Anda di halaman 1dari 16

TUGAS BIOKIMIA

SIKLUS KREBS

NAMA KELOMPOK 4 :

Iis Sugiarti 12118017


Ines Safitri 12118018
Irfan Luqmanul Hakim 12118019
Julia Rahmadila 12118020
Kaori Roselina Yesa 12118021

PRODI S1 TINGKAT 2
KELAS 2.1

SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH CIREBON


JL. Cideng Indah NO. 03 Kertawinangun. Cirebon
2020
SIKLUS KREBS

I. PENDAHULUAN
Siklus asam sitrat atau yang dikenal juga dengan sebagai siklus krebs atau siklus
asam trikarboksilat merupakan lintasan akhir bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan
protein. Adalah peran dari HA Krebs (1937).
Siklus Krebs terkait dengan segi metabolisme biokimia yang sebenarnya; bahan
yang masuk berasal dari karbohidrat dapat keluar membentuk lemak, sedangkan bahan
yang masuk berasal dari asam amino dapat keluar membentuk karbohidrat. Namun,
teramat jarang ialah dari lemak menuju karbohidrat.
Glukosa, asam lemak dan banyak asam amino akan dimetabolisasi menjadi asetil
koA atau intermediet yang ada pada siklus asam sitrat.Asetil koA selanjutnya dioksidasi
yang akan menghasilkan hidrogen atau elektron sebagai ekuivalen pereduksi. Hidrogen
tersebut kemudian memasuki rantai respirasi tempat sejumlah besar ATP dihasilkan
dalam prses fosforilasi oksidatif. Enzim enzim yang berperanan pada siklus asam sitrat
terdapat didalam mitokondria.

II. FUNGSI UTAMA SIKLUS KREBS


1. Menghasilkan karbondioksida terbanyak pada jaringan manusia.
2. Menghasilkan sejumlah koenzim tereduksi yang menggerakkan rantai pernapasan
untuk produksi ATP.
3. Mengkonversi sejumlah energi serta zat intermidiet yang berlebihan untuk digunakan
pada sintesis asam lemak.
4. Menyediakan sebagian bahan keperluan untuk sintesis protein dan asam nukleat.
5. Melakukan pengendalian langsung (produk→ bakal produk) atau tidak langsung
(alosterik) terhadap sistem enzim lain melalui komponen-komponen siklus.

III. KEGUNAAN PIRUVIRAT PADA SIKLUS KREBS


1. Energi yang terkandung pada pada karbohidrat memasuki siklus melalui piruvat,
sumber utama asetil KoA.
2. Kompleks enzim yang mendekarboksilasi piruvat menjadi asetil KoA sangat mirip
dari segi lokasi subsel, komposisi dan mekanisme kerja dengan α-ketoglutarat
dehidrogenase kompleks.

IV. REAKSI SIKLUS KREBS


Tahapan reaksi siklus krebs ada 8 tahap, yaitu :
− Tahap 1 : Sitrat Sintase (Hidrolisis)
Asetil KoA + oksaloasetat + H2O→ sitrat + KoA-SH
Merupakan reaksi kondensasi aldol yg disertai hidrolisis dan berjalan searah
Note : sitrat sintase sangat spesifik terhadap zat yang dikerjakan. Flouroasetil
KoA dapat menggantikan gugus –asetil KoA. Flourosasetat kadang digunakan
sebagai racun tikus. Bila termakan dapat berakibat fatal
− Tahap 2 : Aconitase, memerlukan 2 tahap
Sitrat diubah menjadi isositrat oleh enzim akonitase yg mengandung Fe++
caranya : mula2 terjadi dehidrasi menjadi cis-akonitat ( yg tetap terikat enzim )
kemudian terjadi rehidrasi menjadi isositrat.
− Tahap 3 : Isositrat Dehidrogenase (Dekarboksilasi Pertama)
Isositrat dioksidasi menjadi oksalosuksinat (terikat enzim) oleh isositrat
dehidrogenase yg memerlukan NAD+
Reaksi ini diikuti dekarboksilasi oleh enzim yg sama menjadi α-ketoglutarat. Enzim
ini memerlukan Mn++ / Mg++
− Tahap 4 : α-ketoglutarat dehidrogenase kompleks (dekarboksilasi)
Dekarboksilasi oksidatif α-ketoglutarat (caranya seperti pada dekarboksilasi oksidatif
piruvat) menjadi suksinil KoA oleh enzim α-ketoglutarat dehidrogenase kompleks
Enzim ini memerlukan kofaktor seperti : TPP, Lipoat,NAD+, FAD dan KoA-SH
Reaksi ini secara fisiologis berjalan searah.
Note : Reaksi ini dapat dihambat oleh arsenit mengakibatkan akumulasi /
penumpukan α-ketoglutarat.
− Tahap 5 : Suksinat Thikonase (Fosforilasi Tingkat Substrat)
Suksinil KoA→Suksinat
Reaksi ini memerlukan ADP atau GDP yg dengan Pi akan membentuk ATP atau
GTP. Juga memerlukan Mg++
Reaksi ini merupakan satu2nya dalam TCA cycle yg membentuk senyawa fosfat
berenergi tinggi pada tingkat substrat
Pada jaringan dimana glukoneogenesis terjadi ( hati & ginjal) terdapat 2 jenis isozim
suksinat thiokonase, satu jenis spesifik GDP, satu jenis untuk ADP.
Pada jaringan nonglukoneogenik hanya ada isozim yg menggunakan ADP
− Tahap 6 : Suksinat Dehidrogenase (Dehidrogenasi & Oksidasi)
Suksinat + FAD→Fumarat + FADH2
Reaksi ini tidak melewati NAD
Note : Dihambat oleh malonat, asam dikarboksilat berkarbon 3. Suksinat dapat
tertimbun dan pernapasan terhambat
− Tahap 7 : Fumarase (Dehidrasi
Fumarat + H2O→ L-Malat
Tidak memerlukan koenzim
− Tahap 8 : Malat Dehidrogenase
L-Malat + NAD+ → Oksaloasetat + NADH + H+
Reaksi ini membentuk kembali oksaloasetat
Note : kerusakan jaringan seringkali mengakibatkan kenaikan MDH tetapi
pemeriksaan MDH tidak lazim dilakukan, karena lebih mudah untuk memeriksa
dengan LDH.

V. ENZIM YANG TERLIBAT DALAM SIKLUS KREBS


1. Citrate synthase : Enzim yang menyintesis asam sitrat dengan cara menggabungkan
Asetil-coA dengan oksaloasetat. Reaksi kondensasi ini dilakukan dengan
menggunakan sebuah molekul air dan dilepaskan molekul koenzim A.
2. Acotinate hydratase: Adalah enzim yang mengkatalis reaksi isomerasi asam sitrat
menjadi isositrat dengan molekul intermediet cis-aconitate
3. Isocitrate dehydrogenase: Enzim ini mengkatalis reaksi dekarboksilasi oksidatif
isositrat menjadi alfaketoglutarat dan karbon dioksida. Pada reaksi ini juga terjadi
pelepasan H+ yang digunakan untuk memproduksi NADH
4. Alfaglutarat-dehidrogenase : Enzim yang berperan dalam dehidrogenasi
alfaketoglutarat.

VI. REGULASI SIKLUS ASAM SITRAT


Siklus Krebs atau asam sitrat adalah siklus amfibolik yang menyuplai energi dan
prekursor-prekursor berbagai sintesis biomolekul dalam sel. Maka dari itu, Siklus ini
diregulasi berdasarkan status energi dalam sel dan ketersediaan intermediet yang
dihasilkan dari reaksi didalamnya. Contohnya adalah keberadaan oksigen yang
diperlukan sebagai aseptor elektron saat molekul berenergi tinggi seperi NADH dan
FADH direduksi untuk menyintesis ATP, akan mengontrol enzim-enzim yang berperan
dalam ini. Contohnya adalah enzim 2-ketoglutarate dehydrogenase yang tidak
diproduksi secara anaerobik tanpa adanya aseptor elektron pengganti lain, nitrat
misalnya.
 Jumlah energi yang terbentuk dari Siklus Asam Sitrat:
Pada proses oksidasi asetil KoA, dihasilkan 3 molekul NADH dan 1 FADH 2.
Sejumlah ekuivalen pereduksi dipindahkan ke rantai respirasi dalam membran
interna mitokondria. Ekuivalen pereduksi NADH menghasilkan 3 ikatan fosfat
berenergi tinggi (esterifikasi ADP menjadi ATP). FADH 2menghasilkan 2 ikatan
fosfat berenergi tinggi. Fosfat berenergi tinggi juga dihasilkan pada tingkat siklus
(tingkat substrat) saat suksinil KoA diubah menjadi suksinat.
Dengan demikian rincian energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat adalah:
1) Tiga molekul NADH, menghasilkan            : 3 X 3P  =  9P
2) Satu molekul FADH2, menghasilkan           : 1 x 2P   =  2P
3) Pada tingkat substrat                                                   =  1P
Jumlah                                                                          = 12P
Satu siklus Kreb’s akan menghasilkan energi 3P + 3P + 1P + 2P + 3P = 12P.
Penjelasannya :
1. Oksidasi 1 mol asetil KoA lewat siklus asam sitrat menghasilkan :
− 3 mol (NADH + H+) yang akan masuk rantai respirasi menghasilkan 3 x 3
mol ATP = 9 mol ATP
− 1 mol FADH2 yang akan masuk rantai respirasi menghasilkan 2 mol ATP
− Enzim suksinat thiokinase menghasilkan 1 mol ATP ( atau GTP )
2. Dari 1 mol asetil KoA dihasilkan 12 mol senyawa fosfat berenergi tinggi
 Dapat dioksidasi lebih lanjut menjadi energi, contohnya:
− katabolisme asam amino anggota siklus asam sitrat energy
− oksidasi beta asam lemak asetil KoA
− anggota siklus krebs energy
− oksidasi glukosa piruvat asetil KoA anggota siklus krebs energi
 Dapat disintesis menjadi senyawa lain, misalnya menjadi :
− glukosa (melalui glukoneogenesis)
− asam amino tertentu
− asam lemak (lipogenesis)
 Faktor penghambat Siklus Asam Sitrat
Fluoroasetat, dengan KoA-SH membentuk fluoroasetil-KoA. Fluoroasetil-KoA
berkondensasi dengan oksaloasetat membentuk fluorositrat (dikatalisis oleh sitrat
sintase). Fluorositrat menghambat akonitase terjadi akumulasi sitrat. Fluoroasetat
didapatkan misalnya pada pestisida
 Malonat : menghambat suksinat dehidrogenase
 Arsenit : menghambat α-ketoglutarat dehidrogenase kompleks

VII. SIKLUS ASAM SITRAT


Selama proses oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk ekuivalen
pereduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron sebagai hasil kegiatan enzim
dehidrogenase spesifik. Unsur ekuivalen pereduksi ini kemudian memasuki rantai
respirasi tempat sejumlah besar ATP dihasilkan dalam proses fosforilasi oksidatif. Pada
keadaan tanpa oksigen (anoksia) atau kekurangan oksigen (hipoksia) terjadi hambatan
total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik dalam
bentuk bebas ataupun melekat pada permukaan dalam membran interna mitokondria
sehingga memfasilitasi pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke enzim terdekat pada
rantai respirasi, yang bertempat di dalam membran interna mitokondria. 
Dalam mekanismenya melalui delapan tahap reaksi. Setiap satu molekul asetil-
KoA yang masuk ke lintas siklus dihasilkan dua molekul CO2, tiga NADH, satu
FADH2 dan satu GTP. Delapan tahap reaksi dalam siklus Asam Sitrat adalah sebagai
berikut:
1. Reaksi kondensasi Reaksi tahap satu dari siklus Krebs terjadi kondensasi antara
senyawa berkarbon. Kondensasi awal asetil KoA dengan oksaloasetat membentuk
sitrat, dikatalisir oleh enzim sitrat sintase menyebabkan sintesis ikatan karbon ke
karbon di antara atom karbon metil pada asetil KoA dengan atom karbon karbonil
pada oksaloasetat. Reaksi kondensasi, yang membentuk sitril KoA, diikuti oleh
hidrolisis ikatan tioester KoA yang disertai dengan hilangnya energi bebas dalam
bentuk panas dalam jumlah besar, memastikan reaksi tersebut selesai dengan
sempurna. Sitrat + KoA
Asetil KoA + Oksaloasetat + H2O à Sitrat + KoA

2. asetil-KoA dengan senyawa berkarbon 4 yaitu oksaloasetat membentuk senyawa


berkarbon 6, yaitu sitrat. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim sitrat sintase dan
merupakan reaksi yang tidak dapat balik (irreversible). Reaksi isomerisasi 11 Pada
reaksi ini terjadi melalui 2 tahap yaitu:
− molekul air dibuang dari satu karbon;
− air ditambahkan ke karbon yang berbeda. Hasilnya adalah gugus –H dan –OH
bertukar posisi. Produknya adalah isositrat oleh enzim akonitase (akonitat
hidratase) yang mengandung besi Fe2+. Konversi berlangsung dalam 2 tahap,
yaitu: dehidrasi menjadi sis-akonitat dan rehidrasi menjadi isositrat.
Pembentukan isositrat dari sitrat melalui sis-akonitat, dikatalisis oleh enzim
akonitase.
3. Oksidasi isositrat menjadi α-ketoglutarat dan CO2 Isositrat mengalami
dekarboksilasi oksidatif menjadi α-ketoglutarat melalui pembentukan senyawa
antara oksalosuksinat yang berikatan dengan enzim isositrat dehidrogenase dengan
NAD+ berperan sebagai koenzimnya. Mula-mula isositrat dioskidasi, menghasilkan
sepasang elektron, dan mengubah NAD+ menjadi NADH. Kemudian terjadi
dekarboksilasi, menghasilkan senyawa berkarbon 5 yaitu α- ketoglutarat. Pada
reaksi ini dihasilkan satu molekul NADH dan dilepaskan satu molekul CO2.
Isositrat + NAD+ « Oksalosuksinat « µ–ketoglutarat + CO2 + NADH + H+

(terikat enzim)

Kemudian terjadi dekarboksilasi menjadi µ–ketoglutarat yang juga dikatalisir oleh


enzim isositrat dehidrogenase. Mn2+ atau Mg2+ berperan penting dalam reaksi
dekarboksilasi.

4. Oksidasi α-ketoglutarat menjadi suksinil-KoA α-ketoglutarat didekarboksilasi oleh


kompleks enzim α-ketoglutarat dehidrogenase menjadi suksinil-KoA. Pada reaksi
ini dihasilkan satu molekul NADH dan dilepaskan satu molekul CO2
µ–ketoglutarat + NAD+ + KoA à Suksinil KoA + CO2 + NADH + H+

5. Pengubahan suksinil-KoA menjadi Suksinat Ikatan antara gugus berkarbon 4


suksinil dan Ko-A adalah ikatan berenergi tinggi. Melalui reaksi reaksi yang mirip
dengan yang terjadi pada glikolisis, ikatan ini memisah. Energi yang dilepaskan
dapat digunakan untuk phosphorilasi guanosin diphosphat (GDP) menjadi guanosin
triphosphat (GTP). GTP siap diubah menjadi ATP. Fragmen berkarbon 4 yang
terbentuk disebut suksinat. Pada reaksi pengubahan suksinil-KoA menjadi suksinat,
dikatalisis oleh suksinil-KoA sintetase. Pada reaksi ini suksinil-KoA melepaskan
koenzimA-nya dengan dirangkaikan reaksi pembentukan GTP dari GDP dan
Phosphat anorganik.
Suksinil KoA + Pi + ADP « Suksinat + ATP + KoA

6. Oksidasi suksinat menjadi fumarat Pada tahap reaksi oksidasi suksinat menjadi
fumarat, dikatalisis oleh enzim suksinat dehidrogenase yang berikatan dengan
Flavin Adenin Dinukleotida (FAD) sebagai koenzimnya. Dalam reaksi ini FAD
berperan sebagai akseptor hydrogen. Pada reaksi ini dihasilkan satu molekul
FADH2.
Suksinat + FAD « Fumarat + FADH2
7. Hidratasi fumarat menjadi malat Pada reaksi tahap hidratasi ini terjadi penambahan
satu molekul air ke ikatan rangkap fumarat, menghasilkan malat. Reaksi ini
dikatalisis oleh enzim fumarase.
Fumarat + H2O « L-malat
8. Oksidasi malat menjadi oksaloasetat Pada tahap akhir siklus Krebs ini, malat
dioksidasi menjadi oksaloasetat oleh enzim malat dehidrogenase yang berikatan
dengan NAD+ . Pada reaksi ini dihasilkan satu molekul NADH. Oksaloasetat
berkarbon empat dapat bergabung dengan gugus asetil berkarbon dua yaitu asetil-
KoA dan siklus Krebs kembali berulang. Siklus Krebs merupakan seri reaksi dalam
mitokondria yang merupakan oksidasii residu asetil menjadi CO2 serta
membebaskan hidrogen ekivalen yang akhirnya membentuk air. Residu asetil ini
dalam bentuk asetil-KoA yang merupakan ester dari koenzim A. Produksi siklus
Krebs adalah 1 molekul ATP per molekul asetil-KoA dan banyak elektron yang
dapat diberikan ke transport elektron (3 NADH dan 1 FADH2) untuk mensintesis
lebih banyak ATP (11 ATP). Asetil-KoA merupakan titik sentral jalur-jalur
metabolik utama. Hampir semua molekul karbohidrat dan lemak membentuk asetil-
KoA selama katabolisme oksidatifnya, demikian pula beberapa asam amino hasil
pemecahan protein. Disamping itu asetil-KoA berperan sebagai sumber unit asetil
dalam proses anabolisme untuk sintesis asam lemak rantai panjang, kolesterol,
steroid dan benda keton. Fungsi utama siklus Krebs adalah sebagai jalur akhir
oksidasi karbohidrat, lipid dan protein, karena glukosa, asam lemak dan beberapa
asam amino dimetabolisme melalui asetil-KoA. Disamping itu asetil-KoA
merupakan mekanisme pembebasan energi bebas dari karbohidrat, lipid dan
protein. Selama oksidasi ini ekivalen reduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron
terbentuk akibat aktivitas dehidrogenase. Ekivalen reduksi ini kemudian masuk ke
rantai respirasi dimana sejumlah besar fosfat berenergi tinggi dihasilkan dalam
proses fosforilasi oksidatif. Enzim-enzim yang dibutuhkan oleh siklus ini terdapat
dalam matriks mitokondria, baik dalam keadaan bebas atau terikat pada membran
bagian dalam mitokondria. Transfer ekivalen reduksi ke enzim-enzim pada rantai
respirasi berlangsung pada bagian dalam membran mitokondria.
L-Malat + NAD+ « oksaloasetat + NADH + H+
menghasilkan reaksi total :
Asetil KoA + 3NAD+ + FAD + ADP (atau GDP) + Pi + H 2O → 2CO2 + KoA-SH +
3 NADH + 3 H+ + FADH2 + ATP (atau GTP)
Penjelasan:
1. Reaksi Dehidroginase, menggunakan NAD+ 3 ATP, yang menggunakan FAD
(tidak lewat NAD+) 2 ATP
2. Suksinat thikonase : 1 ATP atau 1 GTP
3. Reaksi yang menghasilkan CO2 (dekarboksilasi oksidatif): reaksi yang
dikatalisis oleh isositrat dehidrogenase dan α-ketoglutarat dehidrogenase
kompleks.
4. Vitamin B yang berperan pada siklus asam sitrat sebagai bentuk koenzimnya:
Thiamin TPP, Niacin NAD, Riboflavin FAD, Asam pantotenat KoA.

VIII. INHIBITOR SIKLUS KREBS


 Fluoroasetat : zat ini berkondensasi dengan KoA membentuk fluoroasetil-KoA,
lalu fluoroasetil-KoA berekasi dengan oksaloasetat membentuk fluorositrat
(dikatalis dengan sintase) yang menghambat enzim akonitase sehingga
menyebabkan akumulasi sitrat. Fluoroasetat di dapatkan misalnya pada pestisida
 Malonate : menghambat succinate dehydrogenase
 Arsenite : menghambat alpha- ketoglutarat dehydrogenase kompleks.

IX. PENGATURAN DAUR KREBS


Daur Krebs merupakan bagian rangkaian proses pernafasan yang panjang dan
kompleks, yaitu oksidasi glukosa menjadi CO2dan H2O serta produksi ATP.
Proses pernafasan terdiri dari 4 tahap utama :

1. glikolisis (oksidasi glukosa menjadi piruvat)


2. konversi piruvat ke asetil ko-A
3. daur Krebs dan
4. proses pengangkutan elektron melalui rantai pernafasan yang dirangkaikan degan
sintesis ATP dari ADP = Pi melalui proses fosforilasi bersifat oksidasi.
Didalam sel eukariota, metabolisme asam trikarboksilat berlangsung didalam
mitokondrion. Sebagian enzim dalam metabolisme ini terdapat di dalam cairan matriks
dan sebagian lagi terikat pada bagian dalam membran mitokondrion.
Kompleks enzim piruvat dehidrogenase dapat dihambat oleh adanya kelebihan
ATP di dalam sel,yg mengakibatkan menurunnya laju reaksi Daur Krebs. Tahap reaksi
kondensasi antara asetil Koenzim A dengan oksalo asetat merupakan reaksi kontrol
utama dari laju Daur Krebs. Reaksi ini dapat dihambat oleh Suksinil koenzim-A secara
persaingan alosterik terhadap enzim sitrat sintase
Kontrol lainnya:
1. Reaksi isositrat dehidrogenase dapat dirangsang oleh ADP dan dihambat oleh ATP
atau NADH.
2. Suksinat dehidrogenase dapat dihambat oleh oksalo asetat dan dirangsang oleh
suksinat, fosfat,ATP dan ubiquinon.jadi perubahan yg terjadi dalam metabolisme
menyebabkan perubahan laju reaksi Daur Krebs.

X. Partisipasi Siklus Krebs Pada Perubahan Glukosa Menjadi Asam Lemak


Diketahui bahwa asetil KoA merupakan bakal pada awal sinresis asam lemak
rantai panjang. Enzim-enzim pembentuk asam lemak terdapat dalam sitosol sehingga
diperlukan suatu jalur agar asetil KoA yang dihasilkan di dalam mitokondria dari
karbohidrat, asam amino atau prekursor jenis karbohidrat lainnya harus bisa menemukan
jalan untuk masuk kedalam sitosol.
Keadaan bila gizi berkecukupan dengan glukosa dan asam-asam amino melebihi
keperluan metabolisme akan energi yang berlebihan akan dirubah menjadi lemak dan
disimpan dalam jaringan adiposa. Transaminasi asam amino langsung menghasilkan zat
antara diklus kreb sitrat dalam mitokondria.
Sitrat akan dikeluarkan dari mitokondria ke sitosol, di dalam sitosol dimana
tempat enzim sitrat liase yang memecahnya menjadi oksaloasetat dan asetil KoA.
Oksaloasetat akan diubah ke malat oleh MDH sitosol kemudian malat dengan mudah
diangkut kemabli ke dalam mitokondria. Asetil KoA yang dihasilkan oleh sitrat liase
sekarang dapat digunakan di sitosol untuk biosintesis asam lemak.
Peranan penting siklus krebs dalam proses glukoneogenesis dari asam amino

XI. peranan tca cycle pada sintesis asam lemak dari glukosa
Fungsi utama :
1. Oksidasi asetil KoA menjadi CO2 , H2O dan energi (1 mol asetil KoA
menghasilkan 12 mol ATP oleh karena daur ini banyak melepas H+ dan elektron yg
akan masuk rantai respirasi)
2. Anggota TCA cycle bersifat amfibolik, artinya : dapat dioksidasi lebih lanjut
menjadi energi, atau disintesis menjadi senyawa lain.
XII. Peran siklus krebs pada glukoneogenesis dari asam amino
1. Piruvat karboksilase:
Mengkatalisasi reaksi anaplerotik dengn menghasilkan oksaloasetat, enzim ini mutlak
memerlukan asetil KoA untuk mempertahankan kompleks tetramer.
Enzim ini juga peka terhadap inhibisi akhir yang disebabkan oleh ADP. Dengan
demikian, enzim mitokondria dengan peran kunci ini diaktifkan oleh muatan energi
tinggi dan asetil KoA, suatu hasil oksidasi asam lemak.
Piruvat karboksilase mengubah piruvat intramitokondria menjadi oksaloasetat.
Oksaloasetat akan direduksi menjadi malat dan setelah itu malat dapat dengan bebas
menjadi oksaloasetat.
1. PEP karbokinase:
Enzim monomer yang engubah oksaloasetat sitosol menjadi PEP.
2. Pruvat sintase:
Enzim yang termasuk keluarga oksidoreduktase yang berperan dalam mengubah
piruvat + CoA + 2 ferredoxin teroksidasi ↔ acetyl – CoA + CO2 + 2 ferredoxin
tereduksi + 2 H+

XIII. Piruvat Karboksilase dan PDH diatur secara terkoodinasi


Konversi piruvat menjadi asetil-KoA lebih disukai
Perubahan piruvat menjadi asam lemak memerlukan sumber asetil KoA dalam
sitosol. Piruvat hanya dapat diubah menjadi asetil KoA di dalam mitokondria,
sehingga piruvat masuk ke dalam mitokondria dan membentuk asetil KoA melalui
reaksi piruvat dehydrogenase (PDH). Enzim ini mengalami defosforilasi dan paling
aktif apabila pasokan substrat dan ADP tinggi, produknya digunakan, dan terdapat
insulin.
Piruvat juga diubah menjadi oksaloasetat. Enzim yang mengkatalisis reaksi ini,
piruvat karboksilase, diaktifkan oleh asetil KoA. Karena tidak dapat secara langsung
menembus membran mitokondria untuk membentuk asam lemak di dalam sitosol,
asetil KoA berkondensasi dengan oksaloasetat membentuk sitrat. Sitrat yang tidak
diperlukan untuk aktivitas siklus trikarboksilat (ATK) menembus membran dan
masuk ke dalam sitosol.

Regulasi TCA CYCLE


 Tergantung pasokan (supply) dan kebutuhan (demand) akan TCA cycle
 Tersedianya NAD dan FAD
 Hambatan oleh NADH
 High energy signal turn off
 Low-energy signal turn on
 Reaksi searah : reaksi oleh sitrat sintase dan α-keto-glutarat dehydrogenase
praktis berlangsung arah

XIV. Proses Metabolisme Protein dan Asam amino

Proses metabolisme protein dimulai dari proses pencernaan di mulut sampai di usus
halus, dilanjutkan dengan proses metabolisme asam amino. Yaitu sebagian besar zat
makanan yang mengandung protein dipecahkan menjadi molekul-molekul yang lebih
kecil terlebih dahulu sebelum diabsorpsi dari saluran pencernaan. Protein diabsorpsi
di usus halus dalam bentuk asam amino → masuk darah. Dalam darah asam amino
disebar keseluruh sel untuk disimpan. Didalam sel asam amino disimpan dalam
bentuk protein (dengan menggunakan enzim). Hati merupakan jaringan utama untuk
menyimpan dan mengolah protein  Perubahan kimia dalam proses pencernaan
dilakukan dengan bantuan enzim-enzim saluran pencernaan yang mengkatalisis
hidrolisis protein menjadi asam amino.

Protein dalam makanan dicerna dalam lambung dan usus di katabolisme menjadi
asam amino yang diabsorbsi dan dibawa oleh darah. Asam amino dalam darah di
bawa ke hati menjadi asam amino dalam hati (ekstra sel), kemudian asam amino
tersebut ada yang di simpan dalam hati (intra sel) dan sebagian dibawa oleh darah ke
jaringan-jaringan tubuh. Asam amino yang dibawa ke hati dikatakan ekstra sel
karena sebagian asam amino dalam hati ini kemudian akan dibawa sebagian keluar
dari sel atau menuju ke seluruh jaringan tubuh yang membutuhkan. Setelah masuk ke
jaringan-jaringan tubuh asam amino ini akan masuk ke sel-sel tubuh (asam amino
dalam sel). Dan sebagiannya lagi tetap didalam hati (intra sel) sebagai cadangan
protein dalam tubuh, bila tubuh kekurangan protein maka asam amino ini diubah
menjadi protein dan sebaliknya jika tubuh membutuhkan asam amino dari dalam
tubuh maka protein di rombak kembali menjadi asam amino. Dan asam amino ini
juga berfungsi membentuk senyawa N lain yang berfungsi untuk pembentukan sel-
sel tubuh, senyawa nitrogen ini merupakan bagian utama dari semu protein, enzim,
dan proses metabolik yang disertakan pada sintesa dan perpindahan energi.

Keseimbangan nitrogen tubuh dikatakan positif bila n masuk tubuh > n yang keluar
dari tubuh berarti sintesis protein > katabolismenya, terjadi misalnya pada masa
penyembuhan, masa pertumbuhan, masa hamil keseimbangan nitrogen yg negatif
berarti katabolisme protein > sintesisnya, terjadi misalnya pada waktu kelaparan,
sakit keseimbangan nitrogen yg setimbang terdapat pada orang dewasa normal dan
sehat. Bila ada kelebihan asam amino dari jumlah yang digunakan maka asam amino
diubah menjadi asam keto. Proses perubahan tersebut terjadi dalam siklus asam
sitrat. Atau diubah mejadi urea. Berikut proses perubahan asam amino menjadi asam
keto dalam siklus sitrat. Asam amino yang dibuat dalam hati atau dihasilkan dari
proses katabolisme protein dalam hati, dibawa oleh darah kedalam jaringan untuk
digunakan.

Proses anabolisme dan katabolisme terjadi dalam hati dan jaringan. Asam amino
yang terdapat dalam darah berasal dari tiga sumber yaitu:

 Absorbsi melalui dinding usus


 Hasil katabolisme protein dalam sel
 Hasil anabolisme asam amino dalam sel

Proses Metabolisme Protein

Protein yang dikonsumsi oleh manusia pada umumnya berasal dari lauk pauk dan
kacang-kacangan. Protein ini masuk ke dalam tubuh akan menglami sebuah proses
pencernaan dan berubah menjadi asam amino. Pada proses pencernaan ini dihasilkan
zat sisa yang berupa feses. Yang selanjutnya didefekasikan yang melalui anus.

Asam amino hasil dari pencernaan selanjutnya akan ditransportasikan oleh plasma
darah yang melalui sistem sirkulasi yang menuju ke sel/jaringan. Di dalam
sel/jaringan asam amino akan dipergunakan sel untuk pertumbuhan, perkembanngan,
restitusi sel dan mensintesis enzim dan hormon. Apabila jumlah pada asam amino
berlebih, maka sisanya akan dioksidasi melalui peristiwa respirasi untuk
menghasilkan energi. Respirasi dengan menggunakan substrat asam amino akan
menghasilkan zat sisa yang berupa senyawa CO2, H2O dan NH4OH.

CO2 dan H2O dalam bentuk gas dari set diangkut, oleh plasma darah dalam
pembuluh darah yang menuju ke paru-paru untuk diekskresikan keluar tubuh,
sedangkan H2O dalam bentuk cair akan diangkut menuju ke kulit dan ginjal. H2O
setelah sampai di kulit akan diekskresikan dalam bentuk keringat dan H2O setelah
sampai di ginjal akan diekskresikan dalam bentuk urine.

Senyawa NH3 dan NH4OH merupakan senyawa yang bersifat racun yang sangat
membahayakan sel, Oleh sebab itu sebelum dikeluarkan harus diubah dahulu
menjadi urea di dalam hati, yang sehingga tidak berbahaya bagi tubuh. Dalam bentuk
urea, sisa metabolisme ini dipindahkan ke ginjal untuk dieskskresikan dalam bentuk
urine.