Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN

GEJALA DAN TANDA SERANGAN HAMA VERTEBRATA

Anggota Kelompok 3
Naomi Permata 19025010136
Febri Nurhalizah 19025010138
David Kristian Yuwono 19025010145
Erica Soebari 19025010143

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”


JAWA TIMUR
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang kaya akan flora dan fauna.


Kekayaan sumber daya alam hayati itu baru sebagian yang sudah
dimanfaatkan. Tumbuhan yang digunakan meliputi untuk bahan pangan,
pakaian, perumahan, obat dan sebagainya. Selain jenis-jenis tumbuhan
tersebut ada sebagian kecil tumbuhan yang termasuk golongan tumbuhan
mengandung zat racun, walaupun tidak begitu membahayakan bagi
kehidupan kita. Banyak tumbuhan liar lainnya yang sampai saat ini
merupakan sumber daya hayati tetapi belum diketahui manfaat maupun
kerugian yang mungkin ditimbulkanya.

Masyarakat sering mengalami gangguan yang bersifat menghambat,


merusak, menghancurkan, atau menggagalkan panen. Di beberapa lokasi,
adanya gangguan hama menyebabkan masyarakat tidak dapat melakukan
budidaya tanaman. Sebenarnya sejak benih disebarkan hingga tanaman
dipanen selalu dihadapkan kepada gangguan alami yang bersifat biotik
maupun abiotik. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil panen yang sesuai
dengan kemampuan genetiknya seperti benih induk semula maka masyarakat
harus mampu mencegah atau mengatasi terjadinnya gangguan pada tanaman
tersebut. Di alam ada 2 golongan besar pengganggu tanaman yaitu biotik
(gulma, penyakit tumbuhan, dan hama) dan abiotik (cuaca).

Hama merupakan suatu organisme penyebab kerusakan pada tanaman.


Hama dapat merusak tanaman secara langsung maupun tidak langsung. Hama
yang merusak secara langsung dapat dilihat bekasnya, misalnya gerekan dan
gigitan. Sedangkan hama yang merusak tanaman secara tidak langsung
melalui penyakit yang dibawa hama tersebut. Pertumbuhan dan
perkembangan tanaman dari benih, pembibitan hingga pemanenan tidak luput
dari gangguan hama. Demikian besarnya peran pengganggu hama pada
tanaman terhadap kehidupan.

Salah satu bentuk dari hama yang menyerang tanaman budidaya


adalah hama dari hewan vertebrata. Hewan vertebrata yaitu hewan yang
bertulang belakang atau punggung. Hewan vertebrata memiliki struktur tubuh
yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan Invertebrata (Ira,
2016). Gejala penyakit hama hewan vertebrata berhubungan erat dengan
tanda penyakit. Tanda penyakit adalah semua struktur patogen yang terdapat
pada permukaan tanaman yangdapat dilihat secara makroskopis dan struktur
tersebut berasosiasi dengan tanaman yang diserang hama. Apabila gejala dan
tanda hama yang menyerang diketahui dengan cepat maka kita dapat
menanggulangi dan mengatasi hama tersebut sehingga dapat meningkatkan
produksi panen hasil dari tanaman budidaya

1.2. Tujuan
a. Mengetahui jenis hama vertebrata yang menginfeksi pada tanaman
budidaya
b. Mengetahui gejala dan tanda serangan hama vertebrata pada tanaman
budidaya
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar


penyakit, dan pengganggu pada tanaman. Adanya populasi serangga/hama di
suatu tanaman akan menimbulkan luka pada tanaman. Luka adalah setiap bentuk
penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas serangga hama yang
hidup, berada dan makan pada tanaman tersebut. luka pada tanaman merupakan
ekspresi gejala khas masing-masing hama yang akan menyebabkan kerusakan
sehingga terjadi penurunan kuantitas dan kualitas hasil Untung (2010).

Masalah hama di suatu lokasi pada saat/musim tertentu tidak muncul


begitu saja tanpa penyebab atau faktor-faktor pendorong. Banyak faktor yang
mendorong terus ada dan meningkatnya masalah hama. Hampir seluruh faktor
pendorong tersebut adalah karena ulah/perbuatan/tindakan manusia sehingga
ekosistem pertanian menjadi sangat sesuai bagi pertumbuhan, pembiakan dan
kehidupan hama tanaman. Faktor-faktor tersebut antara lain penanaman
monokultur (jenis tanaman atau varietas tanaman yang sama) sepanjang waktu
dan tempat, penanaman jenis tanaman atau varietas tanaman yang peka hama
tetapi unggul produksi, penggunaan masukan produksi yang berkelebihan seperti
pupuk buatan, pestisida, hormon tumbuh, pengairan dll, penggunaan pestisida
kimia berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana, terus-menerus dan
berlebihan, pestisida membunuh musuh alami, resistensi dan resurjensi hama,
termasuk terjadinya penyimpangan cuaca dan iklim.

Hama merupakan binatang yang dapat dikelompokkan dalam beberapa


golongan (phylum). Filum Chordata adalah kelompok hewan, termasuk vertebrata
(seperti Ikan, Amfibi, Reptil, Burung dan Mamalia) dan beberapa binatang yang
mirip invertebrata yang memiliki ciri-ciri yang serupa. Vertebrata merupakan
kelompok hewan yang memiliki tulang belakang. Dalam sistem klasifikasi,
vertebrata merupakan subfilum dari filum Chordata. Chordata terbagi menjadi
empat subfilum: Vertebrata, Urochordata, Cephalochordata, Hemichordata,
beberapa Urochordata dan Cephalochordata tergolong invertebrata (Masnur M,
2018)
Gejala dan tanda pada tanaman dapat gunakan untuk mengetahui hama
penyerang tanaman, selain itu juga untuk mengetahui penanganan atau
pengendalian hama yang dapat dilakukan secara tepat dan benar misalnya
pestisida botani dan pestidida nabati. Pestisida botani merupakan hasil
pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian
tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida
(Thamrin et al, 2011). Pestisida nabati juga tidak cepat menimbulkan resistensi
OPT karena bahan aktifnya tersusun atas beberapa senyawa kimia, hal ini
menyulitkan OPT untuk membentuk strain baru yang resisten terhadap senyawa
tertentu. Selain tidak menimbulkan resistensi, pestisida nabati mampu menjaga
kelestarian lingkungan karena tidak membahayakan organisme bukan sasaran
seperti parasit, predator, dan serangga penyerbuk (Wiratno 2010).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum mengenai gejala dan tanda serangan hewan vertebrata pada


tanaman dilaksanakan pada hari Rabu, 8 April 2020 di Ruang Laboratorium
Kesehatan Tanaman 1 Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan
“Veteran” Jawa Timur

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1Alat
a. Alat Tulis
b. Lembar kerja
c. Handphone
3.2.2Bahan
a. Tanaman kelapa sawit yang terserang hama vertebrata
b. Tanaman padi yang terserang hama vertebrata
c. Buah Kakao yang terserang hama vertebrata

3.3 Prosedur Kerja

1. Mencari Tanaman kelapa sawit, padi, dan kakako yag terserang hama
vertebrata di lapangan
2. Menangkap penampakan gejala dan tanda yang terjadi pada tanaman serta
lingkungn sekitar area pertanaman menggunakan kamera handphone
3. Mengidentifikasi jenis hama vertebrata yang menyerang tanaman
berdasarkan gejala dan tanda
4. Mebandingkan hasil pengamatan dengan jurnal atau reverensi
5. Mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

No. Nama Penyakit Komoditas Gejala Serangan Tanda Serangan Keterangan


1. Hama babi Tanaman  Tanaman rusak  Merusak bagian Kelapa sawit
hutan (Sus Kelapa sawit  Mencabut bagian perakaran dengan
scrofa) (Alaeis) batang hingga tanda gigitan.
batang
 Tanaman rubuh

Gambar 1. Hama babi hutan


diperkebunan kelapa sawit
Gambar 2. Umbut kelapa
sawit yang mengalami
kerusakan akibat hama babi
2. Hama tikus Tanaman Padi  Bibit muda  Liang tikus yang
sawah (Rattus (Oryza sativa) tercabut atau ditemui di sisi
ratus terpotong pematang
argentiventer)  Benih atau  Tali badar dan
kecambah hilang munggu
 Hilangnya malai Gambar 3. Hama tikus
sawah yang mengerang
tanaman padi
Gambar 4. Liang/ sarang
tikus
3. Hama burung
gereja (Passer
montanus
Oates)

Gambar 5. Hama burung


yang menyerang
4. Hama Tupai Kakao  Buah kakao  Terdapat bekas
(Theobroma berwarna kuning gigitan pada
cacao L) kehitaman kakao yang
 Buah kakao yang matang.
terserang akan  Terdapat biji
segera busuk berserakan tepat
Gambar 6. Hama tupai di
dibawah buah
perkebunan kakao
yang terserang.

Gambar 7. Kerusakan buah


Tanaman kakao akibat
serangan tupai
4.2 Pembahasan
Gejala adalah ekspresi luka mengakibatkan kerusakan karena serangan
hama yang merusak atau menghambat pertumbuhan tumbuhan. Tanda adanya
hama dapat diketahui dengan memahami biologis dan ekologi hama. Siklus
biologi dan pola ekologi hama dapat menjadi petunjuk untuk melakukan
pencegahan dan pengendalian hama terhadap masa pertumbuhan tanaman.
Gejala khas akibat serangan babi pada tanaman kelapa sawit terjadi pada
akar kelapa sawit yang terpotong-potong karena perilaku babi dalam mencari
makanan (umbut kelapa) dengan cara menggali tanah. Pada mulanya babi
mengambil batang hingga daerah perakaran dan akan diangkut ke semak-semak
untuk dimakan bagian pucuknya. Kerusakan pada perakaran terutama terhadap
akar-akar makan (feeding roots) di sekitar piringan pohon, sehingga dapat
menghambat penyerapan air dan hara dari tanah dan mendorong timbulnya
penyakit akar. Babi mengambil bagian batang dan akar kelapa sawit disebabkan
rasanya yang manis. Babi menjalankan aksinya pada malam hari, biasanya saat
setelah turun hujan. Hama babi tidak hanya menyerang kelapa sawit tetapi jug
menyerang pohon karet. Hama babi tidak hanya menyerang kelapa sawit tetapi
jug menyeraang pohon karet.
Menurut Masnur M (2018) tikus merupakan hama yang tergolong
vertebrata. Gejala khas akibat serangan tikus pada tanaman padi terjadi baik pada
masa semai, vegetatif, maupun generatif. Gejala hama tikus berupa hilangnya
bibit atau rusak saat fase bekecambah, padi yang memasuki vegetatif yaitu bibit
muda tercabut atau terpotong, dan terdapat keratan pada batang 1/3 dari tanah.
Pada fase generatif padi, tingkat kerusakan yang ditimbulkan lebih parah karena
pada fase tersbut padi tidak dapat membentuk anakan baru. Tanda adanya hama
tikus dapat diketahui melalui ada atau tidaknya sarang disekitar area pertanaman,
jalan dan jejak tikus, serta kotorannya. Hama tikus sawah memiliki lingkup inang
yang luas, selain menyerang padi tikus juga menyerang tanaman jagung pada
bagian batang, daun, dan buah.
Gejala khas pada tanaman akibat serangan burung gereja dapat dilihat dari
pola daun yang terpotong seperti gunting, beluk, dan biji padi yang hilang. Tanda
tanaman padi terserang burung gereja dapat diketahui melalui pola penyerangan.
Burung gereja menyerang secara bergerombol dan datang diwaktu yang sama
berulang kali. Serangan hama terhadap bagian tanaman tergantung terhadap
kebutuhan makan, bentuk mulut hama, dan kebiasaan hidup. Burung gereja kerap
kali menyerang tanaman padi, namun juga menyerang tanaman biji-bijian lain
seperti jagung. Gejala khas pada tanaman akibat serangan tupai terjadi pada buah
yang hampir panen, buah ini mengalami perubahan kuning kehitaman. Tanda
buah kakako terserang tupai adalah rusaknya daging buah dan biji yang
berserakan. Hal ini juga terjadi pada tanaman pepaya. Sesuai dengan pendapat
Untung (2010) hama membentuk luka pada tanaman berupa gejala khas masing-
masing hama yang akan menyebabkan kerusakan sehingga terjadi penurunan
kuantitas dan kualitas hasil
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

a. Gejala serangan hama babi hutan pada tanaman kelapa sawit adalah
bagian umbut kelapa sawit rusak
b. Gejala langsung dari serangan tikus pada tanaman padi adalah bibit
muda tercabut atau terpotong, benih atau kecambah hilang, hilangnya
malai dan gerabah, dan keratin pada batang padi rusak sepertiga dari
bawah. Tanda dari serangan tikus sawah adalah liang tikus yang
ditemui di sisi pematang, tali badar, munggu, jejak, kotoran, dan jalan
tikus
c. Gejala dari serangan hama burung gereja adalah daun terpotong seperti
gunting, beluk, dan biji banyak yang hilang. Tanda burung gereja
menyerang padi dengan cara bergerobol
d. Gejala dari serangan hama tupai pada tanaman kakao (Theobroma
cacao L) adalah buah kakao berwarna kuning kehitaman, lalu mulai
diserang jamur dan bakteri, dan buah kakao hingga membusuk. Tanda
dari serangan tupai adalah biji buah berserakan di bawah buah yang
diserangnya.
5.2 Saran
Sebaiknya praktikan dan pendamping praktikan dapat lebih
menguasai materi sebelum melakukan praktikum
DAFTAR PUSTAKA

Ira, Melita. 2016. Makalah Biologi Hewan Vertebrata Dan Invertebrata.


Sukabumi : Kementerian Agama Republik Indonesia Madrasah Aliyah
Negeri Surade

Masnur, M. 2018. Pengamatan Hama dan Penyakit Padi (Oryza sativa) dan
Mangga (Mangifera indica) di Areal Persawahan Balai Benih Palur,
Desa Sonobijo, Kec. Mojolaban, Kab . Sukoharjo, Surakarta. Surakarta :
Universitas Islam Batik Surakarta

Untung, K. 2010. 478683465.docx. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada


Thamrin, et al. 2011. Keberadaan Musuh Alami pada Areal Padi dan Gulma
Teki di Lahan Rawa Pasang Surut. 131-138. Dalam Ahmad, 1.. R.E.
Putra. T. Turmuktini. Y. Muliani. Endang. Prosiding Seminar Nasional
Hidup Sejahtera Bersama Serangga. Perhimpunan Entomologi
Indonesia Cabang Bandung

Winarto, et al. 2016. Krisis Pangan dan Sesat Pikir Mengapa Masih Berlanjut.
Jakarta : Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia