Anda di halaman 1dari 14

TUGAS METODOLOGI PENELITIAN

“PENGARUH MASSA BIJI BUAH PEPAYA (Carica Papaya L)

TERHADAP KADAR BIOETANOL”

Oleh:

AHRIANI
NIM: 60400117056

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2020
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Bahan

tambang yang melimpah ruah merupakan kekayaan negeri yang telah digunakan di

berbagai sektor, namun eksploitasi terus menerus tentu menyebabkan habisnya

sumber daya ini dari waktu ke waktu. Sektor industri adalah salah satu sektor yang

bertumpu pada bahan bakar fosil. Selain gas alam, bahan bakar fosil yang menjadi

tumpuan industri adalah batu bara. Dengan kebutuhan energi yang semakin

meningkat dan sumber daya alam atau bahan bakar fosil yang semakin menurun,

dibutuhkan suatu sumber energi terbarukan untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

Salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil adalah bioetanol.

Bioetanol merupakan etanol yang berasal dari sumber hayati. Bioetanol bersumber

dari gula sederhana, amilum dan selulosa. Amilum yang berbentuk polisakarida

dapat dihidrolisis menjadi glukosa melalui pemanasan, menggunakan katalis dan

pemanfaatan enzim. Glukosa selanjutnya difermentasi menghasilkan etanol.

Fermentasi etanol merupakan aktivitas penguraian gula (karbohidrat) menjadi

senyawa etanol dengan mengeluarkan gas CO2. Umumnya, produksi bioetanol

menggunakan mikroba Saccharomyces cerevisiae. Mikroba ini dapat digunakan


untuk konversi gula menjadi etanol dengan kemampuan konversi yang baik, tahan

terhadap etanol kadar tinggi, tahan terhadap pH rendah dan tahan terhadap

temperatur tinggi. Salah satu sumber hayati yang memiliki potensi besar sebagai

bioetanol adalah biji buah pepaya.

Pepaya (Carica papaya Linn) merupakan salah satu komoditas hortikultura

Indonesia yang memiliki berbagai fungsi dan manfaat. Hampir semua bagian
tanaman pepaya memiliki daya dan hasil guna, dari daun sampai akarnya dapat

dimanfaatkan dalam kehidupan manusia. Meskipun bagian-bagian pepaya banyak

dimanfaatkan dalam berbagai bidang, tetapi manfaat biji pepaya masih belum

banyak diketahui masyarakat. Salah satunya adalah biji buah pepaya yang memiliki

potensi besar sebagai bioetanol. Namun untuk menghasilkan bioetanol dengan

kadar yang tinggi dari biji buah pepaya, maka perlu memperhatikan beberapa aspek.

Misalnya, massa biji buah pepaya.

Penelitian tentang pada tahun 2011 dengan judul penelitian “Studi Fisis

Pengolahan Buah Pepaya (Carica papaya. L) menjadi Bioetanol sebagai Sumber


Energi Alternatif” sudah dilakukan sebelumnya oleh Enjelita Pasaribu. Tetapi

belum ada perkembangan selanjutnya mengenai penelitian tersebut terhadap

pengaruh massa biji pepaya terhadap kadar bioetanol.

Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti akan melakukan penelitian dengan

judul “Pengaruh Massa Biji Buah Pepaya (Carica Papaya L) terhadap Kadar

Bioetanol”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui massa biji buah

pepaya (Carica Papaya L) yang tepat dalam menghasilkan bioetanol dengan kadar

yang tinggi.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana massa biji buah

pepaya (Carica Papaya L) yang tepat dalam menghasilkan bioetanol dengan kadar

yang tinggi?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui massa biji buah pepaya

(Carica Papaya L) yang tepat dalam menghasilkan bioetanol dengan kadar yang

tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Memberikan informasi tentang kandungan yang ada pada biji pepaya.

b. Memberikan informasi tentang manfaat biji pepaya dalam menghasilkan

bioetanol.

c. Meningkatkan pemanfaatan biji pepaya dalam menghasilkan bioetanol untuk

kesejahteraan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Pepaya


Pepaya (Carica papaya) adalah tumbuhan yang berasal dari Meksiko bagian

selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan, dan kini menyebar luas dan banyak

ditanam diseluruh daerah tropis untuk diambil buahnya. Carica papaya adalah satu-

satunya jenis dalam genus Carica. Nama pepaya dalam bahasa Indonesia diambil

dari bahasa Belanda, “papaja”, yang pada gilirannya juga mengambil dari nama

bahasa Arawak, “papaya”. Dalam bahasa Jawa pepaya disebut “kates” dan dalam

bahasa Sunda disebut “gedang” (Pudjatmaka, 2002).

Pepaya merupakan tumbuhan yang berbatang tegak dan basah. Pohon

papaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, tumbuh hingga

setinggi5-10 m dengan daun-daunan yang membentuk serupa spiralpada batang

pohon bagian atas, permukaan batangnya terlihat bekas pelekatan daun. Batangnya

tidak memiliki cabang. Arah tumbuh batang tegak lurus. Daunnya berbentuk bulat

atau bundar (orbicularis), merupakan daun tunggal bertulang daun menjari dengan

tangkai yang panjang dan berlubang di bagian tengah. Tepi daun bercangap menjari

(palmatifidus). Permukaan daun licin (laevis) sedikit mengkilat (nitidus), daging

seperti perkamen (perkamentius) (Badrianto. 2009).

Gambar 2.1 Tanaman pepaya


(Sumber: Pudjatmaka, 2006)
Menurut Pudjatmaka (2006), klasifikasi tanaman pepaya yaitu sebagai

berikut:

Tabel 2.1 Klasifikasi Tanaman Pepaya

Kingdom Plantae

Subkingdom Tracheobionta

Superdivisio Spermatophyta

Divisio Magnoliophyta

Kelas Magnoliopsida

Subkelas Dilleniiade

Ordo Violales

Famili Caricaceae

Genus Carica

Spesies Carica Papaya L


(Sumber: Pudjatmaka, 2006)
Bidang tanaman papaya berbentuk lurus berbuku-buku (beruas-ruas), di

bagian tengahnya berongga dan tidak berkayu. Ruas-ruas batang merupakan tempat

melekatnya tangkai daun yang panjang, berbentuk bulat dan berlubang. Daun

papaya bertulang menjari (palminervus) dengan warna permukaan atas hijau tua,

sedangkan warna permuaan bagian bawah hijau muda (Erlinawati, 2016).

Tanaman pepaya merupakan herba menahun dan tingginya mencapai 8 m.

Batang tak berkayu, bulat, berongga, bergetah dan terdapat bekas pangkal daun.

Dapat hidup pada ketinggian tempat 1m1.000m dari permukaan laut dan pada suhu

udara 22°C-26°C. Pada umumnya semua bagian dari tanaman baik akar, batang,

daun, biji dan buah dapat dimanfaatkan. (Warisno, 2003).


2.2 Biji Pepaya

Kandungan kimia yang dimiliki oleh biji pepaya apabila dikaitkan dengan

senyawa aktif dari tanaman ini ternyata banyak diantaranya mengandung alkaloid,

steroid, tanin dan minyak atsiri. Dalam biji pepaya mengandung senyawa-senyawa

steroid. Kandungan biji dalam buah pepaya kira-kira 14,3 % dari keseluruhan buah

pepaya (Satriasa dan Pangkahila, 2010). Kandungannya berupa asam lemak tak

jenuh yang tinggi, yaitu asam oleat dan palmitat. Selain mengandung asam-asam

lemak, biji pepaya diketahui mengandung senyawa kimia lain seperti golongan

fenol, alkaloid, terpenoid dan saponin. Zat-zat aktif yang terkandung dalam biji
pepaya tersebut bisa berefek sitotoksik, anti androgen atau berefek estrogenik

(Lohiya et al., 2002 dalam Satriyasa, 2007).

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang cukup banyak

dibudidayakan di Indonesia dan merupakan jenis tanaman yang bernilai ekonomis.

Kajian fitokimia pada biji pepaya membuktikan bahwa biji pepaya kaya akan

kandungan polisakarida, vitamins, mineral, enzim, protein, alkaloid, glycosida,

minyak, lektin, saponin, steroid, alkaloid, α-carpaine, β-Dglucosides, β-sitosterol,

papain, kolin, karoten, riboflavin, vitamin C, phenyethyl- β- D- glucosides, serta

senyawa fenolik yang dipercaya sebagai antioksidan yang potensial (Johnson, et al.,

2015; Ang, Yee Kwang, et al., 2012)

Hasil uji fitokimia terhadap ekstrak kental methanol biji pepaya diketahui

mengandung senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid, flavonoid,

alkaloid, dan saponin. Secara kualitatif, berdasarkan terbentuknya endapan atau

intensitas warna yang dihasilkan dengan pereaksi uji fitokimia, diketahui bahwa

kandungan senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid merupakan

komponen utama biji pepaya. (Sukadana, 2008:16).


2.3 Bioetanol

Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia pada proses fermentasi gula

dari sumber karbohidrat yang menggunakan bantuan mikroorganisme. Dalam

perkembangannya, produksi alkohol yang paling banyak digunakan adalah metode

fermentasi dan distilasi. Bahan baku yang dapat digunakan pada pembuatan etanol

adalah nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum manis, nira kelapa,

nira aren, nira siwalan, sari buah mete; bahan berpati: tepungtepung sorgum biji,

sagu, singkong, ubi jalar, ganyong, garut, umbi dahlia; bahan berselulosa

(lignoselulosa): kayu, jerami, batang pisang, bagas dan lain-lain (LIPI, 2008).
Bioetanol merupakan etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula)

yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Proses destilasi dapat menghasilkan

etanol dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel)

perlu lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut Fuel Grade

Ethanol (FGE). Proses pemurnian dengan prinsip dehidrasi umumnya dilakukan

dengan metode Molecular Sieve, untuk memisahkan air dari senyawa etanol

(Musanif, 2012).

Etanol dikategorikan dalam dua kelompok utama, yaitu:

1. Etanol 95-96%, disebut dengan “etanol berhidrat”, yang dibagai dalam:

a. Technical/raw spirit grade, digunakan untuk bahan bakar spiritua, minuman,

desinfektan, dan pelarut.

b. Industrial grade, digunakan untuk bahan baku industri dan pelarut.

c. Potable grade, untuk minuman berkualitas tinggi.

2. Etanol > 99,5%, digunakan untuk bahan bakar. Jika dimurnikan lebih lanjut dapat

digunakan untuk keperluan farmasi dan pelarut di laboratorium analisis. Etanol ini

disebut dengan dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) atau anhydrous ethanol (etanol
anhidrat) atau etanol kering, yakni etanol yang bebas air atau hanya mengandung

air minimal (Prihandana, 2007).

Berikut ini merupakan tabel sifat fisik dari etanol berdasarkan SNI 06-3565-

1994:

Tabel 2.2 Sifat Fisik Etanol

Parameter Etanol

Rumus Kimia C2H5OH

Berat Molekul 46

Densitas (gr/mL) 0,7581

Titik Didih 78,4

Titik Nyala 13

Titik Beku -112,4

Indeks Bias 1,3633

Panas Evaporasi 204

Viskositas pada 20 (Poise) 0,0122


(Sumber: Badan Standarisasi Nasional)
Produksi bioetanol (alkohol) dengan bahan baku tanaman yang

mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat

menjadi gula (glukosa) larut air. Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses

pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan,

yaitu Hidrolisa asam dan Hidrolisa enzim. Berdasarkan kedua jenis hidrolisa

tersebut, saat ini hidrolisa enzim lebih banyak dikembangkan, sedangkan hidrolisa

asam (misalnya dengan asam sulfat) kurang dapat berkembang, sehingga proses

pembuatan glukosa dari pati-patian sekarang ini dipergunakan dengan hidrolisa

enzim. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air

dilakukan dengan penambahan air dan enzim; kemudian dilakukan proses peragian
atau fermentasi gula menjadi etanol dengan menambahkan yeast atau ragi

(Solichah, 2013).

2.4 Fermentasi

Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan

anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk

respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang

mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan

tanpa akseptor elektron eksternal. Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi.

Beberapa contoh hasil fermentasi adalah bioetanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan
tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam

butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam

fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol

lainnya (Solichah, 2013).

Kadar glukosa dari buah pepaya dapat diubah menjadi bioetanol dengan

proses fermentasi. Bioetanol yang dihasilkan dari proses fermentasi biasanya

menghasilkan kadar yang masih rendah. Untuk mempertinggi kadar bioetanol

sering kali hasil fermentasi di distilasi. Proses fermentasi yaitu perubahan glukosa

menjadi bioetanol dengan reaksi sebagai berikut :

C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2

Salah satu cara yang banyak digunakan di dunia industri untuk mendapatkan

bioetanol yaitu dengan proses fermentasi dengan memanfaatkan kemampuan

mikroorganisme. Fermentasi ini dilakukan dalam kondisi anaerob atau tanpa

adanya oksigen. Umumnya, produksi bioetanol menggunakan mikroba

Saccharomyces cerevisiae. Mikroba ini dapat digunakan untuk konversi gula

menjadi etanol dengan kemampuan konversi yang baik, tahan terhadap etanol kadar

tinggi, tahan terhadap pH rendah, dan tahan terhadap temperatur tinggi. Salah satu
sumber hayati yang memiliki potensi besar sebagai bioetanol adalah biji buah

pepaya. (Solichah, 2013).

2.5 Integrasi Keilmuan

Allah SWT menciptakan segala sesuatu di muka bumi tidak sia-sia

sekalipun ciptaan-Nya itu memiliki bentuk yang kecil dan sederhana

(Shihab, M.Quraish. 2002: 373). Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah

Ali-Imran: 191/3:

Terjemahnya:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah engkau menciptakan
ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah Kami dari siksa
nereka.(Qs. Ali-Imran:191) (Departemen Agama RI, 1996).
Salah satu bukti nyata darim ayat di atas yang menerangkan bahwa sekecil

apapun itu pasti memiliki manfaat seperti pada penelitian ini yang menggunakan
biji dari buah papaya yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat di bidang ilmu

pengetahuan.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu dan tempat penelitian yaitu sebagai berikut:

Waktu : Mei 2020

Tempat : Laboratorium Analitik UIN Alauddin Makassar

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.2.1 Alat
a. Neraca digital

b. Gelas kimia

c. 3 buah labu Erlenmeyer dan penutupnya

d. microwave

e. Magnetic stirrer

f. Penghalus biji papaya

3.2.2 Bahan

a. Biji Pepaya

b. Aquades

c. Ragi roti (Saccharomyces cerevisiae)

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.3.1 Persiapan Bahan Baku

a. Mencuci biji pepaya dengan bersih.

b. Mengeringkan biji papaya di bawah terik matahari selama 2 minggu.

c. Setelah kering, biji pepaya kemudian dipanaskan dengan menggunakan

microwave. Lalu ditumbuk hingga halus.


3.3.2 Proses Fermentasi

a. Biji pepaya yang sudah dihaluskan, dimasukkan dalam Erlenmeyer

dengan masing-masing massa bahan (massa tepung biji pepaya) yaitu 25

gram, 35 gram dan 45 gram.

b. Menambahkan aquades sebanyak 100 ml dan diaduk hingga merata

dengan menggunakan magnetic stirrer.

c. Setelah itu, ragi roti Saccharomyces cerevisiae sebanyak 6 gram

dimasukkan ke dalam setiap larutan

d. Menutup rapat Erlenmeyer dengan menggunakan plastik untuk menjaga


fermentasi secara anaerob , lalu didiamkan selama 10 hari.

e. Tahap berikutnya adalah proses destilasi. Peralatan destilasi disusun

dengan baik dan benar. Kemudian, tombol suhu pada peralatan tersebut

diatur pada titik didih 78°

f. Mencatat tabel pengamatan.

Tabel 3.1 Tabel Destilasi Larutan Fermentasi

Massa Lama
Massa Waktu Suhu
Biji Waktu Volume
No Ragi Destilasi Destilasi
Pepaya Fermentasi Etanol
(gram) (menit) (℃)
(gram) (jam)

1. 25 6 240 60 78-80 …

2. 35 6 240 60 78-80 …

3. 45 6 240 60 78-80 …
3.4 Diagram Alir Penelitian
Proses pengadukan tepung biji
Mulai Persiapan bahan baku papaya dan larutan Aquades
menggunakan Magnetic Stirrer

Bubuk biji
pepaya Proses fermentasi

Proses Destilasi/Pemurnian

Karakterisasi hasil
Destilasi/Pemurnian