Anda di halaman 1dari 4

TEORI ASKEP DEWASA DAN LANSIA

 
DEWASA
Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja.Hurlock (1986)
mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40
tahun. Secara umum, mereka yang tergolong dewasa awal ialah mereka yang berusia
20-40 tahun.
1. Dewasa Awal ( Young Adulthoud)
Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun samapi
kira-kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang
menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Namun Secara umum, mereka yang
tergolong dewasa muda ialah mereka yang berusia 20-40 tahun.
2.Dewasa tengah/Dewasa Madya (Middle adulthoud)
Dewasa tengah berlangsung dari sekitar usia 40 – 45 sampai sekitar usia
65 tahun. Periode dewasa tengah adalah waktu timbulnya tekanan emosional. Oleh
Bernice Nengeartein (dalam Callhoun dan Acocella, l990) dikatakan bahwa peroiode
ini merupakan suatu masa ketika orang dapat merasa puas dengan
keberhasilannya. Meskipun bagi orang lain  adakalanya periode ini justru merupakan
permulaan kemunduran.  Bagi Erik Erikson (Callhoun dan Acocella, l990), dalam
periode ini individu memiliki antara kearifan dan penyerapan pribadi. Kearifan yang
dimaksud adalah kapasitas untuk mengembangkan perhatian terhadap orang lain atau
masyarakat sekitar. Orang yang gagal mengembangkan kapasitas kearifan ini
mungkin menjadi semakin terserap pada diri mereka sendiri seperti larut dalam
kehidupan duniawi dan bendawi saja. Teori Erikson ini  berpijak pada kenyataan yang
dia sinyalir bahwa dalam setiap tingkat kehidupan selalu dicirikan dengan pilihan-
pilihan antara 2 pendekatan terhadap kehidupan, satu positif dan satunya negatif.
Tampaknya tengah baya merupakan  salah satu waktu dalam hidup seseorang dimana
banyak terjadi peristiwa besar yang memaksanya untuk mengadakan penataan
kembali. Penataan kembali itu kiranya terjadi karena adanya beberapa perubahan
besar dalam hal fisiologis, psikologis, seksual dan perubahan-perubahan sosial yang
menyertai ketiga perubahan itu.
3.        Dewasa Akhir (fnal adulthoud)
Memasuki lanjut usia merupakan periode akhir dalam rentang kehidupan manusia di
dunia ini. Banyak hal penting yang perlu diperhatikan guna mempersiapkan
memasuki masa lanjut usia dengan sebaik-baiknya. Kisaran usia yang ada pada
periode ini adalah enam puluh tahun ke atas. Ada beberapa orang yang sudah
menginjak usia enam puluh, tetapi tidak menampakkan gejala-gejala penuaan fisik
maupun mental. Oleh karena itu, usia 65 dianggap sebagai batas awal periode usia
lanjut pada orang yang memiliki kondisi hidup yang baik.
Fase-fase interaksi dalam asuhan keperawatan sehat jiwa klien Dewasa
1. Pra-interaksi 
Dimulai sebelum kontak pertama dengan pasien. Perawat
mengeksplorasikan perasaan, fantasi dan ketakutannya, sehingga kesadaran dan
kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat dipertanggung
jawabkan. Tugas tambahan pada fase ini adalah mendapatkan informasi tentang klien
dan menentukan kontak pertama.
2. Perkenalan atau orientasi 
Dalam memulai hubungan, tugas utama adalah membina rasa
percaya, penerimaan, dan pengertian, komunikasi yang terbuka dan perumusan
kontrak dengan pasien. Elemen-elemen kontrak perlu diuraikan dengan jelas pada
klien sehingga kerjasama perawat-pasien dapat optimal. Diharapkan pasien
berperan serta secara penuh dalam kontrak, namun pada kondisi tertentu, misalnya
pasien dengan gangguan realita maka kontrak dilakukan sepihak dan perawat perlu
mengulang kontak jika kontak realitas pasien meningkat.
3. Fase kerja 
Pada fase kerja, perawat dan pasien mengeksplorasi stressor yang tepat dan
mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, pikiran,
perasaan dan perbuatan klien. Perawat membantu pasien mengatasi kecemasan,
meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab diri sendiri, dan mengembangkan
mekanisme koping yang konstruktif. Perubahan prilaku yang maladaptif menjadi
adaptif merukapan fokus fase ini.
4. Terminasi
Terminasi merupakan fase yang sangat sulit dan penting dalam hubungan
terapeutik. Rasa percaya dan hubungan intim yang terapeutik sudah terbina dan
berada dalam tingkat yang optimal (Dalami, Ermawati, dkk, 2009).
 
LANSIA
Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan
fenomena biologis. Kehidupan itu akandiakhiri dengan proses penuaan yang berakhir
dengan kematian (Hutapea, 2005).  Menua (menjadi tua) adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri
atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides 1994).
Kondisi kesehatan fisik dan mental pada orang lansia biasanya mulai
menurun. Beberapa perubahan fisik yang diasosiasikan dengan penuaan dapat terlihat
jelas oleh seseorang pengamat biasa meskipun mereka berdampak pada beberapa
lansia lebih dari yang lain.
 
Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia
Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok
lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain:
1. Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa
dukungan tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau
pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku,
mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan :
makanan yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariai dan mudah dicerna,
dan kesegaran jasmani.
2. Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal
yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia
pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh
oleh anggota keluarga atau petugas. Khususnya bagi yang lumpuh, perlu
dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet).
 
Pendekatan Keperawatan Lanjut Usia
1. Pendekatan fisik
Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-
kejadian yang dialami klien lanjut usiasemasa hidupnya, perubahan fisik pada
organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bias di capai dan dikembangkan, dan
penyakit yang yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya. Perawatan fisik
secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu :
a. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu
bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari
masih mampu melakukan sendiri.
b. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan
fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar
perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan
dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya.
Perawat perlu mengadakan pemeriksaan kesehatan, hal ini harus dilakukan
kepada klien lanjut usia yang diduga menderita penyakit tertentu atau secara
berkala bila memperlihatkan kelainan, misalnya: batuk, pilek, dsb. Perawat perlu
memberikan penjelasan dan penyuluhan kesehatan, Perawat harus mendekatkan
diri dengan klien lanjut usia membimbing dengan sabar dan ramah. Sentuhan
(misalnya genggaman tangan) terkadang sangat berarti buat mereka.
 
2. Pendekatan psikis
Dalam pendekatan psikis, perawat mempunyai peranan penting untuk
mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan
sebagai supporter , interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai
penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat
hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan
waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para
lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip ” Tripple”, yaitu
sabar, simpatik dan service.
 
3. Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu
upaya perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul
bersama dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi
pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang
dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain
4. Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam kedaan sakit atau
mendeteksi kematian.