Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Letak lintang adalah suatu keadaaan dimana janin melintang (sumbu panjang
janin kira-kira tegak lurus dengan sumbu panjang tubuh ibu) di dalam uterus dengan
kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Bila sumbu
panjang tersebut membentuk sudut lancip, hasilnya adalah letak lintang oblik. Letak
lintang oblik biasanya hanya terjadi sementara karena kemudian akan berubah
menjadi posisi longitudinal atau letak lintang saat persalinan. Di Inggris letak lintang
oblik dinyatakan sebagai letak lintang yang tidak stabil. Kelainan letak pada janin ini
termasuk dalam macam-macam bentuk kelainan dalam persalinan (distosia).1,2
Letak lintang terjadi pada 1 dari 322 kelahiran tunggal (0,3 %) baik di Mayo
Clinic maupun di University of Iowa Hospital, USA. Di Parklannd Hospital, dijumpai
letak lintang pada 1 dari 335 janin tunggal yang lahir selama lebih dari 4 tahun.2
Beberapa rumah sakit di Indonesia melaporkan angka kejadian letak lintang,
antara lain: RSU dr. Pirngadi Medan 0,6%; RS Hasan Sadikin Bandung 1,9%; RSUP
dr. Cipto Mangunkuskumo selama 5 tahun 0,1%; sedangkan Greenhill menyebut
0,3% dan Holland 0,5-0,6%. Insiden pada wanita dengan paritas tinggi mempunyai
kemungkinanan 10 kali lebih besar dari nullipara.1

Dengan ditemukannya letak lintang pada pemeriksaan antenatal, sebaiknya


diusahakan mengubah menjadi presentasi kepala dengan versi luar. Persalinan letak
lintang memberikan prognosis yang jelek baik terhadap ibu maupun janinnya. Faktor-
faktor yang mempengaruhi kematian janin pada letak lintang disamping kemungkinan
terjadinya letak lintang kasep dan ruptur uteri, juga sering akibat adanya tali pusat
menumbung serta trauma akibat versi ekstraksi untuk melahirkan janin.1,3

1
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Letak lintang adalah suatu keadaan dimana sumbu panjang janin kira-kira tegak
lurus dengan sumbu panjang tubuh ibu (janin melintang di dalam uterus) dengan
kepala terletak di salah satu fossa iliaka dan bokong pada fossa iliaka yang lain. Pada
umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu
berada pada pintu atas panggul.1,2

Gambar 1. Posisi Bayi

Pada letak lintang bahu menjadi bagian terendah yang juga disebut sebagai
presentasi bahu atau presentasi akromnion dimana arah akromion yang menghadap
sisi tubuh ibu menentukan jenis letaknya yaitu letak akromion kiri atau kanan.1

2.2. Pembagian Letak Lintang

2
A. Menurut letak kepala terbagi atas: 3

Gambar 2. Letak Lintang

a. Lli I : kepala di kiri


b. Lli II : kepala di kanan
B. Menurut posisi punggung terbagi atas:3
a. Dorso anterior (Apabila posisi punggung janin berada di depan).
b. Dorso posterior (Apabila posisi punggung janin berada di belakang).
c. Dorso superior (Apabila posis punggung janin berada di atas).
d. Dorso inferior (Apabila posisi punggung janin berada di bawah).

2.3. Etiologi

3
Penyebab letak lintang adalah : 1,2,4

1. Dinding abdomen teregang secara berlebihan disebabkan oleh kehamilan


multiparitas pada ibu hamil dengan paritas 4 atau lebih terjadi insiden hampir
sepuluh kali lipat dibanding ibu hamil nullipara. Relaksasi dinding abdomen
pada perut yang menggantung akibat multipara dapat menyebabkan uterus
jatuh ke depan. Hal ini mengakibatkan defleksi sumbu panjang janin menjauhi
sumbu jalan lahir, sehingga terjadi posisi oblik atau melintang.
2. Pada janin prematur letak janin belum menetap, perputaran janin sehingga
menyebabkan letak memanjang, bayi prematur, bayi dengan hidrosefalus,bayi
yang terlalu kecil atau sudah mati, uterus abnormal, kehamilan kembar, dan
lumbal scoliosis
3. Dengan adanya plasenta atau tumor di jalan lahir maka sumbu panjang janin
menjauhi sumbu jalan lahir
4. Cairan amnion berlebih (hidramnion) dan kehamilan kembar.
5. Bentuk panggul yang sempit mengakibatkan bagian presentasi tidak dapat
masuk ke dalam panggul (engagement) sehinggadapat mengakibatkan sumbu
panjang janin menjauhi sumbu jalan lahir.
6. Bentuk dari uterus yang tidak normal menyebabkan janin tidak dapat
engagement sehingga sumbu panjang janin menjauhi sumbu jalan lahir.
7. Insiden letak lintang naik dengan bertambahnya paritas. Pada wanita dengan
paritas empat atau lebih, insiden letak lintang hampir sepuluh kali lipat
dibanding wanita nullipara.

2.4. Diagnosis

Adanya letak lintang sering sudah dapat diduga hanya dengan inspeksi. Uterus
tampak lebih melebar dan fundus uteri membentang hingga sedikit di atas umbilikus

4
sehingga lebih rendah tidak sesuai dengan umur kehamilannya dan perut membuncit
ke samping.1,2

Gambar 3. Manuver leopold yang dilakukan pada perempuan dengan janin


dalam posisi melintang

Pada palpasi fundus uteri kosong, balotemen kepala teraba pada salah satu fossa
iliaka dan bokong pada fossa iliaka yang lain, dan di atas simfisis juga kosong,
kecuali bila bahu sudah turun kedalam panggul. Apabila bahu sudah masuk kedalam
panggul, pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahu dan tulang-tulang iga. Bila aksila
dapat diraba, arah menutupnya menunjukkan letak dimana kepala janin berada. Bila
aksila menutup ke kiri, kepala berada di sebelah kiri, sebaliknya bila aksila menutup
ke kanan, kepala berada di sebelah kanan. Pada auskultasi, Denyut jantung janin
ditemukan di sekitar umbilikus. Pada saapemeriksaan dalam (Vaginal Toucher),

5
posisi punggung mudah diketahui. Punggung dapat ditentukan dengan terabanya
skapula dan ruas tulang belakang, sedangkan dada dengan terabanya klavikula. Pada
pemeriksaan dalam, pada tahap awal persalinan, bagian dada bayi, jika dapat diraba,
dapat dikenali dengan adanya“rasa bergerigi” dari tulang rusuk. Bila dilatasi
bertambah, skapula dan klavikula pada sisi toraks yang lain akan dapat dibedakan.
Bila punggungnya terletak di anterior, suatu dataran yang keras membentang di
bagian depan perut ibu; bila punggungnya di posterior, teraba nodulasi irreguler yang
menggambarkan bagian-bagian kecil janin dapat ditemukan pada tempat yang sama.
Kadang-kadang dapat pula diraba tali pusat yang menumbung.1,2,5
Pada tahap lanjut persalinan, bahu akan terjepit erat di rongga panggul dan salah
satu tangan atau lengan sering mengalami prolaps ke vagina dan melewati vulva.2,3,4

2.5. Mekanisme Persalinan

Pada letak lintang dengan ukuran panggul normal dan janin cukup bulan, tidak
dapat terjadi persalinan spontan. Bila persalinan dibiarkan tanpa pertolongan, akan
menyebabkan kematian janin dan ruptur uteri. Setelah ketuban pecah, jika persalinan
berlanjut, bahu janin akan dipaksa masuk ke dalam panggul sehingga rongga panggul
seluruhnya terisi bahu dan tangan yang sesuai sering menumbung. Setelah terjadi
sedikit penurunan, bahu tertahan oleh tepi pintu atas panggul,dengan kepala di salah
satu fossa iliaka dan bokong pada fossa iliaka yang lain. Bila proses persalinan
berlanjut, bahu akan terjepit kuat di bagian atas panggul.1,2,8
Janin tidak dapat turun lebih lanjut dan terjepit dalam rongga panggul. Dalam
usaha untuk mengeluarkan janin, segmen atas uterus terus berkontraksi dan beretraksi
sedangkan segmen bawah uterus melebar serta menipis, sehingga batas antara dua
bagian itu makin lama makin tinggi dan terjadi lingkaran retraksi patologis (Ring Van
Bandle). Keadaan demikian dinamakan letak lintang kasep (neglected transverse lie)
sedangkan janin akan meninggal. 1,2,8

6
Gambar 4. Letak lintang kasep dengan lengan menumbung

Bila tidak segera dilakukan pertolongan, akan terjadi ruptur uteri (sehingga janin
yang meninggal sebagian atau seluruhnya keluar dari uterus dan masuk ke dalam
rongga perut) atau kondisi dimana his menjadi lemah karena otot rahim kelelahan dan
timbul infeksi intrauterin sampai terjadi timponia uteri. Ibu juga berada dalam
keadaan sangat berbahaya akibat perdarahan dan infeksi, dan sering menyebabkan
kematian.1,7
Bila janin kecil (< 800 gram) atau mati dan panggul sangat lebar, persalinan
spontan atau lahir normal dapat terjadi meskipun kelainan letak tersebut menetap.
Janin akan tertekan dengan kepala terdorong ke abdomen. Bagian dinding dada di
bawah bahu kemudian menjadi bagian yang paling bergantung dan tampak di vulva.
Kepala dan dada kemudian melewati rongga panggul secara bersamaan dan bayi

7
dapat dikeluarkan dalam keadaan terlipat (conduplicatio corpora) atau lahir
dengan cara envolusio spontanea dengan dua variasi yaitu (1) menurut Denman dan
(2) menurut Douglas.1,2,8

Gambar 5. Conduplicatio corpora

 Pada cara Denman : Bahu tertahan pada simfisis dan dengan fleksi kuat di
bagian bawah tulang belakang, badan bagian bawah, bokong dan kaki turun di
rongga panggul dan lahir,kemudian disusul badan bagian atas dan kepala.1,6,8

8
Gambar 6. cara Denman

 Pada cara Douglas : Bahu masuk kedalam rongga panggul, kemudian


dilewati oleh bokong dan kaki, sehingga bahu, bokong dan kaki
lahir,selanjutnya disusul oleh lahirnya kepala. Dua cara tersebut merupakan
variasi suatu mekanisme lahirnya janin dalam letak lintang, akibat fleksi
lateral yang maksimal dari tubuh janin.1,6,8

9
Gambar 7. cara Douglas

2.6. Penatalaksanaan

Apabila pada pemeriksaan antenatal ditemukan letak lintang, sebaiknya


diusahakan mengubah menjadi presentasi kepala dengan versi luar. Sebelum
melakukan versi luar harus melakukan pemeriksaan dengan teliti ada tidaknya
panggul sempit, tumor dalam panggul, atau plasenta previa yang dapat
membahayakan janin dan meskipun versi luar berhasil, janin mungkin akan memutar
kembali. Untuk mencegah janin memutar kembali, ibu dianjurkan menggunakan
korset, dan dilakukan pemeriksaan antenatal ulangan untuk menilai letak janin. Ibu
diharuskan masuk rumah sakit lebih dini pada permulaan persalinan sehingga bila
terjadi perubahan letak dapat segera ditentukan diagnosis dan penanganannya. Pada
permulaan persalinan masih dapat diusahakan mengubah letak lintang menjadi
presentasi kepala bila pembukaan masih kurang dari 4 cm dan ketuban belum pecah.

10
Pada seorang primigravida bila versi luar tidak berhasil, sebaiknya segera dilakukan
seksio sesarea. Sikap ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: 1,8,9
a. Bahu tidak dapat melakukan dilatasi pada serviks dengan baik, sehingga pada
seorang primigravida kala I menjadi lama dan pembukaan serviks sukar menjadi
lengkap.
b. Karena tidak ada bagian besar janin yang menahan tekanan intra-uterin pada
waktu his, maka lebih sering terjadi pecah ketuban sebelum pembukaan serviks
sempurna dan dapat mengakibatkan terjadinya prolapsus funikuli.
c. Pada primigravida versi ekstraksi sukar dilakukan.

Pertolongan persalinan letak lintang pada multipara bergantung kepada beberapa


faktor. Apabila riwayat obstetrik wanita yang bersangkutan baik, tidak didapatkan
panggul sempit, dan janin tidak besar, dapat ditunggu dan diawasi sampai pembukaan
serviks lengkap untuk kemudian melakukan versi ekstraksi. Selama menunggu harus
diusahakan supaya ketuban tetap utuh dan melarang wanita tersebut bangun atau
meneran. Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan terdapat prolapsus
funikuli, harus segera dilakukan seksio sesarea. Jika ketuban pecah, tetapi tidak ada
prolapsus funikuli, maka bergantung kepada tekanan, dapat ditunggu sampai
pembukaan lengkap kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri persalinan
dengan seksio sesarea. Dalam hal ini persalinan dapat diawasi untuk beberapa waktu
guna mengetahui apakah pembukaan berlangsung dengan lancar atau tidak.Versi
ekstraksi dapat dilakukan pula pada kehamilan kembar apabila setelah bayi pertama
lahir,ditemukan bayi kedua berada dalam letak lintang. Pada letak lintang kasep, versi
ekstraksi akan mengakibatkan ruptur uteri, sehingga bila janin masih hidup,
hendaknya dilakukan seksio sesarea dengan segera, sedangkan pada janin yang sudah
mati dilahirkan pervaginam dengan dekapitasi.1,4,10

Pada seksio sesarea pemilihan insisi uterus pada letak lintang tergantung dari
posisi punggung janin terhadap pintu atas panggul, insisi pada segmen bawah rahim

11
dilakukan bila posisi punggung janin adalah dorso superior. Bila janin dorso inferior
dan pada keadaan-keadaan lain dimana insisi segmen bawah rahim tidak dapat
dilakukan, maka insisi klasik (korporal) dapat dilakukan. Manajemen operatif pada
ibu hamil dengan letak lintang biasanya dilakukan operasi sectio caesarian , namun
sebelum melakukan operasi usaha yang dapat dilakukan untuk mengembalikan letak
janin menjadi letak longitudinal yaitu dengan versi luar dan versi dalam. 1,6,8
Versi adalah suatu tindakan dimana letak janin diubah secara lege artis dari suatu
kutub ke kutub lainya, yang lebih menguntungkan untuk persailinan pervaginam. 1,8

Versi ada beberapa jenis :

a. Versi luar
Versi luar adalah upaya yang dilakukan dari luar untuk dapat mengubah
kedudukan janin menjadi kedudukan lebih menguntungkan dalam persalinan
pervaginam. Berdasarkan ketetapan tersebut dikenal bentuk versi luar :3
1. Berdasarkan arah pemutaran.3
 Versi Sefalik : melakukan perubahan kedudukan janin bagian
terendahnya menjadi letak kepala.
a. Letak lintang
b. Letak sungsang
 Versi podalik : perubahan kedudukan janin bagian terendahnya
menjadi letak bokong (sungsang).
a. Letak lintang
b. Presentasi kepala dengan tali pusat terkemuka
c. Presentasi kepala dengan tangan terkemuka
d. Presentasi dahi

2. Berdasarkan cara pemutaran

12
a. Versi luar ( versi eksternal) : versi yang dilakukan dengan tangan
penolong berada diluar jalan lahir.
b. versi dalam (versi internal) : versi yang dilakukan dengan tangan
penolong dimana tangan penolong berada di dalam cavum uteri
masuk melalui jalan lahir.
c. versi kombinasi : versi yang dilakukan dengan tangan penolong 1
berada di cavum uterus dan 1 lagi berada di dinding perut ibu

Untuk dapat melaksanakan versi luar perlu diperhatikan beberapa


pertimbangan. Ada beberapa kontraindikasi pada versi luar, yaitu :3
 Perdarahan antepartum.
Bila pada perdarahan antepartum (plasenta previa atau plasenta letak
rendah) dilakukan pemutaran janin, ditakutkan plasenta akan terlepas
dari insersinya sehingga perdarahan bertambah banyak.
 Penderita mempunyai hipertensi.
 Cacat rahim
 Primigravida tua
 Terdapat faktor resiko tinggi kehamilan: kasus infertilitas, sering
mengalami keguguran, persalinan prematuritas atau kelahiran mati,
tinggi badan kurang dari 150 cm, mempunyai deformitas pada tulang
panggul/ belakang.
 Pada kehamilan kembar.
 Insufisiensi palsenta.

Syarat versi luar dapat berhasil dengan baik :3


 Bagian terendah janin masih dapat didorong ke atas eluar pintu atas
panggul.

13
 Dinding perut ibu harus cukup tipis (ibu tidak gemuk) dan rileks, agar
penolong dapat memeang bagian-bagian janin.
 Janin harus dapat lahir pervaginam.
 Selaput ketuban harus masih utuh.
 Pada ibu yang inpartu pembukaan serviks kurang dari 4 cm.
 Saat menegerjakan versi luar dalam kehamilan (sebelum inpartu):
 Pada primigravida umur kehamilan 34-36 minggu.
 Multigravida dapat pada umur kehamilan lebih dari dari 38 minggu.

Versi luar pada letak lintang


Hanya terdiri 2 tahap yaitu tahap rotasi dan tahap fiksasi, dengan teknik sama
seperti diterangkan di atas. 1,3

Kriteria versi luar dianggap gagal.2,4


 Ibu mengeluh nyeri. Ditakutkan bila diteruskan akan terjadi akan
terjadi rupture uteri.
 Timbul gawat janin.
 Bagian janin tidak dapat dipegang dengan baik.
 Ketika diakukan rotasi terasa adanya hambatan yang berat.

Sebab-sebab versi luar gagal.2,4,8


 Syarat versi luar tidak dipenuhi dengan baik, misalnya :
 Dinding perut tebal.
 His yang sering.
 Tetania uteri.
 Hidramnion.
 Tali pusat pendek
 Kaki janin ekstensi maksimal ke atas ( extended legs ).

14
Kompikasi
 Solution plasenta
 Lilitan tali pusat
 Ketuban pecah
 Ruputura uteri

Versi ekstraksi
Versi yang dilakukan dengan satu tangan penolong di dinding perut ibu,
dan yang lain di dalam kavum uterus, serta segera disusul dengan ekstraksi
kaki untuk melahirkan janin.1,8
Pada versi ekstraksi ada 2 tahap tindakan, yaitu
 Melakukan versi sehingga presentasi janin diubah menjadi letak kaki.
 Setelah versi berhasil, janin segera dilahirkan dengan ekstraksi kaki.

- Indikasi
a. Letak lintang, khususnya pada letak lintang gemeli anak ke 2.
b. Letak kepala dengan prolaps tali pusat.
c. Presentasi dahi.

- Kontraindikasi
a. Ruptura uteri membakar
b. Cacat Rahim

- Syarat
a. Janin dapat lahir pervaginam, tidak ada disproporsi fetopelvik.

15
b. Bagian terendah janin masih dapat didorong ke atas.
c. Pembukaan serviks harus lengkap.
d. Selaput ketuban dipecahkan atau baru pecah.
e. Dinding rahim harus cukup rileks, oleh karena itu pada tindakan versi
ekstraksi diperlukan narcosis umum.

b. Sectiocaesaria

Sectio caesaria yaitu suatu prosedur operatif dimana janin dilahirkan melalui
insisi pada dinding abdomen dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan
utuh serta berat janin diatas 500 mg.1,5

Jenis:

a. Classical Sectio caesaria

b. Sectiocaesaria transperitoneal profunda (SCTP)

c. Sectiocaesaria extraperitoneal

d. Sectiocaesaria vaginal

Pada persalinan letak lintang kasep baik yang mengisi bagian bawah rahim bukan
kepala atau kaki , insisi transversal rendah pada uterus dapat mengakibatkan kesulitan
ekstraksi janin khususnya presentasi dorsoanterior oleh karena itu insisi vertikal
dindikasikan dalam penatalaksanaan letak lintang kasep.1,5

16
17
2.7. Prognosis

Meskipun letak lintang dapat diubah menjadi presentasi kepala, tetapi kelainan-
kelainan yang menyebabkan letak lintang, misalnya panggul sempit, tumor panggul
dan plasenta previa, masih tetap dapat menimbulkan kelainan pada persalinan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian ibu dan janin pada letak lintang,
disamping kemungkinan terjadinya letak lintang kasep dan ruptura uteri, juga sering
akibat adanya tali pusat menumbung serta trauma akibat versi ekstraksi untuk
mengeluarkan janin.1

Prognosis pada kehamilan letak lintang sangat dipengaruhi oleh riwayat


pemeriksaan kehamilan, kecepatan penegakkan diagnosa dan sarana-prasarana
kesehatan yang ada. Semakin lambat diagnosa letak lintang ditegakkan, maka
kemungkinan bayi akan tetap berada dalam posisi lintang pada saat persalinan akan
semakin besar. Sebagai perbandingan jika diagnosa dibuat pada UK 20-25 minggu, ±
2,6 % akan tetap pada posisi lintang dan jika diagnosa dibuat pada UK 36-40 minggu,
± 11,8 % akan tetap pada posisi lintang. Di negara dengan sarana-prasarana yang
sudah maju, angka kematian ibu dan janin pada kasus letak lintang sudah cukup
rendah. Namun, pada negara tertinggal, berbagai komplikasi masih terjadi akibat
tidak adanya fasilitas seksio sesaria.1,5

♦ Bagi ibu

Bahaya yang mengancam adalah ruptura uteri, baik spontan, atau sewaktu versi
dan ekstraksi. Partus lama, ketuban pecah dini, dengan demikian mudah terjadi
infeksi intrapartum.5

1) Ruptura uteri
- Spontan karena letak lintang kasep
- Traumatic : karena manipulasi versi ekstraksi yang kurang baik

18
2) Partus lama
3) Komplikasi dari factor-faktor penyebab letak lintang itu sendiri (placenta
previa, hidramnion dan sebagainya)
4) Kematian ibu karena rupture uteri, infeksi karena KPD dan lain-lain

♦ Bagi janin

Angka kematian tinggi (25 – 49 %), yang dapat disebabkan oleh :

(1) Prolasus funiculi

(2) Trauma partus

(3) Hipoksia karena kontraksi uterus terus menerus

(4) Ketuban pecah dini. Dan jika pecah dapat menyebabkan : 5

 Dapat terjadi letak lintang kasep kalau pembukaan sudah lengkap

 Bayi dapat mengalami asphyxia karena peredaran darah placenta berkurang

 Tali pusat dapat menumbung

 Bahaya infeksi bertambah

2.8. Komplikasi

Letak lintang merupakan keadaan malpresentasi yang paling berat dan dapat
menimbulkan berbagai komplikasi pada ibu dan janin. Komplikasi akan bertambah
berat jika kasus letak lintang telambat didiagnosa. Pada ibu, dapat terjadi dehidrasi,
pireksia, sepsis, perdarahan antepartum, perdarahan pos partum, ruptur uteri,

19
kerusakan organ abdominal hingga kematian ibu. Pada janin, dapat terjadi
prematuritas, bayi lahir dengan apgar skor yang rendah, prolapsus umbilikus,
maserasi, asfiksia hingga kematian janin. Komplikasi pada anak adalah fetal distress
dan Intrauterin Fetal Death (IUFD).1,5

20
BAB III

KESIMPULAN

Kesimpulan

Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus
dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. Pada
umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu
berada pada pintu atas panggul. Punggung janin dapat berada di depan
(dorsoanterior), di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior).

Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen.


Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara).
Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa, selain itu
juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan
ganda, polihidramnion, abnormalitas uterus, pengkerutan pelvis, fibroid uterus yang
besar.

Pertolongan persalinan letak lintang pada multipara bergantung kepada


beberapa faktor. Apabila riwayat obstetri yang bersangkutan baik, tidak didapat
kesempitan panggul, dan janin tidak seberapa besar, dapat ditunggu dan diawasi
sampai pembukaan lengkap untuk melakukan versi ekstraksi. Selama menunggu
harus diusahakan supaya ketuban tetap utuh dan melarang ibu meneran atau bangun.
Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan terdapat prolapsus funikuli,
harus segera dilakukan seksio sesaria. Jika ketuban pecah, tetapi tidak ada prolapsus
funikuli, maka bergantung tekanan dapat ditunggu sampai pembukaan lengkap
kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri persalinan dengan seksio sesaria.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro, H. 2007. Ilmu Kebidanan. Edisi ke-9. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
2. Cunningham, Leveno, Hauth B, Rouse, Spong, Obstetri Williams edisi 23.
PERSALINAN ABNORMAL, Hal 484
3. Prawirohardjo Sarwono. 2011. Ilmu kebidanan. Edisi 4. Jakarta. Bina Pustaka.
4. Mochtar, D. Letak Lintang (Transverse Lie) dalam Sinopsis Obstetri: Obstetri
Fisiologi, Obstetri Patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004.
5. Pernoll’s & ML. Transverse Lie In : Benson & Pernoll handbook of
Obstetrics & Ginecology, 10th ed. Mcgraw-Hill International Edition,
America, 2009.
6. Simon LR : Obstetrical Decision Making, 2nd ed. Huntsmen Offset Printing,
Singapore, 2011.
7. Mansjoer, A dkk. 2001. Kelaianan pada Persalinan dalam Kapita Selekta
Kedokteran 3th eds, jilid pertama. Media Aesculapius FKUI. Jakarta
8. Bowes, W. 2006. Management of The Fetus in Transverse Lie.
9. Dasuki, D. 2000. Distokia dalam Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito
2nd eds, cetakan 1. Medika FK UGM. Yogyakarta.
10. Llweilyn. Jones, D. 2001. Kelainan Presentasi Janin dalam Dasar – dasar
Obsteri & Ginekologi. Hipokrates. Jakarta.

22