Anda di halaman 1dari 39

ASKEP KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENYAKIT KATARAK”

Tingkat II B

Oleh:

Nama : Messa
Nim : 18334051

Dosen Pembimbing : Ns. Debby Silvia Dewi S.Kep,M.Kep

PRODI D3 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT. Yang maha pengasih lagi maha penyayang kami
ucapkan puja dan puji syukur atas kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat hidayah-
Nya pada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Pada Penyakit KATARAK ” ini dengan baik.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun
bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka
kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi aran dan kritik pada kami
sehingga kami dapat memperbaiki makalah kami dikemudian hari.

Pariaman, 14 Oktober 2019


Penyusun,

Messa
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................................. ii

BAB 1 PENDAHULUAN

a. Latar Belakang.................................................................................................. 1
b. Rumusan Masalah............................................................................................. 2
c. Tujuan............................................................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN

a. Definisi.......................................................................................................... 3

b. Etiologi.......................................................................................................... 3

c. tanda dan gejala ............................................................................................ 4

d. akibat dan komplikasi.................................................................................... 4

e. patofisiologi .................................................................................................. 6

f. Proses perjalanan penyakit (WOC)............................................................... 8

g. Penatalaksanaan............................................................................................. 9

h. Asuhan Keperawatan..................................................................................... 11

BAB 3 PENUTUP

a. Kesimpulan.................................................................................................... 36

b. Saran............................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Katarak adalah kekeruhan lensa. Katarak memiliki derajat kepadatan yang sangat
bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagi hal, tetapi biasanya berkaitan dengan
penuaan (Vaughan, 2000).
Salah satu penyebab kebutaan adalah katarak. sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk di
Indonesia, 78 % disebabkan oleh katarak. Pandangan mata yang kabur atau berkabut
bagaikan melihat melalui kaca mata berembun, ukuran lensa kacamata yang sering
berubah, penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari , merupakan gejala katarak.
Tetapi di siang hari penderita justru  merasa silau karena cahaya yang masuk ke mata
terasa berlebih.
Begitu besarnya resiko masyarakat Indonesia  untuk menderita katarak memicu kita
dalam  upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang sehat
dan menghindari pemakaian bahan-bahan kimia yang dapat merusak akan membuta kita
terhindar dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih berat yang akan
menyulitkan upaya penyembuhan.

b. Rumusan masalah
1. Apa Definisi, Etiologi dan Patofisiologi Katarak ?
2. Bagaimana pengkajian pada klien Katarak ?
3. Diagnosa Keperawatan apa yang muncul pada Klien Katarak dan Intervensinya ?

c. Tujuan Penulisan
 Tujuan Umum
     Mahasiswa mengetahui gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada
klien dengan katarak.
 Tujuan Khusus
a.     Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan katarak.
b.     Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan katarak.
c.      Mahasiswa mampu menyusun intervensi keperawatan pada klien dengan katarak.
d.     Mahasiswa mampu menerapkan implementasi keperawatan pada klien dengan
katarak.
Bab II
PEMBAHASAN

a. Defenisi
Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa
di dalam kapsul lensa (Sidarta Ilyas, 1998)

Katarak adalah proses terjadinya opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul
lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65
tahun (Marilynn Doengoes, dkk. 2000).

Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi
akibat proses penuaan dapat timbul pada saat kelahiran (katarak congenital). Dapat juga
berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid
jangka panjang, penyakit sistemis seperti diabetes mellitus atau hipoparatiroidisme,
pemejanan radiasi, pemajanan yang lama sinar mata hari (sinar ultra violet), atau kelainan
mata lain seperti uveitis anterior. (Brunner & suddart, 2001)

b. Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
1. Usia lanjut dan proses penuaan
2. Congenital atau bisa diturunkan.
3. Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau
bahan beracun lainnya.  
4. Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya diabetes)
dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).  
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
1. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan
metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti
kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).

Penyebab katarak lainnya meliputi :


 Faktor keturunan.
 Cacat bawaan sejak lahir. (congenital)
 Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
 Operasi mata sebelumnya.
 Trauma (kecelakaan) pada mata.
   Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.

c. Manifestasi klinis

Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:


1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta
gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
2. menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari

Gejala objektif biasanya meliputi:


1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak
dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan
bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina.
Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
2. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-
akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
3. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih
,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.

Gejala umum gangguan katarak meliputi: 


1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2. Peka terhadap sinar atau cahaya.
3. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
4. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
5. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
6. Kesulitan melihat pada malam hari
7. Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mat
8. Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )

d. Komplikasi
Komplikasi pada katarak mungkin terjadi diantara lain :
1. Glaucoma
2. Uveitis
3. Kerusakan endotel kornea
4. Sumbatan pupil
5. Edema macula sistosoid
6. Endoftalmitis
7. Fistula luka operasi
8. Pelepasan koroid
9. Bleeding
e. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris  yang jernih, transparan, berbentuk
seperti kancing baju mempunyai refraksi yang besar, lensa mengandung tiga komponen
anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus dioperifer ada korteks dan yang
mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia,
nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Opasitas pada kapsul
posterior merupakan katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada
jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Perubahan pada serabuk halus multiple (zunuk) yang memanjang dari badan silier ke
sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat
menyebabkan penglihatan mengalami distrasi. Perubahan kimia dalam protein lensa
dapat menyebabkan koagulasi, sehingga jalannya cahaya ke retina terhambat,
mengakibatkan pandangan terganggu. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein
lensa normal terjadi disertai influks air kedalam lensa. Proses ini mematahkanserabut
lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Jumlah enzim akan menurun
dengan  bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan penderita katarak.

f. Pathway Katarak (WOC)


g. Penatalaksanaan
Gejala-gejala yang timbul pada katarak yang masih ringan dapat  dibantu dengan
menggunakan kacamata, lensa pembesar, cahaya yang lebih terang, atau kacamata yang dapat
meredamkan cahaya. Pada tahap ini tidak diperlukan tindakan operasi.
                  Tindakan operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki lensa mata, 
tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi. Operasi katarak perlu
dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan penurunan tajam pengelihatan sedemikian rupa
sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari. Operasi katarak dapat dipertimbangkan untuk
dilakukan jika katarak terjadi berbarengan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis
yakni adalah peradangan pada uvea. Uvea (disebut juga saluran uvea) terdiri dari 3 struktur:
1.    Iris                : Cincin berwarna yang melingkari pupil yang berwarna hitam.
2.    Badan silier  : Otot-otot yang membuat lensa menjadi lebih tebal.
3.   Koroid           : Lapisan mata bagian dalam yang membentang dari ujung otot silier
ke saraf optikus di bagian belakang mata.
Sebagian atau seluruh uvea bisa mengalami peradangan. Peradangan yang terbatas pada
iris disebut iritis, jika terbatas pada koroid disebut koroiditis. Juga operasi katarak akan
dilakukan bila berbarengan dengan glaukoma, dan retinopati diabetikum. Selain itu jika hasil
yang didapat setelah operasi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan risiko operasi
yang mungkin terjadi. Pembedahan lensa dengan katarak dilakukan bila mengganggu
kehidupan social atau atas indikasi medis lainnya.( Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3).
Indikasi dilakukannya operasi katarak :
1.  Indikasi sosial  : Jika pasien mengeluh adanya gangguan penglihatan
dalam melakukan rutinitas pekerjaan.
2.  Indikasi medis     : Bila ada komplikasi seperti glaucoma.
3.  Indikasi optic      : Jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari jarak
3m  didapatkan hasil visus 3/60.
Apabila tidak terjadi gangguan pada kornea, retina, saraf mata atau masalah mata lainnya,
tingkat keberhasilan dari operasi katarak cukup tinggi, yaitu mencapai 95%, dan kasus
komplikasi saat maupun pasca operasi juga sangat jarang terjadi. Kapsul/selaput dimana lensa
intra okular terpasang pada mata orang yang pernah menjalani operasi katarak dapat menjadi
keruh. Untuk itu perlu terapi laser untuk membuka kapsul yang keruh tersebut agar
penglihatan dapat kembali menjadi jelas.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KATARAK


A. Pengkajian
a.  Identitas / Data demografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara
langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,  dan keterangan
lain mengenai identitas pasien.
b.  Riwayat Kesehatan
 Riwayat Kesehatan Sekarang
Keluhan utama pasien katarak biasanya antara lain: Penurunan ketajaman penglihatan
secara progresif (gejala utama katarak) . Mata tidak merasa sakit, gatal atau merah. Berkabut,
berasap, penglihatan tertutup film. Perubahan daya lihat warna. Gangguan mengendarai
kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan mata. Lampu dan matahari sangat
mengganggu. Sering meminta ganti resep kaca mata. Lihat ganda. Baik melihat dekat pada
pasien rabun dekat ( hipermetropia)
 Riwayat penyakit dahulu
         Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM,
hipertensi,pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko
katarak.
         Kaji gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan
endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin.
         Kaji riwayat alergi
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress, dikeluarga ?

B.Pemeriksaan Fisik
Pengkajian khusus mata
a. Dengan pelebaran pupil, ditemukan gambaran kekeruhan lensa (berkas putih)
pada lensa.
b. Keluhan terdapat diplopia, pandangan berkabut.
c. Penurunan tajam penglihatan (miopia).
d. Bilik mata depan menyempit.
e. Tanda glaucoma (akibat komplikasi

C. Diagnosa Keperawatan :

PRE-OPERASI
1. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan b.d  gangguan penerimaan
sensori/status organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. d/d Menurunnya
ketajaman penglihatan, perubahan respon biasanya terhadap rangsang.
2. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian operasi.
3. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.

POST-OPERASI

1. Nyeri yang berhubunagan dengan luka pasca operasi


2. Harga Diri Rendah Situasional b/d Hambatan Fungsi Penglihatan.

3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Luaran dan Kriteria hasil Intervensi (SIKI)
. (SLKI)
PRE OPERASI
1. Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan Observasi
sensori-perseptual keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Periksa status mental, status
penglihatan b.d  gangguan dengan ekpetasi membaik , sensori, dan tingkat kenyaman
penerimaan sensori/status
dengan kriteria hasil : (mis.kelelahan)
organ indera, lingkungna
1. Verbalisasi melihat 2. Monitor tingkat kesadaran,
secara terapetik dibatasi.
d/d Menurunnya bayangan meningkat tanda-tanda vital, warna kulit
ketajaman penglihatan, 2. Tingkat kesadaran suhu, sensasi dan kondisi
perubahan respon biasanya meningkat secara berkala
terhadap rangsang.
3. Reaksi pupil meningkat Terapeutik
4. Ketajaman penglihatan 1. Diskusikan tingkat toleransi
meningkat terhadap beban sensori (mis.
Terlalu terang )
2. Batas stimulus lingkungan
(mis. Cahaya )
3. Jadwalkan aktivitas harian dan
waktu istirahat
4. Lakukan supervisi dan
survelensi dalam memonitor
tindakan
Edukasi
1. Ajarkan cara meminimalisasi
stimulus (mis. Mengatur
pencahayaan ruangan )
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat
yang mempengaruhi persepsi
stimulus

2. Ansietas yang b/d kurang Setelah dilakukan tindakan Observasi


terpapar informasi keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Identifikasi penurunan
diharapkan kecemasan menurun , energi , ketidakmampuan
dengan kriteria hasil : konsentrasi atau gejala lain
1. Verbalisasi yang mengganggu
kebingungan menurun kemampuan kognitif
2. Verbalisasi khawatir 2. Identifikasi teknik relaksasi
akibat kondisi yang yang pernah efektif
dihadapi menurun digunakan
3. Perilaku tegang 3. Periksa ketegangan otot,
menurun frekuensi nadi, tekanan
4. Kemampuan darah, dan suhu sebelum
menjelaskan dan sesudah latihan
pengehuan ttg suatu 4. Monitor respons terapi
kejadian operasi relaksasi
meningkat Terapeutik
1. Ciptakan lingkungan tenang
dan tanpa gangguan dengan
pencahayaan dan suhu ruang
yg nyaman , jika
memungkinkan
2. berikan informasi tertulis
tentang persiapan dan prosedur
teknik relaksasi
3. Gunakan nada suara lembut
dan irama lambat dan berirama
4. Gunakan relaksasi sebagai
strategi penunjang dengan
analgetik
Edukasi
1. Jelaskan tujuan, manfaat,
batasan, dan jenis relaksasi yg
tersedia (mis. Meditasi nafas
dalam)
2. Jelaskan secara rinci intervensi
relaksasi yg dipilih
3. Anjurkan mengambil posisi
nyaman
4. Anjurkan rileks dan merasakan
sensasi relaksasi
5. Demontrasikan dan latik teknik
relaksasi meditasi nafas dalam

3 Defisit perawatan diri b/d Setelah dilakukan tindakan Observasi


gangguan penglihatan keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Monitor adanya kemerahan ,
diharapkan dapat beraktifitas eksudet atau ulserasi
secara bertahap, dengan kriteria 2. Monitor refleks kornea
hasil : Terpaeutik
1. Ketajaman penglihatan 1. Tutup mata untuk mencegah
membaik diplopia
2. Reaksi pupil meningkat 2. Teteskan obat tetes mata jika
3. Ukuran pupil membaik perlu
4. Gerakan mata membaik 3. Oleskan salep mata jika perlu
Edukasi
1. Anjurkan tidak menyentuh bola
mata
2. Anjurkan tidak terpapar debu
dan polusi
3. Anjurkan tidak terpapar cahaya
terang terlalu lama (mis. Layar
hp , laptop/ televisi)
4. Anjurkan mengkonsumsi
makanan kaya vitamin A
5. Anjurkan menggunakan
kacamata protek UV/ pakai topi
lebar saat berada dibawah panas
terik matahari
6. Anjurkan menghindari membaca
dengan pencahayaan red

POST-OPERASI
4 Nyeri yang berhubunagan Setelah dilakukan tindakan Observasi
dengan luka pasca operasi keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Identifikasi karakteristik nyeri
diharapkan dapat beraktifitas dan skala nyeri
secara bertahap, dengan kriteria 2. Identifikasi pengetahuan dan
hasil : keyakinan tentang nyeri
1. Keluhan nyeri menurun 3. Identifikasi kesesuaian jenis
2. Penyatuan kulit analgesik dengan tingkat
meningkat keparahan nyeri
3. Pembentukan jaringan 4. Monitor TTV sebelum dan
parut meningkat sesudah pemberian analgesik
4. Peradangan luka menurun 5. Monitor efektifitas analgesik
6. Monitor efek samping
penggunaan analgesik
Terapeutik
1. Berikan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
2. Fasilitasi tempat istirahat dan
tidur
3. Pertimbangkan jenis daan
sumber nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri
4. Dapatkan persetujuan untuk
tindakan analgesik
Edukasi
1. Jelaskan penyebab pemicu
nyeri
2. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
4. Ajarkan terknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri

Harga Diri Rendah Setelah dilakukan tindakan Observasi


Situasional b/d
keperawatan selama 1 x 24
Hambatan Fungsi 1. Monitor verbalisasi yang
Penglihatan. jam diharapkan ekspetasi merendahkan diri sendiri
2. Monitor tingkat harga diri
meningkat, dengan kriteria
setiap waktu sesuai kebutuhan
hasil :
Terapeutik
1. Penilaian diri positif
meningkat 1. Motivasi terlibat dalam
verbalisasi positif untuk diri
2. Perasaan malu
sendiri
menurun 2. Diskusikan pernyataan ttg harga
3. Penerimaan penilailan diri
3. Diskusikan percayaan terhadap
positif terhadapt diri
penilaian diri
sendiri meningkat 4. Diskusikan alasan mengkritik
diri atau rasa bersalah
4. Meremehkan
5. Berikan umpan balik positif
kemampuan mengatasi atas peningkatan mencapai
tujuan
masalah menurun
6. Fasilitasi lingkungan dan
aktivitas yang meningkatkan
harga diri

Edukasi

1. Jelaskan kepada keluarga


pentingnya dukungan dalam
perkembangan konsep positif
dari pasien
2. Ajarkan mengidentifikasi
kekuatan yang dimiliki
3. Anjurkan mengevaluasi prilaku
4. Latih pernyataaan/ kemampuan
positif diri
5. Latih cara berfikir dan
berperilaku positif
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang mengakibatkan

pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat

air terjun menjadi kabur atau redup, mata silau yang menjengkelkan dengan distorsi

bayangan dan susah melihat Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. 

Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan

fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi. 

Temuan objektif biasanya meliputi pengembunann seperti mutiara keabuan pada pupil

sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop.

Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya

ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina.  Hasilnya adalah

pendangan di malam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih.

B. Saran

Dengan makalah ini diharapkan pembaca khususnya mahasiswa keperawatan dapat mengerti

dan memahami serta menambah wawasan tentang Asuhan keperawatan pada klien

dengan Katarak.
DAFTAR PUSTAKA

Long, C Barbara. 1996.Perawatan Medikal Bedah : 2.Bandung. Yayasan Ikatan Alumni


Pendidikan Keperawatan Pajajaran 
Margaret R. Thorpe. Perawatan Mata. Yogyakarta . Yayasan Essentia Medica 
Nettina Sandra M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa : Setiawan Sari.
Jakarta. EGC 
Sidarta Ilyas. 2001. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. FKUI Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah 
Brunner & Suddarth. Alih bahasa : Agung Waluyo. Jakarta. EGC
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Otitis media merupakan salah satu penyebab utama gangguan pendengaran


dan ketulian, bahkan dapat menimbulkan penyulit yang mengancam jiwa. Namun
demikian oleh sebagian masyarakat masih dianggap hal biasa, sehingga tidak segera
mencari pertolongan saat menderita otitis media. Saat pendengarannya mulai
berkurang, tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah ataukah setelah terjadi
komplikasi barulah mereka mencari pertolongan medis.
Survei epidemiologi di 7 propinsi Indonesia (1994-1996), menemukan bahwa
dari 19.375 responden yang diperiksa ternyata 18,5% mengalami gangguan kesehatan
telinga dan pendengaran. Penderita otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan
25% dari penderita yang datang berobat di poliklinik THT rumah sakit di Indonesia
dengan prevalensi adalah 3,8 %.
Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia, tetapi paling sering ditemukan
pada anak-anak terutama usia 3 bulan- 3 tahun. Sebagaimana halnya dengan kejadian
infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu
penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat,  diperkirakan 75% anak mengalami
setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari
mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak
mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Di negara tersebut otitis
media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun. OMA sering diderita oleh bayi dan
anak-anak, penyebabnya infeksi virus atau bakteri. Pada penyakit bawaan, seperti
Down Syndrome dan anak dengan alergi sering terjadi. Otitis media sebenarnya
adalah diagnosa yang paling sering dijumpai pada anak – anak di bawah usia 15
tahun.
Pada anak-anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas,
kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering. Bayi-bayi yang di bawah
umur 6 minggu cenderung mempunyai infeksi-infeksi dari keragaman bakteri-bakteri
yang berbeda dalam telinga tengah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan


rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Otitis media?


2. Bagaimana terjadinya Otitis media?
3. Apa saja etiologi dari Otitis media?
4. Bagaimana patofisiologi dari Otitis media?
5. Apa saja manifestasi klinis dari Otitis media?
6. Apa saja pemeriksaan diagnostik pada penderita Otitis media?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis dari Otitis media
8. Bagaimana pencegahan dari Otitis media?
9. Bagaimana WOC Otitis media?
10. Bagaimana asuhan Keperawatan Otitis media?

1.3 Tujuan Makalah


Pembuatan makalah ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan penyusun
dalam hal atau gambaran patologi tentang penyakit Otitis media. Serta untuk salah
satu syarat dalam penugasan makalah mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah tahun
ajaran 2015/2016
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Definisi
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran
dan keseimbangan). Anatominya juga sangat rumit .Indera pendengaran berperan penting
pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk
perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan
orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.(Roger watson, 2002, 102)

Otitis media adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah.Saat bakteri
melalui saluran eustachius, bakteri bisa menyebabkan infeksi saluran tersebut.Sehingga
terjadilah pembengkakan di sekitar saluran, mengakibatkan tersumbatnya saluran.(Mansjoer,
2001, 76).

Otitis Media Akut adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena
masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer, 2001).
Otitis Media Akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga
tengah (Mansjoer, Arif, 2001).
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid (Ahmad Mufti, 2005)

B. Anatomi Fisiologi
Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan
dalam.Dalam perkembangannya telinga dalam merupakan organ yang pertama kali terbentuk
mencapai konfingurasi dan ukuran dewasa pada trimester pertengahan kehamilan. Sedangkan
telinga tengah dan luar belum terbentuk sempurna saat kelahiran, akan tumbuh terus dan
berubah bentuk sampai pubertas.  

a)      Telinga dalam

Labirin mulai berdiferensiasi pada akhir minggu ketiga dengan munculnya plakoda
otik (auditori).Dalam waktu kurang dari satu minggu plakoda tersebut mengalami invaginasi
membentuk lekuk pendengaran, kemudian berdilatasi membentuk suaru kantong, selanjutnya
tumbuh menjadi vesikula auditorius.

Suatu proses migrasi, pertumbuhan dan elongasi vesikula kemudian berlangsung dan
segera membuat lipatan pada dinding kantong yang secara jelas memberi batas tiga divisi
utama vesikula auditorius yaitu sakus dan duktus endolimfarikus, utrikulus dengan duktus
semi sirkuler dan sakulus dengan duktus koklea. Dari utrikulus kemudian timbul tiga tonjolan
mirip gelang.Lapisan membran yang jauh dari perifer gelang diserap meninggalkan tiga
kanalis semisirkularis pada perifer gelang. Sakulus kemudian membentuk duktus koklearis
berbenruk spiral.Secara filogenetik organ-organ akhir khusus berasal dari neuromast yang
tidak terlapisi yang berkembang dalam kanalis semisirkularis untuk membentuk krista. Di
dalam utrikulus dan sakulus membentuk makula dan dalam koklea membentuk organon
koiti.Diferensiasi ini berlangsung dari minggu keenam sampai ke 10 fetus, pada saat itu
hubungan definitive seperfi telinga orang dewasa telah siap.

b)      Telinga Luar dan Tengah

Ruang telinga tengah, mastoid, permukaan dalam membijana timpani dan


tuba.Eustachius berasal dari kantong faring pertama.Perkembangan prgan ini dimulai pada
minggu keempat dan berlanjut sampai minggu ke 30 fetus, kecuali pneumatisasi mastoid
yang terus berkembang sampai pubertas.

Osikel berasal dari mesoderm celah brankial pertama dan kedua, kecuali basis stapes
yang berasal dari kapsul otik.Osikel berkembang mulai minggu kedelapan sampai mencapai
bentuk- komplet pada minggu ke 26 fetus.

Liang telinga luar berasal dari ektoderm celah brankial pertama.Membrana timpani
mewakili membran penutup celah tersebut. Pada awalnya liang telinga luar tertutup sama
sekali oleh suatu sumbatan jaringan padat, akan tetapi akan mengalami rekanalisasi.

C. Komplikasi

1.             Peradangan telinga tengah (otitis media) yang tidak diberi terapi secarabenar dan
adekuat dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengahtermasuk ke otak,
namun ini jarang terjadi setelah adanya pemberianantibiotik.

2.             Mastoiditis

3.             Kehilangan pendengaran permanen bila OMA tetap tidak ditangani


4.             Keseimbangan tubuh terganggu

5.             Peradangan otak kejang

D. Etiologi
1.      Disfungsi atau sumbatan tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis
mediayang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu,
sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga akan terganggu
2.      ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), inflamasi jaringan di sekitarnya (misal :
sinusitis, hipertrofi adenoid), atau reaksi alergi (misalkan rhinitis alergika). Pada anak-anak,
makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA).
Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak
horisontal.
3.      Bakteri
Bakteri yang umum ditemukan sebagai mikroorganisme penyebab adalah Streptococcus
peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis, dan bakteri piogenik lain, seperti
Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus vulgaris.

E. Tanda Gejala
1.      Otitis Media Akut
Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan
sementara atau sangat berat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa.
Membrane tymphani merah, sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat
dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic ( pemberian tekanan positif atau negative
pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ), dapat mengalami
perforasi.
a.       Otorrhea, bila terjadi rupture membrane tymphani
b.      Keluhan nyeri telinga ( otalgia )
c.       Demam
d.      Anoreksia
e.       Limfadenopati servikal anterior
Stadium Otitis Media Akut
Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium
yaitu:
1)      Stadium oklusi tuba eustakhius
Adanya gambaran retraksi akibat terjadinya tekanan negative di dalam tekanan
tengah, karena adanya absorbs udara. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat
dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan Otitis Media Serosa yang disebabkan
oleh virus atau alergi.
2)      Stadium hiperemesis (stadium presupurasi)
Stadium ini tampak pembuluh daerah yang melebar di membrane timpani atau seluruh
membrane timpani tampak hiperemesis serta edema. Secret yang telah terbentuk
mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.
3)      Stadium supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial,
serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membrane
timpani menonjol kea rah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sakit,
suhu meningkat, rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di
cavum timpani tidak berkurang, maka terjadi ischemia akibat tekanan pada kapiler
dan timbulnya trombophlebitis pada vena kecil dan nekrosis mukosa, dan submukosa.
Nekrosis terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan dan di
tempat ini akan terjadi ruptur.
4)      Stadium perforasi
Akibat terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka
dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah
ke liang telinga luar, pada keadaan ini anak yang tadinya gelisah menjadi tenang, suhu
badan turun dan anak tidur nyenyak. Keadaan ini disebut Otitis Media Akut Stadium
Perforasi.
5)      Stadium resolusi
Bila membran timpani utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali, bila sudah
perforasi maka secret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahanm tubuh
baik atau virulensi kuman reda, maka resolusi dapat terjadi, walaupun tanpa
pengobatan.

2.      Otitis Media Serosa


Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal dalam telinga
atau perasaan bendungan, atau bahkan suara letup atau berderik, yang terjadi ketika tuba
eustachii berusaha membuka.Membrane tymphani tampak kusam (warna kuning redup
sampai abu-abu pada otoskopi pneumatik, dan dapat terlihat gelembung udara dalam telinga
tengah.Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif.

3.      Otitis Media Kronik


Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat
otorrhea intermitten atau persisten yang berbau busuk. Biasanya tidak ada nyeri kecuali pada
kasus mastoiditis akut, dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah
dan edema. Kolesteatoma, sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri. Evaluasi otoskopik
membrane timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai
masa putih di belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis eksterna melalui lubang
perforasi. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil
audiometric pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran
konduktif atau campuran.
Komplikasi yang terjadi :
1)        Sukar menyembuh
2)        Cepat kambuh kembali setelah nyeri telingaa berkurang
3)        Ketulian sementara atau menetap
4)        Penyebaran infeksi ke struktur sekitarnya yang menyebabkan mastoiditis akut,
kelumpuhan saraf facialis, komplikasi intracranial(meningitis, abses otak), thrombosis sinus
lateralis.

F. Patofisiologi
Pada gangguan ini biasanya terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang
diakibatkan oleh infeksi saluran nafas atas, sehingga timbul tekanan negative di telinga
tengah. Sebaliknya, terdapat gangguan drainase cairan telinga tengah dan kemungkinan
refluks sekresi esophagus ke daerah ini yang secara normal bersifat steril.Cara masuk bakteri
pada kebanyakan pasien kemungkinan melalui tuba eustachii akibat kontaminasi secret dalam
nasofaring.Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada perforasi membran
tymphani.Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan
pendengaran konduktif.
WOC OMA

OMA adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya
bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer,2001).

ETIOLOGI

Bakteri patogenik Alergi

Gangguan rasa
Menyerang nyaman (nyeri) b.d Sumbatan pada tuba
nasofaring dan faring proses peradangan eustachius

Enzim pelindung dan


ISPA
bulu-bulu halus tidak
berfungsi
pembengkakan
nyeri
saluran eustachius
Bakteri dapat masuk
melalui saluran
napas

ISPA

Lendir dan nanah Tekanan cairan


meningkat meningkat
WOC OMK
OMK adalah infeksi kronik di telinga tengah dengan performasi membrane timpani dan
secret yang keluarKlinis
G. Manifestasi dari telinga tengah secara terus-menerus atau hilang timbul. Sekret
mungkin encer atau kental; bening atau berupa nanah (Syamsuhidajat,1997).
Secara umum gejala anak dengan OMA, yaitu :
 nyeri telinga
 keluarnya cairan dari telinga
 berkurangnya pendengaran
Pengobatan
 demam Infeksi virus atau bakteri Gangguan fungsi tuba
OMA yang tidak eustachius
 sulit makan
adekuat
 mual dan muntah terjadi pada nasofaring
Misal adanya sumbatan
 riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi pada tuba eustachius
Perforasi yang sudah
Selain itu, keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa, yaitu :
terbentuk
melalui tuba eustachius
 Otorrhea, bila terjadi ruptur membran timpani Enzim pelindung dan
 Keluhan nyeri telinga (otalgia) bulu-bulu halus tidak
Keluarnya secret terus- Menyerang telinga berfungsi
 Demam
menerus tengah
 Anoreksia
Bakteri dapat masuk
OtiMed
 berulang
Limfadenopati Inflamasi
servikaldianterior
Melalui peforasi melalui saluran napas
telinga
 Otitis media serosa membrane timpani
tengah
 Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal dalam
OMK
ISPA
telinga atau perasaan bendungan,Inflamasi
atau bahkan suara letup atau berderik, yang terjadi
Perubahan persepsi
ketika tuba Eustachius berusaha membuka.
sensori b.d infeksi di Pembengkakan saluran
 Membrantelinga
timpanitengah
merah, atau tampak kusam (warna kuning redup sampaieustachius
abu-abu
demam nyeri
pada otoskopi pneumatik) sering menggelembung tanpa tonjolan tulang (dapat
terlihat gelembung udara dalam telinga tengah), dan tidak bergerak padaTekanan
otoskopicairan
Nyeri b.d proses
peradangan meningkat

Gangguan komunikasi Merobek gendang


b.d efek kehilangan Kehilangan pendengaran telinga
pneumatik (pemberian tekanan positif atau negatif pada telinga tengah dengan
insulator balon yang dikaitkan ke otoskop), dan dapat mengalami perforasi.

Perbandingan gambaran klinis : otitis eksterna akut dan otitis media akut

Gambaran Otitis Ekterna Akut Otitis media akut

Otorea Mungkin ada mungkin Ada bila membrana


tidak timpani berlubang ; cairan
banyak keluar

Otalgia Persisten, samapai Hilang ketika membrana


membangunkan penderita timpani ruptur
dimalam hari

Nyeri tekan aural Ada pada palpasi aurikula Biasanya tidak ada

Gejala sistemik Tak ada Demam, infeksi saluran


napas atas, rinitis

Edema kanalis auditorius Ada Tak ada


eksternus

Membrana timpani Tampak normal Eritema,


menggelembung, dapat
mengalami perforasi

Kehilangan pendengaran Tipe konduktif Tipe konduktif

H. Penatalaksanaan
1. Berdasarkan stadium
1.1 Stadium Oklusi. Bertujuan untuk membuka tuba eustachius. Diberikan obat tetes
hidung.
1.1.1 HCl Efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 tahun
1.1.2 HCl Efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak >12 tahun atau
dewasa.
1.1.3 Sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik.
1.2 Stadium Presupurasi. Diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgetik.
Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila membran timpani sudah
hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Untuk terapi awal, diberikan
penisilin IM agar konsentrasinya adekuat dalam darah.
1.2.1 Ampisilin 4 x 50-100 mg/KgBB
1.2.2 Amoksisilin 4 x 40 mg/KgBB/hari
1.2.3 Eritromisin 4 x 40 mg/KgBB/hari
1.3 Stadium Supurasi. Pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila
membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik juga diperlukan agar nyeri
dapat berkurang.
1.4 Stadium Perforasi. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta
antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
1.5 Stadium Resolusi. Biasanya akan tampak sekret keluar. Pada keadaan ini dapat
dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih keluar sekret diduga
telah terjadi mastoiditis. Pada stadium ini, harus di follow up selama 1 sampai 3
bulan untuk memastikan tidak terjadi otitis media serosa.
2. Tindakan
2.1 Timpanosintesis
Tindakan dengan cara mengambil cairan dari telinga tengah dengan
menggunakan jarum untuk pemeriksaan mikrobiologi. Risiko dari prosedur ini
adalah perforasi kronik membran timpani, dislokasi tulang-tulang pendengaran,
dan tuli sensorineural traumatik, laserasi nervus fasialis atau korda timpani.
Timpanosintesis merupakan prosedur yang invasif, dapat menimbulkan nyeri, dan
berpotensi menimbulkan bahaya sebagai penatalaksanaan rutin.
2.2 Miringotomi
Tindakan insisi pada membran timpani untuk drainase cairan dari telinga
tengah. Pada miringotomi dilakukan pembedahan kecil di kuadran posterior-
inferior membran timpani. Untuk tindakan ini diperlukan lampu kepala yang
terang, corong telinga yang sesuai, dan pisau khusus (miringotom) dengan ukuran
kecil dan steril. Indikasi untuk miringotomi adalah terdapatnya komplikasi
supuratif, otalgia berat, gagal dengan terapi antibiotik, pasien imunokompromis,
neonatus, dan pasien yang dirawat di unit perawatan intensif.

I. Pemeriksaan Penunjang
Dalam menegakkan diagnosis OMA terdapat tiga hal yang harus diperhatikan:
1. Penyakit muncul secara mendadak (akut)
2. Ditemukan tanda efusi pada telinga tengah, dengan tanda: menggembungnya
membran timpani(bulging), terbatas atau tidak adanya gerakan membran timpani,
adanya bayangan cairan dibelakang membran timpani, dan adanya cairan yang
keluar dari telinga.
3. Terdapat tanda atau gejala peradangan pada telinga tengah, dengan tanda:
kemerahan pada membran timpani, adanya nyeri telinga yang mengganggu tidur
dan aktivitas
Berikut pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan:
i. Otoskopi
Adalah pemeriksaan telinga dengan menggunakan otoskop terutama untuk
melihat gendang telinga. Pada otoskopi didapatkan hasil adanya gendang telinga
yang menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau
agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga
ii. Otoskop Pneumatic
Merupakan alat pemeriksaan bagi melihat mobilitas membran timpani pasien
terhadap tekanan yang diberikan. Membrane timpani normal akan bergerak
apabila diberitekanan. Membrane timpani yang tidak bergerak dapat disebabkan
oleh akumulasi cairan didalam telinga tengah, perforasi atau timpanosklerosis.
Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. Namun umumnya
diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa
iii. Timpanometri
Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan
timpanometri. Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran
timpani dan rantai tulang pendengaran. Timpanometri merupakan konfirmasi
penting terdapatnya cairan di telinga tengah.Timpanometri juga dapat mengukur
tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi tabung miringotomi
dengan mengukur peningkatan volume liang telinga luar.Timpanometri punya
sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi cairan telinga tengah, tetapi
tergantung kerjasama pasien.Pemeriksaan dilakukan hanya dengan menempelkan
sumbat ke liang telinga selama beberapa detik, dan alat akan secara otomatis
mendeteksi keadaan telinga bagian tengah.

iv. Timpanosintesis
Timpanosintesisdiikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah,
bermanfaat pada pasien yang gagal diterapi dengan berbagai antibiotika, atau
pada imunodefisiensi. Timpanosintesis merupakan pungsi pada membran
timpani, dengan analgesia lokal untuk mendapatkan sekret dengan tujuan
pemeriksaan dan untuk menunjukkan adanya cairan di telinga tengah dan untuk
mengidentifikasi patogen yang spesifik.
v. Uji Rinne
Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang dan hantaran udara
telinga pasien.
Langkah:
Tangkai penala digetarkan lalu ditempelkan pada prosesus mastoid (hantaran
tulang) hingga bunyi tidak lagi terderngar. Penala kemudian dipindahkan ke
depan telinga sekitar 2,5 cm. Bila masih terdengar disebut Rinne positif (+), bila
tidak terdengar disebut Rinne negatif (-)
vi. Uji Webber
Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan
telinga kanan.
Langkah:
Penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan di garis tengah kepala (di
verteks, dahi, pangkal hidung, di tengah-tengah gigi seri atau dagu). Apabila
bunyi penala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Weber
lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke arah telinga mana
bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi
vii. Uji Swabach
Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang orang yang
diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal.
Langkah:
Penala digetarkan, tangkai penala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai
tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala segera dipindahkan pada
prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. Bila
pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila pemeriksa
tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya yaitu penala
diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksa lebih dulu. Bila pasien masih
dapat mendengar bunyi disebut Schwabach memanjang dan bila pasien dan
pemeriksa kira-kira sama-sama mendengarnya disebut dengan Schwabach sama
dengan pemeriksa.
J. Komplikasi

Menurut Jeffrey P. Harris dan David H. Darrow membagi komplikasi ini menjadi dua
yaitu :
A. Komplikasi intrakranial meliputi:
1. Meningitis
Meningitis dapat terjadi disetiap saat dalam perjalanan komplikasi infeksi
telinga. Jalan penyebaran yang biasa terjadi yaitu melalui penyebaran
langsung, jarang melalui tromboflebitis. Pada waktu kuman menyerang
biasanya streptokokkus, pneumokokkus, atau stafilokokkus atau kuman yang
lebih jarang H. Influenza, koliform, atau piokokus, menginvasi ruang sub
arachnoid, pia-arachnoid bereaksi dengan mengadakan eksudasi cairan serosa
yang menyebabkan peningkatan ringan tekanan cairan spinal.
2. Abses subdural
Abses subdural merupakan stadium supurasi dari pekimeningitis interna.
Sekarang sudah jarang ditemukan. Bila terjadi harus dianggap keadaan gawat
darurat bedah saraf, karena harus mendapatkan pembedahan segera untuk
mencegah kematian.
3. Abses ekstradural
Abses ekstradural ialah terkumpulnya nanah diantara durameter dan tulang
yang menutupi rongga mastoid atau telinga tengah. Abses ekstradural jika
tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan meningitis, trombosis sinus
sigmoid dan abses otak (lobus temporal atau serebelar, tergantung pada sisi
yang terkena.
4. Trombosis sinus lateralis
Sejalan dengan progresifitas infeksi, trombus mengalami perlusan retrograd
kedaerah vena jugular, melintasi sinus petrosus hingga ke daerah sinus
cavernosus. Komplikasi ini sering ditemukan pada zaman pra-antibiotik, tetapi
kini sudah jarang terjadi.
5. Abses otak
Sebagai komplikasi otitis media dan mastoiditis, abses otak dapat timbul di
serebellum di fossa kranii posterior, atau pada lobus temporal di fossa kranii
media. Abses otak biasanya terbentuk sebagai perluasan langsung infeksi
telinga atau tromboflebitis.
6. Hidrosefalus otitis
Kelainan ini berupa peningkatan tekanan intrakranial dengan temuan cairan
serebrospinal yang normal. Pada pemeriksaan terdapat edema papil. Keadaan
ini dapat menyertai otitis media akut atau kronis.

B. Komplikasi intratemporal meliputi :


1. Facial paralisis
2. Labirintitis
3. Abses Subperiosteal

K. Pencegahan Otitis Media


Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:
1. Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak.
2. Pemberian ASI minimal selama 6 bulan.
3. Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring.
4. Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
5. Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.

L. Asuhan Keperawatan Otitis Media


1. Pengkajian

a. Identitas klien
b. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah ada kebiasaan berenang, apakah pernah menderita gangguan
pendengaran (kapan, berapa lama, pengobatan apa yang dilakukan, bagaimana
kebiasaan membersihkan telinga, keadaan lingkungan tenan, daerah industri,
daerah polusi), apakah riwayat pada anggota keluarga.
2. Riwayat kesehatan sekarang
kaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa, Seperti
penjabaran dari riwayat adanya kelainan nyeri yang dirasakan.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang
sama. Ada atau tidaknya riwayat infeksi saluran pendengaran yang berulang
dan riwayat alergi pada keluarga.
c. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum klien
a. Kepala
Lakukan Inspeksi,palpasi,perkusi dan  di daerah telinga,dengan menggunakan
senter ataupun alat-alat lain nya apakah ada cairan yang keluar dari
telinga,bagaimana warna, bau, dan jumlah.apakah ada tanda-tanda radang.
b. Kaji adanya nyeri pada telinga
c. Leher, Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher
d. Dada / thorak
e. Jantung
f. Perut / abdomen
g. Genitourinaria
h. Ekstremitas
i. Sistem integumen
j. Sistem neurologi
k. Data pola kebiasaan sehari-hari
d. Nutrisi
Bagaimana pola makan dan minum klien pada saat sehat dan sakit,apakah ada
perbedaan konsumsi diit nya.
e. Eliminasi
Kaji miksi,dan defekasi klien
f. Aktivitas sehari-hari dan perawatan diri
Biasanya klien dengan gangguan otitis media ini,agak susah untk berkomunikasi
dengan orang lain karena ada gangguan pada telinga nya sehingga ia kurang
mendengar/kurang nyambung tentang apa yang di bicarakan orang lain.
g. Pemeriksaan diagnostik
1. Tes Audiometri : AC menurun
2. X ray : terhadap kondisi patologi
3. Tes berbisik
4. Tes garpu tala

2. Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa Otitis media akut
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses peradangan pada
telinga tengah
2. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran.
3. Gangguan persepsi/sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga
tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran
4. Ansietas berhubuangan denagn prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi,
nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar
setelah operasi.

3. Intervensi

N Diagnosa Keperawatan Luaran dan kriteria hasil Intervensi (SIKI)


O (SLKI)

1 Gangguan rasa Setelah dilakukan tindakan a. Observasi :


nyaman (nyeri) keperawatan selama 3 x 24  Lakukan pengkajian yang komprehen
berhubungan jam maka nyeri menurun meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan dura
dengan proses dengan Kriteria Hasil: frekuensi, intensitas, kualitas atau keparah
peradangan pada telinga Menunjukkan Tingkat Nyeri nyeri dan factor presipitasinya.
tengah yang dibuktikan oleh indicator  Lakukan pemeriksaaan TTV
sebagai berikut (sebutkan 1- b. Terapeutik
5 : sangat berat, berat, sedang,  Gunakan pendekatan yang positif unt
ringan atau tidak ada) : mengoptimalkan respon pasien terhad
 Ekspresi nyeri pada analgesik.
wajah  Gunakan pendekatan yang menenangkan
 Gelisah/ ketegangan  Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pela
otot pasien
 Durasi episode nyeri
 Jelaskan semua prosedur dan apa ya
 Merintih dan menangis
dirasakan selama prosedur
 Gelisah
 Temani pasien untuk memberikan keaman
dan mengurangi takut
c. Edukasi
 Bantu pasien mengenal situasi ya
menimbulkan kecemasan
 Dorong pasien untuk mengungkapk
perasan ,ketakutan,persepsi
 Instruksikan pasien menggunakan tekn
relaksasi
 Informasikan kepada pasien tentang prosed
yang dapat meningkatkan nyeri dan tawark
strategi koping yang disarankan.
2 Gangguan interakasi Setelah dilakukan tindakan a. Observasi
sosial berhubungan keperawatan selama 3 x 24  Identifikasi kemampuan berintekra
dengan efek kehilangan jam maka interakasi sosial dengan orang lain.
pendengaran meningkat dengan Kriteria  Identifikasi hambatan melakukan interak
Hasil: dengan orang lain
 Perasaan nyaman dengan b. Terapeutik
situasi sosial  Motivasi meningkatkan kterlibatan dala
 Perasaan mudah suatu hubungan
mengkomunikasikan  Motivasi berpartisipsi dalam kegiatan ba
perasaaan dan kelompok
 Minat melakukan kontak  Motivasi interaksi di luar lingkungan
fisik  Diskusikan perencanaa kegiatan ma
 Responsif kepada orang depan
lain c. Edukasi
 Anjurkan berintekrasi dengan orang la
secara berthap
 Anjurkan ikut serta kegiatan sosial
 Anjurkan berbagi pengalaman dena
orang lain

3 Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan a. Observasi


sensoris berhubungan keperawatan selama 3 x 24  Periksa status mental,status sensori,d
dnegan obstruksi, infeksi jam maka Gangguan persepsi tingkat kenyamanan
di telinga sensoris menurun dengan b. Terapeutik
tengah atau kerusakan di Kriteria Hasil membaiknya :  Diskusikan tingkat toleranasi terhad
saraf pendengaran.  Verbalisasi mendengar beban sensori
bisikan  Batasi stimulus lingkunagn
 Distorsi sensori
 Perilaku halusinasi  Jadwalkan aktivitas harian dan istirahat.
 Konsentrasi c. Edukasi
 Orientasi  Ajarkan cara menimilasisasikan stimula
 Fungsi sensori (mengurangi kebisingan)

4 Ansietas berhubuangan Setelah dilakukan tindakan a. Observasi


dengan prosedur operasi, keperawatan selama 3 x 24  Identifiaksi saat tingkat ansietas berubah
diagnosis, prognosis, jam maka Ansietas menurun  Identifikasi kemampuan mengam
anestesi, nyeri, dengan Kriteria Hasil : keputusan
hilangnya fungsi,  Verbalisasi  Monitor tanda ansietas
kemungkinan penurunan kebingungan b. Terapeutik
pendengaran lebih besar  Verbalisasi khawatir c. Ciptakan suasana terapeutik unt
setelah operasi. akibat kondisi yang menumbukan kepercayaaan
dihadapi  Tempatkan barang pribadi deng
 Perlaku gelisah memberikan kenyamanan
 Perilaku tegang  Motivasi mengidentifikasi situasi ya
 Konsentrasi meningkat memicu kecemasan
 Pola tidur membaik  Gunakan pendekatan yang tenang
Edukasi
 Informasikan secara aktual pengobatan
 Anjurkan keluarga tetap bersaama pasien
 Tidak melakukan kegitan yang tid
kompetitif
 Anjurkan mengungkapkan perasaan d
persepsi
 Latih tekinik relaksasi

4.Implementasi Keperawatan

Menurut Patricia A. Potter (2005), Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana


tindakan keperawatan yang telah disusun / ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pasien secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh pasien itu
sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama dengan anggota tim
kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat memilih intervensi keperawatan
yang akan diberikan kepada pasien.
Berikut ini metode dan langkah persiapan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang
dapat dilakukan oleh perawat :

1. Memahami rencana keperawatan yang telah ditentukan


2. Menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan
3.  Menyiapkan lingkungan terapeutik
4. Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
5. Memberikan asuhan keperawatan langsung
6. Mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.

Implementasi membutuhkan perawat untuk mengkaji kembali keadaan klien, menelaah,


dan memodifikasi rencana keperawatn yang sudah ada, mengidentifikasi area dimana bantuan
dibutuhkan untuk mengimplementasikan, mengkomunikasikan intervensi keperawatan.
Implementasi dari asuhan keperawatan juga membutuhkan pengetahuan tambahan
keterampilan dan personal. Setelah implementasi, perawat menuliskan dalam catatan klien
deskripsi singkat dari pengkajian keperawatan, Prosedur spesifik dan respon klien terhadap
asuhan keperawatan atau juga perawat bisa mendelegasikan implementasi pada tenaga
kesehatan lain termasuk memastikan bahwa orang yang didelegasikan terampil dalam tugas
dan dapat menjelaskan tugas sesuai dengan standar keperawatan.

1. Evaluasi
Menurut Patricia A. Potter (2005), Evaluasi merupakan proses yang dilakukan untuk
menilai pencapaian tujuan atau menilai respon klien terhadap tindakan leperawatan
seberapa jauh tujuan keperawatan telah terpenuhi.
Pada umumnya evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu evaluasi kuantitatif dan evaluasi
kualitatif. Dalam evalusi kuantitatif yang dinilai adalah kuatitas atau jumlah kegiatan
keperawatan yang telah ditentukan sedangkan evaluasi kualitatif difokoskan pada masalah
satu dari tiga dimensi struktur atau sumber, dimensi proses dan dimensi hasil tindakan yang
dilakukan.
Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan adalah sebagai berikut :

1. Mengumpulkan data keperawatan pasien


2. Menafsirkan (menginterpretasikan) perkembangan pasien
3. Membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan
menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
4. Mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang
berlaku

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid yang biasanya disebabkan oleh bakteri atau virus yang terjadi
kurang dari 3 minggu. Penyebab utama dari OMA adalah tersumbatnya saluran atau tuba
eustachius yang bisa disebabkan oleh proses peradangan akibat infeksi bakteri yang masuk ke
dalam tuba eustachius tersebut, kejadian ISPA yang berulang pada anak juga dapat menjadi
faktor penyebab terjadinya OMA pada anak. Stadium OMA dapat terbagi menjadi lima
stadium, antara lain : Stadium Oklusi, Presupurasi, Supurasi, Perforasi, dan Stadium
Resolusi. Dimana manifestasi dari OMA juga tergantung pada letak stadium yang dialami
oleh klien. Terapi dari OMA juga berdasar pada stadium yang dialami klien. Dari perjalanan
penyakit OMA, dapat muncul beberapa masalah keperawatan yang dialami oleh klien, antara
lain : nyeri, resiko infeksi, resiko injury, gangguan persepsi sensori, dan gangguan konsep
diri.

3.2 Saran

Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan belum
mencapai seluruh aspek. Oleh karena itu kami menyarankan agar pembaca dapat mencari
reverensi – reverensi dari buku – buku lain yang juga mendukung dalam Asuhan
Keperawatan pada Otitis Media akut dan kronis.
DAFTAR PUSTAKA

Ari, Elizabeth. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Pendengaran dan Wicara. Editor: Dr. Ratna Anggraeni., Sp THT-KL., M.Kes.
Bandung :STIKes Santo Borromeus.

Brunner & Suddarth. 1997. Buku AjarKeperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Brunner & Suddarth . 2000. Keperawatan Medikal Bedah, Buku II Edisi 9, Alih Bahasa :
Agung Waluyo dkk. Jakarta :EGC.

Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Indonesia.
Wilkinson, Judith M and Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 9.
Jakarta, EGC.

Anda mungkin juga menyukai