Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga

DOSEN PENGAMPU:

Ani Auli Ilmi, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Kep. Kom.


Eny Sutria S. Kep., Ns., M. Kes.
Hasnah, S. Kep., Ns., M. Kes.
A. Tenri Ola Rivai, M. Kes.

OLEH: KELOMPOK 6

Sri Astuti 70300117004

Miftah Nursani 703001170012

Nofianti Rahman 70300117021

Arfiah Akram 70300117023

Israwati 70300117036

Kaisar Agus 70300117041

JURUSAN KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah Swt. yang telah memberikan rahmatNya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Makalah “Asuhan Keperawatan Keluarga
dengan Bayi Baru Lahir”. Sholawat serta salam kami curahkan kepada Nabi Muhammad Saw.,
kepada keluarganya, sahabatnya dan kepada kita semua selaku umatnya.Adapun tujuan
penyusunan Makalah ini salah satunya yaitu untuk memenuhi tugas. Kami berharap semoga ini
bermanfaat. Kami Sadar akan keterbatasan dan kemampuan yang kami miliki, maka kami mohon
maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam penyusunannya. Saran dan kritik kami
harapkan untuk meningkatkan kualitas makalah ini. Kami berharap semoga ini dapat bermanfaat.

Bahari , 2 mei 2020

Penyusun kelompo 6
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1. Latar Belakang 1
2. Tujuan 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3

1. Konsep keluarga
2. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga pada dewasa

BAB III TINJAUAN KASUS

1. Pengkajian
2. Diagnosa
3. Intervensi

BAB IV PENUTUP

1. Kesimpulan
2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Friedman (2010) mengatakan bahwa keluarga mempunyai peranan penting dan


membantu anggota keluarganya untuk hidup dalam kehidupan yang lebih sehat. Peran
keluarga sangat penting dalam pencegahan dan penyembuhan terhadap anggota keluarga
yang sakit, sehingga setiap anggota keluarga perlu mampu mengenal masalah kesehatan
yang ada di keluarganya, keluarga harus mampu memutuskan tindakan yang tepat saat
anggota keluarga sakit, keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit, keluarga
mampu memodifikasi lingkungan, dan memanfaatkan fasilitas kesehatan (Khayudin,
2019).
Pada keluarga dewasa merupakan tahap dimana semua anak akan pergi atau
keluar meninggalkan rumah atau orang tuanya. Didalam kehidupan keluarga dewasa
dimana orang tuanya akan merasa banyak kehilangan karena perginya anak-anak dari
rumah. Pada keluarga ini juga terdapat berbagai masalah yang dialami oleh keluarga itu
sendiri. Dan perawat sangat berperan penting dalam memenuhi kebutuhan yang berkaitan
dengan kesehatan kepada keluarga.
Istilah keluarga akan menghadirkan gambaran adanya individu dewasa dan anak
yang hidup bersama secara harmonis dan memuaskan. Keluarga bukan sekedar gabungan
dan jumlah dari beberapa individual. Keluarga memiliki keragaman seperti anggota
individunya dan klien memiliki nilai – nilai tersendiri mengenai keluarganya yang harus
dihormati. Keluarga sebagai suatu kelompok hubungan yang indentifikasi klien sebagai
keluarga atau jaringan individu yang mempengaruhi kehidupan masing – masing tanpa
melihat adanya hubungan biologis atau pun hukum (Perry, 2009, hal 202).
2. Tujuan Masalah

a. Untuk Memahami Konsep Dasar keluarga


b. Untuk Memahami Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga pada dewasa
c. Untuk Memahami Pengkajian Keperawatan Keluarga Keluarga pada dewasa
d. Untuk Memahami Diagnosa Keperawatan Keluarga Keluarga pada dewasa
e. Untuk Memahami Intervensi Keperawatan Keluarga Keluarga pada dewasa
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP KELUARGA

1. Definisi Keluarga

Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan kumpulan dari beberapa komponen
yang saling berinteraksi satu dengan lainnya (Logan’s, 2004). Keluarga adalah
sebagaimana sebuah kesatuan yang komplek dengan atribut yang dimiliki tetapi terdiri
dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai sebagaimana individu ( Illis,
2004 ). Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih masing-
masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, dan
nenek. (Raisner, 2009). Duvall (1986, dalam Ali, 2009 ), menguraikan bahwa keluarga
adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan
untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional, serta sosial dari setiap anggota keluraga.

Istilah keluarga akan menghadirkan gambaran adanya individu dewasa dan anak
yang hidup bersama secara harmonis dan memuaskan. Keluarga bukan sekedar gabungan
dan jumlah dari beberapa individual. Keluarga memiliki keragaman seperti anggota
individunya dan klien memiliki nilai – nilai tersendiri mengenai keluarganya yang harus
dihormati. Keluarga sebagai suatu kelompok hubungan yang indentifikasi klien sebagai
keluarga atau jaringan individu yang mempengaruhi kehidupan masing – masing tanpa
melihat adanya hubungan biologis atau pun hukum (Perry, 2009, hal 202).

Menurut (Friedman, 1998), membuat defenisi yang berorientasi pada tradisi dan
digunakan sebagai referensi secara luas :
1. Keluarga terdiri dari orang – orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan
ikatan adopsi.
2. Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama – sama dalam satu rumah, atau
jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga tersebut
sebagai rumah mereka.
3. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peran – peran
sosial keluarga seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak laki – laki dan anak perempuan,
saudara dan saudari.
4. Keluarga sama – sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang diambil dari
masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri.
2. Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola
kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang
mengikuti. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat
kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga (Suprajitno, 2004).
Menurut (Friedman, 2009), adapun tipe keluarga sebagai berikut :
1. Tipe keluarga tradisional
a. Keluarga Inti (The nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung atau angkat).
b. Keluarga Dyad
Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
c. Single Parent  
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak (kandung atau angkat).
Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
d. Single adult living alone
Suatu rumah tangga yang terdiri dari 1 orang dewasa hidup sendiri.
e. The childless
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah, bisa disebabkan karena mengejar
karir atau pendidikan.
f. Keluarga Besar (The extended family)
Keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi,
kakek, nenek dan lain-lain.
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari minggu atau
hari libur saja.
h. Multi generation
Beberapa generasi atau kelompok umum yang tinggal bersama dalam 1 rumah.
i. Kin-network family
Beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan
barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama.
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari
perkawinan sebelumnya.
k. Keluarga usila
Keluarga terdiri dari suami dan istri yang ssudah usia lanjut, sedangkan anak sudah
memisahkan diri.
2. Tipe keluarga non tradisional
a. Keluarga Orang Tua Tunggal Tanpa Menikah (The unmerrid teenage mother).
Keluarga yang terdiri dari 1 orang dewasa terutama ibu dan anak dari hubungan
tanpa nikah.
b. The step parents family
Keluarga dengan orang tua tiri.
c. Commune family
Keluarga yang terdiri dari lebih dari satu paangan monogami yang menggunakan
fasilitas secara bersama.
d. The nonmarrital hetero seksual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa nikah.
e. Keluarga Homoseksual (Gay and lesbian family)
Seseorang yang mempunyai persamaan seks tinggal dalam 1 rumah sebagaimana
pasangan suami istri.
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena alasan tertentu.
g. Groupmarriage family
Beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah berbagi sesuatu termasuk
seks dan membesarkan anak.
h. Group nertwork family
Beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup berdekatan dan
saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab membesarkan anak.
i. Foster family
Keluaraga yang menerima anak yang tidak ada  hubungan saudara untuk waktu
sementara.
j. Home less family
Keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena keadaan
ekonomi atau problem kesehatan mental.
k. Gang
Keluarga yang dekstruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional,
berkembang dalam kekerasan dan kriminal.
3. Fungsi Keluarga
Menurut (Friedman, 2009), mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga yaitu :
a. Fungsi afektif
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis
kekuatan keluarga. Berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial.
Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagian dan
kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling
mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangan
melalui interaksi dan hubungan dalam kelurga. Dengan demikian kelurga yang
berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat mengembangkan
konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam
fungsi afektif adalah :
1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling
mendukung antar anggota keluarga. Setiap anggota yang mendapatkan kasih
sayang dan dukungan dari anggota yang lain maka kemampuan untuk
memberikan kasih sayang akan maningkat yang pada akhirnya tercipta
hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam
keluarga merupakan modal dasar memberi hubungan dengan orang lain diliat
keluarga atau masyarakat.
2) Saling menghargai bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui
keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan
iklim yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.
3) Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup
baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan
penyesuian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus
mengemban proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru
perilaku yang positif tersebut.
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kabahagian
keluarga keretakan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau
masalah kelurga timbul karena fungsi afektif keluarga tidak terpenuhi.
b. Fungsi sosialisasi
Individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam
lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak lahir, keluarga merupakan tempat
individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan
keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang
diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-
norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan keluaarga.
c. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya
manusia
d. Fungsi ekonomi
Keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang seperti kebutuhan
makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan yaitu
mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan merawat anggota keluarga yang
sakit. Kemampuan keluarga memberikan asuahan kesehatan mempengaruhi status
kesehatan keluarga. Kesanggupan kelurga melaksanakan pemeliharaan kesehatan
dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan.

Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :


a. Mengenal masalah.
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat.
c. Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
e. Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan masyarakat.

4. Dimensi Struktur Keluarga


Menurut (Friedman, 2009), struktur keluarga terdiri atas:
1. Pola dan proses komunikasi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi:
a. Bersifat terbuka dan jujur.
b. Selalu menyelesaikan konflik keluraga.
c. Berfikir positif.
d. Tidak mengulang-ulang isu dan pendapatnya sendiri.

Karakteristik komunikasi keluarga yang berfungsi:

a. Karakteristik pengirim:
1) Yakin dalam mengemukakan pendapat.
2) Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas.
3) Selalu minta maaf dan menerima umpan balik.
b. Karakteristik penerima :
1) Siap mendengar.
2) Memberikan umpan balik.
3) Melakukan validasi.
2. Struktur peran
Peran adalah serangkaian prilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang
diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status individu dalam masyarakat
misalnya sebagai suami atau istri atau anak.
3. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan dalam (potensial atau aktual) dari individu
untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah prilaku seseorang kearah
positif. Tipe struktur kekuatan antara lain :
a. Legitimate power/authority : Hak untuk mengatur seperti orang tua pada anak.
b. Referent power : Seseorang yang ditiru.
c. Reword power : Pendapat ahli.
d. Coercive power : Dipaksakan sesuai keinginan.
e. Informational power : Pengaruh melalui persuasi.
f. Affectif power : Pengaruh melalui manipulasi cinta kasih.
4. Nilai –nilai dalam keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak,
memepersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga
merupakan suatu pedoman prilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan
peraturan. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyrakat bardasarkan
sistem nilai dalam keluarga. Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang
dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan
masalah.
5. Peran Perawat Keluarga
Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan pada
keluarga sebagai unti pelayanan untuk mewujudkan keluarga sehat. Fungsi perawat
membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara
meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan
kesehatan keluarga (Suprajitno, 2004). Peran perawat dalam melakukan perawatan
kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Suprajitno, 2004) :
1. Pendidik
Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar :
a. Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan secara mandiri.
b. Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga
2. Koordinator
Koordinasi diperlukan pada perawatan agar pelayanan komperhensif dapat
dicapai. Koordianasi juga diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau
terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan
pengulangan.
3. Pelaksanaan
Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarga dengan
menggunakan metode keperawatan.
4. Pengawas kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan hime visit yang teratur untuk
mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga
5. Konsultan
Perawat sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan.
Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, hubungan perawat dan klien
harus terbina dengan baik, kemampuan perawat dalam menyampaikan informasi
yang disampaikan secara terbuka dapat dipercaya.
6. Kolaborasi
Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan anggota tim
kesehatan lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang optimal.
7. Fasilisator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah sosial ekonomi,
sehingga perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti rujukan
dan penggunaan dana sehat.
8. Penemu kasus
Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di masyrakat sehingga
menghindari dari ledakan kasus atau wabah.
9. Modifikasi lingkunga
Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun masyarakat
agar tercipta lingkungan sehat.
6. Tingkat Pencegahan
Mengembangkan sebuah kerangka kerja, yang disebut  sebagai tingkat pencegahan,
yang digunakan untuk menjelaskan tujuan dari keperawatan keluarga. Tingkat pencegahan
tersebut mencakup seluruh spektrum kesehatan dan penyakit, juga tujuan-tujuan yang sesuai
untuk masing-masing tingkat. Leavell dkk. (1965,  dalam  Friedman, 1998). Ketiga
tingkatan tersebut adalah adalah :
a. Pencegahan primer  yang meliputi peningkatan kesehatan ddan tindakan preventif
khusus yang dirancang untuk menjaga orang bebas dari penyakit dan cedera.
b. Pencegahan sekunder yang terdiri dari atas deteksi dini, diagnosa, dan pengobatan.
c. Pencegahan tertier, yang mencakup tahap penyembuhan dan rehabilitasi, dirancang
untuk meminimalkan ketidakmampuan klien dan memaksimalkan tingkat fungsinya.
Ketiga tingkat pencegahan itu, merupakan tujuan dari keperawatan keluarga.
Tujuan -tujuan tersebut terdiri atas peningkatan, pemeliharaan, pemulihan terhadap
kesehatan (Hanson, 1987 dalam  Friedman, 1998). Peningkatan kesehatan merupakan
pokok terpenting dari keperawatan keluarga. Akan tetapi, sudah tentu, pendeteksian
secara dini, diagnosa dan pengobatan merupakan tujuan penting pula. Pencegahan
tertier atau rehabilitasi dan pemulihan kesehatan secara khusus menjadi tujuan yang
penting bagi keperawatan keluarga saat ini, mengingat perkembangan keperawatan
kesehatan dirumah dan pravelensi penyakit – penyakit kronis, serta ketidakberdayaan
dikalangan lanjut usia yang populasinya semakin meningkat dan cepat (Friedman, 1998)
B. KONSEP DEWASA
1. Karakterisik Keluarga Dewasa
Menurut Hurlock (1991: 247-252), ciri-ciri umum perkembangan fase usia dewasa
awal sebagai berikut:
a. Masa pengaturan, usia dewasa awal merupakan saat ketika seseorang mulai
menerima tanggungjawab sebagai orang dewasa
b. Usia reproduktif, usia dewasa awal merupakan masa yang paling produktif untuk
memiliki keturunan, dengan memiliki anak, mereka akan memiliki peran baru
sebagai orang tua
c. Masa bermasalah, pada usia dewasa awal akan muncul masalah-masalah baru yang
berbeda dengan masalah sebelumnya, diantaranya masalah pernikahan
d. Masa ketegangan emosional, usia dewasa awal merupakan masa yang memiliki
peluang terjadinya ketegangan emosional, karena pada masa itu seseorang berada
pada wilayah baru dengan harapan-harapan baru, dan kondisi lingkungan serta
permasalahan baru
e. Masa keterasingan sosial, ketika pendidikan berakhir seseorang akan memasuki
dunia kerja dan kehidupan keluarga. Seiring dengan itu, hubungan dengan
kelompok teman sebaya semakin renggang
f. Masa komitmen, pada usia dewasa awal seseorang akan menentukan pola hidup
baru, dengan memikul tanggungjawab baru dan memuat komitmen-komitmen baru
dalam kehidupan
g. Masa ketergantungan, meskipun telah mencapai status dewasa dan kemandirian,
ternyata masih banyak orang dewasa awal yang tergantung pada pihak lain
h. Masa perubahan nilai, jika orang dewasa awal ingin diterima oleh anggota
kelompok orang dewasa
i. Masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru
j. Masa kreatif, masa dewasa awal merupakan puncak kreativitas.

2. Tugas Perkembangan
Sudah umum diakui bahwa suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang
mencapai kedewasaan fisik pada masa remaja atau kedewasaan sosial pada masa dewasa
awal. Selama manusia berkembang maka akan terjadi perubahan-perubahan yakni
perkembangan-perkembagan yang dialami oleh individu tersebut.
Perubahan tersebut terjadi pada fungsi biologis dan motoris, pengamatan dan
berpikir, motif-motif dan kehidupan afeksi, hubungan sosial serta integrasi masyarakat. 
Perubahan fisik yang menyebabkan seseorang bekurang harapan hidupnyadisebut proses
menjadi tua. Proses ini merupakan sebagian dari pada keseluruhan proses menjadi tua.
Proses ini banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor kehidupan bersama dan faktor pribadi
orang itu sendiri, yaitu  regulasi diri sendiri.

Perkembangan dalam arti tumbuh, bertambah besar, mengalami diferensiasi, yaitu


sebagai proses perubahan yang dinamis pada  masa dewasa berjalan bersama keadaan
menjadi tua. Dalam hal ini ada tiga macam perubahan, yaitu dalam tubuh orang yang
menjadi tua, dalam kedudukan sosial, dan dalam pengalaman batinnya.

Berbagai perubahan ini terjadi selama hidup seseorang meskipun tidak harus
terkait pada usia tertentu secara eksak. Tempo dan bentuk akhir proses penuaan berbeda-
beda pada orang yang satu dengan orang yang lain.

Seperti halnya sulit untuk menentukan kapan dimulainya fase dewasa, begitu pula
dirasa sulit untuk menunjukkan kapan dimulainya proses menjadi tua. Hal itu sebetulnya
tidak terlalu penting bila pendapat mengenai orang lanjut usia tidak diwarnai oelh
gambaran citra yang negatif seperti yang ada pada masyarakat pada umumnya. (F.J.
Monks. 2006. 323-324)

Berikut tugas perkembangan pada keluarga dewasa :

1. Mencari dan menemukan calon pasangan hidup

Setelah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki


kematangan fisiologis (seksual) sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi, yaitu
mampu melakukakn hubungan seksual denga lawan jenisnya, asalkan memnuhi
persyaratan yang sah (perkawinan yang resmi). Untuk sementara waktu, dorongan
biolohid tersebut mungkin akan ditahan terlebih dahulu.

Mereka akan beruapaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan
pasangan dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga
berikutnya. Mereka akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku
bangsa tertentu, sebagai persyaratan pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai
kriteria yang berbeda-beda.

2. Membina kehidupan rumah tangga

Sikap yang mandiri merupakan langkah positif bagi mereka karena sekaligus
dijadikan sebagai persiapan untuk memaasuki kehidupan rumah tangga yang baru.
Namun, lebih dari itu, mereka juga harus dapat membentuk, membina,
danmengembangkan kehidupan rumah tangga dengan sebaik-baiknya agar dapat
mencapai kebahagiaan hidup.
3. Meniti karir dalam rangkan memantapkan kehidupan ekonomi rumah tangga

Usai menyelesaikan pendidikan formal setingkat SMU, akademi atau universitas,


umumnya dewasa muda memasuki dunia kerja, guna menerapkan ilmu dan keahliannya,
mereka berupaya menekuni karier sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki,
sertamemberi jaminan masa depan keuangan yang baik.

4. Menjadi warga negara yang bertanggung jawab

Warga negara yang baik adalah dambaan bagi setiap orang yang ingin hidup
tenang, damai, dan bahagia ditengah-tengah masyarakat. Syarat-syarat untuk menjadi
warga negara yang baik harus dipenuhi oleh seseorang, sesuai dengan norma sosial
budaya yang berlaku di masyarakat

3. Peran Perawat Pada Keluarga Dewasa


Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada sistem
keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggota keluarga
disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa tahapan atau kurun waktu
tertentu. Pada setiap tahapan mempunyai tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar
tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses.
Perawat perlu memahami setiap tahapan perkembangan keluarga serta tugas tugas
perkembangannya. Hal ini penting mengingat tugas perawat dalam mendeteksi adanya
masalah keperawatan yang dilakukan terkait erat dengan sifat masalah yaitu potensial
atau aktual.
Tugas bantuan pelayanan kesehatan antara lain:

 Nasehat meningkatkan hubungan antara anggota keluarga


 Nasehat untuk hidup mandiri
 Nasehat kepada anak dewasa yang akan memulai sebuah keluarga
4. Pertimbangan Kesehatan
Dewasa awal umumnya aktif dan mempunyai masalah kesehatan utama
minimum. Akan tetapi gaya hidup mereka dapat menempatkan mereka pada resiko
penyakit atau kecacatan selama masa dewasa tengah atau akhir. Dewasa awal mungkin
juga rentan secara genetik terhadap penyakit kronis tertentu seperti diabetes mellitus dan
hiperkolesterolemia keturunan ( Price dan Wilson, 1992). Penyakit crohn, radang kronis
pada usus halus lebih umum terjadi pada usia 15-35 tahun. Insiden infertalitas juga
meningkat pada masa sekarang yang mempengaruhi 15-20% dewasa sehat lain, banyak
klien infertile merupakan dewasa awal (Bobak dan Jensen, 1993)
a. Masalah Fisiologis
1) Faktor Resiko
Faktor risiko bagi kesehatan dewasa awal berasal dari komunitas, gaya hidup dan
riwayat keluarga. Faktor risiko ini mempunyai kategori sebagai berikut ;
 Kematian dan Cedera karena kekerasan
Kekerasan adalah penyebab terbesar mortalitas dan morbilitas pada populasi
dewasa awal. Kematian dan cedera dapat terjadi karena serangan fisik, kecelakaan
kendaraan bermotor atau kecelakaan lain dan usaha bunuh diri.
Pengkajian faktor yang mempredisposisi kekerasan yang mengakibatkan cedera
atau kematian, yaitu :
 Kemiskinan
 Keretakan keluarga
 Penganiayaan
 Pengabaian anak

Penting sekali bila seseorang perawat melakukan pengkajian psikososial secara


keseluruhan termasuk faktor seperti : pola perilaku, riwayat penganiayaan fisik
dan peyalahgunaan zat, pendidikan, riwayat pekerjaan dan system pendukung
sosial untuk mengetahui faktor risiko terhadap kekerasan personal dan
lingkungan.

 Penyalahgunaan Zat
Penyalahgunaan zat secara langsung maupun tidak langsung berperan terhadap
mortalitas dan morbilitas pada dewasa awal. Intoksikasi pada dewasa awal dapat
menyebabkan cedera berat dalam kecelakaan kedaraan bermotor yang dapat
mengakibatkan kematian atau kecacatan permanen. Penyalahgunan pada obat
stimulan dan depresan yang (“upper”) dapat menekan system kardiovaskuler dan
persyarafan yang dapat meluas sehingga menyebabkan kematian.
Penyalahgunaan zat tidak selalu dapat didiagosa, khususnya pada tahap awal.
Informasi yang penting mungkin diperoleh dengan membuat pertanyaan yang
spesifik tentang masalah medis di masa lalu, perubahan masukan makanan, pola
tidur atau masalah labilitas emosi. Laporan penangkapan karena mengemudi saat
intoksikasi, penganiayaan istri dan anak atau perilaku yang melanggar peraturan
untuk memeriksa kemungkinan penyalahgunaan obat secara cermat (Winger,
Hofmam dan Woods, 1992).
 Kehamilan yang tidak diinginkan
Kehamilan yang tidak direncanakan meskipun lebih umum terjadi pada masa
remaja, sebanyak 55% kemamilan terjadi pada wanita dewasa awal dan tengah
(Alan Guttmacher Institute). Kehamilan yang tidak direncanakan dapat
mempunyai efek fisik dan emosional jangka panjang pada masa awal dewasa.
Kehamilan yang tidak direncanakan adalah sumber stress yang berkelanjutan.
Sering kali dewasa awal yang mempunyai tujuan pendidikan, karier dan
mengutamakan perkembangan keluarganya. Gangguan pada tujuan tersebut dapat
mempengaruhi hubungan masa depan dan hubungan orang tua-anak nantinya.
 Penyakit Menular Seksual (PMS)
Penyakit menular seksual yaitu sifilis, klamidia, gonore, herpes genital dan AIDS.
Penyakit sekual menular mempunyai efek yang cepat seperti keluarnya rabas,
ketidaknyamanan dan infeksi. PMS juga memicu gangguan kronis yang
diakibatkan penyakit herpes genital, infertilitas yang diakibatkan gonore atau
bahkan kematian yang disebabkan AIDS. Penyakit ini dapat terjadi pada orang
yang aktif secara seksual dan diperkirakan hampir dua pertiga kasus PMS terjadi
pada individu berusia antara 15-24 tahun (Killion,1994).
 Faktor Lingkungan dan Pekerjaan
Faktor lingkungan dan pekerjaan yang umum yaitu : paparan terhadap partikel
udara yang dapat menyebabkan penyakit paru dan kanker. Penyakit paru yang
termasuk silikosis berasal dari inhalasi bedak atau debu silikon dan emfisema
karena  kanker disebabkan paparan tentang pekarjaan dapat menyerang paru, hati,
otak, darah atau kulit. Pertanyaan tentang paparan pekerjaan terhadap bahan-
bahan berbahaya harus menjadi bagian rutin pengkajian perawat.   
2) Gaya Hidup

Kebiasaan gaya hidup seperti merokok, stres, kurang large dan higiene
personal yang buruk meningkatkan risiko penyakit di masa depan. Riwayat
penyakit dalam keluarga seperti kardiovaskular, ginjal, endokrin atau neoplastik
meningkatkan risiko penyakit juga. Peran perawat dalam meningkatkan kesehatan
yaitu mengidentifikasi faktor yang meningkatkan risiko masalah kesehatan pada
dewasa awal.

Merokok adalah faktor risiko penyakit paru, jantung dan vaskular yang
diketahui dengan baik pada perokok dan orang yang menghisap asap rokok.
Inhalasi polutan rokok meningkatkan risiko kanker paru-paru, emfisema dan
bronkhitis kronis. Nikotin pada tembakau adalah vasokontriktor yang bekerja
pada arteri koroner, darah meningkatkan risiko penyakit angina, infark miokard
dan arteri koroner. Nikotin juga menyebabkan penyempitan vasokonstriksi perifer
dan memicu masalah vaskular.

Stres lama meningkatkan wear and fear pada kapasitas adaptif tubuh. Pola
latihan dapat mempengaruhi status kesehatan. Latihan yang dilakukan terus-
menerus meningkatkan frekuensi nadi selama 15 sampai 20 menit 3 kali
seminggu meningkatkan fungsi kardiopulmonal dengan menurunkan rata-rata
tekanan darah dan denyut jantung. Selain itu latihan menurunkan kecenderungan
mudah lelah insomnia, ketegangan dan iritabilitas. Perawat harus melakukan
pengkajian muskuloskletal secara menyeluruh, termasuk mobilitas sendi dan
tonus otot, dan pengkajian psikososial untuk meningkatkan toleransi terhadap
stres dalam menentukan efek-efek latihan.
Pada semua kelompok usia, kebiasaan higiene personal pada dewasa awal
dapat menjadi faktor risiko. Meminjamkan peralatan makan dengan seseorang
yang mempunyai penyakit yang mudah menular meningkatkan risiko penyakit.
Higiene gigi yang buruk meningkatkan risiko penyakit periodontal.

Riwayat penyakit dalam keluarga menempatkan dewasa awal pada risiko


berkembangnya penyakit pada masa dewasa tengah atau dewasa akhir.
Contohnya, seorang pria muda yang ayah dan kakek dari ayahnya yang
mempunyai infark miokard (serangan jantung), pada usia 50-an mempunyai risiko
infark miokard di masa depan. Adanya penyakit kronik tertentu dalam keluarga
meningkatkan risiko bagi anggota keluarga terhadap perkembangan penyakit itu.
Risiko penyakit keluarga jelas merupakan penyakit herediter. Kurangnya
kepatuhan untuk pemeriksaan skrining rutin dapat menempatkan klien pada risiko
penyakit berat karena kegagalan deteksi dini.

3) Infertilitas
Infertilitas adalah ketidakmampuan konsepsi involunter pada pria, wanita atau
pasangan.

C. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Ketika mengkaji dewasa awal dan tengah, perawat harus mempertimbangkan
perbandingan tugas perkembangan mereka dan juga membedakan tahap serta
konsekuensi perkembangan baik psikologi dan biologis.

a. Perkembangan Psikologis
Dewasa muda telah melengkapi pertumbuhan fisiknya pada usia 20 tahun.
Pengecualian pada hal ini adalah wanita hamil dan menyusui. Perubahan fisik,
kognitif dan psikososial serta masalah kesehatan pada wanita hamil dan keluarga usia
subur sangat luas.
Dewasa awal biasanya lebih aktif, mengalami penyakit berat tidak sesering
kelompok usia yang lebih tua. Cenderung mengakibatkan gejala fisik dan sering
menunda dalam mencari perawatan kesehatan. Karakteristik dewasa muda mulai
berubah mendekati usia baya. Temuan pengkajian umumnya dalam batas normal,
kecuali klien mempunyai penyakit.
Namun demikian klien pada tahap perkembangan ini dapat mengambil manfaat
dari pengkajian gaya hidup pribadi. Pengkajian gaya hidup dapat membantu perawat
dan klien mengidentifikasi kebiasaan yang meningkatkan resiko penyakit jantung,
maligna, paru, ginjal atau penyakit kronik lainnya.

Pengkajian gaya hidup pribadi dewasa awal meliputi pengkajian kepuasan hidup secara
umum, yaitu:

 Hobi dan Minat


 Kebiasaan meliputi : diet, tidur, olah raga, perilaku seksual dan penggunaan kafein,
alcohol dan obat terlarang
 Kondisi rumah meliputi : rumah, kondisi ekonomi, jenis asuransi kesehatan dan
hewan peliharaan
 Lingkungan pekerjaan meliputi : jenis pekerjaan, pemajanan terhadap fisik dan
mental.
b. Perkembangan Kognitif
Kebiasaan berpikir rasional meningkat secara tetap pada masa dewasa awal dan
tengah. Pengalaman pendidikan formal dan informal, pengalaman hidup secara umum
dan kesempatan pekerjaan secara dramatis meningkatkan konsep individu,
pemecahan masalah dan keterampilan motorik.
Mengidentifikasi area pekerjaan yang diinginkan adalah tugas utama dewasa
awal. Ketika seseorang mengetahui persiapan pendidikannya, keahlian, bakat dan
karakteristik kepribadian. Pilihan pekerjaan menjadi lebih muda dan biasanya meraka
akan lebih luas dengan pilihannya. Akan tetapi, banyak dewasa awal kekurangan
sumber dan system pendukung untuk memfasilitasi pendidikan lebih lanjut atau
pengembangan keahlian yang diperluhkan untuk berbagai posisi pekerjaan.
Akibatnya, beberapa dewasa awal mempunyai pilihan pekerjaan yang terbatas.
c. Perkembangan Psikososial
Kesehatan emosional dewasa awal berhubungan dengan kemampuan individu
mengarahkan dan memecahkan tugas pribadi dan social. Dewasa awal kadang
terjebak antara keinginan untuk memperpanjang masa remaja yang tidak ada
tanggung jawab dan memikul tanggung jawab dewasa. Namun pola tertentu atau
kecenderungan relatif dapat diperkirakan. Antara usia 23-28 tahun, arang dewasa
memperbaiki perpepsi diri dan kemampuan berhubungan. Dari usia 29-34 tahun
orang dewasa mengarahkan kelebihan energinyaterhadap pencapaian dan penguasaan
dunia sekitarnya. Usia 35-43 tahun adalah waktu ujian yang besar dari tujuan hidup
dan hubungan. Perubahan telah dibuat dalam kehidupan pribadi, sosial dan pekerjaan.
Seringkali stress dalam ujian ini mengakibatkan  “krisi usia baya” ketika pasangan
dalam pernikahan, gaya hidup dan pekerjaan dapat berubah.
Selama masa dewasa awal, seseorang biasanya lebih perhatian pada pengejaran
pekerjaan dan sosial. Selam periode ini individu mencoba untuk membuktikan status
sosialekonominya. Mobilitas yang lebih tinggi didapat melalui pilihan karier. Akan
tetapi adanya kecenderungan saat ini terhadap pengecilan perusahaan menyebabkan
posisi yang tinggi lebih sedikit. Kemudian banyak dewasa awal menghadapi
peningkatkann stress karena persaingan yang lebih besar di tempat kerja untuk
mencapai dan mempertahankan status kelas-menengah. Konseling karier dan
kepribadian dapat membantu individu mengidentifikasi pilihan karier dan
menentukan tujuan yang realistik.
Faktor etnik dan jender mempunyai dampak sosiologis dan psikologis dalam
kehidupan dewasa dan faktor tersebut dapat merupakan tantangan yang jelas bagi
asuhan keperawatan. Dewasa awal harus membuat keputusan mengenain kerier,
pernikahan dan menjadi orang tua. Meskipun setiap orang membuat keputusan
tersebut berdasarkan faktor individu, perawat harus memahami prinsip umum yang
tercangkup dalam aspek pengembangan psikososial dewasa awal.

d. Stress Pekerjaan
Stres pekerjaan dapat terjadi setiap hari atau dari waktu ke waktu. Kebanyakan
dewasa awal dapat mengatasi krisis dari hari ke hari. Stres situasi pekerjaan situasional
dapat terjadi ketika atasan baru memasuki tempat pekerjaan, tenggat waktu hampir
dekat, atau seorang pekerja diberi tanggung jawab baru atau besar. Kecenderungan
terbaru pada dunia bisnis saat ini dan faktor risiko stres pekerjaan menurun, yang
memicu peningkatan tanggung jawab pegawai dengan posisinya lebih sedikit dalam
struktur perusahaan. Stres pekerjaan juga terjadi jika seseorang tidak puas pada
pekerjaan atau tanggung jawabnya. Karena setiap individu menerima pekerjaan yang
berbeda, maka tiap stresor bervariasi pada setiap klien. Pengkajian perawat pada dewasa
awal harus meliputi deskripsi pekerjaan yang biasa dilakukan dan pekerjaan saat ini jika
berbeda. Pengkajian pekerjaan juga meliputi kondisi dan jam kerja, durasi bekerja,
perubahan pada kebiasaan tidur atau makan, dan tanda peningkatan iritabilitas dan
kegugupan.
e. Stress Keluarga
Setiap keluarga mempunyai berbagai peranan dan pekerjaan yang dapat diprediksi
untuk anggota keluarganya. Peran ini memungkinkan keluarga berfungsi dan menjadi
bagian efektif dalam masyarakat. Salah satu peran penting adalah kepala keluarga. Bagi
kebanyakan keluarga, salah satu orang tua adalah pemimpin keluarga atau kedua orang
tua berperan coleader. Dalam keluarga orang tua tunggal, orang tua atau adakalanya
seorang anggota keluarga besar menjadi kepala keluarga. Ketika perubahan akibat dari
penyakit, krisis keadaan dapat terjadi. Perawat harus mengkaji faktor lingkungan dan
keluarga termasuk sistem pendukung, penguasaan mekanisme yang biasa digunakan
oleh anggota keluarga.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada keluarga dewasa adalah :

a. Masalah Potensial
1) Gangguan proses keluarga
2) Gangguan citra tubuh
3) Gangguan proses berpikir
4) Gangguan pemeliharaan kesehatan
5) Gangguan peyalahgunaan zat
6) Gangguan pola seksual
7) Konflik peran keluarga
8) Konflik pengambilan keputusan
9) Ketidakefektifan koping keluarga
10) Hambatan interaksi social
11) Ketidakberdayaan
12) Defisit pengetahuan
13) Defisit  perawatan diri
14) Perubahan kebutuhan nutrisi
b. Masalah Resiko
1) Risiko perubahan peran orang tua
2) Risiko penularan infeksi
3) Risiko kesepian
4) Risiko cedera
c. Masalah Potensial
1) Potensial berkembangnya koping keluarga
2) Potensial pemeliharaan kesehatan
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. Pengkajian
1. Data Umum
Tanggal pengkajian : Rabu, 16 Januari 2020 jam 10.00 WIB
Nama Perawat : Andriani
a. Identitas Kepela Rumah Tangga (KK)
1) Nama : Tn “N”
2) Umur : 30 Tahun
3) Pendidikan : Sarjana (S1)
4) Pekerjaan : Guru ngaji dan guru honor di Pesantren
Tanwirussunnah
5) Alamat : BTN Mutiara lorong 2. Kelurahan Biringbulu
b. Tabel Komposisi Keluarga

Status imunisasi Ket


Hubung
N Nam an Umu Pendidik B Polio DPT Hepatitis Cam
Jk
o a r an C pak
Dgn KK 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
G

1. Sehat

Tn. A L Orang 58 th SMA


tua

2. Ny R P Sehat

Orang 57 th SMA
tua
3. Tn N L Sehat

Anak 30 th Sarjana

4. Ny M P Anak 21 th - Sehat

c. Genogram

Ket:

= Laki-laki X = Meninggal = Klien

= Perempuan I = Garis Keturunan

d. Tipe Keluarga
Tipe keluarga Tn.N termasuk keluarga besar (ekstended family), yang
merupakan beberapa keluarga yang tinggal bersama, karena Tn.N tinggal
dengan ayah dan ibunya.

e. Suku: Bugis
f. Agama: Islam
g. Status Sosial Ekonomi Keluarga:
Tn “N” sebagai anak hanya bekerja sebagai guru ngaji dan guru honor di
pesantren Tanwirussunnah. Sang bapak bekerja sebagai petani dan
tinggal serumah Tn “N”. Yang menjadi tulang punggung keluarga adalah
Tn “N”. pendapatan Tn.N sebagai guru ngaji dan guru honor hanya dua
juta rupiah perbulan, ditambah pendapat ayahnya yang tidak menetap.
h. Penggunaan Dan Pemanfaatan Dana Perbulan
Selain untuk biaya kebutuhan pokok dan makan sehari-hari,pengahasilan
Tn. N digunakan untuk biaya pendidikan adiknya yang masih kuliah,
kemudian digunakan untuk biaya kesehatan dan pendapatan Tn.N
disisipkan untuk menabung untuk keperluan yang mendesak. Keluarga
Tn.N termasuk keluarga yang status sosial ekonominya menengah
kebawah.
i. Akitivitas Rekreasi
Kebiasaan rekreasi keluarga : klien biasanya pergi rekreasi dengan
bapak ke pantai
2. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini:
Tahap perkembangan usia dewasa.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi:
Meskipun Tn “N” sudah memiliki pekerjaan dan rumah, namun hingga
saat ini ia belum juga memiliki pendamping hidup.
c. Riwayat keluarga inti:
1) Tn “A” sebagai bapak Tn “N” menderita sariawan yang tidak sembuh-
sembuh dialami sejak 2 tahun yang lalu.
2) Ny “K” sebagai kakak Tn “N” juga meninggal diusia 59 tahun akibat
penyakit yang dideritanya.
3) Tn “N” sebagai klien dan anak, menderita mag sejak 1 tahun yang
lalu, demam thypoid dialami sejak 1 tahun yang lalu, dan luka kronik
pada jempol kaki hingga saat ini.
3. Lingkungan
a. Karakteristik rumah:
Klien mengatakan bahwa rumah yang ditinggali sekarang merupakan
rumah sewa, tipe 36, dan memiliki 4 ruangan yang terdiri dari ruang
tamu, 2 ruang tidur, dan dapur. Jenis rumahnya permanen, lantai rumah
ditegel, dinding rumah terbuat dari batu, kurangnya ventilasi dan
pencahayaan di dalam rumah, rumah terlihat kurang bersih. Selain itu
rumah tampak :
1) Pencahayaan kurang
2) Klien menggunakan air pompa dan meminum air gallon di rumah
3) Dapur tampak kurang bersih
4) Pembuangan air limbah lewat selokan, namun selokannya kurang
besar
5) Jamban (ukuran WC 1 x 1.5 m dan jarak dari sumber air dengan WC
2 meter)
6) Denah rumah

Jalan depan rumah

Taman dan Teras

Jalan belakang Ruang Tamu Kamar Tidur

Dapur Kamar Tidur

WC
Belakang Rumah
7) Lingkungan sekitar rumah
lingkungan di sekitar rumahnya dikelilingi oleh hutan bambu dan
sawah-sawah
8) Sarana komunikasi dan transportasi
Klien berkomunikasi dengan keluarga jauh menggunakan handphone
dan sarana transportasi klien adalah motor
9) Fasilitas hiburan yang dimiliki klien adalah TV, laptop, dan hp android
(gadget)
10) Fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan klien adalah BPJS.
b. Karakteristik tetangga dan komunitas:
Tetangga di sekitar rumah klien sering berkomunikasi dengan klien,
komunitas RW di sekitar tempat tinggal klien termasuk padat karena
perumahan. Penduduk sekitar klien jauh berbeda dengan keluarga klien,
baik dari segi pendidikan, pekerjaan, maupun status sosial ekonomi.
c. Mobilitas geografis:
 Tn “A” sebagai bapak Tn “N” bekerja sebagai petani.
 Tn “N” sebagai anak sering pulang jam 09 malam untuk mencari
nafkah sebagai guru ngaji dan guru honor di pesantren.
 Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat dari keluarga
ini sangat baik karena klien dan keluarga memahami akan pentingnya
silaturahmi.
 Sistem pendukung keluarga:
Masing-masing keluarga saling mendukung dan menghormati antar
satu sama lain.
4. Struktur keluarga:
a. Pola komunikasi keluarga:
Klien berkomunikasi dengan keluarga menggunakan bahasa Indonesia,
kadang-kadang juga menggunakan bahasa Bugis dan Makassar.
Komunikasi dalam keluarga lancar.
b. Struktur kekuatan keluarga:
Klien mengatakan pemegang keputusan sebenarnya ada dibapak, akan
tetapi klien juga biasa membuat keputusan sendiri dan itu didukung oleh
orang tua
c. Nilai dan norma budaya:
Keluarga ini menganut agama Islam, dan budaya Bugis Makassar.
Selama ini tidak ada norma yang bertentangan dengan kesehatan.
5. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Afektif
Klien menyatakan sangat bahagia dan sejahtera karena masing-
masing anggota keluarga dulu saling mengerti dan mengutamakan
kebersamaan dalam menghadapi permasalahan yang dialami oleh
keluarga. Apabila Tn “N” sakit, ia hanya pergi sendiri ke pelayanan
kesehatan namun terkadang kerabat juga ikut membantu menemani.
b. Fungsi Sosialisasi
Meskipun jarang bersosialisasi dengan tetangga, namun hubungan
mereka dengan tetangga sangat baik, tidak pernah terjadi permasalahan
yang membuat keributan. Mereka kadang terlihat kerja sama dan saling
membantu.
c. Fungsi perawatan kesehatan
1) Klien kurang mengenal masalah kesehatan.
2) Klien biasa memutuskan sendiri untuk dirawat jika sakit.
3) Klien memberikan perawatan semampunya bagi dirinya jika sakit.
4) Lingkungan klien terlihat kurang bersih dan kurang nyaman.
5) Klien memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada seperti BPJS.
6. Stress dan Koping Keluarga:
a. Stressor jangka pendek: klien stress akan bapaknya yang sudah tua
namun tetap bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah buat dirinya
sendiri.
b. Stressor jangka panjang: klien stress saat ini karena klien belum juga
menikah dan sang bapak yang tidak pernah tinggal menetap di rumah.
c. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor:
d. Klien mengatakan dulu jika ada yang bertengkar atau berselisih, yang lain
itu diam. Kalau sudah tenang, klien baru mengungkapkan apa yang ingin
diungkapkannya.
e. Strategi koping yang digunakan:
Untuk mengurangi stressor yang ada, Tn “N” sering pergi melihat
pemandangan di sawah dan berpikir positif.
f. Strategi adaptasi disfungsional:
Tn “N” biasanya hanya bercerita pada orang yang dipercaya.
7. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Riwayat keluarga sebelumnya:
1) Ayah : post op katarak dan sariawan kronik.
2) Ibu : batuk berat dan mag.
3) Anak:
- Ny “K”: bronchitis.
- Tn “N”: mag, thypoid, post op amandel, malaria.
-
b. Riwayat keluarga saat ini:
1) Tn “A” : sariawan kronik

2) Ny “R” : maag
3) Ny “K” : meninggal
4) Tn “N” : luka kronik pada jempol kaki, mag, thypoid
Tekanan darah : 130/90 mmhg.

Berat badan : 57 kg
Tinggi Badan : 160 cm
Nadi : 80 X/menit
RR : 20 X/menit
Suhu : 36 0C
5) Ny. M : Maag
c. Keluarga Tn “N” tidak termasuk keluarga berencana.
8. Harapan keluarga dalam bidang kesehatan
Keluarga berharap pendapatan meningkat sehingga bisa mengalokasikan
sebagian dananya untuk menunjang kesehatan keluarga, karena selama ini
mereka hanya mengandal kartu akses BPJS kelas 3 yang fasilitas
pelayanannya masih kurang berkualitas
9. Pemeriksaan fisik (seluruh anggota keluarga)

Pemeriksaan Nama Anggota Keluarga ( Inisial)


No fisik
Tn.N Tn. A NY. R NY. M
1. Tanda – tanda Tekanan darah : Tekanan darah : Tekanan darah Tekanan darah :
130/90 mmhg. 140/90 mghg 130/70 120/80
vital
Nadi Nadi : Nadi : Nadi 62 x/menit
: 80 57 x/menit 65 x/menit
X/menit Rr :
RR RR : RR : 18 x/menit
: 20 16x/menit 16x/menit
X/menit Suhu
Suhu Suhu : Suhu 36oC
: 36oC 36,5oC 36oC

2. TB (cm) & BB TB : 160 cm TB:162cm TB: 155 TB : 156


(kg) BB : 57 BB: 59 BB : 55 BB : 56

3. Kepala Mesochepal, Mesochepal, Mesochepal, Mesochepal,


Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
kelainan kelainan kelainan kelainan

4. Mata Konjungtiva dan Konjungtiva dan Konjungtiva dan Konjungtiva


anemis, sclera anemis, sclera anemis, sclera dan
non non non anemis, sclera
ikterik, ikterik, ikterik, non
ikterik,
5. Leher Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
pembesaran pembesaran pembesaran pembesaran
kelenjar kelenjar kelenjar kelenjar
tiroid tiroid tiroid tiroid
6. Hidung fungsi penciuman fungsi penciuman fungsi fungsi
baik baik penciuman baik penciuman
baik
7. Mulut Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa bibir
lembab kering, gigi tidak kering, gigi tidak lembab
lengkap lengkap
8. Telinga Bersih, bentuk Bersih, bentuk Bersih, bentuk Bersih, bentuk
simetris, fungsi simestris, fungsi simetris , fungsi simetris, fungsi
pendengaran baik pendengaran pendengaran pendengaran
menurun menurun baik
9. Abdomen Inspeksi: tidak Inspeksi: tidak Inspeksi: tidak Inspeksi: tidak
ada bekas luka ada ada ada
Auskultasi :bising bekas luka bekas luka bekas luka
usus 18x/menit Auskultasi :bising Auskultasi Auskultasi
Palpasi: tidak ada usus 17x/menit :bising :bising
nyeri tekan Palpasi: tidak ada usus 16x/menit usus 16x/menit
Perkusi: timpani nyeri tekan Palpasi: tidak Palpasi: tidak
Perkusi: timpani ada ada
nyeri tekan nyeri tekan
Perkusi: timpani Perkusi:
timpani
10. Dada Inspeksi: kedua Inspeksi: kedua Inspeksi: kedua Inspeksi:
belah belah belah kedua belah
dada dada dada dada
simetris,ictus simetris,ictus simetris,ictus simetris,ictus
kordis tampak. kordis tampak. kordis tampak. kordis tampak.
Palpasi: terdapat Palpasi: terdapat Palpasi: Palpasi:
pulsasi, ictus pulsasi, ictus terdapat terdapat
kordis kordis pulsasi, ictus pulsasi, ictus
teraba teraba kordis kordis
Perkusi: redup Perkusi: redup teraba teraba
(pekak) (pekak) Perkusi: redup Perkusi: redup
Auskultasi:tidak Auskultasi:tidak (pekak) (pekak)
ada ada Auskultasi:tidak Auskultasi:tida
suara tambahan suara tambahan ada k ada
suara tambahan suara
tambahan
11. Ekstremitas Alat ekstremtias Alat ekstremtias Alat ekstremtias Alat
lengkap, Tidak lengkap, Tidak lengkap, Tidak ekstremtias
ada ada ada lengkap, Tidak
masalah, tidak masalah, tidak masalah, tidak ada
ada ada ada masalah, tidak
oedema oedema oedema ada
oedema
12. Keadaan Mampu mampu mampu mampu
umum melakukan melakukan melakukan melakukan
aktifitas sendiri aktifitas sendiri aktifitas sendiri aktifitas
sendiri

PENGKAJIAN PENJAJAKAN TAHAP 2 MANA ????


ANALISA DATA

No Data Masalah Keperawatan


.

1. DS: Ketidakefektifan
pemeliharaan
- Tn “N” mengatakan tidak melakukan kesehatan
modifikasi lingkungan atau perawatan
khusus
- Tn “N” kurangnya ventilasi dan
pencahayaan di dalam rumah
- Tn N mengatakan kurang mengetahui
masalah kesehatan.

DO:

- Tn “N” tampak tidak terawat,


- lingkungan di sekitar rumah tampak
kurang bersih,
- Pembuangan air limbah lewat
selokan, namun selokannya kurang
besar
- Lingkungan klien terlihat kurang
bersih dan kurang nyaman

2. DS: Gangguan citra tubuh

- Tn “N” mengatakan malu jika tidak


menutupi lukanya dengan
menggunakan kaos kaki

DO:

- Tn. N terlihat memiliki luka pada


jempol kakinya
- Tn “N” tampak menutupi luka di
jempol kakinya dengan
menggunakan kaos kaki.
SKORING PRIORITAS MASALAH

1. Ketidakmampuan pemeliharaan kesehatan

N Kriteria Skor bobot Skoring Pembenaran


o

1. Sifat masalah 3/3 x 1 =1 kurangnya ventilasi


dan pencahayaan di
a. Keadaan sejahtera 3
dalam rumah. Tn N
b. Defisit kesehatan 3
2 mengatakan kurang
c. Ancaman kesehatan 2
mengetahui
d. Krisis yang dialami 1
masalah kesehatan

2. Kemungkinan masalah 2/2 x 2 = 2 Sarana yankes


untuk diubah terjangkau, perhatian
2 keluarga terhadap
a. Mudah 2
klien ada
b. Sebagian 1
c. Tidak dapat diubah 0

3. Potensi masalah untuk 3/3 x 2 = 2 Tn “N” berumur 30


diubah Tahun. anggota
2
a. Tinggi 3 keluarga dan
b. Cukup 2
interaksi dengan
c. Rendah 1
masyarakat dari
keluarga ini sangat
baik. Klien juga
mendapat dukungan
dari keluarga

4. Menonjolkan masalah 2/2 x 2 = 2 Sang bapak bekerja

a. Masalah berat 2 sebagai petani dan


harus ditangani tinggal serumah Tn
2
b. Masalah dirasakan 1
“N”. Yang menjadi
tidak harus
ditangani tulang punggung
c. Masalah tidak keluarga adalah Tn
dirasakan 0
“N”. pendapatan
Tn.N sebagai guru
ngaji dan guru
honor hanya dua
juta rupiah perbulan,
ditambah pendapat
ayahnya yang tidak
menetap
Total 7

1. Gangguan Citra tubuh

N Kriteria Skor bobot Skoring Pembenaran


o

1. Sifat masalah 2/3 x 1 = 2/3 Tn “N” sebagai klien

a. Keadaan sejahtera 3 dan anak, menderita


b. Defisit kesehatan 3 mag sejak 1 tahun
1
c. Ancaman 2
yang lalu, demam
kesehatan 1
d. Krisis yang dialami thypoid dialami
sejak 1 tahun yang
lalu, dan luka kronik
pada jempol kaki
hingga saat ini.

2. Kemungkinan masalah 2/2 x 2 = 2 Tn “N” sakit, ia


untuk diubah hanya pergi sendiri
2 ke pelayanan
a. Mudah 2
kesehatan namun
b. Sebagian 1
terkadang kerabat
c. Tidak dapat diubah 0
juga ikut membantu
menemani

3. Potensi masalah untuk 3/3 x 2 = 2 Untuk mengurangi


diubah stressor yang ada,
2
a. Tinggi 3 Tn “N” sering pergi
b. Cukup 2
melihat
c. Rendah 1
pemandangan di
sawah dan berpikir
positif.

4. Menonjolkan masalah 2/2 x 2 = 2 Keadaan ekonomi


keluarga sangat
a. Masalah berat 2
memadai. Sehingga
harus ditangani
2 anggota keluarga
b. Masalah dirasakan 1
kesulitan memeriksa
tidak harus
kesehatanya.
ditangani
Keluarga
c. Masalah tidak 0
menggunnakan
dirasakan
kartu akses BPJS
kelas 3 yang
fasilitas
pelayanannya
masih kurang
berkualitas

Total 6 2/3

B. DIAGNOSA

No Diagnosa Skor

1 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan 7

2 Gangguan citra tubuh 6 2/3


DIAGNOSIS KEPERAWATAN NOC NIC
KODE DIAGNOSIS KODE HASIL KODE INTERVENSI
00099 Domain 1 : promosi Setelah dilakukan intervensi Setelah dilakukan intervensi
kesehatan keperawatan, keluarga mampu keperawatan, keluarga mampu
mengenal masalah: mengenal masalah:
Ketidakefektifan Domain 3 : Psychosocial 5606  Teaching individual
pemeliharaan kesehatan Health 5604  Teaching grup
(ketidak mampuan Kelas O : Self Control a. Lakukan diskusikan bersama
mengidentifikasi, keluarga mengenai
mengelolah, dan/atau 1401  aggression self restrain pemeliharaan kesehatan
mencari bantuan untuk 1402  anxiety self control b. Berikan kesempatan kepada
mempertahankan kesehatan) 1409  Depretion Self Control keluarga untuk menanyakan
1404
 Fear self control hal yang belum dimengerti.
c. Berikan motivasi pada
keluarga untuk menjelaskan
kembali penjelasan yang
sudah diberikan.
d. Berikan pujian atas
penjelasan keluarga yang
tepat.

Keluarga mampu memutuskan Keluarga mampu memutuskan :


1606 untuk meningkatkan atau 5250  Dukungan membuat keputusan
memperbaiki kesehatan: 5310  Membangun harapan
a. Beri bantuan keluarga untuk
Berpartisipasi dalam menyadari adanya masalah
memutuskan perawatan pada pemeliharaan kesehatan
kesehatan
pada anggota keluarganya.
b. Bantu keluarga dalam
mengambil keputusan untuk
merawat anggota keluarga
yang memiliki masalah
kesehatan.
c. Beri penguatan atas
keputusan yang telah diambil
keluarga.
Keluarga mampu merawat : Keluarga mampu merawat:
140901  monitor ability 0140  body mechanics promotion
concentration 1200  exercise promotion
140906  reports adequate sleep 0222  exercise therapy: Balance
140910  maintains stable weight 0224
 exercise therapy: joint mobility
140911 0226
 follow treatment regimen  Exercise therapy: Muscule
140923
 uses medication as control
140918 prescribed
 maintains personal hygiene

Keluarga mampu 6480 Manajemen lingkungan:


memodifikasi lingkungan  Menyediakan lingkungan dan
tempat tidur yang bersih dan
Domain 6 : Family Health nyaman
Kelas Z : Family Member  Menyediakan seprai dan baju
Healt Status yang sesuai dan bersih
 Menyediakan seprai yang rapi
2506  caregiver emotional health
yang sesuai dengan keinginan
2507  caregiver physical health
2508 klien
 caregiver well-being
 Ciptakan lingkungan yang
sesuai dengan temperatur
Keluarga mampu Keluarga mampu memanfaatkan
memanfaatkan fasilitas fasilitas pelayanan kesehatan
pelayanan kesehatan dengan:
1806 Pengetahuan tentang sumber2 7910 Konsultasi
kesehatan 8100 Rujukan
1603 Perilaku mencari pelayanan
kesehatan
2605 Partisipasi keluarga dalam
perawatan keluarga

DIAGNOSIS KEPERAWATAN NOC NIC


KODE DIAGNOSIS KODE HASIL KODE INTERVENSI
00118 Domain 6 : Persepsi Diri Setelah dilakukan intervensi Setelah dilakukan intervensi
keperawatan, keluarga mampu keperawatan, keluarga mampu
Gangguan Citra Tubuh mengenal masalah: mengenal masalah:
(konfuai dalam gambaran Domain 3 : Psychosocial 5606  Teaching individual
mental tentang diri-fisik Health 5604  Teaching grup
individu) Kelas N : Psychosocial a. Lakukan diskusikan bersama
Adaptation keluarga mengenai persepsi
diri
1302  Coping b. Berikan kesempatan kepada
1305  Psychosocial adjustment: keluarga untuk menanyakan
Life Change hal yang belum dimengerti.
c. Berikan motivasi pada
keluarga untuk menjelaskan
kembali penjelasan yang
sudah diberikan.
d. Berikan pujian atas
penjelasan keluarga yang
tepat.

Keluarga mampu memutuskan Keluarga mampu memutuskan :


1606 untuk meningkatkan atau 5250  Dukungan membuat keputusan
memperbaiki kesehatan: 5310  Membangun harapan
a. Bantu keluarga untuk
Berpartisipasi dalam mengenal dan menyadari
memutuskan perawatan akan adanya masalah luka
kesehatan kronik dalam keluarga.
b. Bantu keluarga untuk
memutuskan merawat
anggota keluarga yang sakit.
e. Berikan reinforcement atas
keputusan yang telah
diambil.
Keluarga mampu merawat : Keluarga mampu merawat:
130201  Identifies effective coping 5220  body image enhancement
patterns 5230  coping enhancement
130202  identifies ineffective coping 5310  hope inspiration
patterns 5340
 presence
130207 5360
 modifies lifestyle to reduce  recreation therapy
5424
stress  religious ritual enhancement
130208 5420
130217  adapts to life changes  spiritual support
 reports decrease in
negative feeling
Keluarga mampu 6480 Manajemen lingkungan:
memodifikasi lingkungan a. Diskusikan cara memodifikasi
lingkungan untuk penderita luka
Domain 6 : Family Health kronik
Kelas Z : Family Member b. Jelaskan cara memodifikasi
lingkungan untuk penderita luka
Healt Status kronik
c. Motivasi keluarga untuk
2506 caregiver emotional health menjelaskan kembali cara
2507 caregiver physical health memodifikasi lingkungan.
2508 caregiver well-being d. Tanyakan kepada keluarga
materi yang belum jelas.
e. Jelaskan kepada keluarga materi
yang belum dimengerti.
f. Berikan reinforcement terhadap
kemampuan yang dicapai
keluarga
Keluarga mampu Keluarga mampu memanfaatkan
memanfaatkan fasilitas fasilitas pelayanan kesehatan
pelayanan kesehatan a. Diskusikan bersama keluarga
1806 Pengetahuan tentang sumber2 7910 mengenai manfaat fasilitas
kesehatan 8100 kesehatan yang ada di sekitar
1603 Perilaku mencari pelayanan tempat tinggal.
kesehatan b. Motivasi keluarga untuk
2605 Partisipasi keluarga dalam menyebutkan kembali fasilitas
kesehatan yang dapat
perawatan keluarga
dikunjungi.
c. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Keluarga akan mengalami perubahan dan pertumbuhan sepanjang waktu. Setiap tahap perkembangan memiliki
tantangan, kebutuhan, dan sumber masing-masing termasuk tugas yang perlu diselesaikan sebelum keluarga
dapat meningkat ke tahap berikutnya dengan sukses. Dengan asuhan keperawatan yang diberikan oleh tenaga
kesehatan telah membantu keluarga dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dengan lancar sesuai
dengan tahap perkembangan keluarga dewasa awal (melepas anak sebagai dewasa) sehingga dapat
menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota
keluarga.

2. SARAN
Diharapkan mahasiswa bisa mengrtahui konsep keperawatan keluarga, asuhan keperawatan keluarga pada
dewasa. Serta diharapkan mahasiswa bisa mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dari makalah ini..
11)
DAFTAR PUSTAKA

Friedman, Marilyn M. (2010). Buku ajar keperawatan keluarga : Riset, Teori dan. Praktek. Jakarta : EGC

Sue Moorhead, dkk. (2013). “ Nursing Outcomes Classification (NOC)”. Edisi Kelima. Yogyakarta: Elseiver
Inc
T. Keather Herdman, PHD, RN, FNI & Shigemi Kmitsuru, PHD, RN, FNI. (2018-
2020). “NANDA-1 Diagnosa Keperawatan”. Edisi 11. Jakarta: EGC
Harnilawati. 2013. “Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga”. Takalar Sulawesi
Selatan: Pustaka As Salam