Anda di halaman 1dari 77

ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DI DESA


MEGAMENDUNG KECAMATAN MEGAMENDUNG,
KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumberdaya alam.

Akan tetapi, sumberdaya alam yang melimpah ini belum termanfaatkan secara

optimal. Salah satu sumberdaya yang ada di Indonesia yaitu sumberdaya energi.

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam sektor energi, baik energi

fosil maupun energi non fosil. Energi fosil antara lain energi batubara, minyak

bumi, gas alam, dan Coal Bed Methane (CBM). Energi non fosil terdiri dari panas

bumi, tenaga angin, tenaga surya, tenaga air, mikrohidro, dan bahan bakar nabati.

Pasokan energi primer Indonesia meningkat dari tahun ke tahun sebagaimana

disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pasokan Energi Primer Indonesia (dalam SBM) Berdasarkan


Sumber Tahun 2006-2010
Komponen 2006 2007 2008 2009 2010
Batu bara 205.779.290 258.174.000 224.587.657 236.439.000 281.400.000
Minyak
461.349.420 474.032.509 480.900.640 489.850.056 550.457.089
mentah
Gas alam 196.599.386 183.623.636 236.049.566 253.198.465 285.886.730
Tenaga air 24.256.796 28.450.964 29.060.413 28.696.408 44.559.410
Panas
11.182.742 11.421.759 13.423.610 14.973.198 14.681.920
bumi
Keterangan: SBM (Setara Barel Minyak)
Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2011)

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, maka permintaan terhadap

kebutuhan energi juga meningkat, sementara cadangan energi yang dimiliki

semakin terbatas dan menipis baik dalam hal kuantitas maupun kualitasnya. Hal

ini yang mendorong perlu adanya konservasi dan diversifikasi energi.


Saat ini Indonesia masih belum dapat memenuhi kebutuhan energi dalam

negeri sendiri. Kelangkaan bahan bakar minyak masih terjadi di sejumlah lokasi

begitu pula dengan adanya pemadaman listrik yang terjadi di berbagai daerah. Hal
ini tentu bertolak belakang dengan fakta bahwa Indonesia memiliki potensi energi

yang sangat melimpah (KLH, 2009).

Selama periode 2004-2009 produksi minyak dan gas cenderung menurun,

namun batubara cenderung meningkat. Energi tidak terbarukan (minyak bumi,

batubara, dan gas) dalam pasokan energi primer nasional masih mendominasi

pada tahun 2008. Peningkatan terbesar pasokan energi primer terjadi pada

batubara selama 2004-2008. Dari sektor listrik, kapasitas terpasang pembangkit

listrik meningkat pada tahun 2008 jika dibandingkan pada tahun 2007,

peningkatan terbesar terjadi pada PLTU jika dibandingkan dengan kondisi pada

tahun 2004. Sektor rumah tangga merupakan konsumen terbesar energi final,

diikuti oleh industri, transportasi, perdagangan, dan lainnya sepanjang 2004-2008

(KLH, 2009).

Sumber energi yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik di

Indonesia didominasi oleh penggunaan bahan bakar fosil, khususnya batubara.

Daerah yang mengalami kekurangan daya listrik seperti Sulawesi, Kalimantan,

Nusa Tenggara dan Papua pembangkit listriknya masih menggunakan BBM

(bahan bakar minyak). Minyak bumi dan batubara merupakan energi tidak

terbarukan yang lama-kelamaan akan habis. Berdasarkan data dari Kementerian

Energi dan Sumberdaya Mineral, saat ini Indonesia telah mengimpor sumber

energi fosil seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kondisi Energi Fosil Indonesia (dalam SBM) Tahun 2010


Komponen Produksi Impor Ekspor
Batu bara 1.155.690.000 232.000 873.600.000
Minyak mentah 344.888.000 101.093.000 134.473.000
BBM 241.156.000 150.349.000 3.410.000
Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2011)

2
BBM yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik berasal dari

impor. Hal ini menyebabkan biaya untuk membangkitkan listrik menjadi sangat

besar dan menguras devisa negara. Di sisi lain, sebenarnya Indonesia memiliki

sumber energi baru dan terbarukan untuk membangkitkan listrik. Hal ini tentu

akan meringankan beban negara dalam pembiayaan untuk pembangkit listrik.

Salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi permasalahan energi

adalah dengan merancang program Desa Mandiri Energi (DME). DME adalah

desa yang masyarakatnya memiliki kemampuan memenuhi lebih dari 60%

kebutuhan energinya (listrik dan bahan bakar) dari energi terbarukan yang

dihasilkan melalui pendayagunaan potensi sumberdaya setempat. Pengembangan

DME bertujuan untuk mengurangi kemiskinan, membuka lapangan kerja untuk

mensubstitusi bahan bakar minyak serta menciptakan kegiatan ekonomi produktif

(KLH, 2010).

Selama tahun 2009, DME tumbuh sebesar 44%, tahun 2008 terdapat 424

unit, pada akhir tahun 2009 jumlah DME bertambah menjadi 612 unit. Dari 612

unit tersebut, 429 unit diantaranya berbasis bahan bakar nabati (BBN), sementara

183 unit lainnya berbasis energi setempat non BBN seperti mikrohidro, tenaga

angin, tenaga surya, biogas, biomassa, serta energi baru terbarukan lainnya (KLH,

2009).

Indonesia tercatat sebagai negara yang kaya akan sumber energi

mikrohidro, yaitu pembangkit energi yang memanfaatkan tenaga air dalam skala

yang tidak begitu besar. Berdasarkan hasil survey, sumber energi mikrohidro

berpotensi menghasilkan tenaga listrik sebesar 75.000 MW, jauh lebih besar dari

energi yang selama ini dihasilkan yaitu sebesar 29.000 MW (KLH, 2009)

3
Adanya potensi yang besar tersebut menyebabkan pemerintah membuat

program DME khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).

PLTMH diharapkan mampu membantu pengentasan krisis energi listrik yang

terjadi saat ini. Data statistik menampilkan bahwa rasio elektrifikasi di Indonesia

saat ini baru mencapai angka 58%. Berarti dari jumlah penduduk 237.641.000

jiwa, masih ada sekitar 145 juta penduduk yang tidak mendapat pelayanan energi

listrik, terlebih lagi bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan (Dinas ESDM,

2009).

Selama ini, Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjalankan sistem

pembangkit listrik tersentralisasi (terpusat dan berskala besar) yang ternyata

belum optimal dalam hal transmisi dan distribusi listrik. Oleh karena itu,

dimunculkanlah sistem pembangkit listrik yang terdesentralisasi yaitu dengan

pembangunan PLTMH di desa yang belum menerima pasokan listrik dari PLN.

PLTMH ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat

yang ada di sekitarnya.

Kabupaten Bogor telah menjadi sasaran lokasi pelaksanaan DME

khususnya yang berbasis mikrohidro yang dimulai sejak tahun 2005. PLTMH

tersebar di beberapa kecamatan yaitu di Kecamatan Sukajaya, Kecamatan

Megamendung dan Kecamatan Leuwiliang. Salah satu daerah yang telah

memanfaatkan mikrohidro yaitu Kampung Paseban, Desa Megamendung,

Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

1.2 Perumusan Masalah

Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional sejak lima

tahun terakhir. Hal ini disebabkan karena penurunan produksi secara alamiah

4
(natural decline) cadangan minyak pada sumur-sumur yang berproduksi. Selain

itu, pertambahan jumlah penduduk juga telah mengakibatkan peningkatan

kebutuhan sarana transportasi dan aktivitas industri yang berakibat pada

peningkatan konsumsi BBM. Dengan adanya permasalahan seperti ini, maka

pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengurangi ketergantungan

Indonesia pada bahan bakar minyak. Hal ini tercermin dengan dikeluarkannya

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan

Energi Nasional yang menyatakan bahwa, pada tahun 2025 nanti konsumsi

minyak bumi diharapkan turun menjadi 20%, gas alam naik menjadi 30%,

batubara naik menjadi 30%, sedangkan energi baru dan terbarukan naik menjadi

17 %. Kebijakan tersebut menekankan pada penggunaan gas alam dan batu bara

sebagai pengganti BBM, akan tetapi kebijakan tersebut juga menetapkan sumber

daya yang dapat diperbaharui sebagai pengganti BBM.

Listrik merupakan salah satu unsur yang penting dalam kehidupan

manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Kadir (1995) bahwa energi listrik

mempunyai peranan sebagai pendorong perekonomian. Hal ini mempunyai dua

sebab, pertama adalah karena energi listrik merupakan bahan bakar bagi industri.

Tersedianya tenaga listrik akan memudahkan perkembangan industri, demikian

juga dengan pertumbuhan ekonomi. Kedua adalah dengan adanya penerangan

listrik memungkinkan manusia belajar di malam hari, sehingga energi listrik

merupakan faktor penting dalam mencerdaskan masyarakat, yang berperan pula

pada produktivitas bangsa dan secara langsung mempengaruhi keadaan

perekonomian.

5
Kebutuhan energi listrik di suatu daerah semakin meningkat karena

tingginya angka pertumbuhan penduduk pada suatu daerah. Hal tersebut

dikarenakan setiap individu memiliki kebutuhan penggunaan energi listrik dengan

kuantitas tertentu. Kenaikan permintaan dan kebutuhan energi listrik menjadi

suatu masalah jika tidak diimbangi dengan penyediaan energi listrik yang

memadai. Kondisi yang terjadi sekarang ini justru menunjukkan adanya krisis

energi listrik yang ditunjukkan oleh fakta adanya kebijakan pemadaman listrik

secara bergilir dan juga adanya kampanye efisiensi penggunaan listrik kepada

masyarakat. Selain itu, terdapat daerah-daerah di Indonesia yang belum terjangkau

oleh listrik.

Saat ini, pembangkit listrik konvensional di Indonesia menggunakan bahan

bakar fosil sebagai bahan bakar utama. Hal ini bertolakbelakang dengan isu

menipisnya cadangan sumber-sumber bahan bakar fosil tersebut. Krisis persediaan

energi listrik disebabkan oleh adanya krisis bahan bakar fosil seperti minyak

bumi, gas alam, dan batubara. Konsumsi energi minyak bumi dan batubara untuk

jangka panjang bukan hal yang relevan. Solusi bagi krisis energi listrik dari bahan

bakar fosil yaitu dengan menemukan sumber energi alternatif. Sumber energi

alternatif tersebut harus dapat menjadi bahan bakar substitusi yang efektif, efisien,

ramah lingkungan, dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Sumber energi

alternatif juga harus berasal dari sumber energi yang dapat diperbaharui. Sumber

energi yang dapat diperbaharui akan selalu tersedia dalam kuantitas dan kualitas

yang cukup. Salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui yaitu mikrohidro.

6
Mikrohidro saat ini mulai dikembangkan sebagai sumber energi baru

untuk pembangkit listrik. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sudah

mulai dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia, terutama di daerah

pegunungan yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik dari Perusahaan Listrik

Negara (PLN) karena kondisi geografis dan kesulitan dalam mengaksesnya.

Dengan adanya PLTMH, suatu desa dapat mandiri dalam menyuplai kebutuhan

listriknya sendiri. Kabupaten Bogor telah menerapkan pembangunan PLTMH di

Kecamatan Megamendung. Salah satu desa yang ditunjuk sebagai lokasi

pembangunan PLTMH yaitu Desa Megamendung.

PLTMH di Kampung Paseban dinamakan PLTMH Ciesek karena sumber

airnya berasal dari Sungai Ciesek. Sebelum adanya PLTMH, masyarakat di

Kampung Paseban masih menggunakan kincir tradisional dan lampu tempel.

Kedua sumber penerangan ini belum mampu memenuhi kebutuhan listrik

masyarakat Kampung Paseban. Keberlanjutan dari PLTMH dinilai sangat penting

karena merupakan bagian menyeluruh dari sebuah proses pembangunan perdesaan

dan pembangunan nasional secara umum.

Apabila dilihat dari sisi ekonomi, PLTMH dapat memberi manfaat ganda.

Pertama yaitu penghematan pengeluaran biaya untuk energi dibandingkan

penggunaan energi lain. Kedua yaitu pendorong munculnya usaha-usaha produktif

dengan memanfaatkan energi yang dihasilkan. Usaha produktif ini diperlukan

untuk menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam mengelola PLTMH secara

berkelanjutan. Selain itu, pembangunan PLTMH ini diharapkan dapat memutar

roda perekonomian di perdesaan. Hal itu dapat terwujud jika ada suatu panduan

7
untuk melihat potensi dan mengembangkan usaha-usaha produktif berbasis

mikrohidro.

Berdasarkan uraian tersebut, beberapa masalah yang dapat dirumuskan

adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana persepsi masyarakat mengenai pembangunan PLTMH Ciesek?

2. Bagaimana kinerja produksi, distribusi, dan sistem pembayaran listrik

PLTMH Ciesek?

3. Bagaimana kelayakan dan keberlanjutan PLTMH Ciesek?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka

tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi persepsi masyarakat mengenai pembangunan PLTMH

Ciesek.

2. Mengidentifikasi kinerja produksi, distribusi, dan sistem pembayaran listrik

PLTMH Ciesek.

3. Mengestimasi kelayakan dan keberlanjutan PLTMH Ciesek.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

berbagai pihak. Hasil penelitian yang akan dilaksanakan ini dapat bermanfaat

untuk berbagai hal, antara lain:

1. Bagi Pemerintah Daerah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

informasi mengenai PLTMH dan kelayakan PLTMH, serta sebagai bahan

pertimbangan dalam membuat kebijakan dan keputusan yang berkaitan

dengan pembangunan PLTMH.

8
2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat membantu untuk

memperbaiki kondisi kehidupan di masa yang akan datang.

3. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian yang akan dilakukan ini dapat menjadi

rujukan untuk penelitian yang terkait.

9
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Biaya

Biaya (cost) adalah segala pengeluaran yang berhubungan dengan hasil

yang diharapkan di masa yang akan datang. Dalam pengertian ekonomi, biaya

tidak lain adalah investasi. Berbeda dengan pengertian ongkos (expenses), yang

diartikan sebagai pengeluaran yang dilakukan untuk manfaat yang telah didapat

saat ini atau yang lalu saat melakukan transaksi (Putong, 2003).

2.1.1 Definisi Biaya

Pengertian biaya secara luas menurut Mulyadi (2005) adalah pengorbanan

sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang

kemungkinan terjadi untuk tujuan tertentu. Terdapat empat unsur pokok dalam

definisi biaya tersebut, yaitu biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi,

diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau secara potensial akan terjadi dan

pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Kuswadi (2005) menjelaskan biaya adalah pengorbanan atau nilai sumber

ekonomis yang dikeluarkan karena memproduksi atau melakukan sesuatu yang

membutuhkan biaya. Biaya mengandung dua unsur yaitu kuantitas sumberdaya

yang digunakan dan harga tiap unit sumber itu. Menurut Supriyono (2007) biaya

adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka

memperoleh penghasilan (revenues) dan akan dipakai sebagai pengurang

penghasilan.

2.1.2 Penggolongan Biaya

Biaya dapat digolongkan dalam dua jenis. Pertama, biaya eksplisit yaitu

segala biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendapatkan faktor-faktor produksi.

10
Kedua adalah biaya implisit (tersembunyi), yaitu semua biaya taksiran yang

dimiliki oleh faktor produksi apabila digunakan. Selain itu, biaya dapat

digolongkan menjadi biaya internal yaitu biaya yang dikeluarkan dalam rangka

operasional perusahaan dan biaya eksternal yaitu biaya yang seharusnya

ditanggung oleh perusahaan sebagai akibat operasional perusahaan yang

menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitarnya (Putong, 2003).

Penggolongan biaya menurut Supriyono (2007) dapat dilakukan dengan

beberapa cara, yaitu:

1) Penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan perusahaan:

a) Biaya Produksi

Biaya produksi merupakan semua biaya yang berhubungan dengan

kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi

terdiri dari beberapa komponen biaya, yaitu biaya bahan baku langsung,

biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead.

b) Biaya Non Produksi

Biaya non produksi dibedakan menjadi tiga macam biaya, yaitu:

i) Biaya Pemasaran

Biaya pemasaran merupakan biaya yang dikeluarkan untuk

keperluan penjualan produk. Biaya ini meliputi biaya untuk

melaksanakan fungsi penjualan, penyimpangan produk jadi,

pengemasan dan pengiriman barang, pemberian kredit dan

pengumpulan piutang dan pembuatan faktur atau administrasi

penjualan.

11
ii) Biaya Administrasi dan Umum

Biaya administrasi umum merupakan biaya yang terjadi dalam

rangka penentuan kebijakan, pengarahan dan pengawasan kegiatan

perusahaan secara keseluruhan.

iii) Biaya Keuangan

Biaya keuangan adalah semua biaya yang terjadi dalam fungsi

keuangan seperti biaya bunga.

2) Penggolongan biaya sesuai dengan tendensi perubahannya terhadap aktivitas

atau volume

a) Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap konstan dan tidak

dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai

tingkatan tertentu. Biaya satuan berubah berbanding terbalik dengan

perubahan volume kegiatan. Semakin tinggi volume kegiatan semakin

rendah biaya satuan dan sebaliknya jika volume kegiatan semakin rendah

maka biaya satuan semakin tinggi.

b) Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding

dengan perubahan volume kegiatan. Semakin besar volume kegiatan,

maka semakin tinggi jumlah total biaya variabel dan sebaliknya semakin

rendah volume kegiatan, maka semakin rendah jumlah total biaya

variabel. Biaya satuan pada biaya variabel bersifat konstan karena tidak

dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan.

12
c) Biaya Semi Variabel

Biaya semi variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai

dengan perubahan volume kegiatan, tetapi perubahannya tidak

sebanding. Semakin tinggi volume kegiatan maka semakin besar jumlah

biaya total dan sebaliknya jika volume kegiatan semakin rendah maka

semakin rendah biaya totalnya, namun perubahannya tidak sebanding.

3) Penggolongan biaya sesuai dengan objek atau pusat biaya yang dibiayai

a) Biaya Langsung

Biaya langsung adalah biaya yang manfaatnya dapat diidentifikasi

kepada objek atau pusat biaya tertentu.

b) Biaya Tidak Langsung

Biaya tidak langsung adalah biaya yang manfaatnya tidak dapat

diidentifikasi kepada objek atau pusat biaya tertentu atau biaya yang

manfaatnya dapat dinikmati oleh beberapa objek.

2.2 Biaya Produksi Jangka Pendek

Biaya produksi menurut Mulyadi (2005) adalah biaya-biaya yang terjadi

untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual. Djojodipuro

(1991) menjelaskan bahwa biaya produksi adalah biaya penggunaan berbagai

faktor produksi bagi perusahaan. Biaya produksi adalah pengeluaran, tetapi tidak

semua pengeluaran merupakan biaya produksi. Untuk menjadi biaya tersebut,

maka suatu pengeluaran harus memenuhi beberapa syarat. Syarat tersebut adalah

tak dapat dihindarkan, dapat diduga, dan dapat dinyatakan secara kuantitatif.

Biaya produksi tidak dapat dipisahkan dari proses produksi sebab biaya

produksi merupakan masukan atau input dikalikan dengan harganya. Dengan

13
demikian dapat dikatakan bahwa ongkos produksi adalah semua pengeluaran atau

semua beban yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk menghasilkan suatu

jenis barang atau jasa yang siap untuk dipakai konsumen (Nuraini, 2009).

Nuraini (2009) juga menerangkan bahwa terdapat dua kategori biaya

produksi, yaitu biaya produksi jangka pendek dan biaya produksi jangka panjang.

Biaya produksi jangka pendek meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya berubah

(variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk

menghasilkan sejumlah output tertentu, besarnya tetap tidak tergantung dari

output yang dihasilkan. Biaya seperti ini biasa disebut dengan biaya overhead atau

biaya yang tidak dapat dihindari (unavoidable cost). Dalam produksi jangka

panjang, semua biaya adalah biaya berubah. Biaya berubah adalah biaya yang

besarnya berubah-ubah tergantung dari sedikit banyaknya jumlah output yang

dihasilkan. Biaya ini sering disebut dengan biaya langsung atau biaya yang dapat

dihindari (avoidable cost)

Dari pengertian tentang biaya dalam jangka pendek maka perlu pula

dijelaskan bahwa besarnya keuntungan dapat diperoleh dari pemanfaatan biaya-

biaya tersebut adalah TR-TC dimana TR adalah total revenue (penerimaan total),

sedangkan titik pulang pokok (BEP) tercapai bila TR = TC.

2.3 Studi Kelayakan

Studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk

menerima atau menolak suatu gagasan usaha yang direncanakan. Pengertian layak

dalam penilaian ini adalah kemungkinan gagasan suatu usaha yang akan

dilaksanakan memberikan manfaat (benefit) baik dalam arti finansial maupun

sosial (Ibrahim, 2003).

14
Gittinger (1986) menyebutkan bahwa kriteria yang dapat digunakan

sebagai dasar persetujuan atau penolakan suatu proyek yang dilaksanakan adalah

kriteria investasi. Dasar penilaian investasi adalah perbandingan antara jumlah

nilai yang diterima sebagai manfaat dari investasi tersebut dengan manfaat-

manfaat dalam situasi tanpa proyek. Nilai perbedaannya adalah berupa tambahan

manfaat bersih yang akan muncul dari investasi dengan adanya proyek.

Analisis proyek memiliki beberapa tujuan diantaranya: 1) untuk

mengetahui tingkat keuntungan yang dicapai melalui investasi dalam suatu

proyek, 2) menghindari pemborosan sumber-sumber, yatu dengan menghindari

pelaksanaan proyek yang tidak menguntungkan, 3) mengadakan penilaian

terhadap peluang investasi yang ada sehingga dapat memilih alternatif proyek

yang paling menguntungkan, dan 4) menentukan prioritas investasi (Umar, 2003).

Salah satu kriteria dalam analisis kelayakan adalah net present value (NPV). NPV

suatu proyek adalah selisih antara nilai sekarang manfaat dengan arus biaya.

Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan.

Kriteria investasi berdasarkan NPV yaitu:

1) NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis sebesar

modal sosial Opportunity Cost faktor produksi normal atau dengan kata lain,

proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi.

2) NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan menguntungkan dan dapat

dilaksanakan.

3) NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang

digunakan atau dengan kata lain, proyek tersebut merugikan dan sebaiknya

tidak dilaksanakan.

15
Suatu proyek menghadapi ketidakpastian karena dipengaruhi perubahan-

perubahan baik dari sisi penerimaan atau pengeluaran yang akhirnya akan

mempengaruhi tingkat kelayakan proyek. Analisis sensitivitas bertujuan untuk

melihat apa yang akan terjadi dengan hasil analisa proyek jika ada suatu kesalahan

atau perubahan-perubahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya dan manfaat

(Kadariah, 2001). Pada umumnya proyek-proyek yang dilaksanakan sensitif

berubah-ubah akibat empat masalah yaitu harga, kenaikan biaya, keterlambatan

pelaksanaan, dan hasil (Gittinger, 1986).

2.4 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro

PLTMH biasa disebut mikrohidro, adalah suatu pembangkit listrik kecil

yang menggunakan tenaga air di bawah kapasitas 200 kW yang dapat berasal dari

saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi

terjun (head) dan debit air. Umumnya PLTMH adalah pembangkit listrik tenaga

air jenis run-off river head diperoleh tidak dengan cara membangun bendungan

besar, tetapi dengan mengalihkan sebagian aliran air sungai ke salah satu sisi

sungai dan menjatuhkannya lagi ke sungai yang sama pada suatu tempat dimana

head yang diperlukan sudah diperoleh. Dengan melalui pipa pesat air diterjunkan

untuk memutar turbin yang berada di dalam rumah pembangkit. Energi mekanik

dari putaran poros turbin akan diubah menjadi energi listrik oleh sebuah

generator. PLTMH sebagai sumber energi terbarukan dikembangkan di banyak

negara termasuk Indonesia, karena beberapa keuntungan yaitu:

1) Berdasarkan aspek teknologi terdapat keuntungan dan kemudahan pada

pembangunan dan pengelolaan PLTMH dibandingkan pembangkit listrik

jenis lain, yaitu:

16
a) Konstruksinya relatif sederhana

b) Mudah dalam perawatan dan penyediaan suku cadang

c) Dapat dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat desa

d) Biaya operasi dan perawatan rendah.

2) Selain dapat menyediakan listrik untuk kebutuhan rumah tangga, kehadiran

PLTMH juga dapat menyediakan energi yang cukup besar dan dapat

dimanfaatkan kegiatan-kegiatan produktif terutama pada siang hari ketika

beban listrik rendah. Berdasarkan sudut pandang ini kelebihan PLTMH yaitu:

a) Meningkatkan produktivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat melalui

munculnya atau meningkatnya produktivitas industri kecil rumah tangga

b) Menciptakan lapangan-lapangan kerja baru di desa.

3) Pengoperasian PLTMH menuntut adanya suatu lembaga tersendiri yang

menjalankan fungsi-fungsi pengelolaan dan perawatan. Lembaga tersebut

akan menambah keberadaan lembaga yang sudah ada di desa dan secara tidak

langsung dapat menjadi media pengembangan kapasitas masyarakat dalam

pengelolaan kelembagaan dan pelayanan publik.

4) PLTMH ramah terhadap lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara

atau limbah lainnya dan tidak merusak ekosistem sungai. Penyediaan listrik

menggunakan PLTMH akan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil

(misalnya minyak tanah dan solar) untuk penerangan dan kegiatan rumah

tangga lainya. Selain itu tambahan manfaat langsung yang dirasakan oleh

masyarakat dari sumberdaya air diharapkan dapat mendorong masyarakat

17
untuk memelihara daerah tangkapan air demi menjamin pasokan air bagi

kelangsungan operasi PLTMH.

2.4.1 Keberlanjutan PLTMH

Teknologi yang handal dan ketersediaan tenaga air yang terus-menerus

merupakan syarat mutlak bagi keberlanjutan PLTMH. Selain itu, sejauh mana

PLTMH dapat berkelanjutan juga bergantung pada kemauan dan kemampuan

masyarakat pengguna dalam melakukan dan membiayai pengelolaan serta

pemeliharaan.

Kemauan masyarakat pengguna untuk terlibat dan membayar cenderung

dipengaruhi oleh sejauh mana layanan PLTMH sesuai dengan harapan mereka.

Pendekatan terbaik sehingga PLTMH dapat dibangun, dikelola dan memberikan

layanan yang sesuai dengan harapan masyarakat adalah pendekatan partisipatif,

yaitu melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan mulai dari

perencanaan, pembangunan sampai pengoperasian (KESDM, 2010).

Berdasarkan pandangan dari sisi ekonomi, kehadiran layanan listrik dapat

memberikan dampak positif kepada masyarakat melalui dua cara: pertama,

penghematan pengeluaran untuk energi dibandingkan dengan jika tidak ada

pasokan listrik; dan kedua, peningkatan kegiatan-kegiatan ekonomi produktif

yang memanfaatkan pasokan listrik. Dampak positif ini pada akhirnya akan

meningkatkan keswadayaan masyarakat dalam membiayai pengelolaan dan

pemeliharaan. Oleh karena itu, setidaknya terdapat empat aspek yang saling

berkaitan dan perlu diperhatikan dalam pengembangan PLTMH, yaitu:

18
1) Aspek Teknik

PLTMH bukanlah teknologi yang tergolong rumit. Berdasarkan

pengalaman, PLTMH relatif mudah dipahami dan dioperasikan oleh masyarakat

perdesaan. Meskipun demikian PLTMH membutuhkan pemeliharaan khusus agar

tetap dapat beroperasi secara layak dalam jangka panjang. Pada dasarnya ada dua

hal yang menentukan kelayakan teknis dari operasional PLTMH, yaitu: (1)

pemilihan teknologi, (2) standarisasi dan jaminan pemeliharaan.

2) Aspek Ekonomi

Berdasarkan rentang waktu, keberlanjutan PLTMH sebagai solusi

permanen pasokan listrik bagi suatu lokasi setidaknya dipandang dengan dua cara.

Pertama yaitu keberlanjutan operasi PLTMH sampai berakhir umur pakainya.

Kedua yaitu keberlanjutan layanan listrik setelah itu.

Semua biaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan keberlanjutan

PLTMH harus dapat dipenuhi oleh pendapatan PLTMH yang idealnya hanya

bersumber dari iuran listrik yang dikumpulkan dari masyarakat pengguna. Oleh

karena itu, besarnya iuran atau tarif listrik seharusnya ditentukan berdasarkan

besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

3) Aspek Sosial

Pembangunan PLTMH dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat

sangat relevan dengan kebijakan desentralisasi penyediaan energi (listrik)

perdesaan. Pendekatan ini menyadari pentingnya kapasitas masyarakat untuk

meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal atas sumber daya material dan

non material yang penting. Masyarakat memiliki potensi baik dilihat dari sumber

daya alam maupun dari sumber sosial dan budayanya.

19
Social preparation dalam pengembangan program listrik perdesaan perlu

dilaksanakan mengingat masyarakat memiliki ‘kekuatan’ yang bila digali dan

dikembangkan akan dapat menjadi kekuatan yang besar untuk pengentasan

kemiskinan. Masyarakat yang tentunya lebih memahami kebutuhannya sendiri

perlu difasilitasi agar lebih mampu mengenali permasalahan-permasalahannya

sendiri dan merumuskan rencana-rencananya serta melaksanakan pembangunan

secara mandiri dan swadaya.

Dalam kaitannya dengan pengembangan listrik perdesaan, pembangunan

dan pengelolaan sumberdaya alam (dalam hal ini adalah sumberdaya air) oleh

masyarakat lokal merupakan media pengembangan rasa percaya diri masyarakat,

yang akan menjadi dasar utama kemampuan kemandirian masyarakat tersebut.

Pengalaman program listrik perdesaan di beberapa negara berkembang

menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas masyarakat lokal merupakan unsur

penting dalam keberlanjutan program.

Dalam proses pemberdayaan masyarakat dan pembangkitan kemandirian,

partisipasi merupakan komponen yang sangat penting. Tumbuhnya partisipasi

masyarakat akan menjadi jaminan berlangsungnya pembangunan energi perdesaan

secara berkelanjutan. Untuk itu perlu strategi pendampingan masyarakat yang

dapat memaksimalkan tingkat partisipasi.

Ada empat hal yang mempengaruhi persiapan sosial dari operasional

PLTMH, yaitu: (1) Partisipasi Masyarakat, (2) Pola Pemanfaatan Listrik, (3)

Pengembangan Kelembagaan dan (4) Dukungan Kelembagaan.

20
4) Aspek Sumberdaya Alam

Keberlanjutan PLTMH ditentukan dukungan potensi sumberdaya alam

yang ada, terutama ketersediaan air sungai sebagai sumber energi primer bagi

PLTMH. Ketersediaan air sungai sangat tergantung pada konservasi catchment

area (wilayah tangkapan air) dari hulu sungai tersebut. Lingkungan hidup yang

terjaga dan terpelihara akan menjamin kelestarian sumberdaya air dan menjamin

pasokan energi primer bagi PLTMH.

Program pelistrikan perdesaan melalui pengembangan PLTMH

seyogyanya diiringi dengan kegiatan konservasi hutan. Masyarakat yang

menggunakan PLTMH diharapkan dapat memahami manfaat keberadaan hutan

sebagai catchment area. Dengan demikian, masyarakat juga akan tergerak untuk

menjaga kelestarian hutan, dengan tidak melakukan penebangan liar dan merusak

keanekaragaman hayati yang terdapat di sekitar hutan. Lebih jauh, masyarakat

juga akhirnya dapat mengambil peranan penting untuk menjaga agar hutan tetap

terpelihara.

Pengelolaan sumberdaya alam sebaiknya dilakukan oleh masyarakat

sendiri berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki. Masyarakat

perlu didorong untuk secara mandiri merumuskan aturan-aturan yang kemudian

harus disepakati bersama sehingga semua anggota masyarakat terikat pada aturan-

aturan itu. Kesepakatan-kesepatakan yang terbentuk di masyarakat demi

kelestarian hutan juga menumbuhkan dan melestarikan kearifan budaya lokal

yang sebenarnya telah dimiliki bangsa Indonesia.

Dalam aturan-aturan yang disepakati tersebut juga perlu dicantumkan

sanksi-sanksi yang diberlakukan bagi mereka yang melanggar sehingga aturan

21
tersebut bisa benar-benar berlaku sebagai norma atau nilai bagi masyarakat.

Kesepakatan konservasi ini jika dilaksanakan secara konsisten dengan penerapan

sanksi yang tegas akan menentukan keberlanjutan operasional PLTMH dari aspek

sumberdaya alam.

2.4.2 Keberlanjutan PLTMH dari Aspek Ekonomi

Empat hal yang mempengaruhi keberlanjutan PLTMH dari aspek

ekonomi, yaitu: (1) pembiayaan pembangunan, (2) pembiayaan pengelolalaan, (3)

penetapan tarif listrik dan (4) pemanfaatan untuk kegiatan ekonomi produktif.

1) Pembiayaan Pembangunan

Pembangunan PLTMH dan sistem penyaluran listrik membutuhkan biaya

yang relatif besar. Pada umumnya biaya pembangunan berasal dari luar

masyarakat pengguna karena terbatasnya kemampuan pembiayaan oleh

masyarakat. Kontribusi masyarakat juga tetap diperlukan untuk menekan

kebutuhan biaya. Biaya dari luar dapat berbentuk hibah, pinjaman, ataupun

investasi, sedangkan kontribusi dari masyarakat bisa berbentuk materi, tenaga,

ataupun uang.

Sampai saat ini, sebagian besar dana dari luar untuk pembangunan

PLTMH berbentuk hibah. Artinya masyarakat pengguna tidak perlu

mengembalikan dana pembangunan. Meskipun demikian, bukan berarti

masyarakat tidak perlu membayar biaya penyusutan nilai asset. Demi

keberlanjutan PLTMH, biaya penyusutan perlu diperhitungkan dalam penetapan

iuran listrik sehingga pada saat PLTMH selesai umur pakainya telah tersedia dana

yang cukup untuk membangun PLTMH baru sebagai pengganti.

22
Pada kasus dana pembangunan berasal dari pinjaman, kemampuan

masyarakat dalam mengembalikan pinjaman dapat menjadi indikasi untuk

diperolehnya lagi pinjaman serupa di waktu mendatang. Begitu juga jika dana

pembangunan merupakan investasi, kembalian investasi yang diperoleh dapat

menjadi indikasi kelayakan investasi serupa. Persoalannya, pembiayaan

pembangunan PLTMH menggunakan dana-dana komersial cenderung tidak layak

secara ekonomis. Untuk itu, perlu diupayakan skema-skema khusus agar PLTMH

dapat dibangun menggunakan dana pinjaman atau investasi.

Berkaitan dengan program pembangunan perdesaan, pengembangan

PLTMH seharusnya dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini

perlu diupayakan agar muncul swadaya masyarakat di dalam komponen

pembiayaan. Bantuan bersubsidi penuh idealnya hanya digunakan pada kondisi

tertentu. Besarnya kontribusi masyarakat dalam pembangunan PLTMH juga akan

semakin meningkatkan rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun. Rasa

memiliki ini pada akhirnya dapat meningkatkan partisipasi dari masyarakat.

2) Pembiayaan Pengelolaan

Selintas biaya operasional PLTMH terkesan murah karena energi

primernya adalah air yang praktis tidak perlu dibeli. Tetapi biaya perawatan

instalasi pembangkit (bangunan sipil maupun pembangkit listrik) dan jaringan

transmisi ataupun distribusi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika

terjadi kerusakan yang mengharuskan perbaikan besar. Biaya operasional dan

perawatan meliputi:

a) Biaya operasional rutin (gaji pengelola, biaya administrasi).

23
b) Pemeliharaan dan perbaikan terjadwal yang besar biayanya seharusnya

sudah dapat diperkirakan sejak awal.

c) Perbaikan kerusakan-kerusakan tidak terduga.

3) Penetapan Tarif Listrik

Keberlanjutan PLTMH akan lebih mungkin tercapai jika pendapatan yang

diperoleh dari iuran pengguna dapat menutupi semua biaya yang harus

ditanggung. Oleh karena itu, tarif listrik perlu ditetapkan sedemikian rupa

sehingga dapat menghasilkan total pendapatan yang diharapkan. Tarif listrik yang

terlalu rendah pada akhirnya akan merugikan masyarakat sendiri. Biaya yang

harus ditanggung oleh suatu PLTMH secara garis besar yaitu biaya modal dan

biaya operasional pemeliharaan.

Jika PLTMH dibangun menggunakan dana pinjaman, maka biaya modal

yang harus dibayar berupa angsuran dan bunga pinjaman. Jika PLTMH dibangun

menggunakan dana investasi, maka biaya modal yang harus dibayar berupa

penyusutan dan kembalian (return) untuk investasi. PLTMH yang dibangun

menggunakan dana hibah dapat dianggap sebagai investasi oleh masyarakat

pengguna, sehingga biaya penyusutan dan kembalian investasi tersebut menjadi

milik masyarakat. Akumulasi uang dari penyusutan dan kembalian investasi

tersebut harus dipisahkan. Sedapat mungkin dana tersebut tidak diganggu gugat

karena merupakan dana cadangan untuk investasi kembali ketika PLTMH yang

ada perlu diganti dengan yang baru karena sudah habis umur pakainya.

Biaya operasional dan pemeliharaan terdiri atas biaya operasional rutin,

biaya pemeliharaan dan perbaikan terjadwal dan biaya perbaikan-perbaikan yang

tidak terduga. Informasi-informasi tentang kebutuhan biaya-biaya tersebut perlu

24
dijelaskan kepada masyarakat pengguna agar masyarakat dapat bersikap lebih

bijaksana pada saat musyawarah penetapan tarif. Selain itu penetapan tarif juga

perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain, misalnya daya beli masyarakat,

pemerataan dan rasa keadilan.

4) Pemanfaatan untuk Kegiatan Ekonomi Produktif

Pada umumnya pemanfaatan listrik PLTMH oleh masyarakat perdesaan

adalah untuk penerangan dan hiburan (televisi dan radio) di malam hari.

Penggunaan pada siang hari hampir tidak ada, bahkan kebanyakan PLTMH hanya

dioperasikan pada malam hari.

Penggunaan listrik untuk penerangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya

bukan berarti tidak memberikan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat.

Setidaknya masyarakat bisa menghemat pengeluaran jika dibandingkan dengan

penggunaan lampu minyak tanah atau generator diesel untuk penerangan. Namun

dampak positif PLTMH akan semakin meningkat jika adanya layanan listrik juga

mendorong berkembangnya kegiatan-kegiatan ekonomi produktif yang

memanfaatkan energi listrik pada siang hari. Dampak positif ini pada akhirnya

akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga iuran listrik juga lebih lancar.

Bagi pengelola PLTMH sendiri, termanfaatkannya energi pada siang hari akan

semakin meningkatkan peluang untuk memperoleh pendapatan (Dinas ESDM,

2009)

2.4.3 Analisis Ekonomi Pembangunan PLTMH

Pembangunan PLTMH di Indonesia pada umumnya dibiayai

menggunakan dana-dana hibah. Penggunaan dana pinjaman atau investasi untuk

PLTMH masih belum populer. Begitu juga pembiayaan PLTMH dengan pola

25
swadaya biasanya hanya mampu dilakukan oleh perusahaan swasta ataupun

perorangan yang digunakan untuk kepentingan usaha atau bisnis.

Namun tidak berarti bahwa penggunaan dana investasi atau pinjaman tidak

layak untuk PLTMH. Meskipun skema komersial murni hampir tidak mungkin

diterapkan, masih terdapat alternatif-alternatif lain yang bisa dicoba. Sebagai

contoh perpaduan antara hibah, pinjaman lunak dan pinjaman komersial dengan

grace period (waktu tenggang) yang panjang serta swadaya masyarakat (baik

dalam bentuk material, finansial maupun tenaga).

Analisis kelayakan ekonomi pembangunan PLTMH dimulai dengan

menentukan sifat sumber dana seperti hibah, pinjaman, investasi, swadaya, atau

perpaduan antara sumber-sumber tersebut. Kemudian langkah-langkah

selanjutnya adalah sebagai berikut:

a) Menentukan masa pengembalian seluruh investasi (Break Event Point)

b) Merancang pola pengembalian dana (kepada investor, bank atau kas lembaga

pengelola PLTMH)

c) Membuat proyeksi keuangan lengkap dengan cash flow, neraca rugi laba,

Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV)

d) Menentukan rata-rata biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat per bulan

e) Memperkirakan jumlah iuran listrik per bulan yang harus dikeluarkan per

kepala keluarga.

Sumber dana perlu diketahui bentuknya untuk menentukan besarnya dana

yang harus dikembalikan oleh masyarakat setempat melalui pembayaran iuran

bulanan. Pengembalian untuk dana pinjaman meliputi angsuran dan bunga

pinjaman, sedangkan pengembalian untuk dana investasi meliputi penyusutan dan

26
kembalian (return) untuk investasi. PLTMH yang dibangun menggunakan dana

hibah dapat dianggap sebagai investasi oleh masyarakat pengguna. Penjajagan

awal kepada pihak penyandang dana perlu dilakukan untuk menentukan besarnya

bunga, return, dan masa pengembalian. Lebih baik lagi jika kesepakatan dengan

penyandang dana sudah dapat diperoleh sejak awal.

Analisis keuangan harus dibuat untuk beberapa opsi pembangunan yang

layak secara teknis. Pada akhirnya yang menentukan apakah ada atau tidak opsi

pembangunan yang layak adalah masyarakat pengguna. Meskipun demikian,

dengan membandingkan perkiraan jumlah iuran listrik yang harus ditanggung

masyarakat dan tingkat daya beli yang diperoleh dari hasil studi, sejak awal kita

bisa membuang opsi yang menghasilkan iuran listrik terlalu mahal. Begitu juga

jika sudah ada informasi tentang batas maksimum ketersediaan dana dari

penyandang dana dan besarnya kontribusi masyarakat, kita memiliki pegangan

tentang batas maksimum total anggaran proyek.

2.5 Persepsi

Leavitt (1978) menyatakan bahwa persepsi dalam arti sempit ialah

penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas

ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau

mengartikan sesuatu. Persepsi seseorang ditentukan oleh kebutuhan individu yang

mendorong individu berperilaku, dimana perilaku individu tersebut ditentukan

oleh persepsi mereka terhadap lingkungan.

Sarwono (1999) dalam Triani (2009) menyatakan bahwa persepsi

seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah

faktor-faktor yang terdapat dalam individu, seperti jenis kelamin, perbedaan

27
generasi (umur), motif, tingkat pendidikan, dan tingkat pengetahuan. Faktor

eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan luar yang mempengaruhi

persepsi seseorang, seperti lingkungan sosial budaya (misalnya suku bangsa) dan

media komunikasi dimana seseorang memperoleh informasi tentang sesuatu.

Effendi (1977) mengungkapkan bahwa persepsi adalah penginderaan

terhadap kesan yang timbul dari lingkungannya. Daya persepsi seseorang dapat

diperkuat oleh adanya pengetahuan dan pengalaman. Semakin sering seseorang

menempatkan diri dalam komunikasi, akan semakin kuat daya persepsinya. Secara

umum persepsi seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: (1) diri orang yang

bersangkutan (sikap, motivasi, kepentingan, pengalaman, dan harapan); (2)

sasaran persepsi (orang, benda atau peristiwa); (3) situasi (keadaan lingkungan).

2.6 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Habibah (2012) adalah dampak

pembangkit listrik tenaga mikrohidro terhadap sosial, ekonomi, dan lingkungan di

Kampung Lebakpicung, Cibeber, Lebak, Banten. Hasil penelitian ini menjelaskan

bahwa pembangunan PLTMH memberikan berbagai manfaat kepada masyarakat,

terutama listrik untuk penerangan. Dampak langsung adanya PLTMH hanya

dirasakan oleh responden yang memiliki mata pencaharian sebagai tukang

bangunan dan pemilik warung. Pembangunan PLTMH memberikan dampak

terhadap kelembagaan agama, kelembangaan adat, dan kelembagaan formal di

Kampung Lebakpicung. Setelah pembangunan PLTMH (tahun 2011), telah terjadi

penghematan pada total konsumsi energi di Kampung Lebakpicung yaitu sebesar

Rp 1.212.068 per bulan dan telah terjadi surplus pada total pendapatan bersih di

Kampung Lebakpicung yaitu sebesar Rp 5.963.985 per bulan. Setelah

28
pembangunan PLTMH (pada tahun 2011) diketahui terdapat hubungan antara

pendapatan dengan biaya listrik. Surplus pendapatan akan cenderung diiringi juga

oleh peningkatan biaya listrik.

Penelitian yang dilakukan oleh Al-Kindi (2011) adalah analisis tekno

ekonomi mikrohidro untuk desa mandiri energi di Kampung Lebakcipung,

Hegarmanah, Cibeber, dan Lebak Provinsi Banten. Hasil penelitian ini

menjelaskan bahwa tarif per bulan yang digunakan berdasarkan jumlah jenis

barang elektronik yang dipunyai setiap rumah tangga. Total semua iuran adalah

RP 754.000 per bulan. Setelah dihitung analisis biayanya pembangunan PLTMH

di Kampung Lebakpicung tidak layak untuk bisnis, dikarenakan iuran yang

dibayar sangat kecil hanya sebesar Rp 239 per kWh yang seharusnya Rp 1.015 per

kWh. Hal ini disebabkan besarnya biaya awal sebesar Rp 263.600.000 dan biaya

perbaikan sebesar Rp 5.466.000 per tahun. Akan tetapi pembangunan PLTMH

dimaksudkan untuk memberikan pelayanan listrik pada Kampung Lebakpicung

maka masyarakat tidak wajib membayarnya.

Dalam perhitungan NPV, IRR, dan Payback period dilakukan dengan

membuat asumsi. Tarif listrik golongan pelayanan sosial 2200 VA, tarif listrik

untuk rumah tangga 1300 VA dan 2200 VA dianggap sebagai pemasukan

(benefit) dan tarif PLTMH sebagai pengeluaran (cost). Tujuan pengasumsian

untuk mengetahui keuntungan yang didapat oleh masayarakat Kampung

Lebakpicung dibanding dengan tarif PLN.

29
III. KERANGKA PEMIKIRAN

Setiap aktivitas ekonomi pasti memerlukan energi dalam pelaksanaannya.

Akan tetapi, tahun demi tahun menunjukkan kondisi energi yang semakin

berkurang. Energi yang menipis ini tentu tidak akan dapat memenuhi kebutuhan

terhadap energi di seluruh daerah di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah

mencanangkan program DME yang digunakan untuk memajukan suatu daerah

agar dapat secara mandiri dalam menyediakan energi untuk daerahnya. Selain itu,

diharapkan pula untuk dapat memenuhi kebutuhan energi di luar daerahnya.

Program DME ini tentu tidak terlepas dari peran aktif masyarakatnya. Hal ini

dikarenakan masyarakatlah yang menjadi aktor utama dalam mengembangkan

program DME. Dengan adanya program DME ini, tentu harus ada manfaat yang

dapat dirasakan masyarakat, yaitu kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan

masyarakat ini terkandung dalam tiga tujuan pengembangan DME. Salah satu

bentuk pengembangan program DME ini yaitu pembangunan PLTMH.

PLTMH dibangun atas dasar keterbatasan aksesibilitas dalam

pendistribusian listrik oleh PLN. Hal ini dikarenakan letak desa yang sulit

dijangkau oleh jaringan listrik. Adapun desa yang mudah terjangkau, akan tetapi

proses instalasi jaringan listrik memerlukan biaya yang sangat mahal.

Dengan adanya PLTMH, suatu desa dapat mandiri dalam menyediakan

kebutuhan listriknya sendiri. Kabupaten Bogor telah menerapkan pembangunan

PLTMH di Kecamatan Megamendung. Desa yang ditunjuk sebagai lokasi

pembangunan PLTMH yaitu Desa Megamendung khususnya di Kampung

Paseban.

30
Tahap awal dari penelitian ini adalah dengan mengidentifikasi persepsi

masyarakat terhadap pembangunan PLTMH Ciesek di Desa Megamendung.

Persepsi masyarakat ini akan berpengaruh terhadap pengembangan PLTMH

Ciesek. Pendekatan analisis deskriptif dan wawancara langsung kepada responden

digunakan untuk menentukan persepsi masyarakat. Tahap kedua adalah

mengidentifikasi kinerja produksi, distribusi, dan sistem pembayaran listrik yang

dilakukan dengan analisis deskriptif dan wawancara langsung kepada pihak yang

terkait dengan pengelolaan PLTMH Ciesek. Tahap ketiga adalah mengestimasi

kelayakan dan keberlanjutan PLTMH Ciesek. Hasil analisis tersebut diharapkan

dapat memberikan informasi serta membantu pemerintah dalam menentukan

kebijakan dalam mengembangkan sumber energi alternatif dalam membangkitkan

listrik. Untuk mempermudah pelaksanaan penelitian, dibuat alur pemikiran yang

dapat dilihat pada Gambar 1.

31
Aktivitas ekonomi memerlukan energi dalam pelaksanaanya

Energi listrik

Belum adanya jaringan listrik dari


PLN ke desa

Pembangunan Pembangkit Listrik


Tenaga Mikrohidro

Pengelola Masyarakat
Pengguna

Kinerja produksi,
distribusi, dan sistem
pembayaran listrik Persepsi masyarakat Estimasi kelayakan dan
PLTMH: mengenai PLTMH: keberlanjutan PLTMH:
Analisis Deskriptif Analisis Deskriptif Analisis Kelayakan

1. Keberlanjutan PLTMH di lokasi penelitian


2. Informasi bagi pemerintah dalam menentukan
kebijakan sumber energi alternatif dalam
membangkitkan listrik

Keterangan: Hubungan langsung


Cakupan penelitian
Gambar 1. Diagram Alur Pemikiran

32
IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Paseban, Desa Megamendung,

Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan

lokasi penelitian dilakukan secara sengaja karena di Kampung Paseban terdapat

salah satu PLTMH yang baru dibangun. Pengambilan data primer dilakukan pada

bulan Juni sampai dengan Juli 2012.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data

sekunder. Data primer diperoleh melalui proses wawancara langsung kepada

masyarakat setempat dengan menggunakan kuesioner. Wawancara dilakukan

untuk mendapatkan informasi mengenai persepsi masyarakat terhadap

pembangunan PLTMH Ciesek, kinerja produksi dari PLTMH, distribusi listrik

PLTMH, dan sistem pembayaran dari PLTMH.

Data sekunder meliputi data yang relevan dan terkait dengan penelitian.

Data sekunder diperoleh dari Unit Pelaksana Teknis Dinas ESDM Wilayah I

Cianjur, Kantor Desa Megamendung, pengelola PLTMH Ciesek serta studi

literatur terkait lainnya. Data primer dan data sekunder ini diolah secara

kuantitatif dan kualitatif yang akan dianalisa secara deskriptif.

4.3 Metode Penentuan Jumlah Sampel

Berdasarkan informasi dan data yang diperoleh maka penentuan lokasi

penelitian ditentukan secara sengaja (purposive sampling). Jumlah sampel dalam

penelitian ini sebanyak 57 responden (kepala keluarga) yang merupakan

konsumen listrik dari PLTMH Ciesek.

33
4.4 Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian yang telah dilakukan, dianalisis

secara kualitatif dan kuantitatif agar data menjadi lebih mudah diinterpretasikan

dan dipahami. Hal ini akan membuat informasi yang akan disampaikan menjadi

lebih mudah. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan

program software Microsoft Excel 2007. Data yang diolah kemudian dianalisis

secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel, gambar, dan grafik. Tabel 3

menguraikan keterkaitan antara tujuan penelitian, sumber data, dan metode

analisis data dalam penelitian.

Tabel 3. Metode Analisis Data Berdasarkan Tujuan Penelitian


No. Tujuan Penelitian Sumber Data Metode Analisis Data
1. Mengidentifikasi persepsi Data primer Analisis deskriptif
masyarakat mengenai kualitatif
pembangunan PLTMH Ciesek
2 Mengidentifikasi kinerja Data primer dan Analisis deskriptif
produksi, sistem distribusi, dan sekunder kualitatif
sistem pembayaran listrik
PLTMH Ciesek
3 Mengestimasi kelayakan dan Data primer dan Analisis kelayakan
keberlanjutan PLTMH Ciesek sekunder
Sumber: Penulis (2012)

4.4.1. Identifikasi Persepsi Masyarakat Mengenai Pembangunan PLTMH


Ciesek

Analisis data yang digunakan untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat

dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan

suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set

kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa

sekarang. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan

secara sistematis, aktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta

hubungan antara fenomena yang diselidiki (Nazir, 1999).

34
Menurut Hasan (2009), terdapat beberapa kelebihan analisis deskriptif,

salah satunya adalah peneliti dapat memberikan rangkuman hasil penelitian dalam

bentuk lebih berarti dan ringkas, karena memberikan aturan-aturan tertentu. Selain

itu, analisis ini dapat menarik kesimpulan (memberi konsep-konsep dan general).

4.4.2 Identifikasi Kinerja Produksi, Sistem Distribusi, dan Sistem


Pembayaran PLTMH Ciesek

Analisis data yang digunakan untuk mengidentifikasi kinerja produksi,

sistem distribusi dan sistem pembayaran PLTMH dilakukan dengan menggunakan

analisis deskriptif. Informasi yang akan dicari yaitu mengenai kinerja produksi

dari PLTMH, sistem distribusi listrik PLTMH dari produsen sampai ke konsumen,

dan sistem pembayaran dalam memanfaatkan PLTMH Ciesek.

4.4.3 Estimasi Kelayakan dan Keberlanjutan PLTMH Ciesek

Estimasi kelayakan pembangunan PLTMH Ciesek dilakukan dengan

analisis biaya dan manfaat. Analisis biaya dan manfaat yang dilakukan yaitu

dengan perhitungan net present value (NPV). Manfaat dan biaya yang dihitung

dengan discount factor yang telah memperhitungkan time value of money selama

umur proyek. Manfaat dalam proyek ini berupa manfaat langsung yaitu hasil

penjualan listrik kepada masyarakat yang menjadi penerimaan bagi PLTMH

Ciesek. Besarnya iuran listrik dari PLTMH Ciesek dibedakan menjadi dua

kategori. Kategori I yaitu tarif listrik sebesar Rp 15.000 untuk konsumen listrik

yang tidak memiliki barang elektronik dan kategori II yaitu tarif listrik sebesar Rp

20.000 untuk konsumen listrik yang memiliki barang elektronik seperti televisi.

35
Nilai NPV dapat dicari dengan menggunakan Microscoft Excel atau secara

matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: (Gittinger, 1986)

Keterangan:

Bt = penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t (rupiah) =


biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t (rupiah) Ct

n = umur proyek (asumsi 10 tahun)

t= 1,2,3,........n

36
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1Gambaran Umum Desa Megamendung

Desa Megamendung merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan

Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis, Desa

Megamendung berbatasan dengan Desa Karang Tengah di sebelah utara, Desa

Cilember di sebelah timur, Desa Cipayung Girang di sebelah selatan, dan Desa

Tugu Utara di sebelah barat.

Jarak dari Kecamatan Megamendung ke Desa Megamendung adalah 8 km,

jarak dari pusat kota administratif (Depok) adalah 42 km, jarak dari ibu kota

Kabupaten Bogor (Cibinong) adalah 38 km, jarak dari ibu kota Provinsi Jawa

Barat (Bandung) adalah 120 km, dan jarak dari ibu kota negara (Jakarta) adalah 80

km. Wilayah Desa Megamendung terbentang seluas 1200 Ha yang terbagi

menjadi wilayah berbukit, dataran tinggi, dan lereng gunung. Desa Megamendung

terletak 600-900 m di atas permukaan laut.

Berdasarkan status kepemilikannya, tanah di Desa Megamendumg terbagi

menjadi 763,4 Ha (63,6%) tanah bersertifikat dan 436,6 Ha (36,4%) tanah yang

belum bersertifikat. Status tanah Desa Megamendung dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Sebaran Persil Tanah berdasarkan Jenis Sertifikat Tanah di Desa


Megamendung Tahun 2012
No. Status Jumlah (buah) Luas (Ha)
1. Tanah bersertifikat
Sertifikat Hak Milik 32 6,4
Sertifikat Hak Guna Usaha 1 136,0
Sertifikat Hak Guna Bangunan 120 360,0
Sertifikat Hak Pakai 87 261,0
2. Tanah yang belum bersertifikat - 436,6
Total 240 1200,0
Sumber: Desa Megamendung (2012)

37
Tabel 5 menunjukkan bahwa tanah di Desa Megamendung paling banyak

diperuntukkan bagi hutan Perhutani, yaitu seluas 668,5 Ha (55%) dan untuk

pemukiman atau perumahan, yaitu seluas 300 Ha (25%). Tanah di Desa

Megamendung berdasarkan peruntukannya dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Sebaran Persil Lahan berdasarkan Peruntukannya di Desa


Megamendung Tahun 2012
No. Peruntukan Luas Persentase (%)
1. Jalan 45,50 Km 100,00
2. Perkuburan 0,50 Ha 0,04
3. Bangunan umum 1,50 Ha 0,01
4. Jalur hijau 30,00 Ha 2,60
5. Sawah dan ladang 150,00 Ha 13,04
6. Pemukiman/perumahan 300,00 Ha 26,07
7. Lain-lain (Hutan Perhutani) 668,50 Ha 58,24
Total Luas (tanpa jalan) 1150,50 Ha 100,00
Sumber: Desa Megamendung (2012)

Mayoritas penduduk di Desa Megamendung lulusan SMA, yaitu sebanyak

1.200 orang. Lulusan SMP sebanyak 1.078 orang, lulusan Sekolah Dasar

sebanyak 350 orang, lulusan taman kanak-kanak sebanyak 176 orang, dan lulusan

akademi serta sarjana sebanyak 345 orang. Jumlah penduduk di Desa

Megamendung berdasarkan jenis kelamin dibedakan menjadi laki-laki sebanyak

3.298 orang (45%) dan perempuan sebanyak 3.017 orang (55%).

Desa Megamendung terdiri atas 18 Rukun Tetangga (RT) dan 5 Rukun

Warga (RW) dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 1.835. Berdasarkan

data yang diperoleh, mayoritas penduduk Desa Megamendung beragama Islam

atau sebanyak 6.284 orang (99,3%), Kristen Protestan berjumlah 9 orang (0,2%),

Kristen Katholik berjumlah 20 orang (0,4%), dan Hindu sebanyak 5 orang (0,1%).

Penelitian ini secara khusus difokuskan pada Kampung Paseban karena di daerah

ini terdapat lokasi pembangunan PLTMH. Kampung Paseban merupakan bagian

dari Desa Megamendung yang terletak di RT 04/05. Kampung Paseban ini 38


terletak 900 meter di atas permukaan laut. Jarak dari pusat Desa Megamendung ke

Kampung Paseban adalah 7 km dan merupakan kampung yang paling jauh dari

pusat desa tersebut. Masyarakat Kampung Paseban biasanya menggunakan motor

atau berjalan kaki dalam mobilitasnya sehari-hari karena tidak ada kendaraan

umum untuk mencapai Kampung Paseban. Jika menggunakan angkutan umum

berupa ojeg, biasanya masyarakat dikenakan tarif sebesar Rp 40.000 dari

Kampung Paseban ke pusat Desa Megamendung.

Kondisi Kampung Paseban sangat berbeda dengan kondisi Desa

Megamendung secara umum. Berdasarkan informasi Ketua RT Kampung

Paseban, penduduk di Kampung Paseban terdiri dari 70 kepala keluarga.

Masyarakat di kampung tersebut mayoritas bekerja di bidang pertanian, yaitu

sebagai buruh tani, tukang kebun, dan peternak. Berdasarkan pengamatan di

lapangan, kondisi rumah tinggal di Kampung Paseban kurang layak dibandingkan

dengan wilayah lain di Desa Megamendung.

Kampung Paseban tidak memiliki fasilitas kesehatan dan pendidikan,

sehingga masyarakat harus pergi ke kampung terdekat, yaitu Kampung Citamiang

yang berjarak sekitar 2 km dari Kampung Paseban yang dapat ditempuh dengan

menggunakan motor dalam waktu tempuh selama 20 menit. Terdapat sebuah

mushola yang digunakan masyarakat di Kampung Paseban untuk beribadah.

5.2 Pembangunan PLTMH Ciesek

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunjuk beberapa lokasi pembangunan

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di Kabupaten Bogor, yang tersebar pada

tiga kecamatan yaitu Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan Sukajaya, dan

Kecamatan Megamendung.

39
PLTMH Ciesek berlokasi di Kampung Paseban, Desa Megamendung,

Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi

PLTMH ini berada pada ketinggian 200 m di atas permukaan laut. Pembangunan

PLTMH ini didasari karena permintaan listrik yang meningkat dari masyarakat

Kampung Paseban. Oleh karena itu, masyarakat yang diperantarai oleh aparat

Desa Megamendung mengajukan permohonan pada pemerintah daerah agar

Kampung Paseban dapat menikmati listrik dari PLN. Akan tetapi, karena jaraknya

yang jauh dari pusat listrik PLN, menjadikan Kampung Paseban tidak mendapat

aliran langsung dari PLN. Jika dipaksakan untuk mendistribusikan listrik dari

PLN ke Kampung Paseban, maka akan membuat biaya menjadi sangat mahal.

Sebagai gantinya, maka pemerintah daerah melakukan pembangunan

PLTMH yang memanfaatkan sumber energi setempat. PLTMH ini 100% didanai

oleh pemerintah. Besarnya dana yang digunakan untuk membangun PLTMH ini

adalah sebesar Rp 725.490.882. PLTMH Ciesek dibangun sejak akhir tahun 2011

dan mulai beroperasi pada Januari 2012. Kegiatan pembangunan PLTMH terdiri

dari lima tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pekerjaan bangunan sipil, tahap

pekerjaan mekanikal dan elektrikal, pekerjaan distribusi dan instalasi rumah.

5.3 Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian yang dilakukan di Kampung Paseban adalah

warga yang tinggal di Kampung Paseban dan merupakan konsumen listrik dari

PLTMH Ciesek. Responden ini berjumlah 57 orang. Karakteristik utama

responden yang dapat diketahui adalah jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan,

jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan lama tinggal di

Kampung Paseban.

40
5.3.1 Jenis Kelamin Responden

Sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah laki-laki, yaitu

sebanyak 37 orang (65%), sedangkan responden perempuan berjumlah 20 orang

(35%). Responden yang didominasi laki-laki dikarenakan pada umumnya kepala

keluarga sebagai pengambil keputusan dalam suatu rumah tangga adalah laki-laki,

sehingga untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam survei laki-laki lebih

berperan.

5.3.2 Usia Responden

Tingkat usia responden bervariasi, yaitu antara 20 sampai 85 tahun. Usia

responden sebagian besar terdapat pada sebaran usia 31 sampai 40 tahun, yaitu

sebanyak 30%, sedangkan responden yang paling sedikit adalah responden

dengan selang usia 21 tahun ke bawah sebanyak 4%. Tingkat usia responden

sangat mempengaruhi keputusan responden dalam menjawab pertanyaan survei.

Perbandingan distribusi usia responden dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rentang Usia Responden di Kampung Paseban


Usia Jumlah Responden Persentase
(tahun) (orang) (%)
<21 2 4
21-30 12 21
31-40 17 30
41-50 15 26
51-60 5 9
>60 6 11
Sumber: Data primer, diolah (2012)

5.3.3 Tingkat Pendidikan Responden

Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa mayoritas

pendidikan responden tergolong rendah. Responden yang memiliki pendidikan

terakhir Sekolah Dasar (SD) sebanyak 81%, SLTP sebanyak 9%, SLTA sebayak

41
2%, dan yang tidak sekolah sebanyak 9%. Perbandingan jumlah responden

berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Tingkat Pendidikan Responden di Kampung Paseban


Jumlah Responden Persentase
Tingkat Pendidikan
(orang) (%)
SD 46 81
SLTP 5 5
SLTA 1 1
Tidak sekolah 5 5
Sumber: Data primer, diolah (2012)

5.3.4 Jenis Pekerjaan Responden

Pekerjaan responden terdiri dari beberapa jenis yaitu buruh tani, petani,

pedagang, pekebun, penjaga villa, dan lainnya. Responden yang bekerja sebagai

buruh tani merupakan responden terbanyak yaitu 33%. Responden yang bekerja

sebagai petani dan pekebun, masing-masing sebanyak 18% dan 7%. Ada pula

responden yang bekerja sebagai pedagang yaitu sebanyak 12%. Responden yang

menjadi ibu rumah tangga sebanyak 19%, sedangkan sisanya sebanyak 11 % ada

yang bekerja sebagai penjaga villa dan objek wisata, tukang ojeg, dan penjual

pala. Perbandingan jumlah responden berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat

pada tabel 8.

Tabel 8. Jenis Pekerjaan Responden di Kampung Paseban


Jumlah Responden Persentase
Jenis Pekerjaan
(orang) (%)
Buruh tani 19 33
Pedagang 7 12
Petani 10 18
Pekebun 4 7
Ibu rumah tangga 11 19
Lainnya 6 11
Sumber: Data primer (diolah), 2012

42
5.3.5 Tingkat Pendapatan Responden

Berdasarkan hasil survei, masyarakat di Kampung Paseban berada pada

tingkat pendapatan menengah ke bawah. Hal ini ditunjukkan dengan sebagian

besar responden memiliki pendapatan di bawah Rp 500.000 yaitu sebanyak 46%.

Responden yang memiliki pendapatan antara Rp 500.000 sampai dengan

Rp 800.000 sebanyak 30%. Sebanyak 23% responden memiliki pendapatan antara

Rp 800.001 sampai dengan Rp 1.100.000, sedangkan sisanya sebanyak 2%

memiliki pendapatan di atas Rp 1.100.000. Perbandingan jumlah responden

berdasarkan tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Tingkat Pendapatan Responden di Kampung Paseban


Tingkat Pendapatan Jumlah Responden Persentase
(Rp) (orang) (%)
< 500.000 26 46
500.000-800.000 17 30
800.001-1.100.000 13 23
>1.100.000 1 2
Sumber: Data primer, diolah (2012)

5.3.6 Jumlah Anggota Keluarga Responden

Karakteristik responden yang perlu diketahui yaitu jumlah anggota

keluarga atau jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah. Jumlah ini akan

mempengaruhi konsumsi untuk pemenuhan kebutuhan listrik. Sebanyak 32%

responden, jumlah anggota keluarganya sebanyak 4 orang. Responden yang

jumlah anggota keluarganya 8 orang dan merupakan jumlah terbanyak hanya 2%.

Perbandingan jumlah responden berdasarkan jumlah anggota keluarga dapat

dilihat pada Tabel 10.

43
Tabel 10. Jumlah Anggota Keluarga Responden di Kampung Paseban
Anggota Keluarga Jumlah Responden Persentase
(orang) (orang) (%)
2 8 14
3 8 14
4 18 32
5 14 25
6 4 7
7 4 7
8 1 2
Sumber: Data primer, diolah (2012)

5.3.7 Lama Tinggal Responden di Kampung Paseban

Berdasarkan survei yang dilakukan, sebagian masyarakat yang tinggal di

Kampung Paseban merupakan penduduk pendatang. Responden yang tinggal

lebih dari 30 tahun hanya 11%. Responden yang telah tinggal selama 11 tahun

sampai 15 tahun sebanyak 30%. Responden yang telah tinggal selama 16 tahun

sampai 20 tahun sebanyak 18% Perbandingan distribusi responden berdasarkan

lama tinggal dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Lama Tinggal Responden di Kampung Paseban


Lama Tinggal Jumlah Responden Persentase
(tahun) (orang) (%)
<5 8 14
5-10 9 16
11-15 17 30
16-20 10 18
21-25 3 5
26-30 4 7
>30 6 11
Sumber: Data primer, diolah (2012)

44
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Persepsi Masyarakat Mengenai Pembangunan Pembangkit Listrik


Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Ciesek

Persepsi yang diberikan masyarakat terhadap pembangunan PLTMH

merupakan suatu pandangan yang dapat menjadi evaluasi bagi pemerintah

setempat dalam menerapkan PLTMH baik di wilayah setempat ataupun di

wilayah lainnya. Persepsi masyarakat mengenai aspek lingkungan dilihat dari

kebisingan dan kualitas air. Hal ini berkaitan dengan segi konservasi, karena

pengadaan PLTMH secara tidak langsung akan mempengaruhi lingkungan

sekitarnya dalam hal ini adalah lingkungan fisik. Setiap pembangunan berarti

melakukan eksplorasi ataupun modifikasi terhadap lingkungan, sehingga akhirnya

akan mempengaruhi daya dukung lingkungan. Persepsi mengenai aspek ekonomi

dilihat dari penambahan penghasilan dan peningkatan sarana prasarana industri

kecil. Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan PLTMH dilihat dari keberadaan

kelompok dan kinerja kelompok.

Sebelum memaparkan persepsi masyarakat terhadap adanya pembangunan

PLTMH, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai kondisi umum masyarakat

Kampung Paseban terkait dengan sebelum dan setelah adanya listrik dari PLTMH.

Pembangunan PLTMH di Kampung Paseban telah memberikan perubahan bagi

masyarakat yang tinggal disana. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,

sebanyak 42 responden (74%) menyatakan bahwa sebelum adanya PLTMH,

mereka sudah mendapatkan listrik yang dihasilkan dari kincir tradisional sebanyak

41 responden dan lainnya menggunankan genset sebanyak 1 responden. Sisanya

sebanyak 15 responden (26%) menyatakan bahwa mereka belum mendapatkan

listrik. Responden yang belum memiliki sumber listrik hanya

45
mengandalkan lampu tempel yang menggunakan minyak tanah untuk penerangan

di rumah mereka. Persentase kondisi responden terhadap kepemilikan sumber

listrik sebelum adanya PLTMH terdapat pada Gambar 2.

Tidak Ada
Listrik
26%

Ada Listrik
74%
Sumber : Data primer, diolah (2012)
Gambar 2. Kondisi Responden Mengenai Kepemilikan Sumber Listrik
Sebelum Adanya PLTMH

Setelah menggunakan listrik dari PLTMH, mereka sudah tidak

menggunakan lampu tempel lagi. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih tetap

memasang kincir tradisional untuk dipakai ketika listrik dari PLTMH padam.

Berdasarkan hasil penelitian, seluruh responden (100%) menyatakan bahwa

keberadaan PLTMH memberikan manfaat bagi mereka. Manfaat yang dirasakan

tiap responden bervariasi. Selain penerangan, responden merasakan bahwa

pengadaan PLTMH ini bermanfaat bagi mereka dalam mengakses informasi baru.

Selain itu, pengadaan PLTMH juga bermanfaat dalam mempermudah pekerjaan

mereka. Responden yang hanya merasakan manfaat penerangan dari listrik yang

dihasilkan dari PLTMH sebanyak 26%. Sebanyak 67% responden menyatakan

bahwa listrik yang dihasilkan oleh PLTMH bermanfaat untuk penerangan dan

dapat menambah akses informasi baru. Sebanyak 5% responden menyatakan

bahwa adanya pengadaan PLTMH ini menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk

46
mereka. Sisanya sebanyak 2% merasakan bahwa adanya listrik dari PLTMH

mempermudah pekerjaan mereka. Adapun persepsi masyarakat mengenai manfaat

yang dirasakan, dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Manfaat yang Dirasakan Responden Setelah Adanya PLTMH


No. Jumlah Responden Persentase
Manfaat
(orang) (%)
1. Penerangan 15 26
Penerangan dan Akses
2. 38 67
Informasi Baru
Menciptakan Lapangan
3. 3 5
Pekerjaan
4. Mempermudah Pekerjaan 1 2
Total 57 100
Sumber: Data primer, diolah (2012)

Selain adanya manfaat yang dirasakan responden, ada pula keluhan yang

dirasakan responden. Seluruh responden (100%) menyatakan bahwa listrik yang

berasal dari PLTMH masih mengalami gangguan, seperti voltase tidak stabil dan

listrik yang tiba-tiba padam di malam hari.

Sebanyak 100% responden menyatakan bahwa iuran yang dibebankan

pada mereka masih terjangkau. Jika dibandingkan dengan sumber listrik

sebelumnya yaitu minyak tanah, solar, maupun kincir tradisonal, maka

pengeluaran responden untuk mendapat listrik dari PLTMH lebih murah.

Pembuatan kincir tradisonal membutuhkan biaya sebesar Rp 2.000.000 untuk

pemasangan pertama kali, dan biaya pemeliharaan sebulan sekali sebesar Rp

10.000, biaya perbaikan 2 bulan atau 3 bulan sekali sebesar Rp 30.000 untuk

pembelian karet dan laher yang rusak. Volume minyak tanah yang digunakan

untuk lampu tempel bervariasi setiap rumah tangga tergantung jumlah lampu yang

digunakan. Rata-rata penggunaan minyak tanah setiap bulannya yaitu sebanyak 3

liter dengan harga minyak tanah di Kampung Paseban sebesar Rp 10.000 per liter.

Satu orang responden memakai genset untuk menghasilkan listrik di rumahnya

47
sebelum adanya listrik dari PLTMH. Biaya yang dikeluarkan setiap bulan yaitu

sebesar Rp 100.000.

Kepuasan konsumen menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan

PLTMH. Sebanyak 61% responden menyatakan bahwa kapasitas listrik yang ada

saat ini sudah sesuai dengan kebutuhan mereka, sedangkan sebanyak 39%

responden merasa bahwa listrik yang ada saat ini belum sesuai dengan kebutuhan

mereka. Responden yang merasa bahwa kapasitas listrik yang ada sekarang ini

masih kurang karena mereka menginginkan jumlah listrik yang lebih besar.

Mereka ingin menggunakan alat elektronik lain seperti setrika dan rice cooker.

Persepsi masyarakat mengenai kapasitas listrik dari PLTMH dapat dilihat pada

Tabel 13.

Tabel 13. Persepsi Responden Terhadap Kapasitas Listrik PLTMH


Jumlah Responden Persentase
Indikator Kepuasan
(orang) (%)
Sesuai 35 61
Tidak Sesuai 22 39
Sumber: Data primer, diolah (2012)

Pembangunan PLTMH di Kampung Paseban, baik secara langsung

maupun tidak langsung mempengaruhi kondisi lingkungan fisik yang ada di

Kampung Paseban. Berdasarkan hasil yang didapat, sebanyak 75% responden

menyatakan sangat setuju jika PLTMH tidak menimbulkan kebisingan bagi

masyarakat. Sebanyak 25% responden menyatakan setuju jika PLTMH tidak

menimbulkan kebisingan bagi masyarakat. Selain dari kebisingan, aspek

lingkungan dapat pula dilihat dari segi kualitas air. Sebanyak 75% responden

sangat setuju jika PLTMH tidak menyebabkan penurunan kualitas air. Responden

sebanyak 18% menyatakan setuju jika PLTMH tidak menyebabkan penurunan

kualitas air, dan sisanya sebanyak 7% kurang setuju jika PLTMH tidak

48
menyebabkan kualitas air. Persepsi masyarakat terhadap kondisi lingkungan

Kampung Paseban dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Lingkungan


Kampung Paseban Setelah Adanya PLTMH
Persepsi (%) Total
No. Sub Indikator
1 2 3 4 5 (%)
1. PLTMH tidak
0 0 0 26 74 100
mengakibatkan kebisingan
2. PLTMH tidak
menyebabkan penurunan 0 0 7 18 75 100
kualitas air
Sumber: Data primer, diolah (2012)

Keterangan:
1 = sangat tidak setuju; 2 = tidak setuju; 3 = kurang setuju
4 = setuju; 5 = sangat setuju

Setelah melakukan perhitungan dengan skala likert, maka dapat diketahui

bahwa masyarakat sangat setuju jika PLTMH tidak mengakibatkan kebisingan.

Hal ini ditunjukkan dengan nilai persepsi sebesar 4,75. Selain itu, masyarakat

sangat setuju bahwa PLTMH tidak menyebabkan penurunan kualitas air, yang

ditunjukkan dengan nilai persepsi yang diperoleh sebesar 4,68. Masyarakat

menilai bahwa PLTMH merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan,

karena dampak yang ditimbulkannya dapat diminimalisir bahkan tidak ada sama

sekali.

Aspek lain yang dapat dilihat dari adanya pembangunan PLTMH yaitu

aspek ekonomi. Aspek ekonomi meliputi penambahan penghasilan dan

peningkatan sarana prasarana industri kecil. Responden yang merasakan

penambahan penghasilan sangat baik setelah adanya PLTMH hanya sebanyak 5%.

Sebanyak 53% responden menyatakan penambahan penghasilan yang tidak baik,

Mereka menginginkan dengan adanya PLTMH dapat menambah penghasilan

mereka. Sebanyak 56% responden menyatakan bahwa peningkatan sarana

49
prasarana industri kecil setelah adanya PLTMH sudah baik sementara sebanyak

30% responden menyatakan bahwa peningkatan sarana prasarana industri kecil

sangat baik.

Tabel 15. Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Ekonomi


Kampung Paseban Setelah Adanya PLTMH
Persepsi (%) Total
No. Sub Indikator
1 2 3 4 5 (%)
1. Penambahan penghasilan 0 53 33 9 5 100
2. Peningkatan sarana
0 0 14 56 30 100
prasarana industri kecil
Sumber: Data primer, diolah (2012)

Keterangan:

1 = sangat tidak baik; 2 = tidak baik; 3 = kurang baik


4 = baik; 5 = sangat baik

Perhitungan dengan skala Likert juga dilakukan untuk mengetahui nilai

persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi di Kampung Paseban. Dari hasil

perhitungan, didapat nilai persepsi responden sebesar 2,67 yang berarti bahwa

masyarakat menilai bahwa penambahan penghasilan yang kurang baik.

Masyarakat menilai bahwa adanya PLTMH tidak begitu berdampak pada

penghasilan yang didapat. Peningkatan sarana prasarana industri kecil dinilai baik

oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai persepsi responden yang

diberikan yaitu sebesar 4,16.

Aspek ketiga yang dapat dilihat yaitu mengenai pengelolaan PLTMH.

PLTMH dikelola oleh kelompok pengguna mikrohidro. Sebanyak 54% responden

menyatakan bahwa keberadaan kelompok sangat baik Sebanyak 60% responden

menyatakan kinerja kelompok sudah sangat baik. Persepsi masyarakat terhadap

kondisi sosial kelembagaan, dapat dilihat pada Tabel 16.

50
Tabel 16. Persepsi Masyarakat Terhadap Pengelolaan PLTMH Ciesek
Persepsi (%) Total
No. Sub Indikator
1 2 3 4 5 (%)
1. Keberadaan kelompok 0 0 12 33 54 100
2. Kinerja kelompok 0 0 0 40 60 100
Sumber: Data primer, diolah (2012)

Keterangan:
1 = sangat tidak baik; 2 = tidak baik; 3 = kurang baik
4 = baik; 5 = sangat baik

Perhitungan dengan skala Likert juga dilakukan untuk mengetahui nilai

persepsi masyarakat terhadap pengelolaan PLTMH di Kampung Paseban.

Masyarakat menilai bahwa keberadaan kelompok dan kinerja kelompok sudah

sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai persepsi yang diperoleh kedua hal

tersebut berada pada selang 4,2 sampai 5,0. Nilai persepsi masyarakat mengenai

keberadaan kelompok yaitu 4,42. Nilai persepsi masyarakat mengenai kinerja

kelompok yaitu 4,60.

6.2 Kinerja Produksi, Distribusi, dan Sistem Pembayaran Listrik


PLTMH Ciesek

6.2.1 Kinerja Produksi PLTMH Ciesek

PLTMH merupakan salah satu pembangkit listrik yang tidak menggunakan

bahan bakar sebagai media pembangkitnya. PLTMH menggunakan air sebagai

media pembangkitnya. Penggunaan PLTMH relatif lebih mudah dibanding

dengan pembangkit listrik jenis lainnya. Secara teknis, PLTMH memiliki tiga

komponen utama yaitu air sebagai sumber energi, turbin, dan generator. PLTMH

Ciesek mendapatkan energi dari aliran air yang berasal dari Sungai Ciesek.

PLTMH Ciesek telah beroperasi sejak bulan Januari 2012. Potensi daya

yang dihasilkan yaitu sebesar 18,8 kW atau sebesar 18.800 watt. Kapasitas daya

listrik yang dihasilkan yaitu sebesar 11,2 kW atau sebesar 11.200 watt.

51
Listrik yang berasal dari PLTMH dinyalakan pukul 16.00 WIB dan

dimatikan kembali pukul 07.00 WIB. Operator bertugas dalam menyalakan turbin

setiap harinya. Terkadang, listrik tiba-tiba padam di malam hari, maka operator

segera menuju rumah pembangkit untuk menyalakan turbin kembali. Setiap

konsumen memiliki waktu pelayanan aliran listrik yang sama dari PLTMH Ciesek

yaitu selama 15 jam. PLTMH Ciesek hanya mengalirkan listrik selama 15 jam

untuk menjaga kondisi mesin mikrohidro agar tidak cepat rusak. Akan tetapi,

khusus pada hari minggu ataupun hari libur, listrik dialirkan selama 24 jam.

6.2.2 Distribusi Listrik PLTMH Ciesek

Daya listrik yang ada telah didistribusikan pada 61 rumah warga yang

terletak di Kampung Paseban. Pendistribusian listrik ini dilakukan secara

bertahap. Pada bulan Januari 2012, jumlah rumah yang dialiri listrik dari PLTMH

sebanyak 54 rumah, bulan Februari 2012 jumlahnya bertambah menjadi 61

rumah. Masing-masing rumah diberikan pembatas daya atau Miniatur Circuit

Board (MCB) dengan kapasitas 1 ampere atau setara dengan 220 volt.

Kebutuhan listrik masyarakat, khususnya pada program pelistrikan desa

sangat dibatasi. Hal ini didasarkan adanya ketersediaan potensi sumber daya air,

kemampuan memelihara dan membiayai penggunaan listrik, serta besaran biaya

pembangunan. Penggunaan listrik dari PLTMH oleh masyarakat di Kampung

Paseban umumnya hanya untuk penerangan dan televisi ataupun radio di malam

hari sementara pada siang hari sebagian besar masyarakat bekerja.

Penggunaan daya maksimum di Kampung Paseban sebesar 110 watt pada

setiap sambungan atau rumah. Daya sebesar 110 watt digunakan untuk

penerangan yang menggunakan 3 buah lampu masing-masing 15 watt sehingga

52
total daya untuk penerangan berjumlah 45 watt. Selain penerangan, daya yang ada

digunakan untuk penggunaan alat elektronik seperti televisi dengan daya 60 watt.

Penggunaan tersebut dianggap cukup untuk kebutuhan pelistrikan perdesaan pada

Kampung Paseban.

6.2.3 Sistem Pembayaran PLTMH Ciesek

Sistem pembayaran listrik PLTMH Ciesek ditentukan berdasarkan

kesepakatan warga. Besarnya iuran PLTMH yang harus dikeluarkan responden

hanya digolongkan menjadi dua kategori. Kategori I yaitu tarif listrik sebesar Rp

15.000 untuk konsumen listrik yang tidak memiliki barang elektronik dan kategori

II yaitu tarif listrik sebesar Rp 20.000 untuk konsumen listrik yang memiliki

barang elektronik seperti televisi.

Pembayaran iuran listrik dilakukan setiap bulan pada tanggal 7. Penagihan

iuran ini dilakukan oleh bendahara yang mendatangi setiap rumah warga.

Kegiatan penagihan ini dilakukan dalam dua hari karena letak rumah yang

menyebar dan sangat berjauhan.

Kehadiran PLTMH Ciesek tentunya memberi keuntungan bagi masyarakat

yang tinggal di Kampung Paseban. Keuntungan dari adanya PLTMH bagi

masyarakat Paseban yaitu mereka tidak perlu membayar biaya pemasangan listrik.

Apabila dibandingkan dengan listrik yang berasal dari PLN, untuk pemasangan

baru dengan kapasitas daya terendah kelompok rumah tangga yaitu 450 VA

dikenakan biaya pemasangan sebesar Rp 657.000.

Selain itu, keuntungan yang dirasakan masyarakat yaitu tarif listrik yang

lebih murah jika dibandingan dengan listrik dari PLN. Tarif listrik per kWh dari

PLTMH Ciesek yaitu sebesar Rp 582, sedangkan tarif listrik yang berasal dari

53
PLN rata-rata sebesar Rp 729 per kWh. Tabel 17 menunjukkan tarif listrik per

kWh dari PLTMH Ciesek.

Tabel 17. Tarif Listrik per kWh PLTMH Ciesek dalam Satu Bulan
Jumlah Tarif listrik Tarif listrik
Layanan
Daya pemakaian listrik per bulan per kWh
Kategori per hari
(Watt) per bulan (Rp) (Rp)
(Jam)
(kWh)
I 45 15 20,25 15.000 741
II 105 15 47,25 20.000 423
Rata-rata 582
Sumber: Data primer, diolah (2012)

6.3 Estimasi Kelayakan dan Keberlanjutan PLTMH Ciesek

Pembangunan PLTMH Ciesek dilakukan pada tahun 2011 dan mulai

beroperasi menghasilkan listrik pada bulan Januari 2012. PLTMH Ciesek

merupakan salah satu program dari Provinsi Jawa Barat dalam bidang listrik

perdesaan. Pengadaan suatu proyek harus ditinjau dari sisi kelayakan dan

keberlanjutannya agar pembangunan proyek tersebut tidak sia-sia.

6.3.1 Estimasi Kelayakan PLTMH Ciesek

Estimasi kelayakan PLTMH Ciesek dilakukan dengan analisis biaya dan

manfaat yaitu perhitungan NPV. Identifikasi biaya dan manfaat proyek dilakukan

terlebih dahulu untuk membuat cashflow.

Biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan PLTMH Ciesek terdiri dari

biaya investasi, biaya operasional dan pemeliharaan. Berikut ini rincian biaya

PLTMH Ciesek :

1) Biaya Investasi

Biaya investasi PLTMH adalah biaya yang dikeluarkan untuk membangun

PLTMH. Biaya investasi terdiri dari biaya pembangunan sarana PLTMH dan

biaya lain-lain. Biaya pembangunan sarana PLTMH terdiri dari biaya pekerjaan

54
persiapan, biaya pekerjaan sipil, biaya pekerjaan mekanikal dan elektrikal,

pekerjaan jaringan distribusi, dan biaya instalasi rumah. Biaya lain-lain terdiri dari

biaya untuk training operator dan buku manual.

Biaya pekerjaan persiapan adalah biaya yang dikeluarkan pada tahap awal

rencana pembangunan PLTMH yang terdiri dari kegiatan setting out dan

bouwplank dan kegiatan mobilisasi bahan dan alat. Biaya persiapan ini mencapai

Rp 37.500.000.

Biaya pekerjaan mekanikal dan elektrikal merupakan biaya terbesar yang

dikeluarkan dalam pembangunan PLTMH Ciesek. Peralatan mekanikal dan

elektrikal terdiri dari turbin set, generator, panel control, ballast load, setup

instalasi, aksesoris, dan transportasi pengangkutan peralatan dari Bandung ke

lokasi PLTMH Ciesek. Biaya pekerjaan mekanikal dan elektrikal PLTMH Ciesek

ini mencapai Rp 291.500.000.

Biaya investasi PLTMH Ciesek secara keseluruhan yaitu Rp 725.490.882

yang hanya dikeluarkan pada tahun ke 0. Komponen biaya secara lengkap

disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18. Komponen Biaya Investasi PLTMH Ciesek Tahun 2011


Uraian Jumlah (Rp)
Pekerjaan persiapan 37.500.000
Pekerjaan sipil 194.410.982
Pekerjaan mekanikal dan elektrikal 291.500.000
Pekerjaan jaringan distribusi 132.675.000
Instalasi rumah (SRIR) 57.404.900
Lain-lain 12.000.000
Total 725.490.882
Sumber: Dinas ESDM Wilayah I Cianjur (2012)

2) Biaya Operasional dan Pemeliharaan

PLTMH Ciesek belum memiliki pengeluaran untuk biaya tidak tetap seperti

penggantian alat yang rusak. Biaya tetap dalam operasional PLTMH 55


Ciesek adalah biaya per bulan untuk menggaji karyawan yang mengoperasikan

dan merawat pembangkit listrik. Biaya tetap secara rinci disajikan pada Tabel 19.

Tabel 19. Biaya Operasional PLTMH Ciesek Tahun 2012


Total Total
Biaya/bulan
Personil Jumlah Biaya/bulan Biaya/tahun
(Rp)
(Rp) (Rp)
Ketua PLTMH 1 100.000 100.000 1.200.000
Administrasi 1 100.000 100.000 1.200.000
Operator 2 250.000 500.000 6.000.000
700.000 8.400.000
Sumber: Data primer, diolah (2012)

Biaya tidak tetap adalah biaya yang dialokasikan untuk keperluan operasi

dan pemeliharaan peralatan atau mesin PLTMH, terdiri atas pelumas, perawatan

bangunan, dan perawatan jalan. Dikarenakan PLTMH Paseban masih terhitung

baru dalam beroperasi dan alat-alat yang ada masih bagus, maka biaya-biaya

tersebut belum dikeluarkan.

Manfaat dari PLTMH berupa manfaat langsung yang diterima oleh

PLTMH yang berasal dari iuran warga yang memakai listrik dari PLTMH.

Besarnya iuran ditentukan berdasarkan kesepakatan warga. Iuran yang dibayarkan

warga menjadi penerimaan bagi PLTMH. Total penerimaan PLTMH Ciesek yaitu

Rp 13.380.000 per tahun yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Total Penerimaan PLTMH Ciesek Tahun 2012


Jenis Tarif Jumlah Rumah Total/bulan Total/tahun
(Rp/bulan) tangga Pengguna (Rp) (Rp/)
15.000 21 315.000 3.780.000
20.000 40 800.000 9.600.000
1.115.000 13.380.000
Sumber: Data primer, diolah (2012)

Dalam melakukan estimasi kelayakan PLTMH, diasumsikan

Pembangunan PLTMH Ciesek memiliki umur ekonomis proyek selama sepuluh

tahun yang didasarkan pada ketahanan alat mikrohidro. Asumsi lain yang

56
digunakan adalah menggunakan tingkat suku bunga sebesar 12% yang merupakan

suku bunga pinjaman. Hal ini didasarkan pada kondisi apabila masyarakat

Kampung Paseban tidak mendapat hibah dari pemerintah sehingga harus

meminjam dana untuk membangun PLTMH.

Estimasi kelayakan dilakukan dengan dua skenario, skenario I yaitu

apabila biaya investasi dimasukkan sebagai komponen pengeluaran karena modal

sendiri dan skenario II yaitu biaya investasi tidak dimasukkan sebagai komponen

pengeluaran karena merupakan dana hibah dari pemerintah. Skenario II

merupakan kondisi yang sebenarnya dari PLTMH Ciesek.

Tidak semua daerah yang berpotensi dalam mengembangkan PLTMH

mendapat bantuan dana dari pemerintah. Oleh karena itu, pembiayaan berasal dari

modal sendiri ataupun berupa pinjaman dan akan termasuk dalam komponen

biaya.

Pada PLTMH Ciesek, dana yang digunakan dalam membangun PLTMH

berasal dari dana hibah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 725.490.882. Masyarakat

tidak perlu mengembalikan dana tersebut, sehingga biaya investasi tersebut tidak

dimasukkan ke dalam komponen biaya PLTMH Ciesek. Biaya per tahun yang

dikeluarkan oleh PLTMH Ciesek hanya berupa biaya operasional dan

pemeliharaan PLTMH sebesar Rp 8.400.000. Penerimaan per tahun yang

diperoleh oleh PLTMH Ciesek sebesar Rp 13.380.000.

Perhitungan NPV dilakukan pada skenario I dan skenario II dengan asumsi


penerimaan dan biaya tetap sampai akhir umur proyek. Berdasarkan perhitungan

pada skenario I diperoleh NPV1 yang bernilai negatif sebesar Rp 697.352.771 dan

perhitungan pada skenario II diperoleh NPV2 sebesar Rp 28.138.111.

57
NPV1 yang bernilai negatif menunjukkan bahwa proyek pembangunan

PLTMH tidak menguntungkan secara ekonomi, sementara NPV2 menunjukkan

bahwa proyek pembangunan PLTMH menguntungkan secara ekonomi.

Pada skenario I menunjukkan bahwa proyek PLTMH tidak

menguntungkan karena nilai investasi yang besar, sementara penerimaan relatif

kecil. Agar proyek PLTMH ini dapat menguntungkan secara ekonomi, maka perlu

adanya upaya dalam meningkatkan penerimaan. Upaya ini dapat dilakukan

dengan memanfaatkan listrik PLTMH yang belum terpakai. Salah satunya dengan

membuat usaha penggilingan kopi. Usaha penggilingan kopi ini memanfaatkan

aliran listrik dari PLTMH yang akan menjadi penerimaan bagi PLTMH. Selain

itu, penambahan penerimaan juga dapat dilakukan dengan cara menambah

konsumen listrik yang berasal dari masyarakat yang belum mendapat aliran listrik

dari PLN.

6.3.2 Keberlanjutan PLTMH Ciesek

Sejauh ini, belum ada rencana dari PLN untuk menyalurkan listrik ke

Kampung Paseban, sehingga layanan listrik oleh PLTMH Ciesek harus

berkelanjutan. Ditinjau dari aspek teknis, keberlanjutan PLTMH bergantung pada

ketersediaan sumberdaya air. Oleh karena itu, kuantitas dan kualitas air di wilayah

PLTMH Ciesek harus dijaga. PLTMH dan masyarakat harus sama-sama

berkontribusi dalam upaya konservasi air di wilayah PLTMH Ciesek. Upaya yang

dapat dilakukan masyarakat seperti tidak membuang sampah ke sungai dan tidak

menebang pohon sembarangan. Upaya yang dilakukan oleh PLTMH Ciesek yaitu

bekerja sama dengan Perhutani dalam melakukan penghijauan. Upaya-upaya

tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan PLTMH Ciesek.

58
Selain dari aspek teknis, keberlanjutan PLTMH Ciesek ditentukan pula

dari aspek ekonomi yaitu mengenai pembiayaan PLTMH. Pembangunan PLTMH

dan sistem penyaluran listrik membutuhkan biaya yang relatif besar, begitu pula

dengan PLTMH Ciesek. Pembangunan PLTMH Ciesek sangat bergantung pada

hibah dari pemerintah. Selain pembiayaan pembangunan PLTMH Ciesek, ada

pembiayaan pengelolaan yang masih dapat tertutupi dari iuran masyarakat.

PLTMH Ciesek masih tergolong baru sehingga belum ada biaya perbaikan. Akan

tetapi, perlu adanya antisipasi dalam menghadapi kenaikan biaya pengeloaan.

Oleh karena itu, dilakukan analisis sensitivitas untuk melihat apa yang akan

terjadi terhadap hasil analisis proyek jika ada suatu perubahan dalam dasar-dasar

perhitungan biaya atau manfaat. Analisis sensitivitas yang dilakukan adalah

perubahan terhadap biaya (biaya operasional dan pemeliharaan) dan perubahan

terhadap manfaat. Analisis sensitivitas pada penelitian ini dilakukan terhadap

skenario II. Perubahan biaya operasional dan pemeliharaan pada skenario II

diasumsikan mengalami peningkatan sebesar 25%. Hasil perhitungan

menunjukkan NPV2 berubah menjadi Rp 16.272.642 yang menunjukkan bahwa

peningkatan biaya sebesar 25% masih tetap menguntungkan atau layak untuk

dilaksanakan.

Perubahan terhadap manfaat yang dilakukan adalah dengan meningkatkan

jumlah konsumen listrik pada konsumen kategori II yang menggunakan daya

listrik sebesar 105 watt. Peningkatan ini berdasarkan adanya sisa kapasitas listrik

dari PLTMH Ciesek sebesar 6055 watt. Konsumen listrik pada kategori II

diasumsikan mengalami peningkatan sebesar 58 orang sehingga totalnya menjadi

98 rumah tangga. Hasil perhitungan menunjukkan NPV sebesar Rp 94.923.747.

59
Keberlanjutan PLTMH Ciesek sangat bergantung pada pembiayaan dari

pemerintah karena biaya investasi yang digunakan untuk membangun PLTMH

terlalu mahal. Masyarakat Kampung Paseban dapat secara mandiri membangun

PLTMH jika biaya yang dikeluarkan disesuaikan dengan kemampuan mereka

yaitu mencari peralatan mikrohidro yang lebih murah.

60
VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

1) Masyarakat telah mendapat manfaat dari adanya listrik dari PLTMH. Persepsi

masyarakat Kampung Paseban terhadap adanya pembangunan PLTMH

Ciesek secara keseluruhan dinilai baik. Akan tetapi, masyarakat menilai

bahwa adanya PLTMH kurang berdampak pada penghasilan mereka.

2) Kapasitas daya listrik dari PLTMH telah didistribusikan pada 61 pelanggan

listrik. Kapasitas daya listrik yang dihasilkan PLTMH sebesar 11.200 watt

dan hanya termanfaatkan sebesar 5145 watt sehingga terdapat kelebihan

kapasitas sebesar 6055 watt. Iuran listrik PLTMH Ciesek relatif murah

dibandingkan dengan PLN.

3) Masyarakat Kampung Paseban mendapatkan keuntungan dengan adanya

proyek PLTMH Ciesek. Biaya investasi tidak ditanggung oleh masyarakat

karena adanya hibah dari pemerintah Provinsi Jawa Barat sehingga proyek

PLTMH dikatakan layak. Adanya peningkatan pada biaya operasional dan

pemeliharaan PLTMH Ciesek sebesar 25% masih tetap menguntungkan

secara ekonomi. Perubahan terhadap manfaat PLTMH dilakukan dengan

menambah jumlah konsumen listrik sebesar 58 rumah tangga. Keberlanjutan

PLTMH Ciesek sangat bergantung pada pemerintah apabila masih

menggunakan skema pembiayaan investasi yang ada saat ini. Masyarakat

Kampung Paseban dapat secara mandiri membangun PLTMH jika biaya

investasi yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan mereka.

61
7.2 Saran

1) Pembangunan PLTMH oleh pemerintah dapat diterapkan pada wilayah

daerah aliran sungai lainnya baik di wilayah Bogor, maupun di Jawa Barat

khususnya bagi daerah yang sulit mendapat aliran listrik dari PLN karena

PLTMH bermanfaat bagi masyarakat.

2) Pembatasan daya listrik pada setiap sambungan rumah seharusnya

memperhatikan kebutuhan masyarakat dalam memanfaatkan listrik

3) Perlu adanya kerja sama antara masyarakat dan pengelola PLTMH dalam

menjaga kuantitas dan kualitas sumberdaya air.

4) Perlu adanya pengawasan dan pendampingan dari Unit Pelaksana Teknis

Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Wilayah I Cianjur agar PLTMH dapat

berkelanjutan.

62
DAFTAR PUSTAKA

Al-Kindi, Hablinur. Analisis Tekno Ekonomi Mikrohidro Untuk Desa Mandiri


Energi Di Kampung Lebakcipung, Hegarmanah, Cibeber, dan Lebak
Provinsi Banten. [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. 2009. Panduan Pengembangan Usaha
Produktif di Lokasi PLYMH. Dinas ESDM. Jakarta.

Djojodipuro, Marsudi. 1991. Teori Harga. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi.


Jakarta.

Effendy, O.U. 1984. Hubungan Komunikasi Teori dan Praktek. Remaja Karya.
Bandung.

Gittinger, J Price. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Edisi Kedua.


UI Press-John Hopkins. Jakarta.

Habibah, Heni. 2012. Dampak Ekonomi dan Lingkungan Pembangkit Listrik


Tenaga Mikrohidro Lebakpicung Desa Hegarmanah Provinsi Banten.
[Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

Hasan, Iqbal. 2009. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. PT Bumi Aksara.
Jakarta

Ibrahim, Y. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. PT Asdi Mahasatya. Jakarta

Kadariah. 2001. Evaluasi Proyek Analisis Ekonomi. Fakultas Ekonomi


Universitas Indonesia. Jakarta

Kadir, Abdul. 1995. Energi Sumber Daya, Inovasi, Tenaga Listrik dan Potensi
Ekonomi Edisi Kedua. Universitas Indonesia. Jakarta.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2010. Pedoman Studi Kelayakan
Komprehensif Berkelanjutan. Kementerian ESDM. Jakarta.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2011. Handbook of Energy and
Economic Statistics of Indonesia 2011. Kementerian ESDM. Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2009. Status Lingkungan Hidup Indonesia


Tahun 2008. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2010. Status Lingkungan Hidup Indonesia


Tahun 2009. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.

63
Kuswadi. 2005. Meningkatkan Laba Melalui Pendekatan Akuntansi Keuangan
dan Akuntansi Biaya. PT.Elex Media Komputindo. Jakarta.

Leavitt, H.J. 1978. Psikologi Manajemen. Gelora Aksara Pratama. Jakarta.

Lipsey, et al. 1995. Pengantar Mikroekonomi. Jaka Warsana dan Kirbrandoko


[penerjemah]. Bina Rupa Aksara. Jakarta.

Mankiw, N. Gregory. 2000. Pengantar Ekonomi. Edisi Kedua: Jilid 1. Harvard


University. Harvard.

Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya Edisi 5. Aditya Media. Yogyakarta.

Nazir, M. 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Nuraini, Ida. 2006. Pengantar Ekonomi Mikro. Universitas Muhammadiyah


Malang. Malang.

Putong, Iskandar. 2003. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro (Edisi 2). Ghalia
Indonesia. Jakarta.

Supriyono, R. A. 2007. Akuntansi Biaya Pengumpulan Biaya dan Penentuan


Harga Pokok. BPFE. Yogyakarta.

Umar, H. 2005. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.

64
LAMPIRAN
Lampiran 1. Daftar Warga yang Membayar Iuran Listrik PLTMH Ciesek

Iuran per Iuran per


No. Nama No. Nama
bulan bulan
1. Aas Rp 15.000 32. Iban Rp 15.000
2. Aat Rp 20.000 33. Ii Rp 15.000
3. Aca Rp 20.000 34. Ita Rp 15.000
4. M.Adang Rp 20.000 35. Itun Rp 20.000
5. Adang Rp 20.000 36. Jama Rp 15.000
6. Ade E Rp 20.000 37. Jarud Rp 20.000
7. Farman Rp 20.000 38. Kades Rp 20.000
8. Ahmad Rp 20.000 39. Karma Rp 20.000
9. Ajun Rp 15.000 40. Kariman Rp 20.000
10. Anas Rp 20.000 41. Kasman Rp 20.000
11. Anda Rp 20.000 42. Kodel Rp 20.000
12. Ano Rp 15.000 43. Lilis Rp 20.000
13. Atang F Rp 15.000 44. Ma ijah Rp 15.000
14. Atang N Rp 20.000 45. Maman Rp 20.000
15. Ating Rp 20.000 46. Ma'mun Rp 15.000
16. Caca Rp 15.000 47. Nandar Rp 20.000
17. Cucu Rp 15.000 48. Nenah Rp 20.000
18. Dasef Rp 15.000 49. Nuraeni Rp 20.000
19. Dede E Rp 15.000 50. Nurdin Rp 15.000
20. Dede T Rp 20.000 51. Oco Rp 15.000
21. Didi Rp 20.000 52. Oman E Rp 15.000
22. Dulah Rp 20.000 53. Oman L Rp 20.000
23. Dulhak Rp 20.000 54. Oo Rp 15.000
24. Edeh Rp 20.000 55. Robin Rp 20.000
25. Ema S Rp 20.000 56. Sadam Rp 20.000
26. Eman S Rp 20.000 57. Ucih Rp 15.000
27. Eman Sule Rp 15.000 58. Udin Rp 20.000
28. Enti Rp 20.000 59. Ujum Rp 20.000
29. Sutisna Rp 20.000 60. Wawan Rp 20.000
30. Hendi Rp 20.000 61. Asep Rp 20.000
31. Heri Rp 15.000

66
Lampiran 2. Persepsi Masyarakat Mengenai Pembangunan PLTMH Ciesek
J enis Jumlah Lama Persepsi terhadap kondisi Persepsi terhadap kondisi ekonomi Persepsi terhadap
Nama Usia Pendidikan Pekerjaan Pendapatan
Kelamin Anggota Keluarga Tinggal lingkungan pengelolaan PLTMH
Kebisingan Penurunan Penambahan Peningkatan sarpras Keberadaan Kinerja
kualitas air penghasilan industri kecil kelompok kelompok
L 30 SD swasta 3 800000 25 2 5 5 4 4 4
Anda
L 38 SD buruh 5 700000 14 4 5 5 4 5 4
Dede
L 32 SD buruh 3 750000 26 5 4 3 4 3 4
Nasrudin
L 47 SD buruh 4 600000 25 5 4 3 4 4 5
Oman
L 35 SD pedagang 4 850000 8 5 5 4 3 5 5
Hendik
L 36 SD buruh 4 1080000 18 5 3 2 4 4 4
Aat
L 38 SD buruh 4 500000 30 5 5 2 4 5 4
Ade
P 20 SMP IRT 3 - 2 4 5 2 4 3 4
Lisnawati
P 63 SD IRT 7 - 25 5 5 4 4 4 5
Ita
L 50 SD buruh 4 750000 30 5 4 2 4 5 4
Karma
L 31 SMP pekebun 4 750000 1 5 4 3 4 4 4
Asep
L 41 SD tukang kebun 5 600000 12 2 4 5 3 3 5
Ajat
L 27 SD pekebun 3 1000000 20 5 4 2 4 5 4
Nandar
L 42 SD petani 4 500000 35 4 4 3 4 4 5
Oo
L 25 SD buruh 4 800000 7 5 5 4 4 3 5
Adam M
P 40 SD IRT 2 - 10 5 5 2 4 4 4
Nenah
P 35 SD IRT 2 - 17 4 5 2 4 4 4
Dini
L 69 SD 4 - 17 4 5 3 3 5 4
Mus
L 49 SD penjaga villa 7 1000000 12 4 5 2 4 5 4
Didi
tidak 5 5 3 4 3 4
P 28 IRT 2 - 25
Nyai sekolah
L 48 SD petani 3 1000000 22 5 5 2 4 5 5
Eman
P 27 SD IRT 6 - 11 5 5 2 3 4 5
Lilis
P 27 SD IRT 5 - 11 4 3 3 4 4 5
Uti
tidak 5 5 2 5 5 4
P IRT -
Asiah sekolah
P 45 SD IRT 5 - 20 5 5 2 4 5 5
Enok
67
L 39 SD buruh 4 - 23 5 4 3 4 5 5
Otang N
P 30 SD pedagang 5 1000000 26 4 5 2 4 4 4
Ii
P 21 SD pedagang 2 1000000 26 5 5 2 4 4 5
Nuraini
P 40 SD pekebun 8 200000 12 5 3 3 4 5 5
Eti
L 85 SD buruh tani 2 - 30 4 5 2 4 4 5
Cucu
L 37 SMP jual beli pala 5 850000 30 2 5 2 4 5 4
Dede E
L 63 SD petani padi 4 300000 27 5 4 3 5 4 5
Mamun
L 30 SD buruh 5 - 23 5 5 2 4 5 5
Ating
L 27 SD peternak 3 1500000 27 5 4 4 5 5 4
Nurdin
P 35 SD warung 4 1000000 15 4 5 3 5 5 4
Ida
P 60 SD warung 2 1000000 26 5 5 2 4 4 5
Bi Edeh
P 43 SD warung 4 850000 15 4 5 2 5 4 5
Nurhalimah
L 40 SD ojeg 4 400000 14 5 5 3 3 5 5
Heri
tidak kuli,jual 4 5 2 5 4 4
P 67 3 - 24
Ma'ijah sekolah kripik
L 43 SD buruh harian 5 - 23 5 5 2 3 4 5
Entis RT
tidak 5 5 3 5 5 4
L 60 petani 3 - 28
Oco sekolah
P 40 SD arit rumput 4 - 5 5 5 3 3 5 4
Nursih
P 30 SD warung 7 900000 3 5 5 2 5 5 5
Titi
L 20 SMP buruh 2 800000 2 4 5 2 4 4 5
Ano
L 45 SD petani 6 - 16 5 5 4 5 4 5
Parman
L 30 STM curug 5 1000000 32 5 5 2 3 5 5
Adang
P 41 SD petani 5 500000 36 5 5 3 5 5 5
Rohayani
L 47 SD petani 4 700000 25 5 5 3 5 5 5
Udin
L 56 SD buruh tani 5 600000 15 5 5 3 4 5 4
Kasman
L 35 SD buruh 4 500000 10 5 5 2 5 4 5
Jarud
P 50 SD irt 6 - 45 5 3 2 5 5 5
Iban
L 51 SD petani 6 750000 40 4 5 3 5 5 5
Ahmad
tidak 5 5 2 4 4 5
P 43 irt 4 - 28
Ati sekolah

68
L 40 SD buruh tani 5 500000 34 5 5 2 5 5 5
Dulhaq
L 38 SMP buruh tani 5 550000 15 5 5 2 5 4 5
Wawan
L 49 SD petani 5 700000 40 5 5 2 4 5 5
Ujum
L 53 SD arit rumput 7 400000 43 5 5 3 5 5 5
Maman

69
Lampiran 3. Cashflow (Skenario I)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
PENERIMAAN
Iuran listrik 0 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000
TOTAL PENERIMAAN 0 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000

BIAYA
1. Biaya Investasi Awal
a. Pekerjaan persiapan 37500000
b. Pekerjaan sipil 194410982
c. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal 291500000
d. Pekerjaan jaringan distribusi 132675000
e. Instalasi rumah 57404900
f. Lain-lain 12000000
TOTAL BIAYA INVESTASI 725490882

2. Biaya operasional dan pemeliharaan


Gaji operator 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000

NET BENEFIT (720510882) 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000

DF (12%) 1,000 0,893 0,797 0,712 0,636 0,567 0,507 0,452 0,404 0,361 0,322

PV of NB (725490882) 4446429 3970026 3544666 3164880 2825786 2523023 2252699 2011339 1795838 1603427

NPV1 (697352771)

70
Lampiran 4. Cashflow (Skenario II)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
PENERIMAAN
Iuran listrik 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000
TOTAL PENERIMAAN 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000

BIAYA
1. Biaya Investasi Awal
a. Pekerjaan persiapan
b. Pekerjaan sipil
c. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal
d. Pekerjaan jaringan distribusi
e. Instalasi rumah
f. Lain-lain
TOTAL BIAYA INVESTASI

2. Biaya operasional dan pemeliharaan


Gaji operator 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000

NET BENEFIT 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000 4980000

DF 12% 0,893 0,797 0,712 0,636 0,567 0,507 0,452 0,404 0,361 0,322

PV of NB 4446429 3970026 3544666 3164880 2825786 2523023 2252699 2011339 1795838 1603427

NPV2’ 28138111

71
Lampiran 5. Analisis Sensitivitas pada Skenario II (perubahan terhadap biaya)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
PENERIMAAN
Iuran listrik 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000
TOTAL PENERIMAAN 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000 13380000

BIAYA
Biaya operasional dan pemeliharaan
Gaji operator 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000
Biaya pemeliharaan 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000
TOTAL BIAYA 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000

NET BENEFIT 2880000 2880000 2880000 2880000 2880000 2880000 2880000 2880000 2880000 2880000

DF 12% 0,893 0,797 0,712 0,636 0,567 0,507 0,452 0,404 0,361 0,322

PV of NB 2571429 2295918 2049927 1830292 1634189 1459098 1302766 1163184 1038557 927283

NPV2 16272642

72
Lampiran 6. Analisis Sensitivitas pada Skenario II (perubahan terhadap manfaat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
PENERIMAAN
Iuran listrik 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000
TOTAL PENERIMAAN 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000 27300000

BIAYA
1. Biaya Investasi Awal
a. Pekerjaan persiapan b.
Pekerjaan sipil
c. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal
d. Pekerjaan jaringan distribusi
e. Instalasi rumah
f. Lain-lain
TOTAL BIAYA INVESTASI

2. Biaya operasional dan pemeliharaan


Gaji operator 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000 8400000
Biaya pemeliharaan 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000 2100000
TOTAL BIAYA 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000 10500000

NET BENEFIT 16800000 16800000 16800000 16800000 16800000 16800000 16800000 16800000 16800000 16800000
DF 12% 0,893 0,797 0,712 0,636 0,567 0,507 0,452 0,404 0,361 0,322

PV of NB 15000000 13392857 11957908 10676704 9532771 8511403 7599467 6785238 6058248 5409150
NPV2 94923747

73
Lampiran 7. Dokumentasi Penelitian

74
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 8 Oktober 1990 dari pasangan

Erwin dan Ance Mariana. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri Ciriung 2 pada

tahun 2002, pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Cibinong

pada tahun 2005, dan pada tahun 2008 penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah

Menengah Atas di SMA Negeri 1 Bogor. Penulis diterima sebagai mahasiswa

Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian

Bogor (USMI) pada tahun 2008. Penulis diterima di Departemen Ekonomi

Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut

Pertanian Bogor.

Selama di Institut Pertanian Bogor penulis aktif terlibat dalam kepanitiaan

berbagai acara serta pengurus organisasi yang ada di lingkungan kampus Institut

Pertanian Bogor. Penulis pernah tergabung dalam Dewan Perwakilan Mahasiswa

Fakultas Ekonomi dan Manajemen (DPM FEM) sebagai Bendahara Komisi IV

periode tahun 2009-2010. Penulis juga tergabung dalam club Ekonomi

Sumberdaya Himpunan Profesi Departemen Ekonomi Sumberdaya dan

Lingkungan Resources and Environmental Economics Student Association

(REESA) periode 2011-2012. Selama masa studi penulis mendapatkan beasiswa

Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) pada tahun 2010-2012.