Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH HEAT TREATMENT

disusun oleh:

Fauzi Adha Sofwana (216313009)


Fikry Giovani Ar Rafi (216313010)

2 MEC
TEKNIK MANUFAKTUR

Jl. Kanayakan no. 21, DAGO 40235, Tromol Pos 851 BANDUNG 40008 INDONESIA
Phone : 62 022 2500241 Fax : 62 022 2502649 Homepage : http ://www.polman-bandung.ac.id

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Heat Treatment ( perlakuan panas ) adalah salah satu proses untuk mengubah
struktur logam dengan jalan memanaskan specimen pada elektrik terance ( tungku ) pada
temperature rekristalisasi selama periode waktu tertentu kemudian didinginkan pada media
pendingin seperti udara, air, air faram, oli dan solar yang masing-masing mempunyai
kerapatan pendinginan yang berbeda-beda.
Sifat-sifat logam yang terutama sifat mekanik yang sangat dipengaruhi oleh struktur
mikrologam disamping posisi kimianya, contohnya suatu logam atau paduan akan
mempunyai sifat mekanis yang berbeda-beda struktur mikronya diubah. Dengan adanya
pemanasan atau pendinginan degnan kecepatan tertentu maka bahan-bahan logam dan
paduan memperlihatkan perubahan strukturnya.
Perlakuan panas adalah proses kombinasi antara proses pemanasan aatu pendinginan
dari suatu logam atau paduannya dalam keadaan padat untuk mendaratkan sifat-sifat tertentu.
Untuk mendapatkan hal ini maka kecepatan pendinginan dan batas temperature sangat
menetukan.

1.2 Tujuan dan Manfaat Pengujian


A. Tujuan Pengujian
1. Menjelaskan prosedur dan proses heat treatment
2. Menjelaskan jenis-jenis proses heat treatment
3. Menjelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas bahan
4. Menentukan pengaruh proses pemanasan terhadap kekerasan
5. Menentukan kekerasan dari suatu material yang sesuai dengan kebutuhan.
B. Manfaat Pengujian
1. Mengetahui langkah pengujian perlakuaan panas, untuk mendapatkan sifat logam
yang diinginkan.
2. Mengetahui media pendingin yang tepat untk memperoleh kekerasan.
3. Memudahkan untuk mengetahui proses mana yang sesuai digunakan untuk suatu
produk pengujian.
4. Mengetahui kecepatan pendinginan yang ditentukan  (pengaruh sifat pendinginan
media).
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Pengertian Heat Treatment
Heat Treatment ( perlakuan panas ) adalah salah satu proses untuk mengubah struktur
logam dengan jalan memanaskan specimen pada elektrik terance ( tungku ) pada temperature
rekristalisasi selama periode waktu tertentu kemudian didinginkan pada media pendingin
seperti udara, air, air garam, oli dan solar yang masing-masing mempunyai kerapatan
pendinginan yang berbeda-beda.
Sifat-sifat logam yang terutama sifat mekanik yang sangat dipengaruhi oleh struktur
mikrologam disamping posisi kimianya, contohnya suatu logam atau paduan akan
mempunyai sifat mekanis yang berbeda-beda struktur mikronya diubah. Dengan adanya
pemanasan atau pendinginan degnan kecepatan tertentu maka bahan-bahan logam dan
paduan memperlihatkan perubahan strukturnya.
Perlakuan panas adalah proses kombinasi antara proses pemanasan atau pendinginan
dari suatu logam atau paduannya dalam keadaan padat untuk mendaratkan sifat-sifat tertentu.
Untuk mendapatkan hal ini maka kecepatan pendinginan dan batas temperature sangat
menetukan.

2.1.2 Tujuan Heat Treatrment


1. Mempersiapkan material untuk pengolahan berikutnya.
2. Mempermudah proses machining.
3. Mengurangi kebutuhan daya pembentukan dan kebutuhan energi.
4. Memperbaiki keuletan dan kekuatan material
5. Mengeraskan logam sehingga tahan aus dan kemampuan memotong meningkat.
6. Menghilangkan tegangan dalam.
7. Memperbesar atau memperkecil ukuran butiran agar seragam.
8. Menghasilkan pemukaan yang keras disekeliling inti yang ulet.
2.2 Macam-macam proses dalam heat treatment
2.2.1 Hardening

Hardening adalah proses peningkatan kekerasan dan keulten suatu baja. Umunya benda
yang dikeraskan adalah baja. Untuk lebih meningkatkan keuletan suatu baja maka harus
dilakukan proses tempeing setelah melakukan proses hardening agar mencapai keuletan yang
tinggi. Hardening bertujuan agar baja yang digunakan menjadi keras, tahan aus dan berumur
panjang atau mampu berpenetrasi.
 Hardening dibutuhkan untuk merubah struktur dari “the body center” ke “ face
centered cubic “ struktur atau bagian autenitik. Baja yang dipanaskan ke bagian autenitik,
ketika tiba – tiba didinginkan ,maka akan membentuk struktur martensit
Struktur ini merupakan struktur paling kuat dan ulet. Namun ketika didinginkan secara
pelan – pelan maka akan membentuk struktur austenitedan perlit dimana sebadian keras dan
sebagian lagi memiliki srtuktur yang agak lunak. Ketika pendinginan yang benar – benar pelan
kemudian akan membentuk struktur pearlit struktur ini benar – benar lunak.

Langkah – langkah yang harus diperhatikan:


1. jenis material yang akan dikeraskan.
2. pemanasan:
a. Pemanasan awal ini merupakan tahap awal pada proses hardening, bertujuan agar
benda tidak terkejut pada saat proses . proses ini memakai suhu 600 -700°C
diberikan agar panas menyebar ke seluruh benda. Setelah suhu meningkat untuk
mencapai suhu austenite.
b. pemanasan akhir pemanasan akhir ini merupakan proses akhir setelah proses
pemanasan awal sampai benda mulai berubah ke level austenite.
c. Penahanan waktu
 Diberikan agar benda yang telah di panaskan memiliki suhu yang merata.
 Apabila terlalu lama akan membuat besarnya butiran austenite dan memperbesar
jumlah sisa – austenite, yang akan menurunkan kekerasannya.
 Apabila terlalu pendek waktu, karbon tidak akan larut dengan sempurna sehingga
kekerasannya rendah.
Figure 1. hardening dalam oven Figure 2. Hardening dengan tungku api

2.2.2 Tempering
Tempering adalah pemanasan logam sampai di bawah suhu kritis yang dilakukan setelah
proses pengerasan, pembentukan dingin dan pengelasan, kemudian didinginkan dengan
kecepatan yang memadai, guna memperbaiki sifat yang dikehendaki.
Perlakuan panas tempering bertujuan untuk mengurangi tegangan sisa, meningkatkan
ketangguhan dan keuletan baja yang telah mengalami pengerasan martensite. Selama proses
tempering baja akan mengalami penurunan kekerasan dan kekuatan. Namun sifat keuletan akan
naik yang diikuti dengan penurunan kerapuhan. Tegangan sisa yang terbentuk selama pembentukan
fasa martensi ikut berkurang . Pengurangan tegangan sisa menjadi sangat penting dalam penurunan
kerapuhan baja. Selama tempering berlangsung akan terjadi transformasi fasa-fasa yang terbentuk
selama proses quenching. Mekanisme transformasi fasa pada proses temper terjadi dalam empat
tahap. Tahapan Dan Mekanisme Dekomposisi Fasa Martensit
 Tahap pertama, pada temperature 100 – 250 celcius  terjadi pengendapan fasa kaya karbon yaitu
fasa epsilon-karbida. Pembentukan fasa ini mengakibatkan kandungan karbon pada fasa martensit
berkurang.
 Tahap kedua, pada temperature 200 – 300 celcius, terjadi dekomposisi fasa austenite menjadi
bainit.
 Tahap ketiga, pada temperature 200 – 300 celcius terjadi perubahan atau dekomposisi epsilon-
kabida menjadi sementit dan martensite menjadi sementit dan ferit.
 Tahap keempat, pada temperature di atas 350 celcius terjadi perubahan secara kontinyu dan
terjadinya spheroidisasi fasa-fasa sementit.
Figure 3. alat temper oven Figure 4. alat temper
tungku

2.2.3 Anealing
Proses anneling atau melunakkan baja adalah prose pemanasan baja di atas temperature
kritis ( 723 °C )selanjutnya dibiarkan bebrapa lama sampai temperature merata disusul dengan
pendinginan secara perlahan-lahan sambil dijaga agar temperature bagian luar dan dalam kira-
kira samahingga diperoleh struktur yang diinginkan dengan menggunakan media pendingin
udara.
Tujuan proses anneling :
1.      Melunakkan material logam
2.      Menghilangkan tegangan dalam / sisa
3.      Memperbaiki butir-butir logam.
Annealing ada dua tipe:
 Annealing proses
 Annealing full
Dalam Annealing proses, keuletan ditingkatkan dengan menurunkan tegangan internal.
Dalam hal ini, logam dipanasi pada temperatur dibawah atau dekat dengan temperatur kritis
bawah yang umumnya dipanasi pada temperatur 550oC-650oC lalu ditahan pada temperatur ini
dan didinginkan secara lambat. Hal ini menyebabkan rekristalisasi baja secara sempurna.
Tujuan utama dari annealing full pada baja adalah melunakkan dan memperbaiki
struktur butir. Dalam hal ini, baja hypo-eutektoid dipanasi pada temperatur sekira 20 oC –
30 oC diatas temperatur kritis atas dan untuk baja hyper-eutektoid dan baja tool dipanasi pada
temperatur 20-30 oC diatas temperatur kritis bawah dan temperatur ini dijaga selama waktu
tertentu dan kemudian didinginkan secara lambat pada dapur apinya.

2.2.4 Normalizing
Normalizing adalah suatu proses pemanasan logam hingga mencapai fase austenit yang
kemudian diinginkan secara perlahan-lahan dalam media pendingin udara. Hasil pendingin ini
berupa perlit dan ferit namunhasilnya jauh lebih mulus dari anneling. Prinsip dari proses
normalizing adalah untuk melunakkan logam. Namun pada baja karbon tinggi atau baja
paduan tertentu dengan proses ini belum tentu memperoleh baja yang lunak. Mungkin berupa
pengerasan dan ini tergantung dari kadar karbon.

2.2.5 Quenching
Quenching adalah kegatan yang dilakukan agar baja yang panas menjadi dingin.
Proses quenching atau pengerasan baja adalah suatu proses pemanasan logam sehingga
mencapai batas austenit yang homogen. Untuk mendapatkan kehomogenan ini maka audtenit
perlu waktu pemanasan yang cukup. Selanjutnya secara cepat baja tersebut dicelupkan ke
dalam media pendingin, tergantung pada kecepatan pendingin yang kita inginkan untuk
mencapai kekerasan baja.
Pada waktu pendinginan yang cepat pada fase austenit tidak sempat berubah menjadi
ferit atau perlit karena tidak ada kesempatan bagi atom-atom karbon yang telah larut dalam
austenit untuk mengadakan pergerakan difusi dan bentuk sementitoleh karena itu terjadi fase
lalu yang mertensit, ini berupa fase yang sangat keras dan bergantung pada keadaan karbon.
Media yang dpakai pada proses quenching dibagi ke 2 macam, yaitu dengan menggunakan
cairan dan dry quenching. Contoh yang menggunakan cairan adalah air, oli, air garam, caustic
soda dll. Sedangkan untuk dry quenching menggunakan udara.

Figure 6.quenching pada oli Figure 5. quenching di udara


2.2.6 Blackening
Blackening adalah proses pewarnaan pada bahan sehingga bahan memiliki warna hitam yang
bervariasi sesuai jumlah proses. Tujuan dari proses blackening adalah untuk meningkatkan nilai harga
dari suatu bahan dan juga dapat melindungi bahan dari korosif.
Proses blackening dapat dilakukan dengan kondisi nyala api merah lebih dominan dari nyala api biru,
kondisi tersebut dapat dicapai dengan memperbanyak jumlah gas asetelin dibandingkan gas oksigen
arau kompresor . Kemudian bahan diletakan di tungku api sampai suhu 550 derajat celcius. Lalu
bahan didinginkan dengan oli kotor. Lakukan proses tersebut sampai kurang lebih tiga kali.

Figure 7. proses blackening Figure 8contoh benda hasil blackeninng


2.3 Percobaan Heat Treatment

1. Siapkan benda kerja.


- Ems 45 blok
- Spk blok
- Ems 45 silinder

Figure 9. benda kerja

2. Uji kekerasan awal benda kerja, masing-masing benda kerja diuji lima titik.
 Ems 45 blok
Rata-rata kekerasan 5 titik : 171 HB / 6 HRC
 Ems 45 silinder
Rata-rata kekerasan 5 titik : 171 HB / 6 HRC
 Spk blok
Rata-rata kekerasan 5 titik : 218 HB / 18 HRC

Figure 10. Mesin uji keras brinel

3. Ikat benda kerja dengan kawat


Ikat dengan kuat benda kerja dengan dengan kawat dan bantuan tang potong.

4. Panaskan benda kerja.


 Panaskan benda kerja EMS 45 blok dan silinder pada tungku api terbuka sampai
warna benda kerja merah menyala
 Panaskan benda kerja SPK pada oven
Suhu awal : 700
Holding time pertama : setengah jam
Suhu kedua : 860
Holding time kedua : satu jam
5. Quenching benda kerja
Quenching EMS 45 di air,
sedangkan SPK di oli, tunggu
sampai dingin dan masukan
kedalam minyak tanah untuk
menghilangkan oli.

Figure 11. pemanasan benda kerja

Figure 12. Quenching

6. Amplas permukaan benda kerja.

Figure 13. mesin amplas otomatis

7. Uji kekerasan benda kerja setelah pemanasan dengan mesin uji keras HRC

 Ems 45 balok
Rata-rata kekerasan 5 titik : 61,56 HRC
 Ems 45 balok
Rata-rata kekerasan 5 titik : 57,66 HRC
 SPK
Rata-rata kekerasan 5 titik : 64,12 HRC

Figure 14. Mesin uji keras HRC


8. Temper benda kerja SPK di mesin temper oven selama satu jam dengan suhu 300 derajat
celcius, dan dinginkan di udara.

Figure 15. hasil temper SPK 300


Figure 16. mesin temper
derajat celcius
oven

9. Temper benda kerja EMS 45 balok dan silinder


pada tungku api terbuka
Temper dengan api bersih (biru). Benda kerja diputar dan naik turunkan agar
pemanasan merata, dinginkan di udara. Temper EMS 45 pada suhu 220, 250, 280, 300, 360,
dan 400 derajat celcius. Kemudian uji setiap hasil suhu temper dengan mesin uji keras.
FigureFigure
18. contoh temper Figure 17. contoh temper
19. temper tungku api terbuka
10. Uji keras benda kerja yang sudah distemper pada masing-masing suhu temper.
 SPK (300 derajat celcius)
Rata-rata kekerasan 5 titik : 60,14 HRC
 EMS 45 balok
1. 220 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 54,48 HRC
2. 250 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 52,54 HRC
3. 280 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 51,28 HRC
4. 300 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 50,5 HRC
5. 360 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 50,2 HRC
6. 400 derajat ceclius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 46,15 HRC
 EMS 45 silinder
1. 220 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 52,22 HRC
2. 250 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 50,14 HRC

3. 280 derajat celcius


Rata-rata kekerasan 5 titik : 48,12HRC
4. 300 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 47,18 HRC
5. 360 derajat celcius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 45,16 HRC
6. 400 derajat ceclius
Rata-rata kekerasan 5 titik : 44,12 HRC

2.4 Percobaan Blackening


1. Siapkan benda kerja ST 37
2. Amplas benda kerja dengan mesin amplas.

3. Ikat benda kerja dengan kawat

5. Panaskan benda kerja dengan tungku api terbuka sampai suhu 550 derajat celcius.
Lalu dinginkan langsung dengan oli.

Figure 20.pemanasan Figure 21. quenching oli


6. Ulangi pemanasan dan pendinginan sampai hasilnya
bagus.
2.4 Percobaan pengujian struktur
1. Poles benda kerja dengan mesin sand grinding polisher menggunakan amplas kasar
sampai yang terhalus. Oleskan cairan alumina di mesin sebelah kiri dan poles
menggunakan kain.

Figure 23 mesin sand grinding polisher

2. Bersihkan permukaan benda kerja dengan alcohol dan tetesi sedikit cairan nitrat.
3. Uji struktur dengan mikroskop, dengan skala paling kecil hingga paling besar.

L;l;
Percobaan
Bers

‘;\;

Figure 25. mikroskop.