Anda di halaman 1dari 7

3.

1 PENGELOLAAN LIMBAH KERTAS

1. Pengolahan Limbah Cair

Limbah yang dihasilkan pada proses pembuatan pulp/kertas yang berupa

cairan akan diolah dalam tiga sistem unit operasinya yaitu :

a. Fisik

Pada unit operasi ini proses yang dilakukan dalam pengelolaan limbah

hasil pembuatan kertas yaitu dengan screening(penyaringan). Cara ini dikenal

dengan cara yang murah, sederhana, dan efisien. Pada proses ini bahan tersuspensi

yang berukuran besar akan terpisah. Penyaringan ini dilakukan pada potongan

kayu yang masih besar sehabis diolah. Setelah disaring, kayu yang berukuran

besar tersebut diolah kembali. Adapun suspensi yang lebih mengendap itu akan di

pisahkan dengan cara pengendapan[166]

b. Kimia

Pengeloaan air limbah secara kimia itu dilakukan dengan menghilangkan

partikel-partikel yang sukar mengendap, senyawa pospor, logam-logam berat, dan

zat organik beracun. Pada proses ini dibutuhkan bahan kimia yang bisa mengubah

sifat bahan terlarut tersebut dari sangat larut menjadi tidak larut yang dapat

menjadi endapan dan bisa dipisahkan dengan filtrasi

[130]

c. Biologi

Dalam proses pengelolaan limbah secara biologi ini cara yang dilakukan

yaitu dengan mengumpalkan dan menghilangkan/menguraikan padatan organik

yang terlarut dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme yang sesuai.

Tujuan dari pengelolaan ini adalah untuk meningkatkan mutu estetika hasil

limbah[122-127]

2. Pengelolaan Limbah Padatan

Industri pulp/kertas biasanya menghasilkan limbah padatan berupa batu

kapur dan mengandung soda. Limbah ini harus diolah dengan sebaik mungkin dan
dibuang ditempat yang aman dan nyaman karena bahan ini sangat beracun yang

akan menyebabkan permasalahan jika dibuang disembarangan tempat. Selain itu

ada 2 lagi jenis limbah padat industri kertas ini yaitu pembakaran kulit kayu yang

diolah dengan metode Bark Boiler dan lumpur kapur yang diolah dengan

menggunakan metode Lime Klin[54-57]

3. Pengelolaan Limbah Emisi Udara

Dalam proses penanganan limbah dalam bentuk gas ini biasanya pabrik

produksi pulp/kertas ini menggunakan alat-alat berupa blow gas pada unit pulping

dan Electro Static Dust Precipitator pada Recovery Boiler dan Wet Scrubber di

Recausticizing unit

[170-173]

Gambar.2. Proses pengelolaan limbah pada industri kertas

GgJenis Limbah Industri Pulp dan Kertas

Menurut Rini (2002) dalam Rahmani (2016), limbah industri pulp dan kertas dibagi
menjadi 4 kelompok yaitu:

1)        Limbah padat, terdiri dari:

a)     Sludge, adalah suatu bahan yang terdiri atas padatan 90% dan air 10%. Sludge didapat dari
proses pengendapan pada efflument treatment plant, mengandung bahan organik yang
berasal dari bahan baku pulp.
b)     Biosludge, adalah hasil samping dari efflument treatment yakni dari proses biological
aeration, tersusun dari bahan baku pulp, selain mengandung mikroorganisme sebagai efek
dari biological aeration.

c)     Pith, adalah bahan dari proses depething plant yaitu proses pemisahan secara mekanik
bahan baku pulp yaitu antar bahan serat dan bahan bukan serat (Hammer, 1977 dalam
Hastutik, dkk., 2004).

2)        Partikulat, terdiri dari:

a)     Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain.

b)     Partikulat zat kimia terutama yang mengandung natrium dan kalsium.

3)        Limbah cair, terdiri dari:

a)     Padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu, serat dan pigmen.

b)     Senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa, gula, alkohol, lignin, terpenting, zat
pengurai serat, perekat pati dan zat sintetis yang menghasilkan BOD (Biological Oxygen
Demand) yang tinggi.

c)     Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna kertas.

d)     Bahan anorganik seperti NaOH, Na2SO4 dan klorin.

e)     Limbah panas.

f)      Mikroba seperti golongan bakteri coliform.

2)        Limbah gas, terdiri dari:

a)     Gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H 2S yang dilepaskan dari berbagai
tahap dalam proses kraft pulping dan proses pemulihan bahan kimia.

b)     Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery furnace dan lime kiln (tanur
kapur).

c)     Uap yang mengganggu jarak pandangan

C.     Upaya Minimasi Limbah Padat Industri Pulp dan Kertas

Menurut Wagiyanto (2009), program minimisasi limbah yang efektif akan


mengurangi biaya produksi dan beban pelaksanaan peraturan pengelolaan limbah
berbahaya sehingga akan meningkatkan efisiensi, kualitas produk dan hubungan yang baik
dengan masyarakat. Teknik minimasi limbah yang dapat membantu mengurangi jumlah
limbah yang dihasilkan, meliputi:
1)        Perencanaan produksi dan tahapannya

2)        Penyesuaian peralatan/proses atau modifikasi

3)        Penggantian (substitusi) bahan baku

4)        Pemisahan (segregasi) limbah

5)        Daur ulang bahan

6)        Pelatihan dan pengawasan para pekerja operator.

Berbagai cara dilakukan untuk mencapai minimisasi limbah, yang mencakup tiga
bagian utama yaitu:

1)        Pengurangan dari sumbernya, mencakup pemeliharan dan perawatan yang baik (good house
keeping) dengan menerapkan kebiasaan baru dalam pengoperasian dan pemeliharan alat
industri antara lain dengan mencegah terjadinya ceceran dan tumpahan bahan. Perubahan
dalam proses produksi juga dapat dilakukan yang mencakup perubahan input bahan,
pengawasan proses yang lebih ketat, modifikasi peralatan dan perubahan teknologi.
Pemeliharaan peralatan dan lingkungan industri, pemilihan peralatan yang sesuai dengan
proses produksi kertas yang diinginkan dan pengoperasian peralatan dengan benar juga ikut
mengurangi limbah dari sumbernya.

2)        Daur ulang, dengan melakukan recovery bahan dan energi bekas pakai untuk digunakan
kembali dalam proses berikutnya. Menurut Rahmani (2016), masyarakat juga turut andil
dalam pengelolaan limbah industri pulp dan kertas. Limbah industri pulp dan kertas dapat
didaur ulang menjadi karton yang memiliki nilai jual tinggi. Karton hasil pengolahan limbah
ini disebut dengan kertas gembos. Proses pembuatannya relatif sederhana. Sludge dan
kertas pemulung diproses menjadi bubur kertas. Kemudian dicetak menjadi lembaran
dengan ukuran 66 x 78 cm. Setelah itu, dijemur di bawah terik matahari selama empat jam.
Setelah itu, dihaluskan dengan rol kalender, dan di pak dengan berat 25 kg. Hal ini tentu
saja terasa lebih bernilai ekonomis serta dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan
dan kesehatan manusia.

3)        Modifikasi produk, untuk meningkatkan usia produk (tahan lama), untuk mempermudah daur
ulang dan minimisasi dampak lingkungan dan kesehatan manusia dari pembuangan produk
tersebut.

Menurut Rahmani (2016), pengembangan teknologi pulping pada saat ini bertujuan


untuk menghasilkan pulp dengan bilangan kappa rendah, sehingga dalam proses pemutihan
pulp lebih aman terhadap pencemaran lingkungan. Di antara inovasi teknologi dalam proses
pulping tersebut, ada dua jenis teknologi yang bisa dikatakan bersifat revolusif dan sangat
aman terhadap lingkungan serta kemungkinan besar bisa memberikan harapan untuk
diterapkan dalam skala pabrik di masa depan. Kedua jenis teknologi pulping tersebut adalah
proses bio-pulping dan proses organosolv.

a)        ASAM

ASAM adalah singkatan dari Alkaline-Sulfite-Antrhraquinone-Methanol yang pada


dasarnya merupakan modifikasi proses pulping konvensional. Proses ini kombinasi antara
proses kraft dan proses sulfit. Penambahan metanol dan antrakuinon dalam proses ini akan
mempercepat proses delignifikasi serta dapat mengurangi degradasi karbohidrat selama
proses pulping sehingga rendemen pulp meningkat.

Dibandingkan dengan proses kraft konvensional, proses ASAM memiliki beberapa


keunggulan, antara lain dapat mengolah semua jenis kayu, rendemen pulp yang dihasilkan
lebih tinggi, pulp yang dihasilkan mudah diputihkan dan mempunyai sifat kekuatan yang
prima, serta dapat mengurangi emisi gas sulfur yang terjadi pada proses konvensional.

b)        Organosolv

Proses organosolv adalah proses pemisahan serat dengan menggunakan bahan


kimia organik seperti misalnya metanol, etanol, aseton, asam asetat, dan lain-lain. Proses ini
telah terbukti memberikan dampak yang baik bagi lingkungan dan sangat efisien dalam
pemanfaatan sumber daya hutan.

Dengan menggunakan proses organosolv diharapkan permasalahan lingkungan


yang dihadapi oleh industri pulp dan kertas akan dapat diatasi. Hal ini karena proses
organosolv memberikan beberapa keuntungan, antara lain yaitu rendemen pulp yang
dihasilkan tinggi, daur ulang lindi hitam dapat dilakukan dengan mudah, tidak menggunakan
unsur sulfur sehingga lebih aman terhadap lingkungan, dapat menghasilkan by-
products (hasil sampingan) berupa lignin dan hemiselulosa dengan tingkat kemurnian tinggi.
Ini secara ekonomis dapat mengurangi biaya produksi, dan dapat dioperasikan secara
ekonomis pada kapasitas terpasang yang relatif kecil yaitu sekitar 200 ton pulp per hari.

Penelitian mengenai penggunaan bahan kimia organik sebagai bahan pemasak


dalam proses pulping sebenarnya telah lama dilakukan. Ada berbagai macam jenis proses
organosolv, namun yang telah berkembang pesat pada saat ini adalah proses alcell (alcohol
cellulose) yaitu proses pulping dengan menggunakan bahan kimia pemasak alkohol,
proses acetocell (menggunakan asam asetat), dan proses organocell (menggunakan
metanol).

Proses alcell telah memasuki tahap pabrik percontohan di beberapa negara


misalnya di Kanada dan Amerika Serikat, sedangkan proses acetocell mulai diterapkan
dalam beberapa pabrik di Jerman pada tahun 1990-an. Proses alcell yang telah beroperasi
dalam skala pabrik di New Brunswick (Kanada) terbukti mampu manghasilkan pulp dengan
kekuatan setara pulp kraft, rendemen tinggi, dan sifat pendauran bahan kimia yang sangat
baik.

c)        Memanfaatkan Jamur

Proses pulping konvensional baik dengan cara mekanis maupun cara kimia
membutuhkan energi yang sangat tinggi. Di lain pihak, secara alami ada sejumlah
mikroorganisme perusak kayu (dalam hal ini jamur) yang mampu mendegradasi lignin.
Kemampuan jamur dalam mendegradasi lignin secara alami ini selanjutnya diteliti dan
dikembangkan untuk dimanfaatkan sebagai agen dalam proses delignifikasi dalam teknologi
pulping dan bleaching. Teknologi ini selanjutnya disebut sebagai teknologi bio-pulping dan
teknologi bio-bleaching. Dari sisi lingkungan, penemuan ini merupakan terobosan besar
dalam teknologi pulping dan bleaching dan diharapkan mampu menjawab permasalahan
lingkungan yang ditimbulkan oleh industri pulp dan kertas karena pemrosesannya tidak
menggunakan bahan kimia.

Namun, bila dibandingkan dengan proses pulping secara kimia yang berlangsung
pada suhu dan tekanan tinggi serta pH yang ekstrim, proses ini sangat lambat. Karena
prosesnya lambat, maka aplikasi bio-pulping secara penuh belum bisa diterapkan dalam
skala industri. Saat ini aplikasi bio-pulping baru pada tahap pre-treatment terhadap kayu
yang akan dimasak, baik pada proses mekanis maupun proses kimia. Proses mekanis yang
diberi perlakuan biologis disebut biomechanical pulping, sedangkan proses kimia yang diberi
perlakuan biologis disebut biochemical pulping.

Beberapa penelitian melaporkan, dengan adanya fungal pre-treatment konsumsi


energi pada saat proses pulping menjadi berkurang. Perlakuan ini juga terbukti dapat
menurunkan bilangan kappa serta dapat meningkatkan sifat bleachability pulp yang
dihasilkan.