Anda di halaman 1dari 34

TUGAS INDIVIDU

TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING


REALITY THERAPY

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Dwi Yuwono Puji Sugiharto, M.Pd., Kons.
Mulawarman., M. Pd., Ph. D

Disusun Oleh:
Burhanudin (0106519019)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2020
A. JAWABLAH BEBERAPA PERTANYAAN DIBAWAH INI.
1. Menurut saudara jelaskan bagaimana munculnya masalah dari sudut pandang pendekatan
konseling Realita!
Jawab
a. Seperti yang dikemukakan Glasser, bahwa manusia selalu berupaya mengendalikan
dunia dan dirinya untuk memuaskan kebutuhan dasarnya. Maka ketika suatu
kebutuhan tidak mampu terpenuhi ini akan memunculkan masalah dalam diri
seseorang. Yang lebih lanjut seeorang akan mengalami kekaburan/kegagalan identitas
atau yng disebut dengan istilah Failure Identity. Akibatnya individu akan kehilangan
kontak dengan realitas objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan
realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, maupun tangguang jawab
(3R).
b. Dalam konseling realita juga dikatakan bahwa masalah yang mendasari kebanyakan
klien adalah sama: mereka terlibat dalam hubungan yang tidak memuaskan saat ini
atau tidak memiliki apa yang bahkan bisa disebut sebagai hubungan. Banyak masalah
yang muncul itu disebabkan oleh ketidakmampuan individu untuk terhubung, untuk
menjadi dekat dengan orang lain, atau untuk memiliki hubungan yang memuaskan
atau berhasil dengan setidaknya satu orang penting dalam hidup mereka.
c. Dalam pandangan Konseling Realita pula masalah muncul dari individu juga akibat
dari ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan dari cara mereka memilih untuk suatu
perilaku atau tindakan.
d. Seperti yang diungkapkan Glasser dalam Corey (2017) bahwa salah satu aksioma
dalam teori pilihan adalah masalah bisa muncul akibat masa lalu. Walau sebenarnya
Konseling Realita menentang konsep pengaruh masa lampau. Namun tidak semerta-
merta menghilangkan peran masa lalu dalam pandangannya masa lalu bukan lah
sumber permasalahan. masa lalu hanya memiliki kemungkinan untuk berkontribusi
pada masalah yang muncul saat ini. Jadi penekanannya tetap pada saat ini bukan
focus merenungi masa lalu. Karna walau masa lalu itu berpengaruh tetap pengaruh
tersebut dirasakan pada saat ini. Oleh sebab itu agar berfungsi secara efektif, orang
perlu hidup dan merencanakan masa kini dan mengambil langkah-langkah untuk
menciptakan masa depan yang lebih baik.

2. Jelaskan secara ringkas teori pilihan dalam pendekatan Realita!


Jawab
Teori pilihan menjelaskan bahwa segala tindakan yang dlakukan oleh individu
adalah merupakan hasil dari pilihanya sendiri.
Apa yang telah kita lakukan adalah hasil dari apa yang kita pilih dan apa yang telah kita
tentukan. Setiap perilaku kita merupakan upaya terbaik untuk mencapai apa yang
diinginkan untuk memuaskan kebutuhan kita. Karena sesungguhnya perilaku kita
bertujuan dan dirancang untuk menutup kesenjangan antara apa yang kita inginkan dan
apa yang kita persepsi kita dapati. Perilaku kita berasal dari dalam diri kita, kita telah
dianugrahi Choice Control dan dengan demikian maka kita mampu memilih arah hidup
kita. Bahkan termasuk perilaku yang sangat tidak sesuai pun adalah termasuk bentuk
pilihan. Berangkat dari konsep teori pilihan ini pula ketika ada suatu masalah maka,
individu dapat memilih untuk mengubah suatu perilaku yang bermasalah pada dirinya,
menyelesaikan setiap permaslahanya.
Corey (2027) mengemukakan bahwa dari teori pilihan ini terapis realita yakin agar
perubahan terjadi maka harus terpenuhi dua asumsi yakni
1) Individu harus menyadari bahwa perilakunya saat ini tidak efektif untuk memenuhi
kebutuhan dasarnya,
2) Ia harus yakin bahwa ia mampu memilih perilaku lain yang lebih efektif untuk
memuaskan kebutuhan dasarnya.

3. Individu boleh memilih apapun yang menjadi kebutuhan dirinya asalkan ia dapat
memenuhi kebutuhan tersebut dengan melakukan tindakan-tindakan yang sesuai kriteria
sehingga dapat dikatakan memiliki identitas yang berhasil. Jelaskan kriteria-kriteria
tersebut!
Jawab
Dalam teori konseling realita individu akan dikatakan sebagai pribadi yang sukses ketika
ia bisa mencapai 5 kebutuhan dasar sesuai denga konsep yang dikemukakan oleh Glasser.
Namun, pencapaian kebutuhan-kebutuhan tersebut tetap harus sinkron dan sesuai dengan
kriteria 3 R yang dimana, 3 Kriteria ini akan menjadi penentu dalam keberhasilan
identitas individu dalam memenuhi kebutuhannya. 3R disini yakni tanggung jawab
(responsibility), realitas (reality), dan norma (right).
Responsibility
Merupakan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya tanpa mengganggu
hak-hak orang lain.
Reality
Merupakan kesediaan individu untuk menerima konsekuensi logis dan alamiah dari suatu
perilaku. Merupakan kenyataan yang akan menjadi tantangan bagi individu untuk
memenuhi kebutuhannya. Setiap individu harus memahami bahwa ada dunia nyata,
dimana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam rangka mengatasi
masalahnya. Realita yang dimaksud adalah sesuatu yang tersusun dari kenyataan yang
ada dan apa adanya.
Right
merupakan nilai atau norma patokan sebagai pembanding untuk menentukan apakah
suatu perilaku benar atau salah. Individu memiliki pola identitas berhasil jika dalam
upaya memenuhi kebutuhan dasarnya senantiasa selaras dengan kriteria 3 R, tetapi jika
tindakan individu melanggar kriteria 3 R maka dia memiliki pola identitas gagal.
Identitas berhasil inilah yang biasanya berkembang pada individu yang adaptif.
Merupakan ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum, sehingga tingkah laku
dapat diperbandingkan. Individu yang melakukan hal ini mampu mengevaluasi diri
sendiri bila melakukan sesuatu melalui perbandingan tersebut ia merasa nyaman bila
mampu bertingkah laku dalam tata cara yang diterima secara umum.

4. Dalam tahapan/prosedur pengubahan perilaku pendekatan konseling Realita


menggunakan akronim WDEP. manakah dari ke-4 prosedur itu yang menjadi inti dari
tahap perubahan dalam konseling realita dan berikan alasannya.
Jawab
Glasser dan Wubbolding (dalam Corey, 2017) menjelaskan bahwa prosedur pengubahan
prilaku dalam konseling realita dapat dilakukan dengan formula WDEP, yang merupakan
akronim dari Wants, Direction/Doing, Evaluation, dan Planning. W (wants) menyiratkan
bahwa konselor membantu klien mengeksplorasi keinginan mereka baik itu motif
kebutuhan, harapan, persepsi individu dan lain sebagainya. Kemudian, D (direction)
berarti bahwa klien juga menggambarkan arah kehidupan mereka apa yang sedang
mereka lakukan atau bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka. E (Evaluation)
menunjukkan bahwa konselor atau terapis membantu dalam evaluasi diri klien dengan
mengajukan pertanyaan seperti reflektif Dan P (Planning) Klien dibantu untuk membuat
suatu rencana tindakan yang dapat dicapai. Ketika individu sudah dapat menentukan apa
yang mereka ingin mereka capai maka konselor membantu klien untuk dapat menentukan
bentuk perilaku yang dapat menunjang pencapaian tujuan yang mereka inginkan maka
dalam hal ini klien tidak hanya merancang rencana tujuan tetapi juga diajak
merencanakan aksi untuk mencapai tujuan tsb.

Evaliation adalah Formula Inti


Bebicara mengenai bagian mana yang paling penting dalam formula WDEP maka
Evaluation atau self evaluation menjadi inti dalam proses perubahan. Glasser (1990)
menggambarkan evaluasi diri sebagai inti dari kenyataan terapi. Self evaluation/evaluasi
diri merupakan formula yang paling penting, karena evaluasi diri ini memperluas
pemahaman klien tentang tindakan serta perilaku yang dilakukannya saat ini apakah
tindakan mereka saat ini efektif atau tidak efektif?. Karena pada dasarnya menurut
pandanga Konseling Terapi Realita individu adalah hakim bagi diri mereka sendiri yang
menentukan apakah keinginan mereka dapat dicapai atau tidak. Inidividu pula lah yang
memutuskan bgaimana pandangan dan persepsi mereka tentang diri mereka sendiri dan
dunia sekitar mereka.
B. OUTLINE TEORI & PENDEKATAN KONSELING

PROGRAM STUDI MAGISTER BIMBINGAN KONSELING UNNES


NAMA : Burhanudin (0106519019)
Rombel : Reguler A
Program Studi : Pacasarjana Bimbingan dan Konseling
Mata Kuliah : Teori dan Pendekatan Konseling

PETA KONSEPTUAL TEORI & PENDEKATAN KONSELING


No Aspek Deskripsi Referensi
1 Nama Teori & REALITY THERAPY
Pendekatan Konseling
2 Tokoh Pengembang WILLIAM GLASSER (1925-2013)
teori
3 Konsep Dasar: Hakikat Manusia Corey, 2017
a. Hakekat manusia 1. Setiap Manusia memiliki potensi bawaan untuk fall, 2012
b. Konsep mengendalikan pikiran dan prilaku serta memiliki
Kepribadian & kemampuan untuk memilih setiap tindakan namun,
Perkembangan tidak mampu memilih atau meyangkal konsekuensi
yang muncul dari setiap pilihan yang mereka pilih.
segala sesuatu yang dilakukan Individu adalah
pilihan individu itu snediri. Apa yang dilakukan
individu adalah individu yang
memilihnya/memutuskannya untuk melakukan hal
tersebut.
2. Setiap Manusia memiliki control atas diri
mereka sendiri
Manusia dilahirkan tidak seperti kertas kosong atau
papan tulis yang menunggu untuk dipengaruhi oleh
dunia eksternal serta kekuatan-kekuatan dunia di
sekitarnya, setiap menusia memiliki control atas
pilihan serta perkembangan dalam kehidupannya
namun, demikian Choice theory tidak
mengesampingkan pengaruh lingkungan.
3. Setiap Manusia dilahirkan dengan
kecenderungan untuk memenuhi kebutuhannya
ada lima kebutuhan yang dikodekan secara genetis
dintaranya:
a) Bertahan hidup, atau mempertahankan diri;
b) Cinta dan dimiliki;
c) Kekuatan, atau kontrol batin;
d) Kebebasan, atau kemerdekaan;
e) Kesenangan, atau kenikmatan.
4. Dalam setiap tindakan manusia memiliki dua
kecenderungan ada yang bertanggung jawab dan
tidak bertanggung jawab dan ada yang efektif serta
tidak efektif.
5. Kadar kebutuhan setiap Individu berbeda-beda
Masing-masing dari kita memiliki 5 kebutuhan,
seperti yang disebutkan pada poin 3 di atas. Hanya
saja seriap orang memiliki kadar kekuatan
berbeda-beda dalam setiap jenis kebutuhan.
Misalnya, semua orang memiliki kebutuhan akan
cinta dan kepemilikan, tetapi sebagian dari yang
lain membutuhkan lebih banyak cinta/atau kadar
kebutuhan akan cinta lebih besar dari yang lain .
6. Kebutuhan utama setiap manusia adalah
kebutuhan rasa cinta.
Choice theory dibangun dari premis bahwa karena
manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial,
setiap orang perlu saling menerima dan mengasihi
satu sama lain. Glasser (2001, 2005) percaya
kebutuhan untuk mencintai dan menjadi bagian
adalah kebutuhan utama karena kita membutuhkan
orang untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Love
and belonging merupakan kebutuhan yang
paling sulit untuk dipenuhi karena kita harus
memiliki orang yang kooperatif untuk membantu
kita mencapainya.

Konsep kepribadian dan perkembangan


1. Otak manusia berfungsi sebagai sistem control
dan pusat prilaku serta kepribadian manusia.
Otak dan cara kerja pikiran akan terus memantau
perasaan kita, menentukan seberapa baik tindakan
yang kita lakukan dalam upaya memenuhi setiap
kebutuhan. Seseorang akan merasa buruk jika satu
atau lebih dari lima kebutuhan ini tidak terpenuhi.
Karena setiap manusia ingin merasa lebih baik
2. Dalam Choice theory diajarkan bahwa individu
tidak memenuhi kebutuhannya secara
langsung. Namun kebutuhan tersebut diperoleh
melalui proses perkembangan dan belajar dimulai
segera setelah lahir dan berlanjut pada seluruh
tahap kehidupan, setiap individu terus melacak
apa pun yang mereka lakukan yang menurut
mereka baik untuk diri mereka.
3. Quality world
Setiap informasi serta pengalaman disimpan di
dalam pikiran dan disusun sebagai file keinginan,
yang disebut sebagai dunia berkualitas, yang
merupakan inti dari kehidupan individu. Ini adalah
Shangri-la kepribadian (istilah yang digunakan
untuk menggambarkan tempat yang indah, tempat
yang ingin kita tinggali seandainya kita bisa)
4. Picture Album adalah kumpulan dari segenap
keinginan spesifik merupakan bagian dari Quality
world individu serta cara yang tepat untuk
memuaskan keinginan individu. Beberapa individu
kadang memiliki beberapa gambaran keinginan
yang mungkin kabur dan tidak jelas maka, peran
terapis adalah untuk membantu klien
mengklarifikasi atau memperjelas keinginan
mereka. Baik itu Quality World ataupun Picture
Album adalah keinginan yang tidak bersifat umum
namun merupakan kebutuhan/keinginan yang
bersifat spesifik bisa berupa sosok spesifik orang
(sosok idaman), kegiatan, peristiwa, kepercayaan,
kepemilikan, dan situasi yang memenuhi
kebutuhan kita.
5. Peran Lingkungan
Perilaku berasal dari dalam diri mereka dan tidak
didorong oleh dunia eksternal mereka. Namun
tidak semerta-merta mengesampingkan peran
lingkungan sebagai tempat individu dalam
memperoleh pengalaman hidup.
a) Lingkungan Keluarga/Aktor Keluarga
Keluarga memberi anak yang sedang tumbuh
kesempatan awal untuk memenuhi kebutuhan.
b) Lingkungan Ekstrafamilial
Lingkungan tempat tinggal seseorang dapat
memberikan contoh kehidupan sosial; dan
budaya seseorang memberikan landasan untuk
segala sesuatu mulai dari ritual masyarakat
hingga bahasa dan makanan apa yang pantas
untuk dimakan. Dari lingkungan ini pula
individu dapat mengenal adanya norma dan
aturan yang mengikat individu dalam
memenuhi kebutuhannya.
6. Prilaku/Behavior adalah keseluruhan tindakan
individu yang ia pilih dan ia lakukan sejak lahir
sampai wafat. Prilaku dalam pandangan teori ini
bukan hanya diartikan sebagai tindakan yang kasat
mata melainkan berpikir dan merasa juga bagian
dari perilaku.
7. Perilaku total/Total Behavior
Adalah bentuk keselaranan dari empat komponen
yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan
akting, pemikiran (Thinking), perasaan (feeling),
dan fisiologi
Thinking and Ackting pemikiran dan akting,
merupakan bagian terpenting dalam prilaku total
8. Kecanduan Positif Positive Addiction
Untuk mengembangkan kecanduan positif,
seseorang harus terlibat setiap hari dalam perilaku
yang menghasilkan tinggi alami dan memerlukan
sedikit konsentrasi konkret sehingga pikiran bebas
dari hal-hal kecil dari keberadaan sehari-hari
Contoh lain dari kecanduan positif adalah meditasi.
Berlari dan meditasi jelas bukan satu-satunya
kecanduan positif. Kami mendorong Anda untuk
memikirkan contoh dan menyadari bahwa perilaku
apa pun yang meningkatkan kehidupan yang
efektif adalah langkah positif. 
Perkembangan mental
Fungsi Mental Sehat
Fungsi yang sehat ditandai oleh
a) perilaku yang bertanggung jawab: kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa
mencegah orang lain memenuhi kebutuhan
mereka.
b) dapat membangun hubungan dengan orang lain
dan mampu mengembangkan dan memelihara
koneksi vital untuk memenuhi kebutuhan.
c) Memiliki prinsip keseimbangan yang baik dalam
memenuhi setiap kebutuhan
d) Self Talk yang baik “Saya Ingin Berubah dan Saya
Ingin Tumbuh”
e) Perilaku Asertif dan Altruistik
f) Perilaku Berpikir Positif
g) Perasaan Efektif dan Perilaku Fisiologis

Prilaku tidak sehat


Menurut Glasser, bahwa manusia selalu berupaya
mengendalikan dunia dan dirinya untuk memuaskan
kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar tersebut adalah
kebutuhan untuk bertahan hidup dan melanjutkan
keturunan (the need to survive and reproduce),
kebutuhan untuk memiliki (the need to belong),
kebutuhan untuk memperoleh kekuasaan (the need for
power), kebutuhan untuk memperoleh kebebasan (the
need for freedom), dan kebutuhan untuk memperoleh
kesenangan (the need for fun).
Pemenuhan (terpenuhi dan tidaknya) kebutuhan dasar
tersebut mempengaruhi kondisi identitas seseorang
individu. Individu yang dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya akan memiliki identitas sukses (success
identity). Identitas sukses merupakan citra diri positif.
Orang demikian akan bertingkah laku yang
bertanggung jawab (memenuhi kebutuhan dasar tanpa
mengganggu orang-orang lain dalam memenuhi
kebutuhan dasar mereka), realistis (kesediaan
menghadapi kenyataan dan menerima konsekuensi
logis dari pilihannya), dan layak secara moral (standar
nilai-nilai dan norma yang berlaku) sehingga ia merasa
mampu, optimistis, berhubungan dengan orang lain
secara sehat, mampu mempengaruhi lingkungan, dan
dapat membuat keputusan untuk masa depannya.
Sebaliknya, individu yang gagal memenuhi kebutuhan
dasarnya akan mengalami identitas gagal (failure
identity). Identitas gagal merupakan citra diri negatif.
Individu demikian akan bertingkah laku yang tidak
bertanggung jawab, tidak realistis, dan tidak layak
secara moral sehingga ia merasa kurang mampu,
pesimes, kurang terlibat dengan orang lain, bergantung
pada orang lain, dan merasa tidak berharga sebagai
manusia. Individu yang beridentitas gagal inilah
merupakan individu yang bermasalah.

Dalam proses konseling dengan menggunakan


pendekatan konseling realitas, konselor tidak terlalu
banyak mendengarkan dan memperhatikan keluhan,
cacian, dan kritikan, karena hal tersebut merupakan
perilaku manusia yang tidak efektif. Fokus konseling
realitas adalah perilaku-perilaku yang efektif pada
manusia. Inilah yang menjadi karakteristik pendekatan
konseling realitas, beberapa diantaranya adalah,
4 Proses Konseling Tujuan Konseling Corey, 2017
(Tujuan & tahapan Tujuan dasar terapi realitas adalah untuk membantu
umum) klien mempelajari cara-cara yang lebih baik untuk
memenuhi semua kebutuhan mereka, termasuk
pencapaian, kekuasaan atau kontrol batin, kebebasan
atau kemandirian, dan kesenangan. Kebutuhan dasar
manusia berfungsi untuk memfokuskan perencanaan
perawatan dan menetapkan tujuan jangka pendek dan
jangka panjang. Terapis realita membantu klien dalam
membuat pilihan yang lebih efektif dan bertanggung
jawab terkait dengan keinginan dan kebutuhan mereka. 
Tujuan dari konseling realitas adalah sama dengan
tujuan dari kehidupan manusia yaitu membantu
individu untuk mencapai success identity. Untuk
mencapai success identity diperlukan suatu rasa
tanggung jawab dari individu, untuk mencapinya
individu harus mencapai kepuasan terhadap kebutuhan
personal. Untuk memenuhi kepuasan terhadap
kebutuhan tersebut perlu diperhatikan 3R yaitu Right
(merupakan nilai atau norma patokan sebagai
pembanding untuk menentukan apakah suatu perilaku
benar atau salah), Responsibility (merupakan
kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya
tanpa mengganggu hak-hak orang lain), Reality
(merupakan kesediaan individu untuk menerima
konsekuensi logis dan alamiah dari suatu perilaku).
Selain itu tujuan mendasar dari konseling realita adalah
membantu konseli agar memiliki control yang lebih
besar terhadap kehidupannya sendiri dan mampu
membuat pilihan yang baik.

Tahapan-Tahapan Konseling
Komponen Konseling
(1) menciptakan lingkungan konseling dan
(2) menerapkan prosedur khusus yang mengarah pada
perubahan perilaku. Seni konseling adalah menenun
komponen-komponen ini bersama-sama dengan
cara yang mengarahkan klien untuk mengevaluasi
kehidupan mereka dan memutuskan untuk bergerak
ke arah yang lebih efektif. 

Asumsi perubahan
(1) ketika konseli yakin bahwa perilakunya saat ini
tidak memenuhi kebutuhan
(2) ketika konseli percaya bahwa ia dapat memilih
perilaku lain yang akan membuat kita lebih dekat
untuk apa yang kita inginkan.

Tahapan-tahapan
Dalam menerapkan prosedur konseling realitas,
Wubbolding (dalam Corey, 2017) mengembangkan
sistem WDEP. WDEP adalah akronim dari: W = wants
and needs (keinginan-keinginan dan kebutuhan-
kebutuhan), D = direction and doing (arah dan
tindakan), E = self evaluation (evaluasi diri), dan P =
planning (perencanaan).
Di samping itu, perlu untuk diingat bahwa dalam
konseling realitas harus terlebih dulu diawali dengan
pengembangan keterlibatan. Oleh karenanya sebelum
melaksanakan tahapan dari sistem WDEP harus
didahului dengan tahapan keterlibatan (involvement)
(Rasjidan, 1994). Berikut ini bahasan mengenai
konseling realitas secara lebih mendetail.

Pengembangan Keterlibatan
Dalam tahap ini konselor mengembangkan kondisi
fasilitatif konseling, sehingga klien terlibat dan
mengungkapkan apa yang dirasakannya dalam proses
konseling.
A. W: Wants (Eksplorasi Keinginan, Kebutuhan
dan Persepsi)
Dalam tahap eksplorasi keinginan, kebutuhan dan
persepsi konselor berusaha mengungkapkan semua
kebutuhan klien beserta persepsi klien terhadap
kebutuhannya. Eksplorasi kebutuhan dan
keinginan dilakukan terhadap kebutuhan dan
keinginan dalam segala bidang, meliputi kebutuhan
dan keinginan terhadap keluarga, orang tua, guru,
teman-teman sebaya, sekolah, guru, kepala
sekolah, dan lain-lain. Konselor, ketika
mendengarkan kebutuhan dan keinginan klien,
bersifat menerima dan tidak mengkritik..
B. D: Directions and Doing (Eksplorasi Arah dan
Tindakan)
Eksplorasi tahap ini dilakukan untuk mengetahui
apa saja yang telah dilakukan klien guna mencapai
kebutuhannya. Tindakan yang dilakukan oleh klien
yang dieksplorasi berkaitan dengan masa sekarang.
Tindakan atau perilaku masa lalu juga boleh
dieksplorasi asalkan berkaitan dengan tindakan
masa sekarang dan membantu individu membuat
perencanaan yang lebih baik di masa mendatang.
Dalam melakukan eksplorasi arah dan tindakan,
konselor berperan sebagai cermin bagi klien.
Tahap ini difokuskan untuk mendapatkan
kesadaran akan total perilaku klien. Membicarakan
perasaan klien bisa dilakukan asalkan dikaitkan
dengan tindakan yang dilakukan oleh klien.
Beberapa bentuk pertanyaan yang dapat digunakan
dalam tahap ini: “Apa yang kamu lakukan?”, “Apa
yang membuatmu berhenti untuk melakukan yang
kamu inginkan?”, Apa yang akan kamu lakukan
besok?”
C. E: Evaluation (Self Evaluation)
Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi tindakan
yang dilakukan konselor dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan keinginannya: keefektifan dalam
memenuhi kebutuhan. Beberapa pertanyaan yang
dapat digunakan untuk memandu tahapan ini:
- Apakah yang kamu lakukan menyakiti atau
membantumu memenuhi kebutuhan?
- Apakah yang kamu lakukan sekarang seperti
yang ingin kamu lakukan?
- Apa perilakumu sekarang bermanfaat bagi
kamu?
- Apakah ada kesesuaian antara yang kamu
lakukan dengan yang kamu inginkan?
- Apakah yang kamu lakukan melanggar aturan?
- Apakah yang kamu inginkan dapat dicapai atau
realistik?
- Apakah kamu menguji keinginanmu; appakah
keinginanmu benar-benar keinginan terbaikmu
dan orang lain?
Setelah proses evaluasi diri ini diharapkan klien
dapat malakukan evaluasi diri bagi dirinya secara
mandiri.
D. P: Planning (Rencana dan Tindakan)
Ini adalah tahap terakhir dalam konseling realitas.
Di tahap ini konselor bersama klien membuat
rencana tindakan guna membantu klien memenuhi
keinginan dan kebutuhannya.
Karakteristik perencanaan
- Rencana tersebut berada dalam batas motivasi
dan kapasitas klien. Konselor yang terampil
membantu klien mengidentifikasi rencana yang
melibatkan hasil pemenuhan kebutuhan yang
lebih besar. Klien mungkin ditanya, "Rencana
apa yang bisa Anda buat sekarang yang akan
menghasilkan kehidupan yang lebih
memuaskan?"
- Rencana yang baik sederhana dan mudah
dimengerti. Mereka secara realistis bisa
dilakukan, positif daripada negatif, tergantung
pada perencana, spesifik, segera, dan berulang.
Meskipun mereka harus spesifik, konkret, dan
terukur, rencana harus fleksibel dan terbuka
untuk revisi ketika klien mendapatkan
pemahaman yang lebih dalam tentang perilaku
spesifik yang ingin mereka ubah.
- Rencana tersebut melibatkan tindakan positif,
dan dinyatakan dalam hal apa yang klien mau
lakukan. Bahkan paket kecil dapat membantu
klien mengambil langkah signifikan menuju
perubahan yang diinginkan.
- Konselor mendorong klien untuk
mengembangkan rencana yang dapat mereka
lakukan secara independen dari apa yang
dilakukan orang lain. Rencana yang bergantung
pada orang lain membuat klien merasa bahwa
mereka tidak mengendalikan kapal mereka
sendiri tetapi berada di bawah lautan.
- Rencana yang efektif berulang dan, idealnya,
dilakukan setiap hari.
- Rencana dilaksanakan sesegera mungkin.
Konselor dapat mengajukan pertanyaan , “Apa
yang Anda bersedia lakukan hari ini untuk
mulai mengubah hidup Anda?”
- Rencana melibatkan kegiatan yang berpusat
pada proses. Misalnya, klien dapat
merencanakan untuk melakukan salah satu dari
yang berikut: melamar pekerjaan, menulis surat
kepada teman, mengikuti kelas yoga,
mengganti makanan bergizi dengan makanan
cepat saji, mencurahkan dua jam seminggu
untuk menjadi sukarelawan bekerja, atau
berlibur yang mereka inginkan.
- Sebelum klien melaksanakan rencana mereka,
adalah ide yang baik bagi mereka untuk
mengevaluasinya dengan terapis mereka untuk
menentukan apakah itu realistis dan dapat
dicapai dan apakah itu berkaitan dengan apa
yang mereka butuhkan dan inginkan. Setelah
rencana dilaksanakan dalam kehidupan nyata,
akan berguna untuk mengevaluasi kembali dan
membuat revisi apa pun yang mungkin
diperlukan.
- Untuk membantu klien berkomitmen pada
rencana mereka, akan berguna bagi mereka
untuk
5 Kajian Empirik Banyak penelitian yang membuktikan kemanjuran
Efikasi/efektivitas konseling realita dalam lingkup Pendidikan khususnya
Pendekatan di seting dalam memberikan bantuan terhadap masalah prilaku
Pendidikan yang muncul diantaranya:
1. Reni Susanti, Efektifitas Konseling Realitas Untuk
Peningkatan Regulasi Diri Mahasiswa Dalam
Menyelesaikan Skripsi
(Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan
Syarif Kasim Riau)
Salah satu permasalahan yang dihadapi mahasiswa
tingkat akhir dalam menyelesaikanskripsinya adalah
rendahnya kemampuan untuk meregulasi diri,
sehingga sebagian mahasiswa cenderung menunda-
nunda proses penyelesaian tugas akhirnya. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efektifitas penggunaan konseling
realitas bagi peningkatan regulasi diri mahasiswa
yang sedang mengerjakan skripsi. Adapun disain
yang digunakan dalam penelitian ini adalah one
group pretest posttest design. Subjek penelitian
terdiri atas 5 orang mahasiswa yang dipilih dengan
teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria
yang telah ditetapkan.
Hasil
Berdasarkan hasil analisis menggunakan statistic
non parametric Wilcoxon Sign RankTest
disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang
signifikan terhadap regulasi diri mahasiswa dengan
taraf signifikansi p=0.031, Z = -2.023, dan effect
size yang tergolong tinggi, yakni -0.90. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa konseling
realitas efektif untuk meningkatkan regulasi diri
mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi.

2. Nuraini, Dewi Ratih. 2011. Keefektifan Konseling


Realita Untuk Meningkatkan Pengendalian
Perilaku Siswa di SMA Negeri 1 Kedungwaru
Tulungagung. Skripsi. Program Studi Bimbingan
dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan,
Universitas Negeri Malang.
Analisis hasil penelitian menggunakan statistic
nonparametric dengan menggunakan uji beda
Wilcoxon (The Wilcoxon Signedranks test). Dari
hasil penghitungan uji beda dengan formula
wilcoxon didapatkan nilai Z wilcoxon sebesar
-2,060 dengan probabilitas (p) atau signifikansi (α)
sebesar 0,039. Oleh karena nilai Z wilcoxon
memiliki probabilitas (p) atau signifikansi (α)
kurang dari 0,05 (p < 0,05)
Hasil
Dalam penelitian ini terbukti ada perbedaan yang
signifikan antara skor data pengendalian perilaku
sebelum dan setelah pemberian treatmen,
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Konseling
Realita efektif untuk meningkatkan pengendalian
perilaku siswa di SMA Negeri 1 Kedungwaru
Tulungagung.
6 Diferensiasi dengan Keunggulan Corey, 2017
Teori/Pendekatan lain 1. Menekankan pada pilihan dan tanggung Jawab
a. Keunggulan & dalam choice theory individu dipandang sebagai
dibanding teori lain yang bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri
b. Kritik terhadap karena mereka memiliki lebih banyak kontrol
teori terhadap perilaku mereka daripada yang sering
mereka yakini.
2. Penekanan pada masa sekarang Glasser (2001) tidak
setuju dengan asumsi ini dan berpendapat bahwa
kesalahan apa pun yang dilakukan di masa lalu
tidak relevan sekarang. Sebuah aksioma teori
pilihan adalah bahwa masa lalu mungkin telah
berkontribusi pada masalah saat ini tetapi masa lalu
tidak pernah menjadi masalah.
3. Berfokus pada tingkah laku yang real dan konkrit
untuk mencapai tujuan yang akan datang.
4. Berorientasi pada keadaan yang akan datang ,
dengan fokus pada tingkah laku sekarang yang
dapat di ubah, diperbaiki, dianalisis dan ditafsirkan.

Kritik

1. Konseling realita tidak memberi penekanan cukup


pada perasaan, ketaksadaran, nilai terapis bermimpi,
penempatan pemindahan/transferensi dalam
konseling, pengaruh trauma awal masa kanak-
kanak, dan kekuatan masa lalu untuk
mempengaruhi kepribadian seseorang.
2. Ada suatu kecenderungan pendekatan ini untuk
mengurangi peran yang rumit dari lingkungan sosial
dan budaya seseorang dalam membentuk perilaku.
Mungkin ini lebih merupakan trietmen yang
berorientasi gejala dan mengabaikan suatu explorasi
isu emosional yang lebih dalam.
7 Teori/Pendekatan lain .
sebagai turunan teori
asal:
a. Nama pendekatan
b. Konsep Dasar
Ringkas
C. ANALISIS KRITIS JURNAL INTERNASIONAL

Nama : Burhanudin (0106519019)


Rombel : Reguler A
Program Studi : Pacasarjana Bimbingan dan Konseling
Mata Kuliah : Teori dan Pendekatan Konseling

Pendekatan/Teori REALITY THERAPY


Konseling
Judul Jurnal Effectiveness of Group Reality Therapy in Increasing the teachers'
Happines
Efektivitas Terapi Realitas Kelompok dalam
Meningkatkan Kebahagiaan Guru
Oleh Anahita Nematzadeh dan Hossein Sheikhy Sary
Hasil Analisis Kritis
Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi persepsi dan
pendapat terhadap kebahagiaan di antara para guru. Namun, karena
Psikologi Positif adalah bidang yang muncul dari Psikologi, ada
kebutuhan lebih lanjut untuk mengeksplorasi dan memvalidasi penelitian
ini.
Fokus Pada Populasi statistik terdiri dari semua guru (134 individu) yang mengajar di
Populasi/Kelompok Kashan, di mana 24 orang dipilih menggunakan convenience sampling.
Konseli yang Individu yang mencetak satu standar deviasi di bawah rata-rata kemudian
Dijadikan Subjek secara acak ditugaskan ke kelompok eksperimen dan kontrol.
Penelitian
Lingkup Teori Teori Konseling Realitas yang Melatar Belakangi Penelitian
Konseling Terapi realitas telah dianggap sebagai salah satu bantuan yang ditujukan
untuk menciptakan kebahagiaan dan telah terbukti efektif. Glasser (1981,
1985) mengadaptasi teori ini ke seting klinis dan merumuskannya dengan
cara yang membuatnya berguna bagi terapis, konselor, dan lainnya.
Glasser melihat manusia sebagai individu yang termotivasi oleh lima
kekuatan internal. Kebutuhan manusia ini adalah bawaan, bukan
dipelajari; umum, tidak spesifik; dan universal, tidak terbatas pada ras
atau budaya tertentu. Semua perilaku ditujukan untuk memenuhi empat
kebutuhan psikologis yaitu memiliki, berkuasa, bersenang-senang (atau
menikmati), dan kebebasan, serta kebutuhan fisik untuk bertahan hidup.
Kepuasan yang efektif dari kebutuhan ini menghasilkan rasa kontrol yang
oleh teori lain disebut sebagai aktualisasi diri, pemenuhan diri, atau
menjadi orang yang berfungsi penuh. Karena teori dan praktik terapi
realitas didasarkan pada perilaku sadar, keinginan, kebutuhan, dan
persepsi manusia, mereka berlaku di hampir setiap pengaturan. Ada
intervensi yang dapat diidentifikasi dengan jelas yang merupakan inti dari
terapi realitas. Glasser (1990a) mengatakan, “seni konseling adalah
menenun komponen-komponen ini bersama-sama dengan cara yang
mengarahkan klien untuk mengevaluasi kehidupan mereka dan
memutuskan untuk bergerak ke arah yang lebih efektif. Wubbolding
(2001, 2002) terapis membantu klien merumuskan, mengklarifikasi,
melukiskan, dan memprioritaskan elemen (keinginan) yang terkandung
dalam dunia kualitas gambar mental mereka. Dengan menggambarkan
tujuan keseluruhan mereka, klien menjadi siap untuk mengevaluasi dan
mengubah pemikiran dan perilaku mereka. Dia juga meminta klien untuk
melakukan evaluasi diri pencarian. Glasser (1990a, 1990b)
menggambarkan evaluasi diri sebagai inti dari terapi realitas. Menurut
Glasser, semua orang menghasilkan perilaku untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Ketika orang berusaha menyelesaikan berbagai tugas
perkembangan, mereka berhasil atau gagal. Ketika mereka biasanya gagal
memenuhi kebutuhan mereka secara efektif, mereka mengembangkan
identitas kegagalan (Glasser, 1972, 1985) yang ditandai oleh perilaku
yang tidak efektif atau di luar kendali. 
Pelaksanaan atau Peserta menggunakan desain quasi-eksperimental, pretest-posttest dengan
Prosedur kelompok kontrol. Populasi statistik terdiri dari semua guru (134 individu)
Penelitiannya di Kashan, di mana 24 orang dipilih menggunakan convenience sampling.
Individu yang mencetak satu standar deviasi di bawah rata-rata kemudian
secara acak ditugaskan untuk kelompok eksperimen dan kontrol. 
Pengukuran Kebahagiaan menggunakan instrument Oxford Inventarisasi
Kebahagiaan 
Oxford adalah instrumen pilihan ganda 29-item. Setiap item berisi empat
opsi, dibangun untuk mencerminkan langkah-langkah tambahan yang
didefinisikan sebagai: tidak bahagia atau sedikit tertekan, tingkat
kebahagiaan yang rendah, tingkat kebahagiaan yang tinggi, dan mania.
Para responden diminta untuk “memilih satu pernyataan di setiap
kelompok yang paling menggambarkan perasaan mereka selama
seminggu terakhir,
Metode Penelitian Jenis Penelitian Kuantitatif dengan Metode Eksperimental,
Implikasi Temuan penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan di awal.
Temuannya/Hasilnya Terungkap bahwa terapi realita dengan format kelompok telah
Bila Diterapkan di menyebabkan perubahan positif pada kelompok eksperimen.
Indonesia (Gunakan Perbandingan antara rata-rata kelompok menunjukkan bahwa skor
Analisis dan responden dalam post test telah meningkat dibandingkan dengan skor
Argumentasi Saudara individu dalam kelompok kontrol dan hasilnya menemukan dukungan
untuk efektivitas terapi realitas kelompok dalam meningkatkan
kebahagiaan individu. Selain itu, terapi realitas kelompok memiliki efek
positif pada peningkatan kepuasan hidup (138,02, p <0,05). Analisis data
menunjukkan bahwa korelasi antara terapi realitas kelompok (128,83, p
<0,05) adalah signifikan. Terlebih lagi, terapi realitas kelompok efektif
dalam meningkatkan efikasi diri individu (116,62, p <0,05), harga diri
(31,42, p <0,05) dan kesehatan (223,08, p <0,05). 

Argumentasi
Penelitian telah menunjukkan bahwa guru sekolah memainkan peran vital
dalam meningkatkan kesehatan mental, mengidentifikasi anak-anak yang
berisiko mengalami gangguan psikologis dan merujuk mereka untuk
menerima bantuan professional. Semua fakta yang disebutkan di atas
menunjukkan perlunya guru yang sehat secara mental, karena guru
berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai dasar Pendidikan kepada
siswanya, oleh karena itu, pada dasarnya masyarakat yang sehat akan
dapat tercipta ketika kita memiliki guru yang optimis dan bahagia yang
memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi. Telah ada penelitian tentang
manfaat berbagai jenis terapi atau perubahan gaya hidup untuk
meningkatkan kebahagiaan individu. Di Indonesia sendiri masih banyak
guru yang jauh dari kata bahagia, kebahagiaan guru di Indonesia bisa kita
ukur dari tingkat kesejahteraan hidupnya. Walau pemerintah sudah serius
memajukan kesejahteraan, namun tetap saja ada kalangan pendidik yang
luput dari upaya peningkatan kesejahteraan. Ini bisa dilihat dari adanya
kesenjangan antara kesejahteraan guru berstatus PNS yang berbeda
dengan guru swasta yang bergantung pada Yayasan, Belum lagi, guru
honorer yang kesejahteraannya tidak memiliki kepastian, lantaran
bergantung pada sekolah tempat penugasan. Juga masih terlihat
kesenjangan antara kesejahteraan guru di perkotaan dan di pelosok.
Namun, kembali lagi seperti pernyataan yang dikemukakan dalam
penelitian ini bahwa kebahagiaan bersifat relative dan adanya konseling
realitas paling tidak bisa menjadi alternatif dalam meningkatkan
kebahagiaan guru di Indonesia membantu setiap guru menghadapi
kenyataan dengan lapang dada. Karena pada dasarnya tujuan utama dari
konseling realita terhadap kesehatan mental adalah untuk membantu
orang hidup lebih bahagia, dan membantu mereka mendiagnosis dan
mencegah gangguan perilaku, emosi, psikologis, kepribadian, dan afektif.
Dan harapannya untuk pemerintah yang agar lebih memperhatikan
kesejahteraan guru, menciptakan masyarakat yang sehat , menciptakan
kondisi-kondisi kemakmuran dan kesejahteraan bagi guru harus secara
serius mempertimbangkan komponen-komponen kebahagiaan dan cara-
cara meningkatkannya.
D. ANALISISLAH KASUS ANDIEN DENGAN MENGGUNAKAN TEORI
KONSELING PENDEKATAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK
ANALISA KASUS ANDIEN
Andien adalah siswi kelas XII SMA di salah satu sekolah favorit di Semarang.
Andien datang untuk konseling pertama kalinya tatkala ia mengalami kekecewaan
ketika hasil ujian semesternya tidak sesuai seperti yang ia harapkan. Berikut adalah
data ringkasan yang secara singkat diperoleh konselor selama proses wawancara
konseling dengan Andien.
a. Sejarah Psikososial
Andien merupakan anak tunggal dari keluarga yang kaya dan terpandang di
daerahnya. Ia tumbuh dan dibesarkan di keluarga yang sangat menyayanginya,
terutama ayahnya, yang bersifat permisif dan mengizinkan apapun yang dilakukan
olehnya. Ketika kecil Ayahnya selalu menuruti keinginan Andien. Sedangkan Ibu
Andien bersikap sebaliknya yang mempunyai sifat otoriter, kaku, dan over
protective dengan seringkali menuntut dan mengatur perilakunya. Andien
memandang Ibunya sebagai sosok dengan ekspektasi yang tinggi. Terkadang ia
merasa takut jika tidak dapat memenuhi semua tuntutan dan harapan Ibunya.
Walaupun demikian ia tetap menjadi anak yang patuh dan rajin, baik di rumah
maupun disekolah. Hal itu turut membentuk perilakunya yang selalu ingin menjadi
juara dan tampil menonjol di semua bidang. Dalam pikirannya, Andien meyakini
bahwa hidupnya tak akan sukses bila tidak memenuhi semua tuntutan dari Ibunya.
Menurutnya sempurnanya hidup adalah dengan mematuhi apa yang diinginkan
orang tuanya.
b. Identifikasi Masalah
Secara umum Andien merasa tidak puas dengan prestasinya yang ia capai di kelas
XII ini. Walaupun ia tetap memperoleh nilai yang tinggi di kelasnya, namun ia
kecewa karena tidak dapat menjadi yang terbaik di kelasnya, ia hanya
mendapatkan peringkat 2 dalam rangking ujian. Ia berpikir sudah melakukan yang
terbaik namun hasil yang ia dapatkan tidak sesuai dengan harapannya. Memang
dalam hal ini Andien cukup sulit untuk membagi waktu belajar nya dengan waktu
organisasi. Dimana sebenarnya pun dalam berorganisasi ia meyakini akan
mendukung preatasi dan yang bisa dibanggakannya kepada orang tua. Ia sangat
berharap menjadi juara kelas agar mendapat pujian dan pengakuan dari orang lain,
terkhusus orangtuanya. Ia tahu orangtuanya, terlebih Ibunya berharap tinggi
padanya. Setelah penerimaan nilai ujian itu, tidak henti-hentinya ia menyalahkan
diri sendiri, menyalahkan keadaan yang ia alami. Bahkan karenanya Andien
mengungkapkan pula beberapa keluhan psikosomatik, seperti tidak dapat tidur
nyenyak, kecemasan, pusing, dan sakit kepala. Ia mudah menangis jikalau
mengingat kegagalannya, sering merasa tertekan, dan tidak menyukai dirinya
sendiri. Ia merasa telah gagal dan telah mengecewakan kedua orang tuanya.
Andien juga kebingungan akan bagaimana masa depannya ketika semua hal
tersebut tidak berjalan secara efektif. Padahal beberapa kali Andien memiliki
kemampuan untuk menyelesaikan beberapa masalahnya sendiri dengan melihat
lebih fokus pada prioritas dan konsistensi mengerjakan tugas hingga selesai.
Namun lambat laun justru Andien membebani dirinya dengan hal-hal yang bukan
prioritasnya.
c. Data Lanjutan Proses Konseling
Melalui cerita dengan konselor sekolahnya, Andien menyadari bahwa ia telah
membatasi dan berlebihan menyalahkan dirinya sendiri. Sebagaimana keluarganya
yang mempunyai harapan yang tinggi, ia juga menyadari bahwa ia terlampau takut
apabila tidak mencapai harapannya, serta tidak dapat menerima kenyataan yang
ada. Ia juga merasa dengan ia bercerita dan mengungkapnya kepada konselor
membantunya dapat melihat lebih baik ke arah dirinya sendiri. Andien lebih jujur
melihat permasalahan yang ia hadapi. Pada titik ini Andien menyadari bahwa ada
hal yang dapat disyukuri. Ia menyadari bahwa ia tidak mempunyai pengertian yang
baik tentang apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri, dan juga bahwa ia biasa
hidup dari apa yang diinginkan oleh orang lain. Andien telah menerima kenyataan
dan berusaha meningkatkan prestasinya lagi. Hal itu membuatnya lebih tenang dan
optimis dalam belajar
a. Analisis Kasus Andien berdasarkan Konsep Dasar Hakikat Manusia
1) Kebutuhan (Love and Belonging) yang tidak terselesaikan
Seperti kebanyakan orang Andien juga memiliki kecenderungan untuk memenuhi
keinginan dan kebutuhannya. Melihat dari ceritanya maka yang dapat ditangkapap
bahwa kebutuhan tebesar Andien adalah Love and Belonging dan memang
kebutuhan ini sangat sulit dipenuhi karena untuk pemenuhannya kita harus
menemukan orang serta lingkungan yang tepat, yang memdukung, yang supportif
untuk mecapai kebutuhan tersebut. Seperti yang kita lihat bahwa prilaku yang
ditampilkan Andien alasan mengapa ia ingin menjadi yang terbaik, mengapa ia selalu
ingin menjadi juara dan pandai dalam bidang apapun. Semua itu dilatarbelakangi oleh
keinginan yang kuat untuk mememunuhi kebutuhan Love and Belonging terutama
dari sang ibu. Dan ini wajar karena kebutuhan utama setiap individu adalah Love and
Belonging seperti yang disampaikan oleh Glasser dalam Corey (2017) bahwa
“kebutuhan untuk mencintai dan menjadi bagian (diterima, diakui) adalah kebutuhan
utama karena kita membutuhkan orang untuk memenuhi kebutuhan lainnya”.
Dari kalimat terkahir pernyataan Glasser kita pahami bahwa, Love and Belonging
bukan hanya diartikan sebagai cinta kasih terhadap lawan jenis yang mengarah pada
aktivitas seksual. Love and Belonging juga diartikan sebagai hubungan cinta kasih,
penghargaan, penghormatan, penerimaan yang erat kaitannya dengan manusia
sebagai makhluk sosial. Love and belonging adalah sumber pemenuhan 4 kebutuhan
lainnya kita tidak akan bisa survive jika kita tidak membutuhkan hubungan dan rasa
cinta dengan orang lain. Kita tidak akan bisa bebas, tidak akan bisa berkuasa serta
bersenang-senang ketika kita tidak mendapatkan cinta dan tidak diterima oleh orang
lain. Begitupun Andien untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, penghargaan hingga
penerimaan maka dia membutuhkan orang lain atau lingkungan yang menjadi sumber
dari kebutuhannya
2) Failure identity/ Kegagalan Identias
Baik terpenuhi dan tidak terpenuhinya setiap kebutuhan dasar tetap akan
mempengaruhi kondisi batin individu. Ketika individu dapat dengan tepat memenuhi
kebutuhannya maka identitas individu akan dikatakan sukses (success identity).
Sebaliknya, individu yang gagal memenuhi kebutuhan dasarnya akan mengalami
kegagalan identitas (failure identity).
Andien mengalami apa yang disebut Galsser sebagai Failure identity. Ketika
Andien gagal memenuhi kebutuhan Love and Belonging maka selanjutnya ia
mengalami kegagalan identitas. Dari ungkapan Glasser dalam (Sharf, 2012) Failure
identity Identitas gagal adalah persepsi citra diri negatif. Individu yang
mengembangkan identitas yang gagal akan kehilangan control atas kehidupannya,
kehilangan tanggung jawab atas prilakunya, terutama tanggung jawab pada dirinya
sendiri, tidak realistis, pengalaman belajar yang tidak memuaskan dan merasa tidak
layak secara moral sehingga ia merasa kurang mampu. Sama seperti kasus Andien
yang mulai merasa pesimistik, sensitive dengan dunia luar /menutup diri, dan merasa
tidak berharga sebagai manusia.
3) Quality world yang terbangun dalam diri Andien
Setiap informasi yang diterima Andien sejak kecil hingga saat ini akan tersimpan dan
tersusun di dalam pikiran sebagai seperangkat keinginan, yang disebut sebagai dunia
berkualitas atau seperangkat keinginan yang diidam-idamkan, yang merupakan
inti dari kehidupan dan perilaku Andien. Quality of world juga disebut sebagai
Shangri-la kepribadian yakni istilah yang digunakan untuk menggambarkan tempat
yang indah, angan-angan yang ia idam-idamkan oleh individu.
Picture Album adalah kumpulan dari segenap keinginan spesifik merupakan bagian
dari Quality world individu serta cara yang tepat untuk memuaskan keinginan
individu. Andien tentu memiliki gambaran-gambaran keinginan yang jelas namun
yang kabur adalah ia tidak memahami betul bagaimana seharusnya cara yang dapat
diambil dalam pencapaian keinginan tersebut.
Baik itu Quality World ataupun Picture Album adalah keinginan yang tidak bersifat
umum namun merupakan kebutuhan/keinginan yang bersifat spesifik bisa berupa
sosok spesifik orang (misalnya ada sosok ibu dalam benak Andien), kegiatan (belajar
yang giat), penghargaan dari lingkungan sekitar dll..
4) Andien yang Tidak bisa Berprilaku secara utuh sesuai kriteria 3R
Andien yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya akan kabur dalam memahami
dunia kenyataan objektif, Andien tidak dapat mengamati segala sesuatu sebagaimana
sebagaimana semestinya. Secara sederhana, perbuatan yang tidak pas dalam kasus
Andien ini digambarkan sebagai perilaku yang kurang terlibat dengan orang lain
(menutup diri dari lingkungan), tidak pernah belajar untuk berbuat secara
bertanggung jawab atau tidak dapat berbuat atas landasan prinsip 3R (Right,
Responsibility, dan Reality).
5) Positive Addictions Kecanduan Positif
Satu hal yang menarik dalam diri Andien bahwa dia memiliki potensi untuk
mengembangkan Kecanduan positif. Glasser dalam Corey (2017) membahas
kekuatan potensial yang dimiliki individu. Kecanduan positif tidak mudah didapat
tetapi membutuhkan latihan dan pengulangan. Walau Glasser dalam beberapa sumber
tidak menjelaskan secara detail apa yang dimaksud dengan kecanduan positif. tapi dia
mencontohkan kecanduan positif seperti kegiatan jogging dna meditasi yang
memberikan ketenangan.
Artinya kecanduan positif bisa diartikan sebagai kegiatan yang merupakan cara sehat,
efektif, dan menyenangkan untuk menenangkan diri atau dalam kata lain cara
tradisional seseorang untuk mengahadapi kecemasannya. Hal tersebut memberikan
kenikmatan yang tidak dimiliki oleh kegiatan lain. Melihat dari kasus Andien
sebelumnya selain ia focus belajar ia juga sering ikut kegiatan Organisasi dan ini bisa
menjadi bahan bagi konselor untuk membantu Andien mengembangkan kecanduan
Positifnya. Bisa diarahkan agar lebih mengeksplorasi diri bukan hanya dalam
kegiatan belajar tetapi juga di kegiatan organisasi agar Andien mencapai
keseimbangan mental dan ketenangan.
Namun seperti yang dikatakan Glasser dalam Fall (2012) bahwa Seperti kecanduan
negatif, kecanduan positif juga bisa membawa ketidaknyamanan bagi individu. Maka,
untuk mengembangkan kecanduan positif, aktivitas itu haruslah tidak bersifat
kompetitif dicapai dengan upaya mental minimal; dilakukan sendiri; memiliki nilai
fisik, mental, atau spiritual; dan dilakukan tanpa mengkritik diri sendiri. Untuk
sebagian kecil klien, pilihan kecanduan positif mungkin menjadi bagian dari terapi
realitas.
b. Kemungkinan Langkah Intervensi dan treatment
TUJUAN KONSELING
Terapis realita membantu klien dalam membuat pilihan yang lebih efektif dan
bertanggung jawab terkait dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Tujuan dari
konseling realitas adalah sama dengan tujuan dari kehidupan manusia yaitu membantu
individu untuk mencapai success identity. Untuk mencapai success identity diperlukan
suatu rasa tanggung jawab dari individu, untuk mencapinya individu harus mencapai
kepuasan terhadap kebutuhan personal. Untuk memenuhi kepuasan terhadap kebutuhan
tersebut perlu kita perlu mengarahkan Andie pada 3R yaitu Right (merupakan nilai atau
norma patokan sebagai pembanding untuk menentukan apakah suatu perilaku benar atau
salah), Responsibility (merupakan kemampuan seseorang untuk memenuhi
kebutuhannya tanpa mengganggu hak-hak orang lain), Reality (merupakan kesediaan
individu untuk menerima konsekuensi logis dan alamiah dari suatu perilaku). Selain itu
tujuan mendasar dari konseling realita adalah membantu konseli agar memiliki control
yang lebih besar terhadap kehidupannya sendiri dan mampu membuat pilihan yang baik.

TREATMENT DENGAN FORMULA WDEP


Wubbolding sebagai seorang juru bicara terkemuka konseling realitas mengemukakan
prosedur treatment atau konseling realitas dapat dilakukan dengan system formula WDEP
adalah akronim yang terdiri empat bagian, yakni:

1) W: Wants (Keinginan, Kebutuhan)


Pada tahap Wants, konselor mengidentifikasi apa yang diinginkan Andien dalam
kehidupan. Dalam formula W kita mencoba membongkar mengajak Andien untuk
mengeksplorasi keinginan-keinginan yang terarsip dalam Quality World-nya, mengajak
Andien melihat kembali gambaran kebutuhan dalam Picture Album-nya baik itu figur
orang, lingkungan, maupun kondisi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhannya
Untuk membongkar keinginan tersebut bisa dengan mengajukan pertanyaan seperti
a) Image seperti apa yang kamu inginkan?
b) Keinginan seperti apa yang ingin kamu capai dalam kehidupan ini?
c) Sikap seperti apa yang kamu inginkan dari keluargamu?, atau kamu ingin
keluargamu seperti apa?

2) D: Direction and Doing (Seperti apa tindakan konseli dan arah yang dipilih dalam
hidupnya)
Meskipun masalah mungkin berakar di masa lalu, klien perlu belajar bagaimana
menghadapinya di masa sekarang dengan mempelajari cara-cara yang lebih baik untuk
mendapatkan apa yang mereka inginkan. Masalah harus dipecahkan di masa sekarang
atau melalui rencana untuk masa depan. Maka tantangan konselor adalah membantu
Andien membuat lebih banyak pilihan yang memuaskan kebutuhan. 
Pada tahap Doing ini, konselor membantu Andien mengidentifikasi apa yang dilakukan
Andien dalam mencapai tujuan yang diharapkan dengan mengajukan pertanyaan kunci
”Apa yang kamu lakukan?” dan mengidentifikasi arah hidupnya dengan mengajukan
pertanyaan ”Jika kamu terus menerus melakukan apa yang kamu lakukan sekarang, akan
ke mana kira-kira arah hidupmu?”
Formula ini bertujuan untuk mengembalikan kesadaran Andien sepenuhnya dalam
berprilaku. Kita juga bisa berdiskusi tentang perasaan Andien bisa asalkan dihubungkan
dengan tindakan yang dilakukan oleh Andien. Beberapa bentuk pertanyaan yang dapat
digunakan dalam tahap ini:
a) Apa yang kamu lakukan?
b) Apa yang membuatmu berhenti untuk melakukan yang kamu inginkan?
c) Apa yang akan kamu lakukan kedepannya?

3) E: Evaluation (Melakukan evaluasi terhadap apa yang dilakukan akhir-akhir ini)


Formula ini merupakan bagian terpenting. Formula E (Evaluation) bisa kita gunakan
dalam membantu Andien memutuskan sejauh mana tindakan yang ia lakuakn saat ini.
Membantunya menidentifikasi tindakan-tindakan atau prilaku apa saja yang sifatnya
membantu dan prilaku apa saja yang sifatnya menghalangi dan menghambatnya. Selain
itu yang terpenting menurut Wuboldding bahwa Evaluasi diri berfokus dalam
memulihkan kendali pilihan (controllable Choice), karena kadangkala masalah muncul
dari dalam diri Andien juga dikarenakan hilangnya kendalinya atas pilihan yang ada,
ketika Evaluation digunakan untuk mengevaluasi pilihan maka Andieakan mampu
berperilaku secara total (pikiran, perasaan action behavior, dan respon fisiologis yang
sinkron)
Pada tahap Evaluation ini, konselor membantu Andien melakukan penilaian diri untuk
menentukan keefektivan apa yang dilakukan bagi pencapaian kebutuhannya. Untuk itu,
konselor dapat menggunkan pertanyaan antara lain ”Apakah yang kamu lakukan akhir-
akhir ini dapat membantumu memenuhi keinginanmu?

4) P: Planning (Menentukan rencana/resolusi perubahan perilaku kedepan)


Pada tahap Planning ini, konselor membantu Andien merencanakan pengubahan tingkah
laku yang lebih bertanggung jawab bagi pencapaian kebutuhannya. Perencanaan dibuat
berdasarkan hasil evaluasi perilaku pada tahap sebelumnya. Dalam tahap tersebut,
konselor dapat mengajukan pertanyaan misalnya, ”Apa yang akan kamu lakukan agar
dapat memenuhi keinginanmu?” Agar rencana tersebut efektif maka perencanan tindakan
yang dibuat berupa rencana yang sederhana, dapat dicapai, terukur, segera, dan
terkendalikan oleh Andien.

Anda mungkin juga menyukai