Anda di halaman 1dari 108

CARDIAC EMERGENCY

Ns. Priyanto, M.Kep., Sp.KMB

1
TUNTUTAN
DALAM PELAYANAN
EMERGENCY

2
Pasal 32 UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
1. Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta,
wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan
kecacatan terlebih dahulu.
2. Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta
dilarang menolak Pasien dan/atau meminta uang muka.
Pasal 190 UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
1. Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang melakukan praktik
atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan
pertolongan pertama terhadap pasien yang dalam keadaan gawat darurat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) atau Pasal 85 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).
2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan terjadinya
kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga
kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(UU No. 36 Tahun 2009)


3
Pasal 35 UU no 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan
1) Dalam keadaan darurat untuk memberikan pertolongan pertama, Perawat
dapat melakukan tindakan medis dan pemberian obat sesuai dengan
kompetensinya.
2) Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk
menyelamatkan nyawa klien dan mencegah kecacatan lebih lanjut.
3) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan
yang mengancam nyawa atau kecacatan Klien.
4) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
Perawat sesuai dengan hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
(UU No. 38 Tahun 2014)

4
CARDIAC EMERGENCY

5
KELUHAN UTAMA

NYERI DADA
SESAK NAPAS
BERDEBAR-DEBAR
TIDAK SADAR

6
CARDIAC CASE

ACUT CORONARY SINDROME


HEART FAILURE
ARITMIA
CARDIAC ARREST

7
8
(AHA 2015)
9
ACUT
CORONARY SYNDROME

10
 SKA sbg salah satu manifestasi klinis Penyakit Jantung
Koroner (PJK) yang utama & paling sering
mengakibatkan kematian
 Gangguan yg mengancam dgn angka morbiditas &
mortalitas yg tinggi meskipun penatalaksaan SKA telah
berkembang
 Diperkirakan PJK pada tahun 2020 menjadi pembunuh
pertama tersering yakni sebesar 36% dari seluruh kematian
(2 X kali lebih tinggi dari akibat kanker)
 Di Indonesia PJK penyebab utama dan pertama dari
seluruh kematian, yakni sebesar 26,4%, angka ini 4 x lebih
tinggi dibanding kanker (6%) (1 dari 4 orang meninggal
akibat PJK)
11
 Menurut AHA sekitar 18% pada pria dan 23% pada wanita
dengan usia >40 tahun meninggal dlm kurun waktu 1 tahun
yg memiliki infark miokard dgn biaya tinggi perawatan di RS
 Angka kematian infark miokard & serangan ulang penderita
SKA masih cukup besar
 Tingginya angka morbiditas, mortalitas & biaya perawatan
maka diperlukan strategi penatalaksanaan terapi ACS yg
baik.
 Berbagai pedoman & standar penatalaksanaan terapi dibuat
mengacu pada evidence-based agar lebih optimal, efektif &
efisien dalam penanganan penderita SKA
 Masalah kardiovaskular yang utama karena menyebabkan
angka perawatan rumah sakit dan angka kematian yang
tinggi. 12
Atherogenesis and Atherothrombosis:
A Progressive Process
Plaque
Athero- Rupture/ Myocardial
Fatty Fibrous sclerotic Fissure &
Normal Streak Plaque Plaque Thrombosis
Infarction

Ischemic
Stroke

Critical
Leg
Clinically Silent Angina
Ischemia
Transient Ischemic Attack
Claudication/PAD Cardiovascular Deat
Increasing Age
3

13
ASSESMENT

∗ HISTORY
∗ PHISICAL EXAM
∗ 12 LEAD ECG
∗ STRESS TESTING
∗ THALIUM SCAN
∗ CORONARY ANGIOGRAPHY
∗ CARDIAC ENZYMES

14
KLASIFIKASI
 Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI: ST segment elevation
myocardial infarction)
 Infark miokard dengan non elevasi segmen ST (NSTEMI: non ST segment
elevation myocardial infarction)
 Angina Pektoris tidak stabil (UAP: unstable angina pectoris)

(PERKI 2015)

15
Kemungkinan SKA adalah dengan gejala dan tanda:
 Nyeri dada yang sesuai dengan kriteria angina ekuivalen atau tidak
seluruhnya tipikal pada saat evaluasi di ruang gawat-darurat.
 EKG normal atau nondiagnostik, dan
 Marka jantung normal
Definitif SKA adalah dengan gejala dan tanda:
 Angina tipikal.
 EKG dengan gambaran elevasi yang diagnostik untuk STEMI,
depresi ST atau inversi T yang diagnostik sebagai keadaan
iskemia miokard, atau LBBB baru/persangkaan baru.
 Peningkatan marka jantung

(PERKI 2015)
16
ACUTE CORONARY SYNDROME

No ST Elevation ST Elevation

NSTEMI

Unstable Angina Qw Myocardial


N Qw Myocardial Infarction
Infarction

17
18
ANGINA PEKTORIS
 Nyeri dada akibat adanya iskemia otot jantung yang
bersifat sementara & reversibel
 Jenis Angina Pektoris :
 STABLE ANGINA

 UNSTABLE ANGINA

 PRINZMETAL’S ANGINA

 NOCTURNAL ANGINA

19
Infark Miokard
(Q Wave Myocardial Infarction dgn Elevasi Segmen ST)
∗ Pecahnya plak diikuti trombosis berlebihan, dengan akibat
oklusi total.
∗ IMA menyebabkan oklusi arteri koroner secara tiba-tiba, bukan
bertahap.
∗ Oklusi total arteri koroner menyebabkan iskemia yang dpt
menyebabkan kematian jaringan jantung.
∗ Kebanyakan kematian sel terjadi pada 6 jam pertama setelah
onset gejala.

21
22
23
ST Segmen

24
25
26
27
Lateral Myocardial Infarction.
ST segment elevation in leads I and aVL
28
Acute Anterolateral Myocardial Infarction
29
Acute inferoposterior myocardial infarction.
ST segment elevation in II, III and aVF
with (Resiprokal) ST depression in leads V1 and V2
30
CARDIAC MARKER

31
New terminology for coronary syndromes
Adapted from Aroney C, Boyden AN, Jelinek MV, et al.
Management of unstable angina: guidelines 2000.
Med J Aust 2000;173(Suppl):S65–S88.
32
33
34
FOKUS TATA LAKSANA
Mencegah perluasan infark dan kematian
 Mengatasi nyeri dada
 Melakukan reperfusi dini
 Mengatasi timbulnya aritmia

35
TATA LAKSANA AWAL
 Tirah baring
 Suplemen oksigen (Sa O2 arteri <95% atau yang
mengalami distres respirasi)
 Suplemen oksigen dalam 6 jam pertama, tanpa
mempertimbangkan saturasi O2 arteri
 Aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien
yang tidak diketahui intoleransinya terhadap aspirin

(PERKI 2015)

36
 Penghambat reseptor ADP (adenosine diphosphate)
 Dosis awal ticagrelor yang dianjurkan adalah 180 mg dilanjutkan dengan
dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari kecuali pada pasien STEMI yang
direncanakan untuk reperfusi menggunakan agen fibrinolitik
 atau
 Dosis awal clopidogrel adalah 300 mg dilanjutkan dengan dosis
pemeliharaan 75 mg/hari (pada pasien yang direncanakan untuk terapi
reperfusi menggunakan agen fibrinolitik, penghambat reseptor ADP yang
dianjurkan adalah clopidogrel)
 Nitrogliserin (NTG) spray/tablet sublingual bagi pasien dengan nyeri dada
yang masih berlangsung saat tiba di ruang gawat darurat, dapat diulang
setiap lima menit sampai maksimal tiga kali.
 Nitrogliserin IV diberikan pada pasien yang tidak responsif dengan terapi tiga
dosis NTG sublingal
 Morfin sulfat 1-5 mg IV, dapat diulang setiap 10-30 menit, bagi pasien yang
tidak responsif dengan terapi tiga dosis NTG sublingual
(PERKI 2015)
37
38
39
40
CARDIAC CATH

41
Coros: Proximal large RCA occlusion

EKG: ST elevation in leads II, III, aVF, V5, and V6 with precordial ST depression
42
Coros : Small inferior distal RCA occlusion

EKG : ECG changes in leads II, III, and aVF


43
Terapi Reperfusi
 Fibrinolitik : door-to-needle < 30 menit
 Primary PCI/PTCA: door-to-dilatation < 90 menit
Terapi Conjunctive (kombinasi dengan obat fibrinolitik)
 Aspirin
 Clopidogrel (planned to PCI)
 Heparin (khususnya dengan TPA)
Terapi Tambahan
 β blocker oral
 Nitrogliserin IV
 ACE Inhibitor

44
Terapi Fibrinolitik
Tissue Plasminogen Activator (tPA)
Diberikan pada AMI yg luas, datang dini & kemungkinan
komplikasi pendarahan kecil, diberikan dgn dosis bertahap:
 15 mg bolus IV
 0.75 mg/kg - jangan > 50 mg, 30 menit
 0.50 mg/kg - jangan > 35 mg, 60 menit
Streptokinase
Diberikan pada AMI yg kemungkinan komplikasi perdarahan
otak tinggi, datang lambat & infark tak luas
 1.5 juta unit dalam 1 jam

45
7 Kesalahan Fatal Tata Laksana ACS
(Chan, et al, 1998)
 Pasien Terlambat di Periksa ECG
 Presentasi Klinis Pasien Tidak Khas
 Kesalahan Interpretasi Hasil ECG
 Tidak Melakukan ECG Serial
 Menunda Terapi
 Tatalaksana Farmakologis yang Tidak Sesuai
 Mengabaikan Pasien Usia Muda

46
HEART FAILURE

47
HEART FAILURE
 Sindrom klinik yang disebabkan oleh ketidakmampuan jantung
memompa darah secara cukup untuk kebutuhan metabolik
 Berkurangnya kemampuan pengisian ventrikel (disfungsi diastolik)
dan atau kemampuan kontraktilitas miokard (disfungsi sistolik)
 HF lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding wanita (insidensi IHD)
 Prevalensi
 0,3-2% dalam populasi keseluruhan
 3-5% dalam populasi umur diatas 65 tahun
 8-16% dalam populasi umur diatas 75 tahun
 75% penderita HF  > 60 tahun

48
ETIOLOGI

∗ Faktor resiko paling sering : CAD, hipertensi dan kardiomiopati


idiopatik
∗ Kondisi akut : AMI, aritmia, embolisme pulmo, sepsis dan jantung
iskemik
∗ Perkembangan HF scr gradual : penyakit liver dan renal, kelainan
katup jantung, anemia, endocarditis bakteri, miokarditis viral,
thyrotoxicosis, kemoterapi, diet Na berlebihan dan alkohol

49
50
Mekanisme Kompensasi

↓ Cardiac output angiotensinogen

−LVDEP
↑ SNS activity −Renin
(preload) production

Angiotensin I
Cardiac dilatation ACE
Vascular Angiotensin II
resistance
Ventricular Angiotensin III (aldosterone)
hypertrophy

Sodium retention −Sodium uptake


kinins PGE2 & PGI2
By vessels
ACE
inactive kinins ↑ Blood volume
51
MANIFESTASI KLINIS
∗ The patient presentation may range from asymptomatic to cardiogenic shock
∗ The primary symptoms are dyspnea (particularly on exertion) and fatigue, which
lead to exercise intolerance.
∗ Other pulmonary symptoms include orthopnea (pernafasan sulit kecuali posisi
tegak), paroxysmal nocturnal dyspnea, tachypnea (pernafasan cepat), and cough.
∗ Fluid overload can result in pulmonary congestion and peripheral edema
∗ Nonspecific symptoms may include fatigue, nocturia, hemoptysis, abdominal pain,
anorexia, nausea, bloating, ascites, poor appetite, ascites, mental status changes,
and weight gain
∗ Physical examination findings may include pulmonary crackles, an S3 gallop, cool
extremities, tachycardia, cardiomegaly, symptoms of pulmonary edema (extreme
breathlessness, anxiety, sometimes with coughing pink, frothy (berbusa) sputum),
peripheral edema, jugular venous distention, hepatojugular reflux, and
hepatomegaly.

52
DIAGNOSTIC

∗ Electrocardiogram may be normal or it could show numerous abnormalities including acute


ST-T–wave changes from myocardial ischemia, atrial fibrillation, bradycardia, left ventricular
hypertrophy
∗ Serum creatinine may be increased because of hypoperfusion
∗ Complete blood count useful to determine if heart failure is a result of reduced oxygen-
carrying capacity
∗ Chest radiography is useful for detection of cardiac enlargement, pulmonary edema, and
pleural effusions
∗ Echocardiogram assesses left ventricle size, valve function, pericardial effusion, wall motion
abnormalities, and ejection fraction
∗ Hyponatremia, serum sodium <130 mEq/L, is associated with reduced survival and may
indicate worsening volume overload and/or disease progression

53
54
OUTCOME

The therapeutic goals for chronic HF are to :


∗ Improve quality of life,
∗ Relieve or reduce symptoms,
∗ Prevent or minimize hospitalizations,
∗ Slow disease progression, and
∗ Prolong survival.

55
TATA LAKSANA
 Penyebab HF dihilangkan (pembedahan pada struktur abnormal,
mengobati kondisi medis spt infeksi endocarditis atau hipertensi)
 Faktor-faktor yang memperburuk HF diidentifikasi dan diminimalkan
(demam, anemia, aritmia, ketidakpatuhan pengobatan, obat)
 Terapi obat untuk mengontrol HF dan meningkatkan survival

 Medikamentosa
 Dulu  fokus pada lemahnya jantung (digitalis, glikosida), dan
diuretik)
 Sekarang  status patofisiologi sistemik keseluruhan

56
TATA LAKSANA

Dulu : mengurangi aktivitas dan bedrest total adalah standar


perawatan pasien
Sekarang :
 Regular exercise (walking or cycling) direkomendasikan untuk
pasien HF stabil kelas I-III
 Dietary sodium (approximately 2 to 3 g of sodium per day)
 Restriction of fluid intake (maximum 2 L/day from all sources)
 Berhenti merokok dan minum alkohol
 Revaskularisasi atau transplantasi
57
58
59
60
61
62
63
64
ARITMIA

65
DEFINISI

 Kelainan dalam kecepatan, irama, tempat asal


dari impuls, atau gangguan konduksi yang
menyebabkan perubahan dalam urutan
normal aktivasi atrium sampai ventrikel
 Dapat diketahui dari gambaran EKG

66
EKG

67
Normal Sinus Rhythm?
 Irama teratur
 HR : 60 - 100 X/menit
 Gelombang P normal
 Gelombang P diikuti QRS-T (P : QRS = 1 : 1)
 Interval PR normal (0,12 - 0,20 detik)
 Gelombang QRS normal (< 0,12 detik)

68
Irama EKG selain SINUS RITME
disebut
ARITMIA atau DISRITMIA

69
ARITMIA
 Gangguan ritme jantung: irama, frekuensi & konduksi yg disebabkan
karena gangguan pembentukan impuls dan atau gangguan sistem
hantaran impuls.
 Klasifikasi Aritmia (sesuai dengan prognosis )
 Aritmia minor
 Aritmia mayor
 Aritmia lethal

70
Aritmia
Gangguan Pembentukan Impuls
Impuls yang berasal dari Sino Atrial Node (SA Node):
 Sinus Takikardi (ST)
 Sinus Bradikardi (SB)
 Sinus Aritmia
 Sinus Arrest
Impuls yang berasal dari Atrium:
 Atrial Ekstra Sistole (AES)
 Paroxismal Atrial Takikardi (PAT)
 Atrial Flutter (AFL)
 Atrial Fibrilation (AF)
 Atrial Wandering Pacemaker
71
Aritmia
Gangguan Pembentukan Impuls
Impuls yang berasal dari Atrio Ventrikuler Node (AV Node)
 Junctional Rithym (JR)
 Junctional Extra Sistole (JES)
 Acceleratid Junctional Rithym (AJR)
 Junctional Takikardi (JT)
 Junctional Bradikardi (JB)
Impuls yang berasal dari Supra Ventrikel
 Supra Ventrikel Takikardi (SVT)

72
Aritmia
Gangguan Pembentukan Impuls
Impuls yang berasal dari Ventrikel:
∗ Idio Ventrikel Ritme (IVR)
∗ Acceleratid Idio Ventrikel Rithym
(AIVR)
∗ Ventrikel Ekstra Sistol (VES)
∗ Ventrikel Takikardi (VT)
∗ Ventrikel Fibrilasi (VF)
Tidak ada Impuls:
∗ Ventrikel Standstill (VS)/Asystole

73
Aritmia
Gangguan Hantaran Impuls
 Impuls yang berasal dari Sino Atrial Node :
 Sino Atrial Block
 Impuls yang berasal dari Atrio Ventrikular Node :
 AV Blok Derajat 1/First Degree AV Block
 AV Blok Derajat 2 Mobit I / Second Degree AV Block Mobitz 1
 AV Blok Derajat 2 Mobit II / Second Degree AV Block Mobitz II
 AV Blok Derajat 3/Total AV Blok/Third Degree AV Block
 Impuls yang berasal dari Inter Ventrikuler
 RBBB (Right Bundle Branch Block)
 LBBB (Left Bundle Branch Block)

74
Kegawatan Aritmia
Berdasarkan :
 Jenis aritmia yang gawat
 Taki-aritmia > 160 x / m
 Bradi-aritmia < 40 x / m
 Kelainan dasar jantung
 Keadaan miokard yang jelek (memperburuk prognosa aritmia)
seperti: IMA, miokarditis, kardiomiopati
 Adanya kelainan di luar jantung
 Gangguan elektrolit
 Gangguan asam basa
 Infeksi berat

75
Gangguan Hemodinamik
Manifestasi Kegawatan Aritmia:
 TD menurun  syok kardiogenik
 Curah jantung (CO) menurun  gagal jantung  edema
paru akut
 Curah jantung (-)  henti jantung
 Sindroma Adams-Stokes : curah jantung ↓ cepat &
sementara  pingsan

76
FOKUS PENANGANAN
 Konversi aritmia  irama sinus (tujuan utama)
 Mengendalikan frekwensi ventrikular yang optimal
(60-100 x /menit)
 Atasi penyakit dasarnya

77
TATA LAKSANA ARITMIA
 Psikoterapi
 Vagal manoeuvres
 Obat anti aritmia
 Direct current ( DC ) counter shock
 Radiofrequency catheter ablation
 Automatic implantable defibrilator
 Pace maker temporer/permanent

78
Obat Antiaritmia (Klasifikasi Vaughan-Williams)
 Klas I : Penyekat Na
 Ia : Quinidin, procainamid, disopyramid
 Ib : Lidocain, mexiletin, phenytoin
 Ic : Propafenon, flecainamid
 Klas II : Penyekat beta
 Propranolol, bisoprolol dsb
 Klas III : Memperpanjang potensial aksi & repolarisasi
 Amiodaron, sotalol, bretilium dsb
 Klas IV : Kalsium antagonis
 Verapamil, diltiazem dsb

79
CARDIAC TAMPONADE

80
CARDIAC TAMPONADE
∗ Trauma tembus / trauma tumpul
∗ Darah yang masuk ke ruang perikard
karena robeknya miokard atau
pembuluh darah

Management of Chest Trauma - Priyanto 81


Diagnosis klasik  TRIAS
BECK
 Peningkatan tekanan vena
 Penurunan tekanan arteri
 Suara jantung menjauh

Management of Chest Trauma - Priyanto 82


 Trias Beck hanya 20% (bunyi jantung ↓,
distensi vena jugularis, hipotensi), Jangan
menunggu sampai semua tanda muncul
(pericard robek, otot ventrikel tebal)
 Agitasi, takikardia, takipneu, diaforesis,
akral dingin
 PRINSIP : “setiap luka tusuk di area
prekordial harus dianggap menembus
jantung!”
Management of Chest Trauma - Priyanto 83
MANAGEMENT
∗Paten jalan nafas /
intubasi
∗Ventilasi/oksigenasi
∗Perikardiosentesis

Management of Chest Trauma - Priyanto 84


 Mungkin tidak bergejala 
cidera dada dan syok.
 Indikasi
PERIKARDIOSINTESIS
bila penderita dalam
keadaan syok hemoragik
tidak memberikan respon
pada resusitasi cairan

Management of Chest Trauma - Priyanto 85


Management of Chest Trauma - Priyanto 86
Blunt Cardiac Injury
 Recent literature review demonstrates 50% of blunt cardiac injury (BCI) was
related to motor vehicle crash (MVC), followed by pedestrian struck by
vehicles, motorcycle crashes, and then falls from heights greater than 20
feet (6 meters).
 Blunt cardiac injury can result in myocardial muscle contusion, cardiac
chamber rupture, coronary artery dissection and/or thrombosis, and
valvular disruption.
 Cardiac rupture typically presents with cardiac tamponade and should be
recognized during the primary survey.
 Early use of FAST can facilitate diagnosis. Trauma team members must
consider the importance of BCI due to trauma.
 Patients with blunt myocardial injury may report chest discomfort, but this
symptom is often attributed to chest wall contusion or fractures of the
sternum and/or ribs.
Management of Chest Trauma - Priyanto 87
Blunt Cardiac Injury
 Clinically significant sequelae are hypotension, dysrhythmias, and/or wall-
motion abnormality on two-dimensional echocardiography.
 The electrocardiographic changes are variable and may even indicate frank
myocardial infarction. Multiple premature ventricular contractions,
unexplained sinus tachycardia, atrial fibrillation, bundle-branch block
(usually right), and ST segment changes are the most common ECG
findings.
 Elevated central venous pressure with no obvious cause may indicate right
ventricular dysfunction secondary to contusion. The presence of cardiac
troponins can be diagnostic of myocardial infarction.
 Patients with a blunt injury to the heart diagnosed by conduction
abnormalities (an abnormal ECG) are at risk for sudden dysrhythmias and
should be monitored for the first 24 hours.
Management of Chest Trauma - Priyanto 88
CARDIAC ARREST

89
ARITMIA LETHAL

 ASYSTOLE
 PULSELESS ELEKTRICAL ACTIVITY (PEA)
 VENTRIKEL FIBRILASI (VF)
 PULSELESS VENTRIKEL TAKIKARDI (pVT)

90
90
91
91
PULSELESS ELECTRICAL ACTIVITY (PEA)

GAMBARAN DI MONITOR TERLIHAT ADANYA GAMBARAN AKTIVITAS LISTRIK


JANTUNG TETAPI PADA SAAT DI PALPASI DENYUT NADI TIDAK TERABA

92
92
VENTRIKEL FIBRILASI (VF)

93
93
PULSELESSVENTRIKEL TAKIKARDI (pVT)

94
94
BASI C LIFE SUPPORT

95
BASIC LIFE SUPPORT
 DANGER
PASTIKAN : AMAN PENOLONG, LINGKUNGAN, PASIEN
 RESPONSE
CEK RESPON KORBAN : ALERT, VERBAL, PAIN, UNRESPONSIVE
 SHOUT FOR HELP
 TETAP BERSAMA KORBAN GUNAKAN HP UNTUK PANGGIL BANTUAN,
AKTIFKAN SPEAKER UNTUK BERKOMUNIKASI DAN DENGARKAN INSTRUKSI
TENAGA KESEHATAN
 BILA SENDIRIAN TANPA HP, BERTERIAK MINTA TOLONG DAN AMBIL AED (BILA
TERSEDIA SEGERA) SEBELUM MEMULAI RJP

96
 CIRCULATION
 CEK NAPAS & NADI BERSAMAAN KURANG DARI 10 DETIK
 JIKA TIDAK TERABA: BERIKAN 30 KOMPRESI DAN 2 VENTILASI
 JIKA TERABA : BERI 1 VENTILASI TIAP 6 DETIK
 PENOLONG TIDAK TERLATIH
 TIDAK DIANJURKAN CEK NADI
 DIANJURKAN KOMPRESI TANPA KOMBINASI NAPAS

97
∗ KOMPRESI MEKANIK TIDAK LEBIH BAIK DIBANDING
KOMPRESI MANUAL (DIREKOMENDASIKAN SBG STANDAR)
∗ KUALITAS RJP
∗ KEDALAMAN MIN 5 CM - MAX 6 CM
∗ KECEPATAN MIN 100 X - MAX 120 X/MENIT
∗ REKOIL DADA
∗ MINIMAL INTERUPSI
∗ CEGAH HIPERVENTILASI

98
 AIRWAY
 BERSIHKAN JALAN NAPAS
 BUKA JALAN NAPAS : TEKNIK JAW TRUST (BILA CIDERA SERVIKAL
 PENOLONG AWAM DIREKOMENDASIKAN MANUAL
IMMOBILZATION DIBANDING MENGGUNAKAN ALAT (RESIKO
MENINGKAT PADA CIDERA KEPALA & MUKA)
 BREATHING
 BERIKAN NAPAS DENGAN VOLUME TIDAL 2 X TIDAK BOLEH LEBIH
DARI 10 DETIK
 EVALUASI TIAP 2 MENIT (BUKAN TIAP 5 SIKLUS)

99
 PEMBERIAN NALOXONE
 BILA DIKETAHUI UNRESPONSIVE DAN OVERDOSIS OPIOID, BERIKAN
AUTOMATIC INJECTOR NALOXONE

100
KLASIFIKASI REKOMENDASI & PEMBUKTIAN

101
102
103
104
CPR BERKUALITAS

105
TERIMA KASIH

106
REFERENSI
∗ AHA (2015) Update CPR & ECG diunduh dari
http://www.cercp.org/images/stories/recursos/Guias%202015/Guidelines-RCP-AHA-2015-Full.pdf pada tanggal 5
Januari 2020
∗ AHA (2015) Fokus Utama Pembaharuan AHA untuk CPR dan ECC diunduh dari https://eccguidelines.heart.org/wp-
content/uploads/2015/10/2015-AHA-Guidelines-Highlights-Indonesian.pdf pada tanggal 5 Januari 2020
∗ AHA/ACC/HRS (2017) Guideline for Management of Patients With Ventricular Arrhythmias and the Prevention of
Sudden Cardiac Death diunduh dari http://professional.heart.org/idc/groups/ahamah-
public/@wcm/@sop/@smd/documents/downloadable/ucm_497098.pdf pada tanggal 5 Januari 2020
∗ AHA (2016) Focused Update Review of the 2013 Heart Failure Guidelines diunduh www.heart.org/idc/groups/heart-
public/@wcm/@hcm/@gwtg/.../ucm_487684.pdf pada tanggal 5 Januari 2020
∗ Alexander & Wang (2017) Big Data Analytics in Heart Attack Prediction J Nurs Care diunduh dari
https://www.omicsonline.org/open-access/big-data-analytics-in-heart-attack-prediction-2167-1168-1000393.pdf pada
tanggal 5 Januari 2020
∗ Borne, R. T. et al (2017) Implantable Cardioverter-Defibrillators for Secondary Prevention of Sudden Cardiac Death:
A Review diunduh dari file:///C:/Users/user/Downloads/e005515.full.pdf pada tanggal 5 Januari 2020
∗ Cardiovascular emergency (2016) diunduh dari
http://samples.jbpub.com/9781284080179/9781284080179_CH16_Secure.pdf pada tanggal 5 Januari 2020

107
∗ Emergency Care Association (2016) National Curriculum and Competency Framework Emergency Nursing (Level
1), Royal College of Nursing diunduh dari file:///C:/Users/user/Downloads/PUB-005883%20(1).pdf pada tanggal 5
Januari 2020
∗ Hazinski, M. F. and Myers, C. R. (2017) Can Healthcare Expansion Rapidly Reduce Out-of-Hospital Cardiac Arrest?
diunduh dari file:///C:/Users/user/Downloads/e006552.full.pdf pada tanggal 5 Januari 2020
∗ Kabbani, N., Kabbani, M. S & Al Taweel, H. (2017) Cardiac emergencies in neonates and young infants diunduh
dari file:///C:/Users/user/Downloads/2017Cardiacemergenciesinneonatesand younginfants%20(1).pdf pada tanggal
5 Januari 2020
∗ Kleinman, M. E et al (2017) American Heart Association Focused Update on Adult Basic Life Support and
Cardiopulmonary Resuscitation Quality diunduh dari
file:///C:/Users/user/Downloads/CIR.0000000000000539.full.pdf pada tanggal 5 Januari 2020
∗ Kragholm, K. et al (2017) Improvement in Care and Outcomes for Emergency Medical Service–Transported
Patients With ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) With and Without Prehospital Cardiac Arrest: A Mission:
Lifeline STEMI Accelerator Study diunduh dari file:///C:/Users/user/Downloads/e005717.full.pdf pada tanggal 5
Januari 2020
∗ Mehta, P. K. et al (2017) Sudden Cardiac Death in Women With Suspected Ischemic Heart Disease, Preserved
Ejection Fraction, and No Obstructive Coronary Artery Disease: A Report From the Women’s Ischemia Syndrome
Evaluation Study diunduh dari file:///C:/Users/user/Downloads/e005501.full.pdf pada tanggal 5 Januari 2020
∗ Nobahar M. (2016) Competence of nurses in the intensive cardiac care unit diunduh dari
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4930260/pdf/epj-08-2395.pdf pada tanggal 5 Januari 2020

108
∗ Perki (2015) Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut diunduh dari http://www.inaheart.org/upload/file/
Pedoman_tatalaksana_Sindrom_Koroner_Akut_2015.pdf pada tanggal 5 Januari 2018
∗ PPNI (2012) Standar Kompetensi Perawat Indonesia diunduh dari https://aipdiki5.files.wordpress.com/2014/07/
standar-kompetensi-perawat-indonesia.pdf pada tanggal 5 Januari 2018
∗ Rampengan, S. H. (2015) Kegawatdaruratan Jantung diunduh dari http://repo.unsrat.ac.id/1132/2/ISI.pdf pada
tanggal 5 Januari 2018
∗ Stecker, E. C., et al (2017) Ischemic Heart Disease Diagnosed Before Sudden Cardiac Arrest Is Independently
Associated With Improved Survival diunduh dari file:///C:/Users/user/Downloads/e001160.full.pdf pada tanggal 5
Januari 2018
∗ The Cardiac Society of Australia and New Zealand (2017) Consensus Statement of Standards for Interventional
Cardiovascular Nursing Practice diunduh dari http://www.csanz.edu.au/wp-
content/uploads/2017/07/Standards_Interventional_Cardiovascular_Nursing_Practice_2017.pdf pada tanggal 5
Januari 2018
∗ UU no. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan; UU no. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan; UU no. 38 Tahun
2014 tentang Keperawatan
∗ Yancy, C.W. (2013) Review of the 2013 Heart Failure Guidelines: What You Need to Know (Part 1) diunduh dari
https://www.heart.org/idc/groups/heart-public/@wcm/@hcm/@gwtg/ documents/downloadable/ucm_456868.pdf
pada tanggal 5 Januari 2018

109