Anda di halaman 1dari 56

BAB 3 Virus

Virus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit


obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup
dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki
perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah
kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi
semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi
ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat
bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-
sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara
istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis
sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel).
Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan
fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya
ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya
virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus
mosaik tembakau/TMV).

STUKTUR VIRUS

Bakteriofag terdiri dari kepala polihedral berisi asam nukleat dan ekor untuk menginfeksi inang.
Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid (biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat
langsung dengan genom virus. Misalnya, pada virus campak, setiap protein nukleokapsid
terhubung dengan enam basa RNA membentuk heliks sepanjang sekitar 1,3 mikrometer.
Komposisi kompleks protein dan asam nukleat ini disebut nukleokapsid. Pada virus campak,
nukleokapsid ini diselubungi oleh lapisan lipid yang didapatkan dari sel inang, dan glikoprotein
yang disandikan oleh virus melekat pada selubung lipid tersebut. Bagian-bagian ini berfungsi
dalam pengikatan pada dan pemasukan ke sel inang pada awal infeksi.
Virus cacar air memiliki selubung virus.
Kapsid virus sferik menyelubungi genom virus secara keseluruhan dan tidak terlalu berikatan
dengan asam nukleat seperti virus heliks. Struktur ini bisa bervariasi dari ukuran 20 nanometer
hingga 400 nanometer dan terdiri atas protein virus yang tersusun dalam bentuk
simetri ikosahedral. Jumlah protein yang dibutuhkan untuk membentuk kapsid virus sferik
ditentukan dengan koefisien T, yaitu sekitar 60t protein. Sebagai contoh, virus hepatitis
B memiliki angka T=4, butuh 240 protein untuk membentuk kapsid. Seperti virus bentuk heliks,
kapsid sebagian jenis virus sferik dapat diselubungi lapisan lipid, namun biasanya protein kapsid
sendiri langsung terlibat dalam penginfeksian sel.
Beberapa jenis virus memiliki unsur tambahan yang membantunya menginfeksi inang.Virus
pada hewan memiliki selubung virus, yaitu membran menyelubungi kapsid.[  Selubung ini
mengandung fosfolipid dan protein dari sel inang, tetapi juga mengandung protein
dan glikoprotein yang berasal dari virus. Selain protein selubung dan protein kapsid, virus juga
membawa beberapa molekul enzim di dalam kapsidnya. Ada pula beberapa
jenis bakteriofag yang memiliki ekor protein yang melekat pada "kepala" kapsid. Serabut-serabut
ekor tersebut digunakan oleh fag untuk menempel pada suatu bakteri.  Partikel lengkap virus
disebut virion. Virion berfungsi sebagai alat transportasi gen, sedangkan komponen selubung
dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel inang.
Macam-macam infeksi virus
Virus dapat menginfeksi inangnya dan menyebabkan berbagai akibat bagi inangnya. ada yang
berbahaya, namun juga ada yang dapat ditangani oleh sel imun dalam tubuh sehingga akibat
yang dihasilkan tidak terlalu besar.

1. Infeksi akut merupakan infeksi yang berlangsung dalam jangka waktu cepat namun dapat
juga berakibat fatal. Akibat dari infeksi akut adalah:
o sembuh tanpa kerusakan (sembuh total);
o sembuh dengan kerusakan/cacat, misalnya polio;
o berlanjut kepada infeksi kronis;
o kematian.
2. Infeksi kronis merupakan infeksi virus yang berkepanjangan sehingga ada risiko gejala
penyakit muncul kembali. Contoh dari infeksi kronis adalah:
o silent subclinical infection seumur hidup, contoh: Cytomegalovirus (CMV);
o periode diam yang cukup lama sebelum munculnya penyakit, contoh: HIV
o reaktivasi yang menyebabkan infeksi akut, contoh: shingles;
o penyakit kronis yang berulang (kambuh), contoh: HBV, HCV;
o kanker, contoh: HTLV-1, HPV, HBV, HCV, HHV
Ciri-ciri Virus

Adapun ciri-ciri yang dimiliki virus adalah sebagai berikut.


1. Virus bisa bersifat seperti benda hidup, contohnya bisa berkembang biak jika berada di
dalam sel hidup.
2. Memiliki satu asam nukleat, DNA atau RNA saja.
3. Virus bisa bersifat seperti benda mati, contohnya tidak melakukan metabolisme, tidak
bernapas, tidak bergerak, dan berbentuk kristal jika berada di luar sel hidup.
4. Berukuran sangat kecil, yaitu antara 20 dan 300 nm.
Bentuk Virus

Ternyata, virus bermacam-macam bentuk, lho. Ingin tahu apa saja?


1. Berbentuk batang, contohnya TMV (Tobacco Mosaic Virus).
2. Berbentuk batang dan berujung oval seperti peluru, contohnya Rhabdovirus.
3. Berbentuk bulat, contohnya HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan Orthomyxovirus.
4. Berbentuk filamen atau benang, contohnya virus Ebola.
5. Berbentuk polihedral, contohnya Adenovirus.
6. Berbentuk seperti huruf T, contohnya bakteriofag, yaitu virus yang menyerang
bakteri Escherichia coli.
Berikut ini gambarnya.

Struktur Virus

Virus tidak digolongkan dalam organisme seluler karena tidak memiliki bagian-bagian sel
seperti, dinding sel, membran sel, sitoplasma, serta organel sel lainnya. Adapun struktur tubuh
virus bakteriofag adalah sebagai berikut.
1. Kepala
Kepala bagian dalam mengandung asam nukleat, sedangkan bagian luarnya diselubungi oleh
kapsid. Untuk virus bakteriofag, kepalanya berbentuk polihedral dengan jenis asam nukleatnya
DNA.
2. Kapsid
Kapsid merupakan selubung luar virus yang mengandung banyak subunit protein yang disebut
kapsomer. Kapsid terdiri dari beberapa bentuk, sehingga berpengaruh pada bentuk virusnya.
3. Asam nukleat
Asam nukleat yang dimiliki virus hanya satu, yaitu DNA atau RNA saja. Asam nukleat inilah
yang nantinya berfungsi sebagai informasi genetik untuk replikasi.
4. Leher
Leher merupakan penghubung antara kepala dan ekor. Leher berfungsi sebagai saluran keluarnya
asam nukleat menuju ekor.
5. Ekor
Ekor virus terdiri dari serabut ekor dan lempeng dasar. Ekor ini berfungsi untuk menempel pada
inang.
Berikut ini merupakan struktur virus selain bakteriofag yang telah ditemukan.

Cara Hidup Virus

Virus tergolong dalam parasit intraseluler obligat karena hanya dapat hidup di dalam sel yang
hidup. Artinya, jika sel tersebut mati, virus tidak akan mati melainkan mengristal. Sel hidup yang
ditumpangi virus disebut sel inang. Bagaimana cara virus mengenali inangnya? Yaitu
menggunakan sistem lock key atau kesesuaian. Berdasarkan jenisnya, sel inang dibagi menjadi
dua, kisaran inang luas dan kisaran inang sempit. 
Virus dengan kisaran inang luas bisa menginfeksi beberapa inang, contohnya virus flu burung
bisa menginfeksi unggas, babi, dan manusia. Sedangkan virus dengan kisaran inang sempit
hanya bisa menginfeksi inang tertentu saja, contohnya virus flu hanya menginfeksi sel-sel di
saluran pernapasan dan virus bakteriofag hanya bisa menginfeksi bakteri Escherichia coli.
Penularan virus dari satu inang ke inang yang lain bisa melalui udara, lendir, air, darah, atau
melalui perantara seperti nyamuk.
Perkembangbiakan Virus

Perkembangbiakan virus dikenal dengan istilah replikasi atau perbanyakan diri. Bagi virus, sel
inang merupakan sumber energi untuk sintesis protein. Perkembangbiakan virus dibagi menjadi
dua, yaitu daur litik dan lisogenik.
1. Daur litik
Terjadinya daur litik disebabkan oleh ketahanan sel inang lebih lemah daripada daya infeksi
virus. Akibatnya sel inang akan pecah dan mati, serta akan menghasilkan virion-virion baru.
Adapun tahapan pada daur litik adalah adsorpsi, penetrasi, sintesis dan replikasi, pematangan
atau perakitan, dan lisis.
2. Daur lisogenik
Daur lisogenik terjadi jika pertahanan tubuh inang lebih kuat daripada daya infeksi virus. Pada
daur ini sel inang masih bisa bereproduksi dengan normal dan tidak akan langsung pecah. Akan
tetapi, DNA virus bakteriofag akan berinteraksi dengan kromosom sel inang membentuk profag.
Saat sel inang yang mengandung profag tersebut membelah diri, barulah profag akan diwariskan
ke sel berikutnya. Adapun tahapan pada daur lisogenik adalah adsorpsi dan infeksi, pemetrasi,
penggabungan, pembelahan, sintesis. Untuk memahami lebih lanjut, silakan Quipperian simak
gambar berikut ini.

Klasifikasi Virus

Klasifikasi virus tergolong cukup banyak, yaitu berjumlah enam. Semuanya didasarkan pada
persamaan ciri yang dimiliki. Ingin tahu lebih lanjut?
1. Klasifikasi virus berdasarkan ada tidaknya selubung pada nukleokapsid
Terdapat dua kelompok virus dalam klasifikasi ini, yaitu sebagai berikut.
 Virus berselubung yaitu virus yang selubungnya terdiri dari lipoprotein dan
glikoprotein, contohnya Poxyvirus, Herpesvirus, Togavirus,
Rhabdovirus, dan  Paramyxovirus.
 Virus telanjang yaitu virus yang tidak memiliki selubung pada nukleokapsidnya,
contohnya Papovirus, Adenovirus, Picornavirus, dan Reovirus.
2. Klasifikasi virus berdasarkan jumlah kapsomernya
Terdapat lima kelompok virus dalam klasifikasi ini, yaitu sebagai berikut.
1. Virus dengan 32 kapsomer, contohnya Parvovirus.
2. Virus dengan 60 kapsomer, contohnya Picornavirus.
3. Virus dengan 72 kapsomer, contohnya Papovirus.
4. Virus dengan 162 kapsomer, contohnya Herpesvirus.
5. Virus dengan 252 kapsomer, contohnya Adenovirus.
3. Klasifikasi virus berdasarkan jenis sel inangnya
Berdasarkan jenis sel inangnya, virus dikelompokkan menjadi empat, yaitu sebagai berikut.
1. Virus penyerang bakteri, misalnya virus T.
2. Virus penyerang tanaman, misalnya TMV dan Tungro.
3. Virus penyerang hewan, misalnya virus rabies dan flu burung.
4. Virus penyerang manusia, misalnya polio, HIV, dan flu.
4. Klasifikasi virus berdasarkan tipe genom dan metode replikasinya
Berdasarkan tipe genom dan replikasinya, virus dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu sebagai
berikut.
1. Virus tipe I memiliki DNA utas ganda dan reproduksinya dengan cara replikasi,
contohnya Herpesvirus.
2. Virus tipe II memiliki DNA utas tunggal dan reproduksinya dengan cara replikasi,
contohnya virus MVM.
3. Virus tipe III memiliki RNA utas ganda dan reproduksinya secara replikasi,
contohnya Reovirus.
4. Virus tipe IV memiliki RNA utas tunggal (+) dan reproduksinya secara replikasi,
contohnya virus polio.
5. Virus tipe V memiliki RNA utas tunggal (-) dan reproduksinya secara replikasi,
contohnya virus rabies.
6. Virus tipe VI memiliki RNA utas tunggal (+) dengan DNA perantara dan reproduksinya
secara transkriptasi balik, contohnya virus AIDS.
7. Virus tipe VII memiliki RNA utas ganda dengan RNA perantara dan reproduksinya
secara transkriptasi balik, contohnya Heparnavirus.
5. Klasifikasi virus berdasarkan jenis asam nukleatnya
Berdasarkan asam nukleatnya, virus dikelompokkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1. Virus DNA yaitu virus yang asam nukleatnya berupa DNA, contoh Parvovirus.
2. Virus RNA yaitu virus yang asam nukleatnya berupa RNA, contoh Picornavirus.
6. Klasifikasi virus berdasarkan bentuk dasarnya
Berdasarkan bentuk dasarnya, virus dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.
1. Virus bentuk iksohedral memiliki sumbu rotasi ganda dan tata ruangnya dibatasi oleh 20
segitiga sama sisi, contohnya virus polio.
2. Virus helikal memiliki satu sumbu rotasi, bentuknya menyerupai batang panjang,
nukleokapsid tidak kaku, dan berbentuk heliks, contohnya virus flu.
3. Virus kompleks memiliki struktur lebih kompleks daripada jenis virus lainnya, contoh
virus cacar.
Manfaat Virus

Mungkin Quipperian bertanya-tanya, apakah benar jika virus bermanfaat? Bukannya virus selalu
merugikan makhluk hidup?
Jika ditinjau dari satu sisi saja, pernyataan di atas memang benar. Akan tetapi, jika dianalisis
kembali sifat, struktur, dan klasifikasinya, ternyata virus masih bisa dimanfaatkan untuk
membantu makhluk hidup. Apa saja manfaatnya?
1. Virus memiliki selubung yang tersusun dari subunit protein. Protein selubung dari virus
ini bisa dimanfaatkan untuk membuat vaksin protein agar terbentuk respon kekebalan
tubuh untuk melawan penyakit.
2. Bisa digunakan untuk terapi gen melalui rekayasa genetika.
3. Pengobatan secara biologis, yaitu dengan melemahkan atau membunuh bakteri yang
bersifat patogen.
4. Ilmuwan dari Inggris berhasil menginokulasi partikel virus dan mencampurnya dengan
senyawa Fe atau besi untuk membuat kapasitor.
5. Sebagai biopestisida, yaitu pestisida biologis di bidang pertanian yang tidak mencemari
lingkungan.
6. Produksi interferon, yaitu senyawa yang mampu mencegah replikasi virus di dalam
inang.
7. Pembuatan hormon insulin, dengan cara mencangkokkan virus ke dalam gen penghasil
insulin dalam tubuh bakteri agar dihasilkan insulin dalam jumlah besar.
Penyakit yang Disebabkan oleh Virus

Adapun penyakit yang disebabkan oleh virus, baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan adalah
sebagai berikut.
1. Cacar variola disebabkan oleh virus jenis Orthopoxvirus.
2. Campak disebabkan oleh Morbilivirus.
3. AIDS disebabkan oleh HIV, yaitu Human Immunodeficiency Virus.
4. Flu disebabkan oleh virus influenza atau parainfluenza.
5. Flu burung disebabkan oleh HPAIV yaitu High Pathogenic Avian Influenza Virus.
6. Rabies disebabkan oleh Rhabdovirus.
7. Tetelo disebabkan oleh virus NCD.
8. Mosaik disebabkan oleh TMV atau Tobacco Mosaic Virus.
BAB 4 FUNGI
Pengertian Jamur Secara Umum
Kata jamur berasal dari kata latin yakni fungi. Jamur (fungi) adalah yang sifatnya eukariotik
dan tidak berklorofil.  jamur (fungi) ini reproduksi dengan secara aseksual yang menghasilkan
spora, kuncup, dan fragmentasi. Sedangkan dengan secara seksual dengan zigospora, askospora,
dan basidiospora. Jamur (fungi) ini hidupnya ditempat-tempat yang berlembap, air laut, air tawar,
ditempat yang asam dan bersimbosis dengan ganggang yang membentuk lumut (lichenes).

Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang


mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya.
Kalangan ilmuwan kerap menggunakan istilah cendawan sebagai sinonim bagi Fungi.
Awam menyebut sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi,
meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya
sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran
keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda
(ingat metamorfosis pada serangga atau katak). Fungi memperbanyak diri
secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara:dua hifa dari jamur berbeda
melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan
aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak
spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang
membentuk spora adalah Rhizopus. Contoh jamur yang membentuk tunas adalah
Saccharomyces. Hifa jamur dapat terpurus dan setiap fragmen dapat tumbuh menjadi tubuh
buah.
Beberapa ciri-ciri morfologi, biokimia dan genetik dimiliki bersama dengan organisme lain,
sementara yang lain unik pada fungi, memisahkan fungi dari kerajaan lain dengan jelas:
Ciri-ciri yang dimiliki bersama:

 Dengan jenis eukariota lainnya: Sel fungi memiliki inti yang dibatasi membran


dengan kromosom yang mengandung DNA dengan daerah bukan pengode yang
disebut intron dan bagian pengode yang disebut ekson. Selain itu, sel fungi juga memiliki
beberapa organel sitoplasmik yang dibatasi membran seperti mitokondria, membran yang
mengandung sterol, dan ribosom bertipe 80S. Fungi memiliki kisaran karakteristik dari
karbohidrat dan senyawa penyimpanan yang dapat larut, termasuk alkohol
gula (misalnya, manitol), disakarida,(misalnya trehalosa),dan polisakarida (misalnya, glikoge
n, yang juga ditemukan pada hewaN).
 Dengan hewan: Fungi tidak mempunyai kloroplas untuk fotosintesis dan merupakan
organisme heterotrof, sehingga memerlukan senyawa organik sebagai sumber energinya.
 Dengan tumbuhan: Fungi mempunyai dinding seldan vakuola. Fungi bisa bereproduksi
secara seksual maupun aseksual, dan seperti kelompok tumbuhan basal (seperti tumbuhan
paku dan lumut daun), fungi akan menghasilkan spora. Mirip juga dengan lumut daun dan
alga, fungi memiliki nukleus yang haploid.
 Dengan euglenoid dan bakteri: Fungi tingkat tinggi, euglenoid, dan beberapa bakteri
menghasilkan asam amino L-lisin dalam langkah-langkah biosintesis spesifik, yang
disebut jalur α-aminoadipat.
 Sel-sel dari sebagian besar jamur tumbuh sebagai struktur berbentuk tabung, memanjang,
dan mirip benang (filamentous) yang disebut hifa, yang dapat mengandung banyak inti dan
tumbuh dengan menumbuhkan ujungnya. Setiap ujung berisi seperangkat vesikel agregat—
struktur seluler yang terdiri dari protein, lipid, dan molekul organik lainnya—yang
disebut Spitzenkörper. Baik fungi dan Oomycota tumbuh sebagai sel hifa yang
berfilamen. Sebaliknya, organisme yang tampak serupa, seperti ganggang hijau berfilamen,
tumbuh dengan pembelahan sel berulang dalam rantai sel. Ada juga fungi bersel satu
(khamir) yang tidak membentuk hifa, dan beberapa fungi memiliki bentuk hifa dan khamir.
 Seperti beberapa spesies tumbuhan dan hewan, lebih dari 70 spesies
fungi menunjukkan bioluminesensi
Ciri-ciri unik:

 Beberapa spesies tumbuh sebagai khamir uniseluler yang bereproduksi


dengan bertunas atau pembelahan biner. Fungi dimorfik dapat berpindah antara fase khamir
dan fase hifa untuk merespon kondisi lingkungan.
 Dinding sel fungi terbuat dari glukan dan kitin; meskipun glukan juga ada pada tumbuhan
dan kitin pada eksoskeleton dari artropoda, fungi adalah satu-satunya organisme yang
menyatukan kedua molekul struktural ini pada dinding selnya. Tidak seperti tumbuhan
dan Oomycota, dinding sel fungi tidak memiliki selulosa.

Omphalotus nidiformis, jamur bioluminesen


Kebanyakan fungi tidak memiliki sistem yang efisien untuk transportasi air dan nutrisi jarak
jauh, seperti xilem dan floem di banyak tumbuhan. Untuk mengatasi keterbatasan ini, beberapa
fungi, seperti Armillaria, membentuk rizomorf, yang menyerupai dan melakukan fungsi yang
mirip dengan akar tumbuhan. Sebagai eukariota, fungi memiliki jalur biosintesis untuk
memproduksi terpena yang menggunakan asam mevalonat dan pirofosfat sebagai blok
pembangun kimia. Tumbuhan dan beberapa organisme lain memiliki jalur biosintesis terpena
tambahan di dalam kloroplasnya, struktur yang tidak dimiliki fungi dan hewan. Fungi
menghasilkan beberapa metabolit sekunder yang strukturnya mirip atau identik dengan yang
dibuat oleh tumbuhan. Banyak enzim tumbuhan dan fungi yang membuat metabolit sekunder
yang berbeda satu sama lain dalam urutan dan karakteristik lainnya, yang menunjukkan asal-usul
yang terpisah dan evolusi konvergen dari enzim-enzim ini pada fungi dan tumbuhan.

Ciri-Ciri | Karakteristik Fungi

Ciri-ciri jamur adalah sebagai berikut: 

 Merupakan organisme eukaryota. Sel Fungi mempunyai inti yang terbungkus membran
yang mengandung DNA (intron dan ekson), juga mempunyai organel yang terbungkus membran
seperti mitokondria.
 Fungi tidak mempunyai kloroplas, sehingga merupakan organisme heterotrof. Fungi
memperoleh nutrisi dari menguraikan bahan organik (saprotrof) atau bersifat parasit.
 Fungi mempunyai dinding sel dan vakuola
 Dinding sel Fungi tersusun atas glukan dan kitin; glukan juga terdapat pada tanaman dan
kitin terdapat pada rangka luar arthropoda. Fungi adalah satu-satunya organisme yang dapat
menggabungkan dua struktur molekul ini dalam dinding sel. Dinding sel pada jamur sejati tidak
mengandung selulosa. 
 Sel-sel dari kebanyakan Fungi tumbuh berbentuk tabung, memanjang, dan seperti benang
(filamen) yang disebut dengan hifa. Tabung itu sendiri dapat tanpa sekat, atau bersekat-sekat dan
terbagi menjadi kompartemen-kompartemen (sel), sekat tersebut disebut dengan septa. Hifa
yang tidak bersekat disebut dengan senositik (coenocytic). Pada hifa jenis ini terdapat banyak
inti sel yang tersebar dalam sitoplasma (multinukleat). Hifa kemudian bercabang berulang kali
menjadi jaringan rumit dan meluas secara radial yang disebut miselium, yang kemudian
membentuk talus.
 Lebih dari 70 spesies Fungi menampilkan bioluminesensi.
 Jamur ditemukan di semua daerah beriklim sedang dan tropis, asalkan ada kelembaban
yang cukup untuk memungkinkan mereka tumbuh.

Ragi (yeast) | Photo by Bob Blaylock is licensed under CC-BY-SA-3.0

Cendawan (mold) | Photo by Calimo is licensed under CC-BY-SA-3.0


Struktur Morfologi Fungi

Struktur tubuh jamur tersusun atas benang-benang (filamen) berbentuk silinder dengan diameter
2-10 µm, panjang beberapa sentimeter, yang tertutup oleh dinding sel yang kaku. Filamen ini
disebut dengan hifa, yang kemudian bercabang berulang-ulang menjadi jaring-jaring kompleks
yang disebut miselium. Hifa dapat tanpa henti (tanpa sekat), atau bersekat-sekat dan terbagi
menjadi kompartemen-kompartemen (sel), sekat tersebut disebut dengan septa, sedangkan hifa
yang tidak bersekat disebut dengan senositik. Miselium tumbuh dengan menggunakan unsur hara
dari lingkungan, lalu ketika mencapai tingkat kematangan tertentu, dapat bercabang untuk
menjadi tangkai spora (konidiofor atau sporangiofor) yang membentuk spora
(konidiospora atau sporangiospora) untuk berkembang biak. Beberapa Fungi, seperti ragi,
tidak membentuk miselium tetapi tumbuh sebagai sel tunggal yang berkembang biak
dengan budding (tunas) atau pada jenis tertentu dengan membelah diri.

Struktur Morfologi Fungi

Struktur tubuh jamur tersusun atas benang-benang (filamen) berbentuk silinder dengan diameter
2-10 µm, panjang beberapa sentimeter, yang tertutup oleh dinding sel yang kaku. Filamen ini
disebut dengan hifa, yang kemudian bercabang berulang-ulang menjadi jaring-jaring kompleks
yang disebut miselium. Hifa dapat tanpa henti (tanpa sekat), atau bersekat-sekat dan terbagi
menjadi kompartemen-kompartemen (sel), sekat tersebut disebut dengan septa, sedangkan hifa
yang tidak bersekat disebut dengan senositik. Miselium tumbuh dengan menggunakan unsur hara
dari lingkungan, lalu ketika mencapai tingkat kematangan tertentu, dapat bercabang untuk
menjadi tangkai spora (konidiofor atau sporangiofor) yang membentuk spora
(konidiospora atau sporangiospora) untuk berkembang biak. Beberapa Fungi, seperti ragi,
tidak membentuk miselium tetapi tumbuh sebagai sel tunggal yang berkembang biak
dengan budding (tunas) atau pada jenis tertentu dengan membelah diri.

Miselium-miselium Fungi dapat dilihat dengan mata telanjang, seperti pada dinding basah dan
makanan basi. Fungi ini yang sering disebut dengan cendawan (mold). Miselium yang tumbuh
pada media laboratorium umumnya disebut koloni. Koloni ini dapat menunjukan bentuk dan
warna karena pigmentasi dan warna, yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi spesies atau
kelompok.
Fungi tidak memiliki tubuh yang terdiferensiasi dengan jelas, sehingga tidak memiliki akar,
batang, dan daun. Tubuh seperti ini disebut dengan talus. Semua bagian dari talus memiliki
potensi untuk tumbuh. Apabila potongan miselium ditempatkan pada kondisi yang tepat untuk
tumbuh, miselium ini kemudian tumbuh menjadi talus baru bahkan jika tidak ada ujung yang
tumbuh yang termasuk dalam bagian yang dipotong.

Jamur-basidiokarp | Photo by Dohduhdah is not licensed (Public Domain)

Apotesium, struktur khusus yang penting dalam reproduksi seksual pada Ascomycetes,
berbentuk seperti mangkok yang memegang lapisan jaringan yang mengandung sel-sel pembawa
spora. Tubuh buah ini pada Basidiomycetes (basidiocarps), dan beberapa Ascomycetes kadang
dapat tumbuh sangat besar, dan merupakan bentuk “buah” jamur yang umum kita kenal.

SISTEM REPRODUKSI FUNGI (JAMUR)


Reproduksi pada jamur terdiri atas dua yaitu reproduksi secara generative (seksual) dan
vegetative (aseksual).
1. Reproduksi Generatif (seksual)
 Biasanya jamur bereproduksi secara generative karena kondisi lingkungan yang berubah
atau pada kondisi darurat lainnya. Keturunan yang dihasilkan memiliki genetic yang beragam
dan lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.
 Reproduksi secara generative didahului dengan pembentukan spora seksual yang
memiliki jenis hifa yang berbeda.
 Hifa (+) dan hifa (-) yang berkromosom haploid (n) mendekat dan membentuk
gametangium (organ yang menghasilkan gamet).
 Gametangium berplasmogami yaitu peleburan sitoplasma dan kemudian membentuk
zigosporangium dikariotik (heterokarotik) dengan pasangan nucleus haploid yang belum bersatu.
Zigosporangium ini memiliki dinding sel yang tebal dan kasar yang memungkinkan untuk
bertahan pada kondisi lingkungan yang buruk dan kering.
 Bila kondisi lingkungannya membaik, zigosporangium akan menjadi kariogami
(peleburan inti) sehingga zigosporangium memiliki inti yang berkromosom diploid (2n).
 Zigosporangium yang berinti haploid (2n) akan mengalami pembelahan secara mitosis
yang menghasilkan zigospora haploid (n) didalam zigosporangium.
 Zigospora haploid (n) akan berkecambah membentuk sporangium bertangkai pendek
dengan kromosom haploid (n).
 Sporangium haploid (n) akan menghasilkan spora-spora yang haploid (n) yang memiliki
keanekaragaman genetik.
 Bila spora-spora haploid (n) jatuh di tempat yang sesuai, spora akan berkecambah
(germinasi) menjadi hifa jamur yang haploid (n). Hifa akan tumbuh membentuk jaringan
miselium yang semuanya haploid (n).

2. Reproduksi Vegetatif ( Aseksual)


 Pada jamur yang uniseluler reproduksi vegetative dilakukan dengan pembentukan tunas
yang akan tumbuh menjadi individu baru. Pada jamur yang multiseluler dilakukan dengan cara
fragmentasi hifa dan pembentukan spora vegetative.
 Fragmentasi hifa (pemutusan hifa), potongan hifa yang putus tumbuh menjadi individu
baru
 Pembentukan spora vegetative yang berupa sporangiospora dan konidiospora.
 Jamur yang telah dewasa menghasilkan spongiofor (tangkai kotak spora).
 Pada ujung sporangiofor terdapat sporangium (kotak spora).
 Di dalam kotak spora pembelahan sel dilakukan secara  mitosis dan menghasilkan banyak
sporangiospora dengan kromosom yang haploid (n).
 Adapun jamur jenis lain menghasilkan konidiofor (tangkai konidia).
 Pada ujung konidiofor terdapat konidium (kotak konidiospora). Di dalam konidium
terjadi pembelahan sel secara mitosis yang menghasilkan banyak konidiospora dengan
kromosom yang haploid (n).
 Baik sporangiospora maupun konidiospora, bila jatuh di tempat yang sesuai akan tumbuh
menjadi hifa baru yang haploid (n).

REPRODUKSI FUNGI (JAMUR)


Klasifikasi Jamur
Berdasarkan struktur tubuh dan cara reproduksinya jamur dibagi menjadi 4 divisi, klasifikasi
jamur berdasarkan cara reproduksi secara generative (seksual), yaitu:
1. Divisi Zygomycota
2. Divisi Ascomycota
3. Divisi Basidimycota
4. Divisi Deuteromycota

1. Zygomicota
 Dinamakan zygomicota karena membentuk spora dengan dinding tebal yang disebut
dengan zigospora.
 Berhabitat di darat, tanah atau pada sisa organisme yang telah mati.
 Hidup sebagai saprofit (pengurai zat organic).
 Memiliki miselium bercabang banyak dan tidak bersekat.
 Memiliki hifa senositik
 Miselium memiliki tiga tipe hifa yaitu stolon, rizoid dan sporangiofor.
 Bereproduksi secara seksual dan aseksual
 Berperan dalam pembuatan makanan seperti Rhizopus oryzae pada pembuatan tempe
 

ZYGOMYCOTA

2. Ascomycota
 Menghasilkan askospora pada reproduksi generative
 Memiliki talus uniseluler dan multiseluler
 Memiliki hifa yang bersepta dan tiap septa memiliki satu inti
 Dinding hifa diperkuat dengan selulosa dan bersifat heterokaritik
 Reproduksi vegetative dengan memperbanyak konidia, spora, tunas dan fragmentasi
 Reproduksi generative dengan konjugasi yang digunakan untuk membentuk askospora di
dalam askus. Askus biasanya dibentuk dalam tubuh buah dinamakan askokarp (askoma).
 

ASCOMYCOTA

3. Basidiomycota
 Memiliki hifa yang bersepta dengan sambungan apit
 Bersifat saprobe
 Tubuh buah seperti paying
 Memiliki tangkai asimetris, pendek dan ada yang tidak bertangkai
 Basidiospora terdapat pada permukaan lamela atau bila yang terbentuk dibagian bawah
tudungnya
 Umumnya dinamakan dengan Mushroom
 Reproduksi aseksual dengan tunas, fragmentasi, dan konidia. Sedangkan pada reproduksi
secara seksual adalah dengan cara membentuk basidiospora.
 Basidiospora menghasilkan basidium yang memiliki bentuk seperti gada. Basidium ada
yang bersekat, dan ada juga yang tidak bersekat.
 memiliki manfaat yang dalam kehidupan manusia seperti Auricularia politricha (jamurk
kuping) dapat dimakan, Volvariella volcaea (jamur merang) dapat dimakan, Ganodema
applanatum digunakan sebagai obat (makanan suplemen). Ustilago scitaminae (jamur karat).
 

BASIDIOMYCOTA

4. Deuteromycota
 Memiliki hifa yang bersepta dan tubuh mikroskopis
 Reproduksi vegetative dilakukan dengan membentuk spora dan konidia.
 Reproduksi generatif belum diketahui sehingga mengapa Deuteromycota disebut dengan
jamur tak sempurna.
 Multiseluler
 Bersifat parasitisme atau menyebabkan penyakit pada makhluk hidup lainnya.
 Penyakit pada manusia yang disebabkan oleh jamur ini yaitu Kurap yang disebabkan oleh
Microsporum, Trichophytom, dan Epidermophyton dan panu oleh Tinea vesicolor

DEUTEROMYCOTA
TUGAS BIOLOGI

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
NAMA : ALYA NURHASANAH
KELAS : X IPA 2

SMAN 1 PANGKALAN BARU


TAHUN AJARAN 2019-2020

TUGAS BIOLOGI

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
NAMA : RANI PERMATA SARI
KELAS : X IPA 2

SMAN 1 PANGKALAN BARU


TAHUN AJARAN 2019-2020
BAB 2 KEANEKARAGAMAN HAYATI

A.  Pengertian Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas)


Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas) merupakan keanekaragaman organisme yang
menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah.

B.  Tingkat Keanekaragaman Hayati


1.    Keanekaragaman Gen
                             Gen adalah substansi kimia sebagai faktor penentu sifat keturunan. Gen terdapat
di dalam lokus kromosom.
                             Keanekaragaman Tingkat Gen merupakan variasi yang terdapat dalam satu
spesies baik dalam satu populasi ataupun di antara banyak populasi atau variasi gen yang terjadi
dalam suatu jenis atau spesies makhluk hidup. Contohnya: Bunga Mawar Merah (Rosa
Hiproida  atau Rosa sp.), Bunga Mawar putih (Rosa sericea Lindl.)dan Bunga Mawar
Kuning. Contoh lainnya: Pada Manusia adalah variasi bentuk hidung, warna kulit, golongan
darah dan bentuk rambut pada manusia. Pada Hewan Misalnya: Variasi Bentuk Pial Ayam
yaitu Gerigi, biji, bilah dan sumpel. Variasi jenis anjing: anjing bulldog, doberman, Collie,
herder, anjing kampung, dan sebagainya.

Gambar 1. Bunga Mawar

Gambar 2. Bentuk Pial Ayam

Gambar 3. Macam – macam Anjing

Tingkat Keanekaragaman Gen ternyata tidak terdapat pada gen saja, melainkan ada juiga
faktor lain yang berperan memengaruhi keanekaragaman gen ini, yaitu Lingkungan. Sifat yang
muncul pada individu merupakan interaksi antara gen dengan lingkungan.
2.    Keanekaragaman Tingkat Jenis (Spesies)
Keanekaragaman tingkat spesies adalah variasi antarspesies di dalam ekosistem.Variasi
antarspesies, misalnya dalam satu genus, famili atau tingkatan taksonomi lebih tinggi lainnya
mudah diamati dari pada variasi dalam satu spesies. Contohnya: Keanekaragaman Tingkat Jenis
dalam satu genus Panthera yaitu Harimau (Panthera tigris) dan macam tutul (Panthera pardus).
Kedua jenis tersebut memiliki ukuran, bentuk tubuh, warna bulu, tipe loreng dan lingkungan
hidup yang berbeda. Contoh lainnya: keluarga kacang –kacangan, ada kacang kapri (Pisum
sativum L.),  kacang kedelai (Glycine max (L.) Merr.), kacang tanah (Arachis hypogeae L.) dan
sebagainya.

Gambar 4. Keanekaragaman jenis pada genus Panthera

Gambar 5. Keanekaragaman jenis pada tumbuhan kelompok Palmae

3.    Keanekaragaman tingkat Ekosistem


Ekosistem adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu
dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Komponen abiotik yang beragam menyebabkan jenis makhluk hidup (biotik) yang dapat
beradaptasi dengan lingkungan tersebut berbeda – beda. Akibatnya akan
terbentuk keanekaragaman ekosistem.Keanekaragaman tingkat Ekosistem merupakan variasi
beragam Ekosistem di lapisan Biosfer.Variasi tersebut terjadi karena komponen biotik dan
kondisi abiotik setiap ekosistem berbeda. Misalnnya: Posisi Geografi dan Iklim berpengaruh
terhadap Biodiversitas pada suatu daerah. Contoh keanekaragaman hayati tingkat
ekosistem adala Hutan Hujan Tropis, hutan Gurun, Ekosistem Laut.
Gambar 6. Keanekaragaman Tingkat Ekosistem

Jenis organisme yang menyusun setiap ekosistem berbeda- beda. Ekosistem hutan hujan
tropis.Misalnya: diisi pohon- pohon tinggi berkanopi, rotan, Anggrek (Orchidaceae), Paku-
Pakuan, Burung, Harimau (Panthera tigris), Monyet (Macaca fascicularis), Orang Utan
(Mawas Pongo pygmaeus), Kambing hutan, Ular (Aerochordus granulatus), Rusa (Cervus
timorensis), Babi (Artamus leucorynchus) dan Berbagai Jenis Serangga.
Pada ekosistem sungai terdapat ikan, kepiting, udang, ular dan ganggang air tawar.
Keanekaragaman ekosistem di suatu wilayah ditentukan oleh berbagai faktor antara lain posisi
tempat berdasarkan garis lintang, ketinggian tempat, iklim, cahaya matahari, kelembapan, suhu
dan kondisi tanah.

C.  Sebaran Keanekaragaman Hayati di Permukaan Bumi


        Setiap organisme tinggal dan beradaptasi di habitat yang sesuai dengan karakteristik
hidupnya. Di bumi, terdapat beraneka ragam ekosistem yang memiliki karakteristik yang beda-
beda. Beranekaragamannya ekosistem merupakan salah satu faktor yang sangat memengaruhi
pola sebaran makhluk hidup.
1.    Wilayah Sebaran Makhluk hidup
               Wilayah sebaran makhluk hidup disebut Biogeografi.Wilayah sebaran mahkluk hidup
dibedakan menjadi 2 jenis berdasarkan jenis makhluk hidupnya yaitu zoogeografi dan
fitogeografi.Zoogeografi adalah peta wilayah persebaran untuk hewan,
sedangkan fitogeografi adalah peta wilayah persebaran untuk tumbuhan.
a)    Zoogeografi
                    Pada tahun 1876, seorang ilmuwan inggris bernama Alfred Russel Wallace melakukan
penelitian tentang sebaran hewan di permukaan bumi.Berdasarkan penlitiannya, setiap wilayah
memiliki hewan dengan kekhasan tersendiri sesuai dengan letak geografisnya. Wallace membagi
wilayah persebaran hewan di permukaan bumi menjadi 6 wilayah utama yaitu Oriental,
Paleartik, Ethiopia, Neartik, Neotropik dan Australasia.

Gambar 7. Wilayah Wallace


Gambar 8. Pembagian Wilayah Wallace

b)   Zona Oriental
Zona ini secara esensial membentuk wilayah Asia dengan kepulauan- kepulauan yang
berdekatan, seperti India, Srilanka, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Kepulauan Formosa
dan Filiphina. Contoh hewan yang hidup di daerah oriental antara lain harimau, gajah, orangutan,
badak bercula satu dan dua, antilop dan tapir. Zona ini mempunyai barier berupa samudra atau
gurun pasir.

c)    Zona Paleartik
Zona ini meliputi hampir seluruh Eurasia, Himalaya, Persia, Afganistan, Afrika, Inggris
dan Jepang.Zona ini merupakan wilayah yang memiliki perbedaan dan perubahan suhu yang
tinggi serta perbedaan curah hujan dan keanekaraman yang tinggi.Contoh hewan yang hidup di
wilayah ini seperti landak, bison, kucing kutub, beruang dan menjangan.
d)   Zona Ethiopia
Zona ini meliputi Afrika di sebelah Selatan Sahara, Madagaskar dan Arab.Contoh hewan
yang hidup di wilayah Ethiopia yaitu Jerapah, Zebra, Unta, Badak Afrika, Primata seperti Lemur,
Gorila dan Simpanse.
e)    Zona Neartik
Zona ini meliputi Amerika Utara dan Seluruh daerah Greenland. Kondisi fisik lingkungan
bersalju, hutan gugur, padang rumput atau hutan konifer. Hewan yang hidup di zona ini ada
kesamaan dengan wilayah Paleartik, contohnya : Kalkun, Salamander, bison, dan Caribou.
f)    Zona Neotropik
Zona ini meliputi meksiko bagian selatan hingga Amerika bagian tengah dan Amerika
selatan.Kondisi lingkungan sebagian besar beriklim tropis dan sebagian beriklim subtropis.
Hewan yang hidup di wilayah tersebut antara lain Armadilo, Giant anteaater dan Ungulata
(Hewan berkuku) seperti menjangan, babi, antilop dan kuda.
g)   Zona Autralasia
Zona ini meliputi Autralia, Selandia Baru, Papua, Maluku dan pulau di  sekitarnya.
Kondisi lingkungan di wilayah ini sebagian besar beriklim tropis dan sebagia lagi subtropis.
Beberapa hewan yang hidup di zona ini antara lain kangguru, koala, burung kasuari dan
cendrawasih.
h)   Fitogeografi
Persebaran tumbuhan di permukaan bumi sangat dipengaruhi oleh iklim, seperti
temperatur, kelembapan, curah hujan, dan intensitas cahaya.Selain itu, persebaran tumbuhan
dipengaruhi pula oleh kondisi tanah dan letak geografisnya.

2.    Faktor yang memengaruhi sebaran makhluk hidup


a)    Faktor Geografi
Faktor geografi ini sangat memengaruhi sebaran makhluk hidup. Suatu organisme akan
terhambat persebarannya karena terhalang oleh bebrapa faktor geografis seperti terhalang laut
atau gunung yang tinggi. Kondisi tersebut menyulitkan suatu organisme untuk berpindah karena
tidak bisa melampaui halangan tersebut.
b)   Faktor Reproduksi
Faktor lain yang dapat terhambat persebaran suatu organisme adalah faktor reproduksi.
Faktor ini menyebabkan tidak terjadinya perkawinan interspesies. Hal ini dapat terajdi karena
beberapa faktor antara lain :
c)    Faktor Prezigotik yaitu hambatan saat dan sebelum perkawinan atau fertilisasi. Contohnya :
pada pohon jenis Platanus occidentalis di bagian timur amerika dan Platanus orientalis di
bagian timur laut tengah. Kedua spesies ini sebenarnya dapat disilangkan dan menghasilkan
hibrid  yang fertil, namun karena keduanya hidup di dua tempat yang berjauhan, maka fertilisasi
kedua spesies tersebut tidak mungkin terjadi.
d)   Faktor Post Zigotik yaitu hambatan yang terjadi setelah terjadi fertilisasi atau saat
perkembangan menuju dewasa. Contohnya : beberapa spesies katak dalam genus Rana bisa
hidup pada habitat yang sama dan kadang terjadi fertilisasi. Akan tetapi, keturunan yang
dihasilkan umumnya tidak berkembang kemudian mengalami kematian.
e)    Faktor Endemisme
                    Faktor endemisme dapat menyebabkan kekhasan suatu organisme yang dipengaruhi
oleh kekhasan habitatnya sehingga organisme tersebut hanya terdapat pada habitat tertentu saja.

D.  Keanekaragaman Hayati Indonesia


             Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah tropis, berada di antara dua benua yaitu
benua Asia dan Autralia.
1.    Persebaran Fauna (Hewan) di Indonesia
                    Berdasarkan letak Geografisnya, wilayah Indonesia dilewati oleh dua garis khayal
yaitu Garis Wallace dan Garis Weber.Kedua garis khayal ini menyebabkan terjadinya
perbedaan persebaran hewan di Indonesia.

Gambar 9. Persebaran Hewan di Garis Wallace dan Garis Weber

a.    Daerah sebelah barat garis Wallace


                    Wilayah Indonesia termasuk ke dalam daerah di sebelah barat Garis Wallace meliputi
Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.Di daerah ini ditemukan berbagai jenis fauna
oriental.Jenis–jenis fauna tersebut adalah Gajah (Elephas maximus), Tapir (Acrocodia
indica), Badak Bercula Satu (Rhinoceros sundaicus), Harimau Sumatera (Panthera tigris-
sumatranus), Orang Utan (Mawas Pongo pygmaeus) dan Beruang Madu (Helarctos
malayanus).Tipe fauna Oriental dicirikan dengan hewan menyusui yang berukuran besar,
berbagai macam Kera dan Ikan Air Tawar.
      Gambar 10. Jenis Fauna di bagian Barat Indonesia

b.   Daerah sebelah Timur Garis Wallace


                    Wilayah Indonesia yang ada di sebelah timur Garis Wallace memiliki berbagai jenis
fauna Autralian yaitu berbagai jenis burung dengan warna bulu yang
mencolok. Misalnya: Kasuari (Casuarius casuarius), Cenderawasih, Kakaktua (Cacatua
galerita), Nuri (Tanygnathus sumatranus)dan Parkit. Jenis fauna lainnya yaitu Komodo
(Varanus komodoensis), Babi Rusa (Babyrousa babyrussa)dan Kuskus (Phalanger spp.).

Gambar 11. Jenis Fauna di bagian Timur Indonesia

c.    Daerah Peralihan (wilayah Wallacea)


                    Daerah peeralihan adalah daerah di antara dua garis Wallace dan Weber.Disebut juga
wilayah Wallacea.Semakin ke timur dari garis Wallace, jumlah fauna Oriental semakin
berkurang.Sebaliknya semakin ke barat dari garis Weber fauna Australian semakin
berkurang.Sementara itu hewan- hewan oriental. Misalnya: Burung Hantu (Otus migicus
beccarii), Bajing (Callosciurus nigrevitatus) dan Babi (Artamus leucorynchus) melintasi Garis
Wallace sampai ke Sulawesi. Hewan Australian yang lainnya.Misalnya : Anoa (Anoa
depressicornis), Maleo (Macrocephalon maleo).

Gambar 11. Jenis Fauna Bagian Daerah Peralihan


2.    Persebaran Tumbuhan (Flora) di Indonesia
                    Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia dalam hal tumbuh- tumbuhan.
Daerah di Indonesia yang memiliki jenis Tumbuhan terkaya adalah hutan hujan primer dataran
rendah kalimantan dengan 34% dari 100.000 jenis tumbuhan berbiji endemik.
                    Flora Indonesia termasuk flora kawasan Malesiana yang meliputi Malaysia, Filipina,
Indonesia dan Papua Nugini. Indonesia memiliki 2 di antara lima bioma di dunia yaitu bioma
hutan hujan tropis dan bioma savana. Bioma hutan hujan tropis memiliki keanekaragaman
tumbuhan yang sangat tinggi.Di dalama bioma tersebut terdapat 10% jenis tumbuhan yang ada di
dunia.
                    Tumbuhan khas Malesiana yang terkenal adalah Raflesia arnoldi (Bunga
Raflesia).Tumbuhan ini merupakan tumbuhan parasit yang hidup melekat pada akar atau batang
tumbuhan pemanjat Tetrasigma.Penyebaran Raflesia meliputi Sumatera (Aceh dan Bengkulu),
Malaysia, Kalimantan dan Jawa.
                    Selain itu, terdapat juga Amorphophallus titanum yang sering disebut Bunga
Bangkai.Amorphophallus merupakan flora khas Indonesia yang terdapat di
Sumatera. Keanekaragaman tumbuhan lainnya yang bernilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan
antara lain tumbuhan berbuah seperti Durian (Durio Zibethinus), Rambutan (Nephellium
lappacium), Kedondong (Spondias dulcis), Salak (Salacca edulis), dan masih banyak buah-
buahan khas tropis lainnya.

Gambar 12. Bunga Raflesia

a.    Keanekaragaman Tumbuhan Di Hutan Hujan Tropis


             Hutan Hujan Tropis menunjukkan terbentuknya berbagai jenis ekosistem dann keragaman
luar biasa tumbuhan, dilihat dari ukuran, bentuk, pola pertumbuhan dan perawakan.Sifat
mencolok dari hutan ini adalah ditemukannya Liana.Liana merupakan tumbuhan berakar ke
tanah mempunyai batang panjang, agak ramping, berkelok- kelok, menjalar, dan membelit atau
mengait dalam susunan khas. Contohnya Talas- Talasan, Pandan merambat, Palem dan Rotan.
             Ciri hutan Hujan Tropis lainnya adalah ditemukannya herba besar seperti Jahe, Pisang dan
Marantaceae. Epifit merupakan bentuk kehidupan lain yang berlimpah- limpah di hutan tropis
basah. Epifit tidak berakar di tanah tetapi menempel pada tumbuhan lain terutama
pohon. Contohnya: Paku-Pakuan dan Anggrek
             Tumbuhan  lain yang tumbuh di hutan tropis basah adalah tumbuhan yang tidak mempunyai
klorofil sehingga hidupnya bersifat saprofit dan parasit. Contohnya : Rafflesia Arnoldi.

b.    Keanekaragaman Tumbuhan Di Hutan Musim


             Hutan musim berbeda dengan hutan tropis basah dalam hal keragaman
tumbuhannya.Beberapa palem terdapat di hutan ini, sedangkan jenis Liana, Paku, dan anggrek
tidak ditemukan.
             Persebaran hutan musim di Indonesia membentuk kelompok hutan kecil yang berada di
antara tipe vegetasi lainnya. Contoh hutan musim: di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.
Banyak jenis pohon hutan musim Indonesia yang menghasilkan Kayu, Minyak dan Makanan
seperti Pohon Jati (Tectona grandis L.f), Cendana (Saltanum album), Kayu Putih (Melaleuca
leucadendra), Kemiri (Aleurites moluccanus) dan Asam Jawa (Tamarindus indica).

c.    Keanekaragaman Tumbuhan Di Lahan Hutan Savana


             Savana ditemukan di daeraah kering di Indonesia, umumnya digunakan sebagai tempat
berburu dan menggembala.Jenis tumbuhan yang mendominasi adalah Rumput- Rumputan dan
Herba, sedangkan pohon jarang ditemukan.Umumnya tumbuhan yang banyak ditemukan adalah
tumbuhan Xerofit.

E.  Manfaat Keanekaragaman Hayati di Indonesia


                    Manusia membutuhkan tumbuhan dan hewan untuk menjaga keberlangsungan
hidupnya.Jenis- jenis tumbuhan dan hewan di manfaatkan oleh manusia sebagai bahan pangan,
sandang dan papan.Selain itu, jenis tumbuhan dan hewan lainnya dimanfaatkan manusia sebagai
untuk dibudidayakan, bahan obat- obatan, bahkan dimanfaatkan juga sebagai keindahan.
             Beberapa manfaat tumbuhan dan hewan bagi manusia tersebut yaitu :
1.    Bahan Pangan
               Manusia memperoleh makanan dari makhluk hidup lain yaitu tumbuhan dan hewan.
Sumber makanan dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan manusia
diantaranya sebagai berikut:
a.    Bahan makanan yang berfungsi sebagai makanan pokok.
     Misalnya: Padi (Oryza sativa),Jagung (Zea mays),Gandum (Triticum), Sagu (Metroxylon
sagu Rottb.), Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.), Singkong (Manihot esculenta Crantz) dan
Talas (Colocasia esculenta (L.)Schott).
b.    Bahan makanan yang berfungsi sebagai lauk pauk.
     Misalnya: Ikan, Ayam (Gallus gallus domesticus), Sapi (Bos taurus), Kambing (Capra
aegagrus hircus) dan Udang (Caridea).
c.    Bahan makanan yang berfungsi sebagai sayuran.
     Seperti: Bayam (Amaranthus), Kangkung (Ipomoea aquatica), Sawi (Brassica rapa var.
Parachinensis), Kubis (Brassica oleracea var. Capitata), Tomat (Solanum lycopersicum),
Buncis (Phaseolus vulgaris), Wortel (Daucus carota)dan Jagung (Zea mays).
d.   Bahan makanan yang berfungsi sebagai buah- buahan.
     Misalnya: Mangga (Mangifera Indica), Apel (Malus domestica Borkh), Rambutan (Nephelium
lappaceum), Durian (Durio), Kelengkeng (Dimocarpus longan) dan Anggur(Vitis vinifera).

2.    Bahan Sandang
               Manusia hidup membutuhkan pakaian walaupun pakaian yang dikenakan penduduk dunia
memiliki bentuk, model dan bahan yaang berbeda- beda. Misalnya: Kapas, Ulat Sutra untuk
membuat kain sutera yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi, kulit hewan seperti sapi atau
kambing bisa digunakan untuk membuat Jaket, Kulit Sapi bisa digunakan untuk membuat sepatu,
bulu burung digunakan untuk membuat aksesori pakaian.
3.    Bahan Bangunan dan Alat- Alat Rumah Tangga
               Sebagian besar komponen barang- barang terbuat dari bahan besi, plastik atau kayu.Bahan
kayu berasal dari tumbuhan. Beberapa jenis tumbuhan dapat digunakan sebagai sumber bahan
bangunan dan alat- alat rumah tangga antara lain: Jati, Mahoni, Sonokeling, Bangkirai, Sengon,
Kruing, Ulin, Kelapa dan Bambu.
4.    Budi daya
               Banyak orang berwirausaha dengan mengembangkan usaha di bidang keanekaragaman
hayati baik hewan ataupun tumbuhan.Berbagai hewan dikembangkan manusia sebagai sumber
pendapatan.
               Misalnya: Dengan memelihara Ayam Petelur, Pedaging, Sapi Perah, usaha perikanan air
tawar dan sebagainya. Selain keanekaragaman hayati yang tinggi dapat pula dijadikan
masyarakat sebagai sumber pendapatan, misalnya : sebagai bahan bangunan dan alat- alat rumah
tangga, bahan baku industri dan rempah- rempah. Jati dan Mahoni dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku industri ukir, teh dan kopi sebagai bahan baku industri minuman, kenangan dan
nilam sebagai bahan baku industri minyak wangi.
5.    Sumber Plasma Nutfah
               Plasma Nutfah atau sering disebut gen yang merupakan substansi atau sumber sifat
keturanan makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan jenis unggul baru.Plasma
Nutfah berguna untuk merakit varietas unggul pada suatu spesies. Misalnya: spesies tahan
terhadap suatu penyakit atau memiliki produktivitas tinggi.
6.    Keilmuwan
                           Tumbuhan dikembangkan manusia melalui usaha pertanian, sedangkan hewan
dikembangkan melalui kegiatan peternakan. Salah satu cara dilakukan manusia untuk
meningkatkan hasil pertanian adalah dengan mengupayakan perkembangbiakan secara vegatif
buatan seperti mencangkok, menempel, menyambung, merunduk dan stek.
7.    Bahan Obat- Obatan
                           Banyak jenis tumbuhan dan hewan dapat dijadikan bahan obat- obatan seperti
Kencur (Kaempferia galanga), Jahe (Zingiber officinale),Temulawak (Curcuma zanthorrhiza),
Adas, Sirih, Mengkudu (Morinda citrifolia), Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) dan
sebagainya.

Gambar 20. Mengkudu digunakan sebagai Obat tekanan darah tinggi

8.    Keindahan
                           Anda tentu pernah melihat tanaman hias seperti Anggrek dan mawar.Tanaman-
tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai hiasan karena dapat menjadikan pemandangan sekitar
terlihat indah dan asri.Selain tanaman yang dapat dimanfaatkan keindahannya, hewan pun dapat
dimanfaatkan untuk keindahan. Misalnya: Burung Beo (Gracula religiosa) dapat dinikmati
keindahan suaranya dan burung merak serta Burung Cendrawasih (Paradisaeidae)dinikmati
keindahan warna bulunya.
    
BAB 3 Virus
Virus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit
obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup
dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki
perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah
kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi
semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi
ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat
bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-
sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara
istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis
sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel).
Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan
fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya
ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya
virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus
mosaik tembakau/TMV).

STUKTUR VIRUS

Bakteriofag terdiri dari kepala polihedral berisi asam nukleat dan ekor untuk menginfeksi inang.
Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid (biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat
langsung dengan genom virus. Misalnya, pada virus campak, setiap protein nukleokapsid
terhubung dengan enam basa RNA membentuk heliks sepanjang sekitar 1,3 mikrometer.
Komposisi kompleks protein dan asam nukleat ini disebut nukleokapsid. Pada virus campak,
nukleokapsid ini diselubungi oleh lapisan lipid yang didapatkan dari sel inang, dan glikoprotein
yang disandikan oleh virus melekat pada selubung lipid tersebut. Bagian-bagian ini berfungsi
dalam pengikatan pada dan pemasukan ke sel inang pada awal infeksi.
Virus cacar air memiliki selubung virus.
Kapsid virus sferik menyelubungi genom virus secara keseluruhan dan tidak terlalu berikatan
dengan asam nukleat seperti virus heliks. Struktur ini bisa bervariasi dari ukuran 20 nanometer
hingga 400 nanometer dan terdiri atas protein virus yang tersusun dalam bentuk
simetri ikosahedral. Jumlah protein yang dibutuhkan untuk membentuk kapsid virus sferik
ditentukan dengan koefisien T, yaitu sekitar 60t protein. Sebagai contoh, virus hepatitis
B memiliki angka T=4, butuh 240 protein untuk membentuk kapsid. Seperti virus bentuk heliks,
kapsid sebagian jenis virus sferik dapat diselubungi lapisan lipid, namun biasanya protein kapsid
sendiri langsung terlibat dalam penginfeksian sel.
Beberapa jenis virus memiliki unsur tambahan yang membantunya menginfeksi inang.Virus
pada hewan memiliki selubung virus, yaitu membran menyelubungi kapsid.[  Selubung ini
mengandung fosfolipid dan protein dari sel inang, tetapi juga mengandung protein
dan glikoprotein yang berasal dari virus. Selain protein selubung dan protein kapsid, virus juga
membawa beberapa molekul enzim di dalam kapsidnya. Ada pula beberapa
jenis bakteriofag yang memiliki ekor protein yang melekat pada "kepala" kapsid. Serabut-serabut
ekor tersebut digunakan oleh fag untuk menempel pada suatu bakteri.  Partikel lengkap virus
disebut virion. Virion berfungsi sebagai alat transportasi gen, sedangkan komponen selubung
dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel inang.
Macam-macam infeksi virus
Virus dapat menginfeksi inangnya dan menyebabkan berbagai akibat bagi inangnya. ada yang
berbahaya, namun juga ada yang dapat ditangani oleh sel imun dalam tubuh sehingga akibat
yang dihasilkan tidak terlalu besar.

3. Infeksi akut merupakan infeksi yang berlangsung dalam jangka waktu cepat namun dapat
juga berakibat fatal. Akibat dari infeksi akut adalah:
o sembuh tanpa kerusakan (sembuh total);
o sembuh dengan kerusakan/cacat, misalnya polio;
o berlanjut kepada infeksi kronis;
o kematian.
4. Infeksi kronis merupakan infeksi virus yang berkepanjangan sehingga ada risiko gejala
penyakit muncul kembali. Contoh dari infeksi kronis adalah:
o silent subclinical infection seumur hidup, contoh: Cytomegalovirus (CMV);
o periode diam yang cukup lama sebelum munculnya penyakit, contoh: HIV
o reaktivasi yang menyebabkan infeksi akut, contoh: shingles;
o penyakit kronis yang berulang (kambuh), contoh: HBV, HCV;
o kanker, contoh: HTLV-1, HPV, HBV, HCV, HHV
Ciri-ciri Virus

Adapun ciri-ciri yang dimiliki virus adalah sebagai berikut.


5. Virus bisa bersifat seperti benda hidup, contohnya bisa berkembang biak jika berada di
dalam sel hidup.
6. Memiliki satu asam nukleat, DNA atau RNA saja.
7. Virus bisa bersifat seperti benda mati, contohnya tidak melakukan metabolisme, tidak
bernapas, tidak bergerak, dan berbentuk kristal jika berada di luar sel hidup.
8. Berukuran sangat kecil, yaitu antara 20 dan 300 nm.
Bentuk Virus

Ternyata, virus bermacam-macam bentuk, lho. Ingin tahu apa saja?


7. Berbentuk batang, contohnya TMV (Tobacco Mosaic Virus).
8. Berbentuk batang dan berujung oval seperti peluru, contohnya Rhabdovirus.
9. Berbentuk bulat, contohnya HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan Orthomyxovirus.
10. Berbentuk filamen atau benang, contohnya virus Ebola.
11. Berbentuk polihedral, contohnya Adenovirus.
12. Berbentuk seperti huruf T, contohnya bakteriofag, yaitu virus yang menyerang
bakteri Escherichia coli.
Berikut ini gambarnya.

Struktur Virus

Virus tidak digolongkan dalam organisme seluler karena tidak memiliki bagian-bagian sel
seperti, dinding sel, membran sel, sitoplasma, serta organel sel lainnya. Adapun struktur tubuh
virus bakteriofag adalah sebagai berikut.
1. Kepala
Kepala bagian dalam mengandung asam nukleat, sedangkan bagian luarnya diselubungi oleh
kapsid. Untuk virus bakteriofag, kepalanya berbentuk polihedral dengan jenis asam nukleatnya
DNA.
2. Kapsid
Kapsid merupakan selubung luar virus yang mengandung banyak subunit protein yang disebut
kapsomer. Kapsid terdiri dari beberapa bentuk, sehingga berpengaruh pada bentuk virusnya.
3. Asam nukleat
Asam nukleat yang dimiliki virus hanya satu, yaitu DNA atau RNA saja. Asam nukleat inilah
yang nantinya berfungsi sebagai informasi genetik untuk replikasi.
4. Leher
Leher merupakan penghubung antara kepala dan ekor. Leher berfungsi sebagai saluran keluarnya
asam nukleat menuju ekor.
5. Ekor
Ekor virus terdiri dari serabut ekor dan lempeng dasar. Ekor ini berfungsi untuk menempel pada
inang.
Berikut ini merupakan struktur virus selain bakteriofag yang telah ditemukan.

Cara Hidup Virus

Virus tergolong dalam parasit intraseluler obligat karena hanya dapat hidup di dalam sel yang
hidup. Artinya, jika sel tersebut mati, virus tidak akan mati melainkan mengristal. Sel hidup yang
ditumpangi virus disebut sel inang. Bagaimana cara virus mengenali inangnya? Yaitu
menggunakan sistem lock key atau kesesuaian. Berdasarkan jenisnya, sel inang dibagi menjadi
dua, kisaran inang luas dan kisaran inang sempit. 
Virus dengan kisaran inang luas bisa menginfeksi beberapa inang, contohnya virus flu burung
bisa menginfeksi unggas, babi, dan manusia. Sedangkan virus dengan kisaran inang sempit
hanya bisa menginfeksi inang tertentu saja, contohnya virus flu hanya menginfeksi sel-sel di
saluran pernapasan dan virus bakteriofag hanya bisa menginfeksi bakteri Escherichia coli.
Penularan virus dari satu inang ke inang yang lain bisa melalui udara, lendir, air, darah, atau
melalui perantara seperti nyamuk.
Perkembangbiakan Virus

Perkembangbiakan virus dikenal dengan istilah replikasi atau perbanyakan diri. Bagi virus, sel
inang merupakan sumber energi untuk sintesis protein. Perkembangbiakan virus dibagi menjadi
dua, yaitu daur litik dan lisogenik.
1. Daur litik
Terjadinya daur litik disebabkan oleh ketahanan sel inang lebih lemah daripada daya infeksi
virus. Akibatnya sel inang akan pecah dan mati, serta akan menghasilkan virion-virion baru.
Adapun tahapan pada daur litik adalah adsorpsi, penetrasi, sintesis dan replikasi, pematangan
atau perakitan, dan lisis.
2. Daur lisogenik
Daur lisogenik terjadi jika pertahanan tubuh inang lebih kuat daripada daya infeksi virus. Pada
daur ini sel inang masih bisa bereproduksi dengan normal dan tidak akan langsung pecah. Akan
tetapi, DNA virus bakteriofag akan berinteraksi dengan kromosom sel inang membentuk profag.
Saat sel inang yang mengandung profag tersebut membelah diri, barulah profag akan diwariskan
ke sel berikutnya. Adapun tahapan pada daur lisogenik adalah adsorpsi dan infeksi, pemetrasi,
penggabungan, pembelahan, sintesis. Untuk memahami lebih lanjut, silakan Quipperian simak
gambar berikut ini.

Klasifikasi Virus

Klasifikasi virus tergolong cukup banyak, yaitu berjumlah enam. Semuanya didasarkan pada
persamaan ciri yang dimiliki. Ingin tahu lebih lanjut?
1. Klasifikasi virus berdasarkan ada tidaknya selubung pada nukleokapsid
Terdapat dua kelompok virus dalam klasifikasi ini, yaitu sebagai berikut.
 Virus berselubung yaitu virus yang selubungnya terdiri dari lipoprotein dan
glikoprotein, contohnya Poxyvirus, Herpesvirus, Togavirus,
Rhabdovirus, dan  Paramyxovirus.
 Virus telanjang yaitu virus yang tidak memiliki selubung pada nukleokapsidnya,
contohnya Papovirus, Adenovirus, Picornavirus, dan Reovirus.
2. Klasifikasi virus berdasarkan jumlah kapsomernya
Terdapat lima kelompok virus dalam klasifikasi ini, yaitu sebagai berikut.
6. Virus dengan 32 kapsomer, contohnya Parvovirus.
7. Virus dengan 60 kapsomer, contohnya Picornavirus.
8. Virus dengan 72 kapsomer, contohnya Papovirus.
9. Virus dengan 162 kapsomer, contohnya Herpesvirus.
10. Virus dengan 252 kapsomer, contohnya Adenovirus.
3. Klasifikasi virus berdasarkan jenis sel inangnya
Berdasarkan jenis sel inangnya, virus dikelompokkan menjadi empat, yaitu sebagai berikut.
5. Virus penyerang bakteri, misalnya virus T.
6. Virus penyerang tanaman, misalnya TMV dan Tungro.
7. Virus penyerang hewan, misalnya virus rabies dan flu burung.
8. Virus penyerang manusia, misalnya polio, HIV, dan flu.
4. Klasifikasi virus berdasarkan tipe genom dan metode replikasinya
Berdasarkan tipe genom dan replikasinya, virus dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu sebagai
berikut.
8. Virus tipe I memiliki DNA utas ganda dan reproduksinya dengan cara replikasi,
contohnya Herpesvirus.
9. Virus tipe II memiliki DNA utas tunggal dan reproduksinya dengan cara replikasi,
contohnya virus MVM.
10. Virus tipe III memiliki RNA utas ganda dan reproduksinya secara replikasi,
contohnya Reovirus.
11. Virus tipe IV memiliki RNA utas tunggal (+) dan reproduksinya secara replikasi,
contohnya virus polio.
12. Virus tipe V memiliki RNA utas tunggal (-) dan reproduksinya secara replikasi,
contohnya virus rabies.
13. Virus tipe VI memiliki RNA utas tunggal (+) dengan DNA perantara dan reproduksinya
secara transkriptasi balik, contohnya virus AIDS.
14. Virus tipe VII memiliki RNA utas ganda dengan RNA perantara dan reproduksinya
secara transkriptasi balik, contohnya Heparnavirus.
5. Klasifikasi virus berdasarkan jenis asam nukleatnya
Berdasarkan asam nukleatnya, virus dikelompokkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
3. Virus DNA yaitu virus yang asam nukleatnya berupa DNA, contoh Parvovirus.
4. Virus RNA yaitu virus yang asam nukleatnya berupa RNA, contoh Picornavirus.
6. Klasifikasi virus berdasarkan bentuk dasarnya
Berdasarkan bentuk dasarnya, virus dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.
4. Virus bentuk iksohedral memiliki sumbu rotasi ganda dan tata ruangnya dibatasi oleh 20
segitiga sama sisi, contohnya virus polio.
5. Virus helikal memiliki satu sumbu rotasi, bentuknya menyerupai batang panjang,
nukleokapsid tidak kaku, dan berbentuk heliks, contohnya virus flu.
6. Virus kompleks memiliki struktur lebih kompleks daripada jenis virus lainnya, contoh
virus cacar.
Manfaat Virus

Mungkin Quipperian bertanya-tanya, apakah benar jika virus bermanfaat? Bukannya virus selalu
merugikan makhluk hidup?
Jika ditinjau dari satu sisi saja, pernyataan di atas memang benar. Akan tetapi, jika dianalisis
kembali sifat, struktur, dan klasifikasinya, ternyata virus masih bisa dimanfaatkan untuk
membantu makhluk hidup. Apa saja manfaatnya?
8. Virus memiliki selubung yang tersusun dari subunit protein. Protein selubung dari virus
ini bisa dimanfaatkan untuk membuat vaksin protein agar terbentuk respon kekebalan
tubuh untuk melawan penyakit.
9. Bisa digunakan untuk terapi gen melalui rekayasa genetika.
10. Pengobatan secara biologis, yaitu dengan melemahkan atau membunuh bakteri yang
bersifat patogen.
11. Ilmuwan dari Inggris berhasil menginokulasi partikel virus dan mencampurnya dengan
senyawa Fe atau besi untuk membuat kapasitor.
12. Sebagai biopestisida, yaitu pestisida biologis di bidang pertanian yang tidak mencemari
lingkungan.
13. Produksi interferon, yaitu senyawa yang mampu mencegah replikasi virus di dalam
inang.
14. Pembuatan hormon insulin, dengan cara mencangkokkan virus ke dalam gen penghasil
insulin dalam tubuh bakteri agar dihasilkan insulin dalam jumlah besar.
Penyakit yang Disebabkan oleh Virus

Adapun penyakit yang disebabkan oleh virus, baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan adalah
sebagai berikut.
9. Cacar variola disebabkan oleh virus jenis Orthopoxvirus.
10. Campak disebabkan oleh Morbilivirus.
11. AIDS disebabkan oleh HIV, yaitu Human Immunodeficiency Virus.
12. Flu disebabkan oleh virus influenza atau parainfluenza.
13. Flu burung disebabkan oleh HPAIV yaitu High Pathogenic Avian Influenza Virus.
14. Rabies disebabkan oleh Rhabdovirus.
15. Tetelo disebabkan oleh virus NCD.
16. Mosaik disebabkan oleh TMV atau Tobacco Mosaic Virus.
BAB 4 FUNGI

Pengertian Jamur Secara Umum


Kata jamur berasal dari kata latin yakni fungi. Jamur (fungi) adalah yang sifatnya eukariotik
dan tidak berklorofil.  jamur (fungi) ini reproduksi dengan secara aseksual yang menghasilkan
spora, kuncup, dan fragmentasi. Sedangkan dengan secara seksual dengan zigospora, askospora,
dan basidiospora. Jamur (fungi) ini hidupnya ditempat-tempat yang berlembap, air laut, air tawar,
ditempat yang asam dan bersimbosis dengan ganggang yang membentuk lumut (lichenes).
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang
mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya.
Kalangan ilmuwan kerap menggunakan istilah cendawan sebagai sinonim bagi Fungi.
Awam menyebut sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi,
meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya
sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran
keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda
(ingat metamorfosis pada serangga atau katak). Fungi memperbanyak diri
secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara:dua hifa dari jamur berbeda
melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan
aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak
spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang
membentuk spora adalah Rhizopus. Contoh jamur yang membentuk tunas adalah
Saccharomyces. Hifa jamur dapat terpurus dan setiap fragmen dapat tumbuh menjadi tubuh
buah.
Beberapa ciri-ciri morfologi, biokimia dan genetik dimiliki bersama dengan organisme lain,
sementara yang lain unik pada fungi, memisahkan fungi dari kerajaan lain dengan jelas:
Ciri-ciri yang dimiliki bersama:

 Dengan jenis eukariota lainnya: Sel fungi memiliki inti yang dibatasi membran


dengan kromosom yang mengandung DNA dengan daerah bukan pengode yang
disebut intron dan bagian pengode yang disebut ekson. Selain itu, sel fungi juga memiliki
beberapa organel sitoplasmik yang dibatasi membran seperti mitokondria, membran yang
mengandung sterol, dan ribosom bertipe 80S. Fungi memiliki kisaran karakteristik dari
karbohidrat dan senyawa penyimpanan yang dapat larut, termasuk alkohol
gula (misalnya, manitol), disakarida,(misalnya trehalosa),dan polisakarida (misalnya, glikoge
n, yang juga ditemukan pada hewaN).
 Dengan hewan: Fungi tidak mempunyai kloroplas untuk fotosintesis dan merupakan
organisme heterotrof, sehingga memerlukan senyawa organik sebagai sumber energinya.
 Dengan tumbuhan: Fungi mempunyai dinding seldan vakuola. Fungi bisa bereproduksi
secara seksual maupun aseksual, dan seperti kelompok tumbuhan basal (seperti tumbuhan
paku dan lumut daun), fungi akan menghasilkan spora. Mirip juga dengan lumut daun dan
alga, fungi memiliki nukleus yang haploid.
 Dengan euglenoid dan bakteri: Fungi tingkat tinggi, euglenoid, dan beberapa bakteri
menghasilkan asam amino L-lisin dalam langkah-langkah biosintesis spesifik, yang
disebut jalur α-aminoadipat.
 Sel-sel dari sebagian besar jamur tumbuh sebagai struktur berbentuk tabung, memanjang,
dan mirip benang (filamentous) yang disebut hifa, yang dapat mengandung banyak inti dan
tumbuh dengan menumbuhkan ujungnya. Setiap ujung berisi seperangkat vesikel agregat—
struktur seluler yang terdiri dari protein, lipid, dan molekul organik lainnya—yang
disebut Spitzenkörper. Baik fungi dan Oomycota tumbuh sebagai sel hifa yang
berfilamen. Sebaliknya, organisme yang tampak serupa, seperti ganggang hijau berfilamen,
tumbuh dengan pembelahan sel berulang dalam rantai sel. Ada juga fungi bersel satu
(khamir) yang tidak membentuk hifa, dan beberapa fungi memiliki bentuk hifa dan khamir.
 Seperti beberapa spesies tumbuhan dan hewan, lebih dari 70 spesies
fungi menunjukkan bioluminesensi
Ciri-ciri unik:

 Beberapa spesies tumbuh sebagai khamir uniseluler yang bereproduksi


dengan bertunas atau pembelahan biner. Fungi dimorfik dapat berpindah antara fase khamir
dan fase hifa untuk merespon kondisi lingkungan.
 Dinding sel fungi terbuat dari glukan dan kitin; meskipun glukan juga ada pada tumbuhan
dan kitin pada eksoskeleton dari artropoda, fungi adalah satu-satunya organisme yang
menyatukan kedua molekul struktural ini pada dinding selnya. Tidak seperti tumbuhan
dan Oomycota, dinding sel fungi tidak memiliki selulosa.

Omphalotus nidiformis, jamur bioluminesen


Kebanyakan fungi tidak memiliki sistem yang efisien untuk transportasi air dan nutrisi jarak
jauh, seperti xilem dan floem di banyak tumbuhan. Untuk mengatasi keterbatasan ini, beberapa
fungi, seperti Armillaria, membentuk rizomorf, yang menyerupai dan melakukan fungsi yang
mirip dengan akar tumbuhan. Sebagai eukariota, fungi memiliki jalur biosintesis untuk
memproduksi terpena yang menggunakan asam mevalonat dan pirofosfat sebagai blok
pembangun kimia. Tumbuhan dan beberapa organisme lain memiliki jalur biosintesis terpena
tambahan di dalam kloroplasnya, struktur yang tidak dimiliki fungi dan hewan. Fungi
menghasilkan beberapa metabolit sekunder yang strukturnya mirip atau identik dengan yang
dibuat oleh tumbuhan. Banyak enzim tumbuhan dan fungi yang membuat metabolit sekunder
yang berbeda satu sama lain dalam urutan dan karakteristik lainnya, yang menunjukkan asal-usul
yang terpisah dan evolusi konvergen dari enzim-enzim ini pada fungi dan tumbuhan.
Ciri-Ciri | Karakteristik Fungi

Ciri-ciri jamur adalah sebagai berikut: 

 Merupakan organisme eukaryota. Sel Fungi mempunyai inti yang terbungkus membran
yang mengandung DNA (intron dan ekson), juga mempunyai organel yang terbungkus membran
seperti mitokondria.
 Fungi tidak mempunyai kloroplas, sehingga merupakan organisme heterotrof. Fungi
memperoleh nutrisi dari menguraikan bahan organik (saprotrof) atau bersifat parasit.
 Fungi mempunyai dinding sel dan vakuola
 Dinding sel Fungi tersusun atas glukan dan kitin; glukan juga terdapat pada tanaman dan
kitin terdapat pada rangka luar arthropoda. Fungi adalah satu-satunya organisme yang dapat
menggabungkan dua struktur molekul ini dalam dinding sel. Dinding sel pada jamur sejati tidak
mengandung selulosa. 
 Sel-sel dari kebanyakan Fungi tumbuh berbentuk tabung, memanjang, dan seperti benang
(filamen) yang disebut dengan hifa. Tabung itu sendiri dapat tanpa sekat, atau bersekat-sekat dan
terbagi menjadi kompartemen-kompartemen (sel), sekat tersebut disebut dengan septa. Hifa
yang tidak bersekat disebut dengan senositik (coenocytic). Pada hifa jenis ini terdapat banyak
inti sel yang tersebar dalam sitoplasma (multinukleat). Hifa kemudian bercabang berulang kali
menjadi jaringan rumit dan meluas secara radial yang disebut miselium, yang kemudian
membentuk talus.
 Lebih dari 70 spesies Fungi menampilkan bioluminesensi.
 Jamur ditemukan di semua daerah beriklim sedang dan tropis, asalkan ada kelembaban
yang cukup untuk memungkinkan mereka tumbuh.

Ragi (yeast) | Photo by Bob Blaylock is licensed under CC-BY-SA-3.0

Cendawan (mold) | Photo by Calimo is licensed under CC-BY-SA-3.0

Struktur Morfologi Fungi

Struktur tubuh jamur tersusun atas benang-benang (filamen) berbentuk silinder dengan diameter
2-10 µm, panjang beberapa sentimeter, yang tertutup oleh dinding sel yang kaku. Filamen ini
disebut dengan hifa, yang kemudian bercabang berulang-ulang menjadi jaring-jaring kompleks
yang disebut miselium. Hifa dapat tanpa henti (tanpa sekat), atau bersekat-sekat dan terbagi
menjadi kompartemen-kompartemen (sel), sekat tersebut disebut dengan septa, sedangkan hifa
yang tidak bersekat disebut dengan senositik. Miselium tumbuh dengan menggunakan unsur hara
dari lingkungan, lalu ketika mencapai tingkat kematangan tertentu, dapat bercabang untuk
menjadi tangkai spora (konidiofor atau sporangiofor) yang membentuk spora
(konidiospora atau sporangiospora) untuk berkembang biak. Beberapa Fungi, seperti ragi,
tidak membentuk miselium tetapi tumbuh sebagai sel tunggal yang berkembang biak
dengan budding (tunas) atau pada jenis tertentu dengan membelah diri.

Struktur Morfologi Fungi

Struktur tubuh jamur tersusun atas benang-benang (filamen) berbentuk silinder dengan diameter
2-10 µm, panjang beberapa sentimeter, yang tertutup oleh dinding sel yang kaku. Filamen ini
disebut dengan hifa, yang kemudian bercabang berulang-ulang menjadi jaring-jaring kompleks
yang disebut miselium. Hifa dapat tanpa henti (tanpa sekat), atau bersekat-sekat dan terbagi
menjadi kompartemen-kompartemen (sel), sekat tersebut disebut dengan septa, sedangkan hifa
yang tidak bersekat disebut dengan senositik. Miselium tumbuh dengan menggunakan unsur hara
dari lingkungan, lalu ketika mencapai tingkat kematangan tertentu, dapat bercabang untuk
menjadi tangkai spora (konidiofor atau sporangiofor) yang membentuk spora
(konidiospora atau sporangiospora) untuk berkembang biak. Beberapa Fungi, seperti ragi,
tidak membentuk miselium tetapi tumbuh sebagai sel tunggal yang berkembang biak
dengan budding (tunas) atau pada jenis tertentu dengan membelah diri.

Miselium-miselium Fungi dapat dilihat dengan mata telanjang, seperti pada dinding basah dan
makanan basi. Fungi ini yang sering disebut dengan cendawan (mold). Miselium yang tumbuh
pada media laboratorium umumnya disebut koloni. Koloni ini dapat menunjukan bentuk dan
warna karena pigmentasi dan warna, yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi spesies atau
kelompok.

Fungi tidak memiliki tubuh yang terdiferensiasi dengan jelas, sehingga tidak memiliki akar,
batang, dan daun. Tubuh seperti ini disebut dengan talus. Semua bagian dari talus memiliki
potensi untuk tumbuh. Apabila potongan miselium ditempatkan pada kondisi yang tepat untuk
tumbuh, miselium ini kemudian tumbuh menjadi talus baru bahkan jika tidak ada ujung yang
tumbuh yang termasuk dalam bagian yang dipotong.
Jamur-basidiokarp | Photo by Dohduhdah is not licensed (Public Domain)

Apotesium, struktur khusus yang penting dalam reproduksi seksual pada Ascomycetes,
berbentuk seperti mangkok yang memegang lapisan jaringan yang mengandung sel-sel pembawa
spora. Tubuh buah ini pada Basidiomycetes (basidiocarps), dan beberapa Ascomycetes kadang
dapat tumbuh sangat besar, dan merupakan bentuk “buah” jamur yang umum kita kenal.

SISTEM REPRODUKSI FUNGI (JAMUR)


Reproduksi pada jamur terdiri atas dua yaitu reproduksi secara generative (seksual) dan
vegetative (aseksual).
1. Reproduksi Generatif (seksual)
 Biasanya jamur bereproduksi secara generative karena kondisi lingkungan yang berubah
atau pada kondisi darurat lainnya. Keturunan yang dihasilkan memiliki genetic yang beragam
dan lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.
 Reproduksi secara generative didahului dengan pembentukan spora seksual yang
memiliki jenis hifa yang berbeda.
 Hifa (+) dan hifa (-) yang berkromosom haploid (n) mendekat dan membentuk
gametangium (organ yang menghasilkan gamet).
 Gametangium berplasmogami yaitu peleburan sitoplasma dan kemudian membentuk
zigosporangium dikariotik (heterokarotik) dengan pasangan nucleus haploid yang belum bersatu.
Zigosporangium ini memiliki dinding sel yang tebal dan kasar yang memungkinkan untuk
bertahan pada kondisi lingkungan yang buruk dan kering.
 Bila kondisi lingkungannya membaik, zigosporangium akan menjadi kariogami
(peleburan inti) sehingga zigosporangium memiliki inti yang berkromosom diploid (2n).
 Zigosporangium yang berinti haploid (2n) akan mengalami pembelahan secara mitosis
yang menghasilkan zigospora haploid (n) didalam zigosporangium.
 Zigospora haploid (n) akan berkecambah membentuk sporangium bertangkai pendek
dengan kromosom haploid (n).
 Sporangium haploid (n) akan menghasilkan spora-spora yang haploid (n) yang memiliki
keanekaragaman genetik.
 Bila spora-spora haploid (n) jatuh di tempat yang sesuai, spora akan berkecambah
(germinasi) menjadi hifa jamur yang haploid (n). Hifa akan tumbuh membentuk jaringan
miselium yang semuanya haploid (n).

2. Reproduksi Vegetatif ( Aseksual)


 Pada jamur yang uniseluler reproduksi vegetative dilakukan dengan pembentukan tunas
yang akan tumbuh menjadi individu baru. Pada jamur yang multiseluler dilakukan dengan cara
fragmentasi hifa dan pembentukan spora vegetative.
 Fragmentasi hifa (pemutusan hifa), potongan hifa yang putus tumbuh menjadi individu
baru
 Pembentukan spora vegetative yang berupa sporangiospora dan konidiospora.
 Jamur yang telah dewasa menghasilkan spongiofor (tangkai kotak spora).
 Pada ujung sporangiofor terdapat sporangium (kotak spora).
 Di dalam kotak spora pembelahan sel dilakukan secara  mitosis dan menghasilkan banyak
sporangiospora dengan kromosom yang haploid (n).
 Adapun jamur jenis lain menghasilkan konidiofor (tangkai konidia).
 Pada ujung konidiofor terdapat konidium (kotak konidiospora). Di dalam konidium
terjadi pembelahan sel secara mitosis yang menghasilkan banyak konidiospora dengan
kromosom yang haploid (n).
 Baik sporangiospora maupun konidiospora, bila jatuh di tempat yang sesuai akan tumbuh
menjadi hifa baru yang haploid (n).

REPRODUKSI FUNGI (JAMUR)


Klasifikasi Jamur
Berdasarkan struktur tubuh dan cara reproduksinya jamur dibagi menjadi 4 divisi, klasifikasi
jamur berdasarkan cara reproduksi secara generative (seksual), yaitu:
5. Divisi Zygomycota
6. Divisi Ascomycota
7. Divisi Basidimycota
8. Divisi Deuteromycota

1. Zygomicota
 Dinamakan zygomicota karena membentuk spora dengan dinding tebal yang disebut
dengan zigospora.
 Berhabitat di darat, tanah atau pada sisa organisme yang telah mati.
 Hidup sebagai saprofit (pengurai zat organic).
 Memiliki miselium bercabang banyak dan tidak bersekat.
 Memiliki hifa senositik
 Miselium memiliki tiga tipe hifa yaitu stolon, rizoid dan sporangiofor.
 Bereproduksi secara seksual dan aseksual
 Berperan dalam pembuatan makanan seperti Rhizopus oryzae pada pembuatan tempe
 

ZYGOMYCOTA

2. Ascomycota
 Menghasilkan askospora pada reproduksi generative
 Memiliki talus uniseluler dan multiseluler
 Memiliki hifa yang bersepta dan tiap septa memiliki satu inti
 Dinding hifa diperkuat dengan selulosa dan bersifat heterokaritik
 Reproduksi vegetative dengan memperbanyak konidia, spora, tunas dan fragmentasi
 Reproduksi generative dengan konjugasi yang digunakan untuk membentuk askospora di
dalam askus. Askus biasanya dibentuk dalam tubuh buah dinamakan askokarp (askoma).
 

ASCOMYCOTA

3. Basidiomycota
 Memiliki hifa yang bersepta dengan sambungan apit
 Bersifat saprobe
 Tubuh buah seperti paying
 Memiliki tangkai asimetris, pendek dan ada yang tidak bertangkai
 Basidiospora terdapat pada permukaan lamela atau bila yang terbentuk dibagian bawah
tudungnya
 Umumnya dinamakan dengan Mushroom
 Reproduksi aseksual dengan tunas, fragmentasi, dan konidia. Sedangkan pada reproduksi
secara seksual adalah dengan cara membentuk basidiospora.
 Basidiospora menghasilkan basidium yang memiliki bentuk seperti gada. Basidium ada
yang bersekat, dan ada juga yang tidak bersekat.
 memiliki manfaat yang dalam kehidupan manusia seperti Auricularia politricha (jamurk
kuping) dapat dimakan, Volvariella volcaea (jamur merang) dapat dimakan, Ganodema
applanatum digunakan sebagai obat (makanan suplemen). Ustilago scitaminae (jamur karat).
 

BASIDIOMYCOTA

4. Deuteromycota
 Memiliki hifa yang bersepta dan tubuh mikroskopis
 Reproduksi vegetative dilakukan dengan membentuk spora dan konidia.
 Reproduksi generatif belum diketahui sehingga mengapa Deuteromycota disebut dengan
jamur tak sempurna.
 Multiseluler
 Bersifat parasitisme atau menyebabkan penyakit pada makhluk hidup lainnya.
 Penyakit pada manusia yang disebabkan oleh jamur ini yaitu Kurap yang disebabkan oleh
Microsporum, Trichophytom, dan Epidermophyton dan panu oleh Tinea vesicolor

DEUTEROMYCOTA
BAB 4 Bakteri

Bakteri dilihat dengan mikroskop elektron


Bakteri berasal dari bahasa Latin bacterium; jamak: bacteria adalah kelompok organisme yang
tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan
berukuran sangat kecil (mikroskopik). Hal ini menyebabkan organisme ini sangat sulit untuk
dideteksi, terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Barulah setelah abad ke-19 (setelah
ditemukannya mikroskop), ilmu tentang mikroorganisme terutama bakteri (bakteriologi) mulai
berkembang.

Ciri Ciri Morfologi Bakteri

Morfologi bakteri sangat sederhana, sehingga sangat tidak mungkin hanya menggunakan
morfologi sel untuk informasi taksonomi. Namun demikian morfologi tetap bernilai dalam
taksonomi. Morfologi bakteri yang dipertimbangkan adalah :

A. Bentuk sel bakteri


Pada umumnya bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar (berdasarkan bentuknya) yaitu:

1. Kokus (Coccus) adalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai beberapa
variasi sebagai berikut:

- Mikrococcus, jika kecil dan tunggal


- Diplococcus, jka berganda dua-dua
- Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar
- Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
- Staphylococcus, jika bergerombol
- Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
2. Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai
variasi sebagai berikut:

- Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua


- Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai

3. Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai
berikut:

- Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk koma)
- Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
- Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel.

B. Ukuran sel bakteri


- Sangat kecil dan bervariasi : 1,0 - 5,0 x 0,5 - 1,0 μm, diameter 0,6 - 3,5 μm
- Diamati dengan mikroskop pada pembesaran maksimum (100 X)
- Detil struktur sel dapat diamati dengan menggunakan mikroskop elektron

Struktur Sel bakteri


Struktur Sel bakteri dapat dibagi atas 3 bagian utama yaitu :
1. Dinding sel
2. Bagian internal berupa protoplasma yang mengandung :
• Membran sel
• Inclusion body
• Mesosom
• Ribosom
• Nukleoid (DNA)
3. Bagian eksternal
• Kapsul
• Flagela
• Pili

Dinding sel
Dinding sel bakteri sangat tipis dan elastis ,terbentuk dari peptidoglikan yang merupakan polimer
unik yang hanya dimiliki oleh golongan bakteri. Fungsinya dinding sel adalah- memberi bentuk
sel, member perlindungan dari lingkungan luar dan mengatur pertukaran zat-zat dari dan ke
dalam sel Teknik pewarnaan Gram adalah untuk menunjukan perbedaan yang mendasar dalam
organisasi struktur dinding sel bakteri atau cell anvelope.
Bakteri Gram positif memiliki dinding sel relatif tebal, terdiri dari berlapis-lapis polymer
peptidoglycan (disebut juga murein). Tebalnya dinding sel menahan lolosnya komplek crystal
violet-iodine ketika dicuci dengan alkohol atau aseton. Bakteri Gram negatif memiliki dinding
sel berupa lapisan tipis peptidoglycan, yang diselubungi oleh lapisan tipis outer membrane yang
terdiri dari lipopolysaccharide (LPS). Daerah antara peptidoglycan dan lapisan LPS disebut
periplasmic space (hanya ditemui pada Gram negatif) adalah zona berisi cairan atau gel yang
mengandung berbagai enzymes dan nutrient-carrier proteins. Kompleks Crystal violet-iodine
mudah lolos melalui LPS dan lapisan tipis peptidoglycan ketika sel diperlakukan dengan pelarut.
Ketika sel diberi perlakuan pewarna tandingan Safranin O, pewarna tersebut dapat diserap oleh
dinding sel bakteri Gram negatif.

Protoplasma
Yaitu semua material yang terdapat didalam dinding sel.

A. Membran sel : Terdapat dibagian dalam dinding sel, terdiri dari phospholipid yang tersusun
bilayer , dan mengandung berbagai protein yaitu:
– Enzym untuk reaksi
– Pori untuk proses difusi
– Reseptor untuk transpor
– Reseptors untuk mengenal, komunikasi, dan penempelan.
B. Sitoplasma : Merupakan cairan sel yang terdapat didalam plasma membran. Terdiri dari 80%
air, ribosom, berbagai enzim, koenzim, senyawa organik (protein, lemak, karbohidrat, dll),
senyawa anorganik.
C. Ribosom : organel sel yang berfungsi sebagai pabrik protein
D. Mesosome : Invaginasi dari plasma membran, dalam bentuk vesikel, tubule, atau lamela
E. Nukleoid : Material genetik bakteri/kromosom bakteri/DNA , berbentuk circular (melingkar),
membawa sifat yg mengatur viabilitas bakteri.
F. Plasmid : Material genetik non esensial, ekstra kromosom, berbentuk melingkar tetapi ukuran
lebih kecil dari DNA, membawa sifat-sifat tambahan ketahanan terhadap antibiotik, ultra violet,
patogenisitas, produksi bakteriosin, dll, tetapi tidak membawa sifat untuk viabilitas sel. Plasmid
dapat berpindah antar bakteri, atau dari bakteri ke sel tanaman inang (contoh pada
Agrobakterium tumefaciens).

Bagian eksternal
A. Flagela
Berfungsi sebagai alat gerak, struktur utamanya adalah protein yang disebut flagellin, fleksibel,
ukuran diameter10-15μm, dengan panjang 10-20μm. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang
dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

-Atrik, tidak mempunyai flagel.


-Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
-Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
-Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
-Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
B. Pili/Fimbriae
Merupakan alat untuk menempel pada permukaan (adhesin) substrat. Pili ada yang khusus
digunakan untuk konjugasi, disebut pili sex. DNA bakteri dapat ditransfer dari satu sel bakteri ke
sel bakteri lain selama proses konjugasi.
C. Kapsul/envelope
Merupakan selubung sel bakteri berupa extracellularpolysacharide (EPS). Berupa kapsul bila
melekat erat pada dinding sel atau berupa lendir dengan struktur longgar Berfungsi sebagai
pelindung sel dari kekeringan dan serangan mikroorganisme lain; alat untuk melekat pada
permukaan; berperan dalam penyerapan ion selektif; dan dalam interaksi inang-patogen.

Reproduksi Bakteri
Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak
kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap
sel membelah menjadi dua. Selama proses pembelahan, material genetik juga menduplikasi diri
dan membelah menjadi dua, dan mendistribusikan dirinya sendiri pada dua sel baru. Bakteri
membelah diri dalam waktu yang sangat singkat.Pada kondisi yang menguntungkan berduplikasi
setiap 20 menit.

Cara Reproduksi Bakteri selain pembelahan biner antara lain :


1. Konjugasi : reproduksi seksual dimana bakteri bertukar bahan genetik sebelum membelah diri,
sehingga turunannya memiliki gen baru. Material genetik ditransfer melalui pili sex.
2. Transformasi – bakteri mengambil gen dari bakteri lain yang telah mati dari lingkungannya.
3. Transduksi – virus menyisipkan gen baru ke dalam sel bakteri. Metoda ini digunakan dalam
bioteknologi untuk menghasilkan bakteri yang dapat menghasilkan insulin.

Klasifikasi Bakteri

Klasifikasi adalah meletakkan organisme kedalam kelompok taksonomik berdasarkan persamaan


karakter yang dimiliki. Klasifikasi Bakteri Patogen Tanaman mengikuti Bergey’s Manual of
Determinative Bacteriology, Ninth Edition (1994) :
KINGDOM PROKARIOT
BAKTERI – Memiliki membran dan dinding sel

Devisi I : GRACCILICUTES – Bakteri Gram negatif


Klas : PROTEOBACTERIA – Umumnya bersel tunggal
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Erwinia

Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Acidovorax, Pseudomonas, Rhizobacter, Xanthomonas, Xylophilus

Famili : Rhizobiaceae
Genus : Agrobacterium, Rhizobium

Famili : -
Genus : Xylella

Devisi II : FIRMICUTES – Bakteri Gram Positif


Klas : FIRMIBACTERIA – Umumnya bersel tunggal
Genus : Bacillus, Clostridium

Klas : THALLOBACTERIA – bakteri bercabang


Genus : Arthrobacter, Clavibacter, Curtobacterium,
Rhodococcus, Streptomyces

Devisi III: TENERICUTES


Klas : Mollicutes
Famili : Spiroplasmataceae
Genus : Spiroplasma

Famili : -
Genus : belum ditetapkan, dikenal sebagai phytoplasma (dulu disebut micoplasmalike organisms
(MLO)

Devisi IV: MENDISICUTE


Klas : Archaeobacteria

Jenis-jenis Bakteri

Berdasarkan cara memperoleh makanannya, bakteri dapat digolongkan menjadi dua golongan
yaitu bakteri heterotrof dan bakteri autotrof.

A. Bakteri Heterotrof 

Bakteri ini hidup dengan memperoleh makanan berupa zat organik dari lingkungannya karena
tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa-
sisa organisme lain. Bakteri yang mendapatkan zat organik dari sampah, kotoran, bangkai dan
juga sisa makanan, kita sebut sebagai bakteri saprofit. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam
makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi dan mineral.
B. Bakteri Autotrof 

Bakteri Autotrof adalah bakteri yang dapat menyusun zat makanan sendiri dari zat anorganik
yang ada. Dari sumber energi yang digunakannya, bakteri autotrof (auto = sendiri, trophein =
makanan) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1. Bakteri fotoautrotof
Bakteri fotoautrotof yaitu bakteri yang memanfaatkan cahaya sebagai energi untuk mengubah zat
anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis. Contoh bakteri ini adalah: bakteri
hijau, bakteri ungu.
2. Bakteri kemoautrotof
Bakteri kemoautrotof adalah bakteri yang menggunakan energi kimia yang diperolehnya pada
saat terjadi perombakan zat kimia dari molekul yang kompleks menjadi molekul yang sederhana
dengan melepaskan hidrogen. Contoh bakteri ini adalah: Nitrosomonas. Nitrosomonas dapat
memecah NH3 menjadi NH2, air dan energi.

Di samping terdapat bakteri yang dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkan makanan, ada
juga penggolongan bakteri berdasarkan sumber oksigen yang diperlukan dalam proses respirasi.
Bakteri itu dikelompokan sebagai berikut:
1. Bakteri aerob
yaitu bakteri yang menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Nitrosococcus,
Nitrosomonas dan Nitrobacter.
2. Bakteri anaerob
yaitu bakteri yang tidak menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal:
Streptococcus lactis.

Sedangkan berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen, bakteri dikelompokkan lagi menjadi:


1. Bakteri aerob obligat
yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana mengandung oksigen. Misal: Nitrobacter
dan Hydrogenomonas.
2. Bakteri anaerob obligat
yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana tanpa oksigen. Misal: Clostridium tetani.
3. Bakteri anaerob fakulatif
yaitu bakteri yang dapat hidup dengan atau tanpa oksigen. Misal: Escherichia coli, Salmonella
thypose dan Shigella.

BAB 5 Protista
Pengertian Protista
Kingdom Protista adalah makhluk eukariotik paling sederhana, tetapi lebih kompleks dalam hal
struktur, fungsi, tingkah laku, dan ekologinya dibanding dengan archeobacteria dan eubacteria.
Protista merupakan makhuk hidup bersel satu atau bersel banyak dan telah mempunyai membran
inti.
Ciri Protista
1.      Bersel eukariotik.
2.      Bentuk tubuh organisme golongan protista amatlah beragam.
3.      Respirasi secara aerobik.
4.      Sebagian besar bersifat uniselular, beberapa membentuk koloni. Ada juga yang
multiseluler, terdiri dari banyak sel. Protista multiselular mempunyai tubuh yang sederhana tanpa
jaringan terspesialisasi.
5.      Ada yang bereproduksi secara aseksual dan ada juga yang seksual.
6.      Sebagian protista hidup bebas, tetapi ada juga yang bersimbiosis dengan organisme lain.
7.      Kebanyakan hidup di perairan, laut, atau perairan tawar.
8.      Bergerak aktif seperti hewan dan berklorofil seperti tubuhan, serta mempunyai siklus hidup
dan reproduksi yang mirip dengn jamur.

Klasifikasi Protista
1.      Berdasarkan caranya memperoleh makanan, protista dibagi menjadi tiga golongan berikut
ini :
a.      Protista autotrof => Memiliki klorofil sehingga mampu berfotosintesis.
Contoh : alga, meliputi filum Euglenophyta, Chrysophyta, Pyrrhophyta, dan Phaeophyta.
b.      Protista hetotrof => Memperoleh makanan dengan cara fagositosis
Contoh : Protozoa, meliputi filum Mastigophora, Sarcodina, Ciliophora, dan Sporozoa
c.      Protista yang mencerna makanan di lluar sel (ekstraeluler), dan kemudian menyerap
hasilnya yang berupa sari-sari makanan.
Contoh : Jamur lendir dan jamur air.

2.      Berdasarkan ciri yang dimilikinya, organisme protista dikelompokkan menjadi :


a.      Protozoa (protista mirip hewan).
b.      Alga (protista mirip tumbuhan).
c.      Jamur (protista mirip jamur).

A.     Protozoa (Protista mirip hewan)


1.      Ciri-ciri protozoa
·        Uniseluler (kecuali Paramecium) dan tidak memiliki dinding sel, tubuh belum
terdiferensiasi secara jelas.
·        Bersifat fagositosis, soliter, atau koloni, ada yang memiliki semacam rangka.
·        Dapat ditemukan pada air tawar, air laut, dalam tanah, hutan, sawah, aatau parasit pada
organisme lain.
·        Ada yang bergerak dan ada yang tiak bergerak. Protozoa bergerak dengan flagel,
pseudopodia, silia, atau dengan gerakan sel itu sendiri.
·        Cara hidup heterotrof (saprofit atau parasit)
·        Berkembangbiak dengan cara vegetatif dengan membelah diri dan generatif sdengan
konjugasi.
·        Dalam kondisi yang tidak menguntungkan, protozoa membentuk kista, yaitu selaput tebal
untuk melindungi diri.

2.      Struktur Tubuh Protozoa


·        Ukuran tubuh mulai dari 10 mikron-6mm.
·        Bentuk protozoa bervariasi, yaitu asimetris, bilateral, simetris, radial simetris, dan spiral.
·        Secara umum tubuh protozoa dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu membran plasma terdiri
dari senyawa lipoprotein, sitoplasma yang bersifat koloid, dan inti sel

Klasifikasi Protozoa
a. Kelas Rhizopoda (Sarcodina) 

Rhizopoda berasal dari kata rhizo yang berarti akar dan podos yang berarti kaki, yaitu protozoa
yang bergerak dengan menggunakan kaki semu (pseudopodia). Kelas Rhizopoda memiliki ciri-
ciri:
1) Alat gerak berupa kaki semu
2) Habitat di air dan parasit pada tubuh hewan
3) Cara hidup soliter
4) Reproduksi secara membelah diri
b. Kelas Flagellata (Mastigophora) 

Flagellata berasal dari kata flagellum yang berarti bulu cambuk yaitu protozoa yang memiliki
alat gerak berupa bulu cambuk kelas flagellata mastigophora memiliki ciri-ciri :
1) Alat gerak berupa bulu cambuk
2) Hidup di air laut air tawar dan parasit pada tubuh hewan atau manusia
3) Cara hidup dengan soliter atau koloni
4) Reproduksi secara aseksual dengan membelah diri dan secara seksual dengan konjugasi

c. Kelas Ciliata (Ciliophora)

Ciliata  berasal dari kata Cilia yang berarti bulu getar, yaitu protozoa yang memiliki alat gerak
berupa bulu getar. Kelas ciliata (ciliophora) memiliki ciri-ciri :
1) Alat gerak berupa rambut getar
2) Hidup di air tawar dan tempat-tempat yang lembab
3) Cara hidup soliter atau berkoloni
4) Reproduksi secara aseksual dengan membelah diri dan secara seksual dengan konjugasi
Contoh ciliata yang hidup bebas adalah paramecium caudatum, dan yang hidup parasit adalah
nyctoterus ovalis (yang hidup di dalam usus kecoa) dan balantidium coli (yang parasit pada babi
dan dapat menyebabkan penyakit balantidiosis (disentri balantidium). Sedangkan contoh hewan
ciliata yang lainnya adalah :
1) Stentor, hidup di sawah sawah atau air tergenang banyak mengandung bahan organik
2) Didinium, merupakan pemangsa paramecium, hidup di perairan yang banyak protozoa
3) Vorticella, bentuk seperti lonceng silia terdapat di sekitar mulut sel
4)  Stylonichia, mirip dengan paramecium, silia berkelompok disebut sirus, hidup di perairan
yang banyak    mengandung sampah organik.
d. Kelas Sporozoa

Sporosoa berasal dari kata spora yang berarti benih dan zoon yang berarti hewan, merupakan
protozoa yang tidak memiliki alat gerak. kelas sporozoa memiliki ciri ciri :
1) Tidak memiliki alat gerak
2) Hidup sebagai parasit pada sel darah merah manusia atau hewan
3) Cara hidup soliter
4) Reproduksi secara aseksual dengan sporofit dan seksual dengan gametofit
Contoh :
1) Plasmodium Vivax, penyebab penyakit malaria tertiana.
2) Plasmodium malariae penyebab penyakit malaria quartana.
3) Plasmodium Ovale, penyebab penyakit limpa.
4) Plasmodium falciparum penyebab penyakit malaria tropika.

5. Peranan Protozoa
a.      Protozoa menguntungkan
1)      Membentuk endapan tanah radiolaria.
2)      Membentuk tanah globigerina.
3)      Membantu pembusukan sisa. makanan dan pembentukan vitamin K.
4)      Sebagai zooplankton yang merupakan konsumen tingkat pertama.
5)      Cangkang dari silika dimanfaatkan sebagai bahan pembentuk gelas.
6)      Sebagai petunjuk dalam pencarian sumber minyak bumi di laut.
7)      Sebagai bahan dasar pembuatan alat gosok.
b.      Protozoa Merugikan
1)      Pada manusia menimbulkan penyakit disentri, gingivalis, diare, tidur, kalazaar, keputihan,
malaria.
2)      Pada hewan menyebabkan penyakit surra pada ternak, penyakit chagas pada tikus dan insekta.
B. Alga/Ganggang (Protista mirip tumbuhan)

Dalam sistem lima kingdom Alga tidak masuk dalam kingdom plantae. Alga masuk dalam
kingdom protista karena memiliki ciri-ciri tubuh tersusun dari satu atau banyak sel, yang tidak
berdiferensiasi menjadi jaringan khusus. Alga mikroskopis dapat dijumpai hampir di segala
lingkungan yang terkena sinar matahari. Alga mikroskopis ini merupakan bagian dari
fitoplankton yang berguna sebagai makanan penting bagi organisme lain.

1. Ciri-ciri Alga
Alga memiliki ciri dan sifat sebagai berikut.
a.      Termasuk organisme fotosintetik.
b.      Bersifat eukariotik karena sudah memiliki inti sel dengan membran inti yang
menyelubunginya.
c.      Tubuh alga disebut sebagai thallus karena belum dapat dibedakan akar,batang, dan daun.
d.      Memiliki kloroplas,dijumpai di tempat lembab, air tawar, air laut, atau menempel pada pohon. 
e.      Organisme ini dapat hidup sebagai Plankton (mengapung, terbawa arus) bentos (di dasar
perairan) atau perifiton (menempel).
f.       Ada yang uniseluler bersifat soliter dan koloni, dan ada yang multiseluler berbentuk benang
atau lembaran.
g.      Ada yang mikroskopis dan ada pula yang makroskopis.
h.      Beberapa Alga dapat merugikan manusia karena menghasilkan racun, anti bakteri, atau bersifat
parasit.
i.       spesies tertentu dapat berperan sebagai bioindikator, bioremediator, atau sebagai sumber
makanan tambahan.

2. Klasifikasi Alga
Berdasarkan pigmen yang dikandungnya, alga dibedakan menjadi beberapa filum sebagai
berikut.
a.      Euglenophyta

Euglenophyta memiliki ciri-ciri :


1)      Organisme yang mirip hewan dan tumbuhan.
2)      Mempunyai klorofil (klorofil a dan b) serta mengandung karoten dan dapat melakukan
fotosintesis.
3)      Mempunyai bintik mata dan selnya tidak berdinding.
4)      Dapat bergerak bebas .
5)      Habitat di air tawar atau tempat yang lembab.
6)      Reproduksi dengan membelah diri (pembelahan biner).
Contoh : Euglena.
b.      Chrysophyta (Ganggang Keemasan)

Secara umum Chrysophyta memiliki ciri-ciri :


1) habitatnya ada yang di air laut dan ada yang di air tawar.
2) ada yang bersel tunggal dan ada yang bersel banyak
Chrysophyta dibagi ke dalam tiga kelas yaitu :
1)      Ganggang hijai-kuning (Xanthophyceae)
Xanthophyceae memiliki ciri-ciri :
Memiliki klorofil dan xantofil. umumnya berbentuk filamen dan tidak berserat.
Reproduksi vegetatif dengan membentuk zoospora contoh : Vaucheria. 
2)      Ganggang cokelat keemasan (Chrysophyceae)
Chrysophyceae memiliki ciri-ciri :
a)      Mempunyai pigmen klorofil dan karoten.
b)      Ada yang uniseuler, contohnya Ochromonas dan ada pula yang membentuk koloni,
contohnya Synura.
c)      Hasil fotosintesis disimpan sebagai karbohidrat dan minyak.
3)      Bacillariophyceae (Diatom)
Bacillariophyceae memiliki ciri-ciri :
a)      Banyak terdapat di permukaan tanah basah.
b)      Ada yang uniseluler dan ada yang berkoloni.
c)      Dinding sel terdiri dari epiteka dan hipoteka.
d)      Reproduksi aseksual dengan membelah diri.
Contoh : Navicula, Pinnularia, dan Cyclotella.

c.      Pyrrhophyta (Ganggang Api)

Semua anggota ganggang api mempunyai dua flagel, oleh sebab itu disebut juga
dinoflagellata (dino=dua). Pyrrhophyta (ganggang api) mempunyai ciri-ciri :
1)      Uniseluler dapat bergerak aktif. 
2)       Selnya berdinding dan di sebelah luar sel terdapat alur masing-masing mengandung satu
flagela.
3)      Mempunyai plastida yang mengandung klorofil dan pigmen coklat kekuningan.
4)      Reproduksi dengan membelah diri. 
5)      Ganggang api yang hidup di laut bersifat fosforesensi.
contoh : Peridinium.
d.      Chlorophyta (Gnggang hijau)
Chlorophyta (ganggang hijau) memiliki ciri-ciri :
1)      Sebagai Plankton di air tawar dan air laut ada pula yang hidup ditempat yang lembab dan
tubuh hewan.
2)      Memiliki kloroplas dengan berbagai bentuk (spiral mangkok lembaran bola dan bintang).
3)      Kloroplasnya mengandung klorofil a dan b karoten serta xantofil.
4)      Reproduksi vegetatif dilakukan dengan pembelahan biner, fragmentasi, dan pembentukan
zoospora, sedangkan secara generatif dilakukan dengan konjugasi serta peleburan sperma dan
ovum.
Chlorophyta dibedakan sebagai berikut.
1)      Chlorophyta bersel tunggal tak bergerak
Contoh: Chlorella dan Chlorococcum
2)      Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak
Contoh : Chlamydomonas
3)      Chlorophyta berkoloni tak bergerak
Contoh : Hydrodyctyon
4)      Chlorophyta berkoloni dapat bergerak
Contoh : Volvox
5)      Chlorophyta berbentuk benang
Contoh : Spyrogyra dan Oedogonium
6)      Chlorophyta berbentuk lembaran
Contoh : Ulva  dan Chara
e.      Phaeophyta (Ganggang cokelat)

Phaeophyta (Ganggang cokelat) memiliki ciri-ciri :


1)      Tubuh mirip tumbuhan tingkat tinggi.
2)      Memiliki pigmen fikosantin dan klorofil.
3)      Reproduksi secara vegetatif dengan fragmentasi, sedangkan generatif dengan membentuk
konseptakel jantan dan konseptakel betina.
4)      Sebagian besar hidup di laut, beberapa jenis hidup di air tawar.
Contoh : Sargassum, Macrocystis, Fucus, dan Ectocarpus.
f.       Rhodophyta (Ganggang merah)
Rhodophyta (Ganggang merah) memiliki ciri-ciri :
1)      Bentuk tubuh seperti rumput sehingga sering disebut rumput laut.
2)      Tubuh bersel banyak dan berbentuk seperti lembaran.
3)      Mengandung klorofil, pigmen fikoeritrin, dan pigmen fikosianin.
4)      Reproduksi seksual dengan peleburan sperma dan ovum yang menghasilkan zigot.
5)      Habitat sebagian besar di laut dan sebagian di air tawar.
Contoh : Eucheuma spinosum, Gelidium, Kallimenia, dan Scinata.
Reproduksi Alga
Alga melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. reproduksi aseksual adalah
melalui :
a.      Pembelahan biner terjadi pada Alga uniseluler.
b.      Fragmentasi (pemutusan beberapa bagian tubuh yang akan tumbuh menjadi individu baru)
terjadi pada alga berkoloni dan berbentuk benang.
c.      Spora Kembara (zoospora) yakni potongan dari protoplasma yang dibungkus oleh dinding sel
yang dilengkapi flagel.
Sedangkan proses reproduksi seksual (generatif) dilakukan melalui :
a.      Isogami (konjugasi), yakni peleburan sel kelamin jantan dan betina yang mempunyai bentuk
dan ukuran yang sama atau dengan kata lain, perkawinan yang belum diketahui jenis
kelaminnya.
b.      Anisogami, yakni pertemuan sel kelamin jantan yang berukuran lebih kecil dari sel kelamin
betina.
c.      Oogami, pertemuan antara spermatozoid dengan ovum yang menghasilkan zigot.