Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK

METODE PENELITIAN

Disusun Oleh Kelompok 8 :

1. Anis Rizki Meliandhani (201701056)

2. Nabila Magfiroh (201701047)

3. Nurul Hilda Khasanah (201701079)

4. Samuel Yan Dumgair (201701081)

5. Sinta Anggi Pratiwi (201701082)

6. Radiva Kurnia Fitriyah (201701086)

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN

STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO

TA. 2020
TELAAH JURNAL

No Peneliti Tahun Lokasi Judul Metode Hasil Alamat Jurnal


Penelitian
1. Fitri Dyna, Veni Oktober, SD Negeri Hubungan Kuantitatif Bahwa anak usia sekolah yang http://ejournal.lldikti10.id/i
Dayu Putri, Dwi 2018 141 perilaku dengan desain berperilaku jajan makanan ndex.php/endurance/article
Indrawati Pekanbaru konsumsi penelitian terbuka 53 responden (74,6%), /viewFile/3097/1140
jajanan pada korelasional dan yang mengalami diare
pedagang kaki sebanyak 28 responden (39,4%).
lima dengan Hasil uji chi square didapatkan
kejadian diare nilai P Value 0,01 artinya
terdapat hubungan perilaku
komsumsi jajanan pada
pedagang kaki lima dengan
kejadian diare. Diharapkan
pihak sekolah untuk mengawasi
aneka jajanan yang
diperjualbelikan di lingkungan
sekolah.
2. M. Luthfi Desember, SD Negeri Hubungan Metode Sebagian besar siswa http://www.jurnalnasional.
Almanfaluthi, 2015 2 Cipete antara konsumsu observasional berpengetahuan memilih ump.ac.id/index.php/medis
M. Hidayat Budi Banyumas jajanan kaki analitik dengan makanan jajanan tidak baik ains/article/view/1610/137
lima terhadap desain cross sebesar 60,7% dan kebiasaan 4
penyakit diare sectional jajan dengan kategori sering
pada anak sebesar 52%. Dengan frekuensi
sekolah dasar konsumsi maksimum jajanan
anak sekolah adalah 141 kali
jajan dalam 1 bulan. Rerata
frekuensi konsumsi makanan
jajanan siswa dengan 63 kali
dalam 1 bulan. Siswa yang
mengalami diare sebanyak 15
(20,5%), sedangkan siswa tidak
mengalami diare sebanyak 85
(79,5%). Hasil analisis data
menggunakan uji statitik Eta
diperoleh p value sebesar 0,002
(p < 0,05) dengan koefisien
korelasi sebesar 0,967
menunjukkan bahwa kekuatan
korelasi yang sangat kuat.
3. Ruliati MI Darul Maret, Hubungan Metode survey Pola konsumsi jajanan sekolah http://digilib.stikesicme-
Ulum Desa 2018 konsumsi analityc dengan positif 51% dan negatif 49%. jbg.ac.id/ojs/index.php/jib/
Ngumpul jajanan sekolah pendekatan cross Sedangkan kejadian diare 55% article/download/454/378
Kec. dengan kejadian sectional dan tidak diare 45%. Hasil uji
Jogoroto diare pada anak rank spearmen’s di peroleh nilai
Kab. usia sekolah signifikan atau angka
Jombang probabilitas (0,001) lebih rendah
dari standar signifikan (0,05)
atau (ρ<α) maka H1 diterima
dan H0 ditolak yang berarti ada
hubungan signifikan konsumsi
jajanan sekolah dengan kejadian
diare pada anak usia sekolah.
4. Lisna Nuryanti, SDIT Februari – Korelasi Deskriptif Bahwa tidak ada korelasi http://jurnal.stikesbudiluhu
Lina Indrawati Salsabila Juli, 2018 perilaku hand korelasi melalui pengetahuan kebersihan tangan rcimahi.ac.id/index.php/jk
Bekasi hygiene dengan pendekatan cross dengan kejadian diare pada anak bl/article/download/jkbl11
kejadian diare sectional usia sekolah dengan p 213/12
pada anak usia value=0,776, ada korelasi sikap
sekolah di SDIT kebersihan tangan dengan
Salsabila Bekasi kejadian diare pada anak usia
Timur 2017 sekolah dengan p value=0,007,
dan ada korelasi tindakan
kebersihan tangan dengan
kejadian diare pada anak usia
sekolah dengan p value=0,0005.
5. Lindawati SD Negeri Mei, 2019 Pengaruh teman Quasi ekspriment Tidak ada pengaruh teman http://jurnal.poltekkesbant
Karangsari sebaya terhadap sebaya terhadap prilaku jajan en.ac.id/Medikes/article/do
2, perilaku jajan sehat pada anak SDN Karangsari wnload/159/137
Tanggerang sehat anak di 2 (p=0,468) dan dianjurkan pada
SDN Karangsari sekolah untuk membentuk kader
2, Tanggerang kesehatan tentang jajanan sehat
yang bisa membantu sekolah
untuk menumbuhkan prilaku
jajan sehat pada anak SDN
karangsari 2 Kota Tangerang.
Judul Penelitian : Hubungan perilaku jajanan dikaki lima dengan kejadian diare pada anak
dengan usia sekolah dasar

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Anak usia Sekolah Dasar (SD) adalah anak yang berusia 6 sampai 12 tahun. Masa ini
merupakan akhir masa kanak - kanak (late chilhood) yang berlangsung dari usia 6 tahun
sampai tibanya anak menjadi matang secara seksual, yaitu 13 tahun bagi perempuan dan 14
tahun bagi laki-laki (M. Luthfi Almanfaluthi 2015). Pada masa ini keseimbangan gizi perlu
dijaga agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak usia sekolah
membutuhkan makanan yang cukup secara kuantitas dan kualitas agar memiliki keadaan atau
status gizi yang baik (Dyna, Putri, and Indrawati 2018).

Hampir semua anak memiliki kebiasaan jajan terutama ketika berada di sekolah atau
di luar rumah. Kebiasaan tersebut menjadi suatu prilaku yang sering ditemui dan sulit dicegah
oleh orangtua. Prilaku jajan bisa berdampak positif bila anak dapat memilih makanan sehat
dan bergizi, namun akan berdampak negatif bila anak salah dalam memilih jajan tampa
memperhatikan kandungan makanan yang berbahaya bagi kesehatan karena ada zat
pengawet, pemanis tambahan dan zat pewarna tekstil. Kadangkala anak tidak memperhatikan
kadaluarsa dan kebersihan makananan (Lindawati 2019). Makanan yang tidak sehat akibat
terkontaminasi oleh mikroorganisme pada beberapa jenis jajanan akibat proses memasak
yang tidak sempurna, kurangya kebersihan dari pedagang, dan alat yang di gunakan pedagang
untuk menyajikan makanan dapat mempengaruhi terjadinya diare pada anak sekolah. Diare
merupakan gangguan buang air besar/BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari
dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lendir. Di dunia sebanyak
1,5 juta anak meninggal karena diare setiap tahunya (Ruliati 2018).

Penyakit yang diderita oleh anak SD terkait perilaku jajanan tidak sehat diantaranya
cacingan 40-60%, anemia 23,2%, karies dan periodontal 74,4%. penyakit menular pada anak
usia sekolah karena sekolah merupakan lokasi sumber penularan penyakit infeksi pada anak
(Lindawati 2019). Diare merupakan gangguan buang air besar/BAB ditandai dengan BAB
lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau
lendir. Di dunia sebanyak 1,5 juta anak meninggal karena diare setiap tahunya. Pada
Riskesdas 2013 insiden diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3.5%.
Hingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dan
berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diare merupakan penyebab
kematian nomor empat (13,2%) pada semua umur dalam kelompok penyakit menular dan
merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi post neonatal 31,4% dan pada anak
balita 25,2% (Riskesdas, 2013). Di Jawa Timur cakupan pelayanan penderita Diare 2012
sebesar 72,43% (masih di bawah target Nasional 100%). Pada kabupaten/kota di Jawa Timur
belum bisa mencapai target, karena ketepatan dan kelengkapan laporan dari Puskesmas ke
kabupaten/kota sangat rendah (Ruliati 2018).

Salah satu makanan yang belum mendapatkan pengawasan maksimal dari pemerintah
adalah jajanan anak sekolah, Hal ini di buktikan dengan di temukanya bahan pewarna yang
berbahaya, pemanis yang tidak di perbolehkan, ataupun kontaminasi oleh mikroorganisme.
Anak-anak sekolah mengatakan bahwa jajanan di sekitar sekolah mereka enak dan harganya
murah didalam jajan tersebut mengandung zat-zat seperti (Rhodamin B dan Metanil Yellow)
yang berbahaya bagi kesehatan tubuh mereka. Ada juga makanan yang pengolahannya tidak
hygienis bahkan ada makanan yang telah rusak atau busuk di olah kembali menjadi makanan
ringan yang biasa di konsumsi anak-anak (Ruliati 2018). Makanan jajanan berdampak
negative apabila makanan yang dikomsumsi tidak mengandung nilai gizi yang cukup dan
tidak terjamin kebersihan serta keamanannya. Mengkomsumsi jajanan yang tidak baik akan
menimbulkan masalah gizi dan akan menganggu kesehatan anak seperti terserang penyakit
saluran pencernaan dan dapat timbul penyakit-penyakit lainnya yang diakibatkan pencemaran
bahan kimia (Dyna, Putri, and Indrawati 2018).Di negara yang sedang berkembang, insiden
yang tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar,
kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh (M. Luthfi
Almanfaluthi 2015). Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap prilaku jajan anak dalam
memilh makanan adalah keluarga dan sekolah, serta teman sebaya. Anak ingin diterima serta
diakui keberadaannya oleh teman sebaya sehingga prilaku jajan seorang teman akan diikuti
oleh anak lain. Anak sekolah dasar sering membeli jajanan di sekolah. Anak cenderung untuk
membeli jajanan yang tersedia paling dekat dengan keberadaannya. Meniru atau mempelajari
kebiasaan teman sebaya akan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam memilih jajanan
(Lindawati 2019).
Jika masalah-masalah kesehatan tersebut tidak segera diatasi dengan baik dan tepat
maka akan dapat menimbulkan berbagai masalah bahkan kematian. Melihat uraian diatas
menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyelamatkan dan meningkatkan derajat
kesehatan anak sekolah dasar agar tidak salah dalam memilih makanan yang mereka
konsumsi. Untuk itu sebagai tenaga kesehatan kita juga dapat menggunakan fasilitas
puskesmas agar meningkatkan kegiatan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) ke sekolah-sekolah
dasar sekaligus memberikan penyuluhan pada anak-anak tentang bahaya jajanan tersebut,
dari kegiatan itu kita juga dapat membagikan leaflet mengenai bahaya mengkonsumsi
jajanan. (Ruliati 2018). Perilaku mencuci tangan sangat penting untuk mencegah penyakit
infeksi saluran pencernaan, seperti diare merupakan salah satu penyakit akibat tidak mencuci
tangan dengan benar misalnya, seseorang setelah buang air besar atau kecil, tangannya
membawa bakteri, bisa berupa cacing atau bakteri lainnya (Lisna Nuryanti 2018).

Masyarakat yang melakukan cuci tangan dengan baik dan benar sebanyak 47% dari
jumlah penduduk Indonesia. Masyarakat yang belum menerapkan Personal Hygiene dengan
benar dalam kesehariannya masih cukup banyak. Pemerintah telah membentuk sebuah
program sebagai upaya dalam membudayakan masyarakat untuk selalu hidup bersih dan
sehat, mencegah terjadinya penyakit yang berhubungan dengan lingkungan, memampukan
masyarakat dan untuk menerapkan komitmen pemerintah mengenai akses air minum dan
sanitasi dasar. Program yang dimaksudkan adalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM). Terdapat 5 pilar STBM yang meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci
Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga, dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga. Tujuan STBM adalah
untuk menurunkan kejadian penyakit diare dan penyakit yang berhubungan dengan sanitasi
dan perilaku (Intan Putri Swari 2020). Terkadang anak sekolah mempunyai kebiasaan jajan
secara bersama – sama dengan teman dan memilih makanan yang sama. Kadangkala mereka
bawa bekal bersama – sama yang diawali dengan janji dan makan secara bersama- sama pula
(Lindawati 2019).

I.2 Rumusan Masalah


1. Adakah hubungan pedagang kaki lima dengan kejadian diare pada anak dengan usia
sekolah dasar ?
2. Apa saja factor – factor yang menyebabkan diare pada anak dengan usia sekolah
dasar?
I.3 Tujuan Penelitian
Tujuan Umum :

1. Mengidentifikasi adanya hubungan pedagang kaki lima dengan kejadian diare


pada anak dengan usia sekolah dasar
2. Mengidentifikasi factor – factor penyebab diare pada anak dengan usia sekolah
dasar

Tujuan Khusus :

1. Mengidentifikasi penyebab diare pada anak dengan usia sekolah dasar


2. Mengidentifikasi peran sekolah dan peran orangtua dalam jajanan kaki lima pada
anak dengan usia sekolah dasar
3. Mengidentifikasi hubungan teman sebaya dengan jajanan kaki lima pada anak
dengan usia sekolah dasar
4. Mengidentifikasi personal hygiene pada anak dengan usia sekolah dasar
BAB II
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

2.1 Konsep Jajanan

2.1.1 Definisi Jajanan

Menurut [ CITATION Isn \l 1057 ], mengartikan jajanan sebagai makanan dan


minuman yang dipersiapkan atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan tempat-
tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau
persiapan lebih lanjut.

Terlalu sering mengkonsumsi makanan jajanan dapat berakibat negative.

Dampak yang dapat ditimbulkan antara lain :

1. 1.Menurunnya nafsu makan pada anak.


2. Makanan yang tidak bersih akan memimbulkan berbagai penyakit.
3. Dapat menyebabkan obesitas pada anak.
4. Dapat menyebabkan kekurangan gizi, karena kandungan gizi pada jajananyang
kurang.
5. Pemborosan.

2.1.2 Jenis-Jenis dari Makanan Jajanan

Jenis-jenis makanan jajanan dapat digolongkan menjadi :

1. Makanan yang berbentuk, misalnya pisang goreng, kue putu, kue bugis dan
sebagainya.
2. Makanan jajanan yang diporsi seperti pecel, mie bakso, laksa, asinan, toge goreng dan
sebaginya.
3. Makanan jajanan dalam bentuk minuman, seperti cendol, bajigur, cincau, es krim dan
sebaginya.

Menurut [ CITATION Isn \l 1057 ], makanan jajanan digolongkan menjadi 4 (empat), yaitu :

1. Makanan berat/pokok, misal nasi rames, nasi uduk, nasi rawon, dan sejenisnya.
2. Makanan panganan (snack), misal kue-kue, gorengan, dan sejenisnya.
3. Golongan minuman (drinks), misal es teller, es buah, es kelapa, dan sejenisnya.
4. Buah-buahan segar, misal mangga, pisang, jambu, dan sejenisnya.

2.1.3 Karakteristik jajanan

Karakteristik jajanan [ CITATION Isn \l 1057 ] terdiri dari rasa, aroma, rupa, tekstur,
harga, jenis dan bentuk. Dalam mengkonsumsi makanan jajanan remaja biasanya cenderung
lebih suka makanan yang memiliki rasa pedas, durih, dan manis. Karakteristik makanan
jajanan terutama jenis makanan ringan dan minuman rata-rata berasal dari bahan tambahan
pangan (BTP).Keberadaan BTP adalah untuk membuat makanan menjadi lebih menarik lebih
berkualitas, serta memiliki rasa dan tektur yang lebih sempurna [ CITATION Ind18 \l 1057 ].
Bahan tambahan pangan yang terkandung dalam makanan jajanan antara lain:

1. Pemanis merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan digunakan


untuk keperluan produk olahan pangan, industri, serta minuman dan makanan
kesehatan.Pemanis berfungsi untuk meningkatkan cita rasa aroma, memperbaiki
sifat-sifat fisik, sebagai pengawet, memperbaiki sifat-sifat kimia sekaligus
merupakan sumber kalori bagi tubuh [ CITATION Ind18 \l 1057 ]. Berdasarkan
sumbernya pemanis dapat dikelompokkan menjadi pemanis alami dan pemanis
buatan (sintetis). Pemanis alami berasak dari tanaman seperti tebu dan bit.
Sedangkan pemanis buatan yang biasa digunakan adalah sakarin dan siklamat.
2. Pewarna Zat, pewarna sudah sejak lama dikenal dan digunakan, misalnya daun
pandan, daun suji, dan kunyit.Kini dengan berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi telah ditemukan zat warna sintetis, karena penggunaannya lebih
praktis dan harganya murah [ CITATION Isn \l 1057 ]. Pewarna pada makanan
ada 2 jenis, yaitu:
a. Bahan pewarna alami berasal dari tumbuhan dan hewan yang
mengandung di antaranya adalah klorofil, mioglobin, hemoglobin,
anthosianin, flavonoid, tannin, betalain, quinon, xanthon, dan
karotenoid.
b. Zat pewarna sintetis berasal dari bahan kimia. Bahan pewarna sintetis
yang diizinkan di Indonesia antara lain: Amaran, eritrosin, biru berlian
hijau FCF, indigotin, ribloflavina, tartrazine, hijau S, kuning FCF,
kuning kuinelin, dan ponceau 4R.
c. Bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan
pangan.Bahan pengawet yang biasa digunakan adalah natrium benzoat.
Secara umum tujuan penambahan bahan pengawet adalah:
o Menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk pada pangan
o Memperpanjang umur simpan pangan
o Tidak menurunkan kualitas gizi, warna, cita rasa, dan bau bahan
pangan yang diawetkan.
o Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan
pangan.
o Tidak digunakan untuk menyebunyikan penggunaan bahan yang
salah[ CITATION Ind18 \l 1057 ]

2.1.4 Cara Mengkonsumsi Jajan

Cara mengkonsumsi jajan sangat penting diperhatikan karena hal ini juga dapat memicu
timbulnya penyakit diare. Adapun cara mengkonsumsi jajan yang perlu di perhatikan :

1. Kebersihan tempat.
2. Mencuci tangan sebelum makan .
3. Memperhatikan tanggal kadaluarsa pada snack berkemasan.[ CITATION Ind18 \l
1057 ].

2.2 Konsep Diare

2.2.1 Definisi Diare

Diare merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan perubahan konsistensi tinja
yang lembek menjadi cair dan frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali
atau lebih dalam sehari [ CITATION Isn \l 1057 ]. Diare merupakan salah satu penyakit
sistem pencernaan yang sering dijumpai di masyarakat.

2.2.2 Jenis Diare

Diare dapat dibedakan menjadi tiga macam sindrom, yaitu:

1. Diare Akut
Diare akut merupakan diare yang terjadi secara mendadak pada anak yang
sebelumnya sehat. Diare akut berlangsung singkat dalam beberapa jam sampai 7 hari
atau 14 hari. Diare akut disebabkan oleh virus atau kuman, akibat efek samping obat
atau gejala dari gangguan saluran cerna.
2. Disentri
Disentri merupakan diare yang bercampur darah dalam feses, yang bias
menyebabkan penurunan berat badan dengan cepat, dan anoreksia [ CITATION
Isn \l 1057 ].

22.3 Penyebab Diare

Penyebab diare berasal dari beberapa faktor yang terdiri dari :

1. Faktor makanan atau faktor jajanan


Faktor makanan atau faktor jajanan juga bisa disebabkan karena makanan
yang sudah basi, makanan beracun, dan alergi makanan sehingga usus tidak
mampu menyerap dengan baik yang kemudian akan menyebabkan diare
[ CITATION Isn \l 1057 ].
2. Faktor infeksi
Faktor infeksi ditandai dengan adanya mikroorganisme yang masuk ke dalam
saluran pencernaan kemudian kuman akan berkembang dalam usus dan merusak
sel mukosa usus yang dapat mengakibatkan menurunkan permukaan usus .
[ CITATION Ind18 \l 1057 ].
3. Faktor malabsorbsi
Faktor malabsorbsi karbohidrat yaitu terganggunya sistem pencernaan yang
berpengaruh pada penyerapan karbohidrat dalam tubuh. 4. Faktor psikoligis
Faktor psikologis juga dapat mempengaruhi terjadinya peristaltik usus sehingga
mengganggu proses penyerapan makanan. [ CITATION Isn \l 1057 ]

2.2.4 Tanda dan Gejala

Beberapa tanda dan gejala pada kasus diare, antara lain :

1. Suhu badan meningkat.


2. Terkadang disertai nafsu makan berkurang.
3. Timbul diare ( feses cair, kadang di sertai darah atau lendir).
4. Karena bercampur cairan empedu, feses berwarna kehijauan.
5. Muntah baik sebelum maupun sesudah diare.
6. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi yaitu ubun-ubun besar cekung pada bayi,
tonus otot dan turgor kulit berkurang, bibir kering, berat badan menurun, pucat,
dan lemah. [ CITATION Ind18 \l 1057 ].

2.2.5 Komplikasi diare

1. Dehidrasi
Dehidrasi meliputi dehidrasi ringan, sedang dan berat. Dehidrasi ringan
terdapat tanda atau lebih dari keadaan umumnya baik, mata terlihat normal, rasa
hausnya normal, minum biasa dan turgor kulit kembali cepat. Dehidrasi sedang
keadaan umumnya terlihat gelisah dan rewel, mata terlihat cekung, haus dan merasa
ingin minum banyak dan turgor kulitnya kembali lambat.Sedangkan dehidrasi berat
keadaan umumnya terlihat lesu, lunglai atau tidak sadar, mata terlihat cekung, dan
turgor kulitnya kembali sangat lambat > 2 detik. [ CITATION Isn \l 1057 ]
2. Hipernatremia
Hipernatremia biasanya terjadi pada diare yang disertai muntah.
3. Hiponatremia
Hiponatremia terjadi pada anak yang hanya minum air putih saja atau hanya
mengandung sedikit garam, ini sering terjadi pada anak yang mengalami infeksi
shigella dan malnutrisi berat dengan edema [ CITATION Ind18 \l 1057 ].
4. Hipokalemia
Hipokalemia terjadi karena kurangnya kalium (K) selama rehidrasi yang
menyebakan terjadinya hipokalemia ditandai dengan kelemahan otot, peristaltik usus
berkurang, gangguan fungsi ginjal, dan aritmia [ CITATION Ind18 \l 1057 ]
5. Demam
Demam sering ditemui pada kasus diare. Biasanya demam timbul jika
penyebab diare berinvansi ke dalam sel epitel usus [ CITATION Ind18 \l 1057 ].
Bakteri yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai antigen oleh tubuh. Bakteri
tersebut mengeluarkan toksin lipopolisakarida dan membran sel. Sel yang bertugas
menghancurkan zat-zat toksik atau infeksi tersebut adalah neutrofil dan makrofag
dengan cara fagosistosis. Sekresi fagosik menginduksi timbulnya demam
[ CITATION Isn \l 1057 ].
DAFTAR PUSTAKA

Dyna, Fitri, Veni Dayu Putri, and Dwi Indrawati. 2018. “Hubungan Perilaku Konsumsi
Jajanan Pada Pedagang Kaki Lima Dengan Kejadian Diare” 3 (3): 524–30.

Intan Putri Swari, Muji Sulistyowati. 2020. “Analisis Teori Health Belief Model Terhadap
Tindakan Personal Hygiene Siswa Sekolah Dasar,” 8–13.

Lindawati. 2019. “Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku Jajan Sehat Anak Di SDN
Karangsari 2, Tanggerang” 6: 61–68.

Lisna Nuryanti, Lina Indrawati. 2018. “Korelasi Perilaku Hand Hygiene Dengan Kejadian
Diare Pada Anak Usia Sekolah Di SDIT Salsabila Bekasi Timur 2017” 11: 330–43.

M. Luthfi Almanfaluthi, M. Hidayat Budi. 2015. “Hubungan Antara Konsusmsi Jajajan Kaki
Lima Terhadap Penyakit Diare Pada Anak Sekolah Dasar” XIII (3): 58–65.

Ruliati. 2018. “Hubungan Konsumsi Jajanan Sekolah Dengan Kejadian Diare Pada Anak
Usia Sekolah” 15 (1): 46–54.

Anisah, I. N. (2019). Hubungan Kebiasaan Anak Jajan Diluar Dengan kejadian Diare Pada

Siswa SD . Yogyakarta.

Indian Sunita, E. M. (2018). Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Sikap Anak Usia

Sekolah dasar . PEKANBARU.