Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PAJAK PENGHASILAN PASAL 26

Dosen Pembimbing:
Kusuma Wijaya, S.E, M.Ak

Disusun Oleh:
Azmi Musa (071810091)
Dewi Wulandari (071810095)
Ellyn Nihayatil Camelia (071810100)
Vera Yunita Mellinda (071810142)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR 

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, karena atas berkah, rahmat, dan
hidayah yang dilimpahkan-Nya, saya dapat menyusun dan meneyelsaikan makalah Pajak
Penghasilan Pasal 26 ini tepat pada waktunya. Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas
Perpajakan di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Islam Lamongan.
Dengan segala keterbatasan, saya sepenuhnya menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam pembahasan maupun tata
bahasanya atau cara penulisannya. Untuk itu dengan segala kerndahan hati kiranya koreksi
dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak khususnya para pembaca, sangat saya
harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini.
Akhir kata saya harapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sebagai
penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya dan saya berharap makalah ini
dapat digunakan sebagai awal pembelajaran untuk menambah spirit dalam mencari
pengetahuan yang luas dimana saja dan memberi manfaat bagi kita semua yaitu dapat
menambah wawasan kita.

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.......................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.................................................................................................1
1.3. Tujuan Penulisan...................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian PPh Pasal 26........................................................................................2
2.2. Pemotong dan Pihak yang dipotong dalam PPh Pasal 26.....................................2
2.3. Tarif dan Objek PPh Pasal 26................................................................................4
2.4. Cara Perhitungan PPh Pasal 26.............................................................................5
2.5. Saat Terutang, Tata Cara Pemotongan, dan Pelaporan PPh Pasal 26....................6

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan............................................................................................................8
3.2. Saran......................................................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................9

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pajak merupakan sumber penerimaan negara yang digunakan untuk membiayai
kepentingan umum yang akhirnya juga mencakup kepentingan pribadi individu seperti
kepentingan rakyat, pendidikan, kesejahteraan rakyat, kemakmuran rakyat, dan
sebagainya.
Pemungutan pajak yang dilakukan oleh pemerintah merupakan sumber terpentig dari
penerimaan negara. Penerimaan negara dari pajak dapat dijakdikan indikator atas peran
serta masyarakat (sebagai subjek pajak) dalam kontribusinya melakukan kewajiban
perpajakan, karena pembayaran pajak yang dilakukan akan dikembalikan lagi kepada
masyarakat dalam bentuk tindak langsung, dan berupa pengeluaran rutin dan
pembangunan yang berguna bagi rakyat.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada dan untuk mengetahui gambaran yang lebih
jelas, maka dalam penulisan makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari PPh Pasal 26?
2. Siapa saja yang memotong dan pihak yang dipotong dalam PPh Pasal 26?
3. Bagaimana tarif dan objek PPh Pasal 26?
4. Bagaimana cara perhitungan PPh Pasal 26?
5. Bagaimana saat terutang, tata cara pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal
26?
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun manfaat dan tujuan yang hendak dicapai penulis melalui makalah ini yaitu:
1. Mengerti dan memahami tentang PPh Pasal 26
2. Mengetahui pemotong dan pihak yang dipotong di dalam PPh Pasal 26
3. Mengetahui tarif dan obek dari PPh Pasal 26
4. Mengetahui cara menghitung PPh Pasal 26
5. Mengerti saat terutang, tata cara pemotongan, penyetoran, dan pelaporan di dalam
PPh Pasal 26
6. Untuk memenuhi tugas kelompok perpajakan Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Lamongan.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian PPh Pasal 26
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 adalah PPh yang dikenakan/dipotong atas
penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
(WP) luar negeri selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia. Bentuk usaha tetap
merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan subjek
pajak badan. Negara domisili dari Wajib Pajak luar negeri selain yang menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan usaha melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, adalah Negara
tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak luar negeri yang sebenarnya
menerima manfaat dari penghasilan tersebut (beneficial owner).
Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu sebagaimana dimaksud pada
pasal 2 ayat (1) adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Wajib
Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap dan b.
Menerima penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan
dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp.4.800.000.000,00
(empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
2.2. Pemotong dan Pihak yang Dipotong di dalam PPh Pasal 26
Pemotong PPh pasal 26:
1. Badan Pemerintah
Tidak ada penjelasan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan tentang arti Badan
Pemerintah ini. Namun demikian, tidak sulit untuk mengartikan bahwa yang
dimaksud dengan Badan Pemerintah adalah Pemerintah negara Republik Indonesia
dan Pemerintah Daerah di Indonesia beserta instansi-instansi di bawahnya.
2. Subjek Pajak dalam negeri
Berdasarkan Pasal 2 ayat (3) huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan 1984, subjek
pajak badan dalam negeri adalah badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia. Istlah didirikan mengandung arti bahwa badan tersebut didirikan
berdasarkan ketentuan hukum di Indonesia. Sementara itu istilah bertempat
kedudukan menunjukkan bahwa badan tersebut memiliki efektif manajemen di
Indonesia di mana pengambilan keputusan-keputusan penting tentang badan tersebut
dilakukan di Indonesia.
Pengertian badan sendiri berdasarkan Pasal 2 ayat (1) huruf b Undang-undang
Pajak Penghasilan 1984 adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan

2
3

kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang
meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha
milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi
massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk badan
lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
3. Penyelenggara Kegiatan
Penyelenggara kegiatan bisa berbentuk badan, orang pribadi atau kepanitiaan yang
melakukan suatu event atau kegiatan. Contoh penyelenggara kegiatan adalah orang
pribadi atau badan yang mengorganisir suatu acara seperti pertunjukkan, perlombaan,
seminar dan lain-lain.
4. BUT (Badan Usaha Tetap)
BUT adalah bagian dari Subjek Pajak luar negeri yang melakukan kegiatan di
Indonesia sehingga menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari
Indonesia. Walaupun termasuk Wajib Pajak luar negeri, pemenuhan hak dan
kewajiban BUT disamakan dengan pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak dalam
negeri.
Pengertian BUT bisa kita temukan dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-undang
Pajak Penghasilan, yaitu bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang
tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak
lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa
tempat kedudukan manajemen, cabang perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor,
pabrik, bengkel dan lain-lain.
5. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya selain BUT di Indonesia.
Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya selain BUT yang ada di Indonesia juga
merupakan pemotong PPh pasal 23. ContohnyaRepresentative Office (RO) dari
perusahaan-perusahaan asing.
Pihak yang dipotong di dalam PPh Pasal 26:
Beda dengan pemotongan jenis pajak lain, pemotongan PPh Pasal 26 dikenakan terhadap
Wajib Pajak luar negeri selain Bentuk Usaha Tetap.
Pengertian Wajib Pajak luar negeri bisa kita temukan dalam Pasal 2 ayat (4) huruf b
Undang-undang Pajak Penghasilan 1984. Pada ketentuan ini Subjek Pajak (juga Wajib
4

Pajak) luar negeri selain BUT adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di
Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan
puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan
dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.
Jadi, Wajib Pajak luar negeri seperti ini mendapatkan penghasilan dari Indonesia
tanpa perlu melakukan kegiatan usaha di Indonesia melalui BUT. Misalnya warga negara
Singapura yang memiliki saham PT Indosat yang menerima penghasilan berupa dividen
dari PT Indosat. Di sisi lain, pengenaan Pajak Penghasilan terhadap Wajib Pajak BUT
adalah hampir sama dengan Wajib Pajak dalam negeri melalui sistem self assesment
pelaporan SPT Tahunan.
2.3. Tarif dan Objek PPh Pasal 26
1. PPh pasal 26 = penghasilan bruto x 20%
20% (final) dari jumlah penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
Luar Negeri berupa :
 Dividen
 Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang
 Royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
 Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan
 Hadiah dan penghargaan
 Pensiun dan pembayaran berkala lainnya.
 Premi swap dan transaksi lindung lainnya dan/atau Keuntungan karena
pembebasan utang.
2. 20% (final) dari perkiraan penghasilan neto berupa :
PPh pasal 26 = (penghasilan bruto x perkiraan penghasilan neto) x 20% Penghasilan
dari penjualan harta di Indonesia.
Besarnya perkiraan penghasilan neto untuk penjualan harta di Indonesia adalah
25% dari harga jual. Premi asuransi, premi reasuransi yang dibayarkan langsung
maupun melalui pialang (broker) kepada perusahaan asuransi di luar negeri.
Besarnya perkiraan penghasilan neto untuk premi asuransi dan premi reasuransi yang
dibayarkan pada perusahaan asuransi adalah sebagai berikut :
5

a. Atas premi yang dibayar tertanggung kepada perusahaan asuransi di luar negeri
baik secara langsung maupun melalui pialang (broker), sebesar 50% dari jumlah
premi yang dibayar.
b. Atas premi yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di
Indonesia kepada perusahaan asuransi di Luar negeri baik secara langsung
maupun melalui pialang, sebesar 10% dari jumlah premi yang dibayar.
c. Atas premi yang dibayar oleh perusahaan Reasuransi yangberkedudukan di
Indonesia kepada perusahaan asuransidi Luar negeri baik secara langsung maupun
melalui pialang, sebesar 5% dari jumlah premi yang dibayar.
3. 20% (final) dari perkiraan penghasilan neto atas penjualan atau pengalihan saham
perusahaan antara conduit company atau spesial purpose company yang didirikan atau
bertempat kedudukan di negara yang memberikan perlindungan pajak yang
mempunyai hubungan istimewa dengan badan yang didirikan atau bertempat
kedudukan di Indonesia atau BUT di Indonesia.
PPh pasal 26 = (penghasilan bruto x perkiraan penghasilan neto) x 20%Besarnya
perkiraan penghasilan neto adalah 25% dari harga jual.
4. PPh pasal 26 = (PKP-PPh terutang) x 20%
20% (final) dari Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu BUT di
Indonesia, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia.
Penanaman kembali tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
 Penanaman kembali dilakukan atas seluruh penghasilan kena pajak setelah
dikurangi PPh dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang didirikan
dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri, dan;
 Penanaman kembali dilakukan dalam tahun berjalan atau selambat- lambatnya
tahun pajak berikutnya dari tahun pajak diterima atau diperoleh penghasilan
tersebut;
 Perusahaan baru yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai dimaksud
pada huruf a, harus secara aktif melakukan kegiatan usaha sesuai dengan akte
pendiriannya, paling lama satu tahun sejak perusahaan tersebut didirikan
 Tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut sekurang-
kurangnya dalam waktu 2 (dua) tahun sesudah perusahaan tempat penanaman
dilakukan, mulai berproduksi komersil.
2.4. Cara Perhitungan PPh pasal 26
6

1. Messi atlet dari Nigeria mengikuti perlombaan lari marathon di Indonesia pada mei
2007, dan berhasil merebut hadiah sebesar US$30,000. Kurs untuk US$1 =
Rp9.000Jadi PPh Pasal 26 yang dipotong penyelenggara kegiatan di Indonesia
adalah : 20% x US$30,000 x Rp9.000 = Rp54.000.000
2. Badan Usaha Asing di Indonesia memperoleh penghasilan kena pajak sebesar :
Rp20.000.000.000
PPh pasal 26 dihitung Sebagai Berikut :
Penghasilan Kena Pajak : Rp20.000.000.000
PPh Terutang :
25% x Rp20.000.000.000 : ( Rp5.000.000.000 )
Penghasilan Setelah Dikurangi Pajak : Rp15.000.000.000
PPh Pasal 26 yang terutang :
20 % x Rp15.000.000.000 : Rp3.000.000.000
NB : Seandainya Rp15M tersebut ditanam kembali di Indonesia maka WP luar negeri
tersebut tidak perlu membayar PPh Pasal 26.
3. Suatu perusahaan penyewaan gedung kantor, PT Cunha, mengasuransikan bangunan
bertingkat ke perusahaan asuransi di luar negeri dengan membayar jumlah premi
selama tahun 1995 sebesar Rp1 Miliar.
Perkiraan penghasilan = 50% x Rp1 Miliar = Rp500.000.000,PPh Pasal 26 yang harus
dibayar = 20% x Rp500.000.000,- = Rp100. 000.000,-

2.5. Saat Terutang, Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 26
1. PPh pasal 26 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran atau akhir bulan
terutangnya penghasilan, tergantung yang mana terjadi lebih dahulu.
2. Pemotong PPh pasal 26 wajib membuat bukti pemotongan PPh pasal 26 rangkap 3 :
 Lembar pertama untuk Wajib Pajak luar negeri
 Lembar kedua untuk Kantor Pelayanan Pajak
 Lembar ketiga untuk arsip Pemotong
3. PPh pasal 26 wajib disetorkan ke bank Persepsi atau Kantor Pos dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP), paling lambat tanggal 10 bulan takwim
berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak.
4. SPT Masa PPh Pasal 26, dengan dilampiri SSP lembar kedua, bukti pemotongan
lembar kedua dan daftar bukti pemotongan disampaikan ke KPP setempat paling
lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
7

Contoh: Pemotongan PPh Pasal 26 dilakukan tanggal 24 Mei 2009, penyetoran paling
lambat tanggal 10 Juni 2009 dan dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak paling lambat
tanggal 20 Juni 2009. Dalam hal jatuh tempo penyetoran atau batas akhir pelaporan
PPh Pasal 26 bertepatan degan hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional,
penyetoran atau pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dijelaskan di atas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan pada subjek pajak
atas penghasilan yang diperolehnya pada tahun pajak, dapat pula dikenakan pajak untuk
penghasilan dalam bagian tahun pajak, dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan
dalam bagian tahun pajak bila kewajiban pajak subjektifnya dimulai atau berakhir tahun
pajak.
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 adalah PPh yang dikenakan/dipotong atas
penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
(WP) luar negeri selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia. Bentuk usaha tetap
merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan subjek
pajak badan. Negara domisili dari Wajib Pajak luar negeri selain yang menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan usaha melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, adalah
Negara tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak luar negeri yang sebenarnya
menerima manfaat dari penghasilan tersebut (beneficial owner).
3.2. Saran
Kami harapkan bagi pihak yang berwenang dalam pemungutan pajak agar pajak yang
didapat dari pemungutan wajib pajak tersebut harus bisa dipertanggung jawabkan dengan
sebaik-baiknya, jangan sampai pajak tersebut selalu di bebankan bagi masyarakat. Dan
diharapkan juga untuk semua warga negara untuk sadar akan tanggungjawab sebagai
subjek pajak dengan membayar pajak.

8
DAFTAR PUSTAKA

http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilan-pasal-26

Mardiasmo.2013.Perpajakan edisi revisi.Yogyakarta : Andi Yogyakarta.

http://hennytax12.blogspot.com/2013/01/pajak-penghasilan-pasal-26.html