Anda di halaman 1dari 23

MANAJEMEN MUTU TERPADU

PENERAPAN 7 TOOLS DALAM PEKERJAAN


BETON PRECAST

OLEH:

Gusti Ayu Made Ratna Wati 1705512027


I Gusti Ayu Alik Cahyani 1705512030
Ida Bagus Gde Oka Adhyasta 1705512031
I Gede Asta Dharma Santika 1705512037
I Ketut Ari Yoga Febriawan 1705512042

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan
Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Tugas
Penerapan 7 Tools dalam pekerjaan beton precast tepat pada waktunya. Adapun
makalah ini dihimpun sebagai salah satu tugas mata kuliah Manajemen Mutu
Terpadu.
Dalam Penyusunan Tugas ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan
motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih pada Bapak Dr. Ir. I Nyoman Yudha Astana, MT. selaku dosen mata
kuliah Manajemen Mutu Terpadu, serta semua pihak yang turut membantu dalam
penyelesaian tugas ini.
Kami menyadari kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan Laporan
ini, karenanya diharapkan saran maupun kritik yang bersifat membangun sebagai
bahan penyempurnaan.

Denpasar, 10 Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3
2.1 Beton Pracetak (Precast) .......................................................................... 3
2.1.1 Pengertian Pracetak (Precast)............................................................... 3
2.1.2 Keunggulan Beton Pracetak (Precast).................................................. 3
2.1.3 Kelemahan Beton Pracetak (Precast) ................................................... 5
2.1.4 Tahapan Pelaksanaan ............................................................................ 6
BAB III PEMBAHASAN ....................................................................................... 8
3.1 Identifikasi Masalah ................................................................................. 8
3.1.1 Standarisasi SOP Menggunakan Flow Chart ........................................ 8
3.1.2 Check Sheet .......................................................................................... 9
3.2 Data Penelitian.......................................................................................... 9
3.2.1 Identifikasi Masalah............................................................................ 10
3.2.2 Memahami Data.................................................................................. 10
3.2.3 Analisa Kemampuan Proses ............................................................... 13
3.2.5 Menguji Hipotesa................................................................................ 14
3.2.6 Tindakan Perbaikan dan Pemeriksaan ................................................ 15
3.2.7 Analisa Kemampuan Proses Setelah Langkah Perbaikan................... 17
BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 19
4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia yang
memerlukan pembangunan secara masif untuk menunjang sarana prasarana dan
meningkatkan perekonomian masyarakat. Pihak-pihak yang memegang peranan
penting dalam proses pembangunan memiliki tanggung jawab terhadap kualitas dan
mutu dari hasil pembangunan. Pembangunan infrastruktur yang berkualitas
merupakan syarat mutlak yang diperlukan guna meningkatkan pertumbuhan
ekonomi, sehingga untuk mencapai infrastruktur yang berkualitas maka diperlukan
material-material pembangunan dengan mutu yang baik.
Kualitas dapat diartikan sebagai tingkat atau ukuran kesesuain suatu produk
dengan pemakainya, dalam arti sempit kualitas diartikan sebagai tingkat kesesuain
produk dengan standar yang telah ditetapkan. Metode untuk mengontrol stabilitas
proses dan mengendalikan kualitas produksi yang bisa digunakan yaitu metode
Seven Tools dimana seven tools diartikan sebagai 7 (tujuh) alat dasar yang
digunakan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh produksi,
terutama pada permasalahan yang berkaitan dengan kualitas (Mutu). Tujuh alat
dasar tersebut Flowchart, Check Sheet, Diagram Pareto, Cause and Effect Diagram
(Fishbonen Diagram), Histogram, Control Chart (Peta Kendali), Scatter Diagram,
Dalam dunia konstruksi istilah Beton Precast sudah tidak asing lagi. Jenis
beton ini memiliki manfaat yang sangat besar dalam pembangunan baik itu
pembangunan berskala besar maupun tidak, apalagi didukung dengan kelebihan-
kelebihan beton precast yaitu hemat waktu dan efisien, ramah lingkungan, nahkan
dapat mengurangi biaya tenaga kerja, sehingga pada proses produksinya beton
precast sangat membutuhkan kontrol kualitas yang terjamin. Maka dari itu perlu
diterapkan metode-metode yang dapat membantu mengontrol kualitas produksi
beton precast salah satunya dengan metode Seven Tools. Pengontrol mutu terhadap
beton precast sangat penting untuk mencegah terjadinya kegagalan struktur, guna
menjamin keselamatan pengguna infrastruktur.

1
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat ditarik pada makalah ini, sebagai
berikut:
1. Bagaimana penerapan seven tools pada beton precast ?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Beton Pracetak (Precast)


2.1.1 Pengertian Pracetak (Precast)
Pada umumnya beton pracetak tidak berbeda dengan beton yang biasanya
(konvensional), yang menjadikannya berbeda ialah terletak pada proses
pembuatannya atau pabrikasinya. Pada beton pracetak proses pembuatan beton
dilakukan di tempat yang berbeda dengan lokasi tempat elemen itu akan digunakan,
umumnya pabrikasinya dilakukan di pabrik atau workshop. Selain pembuatan beton
pracetak di workshop, ada juga proses pabrikasi di area lokasi proyek yang terletak
di casting area (lahan produksi), yaitu suatu lahan dengan luasan tertentu yang
sudah dipersiapkan sebagai area prosuksi komponen atau elemen beton pracetak
yang terletak di luar lokasi bangunan.
Setelah umur beton sudah dirasa cukup, beton pracetak tersebut diangkat dari
cetakannya dan disimpan atau ditumpuk di lahan penumpukan (stocking area),
yaitu lahan dengan luasan tertentu yang telah dipersiapkan sebagai tempat
penumpukan komponen pracetak sementara sebelum komponen tersebut di rakit.
Untuk beton pracetak yang dipabriksi di workshop atau pabrik, setelah umur beton
dirasa cukup untuk dilepas dari cetakan, komponen beton akan dikirim ke lokasi
proyek untuk dirakit atau dirangkai. Proses perakitan memerlukan bantuan dari alat
berat seperti mobile crane atau tower crane untuk mengangkat dan merakitnya,
proses ini disebut proses erection and install.

2.1.2 Keunggulan Beton Pracetak (Precast)


Menurut Ervianto (2006), teknologi beton pracetak mempunyai beberapa
keunggulan, yaitu:
1. Durasi Proyek Menjadi Lebih Singkat
Dengan menerapkan teknologi beton pracetak, pengaturan jadwal
produksi elemen beton pracetak dapat diatur sedemikian rupa sehingga
elemen-elemen yang akan dipasang lebih awal dapat diproduksi lebih
dahulu dan pada saat jadwal pemasangannya nanti, elemen tersebut telah
3
cukup umur. Dengan kegiatan pekerjaan yang overlapping serta cycle time
erection yang relative singkat maka proyek akan selesai dalam waktu yang
lebih singkat.
2. Mereduksi biaya konstruksi
Dengan durasi yang relatif lebih singkat, maka biaya yang dikeluarkan
proyek juga akan lebih sedikit, dan dapat mengurangi biaya overhead
proyek. Hal lain yang ikut tereduksi adalah penggunaan tenaga kerja yang
lebih sedikit, berkurangnya kebutuhan material pendukung seperti
schafolding, menghemat biaya bekisting, serta menghemat biaya material
pembentuk beton bertulang.
3. Kontinuitas proses konstruksi dapat terjaga
Kegiatan pelaksanaan pekerjaan tidak terhenti oleh karena pengaruh
alam (cuaca). Sebab waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan
di luar ruangan seperti pembesian dan pengecoran relatif lebih singkat
sehingga kontinuitas pekerjaan lebih terjaga.
4. Produksi massal
Pertimbangan dalam menggunakan teknologi pracetak adalah bahwa
jenis elemen struktur hendaknya tidak terlalu bervariasi, sehingga setiap
jenis elemen yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif besar. Hal ini
dilakukan agar tingkat efisiensi dari pembuatan secara massal dan pabrikasi
dapat dicapai.
5. Mengurangi biaya pengawasan
Proses konstruksi yang lebih singkat akan banyak mereduksi biaya yang
harus dikeluarkan, salah satunya adalah fee untuk konsultan supervisor.
6. Mengurangi kebisingan
Dengan menggunakan beton pracetak, proses produksi dilakukan di
luar lokasi proyek (missalnya di pabrik/workshop), yang apabila telah
selesai diproduksi maka akan dipindahkan ke lokasi proyek dan diinstalasi
pada tempat yang seharusnya. Proses ini secara langsung dapat mengurangi
tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh peralatan konstruksi Karena
jumlah alat yang berada di lokasi proyek akan lebih sedikit bila
dibandingkan dengan beton konvensional.
4
7. Menghasilkan kualitas beton yang lebih baik
Beton pracetak mempunyai kualitas yang lebih baik karena hal-hal
sebagai berikut:
a. Proses produksi dilaksanakan dengan menggunakan mesin
b. Kondisi di pabrik atau workshop yang relatif konstan
c. Pengawasan yang lebih cermat
d. Kondisi dari lingkungan kerja yang lebih baik (tidak di bawah
sinar matahari secara langsung).
8. Pelaksanaan konstruksi hampir tidak terpengaruh oleh cuaca
Elemen beton pracetak diproduksi dalam lingkungan pabrik atau
workshop yang terlindung dari pengaruh panas matahari maupun hujan,
sehingga proses produksi tidak teperngaruh oleh perubahan cuaca. Proses
yang terpengaruh cuaca hanya pada saat proses erection dan install di
lapangan. Namun waktu yang dibutuhkan untuk proses erection dan install
relatif lebih singkat bila dibandingkan proses produksi beton. Dengan
demikian penggunaan elemen pracetak akan dapat memperkecil
kemungkinan terjadinya keterlambatan yang diakibatkan oleh cuaca.

2.1.3 Kelemahan Beton Pracetak (Precast)


Disamping mempunyai banyak keunggulan, teknologi beton juga mempunyai
beberapa kelemahan, yaitu:
1. Transportasi
Proses pemindahan elemen beton pracetak dari lokasi produksi (pabrik)
menuju lokasi proyek membutuhkan biaya tambahan untuk pengadaan alat
angut. Mode transportasi yang biasa digunakan adalah truk dengan bak
terbuka. Factor penting yang menjadi pertimbangan adalah dimensi dan
berat dari elemen beton pracetak yang sangat berpengaruh terhadap
ketersediaan alat angkut dan kemudahan transportasinya.
2. Erection
Erection adalah tahap penyatuan elemen beton pracetak menjadi satu-
kesatuan yang utuh sehingga membentuk suatu bangunan. Pada proses ini
membutuhkan alat bantu yang dinamakan crane yang mampu mengangkat
5
dan memindahkan elemen beton pracetak sehingga terpasang pada posisi
yang seharusnya. Penyediaan alat bantu ini membutuhkan biaya yang relatif
cukup besar, sehingga jika teknologi ini digunakan perlu dikaji efisiensi
biayanya, antara penyediaan alat bantu dengan nilai proyek tersebut.
Apabila volume pekerjaan beton kurang memadai maka akan
mengakibatkan biaya konstruksi menjadi lebih mahal.
3. Connection
Dalam usaha menyatukan elemen-elemen beton pracetak dibutuhkan
suatu konstruksi tambahan yang mampu meneruskan semua gaya-gaya yang
bekerja dalam setiap elemen. Kendala yang timbul ialah bagaimana
menentukan jenis sambungan yang mampu mengantisipasi semua gaya
yang terjadi sehingga perilaku struktur dapat menyerupai struktur beton
bertulang konvensional. Untuk mengaplikasikan alat sambung yang betul-
betul sempurna dibutuhkan biaya yang relatif mahal.

2.1.4 Tahapan Pelaksanaan


Pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi yang menerapkan teknologi
pracetak akan mengikuti urutan kegiatan sebagai berikut: (1) planning, (2) desingn
and engineering, (3) fabrication, (4) transportation, handling, and erection.
(Wulfram I. Ervianto, 2006:40).
1. Planning
Perencanaan merupakan tahap kegiatan kritis yang lebih disebabkan
karena teknologi pracetak ini tidak mudah disesuaikan dengan perubahan
yang terjadi sewaktu-waktu. Pada tahap ini harus mempertimbangkan,
memprakirakan, dan mengendalikan berbagai proses kegiatan.
Perencanaan ini di awali dengan tahap konseptual sampai dengan
selesainya pelaksanaan pekerjaan. (Wulfram I. Ervianto, 2006:41)
2. Design and engineering
Kegiatan yang termasuk dalam tahap ini adalah melakukan
identifikasi yang dibutuhkan dan persyaratan yang harus dipenuhi dalam
melakukan pemilihan konsultan perencana. (Wulfram I. Ervianto,
2006:45).
6
3. Fabrication
Pembuatan Beton Pracetak dan dilakukan diluar maupun didalam
pabrik karena di tentukan oleh kondisi lapangan tempat atau lokasi beton
pracetak itu digunakan. Lokasi pembuatan beton pracetak tentu akan
berpengaruh pada biaya tambahan. Beton yang di buat di pabrik akan akan
dikirim ke lokasi penggunakann hal ini yang membuat biaya pelaksanaan
bertambah. Sebaliknya, beton yang dibuat di lokasi penggunaan akan
menghemat biaya pengiriman atau biaya pengangkutan ke lokasi proyek.
4. Transportation, handling, and erection
Hal ini berkaitan dengan dimensi dan berat masing-masing modul
yang berkaitan dengan dimensi dan berat dari masing – masing modul
yang telah direncanakan. Pemindahan modul-modul pracetak merupakan
kegiatan yang membutuhkan peralatan yang spesifik dan memadai. Tahap
perencanaan transportasi harus mempertimbangkan jalur transpotasi yang
akan dilewati, metode pemindahan, dan peralatan yang dibutuhkan.
(Wulfram I. Ervianto, 2006:46).

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Identifikasi Masalah


3.1.1 Standarisasi SOP Menggunakan Flow Chart
Flowchart pada bagian ini menggambarkan seluruh aktivitas kegiatan yang
dilalui perusahaan dari pengolahan bahan baku hingga pengujian beton untuk
memastikan kualitas dari beton yang telah dirancang. Berikut merupakan Flow
Chart produksi.

8
3.1.2 Check Sheet
Untuk mempermudah pengerjaan pengecekan digunakan check sheet agar
mengetahui tahapan apa saja yang telah dilewati, berikut adalah check sheet yang
digunakan pada pembuatan beton precast:
No Uraian Hasil Keterangan
Pemeriksaan
Ya Tidak
1 Pengukuran
2 Bahan baku beton (semen, pasir,
kerikil, dan air)
3 Peralatan adukan molen dan lain-lain
4 Slump 19-23 cm
5 Pembuatan benda uji
6 Pelepasan beton dari cetakan
7 Beton direndam selama 28 hari
8 Kuat tekan sesuai dengan kuat tekan
rencana pada mix design

3.2 Data Penelitian


Dalam kasus ini akan membahas tentang pengendalian mutu produk balok
girder untuk proyek jalan tol Manado-Bitung dengan mutu beton K-500 dengan
panjang 30,8 m dan tinggi 2,1 m.

Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Agregat Halus dan Kasar

Tabel 2 Mis Design Untuk K-500

9
3.2.1 Identifikasi Masalah

Tabel 3 Data Diagram Pareto dan Jumlah Test Karakteristik Mutu


Beton

Gambar 1 Diagram Pareto Hasil Test Karakteristik Mutu Beton


Pada Diagram Pareto dapat dilihat bahwa hasil karakteristik mutu yang tidak
memenuhi spesifikasi paling banyak adalah kuat tekan. Sehingga kuat tekan akan
menjadi sasaran utama program pengendalian mutu girder.

3.2.2 Memahami Data


Data mutu beton yang telah dikumpulkan selanjutnya dipahami dengan
menggunakan histogram dan peta kendali.
a. Histogram
Histogram seperti Gambar 2 merupakan histogram tipe sarang tawon (multi
modal) yang bentuknya tidak normal, dimana setiap kelas lainnya
mempunyai frekuensi rendah dan mempunyai bentuk yang tidak beraturan.
Hal ini terjadi karena jumlah unit dalam kelas bervariasi dan adanya hasil

10
selisih data yang terlalu jauh, yaitu di salah satu batang histogram
menunjukkan hasil data sebanyak 61 buah dan yang terendah sebanyak 1
buah.

Gambar 2 Histogram Kuat Tekan


b. Peta Kendali

Penentuan peta kendali dari kajian pustaka digunakan peta x – R. Data


yang diperlukan adalah data sekunder atau kontinu berdasarkan urutan
tanggal produksi.

Tabel 4 Pembagian Subgrup Peta Kendali x – R.

11
Gambar 3 Peta Kendali x Mutu Beton
Pada Gambar 3 dapat dibaca atau dipahami bahwa peta kendali adalah
type mendekati garis kendali, dimana terjadi 2 titik melebihi garis UCL dari 8
titik berada melebihi batas peringatan 1,5σ.
Titik-titik pada peta kendali didapatkan dari hasil rata-rata dari Tabel 4
kemudian diplotkan ke dalam peta kendali mutu beton pada Gambar 3.
Gambar 4 merupakan membentuk kurva dalam keadaan tidak terkendali,
karena terdapat 5 dari 13 titik yang keluar dari sigma 2. Kemungkinan
penyebabnya adalah:
1) Operator: baru, kurang berpengalaman
2) Material: Perbedaan bahan baku
3) Metode: tidak sesuai standar operasi yang telah ditetapkan.
4) Mesin: standar operasi berubah
5) Lingkungan: Perubahan fisik dikarenakan panas atau hujan.

12
Gambar 4 Peta Kendali R Mutu Beton

3.2.3 Analisa Kemampuan Proses


Indeks kemampuan proses dihitung untuk melihat apakah mutu beton yang
melebihi spesifikasi disebabkan oleh keadaan tidak terkendali ataukah tidak.
Dengan menggunakan histogram sesuai persamaan:
𝑈𝑆𝐿−𝐿𝑆𝐿 525−500
𝐶𝑝 = = = 0.15
6𝜎 6 𝑋 28.43

Perhitungan indeks kemampuan proses dalam kondisi seperti ini (proses


tidak terkendali) tidak dapat dilakukan menggunakan peta kendali, karena
kemampuan sangatlah kecil yaitu (0,15) dan >1,33.

3.2.4 Menyusun Hipotesa

Dari hasil brainstorming/diskusi dengan pihak quality control, maka


diputuskan semua sebab mampu terka yang mungkin memengaruhi mutu beton
balok girder adalah standar mix design yang menyebabkan mutu lebih tinggi dari
mutu yang direncanakan yaitu K-500 yang pada akhirnya akan menurunkan indeks
kemampuan proses disebabkan karena kisaran slump test yang selamam ini
distandarkan terlalu kecil yaitu 18 cm – 22 cm, sehingga kisaran slump pada hasil
pengujian slump test perlu diperbesar denganharapan variasi yang terjadi akan
semakin dekat dengan mutu yang direncakana. Dari proses-proses yang tertinggal
ini diagram sebab akibat kemudian diperlebar lagi dengan lebih memerincikan

13
sebab-sebab yang dapat memengaruhi mutu beton balok girder K500 seperti pada
Gambar 5 (dapat kita lihat di lampiran) dengan mengubah komposisi atau takaran
material mix design. Memberi tanda merah untuk setiap material yang takarannya
diubah. Langkah utama untuk mengubah mix design agar kuat tekan beton lebih
mendekati kepada standar yang telah ditentukan adalah dengan memperbesar nilai
Faktor Air Semen (FAS). Karena FAS merupakan kunci utama untuk membuat
beton. Untuk menentukan FAS yang tepat, maka dilakukan dengan cara coba-coba
(trial and error).

Gambar 5 Diagram Sebab-Akibat Setelah Mengubah Sebab


Mampu Terka

3.2.5 Menguji Hipotesa


Pengujian hipotesa dilakukan terhadap faktor yang dicurigai telah
memperbesar variasa nilai kuat tekan mutu beton yang dihasilkan dari hasil analisa
diagram sebab akibat yaitu faktor air/semen yang terjadi pada proses pembuatan
beton yang ditunjukkan dalam hasil pengujian test slump. Karena dari faktor
air/semen dan pengujian test slump mutu beton merupakan data kontinu yang
mengakibatkan hasil pengujian kuat tekan beton yang terlalu tinggi, maka
pengujian hipotesa dilakukan dengan menggunakan diagram tebar.

14
Tabel 5 Perhitungan Koefisien Korelasi

Gambar 6 Diagram Tebar Slump dan Kuat Tekan Beton

3.2.6 Tindakan Perbaikan dan Pemeriksaan


Untuk membuat mutu beton mendekati dari yang diinginkan, maka langkah
awal adalah dengan mengubah nilai FAS, karena faktor air semen ini sangat
menentukan proporsi semen yang digunakan dalam suatu mix design yang akan
memengaruhi nilai kuat tekan. Berikut merupakan tabel hasil pengujian untuk trial
and error dari nilai FAS 0,33 sampai dengan nilai FAS 0,37.

15
Tabel 6 Hasil trial benda uji ketika mengubah nilai FAS

Tabel 7 Kesimpulan Hasil Perbedaan Bahan Mix Design


Karena nilai FAS 0,37 sudah sangat mendekati, maka kita memutuskan untuk
memilih nilai FAS 0,37. Tentunya hal tersebut juga disepakati dari pihak kontraktor
yang ada di lapangan. Perbedaan antara mix design sebelum dan sesudah langkah
pebaikan dapat dilihat pada tabel 6. Dari hasil tindakan pemeriksaan dan
penyelidikan diatas hasil tersebut membuktikan keadaan terkendali dengan
mengubah nilai faktor air/semen menjadi 0,37.
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa setelah melakukan tindakan untuk
menghilangkan titik-titik yang berada di luar kendali, maka dapat dilihat bahwa
mutu beton balok girder yang dihasilkan tidak ada yang keluar dari batas
spesifikasi, rata-rata mengalami sedikit sedikit pergeseran mendekati target (500
kg/cm2) menjadi 530,21 kg/cm2 dan penyebaran data menjadi lebih kecil yaitu
1,39.

16
Gambar 7 Histogram Kuat Tekan Beton Setelah Merubah Sebab
Mampu Terka

3.2.7 Analisa Kemampuan Proses Setelah Langkah Perbaikan

Gambar 8 Peta Kendali x Kuat Tekan Setelah Merubah Sebab


Mampu Terka

17
Gambar 9 Peta Kendali R Kuat Tekan Setelah Merubah Sebab Mampu
Terka
Peta dan R menunjukkan keadaan terkendali, berarti penyebab variasi yang
telah diuji dan ditindaki adalah tepat. Perkirakan ratarata dan devisiasi standar
proses menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sebelum
penyebab mampu terka ditindaki, yang secara otomatis akan membawa
peningkatan indeks kemampuan proses dari 0,15 menjadi 5,36 karena < 1,33.

18
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Identifikasi masalah merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam
merencanakan suatu program sehingga apa yang direncanakan dapat tereksekusi
dengan baik. Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami
seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus, menganalisis situasi untuk
mengetahui isu apa yang sedang terjadi, dan memutuskan tindakan apa yang harus
segera dilakukan untuk memecahkan masalah lalu metode yang sesuai dan dapat
menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan.
Pada uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menerapkan seven
tools pada pembuatan beton pracetak tentu akan mempermudah setiap proses dalam
memproduksi beton pracetak. Dengan adanya Check Sheet akan mempermudah
proses pengumpulan data hasil produksi, karena berisikan tentang nomer produksi,
tanggal pengecoran, jenis produk, dan lain-lain. Kemudian dengan adanya Diagram
Pareto dapat membantu dalam mengidentifikasi permasalahan yang paling banyak
terjadi untuk dilakukan proses perbaikan. Histogram sangat penting keberadaanya
dalam memudahkan pemahaman terhadap data karena telah dikelompokkan
menjadi kelas-kelas. Selain itu, terdapat peta kendali untuk mengontrol data
agar produk tidak keluar dari batas kendali sehingga tidak terjadi penolakan oleh
konsumen. Diagram sebab akibat untuk mencari akar masalah yang paling
dominan. Sehingga ditetapkan, standar mix design yang menyebabkan nilai kuat
tekan yang jauh dari spesifikasi. Diagram tebar untuk mengidentifikasi hubungan
antara dua variabel, yaitu kuat tekan dan nilai slump. Serta Flow chart digunakan
sebagai alat untuk penyusunan SOP menjalankan operasional kegiatan agar tidak
terjadi kesalahan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Subiyakto, Heru. 2017. Analisis Peningkatan Kualitas Produk Precast Concrete


Dengan Pendekatan Statistical Process Control Dan Quality Function
Deployment.
https://www.academia.edu/35482273/ANALISIS_PENINGKATAN_KU
ALITAS_PRODUK_PRECAST_CONCRETE_DENGAN_PENDEKAT
AN_STATISTICAL_PROCESS_CONTROL_DAN_QUALITY_FUNC
TION_DEPLOYMENT. Diakses pada tanggal 7 Mei 2020.
Abipraya, Brantas. 2019. Pengetahuan Beton Pracetak. http://knowledge.brantas-
abipraya.co.id/wp-content/uploads/2019/09/7.-Pengetahuan-Beton-
Pracetak.pdf. Diakses pada tanggal 7 Mei 2020.
Aini, Nur. 2016. Pengendalian Mutu Produk Precast Dengan Menggunakan Metode
Spc (Statistical Process Control) Di Pt. Waskita Precast Plant Sidoarjo.
https://www.academia.edu/37957589/JURNAL_aini_ya.pdf.Diakses
pada tanggal 8 Mei 2020.
UNILA. 2011. Tinjauan Pustaka Beton Precast.
http://digilib.unila.ac.id/2094/8/BAB%20II.pdf. Diakses pada tanggal 9
Mei 2020.

20