Anda di halaman 1dari 12

Proses Terjadinya kehamilan – Ketika seorang perempuan melakukan hubungan seksual dengan seorang

laki-laki maka bisa jadi perempuan tersebut akan hamil (Terjadinya kehamilan). Kehamilan terjadi ketika
sel sperma yang masuk ke dalam rahim seorang perempuan membuahi sel telur yang telah matang.

Sepanjang sejarah, Islam telah memiliki banyak tauladan wanita yang tidak diragukan lagi kesucian dan
rupawannya. Salah satu di antaranya Siti Maryam

Pada suatu hari, Maryam terkejut saat tengah bertasbih. Dia melihat seorang pria berdiri di hadapannya.
Ini pertama kali Maryam berada di hadapan pria lain selain Nabi Zakaria. Pria itu ternyata Malaikat Jibril.

Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang
suci," ujar Malaikat Jibril.

"Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun
menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina," jawab Maryam.

Allah kemudian berfirman dengan perantaraan Jibril, "Demikianlah Allah menciptakan apa yang
dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata
kepadanya "Jadilah", lalu jadilah dia,". (QS Ali Imran, 42-47).

Setelah kedatangan Malaikat Jibril, Maryam kemudian hamil. Saat kehamilam Maryam semakin
membesar, orang pertama yang mengetahui adalah Yusuf bin Ya'kub an-Najjar, seorang ahli ibadah bani
israil. Yusuf sempat terkejut karena dia mengetahui bahwa Maryam merupakan gadis yang taat ibadah
dan sangat menjaga kesuciannya.

Sekuat apa pun menyembunyikan kehamilan dari masyarakat tetap akan diketahui. Maryam mendapat
tuduhan atas kehamilan tanpa suami. Saat melahirkan putranya Isa Almasih, berbagai tuduhan zina
datang silih berganti.

Maryam tak ingin menjawab tudingan tersebut. Dia pun mengisyaratkan agar orang-orang yang
menudingnya berzina langsung bertanya kepada Isa Almasih yang saat itu digendongnya.

"Bagaimana mungkin kami berbicara dengan seorang anak bayi yang baru di lahirkan."
Atas izin Allah, Isa Almasih tiba-tiba berbicara sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah.

"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, dia memberiku Al-kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang Nabi,
dan dia menjadikan aku seorang yang di berkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan
kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan
dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan
kepadaku, pada hari aku di lahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku di bangkitkan hidup
kembali,". (QS Maryam: 30-33)
Pregnancy process – When a woman has sexual intercourse with a man, she may be pregnant
(pregnancy). Pregnancy occurs when the sperm cell that enters into the uterus of a woman fertilize the
egg that has been cooked.

Throughout history, Islam has had many example women who are undoubtedly chastity and its statues.
One of them was Siti Maryam

One day, Maryam was shocked when she was in the middle of prayer. He saw a man standing before
him. This was the first time Maryam was in the presence of another man other than the Prophet Zakaria.
The man turns out to be the angel Gabriel.

Surely I am just a messenger of your lord, to give you a holy son, "said the angel Gabriel.

"How will there be for me a boy, no man ever touched me and I am not (anyway) an adulteress," replied
Maryam.

God then said by the mediation of Gabriel, "Thus God created what he desired. When God wants to set
something, then Allah simply says to him "be ", then be him, ". (QS Ali Imran, 42-47).

After the arrival of the angel Gabriel, Maryam became pregnant. When Maryam's pregnancy is growing,
the first person to know is Yusuf bin Ya'kub An-Najjar, an israil master of worship. Joseph was surprised
because he learned that Maryam was a devout girl and kept her chastity very well.

As strong as anything hiding a pregnancy from society remains to be known. Maryam gets accusations
for pregnancy without a husband. When she gave birth to her son Isa Almasih, various Zina charges
came as a change.

Maryam did not want to answer the accusation. He also hinted that the people who were in adultery
immediately asked him to ask Jesus Christ at that time.

"How could we talk to a new baby boy in the land."


Upon God's permission, Jesus Christ suddenly spoke as stated in the Word of God.

"Verily I am the servant of God, he gave me Al-kitab (the Gospel), and he made me a prophet, and he
made me a bless wherever I was, and he commanded me to (establish) prayer and (perform) zakat as
long as I lived, and devoted to my mother, and she did not make me a proud man. And well-being
bestowed upon me, on the day that I am in the land, on the day I die, and on the day I am in the wake of
life again, ". (QS Maryam: 30-33)
faktor penyebab kemungkinan gagalnya program keluarga berencana Anda:

1. Salah menghitung masa subur

Jika Anda memilih alat kontrasepsi alami seperti metode kalender, salah perhitungan masa subur dapat
meningkatkan peluang hamil. Jika Anda ingin memakai metode kalender, pastikan haid Anda teratur
setiap bulannya, sehingga masa subur bisa diperkirakan juga setiap bulannya.

2. Lupa dengan jadwal kontrasepsi

Jika Anda memilih alat kontrasepsi seperti pil KB atau KB suntik, Anda harus mengonsumsinya tepat
waktu dan sesuai dengan aturan. Hati-hati, ketidakdisiplinan dalam menjalankan program dapat
meningkatkan peluang untuk hamil. Hal ini dapat terjadi karena terjadi ketidakseimbangan hormon
dalam tubuh.

3. Alat kontrasepsi yang rusak

Jika Anda menggunakan alat kontrasepsi yang rusak tentunya dapat meningkatkan peluang untuk hamil.
Contohnya saja jika Anda memakai alat kontrasepi seperti kondom yang sudah kedaluwarsa atau rusak.
Untuk mencegah hal ini, pastikan sebelum menggunakan alat kontrasepsi, Anda memeriksa kondisi serta
tanggal kedaluwarsanya.

4. Konsumsi obat yang berinteraksi dengan alat kontrasepsi

Terdapat beberapa jenis obat yang dapat berinteraksi dengan alat kontrasepsi, misalnya saja yang
berbentuk pil. Konsumsi obat seperti antibiotik dapat berisiko membuat pil KB tidak dapat berfungsi
dengan baik.

5. Menyimpan alat kontrasepsi di tempat yang tidak seharusnya


Jika Anda menyimpan alat kontrasepsi di rumah, pastikan tersimpan di tempat yang sesuai dengan
aturannya, baik itu dari suhu tertentu atau kondisi ruang penyimpanannya. Karena jika tidak, alat
kontrasepsi akan rusak dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

6. Pasutri (pasangan suami istri) masih berusia muda

Jika Anda termasuk pasutri yang masih berusia muda dan termasuk kategori usia subur, penggunaan alat
kontrasepsi biasanya kurang berhasil untuk menghalangi terjadinya pembuahan. Jadi, wajar jika
program KB Anda pun gagal.

Jika memang ingin berhasil dalam menjalankan program keluarga berencana, Anda dapat melakukan
perlindungan ganda. Contohnya jika Anda sudah memakai pil KB, saat berhubungan seksual cobalah
untuk tetap menggunakan kondom.

Selain itu, pastikan untuk memeriksakan alat kontrasepsi Anda ke dokter atau bidan yang biasa
dikunjungi secara rutin. Jika saat ini Anda kesulitan menentukan alat kontrasepsi apa yang sesuai,
konsultasikan lebih lanjut dengan dokter agar program KB bisa berhasil dengan baik dan sesuai dengan
harapan Anda.
Factors that cause the likelihood of failure of your family planning program:

1. Wrong calculating fertile period

If you choose a natural contraceptive device such as a calendar method, miscalculation of the fertile
period can increase the chances of pregnancy. If you want to use a calendar method, make sure your
period is regular every month, so that the fertile period can be estimated every month.

2. Forgot with contraceptive schedule

If you choose a contraceptive device such as an injectable pill or KB, you must consume it on time and in
accordance with the rules. Be careful, the indiscipline in running the program can increase the chances
of getting pregnant. This can occur due to hormonal imbalance occurring in the body.

3. Faulty contraceptives

If you use a damaged contraceptive device can certainly increase the chances of getting pregnant. For
example if you use a KONTRASEPI tool such as a condom that has expired or broken. To prevent this, be
sure before using the contraceptive device, you check the condition as well as the expiration date.

4. Ingestion of drugs that interact with contraceptives

There are several types of medications that can interact with contraception, such as pill-shaped.
Consumption of drugs such as antibiotics can be risky making a birth control pill can not function
properly.

5. Storing contraceptives in places that are not supposed to


If you are storing contraception at home, make sure it is stored in a place that is in accordance with the
rules, whether it is from a specific temperature or the storage room condition. Because otherwise, the
contraceptives will be damaged and may not function properly.

6. Pasutri (married couple) is still young

If you are a married couple who is still young and belongs to the category of childbearing age, the use of
contraceptives is usually less successful in order to prevent fertilization. So, it's natural if your KB
program fails.

If you do want to succeed in running a family planning program, you can do double protection. For
example if you are already using birth control pills, when having sexual intercourse try to stick with a
condom.

Also, be sure to check your contraceptives to doctors or midwives who regularly visit regularly. If you are
struggling to determine the appropriate contraceptives, please consult a doctor for the program to be
successful and to your expectation.
Berikut penanganan demam pada bayi setelah imunisasi yang dapat dilakukan ibu Di rumah

1. Berikan ASI Setelah imunisasi dengan jenis tertentu, bayi bisa saja mengalami demam. Biasanya bayi
yang sedang demam, membutuhkan banyak cairan sebagai pengganti nutrisi yang keluar. Bagi ibu yang
menyusui, disarankan segera memberikan bayi ASI dengan intensitas yang lebih sering daripada
biasanya. Hal ini dapat mempercepat turunnya demam yang dialami.

2. Kompres Seperti yang diketahui, kompres merupakan cara umum untuk menurunkan demam. Ibu
dapat mengompres dengan air hangat dengan menyesuaikan suhu badan si buah hati. Usahakan tidak
mengompres menggunakan air dingin. Hal itu dapat mempersempit pembuluh darah bawah kulit yang
menyebabkan demam terjebak dalam tubuh dan tidak turun.

3. Gunakan pakaian yang nyaman Hindari menggunakan pakaian yang tebal dan selimut. Hal tersebut
akan menyebabkan suhu panas berlebih yang bisa menyebabkan kejang. Pakailah pakaian yang tipis dan
nyaman serta rutin menggantinya agar tetap bersih. Sebaiknya gunakan pakaian yang berbahan katun
dan lembut agar dapat menyerap panas dan keringat.

4. Istirahat yang cukup Demam menyebabkan tubuh lemas sehingga butuh istirahat yang cukup.
Biasanya saat demam, bayi akan cenderung tidur dengan waktu yang panjang dari biasanya dan hal
tersebut sangat wajar. Tidur merupakan salah satu cara sebagai bagian dari penyembuhan tubuh si buah
hati.

5. Atur suhu ruangan Suhu ruangan merupakan hal yang penting. Aturlah suhu ruangan agar tetap
sejuk. Ibu bisa menggunakan kipas angin tetapi tidak diarahkan langsung ke arah si bayi. Begitu pun
dengan penggunaan AC. Usahakan agar suhu ruangan tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

6. konsumsi paracetamol

ketika anak panas setelah di imunisasi, bunda bisa memberikan paracetamol atau ibuprofen

jika bayi menunjukan stres atau tidak nyaman. paracetamol boleh diberikan untuk anak dibawah 2
tahun dengan berat badan di bawah 4 kg dengan catatan ia tidak dilahirkan prematur. sedangkan
ibuprofen dapat diberikan jika anak sudah berusia di atas 3 bulan dan berat badan sudah di atas 5 kg
kapan harus ke dokter?

orang tua sebaiknya segera menghubungi dokter jika menunjukan salah satu atau beberapa tanda
berikut :

1. timbul masalah pada pernafasan

2. suara serak

3. gatal

4. kulit pucat

5. kelelahan yang tidak wajar

6. detak jantung cepat dan tidak teratur

7. pusing

8. timbul pembengkakan di wajah atau tenggorokan

9. demam di atas 42 derajat celcius

10. kejang

11. demamberlangsung lebih 3 hari dan semakin memburuk


3. The following handling of fever in infants after immunization that can be done at
home mothers

1. Give ASI After immunization with certain types, babies may experience fever.
Usually babies who have a fever, need lots of fluids as a substitute for nutrients that
come out. For mothers who are breastfeeding, it is advisable to immediately give baby
milk with intensity more often than usual. This can accelerate the decline in fever
experienced.

2. Compress As you know, compress is a common way to reduce fever. Mother can
compress with warm water by adjusting the baby's body temperature. Try not to
compress using cold water. It can narrow the blood vessels under the skin which
causes fever to get trapped in the body and not go down.

3. Use comfortable clothes Avoid using thick clothes and blankets. This will cause
excessive heat that can cause seizures. Wear thin, comfortable clothing and replace it
regularly to keep it clean. We recommend using clothes made from cotton and soft so
that it can absorb heat and sweat.

 4. Adequate rest Fever causes the body to weak so it needs adequate rest. Usually
when a fever, the baby will tend to sleep longer than usual and this is very reasonable.
Sleep is one way as part of healing the baby's body.

 5. Adjust the room temperature Room temperature is important. Adjust the
temperature of the room to keep it cool. Mothers can use fans but are not directed
directly at the baby. So even with the use of AC. Try to keep the room temperature is
not too hot and not too cold.

6. consumption of paracetamol when the child is hot after being immunized, the mother
can give paracetamol or ibuprofen if the baby is stressed or uncomfortable.

Paracetamol may be given to children under 2 years of age under 4 kg provided they
are not born prematurely. whereas ibuprofen can be given if the child is over 3 months
old and the body weight is already above 5 kg when to see a doctor?

parents should immediately contact a doctor if they show one or more of the following
signs:

1. respiratory problems arise

2. Hoarseness
3. itching

4. pale skin

5. unnatural fatigue

6. fast and irregular heartbeat

7. dizzy

8. swelling arises in the face or throat

9. fever above 42 degrees centigrade

10. seizures

11. it lasts more than 3 days and gets worse