Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1, Hal 69 - 74, Februari 2020 p-ISSN2338-2090

FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah e-ISSN 2655-8106

UPAYA PROMOTIF DAN PREVENTIF KESEHATAN JIWA MELALUI DETEKSI


DINI BERBASIS WEB
Evin Novianti*, Duma Lumban Tobing, Bayu Wibisono
Program Studi Profesi Ners dan S1 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Jakarta, Jalan RS Fatmawati, Pangkalan Jati, Kec. Cinere, Kota Jakarta Selatan, Indonesia 12345
*evinnovianti@upnvj.ac.id

ABSTRAK
Kader merupakan tenaga potensial di masyarakat yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan
kesehatan jiwa masyarkat. Perberdayaan kader kesehatan jiwa dapat dilakukan dengan memberikan
pelatihan deteksi dini berbasis web agar kader memiliki pemahaman tentang masalah kesehatan jiwa,
mendeteksi dini ganggguan jiwa dan melakukan rujukan puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis efektifitas pelatihan deteksi dini berbasis web dalam upaya promotif dan preventif
kesehatan jiwa. Desain Quasi experiment pre and post test without control group” dengan intervensi
pelatihan deteksi dini berbasis web digunakan dalam penelitian ini. Sampel penelitian ini terdiri dari
18 orang kader kesehatan yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data
dilakukan dengan membandingkan data sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan deteksi dini
berbasis web terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor dengan menggunakan uji statistik paired t-
test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan kemampuan kognitif dan psikomotor yang
signifikan p value 0,000 (p < 0,05). Salah satu upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa dapat
dilakukan melaui deteksi dini berbasis web.

Kata kunci: deteksi dini, kader, kesehatan jiwa

PROMOTIVE AND PREVENTIVE EFFORTS FOR MENTAL HEALTH THROUGH


WEB-BASED DETECTION EARLY

ABSTRACT
Cadres are potential workers in the community who have an important role in improving the mental
health of the community. Empowerment of mental health cadres can be done by providing web-based
early detection training so that cadres have an understanding of mental health problems, early
detection of mental disorders and make a referral of health centers. This study aims to analyze the
effectiveness of web-based early detection training in mental health promotion and prevention efforts.
Quasi-experiment design pre and post-test without control group "with a web-based early detection
training intervention used in this study. The sample of this study consisted of 18 health cadres taken
using a purposive sampling technique. Data analysis was performed by comparing data before and
after getting web-based early detection training on cognitive and psychomotor abilities using a paired
t-test statistical test.The results showed a significant change in cognitive and psychomotor abilities, p-
value 0,000 (p <0.05. One of the promotive and preventive efforts of mental health can be done
through web-based early detection.

Keywords: early detection, cadres, mental health

PENDAHULUAN anggota keluarga dengan gangguan jiwa


Masalah kesehatan menjadi salah satu fokus berat (ODGJ). Di provinsi Jawa Barat terjadi
kesehatan yang harus segera ditangani oleh peningkatan jumlah ODGJ dari 1,6 permil di
pemerintah Indonesia. Masalah kesehatan jiwa tahun 2013 menjadi 5 permil pada tahun 2018
yang paling banyak yaitu bipolar sebanyak 60 (Balitbangkes, 2018)
juta kasus, dimensia sebanyak 47,5 juta kasus,
depresi sebanyak 35 juta kasus dan skizofrenia Penanganan masalah kesehatan jiwa tidak
sebanyak 21 juta kasus (Chong et al., 2016). hanya dilakukan oleh keluarga tapi juga
Data Riskesdas (2018) menunjukkan masyarakat karena sebagian besar ODGJ
prevalensi gangguan jiwa di Indonesia sebesar berada di masyarakat. Salah satu upaya
7 permil, artinya per 1.000 rumah tangga penanganan adalah melibatkan kader
terdapat 7 rumah tangga yang memiliki
69
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 69 - 74, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

kesehatan jiwa di masyarakat (Astuti. R, dilakukan di wilayah Kabupaten Garut, Aceh,


Amin.K, 2009). Bogor (Widianti, Efri & Rafiyah, 2017)
Namun kegiatan ini menemui kendala dimana
Seseorang yang yang aktif melakukan pendokumentasian kegiatan dilakukan secara
penanganan kesehatan pada warga yang manual sehingga tidak terekam secara
mengalami masalah kesehatan jiwa di suatu otomatis, jika data tersebut diperlukan.
kelompok masyarakat disebut sebagai kader
kesehatan jiwa. Kader berasal dari masyarakat, Studi pendahuluan yang dilakukan di RW 15,
bekerja dengan sukarela melaksanakan dan RW 03 dan RW 04 didapatkan data bahwa
mengelola kegiatan kesehatan jiwa di sudah pernah dilakukan pelatihan kader
masyarakat (Astuti. R, Amin.K, 2009). kesehatan jiwa yang diikuti oleh 20 orang
Pemberdayaan kader kesehatan jiwa sebagai kader kesehatan. Hasil deteksi dini
tenaga potensial yang ada di masyarakat didokumentasikan secara manual pada buku
diharapkan mampu mendukung program deteksi dini kader. Kendala yang dialami
keperawatan kesehatan jiwa komunitas yang adalah adanya buku yang hilang sehingga data
diterapkan di masyarakat (B. A. Keliat, yang terkumpul tidak lengkap. Oleh karena itu
Akemat, Daulima, & Nurhaeni, 2011). dibutuhkan suatu program deteksi dini berbasis
web yang dapat menyimpan data dengan aman,
Fokus pelayanan kesehatan jiwa saat ini lebih dapat diakses dimana saja dan kapan saja,
ke arah upaya promotif dan preventif privasi data lebih terjaga karena kader sendiri
kesehatan. Individu yang sehat maupun dengan yang bisa mengakses dan mengelola secara
penyakit kronis menjadi fokus upaya preventif penuh akunnya. Pengguna lain tidak akan bisa
kesehatan jiwa. Upaya tersebut tidak hanya mengakses akun pengguna lainnya karena
dilakukan oeh tenaga kesehatan namun juga untuk mengakses akun diperlukan login
menjadi tanggung jawab masyarakat. Maka username dan password. Penelitian ini
dari itu perlu pemberdayaan masyarakat di bertujuan untuk efektifitas deteksi dini dengan
mulai dari menanamkan pengetahuan, menggunakan aplikasi web dan menganalisis
kesadaran, perilaku sehat jiwa dan keperdulian kemampuan kognitif dan psikomotor kader
terhadap masalah-masalah kesehatan jiwa kesehatan jiwa dalam melakukan deteksi dini.
(Winahayu, Keliat, & Wardani, 2016).
METODE
Upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa Penelitian ini menggunakan desain penelitian
yang dilakukan dengan tujuan individu yang “Quasi Eksperimen pre-post without control
mengalami gangguan jiwa kembali produktif, group” dengan intervensi pelatihan deteksi dini
individu yang beresiko menjadi sehat kembali kesehatan jiwa berbasis web. Penelitian ini
dan individu yang sehat tetap sehat. Karena itu sudah mendapat persetujuan etik dari komisi
pelayanan primer berbasis swadaya etik penelitian kesehatan (KEPK) Fakultas
masyarakat dibutuhkan untuk mendeteksi Kedokteran Universitas Pembangnan Nasional
secara cepat kondisi kesehatan jiwa agar bisa Veteran Jakarta (No:
ditangani secara dini, sehingga jumlah ODGJ B/2128/VIII/2019/KEPK). Teknik sampling
tidak semakin bertambah. Hal ini yang digunakan adalah purposive sampling
membutuhkan tenaga yang dekat dengan dengan besar sampel yang diteliti sebanyak 18
masyarakat sekitar yaitu kader kesehatan. orang kader kesehatan dengan kriteria inklusi
Melalui kader, data konkret mengenai meliputi : (1)sudah pernah menjadi kader
kesehatan jiwa warganya dapat terkumpul kesehatan ; (2)bertempat tinggal di RW 15,
dengan baik (Kurniawan & Sulistyarini, 2017). RW 03 dan RW 04; (3)telah mendapatkan
Tugas kader kesehatan jiwa antara lain : pelatihan deteksi dini kesehatan jiwa;
mendeteksi dini gangguan jiwa, melakukan (4)bersedia menjadi partisipan dan
kunjungan rumah, melakukan rujukan dan menandatangani informed consent.
melakukan pelaporan ke Puskesmas (B.A.
Keliat, Novy, & Pipin, 2011). Teknik pengumpulan data dengan
menggunakan angket/kuisioner untuk melihat
Deteksi dini merupakan pelayanan promotif kemampuan kader dalam melakukan deteksi
keperawatan di masyarakat, diawali dengan dini kesehatan jiwa melalui sistem informasi
pelatihan kader kesehatan dan deteksi dini oleh berbasis web. Pretest dilakukan sebelum
kader dengan mendatangi satu persatu Kepala responden diberikan sedangkan post test
Keluarga. Kegiatan serupa juga pernah dilakukan segera setelah diberikan perlakuan.
70
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 69 - 74, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

Penelitian ini menggunakan analisa univariat HASIL


dengan distribusi frekuensi berupa nilai rata- Hasil penelitian tentang upaya promotif dan
rata usia dan pengalaman menjadi kader. preventif kesehatan jiwa melalui deteksi dini
Analisis bivariat menggunakan Uji paired t-test berbasis web akan disajikan pada table
untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel dibawah ini.
pelatihan deteksi dini berbasis web terhadap
kemampuan kognitif dan psikomotor kader.

Tabel 1.
Karakteristik kader kesehatan jiwa berdasarkan usia dan pengalaman menjadi kader (n=18)
Karakteristik Mean Median Sd Min-Max
Usia 42,34 40 6,32 39-55
Pengalaman menjadi kader (tahun) 4,43 4 4,12 1-13
Tabel 1 dapat dilihat bahwa rata-rata kader
berusia 42 tahun dan memiliki pengalaman
menjadi kader kesehatan rata-rata 4,43 tahun.

Tabel 2.
Perbedaan kemampuan kognitif dan psikomotor kader sebelum dan sesudah pelatihan deteksi dini
berbasis web (n=18)
Variabel Pre Mean ± SD Post Mean ± SD p-value Sig (2-tailed)
Kemampuan Kognitif 54,25 ± 15,51 90,72 ± 4,212 0,00
Kemampuan Psikomotor 62,72 ± 2,421 75,00 ± 3,757 0,00
Tabel 2 menunjukkan pada α=0.05 ada kognitif ini terjadi karena para responden yang
perubahan yang bermakna kemampuan terlibat sudah pernah mendapatkan pelatihan
kognitif dan kemampuan psikomotor sebelum deteksi dini kader kesehatan jiwa. Hasil
dan sesudah diberikan intervensi deteksi dini penelitian ini didukung oleh penelitian yang
berbasis web. dilakukan oleh Rinawan, Susanti, & Fitri
(2018) dimana terdapat peningkatan
PEMBAHASAN pengetahuan kader kesehatan dari katagori
Rata-rata usia responden adalah 42,34 tahun cukup 45,4 % menjadi baik 100 %.
yang tergolong dalam usia dewasa
pertengahan. Salah satu karakteristik kelompok Pengetahuan kader mengenai gangguan jiwa
usia ini adalah memiliki kemampuan berpikir merupakan hal yang penting dalam
dan kematangan emosional yang baik sehingga memberikan pelayanan kesehatan jiwa di
mereka akan lebih perduli dengan masyarakat, terutama dalam upaya
permasalahan yang ada disekitarnya. (Wawan pencegahan, penanggulangan, serta dalam
& Dewi, 2010). Hasil penelitian sejalan proses perawatan pasien gangguan jiwa.
dengan penelitian yang dilakukan oleh Pengetahuan juga menjadi dasar seorang kader
Sukandar, Faiqoh, & Effendi (2019) dimana untuk melakukan tindakan mengenai
usia kader terbanyak berada dalam rentang permasalahan gangguan jiwa di masyarakat.
usia 40-49 tahun. Rata-rata pengalaman Pengetahuan kader akan kesehatan jiwa
menjadi kader kesehatan dalam penelitian ini diperoleh melalui pelatihan deteksi dini
adalah 4,43 tahun. Pengalaman tersebut akan kesehatan jiwa. Pelatihan kader kesehatan
memudahkan kader dalam mengikuti adalah satu upaya untuk peningkatan
pelatihan. Hasil penelitian ini didukung oleh kemampuan kader tidak hanya kognitif tapi
penelitian yang dilakukan Mamuroh, Lilis, juga dalam segi afektif dan psikomotor.
Witdiawati (2018) yang menyatakan Pelatihan ini akan meningkatkan kader dalam
pengalaman lama menjadi kader adalah 1-5 membantu perawatan pada pasien gangguan
tahun. jiwa dan mengubah stigma negatif masyarakat
tentang gangguan jiwa
Penelitian ini menunjukkan adanya
peningkatan kemampuan kognitif Upaya dalam mengembangkan peran dan
(pengetahuan) dan kemampuan psikomotor tugasnya dipengaruhi oleh informasi yang
sesudah diberikan pelatihan deteksi dini didapatkan baik dalam bentuk teori maupun
berbasis web. Peningkatan kemampuan praktik. Sesuai dengan penelitian yang

71
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 69 - 74, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

dilakukan oleh Sahriana (2018) bahwa kualitas program oleh para kader. Kader harus secara
kader dapat tercapai dengan baik melalui aktif berpartisipasi dalam perencanaan
peningkatan pengetahuan atau pelatihan secara program kesehatan mental masyarakat. Ada
kontinue. Pelatihan ini dapat juga sebagai beberapa indikasi bahwa komunikasi antara
refreshing dan saling bertukar pengalaman kader dan masyarakat lebih efektif dari pada
antar kader. perawat di masyarakat. Waktu perawat dapat
lebih berguna dalam pengawasan dan pelatihan
Pelatihan deteksi dini awal diberikan kader.
pemaparan materi tentang cara deteksi dini,
mulai dari bagaimana cara berkomunikasi Adanya peran kader dan keluarga dapat
dengan anggota keluarga, bagaimana cara menurunkan tanda dan gejala serta
mengkaji, melihat kesesuaian gejala yang peningkatan kemampuan berupa pasien
ditampilkan pasien dan menggolongkan pasien mampu berpikir rasional, mampu melakukan
tersebut dalan kelompok sehat, resiko ataupun kegiatan sehari-hari di dalam rumah dan
gangguan. Selain itu, para kader diberikan mampu berkomunikasi dengan orang lain
kesempatan untuk melakukan role play dengan motivasi. Peran kader adalah kader
(bermain peran) cara melakukan deteksi dini. memotivasi pasien untuk teratur berobat,
Role play dilakukan bergantian dengan peran memberikan penjelasan kepada keluarga untuk
sebagai kader, keluarga dan pasien. Dengan mengawasi pengobatan pasien, memotivasi
demikian diharapkan kader akan lebih percaya pasien dan keluarga untuk mengikuti kegiatan
diri ketika melakukan kunjungan rumah. kelompok maupun penyuluhan kesehatan serta
Modul pelatihan dan buku pegangan kader menganjurkan pasien untuk teratur melakukan
juga diberikan guna meningkatkan pemeriksaan ke puskesmas (Sahriana, 2018).
kemampuan dalam memberikan pelayanan
terhadap masyarakat. Pasien dan keluarga yang dikunjungi oleh
kader, mereka mendapatkan informasi bahwa
Intervensi yang diberikan dalam penelitian ini pengobatan mudah dan murah didapat. Selain
adalah melakukan deteksi dini dan itu dengan mendapatkan penjelasan dari kader,
mendokumentasikan dalam isian tools yang pasien dan keluarga dapat lebih memahami
ada dalam web. Pengetahuan yang didapat dari manfaat dari pengobatan dan perawatan,
pelatihan awal memudahkan kader untuk sehingga termotivasi untuk teratur menjalani
memahami isian setiap tools yang ada dalam pengobatan dan perawatan. Setelah para kader
web. Hasil penelitian ini didukung oleh kesehatan jiwa sudah dapat membedakan ciri-
penelitian yang dilakukan Sutarjo, Prabandari, ciri individu sehat jiwa, ciri-ciri individu yang
& Iravati (2016) yang menyatakan bahwa resiko terkena gangguang jiwa dan ciri-ciri
kemampuan kinerja kader meningkat seiring gangguan jiwa itu sendiri, dilanjutkan dengan
dengan meningkatnya pengetahuan yang pelatihan deteksi dini dengan menggunakan
diberikan. aplikasi web.

Selain faktor pengetahuan, peneliti Tujuan aplikasi web ini adalah untuk
menganalisa bahwa pekerjaan mempengaruhi mempermudah tugas dari para kader dan
kinerja kader. Sebagian besar responden meningkatkan komunikasi antara kader, tokoh
adalah ibu rumah tangga dan mempunyai masyakat dan puskesmas sebagai tindak lanjut
waktu lebih banyak sehingga lebih aktif dalam berikutnya. Pembuatan aplikasi web deteksi
menjalani peran dan tugasnya sebagai kader. dini ini tidaklah mudah, karena memerlukan
Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian perancangan yang berulang-ulang sehingga
yang dilakukan Sutisna et al., (2012). siap untuk diberikan ke kader. Kendala lain
yang ditemukan adalah tidak semua kader
Kinerja kader dapat menjadi harga yang memiliki handphone android dengan memori
sangat bermanfaat bagi Kelurahan Limo untuk yang cukup banyak karena akan
program kesehatan mental masyarakat. Sebuah mempengaruhi kecepatan dalam melakukan
program pelatihan diindikasikan untuk deteksi dini. Faktor ketersediaan jaringan juga
memperluas kegunaan dan penghargaan bagi berpengaruh dalam proses pelatihan ini
kader. Pelatihan harus mencakup bahan yang sehingga dalam pelaksnaannya masih dibantu
relevan dengan daerah di mana kader tersebut dengan penggunaan wifi dari pelatih.
bekerja dan juga harus digunakan sebagai
penilaian sumber daya yang dibawa ke
72
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 69 - 74, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

SIMPULAN baru did. Media Karya Kesehatan, 1(1),


Kemampuan kognitif dan psikomotor kader 1–10.
meningkat setelah diberikan pelatihan deteksi
dini berbasis web mengalami peningkatan. Rinawan, F. R., Susanti, A. I., & Fitri, H. N.
Artinya pelatihan deteksi dini berbasis web (2018). Perbedaan Pengetahuan Kader
efektif unttuk meningkatkan kemampuan Posyandu Sebelum dan Sesudah
kognitif dan psikomotor kader. Selain itu Dilakukan Pelatihan Penggunaan
dokumentasi hasil deteksi dini yang Aplikasi iPOSYANDU. Jurnal
dimasukkan dalam web akan memudahkan Pengabdian Dan Pengembangan
kader dalam pencarian data. Masyarakat UGM, 1 (2), 143–150.

DAFTAR PUSTAKA Sahriana, N. I. M. (2018). Peran Kader


Astuti. R, Amin.K, P. . (2009). Pengaruh Kesehatan Jiwa Dalam Program
Pelatihan Kader Terhadap Peningkatan Kesehatan Jiwa Komunitas Di
Pengetahuan Perawatan Pada Gangguan Masyarakat. Universitas Airlangga,
Jiwa Di Wilayah Puskesmas Sawangan Tesis Tidak Dipublikasikan.
Kabupaten Magelang, 14–21.
Sukandar, H., Faiqoh, R., & Effendi, J. S.
Balitbangkes, R. I. (2018). Hasil Utama (2019). Hubungan Karakteristik
Riskesdas 2018. Kementrian Kesehatan terhadap Tingkat Aktivitas Kader
Republik Indonesia, Jakarta. Posyandu Kecamatan Soreang
Kabupaten Bandung. Jurnal Sistim
Chong, H. Y., Teoh, S. L., Wu, D. B.-C., Kesehatan , UNPAD, 4 (3), 102–109.
Kotirum, S., Chiou, C.-F., &
Chaiyakunapruk, N. (2016). Global Sutarjo, P., Prabandari, Y. S., & Iravati, S.
economic burden of schizophrenia: a (2016). Pengaruh pelatihan community
systematic review. Neuropsychiatric mental health nursing pada self efficacy
Disease and Treatment, 12, 357. dan keterampilan kader kesehatan jiwa.
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM
Keliat, B. A., Akemat, S., Daulima, N. H. C., Journal of Community Medicine and
& Nurhaeni, H. (2011). Keperawatan Public Health), Volume 32(2), 67–72.
kesehatan jiwa komunitas: CMHN
(Basic Course). Jakarta: EGC. Sutisna, E., Ravik, S., Bhisma, K., Drajat, M.,
Kartono, T., Rifai, W., … Kemenkes, P.
(2012). Model Pemberdayaan
Masyarakat Bidang Kesehatan , Studi
Keliat, B. D., Novy, H. C., & Pipin, F. (2011). Program Desa Siaga Community
Manajemen keperawatan Psikososial Empowerment Model in Health Sector ,
dan Kader Kesehatan Jiwa. Jakarta Study on Village Preparadness Program.
EGC. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional,
Vol. 7, No, 186–192.
Kurniawan, Y., & Sulistyarini, I. (2017).
Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Wawan, A., & Dewi, M. (2010). Teori dan
Komunitas SEHATI ( Sehat Jiwa dan pengukuran pengetahuan, sikap dan
Hati ) Sebagai Intervensi Kesehatan perilaku manusia. Yogyakarta: Nuha
Mental Berbasis Masyarakat. Medika, 11–18.
https://doi.org/10.20473/JPKM.v1i2201
6.112-124 Widianti, Efri & Rafiyah, I. (2017).
Pemberdayaan Masyarakat Dalam
Mamuroh, Lilis, Witdiawati, S. (2018). Pelaksanaan Deteksi Dini Permasalahan
Penguatan Kapasitas Kader Kesehatan Kesehatan Jiwa di Desa Jayaraga
dalam Upaya Meningkatkan Dukungan Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten
Sosial Berbasis Masyarakat terhadap Garut. Jurnal Pengabdian Kepada
Klien Kanker Payudara Pendahuluan Masyarakat, Vol. 1(3), 191–195.
Kanker payudara merupakan kanker
paling umum pada wanita di seluruh Winahayu, E., Keliat, B. A., & Wardani, I. Y.
dunia , dengan hampir 1 , 7 juta kasus (2016). Sustainability Factor Related
with the Implementation of Community
73
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 69 - 74, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

Mental Health Nursing (CMHN) in


South and West Jakarta. Jurnal Ners,
9(2), 305–312.

74