Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

Angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih sangat tinggi. Data Badan
Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada tahun 2015, jumlah kecelakaan lalu lintas
mencapai 98,9 ribu kasus. Angka ini meningkat 3,19% dibanding tahun
sebelumnya yang mencapai 95,5 ribu kasus. Jumlah kecelakaan lalu lintas dalam
10 tahun terakhir mengalami fluktuasi, peningkatan paling tinggi terjadi pada
tahun 2011, yakni mencapai 108 ribu kasus. Padahal pada tahun 2010 hanya
terjadi 66,5 ribu kasus. Sedangkan kasus yang paling banyak terjadi pada tahun
2012 dengan 117,9 ribu kasus (Bucholz et al., 2006).
Dari jumlah kasus kecelakaan lalu lintas tersebut tidak sedikit yang
mengalami kematian dan luka berat. Untuk kasus kematian angkanya cukup
tinggi, sekitar 20% dari total kasus kecelakaan lalu lintas. Dan yang mengalami
luka berat juga sekitar 20% dari total kasus (Bucholz et al., 2006). Tingginya
angka kecelakaan lalu lintas selaras dengan banyaknya jumlah kasus
kegawatdaruratan di bidang bedah ortopedi yang memerlukan penanganan
pertama yang cepat dan tepat. Oleh karena itu, perlu untuk dilakukan penyegaran
kembali tentang kegawatdaruratan di bidang bedah, terutama bedah orthopaedi
serta penanganannya untuk para dokter dan perawat yang berada di garda depan
pelayanan medis, sehingga dapat mengurangi angka kematian dan kecacatan yang
diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas tersebut.1
BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas Pasien
Nama : An. A
Usia : 15 thn
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jalan Jambu Merah
Status : Belum menikah
No. rekam medik : 99.98.03
Tanggal masuk : 14 Februari 2020
Ruangan : Flamboyan Wira 2

2.2. Keluhan Utama


2.2.1 Riwayat penyakit sekarang:
Pasien, laki-laki, 15 thn datang ke IGD RS TK IV 01.07.04, Pekanbaru
diantar oleh warga setelah mengalami kecelakaan lalu lintas 10 menit sebelum
masuk rumah sakit. Pasien diantar dalam keadaan sadar. Pasien mengeluhkan
tidak dapat dapat menggerakkan tungkai kanan yang disertai nyeri dan bengkak.
Pasien juga mengeluhkan terdapat luka robek dan nyeri pada daun telinga kanan.
Pada saat kecelakaan pasien mengaku tidak menggunakan helm dan mengendarai
motor dalam kecepatan tinggi kemudian pasien bertabrakan dengan pengemudi
motor lainnya. Keluhan seperti rasa mengantuk, sempat tidak sadarkan diri, mual,
muntah, keluar cairan dari lubang hidung dan telinga, disangkal oleh pasien.
Tidak ada keluhan maupun gangguan dalam buang air besar (BAB) dan buang air
kecil (BAK).
2.2.2 Riwayat penyakit dahulu:
Tidak pernah memiliki keluhan seperti ini sebelumnya

2.2.3 Riwayat penyakit keluarga:


Hipertensi (-), diabetes mellitus (-), tidak ada anggota keluarga yang memiliki
keluhan yang sama.
2.2.4 Riwayat trauma:
Pasien menyangkal pernah kecelakaan lalu lintas sebelumnya
2.2.5 Riwayat kebiasaan:
Merokok (-), alkohol (-), dan penggunaan zat-zat terlarang (-)

2.3 Pemeriksaan Fisik


2.3.1 Status generalisata:
Keadaan umum : tampak sakit berat
Kesadaran : compos mentis, E4V5M6 GCS: 15
Tanda vital :
● TD : 130/70 mmHg
● Nadi : 104 x/menit
● RR : 24x permenit
● Suhu : 37.7°C
Kepala : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat
isokor diameter 3mm
Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Thoraks :
● Cor :
○ Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
○ Palpasi : ictus cordis teraba
○ Perkusi : batas jantung normal
○ Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
● Pulmo:
○ Inspeksi : pergerakan dinding dada kanan dan kiri simetris
○ Palpasi : vocal fremitus simetris kiri dan kanan
○ Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
○ Auskultasi : suara napas: vesikuler; suara tambahan : rhonki -/-,
wheezing -/-
Abdomen :
● Inspeksi : tampak datar
● Palpasi : supel, nyeri tekan lepas (-)
● Perkusi : timpani
● Auskultasi : bising usus (+) normal
Ekstremitas atas: tidak ada kelainan
2.3.2 Status Lokalis:
1. Regio Auricula Dextra
a. Inspeksi : vulnus laceratum ukuran 2x1x0.5 cm

b. Palpasi : nyeri tekan (+)


2. Regio Cruris Dextra
a. Look : tampak deformitas, edema (+), sianosis (-), vulnus
laceratum ukuran 1x0.5x0.5 cm, vulnus ekskoriasi 1x1 cm

b. Feel : nyeri tekan (+), teraba hangat, krepitasi (+)


c. Move : ruang gerak sendi terbatas (+)
2.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan labaratorium tanggal 14 Februari 2020, pukul 16.30 WIB

Darah Rutin Hasil Nilai Rujukan Satuan

LED - 0-20 /jam

Hemaglobin 15 Lk 14-18/Pr 12- gr/dl


14

Leukosit 13200 5000-10000 x103/dl


Hitung jenis

Eosinofil 1 0-4 %

Basofil 0 0-1 %

Neutrofil 75 40-70 %

Limfosit 11 20-40 %

Monosit 13 2-8 %

Trombosit 177000 150000-450000 x103/dl

Hematokrit 45 Lk 40-50/Pr 34- %


40

Eritrosit 5.4 Lk 4.5-6.5/Pr 3.5- jt/mm2


6.0

MCV 82 80-94 fl

MCH 29 27-31 pg

MCHC 35 32-36 g/dl

CT 3’10” 2-6 menit

BT 1’50” 1-3 menit

Kimia Darah Hasil Nilai Rujukan Satuan

Kadar Gula 84 <150 mg%


Sewaktu

Rontgen Cruris Dextra AP-Lateral, 14 Februari 2020, 15.35 WIB


Kesan :
● Foto layak baca (identitas, marker, posisi simetris, tampak kedua sendi)
● Fraktur komplit oblik ⅓ proximal tibia dextra
● Fraktur inkomplit transversal fibula dextra

2.5 Diagnosis
Diagnosis Kerja:
1. Closed fracture ⅓ proximal tibia-fibula dextra
2. Vulnus laceratum auricula dextra

2.6 Penatalaksanaan
● O2 3 l/menit
● IVFD Ringer Laktat 20 tetes/menit
● Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam iv
● Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam iv
● Inj. Kalnex 1 amp iv
● Inj. Ranitidine 1 amp iv
● Inj. ATS 1 amp im

2.7 Laporan Operasi


Tanggal operasi : 15 Februari 2020
Jenis operasi : Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) Tibia Dextra dan
Repair Auricula Dextra
Jam mulai operasi : 14.30 WIB
Jam selesai operasi : 15.30 WIB
Lama operasi : 60 menit
2.7.1 Jalannya operasi:
1. Penderita tidur terlentang dengan spinal anestesi
2. Desinfeksi lapangan operasi
3. Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril
4. Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan
sepanjang bidang anatomi menuju tempat yang mengalami fraktur
5. Fraktur diperiksa dan diteliti
6. Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka
7. Fraktur direposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali
8. Sesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat
ortopedi berupa: pin, sekrup, plat, dan paku
9. Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi plat ke tulang
10. Lubang kecil dibuat dari plat metal melewati tulang dan direkatkan dengan
paku dan sekrup
11. Luka dijahit lapis demi lapis
12. Operasi selesai
2.7.2 Instruksi post operasi:
● Awasi tanda vital
● IVFD RL 20 tetes/menit
● Elevasi tungkai, ganjal menggunakan bantal
● Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam iv
● Inj. Gentamicin 80 mg/12 jam iv
● Inj. Kalnex 1 amp/8 jam
● Rontgen cruris dextra AP-Lateral

2.8. Follow-up

Tanggal Hasil Pemeriksaan Tatalaksana


14/02/20 S: ● O2 3 l/menit
14.40 Pasien post KLL 10
● IVFD Ringer
IGD menit SMRS,
menggunakan motor, Laktat 20
kecepatan tinggi, mual
tetes/menit
(-), muntah (-), bengkak
dan nyeri di tungkai ● Inj. Ceftriaxone
kanan bawah, sulit
1gr/12 jam iv
digerakkan
● Inj. Ketorolac 1
O:
amp/8 jam iv
KU: tampak sakit berat
Kes: compos mentis, ● Inj. Kalnex 1
E4V5M6 GCS: 15
amp iv
TD: 130/70 mmHg
N: 104 x/menit ● Inj. Ranitidine 1
RR: 24 x/menit
amp iv
S: 37.7°C
Cruris dextra: deformitas ● Inj. ATS 1 amp
(+), edema (+), nyeri (+),
Pasien rawat inap
krepitasi (+), vulnus
rencana operasi
laceratum 1x0.5 cm,
vulnus ekskoriasi (+)
Auricula dextra: vulnus
laceratum 2x0.5 cm

Ro. cruris dextra AP-


lateral: fraktur ⅓
proximal tibia-fibula

A: Fraktur tertutup ⅓
promixal tibia-fibula
dextra + vulnus
laceratum auricula dextra

15/02/20 S: Th/ lanjut


09.00 Nyeri (+) kaki kanan dan ● IVFD Ringer
R. Flamboyan kiri, nyeri (+) telinga
Laktat 20
kanan, sakit kepala (+),
mual (-), muntah (-), tetes/menit
keluar cairan dari lubang
● Inj. Ceftriaxone
telinga dan atau lubang
hidung (-), BAB normal, 1gr/12 jam iv
BAK normal.
● Inj. Ketorolac 1
O: amp/8 jam iv
KU: tampak sakit sedang
Kes: compos mentis
TD: 120/80 mmHg Rencana operasi pukul
N: 80 x/menit 16.00 WIB oleh dr.
RR: 20 x/menit Harry, Sp.OT
S: 37°C
Motorik distal cruris:
ROM (+) terbatas
Sensorik distal cruris:
normal

A: Fraktur tertutup ⅓
promixal tibia-fibula
dextra + vulnus
laceratum auricula dextra

16/02/20 S: ● Guyur 1 kolf RL


12.00 nyeri post op (+), sakit bila suhu belum
R.Flamboyan kepala (+) turun tambahkan
PCT infus
P: 1gr/100ml
KU: tampak sakit sedang ● Anjuran pasien
Kes: compos mentis banyak minum
Skala nyeri: 7 ● Anjuran
TD: 120/80 mmHg kaki/ankle
N: 84 x/menit digerakkan
RR: 22 x/menit th/ lanjut
S: 38.9°C ● IVFD Ringer
Laktat 20
A: Post op. ORIF tibia
dextra + Repair auricula tetes/menit
dextra
● Inj. Ceftriaxone
1gr/12 jam iv
● Inj. Ketorolac 1
amp/8 jam iv
● Inj. Gentamicin
80 mg/12 jam iv

17/02/20 S: Th/ lanjut


08.30 nyeri post op (+), mual ● IVFD Ringer
R. Flamboyan (-), muntah (-), BAB (+) Laktat 20
normal, BAK normal, tetes/menit
demam (-) ● Inj.Ceftriaxone
1gr/12 jam iv
O:
KU; tampak sakit ringan ● Inj. Ketorolac 1
Kes: compos mentis
Skala nyeri: 3 amp/8 jam iv
TD: 120/80 mmHg
● Inj. Gentamicin
N: 76 x/menit
RR: 20 x/menit 80 mg/12 jam iv
S: 36.8°C
Mata: konjungtiva
anemis -/-
Motorik distal cruris:
ROM (+) terbatas
Sensorik: normal

Ro. Cruris Dextra AP-


LAteral Post op

A: post. Op ORIF tibia


dextra + Repair auricula
dextra

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi2,3
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang, jaringan
tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma
yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan
pada tungkai bawah yang menyebabkan patah tulang tibia dan fibula, dan dapat
berupa trauma tidak langsung.2,3

3.2 Anatomi Tibia Fibula


3.2.1 Tibia

Gambar 1. Tibia (Sobotta Atlas Anatomi)


Tulang ini termasuk tulang panjang, sehingga terdiri dari tiga bagian:5
1. Epiphysis proximalis (ujung atas)
Bagian ini melebar secara transversal dan memiliki permukaan sendi
superior pada tiap condylus, yaitu condylus medial dan condylus lateral.
Ditengah-tengahnya terdapat suatu peninggian yang disebut eminenta
intercondyloidea.
2. Diaphysis (corpus)
Pada penampang melintang merupakan segitiga dengan puncaknya
menghadap ke muka, sehingga corpus mempunyai tiga sisi yaitu margo
anterior (di sebelah muka), margo medialis (di sebelah medial) dan crista
interossea (di sebelah lateral) yang membatasi facies lateralis, facies
posterior dan facies medialis.Facies medialis langsung terdapat dibawah
kulit dan margo anterior di sebelah proximal.
3. Epiphysis distalis (ujung bawah)
Ke arah medial bagian ini kuat menonjol dan disebut maleolus medialis
(mata kaki). Epiphysis distalis mempunyai tiga dataran sendi yaitu dataran
sendi yang vertikal (facies articularis malleolaris), dataran sendi yang
horizontal (facies articularis inferior) dan disebelah lateral terdapat
cekungan sendi (incisura fibularis).
3.2.2 Fibula

Gambar 2. Fibula (Sobotta Atlas Anatomi)


Merupakan tulang yang panjang, langsing, terletak di sebelah lateral tibia.
Epiphysis proximalis membulat disebut capitulum fibulae. Ke arah proximal
meruncing menjadi apex. Pada capitulum terdapat dua dataran sendi yang disebut
facies articularis capituli fibulae, untuk bersendi dengan tibia. Pada corpus
terdapat empat buah crista yaitu, crista lateralis, crista anterior, crista medialis dan
crista interossea. Datarannya ada tiga buah yaitu facies lateralis, facies medialis
dan facies posterior. Pada bagian distal ke arah lateral membulat menjadi
maleolus lateralis.
Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak dengan fraktur
pada orang dewasa, perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik, dan fisiologi
tulang. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis
sebagai daerah pertumbuhan kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang
pada dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan menyatu pada saat itulah
pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti.
Tulang panjang terdiri dari : epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis
merupakan bagian paling atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian
yang lebih lebar dari ujung tulang panjang, yang berdekatan dengan diskus
epifisialis, sedangkan diafisis merupakan bagian tulang panjang yang dibentuk
dari pusat osifikasi primer.
Gambar 3. Komposisi tulang panjang (Sobotta Atlas Anatomi)
Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang
mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses
pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai
arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan
berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah.

3.3 Klasifikasi
Fraktur menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan
dunia luar dibagi menjadi dua, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur
terbuka memungkinkan masuknya kuman dari luar ke dalam luka. Fraktur tertutup
jika kulit diatas tulang yang fraktur masih utuh, tetapi apabila kulit diatasnya
tertembus maka disebut fraktur terbuka. Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga
derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan fraktur yang terjadi.2,3,4,5
3.3.1 Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya
A. Fraktur Simpel (Fraktur Tertutup)
Pembagian klasifikasi fraktur tertutup menurut Tscherne:
Grade 0 : Fraktur sederhana tanpa atau disertai dengan sedikit kerusakan
jaringan lunak
Grade 1: Fraktur disertai dengan abrasi superfisial atau luka memar pada
kulit dan jaringan subkutan.
Grade 2 : Fraktur yang lebih berat dibanding derajat 1 yang disertai
dengan kontusio dan pembengkakan jaringan lunak.
Grade 3: Fraktur berat yang disertai dengan kerusakan jaringan lunak yang
nyata dan terdapat ancaman terjadinya sindrom kompartemen.
B. Fraktur Terbuka
Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
Fraktur terbuka terbagi atas 3 derajat (menurut R.Gustilo), yaitu:
Derajat deskripsi luka
I. Laserasi <1 cm
Kerusakan jaringan tidak berarti
Luka relative bersih
II. Laserasi >1cm
Tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau avulsi
Ada kontaminasi
III. Luka lebar dan rusak hebat atau hilangnya jaringan disekitarnya
Kontaminasi hebat
Derajat IIIA : tulang yang fraktur masih ditutupi oleh jaringan lunak
Derajat IIIB : terdapat periosteal stripping yang luas & dan penutupan luka
dilakukan dengan flap lokal/flap jauh.
Derajat IIIC : fraktur disertai dengan kerusakan pembuluh darah
3.3.1 Menurut Bentuk2,3
A. Fraktur Komplit
Fraktur komplit terjadi bila garis patah melalui seluruh penampang tulang
atau melalui kedua korteks tulang.
Gambar 4. Fraktur komplit
B. Fraktur Inkomplit2,3
Fraktur inkomplit terjadi bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
1. Hair Line Fracture, tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di
tempat, biasa terjadi pada tulang pipih
2. Buckle atau Torus Fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya atau fraktur di mana korteksnya
melipat ke dalam
3. Greenstick Fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang atau fraktur dimana satu sisi
tulang retak dan sisi lainnya bengkok. Biasanya terjadi pada anak-anak
C. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan
mekanisme trauma
1. Fraktur Transversal
Fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma
angulasi atau langsung.
2. Fraktur Oblik
Fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang
dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3. Fraktur Spiral
Fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma
rotasi.
4. Fraktur Kompresi
Fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke
arah permukaan lain.
5. Fraktur Avulsi
Fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada
insersinya pada tulang.
Gambar 5. Tipe-tipe Fraktur

3.4 Etiologi4,5
Penyebab fraktur secara umum dapat disebabkan menjadi dua, yaitu:
penyebab ekstrinsik dan intrinsik. Penyebab ekstrinsik juga dapat dibedakan
menjadi dua bagian yaitu penyebab fraktur akibat gangguan langsung yaitu berupa
trauma yang merupakan penyebab utama terjadinya fraktur, misalnya kecelakaan,
tertabrak, jatuh. Penyebab yang lainnya adalah fraktur akibat gangguan tidak
langsung seperti perputaran, kompresi. Penyebab fraktur secara intrinsik dapat
diakibatkan kontraksi dari otot yang menyebabkan avulsion fraktur, seperti fraktur
yang sering terjadi pada hewan yang belum dewasa.3,4
Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat:
1. Peristiwa trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan
berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran,
atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat
yang terkena, jaringan lunaknya juga pasti rusak. Bila terkena kekuatan tak
langsung, tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang
terkena kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak
ada.
2. Fraktur kelelahan atau tekanan
Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau fibula atau metatarsal,
terutama pada atlet, penari, dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh.
3. Fraktur patologik
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah
(misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit
Paget).

3.5 Patofisiologi4,5
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang
dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan
rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum
dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang
membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera
berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi,
eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang
merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.

3.6 Mekanisme Penyembuhan2,3,4


Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap patah tulang. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar
patahan tulang, yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang
dan periosteum. Fase ini disebut fase hematoma. Hematoma ini kemudian akan
menjadi medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler hingga hematom
berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler didalamnya. Jaringan ini yang
menyebabkan fragmen tulang saling menempel. Fase ini disebut fase jaringan
fibrosis, dan jaringan yang menempelkan fragmen patahan tulang tersebut
dinamakan kalus fibrosa. Kedalam hematom dan juga jaringan fibrosis ini
kemudian juga tumbuh sel jaringan mesenkim yang bersifat osteogenik. Sel ini
akan berubah menjadi sel kondroblast yang membentuk kondroid yang merupakan
bahan dasar tulang rawan, sedangkan ditempat yang jauh dari patahan tulang yang
vaskularinyanya relatif banyak. Sel ini berubah menjadi osteoblas dan membentuk
osteoid yang merupakan bahan dasar tulang. Kondroid dan osteoid ini mula-mula
tidak mengandung kalsium sehingga tidak terlihat pada foto rontgen.
Pada tahap selanjutnya terjadi penulangan atau osifikasi. Kesemuanya ini
menyebabkan kalus fibrosa berubah menjadi kalus tulang. Pada foto rontgen
tampak sebagai radioopak, tetapi bayangan garis patah tulang masih tampak. Fase
ini dinamakan fase penyatuan klinis. Selanjutnya, terjadi pergantian sel tulang
secara berangsur-angsur oleh sel tulang yang mengatur diri sesuai dengan garis
tekanan dan tahanan yang bekerja pada tulang. Akhirnya sel tulang ini mengatur
diri secara lamelar seperti sel tulang normal. Kekuatan kalus ini sama dengan
kekuatan tulang biasa dan fase ini disebut fase konsolidasi.

Gambar 6. Fracture healing

3.7 Manifestasi Klinis


Menurut Blach (1989) manifestasi klinik fraktur adalah:2,3,5
1. Nyeri
Nyeri kontinyu/terus-menerus dan meningkat semakin berat sampai
fragmen tulang tidak bisa digerakkan.
2. Gangguan fungsi
Setelah terjadi fraktur ada bagian yang tidak dapat digunakan dan
cenderung menunjukkan pergerakan abnormal, ekstremitas tidak berfungsi
secara teratur karena fungsi normal otot tergantung pada integritas tulang
yang mana tulang tersebut saling berdekatan.
3. Deformitas atau kelainan bentuk
Perubahan tulang pada fragmen disebabkan oleh deformitas tulang yang
diketahui ketika dibandingkan dengan daerah yang tidak luka.
4. Pemendekan
Pada fraktur tulang panjang terjadi pemendekan yang nyata pada
ekstremitas yang disebabkan oleh kontraksi otot yang berdempet di atas
dan di bawah lokasi fraktur.
5. Krepitasi
Suara detik tulang yang dapat didengar atau dirasakan ketika fraktur
digerakkan.
6. Bengkak dan perubahan warna
Hal ini disebabkan oleh trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

3.8 Diagnosis2,3,4,5,6
A. Riwayat
Anamnesis dilakukan untuk mencari riwayat mekanisme trauma (posisi
kejadian) dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan trauma tersebut.
Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian atau jatuh
dari kamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan
pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olahraga. Penderita biasanya datang
denga keluhan nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas,
kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan gejala lain. Perlu juga ditanyakan
riwayat cedera atau fraktur sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat-
obatan yang dia konsumsi, merokok, riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta
penyakit lain.
B. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan awal, penderita perlu diperhatikan adanya:
1. Syok, anemia, perdarahan
2. Kerusakan organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau
organ-organ dalam rongga thoraks, panggul, abdomen
3. Faktor predisposisi, misalnya fraktur patologis
C. Pemeriksaan Lokal
a. Inspeksi/Look
● Bandingkan dengan anggota gerak yang sehat
● Perhatikan posisi anggota gerak
● Keadaan umum penderita secara keseluruhan
● Ekspresi wajah karena nyeri
● Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
● Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk
membedakan fraktur terbuka atau tertutup
● Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai
beberapa hari
● Perhatikan ada tidaknya deformitas: angulasi, rotasi,
pemendekan, pemanjangan, bengkak.
b. Palpasi/Feel
Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa.
Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut,
meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang
mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi. Temperatur kulit juga dapat
diperiksa. Neurovaskularisasi bagian distal fraktur meliputi pulsasi
arteri, warna kulit, pengembalian cairan kapiler (capillary refill
time).
c. Gerakan/Move
Pergerakan dengan meminta penderita menggerakan secara aktif
dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami
trauma. Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan
menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh
dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan
kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.
d. Pemeriksaan trauma (kepala, thorax, abdomen, pelvis)
Pada pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal dilakukan
menurut protokol ATLS. Langkah pertama adalah menilai airway,
breathing dan circulation. Perlindungan pada vertebra dilakukan
sampai cedera vertebra dapat disingkirkan dengan pemeriksaan
klinis dan radiologis. Saat pasien stabil, maka dilakukan secondary
survey.
D. Pemeriksaan Radiologi2,3,4,5,6
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan”
menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3
dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2
proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan
proyeksi tambahan (khusus) atas indikasi untuk memperlihatkan patologi
yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-
ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan
hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-
ray:
1. Bayangan jaringan lunak.
2. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau
biomekanik atau juga rotasi.
3. Trabekulasi ada tidaknya rare fraction.
4. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.

3.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4 komponen yaitu :
1. Recognition atau Pengenalan
Riwayat kejadian harus jelas untuk menentukan diagnosa dan tindakan
selanjutnya. Diagnosa fraktur dapat ditegakkan dari keluhan yang dialami
pasien dan riwayat trauma. Bila tidak ada riwayat trauma dapat dipikirkan
adanya suatu fraktur patologis. Gejala klasik fraktur yaitu :
● Adanya riwayat trauma
● Rasa nyeri dan bengkak pada bagian tulang yang patah
● Deformitas
● Nyeri tekan
● Krepitasi
● Gangguan fungsi muskuloskeletal akibat nyeri
● Putusnya kontinuitas tulang
● Gangguan neurovaskular
2. Reduksi atau Manipulasi atau Reposisi
Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti
semula secara optimal. Dapat juga diartikan reduksi fraktur (setting tulang)
adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi
anatomis. Tujuan reduksi adalah untuk memberikan oposisi yang adekuat
dan alignment yang normal dari fragmen tulang. Reduksi tertutup, traksi,
atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur.
3. Retensi atau Immobilisasi
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang
harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang
benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi
eksterna atau interna.
4. Rehabilitasi
Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi. Segala upaya
diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan
imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler
(mis. pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau, dan
ahli bedah ortopedi diberitahu segera bila ada tanda gangguan
neurovaskuler.

3.10 Open Reduction Internal Fixation (ORIF)


Sepanjang sejarah, fraktur telah diterapi dengan imobilisasi, traksi,
amputasi, dan fiksasi internal. Imobilisasi dengan casting, bracing, atau splinting
sendi di atas dan di bawah fraktur digunakan untuk sebagian besar fraktur pada
tulang panjang — kecuali fraktur tulang paha, yang traksinya merupakan
perawatan utama. Di masa lalu, fraktur terbuka dan luka balistik dengan fraktur
tulang panjang tidak sesuai dengan perawatan fraktur standar karena cedera
jaringan lunak terkait dan sulitnya mencegah sepsis sehingga dengan demikian hal
tersebut biasanya mengakibatkan amputasi.
Meskipun konsep fiksasi internal mulai pada pertengahan 1800-an, Lister
memperkenalkan reduksi terbuka dan fiksasi internal (Open Reduction Internal
Fixation/ORIF) fraktur patela pada tahun 1860-an. Penggunaan pelat dan sekrup
pertama kali didokumentasikan pada tahun 1880-an dan 1890-an. Fiksasi bedah
mulanya memiliki banyak hambatan, seperti infeksi, implan dan teknik yang
diterapkan dengan buruk, alergi logam, dan pemahaman yang terbatas tentang
biologi dan mekanisme penyembuhan fraktur. Selama tahun 1950-an, Danis dan
Muller mulai mendefinisikan prinsip dan teknik fiksasi internal. Sejak itu,
kemajuan dalam ilmu biologi dan mekanik telah menghasilkan teori dan teknik
fiksasi kontemporer.
ORIF (Open Reduction Internal Fixation), open reduction merupakan
suatu tindakan pembedahan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang
patah / fraktur sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya. Internal fiksasi
biasanya melibatkan penggunaan plat, sekrup dan paku untuk mempertahankan
fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
ORIF dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan cara
ini adalah reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar. Indikasi ORIF :
● Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avascular nekrosis
tinggi, misalnya fraktur talus dan fraktur collum femur.
● Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulse
dan fraktur dislokasi.
● Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya
fraktur Monteggia, fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan
fraktur pergelangan kaki.
● Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih
baik dengan operasi, misalnya: fraktur femur.
Tindakan Pembedahan ORIF Tindakan pembedahan pada ORIF dibagi
menjadi 2 jenis metode yaitu meliputi :
A. Reduksi Terbuka
Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan
sepanjang bidang anatomi menuju tempat yang mengalami fraktur. Fraktur
diperiksa dan diteliti. Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka.
Fraktur direposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali. Sesudah
reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik
berupa: pin, skrup, plat, dan paku.
Keuntungan reduksi : Akurat, pemeriksaan struktur neurovaskuler,
berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal, penyatuan sendi yang
berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat, rawat inap lebih
singkat.
Kerugian Kemungkinan terjadi infeksi dan osteomielitis tinggi.
B. Fiksasi Internal
Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi plat ke tulang.
Lubang kecil dibuat dari plat metal melewati tulang dan direkatkan dengan
paku dan skrup. Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain:
Observasi letak plat dan area post operasi, observasi tanda inflamasi,
observasi status neurovaskuler. Fiksasi internal dilaksanakan dalam teknik
aseptis yang sangat ketat dan pasien untuk beberapa saat mendapat
antibiotik untuk pencegahan infeksi setelah pembedahan.

3.11 Komplikasi
3.11.1 Komplikasi Awal
1. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin
pada ekstremitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
2. Kompartment Syndrome
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan
pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan
pembebatan yang terlalu kuat.
3. Fat Embolism Syndrome
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi
pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang
dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan
tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan
pernafasan, takikardia, hipertensi, tachypnea, demam.
4. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena
penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau
terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan
adanya Volkman’s Ischemia.
6. Syok
Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini
biasanya terjadi pada fraktur.
3.11.2 Komplikasi Dalam Waktu Lama2,4
1. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu
yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan
supai darah ke tulang.
2. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai
dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi
palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat
kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan
pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien didiagnosis dengan fraktur tertutup ⅓ proximal tibia fibula dextra


berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesis didapatkan pasien mengeluhkan tidak dapat dapat menggerakkan
tungkai kanan yang disertai nyeri dan bengkak. Pasien juga mengeluhkan terdapat
luka robek dan nyeri pada daun telinga kanan. Pada saat kecelakaan pasien
mengaku tidak menggunakan helm dan mengendarai motor dalam kecepatan
tinggi kemudian pasien bertabrakan dengan pengemudi motor lainnya. Keluhan
seperti rasa mengantuk, sempat tidak sadarkan diri, mual, muntah, keluar cairan
dari lubang hidung dan telinga, disangkal oleh pasien. Tidak ada keluhan maupun
gangguan dalam buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK).
Pada pemeriksaan fisik didapatkan, keadaan umum tampak sakit berat,
kesadaran compos mentis, GCS 15. Pada pemeriksaan tanda vital, tekanan darah
130/70 mmHg, nadi 104 x/menit, respiration rate 24 x/menit, suhu badan 37.7ᴼC.
Peningkatan tanda vital disebabkan oleh stressor berupa rasa nyeri akibat trauma
yang dialami pasien.
Status lokalis pasien dibagi menjadi dua, yaitu regio auricula dextra dan
regio cruris dextra. Pada regio auricula dextra didapatkan luka robek (vulnus
laceratum) dengan ukuran 2x1x0.5 cm. Pada regio cruris dextra didapatkan
tampak deformitas, edema dan vulnus laceratum ukuran 1x0.5x0.5 cm dan vulnus
ekskoriasi 1x1cm. Pada perabaan terdapat nyeri tekan, teraba hangat, dan
krepitasi. Saat digerakkan terdapat keterbatasan ruang gerak sendi.
Pada pemeriksaan penunjang foto rontgen regio cruris dextra AP-Lateral
didapatkan kesan Fraktur komplit oblik ⅓ proximal tibia dextra dan fraktur
inkomplit transversal fibula dextra. Hasil pemeriksaan ini mendukung anamnesis
dan pemeriksaan fisik sehingga diagnosis fraktur tertutup ⅓ proximal tibia fibula
dextra dapat ditegakkan.
Pada pasien dilakukan penatalaksanaan awal di IGD berupa stabilisasi
pasien dengan memberikan oksigen 3 l/menit, IVFD Ringer Laktat 20 tetes/menit,
medikamentosa berupa injeksi ceftriaxone 1gr/12 jam iv, ketorolac 1 amp/8 jam
iv, kalnex 1 amp, ranitidine 1 amp iv, penyuntikan ATS 1 amp. Kemudian pasien
di rawat inap untuk dilakukan operasi Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) tibia
dextra dan repair vulnus laceratum auricula dextra.
Pelaksanaan ORIF pada pasien sesuai indikasi yaitu fraktur fraktur pada
pasien tidak bisa direposisi secara tertutup dan tidak bisa sembuh atau bahaya
avascular necrosis tinggi. Rontgen cruris dextra AP-Lateral post op. ORIF tibia
dextra menunjukkan kesan proximal os.tibia terpasang plat dengan 6 sekrup dan
terfiksir dengan baik.
BAB V
KESIMPULAN

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang, jaringan


tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma
yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan
pada tungkai bawah yang menyebabkan patah tulang tibia dan fibula, dan dapat
berupa trauma tidak langsung.2,3 Fraktur sering kali terjadi pada pasien pasca
kecelakaan lalu lintas
Angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih sangat tinggi. Data Badan
Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada tahun 2015, jumlah kecelakaan lalu lintas
mencapai 98,9 ribu kasus. Angka ini meningkat 3,19% dibanding tahun
sebelumnya yang mencapai 95,5 ribu kasus. Jumlah kecelakaan lalu lintas dalam
10 tahun terakhir mengalami fluktuasi, peningkatan paling tinggi terjadi pada
tahun 2011, yakni mencapai 108 ribu kasus. Padahal pada tahun 2010 hanya
terjadi 66,5 ribu kasus. Sedangkan kasus yang paling banyak terjadi pada tahun
2012 dengan 117,9 ribu kasus (Bucholz et al., 2006).
Tingginya angka kecelakaan lalu lintas selaras dengan banyaknya jumlah
kasus kegawatdaruratan di bidang bedah ortopedi yang memerlukan penanganan
pertama yang cepat dan tepat. Oleh karena itu, perlu untuk dilakukan penyegaran
kembali tentang kegawatdaruratan di bidang bedah, terutama bedah orthopaedi
serta penanganannya untuk para dokter dan perawat yang berada di garda depan
pelayanan medis, sehingga dapat mengurangi angka kematian dan kecacatan yang
diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas tersebut.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Afif NH.,Akbar MIA., Rosyid AN.,2018. Gawat Darurat Medis dan


Bedah. 1st ed. Surabaya: Airlangga University Press. Pg: 25-6
2. Sjamsuhidajat, de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed 3. Jakarta: penerbit
Buku Kedokteran EGC.2007. Hal: 1039-1058.
3. Rasjad C. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone;
2009. p. 325-6; 355-420.
4. Solomon L, et al (eds). Apley’s system of orthopaedics and fractures. 9th
ed. London: Hodder Arnold; 2010.
5. Carter Michel A. Fraktur dan Dislokasi dalam: Price Sylvia A, Wilson
Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006. Hal 1365-1371
6. Patel Pradip R. Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes
Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-
230.