Anda di halaman 1dari 138

BAB IV

BAHASAN

Dalambab ini akan membahas tentang perbandingan antara teori dengan hasil

penatalaksanaan studi kasus dengan harapan untuk memperoleh gambaran secara

nyata dan sejauh mana asuhan kebidanan yang diberikan pada ibu hamil dengan post

date, ibu bersalin dan ibu nifas. Selain itu juga untuk mengetahui dan

membandingkan adanya kesamaan dan kesenjangan selama memberikan asuhan

kebidanan di lapangan/lahan praktik dengan teori yang ada.

Setelah penulis melaksanakan asuhan kebidanan komprehensif ibu hamil pada

Ny. H umur 22 tahun G1P0A0 dengan kehamilan normal di Wilayah Kerja

Puskesmas S l a w i Kabupaten Tegal tahun 2019 dilakukan pengkajian mulai dari

tanggal 2 Maret 2019 sampai tanggal 21 april 2019 dengan menggunakan

pendekatan proses manajemen kebidanan. Penulis menemukan persamaan dan

kesenjangan antara teori dan kasus.

Dalam pelaksanaan studi kasus ini menggunakan konsep dasar asuhan

kebidanan sesuai teori mengenai kehamilan, persalinan dan nifas yang dilakukan

dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan (SOAP dengan pola

pikir varney). SOAP yaitu melalui data subyektif, data obyektif, analisis /

assessment dan planning. Adapun uraiannya sebagai berikut:

234
235

A. KEHAMILAN

1. Kunjungan I tanggal 02 Maret 2019 (38 minggu 1 hari dengan

kehamilan normal)

a. Pengkajian (pengumpulan data dasar)

Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan

semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien

(Pamuji, 2017).

1) Data Subyektif

Menggambarkan pendokumentasian hanya pengumpulan data

klien melalui anamnesa.

Menurut Abdi (2017), anamnesa merupakan suatu pertanyaan

terperinci yang ditujukan kepada klien, untuk memperoleh data.

Anamnesa dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu Autoanamnesa

dan Allonamnesa. Autoanamnesa, ialah anamnesa yang dilakukan

secara langsung kepada klien. Klien sendirilah yang menjawab

semua pertanyaan dan menceritakan kondisinya. Allonamnesa,

ialah anamnesa yang dilakukan dengan orang lain seperti keluarga

klien atau sahabat klien guna memperoleh informasi yang tepat

tentang keadaan klien.

Pada pengkajian data subjektif pada Ny. H menggunkakan

anamnesa dengan cara Autoanamnesa.


236

a) Umur

Dalam pengkajian data pada kasus, ibu mengatakan

bernama Ny. H umur 22 tahun.

Menurut Manuaba (2010) bahwa usia ibu hamil yang

termasuk usia reproduksi sehat adalah usia 20-35 tahun

sedangkan pada usia kurang 20 atau lebih dari 35 tahun

merupakan usia yang rentan untuk hamil.

Menurut Natasya (2017), faktor resiko kehamilan dan

komplikasi saat persalinan timbul pada WUS terlalu

muda/terlalu tua, sehingga sebaiknya usia reproduksi yang

sehat itu pada usia 20-35 tahun dan agar mencegah terjadinya

kejadian komplikasi persalinan atau nifas.

Kesimpulan yang didapatkan pada Ny. H sudah sesuai

dengan teori, karena Ny. H umur 22 tahun dan termasuk

dalam usia reproduksi yang sehat.

b) Paritas

Pada kasus Ny. H kehamilan ini adalah kehamilan yang

pertama dan tidak pernah keguguran.

Menurut WHO waktu minimum untuk menjalani

kehamilan dengan jarak sekitar 12 bulan. Menunggu satu

tahun sebelum hamil lagi tidak membuat ibu dan bayinya

mengalami masalah kesehatan. Namun kembali hamil terlalu


237

cepat pasca melahirkan, yaitu jika kurang dari 12 bulan,

diduga lebih banyak memiliki risiko, seperti kelahiran

prematur, berat badan bayi lahir rendah, serta kematian ibu.

Menurut Ali (2012), kehamilan lebih dari empat kali

atau grande multipara bisa menyebabkan beragam komplikasi

kehamilan yang akan dialami oleh ibu, salah satunya

perdarahan.

Menurut Arinda (2014), kehamilan di atas usia 35

tahun memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan

usia di bawahnya

Dengan demikian tidak terdapat kesenjangan antara

teori dengan kasus, karena Ny. H hamil yang pertama dan

tidak ada komplikasi pada kehamilannya.


238

c) Keluhan Utama

Dalam pengkajian keluhan Ny. H mengatakan sering

BAK 9 kali dalam sehari.

Menurut Qodir (2017), ketika rahim keluar dari rongga

panggul, keluhan ini akan berkurang. Namun, keluhan ini akan

terjadi lagi ketika memasuki trimester terakhir kehamilan, dan

ini terjadi karena janin mulai masuk rongga panggul sehingga

menekan kandung kemih.

Kesimpulan yang diperoleh dari kasus Ny. H

menunjukan teori dan kasus tidak terdapat kesenjangan, karena

sesuai dengan keluhan yang dialami Ny. H yaitu sering BAK

termasuk keluhan yang sering dialami pada usia kehamilan

trimester III.

d) Riwayat Obstetri dan Ginekologi

(1) Riwayat Kehamilan Sekarang

(a) ANC

Pada kasus Ny. H,ibu mengatakan ini kehamilan

yang pertama dan tidak pernah keguguran (G1P1A0).

ANC Ny. Hsejak umur kehamilan 10 minggu 2 hari,

ANC di puskesmas.

Riwayat ANC TM I : 1x di puskesmas

TM II : 3x di puskesmas
239

TM III : 2x di puskesmas

Riwayat kehamilan sekarang dikaji untuk

mengetahui beberapa kejadian maupun komplikasi

yang terjadi pada kehamilan sekarang. Menurut

Maternity (2017), kunjungan antenatal minimal empat

kali selama kehamilan : trimester I (sebelum 14

minggu), trimester II (14-28 minggu), trimester III

(28-36 minggu).

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus karena Ny. H melakukan

kunjungan antenatal sebanyak 6x.

(b)Imunisasi TT

Ny. H sudah diberikan imunisasi TT ke empat

pada tanggal 15 Agustus 2018 .

Menurut Depkes RI (2010),pemberian imunisasi

tetanus toksoid pada kehamilan umumnya diberikan 2

kali saja, imunisasi pertama diberikan pada usia

kehamilan 16 minggu untuk yang kedua diberikan 4

minggu kemudian, akan tetapi untuk memaksimalkan

perlindungan maka dibentuk program jadwal

pemberian imunisasi pada ibu hamil. Interval

pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT)lengkap.


240

Tabel 4.1 Jadwal imunisasi tetanus toksoid

Antige Inteval Lama % perlindungan


n perlindungan
TT 1 Pada - Tidak ada
kunjungan
antenatal
pertama
TT 2 4 minggu 3 bulan 80
setelah TT 1
TT 3 6 bulan 5 tahun 95
setelah TT 2
TT 4 1 tahun 10 tahun 99
setelah TT 3
TT 5 1 tahun 20 tahun 99
setelah TT 4
Sumber : Depkes RI, (2010)

Status Imunisasi pada ibu hamil menurut Taviv (2013), yaitu :

a. TT I adalah waktu imunisasi di kelas 1 SD.

b. TT II adalah waktu imunisasi di kelas 2 SD

c. TT III adalah waktu imunisasi caten yang pertama.

d. TT IV adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil.

e. TT V adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.

Kesimpulan dari data yang didapatkan dari Ny. H ada

kesenjangan antara teori dan kasus, karena Ny. H mendapat

imunisasi TT pada umur kehamilan 10 minggu sedangkan

pada teori pemberian imunisasi pertama pada usia kehamilan

16 minggu.
241

(c) Gerakan janin

Ny. H mengatakan sudah merasakan gerakan janin sejak

usia kehamilan 20 minggu, janin bergerak sebanyak 10 kali

dalam 12 jam.

Menurut teori, gerakan pertama fetus pada primigravida

dirasakan pada usia kehamilan 18-20 minggu, sedangkan pada

multigravida sekitar 16 minggu (Hanni, 2011, h. 81).

Menurut Tania (2015), menjelang minggu ke – 36

sampai akhir, posisi janin yang sudah memenuhi ruangan

rahim justru menyebabkan janin tidak banyak bergerak karena

ruang gerak yang sempit. Paling tidak rata – rata ibu harus

merasakan janin bergerak kira – kira 10 kali dalam 12 jam.

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara

teori dan kasus karena Ny. H merasakan gerakan janin pada

usia kehamilan 20 minggu dan janin bergerak kira – kira 10

kali dalam 12 jam.

(d) Riwayat Haid

Ny. H mengatakan haid timbul pertama kali umur 13

tahun.

Menurut Masaroh (2009), Menarche merupakan

menstruasi pertama yang biasa terjadi pada seorang gadis pada

masa pubertas, yang biasanya muncul usia 11 sampai 14 tahun.


242

Dengan demikian, pada kasus Ny. H antara teori dan

kasus tidak ditemukan adanya kesenjangan karena Ny. H

pertama kali haid umur 13 tahun.

Ny. H mengatakan Hari Pertama Haid Terakhir pada

tanggal 08 Juni 2018.

Hari pertama haid terakhir dan sebelumnya dicatat.Bila

haid tidak terjadi pada saat yang diperkirakan atau haid terakhir

lebih ringan daripada biasanya, maka kehamilan adalah suatu

kemungkinan.Karena alasan ini, maka interval waktu antara

mulainya gejala pasien saat ini dan mulainya siklus haid

terakhir merupakan informasi diagnosis yang penting.Sering

bermanfaat menanyakan apakah pasien sendiri menganggap

haid terakhir dan haid sebelumnya bersifat normal baginya.

Pengetahuan pola haid pasien (teratur atau tidak teratur)

membantu dalam menginterpretasi gejala-gejala haid.Amenore

tidak merupakan diagnostik kehamilan, bila siklus haid pasien

sebelumnya tidak teratur.

Dengan demikian, pada kasus Ny. H antara teori dan

kasus tidak ditemukan adanya kesenjangan karena Ny. H hari

pertama haid terakhir pada 08 juni 2018 dan haid tidak terjadi

pada saat yang diperkirakan atau pada bulan selanjutnya.


243

Taksiran persalinan Ny. H menurut rumus Neagle,

yaitu tanggal 15 Maret 2019.

Menurut Leveno (2009), lama kehamilan yang dihitung

dari hari pertama periode haid normal terakhir adalah 280 hari,

atau 40 minggu. Kita dapat memperkirakan tanggal taksiran

persalinan dengan menambahkan 7 hari ke tanggal hari

pertama haid normal terakhir dan mengurangi 3 bulan (rumus

Naegle).

Dengan demikian, pada kasus Ny. H antara teori dan

kasus tidak ditemukan adanya kesenjangankarena taksiran

persalinan dihitung menggunakan rumus Naegle.

e) Riwayat Kesehatan

Ny. H mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai

riwayat penyakit seperti penyakit Jantung, Diabetes Militus,

Hipertensi, Asma, Hepatitis.

Menurut Handayani dkk (2007), tanyakan kepada klien

apakah mempunyai penyakit keturunan.Hal ini dapat

mempengaruhi prognosa persalinan dan pimpinan persalinan,

membantu dalam penanganan pelayanan kehamilan.

Dengan demikian, antara kasus dengan teori tidak terdapat

kesenjangan karenaNy. H tidak ada riwayat penyakit menurun


244

(Asma, Diabetes Militus, Jantung, hipertensi) maupun menular

(Hepatitis).

f) Kebiasaan

(1) Pantangan makanan

Pada kasus Ny. H, selama kehamilan tidak memiliki

pantangan makan apapun dengan menu gizi seimbang.

Menurut Jannah (2012), pada masa kehamilan perlu

menyediakan nutrisi yang penting bagi pertumbuhan anak

dan dirinya sendiri. Kebutuhan makanan berfungsi untuk

pertumbuhan janin.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena ibu tidak ada pantangan makanan

apapun.

(2) Minum jamu

Pada kasus ini, Ny. H tidak minum jamu selama

kehamilannya.

Menurut Jannah (2012), minum jamu

merupakan kebiasaan yang beresiko bagi wanita hamil

karena efek jamu dapat membahayakan pada tumbuh

kembang janin seperti menimbulkan kecacatan, abortus,

BBLR, partus prematurus, kelainan ginjal, asfiksia

neonatorum, IUFD dan malformasi organ janin.


245

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus karena Ny. H tidak minum jamu

selama kehamilannya.

(3) Minum obat - obatan

Pada kasus ini, Ny. H tidak meminum obat selain dari

tenaga kesehatan.

Menurut Jannah (2012), pengaruh obat terhadap janin

selama hamil tidak hanya tergantung dari macam obat

tetapi tergantung dari saat obat itu diberikan. Efek yang

diberikan dapat menimbulkan kecacatan janin, kelainan

faal alat tubuh, dan gangguan pertukaran zat dalam tubuh.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena Ny. H tidak meminum obat selain

dari tenaga kesehatan.

(4) Merokok & minum alkohol

Pada kasus ini, Ny. H tidak mengkonsumsi rokok dan

alkohol.

Menurut Jannah (2012), merokok menimbulkan efek

yang sangat membahayakan bagi janin dan ibu berkaitan

dengan penyakit yang muncul akibat merokok, misalnya

penyakit paru-paru, jantung, hipertensi, dan kanker.


246

Pada kasus Ny. H tidak terjadi kesenjangan antara teori

dan kasus karena tidak mengkonsumsi rokok dan alkohol.

(5) Binatang peliharaan

Pada kasus ini, Ny. H tidak memelihara hewan

peliharaan ayam, burung dan kucing.

Menurut Hani (2010), binatang peliharaan berbahaya

bagi ibu selama kehamilan.

Menurut Avelino (2014), terjadi peningkatan risiko

terinfeksi toxoplasma sebesar dua kali terutama pada

wanita hamil yang berkontak dengan hewan peliharaan.

Menurut Iskandar (2010), kucing merupakan host

definit dari Toxoplasma gondii. Didalam usus kucing

terjadi perkembangbiakan Toxoplasma gondii secara

seksual dengan menghasilkan ookista. Ookista masuk

kedalam lumen usus dan keluar dari tubuh kucing

bersama dengan kotoran.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena Ny. H tidak memelihara hewan

peliharaan.
247

g) Pola Kebutuhan Sehari-hari

(1) Nutrisi

Pada kasus Ny. H, ibu mengatakan sebelum hamil

makan makanan 3 kali sehari dan minum ± 9 gelas per

hari. Sedangkan selama hamil mengatakan makan 4 kali

sehari, jenis makanan nasi, lauk, sayur dan minum ± 11

gelas per hari, jenis air putih.

Menurut Ambarwati dan Wulandari (2010),

menggambarkan tentang pola makan dan minum,

frekuensi, banyaknya, jenis makanan, makanan

pantangan.

Menurut Magasari (2014), pola minum juga harus

dapat memperoleh data dari kebiasaan pasien dalam

memenuhi kebutuhan cairannya. Apalagi dalam masa

hamil asupan cairan yang cukup sangat dibutuhkan.Dal-

hal yang perlu di tanyakan kepada pasien tentang pola

minum adalah frekuensi, jumlah perhari, dan jenis

minuman.

Menurut Nakita (2015), jika wanita dewasa

memerlukan 2.500 kalori per hari, maka pada wanita

hamil diperlukan peningkatan sekitar 300 kalori per hari.


248

Kalori ekstra itu dibutuhkan untuk pertumbuhan janin

dan plasenta.

Menurut Ipoel (2015), kebutuhan kalori bisa didapat

dari makanan sumber karbohidrat dan lemak. Tapi tak

berarti hanya dari lemak atau karbohidrat saja, karena

calon ibu juga mengutamakan azas kecukupan dan

keseimbangan. Kebutuhan tersebut baru terpenuhi bila

ada pasokan 240 kalori atau 60 gram makanan sumber

protein seperti daging, ikan, dan telur, karena 1 gram

protein memberi 4 kalori.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori

dan kasus karena kebutuhan kalori Ny. H didapat bukan

dari lemak atau karbohidrat saja, namun didapat juga dari

protein.

(2) Eliminasi

Pada kasus Ny. H, ibu mengatakan pada pola eliminasi

sebelum hamil BAK 5 kali sehari, sedangkan selama

hamil 9 kali sehari pada TM III.

Menurut Ambarwati dan Wulandari (2010),

menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan

buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi


249

dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi

frekuensi, warna, jumlah.

Menurut Qodir (2017), ketika rahim keluar dari rongga

panggul, keluhan ini akan berkurang. Namun, keluhan ini

akan terjadi lagi ketika memasuki trimester terakhir

kehamilan, dan ini terjadi karena janin mulai masuk

rongga panggul sehingga menekan kandung kemih.

Dengan demikian, pada pola eliminasi kasus Ny. H

tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan

kasus karena Ny. H mengalami peningkatan BAK 9 kali

perhari karena sudah memasuki Trimester III.

(3) Istirahat

Berdasarkan pengkajian Ny. H mengatakan masih bisa

istirahat ± 8 jam dalam sehari.

Berdasarkan teori pada wanita usia reproduksi

(20-35 tahun) kebutuhan tidur dalam sehari adalah

sekitar 8-9 jam (Hidayat dan Uliyah, 2008). Sedangkan

menurut Jannah (2012), adanya aktivitas yang

dilakukan setiap hari otomatis ibu hamil akan sering

merasa lelah daripada sebelum waktu hamil. Setiap

wanita hamil menemukan cara yang berbeda mengatasi


250

keletihannya. Salah satunya dengan beristirahat atau

tidur sebentar di siang hari.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus karena Ny. H mengatakan dalam

sehari istirahat ± 8 jam.

(4) Aktifitas

Pola aktivitas Ny. H selama hamil adalah sebagai ibu

rumah tangga.

Menurut Jannah (2012), hal-hal yang perlu diperhatikan

oleh ibu hamil adalah aktivitas sehari-hari yang dapat

beresiko terhadap kehamilan. Adanya aktivitas yang

dilakukan setiap hari oleh ibu hamil akan sering merasa

lelah daripada sebelum hamil. Hal ini merupakan salah

satu faktor beban dari berat janin yang semakin terasa

oleh ibu. Oleh karena itu, pengaturan aktivitas yang tidak

terlalu berlebihan sangatlah perlu diterapkan oleh setiap

ibu hamil (Jannah, 2012).

Dengan demikian, tidak terjadi kesenjangan antara teori

dengan kasus karena Ny.H tidak melakukan aktivitas

yang berlebihan.
251

(5) Personal hygiene

Pada kasus Ny. H, ibu mengatakan pola personal

hygiene sebelum hamil 2x/hari dan selama hamil 2x/hari.

Menurut Tarwoto & Wartonah (2010), personal

hygiene berasal dari bahasa yunani yang berarti personal

yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.

Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk

memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk

kesejahteraan fisik dan psikis.

Dengan demikian, pada personal hygiene kasus Ny. H

tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan

kasus karena Ny. H memelihara kebersihan dengan pola

personal hygien 2x/hari.

g) Data Psikologis

Pada kasus Ny. H, suami dan keluarga telah

mendukung kehamilannya

Menurut Sondakh (2013), perubahan psikologis dapat

berupa perasaan takut, cemas, sedih, gelisah, bahkan perasaan

tenang dan nyaman. Perubahan psikologis terjadi masih

bersifat wajar jika tidak menimbulkan masalah bagi ibu

sendiri. Dengan demikian, diperlukan adanya bimbingan

mental selama proses kehamilan ibu. Perasaan nyaman dan


252

tenang ibu pada masa persalinan dapat diperoleh dari

dukungan suami, keluarga, penolong persalinan, dan

lingkungan.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori

dan kasus karena pada kasus Ny. H,suami dan keluarga telah

mendukung kehamilannya, hal itu memberikan sedikit

kenyamanan sehingga tidak terdapat kesenjangan antara teori

dan kasus.

h) Status perkawinan

Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data pada Ny.

H usia saat menikah 21 tahun, perkawinan pertama, dan lama

perkawinan 10 bulan yang lalu.

Yang perlu dikaji adalah beberapa kali menikah, status

menikah sah atau tidak, karena bila melahirkan dengan

psikologisnya sehingga akan mempengaruhi proses nifas

(Pamuji, 2015).

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena status pernikahannya sah.

i) Data sosial budaya

Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada Ny. H,

Ibu mengatakan tidak menganut paham budaya membawa

gunting / peniti kemana – mana.


253

Menurut Pamuji (2015), untuk mengetahui pasien dan

keluarga yang menganut adat istiadat yang akan

menguntungkan atau merugikan pasien. Berdasarkan

pengkajian yang dilakukan pada Ny. H, maka data sosial

budaya didapatkan bukan hanya dari pasien tetapi juga dari

orang tua pasien.

Menurut Savitri (2012), menurut pandangan medis,

membawa gunting / peniti tidak memiliki efek sama sekali.

Pasalnya, benda – benda tersebut tidak menimbulkan

pengaruh pada status kesehatan ibu hamil, janin ataupun bayi.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena dalam hamil ini ibu mengatakan tidak

menganut paham budaya apapun seperti membawa gunting /

peniti kemana – mana.


254

2) Data Obyektif

Menurut Oktarina (2016), data objektif adalah informasi yang

dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan/pengantar terhadap ibu.

Data objektif meliputi pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik,

pemeriksaan kebidanan dan pemeriksaan penunjang.

a) Pemeriksaan Umum

(1) Keadaan umum

Pada kasus Ny. H, hasil pemeriksaan umum didapatkan

keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis.

Menurut Manuaba (2007), menilai keadaan umum

dapat mendukung kehamilan atau sebaliknya sehingga dapat

dilakukan upaya perbaikan.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dan kasus karena keadaan umum Ny. H baik.

(2) Berat badan

Pada kasus Ny. H dalam pemeriksaan umum

didapatkan hasil pemeriksaan berat badan sebelum hamil

40 Kg dan berat badan sekarang 52 Kg, kenaikannya yaitu

12 Kg.

Menurut teori, secara perlahan ibu hamil akan

mengalami kenaikan berat badan antara 9-13 Kg selama

kehamilan atau sama dengan 0,5 Kg per minggu atau 2 Kg


255

dalam 1 bulan (Hani, 2010). Dilihat dari hasil penambahan

berat badan Ny. H selama kehamilan sesuai dengan teori.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena kenaikan berat badan Ny. H 12 Kg

dalam batas normal.

(3)Tinggi badan

Berdasarkan data hasil pemeriksaan pada kasus Ny. H

tinggi badan ibu 166 cm.

Sedangkan menurut Depkes RI (2010), tinggi badan

diukur sekali pada saat ibu datang pertama untuk

mendeteksi resiko bila hasil pengukuran <145 cm.

Menurut Mika (2016), pengukuran tinggi badan

dilakukan cukup sekali, yaitu waktu ibu periksa hamil yang

pertama kali.

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara

teori dan kasus karena tinggi badan Ny. H 166 Cm berarti

tinggi badan Ny. H dalam batas normal.

(4) Lingkar Lengan Atas

Hasil pemeriksaan pengukuran LILA (lingkar lengan

atas) pada Ny. H yaitu 25 cm.

Menurut Kusmiyati Y,dkk (2010), standar minimal

ukuran LILA pada wanita dewasa atau usia reproduksi


256

adalah 23,5 cm. Jika LILA < 23,5 cm maka interpretasinya

adalah kurang energi kronik (KEK). Batas minimal LILA

bagi ibu hamil adalah 23,5 cm (Kemenkes RI, 2013).

Berdasarkan hasil pemeriksaan pada Ny. H tidak

ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan kasus

karena LILA Ny. H yaitu 25 cm.

(5) Tanda-tanda vital

Pada pemeriksaan tekanan darah Ny. H yaitu 110/70

mmHg, suhu 36,2 Cº, respirasi 24x/menit, nadi 82x/menit.

Tanda-tanda vital yaitu terdiri rentang tekanan darah

normal pada orang dewasa sehat adalah 100/60 – 140/90

mmHg, tetapi bervariasi tergantung usia dan variable

lainnya. WHO menetapkan hipertensi jika tekanan sistolik

≥ 160 mmHg dan tekanan diastolic ≥ 95 mmHg. Pada

wanita dewasa sehat yang tidak hamil memiliki kisaran

denyut jantung 70 denyut per menit dengan rentang normal

60-100 denyut per menit. Namun selama kehamilan

mengalami peningkatan sekitar 15-20 denyut per menit.

Nilai normal untuk suhu per aksila pada orang dewasa

yaitu 35,8-37,3° C (Handayani, 2017).


257

Sedangkan menurut Ambarwati (2009), tekanan darah

pada ibu hamil biasanya normal, kecuali bila ada kelainan,

jika tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena TTV pada Ny. Hyaitu 110/70 mmHg,

suhu 36,2 Cº, respirasi 24x/menit, nadi 82x/menit, semua

hasil pemeriksaan dalam batas normal.

b) Pemeriksaan Fisik

Pada Ny. H keadaan fisiknya masih dalam keadaan normal

secara head to toe.

Penilaian pada muka juga ditujukan untuk melihat ada

tidaknya pembengkakan pada daerah wajah serta mengkaji

kesimetrisan bentuk wajah. Pada pemeriksaan mata terdapat

sclera bertujuan untuk menilai warna , yang dalam keadaan

normal berwarna putih. Sedangkan pemeriksaan konjungtiva

dilakukan untuk mengkaji munculnya anemia. Konjungtiva yang

normal berwarna merah muda. Pada pemeriksaan leher dalam

keadaan normal, kelenjar tyroid tidak terlihat dan hampir tidak

teraba sedangkan kelenjar getah bening bisa teraba seperti

kacang kecil (Hidayat dan Uliyah, 2008).

Dengan demikian pada kasus Ny. H tidak ada kesenjangan

antara teori dan kasus karena tidak ditemukan adanya kelainan


258

pada Ny. H yaitu muka (simetris, tidak ada pembengkakan),

mata (sclera putih, konjungtiva merah muda), leher (tidak ada

pembesaran kelenjar tyroid).

c)Pemeriksaan Kebidanan

(1) Inspeksi

Pada kasus Ny. H didapatkan hasil inspeksi dimana

pada muka tidak pucat, tidak oedem, tidak cloasma

gravidarum, mammae puting susu menonjol, ada

hiperpigmentasi areola, abdomen tidak terdapat striae

gravidarum dan terdapat linea nigra, pembesaran uterus

sesuai umur kehamilan genetalia tidak oedem, tidak

varises, dan tidak ada tanda-tanda infeksi.

Inspeksi adalah cara pemeriksaan dengan melihat

bagian-bagian tubuh dengan menggunakan pendekatan

sistematis. Dalam melakukan pemeriksaan inspeksi

pemeriksa harus melatih mata agar sensitive melihat

perubahan-perubahan pada organ tubuh yang normal dan

yang tidak normal (Mandriwati, 2008).

Menurut Mochtar (2011), muncul garis-garis pada

permukaan kulit perut (striae gravidarum) dan garis

pertengahan pada perut (linea gravidarum) akibat


259

Melanocyte Stimulating Hormon tetapi tidak semua ibu

hamil mengalami tanda-tanda tersebut.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena pada kasus Ny. H didapatkan hasil

inspeksi dimana muka tidak pucat, tidak oedem, tidak

cloasma gravidarum, mammae puting susu menonjol, ada

hiperpigmentasi areola, abdomen tidak terdapat striae

gravidarum dan terdapat linea nigra, pembesaran uterus

sesuai umur kehamilan genetalia tidak oedem, tidak

varises, dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Semua hasil

pemeriksaan masih dalam batas normal.

(2) Palpasi

Pada palpasi, didapatkan hasil TFU padaNy.H adalah

30 cm atau 2 jari dibawah prosesus xipoideus dengan usia

kehamilan 38 minggu 1 hari.

Menurut Depkes RI (2010), apabila usia kehamilan

dibawah 24 minggu dilakukan dengan jari, tetapi apabila

kehamilan diatas 24 minggu memakai pengukuran

menggunakan Mc Donald yaitu TFU diukur dengan pita

pengukur.

Menurut Prawirohardjo (2009), pengukuran TFU dengan

menggunakan rumus Mc Donald/ dengan pita yaitu umur


260

kehamilan 36-40 minggu TFU normalnya 36 cm (± 2 cm)

sedangkan dengan menggunakan jari Setinggi PX sampai 2

jari dibawah PX.

Dengan demikian ditemukan kesenjangan antara teori

dan kasus yaitu TFU Ny. H pada usia kehamilan 38 minggu

1 hari ialah 30 cm sedangkan secara normal TFU nya antara

36 cm (± 2 cm). Dan jika menggunakan jari tidak

ditemukan kesenjangan karena TFU Ny. H 2 jari dibawah

prosesus xipoideus.

Hasil Leopold pada Ny. H yaitu Leopold I teraba

bokong, Leopold II sebelah kanan teraba punggung dan

sebelah kiri teraba ekstremitas, Leopold III teraba kepala,

dan Leopold IV Divergen (kepala sudah masuk PAP).

Menurut Suparmi (2012), palpasi merupakan salah satu

cara yang mengandalkan kemampuan dalam

mempergunakan sensasi tangan dan kemampuan tanda serta

mempersiapkan temuan yang diperoleh.

Menurut Zulfiana (2015), presentasi adalah bagian

janin yang terletak di pintu atas panggul atau kutub bawah

uterus. Presentasi yang lebih banyak terjadi adalah

presentasi kepala karena karena bokong yang lebih besar

menempati ruang yang lebih besar di dalam fundus, yang


261

merupakan diameter terbesar dari uterus dan kepala berada

di bagian bawah yang lebih sempit.

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara

kasus dan teori karena uk 38 minggu presentasi janin Ny. H

normal.

Pada kasus, TBJ Ny. H yaitu 2.945 gr.

Rumus Johnson yang luas digunakan di Indonesia

memiliki variasi yang besar karena rumus tersebut berasal

dari negara lain pada populasi yang secara antropometri

berbeda dengan populasi di Indonesia

Rumus john adalah sebagai berikut :

TBJ = (TFU – N) x 155

N = 12 bila kepala masih berada di atas spina ischiadika

N = 11 bila kepala berada di bawah spina ischiadika

Umur kehamilan yang merupakan masa puncak

pertumbuhan dimana sudah tidak terjadi kenaikan berat

janin yang segnifikan (Gerard, 2009).

Menurut Tri (2017), pertumbuhan berat janin normal

pada usia kehamilan 38-40 minggu 2900 gr -3050 gr.

Apabila TBJ tidak sesuai dengan yang seharusnya maka

beberapa kemungkinan : TBJ yang salah atau janin yang

terlalu kecil karena mengalami keterlambatan pertumbuhan


262

intrauterin, IUGR atau janin besar dari seharusnya seperti

pada penderita diabetes (Emilia, 2008).

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara

teori dan kasus yaitu TBJ Ny.H yaitu 2.945 gr dalam batas

normal.

(3) Auskultasi

Pada pemeriksaan Ny. H auskultasi denyut jantung

janin (DJJ) 138x/menit teratur.

Denyut jantung janin normal adalah antara 120-160

x/menit (Kemenkes, 2013).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena DJJ 138x/menit masih dalam batas

normal.

(4) Perkusi

Hasil pemeriksaan reflek patella kanan dan kiri positif.

Sesuai dengan teori yang ditulis oleh manuaba (2007),

reflek lutut (reflek patella) paling penting berkaitan dengan

kekurangan vitamin B1.Jika reflek positif, ibu dalam

keadaan normal.Sedangkan menurut Cuningham (2006),

apabila reflek patellanya negatif adanya toksisitas

magnesium.
263

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ny. H

tidak ada tanda-tanda toksisitas magnesium. Dengan demikian

tidak ada kesenjangan antara teori dengan kasus.

d) Pemeriksaaan Penunjang

Pada kasus Ny. H pemeriksaan penunjang didapatkan

hasil Hb 11,2 gr%.

Pemeriksaan Hb adalah salah satu upaya untuk

mendeteksi anemia pada ibu hamil.

Menurut Romauli (2011), pemeriksaan HB pada ibu

hamil dilakukan pada kunjungan pertama kehamilan dan

diulang pada minggu 28 sampai 32 minggu atau tepatnya usia

kehamilan 30 minggu. Sedangkan menurut teori, nilai normal

Hb (Haemoglobin) pada ibu hamil adalah 11 gr%.

Dengan demikian, pada kasus Ny. H tidak didapatkan

adanya kesenjangan antara teori dan kasus karena Hb Ny. H

11,2 gr%.

Pada kasus Ny. H pemeriksaan VCT hasilnya non

reaktif.

VCT (voluntary counseling and testing) adalah

serangkaian tes untuk mengetahui penyakit HIV.

Menurut Ayu (2015), tes VCT dilakukan di akhir masa

jendela / 3 bulan setelah melakukan hubungan yang beresiko


264

dan jika hasilnya negatif / non reaktif maka pemeriksaan

diulang kembali dalam jangka waktu minimal 3 bulan

sesudahnya. Hasil non reaktif bukan berarti tidak akurat,

melainkan mungkin saja pada tahap tersebut seseorang sedang

mengalami masa jendela atau memang tidak sedang dalam

infeksi virus tersebut.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan

kasus karena hasil tes VCT Ny. H Non reaktif.

Pada kasus Ny. H pemeriksaan sifilis hasilnya non

reaktif.

Menurut Alexander (2017), Sifilis atau raja singa adalah

infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri

Treponema pallidum. VDRL test adalah tes serologi untuk

mendeteksi ada atau tidak infeksi sifilis dalam tubuh. Jika

hasil VDRL negatif atau non reaktif maka artinya tidak

terkena sifilis, jika hasilnya reaktif maka terdeteksi antibodi

sifilis.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan

kasus karena hasil tes sifilis Ny. H Non reaktif yang artinya

tidak terkena sifilis.

Pada kasus Ny. H pemeriksaan HBsAg hasilnya non

reaktif.
265

Menurut Rininta (2015), pada pemeriksaan HbsAg,

yang dicari dalam darah adalah protein khusus dari virus

hepatitis. Hasil non reaktif menandakan tidak terdapat virus

hepatitis B dalam darah. Bila seseorang memiliki protein /

antigen virus hepatitis B, maka hasil uji akan menunjukkan

hasil reaktif.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan

kasus karena hasil tes HBsAg Ny. H Non reaktif menandakan

tidak terdapat virus hepatitis B dalam darah Ny. H.

3) Assesment

Menurut Nugroho (2014), asessment/analisis adalah kedua

jenis data diatas dinilai, dianalisis apakah ada perkembangan kearah

kebaikan/ kemunduran, hasil analis dapat menguraikan sampai dimana

masalah yang ada berdapat diatasi/berkembang menjadi masalah baru,

maka akan timbul diagnosa baru.

(a) Diagnosa Nomenklatur

Data dasar sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga

dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik (Hani dkk,

2010).
266

Setelah dilakukan pengkajian pada kasus ibu hamil Ny. H, baik

anamnesa maupun pemeriksaan maka didapatkan diagnosa Ny. H

umur 22 tahun G1P0A0 hamil 38 minggu 1 hari, janin tunggal hidup

intrauterin, letak memanjang, puka, Divergen dengan kehamilan

normal.

Data Subyektif : ibu mengatakan bernama Ny. H umur 22

tahun, ini kehamilan yang pertama dan tidak pernah keguguran, Ibu

mengatakan sering BAK ± 9 kali dalam sehari.

Data Obyektif :pemeriksaan umum dalam batas normal yaitu

TD 110/70 mmHg, N 82x/menit, R 24x/menit, S 36,5 ⁰C.

Leopold I bagian fundus teraba bulat, tidak melenting yaitu

bokong janin, Leopold II pada sebelah kanan teraba keras, panjang

seperti papan yaitu punggung, Leopold III teraba bulat, melenting,

dan keras yaitu kepala janin, pada akhir trimester III menjelang

persalinan, presentasi normal janin adalah presentasi kepala dengan

letak memanjang dan sikap janin fleksi (Ananda, 2017).

Dengan demikian tidak ditemukan adanya kesenjangan antara

teori dan kasus karena presentasi janin Ny. H normal.

(b) Diagnosa Masalah

Pada kasus Ny. H ditemukan adanya diagnosis masalah yaitu

sering BAK.
267

Data subyektif : ibu mengatakan sering BAK ± 9 kali dalam

sehari.

Data obyektif : -

Menurut Anggraeni (2013), pada usia kehamilan trimester tiga,

bunda akan sering buang air kecil karena kantung kemih akan

terdesak oleh janin yang semakin membesar. Kebutuhan cairan

pada trimester tiga meningkat agar dapat mendukung sirkulasi

janin, produksi cairan amnion (air ketuban), dan volume darah

juga maningkat.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus

karena Ny. H merasakan sering BAK pada kehamilan Trimester

III.

(c) Diagnosa Kebutuhan

Pada kasus Ny. H diberikan KIE penyebab sering BAK.

Menurut Effendy (2011), KIE adalah penyampaian pesan

secara langsung ataupun tidak langsung melalui saluran

komunikasi kepada penerima pesan, untuk mendapatkan suatu

efek.

Menurut Effendy (2011), tujuan dilaksanakannya program

KIE, yaitu untuk mendorong terjadinya proses perubahan perilaku

kearah yang positif, peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik

masyarakat (klien) secara wajar sehingga masyarakat


268

melaksanankannya secara mantap sebagai perilaku yang sehat dan

bertanggung jawab.

Data Subyektif : ibu mengatakan sering BAK ± 9 kali dalam

sehari.

Data obyektif : -

Menurut Putri (2014), turunnya kepala, masuk pintu atas

panggul, terutama pada primigravida minggu ke 36 dapat

menimbulkan sesak bagian bawah, diatas simfisis pubis dan sering

ingin kencing atau susah kencing karena kandung kemih tertekan

kepala.

Menurut Emilia (2010), KIE tentang cara menangani BAK

yaitu dengan tidak menunda buang air kecil, karena bisa beresiko

radang saluran kencing. Keadaan ini jangan menjadikan ibu hamil

mengurangi konsumsi cairan karena malas sering buang air kecil.

Dengan demikian antara teori dan kasus tidak ditemukan

kesenjangan karena Ny. H diberikan informasi mengenai KIE

penyebab sering berkemih.

(d) Planning

Langkah–langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah

sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa

yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.


269

Pada kasus Ny. H umur 22 tahun G1P0A0 dengan kehamilan

normal hasil yang didapat sesuai dengan asuhan yang

direncanakan yaitu :

a) Memberitahu ibu tentang keluhan sering BAK yang

dialaminya adalah hal yang normal yang disebabkan oleh

adanya tekanan uterus karena turunnya kepala janin

sehingga kandung kemih tertekan dan mengakibatkan

frekuensi BAK meningkat

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tentang keluhannya

Keluhan sering BAK yang dialami ibu adalah hal yang

normal karena menurut Qodir (2017), ketika rahim keluar dari

rongga panggul, keluhan ini akan berkurang. Namun, keluhan

ini akan terjadi lagi ketika memasuki trimester terakhir

kehamilan, dan ini terjadi karena janin mulai masuk rongga

panggul sehingga menekan kandung kemih.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus karena merupakan hal yang normal pada

Trimester III.

b) Memberitahu ibu tentang cara penanganan sering BAK

yaitu dengan selalu mengosongkan kandung kemih dengan

cara saat ada keinginan untuk BAK ibu segera buang air

kecil agar kandung kemih kosong, mengurangi minum pada


270

malam hari jika mengganggu ibu dan tetap memperbanyak

minum pada siang hari, mengurangi minuman diuretik

seperti teh.

Evaluasi : ibu sudah mengetahui cara penanganannya dan

ibu bersedia mempraktikkannya.

Menurut Naviri (2011), pada masa kehamilan trimester

Ketiga, masalah sering buang air kecil akan terjadi lagi,

karena pada masa ini pertumbuhan janin semakin besar, dan

akan kembali menekan kandung kemih. Dalam menghadapi

masalah di atas, beberapa saran berikut dapat anda ikuti yaitu

sebaiknya jangan menahan keinginan untuk buang air kecil,

karena hal tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran

kencing.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus karena ibu akan mengikuti saran yang

diberikan untuk penanganan sering BAK.

c) Memberitahu ibu tanda bahaya kehamilan TM III yaitu

pusing yang menetap, bengkak pada muka, tangan dan kaki

(gejala preeklamsia), air ketuban keluar sebelum waktunya,

perdarahan baik berupa bercak maupun mengalir dari jalan

lahir,gerakan janin kurang. Serta memberitahu ibu bahwa

jika ibu mengalami salah satu dari tanda bahaya tersebut


271

segera menghubungi dan mendatangi tenaga kesehatan

(bidan/dokter)

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tanda bahaya kehamilan TM

III

Berdasarkan teori tanda bahaya TM III yaitu gejala

preeklamsia, gerakan janin kurang, perdarahan pervaginam,

ketuban pecah dini (Jannah, 2014).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus.

d) Memberitahu kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan

yang bergizi seimbang yang bertujuan untuk memenuhi

kebutuhan ibu dan bayinya seperti membantu pertumbuhan

dan perkembangan janin. Makanan yang bergizi seimbang

diantaranya yaitu yang mengandung karbohidrat (nasi,

gandum, kentang), protein (ikan, telor, tahu, tempe, kacang-

kacangan),vitamin dan mineral (sayur- sayuran dan buah-

buahan), menganjurkan ibu untuk minum air putih yang

cukup ± 8 gelas perhari, misal (nasi satu piring, telor satu

butir, tahu, tempe, sayur bayam satu mangkuk).

Evaluasi : ibu bersedia untuk mengkonsumsi makanan yang

bergizi
272

Untuk memenuhi tambahan kebutuhan zat tenaga, zat

pembangun, dan zat pengatur diperlukan tambahan konsumsi

makanan sehari-hari seperti nasi ½ piring, ikan ½ potong,

tempe 1 potong, sayuran ½ mangkok, susu 1 gelas dan air 2

gelas (Manuaba,2009).

Menurut Vivian (2011), kebutuhan ibu hamil akan

nutrisi lebih tinggi dibandingkan saat sebelum hamil, untuk

memenuhi kebutuhan akan nutrisi maka ibu harus makan-

makanan yang banyak mengandung gizi karena makanan

tersebut diperlukan untuk pertumbuhan janin, plasenta, buah

dada, dan kenaikan metabolisme.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

e) Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu istirahat

malam ± 8 jam dan istirahat siang ± 2 jam agar ibu tidak

kelelahan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk istirahat yang cukup dan

bersedia mempraktikannya.

Istirahat/tidur dan bersantai sangat penting bagi wanita

hamil dan menyusui. Jadwal ini harus diperhatikan dengan

baik, karena istirahat dan tidur secara teratur dapat


273

meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk

kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin dan juga

membantu wanita tetap kuat dan mencegah penyakit, juga

dapat mencegah keguguran, tekanan darah tinggi, bayi sakit

dan masalah-masalah lain (Tyastuti, 2016).

Menurut Kusmiyati (2010), wanita hamil dianjurkan

untuk merencanakan istirahat yang teratur khususnya seiring

kemajuan kehamilannya, karena istirahat dan tidur yang

teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani

untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin.

Tidur pada malam hari selama kurang lebih 8 jam dan

istirahat rileks pada siang hari selama 1 jam.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

f) Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet FE yaitu 90

tablet FE selama kehamilan yang diberikan oleh bidan, setiap

harinya minum 1x1 tablet yang menggandung 60 mg zat besi

dengan mengunakan air putih atau bersamaan dengan vitamin

C pada malam hari menjelang tidur untuk mengurangi mual.

Evaluasi : ibu sudah rutin minum tablet FE setiap hari tanpa

diselingi dengan minum susu dan teh.


274

Menurut Jannah (2012), pemberian tablet Fe secara

rutin adalah untuk membangun cadangan besi, sintesa sel

darah merah, dan sintesa darah otot. Setiap tablet Fe

mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 30 mg), minimal 90

tablet selama kehamilan.

Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi

secara rutin berguna untuk cadangan zat besi, sintesa sel darah

merah dan sintesa darah otot.Setiap tablet tambah darah

mengandung FeSO4 320 mg(zat besi 30 mg), minimal 90

tablet selama hamil. Tablet besi sebaiknya diminum

bersamaan dengan minuman yang mengandung vitamin C

untuk mempermudah penyerapan, sebaliknya tablet besi

sebaiknya tidak diminum bersama dengan teh, kopi atau susu

karena akan menghambat penyerapan zat besi (Tyastuti,

2016).

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

g) Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2

minggu kemudian atau segera jika ada keluhan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk kunjungan ulang

Anjurkan ibu untuk lakukan kunjungan ulang


275

Menurut WHO (2013), jadwal pemeriksaan kehamilan

pada saat usia kehamilan memasuki 28 minggu sampai 36

minggu, dilakukan pemeriksaan 2 minggu sekali. Menurut

Prawirohardjo (2009), kunjungan antenatal sebaiknya

dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, yaitu satu

kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua, dan

dua kali pada triwulan ketiga.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

Asuhan kebidanan Ny. H pada kunjungan pertama

tidak didapatkan adanya kesenjangan antara teori dan kasus.

Dimana berdasarkan kompetensi bidan dalam melakukan

asuhan kebidanan pada ibu/wanita hamil selama kehamilan

sesuai Permenkes Nomor 28 Tahun 2017 yaitu dalam pasal

18 menyatakan bahwa dalam penyelenggaraan praktik

kebidanan, bidan memiliki kewenangan untuk memberikan

pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak dan

pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga

berencana. Dalam Pasal 19 yaitu menyatakan pelayanan

kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf a

diberikan pada masa sebelum hamil, masa hamil, masa

persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa antara dua


276

kehamilan. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) meliputi pelayanan konseling pada masa

sebelum hamil, antenatal pada kehamilan normal, persalinan

normal, ibu nifas normal, ibu menyusui; dan konseling pada

masa antara dua kehamilan. Pada kasus Ny. H pelaksanaan

dilakukan sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat

secara efektif dan efisien. Sehingga asuhan yang diberikan

dapat berjalan dengan baik dan aman. Dengan demikian

antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.
278

DATA PERKEMBANGAN 1

1. Kunjungan II tanggal 12 Maret 2019 (39 minggu 4 hari dengan

kehamilan normal)

A. Data Subyektif

Ibu mengatakan bernama Ny. H, Ibu mengatakan berumur

22 tahun, Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah

keguguran dan Ibu mengatakan sering BAK.

Pada akhir kehamilan keluhan BAK muncul kembali di

karenakan kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai

membesar sehingga menimbulkan sering berkemih

(Prawirohardjo,2010).

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus karena Ny. H masuk umur kehamilan trimester III sehingga

keluhan sering BAK.

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaaan umum

Pada kasus Ny. H, hasil pemeriksaan umum didapatkan

keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis. Sedangkan,

pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil Tekanan

Darah 110/70 mmHg, Nadi 82 x/menit, Pernapasan 22 x/menit

dan Suhu 36 ºC.


279

Menurut Manuaba (2010), dalam menggali berbagai aspek

kehamilannya dilakukan pemeriksaan umum, meliputi kesan

umum (composmentis, tampak sakit), pemeriksaan tekanan darah,

nadi, pernapasan, suhu, dan berat badan. Kesadaran bertujuan

untuk menilai status kesadaran ibu.

Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu mengalami

kesadaran penuh dengan memberikan respons yang cukup

terhadap stimulus yang diberikan (Hidayat dan Uliyah, 2008).

Menurut Kemenkes RI (2013), rentang tekanan darah normal

orang dewasa sehat adalah 100/60 - 140/90 mmHg, tetapi

bervariasi tergantung usia dan variabel lainnya. Pada selama

kehamilan mengalami peningkatan sekitar 15-20 denyut

permenit. Nilai normal per aksila pada orang dewasa yaitu 35,8-

37,3C.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori dan

kasus karena TTV Ny. H dalam batas normal yaitu Tekanan

Darah 110/70 mmHg, Nadi 82 x/menit, Pernapasan 22

x/menitdan Suhu 36 ºC.

2.Pemeriksaan Fisik

Pada Ny. H didapatkan hasil pemeriksaan fisik yaitu muka

tidak oedem, mata conjungtiva tidak pucat, sklera putih, leher

tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, abdomen tidak ada luka


280

bekas operasi, tidak ada pembesaran hati, genetalia tidak ada

oedema dan varises.

Menurut Irmawati (2014), keadaan umum dikaji untuk

mengetahui kesadaran umum klien, apakah klien memperlihatkan

respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara

fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.

Penilaian pada muka juga ditujukan untuk melihat ada tidaknya

pembengkakan pada daerah wajah serta mengkaji kesimetrisan

bentuk wajah. Pada pemeriksaan mata terdapat sclera bertujuan

untuk menilai warna , yang dalam keadaan normal berwarna putih.

Sedangkan pemeriksaan konjungtiva dilakukan untuk mengkaji

munculnya anemia. Konjungtiva yang normal berwarna merah

muda. Pada pemeriksaan leher dalam keadaan normal, kelenjar

tyroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba sedangkan kelenjar

getah bening bisa teraba seperti kacang kecil (Hidayat dan Uliyah,

2008).

Dengan demikan tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus

pada Ny. H karena hasil pemeriksaan fisik yaitu muka tidak

oedem, mata conjungtiva tidak pucat, sklera putih, leher tidak ada

pembesaran kelenjar tyroid, abdomen tidak ada luka bekas

operasi, tidak ada pembesaran hati, genetalia tidak ada oedema

dan varises.
281

3.Pemeriksaan Kebidanan

a. Palpasi

Pada palpasi, didapatkan hasil TFU Ny. H 29 cm dengan

usia kehamilan 39 minggu 4 hari.

Menurut Manuaba (2008), pengukuran TFU dengan

menggunakan rumus Mc Donald/ dengan pita yaitu umur

kehamilan = (tfu : 3,5 cm), pada usia kehamilan 8-9 bulan 30-

33 cm dan pengukuran menggunakan jari 3 jari pusat- PX.

Menurut Hakimi (2010), tinggi fundus uteri sedikitnya 2

cm lebih rendah daripada yang diperkirakan menurut

umur/lama kehamilan. TFU berdasarkan palpasi abdomen.

Dengan demikian antara kasus dan teori, terdapat

kesenjangan pada pemeriksaan TFU dimana didapatkan TFU

Ny. H 29 cm sedangkan normalnya 30-33 cm.

Leopold I teraba bulat lunak tidak melenting berarti

bokong, Leopold II teraba bagian memanjang keras seperti

papan dan tahanan kuat pada bagian kanan ibu (puka), Leopold

III teraba bulat keras dan melenting yaitu kepala janin dan

Leopold IV sudah memasuki panggul (divergen).

Menurut Mufdilah (2009), pada pemeriksaan Leopold I

bila kepala teraba bagian yang besar, bulat keras dan

melenting. Leopold II bagian punggung akan teraba jelas, rata


282

kaku, tidak dapatdigerakkan, keras, sedangkan bagian-bagian

kecil (tangan dan kaki) akan teraba bagian-bagian kecil,

posisinya tidak jelas dan menonjol. Leopold III bila teraba

bokong pada fundus maka teraba tidak keras atau lunak, tidak

melenting dan bulat atau melingkar. Leopold IV, convergen

bila bagian terbesar kepala belum masuk kedalam rongga

panggul.

Dengan demikian antara kasus dan teori, tidak terdapat

kesenjangan pada pemeriksaan dengan cara palpasi.

Pada kasus Ny. H TBJ 2.790gram

Menurut Manuaba (2007), jika kepala janin sudah masuk

PAP maka berat janin = (TFU-11) x 155.

Menurut Tri (2017), pertumbuhan berat janin normal pada

usia kehamilan 35-37 minggu 2250 gr -2690 gr.

Menurut Tri (2017), pertumbuhan berat janin normal pada

usia kehamilan 38-40 minggu 2900 gr -3050 gr.

Dengan demikian ditemukan ada kesenjangan antara

teori dan kasus yaitu TBJ Ny.H yaitu 2.790 gr sedangkan

normalnya 2900 gr – 3050 gr.


283

b. Auskultasi

DJJ didapatkan pada janin Ny. H adalah 140 x/menit,

teratur.

Denyut jantung janin normal adalah antara 120-160

x/menit (Kemenkes, 2013).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena DJJ 140x/menit dalam batas normal.

C. ASSESMENT

1. Diagnosa nomenklatur

Setelah dilakukan pengkajian pada Ny. H, maka diperoleh

hasil dari data subyektif dan obyektif dan didapatkan diagnosa Ny.

H umur 22 tahun, G1P0A0, umur kehamilan 39 minggu 4 hari, janin

tunggal hidup intrauterin, puka (punggung kanan), letak memanjang,

preskep, divergen (masuk PAP), dengan kehamilan TM III normal.

Data subyektif : ibu mengatakan bernama Ny. H umur 22 tahun, ini

adalah kehamilan pertama dan tidak pernah keguguran, ibu

mengatakan sering BAK ± 7 kali dalam sehari.

Data Obyektif : Pemeriksaan umum dalam batas normal,

pemeriksaan fisik juga normal. Pemeriksaan kebidanan TFU :29

cm, L1 bokong, L2 puka, L3 kepala, L4 Divergen. Pemeriksaan

penunjang tidak dilakukan.


284

Menurut Zulfiana (2015), presentasi adalah bagian janin yang

terletak di pintu atas panggul atau kutub bawah uterus. Presentasi

yang lebih banyak terjadi adalah presentasi kepala karena karena

bokong yang lebih besar menempati ruang yang lebih besar di dalam

fundus, yang merupakan diameter terbesar dari uterus dan kepala

berada di bagian bawah yang lebih sempit.

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara kasus

dan teori karena presentasi janin Ny. H normal .

2.Diagnosa masalah

Pada kasus Ny. H, ibu mengatakan sering BAK.

Data subyektif : ibu mengatakan sering BAK sehari ± 7 kali

dalam sehari

Data obyektif : -

Menurut Prawirohardjo (2010), keluhan yang muncul pada

kehamilan trimester III meliputi sering kencing, nyeri pinggang dan

sesak napas akibat pembesaran uterus serta merasa khawatir akan

kelahiran bayinya dan keselamatannya.

Pada TM III sering miksi terjadi karena janin mulai masuk ke

rongga panggul dan menekan kembali kandung kemih (Hani, 2010).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus karena Ny. H mengalami keluhan sering BAK yang muncul

pada kehamilan trimester III.


285

3. Diagnosa kebutuhan

Memberikan KIE tentang penyebab sering BAK.

Data subjektif : ibu mengatakan sering BAK sehari ± 7 kali

dalam sehari.

Menurut Effendy ( 2011), KIE adalah penyampaian pesan

secara langsung ataupun tidak langsung melalui saluran komunikasi

kepada penerima pesan, untuk mendapatkan suatu efek.

Menurut Prawirohardjo (2010), keluhan yang muncul pada

kehamilan trimester III meliputi sering kencing, nyeri pinggang dan

sesak napas akibat pembesaran uterus serta merasa khawatir akan

kelahiran bayinya dan keselamatannya. Pada TM III sering miksi

terjadi karena janin mulai masuk ke rongga panggul dan menekan

kembali kandung kemih (Hani, 2010).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.
286

D. Planning

1. Memberitahu ibu tentang keluhan yang dialaminya adalah hal

yang normal yang disebabkan oleh adanya tekanan uterus karena

turunnya kepala janin sehingga kandung kemih tertekan dan

mengakibatkan frekuensi BAK meningkat

Evaluasi: ibu sudah mengetahui tentang keluhannya.

Pada akhir kehamilan keluhan BAK muncul kembali

dikarenakan kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai

membesar sehingga menimbulkan sering berkemih (Prawirohardjo,

2010).

Faktor penyebab menurut Tyastuti (2016) diantara yaitu uterus

membesar sehingga menekan kandung kemih, ekskresi sodium

(natrium) yang meningkat, perubahan fisiologis ginjal sehingga

produksi urine meningkat.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

2. Memberitahu ibu tentang cara penangananya yaitu dengan selalu

mengosongkan kandung kemih dengan cara saat ada keinginan

untuk BAK ibu segera buang air kecil agar kandung kemih

kosong, mengurangi minum pada malam hari jika mengganggu

ibu dan tetap memperbanyak minum pada siang hari, mengurangi

minuman diuretik seperti teh.


287

Evaluasi: ibu sudah mengetahui cara penanganannya dan ibu

bersedia mempraktikkannya.

Cara meringankan atau mencegah, upayakan untuk tidak

menahan BAK, kosongkan kandung kencing pada saat terasa

ingin BAK. Perbanyak minum pada siang hari untuk menjaga

keseimbangan hidrasi. Apabila BAK pada malam hari tidak

mengganggu tidur maka tidak dianjurkan mengurangi minum

dimalam hari. Ibu hamil dianjurkan untuk membatasi minum

yang mengandung diuretikseperti teh, kopi, cola dengan coffeine

(Tyastuti, 2016).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

3. Memberitahu ibu tentang persiapan persalinan yaitu menentukan

siapa penolong persalinan (Dokter / Bidan), tempat di (RB /

Klinik / RS / Puskesmas), pendamping saat persalinan (Suami /

Keluarga), transportasi yang digunakan (Becak / mobil),

tabungan / uang yang lebih untuk biaya yang tak terduga,

pendonor untuk keadaan gawat darurat, pengambilan keputusan

utama (suami, keluarga).

Evaluasi : ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang persiapan

persalinan dan ibu sudah siap


288

Menurut Depkes RI (2009), persiapan persalinan antara lain :

manyakan kepada bidan dan dokter tanggal perkiraan persalinan.

Suami atau keluarga mendampingi ibu saat periksa kehamilan,

persiapkan tabungan atau dana cadangan untuk biaya persalinan dan

biaya lainnya, suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan

kendaraan sewaktu-waktu diperlukan, rencanakan melahirkan

ditolong oleh dokter atau bidan di fasilitas kesehatan misalnya

seperti (puskesmas, rumah sakit, rumah bersalin). siapkan ktp, kartu

keluarga, kartu jaminan kesehatan nasional dan keperluan lain

untuk ibu dan bayi yang akan di lahirkan, siapkan lebih dari 1 orang

yang memiliki golongan darah yang sama dan bersedia menjadi

pendonor jika diperlukan, pastikan ibu hamil dan keluarga

menyepakati amanat persalinan dalam stiker p4k dan sudah di

tempelkan di depan rumah ibu hamil, membuat rencana pembuatan

keputusan jika terjadi kegawatdaruratan, rencanakan ikut keluarga

berencana (kb) setelah bersalin.

4. Memberitahu ibu tentang tanda – tanda persalinan yaitu

keluarnya lendir darah dari jalan lahir, kenceng – kenceng yang

teratur, jika ibu mengalami hal tersebut segera datang ke tenaga

kesehatan.

Evaluasi: ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang tanda –

tanda persalinan.
289

Menurut puspita (2014), tanda-tanda timbulnya persalinan

antaralain : terjadinya his persalinan, Keluarnya lendir bercampur

darah, Terkadang disertai ketuban pecah, Dilatasi adalah terbukanya

kanalis servikalis secara berangsur-angsur akibat pengaruh his.

Effacement adalah pendataran atau pemendekan kanalis servikalis

yang semula panjang 1- 2 cm menjadi hilang sama sekali, sehingga

tinggal hanya ostium yang tipis seperti kertas.

5. Memberitahu kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang

bergizi seimbang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu

dan bayinya seperti membantu pertumbuhan dan perkembangan

janin. Makanan yang bergizi seimbang diantaranya yaitu yang

mengandung karbohidrat (nasi, gandum, kentang), protein (ikan,

telor, tahu, tempe, kacang - kacangan), vitamin dan mineral (sayur-

sayuran dan buah - buahan), menganjurkan ibu untuk minum air

putih yang cukup ± 8 gelas perhari, misal (nasi satu piring, telor

satu butir, tahu, tempe, sayur bayam satu mangkuk).

Evaluasi: ibu bersedia untuk makan makanan yang bergizi

seimbang.

Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat tenaga,

zat pembangun, dan zat yang sesuai kebutuhan gizi. Untuk

memenuhi tambahan kebutuhan zat tenaga, zat pembangun, dan zat

pengatur diperlukan tambahan konsumsi makanan sehari-hari


290

seperti nasi ½ piring, ikan ½ potong, tempe 1 potong, sayuran ½

mangkok, susu 1 gelas dan air 2 gelas (Manuaba,2009).

Jumlah kalori yang diperlukan bagi ibu hamil setiap harinya

adalah 2.500 kalori (Prawirohardjo, 2010).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

6. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu istirahat siang

±2 jam dan istirahat malam ±8 jam ini bertujuan agar ibu tidak

kelelahan.

Evaluasi : ibu bersedia istirahat yang cukup dan bersedia untuk

mempraktikannya.

Menurut Kusmiyati (2010), wanita hamil dianjurkan untuk

merencanakan istirahat yang teratur khususnya seiring kemajuan

kehamilannya, karena istirahat dan tidur yang teratur dapat

meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan

perkembangan dan pertumbuhan janin.

Tidur pada malam hari selama kurang lebih 8 jam dan istirahat

rileks pada siang hari selama 1 jam. Berdasarkan teori pada wanita

usia reproduksi (20-35 tahun) kebutuhan tidur dalam sehari adalah

sekitar 8-9 jam (Hidayat dan Uliyah, 2008).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.
291

7. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan personal hygiene

yaitu dengan mandi 2x gosok gigi, mengganti celana dalam minimal

2x sehari atau setiap kali basah dan kotor.

Evaluasi : ibu bersedia menjaga kebersihan personal hygiene

Personal hygiene bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi

yang dilakukan dengan menjaga kebersihan tubuh, termasuk pada

daerah kewanitaannya dan payudara, pakaian, tempat tidur dan

lingkungan (Varney, 2007).

Pada ibu hamil karena bertambahnya aktifitas metabolisme

tubuh maka ibu hamil cenderung menghasilkan keringat yang

berlebih, sehingga perlu menjaga kebersihan badan secara ekstra

disamping itu menjaga kebersihan badan juga dapat untuk

mendapatkan rasa nyaman bagi tubuh. Untuk menjaga personal

higiene pada ibu hamil yaitu dengan mandi, perawatan vulva dan

vagina, perawatan gigi, perawatan kuku, dan perawatan rambut

(Tyastuti, 2016).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

8. Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet FE yaitu 90 tablet FE

selama kehamilan yang diberikan oleh bidan, setiap harinya minum

1x1 tablet yang menggandung 60 mg zat besi dengan mengunakan


292

air putih atau bersamaan dengan vitamin C pada malam hari

menjelang tidur untuk mengurangi mual.

Evaluasi : ibu sudah rutin minum tablet FE setiap hari.

Menurut Jannah (2012), pada ibu hamil terjadi hemodilusi atau

hydraemia, darah menjadi encer, terjadi perubahan volume darah

yaitu peningkatan sel darah merah 20 – 30 % dan peningkatan

plasma darah 50 %.

Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi secara

rutin berguna untuk cadangan zat besi, sintesa sel darah merah dan

sintesa darah otot.Setiap tablet tambah darah mengandung FeSO4

320 mg (zat besi 30 mg), minimal 90 tablet selama hamil. Tablet

besi sebaiknya diminum bersamaan dengan minuman yang

mengandung vitamin C untuk mempermudah penyerapan,

sebaliknya tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama dengan

teh, kopi atau susu karena akan menghambat penyerapan zat besi

(Tyastuti, 2016).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

9. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu

kemudian atau segera lakukan pemeriksaan jika ada keluhan.

Evaluasi : ibu bersedia melakukan kunjungan ulang.


293

Jadwal pemeriksaan kehamilan diatur pada saat usia kehamilan

28 minggu, pemeriksaan dilakukan 4 minggu sekali setelah

memasuki usia kehamilan 28 minggu sampai 36 minggu,

pemeriksaan 2 minggu sekali dan setelah usia kehamilan 36 minggu

sampai melahirkan pemeriksaan semakin intensif yaitu satu minggu

sekali. Apabila terdapat komplikasi, kelainan maka diharapkan

segera datang (Tyastuti, 2016).

Menurut Prawirohardjo (2009), kunjungan antenatal sebaiknya

dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, yaitu satu kali

pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua, dan dua kali

pada triwulan ketiga.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

Asuhan kebidanan Ny. H pada kunjungan pertama tidak

didapatkan adanya kesenjangan antara teori dan kasus. Dimana

berdasarkan kompetensi bidan dalam melakukan asuhan

kebidanan pada ibu/wanita hamil selama kehamilan sesuai

Permenkes Nomor 28 Tahun 2017 yaitu dalam pasal 18

menyatakan bahwa dalam penyelenggaraan praktik kebidanan,

bidan memiliki kewenangan untuk memberikan pelayanan

kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak dan pelayanan kesehatan

reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Dalam Pasal 19


294

yaitu menyatakan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 18 huruf a diberikan pada masa sebelum hamil, masa

hamil, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa

antara dua kehamilan. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan konseling pada masa

sebelum hamil, antenatal pada kehamilan normal, persalinan

normal, ibu nifas normal, ibu menyusui; dan konseling pada masa

antara dua kehamilan. Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan

sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan

efisien. Sehingga asuhan yang diberikan dapat berjalan dengan

baik dan aman. Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak

terdapat adanya kesenjangan.


295

DATA PERKEMBANGAN II

1. Kunjungan III tanggal 20 Maret 2019 (40 minggu 5 hari dengan

kehamilan Post Date)

A. Data Subyektif

Ibu mengatakan bernama Ny. H, Ibu mengatakan berumur

22 tahun, Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah

keguguran, Ibu mengatakan cemas karena kehamilan melewati hari

perkiraan lahir ( Post date).

Menurut Kemenkes RI (2016), peran keluarga bagi ibuhamil

sangatlah penting, psikologis ibu hamil yang cenderung lebih labil

dari pada wanita yang tidak hamil memerlukan banyak dukungan

dari keluarga terutama suami.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus karena psikologis ibu cenderung lebih labil.

B. Data Obyektif

1.Pemeriksaaan umum

Pada kasus Ny. H, hasil pemeriksaan umum didapatkan

keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis. Sedangkan,

pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil Tekanan

Darah 120/80 mmHg, Nadi 82 x/menit, Pernapasan 20 x/menit

dan Suhu 36,5 ºC dan usia kehamilan 40 Minggu 5 Hari.


296

Menurut Manuaba (2010), dalam menggali berbagai aspek

kehamilannya dilakukan pemeriksaan umum, meliputi kesan umum

(composmentis, tampak sakit), pemeriksaan tekanan darah, nadi,

pernapasan, suhu, dan berat badan. Kesadaran bertujuan untuk

menilai status kesadaran ibu.

Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu mengalami

kesadaran penuh dengan memberikan respons yang cukup terhadap

stimulus yang diberikan (Hidayat dan Uliyah, 2008).

Menurut Kemenkes RI (2013), rentang tekanan darah normal

orang dewasa sehat adalah 100/60 - 140/90 mmHg, tetapi

bervariasi tergantung usia dan variabel lainnya. Pada selama

kehamilan mengalami peningkatan sekitar 15-20 denyut

permenit. Nilai normal per aksila pada orang dewasa yaitu 35,8-

37,3C.

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori dan

kasus karena pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil

Tekanan Darah 120/80 mmHg, Nadi 82 x/menit, Pernapasan 20

x/menit dan Suhu 36,5 ºC.

Menurut Prawirohardjo (2009), Post date yaitu kehamilan

yang berlangsung 42 minggu atau lebih. Kira – kira 10%

kehamilan berlangsung terus sampai 42 minggu, 4% berlanjut

sampai usia 43 minggu.


297

Dengan demikian terdapat kesenjangan antara teori dan

kasus karena usia kehamilan Ny. H 40 Minggu 5 hari sedangkan

menurut teori dikatakan Post Date jika kehamilan berlangsung

sampai 42 minggu.

2.Pemeriksaan Fisik

Pada Ny. H didapatkan hasil pemeriksaan fisik yaitu muka

tidak oedem, pucat, mata conjungtiva tidak pucat, sklera putih, leher

tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, abdomen tidak ada luka bekas

operasi, tidak ada pembesaran hati, ektermitas atas dingin, genetalia

tidak ada oedema dan varises.

Menurut Irmawati (2014), penilaian pada muka juga ditujukan

untuk melihat ada tidaknya pembengkakan pada daerah wajah serta

mengkaji kesimetrisan bentuk wajah. Pada pemeriksaan mata

terdapat sclera bertujuan untuk menilai warna , yang dalam keadaan

normal berwarna putih. Sedangkan pemeriksaan konjungtiva

dilakukan untuk mengkaji munculnya anemia. Konjungtiva yang

normal berwarna merah muda.

Pada pemeriksaan leher dalam keadaan normal, kelenjar tyroid

tidak terlihat dan hampir tidak teraba sedangkan kelenjar getah

bening bisa teraba seperti kacang kecil (Hidayat dan Uliyah, 2008).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan teori dengan kasus

pada Ny. H karena hasil pemeriksaan fisik yaitu muka tidak oedem,
298

pucat, mata conjungtiva tidak pucat, sklera putih, leher tidak ada

pembesaran kelenjar tyroid, abdomen tidak ada luka bekas operasi,

tidak ada pembesaran hati, ekstremitas atas dingin, genetalia tidak

ada oedema dan varises.

3.Pemeriksaan Kebidanan

a. Palpasi

Pada kasus Ny. H didapatkan hasil TFU 29 cm dengan usia

kehamilan 40 minggu 5 hari.

Menurut Suparmi (2012), palpasi merupakan salah satu cara

yang mengandalkan kemampuan dalam mempergunakan sensasi

tangan dan kemampuan tanda serta mempersiapkan temuan yang

diperoleh.

Menurut Depkes RI (2010), apabila usia kehamilan dibawah 24

minggu dilakukan dengan jari, tetapi apabila kehamilan diatas 24

minggu memakai pengukuran menggunakan Mc Donald yaitu TFU

diukur dengan pita pengukur.

Menurut Prawirohardjo (2009), pengukuran TFU dengan

menggunakan rumus Mc Donald/ dengan pita yaitu umur kehamilan

36-40 minggu TFU normalnya 36 cm (± 2 cm) sedangkan dengan

menggunakan jari Setinggi PX sampai 2 jari dibawah PX.

Dengan demikian ditemukan ada kesenjangan antara teori dan

kasus yaitu TFU Ny. H ialah 29 cm sedangkan secara normal TFU


299

nya 36 cm (± 2 cm) dan apabila menggunakan jari normalnya

setinggi PX.

Leopold I didapatkan bagian fundus teraba bulat, lunak, tidak

melenting yaitu bokong, Leopold II perut kanan ibu teraba seperti

papan, panjang, tahan kuat yaitu punggung janin (puka), Leopold

III segmen bawah rahim teraba bulat, keras, melenting yaitu kepala,

kepala tidak dapat di goyangkan, dan Leopold IV divergen

(kepala sudah masuk PAP)

Menurut Tyastuti (2016), melakukan palpasi abdomen untuk

mengetahui letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala janin

kalau usia kehamilan > 36 minggu.

Menurut Mae (2014), tujuan pemeriksaan abdomen adalah

untuk menentukan letak dan presentasi janin, tinggi fundus uteri

dan denyut jantung janin. Pemeriksaan abdomen dengan palpasi

dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan Leopold I sampai

dengan Leopold IV.

Menurut Kemenkes RI (2013), Pada primigravida bagian

terbawah tidak masuk ke pintu atas panggul pada usia > 36 minggu.

Sehingga tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus

karena dengan dilakukan palpasi dapat mengetahui letak dan

presentasi janin.
300

4.Auskultasi

Pada kasus Ny. H DJJ 126 x/menit, teratur.

Denyut jantung janin normal adalah antara 120-160 x/menit

(Kemenkes, 2013).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus karena djj 126x/menit dalam batas normal.

C. ASSESMENT

1.Diagnosa nomenklatur

Setelah dilakukan pengkajian pada kasus ibu hamil Ny. H baik

anamnesa maupun pemeriksaan maka didapatkan diagnosa Ny. H

umur 22 tahun, G1P0A0, UK 40 minggu 5 hari, janin tunggal, hidup

intrauterin, puka (punggung kanan), letak memanjang, preskep,

divergen (masuk PAP), dengan kehamilan TM III Post Date.

Data subyektif : ibu mengatakan mengalami kehamilan

melewati hari perkiraan lahir (Post Date)

Data Obyektif : Pemeriksaan umum dalam batas normal,

pemeriksaan fisik ditemukan muka pucat, ekstremitas atas dingin.

Pemeriksaan kebidanan TFU : 31 cm, L1 bokong, L2 puka, L3

kepala, L4 divergen.

Leopold I bagian fundus teraba bulat, tidak melenting yaitu

bokong janin, Leopold II pada sebelah kanan teraba keras, panjang

seperti papan yaitu punggung, Leopold III teraba bulat, melenting,


301

dan keras yaitu kepala janin, pada akhir trimester III menjelang

persalinan, presentasi normal janin adalah presentasi kepala dengan

letak memanjang dan sikap janin fleksi (Ananda, 2017).

Dengan demikian tidak ditemukan adanya kesenjangan antara

teori dan kasus karena presentasi janin Ny. H normal.

2.Diagnosa masalah

Pada kasus Ny. H ditemukan adanya diagnosa masalah yaitu

cemas.

Data Subyektif : Ibu mengatakan cemas karena kehamilannya

melewati hari perkiraan lahir

Data Obyektif : pemeriksaan fisik, muka pucat, ektremitas atas

dingin.

Masalah adalah segala sesuatu yang menyimpang sehingga

kebutuhan klien terganggu, kemungkinan mengganggu

kehamilan atau kesehatan tetapi tidak masuk dalam diagnosa

(Rukiyah, 2009).

Menurut Heriani (2016), Paritas ibu primigravida kehamilan

pertama kali yang dialaminya merupakan pengalaman pertama

sehingga ibu akan cenderung merasa cemas dengan kehamilannya.


302

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

3.Diagnosa kebutuhan

Berikan KIE tentang support mental ibu terhadap kehamilannya

melewati hari perkiraan lahir.

Data subyektif : ibu mengatakan cemas karena kehamilannya

melewati hari perkiraan lahir.

Data obyektif : -

Menurut Effendy ( 2011), KIE adalah penyampaian pesan

secara langsung ataupun tidak langsung melalui saluran

komunikasi kepada penerima pesan, untuk mendapatkan suatu

efek.

Menurut Prawirohardjo (2009), kehamilan post date dapat

berpengaruh buruk pada kondisi ibu maupun janin. Support

keluarga, peran keluarga bagi ibu hamil sangatlah penting,

psikologis ibu hamil yang cenderung lebih labil dari pada wanita

yang tidak hamil memerlukan banyak dukungan dari keluarga

terutama suami (Tyastuti, 2016).


303

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus karena ibu mengalami cemas dalam menghadapi Post

Date.

4.Diagnosa potensial

Pada Kasus Ny. H diagnosa nomenklaturnya ialah kehamilan

Post Date sehingga diagnosa potensial yang muncul ialah :

a) Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik

b) Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat,

gawat janin sampai bayi meninggal

c) Keluarnya mekoneum yang dapat menyebabkan aspirasi

mekoneum.

Menurut Prawirohardjo (2009), Komplikasi kehamilan lewat

waktu (Post Date / Postterm) antara lain:

d) Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik

e) Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat,

gawat janin sampai bayi meninggal

f) Keluarnya mekoneum yang dapat menyebabkan aspirasi

mekoneum.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

5. Antisipasi Tindakan Segera

Pada kasus Ny. H dilakukan Kolaborasi dengan dokter Sp.Og.


304

Kolaborasi yaitu bidan dan dokter bersama-sama mengatur

perawatan kesehatan wanita yang mengalami komplikasi medis,

ginekologi atau obstetri.

Menurut Yanti (2015), tindakan segera, baik tindakan

intervensi, tindakan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan

lain, atau rujukan berdasarkan kondisi klien.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus

karena bidan melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.

D. PLANNING

1. Memberitahu ibu tentang kecemasan mengenai kehamilannya

melewati hari perkiraan lahir (Post date) yaitu kehamilan yang

berlangsung 42 minggu atau lebih. Kira – kira 10% kehamilan

berlangsung terus sampai 42 minggu, 4% berlanjut sampai usia

43 minggu.

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tentang keluhannya dan ibu

sudah merasa tenang

Support keluarga, peran keluarga bagi ibu hamil sangatlah

penting, psikologis ibu hamil yang cenderung lebih labil dari pada

wanita yang tidak hamil memerlukan banyak dukungan dari

keluarga terutama suami (Tyastuti, 2016).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.
305

2. Kolaborasi dengan dokter Sp.Og.

Evaluasi : kolaborasi telah dilakukan dengan hasil :

Pasang infus Rl 20 tpm

Gastrul 1/8 tablet / Forniks posterior pada jam 20.00

WIB

Kolaborasi yaitu bidan dan dokter bersama-sama mengatur

perawatan kesehatan wanita yang mengalami komplikasi medis,

ginekologi atau obstetri.

Menurut Yanti (2015), tindakan segera, baik tindakan

intervensi, tindakan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan

lain, atau rujukan berdasarkan kondisi klien.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

3. Memberikan terapi sesuai advice dokter

Evaluasi : pemasangan infus RL 20 tpm

Menurut Adrian (2015), tujuan utama pemberian infus

adalah memberikan sejumlah cairan kedalam tubuh pasien

sebagai pengganti cairan tubuh dan elektrolit yang hilang akibat

penyakit atau prosedur medis tertentu.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.
306

4. Memberitahu ibu tentang tanda – tanda persalinan yaitu

keluarnya lendir darah dari jalan lahir, kenceng – kenceng yang

teratur, jika ibu mengalami hal tersebut segera datang ke tenaga

kesehatan.

Evaluasi: ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang tanda –

tanda persalinan dan ibu belum mengalami tanda –

tanda persalinan tersebut.

Menurut Sondakh (2013), tanda dan gejala persalinan yaitu

diantaranya kontraksi uterus yang semakin lama semakin sering,

cairan lendir bercampur darah (show) melalul vagina dapat disertai

ketuban pecah. Dan menurut Baety (2011), tanda persalinan sudah

dekat yaitu diantaranya terjadi Lightening yaitu kepala turun

memasuki PAP terutama primigravida menjelang minggu ke-36,

terjadi his permulaan.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

5. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum saat tidak ada kontraksi

Evaluasi :ibu bersedia untuk makan dan minum

Menurut Muaris (2008), dalam menghadapi persalinan

dibutuhkan tenaga ibu untuk mengejan, maka dianjurkan untuk

makan dan minum sedikit- sedikit tapi sering.Dengan demikian,

maka tidak ada kesenjangan antara teori dengan kasus.


307

6. Memberikan terapi sesuai advice dokter

Evaluasi : gastrul 1/8 tablet / Forniks Posterior sudah diberikan dan

pantau kontraksi

Menurut teori Nugroho (2012), metode induksi secara

farmakologis meliputi : prostaglandin (PEG, misoprostol) dan

oksitosin. Misoprostol dapat diberikan secara vaginal, oral (buccal)

atau sublingual. Misoprostol tidak dapat digunakan untuk stimulasi

dan tidak boleh digunakan untuk induksi persalinan dengan riwayat

operasi caesar (SC).

Asuhan kebidanan Ny. H pada kunjungan pertama tidak

didapatkan adanya kesenjangan antara teori dan kasus. Dimana

berdasarkan kompetensi bidan dalam melakukan asuhan

kebidanan pada ibu/wanita hamil selama kehamilan sesuai

Permenkes Nomor 28 Tahun 2017 yaitu dalam pasal 18

menyatakan bahwa dalam penyelenggaraan praktik kebidanan,

bidan memiliki kewenangan untuk memberikan pelayanan

kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak dan pelayanan kesehatan

reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Dalam Pasal 19

yaitu menyatakan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 18 huruf a diberikan pada masa sebelum hamil, masa

hamil, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa

antara dua kehamilan. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana


308

dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan konseling pada masa

sebelum hamil, antenatal pada kehamilan normal, persalinan

normal, ibu nifas normal, ibu menyusui; dan konseling pada masa

antara dua kehamilan. Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan

sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan

efisien. Sehingga asuhan yang diberikan dapat berjalan dengan

baik dan aman. Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak

terdapat adanya kesenjangan.


309

A. PERSALINAN

Tanggal/Jam : 21-3- 2019/ 05:00 WIB

I.PENGUMPULAN DATA

A. DATA SUBYEKTIF

1.Alasan Datang

Setelah dilakukan pengkajian, alasan datang Ny. H yaituIbu

mengatakan dapat rujukan dari puskesmas Slawi dengan hasil

pemeriksaan : ibu mengalami kehamilan melewati hari perkiraan lahir,

ibu belum merasakan kenceng – kenceng teratur, ibu belum keluar

cairan dari jalan lahir, ibu belum ada pembukaan.

Menurut puspita (2014), tanda-tanda timbulnya persalinan

antaralain : terjadinya his persalinan, Keluarnya lendir bercampur

darah, Terkadang disertai ketuban pecah, Dilatasi adalah terbukanya

kanalis servikalis secara berangsur-angsur akibat pengaruh his.

Effacement adalah pendataran atau pemendekan kanalis servikalis

yang semula panjang 1- 2 cm menjadi hilang sama sekali, sehingga

tinggal hanya ostium yang tipis seperti kertas.

Dengan demikian, ada kesenjangan antara teori dengan kasus

karena Ny. H belum mengalami tanda – tanda persalinan.


310

2. Keluhan Utama

Berdasarkan data pengkajian didapatkan alasan datang Ny. H

yaitu ibu mengatakan kehamilannya sudah melewati hari perkiraan

lahir. Ibu mengatakan belum merasakan kenceng – kenceng teratur.

Ibu mengatakan belum keluar cairan dari jalan lahir.

Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien

datang ke fasilitas kesehatan (Romauli, 2011).

Menurut Sondakh (2013), tanda dan gejala persalinan yaitu

diantaranya kontraksi uterus yang semakin lama semakin sering dan

teratur dengan jarak kontraksi yang pendek, yang mengakibatkan

perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10

menit),cairan lendir bercampur darah (show) melalul vagina.

Dengan demikian, antara teori dengan kasus ada kesenjangan

karena Ny. H belum mengalami tanda dan gejala persalinan.

B. Data Psikologis

Berdasarkan pengkajian pada data psikologis Ny. H, ibu

mengatakan sudah siap untuk menghadapi persalinan.

Menurut Sondakh (2013), dalam mempermudah dan

memperlancar proses persalinan diperlukan beberapa faktor


311

pendukung, salah satunya adalah peran seorang pendamping. Suami

merupakan pendamping yang sangat penting karena dapat membantu

jalannya persalinan dengan memberikan dukungan semangat terutama

saat kelelahan/kesakitan, memijat (masase) bagian tubuh belakang agar

ibu rileks dan mengalihkan perhatian ibu dari rasa nyeri, memastikan

ibu merasa nyaman dengan menyediakan bantal, minum, dan

makanan, membantu menopang saat ibu mengejan.

Oleh karena itu, tidak ada kesenjangan antara teori dengan kasus

karena suami dan keluarga memberikan dukungan untuk menghadapi

persalinan.

C. DataSosial Budaya

Berdasarkan data pengkajian yang dilakukan pada Ny. H, ibu

mengatakan tidak menganut adat istiadat setempat seperti ibu

melahirkan di lantai.

Penyampaian mengenai pengaruh adat dapat melalui berbagai

teknik, misalnya melalui media massa, pendekatan tokoh masyarakat,

penyuluhan menggunakan media efektif (Jannah, 2012).

Menurut Sujiyatini, dkk (2011), menyiapkan kelahiran berupa

ruangan, ruangan hangat dan bersih, penerangan yang cukup, tempat

tidur yang cukup bersih untuk ibu.

Dalam penjelasan di atas Ny. H tidak menganut adat istiadat

setempat seperti ibu melahirkan di lantai tetapi Ny. H melahirkan di


312

tempat yang telah disiapkan oleh bidan sehingga tidak ada kesenjangan

antara teori dengan kasus.

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

Pada kasus Ny. H, hasil pemeriksaan umum didapatkan keadaan umum

ibu baik, kesadaran composmentis. Sedangkan, pada pemeriksaan tanda-

tanda vital didapatkan hasil Tekanan Darah 120/80 mmHg, Nadi

80x/menit, Pernapasan 20 x/menit dan Suhu 36,5 C.

Menurut Manuaba (2010), dalam menggali berbagai aspek

kehamilannya dilakukan pemeriksaan umum, meliputi kesan umum

(composmentis, tampak sakit), pemeriksaan tekanan darah, nadi,

pernapasan, suhu, dan berat badan. Kesadaran bertujuan untuk menilai

status kesadaran ibu.

Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu mengalami

kesadaran penuh dengan memberikan respons yang cukup terhadap

stimulus yang diberikan (Hidayat dan Uliyah, 2008).

Menurut Kemenkes RI (2013), rentang tekanan darah normal orang

dewasa sehat adalah 100/60 - 140/90 mmHg, tetapi bervariasi

tergantung usia dan variabel lainnya. Pada selama kehamilan mengalami

peningkatan sekitar 15-20 denyut permenit. Nilai normal per aksila pada

orang dewasa yaitu 35,8-37,3C.


313

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus

karena Tekanan Darah 120/80 mmHg, Nadi 80x/menit, Pernapasan 20

x/menit dan Suhu 36,5 C dalam batas normal.

2. Pemeriksaan Fisik

Pada Ny. H didapatkan hasil pemeriksaan fisik yaitu muka tidak oedem,

pucat, mata conjungtiva tidak pucat, sklera putih, leher tidak ada

pembesaran kelenjar tyroid, abdomen tidak ada luka bekas operasi, tidak

ada pembesaran hati, pembesaran uterus sesuai dengan umur kehamilan,

genetalia tidak ada oedema dan varises, ektremitas atas dingin.

Pada pemeriksaan mata terdapat sclera bertujuan untuk menilai warna ,

yang dalam keadaan normal berwarna putih. Sedangkan pemeriksaan

konjungtiva dilakukan untuk mengkaji munculnya anemia. Konjungtiva

yang normal berwarna merah muda. Pada pemeriksaan leher dalam

keadaan normal, kelenjar tyroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba

sedangkan kelenjar getah bening bisa teraba seperti kacang kecil (Hidayat

dan Uliyah, 2008).

Menurut Irmawati (2014), keadaan umum dikaji untuk mengetahui

kesadaran umum klien, apakah klien memperlihatkan respon yang baik

terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak

mengalami ketergantungan dalam berjalan.

Dengan demikian pada kasus Ny. H tidak ada kesenjangan antara teori

dan kasus karena tidak ditemukan adanya kelainan pada Ny. H.


314

3. Pemeriksaan Kebidanan

a. Inspeksi

Pada kasus Ny. H, pemeriksaan kebidanan dengan inspeksi didapatkan

hasil muka: tidak oedem dan tidak terdapat cloasma, mammae: putting

susu menonjol, ASI belum keluar, kebersihan terjaga, abdomen: tidak

ada luka bekas operasi, dan tidak ada pembesaran hati, genetalia: tidak

ada oedem vulva, terdapat pengeluaran lendir darah.

Menurut Sondakh (2013), tanda dan gejala persalinan yaitu

diantaranya kontraksi uterus yang semakin lama semakin sering dan

teratur dengan jarak kontraksi yang pendek, yang mengakibatkan

perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10

menit),cairan lendir bercampur darah (show) melalul vagina.

Menurut Rukiah (2009), Gejala persalinan jika sudah dekat akan

menyebabkan kekuatan his semakin sering terjadi dan teratur dengan

jarak kontraksi semakin pendek, dengan terjadi pengeluaran tanda

seperti lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-

robekan kecil pada serviks, terkadang ketuban pecah dengan sendirinya,

pada pemeriksa dalam didapat perlunakan serviks pendataran serviks

dan terjadi pembukaan serviks.


315

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus

karena pada genetalia Ny. H terdapat pengeluaran lendir darah.

b. Auskultasi

Pada kasus Ny. H DJJ 132x/menit, teratur.

Denyut jantung janin normal adalah antara 120-160 x/menit

(Kemenkes, 2013).

Menghitung denyut jantung janin (djj) dengan menggunakan

stetoscope monocular atau stetoscope leanec, bisa juga dengan Dopller

biasanya dilakukan oleh bidan dengan cara tempelkan stetoscope /

dopller pada perut ibu bagian punctum maximum, bedakan djj dengan

denyut nadi ibu dengan cara meraba nadi pada pergelangan tangan ibu,

kemudian hitung denyut jantung janin satu menit penuh (Tyastuti,

2016).

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus

karena Djj 132x/menit dalam batas normal.

c. Kontraksi

Pada kasus Ny. H kontraksinya adalah 2 kali dalam 10 menit

lamanya 15 detik.

Menurut Sungkar (2015), kontraksi adalah hal yang umum

terjadi menjelang persalinan. Yaitu proses penekanan gerakan bayi pada

area rahim, sehingga ibu akan merasakan sakit pada daerah perut,
316

sebagai akibat adanya peregangan otot pada bagian tersebut. Biasanya

kontraksi merupakan tanda-tanda bahwa bayi akan lahir. Kontraksi

menyebabkan serviks terbuka sehingga bayi terdorong menuju jalan

lahir.

Menurut Baety (2011), kontraksi uterus dianggap adekuat bila

terjadi 3x/ lebih dalam 10 menit lama 40 detik/ lebih).

Dengan demikian antara teori dan kasus ditemukan adanya

kesenjangan karena His Ny. H 2x10’15”.

4. Px.Dalam

Tanggal :20-03–2019, pukul :05.00 WIB

Hasil :

Porsio :tebal,lunak

Pembukaan :1cm Titik :UUKkanandepan

Penipisan :10% Moulage :tidakada

Selaputketuban :(+) Rembes Penurunan :HI+ 4/5

Bagianterendah :kepala HIS : 2x10’ 15”

Menurut Manuaba (2010), pemeriksaan dalam untuk menilai :

pembukaan, perlunakan serviks, ketuban, penurunan, bagian terendah,

tumor yang menyertai bagian terendah.

Menurut teori, kala satu persalinan dimulai ketika telah tercapai

kontraksi uterus dengan frekuensi, intensitas dan durasi yang cukup untuk
317

menghasilkan pendataran dan dilatasi serviks yang progresif

(Prawirohardjo, 2009).

Dengan demikian, tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan

kasus pada Ny. H karena dilakukan pemeriksaan pembukaan, perlunakan

serviks, ketuban, penurunan, bagian terendah.

C. ASSESMENT

1.Diagnosa nomenklatur

Setelah dilakukan pengkajian pada Ny. H maka diperoleh hasil dari

data subyektif dan obyektif dan didapatkan diagnosa Ny. H umur 22 tahun,

G1P0A0, umur kehamilan 40 minggu 5 hari, janin tunggal, hidup

intrauterin, puka (punggung kanan), letak memanjang, preskep, divergen 4/5

dengan persalinan post date induksi.

Data Subyektif : ibu mengatakan sudah merasakan kenceng –

kenceng, ibu mengatakan keluar cairan dari jalan lahir.

Data obyektif : Pada pemeriksaan dalam pada Ny. H didapatkan

porsio tebal,lunak, pembukaan 1cm, penipisan 10%, moulage tidak ada,

selaputketubanutuh, penurunan HI+, bagianterendah kepala, HIS 2x10’ 15”

Menurut puspita (2014), tanda-tanda timbulnya persalinan antara

lain: terjadinya his persalinan, Keluarnya lendir bercampur darah, Terkadang

disertai ketuban pecah, Dilatasi adalah terbukanya kanalis servikalis secara

berangsur-angsur akibat pengaruh his.


318

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara kasus dan teori

karena Ny. H sudah ada tanda- tanda persalinan.

Menurut Prawirohardjo (2009), Kehamilan lewat waktu (Post

Date) adalah kehamilan yang umur kehamilannya lebih dari 42 minggu.

Masalah penentuan usia kehamilan tidak selalu mudah.

Dengan demikian, maka ada kesenjangan antara teori dengan kasus

karena usia kehamilan Ny. H 40 Minggu 5 hari.

7. Diagnosa masalah

Pada kasus Ny. H ditemukan adanya diagnosa masalah yaitu

kecemasan

Data subjektif : Ibu mengatakan cemas dengan kondisinya.

Data objektif : -

Menurut Heriani (2016), Paritas ibu primigravida kehamilan pertama

kali yang dialaminya merupakan pengalaman pertama sehingga ibu akan

cenderung merasa cemas dengan kehamilannya.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus karena Ny. H merasa cemas.

8. Diagnosa kebutuhan

Berikan KIEtentang support mental untuk mengatasi rasa cemasnya.

Data subjektif : ibu mengatakan cemas dengan proses persalinannya.

Data objekrif : -
319

Menurut Effendy ( 2011), KIE adalah penyampaian pesan secara

langsung ataupun tidak langsung melalui saluran komunikasi kepada

penerima pesan, untuk mendapatkan suatu efek.

Perumusan masalah disesuaikan dengan kondisi ibu. Rasa takut,

cemas, khawatir dan rasa nyeri merupakan permasalahan yang dapat muncul

pada proses persalinan (Varney,dkk, 2007).

Kebutuhan ibu bersalin menurut Leaser & Keanne dalam Varney

(1997) adalah pemenuhan kebutuhan fisiologis (makan, minum, oksigenasi,

eliminasi, istrirahat dan tidur),kebutuhan pengurangan rasa nyeri, support

person (atau pendampingan dari orang dekat), penerimaan sikap dan tingkah

laku serta pemberian informasi tentang keamanan dan kesejahteraan ibu dan

janin.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus.

9. Diagnosa potensial

Pada Kasus Ny. H diagnosa nomenklaturnya ialah kehamilan Post

Date sehingga diagnosa potensial yang muncul ialah :

a) Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik

b) Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat, gawat janin

sampai bayi meninggal

c) Keluarnya mekoneum yang dapat menyebabkan aspirasi mekoneum.


320

Menurut Prawirohardjo (2009), Komplikasi kehamilan lewat waktu

(Post Date / Postterm) antara lain:

a) Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik

b) Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat, gawat janin

sampai bayi meninggal

c) Keluarnya mekoneum yang dapat menyebabkan aspirasi mekoneum.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.

10. Antisipasi tindakan segera

Pada kasus Ny. H dilakukan antisipasi tindakan segera kolaborasi

dengan dokter Sp.Og.

Kolaborasi yaitu bidan dan dokter bersama-sama mengatur perawatan

kesehatan wanita yang mengalami komplikasi medis, ginekologi atau

obstetri.

Menurut Yanti (2015), tindakan segera, baik tindakan intervensi,

tindakan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, atau rujukan

berdasarkan kondisi klien.

Menurut teori Nugroho (2012), metode induksi secara farmakologis

meliputi : prostaglandin (PEG, misoprostol) dan oksitosin. Misoprostol dapat

diberikan secara vaginal, oral (buccal) atau sublingual. Misoprostol tidak

dapat digunakan untuk stimulasi dan tidak boleh digunakan untuk induksi

persalinan dengan riwayat operasi caesar (SC). Misoprostol dapat digunakan

untuk pematangan serviks atau induksi persalinan. Dosis yang digunakan 25


321

- 50 µg dan ditempatkan di dalam forniks posterior vagina. Pada augmentasi

persalinan, hasil dari penelitian awal menunjukkan bahwa Misoprostol yang

diberikan dengan interval 4 jam untuk maksimum dua dosis.

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus

karena pada Ny. H diberikan Misoprostol 1/8 tablet / Forniks Posterior.

D.Planning

1. Lakukan kolaborasi dengan dokter Sp.Og.

Evaluasi : kolaborasi telah dilakukan dengan hasil :

gastrul 1/8 tablet / Forniks Posterior yang kedua pukul 05.00 WIB.

Menurut fitri (2017) kolaborasi dengan dr. SpOG untuk mencegah

terjadinya kegawatdaruratan.

2. Memberikan terapi sesuai Advice dokter

Evaluasi : Telah diberikan :

Gastrul 1/8 tablet / Forniks Posterior masuk yang kedua

Menurut teori Nugroho (2012), metode induksi secara farmakologis

meliputi : prostaglandin (PEG, misoprostol) dan oksitosin. Misoprostol dapat

diberikan secara vaginal, oral (buccal) atau sublingual. Misoprostol tidak

dapat digunakan untuk stimulasi dan tidak boleh digunakan untuk induksi

persalinan dengan riwayat operasi caesar (SC).

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori dengan kasus

karena Ny. H telah diberi Gastrul 1/8 tablet / Forniks Posterior.


322

3. Memberikan support mental pada ibu bahwa ibu sudah masuk dalam

proses persalinan dan ibu tidak perlu khawatir dan cemas karena rasa sakit

yang ibu rasakan adalah proses yang alami dan normal.

Evaluasi : ibu sudah terlihat tenang

Rasa takut, cemas, khawatir dan rasa nyeri merupakan permasalahan

yang dapat muncul pada proses persalinan (Varney, dkk, 2007).

Kebutuhan ibu bersalin menurut Leaser & Keanne dalam Varney

(1997) adalah pemenuhan kebutuhan fisiologis (makan, minum, oksigenasi,

eliminasi, istrirahat dan tidur),kebutuhan pengurangan rasa nyeri, support

person (atau pendampingan dari orang dekat), penerimaan sikap dan tingkah

laku serta pemberian informasi tentang keamanan dan kesejahteraan ibu dan

janin.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus.

4. Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri tujuannya untuk mempercepat

turunnya kepala janin.

Evaluasi : ibu bersedia untuk miring kiri

Supaya pembukaan bertambah, miring ke kiri tujuannya untuk

mempercepat turunnya kepala janin (Handayani, 2017).

Menurut Prawirohardjo (2009), asuhan kebidanan selama persalinan

normal yaitu mengatur aktifitas dan posisi ibi dimana ibu diperbolehkan

melakukan aktifitas sesuai dengan kesanggupannya dan posisi sesuai


323

keinginan ibu, namun bila ibu ingin di tempat tidur sebaiknya tidak

dianjurkan tidur dalam posisi terlentang lurus.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus.

5. Menganjurkan ibu untuk tidak mengejan karena pembukaan belum

lengkap, jika ada kontraksi sebaiknya ibu tarik nafas panjang melalui

hidung dan mengeluarkan lewat mulut.

Evaluasi : ibu tidak mengejan dan tarik nafas panjang saat ada kontraksi

Menurut Prawirohardjo (2009), ibu diminta menarik napas

panjang, tahan napas sebentar, kemudian dilepaskan dengan cara meniup

sewaktu ada his. Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus.

6. Memberikan asuhan sayang ibu:

a. Menghadirkan keluarga untuk mendampingi ibu

b. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum saat tidak ada kontraksi

c. Menganjurkan keluarga untuk mempersiapkan persiapan persalinan

d. Menganjurkan ibu untuk BAK jika kandung kemih terasa penuh dan

BAB bila perlu

Evaluasi : ibu sudah merasa nyaman setelah asuhan sayang ibu diberikan

Menurut handayani (2017), yaitu pada kala I yaitu dengan

menghadirkan pendamping ibu seperti suami maupun anggota keluarga

selama proses persalinan, memfasilitasi ibu untuk buang air kecil.


324

Sedangkan menurut Prawirohardjo (2009), yaitu dengan memberikan

asuhan pemberian cukup minum untuk memenuhi kebutuhan energi dan

mencegah dehidrasi.

7. Menyiapkan partus set (klem tali pusat, gunting tali pusat, talipusat)

heacting set (pinset, benang, jarum)dan obat-obatan esensial (oxytosin),

spuit.

Evaluasi : partus set sudah disiapkan

Berdasarkan teori menurut Prawirohardjo (2009), dalam

penoolong persalinan yang perlu disiapkan yaitu klem, gunting tali

pusat, pengikat talu pusat DTT, kateter, gunting episiotomi, setengah

kocher, sarung tangan DTT, kapas basah DTT, kain kassa DTT, alat

suntik, deLee.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori dengan

kasus.

8. Melakukan pengawasan 10 meliputi keadaan umum, tekanan darah,

nadi, suhu, respirasi, kontraksi, DJJ, tanda bandle ring, PPV dan

pembukaan.

Dengan demikian, maka tidak ada kesenjangan antara teori

dengan kasus.

kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu /

wanita hamil selama kehamilan sesuai Permenkes Nomor 28 Tahun

2017 yaitu dalam pasal 19 pada ayat (1) point c persalinan normal, ayat
325

(2) point d penanganan kegawat – daruratan, dilanjutkan dengan

perujukan.

Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan sesuai dengan

perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan efisien. Sehingga

asuhan yang diberikan dapat berjalan dengan baik dan aman. Dengan

demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.
326

KALA II NORMAL

Tanggal/Jam : 21-3- 2019/ 08:00 WIB

A. Data Subyektif

Ibu mengatakan perutnya kenceng-kenceng semakin sering, ibu

mengatakan ingin meneran, ada tekanan pada anus.

Menurut Johariyah (2012), His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3

menit dengan durasi 50 sampai 100 detik.

Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008), tanda gejala persalinan kala II,

yaitu:

1. Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

2. Ibu merasakan ada peningkatan tekanan pada rektum/ vagina.

3. Perineum menonjol.

4. Vulva, vagina, sfingter ani membuka.

5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.

Kala II dimulai sejak pembukaan lengkap dan berakhir dengan lahirnya

bayi. Lama Kala II pada primigravida 1 ½ jam, pada multigravida ½ jam

(Johariyah, 2012).

Dengan demikian, keluhan yang dirasakan Ny. H masih dalam kategori

fisiologis dan merupakan tanda gejala kala II. Sehingga, pada kasus Ny. H tidak

ditemukan adanya kesenjangan antara kasus dan teori.


327

B. Data Obyektif

Pada kasus Ny. H, tanggal 21 Maret 2019 pukul 08.00 WIB dilakukan

pemeriksaan dengan hasil pembukaan serviks 10 cm, penipisan 100 %, selaput

ketuban pecah, bagian terendah kepala, titik petunjuk UUK, tidak terdapat

mollage, penurunan di Hodge III+, tidak ada bagian yang menumbung.

Menurut teori, persalinan kala dua dimulai ketika pembukaan serviks

sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi (JNPK-KR Depkes

RI, 2008).

Lama Kala II pada primigravida 120 menit dan pada multigravida 60

menit (Jannah, 2012).

Dengan demikian, pada kasus Ny. H tidak ditemukan adanya

kesenjangan antara teori dan kasus karena pada kasus Ny. H kala II pada

primigravida lamanya yaitu 15 menit.

C. Asessment

Ny. H Umur 22 tahun G1P0A0 usia kehamilan 40 minggu 5 hari, janin

tunggal hidup intrauterin, letak memanjang, punggung kanan, presentasi kepala,

divergen, 1/5 dengan inpartu kala II normal.

Hal ini sesuai teori yang menjelaskan kala II dimulai dari pembukaan

lengkap (10 cm) sampai lahirnya bayi. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam

pada primi dan 1 jam pada multi. Tanda gejala persalinan kala II: Ibu

merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi, ibu

merasakan ada peningkatan tekanan pada rektum/ vagina, perineum menonjol,


328

vulva, vagina, spinter ani membuka, meningkatnya pengeluaran lendir darah.

Diagnosa persalinan kala II dapat ditegakkan atas dasar hasil pemeriksaan

dalam yang menunjukkan pembukaan serviks telah lengkap dan terlihat bagian

kepala bayi pada introitus vagina atau kepala janin sudah tampak di vulva

dengan diameter 5-6 cm (croning) (Hidayat dan Sujiatini, 2010).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

D. Planning

Pada kasus Ny. H pada kala II, asuhan diberikan berdasarkan

kebutuhan klien, asuhan yang diberikan yaitu : meletakkan handuk / kain kering

dan bersih di atas perut ibu dengan evaluasi sudah diletakkan kain diatas perut

ibu. Penolong menggunakan APD dengan evaluasi penolong sudah

menggunakan skort (celemek). Melakukan pertolongan persalinan : (memakai

sarung tangan steril atau DTT dengan evaluasi penolong menggunakan sarung

tangan DTT.

Penolong memimpin ibu untuk meneran disaat ada his dan beristirahat

dikala his berkurang (relaksasi) dengan evaluasi ibu bisa mengikuti anjuran

cara meneran yang baik dan benar. Saat kepala membuka vulva dengan

diameter 5 – 6 cm menggunakan 1/3 dari alas bokong untuk menahan perineum

dengan tangan kanan, tangan kanan penolong menahan perineum tanpa

menghambat lahirnya kepala dan tangan kiri penolong menahan di oksiput

kepala janin untuk mencegah hiperdefleksi dengan meletakkan bayi tengkurap


329

di dada ibu untuk kontak kulit ibu bayi. Meluruskan bahu bayi sehingga dada

bayi menempel di dada ibu. Mengusahakan kepala bayi berada diantara

payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting susu atau areola mamae

ibu, dengan evaluasi IMD sedang dilakukan.

Pada persalinan kala II Ny. H berlangsung selama 15 menit.

Menurut Prawirohardjo (2009), proses biasanya lamanya waktu

persalinan kala II secara fisiologis pada primigravida berlangsung 2 jam dan 1

jam pada multi.

Menurut Damayanti (2014), kala II adalah kala pengeluaran bayi,

dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Uterus dengan kekuatan

hisnya ditambah kekuatan meneran akan mendorong bayi hingga lahir.

Lamanya proses ini berlangsung selama 1 ½-2 jam pada primigravida dan ½ - 1

jam pada multigravida.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus pada

Ny. H karena Ny. H persalinan berlangsung 15 menit.

Pada kasus Ny. H bayi lahir spontan pukul 08.15 WIB, menangis kuat,

warna kulit kemerahan, gerakan aktif. Jenis kelamin laki – laki, berat badan

2700 gram, panjang badan 49 cm.

Bayi yang sehat akan menangis kuat, warna kulit kemerahan, gerakan

aktif (Hidayat dan Sujiyatini,2010).

Menurut Prawirohardjo (2009), Komplikasi kehamilan lewat waktu

(Post Date / Postterm) antara lain:


330

a) Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik

b) Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat, gawat janin

sampai bayi meninggal

c) Keluarnya mekoneum yang dapat menyebabkan aspirasi mekoneum.

Dengan demikian terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena pada

komplikasi Post Date tidak terjadi pada bayi.

Ketika bayi Ny. H lahir, pengikatan tali pusat dilakukan dengan

menggunakan umbilikal dalam keadaan steril dan dibungkus dengan kassa

kering steril.

Menurut Affandi (2008), dimana setelah bayi dikeringkan dilakukan

perawatan tali pusat dengan tidak membungkus putung tali pusat atau mengoles

cairan atau bahan apapun ke putung tali pusat. Dengan melakukan perawatan

tali pusat yang baik dan benar maka tetanus neonatorum dapat terhindarkan.

Dengan demikian terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena

tali pusat bayi Ny. H dibungkus dengan kassa sedangkan pada teori tidak boleh

membungkus putung tali pusat.

Setelah bayi lahir, bayi tidak langsung dimandikan. Hal ini sesuai

dengan teori yang menyatakan untuk tidak memandikan bayi minimal 6 jam

setelah lahir (Hidayat dan sujiyatini, 2010).

Bayi Ny. H hanya hanya dibersihkan dan segera diselimuti serta

ditutupi bagian kepalanya dengan kain bersih, kering, dan hangat agar bayi

terhindar dari hipotermi atau kehilangan panas. Bayi sudah menyusu segera
331

setelah persalinan. Berat badan bayi 2700 gram merupakan berat badan bayi

normal. Hal ini sesuai dengan teori bahwa berat bayi normal adalah 2500 –

4000 gram ( Manuaba, 2010).

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada wanita /

ibu hamil selama kehamilan sesuai Permenkes Nomor 28 tahun 2017 yaitu

dalam pasal 19 sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2), pada point :

a) Episiotomi

b) Pertolongan persalinan normal

Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan sesuai dengan

perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan efisien. Sehingga asuhan

yang diberikan dapat berjalan dengan baik dan aman. Dengan demikian

antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya kesenjangan.


332

KALA III

Tanggal/ Jam : 21-3-2019/ 08.18 WIB

A. Data Subyektif

Ibu mengatakan perutnya masih mules dan ibu mengatakan plasenta belum

lahir.

Kontraksi pada otot uterus merupakan mekanisme fisiologis yang

menghentikan perdarahan sehingga menyebabkan perut mules (Prawirohardjo,

2009).

Kala III dimulai dari lahirnya bayi hingga pengeluaran plasenta. Setelah

bayi lahir biasanya his berhenti sebentar, dan kemudian muncul lagi yang disebut

his pelepasan uri. Lama Kala III pada primigravida dan multigravida 6-15 menit

(Sondakh, 2013).

Dengan demikian antara kasus dengan teori terdapat adanya kesenjangan

karena lama kala III pada Ny. H 5 menit.

B. Data Obyektif

Pada kasus Ny. H dilakukan pemeriksaan dan didapatkan hasil terdapat

tanda-tanda pelepasan plasenta, yaitu tali pusat bertambah panjang, ada semburan

darah tiba-tiba, uterus globuler.

Menurut Sondakh (2013), tanda – tanda dari dimulainya kala III adalah

uterus menjadi bundar, uterus terdorong keatas karena plasenta dilepas ke

segmen bawah rahim, tali pusat bertambah panjang, dan terjadi terjadi semburan

darah tiba - tiba.


333

Waktu yang paling kritis untuk mencegah perdarahan postpartum adalah

ketika plasenta lahir dan segera setelah itu (Prawirohardjo, 2009).

Pada pemeriksaan TFU setelah bayi lahir didapatkan setinggi pusat sesuai

teori menurut Reni (2010). Sehingga antara teori dengan kasus tidak ada

kesenjangan.

C. Asessment

Ny. H Umur 22 tahun P1A0Ah1 dengan Management Aktif kala III

normal.

Manajemen aktif pada kala III persalinan mempercepat kelahiran plasenta

dan dapat mencegah atau mengurangi perdarahan postpartum (Prawirohardjo,

2009).

Sesuai dengan teori, kala III dimulai dari lahirnya bayi hingga pengeluaran

plasenta.Setelah bayi lahir biasanya his berhenti sebentar, dan kemudian muncul

lagi yang disebut his pelepasan uri. Lama kala III pada primigravida dan

multigravida 6-15 menit. Perdarahan kala uri baik sebelum dan/ sesudah lahirnya

plasenta tidak lebih dari 400 ml, jika lebih berarti patologis (Baety, 2011).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya kesenjangan.

D. Planning

Pada kasus Ny. H pada kala III yaitu asuhan yang diberikan berdasarkan

dengan kebutuhan klien yaitu : melakukan palpasi abdomen ibu, pastikan tidak

ada janin kedua. Melakukan manajemen aktif kal III : (memberitahu ibu bahwa

ibu akan disuntik dengan evaluasi ibu sudah mengetahui dan mau untuk disuntik.
334

Menyuntikkan oksitosin secara IM di 1/3 paha ibu bagian luar dengan evaluasi

ibu sudah disuntik oksitosin 1 ampul.

Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT) setelah ada tanda – tanda

pelepasan plasenta dengan evaluasi plasenta lahir lengkap beserta selaput

ketubannya pukul 08.20 WIB. Melakukan masase abdomen ibu selama 15 detik

dan menjelaskan pada ibu bahwa mules yang dialami adalah normal dengan

evaluasi kontraksi baik, tinggi fundus 2 jari dibawah pusat. Memeriksa

kelengkapan plasenta dengan evaluasi kotiledon lengkap dan selaput ketuban

utuh.

Mengobservasi terdapat robekan jalan lahir yaitu laserasi derajat I.

Mengobservasi perdarahan kala III dan keadaan umum ibu baik.

Sesuai dengan teori, pada kasus Ny. H, waktu dari keluarnya bayi hingga

pelepasan dan pengeluaran uri (plasenta) yang berlangsung tidak lebih dari 30

menit (sujiyatini, 2011). Pada proses kala III tidak terdapat adanya kesenjangan

antara kasus dengan teori, hal ini karena dilakukan manajemen aktif kala III

sesuai dengan standar. Sehingga plasenta dapat lahir spontan, kotiledon lengkap,

selaput utuh serta perdarahan pasca persalinan dapat terhindari dengan baik.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu/wanita

hamil selama kehamilan sesuai Permenkes Nomor 28 Tahun 2017 yaitu pasal 18

ayat (1) meliputi pelayanan persalinan normal. Dalam memberikan pelayanan


335

kesehatan ibu sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2), bidan berwenang

melakukan :

a. Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II

b. Fasilitas / bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu eksklusif

c. Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum

Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan sesuai dengan

perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan efisien. Sehingga asuhan

yang diberikan dapat berjalan dengan baik dan aman. Dengan demikian

antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya kesenjangan.


336

KALA IV

Tanggal/ Jam :21-3-2019/ 08.35 WIB

I. Data Subjektif

Pada kasus Ny. H, ibu mengatakan masih mules dan lemas.

Menurut teori, kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi lahir

dan plasenta lahir untuk memantau kondisi ibu (Sujiyatini, 2011). Segera setelah

plasenta lahir, uterus akan berkontraksi dengan posisi fundus berada kurang lebih

pertengahan antara umbillikus dan sympisis atau sedikit lebih tinggi (Saleha,

2009).

Dengan demikian, keluhan mules yang dialami Ny. H masih dalam kategori

fisiologis, sehingga tidak terdapat adanya kesenjangan antara teori dan kasus.

II. Data Obyektif

1. Pemeriksaan Umum

Pada kasus Ny. H, pemantauan kala IV didapatkan hasil keadaan

umum baik, kesadaran composmentis, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80

kali permenit, pernafasan 20 kali permenit, suhu 36,1ºC, perdarah an 100 cc,

TFU 3 jari dibawah pusat, kontraksi keras, ada robekan jalan lahir derajat 1.

Kala IV adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi lahir,

untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya pendarahan post

partum (Sondakh, 2013).

Menurut Sondakh (2013), beberapa hal penting yang perlu

diperhatikan sebelum bidan meninggalkan bulin yaitu kontraksi uterus harus


337

baik, tidak ada perdarahan dari vagina, plasenta dan selaput janin lahir lengkap,

luka perineum sudah dirawat dengan baik dan tidak ada hematoma, kandung

seni harus kosong, keadaan umum ibu baik (TD, nadi, nafas normal) dan tidak

ada rasa mual muntah/sakit kepala dan bayi lahir dalam keadaan sehat.

Menurut Varney (2007), tanda-tanda vital segera setelah

melahirkan, banyak wanita mengalami peningkatan sementara tekanan darah

sitolik dan diastolik kemudian kembali secara spontan setelah beberapa hari.

Pada saat bersalin, ibu mengalami kenaikan suhu tubuh dan akan

kembali stabil dalam 24 jam pertama pasca partum. Denyut nadi yang

meningkat selama persalinan terakhir, kembali normal setelah beberapa jam

pertama pasca partum. Sedangkan fungsi pernapasan kembali pada keadaan

normal selama jam pertama pasca partum. TFU ibu setelah melahirkan yaitu

2 jari dibawah pusat sesuai dengan teori Reni (2010).

Menurut Prawirohardjo (2009), pengeluaran darah abnormal pada kala

IV yaitu >500 cc.

Dengan demikian antara kasus dengan teori terdapat adanya

kesenjangan karena TTV pada kasus Ny. H tidak terjadi perubahan.

III. Asessment

Setelah dilakukan pengkajian pada Ny. H, maka diperoleh hasil dari data

subyektif dan obyektif sehingga didapatkan diagnosa Ny. H umur 22 tahun

P1A0Ah1 dengan kala IV normal.


338

Berdasarkan teori menurut Sondakh (2013), kala IV imulai dari

pengeluaran uri sampai 2 jam kemudian. Obsevasi post partum pada 1 jam

pertama setiap 15 menit dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua. Penentuan jam

pemantauan, dulu dimulai 25 menit setelah plasenta lahir sedangkan sekarang

dimulai senyaman ibu.

Menurut Prawirohardjo (2009), dua jam pertama setelah persalinan

merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami

perubahan fisik yang luar biasa. Petugas/bidan harus tinggal bersama ibu dan

bayi untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil dan

mengambil tindakan yang tepat untuk melakukan stabilisasi tersebut.

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

IV. Planning

Pada kasus Ny. H pada kala IV yaitu asuhan diberikan berdasarkan

dengan kebutuhan klien yaitu : membersihkan ibu, menggantikan baju, dan

pembalut pada ibu dengan evaluasi ibu sudah dibersihkan dan sudah ganti baju

dengan pakaian yang bersih dan kering. Dekontaminasi tempat dan alat – alat

bekas pakai dengan evaluasi alat – alat dan tempat sudah dibersihkan.

Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan

dengan evaluasi ibu sudah diberi minuman dan makanan. Membiarkan ibu

istirahat, bantu ibu pada posisi yang nyaman, biarkan bayi berada pada ibu

untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi, sebagai permulaan dengan


339

menyusui bayinya juga agar membantu uterus berkontraksi dengan evaluasi ibu

sudah beristirahat, bayi berada dekat ibu.

Melakukan observasi TTV ibu setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan

setiap 30 menit pada 1 jam kedua dengan evaluasi observasi TTV sudah

dilakukan dan dicatat dalam partograf.

Tabel 4.1pengawasan 2 jam postpartum

Jam Waktu TD N S TFU Kontraksi Kandung PPV


Ke (mmHg) (x/menit) (ºC) Uterus Kemih
1 08.35 100/80 84 36,6 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
08.50 100/80 80 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
09.05 100/80 80 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
09.20 110/80 81 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
2 09.50 110/80 81 36,4 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
10.20 110/70 81 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
340

Pada kasus Ny. H perdarahan yang terjadi berlangsung normal, dan

jumlah perdarahan juga berada dalam batas normal ± 100 cc. Menurut teori

perdarahan pascapartum dianggap terjadi jika kehilangan darah mencapai 500

ml atau lebih dalam 24 jam pertama setelah melahirkan (Sondakh, 2013).

Pada kasus Ny. H semua asuhan didokumentasikan dalam halaman

belakang partograf, dengan mengisi kolom tabel pemantauan kala IV. Pada

teori, semua asuhan dan temuan didokumentasikan selama kala IV persalinan

yang terletak di halaman belakang partograf segera setelah asuhan diberikan

atau setelah penilaian dilakukan ( Hidayat dan sujiyatini, 2010).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan anatra teori dan kasus.

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada

ibu/wanita hamil selama kehamilan sesuai Permenkes Nomor 28 Tahun 2017

yaitu pasal 18 ayat (1) meliputi pelayanan persalinan normal. Dalam

memberikan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (2),

Bidan berwenang melakukan :

a. pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

b. penyuluhan dan konseling

Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan sesuai dengan

perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan efisien. Sehingga

asuhan yang diberikan dapat berjalan dengan baik dan aman. Dengan

demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya kesenjangan.


341

C.ASUHAN IBU NIFAS

1. PENGUMPULAN DATA

A. DATA SUBYEKTIF

Pada kasus ini telah dilakukan anamnesa dengan hasil keluhan,

ibu mengatakan masih mules.

Menurut (Sondakh, 2013), salah satu penyebab mulesnya ibu

karena kontraksi rahim kembali ke keadaan semula.

Baik tidaknya kontraksi bisa diketahui dengan pemeriksaan

palpasi. Kontraksi uterus umumnya tidak seberapa sakit, tetapi

kadang-kadang dapat mengganggu sekali (Prawirohadjo,2010).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

Pada kasus Ny. H, hasil pemeriksaan umum didapatkan

keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis. Sedangkan,

pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil Tekanan

Darah 120/70 mmHg, Nadi 82 x/menit, Pernapasan 22

x/menitdan Suhu 36,5 ºC.

Kesadaran dikaji bertujuan untuk menilai status kesadaran

ibu. Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu

mengalami kesadaran penuh dengan memberikan respons yang


342

cukup terhadap stimulus yang diberikan (Hidayat dan Uliyah,

2008).

Menurut Varney (2007), tanda-tanda vital segera setelah

melahirkan, banyak wanita mengalami peningkatan sementara

tekanan darah sitolik dan diastolik kemudian kembali secara

spottan setelah beberapa hari. Pada saat bersalin, ibu mengalami

kenaikan suhu tubuh dan akan kembali stabil dalam 24 jam

pertama pasca partum. Denyut nadi yang meningkat selama

persalinan terakhir, kembali normal setelah beberapa jam

pertama pasca partum. Sedangkan fungsi pernapasan kembali

pada keadaan normal selama jam pertama pasca partum.

Dengan demikan ada kesenjangan antara teori dan kasus.

2. Pemeriksaan Fisik

Pada Ny. H didapatkan hasil pemeriksaan fisik yaitu muka

tidak oedem, mata conjungtiva tidak pucat, sklera putih, leher

tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, dada tidak ada

pembengkakan pada mamae, tidak ada mastitis, abdomen tidak

ada luka bekas operasi, tidak ada pembesaran hati, ekstremitas

tidak ada pembengkakan pada paha (Trombofeblitis Femoralis),

genetalia tidak ada oedema dan varises.

Penilaian pada muka juga ditujukan untuk melihat ada tidaknya

pembengkakan pada daerah wajah serta mengkaji kesimetrisan


343

bentuk wajah. Pada pemeriksaan mata terdapat sclera bertujuan

untuk menilai warna , yang dalam keadaan normal berwarna putih.

Sedangkan pemeriksaan konjungtiva dilakukan untuk mengkaji

munculnya anemia. Konjungtiva yang normal berwarna merah

muda. Pada pemeriksaan leher dalam keadaan normal, kelenjar

tyroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba sedangkan kelenjar

getah bening bisa teraba seperti kacang kecil (Hidayat dan Uliyah,

2008).

Menurut Irmawati (2014), keadaan umum dikaji untuk

mengetahui kesadaran umum klien, apakah klien memperlihatkan

respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara

fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.

Dengan demikan ada kesenjangan antara teori dan kasus.

3. Pemeriksaan Kebidanan

a. Inspeksi

Pada kasus Ny. H, pemeriksaan kebidanan dengan

inspeksi didapatkan hasil muka: tidak oedem dan tidak terdapat

cloasma, mammae: putting susu menonjol, ASI sudah keluar,

kebersihan terjaga, abdomen: tidak ada luka bekas operasi,

tidak ada pembesaran hati, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah

pusat, kontraksi baik, fundus uteri teraba keras dan, genetalia:


344

tidak ada oedem vulva, PPV : lochea rubra, terdapat luka

perineum derajat I.

Sesuai dengan teori, pada kasus Ny. H, didapatkan ASI

yang sudah keluar dimana produksi air susu akan semakin

banyak pada hari ke 2 sampai ke 3 setelah melahirkan

(Mochtar, 2011).

Dari hasil pengawasan yang dilakukan lochea yang

keluar didapat hasil, pada hari pertama didapat lochea rubra

darah berwarna merah segar. Sesuai dengan teori yang

mengatakan lochea ini muncul pada hari 1 sampai hari ke 3

pada masa nifas, berwarnamerah dan mengandung sel desidua,

verniks caeosa, rambut lanogo, sisa mekonium serta sisa darah

(Mochtar, 2011).

Menurut Rahayu (2016), tinggi fundus uteri setelah

melahirkan setinggi pusat, setelah plasenta lahir 2 jari dibawah

pusat, 5 hari postpartum ½ symfisis-pusat, setelah 10-12 hari

tidak teraba.Pada pengkajian luka perineum bertujuan untuk

mengkaji nyeri, pembengkakan, kemerahan pada perineum,

dan kerapatan jahitan jika ada jahitan (Varney, dkk, 2007).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak

terdapat adanya kesenjangan.


345

2. ASSESMENT

A. Diagnosa Nomenklatur

Berdasarkan data subyektif dan data obyektif yang diperoleh

maka didapatkan diagnosa Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1 2 hari

dengan postpartum normal.

Data Subjektif : Ibu mengatakan perutnya masih mules

Data Objektif : Hasil TTV Ny. H Tekanan darah 120/70

mmHg, suhu 36,1 C, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, PPV

Lochea Rubra ± 5 cc.

Berdasarkan teori, mules pada ibu nifas disebabkan oleh

kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah

pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi relative

anemi dan menyebabkan serat otot atrofi (Reni, 2010)

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat

adanya kesenjangan.

A. Diagnosa masalah

Pada kasus Ny. H ditemukan adanya diagnosa masalah yaitu perutnya

mules.

Data subyektif : ibu mengatkan perutnya masih mules setelah

melahirkan

Data obyektif : TFU : 2 jari dibawah pusat

Kontraksi : baik, uterus teraba keras.


346

Menurut (Sondakh, 2013), salah satu penyebab mulesnya ibu karena

kontraksi rahim kembali kekeadaan semula. Baik tidaknya kontraksi bisa

diketahui dengan pemeriksaan palpasi. Kontraksi uterus umumnya tidak

seberapa sakit, tetapi kadang-kadang dapat mengganggu sekali

(Prawirohadjo,2010).

Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara teori dengan kasus.

B. Diagnosa kebutuhan

Kebutuhan KIE tentang mules yang dirasakan ibu adalah hal yang

fisiologis.

Data subyektif : ibu mengatakan perutnya mules setelah melahirkan

Data obyektif : TFU : 2 jari dibawah pusat

Konraksi : baik, uterus teraba keras.

Menurut Effendy ( 2011), KIE adalah penyampaian pesan secara

langsung ataupun tidak langsung melalui saluran komunikasi kepada penerima

pesan, untuk mendapatkan suatu efek.

Menurut (Sondakh, 2013), salah satu penyebab mulesnya ibu karena

kontraksi rahim kembali ke keadaan semula. Baik tidaknya kontraksi bisa

diketahui dengan pemeriksaan palpasi. Setelah plasenta lahir uterus

merupakan alat yang keras karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya

(Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara teori dan kasus tidak ditemukan kesenjangan.


347

C. PLANNING

1. Menganjurkan ibu untuk melakukan personal hygine

a. Mandi dan gosok gigi 2x sehari

b. Ganti baju tiap mandi, basah atau kotor

c. Menjaga daerah Perineum dan membersihkan vagina dari atas kebawah

d. Mengganti pembalut tiap 4 jam sekali

e. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan personal hygine

Personal Hygiene dikaji bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi

yang dilakukan dengan menjaga kebersihan tubuh, termasuk pada daerah

kewanitaannya dan payudara, pakaian, tempat tidur dan lingkungan

(Varney, dkk., 2007).

Menurut Handayani (2017), personal hygiene setelah melahirkan yaitu

dengan mandi dan gosok gigi, ganti pembalut.

2. Menjelaskan pada ibu mengenai perawatan luka perineum yaitu dengan

menggunakan kassa dan betadine dan bersihkan dari atas kebawah dengan

tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi. Dan ganti kassa setiap ibu habis

BAK dan BAB.

Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan perawatan luka perineum

Berdasarkan teori menurut Kemenkes RI (2013), tatalaksana umum

pada luka perineum adalah dengan kompres luka dengan kasa lembab dan
348

minta pasien mengganti kompres sendiri setiap 24 jam. Jaga kebersihan

ibu, minta ibu untuk selalu mengenakan baju danpembalut yang bersih.

3. Menganjurkan ibu untuk memberikan Asi eksklusif pada bayinya selama 6

bulan tanpa tambahan makanan apapun, karena asi merupakan makanan

terbaik untuk bayinya dan dapat mempercepat proses involusi uteri

(kembalinya uterus kebentuk semula)

Evaluasi : ibu bersedia memberikan ASI Eksklusif pada bayinya

ASI Ekslusif adalah bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan

tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air the, air

putih serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu,

biscuit, bubur nasi dan nasi tim kecuali obat maupun vitamin sesuai

anjuran dokter. Selain memenuhi semua kebutuhan makanan bayi baik

gizi, imunologi ASI memberi kesempatan bagi ibu untuk mencurahkan

kasih saying serta perlindungan bagi bayi yang tidak dapat dialihkan

kepada siapapun. ASI ekslusif diberikan sejak 0-6 bulan. Setelah 6 bulan

baru mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). ASI dapat

diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih (Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

4. Menganjurkan ibu untuk mengonsumsi tamblet Fe 1 tablet / hari dengan

dosis 225 mg/ hari selama 40 hari dan diminum pada malam hari

menjelang tidur untuk mengurangi efek mual.


349

Evaluasi : ibu bersedia meminum tablet FE setiap hari

Ibu nifas juga harus minum tablet tambah darah minimal selama 40

hari (Varney, dkk, 2007). Dengan demikian antara kasus dengan teori

tidak terdapat adanya kesenjangan.

5. Menganjurkan ibu untuk istirahat ketika bayinya tidur atau bergantian

dengan anggota keluarga untuk menjaga bayinya agar ibu tidak kelelahan.

Evaluasi : ibu bersedia istirahat ketika bayinya tidur dan bergantian

dengan anggota keluarga untuk menjaga bayinya

Istirahat ibu nifas harus memperoleh istirahat yang cukup untuk

pemulihan kondisi fisik, psikologis dan kebutuhan menyusui bayinya

dengan cara menyesuaikan jadwal istirahat bayinya (Varney, dkk., 2007).

Kurang istirahat dapat menyebabkan kurangnya suplai ASI,

memperlambat proses involusi, menyebabkan depresi dan

ketidakmampuan merawat bayi sendiri (Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

6. Memberitahu kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi

seimbang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya

seperti membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. Makanan yang

bergizi seimbang diantaranya yaitu yang mengandung karbohidrat (nasi,

gandum, kentang), protein (ikan, telor, tahu, tempe, kacang - kacangan),

vitamin dan mineral (sayur - sayuran dan buah - buahan), menganjurkan


350

ibu untuk minum air putih yang cukup ± 8 gelas perhari, misal (nasi satu

piring, telur satu butir, tahu, tempe, sayur bayam satu mangkuk).

Evaluasi : ibu bersedia makan – makan gizi yang seimbang

Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang bermutu tinggi, bergizi

dan cukup kalori untuk mendapat protein, mineral, vitamin yang cukup

dan minum sedikitnya 2-3 liter/hari. Selain itu, ibu nifas juga harus

minum tablet tambah darah minimal selama 40 hari dan vitamin A

(Varney, dkk, 2007).

Nutrisi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk keperluan

metabolisme. Kebutuhan nutrisi ibu menyusui meningkat sebesar 25%

(meningkat 3x dari kebutuhan biasa). Ini digunakan untuk memproduksi

ASI dan proses kesembuhan setelah persalinan. Makanan yang

dikonsumsi harus sesuai dengan porsi yang cukup dan teratur, tidak

terlalu asin, pedas dan berlemak. Tidak mengandung alkohol, nikotin

serta pengawet dan pewarna. Kandungan gizi yang terdapat dalam

makanan yang dikonsumsi ibu nifas harus mengandung unsur sumber

kabohidrat, protein, mineral, vitamin dan air ( Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

7. Memberitahu ibu tanda bahaya masa nifas

a. Perdarahan pervaginam

b. Pengeluaran pervaginam yang berbau busuk


351

c. Rasa sakit pada daerah perut dan punggung

d. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri uluhati dan masalah

penglihatan (pandangan mata kabur)

e. Pembengkakan pada muka, tangan dan kaki

f. Payudara berubah menjadi merah panas, bengkak, nyeri tekan atau

bendungan Asi.

g. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tanda bahaya masa nifas dan apabila

ibu mengalami tanda tersebut ibu bersedia ke tenaga

kesehatan segera.

Berdasarkan teori menurut Wilujeng (2009), tanda bahaya

masa nifas yaitu perdarahan pervaginam yang luar biasa banyak /

yang tiba –tiba bertambah banyak (lebih banyak dari perdarahan

haid biasa / bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali dalam ½

jam), pengeluaran pervaginam yang baunya menusuk, rasa sakit

bagian bawah abdomen atau punggung, sakit kepala yang terus-

menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan, pembengkakan

diwajah / tangan, demam, muntah, rasa sakit waktu BAK,/ merasa

tidak enak badan, payudara yang berubah merah, panas, dan terasa

sakit, kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama, rasa sakit,

merah, nyeri tekan dan / pembengkakan kaki, erasa sangat sedih /


352

tidak mampu mengasuh sendiri bayinya / diri sendiri, rasa sangat

letih / nafas tertengah-engah.

Segera ibu nifas dibawa ke fasilitas kesehatan (puskesmas atau

rumah sakit) bila ditemukan salah satu tanda bahaya tersebut

(Kemenkes RI, 1997).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat

adanya kesenjangan.

8. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 7 hari atau

bila ada keluhan

Evaluasi : ibu sudah mengerti dan bersedia untuk melakukan

kunjungan ulang.

Menurut Walyani (2015), asuhan yang diberikan pada 6-8 jam

postpartum meliputi: mencegah terjadinya perdarahan, mendeteksi

dan merawat penyebab lain perdarahan dan melakukan rujukan bila

perdarahan berlanjut, memberikan konseling kepada ibu/keluarga

mengenai cara mencegah perdarahan karena atonia uteri, pemberian

ASI pada masa awal menjadi ibu, mengajarkan ibu untuk

mempererat hubungan antara ibu dan bayi, mencegah bayi

hipotermi.

Menurut Wilujeng (2009) kunjungan II dilakukan 6 hari

setelah persalinan. Dengan demikian antara kasus dan teori tidak

ada kesenjangan.
353

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada

ibu/wanita hamil selama kehamilan sesuai Permenkes Nomor 28

Tahun 2017 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan

yaitu: Dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana

dimaksud pada p a s a l 1 9 ayat (2), Bidan berwenang melakukan:

a) pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas;

b) fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air

susu ibu eksklusif

c) pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan

postpartum;

d) penyuluhan dan konseling;

Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan sesuai dengan

perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan efisien.

Sehingga asuhan yang diberikan dapat berjalan dengan baik dan

aman. Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat

adanya kesenjangan.
354

DATA PERKEMBANGAN I (7 hari postpartum)

Tanggal/jam pengkajian : 28 Maret 2018/ 11.30 WIB

A. Data Subyektif

Data subyektif yaitu dari anamnesa kepada klien/pasien yang meliputi

biodata, keluhan, riwayat penyakit dll (Handayani, 2017). Pada kasus Ny. H ibu

mengatakan tidak ada keluhan. Dengan demikian, tidak ada kesenjangan antara

teori dengan kasus.

B. Data Objektif

1. Pemeriksaan Kebidanan

Pada kasus Ny. H, pemeriksaan kebidanan dengan inspeksi didapatkan

hasil muka: tidak oedem dan tidak terdapat cloasma, mammae: putting susu

menonjol, ASI sudah keluar, tidak ada kemerahan, tidak bengkak,

kebersihan terjaga, abdomen: tidak ada luka bekas operasi, tidak ada

pembesaran hati, tinggi fundus uteri : pertengahan simpisis dan pusat,

kontraksi baik, fundus uteri teraba keras dan, genetalia: tidak ada oedem

vulva, PPV : lochea sanguilenta, Ekstremits : tidak ada kemerahan pada

paha, tidak ada pembengkakan pada paha.

Menurut (Marmi,2014), ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil

sebelum hamil. Perubahan normal pada uterus ketika postpartum 4 hari yaitu

pertengahan pusat dan sympisis.

Pengeluaran Lochia dapat dibagi berdasarkan waktu dan

warnanya.Lochia yang muncul pada hari ketiga sampai hari ketujuh hari
355

masa postpartum dinamakan lochia sanguilenta, warnanya biasa kecoklatan

(Walyani, 2015).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

C. Assesment

Assesment pada Ny. H berdasarkan diagnosa nomenklatur didapatkan

assesment yaitu Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1 dengan 7 hari post partum

normal.Berdasarkan data subyektif dan data obyektif yang diperoleh maka

didapatkan Hasil TTV Ny. H Tekanan darah 100/60 mmHg, suhu 36ºC,

pernapasan 24x/menit, nadi 82x/menit, PPV Loche Sanguilenta.

D. Planning

1. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI ekslusif yaitu bayi hanya diberi

ASI saja tanpa makanan tambahan apapun kecuali vitamin dan obat selama 6

bulan.

Evaluasi : ibu sudah memberikan ASI ekslusif pada bayinya.

ASI Ekslusif adalah bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan tanpa

tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air the, air putih serta

tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biscuit, bubur nasi

dan nasi tim kecuali obat maupun vitamin sesuai anjuran dokter. Selain

memenuhi semua kebutuhan makanan bayi baik gizi, imunologi ASI memberi

kesempatan bagi ibu untuk mencurahkan kasih saying serta perlindungan bagi

bayi yang tidak dapat dialihkan kepada siapapun. ASI ekslusif diberikan sejak
356

0-6 bulan. Setelah 6 bulan baru mulai diberikan makanan pendamping ASI

(MPASI). ASI dapat diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih

(Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

2. Mengajarkan ibu untuk menyusui yang baik dan benar yaitu ibu duduk

bersandar pada punggung kursi, kaki jangan menggantung, meletakkan kepala

bayi pada lengkungan siku, meletakkan bayi bersentuhan dengan perut ibu,

usahakan telinga dan tangan dalam satu garis lurus, menyangga payudara

dengan ibu jari diatas payudara, jari lain berada dibawah, memasukkan puting

susu pada mulut bayi pada sudut mulut bayi, memperhatikan bayi selama

menyusui, melepas isapan bayi dengan memasukkan jari kelingking pda sudut

mulut bayi, cara menyendawakannya bayi dengan menepuk punggung bayi.

Evaluasi : ibu sudah paham tentang teknik menyusui yang baik dan benar dan

ibu bersedia melakukannya setiap hari.

Berdasarkan teori menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat

mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga

mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu

(Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.
357

3. Memberitahu tanda bahaya masa nifas yaitu: perdarahan pervaginam

berlebihan, pengeluaran pervaginam yang berbau busuk, sakit kepala yang

menetap, mual muntah, suhu badan > 380C, pandangan mata kabur, nafsu

makan berkurang, kemerahan pada betis, cepat lelah, nyeri payudara atau

pembekakan payudara dan apabila ibu mengalami tanda tersebut untuk segera

menghubungi tenaga kesehatan.

Evaluasi : Ibu sudah mengetahui tanda-tanda bahaya masa nifas.

Berdasarkan teori menurut Wilujeng (2009), tanda bahaya masa nifas

yaitu perdarahan pervaginam yang luar biasa banyak / yang tiba –tiba

bertambah banyak (lebih banyak dari perdarahan haid biasa / bila memerlukan

penggantian pembalut 2 kali dalam ½ jam), pengeluaran pervaginam yang

baunya menusuk, rasa sakit bagian bawah abdomen atau punggung, sakit

kepala yang terus-menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan,

pembengkakan diwajah / tangan, demam, muntah, rasa sakit waktu BAK,/

merasa tidak enak badan, payudara yang berubah merah, panas, dan terasa

sakit, kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama, rasa sakit, merah,

nyeri tekan dan / pembengkakan kaki, merasa sangat sedih / tidak mampu

mengasuh sendiri bayinya / diri sendiri, rasa sangat letih / nafas tertengah-

engah.

Segera ibu nifas dibawa ke fasilitas kesehatan (puskesmas atau rumah

sakit) bila ditemukan salah satu tanda bahaya tersebut (Kemenkes RI, 1997).
358

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

4. Menganjurkan ibu untuk melakukan personal hygine

a. Mandi dan gosok gigi 2x sehari

b. Ganti baju tiap mandi, basah atau kotor

c. Menjaga daerah Perineum dan membersihkan vagina dari atas kebawah

d. Mengganti pembalut tiap 4 jam sekali

e. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

Evaluasi : ibu sudah menjaga kebersihan personal hygienenya

Berdasarkan teori personal hygiene dikaji bertujuan untuk mencegah

terjadinya infeksi yang dilakukan dengan menjaga kebersihan tubuh, termasuk

pada daerah kewanitaannya dan payudara, pakaian, tempat tidur dan

lingkungan (Varney, dkk., 2007).

Menurut Handayani (2017), personal hygiene setelah melahirkan yaitu

dengan mandi dan gosok gigi, ganti pembalut.

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

5. Menganjurkan ibu untuk istirahat ketika bayinya sedang tidur atau

bergantian dengan anggota keluarga untuk menjaga bayinya agar ibu tidak

kelelahan

Evaluasi : ibu bersedia untuk istirahat ketika bayinya sedang tidur dan

bergantian dengan anggota keluarga


359

Istirahat ibu nifas harus memperoleh istirahat yang cukup untuk

pemulihan kondisi fisik, psikologis dan kebutuhan menyusui bayinya dengan

cara menyesuaikan jadwal istirahat bayinya (Varney, dkk., 2007).

Kurang istirahat dapat menyebabkan kurangnya suplai ASI,

memperlambat proses involusi, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan

merawat bayi sendiri (Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

6. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan yang bergizi seimbang, karbohidrat:

nasi,roti Protein : ikan telur, tahu, tempe Vitamin : sayuran, buah-buahan

Mineral : susu contoh yaitu 1 piring nasi, 1 mangkok kecil sayur bayam, 1

potong ikan dan tempe, dan buah-buahan, minum air putih 8-10 gelas perhari

untuk mencukupi intake cairan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk makan-makanan gizi seimbang

7. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjugan ulang 1 bulan kemudian

tujuannya untuk memastikan tidak ada penyulit – penyulit yang dialami ibu

dan untuk memberikan konseling KB secara dini. Tetapi jika ibu mengalami

tanda-tanda bahaya masa nifas segera melakukan kunjungan ulang.

Evaluasi : ibu bersedia melakukan kunjungan ulang 1 bulan kemudian atau

apabila ibu ada keluhan.


360

Menurut Reni (2010), kunjungan IIpada2 minggu postpartum.Asuhan

pada 2 minggu postpartum sama dengan asuhan yang diberikan pada

kunjungan 6 hari post partum.

Menurut Marmi (2014) asuhan yang di berikan pada kunjungan

kedua 4 hari setelah postpartum meliputi:

a. Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus berkontraksi

dengan baik, tinggi fundus uteri dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan

abnormal.

b. Menilai adanya tanda-tanda demam,infeksi dan perdarahan.

c. Memastikan ibu mendapatkan makanan yang bergizi dan cukup cairan.

d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-

tanda kesulitan menyusui.

e. Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu/wanita

hamil selama kehamilan sesuai Permenkes Nomor 28 Tahun 2017 Tentang

Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan yaitu :

Pasal 18 ayat (1) dalam penyelenggaraan praktik kebidanan, bidan memiliki

kewenangan untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu;

Pasal 19 Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi pelayanan:

a) ibu nifas normal;

b) ibu menyusui;
361

pasal 19 Dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud

pada ayat (2), Bidan berwenang melakukan penyuluhan dan konseling;

Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan sesuai dengan

perencanaan yang sudah dibuat secara efektif dan efisien. Sehingga asuhan

yang diberikan dapat berjalan dengan baik dan aman. Dengan demikian

antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya kesenjangan.


362
363

DATA PERKEMBANGAN II 30 HARI POST PARTUM NORMAL

Tanggal/jam pengkajian : 21 April 2019/ 10.00 WIB

A. Data Subyektif

Pada data subyektif didapatkan ibu mengatakan bernama Ny. H umur 24

tahun P1A0AH1 dan ibu mengatakan kurang istirahat.

Berdasarkan teori pada masa nifas kunjungan III, 2 minggu postpartum

adalah menilai adanya tanda tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal,

memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat, memastikan ibu

menyusui dengan baik (Siti Saleha 2010).

Kurang istirahat dapat menyebabkan kurangnya suplai ASI, memperlambat

proses involusi, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan merawat bayi sendiri

(Wilujeng, 2009).

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.

B. Data Objektif

1. Pemeriksaan Kebidanan

Pada kasus Ny. H, pemeriksaan kebidanan dengan inspeksi didapatkan

hasil muka: tidak oedem dan tidak terdapat cloasma, mammae: putting susu

menonjol, ASI sudah keluar, kebersihan terjaga, tidak ada kemerahan, tidak

bengkak, abdomen: tidak ada luka bekas operasi, tidak ada pembesaran hati,

tinggi fundus uteri : tidak teraba, kontraksi tidak teraba (baik) dan, genetalia:

tidak ada oedem vulva, PPV : lochea alba.


364

Involusi uterus pada 6 minggu post partum 6 minggu tinggi fundus

uterinya normal (Reni, 2010).

Sesuai dengan teori dari hasil pengawasan yang dilakukan lochea yang

keluar didapat hasil, pada hari 32 didapat lochea alba, muncul pada hari ke

lebih 14 hari pada masa nifas, berwarna putih dan mengandung leukosit,

selaput lendir servik dan serabut jaringan yang mati (Mochtar, 2011).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan karena TFU sudah normal dan pengeluaran pervaginam

berwarna putih yaitu Lochea Alba.

C. Assasment

Assesment pada Ny. H berdasarkan diagnosa nomenklatur didapatkan

assesment yaitu Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1 dengan 30 hari post partum

normal. Berdasarkan data subyektif dan data obyektif yang diperoleh maka

didapatkan Hasil TTV Ny. H Tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 36,6C,

pernapasan 20x/menit, nadi 86x/menit, PPV Lochea Alba.

D. Planning

1. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup 10 jam/ hari 1 - 2 jam (siang)

dan 8 jam (malam) untuk mencegah kelelahan yang berlebihan dan untuk

mengurangi rasa sakit kepala atau dengan cara apabila bayi tidur ibu ikut

tidur.

Evaluasi : ibu bersedia mengikuti anjuran bidan.


365

Ibu nifas harus memperoleh istirahat yang cukup untuk pemulihan

kondisi fisik, psikologis dan kebutuhan menyusui bayinya dengan cara

menyesuaikan jadwal istirahat bayinya (Varney, dkk., 2007).

Kurang istirahat dapat menyebabkan kurangnya suplai ASI,

memperlambat proses involusi, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan

merawat bayi sendiri (Wilujeng, 2009). Dengan demikian antara kasus

dengan teori tidak terdapat adanya kesenjangan.

2. Menganjurkan ibu untuk tetap makan-makanan yang bergizi seimbang,

karbohidrat : nasi,roti Protein : ikan telur, tahu, tempe Vitamin : sayuran,

buah-buahan Mineral : susu contoh yaitu 1 piring nasi, 1 mangkok kecil sayur

bayam, 1 potong ikan dan tempe, dan buah-buahan, minum air putih 8-10

gelas perhari untuk mencukupi intake cairan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk tetap makan-makanan gizi seimbang.

Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang bermutu tinggi, bergizi

dan cukup kalori untuk mendapat protein, mineral, vitamin yang cukup dan

minum sedikitnya 2-3 liter/hari. Selain itu, ibu nifas juga harus minum tablet

tambah darah minimal selama 40 hari dan vitamin A (Varney, dkk, 2007).

Nutrisi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk keperluan

metabolisme. Kebutuhan nutrisi ibu menyusui meningkat sebesar 25%

(meningkat 3x dari kebutuhan biasa). Ini digunakan untuk memproduksi ASI

dan proses kesembuhan setelah persalinan. Makanan yang dikonsumsi harus

sesuai dengan porsi yang cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas dan
366

berlemak. Tidak mengandung alkohol, nikotin serta pengawet dan pewarna.

Kandungan gizi yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi ibu nifas

harus mengandung unsur sumber kabohidrat, protein, mineral, vitamin dan

air (Wilujeng, 2009).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

3. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI ekslusif yaitu bayi hanya diberi

ASI saja tanpa makanan tambahan apapun kecuali vitamin dan obat selama 6

bulan.

Evaluasi : ibu sudah memberikan ASI ekslusif pada bayinya.

ASI Ekslusif adalah bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan tanpa

tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air the, air putih serta

tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biscuit, bubur nasi

dan nasi tim kecuali obat maupun vitamin sesuai anjuran dokter. Selain

memenuhi semua kebutuhan makanan bayi baik gizi, imunologi ASI

memberi kesempatan bagi ibu untuk mencurahkan kasih saying serta

perlindungan bagi bayi yang tidak dapat dialihkan kepada siapapun. ASI

ekslusif diberikan sejak 0-6 bulan. Setelah 6 bulan baru mulai diberikan

makanan pendamping ASI (MPASI). ASI dapat diberikan sampai anak

berusia 2 tahun atau lebih (Wilujeng, 2009).`

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.
367

4. Memberitahu ibu pengertian KB,yaitu usaha untuk mengukur jumlah dan

jarak anak yang diinginkan.

Evaluasi : ibu sudah paham tentang KB

KB pasca persalinan adalah pemanfaatan atau penggunaan alat

kontrasepsi langsung sesudah melahirkan sampai 6 minggu /42 hari sesudah

melahir kan. Prinsip pemilihan metode kontrasepsi yang digunakan tidak

mengganggu produksi ASI (Kemenkes RI, 1997).

Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak

dan jarak kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, Pemerintah

mencanangkan program atau cara untuk mencegah dan menunda kehamilan

(Sulistyawati, 2013).

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

5. Memberitahu ibu dan suami tentang tujuan KB yaitu memperbaiki

kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa. Mengurangi

angka kelahiran untuk menaikkan taraf rakyat dan bangsa. Memenuhi

permintaan masyarakat akan pelayanan KB yang berkualitas, termasuk

upaya – upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak serta

penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

Evaluasi : ibu dan suami sudah paham tujuan dari KB.

Menurut Kemenkes RI (1997), mengapa perlu ikut ber KB yaitu

diantaranya mengatur jarak dan mencegah kehamilan agar tidak terlalu rapat
368

(minimal 2 tahun setelah melahirkan), mencegah kehamilan yang tidak

diinginkan, menjaga dan meningkatkan kesehatan ibu, bayi dan balita,

ibu memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk dirinya sendiri, anak

dan keluarga.

Dengan demikian antara kasus dengan teori tidak terdapat adanya

kesenjangan.

6. Memberikan konseling pada ibu mengenai macam - macam KB yaitu KB

model sederhana contohnya kondom,spermasid, diafragma,metode

hormone seperti pil, suntik KB, implant, IUD dan metode kontrasepsi yang

permanen yaitu vasektomi dan tubektomi.

Evaluasi : ibu sudah paham macam-macam KB dan ibu memilih

menggunakan KB suntik 3 bulan.

Menurut Prawirohardjo (2012), macam-macam metode kontrasepsi

pasca persalinan yaitu MAL, kontrasepsi kombinasi, kontrasepsi progestin,

AKDR, kondom/spermisida, diafragma, kb alamiah, koitus interuptus,

tubektomi,vasektomi.

Menurut Marmi (2014), asuhan yang di berikan pada kunjungan ke

14 hari setelah postpartum meliputi menanyakan pada ibu tentang penyulit-

penyulit yang ibu alami atau bayi alami dan memberikan konseling untuk

KB secara dini serta memberikan metode yang menjadi pilihannya.

Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus pada

Ny. H.
369

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada

ibu/wanita hamil selama kehamilan sesuai Permenkes Nomor 28 Tahun

2017 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan yaitu :

Dalam Pasal 18 penyelenggaraan praktik kebidanan, bidan memiliki

kewenangan untuk memberikan:

1) pelayanan kesehatan ibu;

2) pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.

Pada kasus Ny. H pelaksanaan dilakukan sesuai dengan perencanaan

yang sudah dibuat secara efektif dan efisien. Sehingga asuhan yang

diberikan dapat berjalan dengan baik dan aman. Dengan demikian antara

kasus dengan teori tidak terdapat adanya kesenjangan.


370

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada Ny. H G1P0A0 dengan

hamil, bersalin dan nifas di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal tahun

2019, maka peneliti membuat kesimpulan sebagai berikut :

1. Pengkajian sudah dilakukan dengan menyimpulkan semua data yang

diperlukan pada kasus NY. H dengan kehamilan Post Date, persalinan dan

nifas normal, dengan teori yang mencakup data subyektif dan obyektif.

Berdasarkan data subyektif yang dilakukan selama pengkajian, penulis

menemukan kesenjangan antara teori dan kasus yaitu usia kehamilan Ny.

H masih masuk dalam usia kehamilan normal.

2. Interpretasi data terdiri dari diagnosa nomenklatur, diagnosa masalah dan

diagnosa kebutuhan. Diagnosa nomenklatur Ny. H pada kunjungan ketiga

yaitu ibu hamil dengan post date. Diagnosa masalahnya ibu merasa cemas

tentang kehamilan Post date sehingga diagnosa kebutuhannya

memberikan penjelasan untuk mengatasi rasa cemas. Dengan demikian

tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus Ny. H.

3. Diagnosa potensial pada kasus ibu hamil Ny. H, ibu mengalami

kehamilan post date sehingga diagnosa potensial yang akan terjadi ialah

bagi ibu Pada ibu (partus lama, inersia uteri, perdarahan postpartum) Pada

bayi (Asfiksia, makrosomia, kematian janin). Hal tersebut sudah sesuai


371

dengan teori sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan

kasus.

4. Antisipasi tindakan segera pada kasus Ny. H untuk mencegah terjadinya

kegawatdaruratan maka dilakukan tindakan antisipasi untuk menangani

kasus post date. Antisipasi masalah dalam kasus ini yaitu dilakukan

rujukan untuk kolaborasi dengan dr. SpOG. Sehingga antara teori dan

kasus Ny. H tidak ditemukan kesenjangan dalam antisipasi penanganan

segera.

5. Rencana asuhan yang diberikan pada pasien sudah sesuai dengan kondisi

pasien. Sehingga pada teori dan kasus Ny. H tidak ditemukan

kesenjangan.

6. Pada tahap pelaksanaan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah

dilakukan sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.

7. Evaluasi dilakukan untuk menilai sebuah perencanaan dan pelaksanaan,

pada kasus Ny. H setelah dilakukannya perencanaan sampai pelaksanaan

evaluasi yang didapat ialah pada saat melahirkan dan pada masa nifas

tidak terjadi komplikasi dan kegawat daruratan, sehingga tidak ditemukan

kesenjangan antara teori dan kasus.


372

B. Saran

1. Bagi keluarga

Meningkatkan pengetahuan kepada klien dan keluarga tentang

pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin agar kehamilannya dapat

berjalan dengan normal dan sehat, tentang persalinan dan juga nifas serta

meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya yang mungkin dialami

oleh ibu selama masa kehamilan, pesalinan dan nifas.

2. Bagi institusi pendidikan

Sebaiknya bagi pihak instansi pendidikan disarankan dapat

melengkapi buku-buku referensi, khususnya buku referensi mengenai

kehamilan, persalinan dan nifas normal agar mahasiswa dapat

memperoleh rangkuman materi dari sumber kepustakaan secara lengkap.

3. Bagi lahan praktek

Meningkatkan pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil,

bersalin, nifas dan KBsecara komprehensif serta meningkatkan

penatalaksanaan komplikasi sesuai dengan satuan operasional prosedur

(SOP) yang telah ditetapkan. Dengan cara mengadakan pelatihan selama

kehamilan.

4. Bagi mahasiswa

Meningkatkan pengetahuan tidak hanya dari perkuliahan saja

melainkan dengan membaca sumber – sumber kepustakaan baik melalui

buku - buku maupun dari jurnal.