Anda di halaman 1dari 16

KEBERAGAMAN DAN KESETARAAN SEBAGAI

WARGA NEGARA INDONESIA

Dosen Pengampu:
Wajihuddin S.Pd, M.Hum
KELOMPOK 8
Nama Anggota:
1. Ramadhan Hasan Fahrezi (192303102020)
2. Nurul hidayah (192303102046)
3. Nur Azizah (192303102066)
4. Abimayu Heru prasetiyo (192303102073)
Kelas: 1A

PROGAM STUDI D-III KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER KAMPUS PASURUAN
2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang maha kuasa, karena atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“Keragaman dan Kesetaraan sebagai Warga Negara Indonesia”. Makalah ini disusun agar
para pembaca dapat memperluas ilmu tentang Pendidikan Kewarganegaraan, tentang
makalah ini kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Pendidikan Kewarganegaraan


yang sangat membantu penyusunan makalah ini yaitu Bapak Wajihuddin, yang telah
membimbing dalam penyusunan agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami
menyusun makalah ini, tidak lupa juga rasa terima kasih kepada rekan rekan Prodi D-III
Keperawatan khususnya kepada rekan rekan kelompok 8. Semoga makalah ini dapat
memberikan

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca.Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan, penulis berharap
agar pembaca dapat memberikan saran dan kritiknya. Untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih.

Pasuruan, 12 Mei 2020

Tim Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai khalifah dibumi dengan
dibekali akal pikiran untuk berkarya dimuka bumi. Manusia memiliki perbedaan baik
secara biologis maupun rohani. Secara biologis umumnya manusia dibedakan secara fisik
sedangkan secara rohani manusia dibedakan berdasarkan kepercayaannya atau agama
yang dianutnya. Kehidupan manusia sendiri sangatlah komplek, begitu pula hubungan
yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia
dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di
alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hubungan tersebut harus berjalan
selaras dan seimbang. Selain itu manusia juga diciptakan dengan sesempurna penciptaan,
dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki.
Keragaman atau kemajemukan merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan dalam
kehidupan di masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami
masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di waktu-waktu mendatang sebagai
fakta, keragaman sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai fakta yang
dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap sebagai faktor
penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun juga bisa
menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola
dengan baik. Setiap manusia dilahirkan setara, meskipun dengan keragaman identitas
yang disandang. Kesetaraan merupakan hal yang interen yang dimiliki manusia sejak
lahir. Setiap individu memiliki hak-hak dasar yang sama yang melekat pada dirinya sejak
dilahirkan atau yang disebut dengan hak asasi manusia.
Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan
adanya pranata-pranata sosial, terutama pranata hukum, yang merupakan mekanisme
kontrol yang secara ketat dan adil mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip-
prinsip kesetaraan dalam kehidupan nyata. Kesetaraan derajat individu melihat individu
sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial
yang menempel pada dirinya berdasarkan atas asal rasial, sukubangsa, kebangsawanan,

3
atau pun kekayaan dan kekuasaan. Di Indonesia, berbagai konflik antar suku bangsa,
antar penganut keyakinan keagamaan, ataupun antarkelompok telah memakan korban
jiwa dan raga serta harta benda, seperti kasus Sambas, Ambon, Poso dan Kalimantan
Tengah.
Kesetaraan sosial adalah tata politik sosial di mana semua orang yang berada dalam suatu
masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama. Setidaknya, kesetaraan
sosial mencakup hak yang sama di bawah hukum, merasakan keamanan, memperolehkan
hak suara, mempunyai kebebasan untuk berbicara dan berkumpul, dan sejauh mana hak
tersebut tidak merupakan hak-hak yang bersifat atau bersangkutan secara personal. hak-
hak ini dapat pula termasuk adanya akses untuk mendapatkan pendidikan, perawatan
kesehatan dan pengamanan sosial lainnya yang sama dalam kewajiban yang melibatkan
seluruh lapisan masyarakat.

1.2 TUJUAN
• Untuk mengetahui kesetaraan dan keragaman
• Untuk mengetahui kesetaraan dan keragaman di Indonesia
• Untuk mengetahui cara menyatukan kesetaraan dan keragaman di Indonesia

1.3 RUMUSAN MASALAH


• Bagaimana kaitan kesetaraan dan keragaman
• Bagaimana kesetaraan dan keragaman yang sedang terjadi di Indonesia
• Bagaimana cara menyatukan kesetaraan dengan keragaman bagi warga negara
Indonesia

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KAITAN KESETARAAN DAN KERAGAMAN


2.1.1 Pengertian Manusia
Menurut Omar Mohammad Al – Toumi Al – Syaibany, pengertian manusia adalah
makhluk yang mulia. Manusia merupakan makhluk yang mampu berpikir, dan menusia
merupakan makhluk 3 dimensi (yang terdiri dari badan, ruh, dan kemampuan berpikir /
akal). Manusia di dalam proses tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh dua faktor utama
yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan.
2.1.2 Makna Keragaman
Keragaman berasal dari kata ragam. Keragaman menunjukkan adanya banyak macam,
banyak jenis. Keragaman manusia dimaksudkan bahwa setiap manusia memiliki
perbedaan. Perbedaan itu ada karena manusia adalah makhluk individu yang setiap
individu memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Perbedaan itu terutama ditinjau dari sifat-sifat
pribadi, misalnya sikap, watak, kelakuan, temperamen, dan hasrat.
Selain makhluk individu, manusia juga makhluk sosial yang membentuk kelompok
persekutuan hidup. Tiap kelompok persekutuan hidup juga beragam. Masyarakat sebagai
persekutuan hidup itu berbeda dan beragam karena ada perbedaan, misalnya dalam ras,
suku, agama, budaya,ekonomi,status sosial, jenis kelamin, jenis tempat tinggal. Hal-hal
demikian dikatakan sebagai unsur-unsur yang membentuk keragaman dalam masyarakat.
Keragaman individual maupun sosial adalah implikasi dari kedudukan manusia, baik
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
Keragaman yang terdapat dalam lingkungan sosial manusia melahirkan masyarakat
majemuk. Majemuk berarti banyak ragam, beraneka, berjenis-jenis. Konsep masyarakat
majemuk (plural society) pertama kali dikenalkan oleh Furnivall tahun 1948 yang
mengatakan bahwa ciri utama masyarakatnya adalah berkehidupan secara berkelompok
yang berdampingan secara fisik, tetapi terpisah oleh kehidupan sosial dan tergabung
dalam sebuah satuan politik. Konsep ini merujuk pada masyarakat Indonesia masa
kolonial. Masyarakat Hindia Belanda waktu itu dalam pengelompokkan komunitasnya
didasarkan atas ras, etnik, ekonomi, dan agama.

5
Usman Pelly (1989) mengategorikan masyarakat majemuk disuatu kota berdasarkan dua
hal, yaitu pembelahan horizontal dan pembelahan vertikal.
Secara Horizontal, masyarakat majemuk dikelompokkan berdasarkan:
1. Etnik dan rasa tau asal usul keturunan.
2. Bahasa daerah
3. Adat istiadat atau perilaku
4. Agama
5. Pakaian, makanan, dan budaya material lainnya.
Secara Vertikal, masyarakat majemuk dikelompokkan berdasarkan:
1. Penghasilan atau ekonomi
2. Pendidikan
3. Pemukiman
4. Pekerjaan
5. Kedudukan sosial politik.
2.1.2 Pengertian kesataraan
Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki
tingkatan atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama bersumber
dari pandangan bahwa semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan
kedudukan yang sama yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding
makhluk lain. Dihadapan Tuhan semua manusia memiliki derajat, kedudukan atau
tingkatan yang sama , yang membedakannya adalah ketaqwaan manusia tersebut
terhadap Tuhan.
Kesederajatan merupakan suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan keragaman yang
ada, manusia tetap memiliki suatu kedudukan yang sama dalam satu tingkatan hierarki.
Kesederajatann adalah persamaan harkat, nilai, harga dan taraf yang membedakan
makhluk yang satu dengan yang lainnya. Kesederajatan dalam masyarakat adalah suatu
keadaan yang menunjukkan adanya pemeliharaan kerukunan dan kedamaian yang saling
menjaga harkat dan martabat masyarakatnya.
Di Indonesia unsur keragamannya dapat dilihat dari suku bangsa, ras, agama dan
keyakinan, ideologi dan politik, tata krama serta kesenjangan ekonomi dan kesenjangan

6
sosial. Semua unsur tersebut merupakan hal yang harus dipelajari agar keragaman yang
ada tidak membawa dampak yang buruk bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.
Dampak buruk dari tidak adanya sikap terbuka, logis dan dewasa atas keragaman
masyarakat, antara lain munculnya disharmonisasi (tidak adanya penyesuaian atas
keragaman antara manusia dengan lingkungnnya), perilaku diskriminatif terhadap
kelompok masyarakat tertentu, eksklusivisme/rasialis (menganggap derajat kelompoknya
lebih tinggi daripada kelompok lain) dan disintegrasi bangsa.
Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan terhadap seseorang atau
sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku,etnis, kelompok, golongan,status, kelas
sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik tubuh, usia, orientasi seksual, pandangan
ideologi dan politik, serta batas negara dan kebangsaan seseorang.
Selain diskriminasi juga terdapat problematika lain yang harus diwaspadai yaitu adanya
disintegrasi bangsa. Ada enam faktor yang menjadi penyebab utama proses tersebut yaitu
kegagalan kepemimpinan, krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama, krisis politik,
krisis sosial, demoralisasi tentara dan polisi serta intervensi asing. Untuk menghindari
dampak buruk diatas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan
Semangat religius, semangat masionalisme, semangat pluralisme, semangat humanisme,
dialog antar umat beragama, serta membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi
ataupun konfigurasi hubungan antaraagama, media massa dan harmonisasi dunia.
Sementara salah satu hal yang dapat dijadikan solusi dari masalah-masalah diatas adalah
Bhineka Tunggal Ika, ungkapan yang menggambarkan masyarakat Indonesia yang
majemuk (heterogen). Masyarakat Indonesia terwujud sebagai hasil interaksi sosial dari
banyak suku bangsa dengan beraneka ragam latar belakang kebudayaan, agama, sejarah
dan tujuan yang sama yang disebut kebudayaan nasional.

2.1.3 Prinsip-prinsip kesetaraan


Sejak zaman dahulu hingga sekarang, hal yang sangat fundamental dari hak asasi
manusia itu adalah ide yang meletakkan semua orang terlahir bebas dan memiliki
kesetaraan dalam hak asasi manusia. Demikian pula dalam kehidupan masyarakat yang
majemuk seperti Indonesia, prinsip kesetaraan sangat perlu diterapkan.

7
Namun apakah semua harus diperlakukan sama untuk menciptakan suatu keadilan, tanpa
memandang tingkat pendidikan, kedudukan atau jabatan, status dan peran sosial?
Memang tak dapat dipungkiri bahwa tingkat pendidikan, kedudukan dan jabatan, status
dan peran sosial telah membuat seolah-olah setiap orang tersebut mempunyai hak
istimewa dan mendapat perlakuan yang lebih pula. Namun, mereka punya kewajiban
yang sama seperti halnya orang-orang disekitarnya. Dalam hal kewajiban sebagai warga
negara tak ada yang diperlakukan berbeda, semuanya setara. Demikian pula halnya
dengan hak, setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan
yang tinggi, memperoleh kedudukan atau jabatan dan memiliki status dan peran sosial
yang sama dalam masyarakatnya. Kesetaraan memungkinkan setiap orang untuk
mendapatkan kesempatan dan memperoleh pendidikan yang layak, pekerjaan dan
menempati jabatan atau keudukan dalam masyarakatnya. Tak ada seorangpun yang
berhak untuk menghalangi orang lain untuk mencapai itu semua. Bahkan negara
diperbolehkan ubtuk menerapkan suatu tindakan afirmatif. Tindakan afirmatif adalah
tindakan atau kebijakan yang diambil untuk tujuan agar kelompok atau golongan tertentu
(gender ataupun profesi) memperoleh peluang yang setara dengan kelompok atau
golongan lain dalam bidang yang sama.
Prinsip-prinsip kesetaraan telah menjadi amanat dalam konstitusi Negara Kesatuan
Republik Indonesia yaitu dalam UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya.
Pasal-pasal dalam UUD 1945 tersebut sudah menyebutkan prinsip-peinsip kesetaraan
tersebut, baik secara implisit maupun eksplisit. Adanya pengaturan persamaan hak dan
kewajiban dalam pasal-pasal UUD 1945 tersebut telah menunjukkan bahwa kesetaraan
dalam kehidupan negara dan berbangsa kita sudah diakui dan dijamin oleh negara. Pasal
27 Ayat 1 UUD 1945 secara eksplisit menegaskan pengakuanakan prinsip kesetaraan,
“segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya”.

2.1.4 Penerapan prinsip-prinsip kesetaraan


Prinsip-prinsip kesataraan perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan dan
bernegara, seperti dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kemajemukan

8
dalam masyarakat sangat rentan terhadap perpecahan jika prinsip kesetaraan tak
diterapkan dalam masyarakat tersebut. perlakuan diskriminatif terhadap kelompok
tertentu merupakan salah satu bentuk tak diterakapkannya prinsip kesetaraan dalam suatu
masyarakat. Begitu pula halnya bila suatu daerah mengalami perang antarsuku atau
antaretnis yang berbeda, hal ini menunjukkan bahwa prinsip kesetaraan tak dilaksanakan
dengan baik dan konsekuen. Terjadinya aksi protes atas penguasa atu protes tehadap
suatu kebijakan menunjukkan kalau penguasa atau kebijakan yang dikeluarkan tersebut
kurang atau tidak mengakomodasi prinsip kesetaraan sehingga tak dianggap adil oleh
masyarakat yang bersangkutan.
Penerapan prinsip-prinsip keseteraan dalam masyarakat yang beragam mutlak diperlukan.
Penerapan prinsip-prinsip keseteraan tersebut berguna untuk menciptakan kehidupan
yang harmonis dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia. Terjadinya konflik
Timur Tengah seperti dinegara Syria lebih disebabkan karena diterapkannya prinsip
kesetaraan dalam masyarakat tersebut. kebijakan pemerintah dinegeri ini itu terlalu
otoriter sehingga mengabaikan prinsip kesetaraan. Akibatnya, rakyat merasakan
ketidakadilan.
Perbedaan dan keragaman sosial dalam kehidupan masyarakat bukanlah penghalang
untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat tersebut. Penerapan
prinsip-prinsip keseteraan merupakan salah satu jalan untuk menciptakan keharmonisan.
Hal ini disebabkan karena dalam prinsip setiap orang mendapat perlakuan dan
diperlakukan sama tanpa pandang bulu. Prinsip kesetaraan sangat tak menginginkan
adanya perlakuan yang diskriminatif. Perlakuan diskriminatif hanya akan menciptakan
perpecahan bukan keharmonisan dalam kehidupan sosial.
Indonesia merupakan wilayah yang terdiri dari beberapa pulau dengan karateristik yang
berbeda-beda di setiap daerahnya. Perbedaan tersebut dapat meliputi perbedaan ras,
agama, mata pencaharian, suku, adat istiadat, norma, dan lain sebagainya. Keberagaman
yang ada di Indonesia menjadikan setiap individu yang berasal dari setiap daerah
memiliki tingkah laku dan aktivitas yang berbeda-beda.

2.1.5 Keberagaman Manusia

9
Keberagaman manusia yaitu manusia yang memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut
ditinjau dari sifat-sifat pribadi, misalnya sikap, watak, kelakuan, temperamen, dan hasrat.
Selain individu, terdapat juga keragaman sosial. Jika keragaman individu terletak pada
perbedaan secara individu atau perorangan, sedangkan keragaman sosial terletak pada
keragaman dari masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.

2.2 KESETARAAN DAN KERAGAMAN YANG TERJADI DI INDONESIA


Kesetaraan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih
tinggi atau tidak lebih rendah antara satu sama lain. Kesetaraan manusia bermakna bahwa
manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki tingkat atau
kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan tersebut bersumber dari adanya
pandangan bahwa semua manusia diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai
makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain.
Kesetaraan Sosial adalah tata politik sosial di mana semua orang yang berada dalam
suatu masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama. Kesetaraan
mencangkup hak yang sama di bawah hukum, merasakan keamanan, memperoleh hak
suara, memiliki kebebasan dalam berbicara, dan hak lainnya yang sifatnya personal.

2.2.1 Faktor Penyebab Keberagaman Sosial


Indonesia memiliki perbedaan suku bangsa, etnis, agama, bahasa, kesenian, dan
kedaerahan yang dianggap sebagai karakteristik dalam kehidupan sosial. Meskipun
masyarakat Indonesia bersifat majemuk, namun manusia pada hakekatnya adalah sama
dan sederajat. Keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak terlepas dari
faktor penyebabnya. Adapun faktor penyebab keberagaman sosial, yaitu: faktor sejarah
dan faktor geografis

2.2.2 Keberagaman dalam dinamika Sosial


Struktur masyarakat Indonesia yang beragam ditandai oleh ciri-ciri yang unik. Secara
horizontal, mereka ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-
perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, perbedaan adat, serta perbedaan kedaerahan.
Sedangkan secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan

10
vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Berikut akan diuraikan
tentang keberagaman yang ada di Indonesia yang meliputi ras, etnik (suku bangsa),
agama, mata pencaharian, jenis kelamin, dan norma sosial.

2.2.3 Keberagaman dan Kesetaraan sebagai Kekayaan Sosial


Setiap manusia dilahirkan sama atau setara antara satu dengan lainnya, meskipun dalam
masyarakat, terdapat keragaman identitas. Kesetaraan dan keberagaman yang ada di
masyarakat menunjukkan tingkatan yang sama, kedudukan yang sama meskipun dalam
masyarakat yang majemuk. Adanya kesetaraan dan keberagaman sosial di masyarakat
dapat memberikan kekayaan sosial.

2.2.4 Keberagaman sebagai Kekayaan Sosial


Keragaman yang terdapat dalam kehidupan sosial manusia melahirkan masyarakat
majemuk. Seperti di Indonesia, adanya masyarakat majemuk dapat dikarenakan
kemajemukan etnik atau suku bangsa. Beragamnya etnik di Indonesia menyebabkan
Indonesia memiliki ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan pranata. Etnik atau suku
bangsa menjadi identitas sosial budaya seseorang. Artinya, identifikasi seseorang dapat
dikenali dari bahasa, tradisi, budaya, dan kepercayaan yang bersumber dari etnik dimana
ia berasal.

2.2.5 Kesetaraan sebagai Kekayaan Sosial


Hubungan antarmanusia dan lingkungan masyarakat pada umumnya memiliki sifat
timbal-balik. Artinya, individu yang menjadi anggota masyarakat memiliki hak dan
kewajiban. Beberapa hak dan kewajiban telah ditetapkan dalam undang-undang
(konstitusi) dan telah menjadi hak dan kewajiban asasi, seperti yang tercantum dalam
Pasal 27 ayat 1 UUD 1945. Pada pasal tersebut jelas mengakui adanya kesetaraan dan
kesederajatan yang diakui oleh Negara melalui UUD 1945. Kesetaraan dalam derajat
kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata-pranata sosial.

11
2.3 CARA MENYATUKAN KESETARAAN DENGAN KERAGAMAN BAGI
WARGA NEGARA INDONESIA
Pengertian warga negara menunjukkan keanggotaan seseorang dari institusi politik
yang namanya negara. Ia sebagai subjek sekaligus objek dalam kehidupan negaranya.
Oleh karena itu seorang warga negara senantiasa akan berinteraksi dengan negara,
dan bertanggungjawab atas keberlangsungan kehidupan negaranya.
Sedangkan siapa yang termasuk warga negara, masing-masing negara memiliki
kewengan sendiri untuk menentukannya sebagaimana yang ditetapkan dalam
konstitusinya. Tentang siapa yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) menurut
UUD 1945 baik sebelum amandemen maupun sesudah amandemen tidak mengalami
perubahan. Menurut pasal 26 ayat (1) UUD 1945, “Yang menjadi warga negara ialah
orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan
undang-undang sebagai warga negara”.
Mengenai pengertian orang-orang bangsa Indonesia asli ada beberapa penafsiran.
Misalnya ada penafsiran yang menyatakan bahwa orang Indonesia asli adalah golongan-
golongan orang-orang yang mendiami bumi Nusantara secara turun temurun sejak zaman
tandum. Zaman tandum yaitu zaman dimana tanah dijadikan sebagai: sumber hidup,
manunggal dengan dirinya sendiri, dipercaya dijaga danyang-danyang desa, mempunyai
sifat-sifat magis-relegius, diamanatkan oleh nenek moyangnya untuk dijaga dan
dipelihara, tempat menyimpan jazadnya setelah berpindah ke alam baka (B.P. Paulus,
1983).
Perkataan “asli” di atas, mengandung syarat biologis, bahwa asal-usul atau turunan
menentukan kedudukan sosial seseorang itu “asli” atau “tidak asli”. Keaslian ditentukan
oleh turunan atau adanya hubungan darah antara yang melahirkan dan yang dilahirkan.
Dengan demikian penentuan keaslian bisa didasarkan atas tiga alternatif, yaitu :
Turunan atau pertalian darah (geneologis)
Ikatan pada tanah atau wilayahnya (territorial)
Turunan atau pertalian darah dan ikatan pada tanah atau wilayah (geneologis-territorial)
Apabila diringkaskan, mereka yang termasuk golongan Bumiputra adalah mereka yang
berasal dari keturunan suku-suku yang terikat karena ikatan tanah dan wilayah secara

12
tradisional dan secara tradisional tinggal atau berasal dari wilayah-wilayah masyarakat
hukum adat dalam daerah hukum negara Republik Indonesia.
Dengan dasar territorial, maka dimungkinkan terjadinya asimilasi alamiah dan total di
wilayah-wilayah tersebut, sehingga dimungkinkan pula warga negara peranakan terlebur
ke dalam salah satu suku bangsa Indonesia. Sebaliknya mereka yang tetap berpegang
pada kultur leluhur asingnya menjadi tidak terlebur. Mereka ini disebut “orang-orang
bangsa lain yang disyahkan dengan undang-undang sebagai warga negara” dalam pasal
26 ayat (1) UUD 1945 atau yang oleh masyarakat dinamakan “non- Pribumi”.
Penyebutan “Pribumi” dan “Non-Pribumi”, karena dinilai berbau diskriminatif yang
bertentangan dengan pasal 27 UUD 1945, telah dihentikan penggunaanya. Penghentian
itu melalui Inpres No. 26 Tahun 1988 tentang penghentikan istilah pribumi dan
nonpribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan perencanaan
program, ataupun pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. Dengan
demikian perlu dihindari penggunaan istilah WNI Pribumi dan WNI
Nonpribumi/Keturunan, sekarang hanya dikenal istilah WNI saja bagi sebutan setiap
orang yang menjadi warga negara Indonesia.
Sekarang istilah bangsa Indonesia Asli didefinisikan tidak lagi bersifat diskriminatif,
yaitu berdasarkan etnis tetapi didasarkan pada hukum. Menurut UU No.12 Tahun 2006
tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, Pasal 2, ditentukan bahwa yang dimaksud
dengan bangsa Indonesia asli adalah “orang Indnesia yang menjadi Warga Negara
Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas
kehendak sendiri”. Konsekuensi dari ketentuan Pasal 2 ini yaitu:
Semua anak WNI keturunan, baik dari etnis Tionghoa, Arab, India dan bangsa lain yang
lahir di Indonesia otomatis merupakan “bangsa Indonesia asli”.
SKBRI (Surat Keterangan Bukti Kewarganegaraan Republik ) tidak berlaku lagi, bagi
warga negara keturunan.
Siapa Warga Negara Indonesia? Menurut UU No.12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia orang yang termasuk WNI (Warga Negara
Indonesia) adalah sebagai berikut: setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-
undangan dan/atau berdasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan negara
lain sebelum Undang-Undang ini berlaku sudah menjadi Warga Negara Indonesia, anak

13
yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu Warga Negara Indonesia,
anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan
ibu warga negara asing, anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah
warga negara asing dan ibu Warga Negara Indonesia.
Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara Indonesia,
tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asala ayahnya
tidak memberikan kewargaanegaraan kepada anak tersebut, anak yang lahir dalam
tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan
yang sah dan ayahnya warga negara Indonesia, anak yang lahir di luar perkawinan yang
sah dari seorang ibu Warga Negara Indonesia, anak yang lahir di luar perkawinan yang
sah dari seorang ibu warga negara asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara
Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia
18 (delapan belas) tahun dan/atau belum kawin, anak yang lahir di wilayah negara
Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan
ibunya, anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara Republik Indonesia
selama ayah dan ibunya tidak diketahui, anak yang lahir di wilayah negara Republik
Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak
diketahui keberadaannya.
anak yang dilahirkan di luar wilayah negara Republik Indonesia dari seorang ayah dan
ibu Warga Negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut
dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan.
anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya,
kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau
menyatakan janji setia.
Anak Warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18
(delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang
berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia. Anak Warga
Negara Indonesia yang belum berusia 5 (lima) tahun diangkat secara sah sebagai anak
oleh warga negara asing berdasarkan penetapan pengadilan tetap diakui sebagai Warga
Negara Indonesia.

14
Dari ketentuan tentang siapa WNI tersebut di atas, maka dapat dinyatakan UU No. 12
tahun 2006 menganut asas anak berkewarganegaraan ganda terbatas. Karena setelah
berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin anak tersebut harus menyatakan
memilih salah satu kewarganegaraannya. Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan
dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada Pejabat dengan melampirkan dokumen
sebagaimana ditentukan di dalam peraturan perundang-undangan. Pernyataan untuk
memilih kewarganegaraan disampaikan dalam waktu paling lambat 3 (tiga) tahun setelah
anak berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
Indonesia yang terdiri dari beberapa daerah dapat memberikan keberagaman, baik dalam
kehidupan sosial maupun budaya. Adanya keberagaman ini juga dapat memicu
munculnya konflik. Oleh karena itu, kita harus selalu menghormati dan menghargai
perbedaan yang ada dalam masyarakat agar dapat mencegah munculnya konflik.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kesetaraan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih
tinggi atau tidak lebih rendah antara satu sama lain. Kesetaraan manusia bermakna bahwa
manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki tingkat atau
kedudukan yang sama.namun mempunyai kebutuhandan kinginan yang beragam
Indonesia yang terdiri dari beberapa daerah dapat memberikan keberagaman, baik dalam
kehidupan sosial maupun budaya. Adanya keberagaman ini juga dapat memicu
munculnya konflik. Oleh karena itu, kita harus selalu menghormati dan menghargai
perbedaan yang ada dalam masyarakat agar dapat mencegah munculnya konflik.
Upaya untuk menghindari adanya perpecahan di masyarakat yang diakibatkan adanya
keberagaman yaitu melalui pembangunan yang merata di semua lapisan masyarakat.
Pembangunan tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah semata, namun juga dibutuhkan
adanya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara keduanya.

16