Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI : SINDROM LEPAS ZAT”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kegawatdaruratan Psikiatri

Dosen Pengampu : Ns. Grace Carol Sipasulta, M.Kep.,Sp, Kep. Mat

Disusun oleh : Kelompok 4

Anggi Maulida Permatasari P07220118066


Annisa Anggara P07220118067
Annisa April Liana P07220118068
Aulia Citra P07220118069
Bella Dwi Andika P07220118070
Risa Asri Setianingrum P07220118102
Sakila Okta Dwinasari P07220118103
Sri Kandiningsih P07220118104
Tasya Almananda Cantika P07220118105
Tiara Apriliawati Putri P07220118106

POLTEKKES KEMENKES KALIMANTAN TIMUR


PRODI D-III KEPERAWATAN KELAS BALIKPAPAN
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarukatuh

Segala puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena hanya
dengan rahmat-Nya lah, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Kegawatdaruratan Psikiatri : Sindrom Lepas Zat” ini, untuk memenuhi tugas
mata kuliah Kegawatdaruratan Psikiatri yang diampu oleh Ibu Ns. Grace Carol
Sipasulta, M.Kep, Sp.Kep, Mat.

Terimakasih juga kami haturkan kepada berbagai pihak yang telah membantu
kami dalam menyelesaikan makalah ini, yang mana tidak dapat kami sebutkan
satu per satu

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, makalah ini tentu masih jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan dalam upaya untuk menuju perbaikan. Terimakasih.

Wassalamualaikum Warahmatulahi Wabarukatuh

Balikpapan, 25 Mei 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................1
C. Tujuan Penulisan....................................................................................................1
D. Manfaat Penulisan..................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................2
A. Konsep Sindrom Lepas Zat....................................................................................2
B. Asuhan Keperawatan Sindrom Lepas Zat.............................................................11
BAB III PENUTUP..............................................................................................17
A. Kesimpulan..........................................................................................................17
B. Saran....................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................18

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ruang kedaruratan di rumah sakit awalnya digunakan untuk mengatasi dan


memberikan pelayanan segera pada pasien dengan kondisi medis atau trauma
akut. Peran ini kemudian meluas dengan memberikan pelayanan segara pada tipe
kondisi lain, termasuk pasien yang mengalami kedaruratan psikiatri. (Petit, 2004;
Trent, 2013) Kedaruratan psikiatri merupakan keadaan yang tak terduga dengan
potensi katastrophic, dengan demikian diharapkan praktisi kesehatan mental harus
siap untuk mengatasi krisis seperti keinginan bunuh diri, agitasi dan agresi, serta
keadaan confusional state. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada tahun 2001,
didapatkan 30% pasien dengan depresi unipolar, 26% psikosis, 20% dengan
penyalahgunaan zat, 14% bipolar, 4% gangguan penyesuaian, 3% gangguan
cemas, dan 2% dengan demensia.. (Allen et al., 2002; Sadock and Sadock, 2010)

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep dari sindrom lepas zat?
2. Bagaimana asuhan keperawatan yang perlu diterapkan pada klien dengan
sindrom lepas zat?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami konsep dari sindrom lepas zat.
2. Untuk memahami asuhan keperawatan yang perlu diterapkan pada klien
dengan sindorm lepas zat.

D. Manfaat Penulisan
1.Memahami konsep dari sindrom lepas zat.
2. Memahami asuhan keperawatan yang perlu diterapkan pada klien dengan
sindorm lepas zat.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Sindrom Lepas Zat

1. Pengertian Sindroma lepas zat

Sindroma lepas zat adalah keadaan ketika seseorang menunjukkan gejala-


gejala ketergantungan secara fisik terhadap suatu zat pada saat zat tersebut
dihentikan. Ketergantungan yang muncul dapat berupa ketergantungan mental
maupun fisik. Gejala ketergantungan mental di antaranya adalah bingung, gelisah,
rasa kehilangan sesuatu, dan menunjukkan seeking behaviour. Gejala
ketergantungan fisik di antaranya adalah keringat dingin, keluar air mata, keluar
lendir dari hidung, nyeri hebat, kram usus, diare, dan pupil midriasis.

Terapi sindroma putus zat tergantung dari zat yang dipakai, jumlah dan
frekuensi pemakaian, cara memakai, kondisi pasien, komplikasi, metode yang
dipakai, dan kondisi keluarga. Kondisi umum harus dilakukan stabilisasi, pasien
yang sudah stabil harus dirujuk ke poli metadon untuk dilakukan substitusi,
analgesik kuat perlu diberikan sebagai terapi simptomatik.

2. Gejala Putus Zat

a. Gejala putus zat pecandu sabu-sabu dan ekstasi

Gejala putus zat pecandu sabu-sabu dan ekstasi bisa beda-beda per
individu. Ada yang parah, ada yang sedang-sedang saja. Ada yang lama, ada
yang sebentar. Yang menyebabkan perbedaan itu adalah sudah berapa lama
pemakaiannya, dosis yang biasanya digunakan, dan jumlah kerusakan yang
terjadi di sistem tubuh. Apalagi sabu-sabu dan ekstasi dikenal bekerja untuk
merangsang organ-organ tubuh supaya aktif terus menerus. Kalau sudah muncul
gejala putus zat, biasanya bisa berlangsung sampai berminggu-minggu.
Gejalanya meliputi :

2
1) Rasa lelah yang terus menerus dan tidak menghilang
2) Pecandu akan cenderung tidur terus menerus selama 24-48 jam, tapi
kualitas tidurnya tidak baik.
3) muncul rasa lapar yang berlebihan
4) Gelisah
5) Depresi
6) Serta reaksi psikotik seperti orang dengan gangguan jiwa

b. Gejala putus zat putauw

Gejala putus zat putauw bisa dibilang lebih kompleks karena muncul
bertahap. Gejala itu adalah tubuh merinding, panas dingin, hidung berair, sakit
dan kejang pada otot yang mirip orang sakit flu, diare, keram perut, mengantuk
dan menguap terus namun tak bisa tidur, berkeringat, dan mudah tersinggung.
Memasuki minggu keempat sampai kesepuluh atau lebih, muncul peningkatan
tensi darah, terus menerus resah, sangat sensitif, emosi susah dikendalikan, dan
keinginan untuk menggunakan putauw lagi menguat.

Waktu kemunculan putus zat ini, bisa berbeda pada masing-masing orang
karena lama mencandu dan dosis yang dicandu pun gak sama per orangnya. Jika
pemakaian putauw baru sebentar tapi dosisnya tinggi, gejala-gejala di atas tadi
muncul 4-12 jam setelah dosis terakhir. Puncaknya akan dirasakan kalau sudah
36-72 jam. Gejala putus zat baru akan hilang dalam 7-10 hari, walaupun masih
merasakan lemas sampai beberapa bulan ke depannya.

c. Gejala Putus zat Inhalan

Inhalan memang bukan obat terlarang tapi dapat menyebabkan


kecanduan.Jika pecandu ingin lepas, awalnya akan timbul gejala seperti kram
otot sampai mengigau. Sebenarnya, inhalan bukan termasuk kategori obat-
obatan terlarang. Barang-barang yang termasuk inhalan bahkan mudah sekali
ditemui di pasaran. Contohnya lem, tip-ex, bensin, dan spidol. Yang bahaya
adalah kalau larutan-larutan yang mudah menguap ini, sengaja dihirup terus-
terusan. Karena gimana pun, barang-barang tersebut punya kandungan kimia
yang tidak seharusnya masuk ke tubuh.

3
Gejala putus zat inhalan adalah halusinasi, mual, keringat berlebih,
gemetaran hingga tremor pada tangan, keram otot, sakit kepala, menggigil, dan
delirium tremens. Yang terakhir ini adalah mengigau diikuti dengan halusinasi
yang menakutkan. [ CITATION tim20 \l 1033 ]

3. Penegakan Diagnosa

Penegakkan diagnosis pada penderita/penyalahguna NAPZA sering kali


tidak mudah dilakukan oleh kerena adanya stigma di masyarakat terhadap
penyalahguna. Hal ini membuat pasien bersifat tertutup dan menghindar untuk
mengatakan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu diperlukan ketrampilan
khusus untuk membuat pasien percaya dan mau berterus terang. Ada beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam menegakkan diagnosis :

a. Sikap Petugas

1) Bersikap positif, penuh perhatian dan menerima pasien apa adanya.


2) Berempati (dapat memahami dan meraba rasakan masalahnya)
3) Tidak menghina, mengkritik, menertawakan, mengejek, menyalahkan,
karena hal ini akan menyebabkan pasien tertutup sehingga akan
mengganggu proses autoanamnesis. Sikap mental diatas diharapkan dapat
menciptakan suasana hubungan terapeutik petugas Puskesmas-Pasien.

b. Teknik Wawancara

Wawancara dapat dilakukan secara alloanamnesis maupun


autoanamnesis. Urutan pelaksanaannya dapat dilakukan alloanamnesis
terlebih dahulu atau sebaliknya dan dapat juga bersamaan tergantung situasi
dan kondisi.

1) Alloanamnesis dilakukan sebelum Autoanamnesis


a) Petugas telah memperoleh informasi tentang pasien, sehingga
autoanamnesis lebih terarah Kemungkinan pasien lebih terbuka dan
tidak menyangkal lagi
b) Pasien menyangkal dan bertahan mengatakan tidak menggunakan
NAPZA

4
c) Pasien menyatakan sudah berhenti menggunakan
d) Petugas terpengaruh orang tua/guru yang terlalu kuatir, pada hal pasien
tidak menggunakan
e) Pasien mencurigai petugas sudah terpengaruh dengan orang tua/guru
yang mengantar, sehingga tidak kooperatif

2) Alloanamnesis dilakukan sesudah Autoanamnesis


a) Petugas belum dipengaruhi oleh keterangan yang diberikan orang tua/
pengantar lain.
b) Pasien tidak berprasangka bahwa petugas telah dipengaruhi orang
tua/guru atau berpihak pada orang tua/guru yang menyalahkan pasien
c) Kemungkinan pasien membohongi atau tidak terbuka pada petugas

c. Anamnesa

1.) Keluhan pasien dan riwayat perjalanan penyakit terdahulu yang pernah
diderita
2.) Riwayat penyalahgunaan NAPZA
a) Jenis NAPZA yang dipakai
b) Lamanya pemakaian
c) Dosis,Frekuensi dan cara pemakaian
d) Riwayat/gejala intoksikasi/gejala putus zat
e) Alasan penggunaan
3.) Taraf Fungsi sosial
a) Riwayat pendidikan
b) Latar belakang kriminal
c) Status keluarga
d) Kegiatan sosial lain
4.) Evaluasi keadaan psikologis
a) Keadaan emosi
b) Kemampuan pengendalian impuls
c) Kemungkinan tindak kekerasan,bunuh diri
5.) Riwayat perawatan terdahulu

5
d. Pemeriksaan

Penampilan pasien,sikap wawancara,gejolak emosi dan lain-lain perlu


diobservasi. Petugas harus cepat tanggap apakah pasien perlu mendapatkan
pertolongan kegawat darurat atau tidak, dengan memperhatikan tanda-tanda dan
gejala yang ada.

1) Fisik
a) Adanya bekas suntikan sepanjang vena di lengan,tangan kaki bahkan pada
tempat-tempat tersembunyi misalnya dorsum penis.
b) Pemeriksaan fisik terutama ditijikan untuk menemukan gejala
intoksikasi/ioverdosis/putus zat dan komplikasi medik seperti Hepatitis,
Eudokarditis, Bronkoneumonia, HIV/AIDS dan lain-lain.
c) Perhatikan terutama : kesadaran, pernafasan, tensi, nadi pupil,cara jalan,
sklera ikterik, conjunctiva anemis, perforasi septum nasi, caries gigi,
aritmia jantung, edema paru, pembesaran hepar dan lain-lain.
2) Psikiatrik
a) derajat kesadaran
b) daya nilai realitas
c) gangguan pada alam perasaan (misal cemas, gelisah, marah, emosi labil,
sedih, depresi, euforia) gangguan pada proses pikir (misalnya waham,
curiga, paranoid, halusinasi)
d) gangguan pada psikomotor (hipperaktif/ hipoaktif, agresif gangguan pola
tidur, sikap manipulatif dan lain-lain)

4. Pemeriksaan Penunjang

a. Analisa Urin . Bertujuan untuk mendeeteksi adanya NAPZA dalam tubuh


(benzodiazepin, barbiturat, amfetamin, kokain, opioida, kanabis) . Pengambilan
urine hendaknya tidak lebih dari 24 jam dari saat pemakaian zat terakhir dan
pastikan urine tersebut urine pasien

b. Penunjang lain Untuk menunjang diagnosis dan komplikasi dapat pula


dilakukan pemeriksaan. aboratirium rutin darah,urin EKG, EEG , Foto toraks Dan

6
lain-lain sesuai kebutuhan (HbsAg, HIV, Tes fungsi hati, Evaluasi Psikologik,
Evaluasi Sosial)

4. Terapi Medis

a. Terapi terhadap keadaan intoksikasi

1) Intoksikasi opioida :
a) Beri Naloxone HC 1 0,4 mg IV, IM atau SC dapat pula diulang setelah 2-3
menit sampai 2-3 kali
b) Ajaklah bicara yang menenangkan pasien.
c) Bila perlu beri : Diazepam 10-30 mg oral atau parenteral, Clobazam 3x10
mg.
d) Intoksikasi kokain dan amfetamin Beri Diazepam 10-30 mg oral atau
pareteral,atau Klordiazepoksid 10- 25 mg oral atau Clobazam 3x10 mg.
Dapat diulang setelah 30 menit sampai 60 menit. Untuk mengatasi palpitasi
beri propanolol 3x10-40 mg oral

2) Intoksikasi alkohol :
a) Mandi air dingin bergantian air hangat
b) Minum kopi kental
c) Aktivitas fisik (sit-up,push-up) Bila belum lama diminum bisa disuruh
muntahkan
d) Intoksikasi sedatif-hipnotif (Misal : Valium,pil BK, MG,Lexo,Rohip):
e) Melonggarkan pakaian Membarsihkan lender pada saluran napas Bila
oksigen dan infus garam fisiologis

b. Terapi terhadap keadaan overdosis.

1) Bila jantung berhenti, lakukan masase jantung eksternal,injeksi adrenalin


0.1-0.2 cc I.M

7
2) Bila timbul asidosis (misalnya bibir dan ujung jari biru,hiperventilasi)
karena sirkulasi darah yang tidak memadai, beri infus 50 ml sodium
bikarbonas

3) Pasang infus dan berikan cairan (misalnya : RL atau NaC1 0.9 %) dengan
kecepatan rendah (10-12 tetes permenit) terlebih dahulu sampai ada indikasi
untuk memberikan cairan. Tambahkan kecepatan sesuai kebutuhan,jika
didapatkan tanda-tanda kemungkinan dehidrasi.

4) Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan adanya


perdarahan atau trauma yang membahayakan

5) Observasi terhadap kemungkinan kejang. Bila timbul kejang berikan


diazepam 10 mg melalui IV atau perinfus dan dapat diulang sesudah 20 menit
jika kejang belum teratasi.

6) Bila ada hipoglikemi, beri 50 ml glukosa 50% IV

c. Terapi pada sindrom lepas zat

Terapi ini sering dikenal dengan istilah detoksifikasi. Terapi detoksifikasi dapat
dilakukan dengan cara berobat jalan maupun rawat inap. Lama program terapi
detoksifikasi berbeda-beda, yaitu 1-2 minggu untuk detoksifikasi konvensional,
24-48 jam untuk detoksifikasi opioid dalam anestesi cepat (Rapid Opiate
Detoxification Treatment). Detoksifikasi hanyalah merupakan langkah awal
dalam proses penyembuhan dari penyalahgunaan/ketergantungan NAPZA
Beberapa jenis cara mengatasi putus opioida :

1) Tanpa diberi terapi apapun,putus obat seketika (abrupt withdrawal atau cold
turkey).
a) Untuk nyeri diberi analgetika kuat seperti : Tramadol, Analgrtik non-
narkotik,asam mefenamat dan sebagainya
b) Untuk rhinore beri dekongestan,misalnya fenilpropanolamin
c) Untuk mual beri metopropamid

8
d) Untuk kolik beri spasmolitik
e) Untuk gelisah beri antiansietas
f) Untuk insomnia beri hipnotika,misalnya golongan benzodiazepin

2) . Terapi putus opioida bertahap (gradual withdrawal)


a) Dapat diberi morfin,petidin,metadon atau kodein dengan dosis dikurangi
sedikit demi sedikit. Misalnya yang digunakan di RS Ketergantungan
Obat Jakarta, diberi kodein 3 x 60 mg – 80 mg selanjutnya dikurangi 10
mg setiap hari dan seterusnya.
b) Disamping itu diberi terapi simptomatik

3) Terapi putus opioida dengan substitusi non opioda


a) Dipakai Clonidine dimulai dengan 17 mikrogram/kg BB perhari dibagi
dalam 3-4 kali pemberian. Dosis diturunkan bertahap dan selesai dalam
10 hari
b) Sebaiknya dirawat inap (bila sistole < 100 mmHg atau diastole < 70
mmHg), terapi harus dihentikan.

4) Terapi putus opioida dengan metode Detoksifikasi cepat dalam anestesi


(Rapid Opioid Detoxification).
Prinsip terapi ini hanya untuk kasus single drug opiat saja,di lakukan di RS
dengan fasilitas rawat intensif oleh Tim Anestesiolog dan Psikiater,
dilanjutkan dengan terapi menggunakan anatagonist opiat (naltrekson) lebih
kurang 1 tahun. Terapi putus zat sedative/hipnotika dan alkohol Harus
secara bertahap dan dapat diberikan Diazepam. Tentukan dahulu test
toleransi dengan cara :
a) Memberikan benzodiazepin mulai dari 10 mg yang dinaikan bertahap
sampai terjadi gejala intoksikasi. Selanjutnya diturunkan kembali secara
bertahap 10 mg perhari sampai gejala putus zat hilang.
b) Terapi putus Kokain atau Amfetamin Rawat inap perlu dipertimbangkan
karena kemungkinan melakukan percobaan bunuh diri. Untuk mengatasi
gejala depresi berikan anti depresi.

9
5) . Terapi untuk waham dan delirium pada putus NAPZA
a) Pada gangguan waham karena amfetamin atau kokain berikan Inj.
Haloperidol 2.5-5 mg IM dan dilanjutkan peroral 3x2,5-5 mg/hari.
b) Pada gangguan waham karena ganja beri Diazepam 20-40 mg IM
c) Pada delirium putus sedativa/hipnotika atau alkohol beri Diazepam
seperti pada terapi intoksikasi sedative/hipnotika atau alkohol

6). Terapi putus opioida pada neonatus

Gejala putus opioida pada bayi yang dilahirkan dari seorang ibu yang mengalami
ketergantungan opioida, timbul dalam waktu sebelum 48-72 jam setelah lahir.
Gejalanya antara lain : menangis terus(melengking), gelisah,sulit tidur,diare,tidak
mau minum, muntah, dehidrasi, hidung tersumbat, demam, berkeringat. Berikan
infus dan perawatan bayi yang memadai. Selanjutnya berikan Diazepam 1-2 mg
tiap 8 jam setiap hari diturunkan bertahap,selesai dalam 10 hari

d. Terapi terhadap komordibitas

Setelah keadaan intoksikasi dan sindroma putus NAPZA dapat teratasi, maka
perlu dilanjutkan dengan terapi terhadap gangguan jiwa lain yang terdapat
bersama-sama dengan gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
psikoaktif (co-morbid psychopathology), sebagai berikut : Psikofarmakologis
yang sesuai dengan diagnosis

1) Psikoterapi individual
a) Konseling : bila dijumpai masalah dalam komonikasi interpersonal
b) Psikoterapi asertif : bila pasien mudah terpengaruh dan mengalami
kesulitan dalam mengambil keputusan yang bijaksana
c) Psikoterapi kognitif : bila dijumpai depresi psikogen
2) Psikoterapi kelompok
a) Terapi keluarga bila dijumpai keluarga yang patologik
b) Terapi marital bila dijumpai masalah marital
c) Terapi relaksasi untuk mengatasi ketegangan
d) Dirujuk atau konsultasi ke RS Umum atau RS Jiwa

10
e. Terapi terhadap komplikasi medik

Terapi disesuaikan dengan besaran masalah dan dilaksanakan secara terpadu


melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran. Misalnya :

1) Komplikasi Paru dirujuk ke Bagian Penyakit Paru


2) Komplikasi Jantung di rujuk ke Bagian Penyakit Jantung atau
Interna/Penyakit Dalam
3) Komplikasi Hepatitis di rujuk ke Bagian Interna/Penyakit Dalam
4) HIV/AIDS dirujuk ke Bagian Interna atau Pokdisus AIDS - Dan lain-lain.

f. Terapi perawatan

Terapi maintenance/rumatan ini dijalankan pasca detoksifikasi dengan tujuan


untuk mencegah terjadinya komplikasi medis serta tidak kriminal. Secara medis
terapi ini dijalankan dengan menggunakan :

1) Terapi psikofarmaka,menggunakan Naltrekson (Opiat antagonis), atau


Metadon
2) Terapi perilaku, diselenggarakan berdasarkan pemberian hadiah dan
hukum
3) Self-help group,didasarkan kepada beberapa fillosofi antara lain : 12-
steps

B. Asuhan Keperawatan Sindrom Lepas Zat


1. Pengkajian
Prinsip pengkajian yang dilakukan dapat menggunakan format pengkajian
di ruang psikiatri atau sesuai dengan pedoman yang ada di masing-masing
ruangan tergantung pada kebijaksanaan rumah sakit dan format
pengkajian yang tersedia. Adapun pengkajian yang dilakukan meliputi :
a. Perilaku
b. Faktor penyebab dan faktor pencetus

11
c. Mekanisme koping yang digunakan oleh penyalahguna zat
meliputi:
1) penyangkalan (denial) terhadap masalah
2) rasionalisasi
3) memproyeksikan tanggung jawab terhadap perilakunya
4) mengurangi jumlah alkohol atau obat yang dipakainya
5) Sumber-sumber koping (support system) yang digunakan
oleh klien
2. Diagnosa Keperawatan
Perlu diingat bahwa diagnosa keperawatan di ruang detoksifikasi
bisa berulang di ruang rehabilitasi karena timbul masalah yang sama saat
dirawat di ruang rehabilitasi. Salah satu penyebab muncul masalah yang
sama adalah kurangnya motivasi klien untuk tidak melakukan
penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Hal lain yang juga berperan
timbulnya masalah pada klien adalah kurangnya dukungan keluarga
dalam membantu mengurangi penyalahgunaan dan penggunaan zat.
Masalah keperawatan yang sering terjadi di ruang detoksifikasi adalah
selain masalah keperawatan yang berkaitan dengan fisik juga masalah
keperawatan seperti:
a. Koping individu tidak efektif: ketidakmampuan menahan sugesti
b. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
c. Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, dan
seterusnya

Sedangkan masalah keperawatan di ruang rehabilitasi bisa sama dengan di


ruang detoksifikasi, maka fokus utama diagnosa keperawatan NANDA di
ruang rehabilitasi adalah:

a. Koping keluarga tidak efektif: ketidakmampuan


b. Kurang aktivitas hiburan, dan seterusnya

Contoh pohon masalah: Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan Perencanaan keperawatan (rencana tindakan keperawatan)
secara jelas dapat dilihat pada lampiran. Implementasi keperawatan yang

12
dilakukan mengacu pada perencanaan keperawatan (rencana tindakan
keperawatan) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan prioritas masalah
klien.
Berikut ini beberapa bentuk implementasi yang dilakukan pada klien
dengan penyalahgunaan dan ketergantungan zat yaitu (Wilson dan Kneisl,
1992):

a. Program intervensi.
Peran perawat adalah menentukan program yang cocok untuk klien
sesuai dengan tingkat ketergantungan klien terhadap sakit dan gejala
yang tampak. Untuk program di ruang rehabilitasi dibagi menjadi 2
yaitu:
1) rehabilitasi sewaktu-waktu dimana perawat berperan sebagai
fasilitator bukan melakukan penanganan masalah fisik maupun
psikiatri tetapi pada perawatan diri klien. Tujuannya untuk
meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan perawatan diri
secara mandiri;
2) perawatan lanjutan, bertujuan untuk memberikan pemulihan
kembali bagi klien yang mengalami ketergantungan alkohol dan
zat atau penolakan keluarga terhadap klien
b. Individu
Pendidikan untuk klien, misalnya menganjurkan klien untuk
mengikuti sesi-sesi yang diadakan perawat secara individu sesuai
kebutuhan klien, tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan klien
dalam membantu memulihkan ketergantungan akan zat.
1) Perubahan gaya hidup, yaitu mengajarkan klien dengan cara
mendiskusikan koping yang biasa digunakan. Diharapkan klien
dapat mengubah penggunaan koping dari destruktif menjadi
koping yang konstruktif.
2) Meningkatkan kesadaran diri klien, dengan cara mengidentifikasi
hal-hal positif yang dimiliki klien dan bisa dikembangkan secara
positif serta mengurangi hal-hal yang negatif dalam diri klien.

13
c. Keluarga
kesehatan bagi keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang mengalami penyalahgunaan dan ketergantungan zat.
d. Kelompok
1) Program twelve step : AA dan NA
2) Terapi modalitas disesuaikan dengan kriteria dan kondisi klien
yang akan diikutkan dalam terapi tersebut.
3. Intervensi Keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap cedera: jatuh berhubungan dengan kesulitan
keseimbangan. Kriteria hasil:
1) mendemonstrasikan hilangnya efek-efek penarikan diri yang
memburuk
2) tidak mengalami cedera fisik
b. Intervensi:
1) Mandiri
a) Identifikasi tingkat gejala putus alkohol, misalnya tahap I
diasosiasikan dengan tanda/gejala hiperaktivitas (misalnya
tremor, tidak dapat beristirahat, mual/muntah,diaforesis,
takhikardi, hipertensi); tahap II dimanifestasikan dengan
peningkatan hiperaktivitas ditambah dengan halusinogen;
tingkat III gejala meliputi DTs dan hiperaktifitas autonomik
yang berlebihan dengan kekacauan mental berat, ansietas,
insomnia, demam.
b) Pantau aktivitas kejang. Pertahankan ketepatan aliran udara.
Berikan keamanan lingkungan misalnya bantalan pada pagar
tempat tidur.
c) Periksa refleks tenton dalam. Kaji cara berjalan, jika
memungkinkan
d) Bantu dengan ambulasi dan aktivitas perawatan diri sesuai
kebutuhan

14
2) Kolaborasi
a) Berikan cairan IV/PO dengan hati-hati sesuai petunjuk
b) Berikan obat-obat sesuai petunjuk: benzodiazepin, oksazepam,
fenobarbital, magnesium sulfat.
3) Rasional:
a) Pengenalan dan intervensi yang tepat dapat menghalangi
terjadinya gejala-gejala dan mempercepat kesembuhan. Selain
itu perkembangan gejala mengindikasikan perlunya perubahan
pada terapi obat-obatan yang lebih intensif untuk mencegah
kematian.
b) kejang grand mal paling umum terjadi dan dihubungkan
dengan penurunana kadar Mg, hipoglikemia, peningkatan
alkohol darah atau riwayat kejang.
c) Refleksi tertekan, hilang, atau hiperaktif. Nauropati perifer
umum terjadi terutama pada pasien neuropati
d) mencegah jatuh dengan cedera
e) mungkin dibutuhkan pada waktu ekuilibrium, terjadinya
masalah koordinasi tangan/mata.
f) Penggantian yang berhati-hati akan memperbaiki dehidrasi dan
meningkatkan pembersihan renal dari toksin sambil
mengurangi resiko kelebihan hidrasi.

4. Evaluasi
Evaluasi penyalahgunaan dan ketergantungan zat tergantung pada
penanganan yang dilakukan perawat terhadap klien dengan mengacu
kepada tujuan khusus yang ingin dicapai. Sebaiknya perawat dan klien
bersama-sama melakukan evaluasi terhadap keberhasilan yang telah
dicapai dan tindak lanjut yang diharapkan untuk dilakukan selanjutnya.
Jika penanganan yang dilakukan tidak berhasil maka perlu dilakukan
evaluasi kembali terhadap tujuan yang dicapai dan prioritas penyelesaian
masalah apakah sudah sesuai dengan kebutuhan klien. Klien relaps tidak
bisa disamakan dengan klien yang mengalami kegagalan pada sistem

15
tubuh. Tujuan penanganan pada klien relaps adalah meningkatkan
kemampuan untuk hidup lebih lama bebas dari penyalahgunaan dan
ketergantungan zat. Perlunya evaluasi yang dilakukan disesuaikan dengan
tujuan yang diharapkan, akan lebih baik perawat bersama-sama klien
dalam menentukan tujuan ke arah perencanaan pencegahan relaps.

16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Sindroma lepas zat adalah keadaan ketika seseorang menunjukkan gejala-


gejala ketergantungan secara fisik terhadap suatu zat pada saat zat tersebut
dihentikan.
2. Gejala putus zat terbagi menjadi 3 yaitu, Gejala putus zat putauw, Gejala
putus zat pecandu sabu-sabu dan ekstasi, dan Gejala Putus zat Inhalan.
3. Penegakkan diagnosis pada penderita/penyalahguna NAPZA sering kali tidak
mudah dilakukan oleh kerena adanya stigma di masyarakat terhadap
penyalahguna. Hal ini membuat pasien bersifat tertutup dan menghindar
untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya.
4. Terapi medis yang dapat dilakukan adalah Terapi perawatan, Terapi terhadap
komplikasi medik, Terapi terhadap komordibitas, Terapi terhadap keadaan
overdosis, Terapi pada sindrom lepas zat, dan Terapi terhadap keadaan
intoksikasi

B. Saran

Kami penyusun berharap makalah ini dapat menjadi pengetahuan yang


berguna bagi para pembaca dan dapat menjadi pelajaran dalam rangka
mengetahui dan mempelajari ilmu pisikatri.
Akhir kata, kami penyusun mengucapkan mohon maaf apabila terdapat
banyak kekurangan pada makalah ini yang kurang berkenan. Kami sebagai
mahasiswa yang masih membutuhkan kritik dan saran untuk memperbaiki
kekurangan pada makalah ini.

17
DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI
editor, t. (2020). IDN TIMES. Retrieved 2020, from Mengenal gejala putus zat:
https://www.idntimes.com/health/fitness/vita/mengenal-gejala-putus-zat

sudrajat, a. (2010, 10). wordpress. Retrieved 05 2020, from buku pedoman praktis
mengenai napza bagi petugas:
https://agus34drajat.files.wordpress.com/2010/10/buku-pedoman-praktis-
mengenai-penyalahgunaan-napza-bagi-petugas.pdf

Allen H, et al., 2002, Emergency Psychiatry (Review of Psychiatry Series, Vol 21,
Number 3, American Psychiatric Publishing, Inc., Washington DC.

Dass-Brailsford, P 2007, ‘Crisis interventions’, in A practical approach to


trauma: empowering interventions, Sage Publication, California, pp 93-109.

Duckworth K. dan Freedman J., 2012, Psychosocial Treatments, Review article,


National Alliance on Mental Illness, www.nami.org

18