Anda di halaman 1dari 235

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program pembangunan kesehatan di indonesia dewasa ini masih di

prioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak, terutama

pada kelompok yang paling rentan kesehatan yaitu ibu hamil, bersalin dan bayi

pada masa perinatal (Depkes RI, 2009).

Keberhasilan upaya kesehatan ibu diantaranya dilihat dari indikator AKI. AKI

adalah jumlah kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang

disebabkan oleh kehamilan, persalinan dan nifas atau pengelolaannya tetapi

bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000

kelahiran hidup. Indikator ini tidak hanya mampu menilai program kesehatan ibu,

terlebih lagi mampu menilai derajat kesehatan, karena sensitifitasnya terhadap

perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas.

Penurunan AKI di Indonesia terjadi sejak tahun 1991 sampai dengan 2007, yaitu

dari 390 menjadi 228. Namun demikian, SDKI tahun 2012 menunjukkan

peningkatan AKI yang signifikan yaitu menjadi 359/100.000 kelahiran hidup.

Pada tahun 2015 AKI kembali menunjukan penurunan menjadi 305/100.000

kelahiran hidup berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (Profil Kesehatan

Indonesia, 2016).

1
2

Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak

hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan

sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga di pengaruhi faktor ekonomi,

pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan faktor lainnya (Profil Kesehatan

Indonesia, 2016).

Jumlah kasus kematian ibu di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2017

sebanyak 475 kasus, mengalami penurunan dibandingkan jumlah kasus kematian

ibu tahun 2016 yang sebanyak 602 kasus. Dengan demikian Angka kematian ibu

Provinsi Jawa Tengah juga mengalami penurunan dari 109,55 per 100.000

kelahiran hidup pada tahun 2016 menjadi 88,05 per 100.000 kelahiran hidup

pada tahun 2017 (Dinkes Jateng, 2017).

Kabupaten/kota dengan kasus kematian ibu tertinggi pada tahun 2017

adalah Brebes yaitu 31 kasus, diikuti Pemalang 25 kasus, dan kendal 25 kasus.

Kabupaten/kota dengan kasus kematian ibu terendah adalah Kota Tegal yaitu 2

kasus, diikuti Kota Magelang 3 kasus, dan Kota Sukoharjo 4 kasus (Dinkes

Jateng, 2017).

Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal Angka Kematian Ibu di

Kabupaten Tegal pada Tahun 2016 sebanyak 27 kasus, sedangkan pada tahun

2017 Angka Kematian Ibu (AKI) kabupaten Tegal mengalami penurunan yaitu

sebanyak 14 kasus. Angka Kematian Ibu pada tahun 2018 sebanyak 13 kasus,

yang disebabkan karena perdarahan 2 orang (15%), PEB 6 orang (46%), emboli

air ketuban 1 orang (8%), jantung 4 orang (31%). Berdasarkan hasil AKI di
3

kabupaten Tegal tahun 2017 mengalami penurunan dari 100,31/100.000 kelahiran

hidup pada tahun 2016 menjadi 56,00/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2017

(Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016 & 2017).

Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk menurunkan kematian

ibu, bayi baru lahir, di kabupaten tegal, antara lain melalui penempatan bidan di

desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku

Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) dan Program Perencanaan Persalinan dan

Pencegahan Komplikasi (P4K), serta penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan

Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas perawatan dan

Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit.

Program terbaru yaitu Jaminan Persalinan yang menyediakan biaya operasional

untuk rumah tunggu kelahiran bagi ibu hamil/nifas yang jarak dari rumah ke

fasilitas kesehatan/puskesmas jauh atau sulit dijangkau (Profil Kesehatan

Kab.Tegal, 2015).

Sejak tahun 1990 upaya strategis yang dilakukan dalam upaya menekan

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah dengan pendekatan safe motherhood, dengan

menganggap bahwa setiap kehamilan mengandung risiko, walaupun kondisi

kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan dalam keadaan baik.

Di Indonesia Safe Motherhood initiative ditindaklanjuti dengan

peluncuran Gerakan Sayang Ibu di tahun 1996 oleh Presiden yang melibatkan

berbagi sector pemerintahan di samping sektor kesehatan. Salah satu program

utama yang ditujukan untuk mengatasi masalah kematian ibu adalah penempatan
4

bidan di tingkat desa secara besar-besaran yang bertujuan untuk mendekatkan

akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir ke masyarakat. Di tahun 2000,

Kementerian Kesehatan RI memperkuat strategi intervensi sektor kesehatan

untuk mengatasi kematian ibu dengan mencanangkan strategi Making Pregnancy

Safer. Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program

Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan

angka kematian ibu dan neonatal sebesar 25%. (Profil Kesehatan Kab.Tegal,

2015)

Khusus di Provinsi Jawa Tengah Program EMAS dilaksanakan di dua

Kabupaten, yaitu Kabupaten Tegal dan Kabupaten Banyumas. Upaya penurunan

angka kematian ibu dan angka kematian neonatal melalui program EMAS

dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan

bayi baru lahir minimal di rumah sakit (PONEK) dan Puskesmas mampu

PONED, memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar Puskesmas

dan Rumah Sakit (Profil Kesehatan Kab.Tegal, 2015).

Selain itu pemerintah bersama masyarakat juga bertanggung jawab untuk

menjamin bahwa setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu

yang berkualitas. Mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan yaitu proses

kelahiran normal pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan

(37-42) minggu, lahir spontan dengan presentasi belakang kepala, tanpa

komplikasi baik ibu maupun bayi (Sukarni, 2013) oleh tenaga kesehatan terlatih,

dan perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi yaitu masa setelah bayi lahir,
5

selama 6 minggu atau 40 hari menurut hitungan awam. Proses ini di mulai

setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat reproduksi kembali

seperti kembali seperti keadaan sebelum hamil/ tidak hamil sebagai akibat dari

adanya perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan (Puspita,

2014), perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan memperoleh

cuti hamil dan melahirkan serta akses terhadap keluarga berencana. Di samping

itu, pentingnya melakukan intervensi lebih ke hulu yakni kepada kelompok

remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan AKI. (Profil

Kesehatan Kab.Tegal, 2015).

Berakhirnya MDGs pada 2015 masih menyisakan sejumlah pekerjaan

rumah yang harus diselesaikan pada periode Tujuan pembangunan Berkelanjutan

(Sustainable Development Goals / SDGs) yang akan dilaksanakan sampai dengan

2030. Target penurunan AKI dan AKB dalam upaya pencapaian Sustainable

Develpoment Goals (SDGs) masuk pada tujuan ketiga dalam 17 tujuan yang

ditetapkan, dengan target penurunan AKI yaitu 70 per 100.000 kelahiran hidup

dan penurunan AKB 12 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2030 (Depkes RI,

2017).

Kematian ibu dan bayi baru lahir dapat dicegah melalui kegiatan yang efektif,

seperti pemeriksaan kehamilan yang rutin dan berkualitas, dimana kehamilan itu

sendiri merupakan masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin

yang terbagi dalam 3 trimester, di mana trimester kesatu berlangsung dalam 12

minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke 13 hingga ke-27), dan trimester


6

ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga 40) sehingga dalam masa-masa

kehamilan diperlukan adanya pemeriksaan rutin untuk pemantauan keadaan ibu

(Prawirohardjo, 2010).

Upaya untuk percepatan penurunan AKI dan AKB di Jawa Tengah adalah

dengan memberikan asuhan kebidanan secara Continuity Of Care (COC). COC

merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan

bayi yang dimulai pada saat kehamilan, persalinan, Bayi baru lahir, nifas dan KB

(Irawati, 2012). Pelaksanaan COC dilakukan dengan pengembangan model One

Student One Client (OSOC) yang merupakan model pelayanan kesehatan dengan

melibatkan satu mahasiswa mendampingi satu klien. Asuhan yang digunakan

dalam model pembelajaran OSOC yaitu dengan menggunakan asuhan

komprehensif. Asuhan komprehensif adalah suatu pemeriksaan yang dapat

dilakukan secara lengkap dengan adanya pemeriksaan laboratorium sederhana

dan konseling (Widiyanti, 2016).

Kehadiran tenaga kesehatan yang terampil pada saat persalinan atau proses

membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam jalan lahir serta

pemberian gizi yang memadai pada nifas dan menyusui. Dari berbagai perbaikan

dilakukan semaksimal mungkin dalam menurunkan AKI dengan meningkatkan

pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan asuhan kebidanan secara

komprehensif yang berfokus pada asuhan sayang ibu yang sesuai dengan standar

pelayanan kebidanan (Sarwono, 2010).


7

Asuhan komprehensif adalah asuhan yang diberikan oleh bidan dari mulai

masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan pengguanaan KB yang

bertujuan untuk memberikan pelayanan berkualitas untuk mencegah terjadinya

kematian ibu dan anak (Kepmenkes No.938,2007). Peran dan fungsi bidan sangat

membantu proses asuhan komprehensif melalui pengawasan pertolongan,

pengawasan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan pelayanan keluarga

berencana ( Manuaba, 2012).

Dalam program pemerintah yaitu mengurangi kemungkinan seorang

perempuan menjadi hamil dengan upaya keluarga berencana, mengurangi

kemungkinan seorang perempuan hamil mengalami komplikasi dalam kehamilan,

persalinan atau masa nifas dengan melakukan asuhan antenatal dan persalinan

dengan prinsip bersih dan aman, mengurangi kemungkinan komplikasi

persalinanyang berakhir dengan kematian atau kesakitan melalui pelayanan

obstetrik dan neonatal esensial dasar dan komprehensif (Prawirohardjo, 2009).

Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas Slawi tahun 2017 kasus

kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Slawi yaitu sebanyak 2 orang

dengan penyebab kematian karena Help Syndrom dan Emboli Air Ketuban.

Sedangkan pada tahun 2018, tidak ada kematian ibu di wilayah kerja

puskesmas Slawi (Puskesmas Slawi, 2018). Dengan demikian, penulis tertarik

membuat Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Komprehensif pada Ny. H

umur 22 tahun di puskesmas Slawi Kabupaten Tegal Tahun 2019”.


8

B. Rumusan Masalah

Setiap kehamilan mengandung resiko, walaupun kondisi kesehatan ibu

sebelum dan selama kehamilan dalam keadaan baik akan tetapi dengan masih

banyaknya Angka Kematian Ibu (AKI) sehingga dapat ditarik rumusan masalah

penelitian ini adalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan komprehensif pada Ny.

H Umur 22 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal tahun 2019”?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan kebidanan

dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan (SOAP dengan pola

fikir Varney)

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data subjektif yang

diperlukan pada kasus ibu hamil, bersalin, nifas dan KB.

b. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data objektif yang diperlukan

pada kasus ibu hamil, bersalin, nifas dan KB.

c. Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial

pada kasus ibu hamil, bersalin, nifas dan KB.

d. Mahasiswa mampu mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi

asuhan kebidanan pada kasus ibu hamil, bersalin, nifas dan KB.
9

D. Ruang Lingkup

1. Sasaran

Pada penelitian ini, penulis hanya membatasi ruang lingkup

sasarannya yaitu asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. H umur 22 tahun

di puskesmas Slawi.

2. Tempat

Tempat pengambilan studi kasus asuhan kebidanan kehamilan,

persalinan, nifas dan KB pada Ny. H umur 22 tahun G1P2A0 di

Puskesmas Slawi dan RSUD Soeselo.

3. Waktu

Penulis melakukan penelitian pada Ny. H sejak tanggal 2 Maret

2019 – 2 April 2019

E. Manfaat Penulisan
1. Bagi keluarga

Dapat menambah pengetahuan dan informasi untuk keluarga tentang

kehamilan, persalinan dan nifas sehingga dapat melakukan antisipasi

terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi yaitu dengan ANC secara rutin.

2. Bagi institusi pendidikan

Dapat memberikan masukan bagi institusi sebagai bahan evaluasi

akademik kepada mahasiswa, sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam

menerapkan teori dan dapat meningkatkan mutu untuk pengembangan

akademik.
10

3. Bagi lahan praktek

Dapat memberikan masukan untuk meningkatkan pelaksanaan asuhan

kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas normal dan KB secara

komprehensif.

4. Bagi mahasiswa

Penambah pengetahuan dan pengalaman tentang asuhan kebidanan

secara komprehensif sehingga mahasiswa dapat memberikan pelayanan yang

lebih baik di masa yang akan datang.

F. Metode Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan studi kasus pendekatan One

Student One Client (OSOC). Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu

permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal (Sugiyono,

2012).

OSOC adalah proses pembelajaran untuk memberikan asuhan

kebidanan pada seorang perempuan dengan prinsip Continuity Of Care

(asuhan yang berkelanjutan) pada awal kehamilan, persalinan, nifas dengan

melibatkan mahasiswa (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2015).

2. Metode pengumpulan data

Dalam penulisan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan

beberapa jenis metode pengumpulan data antara lain :


11

a. Wawancara (Interview)

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara

mewawancarai langsung responden yang diteliti, sehingga metode ini

memberikan hasil secara langsung (Hidayat, 2014).

b. Observasi

Obsevasi merupakan cara pengumpulan data dengan mengadakan

pengamatan secara langsung kepada responden penelitian untuk mencari

perubahan atau hal-hal yang akan diteliti (Hidayat, 2014).

c. Pemeriksaan fisik

Melakukan pemeriksaan fisik meliputi :

1) Inspeksi

Merupakan proses pengamatan atau observasi untuk mendeteksi

masalah kesehatan pasien (Ardhiyanti, 2010)

2) Palpasi

Adalah pemeriksaan dengan meraba, menggunaakan telapak

tangan dan jari tangan (Dewi, 2017).

3) Auskultasi

Merupakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang

dihasilkan oleh tubuh melalui stetoskop (Ardhiyanti, 2010).

4) Perkusi

Adalah tindakan mengetuk suatu bagian dengan ketukan-

ketukan pendek dan cepat sebagai upaya dalam mendiagnosis keadaan


12

bagian-bagian yang berada dibaliknya, berdasarkan suara yang

terdengar (Ardhiyanti, 2010).

d. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,

notulen, rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2010).

e. Pemeriksaan penunjang

Pada kondisi tertentu, pasien harus menjalani beberapa pemeriksaan

penunjang untuk melengkapi data yang telah dikumpulkan dan keperluan

menegakkan diagnosis pasien (Sudarti, 2010)

f. Studi pustaka

Semua literature atau bacaan yang digunakan untuk mendukung

dalam menyusun proposal tersebut. Umumnya terdiri dari buku-buku teks,

jurnal ilmiah, skripsi, thesis, atau disertasi (Notoatmodjo, 2010).

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

2. Tujuan Khusus
13

D. Ruang Lingkup

1. Sasaran

2. Tempat

3. Waktu

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi keluarga

2. Bagi institusi pendidikan

3. Bagi lahan praktek

4. Bagi mahasiswa

F. Metode penelitian

1. Metode penelitian

2. Metode memperoleh

G. Sistematika Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Medis

1. Kehamilan

a. Pengertian kehamilan

b. Fisiologi kehamilan

c. Tanda dan Gejala Kehamilan

d. Tanda bahaya dalam kehamilan

e. Penatalaksanaan dalam kehamilan

f. Kehamilan dengan Post Date


14

2. Persalinan

a. Pengertian persalinan

b. Fisiologi persalinan

c. Tanda-tandaPersalinan

d. Sebab-sebab mulainya persalinan

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi Persalinan

f. Mekanisme persalinan

g. Penatalaksanaan dalam proses persalinan (APN 60

langkah+ IMD)

h. Induksi persalinan

3. Nifas

a. Pengertian nifas

b. Fisiologi nifas

c. Perubahan yang terjadi pada masa nifas

d. Tanda bahaya masa nifas

e. Penatalaksanaan masa nifas

B. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan

1. Pengertian

2. Tujuan

3. Langkah-langkah (SOAP)

C. Landasan Hukum Kewenangan Bidan


15

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Asuhan Kebidanan Ibu Hamil

B. Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin

C. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Medis

1. Kehamilan

a. Pengertian kehamilan

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.

Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7

hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam

3 tri wulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3

bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan

ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Prawirohardjo, 2009).

Kehamilan berasal dari spermatozoa dan ovum yang

bergabung, tumbuh dan berkembang janin intra uteri mulai sejak

konsepsi sampai dengan permulaan persalinan (Sarah, 2017).

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional,

kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari

spermatozoa dan ovum, dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.

Dihitung dari saat fertilisasi sampai kelahiran bayi, kehamilan normal

biasanya berlangsung dalam waktu 40 minggu. Usia kehamilan

tersebut dibagi menjadi 3 trimester yang masing-masing berlangsung

dalam beberapa minggu trimester 1 selama 12 minggu, trimester 2

selama 15 minggu (minggu ke-13 sampai minggu ke-27), dan trimester


17

3 selama 13 minggu (minggu ke-28 sampai minggu ke-40) (Kusuma,

2013, h. 7).

b. Fisiologi kehamilan

Menurut Maryunani (2010), terdapat beberapa peristiwa prinsip

pada terjadinya kehamilan dan peristiwa-peristiwa tersebut merupakan

mata rantai yang berkesinambungan dari adanya proses kehamilan

(fisiologi kehamilan), yakni :

1) Pembuahan (fertilisasi), yaitu bertemunya sel telur (ovum) wanita

dengan sel benih (sperma) laki-laki

2) Pembelahan sel (zigot), yang merupakan hasil dari pembuahan

tersebut.

3) Nidasi/implantasi zigot tersebut ke dinding saluran reproduksi

(pada keadaan normal, implantasi terjadi pada lapisan endometrium

dinding kavum uteri).

4) Pertumbuhan dan perkembangan zigot, embrio, janin sampai

menjadi bekal individu baru.

5) Kehamilan juga dipengaruhi oleh berbagai hormone, antara lain:

estrogen, progesteron, human Chorionic Gonadotropin, human

somatomammotropin, prolactin, dan sebagainya.

c. Tanda dan gejala kehamilan

1) Tanda-tanda presumptif

Berbagai tanda dugaan kehamilan menurut Sofian (2012) adalah:


18

a) Amenorea (tidak mendapat haid)

Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir

(HT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran tanggal

persalinan (TTP), yang dihitung dengan menggunakan rumus

dari Naegele:

TTP = (hari HT + 7) dan (bulan HT – 3) dan (tahun HT + 1)

b) Mual dan muntah (nausea and vomiting)

Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga

akhir triwulan pertama. Karena sering terjadi pada pagi hari, di

sebut morning sickness (sakit pagi). Apabila timbul mual dan

muntah berlebihan karena kehamilan, disebut hiperemesis

gravidarum.

c) Mengidam (ingin makanan khusus)

Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu

terutama pada bulan-bulan triwulan pertama. Mereka juga tidak

tahan suatu bau-bauan.

d) Pingsan

Jika berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan padat,

seorang wanita yang sedang hamil dapat pingsan.

e) Tidak ada selera makan (anoreksia)

Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan, kemudian

nafsu makan timbul kembali.

f) Lelah (fatigue)
19

g) Payudara membesar, tegang, dan sedikit nyeri, disebabkan

pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan

alveoli payudara. Kelenjar Montgomery terlihat lebih

membesar.

h) Miksi sering, karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang

membesar. Gejala itu akan hilang pada triwulan kedua

kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala tersebut muncul

kembali karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.

i) Konstipasi / obstipasi karena tonus otot-otot usus menurun oleh

pengaruh hormon steroid

j) Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormon kortikosteroid plasenta,

dijumpai di muka (Chloasma gravidarum), areola payudara,

leher, dan dinding perut (linea nigra = grisea).

k) Epulis : hipertrofi papila gingivalis.

l) Pemekaran vena-vena (varises) dapat terjadi pada kaki, betis,

dan vulva, biasanya dijumpai pada triwulan akhir.

2) Tanda-tanda kemungkinan hamil

Beragam tanda kemungkinan hamil menurutSofian (2012) adalah:

a) Perut membesar

b) Uterus membesar : terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan

konsistensi rahim.
20

c) Tanda hegar : ditemukannya serviks dan isthmus uteri yang

lunak pada pemeriksaan bimanual saat usia kehamilan 4 sampai

6 minggu.

d) Tanda Chadwik : perubahan warna menjadi kebiruan yang

terlihat di porsio, vagina dan labia. Tanda tersebut timbul akibat

pelebaran vena karena peningkatan kadar estrogen

e) Tanda Piskacek : pembesaran dan pelunakan rahim ke salah satu

sisi rahim yang berdekatan dengan tuba uterina. Biasanya, tanda

ini ditemukan di usia kehamilan 7-8 minggu.

f) Kontraksi-kontraksi kecil uterus jika dirangsang = Braxton -

Hicks

g) Teraba ballotement

h) Reaksi kehamilan posistif

3) Tanda pasti (tanda positif)

Beberapa tanda kehamilan yang pasti menurut Sofian (2012) antara

lain:

a) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga

bagian-bagian janin.

b) Denyut jantung janin : didengar dengan stetoskop – monoaural

Laennec, dicatat dan didengar dengan alat Doppler, dicatat

dengan feto – elektrokardiogram, dilihat pada ultrasonografi.

c) Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rontgen.


21

d. Tanda bahaya dalam kehamilan

Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan

adanya bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan/ periode antenatal,

yang apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan

kematian ibu (Nugroho, 2014, h. 13).

Menurut Nugroho (2014, h. 13), berbagai macam tanda bahaya

yang perlu segera dirujuk untuk segera mendapatkan pertolongan:

1) Keluar darah dari jalan lahir

Pendarahan vagina dalam kehamilan adalah jarang yang

normal. Pada masa awal sekali kehamilan, ibu mungkin akan

mengalami pendarahan yang sedikit atau spotting disekitar waktu

pertama haidnya. Pendarahan ini adalah pendarahan implantasi, dan

ini normal terjadi. Pada waktu yang lain dalam kehamilan,

pendarahan ringan mungkin dari serviks yang rapuh atau erosi. Pada

kehamilan lanjut, pendarahan yang tidak normal adalah merah,

banyak dan kadang-kadang, tetapi tidak selalu, disertai dengan rasa

nyeri. Pendarahan semacam ini bisa berarti plasenta previa atau

abrupsio plasenta.

2) Keluar air ketuban sebelum waktunya

Yang dinamakan ketuban pecah dini adalah apabila terjadi

sebelum persalinan berlangsung yang disebabkan karena

berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra

uteri atau oleh kedua faktor tersebut, juga karena adanya infeksi

yang berasal dari vagina dan serviks dan penilaiannya ditentukan


22

dengan adanya cairan ketuban di vagina. Penentuan cairan ketuban

dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitrazim test) merah menjadi

biru.

3) Kejang

Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya

keadaan dan terjadinya gejala-gejala sakit kepala, mual, nyeri ulu

hati sehingga muntah. Bila semakin berat, penglihatan semakin

kabur, kesadaran menurun kemudian kejang. Kejang dalam

kehamilan dapat merupakan gejala dari eklampsia.

4) Gerakan janin tidak ada atau kurang (minimal 3 kali dalam 1 jam)

Ibu mulai merasakan gerakan bayi selama bulan ke-5 atau ke-

6. Beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika

bayi tidur gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling

sedikit 3 kali dalam 1 jam jika ibu berbaring atau beristirahat dan

jika ibu makan dan minum dengan baik.

5) Demam tinggi

Ibu menderita demam dengan suhu tubuh > 38o c dalam

kehamilan merupakan suatu masalah. Demam tinggi dapat

merupakan gejala adanya infeksi kehamilan. Penangan demam

antara lain dengan istirahat baring, minum banyak dan mengompres

untuk menurunkan suhu. Demam disebabkan oleh infeksi dalam

kehamilan yaitu masuknya mikroorganisme pathogen kedalam tubuh

wanita hamil yang kemudian menyebabkan timbulnya tanda gejala-

gejala penyakit. Pada infeksi berat dapat terjadi deman dan gangguan
23

fungsi organ vital. Infeksi dapat terjadi selama kehamilan, persalinan

dan masa nifas.

6) Nyeri perut yang hebat

Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan

normal adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mungkin

menunjukan masalah yang mengancam keselamataan jiwa adalah

yang hidup, menetap dan tidak hilang setelah istirahat. Hal ini bisa

berarti appendiksitis, kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang

pelviks, persalinan pre term, gastritis, penyakit kantong empedu,

iritasi uterus, abrupsi placenta, infeksi saluran kemih atau infeksi

lainnya.

7) Sakit kepala yang hebat

Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali

merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit

kepala yang menunjukan suatu masalah yang serius adalah sakit

kepala hebat yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat.

Kadang-kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu

mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau

berbayang. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala

dari pre-eklampsia.

8) Muntah terus dan tidak bisa makan pada kehamilan muda

Mual dan mutah adalah gejala yang sering ditemukan pada

kehamilan trimester 1. Mual biasa terjadi pada pagi hari, gejala ini

biasanya 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung selama 10


24

minggu. Perasaan mual ini karena meningkatnya kadar hormon

estrogen HCG dalam serum. Mual dan muntah yang sampai

mengganggu aktifitas sehari-hari dan keadaan umum menjadi lebih

buruk, dinamakan Hiperemesis Gravidarum

9) Selaput kelopak mata pucat

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan keadaan

hemoglobin dibawah 11gr% pada trimester I dan III, <10,5GR%

pada trimester II. Nilai dan perbedaannya dengan wanita tidak hamil

terjadi hemodilusi, terutama pada trimester II. Anemia dalam

kehamilan disebabkan oleh difisiensi besi dan perdarahan akut

bahkan tak jarang keduanya saling berinteraksi.

e. Penatalaksanaan dalam kehamilan

1) Pengertian ANC

Asuhan antenatal care adalah suatu program yang terencana berupa

observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk

memperoleh suatu proses kehamilan dan persiapan persalinan yang

aman dan memuaskan (Dewi, 2015).

2) Tujuan Asuhan Antenatal Care

Menurut Prawihardjo (2009), tujuan Antenatal Care yaitu,

sebagai berikut :

a) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan

ibu dan tumbuh kembang bayi

b) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental

dan sosial ibu dan bayi


25

c) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau kompikasi

yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit

secara umum, kebidanan dan pembedahan

d) Mempersiapkan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu

maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin

e) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan

pemberian ASI eklusif

f) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima

kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

3) Standar Pelayanan Antenatal Care

Menurut Depkes RI (2010), standar asuhan kebidanan

antenatal care 10 T meliputi :

a) Timbang berat badan dan pengukuran berat badan

Mengukur kehamilan dengan faktor resiko, dimana bila

tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm atau kelainan

bentuk panggul dan tulang belakang berat badan adalah salah

satu deteksi dini

b) Ukuran tekanan darah

Tekanan darah diatas 140/90 mmHg atau peningkatan

diastole 15 mmHg/ lebih sebelum kehamilan 20 minggu atau

paling sedikit pada pengukuran dua kali berturut-turut pda

selisih waktu 1 jam berarti ada kenaikan nyata dan ibu perlu

dirujuk
26

c) Ukuran Tinggi fundus uteri

Pemeriksaan kehamilan untuk menentukan tuanya

kehamilan dan berat badan janin dilakukan dengan pengukuran

TFU yang dihitung dari tanggal haid trakhir yang

menggunakan rumus.

1)) Menentukan usia kehamilan dengan rumus Neagele

dihitung dengan hari haid pertama ditambah tujuh dan

bulannya ditambah Sembilan atau harinya ditambah tujuh

bulannya dikurangi tiga dan tahunya ditambah satu.

2)) Apabila usia kehamilan dibawah 24 minggu dilakukan

dengan jari, tetapi apabila kehamilan diatas 24 minggu

memakai pengukuran menggunakan Mc Donald yaitu

TFU diukur dengan pita pengukur

3)) Menentukan tafsiran berat janin (TBJ)

Jika kepala sudah masuk PAP TBJ = (TFU-11)x 155, Jika

kepala bayi belum masuk PAP TBJ = (TFU-12)x 155

Tabel 2.1 Pengukuran tinggi fundus uteri

Umur kehamilan TFU (Cm) TFU (Jari)


12 minggu - 2 jari diatas
simpisis
16 minggu - ½ simpisis- pusat
20 minggu 20 cm (± 2 cm) 2 jari dibawah
pusat
24 minggu 22-27 cm (± 2 Setinggi pusat
cm)
28 minggu 28 cm (± 2 cm) 2 jari diatas pusat
32 minggu 29-35 cm (± 2 ½ pusat- PX
cm)
36 minggu 36 cm (± 2 cm) Setinggi PX
40 minggu 36 cm (± 2 cm) 2 jari dibawah PX
27

Sumber : Prawihardjo, (2009) dan Nugroho, (2014)

d) Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) lengkap

Pemberian imunisasi tetanus toksoid pada kehamilan

umumnya diberikan 2 kali saja, imunisasi pertama diberikan

pada usia kehamilan 16 minggu untuk yang kedua diberikan 4

minggu kemudian, akan tetapi untuk memaksimalkan

perlindungan maka dibentuk program jadual pemberian

imunisasi pada ibu hamil. Interval pemberian imunisasiTetanus

Toksoid (TT) lengkap

Tabel 2.2 Jadwal imunisasi tetanus toksoid

Antigen Interval Lama %


perlindungan perlindungan
TT 1 Pada - Tidak ada
kunjungan
antenatal
pertama
TT 2 4 minggu 3 bulan 80
setelah TT 1
TT 3 6 bulan 5 tahun 95
setelah TT 2
TT 4 1 tahun 10 tahun 99
setelah TT 3
TT 5 1 tahun 20 tahun 99
setelah TT 4
Sumber : Depkes RI, (2010)

Vaksin TT diberikan sedini mungkin denagn dosis

pemberian 0,5cc secara IM dilengan atas/ paha/ bokong. Khusus

untuk calon pengantin diberikan imunisasi TT 2 kali dengan

interval 4 minggu.
28

e) Pemberian tablet zat besi 90 tablet selama kehamilan

Pemberian tablet fe (320 mgfe sulfat dan 0,5 mg asam

folat) untuk semua ibu hamil sebanyak 1 kali tablet selama 90

hari. Jumlah tersebut mencukupi kebutuhan tambahan zat besi

selama kehamilan yaitu 100 mg. tablet zat besi lebih dapat

diserap jika disertai dengan mengkonsumsi vitamin C yang

cukup, dengan menghindari minuman teh atau kopi 1 jam

setelah/ sebelum makan karena akan mengganggu proses

penyerapan

f) Tes laboratorium

Untuk mengetahui penyakit yang mempengaruhi ibu dan

juga janinya seperti infeksi monilial, trichomnial, sifilis,

gonorrhea, herpes genetalia, hepatitis, HIV/AIDS

g) Temuwicara

Berupa anamnesa, konsultasi, dan persiapan rujukan.

Tindakan yang harus dilakukan bidan dalam temuwicara antara

lain:

1)) Merujuk ke dokter untuk konsultasi dan menolong ibu

menentukan pilihan yang tepat

2)) Melampirkan kartu kesehatan ibu serta surat rujukan

3)) Meminta ibu untuk kembali setelah konsultasi dan

membawa surat hasil rujukan


29

4)) Menerusakan pematangan kondisi ibu dan bayi selama

kehamilan

5)) Memberikan asuhan antenatal

6)) Perencanaan dini jika tidak aman melahirkan dirumah

7)) Menyepakati diantara pengambilan keputusan dalam

keluarga tentang rencana proses kelahiran

8)) Persiapan dan biaya persalinan

h) Tentukan presentasi janin dan hitung DJJ

Tujuan pemantauan ini adalah untuk mendeteksi dari dini

ada atau tidaknya faktor-faktor resiko kematian perinatal

tersebut. Pemeriksaan denyut jantung janin adalah satu cara

untuk memantau janin

i) Tetapkan status gizi

Pada pemeriksaan ibu hamil merupakan salah satu cara

untuk mendeteksi dini adanya Kurang Energi Kronis (KEK)

atau kekurangan gizi

j) Tatalaksana kasus

Bila ditemukan penyakit, ibu hamil perlu dilakukan

perawatan khusus
30

f. Kehamilan Lewat Waktu (Post Date / Postterm)

1) Pengertian Kehamilan Lewat Waktu (Post Date / Postterm)

Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang umur

kehamilannya lebih dari 42 minggu. Masalah penentuan usia

kehamilan tidak selalu mudah (Prawirohardjo, 2009).

2) Masalah ibu pada Kehamilan Lewat Waktu (Post Date / Postterm)

Masalah ibu pada Kehamilan Lewat Waktu (Post Date /

Postterm) menurut Prawirohardjo (2009) adalah sebagai berikut :

a) Serviks yang belum matang (70% kasus)

b) Kecemasan ibu

c) Persalinan traumatis akibat janin besar (20%)

d) Angka kejadian seksio sesarea meningkat karena gawat janin,

distosia, dan disproporsi sefalopelvik.

e) Meningkatnya perdarahan pascapersalinan, karena

penggunaan oksitosin untuk akselerasi atau induksi.

3) Masalah Janin pada Kehamilan Lewat Waktu (Post Date /

Postterm)

Masalah janin pada Kehamilan Lewat Waktu (Post Date /

Postterm) menurut Prawirohardjo (2009) adalah sebagai berikut :

a) Kelainan pertumbuhan janin

1)) Janin besar dapat menyebabkan distosia bahu, fraktur

klavikula, palsi Erb-Duchene.

2)) Pertumbuhan janin terhambat


31

b) Oligohidramnion

Kelainan cairan amnion ini mengakibatkan :

1)) Gawat Janin

2)) Keluarnya Mekoneum

3)) Tali pusat tertekan sehingga menyebabkan kematian janin

mendadak

4) Menilai Pasien Kehamilan Lewat Waktu (Post Date / Postterm)

Menurut Prawirohardjo (2009), cara menilai pasien Kehamilan

Lewat Waktu (Post Date / Postterm) adalah:

a) Menentukan taksiran persalinan

Menentukan taksiran persalinan merupakan bagian terpenting

dari perawatan antenatal, karena akan berpengaruh pada tindakan

selanjutnya. Menentukan saat persalinan lebih tepat dan dapat

dipercaya bila dilakukan pada kehamilan dini. Kemampuan ini

perlu ditekankan di tingkat masyarakat dan Puskesmas sejak

kehamilan 41 minggu, apabila sudah masuk 42 minggu perlu

dirujuk ke Rumah Sakit.

b) Penilaian janin

Bila kehamilan lewat waktu direncanakan untuk tidak segera

dilahirkan, kita harus mempunyai keyakinan bahwa janin dapat

hidup terus di dalam lingkungan intrauterin. Penilaian berikut ini

dimungkinkan di tingkat Rumah Sakit :


32

1)) Pemeriksaan Ultrasonografi

a)) Pemeriksaan biometri untuk menaksir berat janin

b)) Pemeriksaan derajat kematangan plasenta dan keadaan

cairan amnion. Kantung amnion kurang dari 2 cm atau

indeks cairan amnion kurang dari 5 cm, merupakan

indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Perlu dilakukan

penilaian adanya gangguan pertumbuhan janin

intrauterin.

2)) Pemeriksaan penampilan jantung janin

a)) Tes tanpa kontraksi (NST)

Hasil NST tidak reaktif memerlukan pemeriksaan lebih

lanjut, seperti tes dengan kontraksi atau profil biofisik.

NST hendaknya dilakukan seminggu 2 kali.

b)) menilai kematangan serviks

menilai derajat kematangan serviks biasanya

mempergunakan skor Bishop yang telah dimodifikasi.

Serviks belum matang bila skor Bishop kurang dari 5.

5) Komplikasi Kehamilan Lewat Waktu (Post Date / Postterm)

Menurut Prawirohardjo (2009), Komplikasi kehamilan lewat

waktu (Post Date / Postterm) antara lain:

a) Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik

b) Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat,

gawat janin sampai bayi meninggal


33

c) Keluarnya mekoneum yang dapat menyebabkan aspirasi

mekoneum.

6) Penanganan Kehamilan Lewat Waktu ( Post Date / Postterm)

Pengelolaan kehamilan lewat waktu (Post Date /

Postterm) kita awali dari umur kehamilan 41 minggu. Hal ini

disebabkan meningkatnya pengaruh buruk pada keadaan

perinatal setelah umur kehamilan 40 minggu dan meningkatnya

insidensi janin besar.

Namun untuk mengurangi beban dan kepraktisan dari

bidan dan Puskesmas akan dirujuk bila umur kehamilan > 41

minggu. Bila kehamilan > 40 minggu, ibu hamil dianjurkan

menghitung gerak janin selama 24 jam ( tidak boleh kurang dari

10 kali), atau menghitung jumlah gerakan janin per satuan

waktu dan dibandingkan apakah mengalami penurunan atau

tidak.

2. Persalinan

a. Pengertian persalinan

Persalinan adalah rangkaian proses yang berakahir dengan

pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan

kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif

pada serviks, dan diakhiri kelahiran plasenta (Varney, 2008).

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang

dapat hidup di luar uterus melalui vagina ke dunia luar (Oktarina,


34

2016). Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan

pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul

dengan pengeluaran placenta dan selaput.janin dari tubuh ibu (Yanti,

2009).

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat

hidup (viabel) dari dalam uterus ke dunia luar melalui jalan lahir

(Baety, 2011). Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan

selaput ketuban keluar dari uterus ibu (Sursilah, 2010).

Persalinan dapat didefinisikan secara medis sebagai kontraksi

uterus semakin kuat, menciptakan penipisan dan dilatasi serviks di

sepanjang menimbulkan dorongan kuat untuk melahirkan janin melalui

jalan lahir resistansi jaringan lunak, otot, dan struktur tulang panggul

(Kennedy, 2013).

b. Fisiologi persalinan

Menurut Johariyah (2012), fisiologi persalinan sebagai berikut:

1) Tahapan Persalinan

a) Kala I

Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan

pembukaan mencapai lengka. Lama Kala I pada primigravida

18 jam sedangkan pada multigravida 10 jam. Kala I dibagi 2

fase :
35

(1) Fase Laten

Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan

penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.

(a) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4

cm.

(b) Pada umumnya, berlangsung hampir atau hingga 8

jam.

(c) Kontraksi mulai tertaur tetapi lamanya masih antara

20-30 detik

(2) Fase Aktif

(a) Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat

secara bertahap (kontraksi diangap adekuat/memadai

jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit,

dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).

(b) Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan

lengkap 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata –

rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau

lebih dari 1 sampai 2 cm (multipara).

(c) Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

Fase aktif, dibagi dalam 3 fase, yaitu :

(a) Fase Akselerasi

Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm


36

(b) Fase dilatasi maksimal

Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat

cepat dari 4 cm   menjadi 9 cm

(c) Fase diselerasi

Pembukaan menjadi lambat kembali. Dalam waktu 2

jam pembukaan 9 cm sampai lengkap.

Tabel 2.3 Fase kala satu persalinan

Fase kala satu persalinan


1. Fase laten
a. Mengawali kala satu persalinan aktif
b. Dapat berlangsung selama 6-8 jam pada ibu primipara
c. Serviks berdilatasi dari O menjadi 3-4 cm
d. Saluran serviks memendek dari 3 cm menjadi kurang dari
0,5 cm
2. Kala satu aktif
a. Dimulai ketika serviks membuka 3-4 cm
b. Apabila terdapat kontraksi berirama, kala satu aktif
dikatakan selesai saat serviks membuka sempurna (10 cm)
c. Biasanya selesai dalam 6-12 jam
3. Fase transisional
a. Serviks mengembang dari pembukaan 8 cm sampai
pembukaan lengkap (atau sampai kontraksi ekspulsif selama
kala dua dirasakan oleh ibu).
b. Sering kali, intensitas aktivitas uterus pada fase ini melemah

Sumber : Fraser, 2011

Selama kehamilan serviks panjangnya normal. Pada akhir

kehamilan serviks mulai mendatar, menjadi lebih pendek dan

oesteum uteri internum mulai menghilang pada saat canalis

servikalis menjadi bagian dari segmen bawah rahim. Idealnya

serviks sudah harus masak pada permulaan persalinan. Serviks

yang masak adalah serviks yang lunak, panjangnya kurang dari


37

1,25 cm, dengan mudah dapat dimasuki satu jari dan dapat

dilatasikan. Apabila serviks masak maka ini merupakan tanda

bahwa uterus sudah siap untuk mulai persalinan. Kalau

keadaannya demikian maka induksi persalinan dapat

dikerjakan. Pada persalinan maka serviks lebih memendek lagi

dan osteum uteri eksternum membuka. Kalau sudah cukup

membuka sehingga kepala janin dapat lewat (rata-rata 10 cm)

maka dikatakan pembukaan lengkap.

b) Kala II

Dimulai sejak pembukaan lengkap dan berakhir dengan

lahirnya bayi. Lama Kala II pada primigravida 1 ½ jam, pada

multigravida ½ jam.

(1) Tanda dan Gejala Kala II

(a) Dorongan meneran (doran)

(b) Tekanan pada anus (teknus)

(c) Perineum menonjol (perjol)

(d) Vulva, vagina dan spingter ani membuka

(e) Peningkatan pengeluaran lendir darah

(f) His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit

dengan durasi 50 sampai 100 detik.

(g) Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai

dengan pengeluaran cairan secara mendadak


38

(2) Tanda pasti Kala II

(a) Pembukaan lengkap

(b) Terlihat kepala di introitus vagina, kepala tampak di

vulva dengan diameter 5-6 disebut croning.

c) Kala III

Dimulai dari lahirnya bayi hingga pengeluaran plasenta.

Setelah bayi lahir biasanya his berhenti sebentar, dan

kemudian muncul lagi yang disebut his pelepasan uri. Lama

Kala III pada primigravida dan multigravida 6-15 menit.

Perdarahan kala uri baik sebelum dan/ sesudah lahirnya

plasenta tidak lebih dari 400 ml, jika lebih berarti patologis

(Sondakh, 2013).

Pada kala III persalinan, miometrium berkontraksi

mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah kelahiran

bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya

ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena pendekatan

plasenta menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta

tidak berubah, maka plasenta akan terlipat, menebal dan

akhirnya lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan

turun ke bagian bawah uterus atau ke dalam vagina (Sondakh,

2013).
39

(1) Dua tingkat lahirnya plasenta

Lepasnya plasenta dari tempat implantasinya pada dinding

uterus. Pengeluaran plasenta dari kavum uteri.

(2) Tanda plasenta sudah lepas

(a) Tali pusat bertambah panjang

(b) Perubahan ukuran dan bentuk uterus dari bentuk

diskoid menjadi globuler dan keras

(c) Semburan darah secara tiba-tiba

(d) Fundus uteri naik ke atas > tinggi sedikit di atas pusat

d) Kala IV

(1) Adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi lahir,

untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya

pendarahan post partum (Sondakh, 2013).

(2) Dimulai dari pengeluaran uri sampai 2 jam kemudian.

Obsevasi post partum pada 1 jam pertama setiap 15 menit

dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua. Penentuan jam

pemantauan, dulu dimulai 25 menit setelah plasenta lahir

sedangkan sekarang dimulai senyaman ibu.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum bidan

meninggalkan bulin :

(1) Kontraksi uterus harus baik

(2) Tidak ada perdarahan dari vagina

(3) Plasenta dan selaput janin lahir lengkap


40

(4) Luka perineum sudah dirawat dengan baik dan tidak ada

hematoma

(5) Kandung seni harus kosong

(6) Keadaan umum ibu baik (TD, nadi, nafas normal) dan

tidak ada rasa mual muntah/sakit kepala

(7) Bayi lahir dalam keadaan sehat

Lama persalinan dihitung dari kala I sampai dengan kala III

kemungkinan akan berbeda, di bawah ini adalah tabel

perbedaan lama persalinan antara Nulipara dengan Multipara

(Sondakh, 2013).

Tabel 2.4 Lama Persalinan

Para Multipara
Kala I 13 jam 7 jam
Kala II 1 jam ½ jam
Kala III ½ jam ¼ jam
14 ½ jam 7 ¼ jam

Sumber : Sondakh, 2013

c. Tanda-tanda persalinan

Menurut Sondakh (2013), sebelum terjadi persalinan sebenarnya

beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki kala pendahuluan

(preparatory stage of labor), dengan tanda-tanda :

1) Lightening atau setting atau dropping yaitu kepala turun memasuki

pintu atas panggul terutama pada primigravida pada multigravida

tidak begitu kelihatan.

2) perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.


41

3) Perasaan sering atau susah buang air kecil (polakisuria) karena

kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.

4) Perasaan sakit diperut dan dipinggang oleh adanya konstraksi-

konstraksi lemah dari uterus, disebut “false labor pains”.

5) Servik menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya ber tambah

bisa bercampur darah (bloody show).

Menurut Baety (2011), tanda persalinan sudah dekat yaitu

diantaranya:

1) Terjadi Lightening

Yaitu kepala turun memasuki PAP terutama primigravida

menjelang minggu ke-36. Lightening menyebabkan :

a) Terasa ringan dibagian atas dan rasa sesaknya berkurang

b) Dibagian bawah terasa sesak

c) Terjadi kesulitan saat berjalan dan sering miksi

2) Terjadi His Permulaan

Sifat his permulaan atau palsu :

a) Rasa nyeri ringan dibagian bawah

b) Datangnya tidak teratur dan durasinya pendek

c) Tidak ada perubahan pada serviks dan tidak bertambah bila

beraktivitas.

Menurut Sondakh (2013), tanda dan gejala persalinan yaitu

diantaranya :
42

1) Kontraksi uterus yang semakin lama semakin sering dan teratur

dengan jarak kontraksi yang pendek, yang mengakibatkan

perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).

2) Cairan lendir bercampur darah (show) melalul vagina.

3) Pada pemeriksaan dalam, dapat ditemukan :

a) Pelunakan serviks

b) Penipisan dan pembukaan serviks

4) Dapat disertai ketuban pecah.

d. Sebab-sebab mulainya persalinan

Menurut Johariyah (2012), bagaimana terjadinya persalinan

belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori

yang berkaitan dengan mulai terjadinya persalinan. Perlu diketahui

bahwa ada dua hormon yang dominan pada saat hamil, yaitu :

1) Estrogen

a) Meningkatkan sensitivitas otot rahim

b) memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti

rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin dan

rangsangan mekanik

2) Progesteron

a) Menurunkan sensitivitas otot Rahim

c) Menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar seperti

rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin dan

rangsangan mekanik
43

d) Menyebabkan otot Rahim dan otot polos relaksasi

Menurut Ai Yeyeh (2009), sebab yang mendasari terjadinya

partus secara teoritis masih merupakan kumpulan teoritis yang

kompleks teori yang turut memberikan andil dalam proses terjadinya

persalinan antara lain teori hormonal, prostaglandin, struktur uterus,

sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi hal inilah yang diduga

memberikan pengaruh sehingga partus dimulai.

1) Penurunan kadar progesteron

a) Proses penuaan plasenta mulai umur kehamilan 28

minggu,dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh

darah mengalami penyempitan dan buntu.

b) Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot

rahim menjadi lebih sensitif terhadap oksitosin.

c) Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai

tingkat penurunan progesteron tertentu.

d) Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaiknya

estrogen meningkatkan kontraksi otot rahim. Selama

kehamilan, terdapat keseimbangan antara kadar progesterone

dan estrogen di dalam darah tetapi pada akhir kehamilan

kadar progesteron menurun sehingga timbul his.

2) Teori Oxcytosin

a) Pada akhir kehamilan kadar oxcytosin bertambah. Oleh

karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim


44

b) Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior.

c) Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat

mengubah sensitivitas otot rahim sehingga sering terjadi

kontraksi Braxton Hicks.

d) Menurunkan konsentrasi akibat tuanya kehamilan. Maka

oksitosin dapat meningkatan aktivitas sehingga persalinan

dapat dimulai.

3) Peregangan Otot-otot

a) Dengan majunya kehamilan, maka makin tereganglah otot-

otot rahim sehingga timbulah kontraksi untuk mengeluarkan

janin.

b) Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas

tertentu

c) Setelah melewati batas tersebut terjadi kontaksi sehingga

persalinan dapat dimulai

d) Contohnya pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah

keregangan tertentu, sehingga menimbulkan proses

persalinan.

3) Pengaruh Janin

Hipofise dan kadar suprarenal janin rupanya memegang

peranan penting oleh karena itu pada ancephalus kelahiran sering

lebih lama.
45

4) Teori Prostaglandin

a) Kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke-15

hingga aterm terutama saat persalinan yang menyebabkan

kontraksi myometrium.

b) Pemberian prostaglandin pada saat hamil dapat menimbulkan

kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan

c) Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu persalinan

5) Teori hipothalamus-pituitari dan glandula suprarenala

a) Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anecephalus

sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk

hipotalamus.

b) Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci percobaan,

hasilnya kehamilan kelinci berlangsung lebih lama.

c) Dari hasi penelitian tersebut dapat disimpulkan terdapat

hubungan antara hipothalamus dengan mulainya persalinan.

d) Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya

persalinan.

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi Persalinan

Menurut Mochtar (2011) dalam penelitian Sarah (2017), faktor-faktor

yang mempengaruhi persalinan adalah :

1. Kekuatan mendorong janin keluar (power)

a) His (kontraksi uterus)

His/Kontraksi uterus adalah kontraksi otot-otot uterus

dalam persalinan. Penurunan hormon progestetron


46

yangbersifat menenangkan otot-otot uterus akan mudah

direspon oleh uterus yang teregang sehingga mudah timbul

kontraksi. Akibatnya kontraksi Braxton hiks akan meningkat

(AiYeyeh, 2009).

b) Kekuatan mengedan ibu

Sifat kekuatan yang dihasilkan mirip seperti yang terjadi

pada saat buang air besar, tetapi biasanya intensitasnya jauh

lebih besar. Pada saat kepala sampai pada dasar panggul,

timbul suatu reflek yang mengakibatkan pasien menutup

glotisnya, mengkontraksikan otot-otot perutnya dan menekan

diafragmanya ke bawah. Tenaga mengejan ini hanya dapat

berhasil, kala pembukaan sudah lengkap dan paling efektif

sewaktu kontraksi rahim/uterus. Disamping itu, kekuatan-

kekuatan tahanan mungkin ditimbulkan oleh otot-otot dasar

panggul dan aksi ligament (AiYeyeh, 2009).

c) Kontraksi otot-otot dinding perut

d) Kontraksi diafragma

2. Faktor jalan lahir (passage)

Faktor jalan lahir dibagi menjadi :

a) Bagian keras tulang-tulang panggul (kerangka panggul)

Bentuk dan dimensi tulang panggul ditentukan oleh

sejumlah faktor lingkungan, hormon, dan genetik. Ada empat

tipe starna yang dikenali ginekoli, android antropoid dan

platipelloid. Panggul ginekoid panggul tipikal wanita


47

ditemukan pada sekitar 40% wanita dan memperlihatkan

tampilan rongga yang secara keseluruhan berbentuk bulat

dengan sangkar tulang melengkung sempurna serta tonjolan-

tonjolan tulang yang tidak sejelas. tonjolan tulang pada varian

panggul wanita yang lain (AiYeyeh, 2009).

Pada panggul android kondisi ini cenderung

meryebabkan kepala bayi memasuki pintu atas panggul dengan

sutura sagitalis pada diameter oblik dan ubun-ubun kecil di

posterior, Sakrun berbentuk lebih lurus dan bersama spina

iskiadika yang menonjol, cenderung menghalangi rotasi kepala

janin ke posisi oksipito anterior (AiYeyeh, 2009).

Pada panggul antropoid, panggul jenis ini cenderung

mengakibatkan posisi oksipito-posterior dan tidak jarang bayi

lahir dengan wajah menghadap pubis (AiYeyeh, 2009).

b) Bagian lunak seperti :

(1) Otot-otot

(2) Jaringan-jaringan

(3) Ligamen-ligamen

3. Faktor janin (passanger)

Faktor janin dibagi menjadi :

a) Kepala janin

Bagian paling besar dan keras pada janin adalah kepala

janin. Posisi dan besar kepala dapat mempengaruhi jalannya

persalinan.
48

Posisi dan besar kepala janin dapat mempengaruhi

jalannya persalinan sehingga dapat membahayakan hidup dan

kehidupan janin kelak hidup sempurna, cacat atau akhirnya

meninggal. Biasanya apabila kepala janin sudah lahir, maka

bagian-bagian lain dengan mudah menyusul kemudian.

Saat persalinan rongga panggul secara perlahan akan

diisi oleh kepala janin yang mendistensi vagina dan rektum

tertekan, sebagaimana pula kandung kemih yang berada di

bawah tekanan tambahan segmen bawah rahim yang teregang,

tempat kandung kemih melekat.

(1) Tulang Tengkorak (Cranium)

pada posisi oksipitoposterior, diameter presentasi

adalah oksitofrontal atau suboksipitofrontal (masing-

masing dengan rerata 11,75 cm dan 11 cm). Namun, pada

presentasi dahi, diameter presentasi adalah

oksipitomental(rata-rata 13 cm)yang biasanya

menghasilkan persalinan macet.

(2) Ukuran-ukuran kepala

Diameter occipito frontalisjarak antara tulang

oksiput dan frontal dengan ukuran ± 12 cm, diameter

Mento Occipitalis dengan ukuran ± 13,5 cm,diameter Sub

Occipito Bregmatika dengan ukuran ± 9,5 cm, diameter


49

Biparietalisdengan ukuran ± 9,25 cm, diameter

Bitemporalis dengan ukuran ± 8 cm.

(3) Ukuran badan lain

Bahu merupakan jaraknya ± 12 cm (jarak antara

akromion), lingkaran bahu ± 34 cm, lebar bokong

(diameter intertrokanterika) ± 12 cm, lingkaran bokong ±

27 cm.

b) Postur janin dalam rahim

Postur janin diantaranya :

(1) Sikap yaitu menunjukkan hubungan bagian-bagian janin

dengan sumbu janin, biasanya terhadap punggungnya.

Kepala, tulang punggung dan kaki janin umumnya berada

pada posisi fleksi serta lengan bersilang di dada. Sikap

janin bervariasi tergantung pada presentasinya.

(2) Letak janin adalah bagian posisi sumbu janin terhadap

sumbu ibu, sebagai contoh pada letak lintang, sumbu janin

tegak lurus terhadap sumbu ibu dan pada letak membujur,

sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu. Pada letak

membujur terdapat dua kemungkinan yaitu bagian

terbawah janin adalah kepala atau mungkin juga letak

sungsang. Letak janin adalah hubungan antara sumbu

panjang janin dengan sumbu panjang ibu. Ada


50

kemungkinan pada letak lania yaitu letak memanjang lelak

membujur dan letak miring/oblique (AiYeyeh, 2010).

(3) Presentasi digunakan untuk menentukan bagian terbawah

janin apakah janin disebelah kanan, kiri, depan atau

belakang terhadap sumbu ibu (maternal-pelvis).

f. Mekanisme persalinan

Menurut Siwi (2016), mekanisme persalinan normal yaitu :

1) Turunnya kepala dibagi menjadi dua yaitu masuknya kepala

dalam pintu atas panggul dan majunya kepala

2) Pembagian ini terutama brerlaku pada primigravida. Masuknya

kedalam pintu atas panggul pada primigravida sudah terjadi pada

bulan terakhir kehamilan tetapi pada multigravida biasanya baru

terjadi pada permulaan persalinan

3) Masuknya kepala kedalam pintu atas panggul biasanya dengan

sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan

4) Masuknya sutura sagitalis terdapat ditengah-tengah jalan lahir

ialah tepat diantara simpisis dan promontorium, maka kepala

dikatakan dalam synclitismus os parietal depan dan belakang

sama tingginya

5) Jika sutura sagitalis agak kedepan mendekati simpisis atau agak

kebelakang mendekati promontorium maka posisi ini disebut

asynclitismus. Pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam

asynclitismus posterior yang ringan. Asynclitismus posterior


51

adalah jika sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal

belakang lebih rendah dari os parietal depan. Asynclitismus

anterior ialah jika sutura sagitalis mendekati promontorium

sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang

6) Majunya kepala pada primigravida terjadi setelah kepala masuk

kedalam rongga panggul dab biasanya baru dimulai pada kala II.

Pada multigravida sebaiknya majunya kepala dan masuknya

kepala kedalam rongga panggul terjadi bersamaan yang

menyebabkan majunya kepala

7) Penurunan terjadi selama persalinan oleh karena daya dorong dari

kontraksidan posisi, serta peneranan selama kala II oleh ibu

8) Fiksasi (engagement) merupakan tahap penurunan pada waktu

diameter biparietal dari kepala janin telah masuk panggul ibu

9) Esensus merupakan syarat utama kelahiran kepala terjadi karena

adanya tekanan cairan amnion, tekanan langsung pada bokong

saat kontraksi, usaha meneran, ekstensi, dan penelusuran badan

janin

10) Fleksi, dengan majunya kepala, fleksi bertambah hingga ubun-

ubun besar. Fleksi disebabkan karena janin didorong maju dan

sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul,

serviks, dinding panggul atau dasar panggul

11) Putaran paksi dalam/rotasi internal, pemutaran dari bagian depan

sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan


52

memutar ke depan kebawah simpisis. Putaran paksi dalam

merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan

bentuk jalan lahir khususnya bentuk bidang tengah dan pintu

bawah panggul. Sebab-sebab putaran paksi dalam : pada letak

fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian terendah dari

kepala

12) Rotasi interna dari kepala janin akan membuat diameter

anteroposterior (yang lebih panjang) dari kepala akan

menyesuaikan diri dengan diameter anteroposterior dari panggul

13) Ekstensi, setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar

panggul terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala

14) Setelah suboksiput tertahan pada pinggir bawah simpisis maka

yang dapat maju karena kekuatan tersebut diatas adalah bagian

yang berhadapan dengan subocciput, maka lahirlah berturut-turut

pada pinggir atas perineum ubun-ubun besar, dari hidung dan

mulut dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi. Subocciput

yang menjadi pusat pemutaran disebut hypomoclion

15) Rotasi eksternal/ putaran paksi luar, terjadi bersamaan dengan

perputaran interior bahu. Setelah kepala bayi lahir, maka kepala

anak memutar kembali kearah panggung anak untuk

menghilangkan torsi leher yang terjadi karena putaran paksi

dalam. Gerakan ini disebut putaran restitusi


53

16) Ekspulsi, setelah putaran paksi luaar bahu depan sampai dibawah

sympisis dan menjadi hypomoclion untuk kelahiran bahu

belakang, kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya

seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir

mengikuti lengkung currus (kurva jalan lahir)

g. Penatalaksanaan dalam proses persalinan (Pakai langkah-langkah

dalam APN 60 langkah +IMD)

Menurut Prawihardjo (2014), langkah-langkah persalinan dengan

APN 60 langkah meliputi :

1) Melihat tanda gejala kala II (dorongan meneran, tekanan anus,

perineum menonjol, vulva membuka)

2) Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial siap

digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 ui dan

menempatkan tabung suntik steril sekali pakai dalam partus set

3) Menggunakan baju penutup atau clemek plastik yang bersih

4) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku,

Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang

mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk 1 kali

pakai/pribadi yang bersih

5) Memakai satu sarung tangan DTT atau steril untuk semua

pemeriksaan dalam
54

6) Menghisap oksitosin 10 ui kedalam spuit 3 cc dengan memakai

sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi dan meletakan kembali

di partus set

7) Membersihkan vulva dan perineum menggunakan kapas DTT

8) Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaann

servik sudah lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah,

sedangkan pembukaan sudah lengkap lakukan amniotomi

9) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan

tangan yang memaki sarung tangan kotor kedalam larutan klorin

0,5 % kemudian rendam selama 10 menit, mencuci kedua

tangan.

10) Melakukan pemeriksaan DJJ

11) Beritahu ibu dan keluarga pembukaan sudah lengkap dan

kondisi janin dalam keadaan baik

12) Meminta keluarga untuk membantu menyiapkan posisi meneran

13) Melakukan pimpin meneran disaat ada dorongan yang kuat dan

memeriksa DJJ saat tidak ada kontraksi, Menganjurkan ibu

untuk makan dan minum saat tidak ada kontraksi

14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm

meletakan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan

bayi,

15) Meletakan kain bersih dilipat sepertiga bagian dibawah bokong

ibu
55

16) Membuka partuset untuk mengecek kelengkapan alat

17) Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan

18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm

lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain,

letakan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan

yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi biarkan

kepala bayi keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk

memeran perlahan-lahan atau nafas cepat saat kepala bayi lahir

19) Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayidengan

kain yang bersih

20) Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang

sesuai jika talipusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan

lewat bagian atas kepala bayi. Jika tali pusat melilit leher bayi

dengan erat klem di dua tempat dan pemotongnya

21) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar

secara spontan

22) Setelah kepala bayi melakukan putaran paksi luar, tempatkan

kedua tangan dimasing-masing muka bayi. Menganjurkan ibu

untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut

menariknya kearah bawah dan kearah luar hingga bahu anterior

muncul dibawah arkus pubis kemudian dengan lembut menarik

keatas dan kearah luar untuk melahirkan bahu posterior


56

23) Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusuran tangan mulai

kepala bayi yang berada diarah bawah kearah perineum

membiarkan bahu dan lengan posterior ketangan tersebut

mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati

perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga

tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior

( bagian atas) untuk mengendalikan si8ku dan tangan anterior

bayi saat keduanya lahir

24) Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada

diatas(anterior) dari punggung kearah kaki bayi untuk

menyangga punggung saat lahir. Memegang kedua kaki bayi

dengan hati-hati membantu kelahiran kaki

25) Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian

meletakan bayi diperut ibu dengan posisibayi sedikit lebih

rendah dari tubuhnya ( bila tali pusat terlalu pendek, meletakan

bayi pada tempat yang memungkinkan), bila bayi mengalami

asfiksia, lakukan resusitasi

26) Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan

biarkan kontak kulit ibu- bayi. Lakukan penyuntikan oksitosin

per IM

27) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3cm dari pusat

bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem kearah
57

ibu dan memasang klem kedua 2 cmdari klem pertama (kearah

ibu)

28) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari

gunting dan memotong tali pusatdiantara klem tersebut

29) Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah dan

menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan

kering, menutup bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka.

Jika bayi mengalami kesulitan bernafas, ambil tindakan yang

sesuai.

30) Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk

memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu

menghendaki

31) Meletakan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi

abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi

kedua

32) Memberitahu kepada ibu bahwa ibu akan disuntik

33) Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntikan

oksitosin secara IM 10 unit di gluteus atau 1/3 atas paha kanan

ibu bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dahulu

34) Memindahkan klem pada tali pusat 5-6 cm didepan vulva untuk

melakukan PTT

35) Meletakan satu tangan diatas kain yang ada diperut ibu, tepat

diatas tulang pubis bawah dsan menggunakan tangan ini untuk


58

melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus .

memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain

36) Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan

penegangan kearah bawah pada tali pusatdengan lembut lakukan

tekanan yang berlawanan ke arah pada bagian uterus dsengan

cara menekan uterus kearah bagian belakang ( dorsokranial)

dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadianya insersio

uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan

penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi mulai

37) Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil

menarik tali pusat kearah bawah dan kemudian kearah atas,

mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan

berlawanan arah pada uterus

38) Jika plasenta terlihat di introitus vagian, melanjutkan lkelahiran

plasenta dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput

ketuban terpilin dengan lembut perlahan lahirkan selaput

ketuban tersebut

39) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan

masase uterus, meletakan telapak tangan di fundus dan

melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut

hingga uterus berkontraksi


59

40) Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu

maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan plasenta

dan selaput ketuban lengkap dan utuh

41) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan

segera jahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif

42) Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan

baik

43) Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan

kedalam larutan klorin 0,5 %

44) Membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut

dengan air desinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkannya

dengan kain bersih dan kering

45) Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau

mengikat tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati

disekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat, mengikat satu lagi

simpul mati dibagian pusat yang bersebrangan dengan simpul

mati yang pertama

46) Melepas klem tali pusat dengan meletakannya kedalam larutan

klorin 0,5%

47) Menyelimuti bayi kembali dan menutupi bagian kepalanya.

Memastikan handuk atau kainnya bersih/kering

48) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian asi


60

49) Melakukan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan

pervagina 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca bersalin, setiap

15menit pada jam pertama, setiap 20-30 menit pada jam ke dua

pasca bersalin

50) Mengajarkan pada ibu atau keluarga bagaimana melakukan

masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus

51) Mengevaluasi kehilangan darah

52) Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih

setiap 15 selama 1 jam pertama pasca bersalin dan setiap 30

menit selama jam ke dua pasca bersalin

53) Menempatkan semua peralatan didalam larutan klorin 0,5%

untuk dekontaminasi ( 10 menit). Mencuci dan membilas

peralatan setelah dekontaminasi

54) Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat

sampah yang sesuai

55) Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat

tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah.

Membantu ibu memakai pakaian besih dan kering

56) Memastika bahwa ibu nyaman. Membantu memberikan ibu ASI.

Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minum dan

makanan yang diinginkan

57) Mendokontaminasi daerah yang digunakn untuk melahirkan

dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih


61

58) Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%,

membalikan bagian dalam keluar dan merendamnya dalam

larutan klorin 0,5% selama 10 menit

59) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir

60) Melengkapi partograf

Menurut JNPK-KR (2008),langkah Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

a) Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya segera

setelah lahir selama paling sedikit satu jam. Dianjurkan agar

tetap melakukan kontak kulit ibu bayi selama 1 jam pertama

kelahirannya walaupun bayi telah berhasil mengisap puting susu

ibu dalam waktu kurang dari 1 jam.

b) Bayi harus menggunakan naluri alamiahnya untuk melakukan

inisiasi menyusu dini dan ibu dapat mengenali bayinya siap

untuk menyusu serta memberi bantuan jika diperlukan

c) Menunda semua prosedur lainya yang harus dilakukan kepada

bayi baru lahir hingga inisiasi menyusu selesai dilakukan,

prosedur tersebut seperti : Menimbang, pemberian antibiotika

salep mata, vitamin K1 dan lain-lain.

Prinsip menyusu/pemberian ASI adalah dimulai sedini mungkin

dan secara eksklusif. Segera setelah bayi lahir dan tali pusat

diikat, letakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi

bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit

ini berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan sampai bayi


62

dapat menyusu sendiri apabila sebelumnya tidak berhasil. Bayi

diberi topi dan diselimuti. Ayah atau keluarga dapat memberi

dukungan dan membantu ibu selama proses ini. Ibu diberi

dukungan untuk mengenali saat bayi siap untuk menyusu,

menolong bayi bila diperlukan.

Langkah Inisiasi Menyusui Dini dalam Asuhan Bayi Baru Lahir

Langkah 1: Lahirkan, lakukan penilaian pada bayi, keringkan

1) Saat bayi lahir, catat waktu kelahiran

2) Kemudian letakan bayi diperut bawah ibu

3) Nilai bayi apakah diperlukan resusitasi atau tidak (2 detik)

4) Bila tidak perlu resusitasi, keringkan tubuh bayi mulai dari

muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan halus tanpa

membersihkan verniks. Verniks akan membantu menghangatkan

tubuh bayi. Setelah kering selimuti bayi dengan kain kering

untuk menunggu 2 menit sebelum tali pusat diklem.

5) Hindari mengeringkan tangan bayi. Bau cairan amnion pada

tangan bayi juga membantunya mencari puting ibunya yang

berbau sama.

6) Lendir cukup dilap dengan kain bersih. Penghisapan lendir di

dalam mulut atau hidung bayi dapat merusak selaput lendir dan

meningkatkan resiko infeksi pernafasan.


63

7) Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi

dalam uterus (hamil tunggal) kemudian suntikan Intramuskular

10 UI oksitosin pada ibu. Jaga bayi tetap hangat.

Langkah 2: Lakukan kontak kulit dengan kulit selama paling

sedikit satu jam

1) Setelah tali pusat dipotong dan diikat, letakan bayi tengkurap di

dada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada

ibu. Kepala bayi harus berada diantara payudara ibu, tetapi lebih

rendah dari puting.

2) Kemudian selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang

topi dikepala bayi.

3) Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit didada ibu

paling sedikit satu jam. Mintalah ibu untuk memeluk dan

membelai bayinya. Bila perlu letakkan bantall dibawah kepala

ibu untuk mempermudah kontak visual antara ibu dan bayi.

Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu

dini dalam waktu 30-60 menit.

4) Hindari membasuh dan menyeka payudara ibu sebelum bayi

menyusu.

5) Selama kontak kulit ke kulit tersebut, lanjutkan dengan langkah

manajemen aktif kala 3 persalinan.

Langkah 3: Biarkan bayi mencari dan menemukan puting ibu dan

mulai menyusu
64

1) Biarkan bayi mencari dan menemukan puting dan mulai

menyusu

2) Anjurkan ibu dan orang lain untuk tidak menginterupsi upaya

bayi untuk menyusu misalnya, memindah bayi dari satu

payudara ke payudara lain lainnya. Menyusu pertama biasanya

berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu

payudara.

3) Menunda semua asuhan BBL Lahir normal lainnya hingga bayi

selesai menyusu. Tunda memandikan bayi 6-24 jam setelah bayi

lahir untuk mencegah terjadinya hipotermia.

4) Usahakan tetap menempatkan ibu dan bayi di ruang bersalinn

hinga bayi selesai menyusu.

5) Segera setelah BBL selesai menghisap, bayi akan berhenti

menelan dan melepaskan puting. Bayi dan ibu akan merasa

ngantuk. Bayi kemudian diselimuti dengan kain bersih, lalu

lakukan penimbangan dan pengukuran bayi, mengoleskan salep

antibiotika pada mata bayi dan memberika suntikan Vitamin K1.

a) Jika bayi belum melakukan inisiasi menyusu dini dalam

waktu 1 jam posisikan bayi lebih dekat dengan puting ibu dan

biarkan kontak kulit dengan kulit selama 30-60 menit

berikutnya.

b) Jika bayi masih belum melakukan inisiasi menyusu dini

dalam waktu 2 jam, pindahkan ibu keruang pemulihan


65

dengan bayi tetap didadad ibu. Lanjutkan asuhan BBL

(pemberian antibiotika salep mata dan vitamin K1) dan

kemudian kembalikan bayi kepada ibu untuk menyusu.

6) Kenakan pakaian pada bayi atau tetap diselimuti untuk menjaga

kehangatannya. Tetap tutupi kepala bayi dengan topi selama

beberapa hari pertama. Bila suatu saat kaki bayi terasa dingin

saat disentuh, buka pakaianya kemudian telungkupkan kembali

di dada ibu sampai bayi hangat kembali.

7) Satu jam kemudian, berikan bayi suntikan hepatitis B pertama.

8) Lalu tempatkan ibu dan bayi di ruangan yang sama. Letakkan

kembali bayi dekat dengan ibu sehingga mudah terjangkau dan

bayi menyusu sesering keinginannya.

h. Induksi persalinan

a. Pengertian

Menurut Nugroho (2012) induksi adalah tindakan atau langkah

untuk memulai persalinan yang sebelumnya belum terjadi, bisa

secara mekanik maupun kimiawi (farmakologik).

1) Mekanik : Amniotomi, Srtipping, Insersi Foley Chateter,

Laminaria.

2) Kimiawi / Farmakologik : Misoprostol tablet, Oksitosin tablet,

Oksitosin drip.

b. Indikasi untuk induksi

Menurut Nugroho (2012), indikasi induksi adalah :


66

1) Penyakit hipertensi pada kehamilan

2) Diabetes millitus

3) Ketuban pecah dini

4) Kematian janin dalam kandungan

5) Preeklamsia berat / eklamsia

c. Kontraindikasi

Menurut Nugoroho (2012), kontraindikasi yaitu :

1) Insisi uterus klasik sebelumnya

2) Infeksi herpes genitalis aktif

3) Plasenta atau vasa previa

4) Prolapsed tali pusat

5) Riwayat operasi myomektomi intramular

d. Menurut teori Nugroho (2012), metode induksi secara farmakologis

meliputi : prostaglandin (PEG, misoprostol) dan oksitosin.

Misoprostol dapat diberikan secara vaginal, oral (buccal) atau

sublingual. Misoprostol tidak dapat digunakan untuk stimulasi dan

tidak boleh digunakan untuk induksi persalinan dengan riwayat

operasi caesar (SC). Misoprostol dapat digunakan untuk

pematangan serviks atau induksi persalinan. Dosis yang digunakan

25 - 50 µg dan ditempatkan di dalam forniks posterior vagina. Pada

augmentasi persalinan, hasil dari penelitian awal menunjukkan

bahwa Misoprostol yang diberikan dengan interval 4 jam untuk

maksimum dua dosis.


67

e. Pemberian oksitosin intravena

Tujuan induksi adalah untuk menghasilkan aktifitas uterus yang

cukup untuk menghasilkan perubahan serviks dan penurunan janin.

Oksitosin diberikan dengan menggunakan protokol dosis rendah (1

– 4 mU/menit) atau dosis tinggi (6 – 40 mU/menit).

Tabel 2.5 berbagai regimen oksitosin Dosis Rendah dan Tinggi

Regimen Dosis awal Penaikan dosis Interval


(mU/menit) (mU/menit) (menit)
Rendah 0,5 – 1,5 1 15 - 40
2 4,8,12,16,20,25,30
Tinggi 4 4 15
4,5 4,5 15 – 30
6 6 20 - 40
Sumber : Nugroho, (2012)

1) Prosedur tindakan dengan Misoprostol

a) Pasien dievaluasi secara menyeluruh, mengenai

kesejahteraan janin (fetal wellbeling).

b) Berikan tabel misoprostol / cytotec 25 – 50 mcg (1/8 – 1/ 4

tablet) yang diletakan di vorniks posterior serap 6 – 8 jam

hingga ada his atau kontraksi memadai sesuai dengan tahap

persalinan. Kejadian hiperstimulasi pada dosis 50 mcg lebih

tinggi daripada dosis 25 mcg.

c) Setelah pemberian 3 kali berturut – turut belum ada

kontraksi yang memadai, evaluasi menyeluruh.


68

1)) jika dalam keadaan baik, pasien diistirahatkan selama

24 jam dan kemudian prosedur di atas pada butir 1 dapat

diulangi kembali seri ke – 2

d) Induksi persalinan dianggap gagal jika setelah seri ke – 2

tidak ada kontraksi yang memadai untuk persalinan, atau

skor bishop > 5, bila terjadi kegagalan induksi (hanya

sekitar 5% dengan menggunakan tablet misoprostol /

cytotec). Maka harus dilakukan :

1)) SC berencana / elektif apabila tidak ada kegawatan (ibu

atau janin)

2)) SC segera bila terjadi kegawatan (preeklamsia atau

eklamsia, gawat janin)

2) prosedur tindakan dengan oksitosin

a) oksitosin di drip dalam RL

b) mulai dengan 2,5 UI dalam 500 cc, tetesan mulai dengan 10

tetes/menit dan naikkan tiap 30 menit sampai kontraksi baik

(3x10m/40dtk) dan pertahankan sampai terjadi persalinan

c) jika his belum baik sampai tetesan ke 60, tingkatkan

pemberian oksitosin menjadi 5 UI/500 cc

d) jika tetap tidak ada kemajuan his sampai dengan tetesan ke

60, maka :

1) pada multi dianggap gagal dan lakukan SC


69

2) pada primi dapat dinaikkan :

a) tingkatkan pemberian oksitosin menjadi 10 UI/500 cc

b) mulai dengan tetesan 30 dan tingkatkan 10 tetes tiap 30

menit

c) jika tetap tidak adekuat hisnya setelah tetesan ke 60, lakukan

SC

f. Nilai / skor bishop

Menurut Nugroho (2012), skor Bishop adalah suatu cara

untuk menilai kematangan serviks setelah proses yang terjadi

menjelang kelahiran, dimana serviks menjadi lunak, menipis dan

ditalis. Serviks dengan skor bishop rendah (artinya serviks belum

matang) memberikan angka kegagalan yang lebih tinggi.

Tabel 2.6 Skor Bishop

Skor Bishop
Skor 0 1 2 3
Pembukaan 0 1–2 3–4 5–6
Pendataan 0 – 30 % 20 – 40 % 60 – 70 % 80%
Station -3 -2 -1 +1 +2
Konsistensi Keras Sedang Lunak Amat
Lunak
Posisi Ostium Posterior Tengah Anterior Aneterior
Uteri
Sumber : Nugroho, (2012)

Tabel 2.7 Penipisan Serviks


70

Bila Skor Total Kemungkinan Berhasil


0–4 50 – 60 %
5–9 90 %
10 – 13 100 %
Sumber : Nugroho, (2012)

Induksi persalinan dikatakan berhasil bila :

Bayi lahir pervaginam dengan skor APGAR (>6), termasuk yang

harus dibantu dengan ekstraksi forcep maupun vakum.

Berdasarkan kriteria Bishop, yakni :

a. jika kondisi serviks baik (skor 5 atau lebih), persalinan biasanya

berhasil diinduksi dengan hanya menggunakan induksi.

b. Jika kondisi serviks tidak baik (skor <5), matangkan serviks

terlebih dahulu sebelum melakukan induksi. Pematangan serviks

dapat menggunakan kateter foley.

g. Kateter Transservikal (kateter Foley)

Kateter foley merupakan alternatif yang efektif disamping

pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks dan induksi

persalinan. Akan tetapi tindakan ini tidak boleh digunakan pada ibu

yang mengalami servisitis, vaginitis, pecah ketuban, dan terdapat

riwayat perdarahan. Kateter foley diletakkan atau dipasang melalui

kanalis servikalis (os serviks interna) di dalam segmen bawah

uterus (dapat diisi sampai 100 ml), tekanan ke arah bawah yang

diciptakan dengan menempelkan kateter pada paha dapat

menyebabkan pematangan serviks ( chapter, 2012).


71

Menurut Chapter (2012), adapun teknik pemasangan

kateter foley yaitu sebagai berikut :

a) Pasang speculum pada vagina

b) Masukkan kateter foley pelan – pelan melalui servik dengan

menggunakan cunam tampon

c) Pastikan ujung kateter telah melewati ostium uteri internum

d) Gelembungkan balon kateter dengan memasukkan 10 ml air

e) Gulung sisa kateter dan letakkan dalam vagina

f) Diamkan kateter dalam vagina sampai timbul kontraksi uterus

atau maksimal 12 jam

g) Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkannya dan

kemudian lanjutkan dengan infuse oksitosin.

3. Nifas

a. Pengertian nifas

Masa nifas (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir

dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan

sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu (Ai Yeyeh,

2011).

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan

berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum

hamil. Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya

plasenta sampai 6 minggu (42 hari) setelah itu. Dalam bahasa latin,

waktu mulai tertentu setelah melahirkan anak ini puerperium yaitu dari
72

kata puer yang artinya bayi dan parous melahirkan. Jadi puerperium

berarti masa setelah melahirkan bayi. Puerperium adalah masa pulih

kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan

kembali seperti pra-hamil. Sekitar 50% kematian ibu terjadi dalam 24

jam pertama postpartum sehingga pelayanan pasca persalinan yang

berkualitas harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi

kebutuhan ibu dan bayi. (Dewi dan Sunarsih, 2011).

b. Fisiologi nifas

Tahapan Masa Nifas menurut Dewi dan Sunarsih (2011)

menyatakan bahwa tahapan masa nifas di bagi menjadi 3 yaitu :

1) Puerperium dini

Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-

jalan, serta menjalankan aktivitas layaknya wanita normal lainnya.

2) Puerperium intermediate

Yaitu suatu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang

lamanya sekitar 6-8 minggu.

3) Puerperium remote

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama

apabila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai

komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu,

bulanan, tahunan.
73

c. Perubahan yang terjadi pada masa nifas

Menurut Reni (2010), perubahan yang terjadi pada masa nifas

diantaranya yaitu :

1) Perubahan sistem reproduksi

Perubahan alat-alat genital baik interna maupun eksterna kembali

seperti semua seperti sebelum hamil disebut involusi.

a) Involusi Uterus

Perubahan-perubahan normal pada uterus selama postpartum

adalah sebagai berikut :

Tabel 2.8 Involusi uterus

Involusi Uteri Tinggi Fundus Berat Diameter


Uteri Uterus uterus
Plasenta lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm

7 hari Pertengahan 500 gram 7,5 cm


(1 minggu) pusat dan
simpisis
14 hari 350 gram 5 cm
(2 minggu) Tidak teraba

6 minggu 60 gram 2,5 cm


Normal

Sumber : Reni, 2010

Pada saat letak TFU diatas umbilicus, masalah berikut

harus dipertimbangkan : darah atau bekuan darah

menyebabkan distensi uterus pada jam-jam pertama pasca

partum, atau perubahan letak uterus karena distensi kandung


74

kemih kapan pun saat pascapartum (khususnya jika uterus juga

mengalami perubahan letak ke kuadran kanan atas). Reduksi

ukuran uterus tidak mengurangi banyaknya sel otot. Akan

tetapi, ukuran setiap sel menurun secara dramatis karena sel

membuang kandungan materi sel yang berlebihan.

Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :

(1) Iskemia Miometrium

Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang

terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta

sehingga membuat uterus menjadi relative anemi dan

menyebabkan serat otot atrofi.

(a) Atrofi jaringan

Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian

hormone enterogen saat pelepasan plasenta.

2) Perubahan serviks

Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan

serviks dapat sembuh. Namun demikian, selesai involusi, ostium

eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Pada umumnya

ostium eksternum lebih besar, tetap ada retak-retak dan robekan-

robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya (Reni,

2010).

3) Lokia
75

Lokia adalah cairan secret vang berasal dari kavum uteri dan

vagina selama masa nifas. Lokia mempunyai bau arnis (anyir),

meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda pada

setiap wanita. Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa

nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme

berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada

vagina normal (AiYeyeh, 2011).

Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang mengelilingi

situs plasenta akan menjadi nekrotik. Desidua yang mati akan

keluarbersama dengan sisa cairan. Percampuran antara darah dan

desidua inilah yang dinamakan lokia (Reni, 2010).

Menurut Reni (2010), lokia mengalami perubahan karena

proses involusi, pengeluaran lokia dapat dibagi menjadi lokia

rubra, sanguilenta, serosa dan alba. Perbedaan masing-masing

lokia dapat dilihat sebagai berikut :

a) Lochea rubra (Cruenta), muncul pada hari 1-2 pasca

persalinan, berwarna merah mengandung darah dan A sisa-sisa

selaput ketuban, jaringan dari decidua, verniks caseosa, lanugo

dan mekoneum.

b) Lochea Sanguilenta, muncul pada hari ke 3-7 pasca persalinan,

berwarna merah kuning dan berisi darah lendir.

c) Lachea Serosa, muncul pada hari ke 7-14 pasca persalinan,

berwarna kecoklatan mengandung lebih banyak lebih sedikit


76

darah dan lebih banyak serum, juga terdiri leukosit dan robekan

laserasi plasenta.

d) Lochea Alba, muncul sejak 2-6 minggu pasca persalinan

berwarna putih kekuningan mengandung leukosit, selaput

lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.

e) Lochea Purulenta, terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah

dan berbau busuk.

f) Lochiostatis, lochea yang tidak lancar keluarnya.

Umumnya jumlah lochia lebih sedikit bila wanita postpartum

dalam posisi berbaring daripada berdiri. Hal ini terjadi akibat

pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat wanita dalam posisi

berbaring dan kemudian akan mengalir keluar saat berdiri, Total

jumlah rata-rata pengeluaran lokia sekitar 240 hingga 270 ml (Reni,

2010).

Lokia mempunyai karakteristik bau seperti aliran menstruasi.

Bau lokia ini paling kuat pada lokia serosa. Bau tersebut lebih kuat

lagi jika tercampur dengan keringat dan harus secara cermat

dibedakan dengan bau tidak sedap yang mengindikasikan adanya

infeksi (Reni, 2010).

Lokia mulai terjadi pada jam-jam pertama pasca partum,

berupa secret kental dan banyak. Berturut-turut, banyaknya lokia

semakin berkurang, vaitu berjumlah sedang (berupa lokia rubra),

berjumlah sedikit (berupa lokia serosa), dan berjumlah sangat


77

sedikit (berupa Tokia alba), Biasanya wanita mengeluarkan sedikit

lokla saat berbaring dan mengeluarkan darah lebih banyak atau

mengeluarkan bekuan darah yang kecil saal ja bangkit dari tempat

tidur. Hal ini terjadi akibat pengumpulan darah di forniks vagina

atau saat wanita mengalami posisi rekumben. Pengumpulan

tersebut berupa bekuan darah, terutama pada hari-hari pertama

setelah kelahiran. Rata-rata jumlah total secret lokja adalah sekitar

8-9 ons (240 - 270 ml). Variasi dalam durasi aliran lokia sangat

umum terjadi. Akan tetapi, warna aliran lokia harian cenderung

semakin terang, yaitu berubah dari merah segar menjadi merah tua,

kemudian cokelat, dan merah muda. Aliran lokia yang tiba-tiba

kembali berwarna merah segar bukan merupakan temuan normal

dan memerlukan evaluasi. Penyebabnya meliputi aktifitas fisik

berlebihan, bagian plasenta atau selapur janin yang tertinggal, dan

atonia uterus (Reni, 2010).

Pengeluaran lokia dapat dibagi menjadi lokia rubra,

sanguilenta, serose dan alba.

Tabel 2.9 perbedaan masing-masing lokia

Lokia Waktu Warna Ciri-Ciri


Rubra 1 – 3 hari Merah Terdiri dari sel desidua,
kehitaman verniks caseosa, rambut
lanugo, sisa makoneum
dan sisa darah
Sanguilenta 3 – 7 hari Putih Sisa darah bercampur
bercampur lender
merah
Serosa 7 – 14 hari Kekuningan / Lebih sedikit darah dan
78

kecoklatan lebih banyak serum, juga


terdiri dari leukosit dan
robekan laserasi plasenta
Alba > hari Putih Mengandung leukosit,
selaput lender serviks dan
serabut jaringan yang mati

Sumber : Reni, 2010

Umumnya jumlah lokia lebih sedikit bila wanita

postpartum dalam posisi berbaring daripada berdiri. Hal ini terjadi

akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat wanita dalam

posisi berbaring dan kemudian akan mengalir keluar saat berdiri

(Reni, 2010).

4) Perubahan vulva, vagina dan perineum

Segera setelah kelahiran, vagina tetap terbuka lebar, mungkin

mengalami beberapa derajat edema dan memar, dan celah pada

introitus. Setelah satu hingga dua hari pertama pascapartum, tonus

otot vagina kembali, celah vagina tidak lebar dan vagina tidak lagi

edema Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami

penekanan serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan

kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul

kembali pada minggu ketiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil

dan dalamproses pembentukan berubah menjadi karankulae

mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan

selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan

pertania. Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada


79

saat perineum mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat

terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan

indikasi tertentu. Akan tetapi, latihan pengencangan otot perineum

akan mengembalikan tonusnya dan memungkinkan wanita secara

perlahan mengencangkan vaginanya. Pengencangan ini sempuma

pada akhir puerperium dalam latihan setiap hari (Reni, 2010).

5) Perubahan Sistem Pencernaan

Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh

beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat

mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol

darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca

melahirkan, kadar progesteran juga mulai menurun. Namun

demikian, faal usus memerlukan waktu 3 - 4 hari untuk kembali

normal (Reni, 2010).

Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak.

Hal Ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan

mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong,

pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan

(dehidrasi), kurang makan, haemorroid, laserasi jalan lahir (Reni,

2010).

Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem

pencernaan, antara lain:


80

a) Nafsu makan

Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga

diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu

makan diperlukan waktu 3 - 4 hari sebelum faal usus kembali

normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah

melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan

selama satu atau dua hari.

b) Motilitas

Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus

menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir,

Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat

pengembalian dan motilitas ke keadaan normal.

c) Pengosongan usus

Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi, Hal

ini di sebabkan fonus otot usus menurun selama proses

persalina awal masa pescapartum, diare sebelum persalinan,

enema sebelum melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid

ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa nifas

membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur,

antara lain :

(1) Pemberian diet / makanan yang mengandung serat

(2) Pemberian cairan yang cukup.


81

(3) Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.

(4) Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir

(5) Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan

pemberian huknah atau obat yang lain.

6) Perubahan Sistem Perkemihan

Pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga

menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali

normal dalam waktu. satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin

dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 - 36 jam

sesudah melahirkan. Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem

perkemihan, antara lain , hemostatis internal tubuh yaitu bila

wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 ben

pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera

dipasang dower kateter selama 24 jam.

7) Perubahan Sistem Musculoskeletal

Perubahan sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur

kehamilan semakin bertambah. Adaptasi muskuloskelatal ini

mencakup: peningkatan berat badan, bergesernya pusat akibat

pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas. Namun demikian, pada

saat postpartum sistem muskuloskeletal akan berangsur-angsur

pulih kembali. Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan,

untuk membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi

uteri.
82

8) Perubahan Sistem Endokrin

Keadaan hormon plasenta menurun dengan cepat, hormon

paserta laktogen tidak dapat terdektesi dalam 24 jam Post. Partum,

hormon HCG menurun dengan cepat, estrogen turun sampe 10%.

Hormon pituary menyebabkan prolaktin meningkat dengan

cepat selama kehamilan, wanita yang tidak laktasi

prolactinmenurun sampai keadaan sebelum hatmil dapat

dipengaruhi seberapa banyak ibu menyusui.

Hipolamik-pituari-ovarium mempengaruhi untuk seluruh

wanita, menstruasi pertama sering menurut siklus anovulasi atau

siklus yang diasosiasikan dengan ketidak cukupan fungsi korvus

luteum. Diantara wanita laktasi, 15% memperoleh mesntruasi

setelah 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu.

Adanya perubahan dari hormone plasenta yaitu estrogen dan

progesterone yang menurun. Hormon-hormon pituitary

mengakibatkan prolactin meningkat. F5H menurun, dan LH

menurun. Produksi ASI mulai pada hari ke-3 post partum yang

mempengaruhi hormon prolaktin, oksitosin, reflek down dan reflek

sucking. Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat

perubahan pada system endokrin. Hormone-hormon yang berperan

pada proses tersebut, antara lain :


83

a) Hormon plasenta

Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormon

yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun

dengan cepat pasca persalinan. Penurunan hormon plasenta

(human placental lactogen) menyebabkan kadar gula darah

menurun pada masa nifas. Human Chorionic Gonadotropin

(HCG) menurun degan сераt dаn menetap ѕаmраi 10% dalam 3

jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai onsetpemenuhan

mamae pada hari ke-3 post partum.

b) Hormon pituitary

Hormon pituitary antara lain, hormon prolaktin. FSH dan

LH Hormon prolaktin darah meningkat dengan cepat pada

wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu.

Homon prolaktin berperan dalam pembesaran payudara. untuk

merangsang produksi susu, FSH dan LH. pada fase konsentrasi

folikuler pada minggu ke-3. Dan LH tetap rendah hingga

ovulasi terjadi.

c) Hipotalamik pituitary ovarium

Hipotalamik pituitary ovarium akan mempengaruhi

lamanya mendapatkan menstruasi pada wanita yang menyusui

maupun yang tidak menyusui. Pada wanita menyusui

mendapatkan menstruasi pada 6 minggu pasca melahirkan

berkisar 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca melahirkan.


84

Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan

mendapatkan menstruasi berkisar 40% setelah 6 minggu

pascamelahirkan dan 90% setelah 24 minggu.

d) Hormon oksitosin

Hormon oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian

belakang, bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara,

Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan

dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi,

sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merang sang

produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat membantu

involusi uteri.

e) Hormon estrogen dan progesterone

Volume darah normal selama kehamilan, akan meningkat

hormon estrogen yang tinggi memperbesar hormon anti diuretik

yang dapat meningkatkan volume darah. Sedangkan hormon

progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi

perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini

mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena. dasar

panggul, perineum dan vulva serta vagina,

9) Perubahan-perubahan Tanda-tanda Vital

Menurut Reni (2010), pada masa nifas, tanda-tanda vital

yang harus dikaji antara lain :


85

a) Suhu badan

Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 °C. Pasca

melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 °C dari

keadaan normal, Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja

keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun

kelelahan, Kurang lebih pada hari ke-4 postpartum, suhu badan

akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI,

kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan

infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun

sistem lain. Apabila kenaikan suhu di. atas 38 °C, waspada

terhadap infeksi postpartum.

b) Nadi

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60 - 80 kali per

menit. Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi

maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 kali per

menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau perdarahan

postpartum.

c) Tekanan darah

Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada

pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh

anggota tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara

90-12 mmHg dan diastolic 60-80 mmHg. Pasca melahirkan

pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah.


86

Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca

melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan

tekanan darah tinggi pada postpartum merupakan tanda

terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal

tersebut sangat jarang terjadi.

d) Pernafasan

Frekuensi pernapasan normal pada orang dewasa adalah

16-24 kali per menit. Pada ibu postoartum umumnya

pernapasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam

keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan

pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan

denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan

mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada

saluran nafas. Bila pernapasan pada masa postpartum menjadi

lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok.

10) Perubahan Sistem Kardiovaskuter

Selama kehamilan volume darah normal, setelah kelahiran

terjadi penurunan estrogen menyebabkan diuresis, dan secara cepat

mengurangi volume plasma kembali kepada proporsi normal.

Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama postpartum, selama masa

ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urine.

Kehilangan darah pada persalinan per vaginam sekitar 300 -

400 sedangkan kehilangan darah dengan persalinan sekso sesarea


87

menjadi dua kali lipat. Perubahan yang terjadi terdiri dari volume

darah dan hemokonsentrasi. Pada persalinan per vaginam,

hemokonsentrasi akan naik dan pada persalinan seksio sesarea,

hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4 - 6

minggu.

Pasca melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba.

Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan

menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitum cordia.

Hal ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan

timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti

sediakala. Pada umumnya, hal ini terjadi pada hari ketiga sampai

kelima post patum,

11) Perubahan Hematologi

Pada awal postpartum, jumlah hemoglobin, hematocrit dan

eritrosit sangat bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah,

volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah.

Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi dari wanita

tersebut. Jika hematocrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah

dari titik 2% atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan

awal, maka pasien dianggap telah kehilangan darah yang cukup

banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama dengan kehilangan darah

500 ml darah. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada

kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan

hemoglobin pada hari ke 3 - 7 postparfum dan akan normal dalam


88

4 - 5 minggu postpartum, Jumlah kehilangan darah selama masa

persalinan kurang lebih 200 - 500 ml, minggu pertama postpartum

berkisar 500 - 800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml.

12) Disfungsi Rongga Panggul

Disfungsi dasar panggul meliputi :

a) Inkotenensia urin

Inkotenensia urin adalah keluhan rebesan urin yang tidak

disadari. Masalah berkemih yang paling umum dalam

kehmailan dan pascapartum adalah inkotenensia stress.

b) Inkotenensia alvi

Inkotenensia alvi disebabkan oleh robeknya atau

merenggangnya sfingter anal atau kerusakan yang nyata pada

suplai saraf dasar panggul selama persalinan.

Penanganan : rujuk ke ahli fisioterapi untuk mendapatkan

perawatan khusus

c) Prolaps

Gejala yang dirasakan wanita yang menderita prolapse

uterus antara lain : merasakan ada sesuatu yang turun

kebawah (saat berdiri), nyeri pinggang dan sensasi tarikan

yang kuat. Penanganan: prolapse ringat dapat diatasi dengan

latihan dasar panggul.

d. Tanda bahaya masa nifas

Menurut Marmi (2012), tanda bahaya masa nifas yaitu:


89

1) Perdarahan pervaginam

Perdarahan postpartum paling sering diartikan sebagi

keadaan kehilangan darah lebih dari 500 ml selama 24 jam pertama

sesudah kelahiran bayi. Perdarahan postpartum adalah merupakan

penyebab penting kehilangan darah serius yang paling sering

dijumpai di bagian obstetrik. Sebagai penyebab langsung kematian

ibu, perdarahan postpartum merupakan penyebab sekitar ¼ dari

keseluruhan kematian akibat perdarahan obstetrik sekitar ¼ dari

keseluruhan kematian akibat perdarahan obstetrik yang diakibatkan

oleh perdarahan postpartum.

Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah

bersalin di definisikan sebagai perdarahan pasca persalinan.

Terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini.

Perkirakan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang

sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah

dilihat dari temperatur atau suhu pembengkakan takikardi dan

malaise. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek,

kemerahan, dan nyeri pada payudara atau adanya disuria.

2) Infeksi alat genetalia

Ibu beresiko terjadi infeksi postpartum karena adanya luka

bekas pelepasan plasenta, laserasi pada saluran genital termasuk

episiotomi pada perineum, dinding vagina dan serviks, infeksi

postseksio caesar kemungkinan yang terjadi infeksi masa nifas atau


90

sepsis pureperalis awitan pecah ketuban (rupture membran)atau

persalianan dan 42 hari setelah persalinan atau oburtus, dimana

terdapat 2 atau lebih dari hal-hal berikut: nyeri pelvik, demam 38,5

derajat Celcius atau lebih, rabas vagina yang absnormal, rabas

vagina yang berbau busuk dan keterlambatan dalam kecepatan

penurunan uterus.

3) Sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur

Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala

hebat atau penglihatan kabur.

Penanganan:

a) Jika ibu sadar periksa nadi, tekanan darah, pernafasan

b) Jika ibu tidak bernafas periksa lakukan ventilasi dengan masker

dan balon, lakukan intubasi jika perlu dan jika pernafasan

dangkal periksa dan bebaskan jalan nafas dan beri oksigen 4-5

liter per menit.

c) Jika pasien tidak sadar atau, bebaskan jalan nafas, baringkan

pada sisi kiri, ukuran suhu, periksa apakah ada kaku tengkuk.

4) Pembengkakan di wajah atau ekstremitas

a) Periksa adanya varises

b) Periksa kemerahan pada betis

c) Periksa apakah tulang kering, pergelangan kaki, kaki oedema.

5) Demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih

Organisme yang menyebakan infeksi saluran kemih berasal

dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa


91

beberapa jalur Eschaerichia coli memiliki pili yang meningkatkan

virulensinya. Pada masa nifas dini, sentivitas kandung kemih

terhadap tegangan air kemih di dalam vesika sering menurun

akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal sensari

peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa

tidak nyaman yang ditimbulkan oleh episiotomy yang lebar,

laserasi periuretra, atau hematom dinding vagina setelah

melahirkan terutama saat infus oksitosin dihentikan terjadi di eresis

yang di sertai peningkatan produksi urin dan distensi kandung

kemih overdistensi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarka air

kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih.

6) Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama

Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga

lemas karena kehabisan tenaga. Hendaknya lekas berikan minuman

hangat, susu, kopi atau teh yang bergula. Apabila menghendaki

makanan, berikanlah makanan yang sifatnya ringan walaupun

dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut

mengadakan proses persalinan, tetapi tidak sedikit atau banyak

pasti dipengaruhi proses persalinan tersebut. Sehingga alat

pencernaan perlu istirahat memulihkan keadaanya kembali. Oleh

karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyak-

banyaknya walaupun ibu menginginkannya. Tetapi biasanya

disebabkan adanya kelelahan yang amat berat, nafsu makan pun

akan terganggu, sehingga ibu tidak ingin makan sampai kelelahan

itu hilang.
92

7) Rasa sakit, merah, lunak, dan pembengkakan di kaki(thrompeblitas)

Selama masa nifas, dapat membentuk thrombus sementara

pada vena-vena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi, dan

memungkinkan lebih sering mengalaminya.

Faktor predisposisi :

a) Obesitas

b) Peningkatan umur maternal dan tingginya paritas

c) Riwayat sebelumnya mendukung

d) Anestensi dan pembedahan dengan kemungkinan trauma yang

pada keaada pembuluh vena

e) Anemia maternal

f) Hipotermi atau penyakit jantung

g) Endometritis

h) Varicostitis

Manifestasi:

a) Timbul secara akut

b) Timbul rasa nyeri akibat terbakar

c) Nyeri tekan permukaan

8) Merasa sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya dan

dirinya sendiri

Pada minggu-minggu awal setelah persalinan sampai kurang

lebih 1 tahun ibu postpartum cenderung akan mengalami perasaan-

persaan yang tidak pada umumnya, seperti merasa sedih, tidak

mampu mengasuh dirinya sendiri.


93

9) Permasalahan dalam penyusunan

a) Permasalahan atau kelainan payudara

(1) Payudara bengak (engorgement)

(2) Mastitis

(3) Abses payudara

(4) Puting susu lecet (abraded and cracked nipple)

(5) Saluran susu tersumbat ( obrstructed duct)

b) Masalah menyusui pada keadaan khusus

c) Masalah menyusui masa pasca persalinan lanjut

d) Masalah menyusui pada bayi

e. Penatalaksanaan masa nifas

Kunjungan nifas menurut Reni (2010), adalah sebagai berikut :

1) Kunjungan I

6- 48 jam postpartum.

Asuhan yang diberikan :

a) Mencegah pendarahan masa nifas karena atonia uteri.

b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain pendarahan, rujuk

jikapendarahan berlanjut.

c) Memberikan konseling tentang pencegahan pendarahan masa

nifas yang disebabkan atonia uteri.

d) Pemberian ASI awal.

e) Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi

baru lahir
94

f) Menjaga bayi tetap sehat agar terhindar hiportemua

g) Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan

harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah

kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam

keadaan baik.

2) Kunjungan II

6 hari postpartum

Asuhan yang diberikan :

a) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus

berkontraksi dnegan baik, tinggi fundus uteri di bawah

umbilicus tidak ada pendarahan abnormal

b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau pendarahan

abnormal

c) Memastikan ibu mendapat cukup makan, cairan dan istirahat

d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak

ada tanda-tanda kesulitan menyusui

e) Memberikan konseling pada ibu, mengenal asuhan pada bayi,

tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan perawatan bayi sehari-

hari

3) Kunjungan III

2 minggu postpartum

Asuhan pada 2 minggu postpartum sama dengan asuhan yang

diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.


95

4) Kunjungan IV

6 minggu postpartum

Asuhan yang diberikan :

a) Menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami ibu selama masa

nifas

b) Memberikan konseling KB secara dini

Kunjungan nifas menurut Dewi (2011), adalah sebagai berikut :

1) Kunjungan I (6 jam-48 jam)

a) Pemberian ASI

b) Perdarahan

c) Involusi uteri

d) Pembahasan tentang kelahiran

e) Bidan mendorong ibu untuk memperkuat ikatan batin antara ibu

dan bayi (keluarga), pentingnya sentuhan fisik, komunikasi dan

rangsangan.

2) Kunjungan II (hari ke 4 sampai hari ke 28), hal yang di

pantau :

a) Diet

b) Kebersihan atau kebersihan diri sendiri

c) Kebutuhan akan istirahat

d) Bidan mengkaji adanya tanda-tanda postpartum blues

e) Keluarga berencana

f) Tanda-tanda bahaya
96

g) Perjanjian untuk pertemuan berikutnya

3) Kunjungan III (hari ke 29- hari ke 42)

Pemeriksaan 4-6 minggu pasca postpartum sering kali terdiri atas

pemeriksaan riwayat lengkap fisik dan panggul dalam. Setiap

catatan yang ada dalam kehamilan ditinjau.

B. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan

Manajemen ASKEB pada kehamilan, persalinan, nifas meliputi :

1. Pengertian

Manajemen kebidanan adalah alur berpikir bagi seorang dalam

memberikan arahan atau kerangka pada saat menangani suatu kasus yang

sudah menjadi tanggung jawabnya. Manajemen kebidanan juga

merupakan bagian dari proses pemecahan masalah sebagai metode guna

menyelaraskan antara pikiran dan tindakan dengan berpijak penuh pada

teori ilmu pengetahuan, semacam itu, penting bagi seorang bidan untuk

menggunakan metode dan pendekatan manajemen kebidanan (Muttaqin,

2012).

2. Tujuan

Menurut Titik (2012), tujuan Asuhan Kebidanan ada beberapa

macam, seperti berikut ini :

a. Ibu dan bayi sehat, selamat, keluarga bahagia, terjaminnya

kehormatan martabat manusia.

b. Saling menghormati penerimaan asuhan dari pemberi asuhan.

c. Kepuasan ibu, keluarga, dan bidan

d. Adanya kekuatan diri dari wanita dalam menentukan dirinya sendiri.


97

e. Adanya rasa saling percaya dari wanita sebagai penerimaan asuhan

f. Terwujudnya keluarga sejahtera dan berkualitas.

3. Langkah-langkah (SOAP)

Menurut Ai Yeyeh Rukiyah (2014), prinsip pedokumentasian

dengan SOAP, SOAP merupakan singkatan dari: Subjektif, Objektif,

Assesment, dan Planning.

a. (S) adalah data Subjektif

1) Data subjektif adalah yang menggambarkan pedokumentasian

hanya pengumpulan data klien melalui anamnesa, dimana

anamnese ini akan menghasilkan jawaban dari pasien, menarche,

riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat persalinan,

riwayat KB, penyakit, riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit

keturunan, riwayat psikososial, pola hidup.

2) Catatan ini berhubungan dengan masalah sudut pandang pasien,

Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya dicatat

sebagai kutipan langsung atau ringan yang berhubungan dengan

diagnosa. Pada orang bisu, dibagian data dibelakang “S” diberi

tanda “0” atau “X” ini menanndakan orang itu bisu. Data subjektif

menguat diagnosa yang akan dibuat.

3) Data subjektif ini harus ditanyakan secara mendalam hati-hati

karena ada beberapa hal yang harus ditanyakan kemungkinan

adalah hal yang sangat sensitif misalkan tentang riwayat

perkawinan dan pola seksualitas, akan tetapi tenaga kesehatan


98

harus dapat meyakinkan klien bahwa data tersebut aman dan

dijamin kerahasiaannya.

4) Data subjektif juga terkadang sulit mendapatklan apabila klien

tidak kooperatif atau bahasa yang digunakan bahasa ilmiah yang

klien kurang paham maksudnya dan bahasa yang digunakan

antarayang bertanya dan yang menjawab tidak sama atau klien

tidak paham dengan bahasa indonesia misalkan wilayah perdesaan

yang mana bidan ditempatkan didesa tertentu padahal bidan tidak

paham dengan bahsa daerah setempat dan masyarakat tidak paham

dengan bahasa Indonesia.

5) Data subjektif juga harus ditanyakan secara fokus kearah yang

sesuai dengan kondisinya saaat ini, data yang sudah ada jangan

ditanyakan berulang-ulang kareana akan terkesan bidannya tidak

hafal data klien, misalkan pada kunjungan awal tentu data

ditanyakan secara lengkap tapi jika klien adalah kedua dan

seterusnya maka data yang ditanyakan adalah sesuai keluhan saat

ini atau menanyakan data yang belum ada atau terlewatkan pada

saat kunjungan pertama.

b. (O) adalah data objektif

1) Data objektif adalah data yang menggambarkan

pendokumentasian hasil analisa dan fisik klien, hasil laboratorium,

dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk

mendukung assesment diagnosa dan masalah kebutuhan.


99

2) Tanda gejala objektif diperoleh dari hasil pemeriksaan tentang

keadaan umu, vital sign, fisik, khusus, kebidanan pemeriksaan

dalam, lboratorium dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan

dengan insfeksi (pemeriksaan pandang), palpasi (periksa raba),

auskultasi (pemeriksaan dengan cara didengar), dan perkusi

( pemeriksaan dengan cara mengetuk). Pemeriksaan ini hanya

menggunakan tangan penolong atau dibantu dengan alat-alat

pemeriksaan misalkan tensi meter, alat-alat laboratorium.

3) Data ini memberikan bukti gejala klinis pasien dan fakta yang

berhubungan dengan diagnosa. Data fisiologis, hasil observasi

yang jujur, informasi kajian teknologi (hasil laboratorium, sinar X,

rekaman cardio topo graf (CTG),dan lain-lain) dan informasi dan

informasi dari keluarga atau orang lain dapat dimasukan dalam

kategori ini. Apa yang diobservasi oleh bidan akan menjadi

komponen yang berarti dari diagnosa yang akan ditegakkan.

4) Pemeriksaan dilakukan dengan hati-hati dan diruangan yang

tertutup dengan peneranga cukup serta ventilasi yang baik

sehingga klien maupun pemriksaan nyaman dan hasil pemeriksaan

dapat dipertanggung jawabkan, pemeriksaan pada bagian tubuh

tertentu dilakukan pemeriksaan misalkan bagian payudara, perut

atau anogenital. pemeriksaan secara hati-hati jangan sampai klien

kesakotan dan utamakan menggunakan tangan kanan saat

memeriksa.
100

5) Hasil periksaan data objektif dicatat dengan jelas dan gunakan

bahasa yang mudah dipahami oleh orang lain yang akan

menggunakan data tersebut, pencacatan juga jangan menggunakan

singkatan yang tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia. Data tersebut

harus dirahasiakan kecuali diketahui oleh klien, tenaga kesehatan

yang merawat, pihak rumah sakit atau klien dan jika diminta

dalam pengadilan, data yang dicantumkan hanya data fokus yang

menunjang kondisi klien saat ini.

c. (A) adalah Assesment

Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau

informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau

disimpulkan. Karena keadaan terus berubah dan selalu ada informasi

baru baik subjektif maupun objektif, dan sering diungkapkan secara

terpisah-pisah, maka proses pengkajian adalah suatu proses yang

dinamik. Sering menganalisa adalah sesuatu yang penting dalam

mengikuti perkembangan pasien dan menjamin suatu perubahan baru

cepat diketahui dan dapat diikuti sehingga dapat diambil tindakan

yang tepat. Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan

interpretasi data subjektik dan objektif dalam suatu identifikasi:

1) Diagnosa/masalah

Diagnosa adalah rumusan dari hasil pengkajian mengenai

kondisi klien: hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir,

berdasarkan hasil analisa yang didapat.


101

2) Kebutuhan

Adalah hal-hal yang dibuthkan oleh klien dan belum

teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang dapat dapatkan

dengan melakukan analisa data.

3) Antisipasi masalah lain/diagnosa potensial

Bidan dapat mengidentifikasi masalah atau diagnosa

potensial lain berdasarkan masalah dan diagnosa yang sudah

diidentifikasi.

d. (P) adalah Planning

1) Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi

berdasarkan Assesment.

2) Perencanaan, implementasi dan evaluasi dimasukkan dalam “P”.

(a) Perencanaan, membuat rencana tindakan saat itu atau yang

akan datang.

(b) Implementasi, pelaksanaan rencana tindakan untuk

menghilangkan dan mengurangi masalah klien.

(c) Evaluasi, tafsiran dari efek tindakan yang telah diambil

merupakan hal penting untuk menilai keefektifan asuhan yang

diberikan.

(d) Pada planning ini perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi

ditulis secara bersamaan, contoh membuat catatan planning,


102

ingatkan kembali ibu dengan tanda bahaya kehamilan seperti

perdarahan yang tiba-tiba, pandangan kabur, sakit kepala yang

menetap dan tidak hilang, keluar air-air pada vagina, mual

muntah secara berlebihan, panas/demam yang tinggi dan bila

terjadi salah satu hal tersebut segera hubungi dan datangi

tempat pelayanan kesehatan terdekat. Ibu mengerti serta tahu

sebagian tanda bahaya kehamilan dan ibu berjanji akan segera

mendatangi tempat pelayanan kesehatan terdekat bila terjadi

salah satu peristiwa tersebut.

C. Landasan Hukum Kewenangan Bidan

1. Permenkes No. 28 Tahun 2017

Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan

a. Pasal 18

Dalam penyelenggaraan Praktik Kebidanan, Bidan memiliki

kewenangan untuk memberikan:

1) Pelayanan kesehatan ibu

2) Pelayanan kesehatan anak dan

3) Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dalam keluarga

berencana

b. Pasal 19

1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksudkan dalam pasal

18 huruf a diberikan pada masa sebelum hamil, masa hamil,


103

masa persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa antara 2

kehamilan.

2) Pelayanan kesehatan Ibu sebagaimana dimaksudkan pada ayat 1

meliputi:

a) Pelayanan konseling pada masa prahamil

b) Pealayanan antenatal pada kehamilan normal

c) Pelayanan persalinan normal

d) Pelayan ibu nifas normal

e) Pelayanan ibu menyusui

f) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan

3) bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) berwenang untuk:

a) Episiotomi

b) pertolongan persalinan normal

c) penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II

d) penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan

perujukan.

e) pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil

f) pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

g) fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini danpromosi air

susu ibu eksklusif

h) pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan

postpartum
104

i) Penyuluhan dan konseling

j) bimbingan pada kelompok ibu hamil dan

k) pemberian surat keterangan kehamilan dankelahiran.

c. Pasal 20

1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksuddalam Pasal 18

huruf b diberikan pada bayi baru lahir,bayi, anak balita, dan anak

prasekolah.

2) Dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana

dimaksud pada ayat 1, Bidan berwenang melakukan:

a) pelayanan neonatal esensial

b) penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan

perujukan

c) pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak

prasekolah dan

d) konseling dan penyuluhan.

3) Pelayanan noenatal esensial sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

huruf a meliputi inisiasi menyusui dini, pemotongan dan

perawatan tali pusat, pemberian suntikan Vit K1, pemberian

imunisasi pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pemantauan tanda

bahaya, pemberian tanda identitas diri, dan merujuk kasus yang

tidak dapat ditangani dalam kondisi stabil dan tepat waktu ke

Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang lebih mampu.


105

4) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan denganperujukan

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi :

a) Penanganan awal asfiksia bayi baru lahir melalui

pembersihan jalan nafas, ventilasi tekanan positif, dan / atau

kompresi jantung

b) Penanganan awal hipotermia pada bayi baru lahir dengan

BBLR melalui penggunaan selimut atau fasilitasi dengan cara

menghangatkan tubuh bayi dengan metode kangguru

c) Penanganan awal infeksi tali pusat dengan mengoleskan

alkohol atau povidon iodine serta menjaga luka tali pusat

tetap bersih dan keringdan

d) Membersihkan dan pemberian salep mata padabayi baru lahir

dengan infeksi gonore (GO).

5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak

prasekolah sebagaimana dimaksud pada ayat 2 huruf c meliputi

kegiatan penimbangan berat badan, pengukuran lingkar kepala,

pengukuran tinggi badan, stimulasi deteksi dini, dan intervensi

dini peyimpangan tumbuh kembang balita dengan menggunakan

Kuesioner Pra Skrining Perkembangan(KPSP)

6) Konseling dan penyuluhan sebagaimana dimaksudpada ayat 2

huruf d meliputi pemberian komunikasi, informasi, edukasi

(KIE) kepada ibu dan keluarga tentang perawatan bayi baru


106

lahir, ASI eksklusif, tanda bahaya pada bayi baru lahir,pelayanan

kesehatan, imunisasi, gizi seimbang, PHBS, dan tumbuh

kembang.

d. Pasal 21

Bidan dalam memberikan pelayan kesehatan reproduksi perempuan

dan kesehatan keluarga berecana sebagaimana dimaksudakan dalam

pasal 18 huruf c, berwenang untuk:

1) Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi

perempuan dan keluarga berencana

2) Memberikan alat kontrasepsi oral, kondom dan suntikan.

e. Pasal 22

1) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18,

Bidan memiliki kewenangan memberikan pelayanan

berdasarkan:Selain berwenang sebagaimana dimaksudkan dalam

pasal 18, pasal 11 dan pasal 12, bidan yang menjalankan

program pemerintah berwenang melakukan pelayanan kesehatan

meliputi:

a) Penugasan dari pemerintah sesuai kebutuhandan/atau

b) Pelimpahan wewenang melakukan tindakan

pelayanankesehatan secara mandat dari dokter.

f. Pasal 23
107

1) Kewenangan memberikan pelayanan berdasarkan penugasan dari

pemerintah sesuai kebutuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal

22 huruf a, terdiri atas:

a) Kewenangan berdasarkan program pemerintahdan

b) Kewenangan karena tidak adanya tenaga kesehatan lain di

suatu wilayah tempat Bidan bertugas.

2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diperoleh Bidan

setelah mendapatkan pelatihan.

3) Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 diselenggarakan

oleh Pemerintah Pusaat atau Pemerintah Daerah bersama

organisasi profesi terkait berdasarkan modul dan kurikulum

yang terstandarisasi sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang - undangan.

4) Bidan yang telah mengikuti pelatihan sebagaimana dimaksud

pada ayat 2 berhak memperoleh sertifikat pelatihan.

5) Bidan yang diberi kewenangan sebagaimana dimaksud pada

ayat 1 harus mendapatkan penetapan darikepala dinas kesehatan

kabupaten/kota.

g. Pasal 24

1) Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Bidan ditempat

kerjanya, akibat kewenangan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 23 harus sesuai dengan kompetensi yang diperolehnya

selama pelatihan.
108

2) Untuk menjamin kepatuhan terhadap penerapan kompetensi

yang diperoleh Bidan selama pelatihan sebagaimana dimaksud

pada ayat 1, Dinas kesehatan kabupaten/kota harus melakukan

evaluasi pascapelatihan di tempat kerja Bidan.

3) Evaluasi pascapelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat 2

dilaksanakan paling lama 6 (enam) bulansetelah pelatihan.

h. Pasal 25

1) Kewenangan berdasarkan program pemerintah sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 23 ayat 1 huruf a, meliputi:

a) Pemberian pelayanan alat kontrasepsi dalam rahim dan alat

kontrasepsi bawah kulit

b) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus

penyakit tertentu

c) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai dengan

pedoman yang ditetapkan

d) Pemberian imunisasi rutin dan tambahan sesuai program

pemerintah

e) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang

kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan

penyehatan lingkungan;

f) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita,anak pra

sekolah dan anak sekolah


109

g) Melaksanakan deteksi dini, merujuk, dan memberikan

penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS)

termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya

h) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat

Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi dan

i) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas

2) Kebutuhan dan penyediaan obat, vaksin, dan/atau kebutuhan

logistik lainnya dalam pelaksanaan Kewenangan sebagaimana

dimaksud pada ayat 1, harus dilaksanakan sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang - undangan.

i. Pasal 26

1) Kewenangan karena tidak adanya tenaga kesehatan lain di suatu

wilayah tempat Bidan bertugas sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 23 ayat (1) huruf b tidak berlaku, dalam hal telah tersedia

tenaga kesehatan lain dengan kompetensi dan kewenangan yang

sesuai.

2) Keadaan tidak adanya tenaga kesehatan lain di suatu wilayah

tempat Bidan bertugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

ditetapkan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.


110

2. Kemenkes No. 369/ Menkes/SK/III/2007

Tentang Standar Profesi Bidan

a. Kompetensi ke 3, Asuhan dan Konseling Kehamilan

Bidan memberi asuhan antenatal bermu tinggi untuk mengoptimalkan

kesehatan selama kehamilan yang meliputi yang meliputi: deteksi

dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.

b. Kompetensi ke 4, asuhan selama persalinan dan Kelahiran

Bidan memberi Asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap

budaya setempat selama persalinan, memimpin terhadap budaya

setempat selama persalinan, memimpin selama persalinan yang

bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk

mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir.

c. Kompetensi ke 5, Asuhan pada Ibu Nifas dan menyusui

Bidan memberi Asuhan pada ibu nifass dan menyusui yang bermutu

tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.

d. Kompetensi ke 6, Asuhan pada Bayi Baru

Bidan memberi asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada bayi

baru lahir sehat sampai dangan 1 bulan

e. Kompetensi ke 7, Asuhan pada Bayi dan Balita

Bidan memberi asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi

dan balita sehat (1bulan -5 bulan9)

f. Kompetensi Ke 9, Asuhan pada ibu/wanita dengan gangguan

reproduksi
111

Melaksakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan

reproduksi

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 938/

Menkes / SK / VIII / 2007 Tentang Standar Asuhan Kebidanan

a. Pengertian standar asuhan kebidanan

Standarasuhan kebidanan adalah acuan dalam proses

pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan

sesuai dengan wewenangan dan ruang lingkup praktiknya

berdasarkan ilmu dan kiat kebidanannya. Mulai dari pengkajian,

perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan,

implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.


112

b. Standar Asuhan Kebidanan

1) Standar I :Pengkajian

a) Pernyataan standar

Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan

dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi

klien.

b) Kriteria pengkajian

(1) Data tepat, akurat dan lengkap

(2) Terdiri dari Data Subjektif (hasil Anamnesa; biodata,

keluhan utama, riwayat obstetrik, riwayat kesehatan dan

latar belakang social budaya)

(3) Data Objektif (hasil Pemeriksaan fisik, psikologis dan

pemeriksaan penunjang)

2) Standar II : Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan

a) Pernyataan standar

Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian,

menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk

menegakan diagnosa dan masalah kebidanan yang tepat.

b) Kriteria perumusan diagnosa dan atau masalah

(1) Diagnosa sesuai dengan nomenklatur kebidanan

(2) Masalah di rumuskan sesuai dengan kondisi klien


113

(3) Dapat diselesaikan dengan Asuhan Kebidanan secara

mandiri, kolaborasi dan rujukan.

3) Standar III : Perencanaan

a) Pernyataan standar

Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnose

dan masalah yang di tegakkan.

b) Kriteria perencanaan

(1) Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah

dan kondisi klien; tindakan segera, tindakan antisipasi dan

asuhan secara komprehensif

(2) Melibatkan klien / pasien dan atau keluarga

(3) Mempertimbangkan kondisi psikologis; sosial budaya

klien atau keluarga

(4) Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan

kebutuhan klien berdasarkan evidence based dan

memastikan asuhan yang di berikan bermanfaat untuk

klien.

(5) Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku,

sumber daya serta fasilitas yang ada.

4) Standar IV :Implementasi

a) Pernyataan standar
114

Bidan melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif,

efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based pada

klien / pasien, dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitative. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan

rujukan.

b) Kriteria:

(1) Memperhatikan keunikan klien sebagai makhluk bio-

psiko-sosial-spiritual-kultural.

(2) Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan

dari klien dan atau keluarganya (informconsent)

(3) Melaksanakan tindakan asuhan berdasarkan evidence

based

(4) Melibatkan klien / pasien dalam setiap tindakan

(5) Menjaga privasi klien / pasien

(6) Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi

(7) Mengikuti perkembangan kondisi klien secara

berkesinambungan.

(8) Menggunakan sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada

dan sesuai

(9) Melakukan tindakan sesuai standar

(10) Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.


115

5) StandarV :Evaluasi

a) Pernyataan standar

Bidan melakukan evaluasi secara sistimatis dan

berkesinambungan untuk melihat keefektifan dari asuhan yang

sudah diberikan, sesuai dengan perubahan perkembangan

kondisi klien.

b) Kriteria evaluasi

(1) Penilai dilakukan segera setelah selesai melaksanakan

asuhan sesuai kondisi klien.

(2) Hasil evaluasi segera dicatat dan di dokumentasikan pada

klien dan keluarga

(3) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar

(4) Hasil evaluasi ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi

klien/pasien

6) Standar VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan

a) Pernyataan standar

Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat

dan jelas mengenai keadaan /kejadian yang ditemukan dan di

lakukan dalam memberikan asuhan kebidanan.


116

b) Kriteria PencatatanAsuhanKebidanan

(1) Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan

pada formulir yang tersedia (Rekammedis/KMS/Status

pasian/bukuKIA)

(2) Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP

(3) S adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa

(4) O adalah data Objektif, mencatat hasil pemeriksaan

(5) A adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah

kebidanan

(6) Padalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan

dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti

tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara

komprehensif; penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi

/ follow up dan rujukan.

4. Permenkes No.1457/Menkes/SK/X/2003 Tentang Standar Pelayanan

Kebidanan

Standar praktik kebidanan telah dijadikan standar nasional untuk

praktik kebidanan oleh organisasi profesi (IBI). Standar ini menyediakan

suatu mekanisme untuk mendefinisikan praktik kebidanan dan

evaluasinya sehingga setiap pihak yang terkait harus memastikan bahwa


117

ruang lingkup praktik kebidanan tersebut harus memenuhi standar

minimal yang telah di tentukan. Oleh sebab itu, ruang lingkup praktik

kebidanan dipengaruhi oleh tempat bidan tersebut berada dan peraturan

yang berlaku. Dengan demikian ruang lingkup standar pelayanan

kebidanan meliputi24 standar yang dikelompokkan sebagai berikut :

Standar pelayanan umum (2standar), Standar pelayanan antennal (6

standar), Standar pertolongan persalinan (4standar), Standar pelayanan

nifas (3 standar), Standar penanganan kegawatdaruratan obstetric-

neonatal(9standar).

b. Standar Pelayanan Umum

Terdapat dua standar pelayanan umum sebagai berikut:

1) Standar 1 : Persiapan untuk kehidupan keluarga sehat

Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan,

keluarga dan masyarakat tentang segala hal yang berkaitan

dengan kehamilan, termasuk penyuluhan kesehatan umum, gizi,

keluarga berencana, kesiapan dalam menghadapi kehamilan dan

menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik

dan mendukung kebiasaan yang baik.

2) Standar 2 : Pencatatan dan pelaporan

Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukannya

yaitu registrasi. Semua ibu hamil di wilayah kerja, perincian

pelayanan yang di berikan kepada setiap ibu hamil / bersalin /


118

nifas dan bayi baru lahir, semua kunjungan rumah dan

penyuluhan kepada masyarakat. Di samping itu, bidan

hendaknya mengikut sertakan kader untuk mencatat semua ibu

hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan

ibu dan bayi baru lahir. Bidan meninjau secara teratur catatan

tersebut untuk menilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan

untuk meningkatkan pelayanannya.

c. Standar Pelayanan Antenatal

Terdapat enam standar dalam standar pelayanan antenatal sebagai

berikut:

1) Standar 3 : Identifikasi ibu hamil

Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan

masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan

memotivasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong

ibu memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.

2) Standar 4 : Pemeriksaan dan pemantauan antenatal

Bidan memberi sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal.

Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin

dengan saksama untuk menilai apakah perkembangan

berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kelainan pada

kehamilan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS /

infeksi, HIV, memberikan pelayanan imunisasi nasehat dan


119

penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang di berikan

oleh puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat pada

setiap kunjungan. Bila di temukan kelainan, mereka harus

mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya

untuk tindakan selanjutnya.

3) Standar 5 : Palpasi abdomen

Bidan melakukan pemeriksaan abdomen secara saksama dan

melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, serta

bila usia kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian

terendah janin dan masuknya kepala janin ke dalam rongga

panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat

waktu.

4) Standar6: Pengelolaan anemia dalam kehamilan

Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan,

dan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai

ketentuan yang berlaku.

5) Standar 7 : Pengelolaan hipertensi dalam kehamilan

Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah

pada kehamilan dan mengenal tanda serta gejala pre eklamsia

lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.

6) Standar 8 : Persiapan persalinan


120

Bidan memberi saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta

keluarganya pada trimester ketiga, untuk memastikan bahwa

persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang

menyenangkan akan di rencanakan dengan baik, di samping

persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba – tiba

terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan

kunjungan rumah untuk hal ini.

d. Standar Pertolongan Persalinan

Terdapat empat standar dalam standar pertolongan persalinan sebagai

berikut :

1) Standar 9 : Asuhan persalinan kala I

Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai,

kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai,

dengan memperhatikan kebutuhan klien selama proses

persalinan berlangsung.

2) Standar 10 : Penatalaksanaan kala II yang aman

Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan

sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta

memperhatikan tradisi setempat.

3) Standar 11 : Penatalaksanaan aktif persalinan kala III


121

Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk

mambantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara

lengkap.

4) Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat janin melalui

episiotomi

Bidan mengenali secara tepat tanda – tanda gawat janin pada

kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi dengan

aman untukmemperlancarpersalinan,diikuti denganpenjahitan

perineum.

e. Standar Pelayanan Nifas

Terdapat tiga standar dalam pelayanan nifas sebagaiberikut:

1) Standar13: Perawatan bayi baru lahir

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan

pernapasan spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan

kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan

kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani

hipotermia.

2) Standar14: Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan

Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya

komplikasi dalam 2 jam setelah persalinan, serta melakukan

tindakan yang diperlukan. Di samping itu, bidan memberikan

penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya


122

kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian

ASI.

3) Standar15: Pelayanan bagi ibu hamil dan bayi pada masa nifas

Bidan membagikan pelayanan selama masa nifas melalui

kunjunganrumahpada hariketiga, minggu keduadan minggu

keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan

ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar,

penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang

mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan

tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan,

makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI,

imunisasi, dan KB.

f. Standar Penanganan Kegawat daruratan Obstetri-Neonatal

Terdapat sembilan standar dalam standar Penanganan Kegawat

daruratan Obstetri-Neonatal

1) Standar 16 : Penanganan perdarahan dalam kehamilan pada

trimester ke-3

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada

kehamilan, serta melakukan pertolongan pertama dan

merujuknya.

2) Standar17 : Penanganan kegawatan pada eklampsi


123

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejalaeklampsia

mengancam, serta merujuk dan atau memberikan pertolongan

pertama.

3) Standar 18 : Penanganan kegawatan pada partus macet atau lama

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama atau

macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat

waktu atau merujuknya.

4) Standar 19 : Persalinan dengan menggunakan vakum ekstraksi

Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi vakum

melakukannya secara benar dalam memberikan pertolongan

persalinan dengan memastikan keamanannya bagi ibu dan janin

atau bayinya.

5) Standar 20 : Penanganan retension plasenta

Bidan mampu mengenali retension plasenta, dan memberikan

pertolongan pertama termasuk plasenta manual dan penanganan

perdarahan sesuai dengan kebutuhan.

6) Standar 21 : Penanganan perdarhan post partum primer

Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24

jam pertama setelah persalinan (perdarahan post partum primer)

dan segera melakukan pertolongan pertama untuk

mengendalikan perdarahan.

7) Standar 22 : Penanganan perdarhan post partum sekunder


124

Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala

perdarahan post partum sekunder, dan melakukan pertolongan

pertama untuk penyelamatan jiwa ibu atau merujuknya.

8) Standar 23 : Penanganan sepsis puerperalis

Bidan mampu mengamati secara tepat tanda dan gejala sepsis

puerperalis serta melakukan pertolongan pertama atau

merujuknya.

9) Standar 24: Penanganan asfiksia neonatorum

Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan

asfiksia, serta melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan

bantuan medis yang diperlukan dan memberikan perawatan

lanjut

5. Permenkes Nomor 28 Tahun 2017

Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan

a. Pasal 18

Dalam penyelenggaraan praktik kebidanan, bidan memiliki

kewenangan untuk memberikan:

1) pelayanan kesehatan ibu;

2) pelayanan kesehatan anak; dan

3) pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga

berencana.

b. Pasal 19
125

1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18

huruf a diberikan pada masa sebelum hamil, masa hamil, masa

persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa antara dua

kehamilan.

2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi pelayanan:

a) konseling pada masa sebelum hamil;

b) antenatal pada kehamilan normal;

c) persalinan normal;

d) ibu nifas normal;

e) ibu menyusui; dan

f) konseling pada masa antara dua kehamilan.

3) Dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana

dimaksud pada ayat(2), Bidan berwenang melakukan:

a) episiotomi;

b) pertolongan persalinan normal;

c) penjahitan luka jalan lahir tingkat IdanII;

d) penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

e) pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil;

f) pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas;

g) fasilitasi / bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air

susu ibu eksklusif


126

h) pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan

postpartum;

i) penyuluhan dan konseling;

j) bimbingan pada kelompok ibu hamil; dan

k) pemberian surat keterangan kehamilan dan

l) kelahiran.

c. Pasal 20

1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18

huruf b diberikan pada bayi baru lahir, bayi, anak balita, dan anak

prasekolah.

2) Dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), Bidan berwenang melakukan:

a) pelayanan neonatal esensial;

b) penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan perujukan;

c) pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak

prasekolah; dan

d) konseling dan penyuluhan.

3) Pelayanan noenatal esensial sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

huruf a meliputi inisiasi menyusui dini, pemotongan dan perawatan

tali pusat, pemberian suntikan Vit K1,pemberian imunisasi B0,

pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pemantauan tanda bahaya,

pemberian tanda identitas diri, dan merujuk kasus yang tidak dapat
127

ditangani dalam kondisi stabil dan tepat waktu ke Fasilitas

Pelayanan Kesehatan yang lebih mampu.

4) Penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:

a) Penanganan awal asfiksia bayi baru lahir melalui pembersihan

jalan nafas, ventilasi tekanan positif, dan/atau kompresi

jantung;

b) Penanganan awal hipotermia pada bayi baru lahir dengan

BBLR melalui penggunaan selimut atau fasilitasi dengan cara

menghangatkan tubuh bayi dengan metode kangguru;

c) penanganan awal infeksi tali pusat dengan mengoleskan

alkohol atau povidon iodine serta menjaga luka tali pusat tetap

bersih dan kering; dan

d) membersihkan dan pemberian salep mata pada bayi baru lahir

dengan infeksi gonore (GO).

5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak

prasekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c meliputi

kegiatan penimbangan berat badan, pengukuran lingkar kepala,

pengukuran tinggi badan, stimulasi deteksidini, danintervensi

dini peyimpangan tumbuh kembang balita dengan menggunakan

Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)


128

6) Konseling dan penyuluhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

huruf d meliputi pemberian komunikasi, informasi, edukasi (KIE)

kepada ibu dan keluarga tentang perawatan bayi baru lahir, ASI

eksklusif, tanda bahayapada bayibaru lahir, pelayanan kesehatan,

imunisasi, gizi seimbang, PHBS, dan tumbuh kembang.

d. Pasal 21

Dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan

keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 huruf c,

Bidan berwenang memberikan:

1) Penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan

keluarga berencana; dan

2) Pelayanan kontrasepsi oral, kondom, dan suntikan


BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. H USIA 22 TAHUN G1P0A0 HAMIL

38 MINGGU 1 HARI DENGAN KEHAMILAN

TRIMESTER III NORMAL

Tanggal/Jam Pasien Masuk : 02 Maret 2019 / 13.00 WIB

Tanggal/Jam Pengkajian : 02 Maret 2019 / 13.00 WIB

Tempat : Rumah Ny. H

No. Register : xx-xx-xx

I. PENGUMPULAN DATA

A. DATA SUBYEKTIF

1. Identitas

Nama : Ny. H Nama Suami : Tn. T

Umur : 22 Tahun Umur : 27 Tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Dagang

Suku : Jawa Suku : Jawa

Alamat : Slawi 10/4 Alamat : Slawi 10/4


130

2. Alasan Datang

3. Keluhan Utama

Ibu mengatakan sering BAK ± 9 kali dalam sehari

4. Riwayat Obstetri dan Ginekologi

a. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu

Tabel 3.0 Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu

Hamil Persalinan Nifas


ke
Tgl Umur Jenis Penolon Komplikasi Jenis BB laktasi Kompli-
kehamilan persalinan g kelamin lahir kasi
lahir
Ibu Bayi
Hamil
ini

b. Riwayat Kehamilan Sekarang


G1P0A0

ANC sejak umur kehamilan 10 minggu 2 hari, ANC di

puskesmas

Riwayat ANC TM I : 1X di puskesmas

TM II : 3x di puskesmas

TM III : 2x di puskesmas

Imunisasi TT : TT4 (20/5/2018)

Keluhan:

TM I : Mual

TM II : Mual

TM III : tidak ada


131

c. Riwayat Haid

Menarche : 13 tahun

Lama/siklus/jumlah : 28 hari/ 7 hari/ 2x ganti pembalut

Dysmenorhea : Ya, fisiologis (Hari pertama menstruasi)

Flour Albus : Ya, fisiologis (putih, tidak gatal, tidak bau)

HPHT : 08 Juni 2018

5. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi

Tabel 3.1: Riwayat penggunaan kontrasepsi

No Jenis Mulaimemakai Berhenti/Ganticara


Kontrasepsi

Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Alasan


Belum
menggunakan
kontrasepsi

Rencana yang akan datang : KB suntik 3 bulan

Alasan : ibu mengatakan lebih mudah

menggunakan KB suntik

6. Riwayat Kesehatan

a. Kesehatan Ibu

Sekarang :ibu mengatakan tidak sedang menderita gejala

penyakit seperti mudah haus, mudah lapar dan sering kencing (poli

uri, poli difsi, poli pagi), berat badan menurun (DM), gejala

penyakit batuk berdarah >3 minggu, keringat dingin pada malam

hari, berat badan menurun, demam (TBC), gejala penyakit warna


132

kulit, sklera, kuku berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis),

gejala penyakit seperti daya tahan tubuh menurun, mudah sakit,

diare/sariawan tak kunjung sembuh (HIV), gejala penyakit seperti

ada luka/nanah pada alat kelamin, nyeri berkemih, gatal-gatal pada

alat kelamin (PMS).

Yang Lalu :ibu mengatakan tidak sedang menderita gejala

penyakit seperti mudah haus, mudah lapar dan sering kencing (poli

uri, poli difsi, poli pagi), berat badan menurun (DM), gejala

penyakit batuk berdarah >3 minggu, keringat dingin pada malam

hari, berat badan menurun, demam (TBC), gejala penyakit warna

kulit, sklera, kuku berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis),

gejala penyakit seperti daya tahan tubuh menurun, mudah sakit,

diare/sariawan tak kunjung sembuh (HIV), gejala penyakit seperti

ada luka/nanah pada alat kelamin, nyeri berkemih, gatal-gatal pada

alat kelamin (PMS).

b. Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga suami maupun ibu tidak

ada yang menderita penyakit seperti warna kulit, sklera dan

kuku berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis), gejala

penyakit seperti ada luka/nanah pada alat kelamin (PMS), ibu

mengatakan di dalam keluarga ibu tidak ada riwayat bayi

kembar.

7. Kebiasaan
133

a. Pantangan makanan

Ibu mengatakan tidak ada pantangan makanan seperti ikan, telor

atau yang berbau amis

b. Minum jamu

Ibu mengatakan tidak pernah minum jamu selama hamil

c. Minum obat - obatan

Ibu mengatakan tidak pernah minum obat - obatan kecuali dari

nakes

d. Merokok & minum alkohol

Ibu mengatakan tidak pernah merokok dan minum alkohol

e. Binatang peliharaan

Ibu mengatakan tidak mempunyai hewan peliharaan ayam,

burung dan kucing.


134

8. Pola Kebutuhan Sehari-hari

a. Nutrisi Sebelum hamil Selama hamil


Makan 3x/hari 4x/hari
Porsi 1 piring 1 piring
Jenis Nasi, lauk, sayur Nasi, lauk, sayur
Keluhan Tidak ada Nafsu makan

bertambah
Minum ± 9 gelas / hari ± 11 gelas / hari
Jenis Air putih Air putih
Keluhan Tidak ada Mudah haus
b. Eliminasi :
BAB : 1x/hari 2x/hari
Konsistensi Lembek Lembek
Warna Coklat Coklat

kekuningan kekuningan
Keluhan Tidak ada Tidak ada
BAK 5x/hari 9x/hari
Warna Kuning jernih Kuning jernih
Keluhan Tidak ada Sering BAK

c. Istirahat
Lama 8 jam/hari 8 jam/hari
Keluhan Tidak ada Tidak ada

d. Aktifitas Memasak, Memasak,

menyapu, menyapu,

mencuci mencuci
e. Personal hygiene
Mandi 2x/hari 2x/hari
Membersihkan Setelah Setelah

genetalia BAB/BAK BAB/BAK


Ganti pakaian 2x/hari 2x/hari

dalam
f. Pola seksual
Frekuensi Tidak dikaji Tidak dikaji
135

Keluhan Tidak dikaji Tidak dikaji

9. Data Psikologis

Status anak yang dikandung : syah

Tanggapan suami dan keluarga : senang atas kehamilannya

Kesiapan mental ibu : ibu mau menjaga kehamilannya

10. Status perkawinan

Perkawinan ke :1

Lama perkawinan : 10 bulan

Status perkawinan : Syah

11. Data sosial budaya

Ibu mengatakan tidak menganut paham budaya membawa gunting /

peniti kemana – mana.

12. Data spiritual

Ibu mengatakan taat beribadah kepada Allah SWT dan senantiasa

berdoa untuk kehamilan dan kelancaran persalinannya nanti.

13. Data pengetahuan ibu :

Ibu mengatakan belum mengetahui tanda bahaya kehamilan

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

KU : Baik

Kesadaran : composmentis
136

BB sebelum hamil : 40 kg

BB selama hamil : 52 kg

Kenaikan : 12 kg

TB : 166 cm

LILA : 25 cm

TTV : TD : 110/70 mmHg S : 36,2 C

RR : 24x/menit N : 82x/menit

UK : 38 Minggu 1 Hari HPL : 15 Maret 2019

2. PemeriksaanFisik

Kepala : mesochepal

Rambut : bersih, tidak rontok, tidak berketombe

Muka : simetris, tidak ikterik, tidak sianosis dan tidak oedem

Mata : simetris, conjungtiva merah muda, sklera putih

Mulut : bersih, tidak ada karies dentis, tidak ada epulis

Hidung : simetris, tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada serumen berlebih

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena

jugularis

Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada


137

Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, tidak ada pembesaran

hati dan limpha

Genetalia : tidak ada oedem dan varises

Anus :tidak ada hemoroid

Ekstermitas : Atas : simetris, gerakan aktif, tidak oedem

Bawah : simetris, gerakan aktif, tidak oedem

3. Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

Muka : Tidak pucat, tidak oedem, tidak cloasma

gravidarum

Mammae : Puting susu: menonjol, ada hiperpigmentasi

areola mamae

Colostrum : belum keluar

Kebersihan : terjaga

Abdomen : tidak terdapat striae gravidarum, terdapat linea

nigra, pembesaran uterus sesuai umur

kehamilan
138

Genetalia : tidak oedem, tidak varises, dan tidak ada tanda-

tanda infeksi

Palpasi :

TFU : 30 cm

Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba

bulat, lunak yaitu bokong

Leopold II : perut kanan ibu teraba seperti papan, panjang,

tahan kuat yaitu punggung janin (puka)

Perut kiri teraba bagian-bagian kecil janin yaitu

ekstremitas

Leopold III : segmen bawah rahim teraba bulat, keras yaitu

kepala

Leopold IV : Divergen (sudah masuk PAP) 4/5

TBJ : (30-11)155 = 2.945 gr

Auskutasi

DJJ : 138x/menit, teratur

Perkusi

Reflek patella : Kanan +/kiri +

Pemeriksaan panggul luar

Distansia spinarum : 24 cm (normalnya24-26cm)

Distansia kristarum : 28 cm (normalnya28-30cm)

Conjugata eksterna : 18 cm (normalnya18-20cm)

Lingkar panggul : 90 cm (normalnya80-90cm)


139

4. Pemeriksaaan Penunjang

Pemeriksaan USG: dilakukan pada tanggal 21/1/2019 oleh dokter

Sp.Og

EFW : 1.304 gr

EDD : 14 Maret 2019

JK : Laki – laki

Laboratorium : dilakukan pada tanggal 14/9/2018

HB : 11,2 g/dl

VCT : non reaktif

HBSAG : non reaktif

Sifilis : non reaktif


140

C. ASSESEMENT

1. Diagnosa Nomenklatur

Ny. H umur 22 tahun, G1P0A0, Umur kehamilan 38 minggu 1 hari,

janin tunggal, hidup intrauterin, puka (punggung kanan), letak

memanjang, preskep, Divergen (sudah masuk PAP) 4/5, dengan

kehamilan TM III normal

a. Data Subyektif

ibu mengatakan bernama Ny. H umur 22 tahun

ibu mengatakan ini kehamilan pertama

ibu mengatakan tidak pernah keguguran

ibu mengatakan HPHT 8 Juni 2018

ibu mengatakan sering BAK ± 9 kali dalam sehari

b. Data Obyektif

KU : Baik

Kesadaran : Composmentis

BB sebelum Hamil : 40 Kg

BB : 52 Kg

Kenaikan : 12 Kg

TTV : TD :110/70 mmHg N : 82x/menit

R : 24x/menit S: 36,5 ⁰C

UK : 38 Minggu 1 Hari

TFU : 30 cm
141

Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba

bulat, lunak yaitu bokong

Leopold II : perut kanan ibu teraba seperti papan, panjang,

tahan kuat yaitu punggung janin (puka) Perut kiri

teraba bagian-bagian kecil janin yaitu ekstremitas

Leopold III : segmen bawah rahim teraba bulat, keras yaitu

kepala

Leopold IV : Divergen (sudah masuk PAP) 4/5

TBJ : (30-11)155 = 2.945 gr

2. Diagnosa masalah

Sering BAK

Data Subjektif : Ibu mengatakan sering BAK ± 9 kali dalam sehari

Data Objektif :-

3. Diagnosa Kebutuhan

Memberikan KIE tentang penyebab sering BAK

Data Subjektif : Ibu mengatakan sering BAK ± 9 kali dalam sehari

Data Objektif :-

4. Diagnosa Potensial

Tidak ada

5. Antisipasi Tindakan segera

Tidak ada
142

D. PLANNING

1. Jam 14.00 WIB

Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa saat ini keadaannya

normal dengan hasil :

KU : baik

Kesadaran : composmentis

BB : 52kg

TTV : TD:110/70mmHg N:82x/menit

R :24x/menit S : 36,2 ºC

Evaluasi : ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan sudah

mengetahui bahwa keadaannya normal

2. Jam 14.02 WIB

Memberitahu ibu tentang keluhan sering BAK yang dialaminya

adalah hal yang normal yang disebabkan oleh adanya tekanan

uterus karena turunnya kepala janin sehingga kandung kemih

tertekan dan mengakibatkan frekuensi BAK meningkat

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tentang keluhannya

3. Jam 14.05 WIB

Memberitahu ibu tentang cara penanganannya yaitu dengan selalu

mengosongkan kandung kemih dengan cara saat ada keinginan

untuk BAK ibu segera buang air kecil agar kandung kemih kosong,

mengurangi minum pada malam hari jika mengganggu ibu dan


143

tetap memperbanyak minum pada siang hari, mengurangi minuman

diuretik seperti teh.

Evaluasi : ibu sudah mengetahui cara penanganannya dan ibu

bersedia mempraktikkannya.

4. Jam 14.07 WIB

Memberitahu ibu tanda bahaya kehamilan TM III yaitu pusing yang

menetap, bengkak pada muka, tangan dan kaki (preeklamsi), air

ketuban keluar sebelum waktunya, perdarahan yang hebat dari jalan

lahir, gerakan bayi berkurang. Serta memberitahu ibu bahwa jika ibu

mengalami salah satu dari tanda bahaya tersebut segera menghubungi

dan mendatangi tenaga kesehatan (bidan / dokter)

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tanda bahaya kehamilan TM III

5. Jam 14.10 WIB

Memberitahu kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi

seimbang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya

seperti membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. Makanan

yang bergizi seimbang diantaranya yaitu yang mengandung

karbohidrat (nasi, gandum, kentang), protein (ikan, telor, tahu, tempe,

kacang - kacangan), vitamin dan mineral (sayur- sayuran dan buah-

buahan), menganjurkan ibu untuk minum air putih yang cukup ± 8

gelas per hari, misal (nasi satu piring, telor satu butir, tahu, tempe,

sayur bayam satu mangkuk).

Evaluasi : ibu bersedia untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi


144

6. Jam 14.12 WIB

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu istirahat malam ±

8 jam dan istirahat siang ±2 jam agar ibu tidak kelelahan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk istirahat yang cukup dan bersedia

mempraktikannya.

7. Jam 14.14 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet FE yaitu 90 tablet FE

selama kehamilan yang diberikan oleh bidan, setiap harinya minum

1x1 tablet yang menggandung 60 mg zat besi dengan mengunakan air

putih atau bersamaan dengan vitamin C pada malam hari menjelang

tidur untuk mengurangi mual.

Evaluasi : ibu sudah rutin minum tablet FE setiap hari tanpa diselingi

dengan minum susu dan teh.

8. Jam 14.16 WIB

Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu

kemudian atau segera jika ada keluhan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk kunjungan ulang


145

DATA PERKEMBANGAN I

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. H USIA 22 TAHUN G1P0A0 HAMIL

39 MINGGU 4 HARI DENGAN KEHAMILAN

TRIMESTER III NORMAL

Tanggal : 12 Maret 2019

Pukul : 11.40 WIB

Tempat : di rumah Ny. H

A. DATA SUBYEKTIF

Ibu mengatakan bernama Ny. H

Ibu mengatakan berumur 22 tahun

Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah keguguran

Ibu mengatakan sering BAK ± 7 kali dalam sehari

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaaan umum

KU : baik

Kesadaran : composmentis

BB sebelum hamil : 40 kg

BB selama hamil : 56 kg

Kenaikan : 16 kg

TB : 166 cm

LILA : 25 cm
146

TTV : TD : 110/70 mmHg N : 82 x/menit

RR : 22 x/menit S : 36 ºC

HPL : 15 Maret 2019

UK : 39 minggu 4 hari

2. Pemeriksaan Fisik

Kepala : mesochepal

Rambut : bersih, tidak rontok, tidak berketombe

Muka : simetris, tidak ikterik, tidak sianosis dan tidak oedem

Mata : simetris, conjungtiva merah muda, sklera putih

Mulut : bersih, tidak ada karies dentis, tidak ada epulis

Hidung : simetris, tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada serumen berlebih

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis

Dada : simetris,tidak ada retraksi dinding dada

Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, tidak ada pembesaran hati

dan limpha

Genetalia : tidak ada oedem dan varises

Anus :tidak ada hemoroid

Ekstermitas : Atas : simetris, gerakan aktif, tidak oedem

Bawah : simetris, gerakan aktif, tidak oedem


147

3. Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

Muka : Tidak pucat, tidak oedem, tidak ada cloasma gravidarum

Mammae : Puting susu : menonjol, ada hiperpigmentasi areola

mamae

Colostrum : belum keluar

Kebersihan : terjaga

Abdomen : tidak terdapat striae gravidarum, terdapat linea nigra,

pembesaran uterus sesuai dengan usia kehamilan

Genetalia : tidak oedem, tidak varises, dan tidak ada tanda-tanda

Infeksi

Palpasi :

TFU : 29 cm

Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba bulat, lunak,

yaitu bokong

Leopold II : perut kanan ibu teraba seperti papan, panjang, tahan kuat

yaitu punggung janin (puka) Perut kiri teraba bagian-bagian

kecil janin yaitu ekstremitas

Leopold III : segmen bawah rahim teraba bulat, keras yaitu kepala

Leopold IV : Divergen (kepala sudah masuk PAP) 4/5

TBJ : (29-11)155 = 2.790gram

Auskutasi

DJJ : 140 x/menit, teratur


148

4. Pemeriksaan penunjang

Hb : tidak dilakukan

C. ASSESMENT

1. Diagnosa Nomenklatur

Ny. H umur 22 tahun, G1P0A0, Umur kehamilan 39 minggu 4 hari, janin

tunggal hidup intrauterin, puka (punggung kanan), letak memanjang,

preskep, divergen (masuk PAP) 4/5, dengan kehamilan TM III normal.

a. Data Subyektif

ibu mengatakan bernama Ny. H umur 22 tahun

ibu mengatakan ini hamil pertama

ibu mengatakan tidak pernah keguguran

ibu mengatakan HPHT 8 Juni 2018

ibu mengatakan sering BAK ± 7 kali dalam sehari

b. Data obyektif

KU : Baik

Kesadaran : Composmentis

BB sebelum Hamil : 40 Kg

BB : 52 Kg

Kenaikan : 12 Kg

TTV : TD :110/70 mmHg N : 82x/menit

R : 24x/menit S: 36,5 ⁰C

UK : 38 Minggu 1 Hari TFU : 29 cm


149

Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba bulat,

lunak yaitu bokong

Leopold II : perut kanan ibu teraba seperti papan, panjang,tahan

kuat yaitu punggung janin (puka) Perut kiri teraba

bagian-bagian kecil janin yaitu ekstremitas

Leopold III : segmen bawah rahim teraba bulat, keras yaitu

kepala

Leopold IV : Divergen (sudah masuk PAP) 4/5

TBJ : (29-11)155 = 2.945 gr

2. Diagnosa masalah

Sering BAK

Data Subjektif : Ibu mengatakan sering BAK sehari ± 7 kali dalam

Sehari

Data Objektif :-

3. Diagnosa kebutuhan

Memberikan KIE tentang penyebab sering BAK

Data Subjektif : ibu mengatakan sering BAK sehari ± 7 kali dalam

sehari

Data Objektif :-
150

4. PLANNING

1. Jam 11.45 WIB

Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan :

KU : baik

Kesadaran : composmentis

BB sebelum hamil : 40 kg

BB selama hamil : 56 kg

Kenaikan : 16 kg

TTV : TD : 110/70 mmHg N : 82 x/menit

RR : 22 x/menit S : 36 ºC

UK : 39 minggu 4 hari

TFU : 29 cm

DJJ : 140x/menit

Keadaan ibu maupun janin saat ini dalam keadaan normal

Evaluasi : ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan janin dan ibu

dalam keadaan normal

2. Jam 11. 50 WIB

Memberitahu ibu tentang keluhan sering BAK yang dialaminya

adalah hal yang normal yang disebabkan oleh adanya tekanan uterus

karena turunnya kepala janin sehingga kandung kemih tertekan dan

mengakibatkan frekuensi BAK meningkat

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tentang keluhannya


151

3. Jam 11.52 WIB

Memberitahu ibu tentang cara penanganannya yaitu dengan selalu

mengosongkan kandung kemih dengan cara saat ada keinginan untuk

BAK ibu segera buang air kecil agar kandung kemih kosong,

mengurangi minum pada malam hari jika mengganggu ibu dan tetap

memperbanyak minum pada siang hari, mengurangi minuman diuretik

seperti teh.

Evaluasi : ibu sudah mengetahui cara penanganannya dan ibu bersedia

mempraktikkannya.

4. Jam 11.55 WIB

Memberitahu ibu tentang persiapan persalinan yaitu menentukan siapa

penolong persalinan (Dokter / Bidan), tempat di (RB / Klinik / RS /

Puskesmas), pendamping saat persalinan (Suami / Keluarga),

transportasi yang digunakan (Becak / mobil), tabungan / uang yang

lebih untuk biaya yang tak terduga, pendonor untuk keadaan gawat

darurat, pengambilan keputusan utama (suami, keluarga).

Evaluasi : ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang persiapan

persalinan dan ibu sudah siap

5. Jam 11.57 WIB

Memberitahu ibu tentang tanda – tanda persalinan yaitu keluarnya

lendir darah dari jalan lahir, kenceng – kenceng yang teratur, jika ibu

mengalami hal tersebut segera datang ke tenaga kesehatan.


152

Evaluasi : ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang tanda – tanda

persalinan.

6. Jam 12.00 WIB

Memberitahu kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi

seimbang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya

seperti membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. Makanan yang

bergizi seimbang diantaranya yaitu yang mengandung karbohidrat (nasi,

gandum, kentang), protein (ikan, telor, tahu, tempe, kacang - kacangan),

vitamin dan mineral (sayur – sayuran dan buah - buahan), menganjurkan

ibu untuk minum air putih yang cukup ± 8 gelas per hari, misal (nasi satu

piring, telor satu butir, tahu, tempe, sayur bayam satu mangkuk).

Evaluasi : ibu bersedia untuk makan makanan yang bergizi

seimbang.

7. Jam 12.05 WIB

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu istirahat siang ±2 jam

dan istirahat malam ± 8 jam ini bertujuan agar ibu tidak kelelahan.

Evaluasi : ibu bersedia istirahat yang cukup dan bersedia untuk

mempraktikannya.

8. Jam 12.07 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan personal hygiene yaitu

dengan mandi 2x gosok gigi, menggati celana dalam minimal 2x sehari atau

setiap kali basah dan kotor.

Evaluasi : ibu bersedia menjaga kebersihan personal hygiene.


153

9. Jam 12.10 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet FE yaitu 90 tablet FE selama

kehamilan yang diberikan oleh bidan, setiap harinya minum 1x1 tablet

yang menggandung 60 mg zat besi dengan mengunakan air putih atau

bersamaan dengan vitamin C pada malam hari menjelang tidur untuk

mengurangi mual.

Evaluasi : ibu sudah rutin minum tablet FE setiap hari tanpa diselingi

dengan minum susu dan teh

10. Jam 12.12 WIB

Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu kemudian

atau segera lakukan pemeriksaan jika ada keluhan.

Evaluasi : ibu bersedia melakukan kunjungan ulang


154

DATA PERKEMBANGAN II

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. H USIA 22 TAHUN G1P0A0 HAMIL

40 MINGGU 5 HARI DENGAN KEHAMILAN POST DATE

Tanggal : 20 Maret 2019

Pukul : 13.00 WIB

Tempat : di RSUD SOESELO

D. DATA SUBYEKTIF

Ibu mengatakan dapat rujukan dari puskesmas Slawi dengan hasil

pemeriksaan:

Ibu mengalami kehamilan melewati hari perkiraan lahir

Ibu belum merasakan kenceng – kenceng teratur

Ibu belum keluar cairan dari jalan lahir

Ibu terlihat cemas dengan kehamilan melewati hari perkiraan lahir

E. DATA OBYEKTIF

5. Pemeriksaaan umum

KU : baik

Kesadaran : composmentis

BB sebelum hamil : 40 kg

BB selama hamil : 56 kg

Kenaikan : 16 kg

TB : 166 cm
155

LILA : 25 cm

TTV : TD : 120/80 mmHg N : 82 x/menit

RR : 20 x/menit S : 36,5 ºC

HPL : 15 Maret 2019

UK : 40 minggu 5 hari

6. Pemeriksaan Fisik

Kepala : mesochepal

Rambut : bersih, tidak rontok, tidak berketombe

Muka : simetris, pucat, tidak ikterik, tidak sianosis

Mata : simetris, conjungtiva merah muda, sklera putih

Mulut : bersih, tidak ada karies dentis, tidak ada epulis

Hidung : simetris, tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada serumen berlebih

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis

Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada

Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, tidak ada pembesaran

hati dan limpha

Genetalia : tidak ada oedem dan varises

Anus : tidak ada hemoroid

Ekstermitas : Atas : simetris, gerakan aktif, tidak oedem, dingin

Bawah : simetris, gerakan aktif, tidak oedem


156

7. Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

Muka : tidak oedem, tidak ada cloasma gravidarum

Mammae : Puting susu : menonjol, ada hiperpigmentasi areola mamae

Colostrum : belum keluar

Kebersihan : terjaga

Abdomen : tidak terdapat striae gravidarum dan terdapat linea nigra,

pembesaran uterus sesuai dengan usia kehamilan

Genetalia : tidak oedem, tidak varises, dan tidak ada tanda-tanda

Infeksi

Palpasi :

TFU : 29 cm

Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba bulat, lunak,

yaitu bokong

Leopold II : perut kanan ibu teraba seperti papan, panjang, tahan kuat

yaitu punggung janin (puka) Perut kiri teraba bagian-

bagian kecil janin yaitu ekstremitas

Leopold III : segmen bawah rahim teraba bulat, keras yaitu kepala

Leopold IV : Divergen (kepala sudah masuk PAP) 4/5

TBJ : (29-11)155 = 2.945 gram

Auskutasi

DJJ : 126 x/menit, teratur


157

8. Pemeriksaan penunjang

Hb : tidak dilakukan

USG : dilakukan pada tanggal 12/03/2019 oleh dokter Sp.Og

EFW : 2.574 gr

EDD : 14 Maret 2019

JK : Laki-laki

F. ASSESMENT

1. Diagnosa Nomenklatur

Ny. H umur 22 tahun, G1P0A0, Umur kehamilan 40 minggu 5 hari, janin

tunggal hidup intrauterin, puka (punggung kanan), letak memanjang,

preskep, divergen (masuk PAP) 4/5, dengan kehamilan post date.

a. Data Subyektif

ibu mengatakan bernama Ny. H umur 22 tahun

ibu mengatakan ini kehamilan pertama

ibu mengatakan kehamilannya melewati hari perkiraan lahir

b. Data obyektif

KU : Baik

Kesadaran : Composmentis

BB sebelum Hamil : 40 Kg

BB : 52 Kg

Kenaikan : 12 Kg

TTV : TD :110/70 mmHg N : 82x/menit


158

R : 24x/menit S: 36,5 ⁰C

UK : 40 Minggu 5 Hari

TFU : 29 cm

Leopold I : TFU 2 jari dibawah PX, bagian fundus teraba bulat,

lunak yaitu bokong

Leopold II :perut kanan ibu teraba seperti papan, panjang,tahan

kuat yaitu punggung janin (puka) Perut kiri teraba

bagian-bagian kecil janin yaitu ekstremitas

Leopold III :segmen bawah rahim teraba bulat, keras yaitu

kepala

Leopold IV : Divergen (sudah masuk PAP) 4/5

TBJ : (29-11)155 = 2.945 gr

UK : 40 Minggu 5 hari

HPL : 15 Maret 2019

2 Diagnosa masalah

Kecemasan

Data Subjektif : Ibu mengatakan cemas karena kehamilannya melewati

hari perkiraan lahir

Data Objektif :

Muka : Pucat

Ekstermitas Atas : Dingin

UK : 40 Minggu 5 hari

HPL : 15 Maret 2019


159

3. Diagnosa kebutuhan

Memberikan KIE untuk mengatasi rasa cemasnya

Data Subjektif : Ibu mengatakan cemas karena kehamilannya

melewati hari perkiraan lahir

Data Objektif :

Muka : Pucat

Ekstermitas : Dingin

4. Diagnosa Potensial

Pada ibu : partus lama, inersia uteri, perdarahan postpartum

Pada bayi : Asfiksia, makrosomia, kematian janin.

G. PLANNING

1. jam 13.00 WIB

Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan :

KU : baik

Kesadaran : composmentis

BB sebelum hamil : 40 kg

BB selama hamil : 56 kg

Kenaikan : 16 kg

TTV : TD : 120/80 mmHg N : 82 x/menit

RR : 20 x/menit S : 36,5 ºC

UK : 40 minggu 5 hari

TFU : 29 cm

DJJ : 126x/menit
160

Keadaan ibu maupun janin saat ini dalam keadaan normal

Evaluasi : ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan, keadaan ibu

maupun janin saat ini dalam keadaan normal

2. jam 13.05 WIB

Memberitahu ibu tentang kecemasan mengenai kehamilannya melewati

hari perkiraan lahir (Post date) yaitu kehamilan yang berlangsung 42

minggu atau lebih. Kira – kira 10% kehamilan berlangsung terus sampai

42 minggu, 4% berlanjut sampai usia 43 minggu.

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tentang keluhannya dan ibu sudah

merasa tenang

3. jam 13.07 WIB

Kolaborasi dengan dokter Sp.Og.

Evaluasi : kolaborasi telah dilakukan dengan hasil :

Pasang infus Rl 20 tpm

Gastrul 1/8 tablet / Forniks posterior pada jam 20.00 WIB

4. jam 13.10 WIB

memberikan terapi sesuai advice dokter

Evaluasi : pemasangan infus RL 20 tpm

5. jam 13.15 WIB

Memberitahu ibu tentang tanda – tanda persalinan yaitu keluarnya

lendir darah dari jalan lahir, kenceng – kenceng yang teratur, jika ibu

mengalami hal tersebut segera datang ke tenaga kesehatan.


161

Evaluasi : ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang tanda – tanda

persalinan dan ibu belum mengalami tanda – tanda

persalinan tersebut.

6. Jam 13.12 WIB

Memberitahu ibu tentang persiapan persalinan yaitu menentukan siapa

penolong persalinan (Dokter / Bidan), tempat di (RB / Klinik / RS /

Puskesmas), pendamping saat persalinan (Suami / Keluarga),

transportasi yang digunakan (Becak / mobil), tabungan / uang yang

lebih untuk biaya yang tak terduga, pendonor untuk keadaan gawat

darurat, pengambilan keputusan utama (suami, keluarga).

Evaluasi : ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang persiapan

persalinan dan ibu sudah siap

7. Jam 13.15 WIB

Memberitahu kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi

seimbang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya

seperti membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. Makanan yang

bergizi seimbang diantaranya yaitu yang mengandung karbohidrat (nasi,

gandum, kentang), protein (ikan, telor, tahu, tempe, kacang-kacangan),

vitamin dan mineral (sayur- sayuran dan buah-buahan), menganjurkan

ibu untuk minum air putih yang cukup ± 8 gelas perhari, misal ( nasi satu

piring, telor satu butir, tahu, tempe, sayur bayam satu mangkuk).

Evaluasi : ibu bersedia untuk makan makanan yang bergizi

seimbang.
162

8. Jam 13.18 WIB

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu istirahat siang ±2 jam

dan istirahat malam ± 8 jam ini bertujuan agar ibu tidak kelelahan.

Evaluasi : ibu bersedia istirahat yang cukup dan bersedia untuk

mempraktikannya.

9. Jam 13.120 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan personal hygiene yaitu

dengan mandi 2x gosok gigi, menggati celana dalam minimal 2x sehari

atau setiap kali basah dan kotor.

Evaluasi : ibu bersedia menjaga kebersihan personal hygiene.

10. Jam 13.22 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap minum tablet FE yaitu 90 tablet FE selama

kehamilan yang diberikan oleh bidan, setiap harinya minum 1x1 tablet

yang menggandung 60 mg zat besi dengan mengunakan air putih atau

bersamaan dengan vitamin C pada malam hari menjelang tidur untuk

mengurangi mual.

Evaluasi : ibu sudah rutin minum tablet FE setiap hari tanpa diselingi

dengan minum susu dan teh.

11. Jam 20.00 WIB

Memberikan terapi sesuai advice dokter

Evaluasi : gastrul 1/8 tablet / Forniks Posterior sudah diberikan dan

pantau kontraksi
163
164

ASUHAN PERSALINAN PATOLOGIS

PADA NY. H UMUR 22 TAHUN G1P0A0 USIA KEHAMILAN 40 MINGGU

5 HARI DENGAN PERSALINAN POST DATE INDUKSI

DI RSUD SOESELO

Tanggal/Jam Pasien Masuk : 21 Maret 2019 / 05.00 WIB

Tanggal/Jam Pengkajian : 21 Maret 2019 / 05.00 WIB

Tempat : RSUD SOESELO

No. Register : 586611

I. PENGUMPULAN DATA

A. DATA SUBYEKTIF

1. Identitas

Nama : Ny. H Nama Suami : Tn. T

Umur : 22 Tahun Umur : 27 Tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Dagang

Suku : Jawa Suku : Jawa

Alamat : Slawi 10/4 Alamat : Slawi 10/4


165

2. Alasan Datang

Ibu mengatakan dapat rujukan dari puskesmas Slawi dengan hasil

pemeriksaan:

Ibu mengalami kehamilan melewati hari perkiraan lahir

Ibu belum merasakan kenceng – kenceng teratur

Ibu belum keluar cairan dari jalan lahir

Ibu belum ada pembukaan

3. Keluhan Utama

Ibu mengatakan kehamilannya sudah melewati hari perkiraan lahir

Ibu mengatakan belum merasakan kenceng – kenceng teratur

Ibu mengatakan belum keluar cairan dari jalan lahir

4. Riwayat Obstetri dan Ginekologi

a. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu

Tabel 3.2 Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu

Hamil Persalinan Nifas


ke
Tgl Umur Jenis Penolon Komplikasi Jenis BB laktasi Kompli-
kehamilan persalinan g kelamin lahir kasi
lahir
Ibu Bayi
Hamil
ini

b. Riwayat Kehamilan Sekarang


166

G1P0A0

ANC sejak umur kehamilan 10 minggu 2 hari, ANC di puskesmas

Riwayat ANC

TM I : 1X di puskesmas

TM II : 3x di puskesmas

TM III : 3x di puskesmas

Imunisasi TT : TT4 (20/05/2018)

Keluhan

TM I : Mual

TM II : Mual

TM III : sering BAK

Pergerakan janin dirasakan pada usia kehamilan 16 minggu,

pergerakan janin dalam 12 jam terakhir 12 kali

c. Riwayat Haid

Menarche : 13 tahun

Lama/siklus/jumlah : 28 hari/ 7 hari/ 2x ganti pembalut

Dysmenorhea : Ya, fisiologis (hari pertama menstruasi)

Flour Albus : Ya, fisiologis (putih, tidak gatal, tidak bau)

HPHT : 08 Juni 2018


167

5. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi

Tabel 3.3: Riwayat penggunaan kontrasepsi

No Jenis Kontrasepsi Mulai memakai Berhenti /Ganti cara


Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Alasan
Belum
menggunakan
Kontrasepsi

Rencana yang akan datang : KB suntik 3 bulan

Alasan : ibu mengatakan lebih mudah menggunakan KB suntik

6. Riwayat Kesehatan

a. Kesehatan Ibu

Sekarang :ibu mengatakan tidak sedang menderita gejala

penyakit seperti mudah haus, mudah lapar dan sering kencing (poli

uri, poli difsi, poli pagi), berat badan menurun (DM), gejala penyakit

batuk berdarah >3 minggu, keringat dingin pada malam hari, berat

badan menurun, demam (TBC), gejala penyakit warna kulit, sklera,

kuku berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis), gejala penyakit

seperti daya tahan tubuh menurun, mudah sakit, diare / sariawan tak

kunjung sembuh (HIV), gejala penyakit seperti ada luka / nanah pada

alat kelamin, nyeri berkemih, gatal-gatal pada alat kelamin (PMS).


168

Yang Lalu : ibu mengatakan tidak sedang menderita gejala

penyakit seperti mudah haus, mudah lapar dan sering kencing (poli

uri, poli difsi, poli pagi), berat badan menurun (DM), gejala penyakit

batuk berdarah >3 minggu, keringat dingin pada malam hari, berat

badan menurun, demam (TBC), gejala penyakit warna kulit, sklera,

kuku berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis), gejala penyakit

seperti daya tahan tubuh menurun, mudah sakit, diare / sariawan tak

kunjung sembuh (HIV), gejala penyakit seperti ada luka / nanah pada

alat kelamin, nyeri berkemih, gatal-gatal pada alat kelamin (PMS).

b. Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga suami maupun ibu tidak ada

yang menderita penyakit seperti warna kulit, sklera dan kuku

berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis), gejala penyakit

seperti ada luka/nanah pada alat kelamin (PMS), ibu mengatakan

di dalam keluarga ibu tidak ada riwayat bayi kembar.

7. Kebiasaan

a. Pantangan makanan

Ibu mengatakan tidak ada pantangan makanan seperti ikan, telor

atau yang berbau amis

b. Minum jamu

Ibu mengatakan tidak pernah minum jamu sejak hamil

c. Minumobat-obatan
169

Ibu mengatakan tidak pernah minum obat – obatan kecuali dari

nakes

d. Merokok & minum alkohol

Ibu mengatakan tidak pernah merokok dan minum alkohol

e. Binatang peliharaan

Ibu mengatakan tidak mempunyai hewan peliharaan ayam, burung

dan kucing

f.
170

8. Pola Kebutuhan Sehari-hari

a. Nutrisi

Makan: terakhir tanggal 21-03-2019 jam 21.00 WIB

Porsi 1 piring

Jenis nasi, lauk, sayur

Keluhan Tidak ada

Minum : terakhir tanggal 21-03-2019 jam 04.30 WIB

Jenis air putih,

Keluhan Tidak ada

b. Eliminasi

BAB : terakhir tanggal 20-03-2019 jam 08.00 WIB

Konsistensi lembek

Warna coklat kekuningan

Keluhan Tidak ada

BAK : terakhir tanggal 20-03-2019 jam 23.00 WIB

Warna kuning jernih

Keluhan Tidak ada

c. Istirahat

Lama 3 jam

Keluhan kenceng - kenceng

Aktifitas tiduran
171

d. Personal hygiene:

Mandi:terakhir tanggal 20-03-2019 jam 10.00 WIB

Keramas -

Membersihkan genetalia setelah BAK

Ganti pakaian dalam 1kali

e. Pola seksual :

Frekuensi Tidak dikaji

Keluhan Tidak dikaji

9. Data Psikologis

Status anak yang dikandung : syah

Tanggapan suami dan keluarga : suami dan keluarga merasa cemas

karena kehamilannya melewati

hari perkiraan lahir

Kesiapan mental ibu :ibu merasa cemas karena

kehamilannya melewati hari

perkiraan lahir

10. Status Perkawinan

Perkawinanke :1

Lama Perkawinan : + 10 bulan

Status perkawinan : syah


172

11. DataSosial Budaya

Ibu mengatakan tidak menganut budaya setempat seperti bersalin di

lantai.

12. Data Spiritual

Ibu mengatakan senantiasa berdoa kepada Allah SWT untuk

keselamatan dirinya, bayinya dan kelancaran saat persalinan.

13. Data Pengetahuan Ibu

Ibu mengatakan telah mengetahui persiapan persalinan

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

KU : Baik

Kesadaran : Composmentis

BB sebelum hamil : 40 kg

BB : 56 kg

Kenaikan : 16 kg

TB : 166 cm

LILA : 25 cm

TTV : TD : 120/80 mmHg S : 36,5 C

RR : 20 x/menit N : 80 x/menit

UK : 40 Minggu 5 Hari

HPL : 15 Maret 2019


173

2. Pemeriksaan Fisik

Kepala : mesochepal

Rambut : bersih, tidak rontok, tidak berketombe

Muka : simetris, pucat, tidak ikterik, tidak sianosis

Mata : simetris, conjungtiva merah muda, sklera putih

Mulut : bersih, tidak ada karies dentis, tidak ada epulis

Hidung : simetris, tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada serumen berlebih

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena

jugularis

Dada : simetris,tidak ada retraksi dinding dada

Abdomen : tidak ada luka bekas operasi,tidak ada pembesaran

hati dan limpha

Genetalia : tidak ada oedem dan varises

Anus : tidak ada hemoroid

Ekstermitas : Atas : simetris, gerakan aktif, tidak oedem,

dingin

Bawah : simetris, gerakan aktif, tidak oedem

3. Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

Muka : tidak oedem, tidak ada cloasma gravidarum

Mammae : Puting susu : menonjol, ada hiperpigmentasi areola


174

mamae

Colostrum : belum keluar

Kebersihan : terjaga

Abdomen : tidak terdapat striae gravidarum dan terdapat linea

nigra,pembesaran uterus sesuai umur kehamilan

Genetalia : tidak oedem, tidak varises, dan tidak ada tanda-tanda

infeksi

Palpasi

TFU : 29 cm

Leopold I :TFU 2 jari dibawah PX, fundus teraba bulat, tidak

melenting kemungkinan bokong

Leopold II : pada kanan ibu teraba sepeti papan tahanan

kuat kemungkinan punggung (puka) Pada kiri ibu

teraba bagian – bagian kecil Kemungkinan

ekstermitas.

Leopold III : teraba bulat, melenting, keras kemungkinan kepala.

Leopold IV : divergen (kepala masuk PAP), 4/5

TBJ : (29-11)155 = 2790 gr

Auskutasi

DJJ : 132x/menit, teratur


175

4. Px.Dalam

Tanggal : 20-03–2019

Pukul : 05.00WIB Oleh : Bidan

Indikasi : ibu mengatakan kenceng - kenceng

Tujuan : untuk mengetahui apakah ibu sudah masuk dalam proses

persalinan atau tidak

Hasil :

Porsio : tebal, lunak

Pembukaan : 1cm

Penipisan : 10%

Selaput ketuban : (+) Rembes

Bagian terendah : kepala

Molase : tidak ada

Titikpenunjuk :UUK kanan depan

Moulage : tidak ada

Penurunan : HI+ 4/5

Bagian menumbung : -

HIS : 2X10’15”

5. Pemeriksaan Penunjang

PemeriksaanUSG : tidak dilakukan

Rontgen : tidak dilakukan


176

Laboratorium : dilakukan pada tanggal 15/03/2019

HB : 10,6 g/dl

VCT : non reaktif

HBSAG : non reaktif

Sifilis : non reaktif

Protein urine : negatif

C. ASSESMENT

1. Diagnosa nomenklatur

Ny. H umur 22 tahun, G1P0A0, umur kehamilan 40 minggu 5hari, janin

tunggal, hidup intrauterin, puka (punggung kanan), letak memanjang,

preskep, divergen 4/5, inpartu kala I fase laten post date dengan induksi

a. Data Subyektif

ibu mengatakan kehamilannya sudah melewati hari perkiraan lahir

ibu mengatakan sudah merasakan kenceng – kenceng

ibu mengatakan keluar cairan dari jalan lahir

b. Data Obyektif

KU : Baik

Kesadaran : Composmentis

BB sebelum hamil : 40 kg

BB : 56 kg

Kenaikan : 16 kg
177

TB : 166 cm

LILA : 25 cm

TTV : TD : 120/80 mmHg S : 36,5 C

RR : 20 x/menit N : 80 x/menit

UK : 40 Minggu 5 Hari HPL : 15 Maret 2019

TFU : 29 cm

Leopold I :TFU 2 jari dibawah PX, fundus teraba bulat, tidak

melenting kemungkinan bokong

Leopold II : pada perut kanan ibu teraba sepeti papan tahanan kuat

kemungkinan punggung (puka). Pada perut kiri ibu

teraba bagian – bagian kecil kemungkinan

ekstremitas.

Leopold III : teraba bulat, melenting, keras kemungkinan kepala.

Leopold IV : divergen (kepala masuk PAP), 4/5

TBJ : (29-11)155 = 2790 gr

DJJ : 132 x/menit, teratur

Px.Dalam

Tanggal : 20-03–2019

Pukul : 05.00WIB Oleh : Bidan

Indikasi : ibu mengatakan kenceng - kenceng

Tujuan : untuk mengetahui apakah ibu sudah masuk dalam proses

persalinan atau tidak


178

Hasil :

Porsio :tebal,lunak

Pembukaan :1cm

Penipisan :10%

Selaput ketuban : (+) Rembes

Bagian terendah : kepala

Molase : tidak ada

Titik penunjuk : UUK kanan depan

Moulage : tidak ada

Penurunan : HI+ 4/5

Bagian menumbung: -

HIS : 2X10’15”

2. Diagnosa masalah

Kecemasan

Data Subjektif : Ibu mengatakan cemas dengan kondisinya

Data Objektif :

Muka : Pucat

Ektremitas atas : Dingin

3. Diagnosa kebutuhan

Berikan KIE untuk mengatasi rasa cemasnya

Data Subjektif : Ibu mengatakan cemas dengan proses persalinannya


179

Data Objektif :

Muka : pucat

Ekstremitas atas : dingin

4. Diagnosa potensial

Pada ibu : Partus lama, inersia uteri, perdarahan postpartum

Pada bayi : Asfiksia, makrosomia, kematian janin.

5. Antisipasi tindakan segera

kolaborasi dengan dokter Sp.Og.

D. PLANNING

1. jam 05.00 WIB

Memberitahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yang telah

dilakukan

KU :baik

Kesadaran :Composmentis

TTV : TD: 120/80mmhg N : 80x/menit

Rr : 20x/menit S : 36,5°C

TFU : 29 cm

DJJ : 132 x/menit Pembukaan :1cm

Keadaan ibu maupun janin saat ini dalam keadaan normal.

Evaluasi : ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan, keadaan

janin dan ibu saat ini dalam keadaan normal.


180

2. Jam 05.02 WIB

Lakukan kolaborasi dengan dokter Sp.Og.

Evaluasi : kolaborasi telah dilakukan dengan hasil :

Pasang infus Rl 20 tpm

gastrul 1/8 tablet / Forniks Posterior

3. Jam 05.05 WIB

Memberikan terapi sesuai Advice dokter

Evaluasi : Telah diberikan :

Gastrul 1/8 tablet / Forniks Posterior masuk yang kedua

4. Jam 05.07 WIB

Memberikan support mental pada ibu bahwa ibu sudah masuk dalam

proses persalinan dan ibu tidak perlu khawatir dan cemas karena rasa

sakit yang ibu rasa kan adalah proses yang alami dan normal.

Evaluasi : ibu sudah terlihat tenang

5. Jam 05.09 WIB

Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri tujuannya untuk mempercepat

turunnya kepala janin.

Evaluasi : ibu bersedia untuk miring kiri


181

6. Jam 05.11 WIB

Menganjurkan ibu untuk tidak mengejan karena pembukaan belum

lengkap, jika ada kontraksi sebaiknya ibu tarik nafas panjang melalui

hidung dan mengeluarkan lewat mulut.

Evaluasi : ibu tidak mengejan dan tarik nafas panjang saat ada

kontraksi

7. Jam 05.13 WIB

Memberikan asuhan sayang ibu:

a. Menghadirkan keluarga untuk mendampingi ibu

b. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum saat tidak ada kontraksi

c. Menganjurkan keluarga untuk mempersiapkan persiapan persalinan

d. Menganjurkan ibu untuk BAK jika kandung kemih terasa penuh dan

BAB bila perlu

Evaluasi : ibu sudah merasa nyaman setelah asuhan sayang ibu

diberikan

8. Jam 05.15 WIB

Menyiapkan partus set (klem tali pusat, gunting tali pusat, talipusat)

heacting set (pinset, benang, jarum) dan obat - obatan esensial

(oxytosin), spuit.

Evaluasi : partus set sudah disiapkan


182

9. Jam 05.17 WIB

Melakukan pengawasan 10 meliputi keadaan umum, tekanan darah,

nadi, suhu, respirasi, kontraksi, DJJ, tanda bandle ring, PPV dan

pembukaan.

Evaluasi : hasil pengawasan


183

Tabel 3.4 hasil pengawasan fase laten

Jam KU TD N S R His DJJ BR PPV Pembukaan


(mmHg) (x/menit (°C (x/menit (cm)
) ) )
05.00 Baik 110/70 82 36,7 22 2X10’15 132 - 2 cc 1

05.30 Baik 80 2X10’15 135 - 2 cc


06.00 Baik 80 2X10’15 139 - 2 cc


06.30 Baik 80 2X10’15 138 - 2 cc


07.00 Baik 80 3X10’30 140 - 2 cc 3


07.30 Baik 80 4X10’40 145 - 2 cc

Pemeriksaan dalam pukul Pemeriksaan dalam pukul Pemeriksaan dalam pukul

05.00 WIB 07.00 WIB 08.00 WIB

Pembukaan : 1 cm Pembukaan : 3 cm Pembukaan : 10 cm

Penipisan : 10% Penipisan : 30% Penipisan : 100%

Keadaan portio : tebal lunak Keadaan portio : tipis Keadaan portio : tidak teraba

Bagian terendah : kepala Bagian terendah :kepala Bagian terendah : kepala

Titik petunjuk :UUK Titik petunjuk : UUK Titik petunjuk : UUK

Moulage : tidak ada Moulage : tidak ada Moulage : tidak ada


184

Penurunan : HI+ Penurunan :HII Penurunan : HIII+

Airketuban : (+) Rembes Airketuban :( - ) Air ketuban :(-)

Bagian terkemuka: tidak ada Bagian terkemuka: tidak ada Bagian terkemuka : tidak ada
ASUHAN KEBIDANAN

PADA NY. H UMUR 22 TAHUN G1P0A0 USIA KEHAMILAN 40 MINGGU

5 HARI DENGAN KALA II NORMAL

Tanggal/Jam : 21-3- 2019/ 08:00 WIB

Tempat : RSUD Soeselo

A. Data Subyektif

1. Ibu mengatakan perutnya kenceng-kenceng semakin sering

2. Ibu mengatakan ingin meneran, ada tekanan pada anus

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : composmentis

TTV : TD : 120/80 mmHg N : 82 kali permenit

Rr : 20 x/menit S : 36 0C

2. Pemeriksaan Kebidanan

TFU : 29 cm

Leopold I : TFU 2 jari dibawah processus xiphoideus fundus teraba

bulat, tidak melenting, berarti bokong

Leopold II : sebelah kanan perut ibu teraba panjang seperti papan,

tahanan kuat, yaitu punggung janin (puka)

185
186

Sebelah kiri perut ibu teraba bagian kecil janin, yaitu

ektremitas janin

Leopold III : SBR teraba bulat, melenting, berarti kepala, kepala

tidak dapat di goyangkan

Leopold IV : Divergen (kepala sudah masuk PAP), 1/5

TBJ : (29-11)155 = 2.790gr

Kontraksi : 4 x 10’ lama 40”

Kandung Kemih : Kosong

Auskultasi

DJJ :145 X/menit, teratur

3. Pemeriksaan Dalam

Jam 08.00 WIB

Perineum tampak menonjol, vulva dan anus membuka

Pembukaan : 10 cm

Penipisan : 100%

Keadaan portio : tidak teraba

Bagian terendah : kepala

Titik petunjuk : UUK

Moulage : tidak ada

Penurunan : H III+ 1 /5

Selaput ketuban : jernih

Bagian terkemuka : tidak ada


187

C. Asessment

Ny. H Umur 22 tahun G1P0A0 usia kehamilan 40 minggu 5 hari, janin tunggal

hidup intrauterin, letak memanjang, punggung kanan, presentasi kepala,

divergen, 1/5 dengan inpartu kala II normal.

D. Planning

1. Jam 08.00 WIB

Memberitahu ibu dan keluarga bahwa sudah masuk proses persalinan dengan

pembukaan lengkap.

TTV : TD : 120/80 mmHg N : 82 kali permenit

Rr : 20 x/menit S : 36 0C

Evaluasi : ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan

2. Jam 08.01 WIB

Mengamati tanda dan gejala kala II seperti ibu merasakan adanya dorongan

meneran, tekanan anus, perineum menonjol, dan vulva membuka.

Evaluasi : ibu sudah terdapat dorongan ingin meneran, tekanan anus,

perineum menonjol dan vulka nya sudah membuka

3. Jam 08.01 WIB

Memeriksa kembali peralatan pertolongan persalinan dan obat-obatan yang

akan digunakan, dan mematahkan ampul oksitosin lalu memasukkan spuit ke

dalam partus set.

Evaluasi : partus set sudah siap


188

4. Jam 08.02 WIB

Memakai Alat pelindung diri seperti handscoon, celemek, masker dan sepatu

boot.

Evaluasi : APD sudah dipakai

5. Jam 08.02 WIB

Melepas dan menyimpan perhiasan yang dipakai lalu mencuci tangan

dengan air mengalir dan mengeringkan dengan handuk bersih.

Evaluasi : Melepas dan menyimpan perhiasan yang dipakai lalu mencuci

tangan dengan air mengalir dan mengeringkan dengan handuk

bersih sudah dilakukan

6. Jam 08.03 WIB

Memakai sarung tangan steril untuk melakukan periksa dalam.

Evaluasi : sarung tangan sudah dipakai

7. Jam 08.03 WIB

Memasukkan oksitosin kedalam spuit dan memasukkan kembali kedalam

partus set.

Evaluasi : oksitosin sudah siap

8. Jam 08.03 WIB

Membersihkan vulva dan perineum dari depan kebelakang.

Evaluasi : vulva dan perineum sudah dibersihkan

9. Jam 08.04 WIB

Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan lengkap.


189

Evaluasi : pembukaan lengkap

10. Jam 08.04 WIB

Melakukan dekontaminasi dengan cara mencelupkan tangan yang masih

memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5% dan melepas serta

merendamnya dalam keadaan terbalik, cuci tangan dengan air mengalir.

Evaluasi : sarung tangan sudah didekontaminasi

11. Jam 08.05 WIB

Periksa DJJ saat tidak ada kontraksi

Evaluasi : DJJ : 145x/menit

12. Jam 08.06 WIB

Memberitahu ibu dan keluarga untuk menyiapkan posisi meneran ibu, bila

ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi kuat.

Evaluasi : ibu memilih untuk ½ duduk

13. Jam 08.06 WIB

Memberitahu ibu posisi ½ duduk atau posisi yang diinginkan ibu dan

memastikan ibu nyaman.

Evaluasi : ibu terlihat nyaman

14. Jam 08.07 WIB

Melakukan bimbingan meneran saaat ibu merasa ada dorongan meneran

dan menganjurkan ibu meneran efektif dan benar.


190

Evaluasi : ibu meneran dengan baik

15. Jam 08.08 WIB

Meletakkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan bayi diperut ibu

jika kepala bayi telah membuka 5-6 cm di vulva.

Evaluasi : handuk sudah siap

16. Jam 08.08 WIB

Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu untuk

melindungi perineum.

Evaluasi : kain bersih sudah berada di 1/3 bagian dibawah bokong ibu

17. Jam 08.08 WIB

Membuka tutup partus set dan pastikan kelengkapannya.

Evaluasi : alat sudah dibuka dan alat lengkap

18. Jam 08.09 WIB

Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan untuk menolong

persalinan.

Evaluasi : sarung tangan DTT sudah dipakai

19. Melahirkan kepala: setelah kepala bayi tampak divulva 5-6 cm dan

membuka vulva maka tangan kanan melindungi perineum dilapisi 1/3

bagian (kain) dibawah bokong ibu, tangan kiri menahan kepala bayi

untuk mencegah defleksi terlalu cepat dan membantu lahirnya kepala.

Evaluasi : kepala sudah lahir


191

20. Jam 08.10 WIB

Dengan lembut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan kain atau

kasa yang bersih.

Evaluasi : mulut, hidung dan muka sudah diseka dengan kain

21. Jam 08.11 WIB

Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat.

Evaluasi : tidak ada lilitan tali pusat

22. Jam 08.12 WIB

Menunggu putaran paksi luar secara spontan.

Evaluasi : bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan

23. Jam 08.13 WIB

Melahirkan bahu bayi setelah kepala bayi melakukan putaran paksi luar

dan pegang kepala bayi dengan cara bipariental. Menganjurkan ibu untuk

meneran saat ada his, kemudian secara perlahan tarik kearah bawah atau

kearah perineum untuk melahirkan bahu depan dan tarik kearah distal

untuk melahirkan bahu belakang.

Evaluasi : bahu bayi lahir

24. Jam 08.14 WIB

Setelah kedua bahu lahir, geser lengan kanan ke bawah ke arah perineum

untuk menyangga kepala bayi, lengan dan siku sebelah bawah.

Evaluasi : kepala bayi sudah di sangga


192

25. Jam 08.15 WIB

Melakukan sangga susur setelah tubuh dan lengan bayi lahir, penelusuran

lengan atas berlanjut ke bokong, tungkai, kaki dan memegang kedua mata

kaki dengan cara memasukkan jari telunjuk diantara kedua kaki .

Evaluasi : bayi lahir pukul 08.15

26. Jam 08.15 WIB

Melakukan penanganan BBL yaitu menilai warna kulit, tangisan dan

gerakan bayi

Evaluasi : warna kulit bayi kemerahan, menangis kuat, gerakan bayi aktif

27. Jam 08.16 WIB

Meletakkan tubuh bayi diatas perut ibu dan mengeringkan bayi dengan

kain bersih mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lain kecuali telapak

tangan dan mengganti kain yang basah dengan kain yang kering.

Evaluasi : bayi sudah dalam keadaaan kering

28. Jam 08.16 WIB

Menjepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.

Mendorong isi tali pusat kearah ibu dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm

dari klem pertama.

Evaluasi : sudah dilakukan jepit-jepit tali pusat


193

29. Jam 08.16 WIB

Memotong dan mengikat tali pusat dengan satu tangan memegang tali

pusat yang telah dijepit dan mendorong tali pusat diantara kedua klem

dan mengikat tali pusat dengan benang DTT pada satu sisi kemudian

melepas klem.

Evaluasi : sudah dilakukan pemotongan tali pusat

30. Jam 08.17 WIB

Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau

selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali

pusat terbuka.

Evaluasi : handuk sudah diganti dengan yang kering

31. Jam 08.17 WIB

Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk

bayinya dan memulai pemberian ASI.

Evaluasi : sedang dilakukan IMD

32. Jam 08.17 WIB

Melakukan palpasi abdomen untuk memastikan tidak adanya bayi kedua

Evaluasi : tidak ada bayi kedua

33. Jam 08.17 WIB

Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntuk oksitosin 10 IU secara IM pada

1/3 paha bagian luar agar uterus berkontraksi baik.


194

Evaluasi : ibu bersedia

34. Jam 08.17 WIB

Melakukan penyuntikan oksitosin secara IM.

Evaluasi : ibu sudah di suntik di 1/3 paha bagian luar


195

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. H UMUR 22 TAHUN P1A0AH1DENGAN

KALA III NORMAL POST INDUKSI

Tanggal/ Jam : 21-3-2019/ 08.18 WIB

Tempat : RSUD Soeselo

A. Data Subyektif

1. Ibu mengatakan perutnya masih mules

2. Ibu mengatakan plasenta belum lahir

3. Ibu mengatakan senang bayinya sudah lahir

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : compossmentis

TTV : TD : 120/80 mmHg N : 80 x/menit

Rr : 20 x/menit S : 36 0C

2. Pemeriksaan Kebidanan

Palpasi

TFU : setinggi pusat

Kontraksi : keras

Kandung kemih : kosong


196

C. Asassment

Ny. H Umur 22 tahun P1A0Ah1 dengan kala III normal post induksi

D. Planning

35. Jam 08.18 WIB

Memindahkan klem pada tali pusat bayi hingga 5-6 cm dari depan vulva.

Evaluasi : klem sudah dipindahkan

36. Jam 08.18 WIB

Meletakkan satu tangan diatas perut ibu pada tepi atas simfisis untuk

mendeteksi adanya kontraksi, tangan kanan memegang talipusat.

Evaluasi : tangan kiri diatas perut ibu tangan kanan memegang talipusat

37. Jam 08.19 WIB

Setelah uterus berkontraksi, ada semburan darah, talipusat bertambah panjang

maka tangan kanan meregangkan talipusat kearah sejajar dengan lantai sambil

tangan kiri mendorong uterus kearah belakang atas (dorsokranial).

Evaluasi : tangan kanan menegangkan tali pusat, tangan kiri dorsokranial

sudah dilakukan

38. Jam 08.19 WIB

Melahirkan plasenta : menganjurkan ibu untuk sedikit meneran sambil

penolong meregangkan tali pusat kearah sejajar lantai kemudian kearah atas

mengikuti poros jalan lahir.

Evaluai : ibu bersedia meneran sedikit


197

39. Jam 08.20 WIB

Menangkap plasenta : saat plasenta muncul di introitus vagina, melahirkan

plasenta dengan kedua tangan dengan memegang dan memutar plasenta

hingga selaput ketuban terpilin.

Evaluasi : plasenta lahir

40. Jam 08.20 WIB

Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus ,

dengan cara meletakkan telapak tangan di fundus dengan gerakan melingkar

dengan lembut hingga uterus berkontraksi.

Evaluasi : massase uterus sudah dilakukan

41. Jam 08.22 WIB

Menilai kelengkapan: memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian depan

maupun belakang, memastikan selaput ketuban lengkap dan utuh kemudian

memasukkan plasenta kedalam wadah yang telah disediakan.

Evaluasi : jumlah kotiledon 20, panjang tali pusat ± 50 cm, selaput plasenta

lengkap.

42. Jam 08.24 WIB

Menilai adanya robekan jalan lahir.

Evaluasi : ibu mengalami robekan jalan lahir derajat 1, dan robekan sudah

dijahit dengan jelujur


198

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. H UMUR 22 TAHUN P1A0AH1

DENGAN KALA IV NORMAL POST INDUKSI

Tanggal/ Jam :21-3-2019/ 08.35WIB

Tempat : RSUD Soeselo

A. Data Subjektif

1. Ibu mengatakan plasenta sudah lahir

2. Ibu mengatakan masih lelah

3. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran anaknya

B. Data Obyekjif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : compossmentis

TTV

Tekanan Darah :110/80 mmHg

Nadi : 80 kali permenit

Pernafasan : 20 kali permenit

Suhu :36,10C

Inspeksi

Perdarahan : 100 cc

Plasenta lahir jam 08.20 WIB


199

Palpasi

TFU : 3 jari dibawah pusat

Kontraksi : keras

Kandung kemih : kosong

Plasenta lahir lengkap, kotiledon utuh, selaput tidak robek, tali pusat

ditengah dengan panjang tali pusat 45 cm.

Ada robekan jalan lahir derajat 1 jahitan jelujur.

C. Asassment

Ny. H Umur 22 tahun P1A0Ah1 dengan kala IV normal post induksi

D. Planning

43. Jam 08.35 WIB

Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan

pervaginam

Evaluasi : uterus keras dan tidak ada perdarahan

44. Jam 08.37 WIB

Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan

klorin 0,5%, membilas kedua tangan yang bersarung tangan dengan air

desinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkan dengan kain yang bersih dan

kering

Evaluasi : kedua sarung tangan sudah di celupkan kedalam larutan

klorin

45. Jam 08.38 WIB


200

Menempatkan klem tali pusat dengan simpul mati sekeliling tali pusat

sekitar 1 cm dari pusat.

Evaluasi : bayi sudah di berikan klem tali pusat

46. Jam 08.40 WIB

Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang bersebrangan dengan

simpul mati yang pertama.

Evaluasi : sudah dilakukan

47. Jam 08.43 WIB

Melepaskan klem bedah dan meletakkanya ke dalam larutan klorin 0,5%

Evaluasi : klem bedah sudah diletakan ke dalam larutan klorin

48. Jam 08.44 WIB

Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan

handuk atau kainnya bersih atau kering.

Evaluasi : bayi sudah diselimuti dan kainnya kering

49. Jam 08.45 WIB

Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.

Evaluasi : ASI sedang diberikan bayi sedang mencari puting susu ibu

50. Jam 08.45 WIB

Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.

Evaluasi : Kontraksi uterus keras

51. Jam 08.45 WIB

Mengajarkan pada ibu dan keluarga cara melakukan masase uterus.

Evaluasi : ibu sudah mengerti cara masase uterus


201

52. Jam 08.45 WIB

Melakukan evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

Evaluasi : jumlah perdarahan 100 cc

53. Jam 08.49 WIB

Memeriksa nadi ibu dan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam

pertama dan 30 menit selama 2 jam pasca persalinan.

Evaluasi :

Tabel 3.5 pemantauan kala IV

Jam Waktu TD N S TFU Kontraksi Kandung PPV


Ke (mmHg) (x/menit) (ºC) Uterus Kemih
1 08.35 100/80 84 36,6 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
08.50 100/80 80 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
09.05 100/80 80 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
09.20 110/80 81 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
2 09.50 110/80 81 36,4 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
10.20 110/70 81 3 jari Keras Kosong 5 cc
dibawah
pusat
54. Jam 08.49 WIB

Menempatkan semua peralatan kedalam larutan clorin 0,5 % selama 10

menit, kemudian dicuci dan dikeringkan


202

Evaluasi : peralatan sudah diletakkan kedalam larutan klorin.

55. Jam 08.50 WIB

Membuang semua bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah.

Evaluasi : bahan terkontaminasi sudah dibuang di tempat sampah

56. Jam 08.51 WIB

Membersihkan ibu dengan air DTT dan sisa cairan ketuban, lendir darah,

membantu ibu memakai pakaian bersih.

Evaluasi : ibu sudah bersih

57. Jam 08.59 WIB

Memastikan ibu merasa nyaman dan membantu ibu memberi ASI dan

menganjurkan keluarga untuk memberi makan dan minum.

Evaluasi : ibu terlihat nyaman dan bayi sedang menyusu dan ibu hanya

minum teh anget

58. Jam 09.01 WIB

Melakukan dekontaminasi tempat persalinan dengan clorin 0,5 %.

Evaluasi : tempat persalinan sudah didekontaminasi

59. Jam 09.02 WIB

Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% membalik

bagian dalam sarung tangan.

Evaluasi : Sarung tangan kotor sudah direndam klorin dalam keadaan

terbalik
203

60. Jam 09.04 WIB

Mencuci tangan dengan sabun dan membersihkan dengan handuk bersih

dan kering.

Evaluasi : cuci tangan sudah dilakukan

61. Melengkapi partograf

Evaluasi : partograf sudah dilengkapi


204

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS FISIOLOGIS

PADA NY. H UMUR 22 TAHUN P1A0AH1 DENGAN 2 HARI POSTPARTUM

Tanggal pengkajian : 23 Maret 2018/11:00 WIB

Tempat : Rumah Ny. H

No. Register : xx xxx xx

I. PENGUMPULAN DATA

A. DATA SUBYEKTIF

1. Biodata

Nama : Ny. H Nama Suami : Tn. T

Umur : 22 Tahun Umur : 27 Tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Dagang

Suku : Jawa Suku : Jawa

Alamat : Slawi 10/4 Alamat : Slawi 10/4

2. Alasan Datang :

3. Keluhan Utama :

Ibu mengatakan masih merasa mules pada perut bagian bawah


205

4. Riwayat Obstetri dan Ginekologi

a. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu

Tabel 3.6 Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu

Hamil Persalinan Nifas


ke
Tgl Umur Jenis Penolon Komplikasi Jenis BB laktasi Kompli-
kehamilan persalinan g kelamin lahir kasi
lahir
Ibu Bayi
1 21/3/ 40 minggu 5 Spontan Bidan - - Laki - 2700 √ -
19 hari laki gr

b. Riwayat persalinan Sekarang

Masa kehamilan : 40 minggu 5 hari

Tempat persalinan : RSUD Soeselo

Tanggal persalinan : 21 Maret 2019

Penolong : Bidan

Jenis persalinan : Spontan

c. Riwayat Haid

Menarche : 13 tahun

Lama/siklus/jumlah : 28 hari/ 7 hari/ 2x ganti pembalut

Dysmenorhea : Ya, fisiologis (hari pertama menstruasi)

Flour Albus : Ya, fisiologis (putih, tidak gatal, tidak bau)

5. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi


206

Tabel 3.7 Riwayat penggunaan kontrasepsi

No Jenis Kontrasepsi Mulaimemakai Berhenti/Ganticara

Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Alasan


Belum
menggunakan
kontrasepsi

Rencana yang akan datang : KB suntik 3 bulan

Alasan : ibu mengatakan lebih mudah

menggunakan KB suntik

6. Riwayat Kesehatan

a. Kesehatan Ibu

Sekarang :ibu mengatakan tidak sedang menderita gejala

penyakit seperti mudah haus, mudah lapar dan sering kencing (poli uri,

poli difsi, poli pagi), berat badan menurun (DM), gejala penyakit batuk

berdarah >3 minggu, keringat dingin pada malam hari, berat badan

menurun, demam (TBC), gejala penyakit warna kulit, sklera, kuku

berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis), gejala penyakit seperti

daya tahan tubuh menurun, mudah sakit, diare/sariawan tak kunjung

sembuh (HIV), gejala penyakit seperti ada luka/nanah pada alat

kelamin, nyeri berkemih, gatal-gatal pada alat kelamin (PMS).


207

Yang Lalu :ibu mengatakan tidak sedang menderita gejala

penyakit seperti mudah haus, mudah lapar dan sering kencing (poli uri,

poli difsi, poli pagi), berat badan menurun (DM), gejala penyakit batuk

berdarah >3 minggu, keringat dingin pada malam hari, berat badan

menurun, demam (TBC), gejala penyakit warna kulit, sklera, kuku

berwarna kuning, air seni seperti teh (hepatitis), gejala penyakit seperti

daya tahan tubuh menurun, mudah sakit, diare/sariawan tak kunjung

sembuh (HIV), gejala penyakit seperti ada luka/nanah pada alat

kelamin, nyeri berkemih, gatal-gatal pada alat kelamin (PMS).

b. KesehatanKeluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga suami maupun ibu tidak ada yang

menderita penyakit seperti warna kulit, sklera dan kuku berwarna

kuning, air seni seperti teh (hepatitis), gejala penyakit seperti ada

luka/nanah pada alat kelamin (PMS), ibu mengatakan di dalam

keluarga ibu tidak ada riwayat bayi kembar. .

7. Kebiasaan

a. Pantangan makanan

Ibu mengatakan tidak ada pantangan makanan seperti ikan, telor atau

yang berbau amis

b. Minum jamu
208

Ibu mengatakan tidak minum jamu pada masa nifas

c. Minum obat - obatan

Ibu mengatakan tidak pernah minum obat-obatan kecuali dari nakes

d. Merokok & minum alkohol

Ibu mengatakan tidak pernah merokok dan minum alkohol

e. Binatang peliharaan

Ibu mengatakan tidak mempunyai hewan peliharaan ayam, burung

dan kucing

8. Pola Kebutuhan Sehari-hari

a. Pola Nutrisi

Makan

Frekuensi/Porsi : 3X/ hari / 1 p iring

Jenis makanan : nasi, lauk, sayur

Keluhan : tidak ada

Minum

Frekuensi : 8 gelas / hari

Jenis minuman : air putih, teh

Keluhan : tidak ada

b. Pola Eliminasi

BAB

Frekuensi : 1x/hari
209

Konsistensi : Lunak

Warna : kuning kecoklatan

Keluhan : tidak ada

BAK

Frekuensi : 3x / hari

Warna : kuning jernih

Keluhan : ibu mengatakan tidak ada keluhan

c. Pola Aktivitas

Aktivitas sehari-hari : Menyusui, jalan – jalan ringan

Keluhan : tidak ada

d. Pola istirahat

Tidur : 4 jam pada malam hari

Keluhan : terbangun dari tidur karena menyusui

e. Pola personal hygiene

Frekuensi mandi : 1x/hari

Gosok gigi : 2x/hari

Ganti pakaian dalam : jika basah

Ganti Pembalut : 2 x , 5 cc

f. Pola seksual

Aktivitas seksual : Belum

Keluhan : Tidak ada


210

9. Data Psikologis

Status anak yang dikandung : sah

Tanggapan suami dan keluarga : senang dengan kelahiran bayinya

Kesiapan mental ibu : ibu siap menjadi seorang ibu dan

siap merawat bayinya

10. Status Perkawinan

Perkawinanke :1

Lama Perkawinan : + 10 bulan

11. Data Sosial Budaya

Ibu mengatakan tidak menganut budaya pantang makan seperti tidak

makan yang amis - amis seperti telor, ikan.

12. Data Spiritual

Ibu mengatakan sedang tidak menjalankan ibadah kepada Allah SWT

karena sedang dalam masa nifas.

13. Data PengetahuanIbu

Ibu mengatakan belum mengetahui tanda bahaya masa nifas.


211

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

KU : Baik

Kesadaran : Composmentis

TTV : TD : 120/70 mmHg S : 36,5 C

RR : 22x/menit N : 82x/menit

2. PemeriksaanFisik

Kepala : mesochepal

Rambut : bersih, tidak rontok, tidak berketombe

Muka : simetris, tidak ikterik, tidak sianosis

Mata : simetris, conjungtiva merah muda, sklera putih

Mulut : bersih,tidak ada karies dentis, tidak ada epulis

Hidung : simetris, tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada serumen berlebih

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena

jugularis

Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada

pembengkakan pada mamae

Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, tidak ada pembesaran

hati dan limpha

Genetalia : tidak ada oedem dan varises

Anus : tidak ada hemoroid


212

Ekstermitas : Atas : simetris, gerakan aktif, tidak oedem,

tidak ada pembengkakan pada paha

Bawah : simetris, gerakan aktif, tidakoedem

3. Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

Muka : Tidak pucat, tidak oedem

Mammae : Puting susu : menonjol, ada hiperpigmentasi areola mamae

Colostrum : sudah keluar

Kebersihan : terjaga

Abdomen : TFU 2 jari dibawah pusat

Genetalia : luka perineum derajat 1 jahitan jelujur, baik dan tidak bengak,

pengeluaran pervaginam yaitu lochea rubra, warna merah segar, kurang

lebih 5 cc, 2x ganti pembalut

4. Pemeriksaaan penunjang

Tidak dilakukan
213

C. ASSESMENT

1. Diagnosa Nomenklatur

Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1 2 hari dengan postpartum normal

a. Data subjektif

Ibu menggatakan bernama Ny. H umur 22 tahun

Ibu mengatakan ini kelahiran anak pertama

Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya pada tanggal 20 Maret 2019

pukul 08.15 WIB

Ibu mengatakan perutnya masih mules

Ibu mengatakan anaknya Laki - laki

b. Data objektif

Pemeriksaan Umum

KU : Baik

Kesadaran : Composmentis

TTV : TD : 120/70 mmHg S : 36,1 C

RR : 20x/menit N : 80x/menit

Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

Muka : Tidak pucat, tidak oedem

Mammae :Puting susu : menonjol,ada hiperpigmentasi areola mamae

Colostrum : sudah keluar

Kebersihan : terjaga
214

Abdomen :tidak terdapat striae gravidarum dan terdapat linea

nigra

TFU : 2 jari dibawah pusat

Kontraksi : baik, uterus teraba keras

Genetalia : luka perineum derajat 1 dengan jahitan jelujur,

jahitan masih basah dan tidak ada tanda – tanda

infeksi. Pengeluaran pervaginam yaitu lochea rubra,

warna merah segar, kuranglebih 5 cc, 2x ganti

pembalut dalam satu hari

2. Diagnosa masalah

Perut mules

Data Subjektif : ibu mengatakan perutnya masih mules setelah

melahirkan

Data Objektif : TFU : 2 jari dibawah pusat

Kontraksi : baik, uterus teraba keras

3. Diagnosa kebutuhan

Memberikan KIE tentang penyebab perut mules setelah melahirkan

Data Subjektif : ibu mengatakan perutnya masih mules setelah

melahirkan

Data Objektif : TFU : 2 jari dibawah pusat

Kontraksi : baik, uterus teraba keras


215

4. Diagnosa potensial

Tidak ada

5. Antisipasi tindakan segera

Tidak ada

D. Planning

1. Jam 11.30 WIB

Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaannya saat ini dalam

keadaan normal dengan hasil :

TD : 120/70 mmhg S : 36,1ºC

N : 80 x/ menit R : 20 x/ menit

PPV : lochia rubra ± 5 cc

Evaluasi : ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan ibu saat ini dalam

masa nifas keadaan normal

2. Jam 11.32 WIB

Menganjurkan ibu untuk melakukan personal hygine

a. Mandi dan gosok gigi 2x sehari

b. Ganti baju tiap mandi, basah atau kotor

c. Menjaga daerah Perineum dan membersihkan vagina dari atas

kebawah

d. Mengganti pembalut tiap 4 jam sekali

e. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan personal hygine


216

3. Jam 11.35 WIB

Menjelaskan pada ibu mengenai perawatan luka perineum yaitu dengan

menggunakan kassa dan betadine dan bersihkan dari atas kebawah dengan

tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi. Dan ganti kassa setiap ibu

habis BAK dan BAB.

Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan perawatan luka perineum

4. Jam 11.37 WIB

Menganjurkan ibu untuk memberikan Asi eksklusif pada bayinya selama

6 bulan tanpa tambahan makanan apapun, karena asi merupakan makanan

terbaik untuk bayinya dan dapat mempercepat proses involusi uteri

(kembalinya uterus kebentuk semula)

Evaluasi : ibu bersedia memberikan ASI Eksklusif pada bayinya

5. Jam 11.40 WIB

Menganjurkan ibu untuk mengonsumsi tamblet Fe 1 tablet / hari dengan

dosis 225 mg/ hari selama 40 hari dan diminum pada malam hari

menjelang tidur untuk mengurangi efek mual.

Evaluasi : ibu bersedia meminum tablet FE setiap hari

6. Jam 11.42 WIB

Menganjurkan ibu untuk istirahat ketika bayinya tidur atau bergantian

dengan anggota keluarga untuk menjaga bayinya agar ibu tidak kelelahan.

Evaluasi : ibu bersedia istirahat ketika bayinya tidur dan bergantian

dengan anggota keluarga untuk menjaga bayinya


217

7. Jam 11.44 WIB

Memberitahu kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi

seimbang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya

seperti membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. Makanan yang

bergizi seimbang diantaranya yaitu yang mengandung karbohidrat (nasi,

gandum, kentang), protein (ikan, telor, tahu, tempe, kacang - kacangan),

vitamin dan mineral (sayur- sayuran dan buah - buahan), menganjurkan

ibu untuk minum air putih yang cukup ± 8 gelas perhari, misal (nasi satu

piring, telor satu butir, tahu, tempe, sayur bayam satu mangkuk).

Evaluasi : ibu bersedia makan – makan gizi yang seimbang

8. Jam 11.47 WIB

Memberitahu ibu tanda bahaya masa nifas

a. Perdarahan pervaginam

b. Pengeluaran pervaginam yang berbau busuk

c. Rasa sakit pada daerah perut dan punggung

d. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri ulu hati dan masalah

penglihatan (pandangan mata kabur)

e. Pembengkakan pada muka, tangan dan kaki

f. Payudara berubah menjadi merah panas, bengkak, nyeri tekan atau

bendungan Asi.

g. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama


218

Evaluasi : ibu sudah mengetahui tanda bahaya masa nifas dan apabila ibu

mengalami tanda tersebut ibu bersedia ke tenaga kesehatan

segera.

9. Jam 11.50 WIB

Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 7 hari atau bila ada

keluhan

Evaluasi : ibu sudah mengerti dan bersedia untuk melakukan kunjungan

ulang.
219

DATA PERKEMBANGAN I

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS FISIOLOGIS

PADA NY. H UMUR 22 TAHUN P1A0AH1 DENGAN 7 HARI POST

PARTUM NORMAL

Tanggal/jam pengkajian : 28 Maret 2019/ 11.30 WIB

Tempat : Rumah Ny. H

A. Data Subyektif

Ibu mengatakan bernama Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1

Ibu mengatakan tidak ada keluhan

Pola kebutuhan sehari – hari

a. Pola Nutrisi

Makan

Frekuensi/Porsi : 3X/ hari / 1 piring

Jenis makanan : nasi, lauk, sayur

Keluhan : tidak ada

Minum

Frekuensi : 8 gelas / hari

Jenis minuman : air putih, teh

Keluhan : tidak ada


220

b. Pola Eliminasi

BAB

Frekuensi : 3x/hari

Konsistensi : lunak

Warna : kuning kecoklatan

Keluhan : tidak ada

BAK

Frekuensi : 3x / hari

Warna : kuning jernih

Keluhan : ibu mengatakan tidak ada keluhan

c. Pola Aktivitas

Aktivitas sehari-hari : Menyusui, berjalan – jalan ringan

Keluhan : tidak ada

d. Pola istirahat

Tidur : 5 jam pada malam hari, 2 jam pada siang hari

Keluhan : terbangun dari tidur karena menyusui

e. Pola personal hygiene

Frekuensi mandi : 1x/hari

Gosok gigi : 2x/hari

Ganti pakaian dalam : jika basah

Ganti Pembalut : 2 x , 5 cc
221

f. Pola seksual

Aktivitas seksual : Belum

Keluhan : Tidak ada

Data psikologis

Status anak yang dikandung : sah

Tanggapan suami dan keluarga : senang dengan kelahiran bayinya

Kesiapan mental ibu :ibu siap menjadi seorang ibu dan siap merawat

bayinya
222

B. Data Objektif

1. Pemeriksaan umum

KU : baik

Kesadaran : Composmentis

BB : 50 kg

TB : 166 cm

TTV : TD :100/60 mmHg N : 82 x/menit

R : 24 x/menit S : 36ºC

2. Pemeriksaan Fisik

Kepala : mesochepal

Rambut : bersih, tidak rontok, tidak berketombe

Muka : simetris, tidak ikterik, tidak sianosis

Mata : simetris, conjungtiva merah muda, sklera putih, pandangan

mata tidak kabur

Mulut : bersih, tidak ada karies dentis

Hidung : simetris, tidak ada polip

Telinga : simetris, tidak ada serumen berlebih

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis

Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada

pembengkakan mamae, tidak ada nyeri ulu hati

Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, tidak ada pembesaran hati dan

limpha
223

Genetalia : tidak ada oedem dan tidak varises, luka perineum baik dan

tidak bengkak, sudah kering

Anus :tidak ada hemoroid

Ekstermitas : Atas :simetris,gerakan aktif, tidak oedem

Bawah : simetris, gerakan aktif, tidak ada pembengkakan

pada paha

3. Pemeriksaan Kebidanan

Muka : tidak pucat, tidak oedem

Mammae : Puting susu : menonjol

Colostrum : sudah keluar

Kebersihan : terjaga

Tidak ada kemerahan, tidak bengkak, tidak ada nyeri

tekan dan tidak ada bendungan ASI

TFU : pertengahan pusat dan simpisis

Genetalia : tidak oedem

PPV : lochea sanguilenta, tidak ada tanda-tanda infeksi

Kontraksi : keras

4. Pemeriksaan Laboratorium

Tidak dilakukan

C. Assasment

Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1 dengan 7 hari post partum normal


224

D. Planning

1. Jam 11.40 WIB

Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa saat ini dalam masa nifas

dan keadaan ibu saat ini dalam keadaan normal dengan hasil :

KU : baik

Kesadaran : Composmentis

BB : 50 kg

TB : 166 cm

TTV : TD :100/60 mmHg N : 82 x/menit

R : 24 x/menit S : 36ºC

TFU : pertengahan pusat dan simpisis

PPV : lokhea sanguilenta, tidak ada tanda-tanda infeksi

Luka perineum : Ada jahitan derajat I dengan jelujur, luka perineum

baik, tidak bengkak dan sudah kering

Evaluasi : ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan keadaan ibu saat ini

pada masa nifas dalam kedaan baik

2. Jam 11.42 WIB

Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI ekslusif yaitu bayi hanya diberi

ASI saja tanpa makanan tambahan apapun kecuali vitamin dan obat selama 6

bulan.

Evaluasi : ibu bersedia memberikan ASI ekslusif pada bayinya


225

3. Jam 11.45 WIB

Mengajarkan ibu untuk menyusui yang baik dan benar yaitu ibu duduk

bersandar pada punggung kursi, kaki jangan menggantung, meletakkan kepala

bayi pada lengkungan siku, meletakkan bayi bersentuhan dengan perut ibu,

usahakan telinga dan tangan dalam satu garis lurus, menyangga payudara

dengan ibu jari diatas payudara, jari lain berada dibawah, memasukkan puting

susu pada mulut bayi pada sudut mulut bayi, memperhatikan bayi selama

menyusui, melepas isapan bayi dengan memasukkan jari kelingking pda sudut

mulut bayi, cara menyendawakannya bayi dengan menepuk punggung bayi.

Evaluasi : ibu sudah paham tentang teknik menyusui yang baik dan benar dan

ibu bersedia melakukannya setiap hari.

4. Jam 11.50 WIB

Memberitahu tanda bahaya masa nifas yaitu: perdarahan pervaginam

berlebihan, pengeluaran pervaginam yang berbau busuk, sakit kepala yang

menetap, mual muntah, suhu badan > 380C, pandangan mata kabur, nafsu

makan berkurang, kemerahan pada betis, cepat lelah, nyeri payudara atau

pembekakan payudara dan apabila ibu mengalami tanda tersebut untuk segera

menghubungi tenaga kesehatan.

Evaluasi : Ibu sudah mengetahui tanda-tanda bahaya masa nifas dan apabila

ibu mengalami tanda tersebut akan segera menghubungi tenaga kesehatan.


226

5. Jam 11.52 WIB

Menganjurkan ibu untuk melakukan personal hygine

a. Mandi dan gosok gigi 2x sehari

b. Ganti baju tiap mandi, basah atau kotor

c. Menjaga daerah Perineum dan membersihkan vagina dari atas kebawah

d. Mengganti pembalut tiap 4 jam sekali

e. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

Evaluasi : ibu sudah menjaga kebersihan personal hygienenya

6. Jam 11.53 WIB

Menganjurkan ibu untuk istirahat ketika bayinya sedang tidur atau

bergantian dengan anggota keluarga untuk menjaga bayinya agar ibu tidak

kelelahan

Evaluasi : ibu bersedia untuk istirahat ketika bayinya sedang tidur dan

bergantian dengan anggota keluarga.

7. Jam 11.54 WIB

Menganjurkan ibu untuk makan-makanan yang bergizi seimbang,

karbohidrat : nasi,roti Protein : ikan telur, tahu, tempe Vitamin : sayuran,

buah-buahan Mineral : susu contoh yaitu 1 piring nasi, 1 mangkok kecil sayur

bayam, 1 potong ikan dan tempe, dan buah-buahan, minum air putih 8-10

gelas perhari untuk mencukupi intake cairan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk makan-makanan gizi seimbang


227

8. Jam 11.55 WIB

Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjugan ulang 1 bulan kemudian

tujuannya untuk memastikan tidak ada penyulit – penyulit yang dialami ibu

dan untuk memberikan konseling KB secara dini. Tetapi jika ibu mengalami

tanda-tanda bahaya masa nifas segera melakukan kunjungan ulang.

Evaluasi : ibu bersedia melakukan kunjungan ulang 1 bulan kemudian atau

apabila ibu ada keluhan


228

DATA PERKEMBANGAN II

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. H UMUR 22 TAHUN P1A0AH1

DENGAN 30 HARI POST PARTUM NORMAL

Tanggal/jam pengkajian : 21 April 2019/ 10.00 WIB

Tempat : Rumah Ny. H

A. Data Subyektif

Ibu mengatakan bernama Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1

Ibu mengatakan kurang istirahat

B. Data Objektif

1. Pemeriksaan umum

KU : baik

Kesadaran : Composmentis

BB : 50 kg

TB : 166 cm

TTV : TD :120/80 mmHg N : 86 x/menit

R : 20 x/menit S : 36,6 ºC

2. PemeriksaanFisik

Kepala :mesochepal

Rambut :bersih,tidakrontok, tidakberketombe

Muka : pucat, simetris,tidakikterik,tidak sianosis dantidakoedem


229

Mata :simetris, conjungtiva merah, sklera putih

Mulut :bersih,tidakada karies dentis, tidak ada epulis

Hidung :simetris,tidakada polip

Telinga :simetris,tidakada serumen berlebih

Leher :tidakada pembesarankelenjarthyroiddanvenajugularis

Dada :simetris,tidakada retraksidindingdada

Abdomen :tidakadalukabekasoperasi,tidakadapembesaranhati

Genetalia :tidakada oedemdan tidak varises, luka jahitan sudah kering

Anus :tidakadahemoroid

Ekstermitas

Atas :simetris,gerakanaktif, tidak oedem

Bawah :simetris,gerakanaktif,tidak oedem

3. Pemeriksaan Kebidanan

Muka : tidak pucat, tidak oedem

Mammae : Puting susu : menonjol, ada hiperpigmentasi areola

mamae

Colostrum : sudah keluar

Kebersihan : terjaga

TFU : sudah tidak teraba

Genetalia : tidak oedem

Luka perineum : Ada derajat I jahitan jelujur, luka perineum baik,tidak

bengkak dansudah kering


230

PPV : lokhea alba, tidak ada tanda-tanda infeksi

4. Pemeriksaan Laboratorium

Tidak dilakukan

C. Assasment

Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1dengan 30 hari post partum normal

1. Diagnosa Nomenklatur

Ny. H umur 22 tahun P1A0AH1 30 hari dengan postpartum normal

a. Data subjektif

Ibu menggatakan bernama Ny. H umur 22 tahun

Ibu mengatakan ini kelahiran anak pertama

Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya pada tanggal 21 Maret 2019

pukul 08.15 WIB

Ibu mengatakan kurang istirahat

Ibu mengatakan anaknya Laki - laki

b. Data objektif

Pemeriksaan Umum

KU : Baik

Kesadaran : composmentis

TTV : TD : 120/80 mmHg S : 36,6 C


231

RR : 20x/menit N : 86x/menit

Pemeriksaan Kebidanan

Inspeksi

Muka : Tidak pucat, tidak oedem

Mammae : Puting susu : menonjol, ada hiperpigmentasi areola

mamae

Colostrum : sudah keluar

Kebersihan : terjaga

Abdomen :tidak terdapat striae gravidarum dan terdapat linea

nigra

TFU : tidak teraba

Kontraksi : uterus tidak teraba keras

Genetalia : luka perineum derajat 1 dengan jahitan jelujur,

jahitan masih basah dan tidak ada tanda – tanda

infeksi. Pengeluaran pervaginam yaitu lochea alba,

warna putih kekuningan.

2. Diagnosa masalah

Kurang istirahat

Data Subjektif : ibu mengatakan kurang istirahat

Data objektif :-

3. Diagnosa kebutuhan

Memberikan KIE tentang kurang istirahat


232

Data subyektif : ibu mengatakan kurang istirahat

Data obyektif :-

4. Diagnosa potensial

Tidak ada

5. Antisipasi tindakan segera

Tidak ada

6. Planning

1. Jam 10.10 WIB

Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa saat ini dalam masa nifas

dan keadaan ibu saat ini dalam keadaan normal

Evaluasi :

KU : baik

Kesadaran : Composmentis

BB : 50 kg

TB : 166 cm

TTV : TD :120/80 mmHg N : 86 x/menit

R : 20 x/menit S : 36,6 ºC

TFU : sudah tidak teraba

PPV : lokhea alba

2. Jam 10.15 WIB

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup 10 jam/ hari 1-2 jam (siang)

dan 8 jam (malam) untuk mencegah kelelahan yang berlebihan dan untuk
233

mengurangi rasa sakit kepala atau dengan cara apabila bayi tidur ibu ikut

tidur.

Evaluasi : ibu bersedia mengikuti anjuran bidan

3. Jam 10.17 WIB

Menganjurkan ibu untuk tetap makan-makanan yang bergizi seimbang,

karbohidrat : nasi,roti Protein : ikan telur, tahu, tempe Vitamin : sayuran,

buah-buahan Mineral : susu contoh yaitu 1 piring nasi, 1 mangkok kecil sayur

bayam, 1 potong ikan dan tempe, dan buah-buahan, minum air putih 8-10

gelas perhari untuk mencukupi intake cairan.

Evaluasi : ibu bersedia untuk tetap makan-makanan gizi seimbang

4. Jam 10.20 WIB

Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI ekslusif yaitu bayi hanya diberi

ASI saja tanpa makanan tambahan apapun kecuali vitamin dan obat selama 6

bulan.

Evaluasi : ibu sudah memberikan ASI ekslusif pada bayinya

5. Jam 10.22 WIB

Memberitahu ibu pengertian KB,yaitu usaha untuk mengukur jumlah dan

jarak anak yang diinginkan.

Evaluasi : ibu sudah paham tentang KB

6. Jam 10.25 WIB

Memberitahu ibu dan suami tentang tujuan KByaitumemperbaiki kesehatan

dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa. Mengurangi angka


234

kelahiran untuk menaikkan taraf rakyat dan bangsa. Memenuhi permintaan

masyarakat akan pelayanan KB yang berkualitas, termasuk upaya - upaya

menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak serta penanggulangan

masalah kesehatan reproduksi.

Evaluasi : ibu dan suami sudah paham tujuan dari KB

7. Jam 10.27 WIB

Memberikan konseling pada ibu mengenai macam-macam KB yaitu KB

model sederhana contohnya kondom, spermasid, diafragma, metode

hormone seperti pil, suntik KB, implant, IUD dan metode kontrasepsi yang

permanen yaitu vasektomi dan tubektomi.

Evaluasi : ibu sudah paham macam-macam KB dan ibu memilih

menggunakan KB suntik 3 bulan.


235