Anda di halaman 1dari 39

Lompat ke konten






Siringmakar 13: “Mendalami Proses Produksi Pulp dan
Kertas”
 by Nailul Izzah
 21 Februari 201
Pemateri : R. Akbar Ramadhan Syambas (Supervisor Paper Machine 3 –
Industrial Brown di PT. Tjiwi Kimia)
Moderator : Nailul Izzah
Pengantar
Kertas telah mengubah peradaban manusia sejak ditemukannya. Kertas telah
banyak di gunakan sejak zaman dahulu, tetapi masih banyak dari kita yang belum
mengerti tentang pembuatan kertas. Padahal kita telah menggunakannya selama
bertahun-tahun bahkan puluhan tahun lamanya. Bisa jadi karena ketidaktahuan itu
pula kita cenderung boros memakai kertas.

Industri pulp dan kertas adalah salah satu kelompok industri kimia yang menjadi
unggulan Indonesia. Peran kertas dalam kehidupan tidak hanya sebagai tulis
menulis. Tetapi telah merambah dibanyak hal seperti packaging, merchandise,
hingga penelitian seperti kertas saring, lakmus, dan lainnya.
Diskusi
Sejak zaman dahulu kertas telah banyak digunakan, tetapi banyak dari diri kita yang
belum mengetahui tentang pembuatan kertas, khususnya pembuatan kertas
di industri kertas. Perlu kita ketahui bahwa Industri pulp dan kertas di Indonesia
merupakan salah satu industri unggulan yang terus dipacu pengembangannya,
karena memiliki ketersediaan bahan baku dan pasar domestik yang cukup besar
serta didukung dengan penerapan teknologi canggih. Tidak tanggung-tanggung
Indonesia merupakan produsen kertas urutan ke-6 dunia dan produsen pulp urutan
ke-9 dunia.

Kertas yang diproduksi saat ini begitu beragam, mulai dari kertas untuk keperluan
menulis, medis, packaging, kosmetik, dan sebagainya. Kebutuhan konsumsi kertas
per kapita semakin meningkat dan ditambah dengan bergesernya konsumsi kertas
ke berbagai aspek, Kertas yang diproduksi oleh industri pulp dan kertas terus
berinovasi dan menerapkan teknologi canggih, sehingga produksi yang dihasilkan
semakin meningkat dengan waktu yang relatif cepat sesuai kebutuhan masyarakat.
Sebagai ilustrasi, untuk pembuatan pulp dari 1 line proses dapat menghasilkan lebih
dari 3600 ton/ hari.

Karena Industri Pulp dan kertas di Indonesia merupakan Industri yang besar dan
bahkan menjadi unggulan, alangkah baiknya kita dapat mengetahui bagaimana
proses pembuatan pulp sampai menjadi kertas yang kita kenal sekarang.

Kita awali dari proses pembuatan pulp. Mungkin sebagian dari kita belum begitu
mengenal  istilah Pulp, ‘kan?. Bagi yang belum tahu, pulp adalah hasil pemisahan
serat dari bahan tak berserat atau bisa dikatakan sebagai bubur kertas. Sumber
bahan baku pulp berasal dari tanaman berserat, tidak semua tanaman berserat
dapat dijadikan pulp, tetapi kualitas pulp yang dihasilkan belum tentu cukup
ekonomis dan baik sehingga tidak dapat bersaing di pasaran.

Terdapat 2 jenis bahan baku yaitu wood (Acacia, Eucalyptus, dsb.) dan non-wood 


(pelepah pisang, kenaf, bambu, dsb). Dari kedua jenis ini industri pulp dan kertas
memakai bahan baku wood. Bahan baku wood juga terbagi lagi menjadi 2 jenis yaitu
kayu serat panjang (softwood) dan kayu serat pendek (hardwood), kedua bahan
baku ini akan menghasilkan jenis pulp yang berbeda pula.

Ada 4 (empat) proses pembuatan kertas yaitu:

1. Mekanis
2. Kimia
3. Semikimia
4. Biologi
Gambar 1. Jenis Proses Pembuatan Pulp [R. Akbar Ramadhan S./ 2018]
Gambar 2. Macam-macam Pulping [R. Akbar Ramadhan S./ 2018]

Secara umum proses pembuatan kertas pada Industri pulp menggunakan proses
kimia. Proses kimia yang digunakan pada Industri pulp adalah Proses Alkali Kraft.
Berikut proses pembuatan pulp di Industri pulp dan kertas:
Gambar 3. Tipe Proses Kimia Pulp [R. Akbar Ramadhan S./ 2018]

1). Wood Preparation : Proses ini merupakan tahap awal persiapan kayu sebagai
bahan baku yang akan dijadikan serpihan kayu (chip). Potongan kayu dari Hutan
Tanaman Industri (HTI) dengan panjang 2-3 meter dan diameter sekitar 30 cm
diangkut dan ditumpuk ditempat penumpukan kayu sementara (log yard) sekitar tiga
bulan. Log kayu selanjutnya dikirim ke Conveyor belt menuju alat pengupas kulit
(debarker), proses ini dinamakan Debarking. Kayu yang telah dikuliti lalu
diumpankan ke Chipper yang berfungsi memotong kayu menjadi serpihan kayu
(chip). Chip selanjutnya akan dikirim ke Penyaringan utama (main screening) untuk
memisahkan accept, oversize, dan pin chips. Chip yang berukuran standar akan
dibawa Conveyor untuk ditumpuk ke tempat penumpukkan chip (chip yard) sebelum
digunakan sebagai bahan baku di Unit Pembuatan Pulp.

2). Cooking : Proses Cooking ini adalah proses terpenting yang bertujuan


melarutkan komponen lignin dalam kayu  dengan menggunakan chemicals dan
panas. Untuk mendapatkan keseragaman kualitas pulp cooking, diperlukan
kualitas chip yang baik dan seragam. Pada Industri pulp umumnya menggunakan
Proses Alkali atau dikenal dengan Proses Kraft. Proses Cooking ini berlangsung di
dalam vessel besar bertekanan yang bernama Digester. Chips akan masuk ke
dalam Digester, bersamaan dengan chemicals serta steam. Dalam proses ini
variabel suhu, waktu, rasio, dan konsentrasi chemicals harus
diperhatikan.  Chemicals yang digunakan dalam Pulping Kraft dikenal dengan nama
“white liquor” yang mengandung NaOH dan Na2S. “White liquor” ini akan melarutkan
lignin sehingga didapat fiber yang diinginkan. Lignin yang terlarut dalam “white
liquor” tadi dinamakan “black liquor” karena visualnya memang berwarna hitam.
Kemudian “black liquor” ini akan dikirim ke Chemical Recovery untuk di-
recovery menjadi “white liquor” kembali.

3). Washing : Setelah Proses Cooking tentunya pulp yang dihasilkan belum


sepenuhnya bersih dari lignin yang terlarut tadi, sehingga dilakukan Washing
menggunakan washer diffuser atau press wash, setiap industri memiliki tipe washer
yang berbeda.

4). Screening : Setelah Washing maka perlu dilakukan Screening yang secara


selektif memisahkan zat-zat terlarut dari pulp. Bahan-bahan yang dipisahkan  pada
screening adalah Knot (mata kayu), Shives (bundel dari dua atau lebih
berat), Dirt (kotoran), plastik. Partikel yang dipisahkan dikonsentrasikan pada
sebuah aliran sehingga mereka dapat dibuang.

5). Oxygen Delignification : Setelah Proses Washing dan Screening maka dilakukan


proses Oxygen Delignification yang bertujuan untuk membersihkan lignin yang
masih tersisa dari pulping, sehingga dapat mengurangi jumlah lignin yang masuk
proses selanjutnya. Selain itu proses ini juga dapat mengurangi konsumsi bahan
kimia di dalam proses Bleaching serta mengurangi dampak lingkungan yang
ditimbulkan dari proses dari proses Bleaching.

6). Bleaching : Tujuan dari proses Bleaching adalah


meningkatkan Brightness (kecerahan) pulp, meningkatkan kebersihan pulp, serta
mengeluarkan kotoran. Prinsip dari Bleaching ini adalah mngeluarkan sisa lignin
untuk mendapatkan kecerahan pulp yang tinggi. Bleaching memiliki beberapa urutan
proses (sequences) yang berbeda tergantung dari kecerahan yang diinginkan.
Selain itu juga tiap tahap menggunakan chemicals yang berbeda. Berikut
beberapa chemicals yang dapat dipakai:

 Chlorine gas (C) – Chlorination;


 NaOH (E) – Ekstraksi;
 ClO2 (D) – Chlorine dioxida;
 NaClO / Ca(ClO)2 (H) – Hypo chloride;
 O2 (O) – Oksigen;
 H2O2 (P) – Peroxide;
 O3 (Z) – Ozone;
 EDTA (Q) – Chelating agent;
 Enzyme (X).
Sedikit catatan bahwa tidak semua pulp itu dilakukan Bleaching, tergantung jenis
pulp yang akan diproduksi. Contohnya untuk pulp yang digunakan untuk pembuatan
kertas kantong semen maka tidak diperlukan Bleaching. Pulp yng melalui proses
bleaching disebut “bleached pulp”, sedangkan yang tidak melalui proses bleaching
disebut “unbleached pulp”.

 Untuk beberapa Industri menerapkan Integrated Mill, sehingga setelah proses


Bleaching akan dilanjutkan ke proses pembuatan kertas. Jika Industri kertas
yang tidak terintegrasi maka pulp yang telah di-bleaching tadi akan dilakukan
proses pembentukkan lembaran pulp yang siap dikirim ke tiap pabrik kertas.

Sekarang kita masuk pada proses pembuatan kertas. Pada proses pembuatan
kertas terdapat 2 tahap, yaitu Wet end dan Dry end serta Rewinder.

 Wet End adalah proses persiapan, pencampuran aditif, dan pembentukkan lembaran


kertas dimana kadar air yang terkandung masih cukup tinggi.
 Dry End adalah proses lanjutan yang dapat mengeluarkan kandungan air yang
tersisa.
 Rewinder adalah proses penggulungan ulang kertas dari gulungan kertas besar
(jumbo roll) menjadi gulungan yang lebih kecil dan memotongnya dengan lebar tertentu.
Gambar 4. Proses Pembuatan Kertas [R. Akbar Ramadhan S./ 2018]

 Stock preparation/ Wet End, yaitu, menyiapkan campuran bubur kertas yang


homogen, proses ini terdiri dari beberapa tahap;
 – Repulper : Menguraikan lembaran pulp menjadi single fibre dengan
mencampurkan air sehingga menjadi bubur kertas.

– Cleaning : Memisahkan kotoran dengan melewatkannya pada alat berbentuk cone,


dengan prinsip pemisahan berdasarkan perbedaan berat jenis dengan gaya
sentrifugal. Kotoran yang dipisahkan biasanya adalah kawat, pasir dsb.
Baca juga:

– Refining : Mengkondisikan serat melalui aksi mekanis (penggilingan) untuk


mendapatkan lembaran dengan sifat yang diinginkan, meningkatkan kontak ikatan
atar serat.

– Proportioning & Blending : Pada proses ini sejumlah stock akan dilakukan
pencampuran dengan stock yang lain dari jenis pulp yang berbeda, kemudian
ditambahkan sejumlah chemicals.

Beberapa chemicals yang digunakan pada industri kertas adalah:

 Starch: ditujukan  untuk meningkatkan  sifat  kualitas  kertas  dalam penggunaanya.


 Filler : meningkatkan  opacity kertas dan daya cetak dalam penggunaan tinta. Pada
umumnya filler yang digunakan adalah CaCO3
 Retention aid: untuk menahan furnish agar tidak terbuang saat pembentukan
lembaran kertas
 Biocide: untuk menghilangkan slime
 Dyes: memberikan warna dan shade pada kertas
 Brightener agent: meningkatkan kecerahan kertas
 Sizing agent: untuk melapisi fiber agar tidak mudah tembus cairan
 Defoamer: untuk menghilangkan busa pada stock
Approach flow : Bertujuan untuk mengencerkan stock serta membersihkannya dari
kontaminan, serta mengukur kebutuhan stock untuk setiap gramatur kertas yang
akan diproduksi. Beberapa proses utamanya yaitu:

– Cleaning : Sama seperti Proses Cleaning sebelumnya, yaitu memisahkan stock


dari kotoran berdasarkan berat jenisnya.

– Screen : Memisahkan kotoran berdasarkan perbedaan ukuran dengan


mengalirkan stok pada basket screen yang berputar.

– Headbox : Headbox akan Menyebarkan dan meratakan bahan secara homogen,


kemudian Menjaga dan mengendalikan stock agar tetap seragam. Stock dari
headbox dikirim ke mesin kertas dengan kecepatan sesuai dengan kecepaan mesin
tanpa adanya gangguan aliran agar diperoleh kertas yang sama. Selain itu juga
headbox dapat mengatur gramatur kertas yang akan diproduksi.

– Forming : Merupakan tempat pembentukan lembaran kertas, dimana stock yang


dikirim dari headbox akan disemprotkan diatas wire, sehingga terbentuk lembaran
kertas yang merata. Selain itu juga wire berfungsi sebagai media drainase air,
sehingga kadar air yang melewati proses ini akan tersisa sekitar 60%.

?Press part : Lembaran yang yang telah terbentuk pada forming section dengan
kadar air sekitar 60% akan melewati press part. Bagian ini akan meembuat
lembaran kertas menyisakan kadar air sekitar 35-40% saja. Prinsip kejanya adalah
melewatkan lembaran kertas pada dua roll yang berputar dan saling menekan
sehingga air ayang terkandung dalam lembaran kertas akan keluar dari lembaran
itu. Sampai bagian ini tahap Wet End berakhir

o Dry End
Setelah tahapan Wet End lembaran kertas akan melewati proses selanjutnya
diantaranya yaitu:

– Drying : Karena propertis kertas yang diinginkan adalah memiliki kadar air yang
kecil dibawah 10% maka dilakukanlah proses pengeringan di dryer. Pada proses ini
lembaran kertas akan dilewatkan dan ditempelkan pada beberapa drum silinder
panas yang dipanaskan oleh steam.

– Calender : Berfungsi untuk menghasilkan kertas dengan smoothness dan caliper


(ketebalan) sesuai standar.

– Pope reel : Menggulung kertas hingga didapat gulungan raksasa yang akan
dipotong sesuai ukuran di proses selanjutnya. Setiap jumbo roll yang dihasilkan
maka akan di cek kualitasnya, sehingga kualitas kertas yang dihasilkan harus
dipastikan bernilai baik.

o Rewinder
Proses penggulungan ulang kertas dari gulungan kertas besar (jumbo roll) menjadi
gulungan yang lebih kecil dan memotongnya dengan panjang dan lebar tertentu.

o Finishing
Pada proses ini gulungan dari rewinder akan dipotong dan diconvert menjadi
berbagai ukuran sesuai dengan ukuran dan jenis kertas yang diinginkan serta
dilakukan pengemasan untuk dikirim ke customer.

Itulah proses pada pembuatan pulp dan kertas. Sekian dan terimakasih atas
perhatiannya.

Sesi Tanya-Jawab (QnA)


Termin 1

1. Ahmad Satria Budiman_Siringmakar 13, Q: Menurut perspektif Mas Akbar


sebagai praktisi di dunia industri, bagaimana peluang nanocellulose ke depan di
Indonesia? Sejauh mana atau seberapa besar Pulp Industry saat ini dalam
pengembangan nanocellulose baik dalam hal proses, produk, maupun
standardisasi-nya?. A: Peluang nanocellulose sendiri cukup berpotensi untuk
dikembangkan di Indonesia, sejauh ini yang saya ketahui
pengembangan nanocellulose di Industri Pulp dan Kertas lebih difokuskan
kepada Specialty Paper, itupun masih dalam pengembangan.

2. Halim_Siringmakar 13, Q: Mengapa kertas di Indonesia gampang basah atau


lembab dibandingkan dengan kertas produksi Jepang?. A: Kertas di Indonesia
gampang basah karena iklim di Indonesia lebih lembab dibandingkan di Jepang,
kemudian kandungan fiber yg terdapat pada kertas tidak seluruhnya selulosa, 
melainkan terdapat hemiselulosa yg memiliki sifat menyerap air.

3. Dwi Ayu Pratiwi_Grup Warstek 2, Q: Pada saat Cooking menggunakan chemical


berupa NaOH+H2S, tolong jelaskan mengapa harus menggunakan zat tersebut?.
Bisakah menggunakan zat lain dan tolong beri penjelasannya?. A: Zat tersebut
dapat tidak hanya memisahkan dan melarutkan lignin dari kayu, tetapi dapat
membuat beberapa properties pulp terjaga seperrti viskositas tidak turun. Selain itu
zat ini dapat didaur ulang kembali stelah proses cooking yang akan direcovery pada
chemical recovery plant. Selain zat tersebut bisa digunakan juga NaOH (proses
soda) dan proses sulfit (asam).

Termin 2

1. Risca Novantie_Siringmakar 13, Q: – Untuk proses washing bedanya washer


diffuser dan press wash itu apa ya, kak?, dan lebih efektif yang mana jika
digunakan?. – Pada bleaching banyak bahan kimia yang dapat dipakai, umumnya
industri pulp pakai yang mana?, kenapa harus pakai yang itu
dibanding chemical lain?. – Untuk proportioning dan blending itu kan ada
percampuran dengan stock lain dari jenis pulp yang berbeda, kenapa harus
dicampurkan dengan jenis pulp yg berbeda, kak?, tujuan nya apa ya, kak?. – Pas di
headbox, cara mengatur gramatur kertas di headbox itu gimana, kak?, misalnya
mengubah grammatur dr 60 gsm ke 70 gsm itu gmn ya, kak? Terimakasih?.

A: – Perbedaanya washer diffuser pada prosesnya tanpa pengeringan dan tekanan.


Lebih efektif press wash karena efek washing yng dihasilkan lebih baik serta
kapasitas pembersihannya lebih besar dibanding diffuser washer. – Pada umumnya
bleaching menggunakan tahapan cholrin dioxide, NaOH, hipoklorit, peroxyde, dan
oxygen.  Tetapi semua itu tergantung dari brightness yang ingin dicapai. – Blending
dengan jenis pulp lain itu bertujuan untuk mendapatkan properti kertas yang
diinginkan, dan juga sebagai efisiensi pemakaian pulp itu sendiri. – Cara mengatur
dan mengubah gramatur itu tergantung dari jumlah dan konsentrasi stock yang
dikirimkan ke headbox serta kecepatan semprotan headbox dan mesin kertasnya. –
Jika ingin merubah dari 60 gsm ke 70 gsm salah satu caranya adalah menambah
flow stock-nya.

2. Muhammad akbar_siring makar 13, Q: Didalam proses screening itu ada 3


proses, yaitu primary, secondary dan tertiary. Pertanyaannya adalah , pada saat
reject-nya dari tertiary itu dibuang otomatis akan langsung masuk ke dalam bunker .
Nah, di pabrik tersebut saya liat kemarin ada truck yang mengangkut buangannya
tersebut. Akankah reject-nya dari tertiary tersebut akan diproses ulang kah? Atau
langsung dibuang? Dilandfill kah? Soalnya saya tanya ke pembimbing gak ada yang
tahu. A : Selama ini yang saya ketahui reject tertiary screen pada umumnya dibuang
ke landfill.
rezakuy
MINGGU, 17 APRIL 2011

Proses Pembuatan Pulp (Bubur Kertas)

Proses Pembuatan Pulp (Bubur Kertas)

OLEH:

Kelompok 1

Reza Widi Syamta : F0B010013

Oktavvia Migarni : F0B010014

Kiki Dwi Jayanti : F0B010005

Supangat : F0A0

Yosi Ramandhani : F0A0

Mayang Eka Cahyani : F0B010007

Seprina napitupulu : F0A0

PROGRAM DIII ANALISIS KIMIA DAN KIMIA INDUSTRI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010/2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis pamjatkan kehadiran Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat,
karunia dan hidayah serta nikmat kesehatan dan kemudahan yang tiada tara. Penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Tak lupa salawat
beriringkan salam penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa
umat manuisia dari zaman kebodohan ke zaman ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan selama
ini.
Adapun judul makalah ini  adalah ‘Proses Pembuatan Pulp (Bubur
Kertas)’
Selama penyelesaian makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Atas segala bantuan dan bimbingan yang diberikan kepada penulis selama
melakukan penyelesaian makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih.

Akhir kata berharap semoga Allah SWT menuntun hati penulis kepada jalan yang benar
dan selalu diridhoi serta termasuk kedalam golongan  orang-orang yang beruntung baik dunia
maupun akhirat. Mudah-mudahan makalah ini bisa bermanfaat pada masa yang akan datang.

Penulis menyadari makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bermanfaat dami kesempurnaan di masa yang akan datang.

Jambi,   Maret 2011

Tim Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR             ................................................................................i

DAFTAR ISI                             ................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN        ................................................................................1

1.1    Latar Belakang Masalah      ................................................................................1

1.2    Rumusan Masalah                ................................................................................2

1.3    Tujuan                                  ................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN          ................................................................................3

2.1  Persiapan Bahan Baku          ................................................................................3

2.2  Proses Produksi                     ................................................................................8

2.3  Pengolahan Limbah              ................................................................................14

BAB III PENUTUP                  ................................................................................18

3.1  Kesimpulan                           ................................................................................18

3.2  Saran                                     ................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA              ................................................................................19

BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang Masalah

Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, bertambah pula kebutuhan manusia


terhadap barang – barang keperluan sehari – hari termasuk diantaranya kertas. Kertas diperlukan
tidak hanya sebagai alat tulis dan buku atau majalah tetapi juga sebagai tissu, pembungkus rokok,
pembungkus makanan dan minuman dan sebagainya.

Meningkatnya pertumbuhan industri pulp dan kertas di Indonesia telah membawdap


meningkatnya permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah. Oleh karenanya
dalam upaya terpeliharanya kualitas lingkungan industri harus meningkatkan pengelolaan limbahnya
melalui pengolahan yang lebih efektif dan kemungkinan pemanfaatannya.

Industri pul dan kertas pada saat ini dihadapkan pada masalah penanganan limbah yang
jumlahnya cukup besar. Kontribusi terbesar berasal dari lumpur hasil pengolahan air limbah. Di
lokasi pabrik limbah padat tersebut hanya ditumpuk dan belum dimanfaatkan sehingga selain
menimbulkan gangguan terhadap estetika juga menyebabkan pencemaran air, tanah, dan bau bagi
masyarakat sekitar.

Dalam rangka mengantisipasi tuntutan masyarakat yang makin tinggi terhadap masalah
lingkungan telah mendorong pihak industri untuk melakukan upaya pemanfaatan limbah sebagai
alternatif pengelolaan lingkungan yang perlu dikembangkan. Karena selain itu tidak ada lagi sisa yang
terbuang juga dapat memberikan nilai tambah.

Perusahaan kertas merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan karena


karakteristik limbahnya yang memiliki nilai BOD/ COD (kebutuhan oksigen dalam menguraikan
senyawa biologi dan kimia) yang sangat tinggi. Apabila limbah cair tersebut dibuang ke perairan akan
mengakibatkan kematian ikan dan biota air lainnya. Selain itu limbah cair industri kertas
menimbulkan bau busuk, sedangkan bahan kimia yang terikut dalam limbah cair tersebut
menimbulkan gangguan pernafasan bagi penduduk yang tinggal di sekitar saluran pembuangan
limbah, bahkan tercium sampai beratus – ratus meter dari tempat tersebut.

1.2.      Rumusan Masalah

     Apa saja bahan baku pembuatan pulp?

     Bagaimana kualitas bahan baku yang baik untuk pembuatan pulp?

     Bagaimana proses produksi?

-          Proses pembuatan pulp?

-          Pengolahan bahan baku?

     Bagaimana dampak dan pengelolaan limbah industri pulp?

1.3.      Tujuan

     Untuk mengetahui bahan baku untuk pembuatan pulp

     Untuk mengetahui kualitas bahan baku untuk pembuatan pulp

     Untuk mengetahui bagaimana proses produksi, yaitu proses pembuatan pulp dan pengolahan bahan
baku

     Untuk mengetahui dampak dan pengelolaan limbah industri pulp

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Persiapan Bahan baku
A.  Bahan Baku

Pada proses pembuatan pulp dan paper, bahan baku yang digunakan adalah kayu.
Kualitas pulp sangat ditentukan oleh jenis kayu yang digunakan. Diharapkan jenis kayu
yang digunakan untuk menghasilkan kualitas pulp yang bagus adalah yang mempunyai kandungan
selulosa yang tinggi, lignin yang rendah, tidak rapuh, tidak banyak getah dan tidak berkulit tebal.

Dalam proses pembuatan pulp digunakan dua jenis bahan baku, yaitu:

a.    Bahan baku primer

Untuk memperoleh serat ini diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dengan jenis kayu  (wood)
atau bukan kayu (non wood).

   Kayu (wood)

Kayu dapat dibedakan berdasarkan ukuran daun yang dimiliki yaitu kayu berdaun lebar
(hard wood), dan kayu berdaun jarum (soft wood). Kayu berdaun lebar (hard wood), umumnya
menggugurkan daunnya pada musim kemarau seperti Albazia falcatera, Euclyptus sp, dan
Antochehalus candabia.  Sedangkan kayu berdaun jarum (soft wood), sering disebut kayu jarum
adalah jenis daun yang bersal dari pohon berdaun jarum. Jenis pohon ini selalu hijau sepanjang
tahun dan tidak menggugurkan daunnya pada musim kemarau, seperti  Pinlis sp (tusam)
dan Aganthis sp (dammar).

Analisis sifat pengolahan kayu digunakan untuk mengetahui jenis kayu yang cocok
sebagai bahan baku pulp. Analisis ini meliputi rendemen pulp, konsumsi alkali, bilangan
permanganate, panjang putus dan factor retak.

    Bahan Kayu (non wood)

Beberapa jenis tumbuhan bukan kayu merupakan sumber serat untuk bahan baku pulp,
baik itu yang berasal dari kulit batang, daun, tangkai, buah/biji dan bulu biji. Berdasarkan sumber
serat, tumbuhan bukan kayu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

·      Serat kulit batang      : Fax, Jule, Hemo, Rami Kenaf, Haramay

·      Serat daun                 : Manila, Abaca, Sisal, Palm, Nenas

·      Serat bulu biji            : Kapas, Kapuk

·      Serat rerumpunan      : Merang, Jerami, Baggase, Bambu, Gelaga


Tabel: Rata-rata komposisi kimia kayu dan bukan kayu

Kandungan Serat Panjang Serat Pendek Bukan Kayu

Bahan Kimia (soft wood) (hard wood) (non wood)

Selulosa 42 +/- 2 % 40 +/- 2 % (36 – 38) %

Hemiselulosa 27 +/- 2 % 30 +/- 5 % (38 – 40) %

Lignin 28 +/- 3 % 28 +/- 3 % (12 – 16) %

Zat ekstraktif 5 +/- 3 % 3 +/- 3 % -

b.    Bahan Baku Sekunder

Guna penghematan atau efisiansi serat dari bahan baku primer, maka dewasa ini telah
diusahakan pemanfaatan kertas bekas (waste paper) dari berbagai jenis kertas dan karton sebagai
bahan baku pulp. Serat yang dihasilkan dari kertas, karton bahkandario baju bekas yanh dikenal
sebagia sebutan “serat primer”.

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam dan merupakan bahan mentah
yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai kemajuan teknologi.

Komposisi kimia kayu terdiri dari:

   Selulosa

Bagian utama dinding sel kayu yang berupa polimer karbohidrat glukosa dan mermiliki
komposisi yang sama dengan pati. Beberapa molekul glukosa membentuk suatu rantai selulosa.
Selulosa juga termasuk polisakarida yang mengidentifikasikan bahwa didalamnya terdapat berbagai
senyawa gula.

Selulosa berantai panjang dan tidak bercabang. Seklama pembuatan pulp dalam
digester, derajat polimerisasi akan turun pada suatu derajat tertentu. Penurunan derajat
polimerisasi tidak boleh terlalu banyak, sebab akan memendekkan rantai selulosa dan membuat
pulp menjadi tidak kuart. Selulosa dalam kayu memilikib derajat polimerisasi sekitar 3500,
sedangkan selylos dalam pulp mempunyai derajat polimerisasi sekitar 600-1500. Rantai selulosa
yang lebih pendek akan menghasilkan pulp yang encer.
   Hemiselulosa

Hemiselulosa juga adalah polimer yang dibentuk dari gula sebagai komponen
utamanya. Hemiselulosa adalah polimer dari senyawa gula yang berbeda seperti:

·      Hexoses        : Glukosa, Manosa dan Galaktosa

·      Pentose         : Xylose dan Arabinase

Hemiselulosa memilki derajat polimerisasi lebih kecil dari 300. Hemiselulosa adalah
polimer bercabang atau tidak linier. Selama pembuatan pulp hemoiselulosa bereaksi lebih cepat
dibandingkan dengan selulosa. Rantai hemiselulosa lebih pendek dari rantai selulosa.

Hemiselulosa bersifat hidrofilik (mudah menyerap air) yang menyebabkan struktur


selulosa menjadi kurang teratur sehingga air bisa masuk kejaringan selulosa. Hemisolulosa akan
memberikan fibrillasi yang lebih baik dari pada selulosa dan meningkatkan kualitas kertas.

   Lignin

Merupakan jaringan polimer fenolik tiga dimensei yang berfungsi merekatkan serat
selulosa sehingga menjadi kaku. Pulping ki8mia dan proses pemutihan (bleaching) akan
menghilangkan lignin tanpa mengurangi serat selulosa secara signifikan. Lignin berfungsi sebagai
penyusun sel kayu.

Reaksi-reaksi lain seperti sulfonasi oksidasi, halogenasi sangat penting terutama dalam
proses pulping dan bleaching seperti dalam proses soda menghasilkjan lignin terlarut, dimana terjadi
pelepasan gugus metoksil pada saat lignin berdifusi dengan larutan alkali.

   Ekstraktif

Ekstraktif dapat dikatakan sebagai substransi kecil yang terdapat pada kayu. Ekstraksi
meliputi hormon tumbuhan, resin, asam lemak dan unsure lain. Komponen ini sangat beracun bagi
kehidupan perairan dan mencapai jumlah toksik akut dalam efluen industry kertas. Dalam
pembuatan pulp pada prinsipnya adalah mengambil sebanyak-banyaknya serat selulosa (fiber yang
ada dalam kayu dan menghilangkan lignin dan eksraktif.

A.  Kualitas Bahan baku

Pada proses pembuatan pulp digunakan bahan baku chip yang berasal dari kayu.
Kualitas chip yang digunakan dalam proses pembuatan pulp merupakan factor yang sangat penting
baik dalam proses pengoperasian di pabrik maupun kualitas chip yang dihasilkan. Oleh karena itu
perlu diketahui factor-faktor yang mempengaruhi kualitas chip pada produksi pulp. Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses pembuatan pulp dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

   Chip Quality

Kualitas chip yang digunakan dalam pulping adalah factor yang sangat penting dalam
kualitas akhir pulp. Faktor-faktor kualitas chip yang perlu diperhatikan adalah:

Wood Related Variable

Meliputi sifat-sifat kayu seperti spesies, densitas dan decay (kerusakan)

-       Wood spesies

Chip-chip softwood  menghasilkan pulp yang lebih kuat dari pada hardwood karena fiber-fibernya


lebih panjang dan lebih fleksibel daripada hardwood. Softwood umumnya menghasilkan yield yang
lebih rendah daripada hardwood bila dimasak dibawah kondisi biasanya.

-       Wood Density

Density kayu adalah factor ekonomi yang penting dalam pulping. Dengan suatu kayu yang padat
(denser wood) akan membuat lebih banyak dalm volume digester dam ini akan meningkatkan
produksi pulp.

Kualitas pulp maupun kertas juga dipengaruhi oleh densitas kayu yang digunakan. Serat yang didapat
dari kayu dengan densitas rendahakian menghasilkan serat yang fleksibel serta kertas yang
berkekuatan baik.

-       Wood Decay

Pembusukan kayu disebabkan oleh mikroorganisme seperti fungi, bakteri, ragi dan lin-lain.
Pembnusukan terjdi pada saat tanaman masih ditanam maupun dstronge chip (tempat
penyimpanan chip)

Process Related Variable

-       Chip Size

Ketebalan chip sangat penting dalam proses pulping, ketika cairan pemasak akan menembus chip
pada semua sisi. Jika chip tebal, cairan pemasak tidak akan menembus secara sempurna kepusat
chip sehingga pusat chip tidak masak.

-       Chip Bulk Density

Merupakan parameter yang penting pada saat pengisian digester. Hal ini menentukan jumlah pulp
yang dapat masuk dan dinyatakan dalam kg/m 3. Chip Bulk Density dipengaruhi oleh wood density
dan chip size.
-       Chip moisture

Mempunyai pengaruh terhadap pulp yield, kappa number, dan kualitas pulp. Jika moisture terlalu
rendah, maka akan mempersulit dalam menghasilkan chip. Dengan mengetahui moisture content
chip dapat dihitung wood input yang masuk kedalam digester, supaya terjaga konsentrasi liquor dan
alakali secara konstan. Mouisrue level sebaiknya dalam range 40%-50%.

-       Bark  (kulitkayu) dan kontaminasi lainnya

Bark merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam produksi pulp karena bark berisi 20-30%
selulosa dan 20-30% ekstrkktif dan selebihnya lignin. Bark sendiri akan menaikkan konsumsi
alkalidan mengurangi kekuatan pulp. Kandungan ekstraktif yang tinggi menyebabkan masalah di
evaporator dan pitch pada pulp machine.

    White Liqour Properties

White Liqour merupakan bahaan kimia pemasak dengan metode sulfat (kraft cycle)
dalam bentuk aqueous solution, dimana kandungannya terdiri dari NaOH, Na 2S, Na2SO4, Na2CO3).
White Liquor digunakan untuk mengurangi kandungan lignin dalam digester dan juga untuk ekstraksi
selulosa. Digester yang digunakan adalah digester continue.

   Cooking Control Variable

Variabel-variabel yang digunakan untuk mengontrol cooking adalah:

-       Waktu dan Temperatur

Reaksi  delignifikasi bergantung paada temperature. Kenaikan temperature yang kecil mempunyai


pengaruh besar terhadap reaksi delignifikasi seperti kenaikan 10˚C dari 160˚C - 170˚C akan
menyebabkan dua kali delignifikasi.

-       Alkali Charge

Efektivitas normal alakali charge memiliki nilai antara 10%-18% Na 2O dalam drywood tergantung dari
jenis kayu, kondisi pemasakan, dan derajat delignifikasi yang dibuttuhkan. Kelebihan alkali dapat
menyebabkan kenaikan angka delignifikasi, dan mengurangi yield ‘’as the mount of dissolved
hemicellulosa increase’’.

-       Liqour to Wood Ratio

Rasio liquor :wood (rasio normal3:1 atau 5:1), kelebihan black liquor yang berasal dari digester ke
chip untuk menaikkan rasio liquorwood.
Produk

   Pulp

Pulp mempunyai arti bubur, dalam hal ini adalah bubur kayu. Pulp merupakan bahan baku
setengah jadi untuk membuat kertas yang berasal dari seerat(selulosa dan hemiselulosa).

2.2 Proses Produksi
Proses pembuatan pulp di dilakukan secara kimia dengan menggunakan metode kraft.
Metode ini menggunakan cairan pemasak White liquor (lindi putih) yan menggunakan NaOH dan
Na2S. Adapun pembuatan pulp ini dimulai dari pembuatan bahan baku untuk mengubah kayu
gelondongan menjadi Chip, pemasakan Chip di gester menjadi pulp, pencucian dan pemutihan pulp,
pengeringan dan pembentukan lembaran pulp, serta penyimpanan.

Untuk proses pembuatan pulp diperlukan bahan-bahan kimia yang diproduksi oleh di


Chemical plant. Chemical plant terdiri dari lima unit yaitu Chlorine diokside plant, sulfur diokside
plant yang di produksi Chlorine Diokside dari NaCl, Oksigen plant yang memproduksi oksigen dari
udara, Brine Treatment plant dan Chlor Alkali plant yang memproduksi Chlorine dan Caustie dari
NaCl.

A.      Proses pembuatan pulp

Proses pembuatan pulp dimulai dari pemisahan bahan baku di unit wood prepation
(W/P) dimana bahan baku dari kayu yang di potong-potong menjadi kayu gelondongan yang
ditampung di suatu lapangan luas, selanjutnya dilakukan pengelupasan kulit kayu (debarking) oleh
alat yang dinamakan Drum Barker yaitu suatu bejana selider berukuran panjang 28,5 m. Dan
berdiameter 5,5 m yang berputar dengan kecepatan rata-rata 5,8 rpm.

Kayu yang telah dikelupas kemudian di cacah menjadi Chip dengan ukuran standar (Chip
Standard) menggunakan Chipper. Selanjutnya Chip tersebut memasuki vibrating screen yang
bertujuan untuk memisahkan Chip-chip yang berukuran standar dengan  yang tidak memenuhi
ukuran standar berdasarkan klafisikasi chip tersebut. Klafisikasi yang dimaksud adalah sebagai
berikut:

Ø  Chip Standard (accept chip)

-          Panjang     : 10-25mm

-          Lebar         : 10-25mm

-          Tebal         : 5-8mm

Ø  Lebih besar dari standard (over size)


Ø  Lebih kecil dari standard (fine size)

Ø  Debu (dust)

B.       Pengolahan bahan baku

v  Pemasakan (Cooking)

Pemasakan dilakukan pada digester jenis Cooking Compact TM. Digester ini terdiri dari top
separator dan screen section yang berkerja dengan metoda cocurrent (searah) dan terdapat juga
zona washing yang dilakukan secara counter current, metoda pemasakkanya cendrung pada suhu
yang lebih rendah tetapi dengan pamasakan yang cendrung lebih lama.

Chips yang berasal dari chip yard  diumpankan kedalam chip buffer yang terdapat pada
ujung belt conveyor. Kemudian chip masuk melalui bagian atas IMPBIN dan diukur laju alir chipnya
menggunakan chipmeter. IMPBIN merupakan vessel yang memiliki tekanan sama dengan  tekanan
atmosfer serta mamiliki fungsi presteaming sekaligus fungsi impregnasi.

Campuran white liquor dan black yang diekstrak dari tranfer circulation dan atau dari
bagian screen digester dimasukan kebagian atas IMPBIN melalui centralpipe. Sebelum chip
bercampur dengan liquor, temperature chip terlebih dahulu dinaikan smpai mencpai suhu 100 oC dan
dengan penambahan liquor yang akan meningkatan proses deaerasi chip.

v  Pencucian dan penyaringan (washing and screening)

1.    Deknoting

Setelah tahap pemasakan, sebagian besar pulp masih mengandung knot (mata kayu)


yang tidak masak. Kandungan tersebut harus dipisahkan, dari pulp pada tahap awal dari proses.

Pemishan knot  tilakukan dalam tiga tahap untuk pemisahan yang efisien. Dengan tujuan
untuk mengurangi kandungan serat sekecil mungkin terbawa pada pemishan tahap ketiga (reject
dari coarse screen)

2.    Screening

Screening dilakukan dalam tiga tahap yaitu:

a.    Primary screening

b.    Secondary screening

c.    Teriary screening

        Pada primary screening  sebagian besar shive  adalah reject,  tetapi dalam


pemisahan masih banyak serat yang terikut. Agar tidak banyak fiberatau serat yang terbuang,
maka reject dari tahap pertama (primary sereening)  disaring lagi pada tahap kedua (secondary
sereening).

Reject  dari tahap kedua ini akan disaring lagi pada tahap ketiga (tertiary
screening) sebelum dikeluarkan dari sistem melalui reject press  ini adalah untuk mengurangi bahan
kimia (chemical loss)  dan mempermudah penanganan reject. Accept  dari tahap kedua dan tahap
ketiga ini akan di kembalikan lagi ke inlet dari tahap sbelumnya (cascade). Bersama-sama shive  pasir
juga terbawa oleh aliran reject screen  dan dibawa ke reject press,  karena dalam pengoprasian
sebagian besar pasir terbawa aliran accept bersama filtrate. Untuk mencegah penumpukan pasir
didalam system yang menyebabkan kerusakan pada alat, maka pasir dipisahkan dari filtrate
pada sand separator.

3.    Brown stock washing

Plup yang dihembus (blown) dari digester, masih bercampur dengan sebagian cairan
pemasak yang mengandung sisa bahan kimia pemasak dan juga lignin yang terlarut dalam kayu.
Kotoran-kotoran yang terlarut dalam pulp tersebut dicuci di brown stock yang dilakukan secara
berlawanan arah (counter current), dimana air panas hanya digunakan sebagai pncuci pada tahap
akhir dri rantai pencucin.

Selepas dari blow tank dan screening room, pencucian  brown stock  telah mengalami


dua tahapan, tahapan pertama di  hi-heat washing zone  dan digester continous  dan kemudian
didalam  presure diffuser.  Tahap ketiga atau tahap terakhir dari pencucian brown
stock adalah dewatering press  sebelum O2 reaktor.

Pada dewatering press, pulp di press untuk mencapai konsentrasi sekitar 10% setelah


itu pulp diencerkan dengan filtrat dari first oxigen press  pada  screw dilution  sehingga
konsentrasinya menjadi 12%. Alkali yang digunakan untuk delignifikasi ditambahkan bersama
dengan cairan pengencer.

Filtrat yang meninggalkan dewatering press  masih mengandung sebagian


besar fiber  yang harus dipisahkan. Pemisahan tersebut dilakukan dalam liquor screen,  dari sana
filtrat yang bersih di salurkan ke pressure diffuser,  dan  serat. Yang lebih dipisahkan akan
dikembalikan ke accumulator tank  bersama-sama dengan filtrat lainya.

v O2 Delignification

Proses oksigen dilignifikasi merupakan proses pre-blcaching  yang berguna untuk


mengurangi kandungan lignin dari pulp coklat (yang belum mengalami proses pemutihan). Setelah
mengalami proses oksigen dilignifikasi maka bilangan kappa berkurang ±14. Adapun fungsi oksigen
delignifikasi adalah untuk menghemat bahan-bahan kimia yang mahal di tahap pemutihan dan dlam
waktu yang bersmaan dapat menurunkan dampak terhadap lingkungan.
Proses oksigen dilignifikasi berlangsung pada medium konsentrasi dengan tempertur
dan tekanan tinggi, sedangkan bahan kimia yang dipakai adalah oksigen dan Alkali, dipakai salah satu
NaOH atau while liquar  oksidasi. Sebelum masuk ke reactor, pulp dipanaskan terlebih dahulu
dengan menambahkan steam sampai 100oC.

Delignifikasi berlangsung didalam aliran ke atas reactor, dimana waktu yang dibutuhkan
(retention time) menurut waktu yang dirancang adalah satu jam. Untuk mencegah waktu singkat
didalam reactor yang disebabkan chanelling,  yang menyebabkan pendeknya retention time,  maka
aliran yang merata dan stabil di dalam reactor sangat diperlukan, yang dapat dicapai dengan
menjaga konsentrasi pulp sekitar 10%

v Bleaching

Proses pemutihan di PT Lontar papyrus terdiri dari 2 line, dimana line 1 yang terdiri dari
tahap CD-EOP-DI-D2 masih menggunakan proses konvensional atau proses non EFC (Elementary
chlorine free)  yaitu proses pemutihan dengan menggunakan  senyawa chlor (Cl2), sedangkan untuk
line 2 tahapan yang digunakan adalah D0-EOP-DI yang merupakan  proses EFC yang menggunakan
khlorin dalam bentuk senyawa lain yaitu khlordioksida sehingga dapat menurunkan tingkat
pencemaran.

Proses pemutihan pada line 1 memiliki urutan-urutan yang terdiri dari tahapan berikut:

1.    Tahap pemutihan (C+D), yaitu menggunakan Cl 2 dan ClO2  yang berfungsi untuk mengikat kandungan
lingnin dan pulp.

2.    Tahap ekstraksi (EOP), yaitu menggunakan NaOH, O 2, H2O2 yang berfungsi untuk mengikat zat-zat
orgnik dan kandungan lignin dalam pulp serta mempertahankan ikatan sellulosa.

3.    Tahap pemutihan kembali (D1 dan D2), yaitu menggunakan ClO2 yang berfungsi untuk mengikat
kandungan lignin dalam pulp.

Sedangkan pada line 2 memiliki tahapan sebagai berikut:

1.    Tahap pemutihan  D0, yaitu menggunakan ClO2 yang berfungsi untuk mengikat kandungan lignin dan
pulp.

2.    Tahap extraksi (EOP), yaitu menggunakan NaOH, O2, HO2 yang berfungsi untuk mengikat zat-zat
organik dan kandungan lignin dalam pulp serta mempertahankan ikatan sellulosa.

3.    Tahap pemutihan kembali (D1), yaitu menggunakan ClO 2 yang berfungsi untuk mengikat kandungan
lignin dalam pulp.
C.      Pembentukan lembaran pulp

Pulp yang telah diputihkan  selanjutnya dikirim ke unit  pulp machine (M/C)  yang
mengenai masalah penyediaan pulp sheet (lembaran) dengan proses kerja sebagai berikut:

1.    Screening ,  merupakan tahap penyaringan dan membentuk serat yang lebih homogen tanpa ada
pengontor yang halus maupun kasar.

2.    Dewatering, merupakan tahap pengurangan kadar air yang terdiri dari dua tahap yaitu DWP dan
HDP.

3.    Drying,  merupakan tahap pengeringan lembaran pulp dengan menggunakan steam atau  uap panas.

4.    Pulp cutting  dan  Bale Handling  merupakan tahap akhir proses pulp machine  disini dilakukan
pemotongan dan pengemasan.

Ø Tahap penyaringan (Sereening)

Screeing plant  merupakan proses bleaching  dan  Dwatering machine  yang berfungsi


sebagai penyaring kotoran-kotoran yang ada pada bubur serat (fiber). Stock  yang dihasilkan
di screening plant  disuplay ke Dwatering machine  untuk di proses menjadi lembaran pulp yang
merupakan produk utama dari PT. LPPPI.

Bahan yang melalui proses pemutihan di bleaching  di pompakan ke HDT dengan


konsistensi 10%. Selanjutnya bahan tersebut diencerkan dengan air pengencer dari  filtrate
chest   pada bagian dasar HDT menjadi 5%. Stock  yang ada di HDT dipompakan ke  stock
chest,  setelah diencerkan menjadi 4% kemudian dilakukan penyaringan yang terdiri dari protection
screen  atau combitrap. Pressure screen  atau  fine screen,  penyaringan pada centry
cleaner,  penyaringan pada satomi  dan proses screening  ini diakhiri dengan pengentakan pulp yang
bertujuan untuk meningkatkan konsistensi.  

Ø Tahap pengurangan kadar Air (Dewatering)

Dewatering plant  adalah proses pengurangan kadar air dari bubur serat serta proses
pembuatan lembaran pulp . pulp cair diencerkan hingga konsentrasinya mencapai 1,2-1,8%
kemudian disemprotkan menggunakan headbox.  Dari headbox  disalurkan dengan tekanan
ke foarming board “DWP”  untuk pembentukan foemesi lembaran pulp. Pada DWP (Double Wire
Press)  terjadi proses pengurangan kadar air dengan menggunakan dua lembaran
kawat mesh  (bottom  dan  top wire) dengan lebar 7,4 meter yang saling menekan dan berputar
berlawanan arah.
Kadar air yang berkurang pada proses pengeringan ini mencapai 30-35%. Proses
selanjutnya berlangsung di Heavy Duty Press (HDP  1  dan 2),  dimana pengurangan air dilakukan
dengan cara penekanan dengan Main Press Roll  dan artinya diserap oleh felt  pada bagian atas dan
bawah HDP  1 sehingga akan terjadi lagi pengurangan kadar air sampai dengan 20% pada akhir
proses HDP 2, dan formasi lembaran pun semakin sempurna. 

Ø Tahap pengeringan akhir (Drying)

Proses pengeringan pulp dengan menggunakan udara panas yang di hembuskan ke


permukaan bagian atas dan bawah pulp, dimana Drying cabinet  disini terdiri dari menara kipas (fan
section)  dan tiap bagian mempunyai kipas sirkulasi (circulation fan), pipa yang berisi uap pemanas
(steam heated coil)  dan blowbox,  sehingga akan terjadi lagi pengurangan kadar air sampai dengan
35-40%.

Ø Tahap pemotongan (pulp cutting  dan bale Handling)

Pulp yang keluar dari dryer  kemudian masuk ke bagian cutter lay boy  untuk dipotong
sesuai dengan ukuan standar yaitu 616 mm x 840 mm, kemudian ditampung didalam lay boy  untuk
disusun menjadi  Bale  (pengepakan) di unit bale handling.

Ada babrapa urutan proses bale handling  antara lain:

1.    Scale,  yaitu alat untuk menimbang pulp dalam 1 bale  (250 AD Kg)

2.    Balling press,  yaitu alat untuk mengpres pulp dalam 1bale dari tinggi semula 80 cm menjadi 45-50
cm

3.    Wrapper,  yaitu alat untuk memberikan pembungkus

4.    Tying,  yaitu pengikat setelah bale pulp  dibungkus. Tali pengikatnya adalah kawat diameter 2 mm

5.    Stenciller,  yaitu alat untuk membuat merk

6.    Folder,  yaitu alat untuk membungkus pulp

7.    Stacker,  yaitu alat untuk menumpuk  bale  pulp menjadi 4  bale

8.    Unityer,  yaitu alat untuk mengikat 8 bale  pulp dengan kawat diameter 3 mm

Ø Penyimpanan (Warehouse)  dan Distribusi

Setelah pulp dijadikan dalam satu unit (8 bale),  kemudian diangkat dengan
menggunakan forkilift  untuk disimpan di gedung produksi (warehouse),  untuk siap dipanaskan.
Untuk menangani penyimpanan produk baik untuk pulp, tissue maupun produk
Chemical memiliki beberapa gudang baik gudang terbuka maupun gudang tertutup yang dikelola
dengan rapi dan penanganan yang cepat.

2.3 Pengolahan Limbah
A.  Limbah Cair

Pengolahan limbah cair dalam usaha mengatasi pencemaran terhadap lingkungan


berdasarkan kep 51/MENLH/10/1995 tentang buku Mutu limbah cair bagi Limbah Industri dan
keputusan Gubernur Jambi No: Kep.83 tahun 1996 tentang buku mutu lingkungan daerah untuk
Wilayah Propinsi Jambi.

Pengolahan dampak yang sudah berjalan, yaitu system IPAL dengan:

1.    Primary treatment : bar screen,equalization tank, primary clarifier A & B, buffer and distribution
tank,colling tower.

2.    Secondary treatment : aerated lagoon, secondary clarifier A & B

3.    Sludge treatment and removal : thickner clafirier,sudge stiragetannk, belt filter prees

4.    Pembuatan kolam ikan dan kebun percontohan sebagai control biologi.

Program pengelolahan Limbah cair yang telah dikembangkan :

1.    Penambahan system IPAL dari kapasitas 50.000 m 3/hari menjadi 75.000 m3/hari dengan system
“biological treatment”.

2.    Perbaikan penampungan limbah untuk mengantisipasi keadaan darurat (emergency pond)


berkapasitas 12.000 m3 dengan lantai yang dikonkrit.

3.    Pengontrolan rembesan air lindi kulit kayu ke lingkungan masyarakat dengan jalan pemasangan
pompa yang mengalirkan leachate tersebut ke pusat pengelolahan limbah cair.

4.    Western natural lagoon berfungsi untuk pengolahan alami air  limbah terolah tersebut sebelum di
alirkan kesungai

5.    Eastern natural lagoon berfunsi untuk penampungan dan memonitor kualitas air hujan yang berasal
dari parit-parit hujan dalam pabrik.Aktivitas lain yang dikerjakan. Pengawasan rutin terhadap limbah
cair terolah dilaksanakan setiap hari dan dipantau lagi oleh pemerintah propinsi jambi setiap tiga
bilan sekali terhadap total buangan limbah cair terolah termasuk juga di hulu dan hilir sungai.

B.  Limbah Padat

Penanganan limbah padat di lingkungan internal PT. LPPPI telah dilaksanakan secara
sistematis dan terarah sesuai dengan komitmen yang telah dinyatakan oleh pimpinan tertinggi
perusahan.
Pengelolahan limbah padat yang telah dikembangkan dan sekaligus memberikan nijai
ekonomis tinggi adalah :

1.    Penanganan dengan system penggunaan kembali (reused)

Potongan kayu dan kulit kayu digunakan sebagai bahan bakar di multifuel boiler,
sedangkan limbah padat dari hasil penyaringan  akhir pembuatan pulp dijadikan lembaran  pulp
kelas rendah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan tisuue.Sementara llimbah padat
berupa pasir bekas dapat digunakan sebagai bahan pembuatan batako yang dipakai dalam
lingkungan internal pabrik.demikian juga slude cake dari unitpengelolahan limbah cair  telah di
jadikan uji coba sebagai pupuk kompos di HTI dan saat ini di laksanakan percobaan secara insentif
dari manfaat kompos tersebut.

2.    Penanganan sistem landfill

Perlakuan limbahpadat lain yang berasal darisisa produksi seperti dregs, sceer
reject,ash,dan lumpur garam dilakukan dengan system penimbunandan system khusus untuk
menghindari terjadinya pencemaran terhadap lingkungan.

3.    TPA (tempat pembuangan akhir) untuk limbah domestic

Limbah yang berasal darikantor dan rumah tangga dilakukan penimbunan pada lokasi
tertentuyang berlokasi jauh dari air masyarakat dengan ketinggian terlalu pula. Setelah dua
mingggulimbah tersebut di timbun dengan tanah setempat dengan ketebalan 15-20 cm.

4.    Penanganan dengan system pembakaran

Limbah padat domestic seperti kayu palet bekas pembersihan oli bekas,bamboo, kain
lapdan serbuk gergaji bekas pembersihan oli dan grease dilakukan pembakaran secara terus
menerus sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Sisa abu pembakaran di timbun di landfill.

5.    Limbah padat yang dapat dijual

Limbah padat lainnya melalui proses penyrlrksi seperti drum bekas,besi, pipa-pipa,
batrei bekas, ban bekas dan lain-lain dapat di jual kembali dengan di tanganni oleh seksi material.

C.  Limbah Gas

Dalam usaha penanganan terjadi pencemaran udara oleh limbah gas yang di hasilkan
dari kegiatan yang berlangsung,PT.LPPPI telah melakukan pengontrolan dan pemantauan secara
berkelanjutan dan terus-menerus dengan melakukan perbaikan-perbaikan, modifikasi dan
penambahan alat-alat untuk mencapai baku mutu emisi buang yang telah ditetapkan oleh
pemerintah.

Usaha yang dilaksanakan adalah :


1.    Optimatis efisiensi penangkapan debu oleh EP (elektostatic precipitator)dengan perawatan secara
cermat

2.    Melakukan penambahan system scrubber di smelt dissolving tank.

3.    Penambahan sistem scrubber pada stack cemical making

4.    Melakukan perawatan EP scrubber sesuai dengan intruksi kerja

5.    Membakar NCG di lime kiln

Aktifitas lin yang dikerjakan :

Pemantauan secara rutin terhadap gas emisi dalam lingkungan pabrik serta
pemantauan udara ambiet pada area dalam dan luar lingkungan pabrik.

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)

Izin resmi dari bapedal melalui keputusan kepala bipedal nomor :


012/BAPEDAL/02/1999 tentang pemberian ijin penyimpanan limbah bahan berbahaya dan beracun
(Limbah B3) kepada PT.LPPPI dan gudang penyimpanan tersebut di rancang sesuai dengan
kep.No.01/BAPEDAL/09/1995 dengan tata cara dan persyaratan teknis penyimpannan dan
pengumpulan limbah B3. Symbol dan label limbah B3 di atur dalam Kep.No.05/BAPEDAL/09/1995.
BAB III
PENUTUP
3.1   Kesimpulan

       Bahan baku pembuatan pulp terdiri dari bahan baku primer dan sekunder. Bahan baku primer, yaitu
berupa kayu dan bukankayu. Sedangkan bahan baku sekunder yaitu berupa komposisi kimia dari
kayu, misalnya selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat ekstrsktif.

       Kualitas chip yang digunakan dalam proses pembuatan pulp merupakan faktor yang sangat penting
dalam pengoperasian di pabrik maupun kualitas chip yng dihasilkan.

       Adapun proses pembuatan pulp yaitu, pemasakan, pencucian dan penyaringan, O 2 delignifikasi,
bleaching.

       Dalam proses pembuatan pulp terdapat zat yang berpotensi mencemari lingkungan, diantaranya
adalah limbah cair, limbah gas dan limbah padat.

3.2   Saran

Dalam proses pembuatan pulp harus diperhatikan mengenai bahan baku, proses pembuatan serta
dampak dari proses tersebut. Dalam proses pembuatan pulp ini manghasilkan limbah berupa limbah
cair, limbah gas dan limbah padat. Diantar limbah tersebut terdapat limbah yang dapat
dimanfaatkan dan juga terdapat limbah yang merugikan.
DAFTAR PUSTAKA

Test Method 1 OFF 3. Visskositas Pullp dengan Metode CED.QP/TM/1-10.PT.LPPI

SCAN-C 15:99.Revised 2000.SCANDINAVIAN Pulp and Paper and Board Testing Commite.

Tappi T230 Om-94

Tappi T254 Cm-85


reza_kuy di 10.12
Berbagi

7 komentar:

Purwo Subekti28 September 2012 22.51

salam.... terima kasih atas artikel yang luar biasa ini salam
Balas

Fauzi Cikal Antariksa25 November 2012 02.25

mantaphhhhh thanks
Balas

bpurnama11 Oktober 2013 11.44

Penambah ref basic blog


Balas

Selens Seren22 Oktober 2015 02.59


Agen Judi | Agen Bola | Agen Sbobet

Agen Sbobet
Agen Judi
Agen Bola
Agen Judi Online
Agen Casino
Prediksi Bola
Agen Tangkas
Agen Poker
Agen IBCBET
Agen 1sCasino
Balas

Anonim2 September 2017 07.55

http://wqef-blog.logdown.com/posts/2238962
Balas

Anonim3 September 2017 07.45

TIKIQQ.COM - Agen BandarQ | Agen DominoQQ | Domino99 | DominoQQ | Domino Qiu


Qiu | Qiu Qiu Online
Agen BandarQ
BandarQ
Domino99
DominoQQ
Domino Qiu Qiu
Agen Domino99
Agen DominoQQ
Agen Domino Qiu Qiu
Qiu Qiu Online
TIKIQQ Adalah Agen BandarQ, Agen DominoQQ Terbaik Dan Terpercaya Saat Ini Dengan
Pelayanan Transaksi Yang Super Cepat Selama 24 Jam NonStop Dan Persentase
Kemenangan Yang Tinggi Dan menyediakan games-games terbaik buat anda. Minimal
Deposit dan WD sangat terjangkau hanya 20 Rb anda sudah bisa bermain Poker Dan Domino
Dengan Uang Asli
Ayo Segera Gabung Dan Mainkan Sekarang Juga Di TIKIQQ
Balas

Tommy10 Januari 2020 07.49

Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang
berhubungan dengan chemical,oli industri, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan
memberikan konsultasi kepada Anda mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.

Salam,
(Tommy.k)
WA:081310849918
Email: Tommy.transcal@gmail.com
Management

OUR SERVICE
Boiler Chemical Cleaning
Cooling tower Chemical Cleaning
Chiller Chemical Cleaning
AHU, Condensor Chemical Cleaning
Chemical Maintenance
Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
Degreaser & Floor Cleaner Plant
Oli industri
Rust remover
Coal & feul oil additive
Cleaning Chemical
Lubricant
Other Chemical
RO Chemical
Balas


Beranda

Lihat versi web


MENGENAI SAYA

reza_kuy
saya adalah saya
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Baca juga: Siringmakar 9: “Komunikasi Serangga dan Peluang Pemanfaatannya


Sebagai Metode Biokontrol”

o About

 
o Latest Posts
Nailul Izzah
Pembelajar | Penikmat kopi | DIII Teknik Kimia Undip Alumni | Semarang |
nailul.izzah91@gmail.com
Bagikan ini:

 Cetak

 WhatsApp

 Telegram

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tag: kertasKimiaproses industripulpsiringmakarSiringmakar 13teknologi industri

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar


Cari Artikel
Artikel Pilihan Editor
Jangan Tahu Namanya Aja, Yuk Ketahui Apa itu Tes COVID-19 Metode PCR
Saat ini hampir seluruh masyarakat Indonesia sedang heboh membicarakan tes
PCR (polymerase chain reaction). Ya, metode ini telah digunakan untuk …

Jalan Panjang Molekul α-ketoamida Melawan Virus Korona


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan dan merekomendasikan
beberapa jenis obat untuk diuji cobakan. Keempat jenis obat tersebut terdiri dari …

Mengenal Luminol, Senyawa Kimia yang Membantu Detektif Mengungkap


Kejahatan
Gambar cahaya yang dihasilkan dari reaksi luminol dan darah. Sumber: (1) Mungkin
para pembaca yang menggemari komik detektif Conan atau …
Mengapa Makanan yang Telah Busuk Menimbulkan Bau?
Pada kesempatan kali ini penulis membuat artikel berdasarkan pertanyaan dari
follower warstek.com. Pertanyaan tersebut yaitu ‘Kenapa Makanan yang Telah
Busuk …

NANO ZINC: ANTIBATERI Dan HEMAT BIAYA


ZINC adalah komponen mineral yang sangat jarang di bicarakan, padahal mineral ini
sangat penting dalam kehidupan sehari hari. Pada manusia …

Artikel Terbaru
Memaknai Pesan Tersirat Dibalik Anjuran Berbuka dengan Kurma
Jangan Tahu Namanya Aja, Yuk Ketahui Apa itu Tes COVID-19 Metode PCR

Masalah-masalah Serius yang Ditimbulkan oleh Sampah Plastik

Seni dalam Berwirausaha yang disampaikan oleh Prof. Rhenald Khasali Guru
Besar Universitas Indonesia

Jalan Panjang Molekul α-ketoamida Melawan Virus Korona


Artikel yang Terkait
Didesain dengan hati | Copyright warstek.com 2020