Anda di halaman 1dari 7

2.

Peran Auditor Eksternal Dalam Good Corporate Governance

Faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai Clean Governance dibutuhkan reformasi
seperangkat sistem informasi yang terpadu meliputi reformasi sistem anggaran, sistem informasi,
audit, dan reformasi kelembagaan, sehingga bidang akuntansi dapat lebih berperan dengan
optimal. Melalui pelaksanaan sistem informasi yang memadai diharapkan dapat menghasilkan
informasi keuangan yang berkualitas dan mencerminkan kinerja keuangan perusahaan. Melalui
peran auditor diharapkan dapat memabantu manajemen dalam melaksanakan tugas pokoknya di
masa lalu dan rencana kegiatan diwaktu yang akan datang.

Auditor eksternal dan auditor internal sering dikatakan merupakan ”mata-telinga” dari
pimpinan unit di mana auditor internal tersebut berada. Untuk itu, auditor perlu meningkatkan
kemampuan kerjanya agar dapat bekerja dan menghasilkan informasi pengawasan yang berguna
untuk mencegah dan mendeteksi terjadinya perbuatan yang tidak terpuji, sehingga diharapkan
dapat menimbulkan kepercayaan masyarakat sebagai pengguna laporan tersebut.

Semakin besarnya skala perusahaan dan semakin kompleksnya usaha menyebabkan


manajer tidak lagi bisa secara langsung menangani dan mengawasi seluruh aktifitas perusahaan.
Kondisi ini menuntun manajer untuk mendelegasikan sebagian tugas, wewenang dan tanggung
jawab yang dipikulnya kepada pihak lain. Untuk itu manajemen dituntut menerapkan
pengendalian yang memadai sehingga seluruh kegiatan usaha tetap terkontrol, berjalan sesuai
dengan kebijakan pimpinan, terjaganya aset perusahaan, sehingga tujuan utama perusahaan dapat
tercapai. Agar pengendalian dapat berjalan dengan efektif, maka salah satu pihak yang ikut
memantau pelaksanaan pengendalian adalah auditor internal.

Peranan auditor internal dalam perusahaan sudah tidak diragukan lagi, karena auditor
internal adalah pihak yang membantu manajemen yang berkaitan dengan monitoring
(pemantauan). Pemantauan perlu dilakukan secara periodik dan terus menerus, karena hal
tersebut merupakan salah satu tugas atau fungsi audit internal. Agar fungsi audit internal
menjadi efektif maka auditor internal harus independen dan melapor langsung pada tingkat
yang memiliki kewenangan yang tinggi dalam organisasi (Arens, et. al., 2000,301).

Audit internal mencakup audit efisiensi, dan program audit tentang efesiensi ditujukan
untuk suatu entitas yang telah memperoleh, melindungi dan menggunakan sumberdayanya
secara efesien dan efektif; penyebab timbulnya tidak efesien dan tidak efektif; kepatuhan
terhadap peraturan perundang- undangan yang berlaku (IIA, 1995; Sawyer, 2003).

Dalam kegiatan pemeriksaan, baik auditor internal maupun auditor eksternal tidak dapat ter-
pisahkan. Terdapat beberapa kesamaan antara auditor internal dan auditor eksternal khususnya
dalam bidang akuntansi, yaitu:
a) Dua-duanya memiliki sifat pekerjaan yang sama-sama berkepentingan dengan
pengujian atas efektivitas struktur pengendalian internal untuk tujuan yang
berbeda
b) Memiliki sifat pekerjaan yang sama dalam mengaudit catatan akuntansi dan
melaksanakan verifikasi atas harta dan kewajiban perusahaan
c) Mengaudit dokumen akuntansi yang sama dan sama-sama melakukan pengujian
fisik dan kegiatan verifikasi lainnya.

Adanya berbagai kesamaan antara auditor internal dan auditor eksternal sehingga
memungkin- kan keduanya untuk menjalin hubungan yang erat. Kegiatan kerjasama auditor
internal dan auditor eksternal dalam pelaksanaan audit, meliputi tukar menukar dokumen
pemeriksaan, pertukaran informasi secara tatap muka, penggunaan metodologi bersama,
kerjasama dalam melaksanakan pemeriksaan, kerjasama dalam pelatihan personil,
dukungan terhadap tindak lanjut temuan pemeriksaan, kerjasama dalam penyusunan rencana,
pembagian kegiatan pemeriksaan, penyatuan catatan pemeriksaan, penyampaian laporan
bersama kepada tingkatan organisasi yang lebih tinggi, penilaian silang.

Pekerjaan audit internal dan audit eksternal, oleh auditor eksternal harus dikoordinasikan
untuk memastikan kecukupan dari lingkup pemeriksaan yang dilakukan dan mengurangi
pelaksanaan pekerjaan rangkap (Tugiman, 1997; BPK RI, 1994)

Dengan adanya berbagai kesamaan tersebut antara auditor internal dan auditor eksternal
memungkinkan keduanya untuk menjalin hubungan yang erat. Auditor internal memungkinkan
tidak perlu lagi mengulang beberapa prosedur audit yang telah dilakukan oleh auditor eksternal.
Begitu juga sebaliknya, auditor eksternal bisa mengulangi prosedur auditnya apabila ia menilai
bahwa auditor internal telah berfungsi secara efektif. Auditor eksternal juga dapat meminta
auditor internal membantu selama melaksanakan audit.
Auditor eksternal dan auditor internal memiliki posisi yang sangat strategis untuk
membantu perusahaan dalam menegakkan Good governance dan sekaligus mendorong
peningkatan pelayanan terhadap publik, salah satunya yaitu meneliti dan mengevaluasi
bekerjanya sistem akuntansi, di samping menilai seberapa jauh kebijakan dan program kerja
manajemen yang dijalankan memiliki peran yang penting dalam perusahaan. Auditor eksternal
dan auditor internal sering dikatakan merupakan “mata-telinga” dari pimpinan unit dimana
auditor internal tersebut berada. Untuk itu, auditor perlu meningkatkan kemampuan kerjanya
agar dapat bekerja dan menghasilkan informasi pengawasan yang berguna untuk mencegah dan
mendeteksi terjadinya perbuatan yang tidak terpuji, sehingga diharapkan dapat menimbulkan
kepercayaan masyarakat sebagai pengguna laporan tersebut. Auditor sebagai salah satu
profesi yang menunjang terwujudnya tata kelola perusahaan yang saat ini telah berkembang
menjadi komponen utama dalam mewujudkan pengelolaan perusahaan secara sehat.

Menurut survey Asian Development Bank (Zhuang, 2001), kelemahan dalam penerapan
corporate governance dan finance di negara-negara asia yang ekonominya paling parah terkena
imbas krisis tahun 1997 khususnya untuk Indonesia disebabkan beberapa faktor, yaitu:
a) Konsentrasi kepemilikan perusahaan yang masih tinggi.
b) Tidak efesiennya fungsi pengawasan dewan komisaris
c) Inefisiensi dan rendahnya tranparansi mengenai prosedur pengendalian merger dan
akuisisi perusahaan
d) Terlalu tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal
e) Ketidakmemadainya pengawasan oleh investor

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka keterkaitan


antar auditor eksternal, auditor internal, dan pelaksanaan GCG dapat digambarkan dalam bentuk
diagram sebagai berikut :
Auditor Eksternal Auditor Internal

Penerapan Standar Umum Independence

Penerapan Standar Pekerjaan Kemampuan profesional


Lapangan Lingkup Pekerjaan

Penerapan Standar Pelaksanaan Kegiatan


Pelaporan Pemeriksaan

Manajemen Bagian Audit


Internal

Pelaksanaan
Good Corporate Governance

Transparansi Kemandirian

Akuntabilitas

Pertanggung jawaban

Kewajaran

Audit eksternal adalah audit terpisah dari perusahaan yang disewa oleh perusahaan untuk
memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan yang disusun telah mengikuti prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum. Auditor eksternal adalah orang yang melakukan audit eksternal
pada sebuah organisasi/perusahaan. Audit eksternal pada perusahaan dilakukan dengan
mengecek dokumen-dokumen dan catatan-catatan serta peralatan elektronik dan pengendalian
komputer.

De Angelo (1981) dalam Lin dan Liu (2009) menyebutkan bahwa Auditor Eksternal
memegang peranan di dalam menentukan kredibilitas suatu informasi Laporan Keuangan maka
kualitas audit merupakan hal yang sangat penting. Kualitas audit merupakan faktor yang sangat
sulit untuk diukur secara langsung, dimana salah satu proksi yang biasa digunakan untuk
mengukur kualitas audit adalah ukuran dari kantor akuntan publik. Semakin besar ukuran suatu
kantor akuntan publik, maka akan lebih baik pula kualitas audit yang disediakan oleh kantor
akuntan publik tersebut. Kualitas dari audit yang independen memiliki pengaruh terhadap tata
kelola perusahaan. Hal ini menyebabkan pemilihan auditor merupakan keputusan penting dan
harus dipertimbangkan secara matang oleh perusahaan.

Ashbaugh dan Warfield (2003) menyatakan bahwa auditor ekternal memainkan sebuah
peran dalam tata kelola perusahaan sebagai alat pengawasan yang penting dalam proses
pelaporan keuangan. Sanda, et al., (2005) dalam Obe (2012) menyebutkan bahwa Tata kelola
perusahaan yang baik salah satunya diwujudkan dalam bentuk transparasi keuangan perusahaan.
Tata kelola perusahaan yang baik dapat dilihat dari mekanisme tata kelola perusahaan yang
diterapkan (Good Corporate Governance). Mekanisme tata kelola perusahaan (Good Corporate
Governance) adalah syarat-syarat pelaksanaan sistem dalam suatu perusahaan dimana berbagai
pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan tersebut dapat memastikan pihak manajer dan
pihak internal perusahaan lainnya dapat memenuhi kepentingan stakeholders ( Sanda, et al.,
2005 dalam Obe, 2012 ).

Dennis dan McConnell (2003) dalam Ferry (2010) membedakan mekanisme Good
Corporate Governance menjadi dua bagian yaitu internal dan eksternal, dimana mekanisme
internal dilakukan oleh dewan direksi perusahaan, dewan komisaris dan komite audit yang
dimiliki oleh perusahaan serta struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan. Sedangkan
mekanisme eksternal dari Mekanisme tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance)
menurut Dennis dan McConnell (2003) adalah lebih kepada pengaruh dari pasar untuk
pengendalian pada perusahaan tersebut dan sistem hukum yang berlaku.
Dalam hubungan dengan Eksternal Auditor, Perusahaan menetapkan kebijakan-kebijakan
sebagai berikut:
a) RUPS berwenang menunjuk auditor eksternal dari calon yang diajukan oleh Komisaris
berdasarkan usulan dari Komite Audit (apabila ada);
b) Komite Audit (apabila ada) melalui Komisaris wajib menyampaikan kepada RUPS alasan
pencalonan tersebut dan besarnya honorarium yang diusulkan untuk auditor eksternal;
c) Auditor Eksternal harus bebas dari pengaruh Komisaris, Direksi maupun pihak yang
berkepentingan di Perusahaan;
d) Perusahaan wajib menyediakan semua catatan akuntansi dan data penunjang yang
diperlukan sehingga memungkinkan auditor eksternal memberikan pendapatnya tentang
kewajaran dan kesesuaian laporan keuangan perusahaan dengan standar laporan
keuangan Indonesia.
e) Terhadap Auditor Eksternal yang melakukan audit atas laporan keuangan, perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
• Dewan Komisaris wajib menyampaikan kepada RUPS menyangkut alasan
pencalonan dan besarnya honorarium/imbal jasa yang diusulkan untuk Auditor
Eksternal Perseroan.
• Direksi dapat mengusulkan calon-calon Auditor Eksternal kepada Pemegang Saham
melalui Dewan Komisaris.
• Auditor Eksternal melakukan audit terhadap laporan keuangan Perseroan untuk
memberikan pendapat atas kewajaran penyajian laporan keuangan secara independen
dan profesional.
• Auditor Eksternal menyampaikan laporan hasil audit kepada Direksi dan Dewan
Komisaris secara tepat waktu.
Daftar Pustaka

Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2009, Vol. 6, No. 1, hal 20 – 22

Jurnal Pengaruh Auditor Eksternal dan Auditor Internal pada Pelaksanaan


Good Corpoorate Governance, Volume 9, No. 1, Juni 2010, Hal. 37–47
http://journal.wima.ac.id/index.php/JIMA/article/view/242/237 (Diakses tanggal 23November
2015)

http://www.ilib.usm.ac.id/.../B210-20150706085951-8-ArtikelAuditorEksternal.pdf (Diakses
tanggal 28November 2015)

http://www.inti.co.id/who-we-are/e-files/Laporan/pedoman_gcg.pdf (Diakses tanggal 28


November 2015)