Anda di halaman 1dari 55

ANEMIA DEFISIENSI BESI

dr. Meita Hendrianingtyas, SpPK, MSi.Med

Bagian Patologi Klinik FK UNDIP


2016
TUJUAN INSTRUKSIONAL

TIU
– Mahasiwa mampu menjelaskan aspek laboratorium
penyakit anemia defisiensi besi
TIK
– Mahasiswa mampu menjelaskan definisi anemia
– Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab
defisiensi besi
– Mahasiswa mampu membedakan aspek laboratorium
anemia defisiensi besi dari anemia oleh karena
penyebab lain
ANEMIA

Hemoglobin (Hb) :
• protein khusus dalam eritrosit
• berfungsi membawa oksigen ke jaringan dan
mengembalikan karbondioksida dari jaringan ke paru
Anemia : menurunnya kadar hemoglobin darah 
kemampuan oksigenasi jaringan & organ menurun
Kadar Hb dipengaruhi jenis kelamin, usia, ras/etnis,
geografis (tinggi dari permukaan laut), metode
pemeriksaan dan lain-lain
Anemia merupakan gejala sehingga perlu ditemukan
penyebabnya
Nilai Normal Hb

Pria dewasa : 13,5 – 17,5 g/dl


Wanita dewasa : 11,5 – 15,5 g/dl
Bayi baru lahir : 15,0 – 21,0 g/dl
3 bulan : 9,5 – 12,5 g/dl
1 th – pubertas : 11 – 13,5 g/dl
DIAGNOSIS LABORATORIUM ANEMIA

Pria dewasa : Hb <13,5g/dl


(WHO : Hb <13g/dl)
Wanita dewasa : Hb <11,5g/dl
(WHO : Hb <12g/dl)
Usia 3 bulan – pubertas : Hb <11g/dl
Bayi baru lahir : Hb <15g/dl
apakah
HEMOGLOBIN
itu?
BESI PROTOPORFIRIN

An. Defisiensi Besi An. Sideroblastik


Inflamasi kronik/
keganasan

HEME
+ GLOBIN

x
Thalassemia

hemoglobin
Parameter laboratorium anemia
Jumlah eritrosit
 Manual dengan pengenceran atau alat otomatis
 Normal 4,6-5,4x106/μl (♀) & 4,6-6,2x106/μl (♂)
Jumlah retikulosit
 % dari jumlah eritrosit ( N: 0,5 – 1,5%)
 Dengan pengecatan supravital atau alat otomatis
 Hb dan retikulosit normal  aktivitas sumsum tulang normal
 Hb rendah dan retikulosit normal  respon thdp anemia
kurang (gangguan/ penurunan produksi sumsum tulang atau
kadar eritropoeitin)
 Retikulosit me pd Hb normal  kehilangan/ kerusakan
eritrosit dgn kompensasi sumsum tulang
Indeks eritrosit
MCV (“Mean corpuscular volume”)
 Volume rerata eritrosit (Ht/ eritrosit dlm juta x 1000)
 Normal : 80-98 femtoliter (fL)
 MCV normal (normositik), MCV rendah (mikrositik),
MCV tinggi (makrositik)
MCH (“Mean corpuscular hemoglobin”)
 Rerata hemoglobin sel (Hb per liter / eritrosit dlm
juta)
 Normal adalah 26-32 pikogram (pg)
MCHC
(“Mean corpuscular hemoglobin concentration”)
 Kandungan Hb dalam darah (Hb / Ht)
 Normal : 32-36%
Red cell distribution width

Lebar distribusi eritrosit


Normal :11,6 – 14,6
Nilai yang lebih besar menunjukkan
peningkatan variasi ukuran sel (anisositosis)
Sediaan apus darah tepi (SADT)
Melihat gambaran eritrosit, trombosit dan leukosit
Menentukan diagnosis banding & indikasi
pemeriksaan penunjang lain
Gambaran eritrosit
 variasi ukuran eritrosit (normositik, mikrositik
maupun makrositik)  anisositosis dan variasi
bentuk dinyatakan dalam.
 variasi bentuk eritrosit  poikilostosis
 Hipokrom (penurunan intensitas pewarnaan Hb,
central pallor > 1/3  eritrosit atau hiperkrom
NORMOSITIK NORMOKROMIK (MCV & MCHC NORMAL):
A. Anemia Aplastik
B. Anemia Hemolitik
Morfologi Anemia
C. Anemia e.c kehilangan banyak darah
D. Anemia mieloptisik

MIKROSITIK HIPOKROMIK (MCV & MCHC RENDAH) :


A. Defisiensi besi
B. Thallasemia
C. Keracunan timah
D. Anemia Sideroblastik
E. Penyakit kronik

MAKROSITIK NORMOKROMIK
(MCV TINGGI&MCHC NORMAL):
A. Anemia megaloblastik
B. Penyakit hepar
C. Preleukemia
DEFISIENSI BESI

Deplesi besi
 dimana simpanan besi turun atau tidak ada, kadar
besi serum, saturasi transferin dan Hb normal.
Defisiensi besi tanpa anemia
 turun atau tidak adanya simpanan besi, kadar besi
serum dan saturasi transferin yang rendah tanpa ada
anemia yang jelas
Anemia defisiensi besi
 terjadi penurunan atau tidak adanya simpanan besi,
kadar besi serum dan saturasi transferin rendah dan
disertai penurunan kadar Hb
ANEMIA DEFISIENSI BESI

Merupakan penyebab tersering anemia


Anemia ok cadangan besi berkurang
Mikrositik hipokromik
MCV,MCH,MCHC menurun
Saturasi transferin menurun
Kadar feritin serum menurun
Gejala Klinik

• Gejala umum anemia


– Badan lemah, lesu,
cepat lelah, mata
berkunang-kunang
• Gejala khas akibat
defisiensi besi
– Koilonychia (kuku
sendok)!!
– Blue sclera (penipisan
epitel sklera)
Sebab An. Defisiensi Besi KEHILANGAN DARAH BERLEBIH (KRONIS) :
A. Dari uterus
B. Dari Gastrointestinalis :
(varises sofagus, hiatus hernia, ulkus peptikum,
Ca lambung, Wasir)

KEBUTUHAN MENINGKAT :
A. Kehamilan
B. Pertumbuhan

PEMASUKAN BERKURANG
A. Malabsorbsi : gastrektomi, coeliac disease
B. Diit buruk
Faktor risiko terjadinya defisiensi
besi
Usia : infant (terutama dengan sejarah
prematuritas), masa pertumbuhan, wanita
postmenopause, usia lanjut
Jenis kelamin : risiko meningkat pada wanita
Reproduksi : menoragi
Renal : hematuria (jarang)
Saluran cerna : perubahan nafsu makan, penurunan berat
badan, perdarahan dari rektum/ melena,
operasi lambung
Penggunaan : terutama aspirin, obat anti inflamasi non
obat steroid
Fisiologi : kehamilan, infant, masa pertumbuhan, ibu
menyusui
PARAMETER LABORATORIUM
ANEMIA DEFISIENSI BESI

1. Indeks eritrosit
2. Fe serum
3. Ferritin serum
4. Transferin &”Total iron binding capacity” (TIBC)
5. Soluble transferin receptor (sTfR)
6. Indeks sTfR-F (reseptor transferin /log feritin)
serum
7. “Percent Saturation of TIBC”/ Saturasi
transferin
8. Free Eritrosit Protophorphirin
9. Besi sumsum tulang
10. Morfologi eritrosit pada SADT
PARAMETER LABORATORIUM
ANEMIA DEFISIENSI BESI

Indeks eritrosit
MCV, MCH, MCHC menurun
Fe serum : menurun
 jumlah kadar besi dalam sirkulasi yang terikat
pada transferin
 Dewasa normal : 50-160 μg/dL (9-29 μmol/L)
Ferritin serum
 Menggambarkan bagian cadangan besi
 Merupakan protein fase akut
 Kadar normal/ meningkat pada keganasan/
inflamasi
 Pada IDA tanpa komplikasi : menurun
Transferin &”Total iron binding capacity” (TIBC)
Besi plasma terikat pada transferin dan TIBC
merupakan pemeriksaan untuk mengukur protein ini
jumlah besi total yang dibutuhkan untuk
menjenuhkan transferin (TFR), yang merupakan
protein transportasi besi utama
Nilai rujukan TIBC pada dewasa adalah 250-400
μg/dL (45-72 μmol/L)
Transferin disintesis lebih banyak saat terjadi
penurunan simpanan besi  pada anemia defisiensi
besi akan terjadi peningkatan kadar transferin
TIBC akan meningkat pada pasien dengan defisiensi
besi
Soluble transferin receptor (sTfR)
Pengambilan besi berkaitan dengan jumlah reseptor
sTfR meningkat pada defisiensi besi
 Nilai normalnya adalah 25 – 50%

Indeks sTfR-F (reseptor transferin /log feritin)


serum
Membedakan defisiensi besi dengan kondisi lain
Meningkat pada anemia defisiensi besi, tapi tidak
pada anemia penyakit kronik atau thalassemia trait
Defisiensi besi deplesi tahap pertama indeks sTfR-F
mulai meningkat >1,8 pada tahap kedua indeks
meningkat >2,2, dan pada tahap ketiga merupakan
tahap anemia defisiensi besi nilai indeks >2,8
“Percent Saturation of TIBC”/ Saturasi
transferin

Rasio besi serum terhadap TIBC merupakan


prosentase saturasi TIBC
Rumus : (besi serum x 100 : TIBC).
Nilai normalnya adalah 25 – 50%
Keadaan defisiensi besi ditunjukkan dengan
saturasi <18%
Free Eritrosit Protophorphirin
 95% protoporfirin dalam bentuk ikatan
dengan seng /zinc (zinc protoporphyrin/ ZPP)
 Kadar ZPP darah dapat membedakan
keadaan defisiensi besi dari β-thalassemia
minor
Nilai normal : 10-99 μg/dL dari sel darah
merah
Pada defisiensi besi, protoporfirin eritrosit
akan meningkat sebelum terjadi keadaan
anemia, sehingga dapat menjadi indikator
awal terjadinya defisiensi besi
Besi sumsum tulang
 Penurunan atau tidak adanya hemosiderin
pada sumsum tulang menunjukkan defisiensi
besi
Hemosiderin pada sumsum tulang dapat
terlihat dengan pengecatan Perls (Prussian
blue method)
• Morfologi eritrosit pada SADT
– Mikrosit
– Hipokrom
– Anisositosis
– Poikilositosis
– Sel pensil
SEL PENSIL

OVALOSIT
ANISOSITOSIS
Basophilic Stippling
• Numerous, small
purple inclusions in
RBCs.
• Aggregates of
ribosomal RNA.
ANEMIA ANEMIA THALASSE ANEMIA
DEFISIENSI PENYAKIT MIA SIDERO
BESI KRONIK TRAIT BLASTIK

Besi serum Menurun Menurun Normal Meningkat


TIBC Meningkat Menurun Normal Normal
sTfR Meningkat Normal/rendah Bervariasi Normal

Feritin serum Menurun Normal/ Normal Meningkat


meningkat
Besi sumsum Tidak ada Ada Ada Ada
tulang
Besi eritroblas Tidak ada Tidak ada Ada Bentuk cincin
Elektroforesis Normal Normal HbA Normal
Hb meningkat
(bentuk β)
PEB Meningkat Meningkat Normal Menurun
DISTRIBUSI & TRANSPORTASI BESI

Transferin
– Mengandung 2 atom besi
– Angkut besi ke jaringan yang mengandung
reseptor transferin (eritroblas pd sumtul)
Sebagian besi disimpan dlm RES dalam
bentuk ferritin & hemosiderin :
– Ferritin kompleks besi-protein yg larut air
– Hemosiderin kompleks besi-protein yg
tidak larut air
Distribusi Besi dalam tubuh (pria,70kg)

Protein Lokasi Iron content


(mg)
Haemoglobin RBC 3000

Myoglobin Otot 400

Sitokrom, protein besi Seluruh jaringan 50


sulfur
Transferin Plasma & cairan 5
ekstraseluler
Ferritin & Hati, limpa, sumsum 100-1000
hemosiderin tulang
Ferritin storage molecule
• Ferritin molecules
store thousands of
iron atoms within
their mineral core.
When excess
dietary iron is
absorbed, the body
responds by
producing more
ferritin to facilitate
iron storage

http://www.cdc.gov/ncbddd/hemochromatosis/training/pathophysiology/iron_cycle_popup.htm
Indeks eritrosit

MCV = Ht x 10 Normal 80-97 fl


eritrosit
MCH = Hb x 10 Normal 27-32 pg
eritrosit
MCHC = Hb x 100% Normal 32-37 %
Ht
Iron metabolism
Normal iron absorption and metabolism
• Iron is bound and
transported in the
body via
transferrin and
stored in ferritin
molecules. Once
iron is absorbed,
there is no
physiologic
mechanism for
excretion of
excess iron from
the body other
than blood loss
i.e., pregnancy,
menstruation or
other bleeding

http://www.cdc.gov/ncbddd/hemochromatosis/training/pathophysiology/iron_cycle_popup.htm
Iron store
Iron store
Approximately 3.5 g of iron is stored by the human body
Most of the iron in the body is distributed within red blood cell
hemoglobin (2,300 mg)
Approximately 10% is present in muscle fibers (in myoglobin)
and other tissues (in enzymes and cytochromes) (350 mg)
The remaining body iron is stored in the liver (200 mg),
macrophages (500 mg), and bone marrow (150 mg). On
average, 1–2 mg of iron is lost from the body on a daily basis
through desquamation of epithelial cells of the skin,
gastrointestinal tract, bile ducts and urinary tract, and via
blood loss during menstruation.
Iron absorption from the digestive tract is the sole means by
which iron homeostasis is regulated.

http://www.nature.com/nrgastro/journal/v7/n11/fig_tab/nrgastro.2010.151_F1.html
TIBC
(Total iron binding capacity)

TIBC is a measure of the iron-binding capacity within the serum


and reflects theavailability of iron-binding sites on transferrin
TIBC increases when serum iron concentration (and stored
iron) is low and decreases when serum iron concentration (and
stored iron) is high
Factors other than iron status can affect results from this test
For example, inflammation, chronic infection, malignancies,
liver disease, nephrotic syndrome, and malnutrition can lower
TIBC readings, and oral contraceptive use and pregnancy can
raise the readings
TIBC is less sensitive to iron deficiency than is serum ferritin
concentration, because changes in TIBC occur after iron stores
are depleted
http://www.immunopaedia.org.za/index.php?id=832
http://www.phar.kufauniv.com/staff/Mohammad/lectures.html
Soluble transferrin receptor
(sTfR)
The soluble transferrin receptor (sTfR)  new diagnostic
tool for differentiating between iron deficiency anemia
(IDA) & anemia of chronic disease (ACD)
The circulating sTfR concentration is proportional to
cellular expression of the membrane-associated TfR
Increases with increased cellular iron needs and cellular
proliferation
Serum ferritin reflects the storage iron compartment and
sTfR reflects the functional iron compartment  the
sTfR/log ferritin index (sTfR-F index) based on these two
values, has been suggested as a good estimate of body
iron compared with the sTfR/ferritin ratio
A simplified algorithm for the diagnosis of IDA
(modified from Weiss et al)