Anda di halaman 1dari 3

Mari Melihat Alam Ghaib

Oleh : Nilna Iqbal | http://pustakanilna.com

Para ilmuwan semakin yakin, detail paling halus dalam kosmos memang diliputi
kekaburan. Seolah ada tirai pembatas antara pengetahuan manusia dengan hakikat
semesta. Ilmu pengetahuan semakin terbukti tak sanggup menembus dunia di balik batas
itu. Bukan apa-apa, memang begitulah cara alam memperlihatkan dirinya pada manusia
…!
Dalam konsep ilmu pengetahuan modern dewasa ini, alam semesta dengan segala
isinya tersusun dari materi dan energi. Materi (benda) tersusun pula atas partikel-partikel
halus yang lazim disebut atom. Sedangkan atom, dapat pula kita bagi atas sebuah inti atom
bersama sejumlah elektron pada jarak yang relatif jauh.
Sebetulnya istilah-istilah atom, proton, dan sebagainya, semua hanyalah “model”.
Artinya nama-nama tersebut dikaitkan dengan suatu gejala tertentu, sedemikian rupa
sehingga dengan model itu para ilmuwan akan lebih mudah bekerja. Sebab itu “model”
atom bisa bermacam-macam. Dalam sejarah fisika atom, dikenal model-model atom mulai
dari Dalton, Thomson, Rutherford, Niels Bohr, dan sebagainya.
Jadi pernahkah para ilmuwan melihat elektron? Gelombang? Cahaya? Tidak
pernah! Ia bahkan tidak akan pernah tahu apa persisnya semua itu. Thomson misalnya:
sekalipun dikatakan sebagai penemu elektron, ia sebetulnya tidak pernah tahu seperti
apakah elektron itu.
Yang dia lakukan hanyalah membuat eksperimen. Lalu ia perhatikan gejala-gejala
atau sifat-sifat hasil eksperimennya. Dari sana disusunlah konsep … dan ternyata
konsepnya itu bisa menerangkan gejala tersebut. Hanya itu koq. Lantas, apabila konsep
tersebut ternyata gagal, yang salah bukan gejalanya … tapi konsep itulah yang perlu
disempurnakan!
Namun, baiklah, mari kita coba-coba melaklukan eksperimen khayal. Istilahnya
“Gedunken Experiment” alias eksperimen dalam pikiran. Maksud kita hendak melihat
elektron. Okelah kita anggap kita mempunyai semua peralatan yang dibutuhkan. Kita
perkirakan ada sebuah mikroskop elektron yang sangat luar biasa. Daya uraiannya kita
anggap akan sanggup menembus “kabut atomik”. Ditunjang lagi dengan daya pembesaran
mencapai 100 bilyun kali! Memang dengan perbesaran begitu, secara teoritis dapat
diramalkan elektron akan terlihat oleh mata.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Ternyata tak semudah apa yang dibayangkan.
Masalahnya begini. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya kita bisa melihat karena
pertolongan cahaya visual (kasat mata). Cahaya ini mempunyai panjang gelombang antara
3800 angstrom sampai 7500 angstrom; dimana 1 angstrom = 10-8 cm. Padahal kita tahu
elektron jauh lebih kecil dari itu. Diameternya sepertiga milyar milimeter. Tentu akibatnya
malah elektron tersebut akan “tertutupi”. Ibarat mau melihat bola, lalu bola itu kita tutup
dengan sehelai kain hitam yang panjang. Mana mungkin akan terlihat!
Apa akal? Terpaksa kita cari cahaya lain. Tapi panjang gelombangnya mesti yang
lebih pendek dari diameter (garis tengah) elektron. Kalau tidak … sama saja bohong!
Namun resikonya, kita terpaksa melihat bukan dengan mata. Sebab mata hanya mampu
bekerja pada rentang gelombang optis (cahaya tampak). Baiklah kita gunakan saja alat
detektor supercanggih, berfungsi laksana “mata”.
Ternyata kesulitan tetap saja tak teratasi. Kalau kita pakai sinar-X, panjang
gelombangnya masih sedikit besar ketimbang elektron. Yah … akhirnya elektron tak akan
kelihatan jua.
Terpaksa kita ganti dengan sinar lain. Akhirnya satu-satunya pilihan cuma sinar
gamma. Sinar itu dipancarkan oleh radium hingga sering disebut sinar radium. Sinar ini
memiliki frekuensi yang sangat tinggi. Itu berarti energinya pun sangat tinggi.
Namun, apa yang terjadi sewaktu pas alat detektor kita corongkan ke lensa
supermikroskop? Bentuk apakah yang terlihat jauh di kedalaman sana? Tidak! Kita tak
menemukan apa-apa! Lho … koq bisa? Bukankah tadi elektron masih ada? Kenapa tiba-
tiba bisa lenyap tanpa jejak begitu saja? Apa yang telah terjadi? Ya … sewaktu sinar
gamma datang menghampiri elektron, ternyata elektron malah tidak sanggup mematulkan
sinar itu kembali ke mata detektor. Ia tak sanggup menahan hantaman sinar gamma
berenergi sangat tinggi itu. Elektron malah terhambur, terpental entah ke mana. Kecepatan
gerak elektron jadi luar biasa. Tentu saja … detektor tak akan sanggup mencari “di mana
dia”! sia … sia … putuslah asa … kecewa! Tapi, apa mau dikata …!

BATAS PENGETAHUAN
Persisnya elektron, tak berposisi sama sekali. Usaha untuk menemukan elektron
saja menendangnya ke luar lapangan pengamatan. Usaha menemukan tempatnya, baik
dilakukan secara eksperimen atau cuma dikhayalkan saja, sama persis dengan memberinya
kecepatan serta arah yang tidak dapat diketahui. Mustahil bisa ditentukan kedudukannya
dalam ruang-waktu.
Dilematika yang ditimbulkan oleh sebutir elektron pada indera manusia ini,
langsung ditangani oleh ahli fisika kuantum, Werner Heisenberg, pemenang hadiah Nobel
tahun 1932. Ia mengumumkan apa yang disebutnya asas ketidakpastian. Menurut asas ini,
mustahil mempertautkan pada indera manusia semua sifat diskriptif sehari-hari dalam
dunia “ghaib” subatomik. Bahkan sampai waktu kapan pun!
Memang, kini dikenal elektron punya deskriptif tertentu, seperti spin, massa,
muatan, dan sebagainya. Tapi semua itu tak lain hanyalah pendefinisian sifat gejala alam,
ketimbang betul-betul observasi langsung. Kita tak mungkin memungut sebiji atom lalu
kita lakukan percobaan, kita ukur, dan sebagainya!
Percobaan hanya mungkin dilakukan dalam jumlah yang banyak. Semisal satu
gram unsur yang terdiri dari berbilyun-bilyun atom. Akibatnya hasil perhitungan hanyalah
“kira-kira”. Pendekatan statistik, sebab ia hanya merupakan kesimpulan rata-rata dari
sejumlah besar angka-angka!
Jika ilmu pengetahuan coba-coba melakukan eksperimen pada suatu satuan dasar,
seperti halnya menyelidiki satu atom, apalagi satu elektron. Maka ia akan berhadapan
dengan suatu kemustahilan yang maha mutlak!
Kini banyak para ilmuwan merasa azas ketidakpastian Heisenberg adalah sifat
hakiki alam semesta. Mereka yakin, detail paling halus dalam kosmos sering diliputi
kekaburan. Ia tak kan pernah dapat diterangkan atau diatasi oleh ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan tak kan sanggup mengenal hakekat segala seseuatu. Seolah Heisenberg
berkata, “Ada batas, di mana di luar batas itu kita mustahil bisa mengukur proses alam
secara tepat pada waktu yang bersamaan. Batas itu bukan disebabkan keterbatasan alat-alat
pengamatan kita. Bukan pula akibat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kita. Tetapi
… memang, begitulah cara alam “memperlihatkan” dirinya pada manusia …”

MAKHLUK GHAIB ADA TIDAK?


Dalam zaman serba “wah” ini masih banyak orang yang tidak percaya pada adanya
makhluk-makhluk ghaib seumpama malaikat, iblis, jin, dan sebagainya. Bahkan eksistensi
Allah pun tak diakuinya …! Kalau ditanya pada mereka apa sebabnya? Mereka kan
menjawab mana buktinya? Seolah dengan pongah ia berkata, “sesuatu yang ada pasti ada
buktinya”. Tanpa ia sadari bahwa tak semua “yang ada” dapat dibuktikan keberadaannya!
Sebab memang ada batas –seperti kata Heisenberg juga. Dan di luar batas itu,
bersrimaharajalela keghaiban yang maha mutlak.
Tak ada cara buat ilmu pengetahuan mengenal yang “ghaib”. Einstein sendiri
menyadari, setiap besaran-besaran fisik yang kita ukur senantiasa akan tersandung di
bawah kerelatifan. Broglie pun akhirnya melontarkan gagasan dualisme zarah-gelombang.
Tiada cara buat mengenal keghaiban, tiada cara mengukur yang hakekat, tiada cara buat
mengamat kemutlakan!
Apa daya? Ya … betul … satu-satunya cara buat mengenal hakekat, buat mengenal
yang mutlak, buat mengenal alam ghaib … hanyalah terbukanya hijab, tersingkapnya
batas. Dan itu hanya mungkin jika Allah sendiri yang menginginkannya. Allah sendiri yang
akan memperkenalkan adanya malaikat, adanya makhluk ghaib, alam ghaib, dan
sebagainya itu. Tanpa tedeng aling-aling … satu-satunya cara … ialah kita imani saja!
Wajib kita imani … kita percayai, tanpa sedikitpun menyelinap keraguan …! Jangan tanya
bukti, sebab ia di luar wilayah bukti. Bukti hanya mungkin diterapkan buat alam fisis, alam
syahadah. Itu pun hanya terbatas, dibatasi oleh alam itu sendiri …!
“Dia Allah, yang mengetahui yang ghaib. Dia tidak akan memperlihatkan kepada
seorang pun hal yang ghaib itu. Kecuali pada utusan yang diridhai-Nya…” (QS. 72:
26-27)
Maha Benar Allah dengan segala Hukumnya!