Anda di halaman 1dari 8

Analytical Exposition Text

Analytical Exposition adalah jenis teks atau materi lisan dalam Bahasa Inggris yang digunakan
untuk menjelaskan pandangan penulis mengenai suatu isu. Dengan kata lain, teks ini adalah teks
argumentatif. Jenis teks ini sangat populer di kalangan akademika dan dapat ditemukan dalam
buku-buku ilmiah, jurnal, majalah, artikel koran, pidato akademis, dan lain sebagainya. Tujuan
dari teks ini hanya untuk membuat pembaca atau pendengar sadar akan suatu isu yang diangkat
oleh penulis atau pembicara.
Generic Structure of Analytical Exposition

Analytical Exposition mempunyai generic structure tersendiri. Dalam teks ini terdapat tiga
bagian penting yang harus dimiliki, yaitu:

1. Thesis (Introduction)
Berisi pendapat penulis atau pembicara terkait topik yang dipermasalahkan.

2. Arguments (Body)
Arguments berisi tentang pendapat-pendapat yang mendukung ide pokok. Jumlah dari argument
yang dikemukakan bervariasi, tetapi tiap argument harus didukung oleh bukti dan penjelasan.
Semakin banyak pendapat yang dituliskan, maka sebuah Analytical Exposition Text semakin
menarik karena pembaca atau pendengar cenderung percaya terhadap suatu peristiwa jika
terdapat banyak pendapat yang mendukung di dalamnya.

3. Reiteration (Conclusion)

Di bagian ini penulis mengungkapkan kembali secara singkat sudut pandangnya untuk
memperkuat pendapatnya.

Contoh Analytical Exposition Text Singkat 1 (tentang “cramming”)

Cramming is Bad

How do you study when the test is coming? Do you start preparing for the test weeks or months
before the test or leave things to the last hour? If you start studying weeks or months before the
test, it is great. However, if you study all the material in the last hour or minute, it is not good for
you and it is called cramming.

Cramming is the situation when students stay up until morning to study before their test. This
habit can lead to negative impacts for some reason. The first reason is that disruptions in the
regular sleep cycle can cause temporary intellectual lapses. For most students, less sleep can
make them could not focus in the class. Additionally, cramming can leave us with “something
that I have seen before” in our memory. However, being able to recognize something is not the
same as being able to recall it. Besides that, each person has their different sleeping time, so
some of them often use a stimulant for cramming. Furthermore, that stimulant gives bad effect to
its consumers.

The example stimulant is coffee. It causes many problems such as Caffeine Intoxiation
Syndrome, anxiety, panic, headaches, and so on. To sum up, cramming is bad because it disturbs
our regular sleep cycle which cause temporary intellectual lapses and using stimulant for
cramming gives bad effect to our health.

Berikut terjemahan dari analytical exposition singkat di atas:

Cramming itu Buruk

Bagaimana kamu belajar ketika ujian akan datang? Apakah kamu mulai bersiap-siap pada
minggu atau bulan sebelum ujian atau mempelajari semuanya pada jam-jam terakhir? Jika kamu
mulai belajar beberapa minggu atau bulan sebelum ujian, itu bagus. Namun, jika kamu
mempelajari semua materi dalam satu jam atau menit terakhir, itu tidak baik untukmu dan itu
disebut dengan Cramming.

Cramming adalah situasi ketika pelajar terjaga hingga pagi untuk belajar sebelum ujian mereka.
Kebiasaan ini dapat menyebabkan dampak negatif karena beberapa alasan. Alasan pertama
adalah bahwa gangguan dalam siklus tidur yang teratur dapat menyebabkan penyimpangan
intelektual sementara. Bagi kebanyakan pelajar, kurang tidur dapat membuat mereka tidak bisa
fokus di kelas. Selain itu, menjejalkan dapat meninggalkan kita dengan “sesuatu yang telah
kulihat sebelumnya” dalam ingatan kita. Namun, bisa mengenali sesuatu tidak sama dengan
mampu mengingatnya. Selain itu, setiap orang memiliki waktu tidur yang berbeda, sehingga
beberapa dari mereka sering menggunakan stimulan untuk melakukan cramming. Lebih jauh
lagi, stimulan tersebut memberikan efek buruk bagi konsumennya.

Contoh stimulan adalah kopi. Ini menyebabkan banyak masalah seperti Sindrom Keracunan
Kafein, kecemasan, panik, sakit kepala, dan sebagainya. Kesimpulannya, cramming tidak baik
karena mengganggu siklus tidur terartur kita yang menyebabkan penyimpangan intelektual
sementara dan menggunakan stimulan untuk cramming memberi efek buruk bagi kesehatan kita.

Penjelasan:

Contoh teks di atas adalah Analytical Exposition Text karena teks tersebut memberikan argumen
bahwa Cramming atau yang sering kita sebut dengan cara belajar Sistem Kebut semalam (SKS)
tidak baik untuk pelajar. Selain itu, teks tersebut mempunyai ciri-ciri dan struktur yang sama
dengan ciri-ciri dan struktur Analytical Exposition Text

Other sources: https://blog.ruangguru.com/mengenal-analytical-exposition-text


SIMPLE PAST TENSE

Simple past tense adalah bentuk tense yang menyatakan suatu tindakan yang selesai dilakukan
pada waktu tertentu di masa lalu. Dalam simple past tense, keterangan waktu biasanya disebut
atau dituliskan secara spesifik (contoh: yesterday, two days ago, last week, dsb).
Hal yang harus diingat adalah kata kerja yang digunakan dalam simple past adalah bentuk kata
kerja past tense (biasa disebut verb 2). Bentuk kata kerja kedua ini dibedakan menjadi 2, yakni
bentuk beraturan (regular) dan bentuk tidak beraturan (irregular).
Bentuk verb 2 beraturan (regular); hanya ditambah akhiran –ed, -d, atau -ied), antara lain:
• walk→walked,
• call→called,
• talk→talked,
• used→used,
• study→studied, dll.
Sedangkan, bentuk verb 2 tidak beraturan (irregular), antara lain:
• teach→taught,
• eat→ate,
• get→got,
• bring→brought,
• give→gave,
• drink→drank, dll.
RUMUS/POLA SIMPLE PAST TENSE
Berikut adalah rumus/pola simple past tense:
Kalimat Positif

Pola: Pola:
Subject + verb 2 + object Subject + be (was/were) + adjective/adverb/noun

I taught English. I was at school.

You taught English. You were at school.

We taught English. We were at school.


Pola: Pola:
Subject + verb 2 + object Subject + be (was/were) + adjective/adverb/noun

They taught English. They were at school.

He taught English. He was at school.

She taught English. She was at school.

Untuk kata kerja be (was/were):


• Gunakan was untuk subject I, he, she dan it.
• Gunakan were untuk subject you, we, dan they.
Kalimat Negatif

Pola: Pola:
Subject + did + NOT + bare Subject + be (was/were) + NOT +
infinitive* + object adjective/adverb/noun

I did not teach English. I was not at school.

You didn't teach English. You were not at school.

We didn't teach English. We weren't at school.

They didn't teach English. They weren't at school.

He didn't teach English. He wasn't at school.

She didn't teach English. She wasn't at school.

• *bare infinitive adalah kerja bentuk dasar, seperti: teach, see, eat, drink, get, walk, buy dan
lain-lain.
• Gunakan did not (didn’t) untuk semua subject (I, you, we, they, he, she dan it)
Kalimat Tanya

Pola: Pola:
Did + subject + bare infinitive* + Was/were + subject +
object? adjective/adverb/noun?
Pola: Pola:
Did + subject + bare infinitive* + Was/were + subject +
object? adjective/adverb/noun?

Did I teach English? Was I at school?

Did you teach English? Were you at school?

Did we teach English? Were we at school?

Did they teach English? Were they at school?

Did he teach English? Was he at school?

Did she teach English? Was she at school?

• *bare infinitive adalah kerja bentuk dasar, seperti: teach, eat, meet, study, play, give, talk dan
lain-lain.
• Gunakan did untuk semua subject (I, you, we, they, he, she dan it)
KAPAN KITA MENGGUNAKAN SIMPLE PAST TENSE?
Pertama, untuk menyatakan tindakan yang selesai dilakukan di masa lalu pada waktu tertentu;
pasti dan spesifik (definite and specific time).
Contoh kalimat:

My family and I traveled to Lombok last week.


(Saya dan keluarga bepergian ke Lombok minggu lalu.)

She bought this bag two days ago.


(Dia membeli tas ini dua hari yang lalu.)

We didn't go anywhere last night. We just stayed at home and watched television.
(Kami tidak pergi kemana-mana tadi malam. Kami hanya tinggal di rumah dan
menonton televisi.)

I met him when I was at coffee shop.


(Saya bertemu dengannya ketika saya ada di kedai kopi.)
My parents sold their car when I was ten.
(Orang tua saya menjual mobil mereka ketika saya berumur sepuluh tahun.)

He called me five minutes ago but I didn't answer his call.


(Dia meneleponku lima menit yang lalu tapi saya tidak menjawab telponnya.)

Did you come to Rina's house yesterday?


(Apakah kamu datang ke rumah Rina kemarin?)

Contoh lain jika waktu tidak disebutkan, dimana kita tahu bahwa suatu tindakan terjadi di waktu
tertentu. Kita lihat contoh berikut:
• Konser Craig David disiarkan di salah satu stasiun TV tadi malam, maka:

A: Did you watch Craig David's concert on TV?


(Apakah kamu menonton konser Craig David di TV?)

B:Yes, I did. Of course I watched it. It was a great performance.


(Ya, tentu saja saya menontonnya. Itu adalah penampilan yang luar biasa.)

Kedua, untuk menyatakan kebiasaan di masa lalu (past habit) biasanya menggunakan used
to (mengindikasikan kebiasaan masa lalu).
Contoh kalimat:

He always played football.


(Dia dulu selalu bermain sepakbola.)

We never ate 'jengkol'.


(Kita dulu tidak pernah makan jengkol.)

You used to drive car so fast.


(Kamu dulu biasa mengendarai mobil begitu cepat.)

We used to cook 'seblak' at home.


(Kita dulu biasa memasak seblak di rumah.)

Ketiga, digunakan dalam conditional sentence tipe 2.


Contoh kalimat:
If I met you, I would be happy.
(Jika saya bertemu denganmu, saya akan senang.)

We would travel to London if we were millionaires.


(Kita akan bepergian ke London jika kita adalah jutawan.)

If you got the first rank, you would easily get the scholarship.
(Jika kamu dapat peringkat pertama, kamu akan dengan mudah mendapatkan
beasiswa.)

PENANDA WAKTU DALAM SIMPLE PAST TENSE


Beberapa penanda/keterangan waktu (adverb of time) yang biasa digunakan dalam simple past,
antara lain: yesterday, last week, two days ago, ten minutes ago, last month, one hour ago, when
I was child, in 2002, on Sunday, the day before yesterday dll.