Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SYNDROM STIVEN JHONSON

Dosen Pembimbing : Luthfi Wahyuni.,S.kep.Ns.,M.kes

Disusun oleh :

Yovani Hariyogik (201701180)

Ariq Pratama P. (201701189)

Rossalia Dwi A (201701191)

Eka Windasari. (201701199)

Lorens Luan (201701207)

Siti Kholifah (201701208)'

STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO

Jln. Raya jabon km. 06, mojoanyar, Gayaman, mojoanyar, mojokerto,


jawa timur 61363, Indonesia
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun
tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang


“KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SYNDROM STEVEN
JHONSON ”, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang
datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangu. Terimakasih.

Mojokerto,25 September 2019


Daftar Isi
BAB I

Laporan Pendahuluan

A. Definisi

Sindrom Steven Jhonson atau dalam bahasa inggris Stevens-Johnson


sindrom (SJS) adalah suatu kumpulan gejala klinis erupsi mukokutaneus yang
ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa, mukosa orifisium serta
mata disertai gejala umum berat. Sinonimnya antara lain : sindrom de
Friessinger-Rendu, eritema eksudativum multiform mayor, eritema poliform
bulosa, sindrom muko-kutaneo-okular, dermatostomatitis, dll. Selain nama
sindrom Steven Johnson, ada TEN (Toksic Epidermal Necrolisys) dimana
ketika lesi kulit kurang dari 10% total dari tubuh disebut Sindrom Stevens
Johnsons, 10-30% kerusakan kulit disebut transisi, sementara jika lebih dari
30% disebut TEN

Stevens Johnson Syndrome adalah sebuah kondisi mengancam jiwa yang


mempengaruhi kulit dimana kematian sel menyebabkan epidermis terpisah
dari dermis. Sindrom ini diperkirakan oleh karena reaksi hipersensitivitas
yang mempengaruhi kulit dan membrane mukosa. Walaupun pada
kebanyakan kasus bersifat idiopatik, penyebab utama yang diketahui adalah
dari pengobatan, infeksi dan terkadang keganasan. (Amin Huda Nurarif 2015).

Sindrom Stevens- Johnsons merupakan sindrom yang mengenai kulit,


selaput lendir diorifisium, dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari
ringan sampai berat. Kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat
disertai purpura. (Arif Muttaqin, 2012).

Sindrom Steven Johnson Adalah sindrom yang mengenai kulit, selaput


lendir di orifisium dan mata dengan keadaan umum berfariasi dari ringan
sampai berat kelainan pada kulit berupa eritema vesikel / bula, dapat disertai
purpura. ( Djuanda, 2000).

B. Etiologi
Hampir semua kasus SJS disebabkan oleh reaksi toksik terhadap obat,
terutama antibiotik (mis. obat sulfa dan penisilin), antikejang (mis. fenitoin)
dan obat antinyeri, termasuk yang dijual tanpa resep (mis. ibuprofen). Terkait
HIV, penyebab SJS yang paling umum adalah nevirapine (hingga 1,5%
penggunanya) dan kotrimoksazol (jarang). Reaksi ini dialami segera setelah
mulai obat, biasanya dalam 2-3 minggu. Walaupun abacavir dapat
menyebabkan reaksi gawat pada kulit, reaksi ini tidak terkait dengan SJS.
Eritema multiforme dapat disebabkan oleh herpes simpleks (Lembaran
Informasi (LI) 519), tetapi penyakit ini jarang menjadi gawat.

Beberapa penyebab Sindrom Stevens Johnson :

1. Infeksi (biasanya merupakan lanjutan dari infeksi seperti virus herpes


simpleks, influenza, gondongan/mumps, histoplasmosis, virus Epstein-
Barr, atau sejenisnya).
2. Efek samping dari obat-obatan (allopurinol, diklofenak, fluconazole,
valdecoxib, sitagliptin, penicillin, barbiturat, sulfanomide, fenitoin,
azitromisin, modafinil, lamotrigin, nevirapin, ibuprofen, ethosuximide,
carbamazepin).
3. Keganasan (karsinoma dan limfoma).
4. Faktor idiopatik (hingga 50%).
5. Sindrom Stevens Johnson juga dilaporkan secara konsisten sebagai efek
samping yang jarang dari suplemen herbal yang mengandung ginseng.
Sindrom Steven Johnson juga mungkin disebabkan oleh karena
penggunaan kokain.
Walaupun SJS dapat disebabkan oleh infeksi viral, keganasan atau reaksi
alergi berat terhadap pengobatan, penyebab utama nampaknya karena
penggunaan antibiotic dan sulfametoksazole. Pengobatan yang secara
turun menurun diketahui menyebabkan SJS, eritem multiformis, sindrom
Lyell, dan nekrolisis epidermal toksik diantaranya sulfanomide
(antibiotik), penisilin (antibiotic), berbiturate (sedative), lamotrigin
(antikonvulsan), fenitoin-dilantin (antikonvulsan). Kombinasi lamotrigin
dengan asam valproat meningkatkan resiko dari terjadinya SJS.
C. Manifestasi klinis

Perjalanan penyakit sangat akut dan mendadak dapat disertai gejala


prodormal berupa demam tinggi (30ºC - 40ºC), mulai nyeri kepala, batuk,
pilek dan nyeri tenggorokan yang dapat berlangsung 2 minggu. Gejala-gejala
ini dengan segera akan menjadi berat yang ditandai meningkatnya kecepatan
nadi dan pernafasan, denyut nadi melemah, kelemahan yang hebat serta
menurunnya kesadaran, soporous sampai koma.

Gejala prodromal berkisar antara 1-14 hari berupa demam, malaise, batuk,
koriza, sakit menelan, nyeri dada, muntah, pegal otot dan atralgia yang sangat
bervariasi dalam derajat berat dan kombinasi gejala tersebut. Kulit berupa
eritema, papel, vesikel, atau bula secara simetris pada hampir seluruh tubuh.
Mukosa berupa vesikel, bula, erosi, ekskoriasi, perdarahan dan kusta berwarna
merah. Bula terjadi mendadak dalam 1-14 hari gejala prodormal, muncul pada
membran mukosa, membran hidung, mulut, anorektal, daerah vulvovaginal,
dan meatus uretra. Stomatitis ulseratif dan krusta hemoragis merupakan
gambaran utama.

Mata : konjungtivitas kataralis, blefarokonjungtivitis, iritis, iridosiklitis,


kelopak mata edema dan sulit dibuka, pada kasus berat terjadi erosi dan
perforasi kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Cedera mukosa okuler
merupakan faktor pencetus yang menyebabkan terjadinya ocular cicatricial
pemphigoid, merupakan inflamasi kronik dari mukosa okuler yang
menyebabkan kebutaan. Waktu yang diperlukan mulai onset sampai
terjadinya ocular cicatricial pemphigoid bervariasi mulai dari beberapa bulan
sampai 31 tahun.

Pada sindroma ini terlihat adanya trias kelainan berupa :

1. Kelainan kulit
Kelainan pada kulit dapat berupa eritema, vesikal, dan bulla. Eritema
berbentuk cincin (pinggir eritema tengahnya relatif hiperpigmentasi) yang
berkembang menjadi urtikari atau lesipapuler berbentuk target dengan
pusat ungu atau lesi sejenis dengan vesikel kecil. Vesikel kecil dan bulla
kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Disamping itu dapat
juga terjadi erupsi hemorrhagis berupa ptechiae atau purpura. Bila disertai
purpura, prognosisnya menjadi lebih buruk. Pada keadaan yang berat
kelainannya menjadi Generalisata.
2. Kelainan selaput lendir di orifisium
Kelainan selaput lendir di orifisium yang tersering ialah pada mukosa
mulut/bibir (100%), kemudian disusul dengan kelainan di lubang alat
genetalia (50%), sedangkan dilubang hidung dan anus jarang (masing-
masing 8% - 4%). Kelainan yang terjadi berupa stomatitis dengan vesikel
pada bibir, lidah, mukosa mulut bagian buccal stomatitis merupakan
gejala yang dini dan menyolok. Stomatitis ini kemudian menjadi lebih
berat dengan pecahnya vesikel dan bulla sehingga terjadi erosi, excoriasi,
pendarahan, ulcerasi dan berbentuk krusta kehitaman. Juga dapat
terbentuk pseudomembran. Di bibir kelainan yang sering tampak ialah
krusta berwarna hitam yang tebal. Adanya stomatitis ini dapat
menyebabkan penderita sukar menelan. Kelainan di mukosa dapat juga
terjadi di faring, traktus respiratorius bagian atas dan esophagus.
Terbentuknya pseudomembran di faring dapat memberikan keluhan sukar
bernafas dan penderita tidak dapat makan dan minum.
3. Kelainan mata
Kelainan pada mata merupakan 80% diantara semua kasus, yang sering
terjadi ialah conjunctivitis kataralis. Selain itu dapat terjadi conjunctivities
purulen, pendarahan, simblefaron, ulcus kornea, iritis/iridosiklitis yang
pada akhirnya dapat terjadi kebutaan sehingga dikenal trias yaitu
stomatitis, conjunctivities, balantis uretritis.
D. Klasifikasi
Terdapat 3 derajat klasifikasi Sindrom Stevens Johnsons :
1. Derajat 1 : erosi mukosa SJS dan pelepasan epidermis kurang dari
10%.
2. Derajat 2 : lepasnya lapisan epidermis antara 10-30%.
3. Derajat 3 : lepasnya lapisan epidermis lebih dari 30%
E. Patofisiologi

Patogenesisnya belum jelas, diperkirakan karena reaksi alergi tipe III dan
IV. Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya kompleks antigen antibodi yang
membentuk mikropresitipasi sehingga terjadi aktivasi sistem komplemen.
Akibatnya terjadi akumulasi neutrofil yang kemudian melepaskan lisozim dan
menyebabkan kerusakan jaringan pada organ sasaran. Reaksi tipe IV terjadi
akibat limfosit T yang tersensitisasi berkontak kembali dengan antigen yang
sama, kemudian limfokin dilepaskan sehingga terjadi reaksi radang.

Pada beberapa kasus yang dilakukan biopsi kulit dapat ditemukan endapan
IgM, IgA, C3, dan fibrin, serta kompleks imun beredar dalam sirkulasi.
Antigen penyebab berupa hapten akan berikatan dengan karier yang dapat
merangsang respons imun spesifik sehingga terbentuk kompleks imun
beredar. Hapten atau karier tersebut dapat berupa faktor penyebab (misalnya
virus, partikel obat atau metabolitnya) atau produk yang timbul akibat
aktivitas faktor penyebab tersebut (struktur sel atau jaringan sel yang rusak
dan terbebas akibat infeksi, inflamasi, atau proses metabolik). Kompleks imun
beredar dapat mengendap di daerah kulit dan mukosa, serta menimbulkan
kerusakan jaringan akibat aktivasi komplemen dan reaksi inflamasi yang
terjadi.

Kerusakan jaringan dapat pula terjadi akibat aktivitas sel T serta mediator
yang dihasilkannya. Kerusakan jaringan yang terlihat sebagai kelainan klinis
lokal di kulit dan mukosa dapat pula disertai gejala sistemik akibat aktivitas
mediator serta produk inflamasi lainnya.

Adanya reaksi imun sitotoksik juga mengakibatkan apoptosis keratinosit yang


akhirnya menyebabkan kerusakan epidermis.
F. Pathway
G. Komplikasi
Sindrom Steven Johnsons sering sering menimbulkan komplikasi,antara
lain :
1. Kehilangan cairan dan darah.
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, shock.
3. Oftalmologi – ulserasi kornea, uveitis anterior, panophthalmitis,
kebutaan.
4. Gastroenterologi – Esophageal strictures.
5. Genitourinaria – nekrosis tubular ginjal, gagal ginjal, penile scarring,
stenosis vagina.
6. Pulmonari – pneumonia, bronchopneumonia.
7. Kutaneus – timbulnya jaringan parut dan kerusakan kulit permanen,
infeksi kulit sekunder.
8. Infeksi sitemik, sepsis
H. Pemeriksaan penunjang
1. aboratorium : biasanya dijumpai leukositosis atau eosinofilia. Bila
disangka penyebabnya infeksi dapat dilakukan kultur darah.
2. Histopatologi : kelainan berupa infiltrat sel mononuklear, oedema dan
ekstravasasi sel darah merah, degenarasi lapisan basalis. Nekrosis sel
epidermal dan spongiosis dan edema intrasel di epidermis.
3. Imunologi : dijumpai deposis IgM dan C3 di pembuluh darah dermal
superficial serta terdapat komplek imun yang mengandung IgG, IgM,
IgA.
I. Penatalaksanaan
1. Kortikosteroid
Penggunaan obat kortikosteroid merupakan tindakan life-saving. Pada
sindrom stevens johnson yang ringan cukup diobati dengan prednison
dengan dosis 30 - 40 mg/hari. Pada bentuk yang berat, ditandai dengan
kesadaran yang menurun dan kelainan yang menyeluruh, digunakan
dexametason intravena dengan dosis awal 4 – 6 x 5mg/hari. Setelah
beberapa hari (2-3 hari) biasanya mulai tampak perbaikan (masa kritis
telah teratasi), ditandai dengan keadaan umum yang membaik, lesi
kulit yang baru tidak timbul sedangkan lesi yang lama mengalami
involusi. Pada saat ini dosis dexametason diturunkan secara cepat,
setiap hari diturunkan sebanyak 5mg. Setelah dosis mencapai 5mg
sehari lalu diganti dengan tablet prednison yang diberikan pada
keesokan harinya dengan dosis 20mg sehari. Pada hari berikutnya
dosis diturunkan menjadi 10mg, kemudian obat tersebut dihentikan.
Jadi lama pengobtan kira-kira 10 hari.
2. Antibiotika
Penggunaan antibiotika dimaksudkan untuk mencegah terjadinya
infeksi akibat efek imunosupresif kortikosteroid yang dipakai pada
dosis tinnggi. Antibiotika yang dipilih hendaknya yang jarang
menyebabkan alergi, berspektrum luas dan bersifat bakterisidal.
Dahulu biasa digunakan gentamisin dengan dosis 2 x 60-80 mg/hari.
Sekarang dipakai netilmisin sulfat dengan dosis 6 mg/kg BB/hari,
dosis dibagi dua. Alasan menggunakan obat ini karena pada beberapa
kasus mulai resisten terhadap gentamisin, selain itu efek sampingnya
lebih kecil dibandingkan gentamisin. Menjaga Keseimbangan Cairan,
Elektrolit dan Nutrisi
Hal ini perlu diperhatikan karena penderita mengalami kesukaran atau
bahkan tidak dapat menelan akibat lesi di mulut dan ditenggorokan
serta kesadaran yang menurun. Untuk ini dapat diberikan infus yang
berupa glukosa 5% atau larutan darrow. Pada pemberian kortikosteroid
terjadi retensi natrium , kehilangan kalium dan efek katabolik. Untuk
mengurangi efek samping ini perlu diberikan diet tinggi protein dan
rendah garam, KCl 3x500mg/hari dan obat-obat anabolik. Untuk
mencegah penekanan korteks kelenjar adrenal diberikan ACTH
(Synacthen depot) dengan dosis 1mg/hari setiap minggu dimulai
setelah pemberian kortikosteroid.
3. Transfusi Darah
Bila dengan terapi di atas belum tampak tanda-tanda perbaikan
dalam 2-3 hari, maka dapat diberikan transfusi darah sebanyak 300-
500 cc setiap hari selama 2 hari berturut-turut. Tujuan pemberian
darah ini untuk memperbaiki keadaan umum dan menggantikan
kehilangan darah pada kasus dengan purpura yang luas. Pada kasus
purpura yang luas dapat ditambahkan vitamin C 500 mg atau 1000 mg
sehari intravena dan obat-obat hemostatik.
4. Perawatan Topikal
Untuk lesi kulit yang erosif dapat diberikan sofratulle yang bersifat
sebagai protektif dan antiseptic atau krem sulfadiazin perak.
Sedangkan untuk lesi dimulut/bibir dapat diolesi dengan kenalog in
obrase. Selain pengobatan diatas, perlu dilakukan konsultasi pada
beberapa bagian yaitu ke bagian THT untuk mengetahui apakah ada
kelainan difaring, karena kadang-kadang terbentuk pseudomembran
yang dapat menyulitkan penderita bernafas.
J. Masalah yang lazim muncul
1. Hipertermia b.d proses penyakit (infeksi).
2. Nyeri akut b.d adanya bula.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake
nutrisi kurang, gangguan gastrointestinal, disfagia.
4. Defisit perawatan diri b.d nyeri pada jaringan kulit, mukosa dan mata.
5. Kerusakan integritas jaringan b.d bula yang mudah pecah.
6. Defisiensi pengetahuan b.d kurang informasi.
7. Resiko infeksi b.d efek samping terpasangnya infus dan terapis
steroid.Ansietas b.d ancaman pada status kesehatan, pola interaksi
(kondisi kerusakan jaringan kulit /muncul kelainan pada kulit).
K. Discharge Planning
1. Terapkan kebersihan personal.
2. Mandilah setidaknya sekali sehari dan keringkan kulit hingga benar-
benar kering.
3. Jangan menggosok atau menyentuh mata sehabis menyentuh lepuhan
karena dapat menyebabkan penyebaran virus ke kornea yang
mengakibatkan kebutaan.
4. Observasi kulit setiap hari catat turgor sirkulasi dan sensori serta
perubahan lainnya yang terjadi. Rasional : menentukan garis dasar
dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan
intervensi yang tepat.
5. Gunakan pakaian tipis dan alat tenun yang lembut. Rasional :
menurunkan iritasi garis jahitan dan tekanan dari baju, membiarkan
insisi terbuka terhadap udara meningkat proses penyembuhan dan
menurunkan resiko infeksi.
6. Perbanyak minum air putih.
7. Jaga kebersihan alat tenun. Rasional : untuk menghindari infeksi.
L. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Anamnesa riwayat pengobatan pasien.
Gambaran klinik.
Histopatologi.
Riwayat Kesehatan : riwayat alergi, reaksi alergi terhadap makanan, obat
serta zat kimia, masalah kulit sebelumnya dan riwayat kanker kulit.
Pemeriksaan kulit infeksi
I : warna, suhu, kelembapan, kekeringan, factor
P : turgor kulit, edema
Data Fokus :
DS : Gatal-gatal pada kulit, sulit menelan, pandanganya kabur,
aktivitas menurun.
DO : Kemerah-merahan, memegangi tenggorokan, gelisah, tampak
lemas dalam aktivitas
Data Penunjang :
Laboratorium : leukositosis atau esosinefilia
Histopatologi : infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel
darah merah, degenerasi lapisan basalis, nekrosis sel epidermal, spongiosis
danedema intrasel di epidermis.
Imunologi : deposis IgM dan C3 serta terdapat komplek imun
yangmengandung IgG, IgM, IgA.B.

2. Diagnosis Keperawatan
Kerusakan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi lokal.
Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan b.d intake tidak
adekuat respons sekunder dari kerusakan krusta pada mukosa mulut.
Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak.

3. Intervensi Keperawatan
Tujuan intervensi keperawatan adalah peningkatan integritas jaringan
kulit, terpenuhinya intake nutrisi harian, penurunan risiko infeksi,
menurunkan stimulus nyeri, mekanisme koping yang efektif, dan
penurunan kecemasan.

Gangguan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi.

Tujuan : Dalam 5 x 24 jam integritas kulit membaik secara optimal.

Kriteria evaluasi : Pertumbuhan jaringan membaik dan lesi psoarisis berkura

Intervensi Rasional

Kaji kerusakan jaringan kulit yang terjadi padaMenjadi data dasar un


klien. memberikan inform
intervensi perawatan yang a
digunakan.

Lakukan tindakan peningkatan integritasPerawatan lokal k


jaringan. merupakan penatalaksan
keperawatan yang penting.
diperlukan berikan kom
Gangguan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi.

hangat, tetapi h
dilaksanakan dengan hati-
sekali pada daerah yang er
atau terkelupas. Lesi oral y
nyeri akan membuat hig
oral dipelihara.

Lakukan oral higiene. Tindakan oral higiene p


dilakukan untuk menjaga
mulut selalu bersih. O
kumur larutan anestesi
agen gentian violet d
digunakan dengan sering un
membersihkan mulut
debris, mengurangi rasa n
pada daerah ulserasi
mengendalikan bau mulut y
amis. Rongga mulut h
diinspeksi beberapa kali se
dan setiap perubahan h
dicatat, serta dilapor
Vaselin (atau salep y
diresepkan dokter) dioles
pada bibir.

Tingkatkan asupan nutrisi. Diet TKTP diperlukan u


meningkatkan asupan
kebutuhan pertumbu
jaringan.

Evaluasi kerusakan jaringan dan perkembanganApabila masih belum menc


pertumbuhan jaringan. dari kriteria evaluasi 5 x
Gangguan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi.

jam, maka perlu dikaji u


faktor-faktor mengham
pertumbuhan dan perba
dari lesi.

Lakukan intervensi untuk mencegah komplikasi. Perawatan di tempat khu


untuk mencegah infe
Monitor dan evaluasi ada
tanda dan gejala komplik
Pemantauan yang k
terhadap tanda-tanda vital
pencatatan setiap peruba
yang serius pada fu
respiratorius, renal,
gastrointestinal d
mendeteksi dengan c
dimulainya suatu infeksi.

Tindakan asepsis yang mu


harus selalu dipertahan
selama pelaksanaan peraw
kulit yang rutin.

Mencuci tangan
mengenakan sarung tan
steril ketika melaksana
prosedur tersebut diperlu
setiap saat.

Ketika keadaannya meli


bagian tubuh yang luas, pa
harus di rawat dalam seb
Gangguan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi.

kamar pribadi untuk mence


kemungkinan infeksi si
dari pasien-pasien lain.

Para pengunjung h
mengenakan pakaian pelind
dan mencuci tangan me
sebelum menyentuh pasien.

Orang-orang yang mende


penyakit menular tidak b
mengunjungi pasien sam
mereka sudah tidak
berbahaya bagi keseh
pasien tersebut.

Kolaborasi untuk pemberian kortikosteroid. Kolaborasi pembe


glukokortikoid misalnya m
prednisolon 80-120 mg per
(1,5 – 2mg/KgBB/hari)
pemberian deksameta
injeksi (0,15 –
mg/KgBB/hari).

Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik un


infeksi dengan cat
menghindari pembe
sulfonamide dan antibi
yang sering juga seb
penyebab SJS misa
penisilin, cephalospo
Sebaiknya antibiotik y
Gangguan integritas kulit b.d lesi dan reaksi inflamasi.

diberikan berdasarkan h
kultur kulit, mukosa,
sputum. Dapat dipakai inj
gentamisin 2 – 3 x 80 mg i
– 1,5 mg/KgBB/kali (se
pemberian)).

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak


adekuat efek sekunder dari kerusakan krusta pada mukosa mulut.

Tujuan : Dalam waktu 5 x 24 jam setelah diberikan asupan nutrisi pasien


terpenuhi.

Kriteria evaluasi :

Pasien dapat mempertahankan status asupan nutrisi yang adekuat.


Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Penurunan berat badan selama 5 x 24 jam tidak melebihi dari 0,5 kg.

Intervensi Rasional

Kaji status nutrisi pasien, turgor kulit, berat Memvalidasi dan menetapkan
badan dan derajat penurunan berat badan,derajat masalah untuk
integritas mukosa oral, kemampuan menelan,menetapkan pilihan intervensi
serta riwayat mual/muntah. yang tepat.

Berat badan pasien ditimbang


setiap hari (jika perlu gunakan
timbangan tempat tidur).

Lesi oral dapat mengakibatkan


disfagia sehingga memerlukan
pemberian makanan melalui
sonde atau terapi nutrisi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak
adekuat efek sekunder dari kerusakan krusta pada mukosa mulut.

parenteral total.

Formula enteral atau suplemen


enteral yang di programkan
diberikan melalui sonde sampai
pemberian peroral dapat
ditoleransi.

Penghitungan jumlah kalori per


hari dan pencatatan semua
intake, serta output yang akurat
sangat penting.

Evaluasi adanya alergi makanan danBeberapa pasien mungkin


kontraindikasi makanan. mengalami alergi terhadap
beberapa komponen makanan
tertentu dan beberapa penyakit
lain, seperti diabetes mellitus,
hipertensi, gout, dan lainnya
yang memberikan manifestasi
terhadap persiapan komposisi
makanan yang akan diberikan.

Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa yangMemperhitungkan keinginan


disukai pasien (sesuai indikasi). individu dapat memperbaiki
asupan nutrisi.

Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelumMenurunkan rasa tak enak


dan sesudah makan, serta sebelum dan sesudahkarena sisa makanan atau bau
intervensi/ pemeriksaan peroral. obat yang dapat merangsang
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak
adekuat efek sekunder dari kerusakan krusta pada mukosa mulut.

pusat muntah.

Fasilitasi pasien memperoleh diet sesuai indikasi Asupan minuman mengandung


dan anjurkan menghindari asupan dari agenkafein dihindari karena kafein
iritan. adalah stimulan sistem saraf
pusat yang meningkatkan
aktivitas lambung dan sekresi
pepsin.

Berikan makan dengan perlahan pada lingkunganPasien dapat berkonsentrasi


yang tenang. pada mekanisme makan tanpa
adanya distraksi/ gangguan dari
luar.

Anjurkan pasien dan keluarga untukMeningkatkan kemandirian


berpartisipasi dalam pemenuhan nutrisi. dalam pemenuhan asupan
nutrisi sesuai dengan tingkat
toleransi individu.

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkanMerencanakan diet dengan


komposisi dan jenis diet yang tepat. kandungan nutrisi yang adekuat
untuk memenuhi peningkatan
kebutuhan energi dan kalori
sehubungan dengan status
hipermetabolik pasien.

Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak.

Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurang /hilang atau teradaptasi.

Kriteria evaluasi :

Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala


Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak.

nyeri 0-1 (0-4). Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau


menurunkan nyeri. Pasien tidak gelisah.

Intervensi Rasional

Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST. Menjadi parameter dasar untuk


mengetahui sejauh mana
intervensi yang diperlukan dan
sebagai evaluasi keberhasilan
dari intervensi manajemen nyeri
keperawatan.

Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan Pendekatan dengan


pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasif. menggunakan relaksasi dan
nonfarmakologi lainnya telah
menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri.

Lakukan manajemen nyeri keperawatan Posisi fisiologis akan


meningkatkan asupan O2
Atur posisi fisiologis.
kejaringan yang mengalami
peradangan. Pengaturan posisi
idealnya adalah pada arah yang
berlawanan dengan letak dari
lesi.

Bagian tubuh yang mengalami


inflamasi lokal dilakukan
imobilisasi untuk menurunkan
respons peradangan dan

Istirahatkan klien. meningkatkan kesembuhan.

Istirahat diperlukan selama fase


akut. Kondisi ini akan
Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak.

meningkatkan suplai darah pada


jaringan yang mengalami
Bila perlu premidikasi sebelum
peradangan.
melakukan perawatan luka.
Kompres yang basah dan sejuk
atau terapi rendaman merupakan
tindakan protektif yang dapat
mengurangi rasa nyeri. Pasien
dengan lesi yang luas dan nyeri
harus mendapatkan premidikasi

Manajemen lingkungan : lingkungandahulu dengan preparat

tenang dan batasi pengunjung. analgesik sebelum perawatan


kulitnya mulai dilakukan.

Lingkungan tenang akan


menurunkan stimulus nyeri
eksternal dan pembatasan
pengunjung akan membantu
Ajarkan tekhnik relaksasi pernapasan
meningkatkan kondisi O2
dalam.
ruangan yang akan berkurang
apabila banyak pengunjung
yang berada di ruangan.
Ajarkan tekhnik distraksi pada saat nyeri.
Meningkatkan asupan O2
sehingga akan menurunkan
nyeri sekunder dari peradangan.

Distraksi (pengalihan perhatian)


Lakukan manajemen sentuhan. dapat menurunkan stimulus
internal dengan mekanisme
Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, erosi jaringan lunak.

peningkatan produksi endorfin


dan enkefalin yang dapat
memblok reseptor nyeri untuk
tidak dikirimkan ke korteks
serebri sehingga menurunkan
persepsi nyeri.

Manajemen sentuhan pada saat


nyeri berupa sentuhan dukungan
psikologis dapat membantu
menurunkan nyeri.

Masase ringan dapat


meningkatkan aliran darah dan
dengan otomatis membantu
suplai darah dan oksigen ke area
nyeri dan menurunkan sensasi
nyeri.

Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik. Analgetik memblok lintasan


nyeri sehingga nyeri akan
berkurang.
BAB II

Asuhan Keperawatan pada pasien syndron steven jhonson

Kasus :

Tn.x berumur 30 tahun BB = 55 kg TB =170 cm beragama islam bekerja sebagai


petani, dirawat di ruang rawat dengan diagnosa sindrom syeven jhonson.klien
mengeluh nyeri seperti panas terbakar di kulit,badan terasa pegal,badan terasa
lemas dan tidak nafsu makan karena sakit saat menelan makanan. Dari hasil
pemeriksaan didapatkan pasien terlihat pucat,tampak meringis kesakitan dan
lemah, hampis semua bagian kulit timbul eritema dan bula, Pada mukosa bibir
tampak stomatitis ulseratif spectrum luas, mata terdapat konjungtivis dan tampak
edema kemerahan sehingga klien sulit membuka mata, Dilakukan pemeriksaan
laboratorium hematologi dengan hasil HB: 13,8 g/dl Hematokrit: 65% TD:
120/70 mmHg, Nadi 70 x/mnt, suhu 37 °c, RR 20 x/mnt.Klien dilakukan
pemasangan NGT dan IVFD NaCl. Terapi obat yang diperoleh adalah salep
gliserin, Deksametason 30mg/6 jam per IV dan gentamisin 400mg/12 jam perIV.

A. Pengkajian
I. Biodata
Nama : Tn. X
Umur : 30
Pekerjaan : Petani
Agama. : islam
II. Pela kesehatan fungsional
1. Pola persepsi
a) Keluhan utama :
Pasien mengeluh nyeri seperti panas terbakar.
b) Riwayat kesehatan sekarang :
klien mengeluh nyeri seperti panas terbakar di kulit,badan
terasa pegal,badan terasa lemas dan sakit saat menelan
makanan. Dari hasil pemeriksaan didapatkan pasien terlihat
pucat dan lemah, hampis semua bagian kulit timbul eritema
dan bula, Pada mukosa bibir tampak stomatitis ulseratif
spectrum luas, mata terdapat konjungtivis dan tampak edema
kemerahan sehingga klien sulit membuka mata, Dilakukan
pemeriksaan laboratorium hematologi dengan hasil normal TD:
120/70 mmHg, Nadi 70 x/mnt, suhu 37 °c, RR 20 x/mnt.

c) Riwayat kesehatan dahulu :


Pasien belum pernah mengalami penyakit seperti ini
sebelumnya.
d) Riwayat kesehatan keluarga :
Keluarga pasien tidak ada yang mempunyai penyakit menular.
2. Pola nutrisi
a) Sebelum sakit : Pasien mengatakan 3x sehari dengan porsi nasi
dengan lauk pauk seadanya dan minum air putih 6-7 gelas.
b) Saat dikaji : Pasien hanya menghabiskan setengah porsi
makan yang disediakan dari rumah sakit dan mual muntah
ketika makan . minum air putih 5 gelas perhari dan minum air
teh.
3. Pola eliminasi
a) Sebelum sakit : Pasien mengatakan biasa BAB 1 kali sehari
dengan konsistensi padat,warna kuning,BAK 4-5 x/hari
dengan warna kuning jernih.
b) Saat dikaji : Pasien mengatakan BAB 1 kali sehari dengan
konsistensi lembek , warna kuning kecoklatan,berbau khas
fese. BAK 4 – 7 kali sehari dengan warna kuning keruh seperti
teh.
4. Pola aktivitas
a) Sebelum sakit : Pasien dapat melakukan kegiatan dan aktifitas
tanpa bantuan orang lain.
b) Saat dikaji : Pasien tidak dapat bergerak bebas karena
badanya nyeri. Aktivitas sehari – hari seperti mandi, makan,
BAB, BAK dibantu perawat dan keluarga.
5. Pola istirahat tidur
a) Sebelum sakit : Pasien bisa tidur 7-8 jam/hari tanpa ada
gangguan jarang tidur siang.
b) Saat dikaji : Pasien mengatakan tidak bisa tidur semalaman
dan juga siang tidak bisa tidur.
6. Pola kognitif perseptual
a) Kemampuan panca indra
Penglihatan normal, pendengatan normal, penciuman normal
b) Kemampuan bicara : normal
c) Kemampuan memahami : baik
d) Nyeri
P: eritema dan bula
Q: seperti tetbakar
R: area gerak
S: Skala 7
T: saat bergerak
7. Pola presepsi
Presepsi terhadap diri sendiri : Pasien mengatakan kawatir bila
penyakitnya tak
sembuh.
8. Pola peran- hubungan
Sebelum sakit : Pasien bekerja sebagai petani.
Saat dikaji : Pasien tidak bisa melakukan kegiatan seperti biasa
9. Pola sexualitas
Dampak sakit terhadap sexualitas : tidak ada
10. Pola koping
Metode koping yang biasanya digunakan : tidak ada
11. Pola nilai - kepercayaan
Meskipun dalam keadaan sakit pasien tetap menjalankan shalat 5
waktu
III. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : compos metis
Kesadaran GCS : 4-5-6
Tanda Vital : TD : 120/70 mmHg. Nadi : 70x/mnt
Suhu : 37°c. RR : 20x/mnt
Head to toe
1. Kulit dan rambut
Inspeksi
Warna kulit : merah muda (normal), tidak ada lesi
Jumlah rambut : tidak rontok
Warna rambut : hitam
Kebersihan rambut : bersih
Warna kulit sawo matang, terdapat eritema.
2. Kepala
Inspeksi : Bentuk simetris antara kanan dan kiri Bentuk kepala
lonjong tidak ada lesi
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
3. Mata
mata terdapat konjungtivis dan tampak edema kemerahan
4. Telinga
Ukuran sedang, simetris antara kanan dan kiri, tidak ada serumen
pada lubang telinga, tidak ada benjolan.
5. Hidung
Inspeksi : Simetris, tidak ada sekret, tidak ada lesi
Palpasi : Tidak ada benjolan.
6. Mulut
Pada mukosa bibir tampak stomatitis ulseratif spectrum luas
7. Leher
Inspeksi : Bentuk leher simetris, tidak terdapat benjolan di
leher.
Palpasi : ada nyeri telan.
8. Paru
Inspeksi : simetris antara kanan dan kiri
Palpasi : getaran lokal femitus sama antara kanan dan kiri
Auskultasi : normal
Perkusi : resonan
9. Abdomen
Inspeksi : perut datar simetris antara kanan dan kiri
Auskultasi. : peristaltik usus 15 x/ mnt
Palpasi : tidak ada nyeri
Perkusi : resonan
IV. Data penunjang
Hemoglobin : 13,8 g/dl (12-14 g/dl)
Hematokrit : 65% ( 38,8 - 50 %)
V. Terapi medis
pemasangan NGT dan IVFD NaCl.
Terapi obat yang diperoleh adalah salep gliserin, Deksametason
30mg/6 jam per IV dan gentamisin 400mg/12 jam perIV.
B. Analisa Data

Data Etiolog

Ds : Inflama
 Pasien mengatakan
nyeri seperti panas
terbakar
 Pasien mengatakan
badan terasa pegal
 Pasien mengatakan
badan lemas
 Pasien mengatakan
sakit saat menelan

Do :

 Klien tampak
meringis kesakitan

P: eritema dan bula

Q: seperti tetbakar

R: area gerak

S: Skala 7

T: saat bergerak

Ds : Ganggu
 pasien merasa lemas menela
 Tidak nafsu makan
 Sakit saat menelan
makanan

Do :

 Pasien terlihat pucat


dan lemas

Ds : Eritema
 Pasien mengatakan
nyeri panas pada
kulit

DO :

 Kulit terlihat
kemerahan
 Eritema dan
Terdapat bula

C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada kulit
2. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kesulitan menelan.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan eritema
D. Intervensi

No. Tujuan / K
Dx

1 Setelah di
keperawat
jam

KH:

Diharapka

 Pa
ba
be
 Pa
ny
 Sa
be
 Pa
ba
lem
be
2 Setelah di
keperawat
jam

KH:

Diharapka

 Kl
be
 Na
me
 Sa
be

3 Setelah di
keperawat
jam

KH:

Diharapka
 Ku
me
 Er
mu

E. Implementasi

No DX Tindakan TTD

1  Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada


kulit
 Mengkaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan
No DX Tindakan TTD

intensitasnya.
 Memberikan tindakan kenyamanan dasar ex:
pijatan pada area yang sakit.
 Memantau TTV.
 Mengkolaborasi pemberian analgetik sesuai
indikasi.

2  Mengkaji kebiasaan makanan yang disukai/tidak


disukai.
 Memberikan makanan dalam porsi sedikit tapi
sering.
 Menghidangkan makanan dalam keadaan
hangat.
 Mengkolaborasi dengan ahli gizi.

3  Mengobservasi kulit setiap hari catat turgor


sirkulasi dan sensori serta perubahan lainnya
yang terjadi.
 Menginspeksi kulit pasien setiap pergantian
tugas jaga,dokumentasi kondisi kulit dan
laporkan setiap perubahan keadaan.
 Melakukan perawatan luka pada kulit agar
infeksi tidak meluas dan untuk mempercepat
proses penyembuhan.
 Mengubah posisi pasien minimal 2 jam dan ikuti
jadwal pengubahan posisi yang dipasang
disamping tempat tidur Pantau pengubahan
posisi.
 kolaborasi pemberian obat salep gliserin,
Deksametason 30mg/6 jam per IV dan
No DX Tindakan TTD

gentamisin 400mg/12 jam perIV.

F. Evaluasi

No DX Evaluasi TTD

1 S: pasien tidak merasa nyeri lagi

O: pasien terlihat rileks

A: masalah keperawatan teratasi.

P: hentikan intervensi.

2 S: pasien mengatakan sudah tidak mengalami


kesusahan menelan.

O: berat badan pasien dalam rentang normal.

A: masalah keperawatan teratasi.

P: hentikan intervensi.

3 S: pasien mengatakan tidak merasa nyeri seperti


terbakar.

O: Menunjukkan kulit dan jaringan kulit yang utuh.

A: masalah keperawatan teratasi.

P: hentikan intervensi.
BAB III

Penutup

A. Kesimpulan
Syndrome Steven Johnson atau biasa disingkat SSJ yaitu syndrom
kelainan pada kulit, selaput lendir orifisium dan mata atau dengan kata
lain, reaksi yang melibatkan kulit & mukosa (selaput lendir) yang berat &
mengancam jiwa ditandai dengan pelepasan epidermis, bintil berisi air &
erosi/pengelupasan dari selaput lendir.
Penyakit ini menyerang selaput lendir, meliputi selaput bening mata, bibir
bidang dalam & rongga mulut, genital & anus. Gejala awalnya berupa
demam, kesukaran diwaktu menelan, pegal-pegal atau nyeri di tubuh, sakit
kepala, & sesak napas, dan ada tanda kemerahan atau ruam merah kepada
kulit, munculnya bintil berisi air (seperti cacar) yang terasa sakit bahkan
sampai menyebabkan kulit mengelupas & melepuh. Penyebabnya yaitu
dikarenakan infeksi virus, bakteri dan jamur, atau alergi obat-obat tertentu,
umumnya yakni pemakaian obat antibiotik.
Daftar Pustaka

Nurarif, Amin Huda. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis & Nanda (North American Nursing Diagnosis Association) Nic-Noc,
Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan Profesional Jilid 3. Yogyakarta
: MediaAction

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Integumen. Jakarta : Salemba Medika

Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi Edisi 4. Jakarta : EGC

Corwin, Elizabeth. J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

Medicine, Indonesia. 2012. Sindrom Steven-Johnson, Manifestasi Klinis dan


Penanganannya. https://allergycliniconline.com/2012/02/17/sindrom-
steven-johnson-manifestasi-klinis-dan-penanganannya-2/. Diakses pada 25
September 2019 (14.16).