Anda di halaman 1dari 19

B.

Zaman Pencerahan (Aufklarung)


Setelah reformasi, renaissance, dan rasionalisme dari Zaman Barok, kemudian
datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII sebagai perkembangan lebih
jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Pada abad sebelumnya,
fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia, manusia, dan
Tuhan. Sedang pada Masa Aufklarung, pembahasannya lebih meluas mencakup segala
aspek kehidupan manusia. Seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan, agama, ekonomi,
hukum, pendidikan dan sebagainya.
Periode ini dalam sejarah Barat disebut “Zaman Pencerahan” atau “Fajar Budi”
(dalam bahasa Inggris, “Englightenment”, dalam bahasa Jerman, “Aufklarung”). Filosof-
filosof besar dari zaman ini yaitu di Inggris “Empirikus-engpirikus” seperti John Lock
(1632-1704), George Berkeley (1684-1753), dan David Hume (1711-1776); di Perancis
adalah Jean Jacque Rousseau (1712-17 78) dan di Jerman adalah Immanuel Kant (1724-
1804), yang menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme dan dianggap
sebagai filosof terpenting dari zaman modern.

Tokoh-tokoh zaman pencerahan :

1. John Locke

Lahir : 29 Agustus 1632 Wrington, Somerset, Inggris


Meninggal : 28 Oktober 1704 Essex, Inggris
a. Tentang Pengetahuan
Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat
adalah mengenai proses manusia mendapatkan pengetahuan. Menurut Locke, seluruh
pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia. Posisi ini adalah posisi empirisme
yang menolak pendapat kaum rasionalis yang mengatakan sumber pengetahuan
manusia yang terutama berasal dari rasio atau pikiran manusia. Meskipun demikian,
rasio atau pikiran berperan juga di dalam proses manusia memperoleh pengetahuan.
Dengan demikian, Locke berpendapat bahwa sebelum seorang manusia mengalami
sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum berfungsi atau masih kosong. Situasi
tersebut diibaratkan Locke seperti sebuah kertas putih (tabula rasa) yang kemudian
mendapatkan isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu. Rasio manusia
hanya berfungsi untuk mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi
pengetahuan sehingga sumber utama pengetahuan menurut Locke adalah pengalaman.
Lebih lanjut, Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni
pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation) dan pengalaman batiniah
(internal sense atau reflection. Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang
menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas material yang berhubungan dengan
panca indra manusia. Kemudian pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki
kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan cara 'mengingat', 'menghendaki',
'meyakini', dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan
membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya.
Dari perpaduan dua bentuk pengalaman manusia, diperoleh apa yang Locke
sebut 'pandangan-pandangan sederhana' (simple ideas) yang berfungsi sebagai data-
data empiris. Ada empat jenis pandangan sederhana:
 Pandangan yang hanya diterima oleh satu indra manusia saja. Misalnya, warna
diterima oleh mata, dan bunyi diterima oleh telinga.
 Pandangan yang diterima oleh beberapa indra, misalnya saja ruang dan gerak.
 Pandangan yang dihasilkan oleh refleksi kesadaran manusia, misalnya ingatan.
 Pandangan yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan dan refleksi.
Misalnya, rasa tertarik, rasa heran, dan waktu.
Di dalam proses terbentuknya pandangan-pandangan sederhana ini, rasio atau
pikiran manusia bersifat pasif atau belum berfungsi. Setelah pandangan-pandangan
sederhana ini tersedia, baru rasio atau pikiran bekerja membentuk 'pandangan-
pandangan kompleks' (complex ideas). Rasio bekerja membentuk pandangan
kompleks dengan cara membandingkan, mengabstraksi, dan menghubung-hubungkan
pandangan-pandangan sederhana tersebut. Ada tiga jenis pandangan kompleks yang
terbentuk :
 substansi atau sesuatu yang berdiri sendiri, misalnya pengetahuan tentang manusia
atau tumbuhan.
 modi (cara mengada suatu hal) atau pandangan kompleks yang keberadaannya
bergantung kepada substansi. Misalnya, siang adalah modus dari hari.
 hubungan sebab-akibat (kausalitas). Misalnya saja, pandangan kausalitas dalam
pernyataan: "air mendidih karena dipanaskan hingga suhu 100° Celcius".
b. Tentang Negara
Pandangan Locke tentang negara terdapat di dalam bukunya yang berjudul
“Two Treatises of Civil Government”. Ia menjelaskan pandangannya itu dengan
menganalisis tahap-tahap perkembangan masyarakat. Locke membagi perkembangan
masyarakat menjadi tiga, yakni keadaan alamiah (the state of nature), keadaan perang
(the state of war), dan negara (commonwealth).
1) Tahap Keadaan Alamiah
Keadaan alamiah adalah tahap pertama dari perkembangan masyarakat.
Menurut Locke, keadaan alamiah sebuah masyarakat manusia adalah situasi
harmonis, di mana semua manusia memiliki kebebasan dan kesamaan hak yang sama.
Dalam keadaan ini, setiap manusia bebas menentukan dirinya dan menggunakan apa
yang dimilikinya tanpa bergantung kepada kehendak orang lain. Meskipun masing-
masing orang bebas terhadap sesamanya, namun tidak terjadi kekacauan karena
masing-masing orang hidup berdasarkan ketentuan hukum kodrat yang diberikan oleh
Tuhan. Yang dimaksud hukum kodrat dari Tuhan menurut Locke adalah larangan
untuk merusak dan memusnahkan kehidupan, kebebasan, dan harta milik orang lain.
Dengan demikian, Locke menyebut ada hak-hak dasariah yang terikat di dalam kodrat
setiap manusia dan merupakan pemberian Allah. Konsep ini serupa dengan konsep
Hak Asasi Manusia (HAM) di dalam masyarakat modern.
2) Tahap Keadaan Perang
Locke menyebutkan bahwa ketika keadaan alamiah telah mengenal hubungan-
hubungan sosial maka situasi harmoni mulai berubah. Penyebab utamanya adalah
terciptanya uang. Dengan uang, manusia dapat mengumpulkan kekayaan secara
berlebihan, sedangkan di dalam keadaan alamiah tidak ada perbedaan kekayaan yang
mencolok karena setiap orang mengumpulkan secukupnya untuk konsumsi masing-
masing. Ketidaksamaan harta kekayaan membuat manusia mengenal status tuan-
budak, majikan-pembantu, dan status-status yang hierarkis lainnya. Untuk
mempertahankan harta miliknya, manusia menjadi iri, saling bermusuhan, dan
bersaing. Masing-masing orang menjadi hakim dan mempertahankan miliknya
sendiri. Keadaan alamiah yang harmonis dan penuh damai tersebut kemudian berubah
menjadi keadaan perang yang ditandai dengan permusuhan, kedengkian, kekerasan,
dan saling menghancurkan. Situasi seperti ini berpotensi memusnahkan kehidupan
manusia jika tidak ada jalan keluar dari keadaan perang.
3) Tahap Terbentuknya Negara
Locke menyatakan bahwa untuk menciptakan jalan keluar dari keadaan perang
sambil menjamin milik pribadi, maka masyarakat sepakat untuk mengadakan
"perjanjian asal" atau yang sering disebut dengan istilah kontrak sosial. Inilah saat
lahirnya negara persemakmuran (commonwealth). Dengan demikian, tujuan
berdirinya negara bukanlah untuk menciptakan kesamarataan setiap orang, melainkan
untuk menjamin dan melindungi milik pribadi setiap warga negara yang mengadakan
perjanjian tersebut.
Di dalam perjanjian tersebut, masyarakat memberikan dua kekuasaan penting
yang mereka miliki di dalam keadaan alamiah kepada negara. Kedua kuasa tersebut
adalah hak untuk menentukan bagaimana setiap manusia mempertahankan diri, dan
hak untuk menghukum setiap pelanggar hukum kodrat yang berasal dari Tuhan.
Ajaran Locke ini menimbulkan dua konsekuensi :
 Kekuasaan negara pada dasarnya adalah terbatas dan tidak mutlak sebab
kekuasaannya berasal dari warga masyarakat yang mendirikannya. Jadi, negara
hanya dapat bertindak dalam batas-batas yang ditetapkan masyarakat terhadapnya.
 Tujuan pembentukan negara adalah untuk menjamin hak-hak asasi warga, terutama
hak warga atas harta miliknya. Untuk tujuan inilah, warga bersedia melepaskan
kebebasan mereka dalam keadaan alamiah yang diancam bahaya perang untuk
bersatu di dalam negara.
c. Pembatasan Kekuasaan
Negara di dalam pandangan Locke dibatasi oleh warga masyarakat yang
merupakan pembuatnya. Untuk itu, sistem negara perlu dibangun dengan adanya
pembatasan kekuasaan negara, dan bentuk pembatasan kekuasaan tersebut dapat
dilakukan dengan dua cara.Cara pertama adalah dengan membentuk konstitusi atau
Undang-Undang Dasar yang ditentukan oleh Parlemen berdasarkan prinsip mayoritas.
Cara kedua adalah adanya pembagian kekuasaan dalam tiga unsur: legistlatif,
eksekutif, dan federatif.
Unsur legislatif adalah kekuasaan untuk membuat undang-undang dan
merupakan kekuasaan tertinggi. Kekuasaan ini dijalankan oleh Parlemen yang
mewakili golongan kaya dan kaum bangsawan sebab mereka, dengan kekayaannya,
paling banyak menyumbangkan sesuatu kepada negara. Dalam membuat undang-
undang, kekuasaan legislatif terikat kepada tuntutan hukum alam yaitu keharusan
menghormati hak-hak dasar manusia. Unsur eksekutif adalah pemerintah yang
melaksanakan undang-undang, yaitu raja dan para bawahannya. Terakhir, unsur
federatif adalah kekuasaan yang mengatur masalah-masalah bilateral, seperti
mengadakan perjanjian damai, kesepakatan kerja sama, atau menyatakan perang.
Menurut Locke, kekuasaan federatif dapat dipegang oleh pihak eksekutif, di mana
dalam keadaan darurat pihak eksekutif dapat mengambil tindakan yang melampaui
wewenang hukum yang dimilikinya.
Di dalam sistem kenegaraan Locke di atas, tetap ada kemungkinan
penyalahgunaan wewenang oleh pihak-pihak yang berkuasa atas rakyat. Oleh karena
itu, menurut Locke, rakyat memiliki hak untuk mengadakan perlawanan dan
menyingkirkan pihak eksekutif dengan kekerasan bila mereka telah bertindak di luar
wewenang mereka. Di sini, rakyat merebut kembali hak yang telah mereka berikan.
d. Tentang Hubungan Agama dan Negara
Pemikiran Locke mengenai hal ini terdapat di dalam tulisannya yang berjudul
(Letters of Toleration). Locke menyatakan bahwa perlu ada pemisahan tegas antara
urusan agama dan urusan negara sebab tujuan masing-masing sudah berbeda. Negara
tidak boleh menganut agama apapun, apalagi jika membatasi atau meniadakan suatu
agama. Tujuan negara adalah melindungi hak-hak dasar warganya di dunia ini
sedangkan tujuan agama adalah mengusahakan keselamatan jiwa manusia untuk
kehidupan abadi di akhirat kelak setelah kematian. Jadi, negara berfungsi untuk
memelihara kehidupan di dunia sekarang, sedangkan agama berfungsi untuk
menjalankan ibadah kepada Tuhan dan mencapai kehidupan kekal. Agama adalah
urusan pribadi, berbeda dengan negara yang merupakan urusan masyarakat umum.
e. Tentang Agama
Pandangan Locke mengenai agama bersifat deistik. Ia menganggap agama
Kristen adalah agama yang paling masuk akal dibandingkan agama-agama lain,
karena ajaran-ajaran Kristen dapat dibuktikan oleh akal manusia. Locke berangkat
dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk berakal budi, sehingga pastilah
disebabkan karena adanya 'Tokoh Pencipta' yang mutlak dan maha kuasa, yaitu Allah.
Ia meyakini bahwa Alkitab ditulis oleh ilham Ilahi, namun ia juga menyatakan bahwa
setiap wahyu Ilahi haruslah diuji oleh rasio manusia.
2. Geodge Berkeley

Lahir : 12 Maret 1685 di County Kilkenny, Irlandia.


Meninggal : 14 Januari 1753 Oxford, Inggris pada (umur 67 tahun)
George Berkeley adalah seorang filsuf Irlandia yang juga menjabat sebagai uskup
di Gereja Anglikan. Berkeley mengembangkan suatu pandangan tentang pengenalan
visual tentang jarak dan ruang. Selain itu, ia juga mengembangkan sistem metafisik
yang serupa dengan idealisme untuk melawan pandangan skeptisisme. nti pandangan
filsafat Berkeley adalah tentang "pengenalan". Menurut Berkeley, pengamatan terjadi
bukan karena hubungan antara subjek yang mengamati dan objek yang diamati.
Pengamatan justru terjadi karena hubungan pengamatan antara pengamatan indra yang
satu dengan pengamatan indra yang lain. Misalnya, jika seseorang mengamati meja, hal
itu dimungkinkan karena ada hubungan antara indra pelihat dan indra peraba. Indra
penglihatan hanya mampu menunjukkan ada warna meja, sedangkan bentuk meja
didapat dari indra peraba. Kedua indra tersebut juga tidak menunjukkan jarak antara
meja dengan orang itu, sebab yang memungkinkan pengenalan jarak adalah indra lain
dan juga pengalaman. Dengan demikian, Berkeley mengatakan bahwa pengenalan
hanya mungkin terhadap sesuatu yang kongkret.
Pada 1709, Berkeley menerbitkan karya pertamanya yakni, "An Essay towards a
New Theory of Vision", dalam karyanya tersebut ia membahas keterbatasan
penglihatan manusia dan mengajukan teori bahwa benda yang terlihat bukanlah benda
material, tapi cahaya dan warna. hal tersebut membayangi karya filosofisnya Treatise
Mengenai Prinsip Pengetahuan Manusia tahun 1710 yang, ia tulis ulang dalam bentuk
dialog dan diterbitkan dengan judul Tiga Dialog antara Hylas dan Philonous pada tahun
1713. Dalam buku ini, pandangan Berkeley diwakili oleh Philonous (Yunani: 'kekasih
pikiran'), sementara Hylas (Yunani: 'materi') mewujudkan lawan pemikir Irlandia,
Berkeley menentang doktrin Sir Isaac Newton tentang ruang mutlak, waktu dan gerak
di De Motu (Pada Motion), yang diterbitkan tahun 1721 tentang argumen pendahulunya
Mach dan Einstein. Pada tahun 1732, ia menerbitkan Alciphron, seorang Kristen minta
maaf terhadap -pemikir bebas, dan pada 1734, ia menerbitkan The Analyst , kritik
terhadap dasar-dasar kalkulus, yang berpengaruh dalam pengembangan matematika.
3. David Hume

Lahir : 7 Mei 1711 Edinburgh, Skotlandia


Meninggal : 25 Agustus 1776 (umur 65) Edinburgh, Skotlandia
David Hume adalah filsuf Skotlandia, ekonom, dan sejarawan. Dia dimasukkan
sebagai salah satu figur paling penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia.
Walaupun kebanyakan ketertarikan karya Hume berpusat pada tulisan filosofi, sebagai
sejarawanlah dia mendapat pengakuan dan penghormatan. Karyanya The History of
England merupakan karya dasar dari sejarah Inggris untuk 60 atau 70 tahun sampai
Karya Macaulay. Salah satu pemikiran skeptis radikal Hume dapat diringkas secara
sederhana yaitu : kausalitas itu tidak ada. Bila ada dua peristiwa yang biasanya
dianggap orang sebagai sebab-akibat, misalnya (1) air mendidih pada 100 °C karena (2)
air dipanaskan dengan api, itu hanyalah hubungan post-hoc, maksudnya peristiwa (1)
terjadi setelah (post) peristiwa (2). Belum tentu di setiap tempat dan situasi air
mendidih pada suhu 100 °C karena dipanaskan dengan api kecuali kalau ada orang
yang telah membuktikannya sendiri, yakni dengan melakukan percobaan terus menerus.
Keragu-raguannya itu membuatnya digolongkan dalam filsuf empirisme, tetapi secara
khusus emprisme radikal.
Skeptisme mendasar dalam pikiran Hume menentang terhadap tiga pemikiran
sebelumnya. Hume melawan ajaran-ajaran rasionalitas tentang idea-idea bawaan.
Selanjutnya menyerang pemikiran religius, entah dari katolik, Anglikan, maupun
Penganut Deisme. Terakhir serangan pada empirisme sendiri yang masih percaya pada
substansi. Hume mengungkap karya-karya Francis Hutcheson, seorang filsuf moral dari
Skotlandia di Universitas Glasgow, yang berpendapat bahwa prinsip moral tidak
berdasarkan kitab injil, seperti dikatakan penganut kristiani, juga tidak berdasarkan akal
pikiran, seperti pendapat Plato dan Socrates. Keyakinan Moral Menurut Hutcheson
terdapat pada perasaan kita, sentimen setuju atau tidak setuju kita. Kemudian dengan
mengembangkan pandangan Hutcheson dan menggabungkan empirisme Locke dan
Berkeley, Hume berpendapat bahwa pengetahuan didapat hanya dari persepsi panca
indra. Hume memulai pemikiran kontroversialnya melalui penggabungan dua konsep
tersebut, yaitu bahwa pengetahuan terbaik kita, hukum ilmiah, bukanlah apa-apa
melainkan persepsi pengindraan yang meyakinkan perasaan kita. Karena itu meragukan
sekali bahwa kita memiliki pengetahuan, kita hanya mempunyai persepsi panca indra
dan perasaan. Dalam pemikiran Hume, ada skeptisme radikal, bentuk keraguan ekstrem
atas kemungkinan bahwa kepastian dalam pengetahuan merupakan hal yang bisa
dicapai.
4. Jean Jacque Rousseau

Lahir : 28 Juli 1712 di Jenewa, Swiss


Meninggal : 2 Juli 1776 di Ermenonville, Oise, Prancis (66 tahun)
Jean Jacques Rousseau adalah seorang tokoh filosofi besar, penulis dan
komposer pada abad pencerahan. Pemikiran filosofinya memengaruhi revolusi Prancis,
perkembangan politika modern dan dasar pemikiran edukasi. J.J Roussesau
mengemukakan pemikirannya tentang kontrak sosial. Teori kontrak sosial merupakan
salah satu teori dari terbentuknya negara. Teori kontrak sosial ini berkembang dan
dipengaruhi oleh pemikiran para filsof abad pencerahan (enlightenment), Teori kontrak
sosial merupakan teori yang menyatakan bahwa terbentuknya negara itu disebabkan
oleh adanya keinginan masyarakat untuk membuat kontrak sosial. Jadi, sumber
kewenangan berasal dari masyarakat itu sendiri.
J.J. Rousseau memandang pada dasarnya manusia itu sama. Pada kondisi alamiah
antara manusia yang satu dengan manusia lainnya tidaklah terjadinya perkelahian.
Manusia hidup aman, damai dan tentram. Namun seiring waktu, menurut J.J. Rousseau
itu akan berubah, karena faktor alam, fisik dan moral menciptakan ketidaksamaan.
Ketidaksamaan inilah yang menyebabkan terjadinya kekuasaan tunggal (otoriter) oleh
sekelompok orang tertentu. Hak istimewa yang dimiliki ini karena orang itu lebih kaya,
lebih dihormati, lebih berkuasa dan sebagainya.
Untuk menghadapi masalah yang semakin kongkrit dan disparitas antara manusia
yang satu dengan lainnya inilah lahirnya “Du Contract Social”. Kontrak sosial adalah
kesepakatan yang rasional untuk menentukan seberapa luas kebebasan warga (yang
pada asasnya tidak terbatas) dan dilain pihak seberapa besar kewenangan pejabat
negara (pada asasnya terbatas). Kontrak sosial yang dibentuk atas kehendak bebas dari
semua (the free will all), untuk mamantapkan keadilan dan pemenuhan moralitas yang
tinggi. J.J. Rousseau mengedepankan konsep tentang kehendak umum (volonte
generale) untuk dibedakan dari hanya kehendak semua (omnes ut singuli). J.J.
Rousseau mengatakan bahwa kehendak bebas dari semua tidak harus tercipta oleh
jumlah orang yang berkehendak (the quantity of the subjects), akan tetapi harus tercipta
oleh kualitas kehendaknya (the quality of the object sought).
Kehendak umum menciptakan negara yang memungkinkan manusia menikmati
kebebasan yang lebih baik daripada kebebasan yang mungkin didapat dalam kondisi
alamiah. Kehendak umum menentukan yang terbaik bagi masyarakat, sehingga apabila
ada orang yang tidak setuju dengan kehendak umum itu, maka perlu pemaksaan untuk
tunduk terhadap kehendak itu. Karena alasan pembentukan negara menurut J.J.
Rousseau adalah sebagai kekuatan memaksa yang bersifat legal untuk mempergunakan
kekerasan kalau terdapat pengingkaran terhadap hak alamiah manusia itu. Maka
manusia yang melanggar akan juga kehilangan haknya dan diberikan sangsi/hukuman.
Pada dasarnya J.J. Rousseau menjelaskan bahwa yang memerintah adalah
kehendak umum dengan menggunakan lembaga legislatif yang membawahi lembaga
ekskutif. Walaupun J.J. Rousseau sebenarnya menekankan pentingnya demokrasi
primer (langsung) tanpa perwakilan dan tanpa prantara partai politik. J.J. Rousseau
berpendapat bahwa partai politik hanya akan berujung pada penyelewengan
kepentingan orang-orang yang ada didalamnya. Dengan demikian, masyarakat lewat
kehendak umum bisa secara total memerintah negara. J.J. Rousseau menyebutkan
bahwa negara diperintah oleh hukum dengan republik, entah bagaimanapun bentuk
administrasinya. Selanjutnya, badan legislatif berfungsi membuat aturan atau hukum,
namun tidak memiliki kekuasaan memerintah. Menurutnya, kekuasaan legislatif harus
ditangan rakyat, sedangkan ekskutif harus berdasar pada kemauan bersama.
5. Immanuel Kant

Lahir : 22 April 1724 Königsberg, Kerajaan Prusia


Meninggal : 12 Februari 1804 (umur 79) Königsberg, Kerajaan Prusia
Kant dikenal dengan hidupnya yang sangat disiplin. Setiap hari ia jalani dengan
jadwal yang sudah sangat tersistematisasi. Orang konon bisa menebak dengan mudah
pada jam/waktu ini ia berada di mana dan sedang melakukan kegiatan apa. Kedisiplinan
hidup inilah yang memungkinkan Kant menulis begitu banyak karya yang fenomenal.
Adapun beberapa karya Kant yang penting adalah :
a. Critique of pure reason (kritik atas akal budi murni)
Dalam karya ini kritisisme Kant dianggap dapat mendamaikan rasionalisme
dan empirisme. Di mana dalam menentukan kebenaran tidak cukup hanya
menggunakan nalar logis saja, akan tetapi di sini peran rasionalisme yang sangat
menekankan unsur a priori atau ide bawaan dari alam metafisika juga diperlukan.
Namun empirisme yang menekankan pengalaman indrawi juga berperan penting.
Menurut Kant, baik rasionalisme maupun empirisme keduanya baik. Akan tetapi di
sini keterkaitan ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Hukum alam lah yang berlaku
selalu di mana-mana.
b. Critique of Practical Reason (Kritik atas Akal Budi Praktis)
Bagian ini membicarakan mengenai moral. Filsafat moral adalah cabang filsafat
yang melalui kegiatannya dengan pertanyaan apakah manusia itu bebas? Bagaimana
perbedaan baik dan buruk?. Tujuan hakiki filsafat moral adalah membantu kita
menjadi orang yang lebih baik. Dalam Critique of Practical Reason, Kant
menunjukkan rasio praktis memberikan perintah yang mutlak yang disebutnya
imperatif kategoris. Suatu kategori yang tidak bisa dihindari, karena ini merupakan
landasan tindakan moral. Imperatif kategoris ini memberikan kerangka penalaran
praktis kepada kita. Karena tujuannya di sini memberikan kewajiban bagi manusia.
Adapun ajaran pokok imperatif kategoris adalah “Bertindaklah sedemikian rupa
sesuai dengan sebuah prinsip atau kaidah tindakanmu itu bisa sekaligus kau
kehendaki sebagai kaidah yang berlaku secara universal”.
c. Kritik der Urteilskraft (Kritik atas Daya Pertimbangan)
Dalam karya ini Kant memadukan antara “Kritik atas rasio umum” dan “Kritik
atas rasio praktis”. Kritik daya pertimbangan ini menyesuaikan keduanya dengan
konsep finalitas. Artinya sebelum menentukan kepastian maka harus diselidiki dulu.
Tentunya di sini rasio bekerja amat keras. Karena di samping rasio menarik
kesimpulan, dan pengalaman sebagai tolak ukur namun tidak sepenuhnya. Karena
tidak semua pengalaman benar-benar nyata. Dengan demikian, rasionalisme dan
empirisme harus bergabung. Agar keduanya dapat melahirkan suatu paradigma baru
bahwa kebenaran empiris harus rasional sebagaimana kebenaran rasional harus
empiris.
Imannuel Kant juga mengemukakan beberapa pemikirannya yaitu :
a. Teori etika Immanuel Kant
Dalam ruang lingkup filsafat etika, Immanuel Kant termasuk pada filsafat
aliran etika deontologis. Etika deontologis adalah teori filsafat moral yang
mengajarkan bahwa sebuah tindakan itu benar kalau tindakan tersebut selaras dengan
prinsip kewajiban yang relevan untuknya. Atau dalam artian tindakan itu dianggap
benar apabila itu adalah kehendak baik. Karena bagi Kant tidak hal yang lebih baik
secara mutlak kecuali “kehendak baik”. Baik tersebut dalam artian kehendak yang
“baik” pada dirinya, dan tidak tergantung pada yang lain.
Sebagaimana yang diungkapkan Immanuel Kant bahwa kemauan baik harus
dinilai baik pada dirinya terlepas dari akibat yang ditimbulkannya. menurut Kant
kewajiban adalah suatu keharusan tindakan yang hormat terhadap hukum. Tidak
peduli apakah itu membuat kita nyaman atau tidak, senang atau tidak senang, cocok
atau tidak, pokoknya itu wajib bagi kita. Lebih jelasnya adalah tanpa pamrih, dan
tanpa syarat.
Suatu tindakan itu disebut baik itu bukan karena tindakan karena menghasilkan
hasil yang baik dan menguntungkan atau merugikan. Tetapi karena tindakan itu
dilakukan karena kepatuhan kepada perintah kalbu dan hukum moral yang baku yang
datang dari pengalaman indrawi. Ia begitu saja ada dan a priori terhadap seluruh
tindakan. Satunya-satunya kebaikan di dunia ini adalah kemauan yang baik. Yaitu
kemauan yang mau mengikuti hukum moral. Membuang jauh-jauh sifat pamrih,
mengharapkan sesuatu.
b. Kebaikan Tertinggi (summum bonum)
Kebaikan tertinggi ialah dimana kebaikan yang dinilai puncak, terunggul, dan
kebaikan akhir dalam kehidupan manusia yang deminya segala sesuatu dilakukan.
Sesuatu tersebut dinilai atau dikehendaki sebagai pengalaman atau obyek yang sangat
dinginkan dan yang di cari-cari. Menurut Kant, kebaikan tertinggi dalam dunia saat
ini tidak pernah terealisasi secara sempurna. Oleh karena itu, wajib bagi manusia
untuk merealisasikan tujuan tersebut. karena itu merupakan perbuatan moral.
Disamping manusia memiliki sifat istimewa dan lebih baik dibandingkan dengan
makhluk lainnya, sehingga ia merupakan makhluk yang bernilai.35 Lain halnya
dengan binatang, mereka juga mempunyai nilai, akan tetapi hanya sejauh mengabdi
pada tujuan manusia. Hal tersebut ditegaskan oleh Kant dalam salah satu karyanya
yang berbunyi “Tetapi sejauh berkaitan dengan binatang, kita tidak mempunyai
kewajiban-kewajiban langsung. Binatang ada hanya sebagai sarana untuk suatu
tujuan. Dan tujuan itu adalah untuk manusia.”
Menurut Kant, kebaikan tertinggi merupakan tujuan beliau yang ingin
merefleksikan implikasi dan rumusannya secara jelas mengenai ide tentang hukum
alam. Paling tidak untuk pengalaman moralnya. Karena jika sesorang memahami
hukum dan kodrat alam yang tidak bisa dirubah maka itu berarti seseorang tersebut
telah menjadikan eksistensi Tuhan sebagai jiwa untuk bertindak.
C. Zaman Romantik
Pada abad XIX, filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh
J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831).56 Aliran yang
diwakili oleh ketiga filosof ini disebut Idealisme. Dengan idealisme dimaksudkan
bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan Meterialisme yang
memperioritaskan dunia materiel. Para idiealis pada abad kedua puluh dianggap sebagai
lanjutan dari filsafat Hegel.
Dari ketiganya, Hegel merupakan tokoh yang menonjol, karena banyak pemikir
pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya, baik langsung maupun
tidak. Mereka terbagi dalam dua pandangan, yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang
membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952), salah seorang peletak dasar
Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (Kapitalisme) saat ini, dan pengikut Hegel
aliran kiri yang memusuhi agama, seperti Feuerbach, Karl Marx, dan Engels dengan ide
Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia.
Akan tetapi, sebenarnya tugas itu hanya sebagian saja dipenuhi mereka. Sebab
pada mereka tidak terdapat usaha yang teliti dalam menentukan batas-batas pengalaman
manusia, seperti yang terdapat pada Kant. Ketiga tokoh itu telah kembali kepada
metafisika yang tidak sesuai dengan norma-norma yang telah diberikan Kant. Sekalipun
mereka telah dijiwai oleh Kant, namun mereka tidak berhasil memasuki pikiran ke
dalam segala bagian filsafat mereka. Tetapi bagaimanapun mereka telah
memperkembangkan banyak perspektif yang berguna.
Mereka adalah filsuf-filsuf transendental, yang menjadikan akal pusat
pembicaraan dalam menangani pengalaman. Mereka tidak mengulangi saja apa yang
diajarkan oleh Kant. Sebab, memang ada beberapa bagian dari karya Kant yang minta
dibicarakan kembali. Di satu pihak Kant telah mendorong orang untuk menggali suatu
persoalan yang baru di bidang filsafat, akan tetapi di lain pihak di bidang metafisika
terdapat beberapa hal yang mengingatkan kepada dalil-dalil metafisikan yang lama.
Umpamanya hal “benda dalam dirinya” (Ding an sich) dan segala persoalan yang
berkaitan dengan itu. Jika kita dapat mengatakan, bahwa “benda dalam dirinya” tidak
dikenal, bahwa benda pada dasarnya bersifat rasional dan mewujudkan asa terakhir
pengalaman, yaitu semacam “x” yang tetap dalam persoalan pengenalan kita, itu
berarti, bahwa sebanarnya kita telah mengetahui banyak sekali tentang “hal yang tidak
dapat dikenal” itu. Sekalipun pengetahuan semacam itu mungkin hanya bersifat formal,
namun bersifat umum juga, dan perlu mutlak. Selanjutnya ajaran Kant tentang kategori-
kategori, tentang penampakan dan tentang idea, tentang bentuk dan materi, dan lain-
lainnya, semuanya itu memerlukan peninjauan kembali.
1. Johann Gottlieb Fichte

Lahir : 19 Mei 1762 Rammenau, Sachsen


Meninggal : 27 Januari 1814 (umur 51) Berlin, Prusia
Johann Gottlieb Fichte adalah seorang filsuf Jerman yang turut menjadi pionir
dalam mengembangkan Mazhab Idealisme. Mazhab inilah yang memainkan peranan
penting pada era pasca-Kant. Fichte memulai filsafatnya dengan kesadaran atau
keyakinan subjek terhadap dirinya sendiri. Pengetahuan tentang segala sesuatu
berawal dari kegiatan berpikir subjek yang merefleksikan dirinya sendiri. Jika kita
mengamati diri sendiri, maka dengan sadar manusia akan melihat adanya gagasan-
gagasan yang muncul dengan sendirinya. Sistem dari gagasan-gagasan tersebut
disebut pengalaman. Menurut Fichte, hanya ada dua unsur dalam pengalaman
manusia, yakni benda dan intelegensi (dalam bahasa Jerman Ding und Intelligenz).
Benda atau objek adalah sasaran pengetahuan, sedangkan intelegensi adalah daya
yang memungkinkan subjek mengarahkan diri kepada objek, untuk mengenali, dan
menanggapi objek juga.
Menurut Fichte Filsafat sebagai ajaran tentang ilmu pengetahuan dibedakan
menjadi 2, yaitu:
a. Ajaran tentang ilmu pengetahuan yang teoritis
Ajaran ini membicarakan tentang hal metafisika dan ajaran tentang
pengenalan. Disini, Fichte menentang pendapat Kant yang mengatakan bahwa
hanya berpikir secara ilmu pasti alamlah yang memberi kepastian di bidang
pengenalan. Fichte tidak mau memisahkan rasio teoritis dengan rasio praktis.
Menurut Fichte, sumber yang satu itu terdapat pada aktivitas Ego atau “Aku”. Apa
sebab Ego menciptakan dunia, dijelaskan demikian: Menurut Fichte, keadaan Ego
tidaklah terbatas. Agaknya yang dimaksud dengan Ego ini adalah Ego mutlak
(Ego Absolut) yang dibedakan dengan “Aku” perorangan. ( ada orang yang
berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Ego adalah Tuhan, akan tetapi ada
juga yang mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan Ego bukan Tuhan,
melainkan “tertib moral dari alam semesta”, suatu kuasa yang bekerja di dalam
dan melalui pribadi perorangan yang kita kenal.
b. Ajaran tentang ilmu pengetahuan yang praktis
Ajaran ini membicarakan tentang hal etika. Di dalam ajarannya tentang ilmu
pengetahuan yang praktis Fichte menentang Kant, yang mengajarkan bahwa setiap
orang harus mentaati kewajiban. Menurut Fichte, yang penting bukan Ego atau
“Aku” manusia dalam arti yang seideal mungkin. Sebab “Aku” itulah yang
mengajarkan tata tertib serta keselarasan di tengah-tengah benda yang banyak
sekali itu. Makin mendalam orang yang menyelami alam semesta, makin luas
cakrawala tata tertib itu.
Jadi manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bersifat moral. Hidup
yang memegang moral mengandung suatu usaha di dalamnya. Tugas manusia
bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk berbuat sesuai dengan
pengetahuannya.
Moralitas terdiri dari aktivitas diri yang mutlak, yang bebas sama sekali,
yang tidak dibatasi oleh sesuatu apapun diluarnya. Inilah asas otonomi. Di dalam
hal ini ada kesamaan antara Kant dan Fichte. Isi tugas moral manusia diturunkan
dari dua dasar pikiran, yaitu: bahwa manusia berkewajiban menghargai dirinya
sendiri sebagai makhluk yang bebas, dan bahwa ia senantiasa berkewajiban
berbuat dengan tidak mengambil kebebasan orang lain.
2. Friedrich Wilhelm Joseph Schelling

Lahir : 27 Januari 1775, Leonberg, Jerman


Meninggal : 20 Agustus 1854, Bad Ragaz, Swiss
filsafat Schelling berkembang melalui lima tahap yaitu:
a. Idealisme subyektif
Sesuai dengan periode pertama pemikiran Schelling, yaitu Idealisme
subyektif. Pengetahuan harus bertolak dari pengalaman (erfahrung). Pengalaman
di sini, adalah presentasi. Yang kemudian ia golongkan menjadi dua jenis, yaitu
presentasi dengan rasa bebas dan presentasi dengan keniscayaan. Perbedaan antara
dua presentasi tersebut dalam segi kemandiriannya adalah bahwa presentasi
pertama tidak membutuhkan obyek, karenanya disebut bebas dan presentasi kedua
tergantung pada obyek. Dalam pengalaman (erfahrung) terdapat dua unsur yang
saling terkait, yaitu subyek (kita) dan obyek (hal di luar kita). Subyek lebih unggul
atas obyek karena subyek menghasilkan pengalaman actual.
b. Filsafat alam
Dalam filsafat alam ia mengungkapkan ketidak-sepakatannya terhadap
pengunggulan subyek atas obyek. Menurutnya, pembedaan semacam itu muncul
dari refleksi yang bermula dari perasaan dan bukannya filsafat. Perbedaan antara
subyek dan obyek berawal dari refleksi. Refleksi menjadikan jarak antara sesuatu
yang ada di luar kita (alam) dan konsep yang kita tangkap dari ide kita (roh).
Refleksi membanguan pangkal pembedaan antara yang riil dan ideal. Jika
pembeda ini dihapuskan, maka kita akan memperoleh kesatuan. Karena jarak
antara subyek dan obyek hanya akan membuat kita tertipu, hal tersebut hanya
berdasarkan perasaan belaka. Yang harus kita lakukan adalah pendasaran pada
filsafat hingga kemudian kita memahami bahwa yang dipikirkan dan yang
memikirkan sebenarnya adalah satu.
Manusia memiliki kemampuan berfikir tentang segala yang ada di alam.
Dia, dengan Roh-nya akan bertanya sesuatu hal dan memaksa alam untuk
menjawabnya (proses dialog). Proses dialog menjelaskan bahwa alam memiliki
jawaban dari pertanyaan manusia, yang juga diimplikasikan sebagai roh. Jadi
kesimpulannya alam dan roh adalah satu. Alam adalah roh yang tampak dan roh
adalah alam yang tak tampak dan bahwa materi adalah kecerdasan yang tidur.
Dari situ kemudian dapat dipahami bahwa alam tidak berjalan secara otomatis,
melainkan sebuah proses yang dinamis dan terpadu mengarah pada suatu tujuan
tertentu (teleologis).
c. Idealisme transcendental atau idealism subyektif
Hukum alam dan hukum moral adalah identik di dalam tertib kosmik.
Selanjutnya, pernyataan inilah yang mendasari pemikiran Schelling dalam Negara,
hukum dan sejarah. Baginya, sejarah merupakan pernyataan berkesinambungan
dari Yang Absolut yang selalu memanifestasikan diri-Nya. Dalam pengembangan
filsafat transendental ini, selanjunya ia merambah ke dalam ranah filsafat seni
yang dianggap sebagai filsafat wahyu (art as revelation). Seni merupakan sebuah
hasil pengungkapan dari upaya yang dilakukan berdasarkan identitas antara yang
nyata dan yang ideal dalam sebuah wujud kongkrit yang bertempat dalam intuisi
yang estetis. Perbedaan filsafat seni dan filsafat transendental terletak pada
anggapan sang Absolut yang dikatakan “mengalami dunia” dalam transendental
dan dikatakan “menciptakan dunia” dalam filsafat seni. Seni merupakan sintesa
antara alam dan kesadaran; sbuah kesadaran dalam diri seniman yang menyatakan
diri sebagai intelegensi yang mencipta dunia. Karena itu Schelling menolak
sebagian kalangan yang menyatakan bahwa metodologi Ilmu pengetahuan dan
Matematika merupakan satu – satunya cara yang dapat digunakan untuk mencapai
pengetahuan yang sebenarnya. Dengan kata lain, sumber pengetahuan adalah seni,
dan bukan penelitian ilmiah.
d. Filsafat identitas
filsafat identitas (Identity Philosophy), yakni suatu sintesis antara pemikiran
Kant di satu sisi, dan pemikiran Spinoza di sisi lain. Kant, dan nantinya juga
Fichte, menekankan pentingnya peran subyek di dalam proses pembentukan
pengetahuan. Semua kenyataan di luar diri manusia menjadi sesuatu yang
terstruktur, karena subyek. Schelling berpendapat bahwa manusia dan Alam
(Nature), atau dunia obyektif, merupakan satu Subyek. Artinya, manusia dan alam
mempunyai satu kehendak, sehingga keduanya memiliki kebebasan. Oleh karena
memiliki kebebasan, maka manusia dan Alam bisa memilih, apakah akan berbuat
baik atau berbuat jahat. Subyek ini, yang merupakan sintesis antara manusia dan
Alam, merupakan seluruh realitas. Di sini Schelling menyebutkan tentang
“identitas absolut”, yaitu ketika alam telah mengenali dirinya kembali melalui
refleksi. Dan lengkaplah sudah sistem ilmu pengetahuan.
e. Filsafat positif
Scheling mengarahkan pemikirannya pada filsafat agama/ positif. Pada
tahun 1804, ia menulis buku dengan judul Philosophie und Religion. Dalam buku
tersebut ia menjelaskan bahwa agar pada hal yang obyektif, Sang Absolut harus
member kuasa pada yang nyata agar yang nyata itu dapat memanifestasikan
dirinya dalam bentuk – bentuk yang lebih khusus atau agar yang nyata menjadi
absolut dengan caranya sendiri. Karena itulah manusia memiliki kehendak bebas
menjadi sifat dasarnya. Dia bisa naik menjadi absolute atau turun ke yang relative
sesuai pilihannya.
3. Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Lahir : Stuttgart, Württemberg, 27 Agustus 1770 –


Meninggal : 14 November 1831 pada umur 61 tahun
Hegel dikenal sebagai filsuf yang menggunakan dialektika sebagai metode
berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu
didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan
sintesis (kesatuan kontradiksi). Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang
empiris indrawi. Pengertian yang terkandung di dalamnya berasal dari kata-kata
sehari-hari, spontan, bukan reflektif sehingga terkesan abstrak, umum, statis dan
konseptual. Pengertian tersebut diterangkan secara radikal agar dalam proses
pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencair. Pengingkaran adalah konsep
pengertian pertama (pengiyaan) dilawan-artikan, sehingga muncul konsep pengertian
kedua yang kosong, formal, tak tentu dan tak terbatas. Menurut Hegel, dalam konsep
kedua, sesungguhnya tersimpan pengertian dari konsep yang pertama. Konsep
pemikiran kedua ini juga diterangkan secara radikal agar kehilangan ketegasan dan
mencair. Kontradiksi merupakan motor dialektika (jalan menuju kebenaran) maka
kontradiksi harus mampu membuat konsep yang bertahan dan saling mengevaluasi.
Kesatuan kontradiksi menjadi alat untuk melengkapi dua konsep pengertian yang
saling berlawanan agar tercipta konsep baru yang lebih ideal.

Filosofi dari Hegel :


a. Kebebasan
Yang dimaksud dengan civil society menurut Hegel adalah masyarakat
pasca revolusi Prancis. Saat itu Hegel berada pada sebuah masyarakat yang
sedang mengalami perubahan fundamental dalam revolusi industri yang secara
masif menciptakan kelas menengah baru. Civil Society juga merupakan
masyarakat dimana orang-orang didalamnya memiliki hak untuk memilih hidup
apa yang mereka suka dan memenuhi keinginan mereka sesuai kemampuan
mereka. Negara tidak memiliki hak untuk memaksakan jenis kehidupan tertentu
kepada anggota masyarakat sipil seperti yang terjadi dalam masyrakat feodal.
b. Negara dan hak individu
Menurut Hegel, negara merupakan roh absolut yang kekuasaannya
melampaui hak-hak individu itu sendiri. Menurut Hegel, negara termasuk suatu
proses dalam perkembangan ide mutlak yang ditandai adanya perkembangan
dialektis tesis-antitesisnya, antitesis kemudaian melahirkan sintesis. Berbeda
dengan J.J Rousseau dan John Locke, maupun kalangan marxis yang melihat
negara sebagai alat kekuasaan, Hegel justru berpendapat bahwa negara itu bukan
alat melainkan tujuan itu sendiri. Dalam logika Hegel rakyat harus menjadi abdi
negara untuk kebaikan dan kesehjahtraan masyarakat itu sendiri.
c. Negara integralistik
Dalam konsep negara integralistik, negara adalah kesatuan masyarakat yang
tersusun secara integral. Masyarakat merupakan kesatuan organis yang tidak
terpisah dan bergerak bersama kedalam satu tujuan tunggal yang hakiki. Dalam
proses penemuan tujuan hakiki ini, pemimpin berperan sebagai kepala yang akan
menuntun pergerakan dari unsur-unsur organis lainnya, sehingga tercipta
keselarasan antara pimpinan dan rakyat.