Anda di halaman 1dari 56

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes mellitus adalah suatu gejala yang timbul pada seseorang

disebabkan karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan

sekresi insulin yang progresif dilator belakangi ileh sekresi insulin

(Soegondok,2018)

Menurut World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa

Diabetes mellitus merupakan penyakit atau gangguan metabolisme kronis

dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai

dengan gangguan metabolisme karbohidrat,lipid dan protein sebagai akibat

dari insulfiensi fungsi insulin,yang dapat disebabkan oleh gangguan produksi

insulin oleh sel-sel langerhans kelenjar pangkreas atau disebabkan oleh kurang

responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin.

Diabetes mellitus menurut American Diabetes Association

( ADA,2017) merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,kerja

insulin,atau keduanya.beberapa gejala yang sering ditemukan pada penderita

diabetes adalah poliuria,polidipsia,polifagia,penurunan berat badan,dan

penglihatan kabur.
Penderita diabetes mellitus didunia ini sampai saat ini jumlahnya

semakin bertambah.Menurut World Health Organization (WHO,2016) jumlah

penderita diabetes telah meningkat dari 108 juta penduduk pada tahun 1980

menjadi 422 juta penduduk pada tahun 2014,berdasarkan (ADA,2016),pada

tahun 2010 sebanyak 25,8 juta penduduk Amerika menderita diabetes dan

tahun 2012 jumlahnya meningkat menjadi 29,1 juta penduduk.sebanyak 1,4

juta penduduk Amerika didiagnosis diabetes mellitus setiap tahunnya.

Meningkatnya jumlah penderita DM juga terjadi di

Indonesia,prevalensi penderita Diabetes di Indonesia menempati peringkat ke-

7 didunia bersama dengan China,India,Amerika serikat,Brazil,Rusia dan

meksiko dengan jumlah estimasi orang dengan diabetes sebesar 10 juta (IDF

Atlas 2015).Indonesia sendiri merupakan Negara berkembang dibagian asia

tenggara dan menempati peringkat keenam didunia dengan prevalensi yakni

10,3 juta penderita DM dan diperkirakan pada tahun 2045 akan meningkat

menjadi 16,7 juta penderita.

Menurut data dinas kesehatan (RISKESDAS) 2018 menunjukan

bahwa prevalensi di sulawesi selatan mengalami peningkatan ,berdasarkan

pemeriksaan gula darah penyakit diabetes melitus naik dari 6,9% pada tahun

2013 menjadi 8,5% ditahun 2018,peningkatan kasus DM juga terjadi ditingkat

kabupaten/kota.khususnya dikota Makassar,berdasarkan data dari Dinas

Kesehatan Kota Makassar 2015,kasus baru DM di tahun 2015 yaitu 21.018

kasusn ( laki-laki 8.457,perempuan:12.561).Adapun kematian akibat DM

terdapat 811 (laki-laki 450,perempuan:361) sepanjang tahun 2015. Jika


keadaan ini terus dibiarkan tanpa adanya pencegahan yang dilakukan,dapat

dipastikan jumlah penderita DM bias meningkat (WHO,2016).

Berdasarkan data dari petugas Puskesmas Mangasa Kota Makassar

jumlah penderita diabetes melittus pada tahun 2018 mencapai 1089

penderita,dan pada tahun 2019 dikelurahan mangasa mencapai 139 penderita.

Luka kaki tidak kunjung sembuh disebabkan oleh infeksi jamur

dan bakteri dan yang paling parah adalah pembusukan jaringan sehingga perlu

dilakukan amputasi. Pencegahan supaya tidak terjadi amputasi sebenarnya

sangat sederhana tetapi sering terabaikan.Tindakan pencegahan yang dapat

dilakukan adalah kepatuhan klien dalam perawatan atau mengatur dirinya

untuk mengontrol kadar glukosa darah melalui kedisiplinan diet,Melakukan

pencegahan luka,serta perawatan kaki seperti yang telah disarankan oleh

tenaga kesehatan.perawatan kaki yang efektif dapat mencegah terjadinya

resiko ulkus menjadi amputasi,selain itu klien DM perlu dilakukan screening

kaki diabetisi dengan membuat format pengkajian kaki diabetisi dan

mengkategorikan resiko ulkus kaki diabetik sampai tindak lanjut penanganan

kaki diabetik sesuai klasifikasi (Ardi,Damayanti & Sudirman,2014).

Selain itu kurangnya pengetahuan atau kesadaran klien sehingga

klien datang kepelayanan kesehatan biasanya dalam keadaan ganggren yang

berat sehingga sering harus dilakukan amputasi,selain itu kesadaran yang

rendah pada masyarakat tersebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi
terhadap tingginya angka kejadian ulkus kaki diabetik diindonesia

(Maulana,2009).

Berdasarkan fenomena diatas maka penelitian tertarik ingin

mengetahui tentang Hubungan Pengetahuan Perawatan Kaki Terhadap

Perilaku Pencegahan Ulkus Kaki Diabetic Pada Penderita Diabetes Mellitus di

Puskesmas Mangasa Kota Makassar.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Ada

Hubungan Antara Pengetahuan Perawatan Kaki Terhadap Pencegahan Ulkus

Kaki Diabetik Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II Di Wilayah Kerja

Puskesmas Mangasa Kota Makassar.

C.Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan

Pengetahuan Perawatan Kaki Terhadap Pencegahan Ulkus Kaki Diabetik

Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Diwilayah Kerja Puskesmas

Mangasa Kota Makassar

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui pengetahuan dalam pencegahan terjadinya luka kaki

diabetic pada penderita diabetes mellitus diwilayah kerja puskesmas

mangasa kota Makassar.


b. Mengetahui perilaku dalam pencegahan terjadinya luka kaki diabetic

pada penderita diabetes melittus diwilayah kerja puskesmas mangasa

kota Makassar.

c. Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan perilaku

pencegahan terjadinya luka kaki diabetic pada penderita diabetes

mellitus diwilayah kerja puskesmas mangasa kota Makassar.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pada penelitian itu berfokus pada kajian ilmiah.Diabees

Mellitus keperawatan komunitas penelitian yang dilakukan ini adalah

mengenai Hubungan Pengetahuan Perawatan Kaki Terhadap Perilaku

Pencegahan Ulkus Kaki Diabetic pada penderita Diabetes Mellitus tipe II di

Wilayah Kerja Puskesmas Mangasa Kota Makassar.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Terhadap institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

referensi bagi insitusi pendidik dalam mengembangkan ilmu

pengetahuan mengenai hubungan pengetahuan perawatan kaki

terhadap perilaku pencegahan ulkus kaaki diabetic pada penderita

diabetes mellitus tipe II.


b. Terhadap peneliti

Hasil penelitiaan ini dapat berguna bagi peneliti,sehingga

peneliti dapat mengetahui tentang Hubungan Pengetahuan Perawatan

Kaki terhadap Perilaku Pencegahan Ulkus Kaki Diabetic pada

penderita Diabetes Mellitus Tipe II,sehingga dapat mengaplikasikan

terhadap penderita DM baik dilingkungan kerja.dilingkungan

keluarga,maupun dilingkungan masyarakat dan dapat menambah

pengelaman peneliti melakukan penelitian serta dapat dikembangkan

untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Terhadap Masyarakat

Penelitian Ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

masyarakat tentang hubungan perawatan kaki terhadap perilaku

pencegahan ulkus kaki diabetic pada penderita diabetes melittus.

b. Terhadap puskesmas

Hal penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan

dalam hal memberikan edukasi kesehatan terhadapa upaya melakukan

pencegahan terjadinya ulkus kaki tiabetik pada penderita diabetes

mellitus dan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih

optimal lagi.
F.Keaslian Penelitian.

Penelitian dengan judul yang sama yaitu “Hubungan Pengetahuan

Perawatan Kaki terhadap Perilaku Pencegahan Ulkus Kaki Diabetic pada

penderita Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar”

sudah pernah dilakukan penelitan adapun penelitiannya yang berkaitan yaitu:

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Permadani 2017,tentang

“Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Ulkus Kaki Diabetic Dengan

Pencegahan Terjadinya Ulkus Kaki Diabetic Pada Penderita Diabetes Mellitus

Tipe II di Rumah Sakit Dokter Soeradji Trionegoro Klaten” metode yang

digunakan yaitu metode deskriptif kolerasi dengan pendekatan cross

sectional.Jenis penelitian ini adalah kuantitatif subyek penelitian ini adalah

penderita diabetes mellitus tampa ulkus kaki diabetic sebanyak 41 responden

dengan menggunakan purposive sampling hasil penelitian.Analisa data yang

digunakan uji rank spearman dengan taraf signifikansi (a=0,05_ didapatkan

value P value 0,001 (p<0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha

diterima.simpulan,ada Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Tentang Ulkus

Kaki Diabetic Dengan Pencegahan Terjadinya Ulkus Kaki Diabetic Pada

Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Rumah Sakit Dokter Soeradji

Tirtonegoro Klaten.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. .Tinjauan Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Teori Diabetes

a. Definisi Diabetes Melitus

Diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan

tingginya kadar gula darah dalam urine yang dapat menyebabkan

produksi dan fungsi hormone insulin tidak dapat bekerja dengan

baik karena disebabkan oleh terganggunya metabolisme

(Syamsiah,2017).

Diabetes adalah suatu kondisi kronis yang terjadi ketika

tubuh tidak dapat menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat

menggunakan insulin,dan didiagnosis dengan mengamati

peningkatan kadar glukosa dalam darah (IDF,2015).

Berdasarkan definisi diatas,dapat disimpulkan bahwa

penyakit diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit kronis

yang terjadi akibat gangguan pada pangkreas yang tidak

menghasilkan cukup insulin yang sesuai dengan kebutuhan tubuh

sehingga insulin tidak dapat bekerja secara efektif yang dapat

menyebabkan terjadinya peningkatan kadar gula darah.


b. Klasifikasi Diabetes Melitus

1) Dibetes Melitus tipe I

Diabetes mellitus tipe I merupakan penyakit autoimun yang

disebabkan oleh gangguan system imun atau kekebalan system tubuh

yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel beta pangkreas sehingga

insulin tidak bisa diproduksi lagi sehingga tubuh tidak mempunyai

cukup insulin atau tidak ada sama sekali.Hal ini dapat menyebabkan

terjadinya penumpukan gula darah yang tidak dapat diangkut dalam

sel tubuh.

Diabetes tipe I dapat disebut Insulin Dependent Diabetes

Mellitus (IDDM) dimana penderita diabetes sangat bergantung pada

suntikan insulin untuk mencukupi kebutuhan insulin dalam tubuh,

(Syamsiah,2019).

2) Diabetes Melitus tipe 2

Diabetes tipe II adalah jenis yang paling umum dari

diabetes biasanya terjadi pada orang dewasa,tapi semakin terlihat

pada anak-anak dan remaja.pada diabetes tipe 2,tubuh mampu

memproduksi insulin tetapi menjadi resistensi sehingga insulin

tidak efektif.Seiring berjalanya waktu,kadar insulin kemudian

menjadi tidak cukup.Kedua resistensi insulin dan defisiensi

menyebabkan kadar glukosa darah tinggi,gejala diabetes tipe 2


meliputi sering buang air kecil,sering haus,penurunan berat

badan,dan penglihatan kabur.

Ada beberapa faktor risiko pada DM tipe II Yang paling

penting adalah kelebihan berat badan,aktivitas fisik dan gizi

buruk.Faktor-faktor lain yang berperan adalah etnis,riwayat

keluarga diabetes,riwayat diabetes gestasional dan usia,

(IDF,2015).

Diabetes tipe II bias disebut dengan non-insulin dependent

Diabetes Mellitus (IDDM) dimana Penderita tidak memerlukan

tambahan suntikan insulin tetapi memerlukan obat untuk

membantu fungsi insulin dalam menurunkan gula darah

(Tandra,2017).

3) Diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah diabetes yang muncul pada saat

hamil tetapi tidak mempunyai riwayat diabetes

sebelumnya.Diabetes gestasional terjadi karena pembentuknan

hormone pada ibu hamil yang dapat menyebabkan terjadinya

resistensi insulin.yang perlu diwaspadai adalah lebih dari setengah

dari ibu hamil yang menderita diabetes gestasional akan menjadi

diabetes tipe 2 dikemudian hari.sehingga ibu hamil dengan

Diabetes harus rutin dalam mengontrol gula darahnya dan

memeriksanya diri kedokter agar tidak terjadi komplikasi yang


dapat berdampak tidak baik untuk ibu hamil maupun janin didalam

kandungannya, (Syamsiah,2019).

c. Gejala Diabetes Mellitus

Menurut kriteria American Diabetes Association ( ADA,2012)

dalam Nuari (2017),seseorang dikatakan DM jika menderita dua dari

gejala dibawah ini:

1. Keluhan “TRIAS” DM (polidipsi,poliuri,polifagia,dan penurunan

berat badan).

2. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 126 mg/dl

3. Kadar glukosa darah acak atau dua jam sesudah makan lebih dari

200 mg/dls

4. AIC lebih dari 6,5% AIC dipakai untuk menilai pengendalian

glukosa jangka panjang 2-3 bulan untuk memberikan informasi yang

jelas dan mengetahui sampai beberapa efektif terapi yang diberikan.

d. Komplikasi Diabetes Mellitus

Menurut Tarwoto 2016,mengklasifikasikan komplikasi Diabetes Mellitus

menjadi 2 kelompok besar,yaitu:

1) Komplikasi Akut
a) Koma hiperglikemia disebabkan karena kadar gula darah sangat tinggi

biasanya terjadi pada NIDDM ( Non Insulin Dependent Diiabetes

Melitus).

b) Ketoasidosis atau keracunan at keton sebagai hasil metabolisme lemak

dan protein terutama terjadi pada IDDM

c) Koma hipoglikemia akibat terapi insulin yang berlebihan atau tidak

terkontrol.

2) Komplikasi Kronis

a) Mikroanginopati (kerusakan pada saraf-saraf perifer) pada organ-

organ yang mempunyai pembuluh darah kecil seperti pada :

(1). Retinopati diabetika (kerusakan saraf retina dmata) sehingga

mengakibatkan kebutaan.

(2). Neuropati diabetika (kerusakan saraf-saraf perifer)

mengakibatkan baal/gangguan sensoris pada organ

(3). Nefropati diabetika (kelainan-kelainan pada ginjal) dapat

mengakibatkna gagal ginjal.

b) Makroangiopati

(1). Kelainan pada jantung dan pemuluh darah seperti miokardinfark

maupun gangguan fungsi jantung karena aterosklerosis.

(2). Penyakit vaskuler perifer.

(3). Gangguan system pembuluh darah otak atau stroke.

e. Faktor Resiko Diabetes Mellitus


Banyak faktor resiko yang memungkinkan orang mendapatkan Diabetes

Mellitus,diantaranya:

1) Faktor Keturunan (Genetic)

Riwayat keluarga dengan Diabetes Mellitus tipe 2,akan

mempunyai peluang menderita Diabetes Mellitus sebesar 15% dan resiko

mengalami intoleransi glukosa yaitu ketidakmampuan dalam metabolisme

karbohidrat secara normal (Damayanti S,2016).

2) Obesitas/Kegemukan

Kegemukan merupakan faktor utama penyebab timbulnya Diabetes

tipe 2 ,ini dikarenakan semakin gemuk seseorang lemak membrane

ototnya makin jenuh dan semakin jenuh asam lemak lipid membrane maka

sensitivitas reseptor terhadap insulin berkurang sehingga keberadaan

insulin didalam darah kurang atau tidak dapat dimanfaatkan (soegondo

dkk,2015).

3) Usia

Faktor usia yang beresiko menderita Diabetes Melitus tipe 2 adalah

usia lebih dari 40 tshun (nuari,2017) hal ini dikarenaka adanya perubahan

anatomis,fisiologis dan biokimia.Perubahan dimulai dari tingkat

sel,kemudian berlanjut pada tingkat organ yang dapat mempengaruhi

homeostatis (darmayanti s,2016).

4) Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik secara teratur dapat meningkatkan sensitivitas

insulin dan meningkatkan toleransi glukosa (nuari,2017).Aktivitas fisik

berdampak terhadap aksi insulin pada orang yang beresiko Diabetes

Melitus (Damayanti S,2016)

5) Kadar Kolesterol

Kolesterol HDL≤35 mg/dl dan atau trigliserida ≥250 mg/dl

(Soegondo dkk,2015)

6) Stress

Stress fisik atau trauma berhubungan dengan intoleransi glukosa

yang disebabkan oleh efek hormonal pada metabolisme glukosa dan

sekresi insulin ( Nuari,2017).

Menurut Smeltzer & Bare (2008),reaksi pertama dari respon stress

adalah terjadinya sekresi syistem saraf simpatis yang diikuti oleh oleh

sekresi simpatis-adrenal-mendular,dan bila stress menetap maka system

hipotalamus pituitari akan diaktifkan.Hipotalamus mensekresi

corticotropin-releasing faktor,yang menstimulasi pituitari anterior

memproduksi adenocorticotropic hormon (ACTH).ACTH menstimulasi

produksi kortisol yang akan mempengaruhi peningkatan kadar glukosa

darah (Darmayanti S,2016).

7) Riwayat Kehamilan

Wanita dengan riwayat Diabetes Melitus gestasional atau bayi lahir

dengan berat badan lebih dari 4 kg beresiko untuk diabetes melitus

(Nuari,2017).
2. Tinjauan Teori Tentang Pengetahuan

a. Pengertian

Pengetahuan merupakan hasil “ tahu’ dan ini terjadi setelah orang

mengadakan pengindaraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan

terhadap objek terjadi melalui panca indra manusia yakni

penglihatan,pendengaran,penciuman,rasa dan raba dengan sendiri.Pada

waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek.Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Wawan

dan Dewi,2011).

Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan

formal.Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan yang

tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya.Akan

tetapi perlu titekankan,bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah

mutlak berpengetahuan rendah pula.Hal ini mengingat bahwa peningkatan

pengetahuan tidak mutlak diperoleh melalui pendidikan formal saja,akan

tetapi dapat diperoleh melalui pendidikan non formal.Pengetahuan

seseorang tentang objek mengandung dua aspek positif dan aspek

negative.kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang,semakin

banyak aspek positif dan objek yang diketahui,maka akan menimbulkan

sikap makin positif terhadap objek tertentu,menurut teori WHO salah satu
bentuk obyek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh

dari pengalaman sendiri.(Wawan dan Dewi,2011).

b. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior).Dari pengalaman

dan penelitian teryanta perilaku yang didasari oleh pengetahuan.Menurut

Notoadmojo dalam Wawan dan Dewi (2010),pengetahuan yang cukup

dalam domain mempunyai 6 tingkat yaitu:

1) Tahu ( Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya.Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) terhadap situasi yang sangat

spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterima.Oleh sebab itu,hal ini merupakan tingkatan pengetahuan yang

paling rendah.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.Orang yang telah

paham harus dapat menjelaskan,menyimpulkan,meramalkan,objek

yang telah dipelajari.

3) Aplikasi (application)
Diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya,aplikasi dapat

diartikan sebagai pengguna hokum-hukum,rumus-rumus,metode-

metode,prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4) Analisis (analysis)

Analisis merupakan suatu kemampuan menjabarkan materi atau

suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam struktur

organisasi da nada kaitanya dengan satu sama lain.Kemampuan

analisis ini dapat diteliti dari penggantian kata seperti dapat

menggambarkan (menurut

bagian),membedakan,memisahkan,mengelompokkan dan sebagainya.

5) Sintesis ( synthesis)

Yaitu untuk menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan

yang

batu,merupakankemampuanmenyusun,merencanakan,meringkaskan,

menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-

rumusan yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian-penilaian

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada.


c. Prose perilaku “TAHU’

Menurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoadmojo (2003)

dalam Dawan dan dewi 2011,perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas

manusia baik yang diamati langsung dari maupun tidak dapat diamati oleh

pihak luar.Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru didalam diri

orang tersebut terjadi proses yang berurusan,yakni’

1) Awareness ( Kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mnegetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

2) Interest (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh perhatian

dan tertarik pada stimulus.

3) Evaluation (menimbang-nimbang) individu akan mempertimbangkan

baik buruknya tindakan terhadap stimulus tersebut bagi dirinya,hal ini

berarti sikap responden sudah lebih baik lgi

4) Trial,dimana individu mulai mencoba perilaku baru

5) Adaption,dan sikapnya terhadap stimulus pada penelitian

selanjutnya,Rogers (1974) dikutip Notoamojo (2003) dalam Wawan

dan Dewi (2011),menyimpulkan bahwa pengadopsian perilaku yang

melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan ,kesadaran

yang positif,maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long

lasting) namun sebaliknya jika perilaku itu tidak didasari oleh

pengetahuan dan kesadaran,maka perilaku tersebut bersifat sementara

atau tidak akan berlangsung lama.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan


1) Faktor internal

a) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu

yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan

untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

b) Pekerjaan

Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003)

pekerjaan adalah keburukanyang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupan keluarga

c) Umur

Menurut Elizabeth BH yang dikutip oleh Nursalam

(2003),usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dia

dilahirkan smpai berulang tahun.

2) Faktor Eksternal

a) Faktor lingkungan

Menurut Ann.mariner yang dikutip dari Nursalan (2003),

lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia

dan dipengarhinya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan

perilaku orang atau kelompok.

b) Social budaya

System social budaya yang ada pada masyarakat dapat

mepengaruhi sikap dalam menerima informasi.


e. Kriteria tingkat pengetahuan

Menurut arikunto dalam Wawan dan Dewi (2011),pengetahuan

seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat

kuantitatif,yaitu:

1) Baik : hasil presentase ≥56%-100%

2) Kurang : <56%

3. Tinjauan Teori Tentang Perilaku

a. Pengertian perilaku

Menurut Wawan dan Dewi (2010),perilaku adalah respon individu

terhadap suatu stimulus atau tindakan yang dapat diamati dan mempunyai

frekuensi spesifik,durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak.Perilaku

merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi.Sering tidak

disadari bahwa interaksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang

kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku

tertentu.karena itu amat penting untuk dapat menelah alasan dibalik

perilaku individu,sebelum ia mampu mengubah perilaku tersebut.

b. Bentuk perilaku (Wawan dan Dewi ,2010)

1) Bentuk pasif adalah respon internal yaitu yang terjadi didalam diri

manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang

lain,misalnya berpikir,tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.

2) Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara

langsung

c. Klasifikasi perilaku kesehatan


Perilaku kesehatan menurut Notoadmojo (2003) dalam Waryana

(2016),adalah suatu repon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau

objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit,system pelayanan

kesehatan,makanan,dan minuman serta lingkungan.

Perilaku kesehatan diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:

1) Perilaku Pemeliharaan Kesehatan ( health maintenance)

Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau

menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bila

mana sakit.

2) Perilaku pencarian atau perilaku pencarian pengobatan ( health

seeking behavior) Perilaku ini menyangkut upaya atau tindakan

seseorang pada saat menderita penyakit atau kecelakaan.

3) Perilaku kesehatan lingkungan

Adalah apabila seseoranng merespon lingkungan,baik lingkungan

fisik maupun social budaya,dan sebagainya.

d. Domain Perilaku

Diukur menurut Waryana (2016),perilaku dibagi atas tiga domain

diukur dari :

1) Pengetahuan ( knowledge)

Pengetahuan adalah hasil dari tahu,dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang:


a) Faktor internal : faktor dari dalan diri sendiri,misalnya

intelegensia,minat,kondisi fisik

b) Faktor eksternal : faktor dari luar diri,misalnya

keluarga,masyarakat,sarana

c) Faktor pendekatan belajar ; faktor upaya belajar,misalnya strategi

dan metode pembelajara.

2) Sikap ( Attitude)

Menurut Waryana (2016) ,sikap merupakan reaksi atau

respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau

objek sikap mempunyai tiga komponen pokok.

a) Kepercayaan (keyakinan),ide,konsep terhadap suatu objek.

b) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

c) Kecenderungan untuk bertindak ( tend to behave)

Sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu ;

a) Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan 9objek).

b) Merespon (Responding )

Memberikan jawaban apabila ditanya,mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari

sikap.

c) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi setiap tingkat

tiga,

d) Bertanggung Jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah

dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling

tinggi.

3) Praktik Atau Tindakan (Practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan

(over behavior).Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan

yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan,Antara lain adalah fasilitas dan faktor pendukung

(support).Praktik ini mempunyai beberapa tindakan Antara lain :

a) Persepsi (Perception)

Mengenal dan meilih berbagai objek sehubungan dengan

tindakan yang akan diambil merupakan praktik tingkat pertama

b) Respon Terpimpin ( Guide Response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar

dan sesuai dengan contoh merupakan indicator praktik tingkat

kedua,

c) Mekanisme (Mecaism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan

benar secara otomatis,atau sesuatu itu sudah merupakan

kebiasaan,maka ia sudah mencapai praktik tingkat ketiga.

4. Tinjauan Teori Tentang Pencegahan Luka Kaki Diabetic

a. Definisi

Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan karena adanya

cedera atau proses pembedahan (Agustina,2009 dalam Maghfuri,

2016).Luka diabetic merupakan jenis luka yang ditemukan pada penderita

Diabetes Melitus.Salah satu penyulit kronik dari diabetes adalah kaki

diabetic.Luka mula-mula tergolong biasa dan seperti pada umumnya,tetapi

luka yang ada pada penderita diabetes mellitus ini jika salah penanganan

dan perawatan akan sangat bahaya.Sering kali penderita mengeluh kaki

terasa sakit,kebas,dingin,perubahan warna kulit ( kaki tampak pucat atau

kebiru-biruan) dan luka yang sukar sembuh.Tidak jarang pasien dating

pada saat kakinya sudah mengalami infeksi dan berkembang menjadi

ulkus ganggren dan berakibat fatal serta berujung pada amputasi (Rumah

Luka Indonesia,2013 dan Maghfuri ,2016).

Luka pada kaki diabetic lebih sulit untuk sembuh dan dapat

semakin parah jika segera diobati.Komplikasi utamanya adalah infeksi dan

amputasi.Dari seluruh penderita diabetes 15% menderita ulkus diabetic

pada kaki,dan 12-14% dari yang menderita ulkus tersebut memerlukan

amputasi.

b. Penderita Kelainan Kaki Diabetes Mellitus


60% penderita diabetes mengalami gangguan pada saraf

(neuropati),60% memiliki resiko luka pada kaki,40-70% penyebab

amputasi pada kaki,85% amputasi kaki diabetic didahului ulkus,dan tiap

30 detik terjadi amputasi kaki diabetic,dilakukanya program pencegahan

dapat menurunkan 45-85% kejadian amputasi pada penderita

diabetic,perlunya dilakukan deteksi dini kelainan kaki diabetic ( Rumah

Luka Indonesia,2013 dalam Maghfuri,2016).

Kaki diabetes adalah kelainan tungkai bawah kaki akibat diabetes

mellitus yang tidak terkendali.Kelainan kaki diabetes mellitus dapat

disebabkan adanya gangguan pembuluh darah,gangguan persyarafan dan

adanya infeksi.

1) Gangguan pembuluh darah

Keadaan hiperglikemia yang terus menerus akan mempunyai

dampak pada penurunan kemampuan pembuluh darah untuk

berkontraksi dan relaksasi.Hal ini mengakibatkan sirkulasi darah

menurun,terutama kaki,dengan gejala sebagai berikut:

a) Sakit pada tungkai bila berdiri,berjalan dan melakukan kegiatan

fisik

b) Jika diraba kaii terasa dingn,tidak hangat

c) Rasa nyeri pada kaki pada waktu istirahat dan mlam hari

d) Sakit pada telapak kaki saat berjalan

e) Jika luka sukar sembuh

f) Pemeriksaan tekann nadi kaki menjadi kecil atau hilang


g) Perubahan warna kulit,kaki tampak pucat atau kebiru-

biruan.Neuropati akan menghambat sinyal,rangsangan atau

terputusnya komunikasi dalam tubuh.syaraf pada kaki sangat

penting dalam menyampaikan pesan ke otak,sehingga menyadarkan

kita akan adanya bahaya pada kaki,misalnya kena paku atau benda-

benda panas.kaki diabetes dengan neuropati akan mengalami

gangguan sensorik,motoric dan otonomik.

h) Neuropatik sensorik ditandai dengan perasaan baal atau kebal

(parastesia),kurang berasa( hipestesia) terutama ujung kaki terasa

panas,dingin dan sakit,kadang disertai pegal dan nyeri dikaki.

2) Gangguan saraf neuropati

60% penderita diabetes mengalami gangguan pada saraf

neuropati (Rumah Luka Indonesia,2013 dalam

Maghfuri,2016).Neuropati motoric ditandai dengan kelemahan system

otot,otot mengecil,mudah lelah,kram otot,deformitas kaki

( charcot),ibu jari seperti palu (hammer toe),sulit mengatur

keseimbangan tubuh.gangguan saraf otonomik kulit kaki atau terlihat

kering,pecah dan tidak berkeringat.

3) Infeksi

Penurunan sirkulasi darah kaki menghambat proses

penyembuhan luka,akibatnya kuman masuk kedalam luka dan terjadi

infeksi.Peningkatan kadar gula darah akan menghambat kerja

leukosit dalam engatasi infeksi,luka menjadi ulkus ganggren dan


terjadi perluasan infeksi sampai ketulang (osteomyelitis),bila tidak

diketahui dan ditanggulangi.Kaki yang mengalami ulkus ganggren

luas sulit untuk diatasi,yang memerlukan tindkan amputasu.Luka

melepuh pada kaki akibat pemakaian sepatu yang sempit atau baru

baru pada orang yang diabetes adalah hal yang biasa,tetapi bagi

orang diabetes luka tersebut akan menjadi masalah besar.Terdapat

tiga alasan mengapa orang dengan diabetes lebih tinggi resikonya

mengalami masalah kaki.

c. Klasifikasi Luka Diabetic

Wagner (1983) dalam Maghfuri (2016).Membagi diabetic food menajdi

enam tingkat yaitu :

1. Derajat O : Dengan kriteria tidak ada lesi terbuka,kulit masih utuh dengan

kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti claw dan callus

2. Derajat 1 : Ulkus superfisal terbatas pada kulit

3. Derajat 2 : Ulkus dalam menembus dan menendang tulang

4. Derajat 3 : Absen dalam,dengan atau tanpa osteomyelitis

5. Derajat 4 : Ganggren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa

selulitis.

6. Derajat 5 : Ganggren seluruh kaki atau sebagian ungkai

Sementara Brand (1986) dan Ward (1987) dalam Maghfuri (2016),

membagi ganggren kaki menjadi dua golongn yaitu :

1. Kaki Diabetic Akibat Iskemia (KDI)


Disebabkan penurunan aliran darah ketungkai akibat adanya

makroangiopati ( arterosklorosis ) dari pembuluh darah besar

ditungkai,terutama daerah betis,gambaran klinis KDI adalah sebagai

berikut:

a. Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat

b. Pada perabaan terasa dingin

c. Pilsasi pembuluh darah kurang kuat

d. Didapatkan ulkus sampai ganggren

2. Kaki Diabetic Akibat Neuropati (KDN)

Terjadi kerusakan saraf somatic dan otonomik,tidak ada gangguan

dari sirkulasi.klinis dijumpai kaki yang kering hangat, kesemutan, matirasa,

edema kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki terasa baik.

d. Pencegahan Luka dan Trauma Kaki Diabete

pencegahan supaya tidak terjadi amputasi sebenarnya sangat

sederhana,tetapi sering terabaikan.Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan

menurut penelitian Ardi,Damayanti & Sudirma (2014) adalah kepatuhan pasien

dalam perawatan atau mengatur dirinya untuk mengontrol kadar glukosa darah

melalui kedisiplinan diet,melakukan pencegahan luka,serta perawatan kaki

seperti yang telah disarankan oleh tenaga kesehatan.Perawatan kaki yang efektif

dapat mencegah terjadinya resiko ulkus menjadi amputasi,selain itu penderita

DM perlu dilakukan screening kaki diabetisi dengan membuat format

pengkajian kaki diabetic.dan mengkategorikan resiko ulkus kaki diabetic sampai

tindak lanjut penanganan kaki diabetic sesuai klasifikasi.


Focus utama pencegahan kaki diabetic adalah pencegahan terhadap

terjadinya luka.strategi pencegahan meliputi edukasi kepada pasien,perawatan

kulit,kuku dan kaki dan pengguna alas kaki yang dapat melindungi ( Hasfianah

H,2018).

1) Perawatan Kaki

Tujuan perawatan kaki Diabetes ( Menurut untuk mengetahui ada

kelainan sedini mungkin,menjaga kebersihan kaki dan mencegah perilaku

dikaki yang dapat menimbulkan resiko infeksi dan amputasu.adapun

perawatan yang harus dilakukan Antara lain ( Damayanti S,2016)

a) Cek kaki setiap hari.Bila tidak dapat melihat telapak kaki,dapat

menggunakan kaca ukuran kecil untuk membantu melihat permukaan

kaki,datanglah kepelayanan kesehatan bila terdapat tanda-tanda infeksi:

kemerahan,nyeri,kaki teraba panas,ataupun perasaan baal pada kulit

kaki.

b) Jangan mengobati sendiri bila menemukan kulit kapaln,atau bentuk luka

pada kulit.Datanglah ke dokter untuk mendapatkan obat.

c) Cuci kaki dengan air hangat (tidak panas) dan sabun yang lembut.

d) Keringkan kaki dengan sebaik-baiknya,terutama diantara sela-sela

jari.Gunakan handuk yang halus,jangan terlalu keras ketika menggosok.

e) Pertahan kulit kaki yang lembut dengan mengoleskan cream atau

lotion,terutama area tumit.hindarkan pada sela-sela jari dan kulit yang

pecah atau luka.


f) Anda dapat menggunakan bedak non alergenik sebelum menggunakan

kaos kaki.

g) Potong kuku lurus untuk menghindari luka pada ujung kaki.Bila

memungkinkan,rendam kaki denga air hangat untuk melembutkan kuku

sebelum dipotong.potong kuku dilkukan minimal 1x dalam seminggu.

2) Penggunakan alas kaki

Menurut Damayanti S (2016),yaitu:

a) Pakailah alas kaki yang pas sesuai dengan ukuran kaki

b) Gunakan selalu kaos kai yang terbuat dari bahan katun,yang tidak terlalu

ketat.ganti kaos kaki setiap hari.

c) Tidak berjalan dengan kaki telanjang,meski dirumah.

d) Periksa setiap hari,dan bersihkan dari benda-benda asing

e) Hindarkan penggunaan pemanas listrik atau air panas untuk

menghangatkan kaki

f) Lindungi kaki dari panas dan dingin.gunakan kaos kai bila udara dingin.

g) Jangan berjalan diatas aspal bila panas tanpa alas kaki.

h) Jangan menggunakan silet untuk mengurangi kapalan.

i) Jangan menggunakan sepatu yang berhak tinggi dan atau ujung kai

lancip.

j) Pertahankan aliran darah kekaki dengan baik.pada saat duduk,luruskan

kaki untuk beberapa saat.jangan tumpeng kaki pada jangka waktu yang

lama.
k) Datanglah kepada dokter untuk mendapatkan pengobatan bila terdapat

penyakit jamur kulit sedini mungkin,jangan membiarkan luka kecil

dikaki,sekecil apapun.

Tips memilih sepatu pengidap diabetes (damayanti S,2016):

a) Memilih memakai sepatu sore/malam hari,karena pada sore atau malam

hari,ukuran kaki paling besar.

b) Gambar telapak kaki pada sehelai kertas,gunting pola tersebut dan

masukkan pola ketika mencoba sepatu,jika pola kaki terdapat lipatan

kertas,menunjukkan ukuran sepatu terlalu sempit.

c) Selalu mencoba kedua

d) Toe box cukup lebar dan dalam

e) Tinggi hak tidak lebih dari 5cm

f) Insol lembut & tidak licin.

e. Faktor Yang Mempengaruhi Upaya Pencegahan

1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil “tahu’ dan ini terjadi setelah orang

mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Penginderaan

terhadap objek terjadi melalui panca indra manusia yakni

penglihatan,pendengaran,penciuman,rasa dan raba dengan sendiri.Pada

waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek.Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Wawan

dan Dewi,2011).
2. Sikap

Menurut Waryana (2016),sikap merupakan reaski atau respon yang

masih tertutup dari seseorang terhadap stumulus atau objek.Sikap secara

nyata menunjukkka konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stumulus

tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat

emosional terhadap stimulus social.

3. Persepsi

Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu

dengan menggunakan panca indera,persepsi merupakan inti

komunikasi.persepsi memliki peran yang sangat penting dalam

kerberhasilan komunikasi.Artinya,kecermatan dalam mepersepsikan

stimulus inderawi mengantarkan keberhasilan

komunikasi.Sebaliknya,kegagalan dalan mepersepsikan stimulus

menyebabkan mis-komunikasi (Suranto,2011).

4. Motivasi

Menurut Darmayanti dan Mudjiono dalam (Donsu,2017) motivasi

merupakan dorongan mental yang menggerakkan danmengarahkan

perilaku manusia,termasuk perilaku belajar.Seseorang yang mempunyai

motivasi berarti ia mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan

dalam kehidupan.

f. Tindakan pertolongan pertama

Tindakan pertolongan pertama jika terjadi luka menurut Foxdan Kilvert

(2011) yaitu :
1. Luka sobek atau tergores sebaiknya dibersihkan secara perlahan-lahan

dengan kain katun atau kain kasa dan air hangat yang asin tutup luka

dengan kain kasa dan ikat pelan-pelan.

2. Jangan menusuk luka yang menggelembung dan berisi air.jika telah

pecah,tangani luka dengan menggunakan kain kasa

g. Penanganan ulkus diabetic

Penanganan apabila terjadinya ulkus diabetic dapat dilakukan dalan

beberapaa tingkatan (Hasdianah H,2018):

1. Tingkat 0

Penanganan meliputi edukasi kepada pasien tentang alas kaki khusus

dan pelengkap alas kaki yang dianjurkan.sepatu atau sendal yang dibuat

secara khusus dapat mengurangi tekanan yang terjadi.Bila pada kaki terdapat

tulang yang menonjol atau adanay deformitas,biasanya tidak dapat hanya

diatasi dengan penggunaan alas kaki buatan umumnya memerlukan tindakan

pemotongan tulang yang menonjol ( exostectomy) atau dengan pembenahan

deformitas.

2. Tingkat I

Memerlukan debridemen jaringan nekrotik atau jaringan yang

infeksius,perawatan local luka dan pengurangan beban.

3. Tingkat II
Memerlukan debridemen,antibiotic yang sesuai dengan hasil

kultur,perawatan lokal luka dan teknik pengurangan beban yang lebir

berarti.

4. Tingkat III

Memerlukan debridemen jaringan yang sudah menjadi

ganggren,amputasu sebagian,imobilisasi yang lebih ketat,dan pemberian

antibiotic parenteral yang sesuai dengan kultur.

5. Tingkat IV DAN V

Pada tahap ini biasanya memerlukan tindakan amputasi sebagian

atau amputasu seluruh kaki.


B.Kerangka Teori

DM

Faktor Resiko : Klasifikasi : Komplikasi:


1. Faktor Keturunan 1. DM TIPE 1
1. Komplikasi Akut
2. Obesitas 2. DM TIPE 2
 Koma Hiperglikemia
Kegemukan 3. DM
 Ketoasidosis
3. Usia GESTASIONAL
 Koma Hiperglikemia
4. Aktivitas fisik 2. Komplikasi Kronik
5. Kadar Kolesterol  Mikroangiopati
6. Stress  Makroangiopati
7. Riwayat
 Neuropati Diabetic
Kehamilan
(Kaki Diabetik)

Upaya
Pencegahan Luka

Faktor yang
mempengaruhi upaya
pencegahan :
Perilaku Pencegahan  Pengetahuan
Luka Kaki Diabetik  Sikap
 Persepsi
C. Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka teoritis makas kerangka

konsep pada penelitian ini yaitu:

PERILAKU
PENGETAHUAN PENCEGAHAN ULKUS
KAKI DIABETIK

(Gambar 2.2 Kerangka Konsep)

Keterangan :

: Varibel Indipenden

: Variabel Dependen

D. Hipotesis

1. Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada hubungan Antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan

terjadinya luka kaki diabetic pada penderita diabetes mellitus.

2. Hipotesis Nol (Ho)

Tidak ada hubungan Antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan

terjadinya luka kaki diabetic pada penderita diabetes mellitus.


BAB 3

METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian analisis deskriptif

dengan rancangan penelitian cross sectional.Rancangan penelitian ini

merupakan rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau

pengamatan pada saat bersamaan,atau melakukan pemeriksaan status

paparan dan status penyakit pada titik yang sama ( Hidayat ,2017).Adapun

tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan

pengetahuan perawatan kaki terhadapa perilaku pencegahan ulkus kaki

diabetic pada penderita diabetes mellitus tipe II Di Wilayah Puskesmas

Mangasa Kota Makassar

B. Kerangka kerja

Populasi: Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja


Puskesmas Mangasa Kota Makassar

Sampel : Sebagian dari populasi yang sudah ditentukan


peneliti

Pengumpulan data: Membagikan kuesioner kepada


responden

Editing,Coding,data entrY,Melakukan tehnik analisis

Seminar Hasil
C. Populasi,sampel dan sampling

1. Populasi
Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan

karakteristik tertentu yang akan diteliti,bukan hanya objek atau subjek

yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki

subjek atau objek tersebut,atau kumpulan orang,individu atau objek

yang akan diteliti sifat-sifat atau karakteristik (Hidayat,2017).

2. Sample

Sampel merupakan bagian jumlah dari populasi yang akan

diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh

populasi (Hidayat,2017).Pengambilan sampel dalam peneliti ini

dengan teknik non probability sampling yaitu purposive sampling

dengan menggunakan rumus slovin.Menurut ( Hidayat,2017),non

probability sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan tidak

memberikan peluang yang sama dari setiap anggota populasi,dengan

tujuan tidak untuk generalisasi,yang berasal dari probabilitas yang

tidak sama.Sample dalam peneliti ini adalah penderita diabetes

melittus di wilayah kerja Puskesmas Mangasa Kota Makassar.jumlah

sampel pada penelitian ini sebanyak 59 orang.

Besarnya sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan

rumus slovin.

N
n=
1+(Ne ²)

keterangan:

n= besar sampel
N= besar populasi

e= error level (tingkat kesalahan)

(catatan: umumnya digunakan 1% atau 0,01,5% atau 0,05,dan 10%

atau 0,1) dapat dipilih oleh peneliti.

Populasi dalam penelitian ini berjumlah 139 orang maka besarnya

sampel pada penelitian ini adalah :

N
n=
1+(Ne ²)

139
n=
1+(139 x 0.1²)

139
n=
1+(139 x 0,01)

139
n=
2.39

n=58.15

jadi keseluruhan sampel pada penelitian ini adalah 59 orang.

a. Kriteria inklusi dan eksklusi

1) Kriteria inklusi:

a. Keluarga inti yang paling merawat pasien diabetes melittus

b. Bersedia jadi responden

2) Kriteria eksklusi:
Ekslusi adalah kriteria yang memungkinkan sebagian

subjek yang memenuhi kriteria.kriteria ekslusi pada penelitian

ini adalah pasien dengan diabetes melittus yang tinggal

bersama keluarga.

3. Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi

untuk dapat mewakili populasi.Teknik sampling merupakan cara-cara

yang ditempuh dalam pengambilan sampel,Agar memperoleh sampel

yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian

(Nursalam,2017).

Teknik sampling atau pengambilan sampel yang digunakan

dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive

sampling.Purposive sampling adalah suatu teknik penetapan sampel

dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang

dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian),sehingga

sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah

dikenal sebelumnya (Nursalam,2017).

Adapun kriteria sampel yaitu:

a. Kriteria inklusi adalah kriteria atau cici-ciri yang perlu dipenuhi

oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel

(Notoatmodjo,2015).

1) Menderita DM tipe 1 dan DM tipe 2


2) Penderita tampa luka kaki

3) Mampu membaca dan menulis

4) Bersedia menjadi responden peneliti

b. Kriteria ekslusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat

diambil sebagai sampel ( Notoatmodjo,2015).

Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah:

1) Tidak bisa membaca dan menulis

2) Tidak bersedia menjadi responden

D. Waktu dan Tempat

Penelitian di rencanakan mulai dari bulan maret hingga april 2020

di Wilayah Kerja Puskesmas Mangasa Kota Makassar

E. Variable Penelitian

Variable penelitian segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi

tentang hal tersebut,kemudian ditarik kesimpulanya (Sugiyono,2016).

1. Variable bebas (independent variable)

Variable bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau

yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable

independent terikat (Sugiyono,2016). Yang menjadi variable

independent (variable bebas ) dalam penelitian ini adalah

pengetahuan.
2. Variable terikat (dependent variable)

Variable terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat karena adanya variable bebas (Sugiyono,2016). Yang

menjadi variable dependen (variable terikat) dalam penelitian ini

adalah perilaku pencegahan ulkus kaki diabetic.

F. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variable secara

operasional berdasarkan karakteristik yang diamati,memungkinkan

peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat

terhadap suatu objek atau fenomena.definisi operasional ditentukan

berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam peeneliti

( Hidayat,2017).

Operasional variable diperlukan guna menentukan jenis dan

indicator dari variable-variabel yang terkait dalam peneliti ini.disamping

itu operasionalisasi variable bertujuan untuk menentukan skala

pengukuran dari masing-masing variable,Sehingga pengujian hipotesis

dengan menggunakan alat bantu dapat dilakukan dengan tepat.

No variabel Definisi Indicator Alat ukur Skala ukur Skor


1 Independen: Proses seseorang 1.Baik:≥56%- Kuesioner Nominal 1.benar :1

pengetahuan dari tidak tau 100%,≥11-15 2.salah:0

menjadi tau tentang dari 15

cara mencegah pertanyaan.

terjadinya ulkus 3.Kurang:<55


kaki diabetik pada %,<8 dari 15

penderita diabetes pertanyaan.

melittus
1 Dependen : Respon individu 1. Perilaku Kesioner Ordinal 1. pernah : 1

Perilaku terhadap suatu aktif: 2.tidak

pencegahan stimulus atau suatu penderita pernah:0

terjadinya tindakan yang dapat tahu dan

luka kaki diamati dan mampu

diabetik mempunyai mencegah

frekuensi terjadinya

spesifik,durasi dan luka kaki

tujuan baik disadari diabetic,

maupun tidak pada Aktif ≥25

penderita diabetes dari 10

mellitus dalam pertanyaan.

mencegah agar 2. perilaku

tidak terjadi luka pasif.

sehingga lebih penderita

meningkatkan tidak tau

kualitas hidup tentang

penderita diabetes pencegahan

melitus terjadinya

luka kaki

diabetic
pasif<25

dari 10

pertanyaan

G. Jenis dan Tehnik Pengumpulan Data

1. Data primer

Data primer adalah data yang didapatkan secara langsung

oleh peneliti dari sumber datanya.Data primer diperoleh melalui

wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner

terstruktur.Data primer peneliti ini adalah data tentang perilaku

pencegahan terjadinya luka kaki diabetic pada penderita diabetes

mellitus.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan

peneliti dari berbagai sumber yang telah ada.Data sekunder dalam

penelitian ini adalah data prevalensi kejadian DM di puskesmas

mangasa kota Makassar.

H. Instrument penelitian

Menurut sugiyono (2014) menyatakan bahwa instrument penelitian

adalah suatu alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur

fenomena alam maupun social yang diamati Instrument penelitian yang

dipergunakan dalam penelitian ini berupa angket atau kuesioner yang

dibuat sendiri oleh peneliti.Kuesioner yang terdiri dari dua paket yaitu
paket A dan B yang diadopsi dari sumber dan di modifikasi oleh

peneliti.paket A berisi pertanyaan tentang pengetahuan penderita dalam

mencegah terjadinya ulkus kaki diabetic,dengan dua bobot yaitu:

1. Benar :1

2. Salah. : 0

sementara paket B berisi pertanyaan tentang berilaku penderita dalam

mencegah terjadinya luka kaki diabetik,dengan 2 bobot yaitu:

1. Pernah :1

2. Tidak pernah : 0

I. Manajemen data dan analisa data

1. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner data

demografi kepada responden.

2. Cara pengolahan data

a. Editing

Editing adalah Upaya untuk memeriksa kembali kebenaran

data yang diperoleh atau dikumpulkan

b. Data entry

Kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan

kedalam master table atau database computer,Kemudian membuat

distribusi frekuensi sederhadana atau dengan membuat table

kontigensi.
c. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numeric

(angka)terhadap data yang terdiri dari beberapa kategori.

d. Melakukan tehnik analisis

Dalam melakukan analisis,khususnya terhadap data peneliti

akan menggunakan ilmu statistik terapan,yang sesuai dengan

tujuan yang hendak dianalisis.

J. Etika penelitian

1. Lembar persetujuan peneliti (informed consent)

Adalah suatu bentuk persetujuan antara seorang peneliti

dengan pasien penelitian dengan memberikan sebuah lembar

penelitian.informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian

dilakukan kepada pasien dengan memberikan lembar persetujuan

untuk menjadi responden.Tujuan dari informed consent ini yaitu agar

pasien mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui

dampak nya.Apabila pasien bersedia,maka mereka harus

menandatangani lembar persetujuan yang diberikan,namun apabila

responden tidak tersedia,maka peneliti harus menghormati hak dan

pilihan responden.informasi yang harus ada didalam informed consent

yaitu : partisipasi pasien,tujuan dilakukannya tindakan,jenis data yang

dibutuhkan,komitmen,prosedur pelaksanaan,potensia masalah yang

akan terjadi,manfaat,kerahasiaan,informasi yang mudah dihubungi dan

lainya.
2. Kerahasiaan ( confidential)

Informasi yang diberikan oleh responden serta semua data yang

terkumpul dijamun kerahasiaannya oleh peneliti

3. Manfaat ( beneficence)

Memberikan ilmu baru terhadap pasien DM bahwa sehat dapat

ditemukan dengan cara yang sederhana yaitu dengan rutin menurunkan

atau mengontrol kadar gula darah juka dilakukan 3-5 kali dalam

seminggu

4. Tampa nama (anonymity)

Untuk menjaga kerahasiaan,peneliti tidak mencantumkan nama

responden,tetapi lembar tersebut diberikan kode.


DAFTAR PUSTAKA

ADA (American Diabetes Association).(2014).Diagnosis And Classification Of

Diabetes Mellitus,Diabetes Care.

Agus,S & Ihda M,N.(2014). Hubungan Pengetahuan Tentang Pengendalian

Kadar Gula Darah Dengan Kejadian Ulkus Kaki Diabetic Pada Klien

Diabetes Mellitus.medisains Vol XVIIII No.3.ISSN:1693-7309.

A W Suranto (2011).Komunikasi Interpersonal.Yogyakarta : Graha Ilmu.

Damayanti,S. (2016).Diabetes Mellitus & Penatalaksanaan Keperawatan .

Yogyakarta : Nuha Medika.

Donsu,J,D,T. (2017).Psikologi Keperawatan.Yogyakarta:Pustaka Baru Press

Cetakan I

Fox Dan Kilvert.(2011).Bersahabat Dengan Diabetes Tipe 2.Jakarta;Penebar

Plus+

Hasdiana 92018). Mengenal Diabetes Mellitus Pada Orang Dewasa Dan Anak-

Anak Dengan Solusi Herbal.Yogyakarta : Nuha Medika.

Hidayat ,A.A.A. (2017).Metodologi Penelitian Keperawatan Dan Kesehatan.

Jakarta Selatan ;Salemba Medika

IDF (2015). Online Version Of Diabetes Atlas ,Melalui :


http://diabetesasia.org/content/diabetes guideline/IDF guidelines.pdf

Diakses 29 September 2018.

IDF (2017). Online Version Of Diabetes Atlas ,Retrieved from

http://diabetesasia.org/content/diabetes guidelines/IDF guidelines.pdf

IDF (2019). New IDF Fingures Show Continued Increase In Diabetes Ascross

The Globe,riete raiting the need for

urgentaction,http://www.idf.org/news/94:new-idf-fingures-show-continued-

increase-in-diabetes-across-the-globe-reite-raiting-the-need-for-urgent-

actiom.html

K Kesehatan (2018). Hasil Utama RISKESDAS 2018, Melalui :

https://www.depkes.go.id/resources/downdload/info-

terkini/materi rakorpop 2018/hasil%20riskesdas%2018.pdf diaskes

12 februari 2019.

Maghfuri, A. (2016). Buku Perawatan Luka Diabetes Mellitus, Jakarta:Salemba

Medika.

Notoatmodjo,S. (2010).Etika Dan Hukum Kesehatan.Jakarta:PT rineka Cipta.

Notoatmodjo,S. (2015).Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta:PT rineka Cipta

Nuari, N. A. (2017).Strategi Manajemen Edukasi Pasien Diabetes Melitus.

Yogyakarta:Cv Budi Utama


Permadani.(2017).Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Ulkus Kaki Diabetic

Dengan Pencegahan Terjadinya Ulkus Kaki Diabetic Pada Pasien

Diabetes Mellitus Dipersadia Rumah Sakit Dokter Soeradji

Tirtonegoro Klaten.(SKRIPSI).Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Rias,Y,A. (2016).Hubungan Pengetahuan Dan Keyakinan Dengan Efikasi Diri

Penyandang Diabetic Foot Ulcer.Jurnal Keperawatan Muhammadiyah.

No1 Vol1.Hal :13-17.

Syamsiah,Nur.(2017).Berdamai Dengan Diabetes ,Jakarta:Bumi Medika.

Soegondo, S.(2015).Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Jakarta:Balai

Penerbit FKUI

Sugiyono ,S. (2016). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods).Alfabeta,

Bandung

Tandra,Hans, (2017).Segala Sesuatu Yang Anda Harus Ketahui Tentang Diabetes,

Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

Waryana (2016). Promosi Kesehatan,Penyuluhan Dan Pemberdayaan

Masyarakat. Yogyakarta:Nuha Medika

Wawan Dan Dewi.(2011).Teori Dan Pengukuran Pengetahuan,Sikap,Dan

Perilaku Manusia.Yogyakarta:Nuha Medika.

WHO (2016).epidemiological situation,melalui

https://www.who.int/leishmaniasis/burden/en/ diakses 4 september 2018.


KUESIONER PENELITIAN

1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap pertanyaan

2. Pilihlah salah satu jawaban yang bapak atau ibu yakini paling benar

dengan memberikan tanda ceklis (√)

(kuesioner A)

Kuesioner Tentang Pengetahuan Penyakit Diabetes Mellitus

No Pertanyaan Benar Salah


1 Penyakit diabetes mellitus adalah penyakit karena

kelebihan gula darah


2 Ulkus diabetik merupakan luka terbuka maupun

luka tertutup pada jaringan kulit


3 Luka diabetik dapat melibatkan tulang maupun

sendi
4 Salah satu tanda dan gejala dari ulkus diabetik

adalah penderita sering mengalami kesemutan

pada bagian tertentu terutama bagian lengan


5 Ulkus diabetik biasanya ditandai dengan

peningkatan denyut nadi


6 Penyebab terjadinya ulkus diabetic adalah virus
7 Peningkatan gula darah dapat menghambat

penyembuhan ulkus diabetic


8 Kepatuhan diet pada penderita diabetes dapat

mencegah terjadinya ulkus diabetic


9 Penderita diabetes mellitus dengan umur ≥60

tahun lebih beresiko mengalami ulkus diabetik

dibandingkan dengan penderita yang berusia ≤55


tahun
10 Gaya gesekan antara permukaan kulit kaki dengan

permukaan sepatu saat berjalan salah satu faktor

yang mempengaruhi timbulnya masalah kaki

diabetik
11 Penderita diabetes mellitus harus menjaga

kebersihan kakinya
12 Dalam merencanakan pencegahan luka penderita

diabetes harus memperhatikan kadar gula darah

dengan baik
13 Dalam merencanakan pencegahan luka penderita

diabetes tidak harus memperhatikan pemilihan

alas kaki
14 Pemakaian handbody atau lotion pada kulit kaki

yang kering dan tumit yang retak dapat

mengurangi resiko terjadinya luka diabetes


15 Perawatan kaki yang baik untuk mencegah

terjadinya luka dengan cara menggosok diantara

kari-jari kaki

KUESIONER PENELITIAN

1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap pertanyaan

2. Pilihlah salah satu jawaban yang bapak atau ibu yakini paling benar

dengan memberikan tanda ceklis (√)

(kuesioner B)
Kuesioner Perilaku Pencegahan Terjadinya Ulkus Kaki Diabetik Pada

Penyakit Diabetes Mellitus

No Pertanyaan Pernah Tidak

pernah
1 Saya melalukan pemeriksaan kaki

secara teratur setiap hari


2 Saya mencuci kaki setiap hari

menggunakan air hangat yang bersih


3 Setelah kaki dicuci,saya

mengeringkan kaki dengan handuk


4 Saya memberikan lotion atau minyak

pada kaki termasuk sela jari kaki agar

tetap lembab
5 Saya menggunakan sepatu atau

sandal yang sesuai dengan bentuk

kaki
6 saya menggunakan alas kaki ketika

didalam rumah
7 Saya menggunting kuku mengikuti

bentuk norma kaki,tidak terlalu

pendek dan tidak terlalu panjang


8 Saya berjalan tampa menggunakan

alas kaki ,termasuk dipasir dan di air


9 Periksa alas kaki dari benda asing

sebelum memakainya,seperti atau

benda tajam
10 Selalu jaga kaki dalam keadaan bersih

dan kering