Anda di halaman 1dari 168

URAIAN PENDEKATAN, METODOLOGI

DAN PROGRAM KERJA

A. PENDEKATAN UMUM
Tujuan umum layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan di lapangan adalah untuk
menjamin, bahwa:
a. Seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan standar dan ketentuan-ketentuan yang
tercantum di dalam Dokumen Kontrak.
b. Pelaksana pekerjaan berjalan didalam sekuen dan mengikuti jadwal waktu yang
ditetapkan di dalam program kerja yang telah disetujui, dapat diselesaikan sesuai
perioda kontrak atau dengan keterlambatan yang sekecil mungkin dan diusahakan
gangguan kenyamanan terhadap pemakai jalan yang ada (existing road) maupun
terhadap penduduk setempat menjadi sekecil mungkin.
c. Biaya konstruksi dapat dibuat minimum atau tidak melebihi dari perkiraan biaya
yang tercantum dalam Kontrak.

Adalah tidak mudah untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana, dan oleh
karena itu menjadi penting, untuk mencapai tujuan utama di atas, tenaga-tenaga
pengawas harus sesuai dengan jumlah yang diperlukan dan mempunyai pengalaman
yang memadai.
Konsultan Supervisi mampu dan mempunyai sumber daya yang baik untuk memenuhi
kebutuhan dan menangani masalah-masalah yang mungkin timbul di dalam pelaksanaan
pekerjaan.

Tidak mudah untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana, dan oleh karena itu
menjadi penting, untuk mencapai tujuan utama di atas, tenaga-tenaga pengawas akan
sesuai dengan jumlah yang diperlukan dan mempunyai pengalaman yang memadai.

Pendekatan Masalah dalam rangka layanan pengawasan teknis dapat didekati dari
aspek-aspek sebagai berikut:
SIKLUS PENGENDALIAN KEGIATAN

a b c

SASARAN KEGIATAN LINGKUP KERJA STANDAR KRITERIA

- Milestone
Membuat Produk Dengan Menyusun SRK - Anggaran Per paket
- Anggaran - Perhirarki - Jadwal per paket
- Jadwal - Paket Kerja - Standar mutu
- Mutu - Kode Biaya - Kinerja
- Produktivitas

PERENCANAAN DAN PENYUSUNAN PROGRAM

c d e

TINDAKAN PENGKAJIAN DAN MEMANTAU PRESTASI


PEMBENTUKAN PENYIMPULAN KERJA

- Mengukur hasil kerja


- Relokasi Sumber Daya - Interprestasi masukan - Mencatat pemakaian sumber
- Jadwal Alternatif - Biaya dan Jadwal daya
- Prosedur Dan Methode - Kualitas - Memeriksa Kualitas
- Re work - Laporan Kesimpulan - Mencatat kinerja dan
produktivitas

PENGENDALIAN
Dasar-dasar dari pelayanan jasa konsultan ini secara garis besar dapat dijelaskan seperti
dibawah ini:

1. Melakukan survey kondisi jalan sesuai dengan paket proyek yang tersedia dalam
Kerangka Acuan Kerja, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran dan masukan
setiap lokasi atau memerlukan perkuatan maupun perbaikan, serta lokasi-lokasi yang
memerlukan penyelidikan teknis lebih rinci.

2. Berdasarkan dari masukan data tersebut di atas dan hasil dari perencanaan yang ada,
dilakukan evaluasi kemudian didiskusikan kepada Pengguna Jasa, apabila perlu
perubahan maka dibuatkan detil desain yang lebih rinci lengkap dengan perhitungan
dan gambar-gambar teknis, seterusnya diajukan kepada Pengguna jasa untuk disetujui,
sebelum pekerjaan kostruksi dilaksanakan.

3. Mengalokasikan tenaga pengawas secara efektif dalam pengawasan pekerjaan


konstruksi, sebagai jaminan terhadap kualitas dari setiap produk pekerjaan sesuai
dengan standar yang diminta dalam kontrak pekerjaan fisik dan spesifikasi teknis.

Seluruh kegiatan pekerjaan pengawasan meliputi antara lain:

a. Melakukan review desain, mengijinkan permohonan pekerjaan-pekerjaan


yang akan dilaksanakan oleh kontraktor, memonitoring schedule pelaksanaan
fisik, mengecek kelengkapan dari mobilisasi kontraktor seperti alat, personil
bahan-bahan, mengontrol dan menghitung kuantitas pekerjaan, melakukan
pengendalian terhadap mutu, menyetujui atau menolak hasil pekerjaan fisik,
memeriksa sertifikat pembayaran bulanan kontraktor, menyajikan dan
mengusulkan untuk disetujui Pengguna jasa setiap perubahan rencana
pekerjaan yang mungkin terjadi dan sangat diperlukan dalam melengkapi
pekerjaan, serta penilaian terhadap usulan penambahan waktu sebagai dasar
Penggua Jasa dalam pengambilan keputusan, dan membantu memecahkan
permasalahan yang mungkin muncul berdasarkan atas interpretasi terhadap
Dokumen Kontrak, juga membantu dalam penyiapan gambar sesuai
pelaksanaan (as built drawing).
b. Menyiapkan dan menghimpun semua data proyek, menyiapkan laporan-
laporan berkala seperti laporan bulanan dan laporan akhir setelah selesai
pekerjaan, yang berisi segala aspek mengenai pekerjaan fisik pengawasan dan
permasalahan serta cara penanggulangannya untuk direkomendasikan kepada
Pengguna Jasa.

Untuk memudahakan pekerjaan monitoring lapangan terhadap tugas para pengawas


lapangan serta memudahkan pengendalian mutu pekerjaan lapangan, pemakaian formulir-
formulir kerja standar akan dipakai untuk pekerjaan (flow chart) terhadap pengendalian mutu
dan pengendalian volume pekerjaan, pembuatan sertifikat pembayaran bulanan kontraktor serta
laporan-laporan.

Dalam pelaksanaan proyek, team pengawas akan melaksanakan pengawasaan secara kontinyu
di lapanangan. Pengawasan terutama akan ditekankan terhadap pengendalian kontrak,
pengendalian mutu dan pengendalian volume pekerjaan.

Dalam permasalahan pengawasan terhadap pengendalian volume pekerjaan yang menyebabkan


timbulnya pekerjaan tambah maupun pekerjaan kurang, beberapa usulan terhadap perintah
perubahan (change order) akan diajukan kepada Pengguna jasa untuk mencegah kelebihan
pembiayaan dari dana yang tersedia, dikarenakan volume yang tersedia dalam kontrak bersifat
estimasi.

Koordinasi dan rapat regular dengan Penguna Jasa dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang Kabupaten Bogor, dan Kontraktor akan dilaksanakan secara kontinyu untuk
tujuan kemajuan proyek.

B. PENDEKATAN TEKNIS

Pendekatan Teknis Layanan Jasa Konsultan Pengawas dalam proposal ini dibagi
kedalam dua kategori dasar yaitu:
a. Tinjauan Administrasi Kontrak.

b. Pengawasan Teknis.

Pendekatan penanganan di dalam bab ini ditujukan untuk tugas-tugas utama yang harus
dilaksanakan oleh Konsultan. Tugas-tugas tersebut tidak diartikan secara sendiri-
sendiri, akan tetapi dilihat secara menyeluruh. Selanjutnya tugas-tugas lain selama
pelaksanaan pekerjaan akan dileksanakan sesuaii dengan ketentuan yang ada.

6.2.1 TINJAUAN ADMINISTRASI KONTRAK

a. Administrasi Kontrak

Administrasi kontrak merupakan bagian penting dan menjadi satu


kesatuan/integral dari keseluruhan layanan jasa konsultansi pengawasan,
dan tidak secara langsung berhubungan dengan pekerjaan fisik, akan tetapi
langsung berkaitan dengan masalah proses pekerjaan, seperti misalnya;
dalam hal tindakan yang harus diambil berkaitan dengan Kontrak antara
Pemilik Pekerjaan dengan Kontraktor dan perjanjian antara Pemilik
Pekerjaan dengan Konsultan. Sebagai contoh, dalam hal Change
Order/Variation Order (CO/VO) diperlukan untuk mengubah kondisi
kontrak yang berkaitan dengan Kontrak antara Pemilik Pekerjaan dengan
Kontraktor. CO/VO tersebut akan disiapkan oleh Engineer Representative
dengan bantuan atau bekerjasama dengan Kontraktor, kemudian diserahkan
kepada Pemilik Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan formal sesuai
dengan kondisi yang termuat di dalam perjanjian konsultansi, sebelum
diteruskan kepada Kontraktor.
Tujuan utama layanan jasa konsultansi pengawasan selanjutnya adalah
untuk menjamin bahwa kemajuan pekerjaan akan berjalan selancar
mungkin, agar kegiatan Kontraktor dapat sesuai dengan rencana tanpa
gangguan, dan bersamaan dengan itu juga mengembangkan hubungan-
hubungan yang efektif dengan Pemberi Pekerjaan, agar Pemberi Pekerjaan
setiap saat memperoleh informasi secara lengkap terhadap perkembangan
pekerjaan sebagai masukan, sebelum Pemberi Pekerjaan menyetujui
pelaksanaan maupun perubahan-perubahannya.

b. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)

Setelah Kontrak ditandatangani, Engineer Representative memberikan


perintah kepada Kontraktor secara tertulis untuk melaksanakan pekerjaan,
sesuai tanggal efektif mulai kerja yang telah ditetapkan sebelumnya oleh
Pemberi Pekerjaan. Tanggal ini adalah penting, karena menyangkut saat
dimulainya Perioda Kontrak, Perioda Mobilisasi, Program Kerja dan Waktu
Penyelesaian Pekerjaan.

c. Penyerahan Lapangan (SDL)

Penyerahan daerah pekerjaan (site) secara keseluruhan atau sebagia kepada


Kontraktor sebagaimana disebutkan di dalam Dokumen Kontrak, harus
segera dilaksanakan setelah penandatanganan Kontrak dan (lebih baik)
setelah penerbitan Surat Perintah Mulai Kerja.
Apabila hanya sebagian daerah pekerjaan yang diserahkan kepada
Kontraktor, perlu diyakinkan, bahwa daerah tersebut telah memadai untuk
dikerjakan dengan mempertimbangkan cost-effective terhadap pelaksanaan
pekerjaan.
Agenda pertemuan mengenai penyerahan lapangan ini harus secara jelas
menyatakan tanggal terakhir penyerahan daerah berikutnya untuk
dikerjakan oleh Kontraktor.

d. Hubungan Kerja

Kontrak pelaksanaan konstruksi adalah antara pihak Proyek sebagai


Pemberi Pekerjaan dengan Kontraktor. Konsultan Pengawas bukan
merupakan bagian dari Kontrak tersebut, meskipun demikian, diakui
mempunyai tugas tertentu dan spesifik yang berhubungan dengan
pengawasan pekerjaan. Tugas-tugas ini didelegasikan oleh Pemilik Kerja
(Engineer) kepada Konsultan Pengawas (Engineer Representative)
Dalam tugas yang didelegasikan ini, Konsultan Pengawas bertanggung
jawab untuk semua aktivitas korespondensi harian yang berkenaan dengan
Kontrak, dan biasanya tidak ada masalah yang timbul, apabila selama
korespondensi tersebut masih didalam lingkup otoritas yang didelegasikan
kepada Konsultan Pengawas.
Meskipun demikian, apabila subjek korespondensi sudah diluar otoritas
yang diberikan, harus ada mekanisme lain yang disetujui, untuk itu
diusulkan, bahwa korespondensi yang berkenaan dengan masalah-masalah
diluar kewenangan yang diberikan kepada Konsultan Pengawas akan
dialamatkan kepada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) melalui
Konsultan Pengawas selanjutnya Konsultan Pengawas akan memberikan
tanggapan atas isi surat-surat yang dialamatkan secara langsung kepada
Pengguna Jasa, menyiapkan rekomendasi, dan menyiapkan surat-surat
tanggapan tersebut akan dikirimkan kepada Kontraktor melalui Konsultan.

e. Kewenangan Pemimpin Tim di Lapangan

Kewenangan yang dilegasikan oleh Pemimpin Pekerjaan kepada Site


Engineer, umumnya telah didefinisikan secara jelas di dalam Dokumen
Kontrak.
Penunjukan dan kewenangan Site Engineer harus dinyatakan secara tertulis,
agar pihak-pihak yang terlibat didalam pekerjaan memahami hal-hal yang
harus menjadi tanggung jawab/kewenangan Site Engineer.

f. Program Kerja

Sebagaimana diatur dalam persyaratan kontrak (conditions of contract),


Kontraktor harus menyerahkan rencana kerja terinci dan cara atau metoda
pelaksanaannya. Hal ini harus diperlihatkan di dalam format Critical Path
Network (CPN), dan didukung oleh jadwal-jadwal sumber daya yang
menjelaskan tentang jenis dan jumlah peralatan yang dipergunakan, jumlah
personil yang meliputi pekerjaan manajemen teknik (engineering
management) tenaga terampil dan semi terampil, buruh dan lain sebagainya
yang akan dipekerjakan. Begitu juga jadual untuk mengantisipasi
pengiriman material-material penting (critical materials), terutama untuk
pengiriman jangka panjang dan akibat pengaruh cuaca. Selain itu, memuat
pula pola ketentuan metoda pelaksanaan kerja, lokasi dan fasilitas untuk
borrow pits, spoil tips, quarries, jalan-jalan untuk angkutan material, stock
piles, concrete dan atau batching plants.
Perlu dipertimbangkan faktor-faktor, seperti; kondisi geologis setempat,
potensi dampak lingkungan, metoda pelaksanaan kerja yang ekonomis,
terutama yang berkaitan dengan sumber-sumber material, agar supaya tidak
terjadi pemborosan sumber-sumber alami.
Data-data yang dikirim Kontraktor, perlu dikaji ulang secara hati-hati oleh
Engineer/Konsultan Pengawas dan bila perlu didiskusikan dengan
Kontraktor, agar supaya detail program yang sudah diterima dan disetujui
oleh Engineer dapat disepakati oleh kedua belah pihak.

g. Jaminan Pekerjaan

Sebelum pekerjaan lapangan dimulai, Konsultan akan mengkaji ulang


jaminan pekerjaan yang diusulkan oleh Kontraktor. Hal ini sangat penting
untuk melindungi Pemilik Pekerjaan dari kerugian atau kerusakan dan untuk
menghadapi tuntutan/claim dari ketuga unsur pelaksana proyek terhadap
kerusakan atau kecelakaan.

h. Sub Kontraktor

Persetujuan atas penggunaan Sub Kontraktor oleh Kontraktor Utama harus


dipertimbangkan secara hati-hati, terutama mengenai pengalaman kerja dan
keahliannya, Kontraktor harus memberikan penjelasan, serta alasan yang
rinci dan jelas, termasuk didalamnya pertanggungjawaban kontraktor
terhadap setiap kegiatan sub kontraktor.

Sub Kontraktor harus mempunyai kemampuan dan referensi untuk


melaksanakan pekerjaan yang akan diberikan.

i. Pengkajian Ulang Terhadap Usulan Kontraktor

Usulan yang diajukan oleh Kontraktor, baik berupa uraian kerja atau
gambar-gambar mengenai pekerjaan sementara atau pekerjaan permanen,
akan dievaluasi secara hati-hati.
Secara umum Kontraktor diberi keleluasaan melaksanakan pekerjaan sesuai
dengan sumber daya dan metoda pelaksanaan kerja yang dipunyai, akan
tetapi Konsultan akan mengkaji ulang usualan tersebut, agar mengikuti
standar-standar yang dicantumkan dalam Dokumen Kontrak, sehingga tidak
akan menimbulkan kesulitan pada pemeliharaan jangka panjang.
Evaluasi yang dilakukan Konsultan meliputi kompetensi teknis dan biaya
yang komparatif atas proposal tersebut yang mencakup seluruh perhitungan
pendukung desain dan atau asumsi-asumsi yang mendasarinya. Persetujuan
terhadap hal ini diberikan secara tertulis oleh Engineer Representative (Site
Engineer). Apabila usulan menyangkut amandemen terhadap spesifikasi
untuk pekerjaan permanen, sehingga sudah di luar kewenangan Engineer
Representative, maka Engineer Representative akan sudah diluar
kewenangan Engineer Representative, maka Engineer Representative akan
membuat laporan mengenai rekomendasi untuk menerima atau menolak
usulan tersebut dan diserahkan kepada Pemilik Pekerjaan untuk
dipertimbangkan.

j. Change Orders / Variation Orders


Apabila selama pelaksanaan pekerjaan menemui kesulitan-kesulitan atau
apabila karena adanya suatu alasan tertentu diperlukan suatu amandemen,
maka Engineer Representative akan mempersiapkan change order /
variation order (CO/VO) ini akan menerangkan alasan amandemen dibuat,
lingkup dan detail variasi yang harus dibuat untuk Dokumen Kontrak yang
bersifat khusus, adanya implikasi biaya terhadap nilai kontrak atau beberapa
perubahan yang dibutuhkan untuk penyelesaian suatu Kontrak.
C.O/V.O kemudian akan diserahkan kepada Pemilik Pekerjaan untuk
dipertimbangkan, dan apabila disetujui, C.O/V.O kemudian diserahkan
kepada Kontraktor untuk dilaksanakan.

k. Harga Satuan Baru


Apabila dengan adanya C.O/V.O mengakibatkan adanya pekerjaan baru
yang belum mempunyai harga satuan di dalam Bill of Quantities (BOQ)
yang tercantum dalam Kontrak, maka akan ditetapkan harga satuan baru.
Untuk pekerjaan baru yang mempunyai karakter serupa, maka pekerjaan
dilaksanakan dengan kondisi yang serupa dengan detail pekerjaan tersebut
dan harga baru ditentukan berdasarkan perbandingan langsung dengan
harga yang sudah ada.
Bilamana menurut pendapat Engineer Representative tidak ada harga yang
memadai, maka harga baru harus ditentukan oleh Engineer Representative
melalui negosiasi dengan Kontraktor. Negosiasi ini harus
mempertimbangkan harga-harga elemen pekerjaan yang sudah ada untuk
mendapat harga baru. Apabila negosiasi gagal mandapatkan kesepakatan,
berdasarkan kondisi kontrak, harga baru akan ditentukan oleh Engineer.

l. Perpanjangan Waktu
Perpanjangan waktu diberikan apabila melalui pertimbangan yang teliti.
Alasan yang biasanya dicantumkan didalam Dokumen Kontrak adalah:
 Keterlambatan yang muncul disebabkan karena keterlambatan
penyerahan (sebagian) lapangan kepada Kontraktor.
 Keterlambatan yang muncul karena terlambatnya persetujuan program
kerja yang dibuat Kontraktor akibat lamanya klarifikasi terhadap
gambar-gambar kerja atau data konstruksi.
 Kondisi fisik atau hambatan-hambatan artificial yang tidak dapat
diperkirakan sebelumnya.
 Aktifitas Kontraktor tertunda sementara atau kuantitas pengganti untuk
pekerjaan tambah, lama diperoleh.
 Pekerjaan-pekerjaan yang telah rusak atau kemajuan terlambat karena
faktor-faktor luar diluar kendali/kemampuan Kontraktor.

Meskipun penundaan muncul karena sebab-sebab di atas, perpanjangan


waktu harus tetap mempertimbangkan pengaruh penundaan terhadap
program kerja yang disetujui, dan meskipun penundaan tersebut tidak dapat
dihindari, harus diupayakan agar penundaan tersebut tidak mempengaruhi
penyelesaian proyek secara keseluruhan.

Dalam hal penundaan tidak terhindarkan, maka jadual baru harus dibuat dan
laporan secara menyeluruh perihal penundaan diserahkan kepada Pemilik
Pekerjaan.

m. Evaluasi Terhadap Tuntutan Kontraktor


Untuk keperluan evaluasi terhadap tuntutan (claim) dari Kontraktor,
diperlukan catatan data kegiatan harian sejak awal proyek. Catatan ini
meliputi: peralatan (plant) Kontraktor, Kegiatan Pekerja, catatan
pengiriman dan penerimaan material, waktu datangnya masing-
masingmasing peralatan (plant), dan sebagainya. Seluruh Inspector akan
diinstruksikan untuk memasukkan di dalam laporan hariannya,
pendayagunaan dari sumber-sumber daya tersebut, terutama pekerja dan
peralatan yang ada dibawah pengawasannya.
Pencatatan meliputi juga peralatan yang ada, tapi tidak digunakan, yang
disebabkan oleh kerusakan teknis maupun kelebihan dari yang dibutuhkan.
Tuntutan/claim yang diajukan oleh Kontraktor harus diajukan secara tertulis
dan rinci.

n. Penyerahan Sementara Pekerjaan (PHO)


Berdasarkan kondisi kontrak, Kontraktor dapat menerima penyerahan
pekerjaan, baik sebagian maupun keseluruhan pekerjaan yang telah
diselesaikan kepada Pemilik Pekerjaan. Untuk itu, Konsultan yang
menginspeksi pekerjaan dan penyiapan daftar perincian kerusakan yang
ada, bersama dengan daftar pekerjaan yang belum diselesaikan.
Tambahan waktu penyelesaian pekerjaan setelah penyerahan awal/ pertama
atau Provisional Hand Over/PHO yang direkomendasikan oleh Konsultan,
biasanya dipakai sebagai tanggal penyelesaian kontrak, dan mulai dari
tanggal tersebut dihitung Masa Pemeliharaan.
Konsultan akan membuat sertifikat penyelesaian pekerjaan berdasarkan
tanggal penerimaan resmi oleh Pemilik Pekerjaan.

6.2.2. PENGAWASAN TEKNIK

a. Tujuan Utama Jasa Pengawasan


Tujuan utama layanan jasa pengawasan yaitu untuk menjamin agar
pelaksanaan sesuai dengan Spesifikasi Teknis yang tercantum di dalam
Dokumen Kontrak Fisik, diselesaikan dalam Perioda Kontrak dan di dalam
Nilai Kontrak yang telah disepakati.
Yang pertama dari ketiga tujuan tersebut adalah dibawah pengendalian
langsung Engineer Representative, dan karena itu harus selalu diupayakan.
Dua yang terakhir akan sering tergantung pada hal-hal diluar
pengendaliannya, seperti misalnya kondisi fisik yang tidak diperkirakan
sebelumnya yang dapat menyebabkan terlambatnya kemajuan pekerjaan
dan/atau tambahan biaya pelaksanaan.
Dalam hal kedua terakhir tersebut di atas, Konsultan mempunyai tanggung
jawab untuk mengurangi dan bila mungkin meniadakannya.

b. Tujuan Tambahan Jasa Pengawasan


Meskipun bukan tujuan utama, akan tetapi tujuan tambahan mempunyai
tingkat kepentingan yang sama terhadap aspek layanan pekerjaan
pengawasan, yaitu untuk menjamin standar-standar keselamatan di
lapangan setiap saat, dan mengurangi sekecil mungkin kecelakaan yang
terjadi selama berlangsungnya pelaksanaan pekerjaan. Keselamatan yang
dimaksud adalah untuk keselamatan umum dan keselamatan tenaga kerja,
baik dari Kontraktor, Konsultan maupun Pemilik Pekerjaan. Tempat-tempat
yang peka akan dipantau dan mendapatkan penjagaan khusus, seperti tempat
penyimpanan yang mudah meledak/terbakar, areal tempat penyimpanan
minyak dan oli, fasilitas pembangkit tenaga, jalur transmisi tegangan tinggi,
tempat galian terbuka yang dalam, dan lain-lain yang dirasa perlu dijaga.
Kontraktor akan diberi secara tertulis, agar supaya peralatan dioperasikan
secara benar dan agar Operator memahami bahaya yang dapat ditimbulkan.

c. Model Quality Assurance


Check
Check Check
Check Check

Proses Olahan Proses


Bahan
Baku Produk
Pada pengendalian proyek dengan Metode Quality Assurance ini, maka
pengendalian dilakukan ketika usulan bahan baku yang akan digunakan,
proses dari bahan baku untuk menjadi olahan dicheck dan seterusnya.

d. Sasaran Utama

Aktifitas-aktifitas lapangan yang terutama untuk dilaksanakan meliputi:

 Kantor Lapangan

Sasaran awal Tim Lapangan Konsultan (Field Team) adalah


menyediakan kantor lapangan sesegera mungkin, agar dapat
mengadakan hubungan yang cepat dengan Kontraktor dan pemeriksanan
lapangan.

 Pemeriksaan Data Survey

Patok Beton Tetap (Bench Mark) dan data kontrol lain yang dibuat dan
dipasang pada waktu perencanaan teknik akan diperiksa bersama-sama
dengan Kontraktor, agar ketepatan dan kebenaran data dapat secara resmi
dikonfirmasikan antara Konsultan dan Kontraktor.

 Pemeriksanaan Data Topografi

Semua elevasi tanah asli yang dipergunakan untuk perhitungan kuantitas,


seperti volume harian dan lain sebagainya, akan diperiksa oleh Konsultan
disertai dengan Kontraktor dan ditandatangani bersama.

 Instalasi Kontraktor

Instalasi dan fasilitas Kontraktor, seperti lapangan untuk peralatan (plant


yard), lapangan/gudang penyimpanan, areal tempat tiang pancang,
camp/barak pekerja dan kantor akan diperiksa terlebih dahulu, agar
sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Selain itu, akan diperhatikan mengenai
tata letak dan penggunaan, kesesuaiannya dengan tujuan atau
penggunaannya, keberhasilan untuk keselamatan dan kebersihan, serta
kesehatan kantor maupun barak/camp pekerja.

 Prosedur

Prosedur untuk melaksanakan pekerjaan, pengajuan, serta persetujuan


terhadap pengajuan bagian pekerjaan, diupayakan sejak awal mengikuti
jalur hubungan kerja sebagaimana disebutkan pada Sub Bab sebelumnya.

 Gambar Kerja

Konsultan akan memeriksa Kontrak dan Gambar Kerja Kontraktor untuk


meyakinkan, bahwa hasil perencanaan dapat dilaksanakan, efektif
didalam pembiayaan (cost effective), dan akan mengeluarkan atau
membuat tambahan gambar yang diperlukan untuk meyakinkan, bahwa
pekerjaan dapat dilaksanakan tanpa penundaan.

 Setting Out

Setting Out yang dibuat Kontraktor akan secara terus menerus diperiksa
sesuai dengan kemajuan pekerjaan dan sesuai dengan Gambar Kerja
yang ada. Apabila ada koreksi, klarifikasi atau perintah-perintah lebih
lanjut, akan ditertibkan secara tertulis oleh Engineer Representative
sesuai dengan kebutuhan.

 Raw Material (Material Yang Belum Diolah)

Raw Material dasar, seperti; material embankment, agregat untuk lapisan


perkerasan, produk beton, dan lain sebagainya, sebelumnya harus
diperiksakan di laboratorium lapangan dan dikontrol oleh Konsultan.
Seluruh laporan laboratorium akan diarsipkan untuk mendapatkan
catatan yang menerus.

 Material Olahan
Seluruh material yang diolah di lapangan, seperti beton insitu, timbunan
padat, beton aspal dan lain sebagainya, sebelumnya harus diperiksa di
laboratorium lapangan sesuai dengan spesifikasi. Material-material yang
tidak memenuhi persyaratan dan tidak dapat dimodifikasii sesuai dengan
spesifikasi, harus dibuang, kecuali bila menurut pendapat Engineer,
material tersebut masih dapat digunakan untuk pekerjaan sementara.

 Sertifikat Uji
Kualitas seluruh material untuk pekerjaan permanen yang dibuat di luar
lapangan seperti; bitument, semen, baja tulangan, baja struktur, cat dan
lain sebagainya, sebelumnya harus sudah mempunyai sertifikat uji atau
suatu laporan hasil pengujian yang dibuat oleh laboratorium independen
yang berkualitas.

e. Inspeksi Pekerjaan

Staff dari Konsultan akan berada di lapangan setiap saat pada waktu
Kontraktor bekerja dan seluruh pelaksanaan aktifitas lapangan, terutama
yang harus memperoleh pengawasan khusus, akan dilaksanakan dibawah
observasi langsung dari staff Konsultan.
Konsultan akan meyakinkan Pemilik Proyek, bahwa Kontraktor
melaksanakan seluruh pekerjaan sesuai dengan persyaratan, spesifikasi
material dan ketenaga kerjaan, dan mencatat seluruh detail metoda
pelaksanaan, serta perlengkapan-perlengkapan peralatan dan tenaga kerja.
Kegagalan Kontraktor dalam melaksanakan (beberapa) pekerjaan akan
dibicarakan oleh anggota/staff Konsultan dan diikuti dengan konfirmasi
tertulis sesegera mungkin.

6.2.3. KLASIFIKASI PEKERJAAN KONSRUKSI

Cakupan pekerjaan yang diawasi oleh Konsultan Pengawasan meliputi


pekerjaan peningkatan jalan di wilayah Kabupaten Bogor, Secara garis besar,
pekerjaan-pekerjaan konstruksi tersebut dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:
Pekerjaan Utama, Pekerjaan Pengembalian Kondisi dan Minor, dan Pekerjaan
Pemeliharaan.

a. Pekerjaan Utama

Pekerjaan utama terdiri dari, tetapi tidak terbatas pada salah satu atau semua
klasifikasi pekerjaan di bawah ini:

o Pelapisan Struktural

i. Overlay dengan lapisan aspal yang terdiri dari perataan perkuatan dari
AC-BC atau HRS-Base atau lapisan lainnya yang ditunjukan dalam
gambar dan dilanjutkan dengan pelapisan permukaan memakai AC-
WC atau HRS-WC atau pelapisan jenis lainnya yang ditunjukan
dalam gambar.
ii. Pekerjaan penghamparan lapis pondasi agregat untuk rekonstruksi
ruas jalan yang rusak berat terdiri dari lapisan pondasi bawah, lapis
pondasi atas dan diikuti dengan salah satu jenis pelapisan permukaan
yang disebutkan di atas.

o Pelapisan Non Struktural

i. Overlay dengan satu lapis lapisan beraspal, seperti Latasir, HRS-WC,


AC-WC, Lasbutag, Latasbusir atau campuran dingin untuk meratakan
permukaan dan menutup perkerasan lama yang stabil.
ii. Overlay dengan dua lapis lapisan beraspal, terdiri dari lapis perata
AC-BC atau HRS-Base dan dilanjutkan dengan pelapisan permukaan
memakai AC-WC atau HRS-WC atau lapisan jenis lainnya yang
ditunjukan dalam gambar, untuk meratakan permukaan dan menutup
perkerasan lama yang stabil.

o Pelaburan Non Struktural


Pelaburan memakai BURTU atau BURDA pada perkerasan jalan lama
dengan lalu lintas rendah, dimana permukaan perkerasan tersebut cukup
rata dan mempunyai punggung jalan (camber) yang memenuhi.

o Pengerikilan Kembali Jalan Tanpa Berpenutup Aspal

Pengerikilan kembali untuk mengganti kerikil yang hilang oleh lalu lintas
dan meningkatkan kekuatan struktur perkerasan kerikil yang ada pada
ruas jalan yang rendah.
BAGAN ALIR PEKERJAAN BASE COURSE DAN SUB BASE

Pemeriksaan Evaluasi
Subgrade

Penentuan Garis Tengah


(Setting Out Centre Line)

Pengiriman dan
Penghamparan Material

Pemadatan

Pemeriksaan Evaluasi

No

Pengujian
Laboratorium dan
Lapagan

Yes

OK

Selesai
o Penambahan / Rekonstruksi Bahu Jalan Sepanjang Jalan
Berpenutup Aspal

i. Bahu jalan berpanutup aspal yang terdiri dari lapis pondasi agregat
klas A yang dilapisi dengan burtu.
ii. Bahu jalan tanpa penutup aspal terdiri dari lapis pondasi agregat klas
B

o Penambahan atau Rekonstruksi Pekerjaan Penunjang

i. Selokan Tanah
ii. Selokan dan drainase yang dilapisi
iii. Gorong-gorong pipa dari beton
iv. Gorong-gorong persegi dari beton
v. Pekerjaan tanah untuk perbaikan kelongsoran
vi. Peninggian elevasi permukaan jalan (rising grade), hanya bila
benar-benar diperlukan
vii. Pekerjaan struktur lainnya, seperti jembatan kecil
viii. Pekerjaan perlindungan talud, seperti pasangan bau kosong dengan
atau tanpa adukan dan bronjong
ix. Realinyement horisontal minor, hanya bila benar-benar diperlukan
untuk alasan keamana dan dana dalam kontrak masih mencukupi.

b. Pekerjaan Pengembalian Kondisi dan Minor

o Pengembalian Kondisi Perkeraan


i. Penambahan perkerasan, meliputi penggalian lokasi tertentu jalan
yang berlubang-lubang atau rusak berat dan pengisian kembali,
pemadatan dan pekerjaan peyelesaian dengan bahan pengembalian
kondisi yang sesuai dengan bahan perkerasan lama.
ii. Penutupan lubang-lubang yang besar pada perkerasan berpenutup
aspal.
iii. Perbaikan tepi perkerasan pada perkerasan berpenutup aspal.
iv. Pelaburan setempat pada perkerasan berpenutup aspal yang retak-
retak, dimana luas bagian yang retak lebih besar dari 10% dan kurang
dari 30 % terhadap luas total perkerasan.
v. Pekerjaan perataan setempat baik pada jalan dengan atau tanpa
berpanutup aspal untuk mengisi bagian yang amblas (depression)
setempat dan untuk mengurangi kekasaran perkerasan sampai batas-
batas yang diterima.
vi. Perataan berat setmpat pada jalan tanpa peutup aspal ntuk
menghilangkan ketidakrataan permukaan dan mempertahankan
bentuk permukaan semula, dilanjutkan dengan mesin gilas.

o Pengembalian Kondisi Bahu Jalan

i. Sama dengan pengembalian kondisi perkerasan tetapi terbatas pada


bahu jalan yang berlubang-lubang atau rusak berat.
ii. Pengupasan bahu jalan yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan
yang telah selesai dikerjakan sehingga mencapai ketinggian yang
besar.

o Pengembalian Kondisi Selokan, Saluran Air, Timbunan, Galian dan


Penghijauan
i. Penggalian dan pembentukan kembali saluran drainase tanpa
pelapisan (unlined) yang runtuh atau alinyemen yang jelek pada lokasi
tertentu agar kemampuan operasional sistem drainase dapat
dikembalikan seperti semula. Seluruh pekerjaan rekonstruksi saluran
yang tidak dilapisi akan diklasifikasikan sebagai pekerjaan utama.
ii. Perbaiakn setempat pada beton non-struktural yang retak atau
terkelupas, pasangan batu dengan mortar (mortared stonework) atau
pasangan batu (stone masonry) untuk saluran yang dilapisi (clined)
dan gorong-gorong. Perbaikan struktural pada saluran yang dilapisi
(lined) dan gorong-gorong termasuk rekonstruksi seluruh atau
sebagian dari ruas yang rusak akan diklasifikasikan sebagai pekerjaan
utama.
iii. Pekerjaan galian minor atau penimbunan yang diperlukan untuk
membentuk ulang dan meratakan kembali timbunan atau galian yang
ada, diimana timbunan atau galian tersebut yang mengalami
kelongsoran atau erosi.
iv. Stabilitas dengan tanaman pada timbunan atau galian yang terekspos
v. Penanaman semak atau pohon baru sebagai penggati tanaman lama
yang ditebang untuk pelebaran jalan atau untuk tujuan lainnya.

o Perlengkapan Jalan dan Pengatur Lalu Lintas

i. Pengecatan Marka Jalan


ii. Penyediaan dan pemasangan Rambu Jalan, Patok pengarah dan Patok
Kolimeter
iii. Penyediaan dan Pemasangan Rel Pengaman
iv. Penyediaan dan Pemasangan Paku Jalan dan Mata Kucing
v. Penyediaan dan Pemasangan Kerb dan Trotoar
vi. Penyediaan dan Pemasangan Lampu Pengatur Lalu Lintas dan Lampu
Penerangan Jalan

c. Pekerjaan Pemeliharaan

o Perkerasan Lama
i. Penambahan lubang kecil dan pelaburan setempat pada permukaan
perkerasan berpenutup aspal lama yang masih utuh (sound) dimana
luas lokasi yang retak kurang dari 10% terhadap luas total perkerasan
ii. Perataan ringan secara rutin dengan motor grader pada jalan tanpa
penutup aspal untuk mengendalikan terjadinya lubang atau keriting
(corrugations).
o Bahu Jalan lama

i. Penambalan lubang pada bahu jalan lama tanpa penutup aspal.


ii. Penambahan lubang dan pelaburan retak pada bahu jalan lama
berpenutup aspal.

o Selokan, Saluran Air, Galian dan Timbunan

i. Pembersihan dan pembuangan lumpur secara rutin pada selokan dan


saluran yang ada.
ii. Pembuangan semua sampah dari sistem drainase yag ada setelah hujan
lebat.
iii. Pemotongan rumput secara rutin dan pengendalian pertumbuhan
tanaman pada galian, timbunan, lereng dan beam.

o Perlengkapan Jalan

i. Pengecatan ulang semua rambu jalan, patok tanda dan lainnya yang
tidak terbaca.
ii. Pembersihan rutin terhadap semua perlengkapan jalan dan pengatur
lalu lintas.
iii. Perbaikan minor terhadap masing-masing jenis perlengkapan jalan

6.2.4 URUTAN PEKERJAAN

Cakupan pekerjaan dalam pelaksana kegiatan ini mensyaratkan bahwa aktivitas


tertentu diselesaikan secara berurutan menurut tonggak-tonggak yang telah
ditetapkan sebelumnya. Diagram yang menjelaskan lingkup dan urutan aktivias
dalam pekerjaan ditampilkan pada diagram berikut:
a. Rapat Mingguan
Pertemuan yang diadakan secara mingguan akan dihadiri oleh Kontraktor,
Engineer Representative dan bila mungkin oleh Pemilik Pekerjaan, untuk
mengkaji ulang dan memecahkan kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul,
terutama yang berkaitan dengan pencapaian kemajuan nyata/actual di
lapangan, agar sesuai dengan jadual/ program kerja yang telah disepakati.
Agenda pertemuan yang dibuat sesuai dengan catatan yang ada dan
ditandatangani oleh seluruh peserta.

b. Laporan Kemajuan Pekerjaan

Konsultan akan mempersiapkan laporan untuk diserahkan kepada Pemberi


Pekerjaan, yaitu:

 Laporan Mingguan

Memuat ringkasan pekerjaan selama perioda tersebut dan


masalah/problem yang muncul atau yang dapat ditangani. Laporan ini
juga memuat catatan-catatan pertemuan yang diselenggarakan.

 Laporan Bulanan

- Memuat penjelasan seluruh pekerjaan yang dilaksanakan selama


perioda tersebut. Laporan ini dibagi ke dalam bagian-bagian sesuai
dengan yang ada dalam Bill of Quantities.
- Garis besar masalah yang ditemukan oleh Kontraktor atau Engineer
Representative, bersama dengan cara penanganan yang diambil dan
indikasi, serta implikasi-implikasi yang dapat terjadi terhadap
kemajuan pekerjaan atau biaya pelaksanaan.
- Hal-hal yang berhubungan dengan penempatan staf di proyek.
- Bar Chart yang memperlihatkan Jadual Kemajuan Pekerjaan yang
dibuat sejak tanggal dimulainya periode laporan untuk seluruh
komponen utama pekerjaan.
- Ringkasan hasil uji laboratorium yang dilaksanakan selama perioda
laporan.
- Foto-foto kemajuan pekerjaan.

Laporan tersebut diserahkan berikut dengan laporan keuangan, seperti:


- Bagan Cash Flow yang memperlihatkan pemakaian biaya sampai
akhir perioda laporan dan antisipasi pemakaian biaya akhir.
- Ringkasan claim sampai dengan hari yang bersangkutan dan
antisipasinya yang berkaitan dengan implikasi terhadap keuangan.
- Ringkasan change/variation orders dan pengaruhnya terhadap
perkiraan biaya akhir.
- Ringkasan sertifikat yang diterbitkan.

c. Pengukuran Lapangan dan Sertifikat Pembayaran

Pengukuran lapangan adalah penting untuk dilakukan sejalan dengan


kemajuan pekerjaan, sehingga nilai pekerjaan untuk masing-masing
pembayaran dapat disertifikasi dengan lebih akurat oleh Kontraktor dan
Engineer Representative.
Sertifikat Pembayaran (Payment Certificate) dibuat kumulatif pada bulan
berikutnya dan pembayaran bulan berikutnya diberikan sebesar jumlah
kumulatif dikurangi jumlah pembayaran sebelumnya. Cara ini akan dapat
mengoreksi kesalahan perhitungan yang mungkin terjadi pada bulan
sebelumnya. Seluruh sertifikat sementara akan diperiksa secara rinci oleh
Konsultan, segera setelah diserahkan oleh Kontraktor, dan oleh Site
Engineer dan Pejabat Pembuat Komitmen kemudian diserahkan kepada
Pemilik Pekerjaan untuk dibayar.

d. Laporan Akhir Pelaksanaan Pengawasan

Laporan Akhir pelaksanaan dari Konsultan akan diserahkan, segera setelah


sertifikat lengkap ditertibkan, dan mencakup secara lengkap ringkasan
seluruh aspek utama pekerjaan, meliputi; perencanaan, metoda pelaksanaan,
kemajuan pelaksanaan, biaya konstruksi, keperluan pemeliharaan khusus
atau claim.
Laporan ini juga berisi tanggapan atas kesesuaian spesifikasi, kondisi
kontrak, dan Dokumen Kontrak, serta dokumen-dokumen lain yang muncul
dari pengalaman selama pelaksanaan proyek. Rekomendasi akan dibuat
berkenaan dengan aplikasi terhadap teknologi baru yang menguntungkan
untuk diterapkan pada proyek serupa dikemudian hari.

e. Gambar Terpasang (As Built Drawing )

Konsultan akan memeriksa seluruh Gambar Terlaksana (as-built drawing)


yang dibuat oleh Kontraktor, untuk memeriksa keakuratan dan untuk
meyakinkan, bahwa gambar tersebut memuat informasi yang utama, seperti;
elevasi pondasi, modifikasi yang disetujui atas desain awal dan pengaruh
dari beberapa change/variation orders.
f. Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan

Ringkasan dari pelaksanaan pekerjaan dan prosedur dapat dilihat pada


gambar berikut:

Pre Contruction Meeting

Rencana Mutu
Pekerjaan
1. Mempalajari data dan dokumen kontrak
Pre Construction 2. Review Rencana Kerja Kontraktor
Stage 3. Review Penggunaan Peralatan
Kontraktor
4. Review/Evaluasi pengendalian mutu
5. Review Design & rekayasa lapangan

Supervisi Pekerjaan Persiapan


Mobilisation Kontraktor

1. Pengawasan mutu dan pengendalian


volume
Construction 2. Rapat Bulanan
Stage 3. Rapat Lapangan
4. Penanganan Perintah Perubahan
5. Pembinaan Administrasi

Provisional Hand 1. Tim PHO


Over (PHO) 2. Inspeksi PHO
3. Berita Acara PHO

Final Hand Over 1. Masa Pemeliharaan


(FHO) 2. Inspeksi FHO
3. Berita Acara FHO
BAGAN ALIR PENGAWASAN PEKERJAAN
KONSTRUKSI

GAMBAR KERJA, METODE KERJA


BIAYA / WAKTU DOKUMEN KONTRAK/SPESIFIKASI

PERINTAH
PENGGANTIAN/PERUBAHAN PENYESUAIAN/
BINA MARGA
REKAYASA LAPANGAN
(CHANGE ORDER )

Ya
Ya
PELAKSANAAN KONSTRUKSI

PERIODE PENGAWASAN
KUALITAS
Ya KEADAAN
TUNTUTAN
MEMAKSA

PENGUKURAN HASIL
NEGOSIASI
PELAKSANAAN KONSTRUKSI

PEMBAYARAN

PERIODE PENGAWASAN GAMBAR TERPASANG


KUANTITAS
DOKUMEN PELAKSANAAN

SERAH TERIMA PERTAMA (PHO)

PEKERJAAN PEMELIHARAAN

PEMERIKSAAN PEKERJAAN
PEMELIHARAAN

SERAH TERIMA KEDUA (FHO)


6.3. METODOLOGI PELAKSANAAN

6.3.1. PEKERJAN REVIEW DESAIN, REVISI DESAIN DAN SHOP DRAWING

a. Review Desain

Pekerjaan review desain akan dilakukan oleh Site Engineer dibantu oleh
Inspector dimana data-data lapangan akan dikumpulkan dan diproses.
Pekerjaan ini akan dilakukan dengan berpedoman pada buku panduan yang
dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Kabupaten Bogor selaku Pengguna Jasa.

Berdasarkan masukan data akan diperoleh kesimpulan apakah desain yang


ada layak atau pelu dilakukan perbaikan yang mengacu kepada Biaya fisik
yang tersedia.

b. Data Perencanaan Yang Tersedia dan Analisis Hasil Perencanaan

Data untuk perencanaan, hasil perencanaan, perkiraan volume & biaya dan
gambar teknis yang telah dilaksanakan oleh Dinas Bina Marga dan
Pengairan Kabupaten Bogor , akan dianalisis berdasarkan pada buku
panduan.

Program ini akan menghasilkan catatan mengenai seluruh pekerjaan antara


lain:

 Catatan kuantitas ruas demi ruas


 Biaya setiap nota pembayaran yang besar
 Total dari kuantitas kontrak dan biaya setiap mata pembayaran
 Schedule dari kuantitas
 Schedule penawaran

Selain hal-hal di atas data-data lain yang diperlukan dan digambar dengan
ditulis tangan adalah:
 Gambar lokasi kontrak
 Gambar alinemen jalan
 Gambar sumber-sumber material
 Gambar perkiraan kebutuhan material

c. Pengecekan Terhadap Hasil Akhir Dengan Membandingkannya


Terhadap Kondisi Kenyataan Lapangan

Pengecekan ini dilakukan dengan membawa hasil desain ke lokasi untuk


mengevaluasi apakah desain sudah sesuai dengan kondisi lapangan yang
ada.

Hasil pengecekan yang tertuang dalam gambar revisi-revisi desain beserta


hasil pengecekan volumenya akan diajukan kepada Pengguna Jasa
bersamaan dengan perencanaan aslinya.

d. Revisi Desain

Pengguna jasa dapat melakukan beberapa perubahan atas bentuk, mutu atau
volume pekerjaan atau sebagian pekerjaan yang dianggap perlu atau lebih
baik.

Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, maka revisi desain akan dilaksanakan bila
dianggap perlu berikut beberapa alternatif lain, analisis desain akan
dikerjakan secara komputerisasi dan penyajian laporan-laporan dalam
bentuk proposal beserta perubahan desain serta kuantitas pembayaran yang
terkait.

Perubahan-perubahan pekerjaan tidak boleh dilaksanakan oleh kontraktor


tanpa suatu Perintah, seperti perintah perubahan yang diberikan secara
tertulis. Petunjuk tindakan turun tangan (PT3) suatu perubahan dipersiapkan
oleh Konsultan Supervisi bersama staff teknik.

e. Shop drawing
Shop drawing adalah gambar-gambar pelaksanaan yang dibuat oleh
Kontraktor yang menggambarkan sesuatu bagian dari pekerjaan diajukan
dalam waktu singkat dan disesuaikan dengan jadual pelaksanaan pekerjaan.

Bagian-bagian pekerjaan yang memerlukan Shop drawing tidak boleh


dimulai pelaksanaannya sebelum disetujui oleh Konsltan Supervisi dan
pengguna Jasa.

Shop drawing yang telah mendapat persetujuan dapat dilaksanakan oleh


Kontraktor. Kontraktor wajib membuat koreksi-koreksi terhadap Shop
drawing sesuai dengan pengarahan Konsultan Supervisi dan Pengguna Jasa.
PROSEDUR PEMERIKSAAN SHOP DRAWING

MULAI

SHOP DRAWING
(GAMBAR KERJA)
Diajukan Kontraktor

PEMERIKSAAN DAN EVALUASI


SHOP DRAWING

TIDAK
SESUAI

YA

PERSETUJUAN
KONSULTAN

SHOP DRAWING
SEBAGAI DASAR
PELAKSANAAN

SELESAI
6.3.2. PENGENDALIAN KONTRAK

a. Penyusunan Program Pelaksanaan

Setelah penandatanganan kontrak, Kontraktor akan segera mengajukan


rencana kerja yang akan disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Pengguna
jasa.

Rencana kerja yang diperlukan antara lain:

 Rencana mobilisasi.
 Rencana yang memperlihatkan tahap-tahap pelaksanaan dan cara yang
dipakai dalam pelaksanaan tersebut.
 Rencana penyedia bahan/material dan peralatan yang disesuaikan dengan
tahap pelaksanaan (Jadual Pelaksanaan atau Construction Schedule).
 Rencana pekerjaan tambahan apabila disyaratkan dalam Kontrak.
 Rencana pengaturan lalu lintas selama pelaksanaan pekerjaan.
b. Pertemuan Pendahuluan (Pre Construction Meeting)

Pertemuan ini dilakukan antara Employer (PPTK/Pengguna jasa dan staf)


bersama Konsultan dan Kontraktor yang diselenggarakan secepatnya pada
masa pelaksanaan mobilisasi.

Tujuan pertemuan ini adalah untuk membahas dan mendapatkan persamaan


pengertian terhadap pasal demi pasal dari Dokumen Kontrak, mengingat
masih sering adanya perbedaan penafsiran dari isi Dokumen Kontrak yang
memerlukan pembahasan dan kesamaan pemahaman.

Laporan hasil pertemuan tersebut dipakai sebagai perlengkapan dokumen


kontrak.

6.4. PELAKSANAAN PENGAWASAN

6.4.1. UMUM

Secara umum konsultan akan menyediakan jasa pengawasan teknik dan jasa
dalam hal adanya perubahan desain untuk proyek, guna menjamin bahwa
pelaksanaan mengikuti Gambar Rencana dan Dokumen Kontrak Fisik.

Perlu adanya suatu program kerja yang konsepsional, efektif dan efisien
sedemikian rupa untuk pekerjaan konsultan pengawas sehingga setiap aktivitas
kerja terprogram dengan baik dalam rangka mencapai target sukses pekerjaan.

Program kerja yang akan dilaksanakan disesuaikan dengan ketentuan dalam


Kerangka Acuan Kerja.

Dalam penyusunan program kerja antara lain dan tidak terbatas berdasar:

• Ruang lingkup pekerjaan

• Volume pekerjaan
• Batas Waktu
• Jumlah Personil
• Peralatan yang dipakai
• Arahan Pemberi Tugas/Pengguna Jasa
• Aspek-aspek teknis dan non teknis lainya.

Secara garis besar program kerja tersebut diuraikan seperti berikut ini
melaksanakan pekerjaan secara tepat waktu, tepat mutu dan tepat biaya maka
akan dilaksanakan pengawasan sesuai dengan jadual kerja dan tugas masing-
masing personil.
6.4.2 MASA MOBILISASI KONTRAKTOR

Pada masa mobilissi kontaktor, kegiatan Konsultan Pengawas diantaranya


adalah sebagaiberikut:
a. Memeriksa data survey yang akan digunakan.
b. Memberikan rekomendasi bagi Pemberi Tugas didalam tahapan kegiatan
pelakasanaan.
c. Membantu Pemberi Tugas untuk memeriksa dan memecahkan masalah yang
mungkin akan muncul.
d. Memeriksa dan menyetujui daftar bahan/material, peralatan dan personil
yang akan didatangkan, fasilitas base camp dan lokasi penempatan peralatan.
e. Memeriksa dan mempersiapkan cara perhitungan kuantitas dan prosedur
pemeriksaan mutu (quality control).
f. Memeriksa pemasangan patok garis tengah jalan dan DAMIJA (ROW).
g. Memeriksa dan menyetujui segi keamanan dari pengaturan lalu lintas di
dalam proyek.
h. Memeriksa dan meyetujui jumlah dan mutu bahan/ material yang disediaan
oleh kontraktor.
i. Memeriksa dan menyetujui jadual Pelaksanaan yang dibuat oleh Kontraktor.
j. Memeriksa dan meyetujui Gambar Kerja dan stake out yang disiapkan oleh
kontraktor.

Sebagaimana diatur dalam persyaratan kontrak, kontraktor harus menyerahkan


rencana kerja terinci dan cara atau metoda pelaksanaanya. Hal ini harus
diperhatikan didalam format Critical Path Network (CPN), dan didukung oleh
jadual-jadual sumber daya yang menjelaskan tentang jenis dan jumlah pelaratan
yang dipergunakan, jumlah personil yang meliputi pekerjaan manajemen teknik
tenaga terampil dan semi terampil, buruh dan lain sebagainya yang akan
dipekerjakan.

Begitu jadual untuk mengantisipasi pengiriman material-material penting,


terutama untuk pengiriman jangka panjang dan akibat cuaca buruk. Selain itu,
memuat pula ketentuan metoda pelaksanaan kerja, lokasi fasilitas untuk borrow
pits, spoil tips, quarries, jalan-jalan untuk angkutan material, stock piles,
concrete atau asphalt batching plants. Perlu dipertimbangkan faktor-faktor
seperti kondisi geologis setempat, potensi dampak lingkungan, metoda
pelaksanaan kerja yang ekonomis terutama yang berkaitan dengan sumber-
sumber material agar tidak terjadi pemborosan sumber-sumber alami.

Data yang dikirim kontraktor, perlu dikaji ulang secara hati-hati oleh konsultan
pengawas dan bila perlu didiskusikan dengan kontraktor, agar detail program
yang sudah diterima atau disetujui oleh engineer dapat disepakati oleh kedua
pihak.
Pada bagian ini Konsultan ingin lebih menekan/ menjelaskan secara rinci
kegiatan pada Masa Mobilisasi Kontraktor ini, terutama adalah mengenai
kegiatan rapat/pertemuan sebelum konstruksi.

A. Rapat Pra Pelaksanaan (Pre Contruction Meeting)

Sebelum memulai kegiatan/pekerjaan, perlu sekali diadakan terlebih dahulu


pertemuan antara unsur proyek, Dinas terkait, kontraktor dan konsultan. Hal
ini dilakukan, agar semua pihak dapat menyamakan persepsi terhadap
bagian-bagian yang tertuang didalam Dokumen. Kontrak Fisik, sehingga
dalam pelaksanaan pekerjaannya nanti tidak akan terjadi penafsiran yang
berbeda antara satu dengan yang alainnya, baik perbedaan penafsiran dari
segi administrasi maupun segi teknisnya.
Dalam rapat ini ada beberapa hal yang perlu disepakati bersama:

1) Kesamaan pengertian terhadap pasal-pasal Dokumen Kontrak yang


menyangkut:
• Pekerjaan tambah kurang
• Temination atau For Feiture
• Mobilisasi
• Maintenace & Protection of Traffic
• Asuransi
2) Kesamaan Tentang Tata Cara dan Prosedur Administrasi menyangkut:
• Request, Approval & Examination of Works
• Drawing
• Sertifikat Pembayaran Bulanan (Monthly Certificate) dan Eskalsi
3) Kesamaan Tentang Tata Cara & Prosedur Teknis Pelaksanaan Pekerjaan
Utama Major (Items) menyangkut:
 PHO dan FHO
 Addendum Kontrak
 Pondasi Jembatan dan Bangunan Atas
 Rigid pavement pada segmen yang ber LHR tinggi + traffic Man • Soil
Stabilitation
 Produksi Agregat untuk pondasi jalan
4) Kemungkinan adanya perubahan komposisi jumlah peralatan atau urutan
kegiatan pekerjaan yang telah dituangkan kedalam Mobilisation Program
Construction schedule yang telah disepakati menjelang penandatanganan
kontrak.

B. Rekayasa Lapangan (Field Engineering)

Setelah hasil rapat Pra Kostruksi tersebut dilaksanakan, maka dibuat


notulennya yang dibagikan dan dibuat sebagai pegangan oleh unsur- unsur
yang diundang. Sebelum rekayasa lapangan ini dilaksanakan, maka
Kontraktor belum bisa memulai kegiatan pekerjaan.

Maksud dari kegiatan rekayasa lapangan adalah untuk meninjau kembali


secara menyeluruh dan melengkapi rencana rinci (Detail Design) yang telah
tertuang dalam Dokumen Kontrak Fisik, didasarkan atas hasil survey yang
mendetail di lapangan oleh Kontraktor dan diawasi oleh Konsultan, serta
didampingi/dipantau oleh pihak Proyek.

Prosedur yang digunakan adalah prosedur yang sudah baku dan biasa
dilaksanakan dalam setiap kegiatan proyek Ke-Bina Marga-an. Selanjutnya
atas dasar rekayasa lapangan dan desain lapangan (Field Design) tersebut
dihitung kembali kebutuhan biaya proyek yang sesungguhnya.

Secara garis besar kegiatan rekayasa lapangan dibagi dalam tiga kegiatan,
yaitu:
 Survey
 Evaluasi Hasil Survey (menjadi Field Design)
 Perhitungan kuantitas dan biaya yang dibutuhkan.

Untuk mengetahui survey apa yang diperlukan, terlebih dahulu harus


diketahui mengenai keperluan Field Design apa yang akan dibuat, kemudian
baru akan ditetapkan data yang diperlukan dan formulir-formulir apa saja
yang dibutuhkan untuk mengumpulkan data survey tersebut.

Adapun kegiatan rekayasa lapangan umumnya terdiri dari


1) Pematokan Stasioning

Pekerjaan ini adalah memasang patok stasion (STA) pada lokasi proyek
yang akan dilaksanakan pekerjaan konstruksi fisiknya. Pekerjaan
stasioning adalah pekerjaan pengukuran jarak dengan mengunakan alat
ukur roll meter panjang (50 m) yang dimulai dari titik awal proyek
sampai titik akhir dari proyek tersebut biasanya dengan interval 25 m.
Pada umumnya titik awal proyek lebih dikenal dengan sebutan Stasion
(ST A) 0+000.

2) Pengukuran Alinyemen dan Potonaan Melintang

Survey pengukuran dilakukan dengan pesawat ukur (T-0, T-2,


Waterpass/Wp). Pengukuran dengan menggunakan alat ukur tersebut
biasanya dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan peningkatan atau
pekerjaan pembangunan. Sedangkan untuk pekerjaan pemeliharaan
rutin maupun berkala, biasanya tidak dilakukan seteliti pekerjaan
peningkatan atau pembangunan. Tujuan dari pengukuran ini adalah
untuk mendapatkan data pembuatan Plan dan profil (situasi) serta
potongan melintang (Cross Section).

3) Survey Kondisi Jalan

Kegiatan Survey ini untuk menetapkan:


 Penambalan (Patching) dan Over Painting
 Tebal dan lebar perkerasan jalan dan bahunya.
 Saluran tepi (side ditch) dan bangunan - bangunan drainase
 Struktur pengaman jalan, seperti: bronjong, TPT, dll.
 Pekerjaan lain-lain (miscellaneous) seperti: pemotongan dan
penanaman pohon, tanda-tanda lalu lintas (Traffick Sign), trotoar,
median/ kerb, patok penuntun dan patok pengaman.

4) Survey kondisi drainase yang ada dan yang dibutuhkan


Data yang tercatat dari hasil kegiatan survey drainase akan digunakan
untuk menghitung besarnya volume akibat dibuatnya konstruksi
berikut:
 Peninggian badan jalan
 Saluran tanah (un-line ditch)
 Saluran dengan pasangan (line dith)
 Gorong-gorong pipa
 Gorong-gorong kotak (box culvert)
 Drainase bawah (sub Drain)

5) Survey Kondisi Struktur yang ada dan yang Dibutuhkan

Dari hasil survey ini diperlukan untuk menunjang pekerjaan jalan,


diantaranya untuk peningkatan badan jalan (apabila diperlukan
pasangan batu pada tepi badan jalan yang ditinggikan), TPT, Bronjong,
ground rip-rap un-ground rip-rap, perbaikan jembatan, pelebaran dan
penggantian jembatan.

6) Survey Perkerasan Jalan

Data hasil survey ini diperlukan untuk menghitung kembali (up-date)


kuantitas dari perkerasan jalan (lebar dan tebal) dan bahu jalan (lebar
dan tebal) yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan proyek,
karena hasil dari perhitungan kuantitas ini merupakan major work item
yang nilainya dapat mencapai sekitar 60% dari nilai kontrak (untuk
pekerjaan peningkatan jalan) dan sekitar 50% dari nilai kontrak proyek
pemeliharaan jalan.

C. Evaluasi Hasil Survey Rekayasa Lapangan

Untuk menyederhanakan hitungan kuantitas, maka perlu dikelompokan


dalam beberapa item pekerjaan yaitu:

 Drainase
 Struktur
 Perkerasan
 Reinstatement
 Pekerjaan-pekerjaan lain
Sebagai himpunan dari seluruh pekerjaan rekayasa lapangan (field
engineering) dan perhitungan kuantitas, maka data-data tersebut dibuat dan
disusun pada contoh formulir terlampir.

Tiap kelompok perhitungan dimulai dari STA 0+000 sampai dengan STA
akhir. Pada lembar akhir (setelah STA akhir) dari setiap kelompok kuantitas
(tiap item mata pembayaran) dijumlahkan, sehingga diketahui kebutuhan
tiap mata pembayaran yang sesungguhnya. Untuk mendapatkan kebutuhan
biaya, maka kuantitas dikalikan dengan harga satuan yang ada dalam
Dokumen Kontrak Fisik.

D. Mutual Check / Review Desian

Kontraktor dan panitia peneliti pelaksanaan kontrak bersama-sama


konsultan pengawas melakukan Mutual Check terhadap:

• Gambar Rencana
• Volume tiap kegiatan
Konsultan pengawas mempersiapkan pertimbangan teknis (Technical
Justification) terhadap Review Design yang diajukan antara lain yang
menyangkut:

 Penambahan/pengurangan volume yang tercantum dalam kontrak.


 Dihapusnya suatu jenis pekerjaan
 Perubahan spesifikasi untuk suatu jenis pekerjaan
 Mangubah Peil Ukuran letak dari suatu jenis pekerjaan
 Memunculkan suatu jenis pekerjaan baru
 Memeriksa dan melakukan koreksi yang diperlukan terhadap gambar
kerja yang diajukan oleh kontraktor
 Memberikan masukan kepada PPTK tentang penyesuaian diperlukan
dalam
 Bentuk Justifikasi Teknik.
 Setelah melakukan mutualcheck maka dibuatkan berita acara selambat-
lambatnya 30 hari setelah serah terima lapangan serta dibuatkan Contract
Change Order (CCO) dan Amandemen Kontrak

6.4.3. MASA KONSTRUKSI

A. Penyusunan Laporan

Untuk keperluan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan di


lapangan dibuat Buku Harian, Mingguan dan Bulanan. Segala peristiwa dan
kejadian yang penting di lapangan direkam dalam laporan tersebut untuk
dipergunakan sebagai pegangan dalam pengambilan keputusan.

1) Laporan Bulanan dan Harian

Laporan Bulanan berisikan kemajuan fisik kumulatif bulanan dari


kompilasi laporan mingguan dan hal-hal serta kejadian-kejadian
penting yang timbul dalam bulan bersangkutan yang nantinya akan
dijadikan sebagai dasar dalaam perhitungan pembuatan Berita Acara
Statement untuk tagihan pembayaran bulanan atau termin. Buku
Laporan Bulanan berisikan:
 Laporan mingguan
 Laporan fisik secara kumulatif
 Dokumentasi Kegiatan setiap item pekerjaan

B. Pembayaran Prestasi Pekerjaan


Pembayaran prestasi hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh kontraktor
pada umunya dilakukan dengan dua cara:
1) Pembayaran dengan sistem sertifikat bulanan atau monthly certificate.
2) Pembayaran dengan sistem Termijn, yakni pembayaran setelah hasil
pekerjaan fisik kontraktor mencapai kemajuan pada suatu nilai
prosentase tertentu.
Adapun untuk pekerjaan yang mengambil/menganut Sistem Termijn,
pembayaran diatur sebagai berikut:
 Setelah prestasi pekerjaan telah mencapai nilai prosentasi tertentu
sesuai disyaratkan dalam dokumen kontrak. Kontraktor diperbolehkan
untuk mengajukan tagihan pembayaran secara tertulis kepada PPTK
dan Pejabat Pembuat Komitmen (PjPK)/KPA disertai dengan lampiran
daftar rincian masing-masing volume pekerjaan yang telah diselesaikan
beserta harga satuan dan jumlahnya.
 Atas Permintaan PPTK. Direksi Teknik akan melaksanakan penelitian
dan pengecekan lapangan (field check) atas kebenaran laporan hasil
pekerjaan yang telah dilaksankan. Hasilnya dituangkan kedalam Berita
Acara Kemajuan Fisik dan Berita Acara Pembayaran yang
ditandatangani oleh Kontraktor, Direksi dan PPTK.
 Memeriksa progress fisik dan data pendukung termasuk kuantitas dan
jumlah harga yang selesai dilaksanakan dan telah disetujui direksi
dalam bulan bersangkutan.
 Menandatangani progress fisik sebagai tanda sudah selesai diperiksa.

C. Perubahan Pekerjaan, Pekerjaan Tambah dan Percepatan Waktu


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)/KPA mempunyai kewenangan, sesuai
dengan kontrak untuk melaksanakan perubahan pekerjaan di lapangan
antara lain:
 Menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum didalam
kontrak.
 Menghapus atau bahkan mengadakan jenis pekerjaan baru.
 Mengubah spesifikasi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan.
 Mengubah ketinggian, kedudukan dan ukuran dari bagian-bagian
pekerjaan. Melaksanakan pekerjaan tambahan yang diperlukan untuk
menyelesaikan seluruh pekerjaan.
Untuk menghindari terjadinya perbedan pendapat kelak dikemudian hari
antara pihak Kontraktor dan Proyek mengenai hal tersebut di atas, maka
segala perintah perubahan agar:
 Dibuat secara tertulis dan ditandatangani ketiga pihak.
 Usulan atas perubahan pekerjaan dan PPTK atau Kontraktor yang
ditandatangani dengan negosiasi atas dasar kewajaran harga pada saat
itu.
 Segala perubahan harus dituangkan dalam addendum kontrak.

Pekerjaan mengenai pekerjaan tambah adalah sebagai berikut:

1) Pekerjaan Tambah adalah suatu pekerjan yang terjadi sebagai akibat


kondisi lapangan yang tidak dapat dielakan dalam rangka penyelesaian
pekerjaan secara keseluruhan. Sedangkan pekerjaan kurang adalah
berkurangnya volume pekerjaan yang karena alasan tertentu dipasang
tidak perlu/tidak dapat dilaksanakan walaupun sudah tercantum
didalam kontrak.

Pengertian pekerjaan tambah/kurang dibedakan dalam 2 jenis yaitu:

a. Pekerjaan tambah/kurang yang berupa kenaikan atau turunnya


volume pada item tertentu yang sudah ada kesepakatan harga
satuannya didalam kontrak.
b. Pekerjaan tambah/kurang akibat variation order atau Change Order
yang belum ada kesepakatan harga satuannya didalam kontrak.

3) Pekerjaan tambah/kurang akibat kenaikan atau penurunan volume


dapat diajukan untuk penetapan harga tanpa melalui proses ijin prinsip
terlebih dahulu. Pengajuan dilakukan secara bertahap tanpa menunggu
seluruh perhitungan volume pekerjaan.

a. Dalam keadaan mendesak PPTK dapat memberikan perintah


perubahan secara tertulis dan kontraktor harus memenuhi perintah
tersebut. Namun demikian, selambat-lambatnya 3 (tiga) hari semua
perintah lisan tersebut harus telah ditindaklanjuti dengan perintah
tertulis.

b. Dalam hal melampaui kontrak pekerjaan tambah/ kurang agar segera


diajukan untuk mendapatkan persetujuan penetapan harga sesuai
kebutuhan, dan ditindaklanjuti dengan addendum. Perubahan
addendum dapat dilakukan beberapa kali tanpa harus menunggu
sampai proyek mendekati selesai.

D. Rapat Pembuktian / Show Cause Meeting


Dalam rangka pembinaan terhadap industri jasa konstruksi, apabila PPTK
menghadapi kontraktor dengan kondisi kritis, sebelum menentukan tindak
lanjut perlu dilakukan rapat pembuktian dengan memberikan uji coba
terhadap kontraktor yang lazim disebut Show Cause Meeting (SCM) atau
Rapat Pembuktian.

Untuk tahap awal kesepakatan penyelenggaraan SCM cukup dilakukan pada


lingkung proyek dengan test uji coba kemampuan kontraktor dengan
mengadakan pertemuan lengkap semua unsur yang terkait antara Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan, Direksi teknik dan kontraktor untuk membahas
dan menyepakati bersama nilai kemajuan progress fisik dan periode waktu
yang diperlukan yang dituangkan dalam berita acara SCM dan
ditandatangani bersama.

Apabila sampai dengan batas waktu yang telah disepakati ternyata


kontraktor gagal untuk menunjukkan kemajuan prestasi fisiknya, maka
perlu diselenggarakan pertemuan lanjutan SCM Tingkat Pejabat Pembuat
Komitmen (PjPK)/KPA.

Dan apabila sampai batas waktu yang telah disepakati ternyata kontraktor
masih gagal maka dilanjutkan pada tingkat Kepala Dinas sebagai Pengguna
Anggaran.
Pada pertemuan SCM tingkat Kepala Dinas, Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK)/KPA, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan dan Kontraktor membahas
dan mengevaluasi segala permasalahan yang menjadi penyebab
keterlambatan pekerjaan di lapangan. Pada kesempatan ini kontraktor masih
diberikan kesempakatan untuk menunjukkan kemampuan kerjanya melalui
test case dengan meyepakati nilai kemajuan progress fisik tertentu pada
periode waktu tertentu dan kesepakatan ini dituangkan dalam Berita Acara
SCM.

Apabila sampai SCM di tingkat Kepala Dinas, kontraktor gagal untuk


menunjukan kemampuan kerjanya dalam uji coba tersebut, maka langkah
pengamanan dan penyelamatan proyek yang dapat diusukan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen/Kuasa pengguna Anggaran adalah Pemutusan Kontrak.

Mengevaluasi sebab-sebab timbul keterlambatan ditinjau dari semua aspek:


• Majemen (Termasuk aspek financial)
• Pelaksanaan
• Teknis
• Adiministratif
• Logistik/mobilisasi
Memberikan usul/saran jalan keluar khususnya terhadap aspek yang
menyebabkan keterlambatan.

Memberikan usulan tentang alternatif penyelesaian yang terbaik dalam


bentuk LAPORAN KAJIAN ALTERNATIF PENYELESAIAN.

E. Perpanjangan Waktu Pelaksanaan (Extention of Time)

Pada prinsipnya waktu yang disepakati dalam surat Perjanjian/Kontrak


adalah tetap namun demikian apabila dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut
ada hal yang layak untuk diberikan perpanjangan waktu, maka PPTK segera
menetapkan jumlah hari yang telah disetujui tersebut.
Penetapan perpanjangan waktu tersebut tidak boleh menunggu sampai
PHO/serah terima sementara.
Adapun yang dimaksud dengan hal-hal yang layak untuk perpanjangan
waktu, meskipun tidak mengakibatkan perpanjangan waktu total adalah:
 Pekerjaan tambah
 Perubahan desain
 Bencana Alam
 Kesulitan Material
 Force Majeur
 Cuaca yang sangat buruk (hujan)

Keterlambatan pelaksanaan karena cuaca/hujan tidak dapat dibenarkan


sebagai alasan unutuk perpanjangan waktu kontrak, kecuali curah hujan
yang sangat tinggi pada waktu pelaksanaan kontrak bukan pada tahun
sebelumnya.
Konsultan pengawas wajib memberikan rekomendasi kepada Pejabat
Pembuat Komitmen (PjPK)/KPA tentang perpanjangan waktu yang layak
diberikan dalam bentuk Technical Justfication.
F. Denda (Liquidated Damage)
Denda adalah salah satu sanksi yang dikenakan kepada pihak kontraktor
karena keterlambatan dalam penyelesaian pelaksanaan pekerjaan yang tidak
sesuai dengan jadual waktu yang telah disepakati dalam kontrak.
Ketentuan besarnya denda tergantung kepada klausul yang tercantum
didalam syarat-syarat umum kontrak. Untuk menyegarkan kembali ingatan
PPTK bahwa besarnya pengenaan denda bisa bervariasi tergantung kepada
rujukan yang dipakai apabila:

 Berdasarkan ketentuan dalam Kepres 16/94 besarnya denda adalah 1%


per hari dari nilai kontrak tanpa batas maksimal

 Besarnya denda setinggi-tingginya 5 % dari nilai kontrak.

 Berdasarkan ketentuan ADB/IBDR (Guide Lines) 0,5 % dari nilai


kontrak dengan waktu keterlambatan 25% dari total waktu konstruksi.

G. Serah Terima Pekerjaan


Menjelang penyelesaian seluruh pekerjaan menurut kontrak, kontraktor
dapat mengajukan permintaan secara tertulis kepada Direksi untuk
melaksanakan penyerahan pertama pekerjaan (Provisional Hand Over)
dengan menyebut/menunjuk wakil dari kontraktor untuk keperluan tersebut.
Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima surat tersebut. Direksi
memberitahukan secara tertulis kepada kontraktor mengenai jadual waktu
rencana pemeriksaan pekerjaan oleh staf proyek/bagian proyek atau Panitia
yang ditunjuk oleh direksi.
Staf proyek atau panitia PHO yang ditunjuk oleh PPTK selaku penanggung
jawab kegiatan mempunyai tugas antara lain:
 Melakukan penilaian teknis hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh
kontraktor yang akan diserahterimakan kepada Pejabat Pembuat
Komitmen.
 Ruang Lingkup serah terima pekerjaan terdiri dari:
 Penyerahan pertama pekerjaan atau penyerahan pekerjaan sementara
(PHO), Masa pemeliharaan (Waranty Period), Penyerahan pekerjaan
kedua atau penyerahan pekerjaan akhir (FHO).

1) Penyerahan pertama pekerjaan (PHO)


a. Kontaktor telah menyelesaikan pekerjaan fisik keseluruhan dari
setiap pekerjaan sesuai ketentuan yang tercantum dalam dokumen
kontrak.
b. Kontraktor mengajukan permohonan tertulis untuh serah terima
pekerjaan yang ditujukan kepada Engineer dengan mencalonkan
wakilnya yang diserahi tugas untuk Penyerahan Pertama (PHO).
c. Direksi Teknis mengadakan penelitian dalam waktu 10 hari dari
tanggal diterima surat permohonan PHO.
d. Pemilik/Direksi setelah memberitahukan tsb akan mengirim
pemberitahuan secara tertulis kepada kontraktor dengan
memberitahukan komposisi dari panitia.
e. Dalam tempo 28 hari sejak surat pemberitahuan dari pemilik harus
sudah ke proyek/site/ lapangan.
f. Direksi Teknis harus sudah membuat program test-test yang akan
dilakukan panitia dan diberitahukan kepada kontraktor.
g. Kontraktor mempersiapkan segala sesuatu sehubungan dengan
kunjungan panitia ke lapangan dan menyelenggarakan test-test yang
bersangkutan yang dilampirkan dalam berita acara.
h. Agar ada waktu bagi kontraktor untuk memperbaiki kekurangan-
kekurangan dan cacat tersebut, panitia harus memberikan tenggang
waktu sebagaimana diatur dalam syarat-syarat umum dan khusus
kontrak.
i. Apabila defects & deticiencies tersebut disebabkan oleh material dan
workmanship kontraktor yang kurang baik (kesalahan Kontraktor),
maka perbaikan tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor.
Apabila bukan kesalahan kontraktor, maka perbaikan harus
dikerjakan kontraktor dan merupakan pekerjaan tambah dalam
kontrak.
j. Konfirmasi bahwa defects & deficiencies telah diperbaiki semuanya
oleh kontraktor dilampirkan lagi dalam Berita Acara dan tanggal
Penyerahan Pekerjaan Pertama decertified. Dengan sendirinya harus
didahulukan kontraktor dan merupakan pekerjaan tambah dalam
kontrak.

2) Tugas Konsultan Pengawas Dalam PHO


a. Konsultan pengawas memberikan rekomendasi kepada PPTK semua
usulan yang diajukan kontraktor yang sudah memenuhi syarat.
b. Memberikan Laporan hasil pemeriksaan lapangan dengan perkiraan
tangal pekerjaan akan dapat selesai 100 %.

c. Membantu panitia PHO menyediakan data pendukung yang


diperlukan seperti:
 Laporan Harian
 Laporan Hasil Pengukuran
 Laporan Hasil Pengujian
 Data-data tambahan yang diminta panitia
 Surat menyurat yang diperlukan

d. Memeriksa sisa perhitungan akhir yang diajukan kontraktor setelah


dilakukan Berita Acara Serah Terima Pertama (PHO) yang meliputi:
 Harga Kontrak yang tercantum dalam kontrak
 Perhitungan kuantitas dan nilai akhir masing-masing mata
pembayaran,
 semua tambahan/perubahan yang tercakup dalam perintah
perubahan dan day work.
 Perhitungan tambah/kurang/Denda (bila ada)
 Penyesuaian
e. Menyetujui sisa perhitungan akhir
f. Menandatangani Berita Acara PHO.

3) Warranty Period
Selama masa pemeliharaan (Warranty Period = WP) kontraktor wajib
memelihara sehingga kondisi tetap seperti pada saat Penyerahan Pertama
Pekerjaan (PHO) disahkan oleh Panitia. Untuk maksud tersebut
kontraktor harus menyediakan beberapa peralatan dan personil yang
cukup di tempat pekerjaan.
Apabila terdapat kerusakan-kerusakan dan cacat selama WP karena
penggunaan material dan workmanship kontraktor yang kurang baik
(kesalahan Kontraktor), maka kontraktor dibebani untuk memperbaikai
dan membiayainya. Sebaliknya apabila bukan kesalahan kontraktor /
maka kontraktor wajib memperbaiki dan masukan dalam tambahan
pekerjaan.
Apabila kontraktor tidak bisa memperbaiki kerusakan-kerusakan selama
WP karena berbagai sebab. Maka pemilik pekerjaan dapat menunjuk
pihak lain untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dan biayanya
dibebankan kepada kontraktor dengan dipotongkan dari uang kontraktor
yang masih ditahan oleh Employer yang berupa Retention Money.

4) Penyerahan Kedua Pekerjaan (Final Hand Over/FHO)


Serah Terima Kedua Pekerjaan (Final Hand Over/FHO) agar diatur
sebagai berikut:
 Kontraktor wajib mengajukan surat permohonan sehubungan dengan
penyerahan akhir pekerjaan dengan disertai prosedur FHO pada akhir
masa pemeliharaan (WP).
 Permohonan tertulis diajukan paling lambat 21 hari sebelum berakhir
masa pemeliharaan (WP).
 Direksi Teknis akan merekomendasikan PPTK dan selanjutnya PPTK
menerbitkan sertfikat FHO kontraktor, dengan syarat kontraktor telah
menyelesaikan semua kewajiban selama WP dengan baik. Dalam hal
ini kontraktor segera diberitahu secara tertulis dan Bank Garansi untuk
bisa dicairkan (untuk dana yang berbantuan Loan).
BAGAN ALIR PENGAWASAN PEKERJAAN KONSTRUKSI

Gambar Kerja, Metoda


Kerja Dokumen
kontrak/Spesifikasi

Perintah
Penggantian Bina Marga Penyesuaian
Perubahan Lapangan
(Change Order)

Yes

Yes Konstruksi

Periode Pengawasan
Kualitas
Tuntutan Keadaan
Memaksa

Negosiasi Ukuran Hasil


Konstruksi

Periode Pengawasan
Pembayaran Kuantitas

Gambar
Terpasang

Dokumen
Konstruksi

Pengiriman

Mulai Pekerjaan
Pemeliharaan
6.5. PEMERIKSAAN MANUAL PEKERJAAN

6.5.1. DRAINASE

Ketentuan dalam pekerjaan drainase meliputi:

1) Aliran air harus berjalan lancar, sebelum, selama dan sesudah pekerjaan
pematusan. Air tersebut dapat berasal dari sistem pematusan yang sudah ada
ataupun pada hari hujan. Pemeriksaan pada saat hari hujan mutlak
dilakukan.
2) Mengusahakan kelancaran air tersebut dapat berarti menyediakan peralatan
(pompa air, saluran-saluran darurat, alat pengerukan dan sebagainya) atau
tenaga/regu pekerja (galian, membersihkan sumbatan-sumbatan, menying-
kirkan hambatan-hambatan dan sebagainya).
3) Kelancaran pematusan harus dijamin keandalannya sebelum dilakukan
pekerjaan tanah dasar (subgrade) ataupun penumpukan material yang peka
terhadap air, atau kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat pemadatan.
4) Bahan-bahan/meterial untuk konstruksi pematusan perlu diperiksa secara
acak (random) mengenai dimensi dan mutunya.
5) Periksa alignment, posisi dan ketinggian secara teliti (pilih titik-titik penting
tertentu ditarik dari titik referensi pokok atau titik pembantu lain yang
dijamin ketepatannya).
6) Periksa bouwplank dengan roll meter mengenai dimensi konstruksi yang
akan dibangun. Bouwplank adalah dasar bentuk yang merupakan awal
pekerjaan. Jika ini salah, maka semua akan salah.
7) Periksa secara acak kualitas material konstruksi selama pekerjaan
berlangsung paling tidak secara tampak mata (visual).
8) Sebelum atau selama pekerjaan berlangsung perhatikan kelurusan, dan
kerapihan dari konstruksi yang terletak di atas tanah dan mudah dilihat
orang.
9) Pemadatan tanah pengisi (back fill) dapat diperiksa secara tampak mata
dengan alat bantu (uji coba/proff rolling dengan mesin gilas palu, ujung
sepatu, besi beton atau tongkat kayu) dibandingkan dengan hasil Pemadatan
yang telah diuji sebelumnya.
10) Konstruksi saluran yang telah selesai dapat diuji coba dengan mengalirkan
air dan dilihat apakah ada air yang menggenang atau cepat habis karena
bocor di saluran.
DIAGRAM ALIR Langkah Kegiatan

PEKERJAAN SALURAN
 Sebelum konstruksi di mulai
Mulai pengecekan harus dibuat untuk
Pengajuan Gambar Kerja mengkonfirmasikan bahwa kontraktor
Persetujuan untuk mempunyai semua data dan gambar
Pengajuan Bahan

sesuai harus dimiliki di awal kontrak.


Pemeriksaan
5 Pemeriksaan Langkah 5
Menyusun Persiapan  Mengkonfirmasikan pemenuhan
8

material yang diusulkan sesuai dengan


Pemeriksaan
6
bunyi kontrak.
Penyiapan Bahan Batu
9
 Jika diterima akan disetujui, jika tidak
Kontraktor harus menyampaikan
Pekerjaan Pasangan Batu
Pekerjaan Pasangan Batu
7 & 10
Muka
11
proposal alternative.
Pemeriksaan Langkah 6
Pemeriksaan

 Tidak ada Adukan pekerjaan beton


12

Perbaikan Pekerjaan
dilakukan sebelum pondasi pasangan
batu disetujui.
Pengukuran Pekerjaan Akhir

 Untuk lapisan pekerjaan beton.


Pengawasan Pemeliharaan
Rutin  Parit untuk adukan pekerjaan beton.
13

Berita Acara  Lapisan pembungkus yang dapat


Pemeriksaan Akhir
Pekerjaan
menyerap dan kantung filter.
Selesai
Pemeriksaan Langkah 9
 Dibersihkan dari semua cacat.
 Secara menyeluruh dibasahi sewaktu
penyerapan terjadi sebelum
diletakkan.
Pemeriksaan Langkah 7 & 10
 Penempatan terbatas diperluas untuk
memastikan bahwa batu ditempatkan
pada adukan segar.
 Batu ditempatkan pada 3 cm adukan
segar.
 Bungkus/selimut yang tertutup
terhadap masing-masing yang lain
untuk mendapatkan ketebalan
diperlukan.
 Bekerja dari bawah miring naik ke
atas.
 Jasa yang selesai untuk diobati.
 Percabangan miring dan bahu kanan
kiri untuk memastikan alat
penghubung ketat dan smooth.
Pemeriksaan Langkah 11
 Adukan pekerjaan beton dibangun di
dalam formatnya.
 Konstruksi tanpa Format mungkin
diijinkan dila ada pengucian kuat dan
menggunakan adukan kaku.
 Permukaan yang terekspos akan
diselesaikan dan dirawat.
Pemeriksaan Langkah 12
 Pengawasan untuk toleransi dimensi.
 Mempersiapkan daftar cacat dan
defisiensi yang harus dikoreksi
sebelum pembayaran sertifikat
tagihan.
Pengawasan
Tetap mencatat semua pekerjaan
pemeliharaan

DIAGRAM ALIR Kegiatan


 Sebelum konstruksi dimulai
pengecekan harus dilakukan untuk
konfirmasi bahwa kontraktor sudah
mempunyai data dan gambar yang
sesuai dengan bunyi kontrak
Pemeriksaan Langkah 3
 Memeriksa hasil survai lapangan
kontraktor untuk kelengkapan dan
ketelitian
 Jika laporan defisiensi tidak dapat
diterima, dikembalikan kepada
kontraktor
 Kontraktor, mengoreksi defisiensi
tsb. dan menyampaikannya kembali
Pemeriksaan Langkah 6
 Konfirmasikan pemenuhan material
yang diusulkan dengan yang
tercantum di kontrak
PARIT SALURAN AIR  Jika bisa diterima akan disetujui tapi
Mulai jika tidak kontraktor harus

Survey Lapangan
menyampaikan alternatif proposal
Tidak

lain
Pemeriksaan
3 Pemeriksaan Langkah 7
Ya

Rencana Gambar Kerja  Meninjau ulang proposal kontraktor

Pelaporan Gambar Kerja


untuk pekerjaan temporer
 Jika tidak bisa diterima menasehati
Permintaan untuk
Persetujuan Material
Tidak kontraktor tentang alas an untuk hal

Pemeriksaan
tsb.
6

Ya
 Kontraktor untuk meninjau ulang
Pekerjaan
Pas. Batu Kali
Perubahan Pekerjaan proposal dan menyampaikannya lagi

Tidak
Pemeriksaan Pemeriksaan Langkah 8
17
Pemeriksaan
7
 Memeriksa prioritas penyetingan
Ya
Perbaikan
Pekerjaan
Penerapan Hasil Survai
sebelum memulai pelaksanaan fisik
Tidak Pemeriksaan Langkah 12
Pemeriksaan Survai Akhir
8

Ya
 Mengikuti formasiaktivitas
Berita Acara

Perkiraan Galian
Pemeriksaan Akhir
Pekerjaan pekerjaan tanah untuk dicek garis
Tidak
Selesai
dan level tanah
Format Laporan Akhir
 Jika diterima kontraktor boleh
Pemeriksaan melakukan aksinya dengan
15
Ya

pekerjaan pembetonan dan


mengikuti aktivitas lainnya
Pemeriksaan Langkah 17
 Mempersiapkan daftar cacat dan
defisiensi bahwa harus diperbaiki
sebelum tagihan disetujui

6.5.2. PEKERJAAN TANAH DASAR

1) Periksa secara acak patok-patok alignment serta ketinggian (biasanya diberi


cat merah) tentang letak/peil tanah dasar, peil subbase, base dan peil akhir,
sesuaikan dengan gambar rencana.
2) Periksa konsistensi, sifat visual tanah dasar yang sudah ada dan belum
dikerjakan/dipadatkan apakah merata atau tidak. Tanah yang kelihatan
lunak atau melendut waktu digilas dan selalu tampak basah harap
dikonsultasikan dengan Pengawas ahli.
3) Benda-benda/batang pohon dapat mengganggu proses Pemadatan, oleh
karena itu harus disingkirkan dari permukaan tanah dasar minimal sampai
level 25 cm.
4) Pemadatan tanah dasar dapat dilakukan dengan alat-alat yang sesuai (untuk
yang cukup panjang dan lebar dengan vibrator roller, pneumatic roller atau
stell wheel roller) dengan kadar air yang berkisar sekitar 2% - 3% dari
optimum moisture contentnya. Apabila belum mampu secara visual
menetapkan kadar air setempat, dapat dibantu dengan speedy moisture
tester.
5) Tanah dasar yang sudah selesai dipadatkan diuji secara acak dengan sand
cone atau rubber ballon 2 lubang untuk setiap 200 m dipilih pada tempat
yang kelihatan paling lemah, pada titik 0,50 m dari tepi perkerasan atau
mendekati jejak ban di tengah jalur.
6) Selama pekerjaan tanah berlangsung, terutama pada musim hujan,
pematusan perlu diperhatikan untuk tidak menimbulkan genangan.
Pengujian kepadatan hendaknya diadakan tidak lama sebelum tanah dasar
tersebut ditutup dengan lapis lainnya.
7) Tempat-tempat terlentu yang tidak memenuhi persyaratan kepadatan harus
dibongkar sedalam 25 cm, digaruk kemudian dipadatkan kembali seperti
proses semula. Apabila tidak ada peningkatan kepadatan harap
dikonsultasikan dengan Pengawas ahli.
8) Karena pada proyek ini dimana faktor waktu sangat penting, maka
Kontraktor perlu diingatkan untuk menyiapkan plastik pelindung hujan bagi
keperluan melindungi tanah dasar terhadap kadar air yang tinggi.
9) Pada pekerjaan oprit atau timbunan perlu diperhatikan bahwa:
a. Timbunan dikerjakan lapis demi lapis max 10-20cm padat.
b. Pada tempat yang sudah bisa ditimbun segera dilakukan penimbunan.
Penimbunan yang cepat akan mengakibatkan bahaya longsor, kena
tekanan pori masih tinggi. Batas tinggi timbunan setiap saat ditetapkan
dan dikonsultasikan dengan Pengawas ahli.
c. Menjelang dekat dengan dinding kepala jembatan diisi dengan
material berbutir dan dipadatkan dengan stamper.
d. Periksa tersedianya saluran rembesan pada dinding kepala jembatan.
Apabila untuk timbunan digunakan meterial bukan tanah, maka
diperlukan prosedur tersendiri.
10) Periksa bahan timbunan secara acak kesesuaiannya dengan persyaratan
spesifikasi.
Sebelum dipakai untuk timbunan periksa kadar airnya (secara visual atau
dengan speedy moisture tester).
a. Bila terlalu basah, perlu digelar dan dipanaskan di bawah sinar
matahari.
b. Bila terlalu kering perlu disiram dengan springkler dan diaduk sampai
rata.
DIAGRAM ALIR Kegiatan
PEKERJAAN TIMBUNAN Pemeriksaan

Mulai
Potongan melintang yang terperinci
Pemberitahuan Mulai Kerja
 Dua buah 50 kg contoh bahan pengisi
Pengaturan Lalu Lintas
5
yang diusulkan
Uji Coba Pemadatan
 Hasil test density/ kepadatan
Tidak
8

 Pernyataan asal dan hasil test


Pemeriksaan

Ya
8
Pemeriksaan Langkah 8
Keadaan
Cuaca
Jadwal
Pelaksanaan
Kondisi
Lapangan
 Verifikasi peralatan kompaksi
4 6 7

 Mentukan jumlah yang lewat


Persiapan Lapangan
9

Penentuan Lokasi
Pemeriksaan Langkah 7
Penimbunan
10
 Bekerja untuk menjaga tetap kering
Pelaksanaan Penimbunan
11

selama penghamparan
Pemadatan
12 Tidak  Air yang tersedia untuk mengontrol MC
Pemeriksaan Perintah
12

Ya
15  Semua meterial yang tak sesuai
Laporan Lapisan Timbunan

dipindahkan
Pemeriksaan
14 & 15 Pemeriksaan Langkah 10
Perbaikan
Pekerjaan
1
6  Ketika diperlukan penyelesaian instalasi
Pengukuran Kuantitas
pelat. Penandaan disurvei
Berita Acara
Pemeriksaan Akhir
 Sesudah itu dimonitor dan dicatat
Pekerjaan

Selesai
Pemeriksaan Langkah 14 dan 15
 Hasil disampaikan dalam bentuk tulisan
 Test kepadatan/densitas
 Pengujian pengukuran permukaan
 Tidak ada pekerjaan sebelum ada
persetujuan
Pemeriksaan Langkah 16
 Pengisian tidak disarankan untuk toleransi
profil atau permukaan
 Terlalu kering untuk kompaksi
 Terlalu basah untuk kompaksi
 Pengisian akan menjadi jenuh setelah
dikompaksi
 Tidak menjumpai test kepadatan/density
 Pengisian yang telah menjadi rusak oleh
banjir menggelincir atau menggeser
 Pekerjaan diterima akan disurvei untuk
catatan pengukuran.

6.5.3. LAPIS PONDASI BAWAH (SUBBASE)


1) Data material Lapis Pondasi Bawah (LPB) yang menyatakan tempat asal
meterial dan sifat-sifatnya perlu dikuasai bersama dengan contoh meterial
tersebut dan harus selalu berada di kantor proyek siap untuk digunakan
sebagai pembanding sewaktu-waktu diperlukan. Perlu dilakukan
pameriksaan uji secara acak kapan saja dipandang oleh Pengawas perlu
untuk meyakinkan sifat material yang datang.
2) Penempatan tumpukan material harus memperhatikan letaknya untuk tidak
mengganggu pekerjaan, lalu lintas umum dan bahaya tergenang air.
3) Menghampar material LPB harus pada permukaan tanah dasar (subgrade)
yang sudah selesai dikerjakan maximum 20 cm tebal dan dengan kadar air
yang sesuai. Butiran yang lebih besar dari yang diijinkan di dalam
spesifikasi harus dibuang.
4) Peralatan pemadatan harus telah diuji keandalannya sebelum mulai dipakai,
jenisnya, jumlahnya dan bahan/peralatan pendukungnya (misalnya tangki
air, bahan bakar dan sebagainya).
5) Penggilasan dimulai dari tepi berjalan sejajar as jalan, bertahap menggeser
ketengah dan diusahakan untuk berjalan terus tanpa berhenti sampai
tercapai kepadatan yang diinginkan.
6) Pemeriksaan uji kepadatan dilakukan dengan sand cone method atau rubber
ballon pada tempat yang ditetapkan secara acak oleh Pengawas kira-kira 2
lubang setiap jarak 100 m.
7) Ketebalan, kemiringan dan kerataan harus sesuai dengan gambar rencana
dan persyaratan spesifikasi. Toleransi kerataan, jika diperiksa dengan mal
datar (straightedge) 3 m dan mal lengkung, tidak boleh lebih dari 1,5 cm.
Penambahan tebal (bila ternyata tebal jadi kurang dari persyaratan) hanya
boleh dilakukan dengan terlebih dahulu menggaruk daerah yang tipis
tersebut sedalam tebal yang ada, menambahkan material baru dan
dipadatkan ulang.
DIAGRAM ALIR Kegiatan
PEKERJAAN BAHU Pemeriksaan Langkah 1
Mulai
 Pemberitahuan susunan lapisan
Menentukan
Daerah Milik Jalan  Laporan harus di buat apabila dalam
gambar kerja ada perbedaan
Pemeriksaan
1
Penyampaian
Instruksi
Pemeriksaan Langkah 4
 Mengkaji/mengatur arus lalulintas
Pengajuan Material
Yang Digunakan
 Jika kontraktor tak mencukupi untuk
Pengaturan
Arus Lalu Lintas
dinasehatkan maka
Tidak

Pemeriksaan Langkah 5
Pemeriksaaan

 Kontrakor membawa contoh


4

Ya
Permohonan
Persetujuan
Material
material yang akan digunakan,
Tidak
Ya
apibila tidak disetujui maka
Pemeriksaaan

Ya
5
pemborong harus membawa contoh
Persiapan
Tanah Dasar
material yang baru untuk
Tidak
Pemeriksaaan persetujuan
10
Pemeriksaaan
6 Perbaikan  Jenis material harus memiliki
Ya Pekerjaan

Kondisi Cuaca
prosedur persetujuan masing-masing
Tidak
Peninjauan Pekerjaan Akhir
 Jika tidak disetujui pemborong harus
Pemeriksaan
7 Pengawasan dan Pelaporan menyampaikan kembali contoh baru
Ya Perawatan Rutin

Penghamparan & untuk persetujuan


Pemadatan Bahu
Berita Acara
Pemeriksaan Pekerjaan Pemeriksaan Langkah 6
Selesai  Mempersiapkan tanah dasar sampai
permukaan yang telah disetujui
 Pekerjaan perbaikan telah di
selesaikan dan di setujui
Pemeriksaan Langkah 7
 Kontraktor harus mematuhi segala
ketentuan dalam penghamparan
material
Pemeriksaan Langkah 10
 Penyebaran material yang
dipadatkan harus sesuai dengan
spesifikasi
 Bentuk dari lapisan terdiri dari
beberapa lapisan, masing-masing
lapisan akan di periksa dan disetujui
sebelum dan sesudah lapisan
berikutnya dihampar
 Ukuran bahu harus di periksa
 Kontrakot harus memperbaiki
pekerjaan yang kurang
Setelah pekerjaan perbaikan selesai
dan dilakukan pengukuran ulang

Kontraktor bertanggung jawab Selama


masa pemeliharaan, pekerjaan akan
dibayar penuh setelah masa
pemeliharaan selesai
6.5.4. LAPIS PONDASI ATAS (BASE COURSE, LPA)
1) Pendatangan material LPA diperlukan sama seperti pada 3.1 dan 3.2.
2) Menghampar material LPA harus di atas permukaan LPB yang sudah selesai
dikerjakan, dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan
pemisahan butir.
3) Pekerjaan persiapan dan pemeriksaan akhir diperlukan sama pada 3.4, 3.5,
3.6 dan 3.7.
4) Toleransi kerataan, jika diperiksa dengan mal datar (3 m) dan mal lengkung
tidak boleh lebih dari 1 cm.
DIAGRAM ALIR

LAPISAN PONDASI  Konfirmasikan bahwa kontraktor


Mulai mempunyai semua data dan gambar yang
relevan
Pemberitahuan Mulai Kerja
3

Pemeriksaan Langkah 3
Pengaturan Lalu Lintas
5  Mengirimkan dua contoh material 50 kg.
Kondisi Cuaca
4
 Rincian sumber dan uji laboratorium.

Persiapan Pembentukan
Pemeriksaan Langkah 4
6

 Pekerjaan
Tida\k

atau pemadatan selama hujan


pemeriksaan
6
tidak dibenarkan, tapi dilakukan segera
Ya

setelah hujan.
Menghampar
7

Pemeriksaan Langkah 5
Pemadatan

 Pemenuhan kebutuhan untuk pemeliharaan


8

Tida\k
Pengujian
9

Perbaikan
arus lalu lintas.
Pemeriksaan Langkah 6
Pemeriksaan

 Kerusakan pada perkerasan atau bahu jalan


9

Ya
Tida\k

Laporan Hasil Pekerjaan


11 Perbaikan Pekerjaan yang ada telah diperbaiki.
Lapisan Pondasi yang

 Sedikitnya 100 m disetujui sebagai lapisan


tidak Memuaskan
12

Pemeriksaan
11 & 12

Ya
utama.
Pemeriksaan Akhir Pekerjaan
 Permukaan jalan yang ada untuk

Berita Acara Kuantititas


digemburkan.
Pemeriksaan Langkah 7
Selesai

 Seragam pada koreksi kandungan


kelembaban.
 Lapisan lapisan yang sama dan koreksi
ketebalan.
 Penyebaran mestinya tidak menyebabkan
pemisahan.
 Min Dan Max Ketebalan Lapisan
Pemeriksaan Langkah 8
 Kepadatan dari tiap lapisan paling sedikit
95% mdd (Kepadatan isi kering).
 Tenaga ahli boleh menetapkan jenis
peralatan untuk kompaksi permukaan
terakhir.
 kompaksi hanya dilakukan ketika kandungan
kelembanan adalah di dalam range yang
ditetapkan.
 Pemutaran prosedur.
 Penumbuk atau kompaktor mekanik
ditempatkan pada jalan masuk lokasi.
Pemeriksaan Langkah 9
 Mengacu kepada material dan pengujian
 Menutup kembali semua lubang uji.
Pemeriksaan Langkah 11
 Hasil analisis tingkatan dan Indeks uji
plastisitas.
 Hasil uji pengukuran permukaan.
Pemeriksaan Langkah 12
 Toleransi ketebalan permukaan di luar batas
yang ditetapkan.
 Bagian dasar terlalu kering untuk kompaksi.
 Bagian dasar terlalu basah untuk kompaksi.

Bagian dasar yang tidak bertemu dengan


densitas atau kebutuhan material yang
dimiliki.

6.5.5. LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT


Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada
permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal
berikutnya. Lapis Resap Pengikat harus dihampar di atas permukaan yang bukan
beraspal (misalnya Lapis Pondasi Agregat), sedangkan Lapis Perekat harus
dihampar di atas permukaan yang beraspal (seperti Lapis Penetrasi Macadam,
Laston, Lataston dll).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah:
• Penyiapan Permukaan Yang Akan Disemprot Aspal
• Takaran dan Temperatur Pemakaian Bahan Aspal
• Pelaksanaan Penyemprotan
DIAGRAM ALIR Pemeriksaan langkah 3

LAPIS PERESAP DAN  Percobaan tersebut harus sesuai dengan


LAPIS PENGIKAT
spesifikasi
Mulai
Pemeriksaan langkah 4
 Pemeriksaaan dengan alat instrument
Pemberitahuan Mulai Kerja
Tidak

meteran yang telah disertifikasi / kalibrasi


Pemeriksaan
3-7
untuk penggunaan aspal dari distributor,
Ya
dan harus sesuai dengan spesifikasi
Pengaturan Lalu Lintas
Pemeriksaan langkah 5
 Permeriksaaan hasil penyemprotan
Kondisi Kondisi
Persiapan Lapangan
Cuaca Lokasi Kerja
9 10 7 dengan cara Manual

Uji Coba
 Membuat laporan sebelum memulai kerja
Penyemprotan
11
Pemeriksaan langkah 6
Penyemprotan Lapisan
12
 Memeriksa contoh material yang
diajukan, yang akan digunakan pada
Pemeriksaan
Tidak
Ya 13 setiap pelaksaaan pekerjaan.
Perbaikan
Pekerjaan Mengarsipkan pelaksanaan pekerjaan
harian dan digunakan untuk standar
Pemeliharaan Lapisan
14 - 15
14 - 15
pemakaian material
Pemeriksaan langkah 7
Pengukuran kuantitas
 Struktur, Pohon Atau bangunan lain yang
Berita Acara bersebelahan dengan area kerja harus
Pemeriksaan Akhir
Pekerjaan
dilindungi untuk mencegah dari
Selesai
kerusakan saat penyemprotan.
 Tidak ada cairan aspal yang tercecer
dimanapun pada sisi parit atau saluran
 Pemborong harus menyediakan dan
memelihara saat memanaskan di lokasi
kerja dan mencegah kebakaran dan
menjaga batas ukuran dan menyediakan
P3K dan fasilitas lainnya
Pemeriksaan langkah 9
 Lapisan Aspal Peresap dan Lapis aspal
pelekat tidak boleh diterapkan saat hujan
atau jika hujan deras
Pemeriksaan langkah 10
 Permukaan yang akan dilapisi harus bebas
dari kotoran debu dan material lainnya.
 Luas Pembersihan sedikinya kurang lebih
20 cm ke luar tepi area yang disemprot
 Terakhir permukaan disapu agar terbebas
dari kotoran lain.
Pemeriksaan langkah 11
 Pemborong harus melakukan uji coba
dalam bidang kertas sebagai tingkat
peneyesuaian ukuran yang akan
digunakan
Pemeriksaan langkah 12
 Pemakaian Lapisan
Pemeriksaan langkah 12
 Pemeriksaan untuk toleransi, pemborong
akan mengajukan hasil pekerjaan, apabila
diluar batas spesifikasi maka hasilnya tak
dapat diterima
Pemeriksaan langkah 14 - 15
 Permukaan yang telah dilapisi prime coat
atau tack coat harus dijaga / dipelihara
sampai terpasang lapisan berikutnya dan
Lalu lintas tidak diijinkan melintasi
permukaan yang di prime coat atau tack
coat sampai aspal telah meresap dan
mengering.

6.5.6. LAPIS PERMUKAAN (SURFACE COURSE)


1) Setelah pekerjaan LPA diterima dengan baik, pada waktu akan memberikan
lapisan prime coat di atasnya, kebersihan permukaan harus diusahakan
secara maksimal dengan alat kompresor, dan jika terlalu kering perlu
diperciki dengan air sedikit agar lembab.
2) Semua pekerjaan aspal dan campuran aspal mensyaratkan bebas air dan
cuaca yang panas agar tercapai kelekatan maksimal dari bahan aspal yang
digunakan.
3) Pemberian prime coat diusahakan memakai alat asphalt distributor atau
hand sprayer dan dengan cara sedemikian agar dijamin kerataannya dan
dengan jumlah cukup per meter persegi (tidak kurang dan diusahakan tidak
berlebih). Sering karena miring jalan, prime coat mengalir dan mengumpul
di tepi jalan, bagian yang berlebih ini perlu disapu kembali kebagian yang
kurang.
4) Sebelum prime coat kering (dengan arti masih dapat menempel ban
mobil/lalu lintas) permukaan jalan harus ditutup untuk lalu lintas. Prosedur
4.4.5.1. sid 4.4.5.4 berlaku Jika disyaratkan menggunakan prime coat. Jika
dipakai ATB yang baru, sering tidak disyaratkan adanya prime coat atau
maksimal diperlukan tack coat yang tipis. Jika tidak ada kejelasan dalam
spesifikasi harap konsultasi dengan Pengawas Ahli.
5) Pencampuran di AMP merupakan proses tersendiri yang perlu diamati
secara ketat sesuai dengan job mix yang telah disetujui. Pengamatan ini akan
dilakukan oleh Pengawas.
6) Perhatikan temperatur campuran yang datang sebelum dihampar, dapat
dilakukan test/pemeriksaan acak dari waktu ke waktu agar temperatur selalu
diperhatikan oleh pekerja-pekerja penghamparan.
7) Persiapan penghamparan seperti misalnya pengaturan tebal penghamparan,
urut-urutan mesin pemadat dan sebagainya sudah harus siap di tempat.
Urutan Kerja:
 Pemadatan pertama pada saat hamparan mempunyai temperatur
minimum 1100C dikerjakan Tandem Roller (TR) 2 atau 3 lintasan.
 Pemadatan kedua pada saat hamparan mempunyai temperatur minimum
800C dikerjakan dengan (PTR).
 Pemadatan akhir pada saat hamparan mempunyai temperatur minimum
600C dikerjakan dengan TR berat minimal 10 ton, sebanyak 2–3 lintasan
atau sampai bekas-bekas roda Pneumatic Tired Roller (PTR) hilang.
Kontinuitas proses pemadatan hendaknya selalu diusahakan karena
temperatur merupakan faktor penting dalam sifat ductilitas aspal yang
berpengaruh terhadap kepadatan aspal. Sebelum temperatur turun bahan
hamparan tersebut harus mendapat jumlah lintasan mesin pemadat yang
cukup.
Gerakan mendadak, menyentak, berhenti atau membelok tajam dari mesin
gilas selalu membuat bekas pada lapis yang dipadatkan. Hendaknya ini
dihindari. Tekanan ban pada PTR supaya diperiksa disesuaikan per-
syaratan/manual mesin.
8) Tebal penghamparan pada waktu belum dipadatkan perlu sering diperiksa
(kira-kira 1,3 x tebal hamparan setelah padat) sehingga diharapkan pada
waktu periksa uji dengan core drill tidak akan menimbulkan persoalan.
9) Setelah selesai pemadatan akhir dapat dilakukan pemeriksaan mal lengkung
dan mal datar.
10) Perbedaan kerataan bila diperiksa dengan mal datar 3 m dan mal lengkung
tidak boleh lebih dari 0,5 cm.

DIAGRAM ALIR Pemeriksaan Langkah 3 - 6


 Memeriksa contoh semua material
yang diajukan, yang akan digunakan
 Memeriksa laporan hasil Pengujian
semua material yang akan digunakan
 Memeriksa job mix formula bersama-
sama dengan hasil ujicoba kepadatan
campuran dan grafiknya.
 Memeriksa material aspal yang
diajukan untuk digunakan dengan
statemen seperti sumbernya,
bersama-sama dengan data uji
Pemeriksaan Langkah 9
 Periksa tempat AMP apakah
mempunyai kapasitas alat finisher
yang cukup untuk menyelesaikan
jalan secara kontinyu pada kecepatan
normal dan ketebalan yang
diperlukan
 Penggerekan, penyebaran, finishing
CAMPURAN ASPAL PANAS
dan peralatan kompaksi harus sesuai
Mulai

dengan spesifikasi.
Pemberitahuan
Mulai Kerja

Ya
Tidak
Pemeriksaan Langkah 10
Pemeriksaan
3-6
 Kontraktor akan menempatkan
bagian percobaan sedikitnya 50 ton
Rencana
Kebutuhan
Konstruksi Tidak untuk masing-masing pekerjaan job
Ya
mix formula yang disetujui dengan
Pemeriksaan
9
menggunakan produk yang diusulkan
Langkah
Pengujian 10
dan menempatkan peralatan serta
memeriksa prosedurnya.
Persiapan Pengaturan Lalu
Kondisi Cuaca
Lapangan Lintas
8 11 7
Pemeriksaan Langkah 11

Persiapan Bahan Persiapan Bahan  Permukaan akan ditutup dari lalu


Aspal Persiapan Bahan Agregat
12 Campuran 14
lintas kendaraan dan harus
Pengiriman Campuran
Material ke Lokasi 15
dibersihkan dari material lepas yang

Penghamparan
mengganggu. saat Tack Coat atau
Campuran
Material 16
Prime coat akan diterapkan sesuai
Pemadatan
17 dengan daftar aktivitas.

Pemeriksaan
Tidak
Pemeriksaan Langkah 12
18

 Mempersiapkan material bahan aspal.


Ya
Perbaikan Pekerjaan

Pengukuran Kuantitas Pemeriksaan Langkah 13


Pemeliharaan Rutin
Berita Acara  Mempersiapkan bahan agregat.
Kuantitas

Pemeriksaan Langkah 14
Selesai

 Mempersiapkan campuran.
Pemeriksaan Langkah 15
 Campuran akan dikirim ke lapangan
pada temperatur dalam batas absolut
yang ditunjukkan dalam spesifikasi.
Pemeriksaan Langkah 16
 Campuran akan dihampar pada nilai
ketebalan yang ditetapkan, bentuk
elevasi dan potongan melintang.
 Penghamparan harus dimulai dari
jalan yang lebih rendah
 Mesin vibrator harus diaktifkan
selama penggelaran dan finising.
 Tingkat penghamparan harus
disetujui oleh tenaga ahli.
Pemeriksaan Langkah 17
 Pemadatan
Pemeriksaan Langkah 18
 Pengecekan untuk toleransi bagi
Kontraktor sangat dibutuhkan atau
mempertimbangkan hal yang tidak
sesuai spesifikasi.
 Pekerjaan pemberesan
 Jumlah penyelesaian kerja.
 Pemeliharaan rutin.
 Jaminan kuantitas.

6.5.7. KONSTRUKSI BETON


Pelaksanaan pekerjaan Struktur beton mengacu pada ketentuan:
1) Pekerjaan yang disyaratkan dalam Konstruksi beton mencakup pelaksanaan
seluruh struktur beton, termasuk tulangan, struktur pracetak dan komposit,
sesuai dengan Spesifikasi dan sesuai dengan garis, elevasi, kelandaian dan
dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar, dan sebagaimana yang
diperlukan oleh Direksi Pekerjaan.
2) Pekerjaan ini akan meliputi pula penyiapan tempat kerja untuk pengecoran
beton, pemeliharaan pondasi, pengadaan lantai kerja, pemompaan atau
tindakan lain untuk mempertahankan agar pondasi tetap kering.
3) Mutu beton yang akan digunakan pada masing-masing bagian dari
pekerjaan dalam Kontrak haruslah seperti yang ditunjukkan dalam Gambar
atau Seksi lain yang berhubungan dengan Spesifikasi beton, atau
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
4) Syarat dari PBI NI-2 1971 harus diterapkan sepenuhnya pada semua
pekerjaan beton yang dilaksanakan dalam Kontrak ini,

DAGRAM ALIR Pemeriksaan Langkah 4


 Periksa Pemenuhan material diusulkan
dengan kebutuhan yang ada dalam Kontrak
Pemeriksaan Langkah 5
 Periksa disain proporsi campuran untuk
untuk masing-masing jenis beton
Pemeriksaan Langkah 6
 Konfirmasikan proporsi campuran dengan
cara mencoba mencampur
Pemeriksaan Langkah 7
 Periksa hasil percobaan kekuatan beton
untuk 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari
kekuatan
Pemeriksaan Langkah 8
 Periksa gambar dari pekerjaan yang salah
Pemeriksaan Langkah 9 – 10
 Penggalian untuk pekerjaan beton agar
dijaga tetap kering, bebas dari lumpur, sisa
gerusan dalam air
 Materi yang dibungkus dengan aman
PEKERJAAN BETON
mengikat dan mendukung terhadap
Mulai
penggantian
Persetujuan Rencana
Gambar Kerja
 Format adalah sambungan adukan, rigid dan
Perencanaan Campuran
kaku dengan tepi yang tajam
Pemberitahuan Mulai Kerja
Pemeriksaan Langkah 11

Pemeriksaan
 Menggunakan Air bersih & kumpulan
4-8

agregat
Pengaturan Lalu Lintas
 Beton yang terbentuk oleh berat dan yang
Persiapan Lapangan Dan
Rencana Campuran dicampur oleh suatu mesin yang
9 - 10

dioperasikan secara mekanik


Pencampuran Dan
Pengadukan
11  Kemerosotan beton di luar kebutuhan tidak
Pengecoran Campuran diijinkan
Beton
12 - 14
 Campuran beton yang telah dicampur jika
12 - 14

Pekerjaan Akhir Dan


Perawatan
ditambah air haraus disesuaikan dengan
15-18

spesifikasi
Pemeriksaan
19
Pemeriksaan Langkah 12 – 14
Perbaikan
Pekerjaan  Penempatan dilanjutkan tanpa
menghentikan suatu sambungan yang
Pengukuran Kuantitas

disetujui atau sampai pekerjaan selesai


Berita Acara
Pemeriksaan Akhir
Pekerjaan  Tidak ada pemisahan dari partikel halus
Selesai
maupun kasar
 Beton tidak terbuang dengan dengan
percuma ke dalam tinggi format yang lebih
besar dari 150 cm
 Penempatan dilakukan pada tingkat dimana
selalu ditempati beton yang masih plastis
 Sambungan konstruksi dilengkapi dengan
aturannya
 Untuk Memperkuat beton jika
menggunakan alat penggetar mekanik
eksternal atau internal harus dengan cara
benar dan sesuai prosedur
Pemeriksaan Langkah 15 – 18
 Formwork tidak boleh diganggu sampai
dengan 30 jam setelah penyelesaian
pekerjaan. Karena struktur didiamkan,
sampai test menandakan ada sedikitnya 60%
dari kekuatan disain
 Semua hasil pekerjaan beton yang cacat atau
berlubang harus difinishing atau ditambal
dengan campuran semen portland
 Setelah pekerjaan Beton harus dilindungi
dengan bahan basah/disiram air untuk
menjaga hasil pekerjaan.
Pemeriksaan Langkah 19
 kemungkinan toleransi tetap ada. Karena
pekerjaan Pemborong dapat dikoreksi dan
dipertimbangkan diterima atau tidaknya
pekerjaan tersebut.

6.5.8. PASANGAN BATU


Pelaksanaan pasangan batu adalah mengikuti langkah sebagai berikut:
1) Persiapan Pondasi
• Pondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan
persyaratan.
• Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar
pondasi untuk struktur dinding penahan harus tegak lurus, atau bertangga
yang juga tegak lurus terhadap muka dari dinding. Untuk struktur lain,
dasar pondasi harus mendatar atau bertangga yang juga horisontal.
• Lapis landasan yang rembes air (permeable) dan kantung penyaring
harus disediakan bilamana disyaratkan sesuai dengan ketentuan.
• Bilamana ditunjukkan dalam Gambar, atau yang diminta lain oleh
Direksi Pekerjaan, suatu pondasi beton mungkin diperlukan. Beton yang
digunakan harus memenuhi ketentuan spesifikasi.

2) Pemasangan Batu

• Landasan dari adukan baru paling sedikit 3 cm tebalnya harus dipasang


padapondasi yang disiapkan sesaat sebelum penempatan masing-masing
batu pada lapisan pertama. Batu besar pilihan harus digunakan untuk
lapis dasar dan pada sudut-sudut. Perhatian harus diberikan untuk
menghindarkan pengelompokkan batu yang berukuran sama.
• Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka
yang tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang
terpasang.
• Batu harus ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau
memindahkan batu yang telah terpasang. Peralatan yang cocok harus
disediakan untuk memasang batu yang lebih besar dari ukuran yang
dapat ditangani oleh dua orang.
• Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekejaan yang baru
dipasang tidak diperkenankan.

3) Penempatan Adukan

• Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai


merata dan dalam waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan
air mendekati titik jenuh. Landasan yang akan menerima setiap batu juga
harus dibasahi dan selanjutnya landasan dari adukan harus disebar pada
sisi batu yang bersebelahan dengan batu yang akan dipasang.
• Tebal dari landasan adukan harus pada rentang antara 2 cm sampai 5 cm
dan merupakan kebutuhan minimum untuk menjamin bahwa seluruh
rongga antara batu yang dipasang terisi penuh.
• Banyaknya adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu waktu
haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang pada adukan baru yang
belum mengeras. Bilamana batu menjadi longgar atau lepas setelah
adukan mencapai pengerasan awal, maka batu tersebut harus dibongkar,
dan adukannya dibersihkan dan batu tersebut dipasang lagi dengan
adukan yang baru.
DIAGRAM ALIR
PASANGAN BATU STRUKTUR
 Memeriksa contoh material yang
Mulai
dipergunakan oleh kontraktor. Kebutuhan
Persetujuan Gambar
Kerja
dilapangan disesuaikan dengan spesifikasi
Pemberitahuan Mulai
Kerja
yang ada
Tidak
Pemeriksaan Langkah 5
 Mempersiapkan galian pondasi
Pemeriksaan
4

Ya

Langkah Pengerjaan Pemeriksaan Langkah 6


pondasi
5-7

 Dimana diperlukan lapisan serap air dan


Penempatan Material
Batu Belah 8-9

Pemasangan
dan bak control
Sulingan air

Pasang
13-14
Pemeriksaan Langkah 7
Campuran Adukan

 Diperlukan bekisting untuk pekerjaan


10-12

Pekerjaan Akhir
Pasangan Baru
beton
15-16

Pemeriksaan Langkah 8
 Adukan semen
Pemeriksaan
17 setebal 3 cm akan
Perbaikan Pekerjaan
ditempatkan sebelum pasangan batu pilihan
Pengukuran Kuantitas Pemeriksaan Langkah 9
Pekerjaan

 Batu diletakan secara memanjang dan


Berita Acara
Pemerikasaan Pekerjaan
teratur
Selesai
Pemeriksaan Langkah 10
 Sebelum diletakkan, batu akan dibersihkan
dan secara menyeluruh dibasahi. Alas
untuk batu dilembabkan dan kemudian
diberi adukan semen diantara celah batu
Pemeriksaan Langkah 11
 Seluruh celah antar batu diisi dengan
adukan semen
Pemeriksaan Langkah 12
 Tingkat lapisan adukan semen harus segera
diletakan pada seluruh permukaan batu,
jangan dibiarkan terlalu lama
Pemeriksaan Langkah 13
 Tembok penahan tanah harus dilengkapi
dengan sulingan air
Pemeriksaan Langkah 14
 Pekejaan tembok penahan jarak disetiap 20
m digunakan sambungan penguat
Pemeriksaan Langkah 15
 Hubungan antar batu harus saling
mengunci
Pemeriksaan Langkah 16
 Kerusakan lapisan atas tembok tidak
kurang dari 2 cm yang diakibatkan oleh
iklim
Pemeriksaan Langkah 17
 Pemeriksaan kualitas pekerjaa. Kontraktor
akan memperbaiki pekerjaan yang kurang
sebelum di serah terimakan
6.5.9. KONSTRUKSI JEMBATAN

1) Titik as jembatan akan disurvey terlebih dahulu diteliti dengan baik,


terutama pengecekan ketinggian dan koordinat BM yang ada sebagai
referensi dari lokasi jembatan.
2) Pada waktu pemancangan perlu diadakan kalendering. Bila Kontraktor
belum punya formulir baku untuk ini harap menghubungi Pengendali.
Kelayakan alat pancang juga harus diyakinkan (mengenai jenis dan beratnya
palu pancang, alat-alat penunjangnya dan sebagainya) sebelum dimulai
pemancangan.
3) Bouwplank penting untuk diperiksa untuk memastikan dimensi pondasi
yang akan dibuat sudah benar.
4) Bekisting perlu diperiksa levelnya, ketebalannya rencana beton, kedap air
serta kebersihannya sebelum dilakukan pengecoran.
5) Penting diperiksa penulangan beton pada saat menjelang pengecoran,
diameter tulangan, jarak tulangan, beton dekking, ikatan tulangan dan jarak
efektif. (Jarak h efektif adalah jarak tulangan tarik ke tepi luar beton yang
tertekan).
6) Khusus mutu beton dekking sering sangat lunak dan tebalnya sembarangan.
Pemeriksaan praktis adalah menginjak beton dekking dengan tumit sepatu
dengan seluruh berat badan. Beton dekking yang baik tidak akan pecah.
7) Pada wakktu siap cor, semua permukaan bekisting harus bersih, kalau perlu
ditiup dengan kompresor.
8) Material/bahan bangunan atas perlu diperiksa secara visual. Bila tampak
cacat-cacat produksi ataupun akibat pengangkutan, harap menghubungi
Pengawas Ahli.
9) Mutu beton perlu diperiksa slumpnya setiap batch, dan pembuatan kubus
test sesuai persyaratan spesifikasi.
10) Penting diperiksa adalah perawatan beton dengan cara disirami setiap kali
agar tetap basah, dilindungi pakai karung basah atau pasir basah. Perawatan
beton dilakukan selama tidak kurang dari 14 hari
DIAGRAM ALIR Pemeriksaan Langkah 3
 Memeriksa kiriman kontraktor jenis
PERLETAKAN / DUDUKAN (BEARINGS)
GELAGAR JEMBATAN
bearing yang diusulkan bersama-
Mulai
sama dengan sertifikat Pabrik.
Pengajuan Gambar
Kerja Pemeriksaan Langkah 4
 Memeriksa gambar kerja yang
Pemberitahuan Mulai
Kerja
Tidak menandakan teknik pendirian dan
instalasi
Pemeriksaan
3-5

Ya
Pemeriksaan Langkah 5
Persiapan Lahan  Memeriksa kiriman contoh material
6

yang diusulkan
Menentukan Jenis
Bearing
Pemeriksaan Langkah 6
Bearing Bearing  Selimut Material akan tergantung
Bearing Selain Meletakan Bearing
Menggunakan Menggunakan Beton
Elastomer Langsung di Plat
Elastomer Pracetak / Baja
7 8 9 10 pada metoda pemasangan bearing,
ukuran celah yang akan diisi,
Pemeriksaaan
11
kekuatan diperlukan dan pengaturan
Perbaikan Pekerjaan
waktu yang dibutuhkan. Material
biasanya digunakan adalah sementasi
Pengukuran Kuantitas

atau mortar resin kimia, spesisemen


Pemeliharaan Rutin
dan pengepakan kering
Berita Acara
Pemeriksaan akhir  Untuk memastikan tiap pemuatan
Pekerjaan

bearing, selimut material akan


Selesai
meluas ke seluruh area bearing
Pemeriksaan Langkah 7
 Kunci geser atau palang/baut
penekan akan diatur dengan teliti ke
dalam struktur dan celah yang tersisa
dan terisi oleh material yang mampu
menahan beban yang terlibat
 Jika struktur bangunan bagian bawah
dari baja, bearing barangkali
beranjak secara langsung ke
dalamnya
 Jika bearing diset terlebih dulu di set
di pabrik memesan maka ketetapan
untuk pergerakan bagian yang
relevan dapat dibuat
Pemeriksaan Langkah 8
 Bearing elastomer mungkin
diletakkan secara langsung pada
beton, disediakan di dalam toleransi
yang ditetapkan untuk kerataan
Pemeriksaan Langkah 9
 Rangka kerja di sekitar bearing akan
menutup untuk mencegah kebocoran
bahan pengisi. Pelat geser akan
mendukung untuk mencegah
kemiringan, penggantian atau
penyimpangan selama memperkeras
operasi
Pemeriksaan Langkah 10
 Suatu lapisan tipis adukan pengeras
sintetis yang digunakan antara
bearing dan gelagar memanjang.
Sebagai alternatif, bearing dengan
pelat bearing bagian luar barangkali
dibaut ke pelat angker, ke soket yang
menempel pada elemen-elemen
beton pracetak, atau ke pelat tapak
kaki mesin pada elemen baja
Pemeriksaan Langkah 11
 Bearing tidak sesuai dengan toleransi
dimensi , atau tidak secara tepat
diinstal dan atau rusak selama
penanganan dan pendirian akan
dipindahkan dari lokasi dan
digantikan
DIAGRAM ALIR Pemeriksaan Langkah 3
Expansion Joints  Memeriksa contoh ynag
Mulai disampaikan kontraktor dan
rincian pengisi sambungan dan
Pemberitahuan Mulai Kerja
penutup yang diusulkan untuk
Pemeriksaan digunakan. Bahwa itu sesuai
3-4

dengan kebutuhan spesifikasi.


Persiapan
Penyambungan Plat Pemeriksaan Langkah 4
 Ketika kebutuhan sambungan
Pemasangan
Pemasangan
Sambungan memakai
Pengisi 5
Sambungan Langsung
7
diusulkan, Kontraktor akan

Penutup Sambungan
menyampaikan detil sambungan
Pemeriksaan
Elastis
6 10
yang meliputi pekerjaan gambar
Perbaikan

Pemeriksaan
Pekerjaan dan sertifikat pabrik untuk produk
8-9
dan material digunakan di tempat
Perbaikan
Pekerjaan
tersebut
Pemeriksaan Langkah 5
 Sambungan akan dengan akurat
Pengukuran kuantitas

Pemeliharaan
dibentuk kepada baris dan
Rutin
tingkatan sebagaimana
Berita Acara
Pemeriksaan Akhir
Pemeriksaan ditunjukkan pada gambar.
Selesai Material akan dipotong dengan
perkakas tajam untuk
mendapatkan tepi yang halus
 Material akan ditempatkan
dengan aman yang ditempatnya,
dan terikat dengan baik ke satu
arah beton. Hal tsb. tidak akan
meluas ke dalam ruang untuk diisi
dengan penutup
Pemeriksaan Langkah 6
 Penutup sambungan akan terbilas
atau sedikit terlindung dari
permukaan sambungan. Itu
merupakan hasil pekerjaan tangan
dengan finishing yang halus.
Pencampuran, aplikasi dan
perawatan dari semua
kepemilikan material akan
mematuhi dengan kebutuhan
pabrik
Pemeriksaan Langkah 7
 Perluasan struktur sambungan
akan dipasang sesuai dengan
gambar dan kebutuhan pabrik.
 Posisi dari semua baut menancap
ke dalam beton atau lubang bor ke
dalam beton akan secara akurat
ditentukan dari template
Pemeriksaan Langkah 8
 Pengisi sambungan yang tidak
mengisi secara penuh, lebar suatu
sambungan segera diutamakan
untuk menutup akan dipindahkan
dan digantikan
Pemeriksaan Langkah 9
 Penutup yang gagal untuk
diterapkan, berlari atau
menggelembung akan
dipindahkan dan digantikan
Pemeriksaan Langkah 10
 Sambungan kepemilikan yang
hancur diutamakan, selama atau
setelah instalasi dalam kaitan
dengan kesalahan di dalam
penanganan, penyimpanan atau
lokasi operasi yang berikut akan
dipindahkan dan digantikan.

6.5.10. PEKERJAAN PENYELESAIAN

1) Pekerjaan penyelesaian terutama ditekankan kepada tampak mata.


Kerapihan, lurus, rata, adalah unsur utama pemeriksaan.
2) Mengingat waktu yang sangat terbatas, lebih baik pemeriksaan dilakukan
sedini mungkin sehingga dapat memperkirakan kesalahan yang akan terjadi
sebelum kesalahan tersebut betul-betul terjadi.
3) Untuk permukaan beton yang tidak rata dan kasar, penghalusan dengan
gurinda akan lebih baik dari pada menambal menggunakan aduk semen.
Aduk semen dipakai bila sudah terpaksa.

6.6. ANALISA TEKNIK

6.6.1. DASAR PEMAHAMAN PELAKSANAAN PENGAWASAN TEKNIS

Yang menjadi dasar bagi pengawasan pekerjaan konstruksi pembangunan/


rehabilitasi ini adalah kerangka acuan kerja / terms of reference dan diatur dalam
standar teknik pelaksanaan pekerjaan.selain hal tersebut di atas sebagai acuan
untuk pelaksanaan pengawasan maka Konsultan harus melengkapi Informasi
sebagai berikut:

 Dokumen Pelaksanaan pekerjaan yang terdiri:


 Gambar –gambar pelaksanaan .
 Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS ).
 Berita acara Anwijzing sampai dengan penunjukan Pemborong.
 Bart Chart dan S Curve serta Network Planning.
 Kerangka Acuan kerja Pengawasan
 Informasi lain ( RAB ).

6.6.2. TUGAS KEWAJIBAN, WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PENYEDIA JASA

1). Tugas dan Kewajiban Supervisi

a). Tahapan Setelah Penandatanganan Kontrak Pelaksanaan Notice to


Proceed (Perintah untuk Mulai Bekerja)

 Menguasai semua data dan Dokumen/Kontrak pelaksanaan, dan


mengevaluasi kelengkapannya, serta membantu Pengguna jasa
dalam menginterpretasi Dokumen Kontrak.
 Memeriksa memperbaiki dan menyatakan kebenaran teknis rencana
pelaksanaan konstruksi sesuai ketentuan kontrak pelaksanaan.
 Mendapatkan, mengevaluasi dan melaporkan kepada Pengguna jasa
semua data termasuk perhitungan desain yang diperlukan untuk
pelaksanaan konstruksi yang bukan menjadi kewajiban Kontraktor
maupun yang diinstruksikan oleh Pengguna jasa.
 Memeriksa, memperbaiki dan memberikan saran
merekomendasikan rencana pengaman utilitas yang ada sehingga
pelaksanaan tidak akan merugikan pemilik utilitas dan kuasa
bangunan.
 Memeriksa, memperbaiki dan menyatakan kebenaran teknis titik-
titik referensi pelaksanaan pekerjaan.

b). Tahapan Setelah Notice to Proceed (Perintah untuk mulai Bekerja).

(1) Analisis Mutu


 Memeriksa, mengevaluasi dan menyatakan kebenaran teknis
material konstruksi yang akan digunakan.
 Memeriksa, mengevaluasi dan menyatakan kebenaran teknis
evaluasi sifat tanah.
 Memeriksa, mengevaluasi dan memberikan rekomendasi
kepada Pengguna Jasa atas mutu hasil pelaksanaan pekerjaan
yang dimintakan pembayaran.
 Memeriksa, mencatat, mengevaluasi dan memberikan
kebenaran rekomendasi kepada Pengguna Jasa atas mutu dan
kesesuaian bahan yang dimintakan pembayaran.

(2) Analisis Fisik (Volume dan Waktu)


 Mencatat, mengevaluasi, menyimpan dan menyatakan
kebenaran teknis semua hasil pengukuran volume yang
diperlukan untuk pembayaran kepada Kontraktor.
 Mengevaluasi tuntutan waktu oleh Kontraktor dan memberikan
rekomendasi penyelesaian.

(3)Analisis Biaya
 Memeriksa, mengevaluasi, dan menyatakan kebenaran teknis
status pembayaran yang dibuat oleh Kontraktor.
 Memeriksa sertifikat pembayaran yang diusulkan Kontraktor
berikut hasil-hasil evaluasi dan rekomendasi Konsultan untuk
dimintakan persetujuan kepada Pengguna Jasa, sesuai ketentuan
kontrak yang berlaku.
 Mempertimbangkan dan mengusulkan kepada Pengguna Jasa
tanpa diminta mengenai semua alternatif penurunan biaya
pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai spesifikasi
kontrak yang berlaku.

(4) Analisis Desain dan Metoda/Hasil Pelaksanaan


 Menyediakan data yang diperlukan Kontraktor mengenai titik-
titik ikat dan data referensi pengukuran untuk keperluan
pematokan (stake out).
 Memeriksa, mengevaluasi dan memperbaiki detail hasil
pematokan
 Memeriksa, mengevaluasi, merekomendasi dan menyatakan
kebenaran teknis gambar kerja yang diajukan Kontraktor.
 Memeriksa dan melaporkan kelengkapan persiapan Kontraktor
sesuai Kontrak Pelaksanaan.
 Mempersiapkan, mengevaluasi dan memberikan rekomendasi
kepada Pengguna Jasa semua usulan perubahan pekerjaan
(change order) berikut hasil evaluasi dan data penunjang,
sampai dengan Addendum Kontrak.
 Mengevaluasi dan memberikan rekomendasi teknis, mengenai
metoda pelaksanaan kegiatan konstruksi.
 Membantu Pengguna Jasa dalam negosiasi dan perundingan
dengan Kontraktor serta memberikan rekomendasi
penyelesaian.
 Mengingatkan Pengguna Jasa dan memberikan rekomendasi
penyelesaiannya tanpa diminta terhadap semua masalah yang
timbul.
 Memeriksa, mengevaluasi dan melaporkan terpenuhinya
persyaratan sumber daya.

(5) Pelaporan
 Mengadakan pengawasan dan pemeriksaan harian, mencatat
hasil pengawasan harian, mengevaluasi, memberikan
instruksi pelaksanaan teknis harian di lapangan kepada
Kontraktor sesuai ketentuan Dokumen Kontrak Pelaksanaan,
menyimpan hasil pencatatan dan memberikan rekomendasi
kepada Pengguna Jasa mengenai hasil pelaksanaan harian.
 Menyimpan dan menyajikan Laporan Pendahuluan dan
Mingguan kepada Pengguna Jasa.
 Menyimpan dan menyajikan Laporan Bulanan kepada
Pengguna Jasa dan mengirimkan ke Instansi yang
berwenang.
 Menyimpan dan menyajikan Laporan Akhir kepada
Pengguna Jasa dan mengirimkannya ke Instansi yang
berwenang.
 Menyimpan dan menyajikan Laporan-Iaporan lain yang
ditentukan kemudian oleh Pengguna Jasa.

c). Tahapan Setelah Pelaksanaan Fisik


(1) Mencatat, menyimpan, mengevaluasi, menyajikan semua data
yang diperlukan, dan memberikan rekomendasi kepada Pengguna
Jasa untuk dilakukannya serah terima sementara pekerjaan, masa
pemeliharaan dan serah terima akhir.
(2) Menyimpan dan menyajikan laporan akhir termasuk gambar hasil
nyata pelaksanaan pekerjaan, laporan pengendalian mutu, laporan
kepada Pengguna Jasa dan mengirimkannya kepada Instansi yang
berwenang.

2). Wewenang dan Tanggung Jawab Team Supervisi

Team Supervisi (Field Team) berwenang untuk:

a) Mengadakan pemeriksaaan dan uji coba kelengkapan maupun


kemampuan sumber daya Kontraktor. Pemeriksaan lain juga dapat
dilakukan atas persetujuan/permintaan Pengguna Jasa.
b) Memberikan instruksi-instruksi tertulis selama pelaksanaan pekerjaan
sejauh tidak menyimpang dari ketentuan Kontrak Pelaksanaan dan
ketentuan yang dikeluarkan oleh Pengguna Jasa.
c) Memeriksa kebenaran data dan hasil evaluasi dan usulan-usulan yang
diberikan oleh Kontraktor.
d) Memberikan langkah-langkah yang harus diambil Kontraktor, bila
dipandang pelaksanaan menyimpang dari ketentuan Kontrak atau
membahayakan keselamatan.
e) Membantu Pengguna Jasa dalam mengatasi setiap masalah yang timbul
dan mengusulkan saran penyelesaiannya.
f) Memberikan interpretasi semua Dokumen yang diperlukan selama
pelaksanaan pekerjaan.
g) Team Supervisi (Field Team) Bertanggung Jawab atas:
h) Kebenaran, kelengkapan dan terpenuhinya ketentuan Kontrak
Pelaksanaan untuk semua data, hasil evaluasi, rekomendasi, laporan
dan informasi yang diberikan kepada Pengguna Jasa, baik lisan maupun
tertulis dan mengingat secara hukum yang berlaku di Negara Republik
Indonesia.
i) Pelaksanaan tugas dan kewajiban yang diberikan dalam manual ini dan
ketetapan waktu pelaksanaannya.
j) Tersimpannya dengan baik semua Dokumen bukti pemenuhan Kontrak
Pelaksanaan dan Kontrak Jasa Supervisi.

6.6.3. SISTEM KERJA DAN PROSEDUR TAHAPAN KERJA SUPERVISI/ PENGAWASAN

A. Sistim Kerja Antara Kontraktor dan Team Supervisi

Dalam pelaksanaan pekerjaan pengawasan, Team Supervisi akan


berpedoman pada beberapa aturan/ prosedur pelaksanaan kegiatan kerja
yang harus ditaati oleh Team Supervisi dan Kontraktor guna
memperlancar dan mempermudah pengawasan, sebagai bukti otentik dari
setiap kegiatan pekerjaan, yang akan diserahkan kepada pemberi tugas
dengan mengikuti aturan yang ada yaitu buku Spesifikasi Volume 3 dan
Manual yang diberikan oleh pihak pemberi tugas.

Prosedur kerja yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:


1) Kontraktor sebalum melaksanakan pekerjaan diwajibkan mengajukan
gambar kerja/working Drawing untuk dipelajari dan diperiksa oleh
Konsultan.

2) Paling lambat 24 jam sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor


diwajibkan mengajukan request/permohonan ijin secara tertulis
kepada Konsultan dilengkapi dengan data-data seperti:
a. Working Drawing yang sudah disetujui

b. Data Material, lengkap dengan perhitungan volume dan hasil test


yang sudah disetujui oleh Material Engineer yang meliputi:
- Test Standard Material
- Hasil test bahan fabrikasi yang memenuhi standard spesifikasi
c. Peralatan yang akan digunakan lengkap dengan peralatan-peralatan
untuk pengendalian mutu.
d. Persiapan lokasi kerja, menyangkut hasil pengukuran lokasi dan titik
elevasi/titik kontrol serta Bouwplank yang ditanda tangani oleh
Inspector konsultan. Prosedur kerja dan rencana pengambilan sampel
dari hasil pekerjaan.
3) Konsultan paling lambat 24 jam akan memeriksa/mencek bahan, alat-
alat dan lokasi berdasarkan Request yang diajukan Kontraktor dan
segera memberi jawaban terhadap request tersebut apakah pekerjaan
dapat dilaksanakan atau dianggap belum siap.

4) Konsultan dan Kontraktor sebelum dan sesudah pelaksanaan pekerjaan


akan membuat Berita Acara pekerjaan yang berisi data ukuran sebagai
dasar pembayaran sertifikat bulanan lengkap dengan gambar dan
keterangan lain yang diperlukan, juga disertai data test yang telah
dilakukan.
5) Kontraktor diharuskan mengajukan request untuk setiap rencana
Material yang akan digunakan paling lambat 2 minggu sebelum
material itu akan digunakan.
6) Konsultan bersama-sama Kontraktor akan mengambil 2 contoh
material dari lokasi yang dimaksud untuk kemudian di test di
laboratorium dan digunakan sebagai contoh di lokasi pekerjaan apabila
bahan tersebut memenuhi persyaratan yang diminta.
7) Hasil test dari sampel yang memenuhi spesifikasi dapat digunakan
Kontraktor berdasarkan ijin tertulis dari Konsultan Pengawas.
8) Kontraktor diharuskan mengajukan request terhadap rencana
pengiriman material ke lokasi pekerjaan dilengkapi dengan data lokasi
asal material, volume dan data test yang telah dilakukan.
9) Setiap material yang datang ke lokasi diharuskan mendapat ijin tertulis
dari pengawas lapangan sebelum diturunkan di lokasi proyek. Ijin
tertulis akan diberikan oleh Pengawas lapangan berdasarkan
pengamatan visual dengan membandingkan material tersebut dengan
sampel yang disetujui.
10) Paling lambat 24 jam sebelum melakukan pengetesan dan pembuatan
rencana campuran, Kontraktor diharuskan mengajukan request
dilengkapi dengan data dan standard spesifikasi yang diminta.
11) Konsultan akan mempelajari/memeriksa berdasarkan request tersebut
dan apabila disetujui, Konsultan akan melakukan pengawasan terhadap
prosedur pengetesan yang dimaksud.
12) Setiap tanggal 25 dari bulan yang berjalan, Kontraktor diharuskan
mengajukan volume pekerjaan yang telah selesai untuk bahan
pembuatan sertifikat pembayaran bulanan berdasarkan berita acara
yang tercantum pada artikel 4.
13) Konsultan paling lambat 2 x 24 jam akan memeriksa perhitungan dan
persyaratan teknis dari pengajuan volume tersebut seperti pelengkapan
data hasil test dan data lainnya. Hanya volume yang telah memenuhi
persyaratan yang akan diproses Konsultan dalam sertifikat pembayaran.
14) Berdasarkan hasil pemeriksaan Konsultan, Kontraktor membuat draft
dari sertifikat pembayaran bulanan lengkap dengan Back up data yang
telah ditandatangani Konsultan pada artikel 13. Dan setelah disetujui
oleh Konsultan, Kontraktor akan menyiapkan sertifikat pembayaran
bulanan definitif sebanyak ±10 eksemplar atau disesuaikan dengan
kebutuhan.
15) Paling lambat setiap awal bulan, sertifikat pembayaran bulanan telah
diterima Pengguna jasa untuk diperiksa dan diproses.
16) Setiap timbul perubahan volume, Konsultan dan Kontraktor akan
menyiapkan change order untuk diusulkan kepada Pengguna jasa.
17) Konsultan akan mencatat setiap kemajuan kerja Kontraktor dan
melakukan pengawasan kontinyu. Setiap kelambatan kerja atau
penyimpangan dari spesifikasi teknis akan ditegur oleh Konsultan
secara teriulis dengan tembusan ditujukan kepada Pengguna Jasa.
18) Kontraktor diwajibkan membuat laporan harian dan laporan mingguan
secara kontinyu yang berisi keterangan-keterangan mengenai uraian
kegiatan pekerjaan, volume pekerjaan, alat yang digunakan, jumlah
personil, jumlah material yang tersedia dan kondisi cuaca yang ada serta
prestasi pekerjaan yang dicapai.
19) Kontraktor dan Konsultan akan melakukan rapat harian, setiap hari satu
jam sebelum berakhirnya pekerjaan untuk mengevaluasi hasil
pekerjaan harian dan rencana kerja untuk hari esok. Rapat akan
membahas hambatan-hambatan dan penanganannya yang mungkin
terjadi pada hari tersebut.
20) Konsultan, Kontraktor dan Pengguna jasa akan melakukan rapat
bulanan pada setiap awal bulan untuk membahas masalah-masalah
seperti kemajuan pekerjaan, permasalahan lapangan, sertifikat bulanan
dan lain-lainnya yang dianggap perlu. Konsultan akan membuat risalah
rapat untuk setiap rapat bulanan.
21) Konsultan akan membuat laporan bulanan, triwulan, laporan teknis,
laporan akhir serta mengoreksi as built drawing, laporan bulanan akan
diserahkan setiap akhir bulan berjalan.
22) Setelah pekerjaan mencapai 97% Kontraktor diijinkan untuk
mengajukan surat permintaan PHO, kepada Pengguna jasa dengan
tembusan Konsultan Pengawas.
23) Berdasarkan tembusan surat pada ariikel 22 Konsultan akan melakukan
evaluasi lapangan. Hasil evaluasi lapangan akan dilaporkan secara
terlulis kepada Pengguna jasa lengkap dengan Daftar cacat dan
kekurangan setiap jenis pekerjaan.
24) Berdasarkan surat Konsultan pada artikel 23, Pengguna jasa akan
memberikan surat jawaban kepada Kontraktor dan menyiapkan Panitia
PHO serta jadual rencana PHO.
25) Konsultan dan Direksi akan menyiapkan dokumen-dokumen untuk
keperluan PHO serta formulir-formulir yang diperlukan termasuk
volume akhir setiap pekerjaan. Pada pelaksanaan PHO Konsultan dan
Kontraktor akan ikut dalam Team PHO.
26) Setelah dilakukan PHO, Konsultan, Kontraktor dan Pengguna jasa akan
melakukan opname untuk pembuatan Final Sertifikat akhir
Pembayaran.
27) Konsultan akan melakukan pengecekan periodik terhadap hasil kerja
Kontraktor pada masa pemeliharaan. Laporan hasil pemeriksaan akan
dilaporkan secara tertulis kepada Pengguna jasa dan Kontraktor
lengkap dengan metoda perbaikan yang diperlukan bila ada cacat atau
kekurangan.

28) Konsultan akan membuat daftar cacat dan kekurangan sebelum


dilakukan serah terima akhir pekerjaan kepada Pengguna jasa dan
Kontraktor.

B. Prosedur danTahapan Kerja Team Supervisi

1). Pasal 4.6.1.A1

a). Prosedur
 Kepala Supervisi meminta Dokumen Kontrak kepada Pengguna
Jasa dan mengevaluasi/ mempelajari.
 Kepala Supervisi mengecek kelengkapan Dokumen Kontrak
dan Memberikan petunjuk yang sifatnya menjelaskan
pengertian clause-clause Dokumen Kontrak. ada kekurang
lengkapan pada Dokumen Kontrak atau ketidakjelasan maka
Kepala Supervisi menyatakan atau mengusulkan perbaikan
kepada Pengguna Jasa.
 Pengguna Jasa menyetujui usul perbaikan Dokumen Kontrak
memberikan koreksi-koreksi bila perlu dijelaskan pada lembar
tersendiri yang kemudian diserahkan kepada Kepala Supervisi
untuk dibuat koreksi pengetikan pada Dokumen Kontrak (bila
Kepala Supervisi diminta mengevaluasi kembali maka tahap
No. 2 diulang).
 Setelah ditik kembali oleh Staf Umum Supervisi, maka
Dokumen Kontrak diserahkan kembali kepada Pejabat Pembuat
Komitmen (PPK)/KPA.

b). Tahapan

Dokumen Kontrak Dievaluasi dari Tahapan Berikut Ini:


 Sebelum Pre Construction Meeting:
 Sebagai bahan interpretasi clause-clause kontrak pelaksanaan
antara Kontraktor, Supervisi dan Pelaksana.
 Bila diinstruksikan oleh Pengguna Jasa.

2). Pasal 4.6.1.A2

a). Prosedur
(1). Rencana Sementara

 Kepala Supervisi mengevaluasi sendiri atau


memerintahkan ahli teknik manajemen konstruksi untuk
mengevaluasi rencana sementara pelaksanaan yang dibuat
oleh Kontraktor. Rencana sudah diterima oleh Kepala
Supervisi paling lambat 1 minggu setelah Kontrak
pelaksanaan ditandatangani atau sebelum Surat Perintah
Mulai Kerja (SPMK) dikeluarkan oleh Pengguna Jasa.
 Hasil evaluasi rencana tersebut di atas sudah diserahkan
kepada Pengguna Jasa, selambat-Iambatnya tiga hari
setelah diterimanya rencana sementara dari
Kontraktor/Pelaksana.
 Hasil evaluasi berikutnya rencana sementara di atas
kemudian diserahkan kepada Pengguna Jasa untuk
mendapat persetujuan.
 Apabila rencana sementara yang diusulkan, berdasarkan
pengarahan Pengguna Jasa perlu disesuaikan/diperbaiki,
maka Team Supervisi berdasarkan pengarahan Pengguna
Jasa dapat meminta kepada Kontaktor untuk menyesuaikan
kembali rencana sementaranya. Perbaikan dapat pula
dilaksanakan dengan suatu rapat antara Proyek, Supervisi
dan Kontraktor.

(2) Rencana Utama (Master Program)

 Kepala Supervisi akan meminta rencana utama kepada


Kontraktor/Pelaksana dengan ijin Pengguna Jasa selambat-
Iambatnya 2 (dua) minggu setelah Perintah Bekerja
dikeluarkannya oleh Pengguna Jasa (Notice to Proceed).
 Kepala Supervisi setelah menerima rencana utama
kemudian mengusahakan tenaga-tenaga ahlinya sesuai
dengan kebutuhannya.
 Rencana utama yang diserahkan oleh Kontraktor/Pelaksana
akan terdiri dari:
 Diagram Network Planning Methode P.D.M.
(Precedence Diagram Methode)
 Tabel Schedule: Dalam bentuk Barchart atau Tabel
Schedule.
 Rencana Kerja Fisik: Dalam bentuk sket lokasi
 Rencana Traffic Management
 Faktor diagram: berdasarkan No.a, dengan indikasi kritis
 Perincian peralatan, bahan & personil per kegiatan
 Revisi-revisi pada rencana sementara, bila ada.

Diagram Network Planning yang dibuat akan mencakup per-


kegiatan:
 Fisik
 Pembuatan Gambar Kerja
 Permintaan Pengetesan Mutu Hasil Pelaksanaan atau Bahan
Pematokan
 Permintaan Ijin-ijin
 Pengetesan Material Setempat
 Permintaan Pembayaran
 Lain-lain kegiatan fisik maupun non fisik sesuai kondisi
setempat

Jenis Dokumen Rencana utama dapat lebih luas/detail bila


disebutkan demikian dalam ketentuan kontrak pelaksanaan.
 Kepala Supervisi (Koordinator Team) setelah menerima
Dokumen Rencana Utama kemudian mengadakan evaluasi.
 Setelah rencana utama selesai dievaluasi, maka rencana
berikutnya diserahkan kepada Pengguna Jasa.
 Penyerahan hasil dokumen rencana ini selambat-lambatnya
20 hari setelah Notice to Proceed Kontrak Pelaksanaan.
 Bila terjadi perubahan/penyesuaian rencana utama, maka
Kepala Supervisi dapat mengusulkan rapat bersama kepada
Pengguna Jasa.

(3) Rencana dan Hasil Bulanan

 Kepala Supervisi/Koordinator Team Supervisi di lapangan


akan meminta rencana dari hasil bulanan kepada
Kontraktor dan mengadakan evaluasi. Rencana dan hasil
bulanan sudah diterima Team Supervisi setiap tanggal 27.
 Hasil evaluasi Team Supervisi diterima pengguna Jasa
selambat-Iambatnya tanggal 29 (dilaksanakan oleh Team
Supervisi). Penyampaian hasil evaluasi akan diserahkan
sendiri oleh Kepala Supervisi kepada Pengguna Jasa atau
Stafnya yang ditunjuk secara langsung. Hal ini
dimaksudkan untuk segera memutuskan masalah yang ada.
 Rencana dan hasil bulanan akan dibuat dan dilaporkan
kepada Pengguna Jasa.
 Bila ada penyesuaian/pembahasan yang diinginkan
Pengguna Jasa, maka Kepala Supervisi, Kepala
Pelaksanaan dan Pengguna Jasa mengadakan Rapat
bersama.

(4). Rencana dan Hasil Mingguan


Kepala Supervisi (SE) setiap tanggal 7, 14,21 dan tanggal
akhir bulan (8, 29, 30 atau 31) akan mengevaluasi rencana
mingguan dan hasil yang dibuat oleh Kontraktor.
Hasil evaluasi akan diserahkan kepada Pengguna Jasa,
selambat- lambatnya satu hari berikutnya dari tanggal di atas.
Pelaporan yang akan diserahkan kepada Pengguna Jasa:
 Laporan kemajuan pekerjaan
 Hambatan-hambatan teknis
 Penanganan teknis yang perlu

Penjelasan lain dalam bentuk sket, gambar foto copy


dokumen, dan lain-lain. Penyampaian laporan dilakukan pada
waktu rapat mingguan dan disampai-kan secara langsung
serendah-rendahnya koordinator supervisi.

b). Tahapan Rencana Sementara


Rencana sementara dibuat setelah ditandatangani Kontrak Tahapan
Rencana
(1) Pelaksanaan Rencana Utama bila mungkin telah siap sebelum
Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dikeluarkan Pengguna
Jasa. Apabila jarak waktu antara penanda tanganan Kontrak
dengan SPMK kurang dari dua minggu maka Kontraktor
Pelaksanaan dan Team Supervisi dapat langsung membuat
rencana utama tanpa membuat rencana sementara, dalam hal
ini, rencana utama sudah harus siap sebelum SPMK dan
disetujui oleh Pengguna Jasa sebelumnya.
(2) Rencana dan hasil mingguan dilakukan setiap minggu.

3) Pasal 4.6.1.A3

a). Prosedur
(1) Pengguna Jasa bila perlu menginstruksikan Team Supervisi
untuk data-data guna menunjang pelaksanaan kegiatan.
(2) Kepala Supervisi segera menugaskan stafnya yang sesuai
dengan tugas tersebut.
(3) Setelah data didapatkan, maka Kepala Supervisi segera
menyampaikan data, Kepala Supervisi wajib memenuhi
jangka waktu yang diberikan karena hal ini akan menjadi salah
satu tolok ukur penilaian pelaksanaan tugas supervisi.
b). Tahapan
Setiap diperlukan Pengguna Jasa atau diperlukan untuk
melancarkan Pelaksanaan Kegiatan.

4) PasaI 4.6.1.A4

a). Prosedur
(1). Kepala Supervisi menanyakan kepada Pengguna Jasa atau
Stafnya yang berwenang menangani masalah Utilitas,
mengenai hal-hal sebagai berikut:
 Apakah jaringan utilitas ada yang terletak pada daerah milik
jalan (Damija).
 Bila ada, maka apakah ada rencana untuk dipindahkan.
Pertanyaan di atas cukup dilakukan secara lisan. Bila jaringan
utilitas akan dipindahkan diluar Damija, maka tindakan yang
perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
 Evaluasi/Rekomendasi desain bangunan permanen
pengaman utilitas.
 Merekomendasi batasan metoda pelaksanaan guna
pengamanan utilitas.
 Bila lalu lintas sudah dibuka, tetapi utilitas masih berada di
Damija, maka perlu dievaluasikan/direkomendasikan
konstruksi pengaman sementara.

Apabila utilitas sudah berada diluar Damija, maka cukup


dilaksanakan adalah 2 point di atas.

(2) Setelah diketahui lokasi rencana utilitas sesuai program


pelaksanaan proyek, maka dapat dilakukan kegiatan sebagai
berikut:
 Evaluasi/rekomendasi bangunan permanen pengaman
utilitas.
 Utilitas diluar Damija, bentuk bangunan pengamannya
biasanya berbentuk box atau pipa. Bila bangunan
pengaman sudah didesain (oleh Konsultan Perencanan
atau Instansi Pemilik Utilitas), maka yang perlu
dilaksanakan adalah evaluasi desain. Bila desain belum
tersedia, maka Kepala Team Supervisi menugaskan ahli
teknik struktur konstruksi membuat desain.
 Utilitas tetap di Damija, bentuk bangunan pengaman
biasanya dapat berupa box, plat beton atau bagian
bangunan konstruksi jalan yang dibuat lebih
teballkuat.Dalam pembuatan/evaluasi desain maka
Kepala Team Supervisi menugaskan ahli teknik struktur
konstruksi.
 Merekomendasikan batasan metoda pelaksanaan guna
pengamanan utilitas Jenis rekomendasi sesuai kebu-
tuhannya.
 Konstruksi pengaman sementara utilitas.
 Konstruksi pengaman sementara akan dibuat se-
ekonomis mungkin, karena sifatnya yang sementara.
Konstruksi pengaman sementara ini sebaiknya
merupakan bagian konstruksi jalan itu sendiri.
(3) Setelah ahli teknik struktur konstruksi melengkapi kegiatan
sesuai point-point di atas, maka Kepala Team Supervisi
menyerahkan Gambar desain (plant, Cross Section dan detail
sketch, dan penjelasan detail lainnya sesuai kebutuhan).

b). Tahapan
(1) Sesuai pub dikeluarkan Pengguna Jasa, untuk evaluasi/
rekomendasi yang mencakup seluruh rencana panjang jalan.
(2) Sabelum pelaksanaan fisik pada setiap daerah-daerah atau
station-station tertentu.
(3) Untuk tahapan ini dapat digunakan hasil evaluasi/rekomendasi
yang dibuat pada tahapan No.1.
(4) Apabila selama pelaksanaan tejadi perubahan/ penyesuaian
maka hasil evaluasi/rekomendasi yang disesuaikan akan siap
selambat-Iambatnya 1 minggu sebelum pelaksanaan fisik
daerah tersebut.

5) Pasal 4.6.1.A5.

a). Prosedur
Kepala Supervisi (Site Engineer) memeriksa gambar kerja (desain)
dan mencari data/menetapkan
(1) Lokasi titik referensi absolut
(2) Lokasi titik referensi setempat yang digunakan untuk desain.
(3) Lokasi titik referensi setempat yang digunakan untuk
keperluan lain (misalnya untuk Pembebasan Tanah).
Koordinator Lapangan Team Supervisi bersama:
 Kontraktor
 Ahli Teknik Struktur Konstruksi
 Ahli Teknik Perencana bila perlu
 dan Konsultan Perencana bila perlu

(4) Mengadakan pertemuan perlu dichek apakah titik referensi


absolut dan setempat yang digunakan sarna untuk
menentukan:
 R.O.W. (pada waktu pembebasan tanah)
 Posisi (Koordinat & ketinggian) jalan-jalan lama maupun
bangunan konstruksi yang sudah ada lainnya.
 Alinemen dan elevasi titik referensi di atas, maka perlu
dichek, apakah perbedaan yang terjadi sesudah
dipertimbangkan dalam pembuatan desain.
Apabila perbedaan yang tejadi belum dipertimbangkan
dalam desain, maka ahli teknik jalan raya dan ahli teknik
struktur konstruksi mengidentifikasikan gambar desain
yang tepat.

Hasil evaluasi di atas berikut sarannya, kemudian disampaikan


kepada Pengguna Jasa untuk mendapatkan persetujuan atau
instruksi lebih lanjut.

Apabila perlu maka Pengguna Jasa dapat menginstruksikan


untuk menyesuaikan data pengukuran pada gambar desain
hasil penyesuaian' kemudian diserahkan kepada Pengguna
Jasa untuk per-setujuannya.

Hasil evaluasi/penyesuaian gambar desain di atas yang sudah


disetujui Pengguna Jasa kemudian diserahkan kepada
Kontraktor untuk segera dilaksanakan pengukuran kembali
dan pematokan (stakes out).

b). Tahapan

Sebelum Kontraktor mengadakan pengukuran kembali atau


pematokan, atau bila diinstruksikan oleh Pengguna Jasa

6) Pasal 4.6.1.A6

a). Prosedur
(1) Kepala Supervisi meneliti rencana bulanan & rencana umum
(yang sudah disesuaikan bila perlu) dan menugaskan ahli
teknik tanah & material untuk mengadakan persiapan yang
diperlukan untuk pemeriksaan material konstruksi.

(2) Evaluasi oleh ahli material menyangkut hal-hal sebagai


berikut:
 Apakah kebutuhan jenis & jumlah bahan kegiatan/per-mata
pembiayaan sudah sesuai dengan spesifikasi teknis yang
tercantum pad a kontrak.
 Apakah pengetesan bahan dapat dilaksanakan
(diselesaikan) pada waktuwaktu tersebut.
 Apakah jadual pengetesan sesuai dengan schedule (minimal
3 hari sebelum pelaksanaan kegiatannya).

(3) Hasil evaluasi disampaikan kepada Pengguna Jasa pada waktu


menyampaikan hasil evaluasi rencana/hasil bulanan.

(4) Apabila dalam bulan yang bersangkutan Kontraktor


mengajukan revisi kepada Supervisi, maka Kepala Supervisi
cq. ahli teknik tanah dan material mengevaluasi kembali dan
memintakan persetujuan Pengguna Jasa. Pengajuan revisi
selambat-Iambatnya 5 hari sebelum kegiatan dilaksanakan.
(5) Kepala Supervisi akan mendapatkan persetujuan dari
pengguna Jasa selambat-Iambatnya 2 hari sebelum dimulainya
kegiatan yang direvisi.

b). Tahapan
(1) Bulanan, bersama dengan rencana/hasil bulanan.

(2) Setiap ada revisi dari Kontraktor

7) PasaI 4.6.1.A7.

a). Prosedur

(1) Kepala Supervisi meneliti rencana/hasil bulanan dan utama


untuk kegiatan pekerjaan tanah yang dilaksanakan. Kepala
Supervisi kemudian menugaskan ahli teknik tanah & meterial
untuk mengadakan evaluasi/penelitian.
(2) Jenis tanah yang akan diteliti adalah:
 T anah asli setempat
 Tanah timbunan yang akan digunakan
(3) Standar teknis yang digunakan sesuai dengan spesifikasi
kontrak yang belaku.
(4) Hasil evaluasi akan diserahkan kepada Pengguna Jasa untuk
persetujuannyalrekomendasinya.

b). Tahapan

(1) Dilaksanakan sebelum dimulainya pekerjaan tanah


(2) Bila diinstuksikan oleh Pengguna Jasa

8) PasaI 4.6.1.A8

a). Prosedur

(1) Kepala Supervisi menugaskan stafnya untuk mengadakan


pemeriksaan mutu. Untuk itu, Kepala Supervisi harus
mengadakan pemeriksaan dan evaluasi kapan stafnya akan
mengadakan pemeriksaan dan evaluasi mutu.
(2) Pemeriksaan mutu dilaksanakan oleh pengawas masing-
masing ahli teknis, sedangkan evaluasinya dilakukan sendiri
oleh para ahli teknis.
(3) Apabila tingkat kemampuan pengawas masih dirasakan
kurang, maka pemeriksaan akan dilaksanakan oleh ahli teknik
yang bersangkutan. Pembuatan jadual pemeriksaan dan
metoda pemeriksaan.

b). Tahapan
(1) Dilaksanakan sebelum dimulainya pekerjaan pengedalian
mutu.
(2) Bila diinstuksikan oleh Pengguna Jasa
6.6.4. RAPAT PERTEMUAN

Pengguna Jasa/Direksi Teknis dalam mengendalikan kegiatan perlu


mengadakan rapat (meeting) antara lain:

1). Pre Construction Meeting


Dilaksanakan pada awal pelaksanaan dengan maksud/tujuan untuk
membahas dan mendapatkan persamaan pengertian terhadap pasal demi
pasal dan Dokumen Kontrak.

2). Progress Evaluation Meeting


Dilaksanakan secara berkala (mingguan/bulanan) atau pada waktu yang
diperlukan, dengan maksud/tujuan untuk mengevaluasi kemajuan
pelaksanaan pekerjaan sekaligus untuk membahas/mengarahkan rencana
pelaksanaan selanjutnya sehingga dapat tercapai pelaksanaan pekerjaan
sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan.

3). Certificate Meeting


Dilaksanakan pada setiap bulan untuk membahas dan mendapatkan
kesepakatan dalam pembuatan Monthly Certificate (sertifikat bulanan).

4). Technical Meeting


Dilaksanakan bilamana ada permasalahan teknis yang akan dibahas dan
diputuskan.

5). Special Meeting


Dilaksanakan bila diperlukan. Adapun Special Meeting dapat berupa:
 Show Cause Meeting
 Rapat Provincial Hand Over (PHO)
 Rapat Final Hand Over (FHO)
 Rapat Negosiasi Harga
 Rapat pembahasan perpanjangan waktu dan lain-lain.

6.6.5. TEKNIS QUALITY KONTROL/ PENGENDALIAN MUTU

Quality Engineer berusaha keras menentukan keseragaman mutu dengan


mempelajari atau mengecek dari pengendalian mutu agar mendapatkan hasil
kualitas yang baik.

1) Prosedur Pengendalian Mutu


Prosedur pengendalian mutu material dapat ditetapkan seperti bagan pada
bagan berikut ini:

Pengendalian
Mutu

Cek terhadap mutu Cek terhadap


material bentuk & ukuran

Test Pemeriksaan
Laboraturium Lapangan

Prosedur di atas juga termasuk metoda pelaksanaan pekerjaan dan


penanganan setelah selesainya pekerjaan.

Klasifikasi dari pengecekan kualitas material akan dibagi dalam kelompok


besar yang menyangkut:

a) Syarat produk material jadi yang digunakan

Bahan-bahan seperti aspal, besi beton, besi bangunan dan semen yang
digunakan dalam proyek ini, sangat sulit diperiksa mutu materialnya
bila dilakukan oleh Kontraktor dan Konsultan, maka pengecekan hanya
dilakukan dengan mengecek brosur yang diterbitkan oleh pabrik bahan
tersebut dan disesuaikan dengan persyaratan spesifikasi teknis. Untuk
besi beton atau baja bangunan selain brosur di atas juga akan
diusahakan untuk melakukan kerjasama dengan laboratorium
pengujian di lokasi setempat yang ada untuk dilakukan pengetesan.

b) Test untuk pengendalian mutu pada waktu pelaksanaan


Test ini akan dilakukan untuk beberapa kegiatan pekerjaan seperti:

 Pekerjaan timbunan/embankment

Untuk pekerjaan timbunan beberapa test laboratorium akan


dilakukan setelah pengambilan sampel lapangan agar mutu material
tersebut dapat ditentukan.
Test tersebut antara lain adalah:
 test berat jenis tanah
 test ini bertujuan untuk mengetahui kualitas tanah yang akan
dipakai.
 test gradasi tanah
 test batas cair dan batas plastis dari tanah
 test Pemadatan tanah
 test CBR laboratorium
Test setelah pelaksanaan berupa test kepadatan lapangan, berat jenis
tanah dan test pembebanan jika diperlukan.

 Test dari material Base Course/Shoulder


Jenis test yang dilakukan akan sarna dengan pekerjaan di atas,
kecuali jenis materialnya adalah material campuran antara agregat
kasar dan halus dengan mengikuti persyaratan spesifikasi teknis
untuk test berat jenis dari agregat, diusahakan mendapatkan hasil
berat jenis yang besar, karena semakin besar berat jenisnya akan
berarti semakin keras base course yang digunakan.
Dalam test gradasi disebut juga test untuk menyortir agregat-agregat
yang diluar dari ambang batas gradasi yang ditentukan dalam
spesifikasi teknis dengan test ini dapat diketahui apakah campuran
cocok dengan persyaratan atau tidak.

c). Pengendalian Mutu Pekerjaan Beton

Beberapa test akan dilakukan antara lain:


 test material
 test berat jenis
 test absorpsi air
 test gradasi
 test berat isi
 test abrasi
 test pada saat pelaksanaan
 test slump
 sampel kubuslselinder (test kekuatan pada umur beton tertentu)

d). Pengendalian Mutu Pekerjaan Aspal (AC-BC, AC-WC/HRS-WC)

Untuk material aspal pengendalian mutu tergantung dari pabrik yang


bersangkutan, konsultan hanya akan mengetes kualitas agregat yang
digunakan, test agregat akan dilakukan sarna seperti pada test material
base course dan test abrasi, juga akan dilakukan test untuk mengetahui
proporsi dari rencana campuran termasuk penelitikan terhadap unit
campurannya. Pada saat pelaksanaan akan dilakukan test berat jenis,
stability marshal test, kadar aspal.

Sebelum proyek dimulai, seluruh peralatan konstruksi akan diperiksa


yang meliputi pemeriksaan kapasitas, efisiensi dan fungsi peralatan
apakah cukup atau tidak dalam hubungannya dengan kapasitas
rencana dari setiap peralatan.
Pengecekan terhadap peralatan-peralatan tersebut adalah sebagai
berikut:
 Crushing Plant
 Wheel Loader
 Asphalt Mixing Plant
 Asphalt Finisher
 PneumaticTire Roller
 Tandem Roller
 Asphalt Distributor
 Asphalt Sprayer
 Sprinkler
 Dump Truck
 Concrete Mixe
 Concrete Vibrator
 Water Pump

(1) Test lapisan perkerasan AC-BC, AC-WC / HRS-WC


Test untuk lapisan perkerasan (AC-BC, AC-WC/HRS-WC) akan
dilaksanakan dalam frekuensi sebagai berikut:
NAMA FREKUENSIPENGETESA
PENGETESAN N
Temperatur Dibutuhkan setiap waktu
Minimum 2 kalilhari
Gradasi
(pagi/sore)
Minimum 2 kali/hari
Kadar Aspal
(pagi/sore)
Kepadatan Setiap 500 m"
Kenampakan Visual Setiap waktu
Minimum 2 kali/hari
Marshall Test
(pagi/sore)

(2). Beton

NAMA FREKUENSIPENGETESA
PENGETESAN N
Slump Dibutuhkan setiap waktu
Minimum 2 kali/hari
Kekuatan
(pagi/sore)

(3). Base Course

NAMA FREKUENSIPENGETESA
PENGETESAN N
Kepadatan Setiap 500 m2
Pemadatan Setiap 500 ml
Gradasi Beberapa tempat
Optimum Kadar Air Beberapa tempat
(4). Shoulder

NAMA FREKUENSIPENGETESA
PENGETESAN N
Kepadatan Setiap 500 ml
Pemadatan Setiap 500 ml
Gradasi Beberapa tempat
Optimum Kadar Air Beberapa tempat
Pemeriksaan AMP & Cold Bins

- Termometer aspal, agregat dan campuran harus di kalibrasi


- Timbangan aspal, agregat dengan harus di kalibrasi sebelum kadaluwarsa.
- Penyemprot api (burner) untuk pemanas agregat dan aspal harus memenuhi persyaratan
- Saringan untuk agregat, baik untuk agregat dingin (biasanya t harus tersedia) maupun panas
(screening) harus memenuhi persyaratan.
- Bin dingin (cold bin) yang harus memenuhi syarat seperti penggetar dan pintu pengeluar
agregat.
REKAPITULASI HASIL PEMERIKSAAN PERALATAN

KONDISI
BAGIAN/KOMPONE
RUSAK
N PERALATAN
TIDAK
YANG DIPERIKSA BAIK
TIDAK LENGKAP
LENGKAP
LENGKAP

Cold Bin Group

Dryer Group

Mixer Group

Asphalt System

Filler System

Perlengkapan

Genset 1

Genset 2
KONDISI UMUM

B RR RB RS

Catatan Pemeriksaan:

Tanggal :

PEMERIKSA PEMAKAI PIMBAGPRO

Nama Nama Nama

Jabatan Jabatan Jabatan

Td Tng Td tgn Td tgn

Catatan :
Hasil pemeriksaan peralatan dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan masing-masing diberikan
kepada :
1. Pemakai Alat
2. Pimbagpro
3. Pemeriksa Alat
HASIL PEMERIKSAAN PERALATAN
RESUME KALIBRASI ASPHALT MIXING PLANT
Dikerjakan oleh : Proyek :

Tanggal :

Lokasi : Kontraktor :

Setelah dilakukan kalibrasi sesuai dengan petunjuk-petunjuk kalibarasi yang ditetapkan maka
tim kalibrasi sesuai dengan surat tugas:

Nomor:
Tanggal

Berpendapat sebagai berikut:

1. Bahwa peralatan Asphalt Mixing Plant


Milik :
Merk :
Tipe :
Kapasitas :

Dapat dinyatakan:

1. Laik operasi
2. Laik operasi dengan syarat
3. Tidak layak operasi

2. Secara otomatis kelaikan operasi asphalt mixing plant terpenuhi bila syarat-syarat dibawah
ini dilaksanakan yaitu:
3. Rekomendasi tambahan:

Ketua Tim Kalibrasi G.S. Kontraktor Pimbagpro


Nama
Tanda tangan

Tanggal
PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 1

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Bin Dingin

N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o Bin 1 Bin 2 Bin 3 Bin 4 Bin 5 Filler

ada / ada / ada / ada / ada / ada /


1 Plat pemisah antar bin
tidak tidak tidak tidak tidak tidak

2 Kondisi bin dingin B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K

Lebar loader thd. mulut


3 C/K C/K C/K C/K C/K C/K
bin

Sistem pengeluaran Getar / Getar / Getar / Getar / Getar / Getar /


4
agregat ban ban ban ban ban ban

Kondisi sistem
5 B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K
pengeluaran

Sistem penguncian
6 B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K
pintu

Kondisi ban
7 B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K
pengangkut
ada / ada / ada / ada / ada / ada /
8 Timbangan ban bin
tidak tidak tidak tidak tidak tidak
9 Kondisi timb. ban bin B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K

Timbangan ban ada / ada / ada / ada / ada / ada /


10
pengangkut tidak tidak tidak tidak tidak tidak

Kondisi timb. ban


11 B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K
pengangkut

Lebar ban pengangkut


12
(cm)

Kondisi ban
13 B/C/K
pengangkut
B = Baik, C = Cukup, K = Kurang

Catatan :
PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 2

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Drum Pengering (Dryer)

N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

1 Keliling pengering (m)

2 Panjang pengering (m)

3 Pengatur kemiringan pengering Mudah / Sulit / Tidak ada

4 Arah api terhadap aliran agregat Searah / Berlawanan

5 Sistem penyemprotan bahan bakar B/C/K

6 Sistem pengaturan udara B/C/K

7 Kondisi batu tahan api B/C/K


8 Tempat penyemprot aspal Akhit / Awal aliran agregat

9 Kondisi penyemprot aspal B/C/K

10 Jumlah plat baja di dalam pengering (buah)

11 Kondisi plat baja di dalam pengering B/C/K

12 Tersedia termometer Tersedia / Tidak

13 Kondisi termometer B/C/K

14 Pemasukan agregat dari bin dingin B/C/K

15 Pengeluaran agregat ke elevator panas B/C/K


B = Baik, C = Cukup, K = Kurang

Catatan :
PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 3

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Elevator

N Elevator
Jenis Pemeriksaan
o Dingin Panas Filler

Ban / Ban / Ban /


1 Jenis elevator
Mangkok Mangkok Mangkok

2 Kondisi ban / mangkok B/C/K B/C/K B/C/K

3 Kondisi rantai B/C/K B/C/K B/C/K

4 Tersedia tutup elevator Ada / Tidak Ada / Tidak Ada / Tidak

5 Kondisi tutup elevator B/C/K B/C/K B/C/K

6 Sistem pemasukan / timbangan B/C/K B/C/K B/C/K

7 Tersedia termometer Ada / Tidak Ada / Tidak Ada / Tidak

8 Kondisi termometer B/C/K B/C/K B/C/K


B = Baik, C = Cukup, K = Kurang
Catatan :
PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 4

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Elevator

No Jenis Pemeriksaan Saringan 1 Saringan 2 Saringan 3 Saringan 4


/ Bin 1 / Bin 2 / Bin 3 / Bin 4

1 Luas saringan (cm x cm)

2 Kapasitas saringan (ton/jam)

3 Ukuran/nomor saringan

4 Fungsi sistem saringan B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K

5 Kondisi saringan B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K

6 Kebersihan saringan B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K

7 Jenis material dalam bin

8 Kondisi bin B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K

Kelebihan agregat dapat Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak


9
keluar

10 Kondisi pintu bin B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K

Kemudahan pengambilan
11 B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K
contoh
12 Tersedia termometer Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak

13 Kondisi termometer B/C/K B/C/K B/C/K B/C/K


B = Baik, C = Cukup, K = Kurang

Catatan :

PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 5


Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………
Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Timer / Hoper timbangan /
Pugmill

N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

1 Timer pencampuran sudah dikalibrasi Sudah / Belum

2 Timbangan sudah dikalibrasi Sudah / Belum

3 Tersedia gelagar anak timbangan Ada / Tidak ada

4 Ada pengatur nol timbangan (aretir) Ada / Tidak ada

5 Kondisi hoper timbangan B/C/K

6 Kondisi pedal pugmill B/C/K

Jarak terdekat pedal ke dinding pugmill


7
(cm)

8 Kondisi pintu pugmill B/C/K

9 Kondisi penyemprot aspal B/C/K

10 Tersedia termometer Tersedia / Tidak

11 Kondisi termometer B/C/K


B = Baik, C = Cukup, K = Kurang
Catatan :

PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 6

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Sistem Pemberian Aspal

1. AMP TIMBANGAN:
N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

1 Timbangan aspal sudah dikalibrasi Sudah / Belum

2. AMP TIMBANGAN, DRUM, MENERUS :


N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

1 Jumlah tangki aspal

2 Volume tangki

Ujung pipa selalu dibawah permukaan


3 B/C/K
aspal

4 Kondisi pipa-pipa aspal B/C/K

5 Sistem pemanas aspal B/C/K

6 Tersedia termometer oli Tersedia / Tidak

7 Kondisi termometer oli B/C/K

8 Tersedia termometer listrik Tersedia / Tidak

9 Kondisi termometer listrik B/C/K

10 Tersedia termometer aspal Tersedia / Tidak

11 Kondisi termometer aspal B/C/K

12 Bila aspal macet AMP otomatis berhenti Ya / Tidak


13 Dapat dilakukan pengambilan contoh aspal Ya / Tidak
B = Baik, C = Cukup, K = Kurang

3. AMP DRUM DAN MENERUS :


N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

Pipa aspal dikunci dengan agregat /


1 Ya / Tidak
pugmill

Perbandingan agregat dan aspal dapat


2 Ya / Tidak
diatur

Catatan :

PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 7

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Pengumpul Debu, Generator dan
Kondisi Lapangan

1. PENGUMPUL DEBU:
N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

1 Sistem pengumpul debu Mekanis / Filter Kain / Air

2 Kondisi penyedot debu B/C/K

3 Polusi debu Tidak / Sedikit / Banyak


B = Baik, C = Cukup, K = Kurang

2. GENERATOR :
N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

1 Jumlah generator yang tersedia

2 Kapasitas masing-masing (KVA)

3 Bahan bakar

4 Kondisi Kabel-kabel B/C/K


B = Baik, C = Cukup, K = Kurang

3. KONDISI LAPANGAN :
N Kondisi
Jenis Pemeriksaan
o

1 Kebersihan lingkungan Bersih / Cukup / Kotor


2 Drainase B/C/K

3 Tersedia alat pengambil contoh dari truk Tersedia / Tidak

4 Alat pengambil contoh tersedia lengkap Lengkap / Tidak

5 Pelindung agregat dari cuaca B/C/K

6 Sistem penyimpanan agregat B/C/K

7 Perkiraan luas area Luas / Cukup / Sempit


B = Baik, C = Cukup, K = Kurang

Catatan :

PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 8

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Waktu Pencampuran

Uraian Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur


an Kering an Basah an Kering an Basah an Kering an Basah

Pengatur
an

Pembaca
an

Uraian Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur


an Kering an Basah an Kering an Basah an Kering an Basah

Pengatur
an

Pembaca
an

Uraian Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur Pencampur


an Kering an Basah an Kering an Basah an Kering an Basah

Pengatur
an

Pembaca
an
Catatan :

PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 9

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Timbangan Agregat

1 2 3

No Anak Bacaan No Anak Bacaan No Anak Bacaan


Timbang Timbang Timbang Timbang Timbang Timbang
an an an an an an

0 29 3 58

1 30 59

2 31 60

3 32 61

4 33 62

5 34 63

6 35 64

7 36 65

8 37 66

9 38 67

10 39 68

11 40 69

12 41 70

13 42 71

14 43 72

15 44 73
16 45 74

17 46 75

18 47 76

19 48 77

20 49 78

21 50 79

22 51 80

23 52 81

24 53 82

25 54 83

26 55 84

27 56 85

28 57 86

PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 10

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Timbangan Filler

1 2 3
No Anak Bacaan No Anak Bacaan No Anak Bacaan
Timbang Timbang Timbang Timbang Timbang Timbang
an an an an an an

0 29 58

1 30 59

2 31 60

3 32 61

4 33 62

5 34 63

6 35 64

7 36 65

8 37 66

9 38 67

10 39 68

11 40 69

12 41 70

13 42 71

14 43 72

15 44 73

16 45 74

17 46 75

18 47 76

19 48 77

20 49 78
21 50 79

22 51 80

23 52 81

24 53 82

25 54 83

26 55 84

27 56 85

28 57 86

PEMERIKSAAN KONDISI AMP


Nomor Pemeriksaan : Lembar 11

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Timbangan Aspal

1 2 3

No Anak Bacaan No Anak Bacaan No Anak Bacaan


Timbang Timbang Timbang Timbang Timbang Timbang
an an an an an an

0 29 58

1 30 59

2 31 60
3 32 61

4 33 62

5 34 63

6 35 64

7 36 65

8 37 66

9 38 67

10 39 68

11 40 69

12 41 70

13 42 71

14 43 72

15 44 73

16 45 74

17 46 75

18 47 76

19 48 77

20 49 78

21 50 79

22 51 80

23 52 81

24 53 82

25 54 83

26 55 84
27 56 85

28 57 86

PEMERIKSAAN KONDISI AMP

Nomor Pemeriksaan : Lembar 12

Pemilik : …………………………………. Tanggal : …………………………


Merk : …………………………………. Lokasi : …………………………
Tipe/Jenis : Timbangan / Drum / Menerus Petugas : …………………………
Kapasitas : ………………………………….
Unit : Termometer

Pembacaan termometer yang dikalibrasi


Termometer
Term. Term. Term. Term. Term. Term. Term. Term.
Standar
1 2 3 4 5 6 7 8
6.6.6. PENGENDALIAN DAN PERALATAN OPNAME PELAKSANAAN PEKERJAAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja dimana Team Konsultan merupakan


wakil dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Depok, maka
tugas dalam pelaksanaan pekerjaan pengawasan terhadap pekerjaan konstruksi
adalah:
1). Menjamin bahwa kualitas dari pekerjaan yang dilaksanakan selalu dicek
secara terus menerus.

Pekerjaan ini termasuk:

a) Pelaksanaan inspeksi harian pekerjaan yang dilaksanaan untuk


menjamin bahwa material, tenaga kerja dan pelaksanaan pekerjaannya
tidak menyimpang dari dokumen kontrak dan peraturan-peraturan
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Depok.

b) Menjamin bahwa instruksi-instruksi tertulis dikeluarkan kepada


kontraktor dengan menerangkan gambaran secara detail yang lebih baik
mengenai titik-titik yang berhubungan dengan lokasi pekerjaan dan
bertujuan agar pelaksanaan pekerjaan menjadi lebih baik dan efisien .

c) Menjamin seluruh material yang tiba di lapangan sesuai dengan


persyaratan spesifikasi teknis dan secara keseluruhan test terhadap
material tersebut secara teliti.

d) Menjamin gambar-gambar kerja, gambar-gambar detail dan gambar-


gambar pelaksanaan diperiksa dan disetujui sebagaimana mestinya,
untuk jaminan bahwa kebutuhan kontrak dipenuhi.

e) Menjamin jika diperlukan instruksi-instruksi tertulis akan dikeluarkan


untuk kontraktor guna memperbaiki setiap kerusakan-kerusakan dalam
pekerjaan dan melengkapi sekurang-kurangnya yang masih belum
diselesaikan.

f) Membantu dengan melakukan inspeksi akhir dari pekerjaan sebelum


serah-terima pekerjaan kontraktor.

2) Menjamin besar kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan ditentukan dengan


diukur secara cermat dan benar.

3) Menjamin bahwa seluruh laporan yang diminta dikirim dalam waktu yang
tepat serta dengan isi laporan mengenai progress dan permasalahan di
proyek secara cerdas dan cermat. Pekerjaan ini termasuk:
a) Menyusun dan menigrimkan laporan bulanan dalam waktu yangtepat
secara cermat mengenai kemajuan fisik dan pembiayaan dari pekerjaan.

b) Melaporkan secepatnya dengan tertulis tanpa ditunda setiap mendapat


kesulitan dalam pelaksanaan pekerjaan yang tidak diharapkan karena
kondisi lapangan yang tidak terduga atau sebab lain, laporan ini
termasuk usulan cara penanganannya untuk menyelesaikan jalan keluar
dari kesulitan tersebut.

c) Melaporkan secara tertulis dengan usulan yang sesuai, antara lain untuk
memperbaiki kekurangan waktu, adanya kemacetanpekerjaan atau
keterlambatan kritis, yang akan membahayakan target waktu
penyelesaian pekerjaan yang telah ditetapkan.

d) Membuat dan menyimpan laporan harian proyek, mencatat keadaan


lapangan dengan lengkap, seperti pemakaian material, cuaca dan
keadaan-keadaan khusus sesuai kontrak.

e) Menyimpan arsip surat-menyurat dengan kontraktor, Dinas Pekerjaan


Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bogor, Tim Supervisi, dan lain-
lainya.

f) Membuat laporan hasil-hasil pengecekan pre-final, mencatat setiap


kekurangan dari seluruh pekerjaan yang belum selesai dengan
sempurna.

g) Menyajikan laporan akhir dengan segala permasalahannya dan


dilampirkan arsip-arsip Surat Perintah Perubahan (Change Order),
serta gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan pelaksanaan dan
data hasil test.

4) bekerja sama dengan wakil dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang Kabupaten Bogor di lapangan untuk setiap langkah-langkah
persoalan teknis.

Pekerjaan ini meliputi:


a) bersama-sama memeriksa sertifikat pembayaran bulanan Kontraktor
dan sertifikat pembayaran dari Pengguna jasa.

b) Membuat rekomendasi terhadap klaim-klaim Kontraktor,


menyelesaikan perselisihan penambahan waktu kontrak dan masalah-
masalah lainnya.

c) Menyiapkan change order yang ada hubungan dengan masalah di atas,


merekomendasikan revisi dari kegiatan pekerjaan dengan spesifikasi
dan membuat perkiraan dengan mata pembayaran yang baru sebagai
dasar Negosiasi dengan data penunjang yang lengkap.

d) Selalu mengontrol kelengkapan peralatan Kontraktor seperti kantor,


lapangan, Bengkel, Gedung, dan alat-alat konstruksi yang telah
ditentukan dalam kontrak.

5) Konsultan akan melakukan konsultansi dengan Pengguna jasa selaku wakil


dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bogor
dalam melakukan serah terima lokasi pekerjaan.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Kabupaten Bogor akan


mengundang wakil dari Kontraktor dalam melaksanakan serah terima lokasi
pekerjaan tersebut.

Seluruh titik-titik kontrol pengukuran yang telah direncanakan akan


ditentukan tempatnya bersama kontraktor di Lapangan, sebagai arsip untuk
waktu yang akan datang, berita acara serah terima lokasi pekerjaan akan
dikeluarkan oleh Pengguna Jasa lengkap dengan tanggal waktu serah terima
pekerjaan yaitu waktu dimana Kontraktor mulai diizinkan untuk
mengerjakan pekerjaan sesuai dengan rencana kerja yang telah disetujui.

6) Bersama-sama dengan Tim Survey dari Kontraktor, ditentukan titik-titik


yang diperlukan seperti elevasi dan as dari pekerjaan sesuai dengan gambar
kerja.
7) Selama masa pelaksanaan pekerjaan konstruksi Konsultan akan melakukan
pengawasan dan memberikan saran-saran bila diperlukan. Hal ini bertujuan
agar dapat dipenuhi apa yang telah ditentukan dalam kontrak dan Spesifikasi
Teknis, juga mengadakan inspeksi dan control pada pekerjaan lainnya,
termasuk pengambilan sample dan pengetasan dari bagian-bagian pekerjaan
yang mewakili untuk menjamin agar pekerjaan sesuai dengan ketentuan
Dokumen Kontrak. Konsultan akan melakukan review desain dan jika dapat
diterima akan mengusulkan kepada pengguna jasa untuk disetujui beserta
seluruh gambar kerja dibuat oleh Kontraktor. Konsultan akan memberikan
saran kepada Pengguna Jasa dan membantu menghitung kuantitinya,
menyiapka Perintah Perubahan (Change order), gambar dan spesifikasi
teknisnya. Setiap standar profil melintang, bahu jalan dan saluran drainase,
jembatan dan lokasi gorong-gorong yang tidak sesuai dengan kondisi di
lapangan akan diperbaiki untuk dilakukan perubahan desain selanjutnya
diajukan pada pengguna jasa untuk disetujui.
Apabila pada waktu rapat antara Kontraktor dengan Konsultan didapat
permasalahan yang melampaui batas wewenang Konsultan, maka masalah
tersebut akan dibawa secepat mungkin ke pengguna jasa disertai pandangan,
cara perbaikan, informasi, data-data sebagai pendukung untuk bahan
pertimbangan dan keputusan.

Bilamana pekerjaan yang sedang dilaksanakan ditemukan persoalan dalam


mengintepretasikan kontrak dokumen, Konsultan akan menyarankan
kepada Pengguna jasa interpretasi dari kontrak dokumen tersebut
berdasarkan pengalaman profesi konsultan sehingga tidak menimbulkan
kesulitan.

8) Konsultan akan melakukan pengontrolan terhadap volume pekerjaan,


pembayaran dan nilai kontrak serta besarnya volume pekerjaan di lapangan
dari masing-masing mata pembayaran karena hal tersebut merupakan dasar
untuk penyusunan alokasi dana sesuai denan dokumen kontrak atau atas
keperluan keperluan dari pemberi tugas. Penyusunan alokasi dana tersebut
timbul biasanya dikarenakan volume estimasi nilai kontrak pada saat
penandatanganan kontrak dengan volume kenyataan di lapangan sangat jauh
berbeda. Dalam hal ini maka beberapa volume pekerjaan akan menjadi
lebihatau kurang, dimana disetiap pekerjaan tambah akan diperhitungkan
berdasarkan harga satuan yang telah ditetapkan, sedangkan untuk pekerjaan
yang tidak ada harga satuannya ditetapkan berdasarkan penentuan dari
panitia kecil yang ditunjuk oleh pengguna jasa untuk menetapkan harga
satuan pekerjaan tersebut. Harga pekerjaan kurang akan diperhitungkan
berdasarkan harga satuan seperti harga kontrak. Pekerjaan tambah-kurang
yang melebihi kentuan dalam kontrak diperhitungkan dengan harga satuan
pekerjaan baru yang telah ditetapkan oleh Panitia tersebut di atas dan
disetujui oleh kedua belah pihak.
Dalam monitoring terhadap kemajuan dari pekerjaan konstruksi, persiapan
dari material konstruksi , kontrol terhadap pendanaan dll. Secara periodik
akan dilakukan Engineer dengan membuat perbaikan-perbaikan terhadap
volume pekerjaan dan pembiayaannya.
Hal tersebut di atas juga diperlukan memberikan masukan data kepada
pengguna jasa dan kontraktor dan diharapkan dapat digunakan sebagai
narasumber dalam penentuan langkah-langkah kerja seperti pembuatan
Adenda, Perintah Perubahan (Change order), laporan-laporan dan evaluasi
terhadap kemajuan pekerjaan.
9) Penyiapan dan proses pembuatan sertifikasi pembayaran meliputi:
a) Sertifkat pembayaran bulanan kontraktor
Sertifikat pembayaran kontraktor seperti sertifikat pembayaran bulanan
dibuat secara periodic yang disiapkan oleh kontraktor, berdasarkan
hasil opname bersama terhadap pekerjaan-pekerjaan yang layak untuk
dibayarkan sesuai ketentuan Spesifikasi dan Dokumen Kontrak.
Pemeriksaan terhadap draft sertifikat pembayaran di atas akan
dilakukan oleh Engineer yang kemudian akan dikembalikan kepada
kontraktor untuk diperbaiki.

Sertifikat pembayaran bulanan kontraktor yang telah diperiksa


Engineer akan diajukan dan disetujui untuk diproses lebih lanjut.
Pengajuan draft sertifikat bulanan harus telah disiapkan oleh kontraktor
setiap lokasi sebelum akhir bulan berjalan dengan dilampirkan back-up
perhitungan-perhitungan volume pekerjaan lengkap dengan gambar
dan data-data ukuran serta hasail test dari pekerjaan yang telah
diopname bersama dengan Tim Pengawas yaitu Inspector. Inspector
akan mengcek data-data tersebut dan setelah diterima akan diajukan ke
Site Engineer untuk diproses lebih lanjut.

Bagan dari proses penyusunan sertifikat pembayaran bulanan


Kontraktor adakah sebagai berikut:

Hasil opname terhadap pekerjaan yang telah lengkap

Kontraktor mengajukan data pendukung sertifikat


bulanan

Team Supervisi memeriksa dan memperbaiki pengajuan

Penyusunan draft sertifikasi bulanan oleh kontraktor


berdasarkan data yang telah diperiksa oleh Konsultan

Site Engineer memeriksa dan menyetujui draft sertifikat

Penyusunan draft sertifikasi bulanan oleh kontraktor


berdasarkan data yang telah diperiksa oleh Konsultan

Site Engineer mengecek dan menandatangani


diteruskan ke Pemimpin Pelaksana

Draft sertifikat bulanan oleh Kontraktor untuk


dikonfirmasikan dan penyiapan pengajuan lengkap
jumlah

Pejabat Pembuat Komitmen/KPA menerima dan


menandatangani, kemudian diproses untuk
pembayarannya
b) Sertifikat Pembayaran Akhir
Sertifikat pembayaran akhir dibuat setelah pekerjaan selesai dan
dilengkapi oleh kontraktor, sebelumnya Site Engineer dan wakil
kontraktor akan melakukan pengukuran dan perhitungan-perhitungan
sebagai data untuk pembuatan sertifikat akhir pekerjaan tersebut.
Pekerjaan ini dilakukan bersamaan dengan persiapan untuk
pelaksanaan serah terima pekerjaan sementara (PHO). Final sertifikat
ini diajukan kontraktor sesuai dengan volume akhir pekerjaan yang
telah disepakati bersama dan sesuai dengan persyaratan-persyaratan
dokumen
kontrak dan langkah-Iangkah penyiapan final sertifikat dapat dilihat
seperti bagan dibawah ini:

Inspector dan Site Engineer melakukan pengukuran final dan


menghitung pekerjaan yang telah diselesaikan

Site Engineer mengirimkan hasil perhitungan dan lampiran


dari Quantity Akhirkepada Kontraktor untuk dikonfirmasikan

Site Engineer mengirimkan hasil perhitungan dan lampiran


dari Quantity Akhirkepada Kontraktor untuk dikonfirmasikan

Site Engineer mengajukan final sertifikat sesuai dengan


Quantity Akhir

Final Quantity diajukan Kontraktor untuk ditandatangani

Engineer dan Pejabat Pembuat


Komitmen/KPAmenandatangani final sertifikat untuk
diproses selanjutnya
c) Serlifikat Pengembalian Uang Jaminan

Seperti pada kontrak-kontrak pekerjaan pelaksanaan fisik, 10 persen


dari nilai setiap sertifikat pembayaran bulanan harus di potong sebagai
jaminan untuk pekerjaan. Uang yang dipotong tersebut akan
dikembalikan kepada kontraktor setelah pelaksanaan pekerjaan fisik
mencapai 75 persen dari nilai kontrak, dengan memberi garansi Bank
senilai 7,5 persen nilai kontrak.
Pengembalian uang tersebut disebut sebagai Pengembalian uang
jaminan pertama. Pengembalian uang jaminan kedua akan dilakukan
setelah pengajuan sertifikat akhir pekerjaan, dengan memberi jaminan
Bank kepada pemberi tugas senilai 10 persen dari nilai kontrak, dan
Jaminan Bank yang terdahulu akan dikembalikan kepada kontraktor,
Jaminan Bank ini dimaksudkan sebagai jaminan untuk masa
pemeliharaan pekerjaan selama waktu yang ditentukan dalam kontrak.

10) Pengukuran final dari akhir pekerajaan.

Pengukuran final akan dikerjakan kembali meskipun quantity dan volume


dari pekerajaan telah diukur selama pekerjaan konstruksi berlangsung.
Dari hasil pengukuran tersebut kemudian dibuatkan memorandum yang
ditandatangani bersama oleh pemberi tugas, Kontraktor dan Engineer, untuk
selajutnya diajukan kepada panitia serah terima sementara untuk dipelajari
dan disetujui.
Setelah Final Quantity oleh Employer disetujui, maka diajukan final
sertifikat berdasarkan final quantity seperti yang telah diterangkan di atas.

11) Pengendalian Mutu,


Secara umum pengendalian mutu untuk setiap kegiatan pekerjaaan
dilakukan untuk menjamin pekerjaan yang telah diselesaikan, akurat dan
mempunyai hasil yang baik, seragam, kuat dan tidak menyimpang dari
Spesifikasi Teknis.
Pengendalian mutu dilakukan untuk membantu kontraktor dalam mencapai
tujuan di atas dan mudah dalam pelaksanaannya sesuai kebutuhan dari
kualitas yang ditentukan dalam kontrak, perencanaan spesifikasi dll.
Kontraktor harus menyadari bahwa pekerjaaan konstruksi yang
dilakukannya harus dapat diterima, sehingga tidak akan terjadi kegagalan
dan resiko biaya pekerjaan akan lebih sedikit. Dalam hal ini maka
pengawasan konsultan dalam pengendalian mutu sangat penting agar tidak
timbul biaya yang sia-sia karena pekerjaan yang gagal.
Secara objektif pengendalian mutu dari pekerjaan jalan dan jembatan seperti
berikut ini:
 Untuk mendapatkan hasil pekerjaan seekonomis mungkin yang sesuai
dengan persepsi dari kontrak, spesifikasi dll.
 Untuk menjaga keseragaman secara keseluruhan.
 Untuk mencegah kerusakan-kerusakan yang terjadi.
 Untuk memperkecil kejadian kegagalan-kegagalan akibat rendahnya
mutu setelah pekerjaan selesai.

a) Proses dari pengendalian mutu


Untuk maksud agar pelaksanaan pekerjaan dapat digunakan secara
praktis, beberapa pertimbangan akan dibuat dan dilaksanakan seperti:
b) Batas-batas dari setiap kualitas material ditentukan dari beberapa sifat
untuk mengevaluasi material. Menentukan batas-batas setiap kualitas
material
c) Membakukan standar kualitas dari material termasuk batasan-
batasannya standar dari kualitas material berarti tingkat dari kualitas
yang dihasilkan material tersebut, oleh karenanya jika penentuan
produk sesuai persyaratan spesifikasi standar, maka hanya material
yang mempunyai tingkatan mutu yang diminta yang akan diproduksi.
d) Menetapkan standar pekerjaan untuk merealisasikan produksi yang
disyaratkan. Meskipun banyak cara untuk menetapkan maksud di atas,
jalan yang terbaik adalah prosedur material harus dibakukan dengan
metoda standar kerja.
e) Mengajukan seluruh bagian kegiatan yang berhubungan dengan
pekerjaan tentang standard-standard kerja yang diminta.
f) Pelaksanaan pekerjaan.
g) Mengecek keadaan cuaca yang sedang berlangsung karena ada
hubungannya dengan standar pekerjaan.
h) Melakukan perhitungan ukuran-ukuran jika diperlukan.