan dalam teknik yang digunakannya. Oleh karena itu, konselor dapat
mengambil langkah-langkah yang tepat dengan saran-saran berikut:
a. Teknik melihat-tapi-tidak-memperhatikan (pemahaman gaya defensif klien).
b. Teknik adaptasi ringan (mengurangi dampak emosi dengan mengalihkan ke masalah
intelektual).
c. Teknik defensif sementara.
d. Teknik manipulasi langsung.
e. Konfrontasi langsung.
f. Resistensi dalam kelompok: konselor membantu anggota membedakan perasaan
mereka dengan kelompok lain secara lebih tegas.
g. Pengalaman tubuh yang dapat membantu.