Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN

PREEKLAMSI
No Dokumen No. Revisi Halaman
A/SOP/04/2018 R0 ........./.........
BIDAN PRAKTEK
MANDIRI
Terbit Tanggal: Ditetapkan,

SOP
01 Januari 2018 Penanggung jawab BPM

RITA LESTARI, AMD. Keb


A. Pengertian Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuri akibat
kehamilan, setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setalah
persalinan. Dibedakan :
1. Hipertensi kronik adalah hipertensi pada ibu hamil yang sudah
ditemukan sebelum kehamilan atau yang ditemukan pada umur
kehamilan < 20 minggu , dan yang menetap setalah 12 minggu
pasca persalinan.
2. Preeklamsi/eklamsi atas dasar hipertensi kronis adalah timbulnya
preeklamsi atau eklamsi pada pasien hipertensi kronik.
3. Hipertensi gestasional adalah timbulnya hipertensi dalam
kehamilan pada wanita yang tekanan darahsebelumnya normal dan
tidak mempunyai gejala-gejala hipertensi kronik atau
preeklamsi/eklamsi (tidak disertai proteinuri). Gejala ini akan
hilang dalam waktu < 12 minggu pasca bersalin.

B. Tujuan Tujuan Umum : melakukan penilaian klasik , klasifikasi dan


penatalaksanaan serta mencegah komplikasi.
Tujuan Khusus :
a. Mencegah tanda dan gejala hipertensi karena kehamilan dan
menentukan diagnosis yang paling mungkin dalam hubungan
dengan hipertensi yang dipicu karena kehamilan.
b. Melakukan penatalaksanaan preeklamsia/eklamsia dan hipertensi
kronik pada ibu hamil.
c. Melakukan pemberian obat anti kejang (Magnesium sulfat dan
Diazepam) serta obat antihipertensi penatalaksanaan preeklamsi
berat eklamsi.
C. Kebijakan Upaya untuk mendeteksi sedini mungkin komplikasi hipertensi
karena kehamilan.
D. Anamnesis 1. Umur kehamilan > 20 minggu
2. Hipertensi
3. Tidak ada kejang, penurunan kesadaran, penglihatan kabur, nyeri
kepala hebat, nyeri ulu hati.
E. Pemeriksaan fisik Preeklamsi ringan
Diagnosis preeklamsi ringan didasarkan atas timbulnya hipertensi
(sistolik anatara 140 - < 160 mmHg dan diastolik antara 90 - < 110
mmHg) disertai proteinuri ( ≥ 300mg/24 jam, atau 1+ dipstik).
Bila didapatkan 1 atau lebih gejala di bawah ini preeklamsi digolongkan
berat :
 Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥
110 mmHg.
 Proteinuri ≥ 2 g/24 jam atau ≥ 2 + dalam pemeriksaan kualitatif
dipstik.
 Angiolisis mikroangiopati (peningkatan kadar LDH)
 Sakit kepala yang menetap atau gangguan visus dan serebral.
 Nyeri epigastrium yang menetap.
 Edema paru disertai sianosis
Adanya “HELLP Syndrome” (H : hemolisis; EL : elevated liver
enzymes; LP : Low platelet count)
F. Pemeriksaan penunjang Preeklamsi Ringan : Urin Lengkap
Preeklamsi Berat/Eklamsi :
Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan Hb, Ht, Leukosit, trombosit, urin lengkap.
 Pemeriksaan USG.
G. Penatalaksanaan Preeklamsi Ringan
Rawat jalan, pasien dianjurkan cukup istirahat, memantau tekanan darah
dan proteinuria setiap hari.
Dapat dipertimbangkan pemberian antioksidan dan kalsium.
Kontrol setiap minggu.
Bila tekanan darah terkontrol pada umur kehamilan 37 minggu dilakukan
terminasi kehamilan.
Preeklamsi Berat
Rawat bersama dengan departement yang terkait.
A. Medikamentosa
 Infus larutan RL
 Pemberiaan obat :
1. MgSO4
Cara pemberian MgSO4 :
1. Pemberian melalui intravena
a. Dosis awal
 4 gram MgSO4 (10cc MgSO4 40%) IV sebagai larutan 40
% selama 5 menit segera, dilanjutkan dengan 15 ml
MgSO4(40%) 6 gr dalam larutan RL selama 6 jam.
b. Dosis pemeliharaan
10 gram dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan
kecepatan 1 – 2 gram/jam (20 – 30 tetes per menit)
 Syarat – syarat pemberian MgSO4 .
 Harus tersedia antidotum MgSO4 yaitu kalsium
glukonas 10 % (1 gram dalam 10 cc) diberikan i.v
dalam waktu 3 – 5 menit.
 Refleks pattela (+) kuat
 Frekuensi pernafasan ≥ 16 x/menit
 Produksi urin ≥ 30 cc dalam 1 jam sebelumnya
(0,5 cc/kg bb/jam.
 Sulfas magnesikus dihentikan bila :
 Ada tanda-tanda intoksikasi
 Setelah 24 jam pasca persalinan.
 Dalam 6 jam pascasalin sudah terjadi perbaikan
tekanan darah (normotensif).
2. Antihipertensi :
Tekanan darah :
 Sistolik ≥ 160 mmHg
 Diastolik ≥ 110 mmHg
Dapat diberikan :
 Nifedipin: 10 mg per oral dan dapat diulangi setiap 30
menit (maksimal 120 mg/24 jam) sampai terjadi
penurunan MABP 20 %. Selanjutnya diberikan dosis
rumatan 3x10 mg (pemberian nifedipin tidak boleh
diberikan sub lingual).
 Nikardipine diberikan jika tekanan darah ≥ 180/110
mmHg/hipertensi emergensi dengan dosis 1 ampul 10 mg
dalam larutan 50cc per jam atau 2 ampul 10 mg dalam
larutan 100cc tetes /menit mikro drip. Pelarut yang tidak
dapat digunakan adalah RL dan bikarbonat natrikus.

B. Pengelolaan konservatif
a. Indikasi
Kehamilan preterm (< 34 minggu) tanpa disertai tanda – tanda
impending eklamsi dengan keadaan janin baik.
b. Pengobatan medisinal :
Sama dengan perawatan medisinal pengelolaan secara aktif.
Hanya dengan dosis awal MgSO 4 tidak diberikan i.v cukup i.m
saja. (MgSO4 40 % , 8 gram i.m). atau bila mengunakan cara
intravena secara kontinyu diberikan langsung dosis
pemeliharaan. Pemberian MgSO4 dihentikan bila sudah
mencapai tanda – tanda preeklamsi ringan , selambat –
lambatnya dalam waktu 24 jam.
c. Penglolaan obstetrik
1. Selama perawatan konservatif , tindakan observasi dan
evaluasi sama seperti perawatan aktif, termasuk
pemeriksaan tes tanpa kontraksi dan USG untuk memantau
kesejantraan janin.
2. Bila setelah 2 x 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan
ini di anggap sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan
harus diterminasi. Cara terminasi sesuai dengan
pengelolaan aktif.
C. Pengelolaan Aktif
Indikasi
Bila di dapatkan 1 / lebih keadaan di bawah ini
Ibu :
 Kehamilan > 34 minggu ( dengan kortikosteroid selama 2 hari
telah diberikan).
 Gagal perawatan konservatif
Janin
 Adanya tanda – tanda gawat janin
 Adanya tanda – tanda IUGR
Laboratorium :
Adanya HELLP Syndrome.
H. Sikap Sopan
Teliti
Hati-hati
Tanggap dan peka terhadap respon pasien
Cekatan
I. Petugas pelaksana Bidan