Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

TUMOR OTAK

Dosen Pengajar :

Arum Dwi Ningsih, S.kep.,Ners,M.kep.

Disusun Oleh:
Kelompok 1
1. Denis Dwi Wulandany (201701176)
2. Shelly Novenda Pratama (201701179)
3. Alfiyah Atika (201701180)
4. Shinta Yunia (201701198)
5. Dian Eka (201701193)
6. Yunita Ajeng (201701211)
7. Dita Andansari (201701215)
8. M. faizin (201701216)
9. Lorens luan (201701207)

TAHUN AJARAN 2019/2020


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
STIKES BINA SEHAT PPNI KOTA MOJOKERTO

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelessaikan makalah ini yang
Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “TUMOR OTAK”
Makalah ini berisikan tentang penjelasan tentang pengertian dan penjelasan mengenai
tumor otak yang dimaksudkan untuk memberi pengetahuan kepada mahasiswa agar mengetahui
lebih jelas tentang tumor otak .
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna , karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir, Semoga Allah SWT.senantiasa meridhoi
segala usaha kita. Amin

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................................2
DAFTAR ISI...............................................................................................................................................3
BAB I..........................................................................................................................................................4
LAPORAN PENDAHULUAN...................................................................................................................4
A. DEFINISI........................................................................................................................................4
B. ETIOLOGI......................................................................................................................................4
C. TANDA DAN GEJALA..................................................................................................................5
D. PATOFISIOLOGI...........................................................................................................................5
E. PATHWAY.....................................................................................................................................6
F. PENATALAKSANAAN.................................................................................................................7
G. MANIFESTASI KLINIS.............................................................................................................8
H. KOMPLIKASI.............................................................................................................................8
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG.....................................................................................................8
BAB II.......................................................................................................................................................10
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN...................................................................................................10
A. PENGKAJIAN..............................................................................................................................10
B. DIAGNOSA..................................................................................................................................12
C. INTERVENSI................................................................................................................................12
D. IMPLEMENTASI.........................................................................................................................14
E. EVALUASI...................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................15

3
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Tumor otak atau tumor intracranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space
occupying lesion atau space taking lision) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di
dalam kompartemen supratentotrial maupun infrayentotrial. (Satyanegara)

Klasifikasi tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


1. Berdasarkan jenis tumor
a. Jinak : acoustic neuroma, meningioma, oituitary adenoma, astrocytoma (grade I)
b. Malignant : astrocytoma (grade 2,3,4), oligodendroglioma, apendymoma.
2. Berdasarkan lokasi
1. Tumor intradural
a. Ekstramedular : cleurofibroma, meningioma
b. Intramedular : oligodendroglioma, hemangioblastoma, apendymoma,
astrocytoma
2. Tumor ekstradural
Merupakan metastase dari lesiprimer biasanya pada paudara, prostal, tiroid, paru-
paru, ginjal, dan lambung.

B. ETIOLOGI
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum bisa di ketahui secara pasti walaupun
banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu di tinjau :
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada
mengioma, astrositoma, dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota
keluarga. Sclerosis tuberose atau penyakit sturge-weber yang dapat dianggap sebagai
manisfestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain
jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk memikirkan
adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
2. Sisa-sisa sel embriona (embryonic cell reset)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dang fungsi yang terintergrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya
sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan
merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada
kraniofaringioma, teratoma intracranial, dan kordoma.
3. Radiasi
Jaringan dalam system saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu
glikoma. Pernah dilakukan, meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.

4
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi
virus dengan perkembangan tumor pada system saraf pusat.
5. Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansikaesinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah
di akui bahwa ada sustansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-
ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan. (Hakim, 2008).

C. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala umum
1. Nyeri kepala berat pada pagi hari, makin tambah bila batuk, dan membungkuk.
2. Kejang
3. Tanda-tanda penglihatan intracranial : pandangan kabur, mual, muntah, penurun
fungsi pendengaran, perubahan tanda-tanda vital, afasia.
4. Perubahan kepribadian
5. Gangguan memori dan alat perasa
Trias klasik :
1. Nyeri kepala
2. Papiloedema
3. Muntah

D. PATOFISIOLOGI
Tumor otak dianggap berasal dari sel atau koloni sistem sel tunggal dengan DNA
abnormal menyebabkan pembelahan mitosis sel yang tidak terkontrol. Sistem imun tidak
mampu membatasi dan menghentikan aberrant,pertumbuhan sel baru. Pada saat tumor
meluas, kompresi dan infiltrasi menyebabkan kematian jaringan otak. Tumor otak tidak
hanya menyebabkan lesi pada otak, tetapi juga menyebabkan edema otak. Tengkorak
bersifat rigid dan hanya memiliki sedikit tempat untuk ekspansi isinya. Jika perawatan
tidak berhasil,tumor otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intra kronial secara
progresif yang akan menyebabkan displacement struktur sistem otak (herniasi). Tekanan
pada system otak menyebabkan kerusakan pusat vital signs kritis yang menyusul tekanan
darah, nadi, dan respriasi, yang akan memicu kematian.

5
E. PATHWAY

Pertumbuhan sel
Etiologi Tumor otak
otak abnormal

A.Obstruksi sirkulasi
cairan Penekanan jaringan Massa dalam otak bertambah
B. serebrospinal dari
ventrikel lateral ke sub otak terhadap sirkulasi
arachnoid darah dan O2
Menggangu spesifik bagian otak
tempat tumor
Hidrochepalus Penurunan suplai O2 ke
jaringan otak akibat Timbu manifestasi klinik/ gejala
Kerusakan aliran darah ke obstruksi sirkulasi otak local sesuai fokal tumor
otak

Tumor di cerebellum,
Hipoksia Cerebral
Perpindahan cairan hipotalamus,fassopasterior
intravaskuler ke jaringan
serebral
Kerusakan aliran darah Tubuh melakukan kompensasi
dengan mempercepat pernafasan
Volume intrakranial
Kompensasi (butuh waktu
berhari-hari sampai
Ketidakefektifan pola nafas
berbulan-bulan) dengan
Peningkatan TIK cara:

 Volume darah
intrakrantal
Kelebihan volume cairan  Volume cairan
cerebrospinal
 Kandungan cairan
kematian intra sel
 Mengurangi sel-sel
parenkim
Herniasi cerebral

Bergesernya ginus medialis


labis temporal ke inferion Tidak terkompensasi Nyeri kronis
melalui insisura tentorial

6
Obstruksi system cerebral, Kompresi subkortikal &
Statis vena cerebral
obstruksi drainage vena batang otak
retina, tumor pada lobus
oktipital

Kehilangan auto regulasi


Subkortikal tertekan serebral
Papil edema

Suhu tubuh meningkat Iritasi pusat vegal dimedula


Kompresi saraf optikus oblongata
(N.III/IV)
Ketidakefektifan
termoregulasi muntah
Gangguan penglihatan

Ketidakseimbangan nutrisi
Resiko jatuh kurang dari kebutuhan
tubuh

F. PENATALAKSANAAN
Penanganan yang dilakukan tergantung dari keadaan tumor tersebut,apakah masih bisa
dioperasi (operable) ataupun in operable. Sebelum dilakukan pembedahan,persiapan pre
operasi harus dilakukan seperti pemeriksaan labooratorium lengkap,tes fungsi
hati,ginjal,EKG,dan lain-lain.
1. Tindakan operatif dilakukan pada keadaan berikut,antara lain :
a. Emergency,misalnya pasien dengan penurunan kesadaran.
b. Elektif (direncanakan),misalnya pada penderita tumor otak stadium dini
2. Tindakan operatif dengan radio terapi dan kemoterapi Temozolomide dilakukan pada
kasus anaplastic Oligodendroglioma(grade III).untuk kasus malignant glioma
dilanjutkan dengan interstitial radio terapi/brachytherapy dengan radioaktif Irridium
192 atau Lodine-125 lagsung ke tumor. Stereotactic radiotherapi dan radiosurgery
(Linac dan Gamma kenife) dilakukan hanya terbatas pada lesi-lesi dengan diameter
lebih dari 3-4 cm dan sangat potensial untuk malignant Glioma yang berada jauh
didalam otak. Pada tumor dengan metastase tunggal diotak ,dilakukan tindakan
operatif terhadap tumornya tetapi disertai dengan Whole Brain Radiotherapy

7
(WBRT) ataupun dengan stereo tactic Radio Surgary (SRS) selain itu dilanjutkan lagi
dengan kemoterapi,seperti pada tumor small cell lung carcinoma,germ cell tumor
ataupun pada breastcancer.
3. Paliatif
Dilakukan pada kasus-kasus yang tidak mungkin lagi operasi.

G. MANIFESTASI KLINIS
Menurut lokasi tumor: (Hakim, 2008)
1. Lobus frontalis : Gangguan mental / gangguan kepribadian ringan : depresi, bingung,
tingkah laku aneh, sulit memberi argumentasi / menilai benar / tidak , hemiparesis,
ataksia, dan gangguan bicara.
2. Kortekpresentalis posterior / kelemahan / kelumpuhan pada otot-otot wajah, lidah dan
jari.
3. Lobusparasentralis : kelemahan pada ekstremitas bawah
4. Lobus oksipital : kejang, gangguan penglihatan
5. Lobus temporalis : tinnitus, halusinasi, pendengaran, afasiasensorik, kelumpuhan otot
wajah.
6. Lobus parientalis : hilang fungsi sensorik, kortikalis, gangguan lokalisasi sensorik,
gangguan penglihatan.
7. Cerebulum : papiloedema, nyeri kepala, gangguan motoric, hiperekstremitas sendi,
hipotonia.

H. KOMPLIKASI
1. Edema serebral
2. Hidrosefalus
3. Herniasi otak
4. Kematian
5. Gangguan kognitif dan neurobehavior
6. Disartria
7. Disfagsi
8. Kelemahan otot
9. Gangguan penglihatan
10. Sakit kepala
11. kejang
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Arterigrafi atau ventricolugram : untuk mendeteksi kondisi patologi pada system
ventrikel dan cisterna.
2. CT-SCAN : Dasar dalam menentukan diagnose
3. Radiogram : memberikan informasi yang sama mengenai struktur, penebalan dan
klasifikasi : posisi kelenjar pineal yang mengapur : dan posisi selatursika.
4. Sidik otak radioaktif : memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat
radioaktif. Tumor otak mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang
menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif.

8
5. Elektroensefalogram (EEG) : memberi informasi mengenai perubahan kepekaan
neuron
6. Ekoensefalogram : memberi informasi mengenai pergeseran kandungan intraserebral.

9
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Nama,umur,jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, alamat, no.regrister, tanggal MRS
diagnose medis.
2. Keluhan utama
Pada penderita tumor otak mengalami nyeri kepala yang hebat,mual muntah kadang
disertai kejang.
3. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit tumor biasanya terjadi tanpa diketahui oleh penderita. Biasanya
penderita mengeluh nyeri kepala yang hebat terus menerus dan semakin bertambah
berat saat melakukan aktivitas dan disertai mual muntah dan kadang ada juga yang
mengalami kejang.
4. Riwayat penyakit dahulu
Penderita biasanya mengeluhkan nyeri kepala.
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada salah satu anggota keluarga yang menderita tumor atau kanker.
6. Pola-pola fungsi kesehatan :
 Pola presepsi dan tata laksana hidup sehat
Pola tumor otak kebanyakan bandres total sehingga personal hygine
mengalami gangguan.
 Pola nutrisi dan metabolisme
Pasien mengalami muntah karena adanya nyeri hebat sehigga mengakibatkan
asam lambung meningkat.
 Pola eliminasi
Pada pola eliminasi tidak terjadi gangguan.
 Pola istirahat tidur
Pasien mengalami gangguan pada pola istirahat tidur karena adanya nyeri
hebat pada kepala.

10
 Pola aktivitas dan latihan
Pada pasien tumor otak terjadi gangguan pola aktivitas karena nyeri kepala
yang dirasakan oleh pasien.
 Pola persepsi dan konsep diri
Pada pola ini mengalami gangguan persepsi dan konsep diri karena pasien
merasa sudah tidak berguna lagi dan merasa dirinya orang lemah.
 Pola sensori dan kognitif
Pasien mengalami nyeri kepala yang terus menerus dan biasanya pasien tidak
mengerti tenyang penyebab rasa nyeri kepala yang dialaminya.
 Pola reproduksi
Tidak ada gangguan pada pola reproduksi
 Pola hubungan peran
Tidak ada gangguan pada pola hubungan peran
 Pola penanggulangan stress
Tidak ada gangguan pada pola penanggulangan stress.
 Pola tata nilai kepercayaan
Tidak ada gangguan pada pola tata nilai kepercayaan.
7. Pemeriksaan fisik
a) Pernafasan B1 (breathing)
Bentuk dada : normal
Pola nafas : tidak teratur
Suara nafas : normal
Sesak napas : ya
Batuk : tidak
Retraksi otot bantu napas : ya
Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)
b) Kardiovaskular B2 (blooding)
Irama jantung : irregular
Nyeri dada : tidak
Bunyi jantung : normal
Akral : hangat

11
Nadi : bradikardi
Tekanan darah meningkat
c) Persyarafan B3 (brain)
Pengelihatan (mata) : penurunan pengelihatan,hilangnya ketajaman atau
diplopia.
Pendengaran (telinga) : terganggu bila mengenai lobus temporal.
Penciuman (hidung) : mengeluh bau yang tidak biasanya,pada lobus frontal
Pengecapan (lidah) : ketidak mampuan sensasi (parathesia atau anaesthesia).
d) Perkemihan B4 (bladder)
Kebersihan : bersih
Bentuk alat kelamin : normal
Uretra : normal
Produksi urin : normal
e) Pencernaan B5 (bowel)
Nafsu makan : menurun
Porsi makan : setengah
Mulut : bersih
Mukosa : lembap
f) Muskuluskeletal/integument B6 (bone)
Kemampuan pergerakan sendi : bebas
Kondisi tubuh : kelelahan

B. DIAGNOSA
1. Nyeri kronis berhubungan dengan perembesan tumor: peningkatan tekanan
intrakranial
2. Resiko Jatuh berhubungan dengan gangguan penglihatan
3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan medula oblongata.

C. INTERVENSI
1. Nyeri kronis berhubungan dengan perembesan tumor: peningkatan tekanan
intracranial
NOC:
Domain-health knowledge & behaviour (IV)
- Pain control
- Pain: Disruptive

12
Kriteria hasil:
- Klien dapat menggenal onset nyeri
- Klien dapat menggambarkan faktor penyebab
- Klieb dapat mengenal gejala yang berhubungan dengan nyeri
- Hubungan interpersonal tidak terganggu
- Dapat melakukan aktivitas sehari-hari
- Aktivitas fisik tidak terganggu
Intervensi:
Pain management
1. mengurangi/menghilangkan faktor-faktor yang menimbulkan/meningkatkan
pengalaman nyeri
2. memilih dan mengimplementasikan satu jenis tindakan (farmakologi, non-
farmakologi, interpersonal) untuk memfasilitasi pertolongan nyeri.
3. Mempertimbangkan jenis dan sumber nyeri ketika memilih strategi pertolongan
nyeri
4. mendorong klien untuk menggunakan pengobatan nyeri yang adekuat
5. instruksikan pasien/keluarga untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri
timbul
6. mengajarkan teknik relaksasi dan metode distraksi
7. observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal seperti ekspresi
wajah,gelisah,menangis/meringis,perubahan tanda vital.

Kolaborasi: analgesic administration


1. menentukan lokasi, karakteristik,kualitas, dan keparahan nyeri sebelum pengobatan
klien.
2. mengecek permintaan medis untuk obat, dosis, dan frekuensi dari analgesic yang
telah ditentukan (resep).

2. Resiko Jatuh berhubungan dengan gangguan penglihatan


NOC:
-Trauma risk for
-Injury risk for
Kriteria hasil:
-keseimbangan: kemampuan untuk mempertahankan ekuilibrium
-gerakan terkoordinasi: kemampuan otot untuk bekerja sama secara volunteer untuk
melakukan gerakan yang bertujuan
-perilaku pencegahan jatuh: tindakan individu atau pemberian asuhan untuk
meminimalkan factor resiko yang dapat memicu jatuh dilingkungan invidu
-kejadian jatuh: tidak ada kejadian jatuh, pengetahuan: pemahaman pencegahan jatuh

Intervensi:
Fail Prevention

13
1. mengidentifikasikasi deficit kognitif atau fisik pasien yang dapat meningkatkan
potensi jatuh dalam lingkungan tertentu
2. mengidentifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi resiko jatuh
3. mengidentifikasi karakteristik lingkungan yang dapat meningkatkan potensi untuk
jatuh
4. mendorong pasien untuk menggunakan tongkat atau alat pembantu berjalan
5. anjurkan pasien untuk memakai kacamata sesuai ketika keluar dari tempat tidur

3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan medula oblongata.


NOC:
Domain-physiologic Health
Class-cardiopulmonary
Respiratory status
Kriteria hasil:
- Respiratory rate normal
- Respiratory rhytm normal
- Kedalaman inpirasi normal
- Saturasi oksigen normal
- Tidak ada sianosis

Intervensi:
Airway Management
1. Monitor status respirasi dan oksigenasi, yang tepat
Respiratory Management
1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan upaya pernafasan
2. Monitor pola pernapasan
3. Monitor tingkat saturasi oksigen dalam klien yang tenang
4. Auskultasi suara napas, mencatat area penurunan ketiadaan ventilasi dan
keberadaan suara tambahan

D. IMPLEMENTASI
Tahap pelaksanaan ini dilakukan berdasarkan dengan rencana tindakan yang telah
ditentukan pada tahap pengkajian, juga pelaksanaan tindakan keperawatan yang
disesuaikan dengan kondisi klien.

E. EVALUASI
Evaluasi adalah langkah terakhir dalam proses keperawatan dan hasil akhir dan evaluasi
dapat berhasil secara keseluruhan atau tidak berhasil bahkan dapat timbul masalah baru.

14
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Buther, H. K., M, D. J., & Wagner, C. M. (2013). Nursing Interventions Classification
(NIC) edisi 6. Elsevier.

Hermand, T., & Kamitsuru, S. (2014). Diagnosa Keperawatan defisi dan klasifikasi 2015-2016 edisi 10.
Penerbit Buku Kedokteran: EGC.

Huda, A., & Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis. jogjakarta: Penerbit Mediaction.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes Classifications (NOC)
edisi 6. Elsevier.

15