Anda di halaman 1dari 6

NAMA : RISKA FAJRINA SHARI

NIM : 18 3145 201 140


KELAS : D / 2018
TUGAS KIMIA MEDISINAL
UJI PRAKLINIK

A. Definisi Uji Praklinik


Uji praklinik atau disebut juga studi pengembangan atau uji non-klinik
atau ui efek farmakologik, adalah tahap penelitian yang terjadi sebelum uji
klinik atau pengujian pada manusia. Uji praklinik memiliki satu tujuan utama
yaitu mengevaluasi keamanan suatu produk yang baru. Uji praklinik merupakan
persyaratan uji untuk calon obat, dari uji ini diperoleh informasi tentang efek
farmakologis, profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat, terisolasi
selanjutnya bila dianggap perlu maka dilakukan uji pada hewan. Hewan yang
baku digunakan adalah galur tertentu seperti mencit, kelinci, tikus marmot,
hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primate.
B. Penjelasan Uji Praklinik
Uji praklinik selain memakai hewan, telah dikembangkan pula berbagai
uji in vitro untuk menentukan khasiat obat contohnya uji aktivitas enzim, uji anti
kanker menggunakan cell line, uji anti mikroba pada perbenihan mikroba, uji
anti oksidan, uji antiinflamasi dan lain-lain untuk menggantikan uji khasiat pada
hewan (Thorat et al. 2010) tetapi belum semua uji dapat dilakukan secara in
vitro.
Uji praklinik terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Uji toksisitas
2. Uji aktivitas
Uji praklinik terbagi menjadi 4 macam kelompok yaitu sebagai berikut :
1. Aktivitas + , toksisitas –
2. Aktivitas + , toksisitas +
3. Aktivitas - , toksisitas -
4. Aktivitas - , toksisitas +
Pengujian toksisitas praklinik meliputi :
1. Uji toksisitas akut pengujian berjalan selama 2 minggu dan terus diamati.
2. Uji toksisitas sub-akut, jangka pengujian selama bulan dan terus diamati dan
diteliti.
3. Uji toksisitas kronik, jagka pengujian selama 6 bulan dan terus diamati dan
diteliti.
4. Uji toksisitas spesific, misalnya uji terategons, uji mutagenesis dan karsiogenesis
dan uji iritasi kulit.
C. Jurnal
Jurnal uji praklinis pembalut luka hidrogel berbasis pvp steril iradiasi
menggunakan tikus putih evaluasi iritasi dan sensitisasi
Abstrak
Uji praklinis pembalut luka hidrogil berbasis pvp steril iradiasi
menggunakan tikus putih evaluasi iritasi dan sensitisasi. Telah dilakukan
penelitian untuk menentukan efek toksik yaitu iritasi kulit primer dan sensitisasi
pada punggung tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar terhadap pemakaian
pembalut luka hidrogel berbasis polimer polovinil pirolidon (pvp) hasil iradiasi
gamma. Pada percobaan ini dilakukan pengujian terhadap dua formula hidrogel
yaitu formula I : hidrogel-madu (FI) dan formula II yaitu : hidrogel-karagian
(FII). Hidrogel formula I dibuat dari campuran polimer polivinil pirolidon (pvp)
dan madu serta bahan tambahan lainnya, sedangkan hidrogen formula II (FII)
dibuat dari campuran pvp dan karagian. Selanjutnya FI dan FII masing-masing
diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 25 kGy. Pengujian iritasi kulit primer
dilakukan menggunakan metode Draize yang telah dimodifikasi, sedangkan
pengujian sensitisasi dilakukan dengan metode Buhler. Hasil pengamatan iritasi
menunjukkan bahwa hidrogel FI dan FII tidak menyebabkan eritema (skor
eritema = 0) dan edema (skor edema = 0). Dmikian juga dari hasil sensitisasi,
baik dari periode induksi, periode istirahat maupun periode akhir, dan kedua
jenis hidrogel tidak memberikan kemerahan (skor eritma = 0), edema (skor
edema = 0) maupun tidak terlihat adanya eschar.

Bahan :
Bahan yang digunakan untuk pembuatan hidrogel adalah sebagai berikut :
1. PVP K-90 (Fluka)
2. Agar medical grade (oxoid)
3. Poli etilen glikol (PEG) 400 (Ph-euro)
4. Gliserin (march)
5. Madu (perhutani)
6. Kappa karaginan
7. Air suling

Alat :
Instrumen / alat yang digunakan adalah : iradiator gamma IRPASENA, autoklaf
(mammert, west germany), laminar air flow (lab conco), dry oven (memmert,
west germany), sealing machine, penangas air (memmert, west germany),
timbangan analitik, pakan hewan, eter, alkohol 70%, sarung tangan no.8, kapas,
plester, masker kain, kain kasa, kertas tisu, dan sekam padi, gunting, alat cukur,
pinset, kamera digital dan perangkat tempat makan dan minum tikus.
Hewan percobaan yang digunakan adalah tikus putih (Rattus norvegicus) galur
wistar umur 10-11 minggu dengan bobot sekita 190-200 gram.

Metode :
1. Pembuatan pembalut luka hidrogel
Pembalut luka hidrogel PVP – Madu (Formula I) dibuat dari campuran polimer
PVP dan madu serta bahan tambahan lainnya dengan komposisi tertentu.
2. Iradiasi pemblut luka hidrogel
Iradiasi pembalut luka hidrogel dilakukan di Iradiator Panorama Serbaguna,
PATIR BATAN menggunakan sinar gamma pada dosis 25 kGy dengan laju
dosis 7 kGy/jam.
3. Pengujian iritasi kulit primer
Pengujian iritasi kulit dilakukan berdasarkan metode DRIZE et.al yang telah
dimodifikasi (8).
4. Pengujian sensitisasi kulit
Pengujian sensitisitas pembalut luka hidrogel terhadap kulit tikus dilakukan
dengan metode repeat patch atau BUCHLER (9).

Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan iritasi kulit primer pembalut luka hidrogel

Keterangan :
Skor hasil pengamatan merupakan rata-rata skor dari 6 hewan yang diuji.
Keterangan :
Skor hasil pengamatan merupakan rata-rata sor dari 6 hewan yang diuji
Scoring for erhytema (peradangan) : Scoring for edema (bengkak) :
0 = no erhytema 0 = no edema
1 = slight erhytema 1 = slight edema
2 = well define erhytema 2 = well define edema
3 = moderate to severe erhytema 3 = moderate edema

Kesimpulan :
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembalut
luka hidrogel berbasis PVP steril iridiasi tidak menyebabkan terjadinya eritema,
edema maupun eschar pada tikus putih, dengan kata lain denga pembalut luka
hidrogel tidak menyebabkan ititasi maupun reaksi sensitisasi pada kulit tikus.
Dengan demikian hidrogel dengan berbasis PVP formula I dan formula II
disarankan untuk diuji secara klinis.